Anda di halaman 1dari 45

Disusun oleh : Sofian

PENDAHULUAN
Benda asing di esofagus benda tajam ataupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan secara sengaja ataupun tidak sengaja. Lokasi tersangkut biasanya pada salah satu tempat penyempitan fisiologis esofagus. Penyebab pada dewasa dan anak berbeda. Mortalitas terjadi karena adanya komplikasi.

DEFENISI
Benda asing di esofagus : Benda yang tajam atau tumpul, ataupun makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan,baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Macam2 benda asing Anak : Uang logam (tersering), Mainan, baterai, peniti dll. Dewasa : Tulang + daging, gigi palsu, dll. Terjadi pada semua umur. Sering di daerah penyempitan fisiologis. Komplikasi fatal jika sudah perforasi.

EPIDEMIOLOGI
Sumbatan jalan napas penyebab ketiga kematian mendadak pada anak < 1 tahun, dan penyebab keempat pada anak usia 1-6 tahun. Mortalitas tergantung komplikasi. Tidak ada perbedaan dalam hal ras ataupun jenis kelamin. Lebih sering terjadi pada anak-anak. Lokasi paling banyak di daerah servikal tepat pada sfingter esofagus atas.

ANATOMI ESOFAGUS
suatu organ silindris berongga dengan panjang pada orang dewasa sekitar 25 cm dan diameter sekitar 2 cm saat kosong dan 3 cm saat berisi makanan. Panjang pada bayi 8-10 cm dengan diameter 0,5 cm. Ujung bagian atas pada tulang rawan krikoid (vertebra servikal 6) dan bagian bawah pada orifisium kardia (vertebra torakal 10). Terdapat 2 sfingter :sfingter esofagus bagian atas (m. krikofaringeus) dan sfingter esofagus bagian bawah.

Anatomi Esofagus

Perdarahan
atas tengah bawah a. tiroidea inferior,a. subklavia a.bronkialis,cabang aorta a. gastrika sinistra,a.frenika

Bagian

Bagian

atas tengah bawah

v.tiroidea inferior v.azygos v.esofageal

Fisiologi Menelan
Dimulai dari pergerakan volunter lidah dan diteruskan dengan serangkaian refleks dalam faring dan esofagus. Bagian aferen refleks ini merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf V, IX, dan X. Pusat menelan terdapat pada medula oblongata. Bagian eferen melalui saraf kranial V,X, dan XII menuju otot-otot lidah, faring, laring, dan esofagus.

3 fase menelan :
1.

Fase oral Makanan dalam bentuk bolus akibat proses mekanik bergerak ke dorsum lidah menuju ke orofaring, palatum mole dan bagian atas dinding posterior terangkat. Fase Faringeal Terjadi refleks menelan (involuntary), faring dan laring bergerak ke atas oleh karna kontraksi M. Salfingofaring, M stylofaringeus, M tyroid dan M palatofaring, aditus laring tertutup oleh epiglotis dan spingter laring.

2.

3. Fase esofageal Fase menelan (involuntary) perpindahan bolus makanan ke distal oleh karna relaksasi m.krikofaring di akhir fase sfingter esofagus bawah terbuka dan tertutup kembali saat makanan sudah lewat.

Etiologi dan faktor Predisposisi


ANAK Anomali kongenital,retardasi mental Belum tumbuhnya gigi molar. Koordinasi menelan dan sfingter laring belum optimal. Kebiasaan memasukkan benda asing dalam mulut.

DEWASA

Pemakaian gigi palsu yang sudah tidak tepat Kurangnya sensasi taktil Makan yang terburu-buru Gangguan mental/psikosis Dalam pengaruh alkohol Penyakit yang mendasari kelainan anatomi

Fungsi esofagus
Fungsi esofagus Ialah menelan membawa makanan dan minuman dari faring ke dalam lambung. Karna itu setiap benda atau makanan yang masuk ke esofagus yang tidak sempat terkunyah dimulut dengan diameter tertentu akan tertahan/terhenti di esofagus terutama pada daerah penyempitan.

PATOGENESIS
Benda atau Makanan terhenti di esofagus Terlalu besar bagi lumen esofagus Ada bagian yang tajam dan menancap Lokasi Penyempitan fisiologis esofagus : M. Krikofaring (Setinggi kartilago krikoid atau V6) Persilangan arkus aorta (setinggi T4) Persilangan bronkus (setinggi T5) Saat esofagus melewati diagfragma setinggi hiatus diagfragmatika (Th 11)

MANIFESTASI KLINIS
Nyeri di daerah leher/tidak enak di epigastrium Disfagia/odinofagia Hipersalivasi Regurgitasi Muntah Hematemesis Nyeri punggung :perforasi Gangguan napas :stridor, jika menekan laring Lama : iritabilitas, gangguan pertumbuhan pada anak Perforasi Sepsis: demam, syok

DIAGNOSIS
ANAMNESIS Tertelan sesuatu Rasa Mengganjal setelah makan sesuatu Sakit/sulit menelan Muntah Jika makan atau minum PEMERIKSAAN FISIK Tes Minum Obstruksi total : Muntah Sebagin : Minum sedikit Kekakuan lokal pada leher

PEMERIKSAAN FISIK

Sesak, bila benda asing menekan trakea Hipersalivasi Perforasi ; mediatinitis,emfisema auskultasi : suara getaran,palpasi : adanya krepitasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Radiologi Benda asing radio-opaque : Foto leher-Toraks PA/Lateral Benda asing non radio-opaque Foto Esofagus dengan barium Diduga ada perporasi : Foto esofagus dengan kontras yang dapat diserap

FOTO POLOS

ESOFAGOGRAM
Esofagogram pada benda asing radiolusen akan memperlihatkan filling defect persistent. Kontras : barium

CT SCAN
Indikasikecurigaan adanya benda asing di esofagus tapi pada foto polos servikal/toraks tidak ditemukan atau negatif, sedangkan pada esofagogram terlihat atau positif. Dapat menunjukkan adanya gambaran inflamasi jaringan lunak dan abses, juga gambaran benda asing yang tidak terlihat dengan foto roentgen. Ct scan juga bisa untuk mengevaluasi ada atau tidak komplikasi setelah ekstraksi benda asing.

Gambaran CT Scan

MRI
Dapat menunjukkan gambaran semua keadaan patologik pada esofagus Dapat menampilkan keseluruhan gambar jaringan/massa servikotorakal dan hubungan dengan jaringan neurovaskular sekitar. MRI juga dapat menunjukkan adanya perluasan abses atau pembentukan granuloma. Tapi bukanlah pemeriksaan inisial untuk melihat adanya benda asing.

DIAGNOSIS BANDING
Faringitis akut Esofagitis

KOMPLIKASI
Laserasi mukosa,perdarahan,perforasi lokal dengan abses leher/retrofaringeal atau mediastinitis Perforasi: selulitis lokal,fistula trakeoesofagus Pneumotoraks/piotoraks Striktur esofagus Nekrosis esofagus Trauma vaskular

PENATALAKSANAAN
Pengangkatan benda asing dengan esofagoskopi dan cunam yang sesuai dengan benda asing Pasang NGT jika curiga perforasi kecil Tidak bisa dengan esofagoskopi :pembedahan Secara umum penatalaksanaan berdasarkan kondisi pasien: stabil atau tidak stabil Tidak stabil : management airway, endoskopi urgensi Stabil : endoskopi (gold standar), observasi (jika benda kecil),obat yang merelaksasi sfingter Endoskopi : tatalaksana yang paling direkomendasikan.

DEFINISI ESOFAGOSKOPY

Esofagoskopy adalah suatu alat yang menggunakan sistem fiberoptik dengan sistem pencahayaan yang memungkinkan visualisasi kedalam bagian tubuh tertentu.

INSTRUMEN EOFAGOSCOPY

JENIS-JENIS CUNAM
Cunam Manik-manik gordon Cunam Tucker

Cunam Aligator Cunam penutup peniti (clerf-arrawsmith) Cunam Bola

Cunam aligator untuk benda asing seperti Uang logam, kancing, daging, kain, benang dan lain2 Cunam Manik-manik gordon Cunam bola dengan jepitan berbentuk mangkok untuk benda asing seperti Manik2,dan mainan kecil Cunam Tucker Cunam Penutup peniti

PENATALAKSANAAN ESOFAGOSCOPY

LIDAH DAN PALATUM DURUM

Penyangga mulut (mouth piece) dipasang dan difiksasi oleh seorang perawat. Ujung scop dimasukkan dengan tangan kanan diposisikan diatas bagian tengah lidah sehingga akan terlihat lidah dan palatum durum.

UVULA

Scop didorong halus dengan sedikit up ward sehingga akan terlihat uvula.

EPIGLOTIS

Selanjutnya akan terlihat epiglotis dengan bagian belakang hipofaring.

GLOTIS DAN RIMA GLOTIS

Dengan sedikit angulasi kebawah akan terlihat fossa priformis Dan Sfingter Krikofaring yang biasanya tertutup. Ujung dari scop diarahkan kekanan atau kekiri menuju Sfingter Krikofaring.

SFINGTER KRIKOFARING TERBUKA

Pasien diminta untuk menelan agar Sfingter Krikofaring terbuka, bersamaan dengan itu scop didorong masuk esofagus dan penderita diminta bernafas lewat hidung. Kadang sulit untuk mendapatkan Sfingter Krikofaring dalam keadaan terbuka, maka scop dapat didorong/sliding untuk masuk esofagus.

ESOFAGUS

Scop masuk ke esofagus yang merupakan pipa tubuler dengan diameter 1,5 - 2 cm,mulai dari pinggir bawah otot krikofaringus kebawah melalui mediastinum dan berakhir pada Sfingter esofagus bawah dengan pajang 2,5 cm.

Z-LINE

Mucosa Esofagus tampak merah muda, licin mengkilap dengan lipatan mucosa yang halus memanjang sampai esofagogastric junction. Tampak Z Line, suatu garis yang tak teratur dengan merupakan pertemuan mucosa esofagus dan gaster.

GAMBAR BENDA ASING DI ESOFAGUS

KOMPLIKASI ESOFAGOSKOPY

Pendarahan dan perforasi.... Hopofaring tepat di atas M. Krikofaring. Esofagus servikal

KESIMPULAN

Terdapat tempat penyempitan fisiologi di esofagus yang dapat mempermudah terperangkapnya benda asing apalagi pada anakanak dimana koordinasi menelan belum sempurna dan ukuran lumen esofagus yang masih sempit. Benda asing di esofagus kejadiannya paling banyak pada anakanak dibawah usia 5 tahun, sedangkan pada orang dewasa kejadian tertelan benda asing di esofagus berhubungan dengan pemakaian gigi palsu,alkoholisme,gangguan psikiatri/psikosis. Gejala yang muncul berupa disfagia,odinofagia, hipersalivasi, regurgitasi, muntah, bahkan hematemesis. Pada anak-anak gejala tidak jelas sehingga diperlukan anamnesis yang lengkap dari orang tua. Komplikasinya diantaranya dapat berupa laserasi mukosa esofagus,perdarahan, perforasi, abses leher,mediastinitis,selulitis,fistel trakeoesofagus. Penatalaksanaan segera diperlukan untuk pengangkatan benda asing dengan menggunakan esofagoskop.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mariana,Y. Benda Asing di Esofagus. Dalam:Soepardi EA,Iskandar NH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher,edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI ; 2007. hal 299-302. 2. Harry A Asroel. Ekstraksi Benda Asing di Bronkus dan Esofagus. Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara, volume 40. 2007. hal 157-59. 3. David WM. Esophageal Foreign Bodies in Emergency Medicine Medication. Diakses dari http://emedicine.com pada tanggal 04 Juli 2011. 4. John,JH. Esofagus. Dalam : Richard EB,Robert K,Ann MA. Nelson Ilmu Kesehatan Anak,edisi 15. Jakarta: EGC;2000. hal 1302-03. 5. Leighton,GS. Penyakit Jalan Napas Bagian Bawah, Esofagus dan Mediastinum: Pertimbangan Endoskopik.Dalam: George LA,Boies RB. Buku Ajar Penyakit THT,edisi 6. Jakarta : EGC; 1997. hal 455-64. 6. Sri Herawati J. Benda Asing Esofagus pada Anak di RSU Dr. Soetomo Surabaya. Dalam : Jurnal Kedokteran YARSI,edisi 13. 2005. hal 306-312. 7. Lorraine MW,Glenda NL. Gangguan Esofagus. Dalam : Sylvia AP, Lorraine MW. Patofisiologi volume 1,edisi 6. Jakarta: EGC;2005. hal 404-07

8. Jerri,AL. Upper Digestive Tract Anatomy and Physiology. Dalam : Bailey, Byron J. Head and Neck Surgery-Otolaringology,edisi 4. Jakarta : EGC; 2006. hal 687-92. 9. Anonim. Human Anatomy. Diakses dari http://webMD.com pada tanggal 04 Juli 2011. 10.Efiaty,AS. Disfagia. Dalam:Soepardi EA,Iskandar NH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher,edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI ; 2007. hal 277-80. 11.Rathore PK, Raj A. Prolonged Foreign Body Impaction in The Oesophagus. Dalam : Singapore Med J. 2005. hal 53-54. 12.William WS,Subinoy D. Esophageal Disorders. Dalam : Bailey, Byron J. Head and Neck Surgery-Otolaringology,edisi 4. Jakarta : EGC; 2006. hal 75766. 13.Veronica Rooks. Esophageal Foreign Body Imaging. Diakses dari http://emedicine.com pada tanggal 04 Juli 2011.