Anda di halaman 1dari 11

INOVASI GURU TK

PAGAR ANYAM SEBAGAI MEDIA UNTUK MENSTIMULASI KEMAMPUAN MOTORIK HALUS KHUSUSNYA MENGANYAM PADA ANAK TK KELOMPOK A

Oleh :

ANIS SRI LESTARI, S.Ag NUPTK: 8448754656300003

YAYASAN TAMAN PENDIDIKAN RAHMAT KEDIRI TK PLUS RAHMAT KEDIRI Jl. Slamet Riyadi 32 A Banjaran Kediri Telp. 0354 696882

Hal 1

PAGAR ANYAM SEBAGAI MEDIA UNTUK MENSTIMULASI KEMAMPUAN MOTORIK HALUS KHUSUSNYA MENGANYAM PADA ANAK KELOMPOK A DI TK PLUS RAHMAT
( Oleh : Anis Sri Lestari, S.Ag, TK Plus Rahmat Kediri )

PENDAHULUAN Anak yang cerdas bukan hanya anak yang lancar membaca atau pandai berhitung matematika, tetapi anak yang cerdas adalah anak yang berkembang secara optimal seluruh kemampuan dirinya, meliputi aspek moral, sosial emosional, kognitif, bahasa dan juga fisik motorik yang memungkinkan anak dapat terampil bergerak. Seorang anak yang mempunyai kemampuan fisik motorik yang baik akan memiliki kelenturan dan koordinasi tubuh yang baik, kecepatan dan ketangkasan gerak, daya tahan tubuh, serta meningkatnya perkembangan sosial emosional anak. Secara umum ada 2 kemampuan fisik motorik yang dikembangkan pada anak yaitu kemampuan motorik kasar dan halus. Kemampuan motorik kasar melibatkan aktifitas otot tangan, kaki dan seluruh tubuh anak. Kemampuan ini mengandalkan kematangan dalam koordinasi seperti berlari, melompat, memanjat dan sebagainya. Sedangkan kemampuan motorik halus (Bambang Sujiono, 2008: 1.14) melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja yang dilakukan oleh otot-otot kecil seperti keterampilan menggunakan jari-jemari tangan dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. Oleh karena itu gerakan ini tidak terlalu membutuhkan tenaga, namun lebih membutuhkan koordinasi mata dan tangan dengan cermat, seperti menggunting kertas, membuat gambar sederhana dan mewarnai, menjahit, menganyam dan sebagainya. Namun jika gejala munculnya potensi ini tidak diimbangi dengan pemberian stimulasi yang baik sejak anak berusia dini, maka tidak akan berkembang secara optimal. Salah satu stimulasi yang dapat diberikan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus adalah melalui kegiatan menganyam. Menganyam adalah suatu kegiatan keterampilan yang bertujuan untuk menghasilkan benda atau barang pakai dan benda

Hal 2

seni, yang dilakukan dengan cara menyusupkan bagian-bagian pita anyaman secara bergantian. Dalam proses pembelajaran menganyam pada anak didik kelompok A di TK Plus Rahmat Kediri sering kali membuat anak tidak tertarik karena anak mengalami kesulitan dalam kegiatan menganyam. Berdasarkan hasil penilaian, didapatkan data bahwa dari 20 anak yang mendapatkan bintang 3 ada 4 anak, yang mendapat bintang 2 sebanyak 12 anak, sedangkan yang mendapat bintang 1 sebanyak 6 anak. Adapun penyebab permasalahan di atas adalah: 1. Dalam kegiatan pengembangan motorik halus anak di kelas, guru lebih mendominasi dengan kegiatan menulis, menggambar, meronce, mencocok, menggunting, dan mewarnai, sehingga minat anak sangat kurang terhadap kegiatan menganyam. 2. Guru kurang memahami teknik menganyam yang sesuai dengan tahap

perkembangan anak sehingga materi yang diberikan kurang sesuai dengan kemampuan anak. 3. Penjelasan guru kurang bisa dipahami oleh anak sehingga menyebabkan anak menjadi malas dan bahkan bosan dengan kegiatan menganyam. Upaya yang dilakukan guru untuk menyelesaikan masalah adalah guru menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dengan memberikan teknik yang tepat sesuai tahapan perkembangan anak usia dini. Disamping itu guru membuat alat peraga sederhana yang atraktif dan menarik yaitu peraga pagar anyam, sehingga anak termotivasi untuk melakukan kegiatan menganyam.

DASAR TEORI A. Kemampuan Motorik Halus Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinyu secara rutin. Seperti bermain puzle, menyusun balok, memasukkan

Hal 3

benda kedalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas, menggunting, menggambar, menganyam dan sebagainya. Karakteristik keterampilan motorik halus anak usia 4-6 tahun dapat dijelaskan sebagai berikut (Direktorat Pembinaan TK dan SD, 2007: 11): 1. Pada anak berusia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak secara subtansi sudah mengalami kemajuan dan gerakannya sudah lebih cepat, bahkan cenderung ingin sempurna. 2. Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak sudah lebih sempurna lagi. Tangan, lengan dan tubuh bergerak dibawah koordinasi mata. Anak juga mampu membuat dan melaksanakan kegiatan yang lebih majemuk seperti dalam kegiatan proyek 3. Pada usia 6 tahun (masa akhir kanak-kanak), anak telah belajar bagaimana menggunakan jari-jemari dan pergelangan tangannya untuk menggerakkan ujung pensil.

B. Kemampuan Menganyam Menganyam (www.artikata.com/arti-35131-menganyam.html) berasal dari kata anyam yang artiya mengatur (bilah, daun pandan,dll) tindih-menindih dan silang-menyilang (seperti membuat tikar, bakul). Menganyam adalah kegiatan

menjalinkan pita atau iratan yang disusun menurut arah dan motif tertentu. Menganyam diartikan juga suatu teknik menjalinkan lungsin dengan pakan (www.arifuddin-proposalptk.blogspot.com) Lungsin adalah benang yang membujur pada barang tenun, pakan adalah benang yang dimasukkan melintang pada benang lungsin (www.KamusBahasaIndonesia.org). Jadi lungsin letaknya tegak lurus terhadap si penganyam, sedangkan pakan pita atau iratan yang disusupkan pada lungsin dan arahnya berlawanan (melingtang) terhadap lungsin. Kerajinan menganyam dapat dikatakan berhasil apabila anak dapat menghasilkan karya anyaman. Untuk itu diperlukan teknik, bahan dan alat dalam menganyam.

Hal 4

Teknik, teknik menganyam yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia dini adalah teknik dasar sederhana yaitu anyaman sasag. Anyaman sasag dikenal sebagai teknik susup menyusup antara pakan dan lungsin dengan langkah satu-satu, artinya angkat satu dan ditinggal satu (dengan rumus A1, T1, A1, T1,...dan seterusnya) kemudian diatasnya T1, A1 ,T1, A1,... dan seterusnya (Hajar Pamadhi:2008:6.43). Bahan, pemilihan bahan yang aman dan menarik bagi anak juga berpengaruh dalam kegiatan menganyam. Kertas merupakan media yang paling aman untuk anak TK, apalagi jika menggunakan kertas yang berwarna, akan lebih menarik minat anak. Alat, alat yang diperlukan berupa gunting, cutter, penggaris, namun untuk pembelajaran di TK, semua bahan sudah siap pakai, sehingga anak-anak tidak memerlukan alat lagi.

C. Pengertian Media Pembelajaran Menurut Zaman, 2008;4.4 dalam Schramm, 1977 Media pembelajaran diartikan sebagai teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran, sedangkan menurut Briggs, 1977, media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran, seperti buku, film, video, slide.

D. Manfaat Media Pembelajaran Zaman, 2008; 4.10, Manfaat media pembelajaran di TK adalah sebagai berikut: 1. 2. Memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing-masing anak 3. 4. Membangkitkan motivasi belajar anak Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan 5. 6. 7. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh anak Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang Mengontrol arah dan kecepatan belajar anak.
Hal 5

E.

Pembuatan Media Pembelajaran untuk Anak Usia Dini Pembuatan Media pembelajaran untuk anak usia dini menurut Zaman (2008),

memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Ditujukan untuk anak usia dini, dimana prinsip belajarnya adalah bermain seraya belajar 2. Berfungsi mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak, meliputi aspek fisik (motorik kasar dan motorik halus ), emosi, sosial, bahasa, kognitif dan moral 3. Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk dan untuk bermacam-macam tujuan aspek perkembangan atau bermanfaat multiguna 4. 5. 6. Aman bagi anak Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan

F.

Media Pagar Anyam Media pagar anyam, merupakan media untuk menstimulasi kemampuan

menganyam. 1. Bahan, dan alat Bahan : kayu, ampelas, kain flanel Alat : gergaji, lem, bor, gunting, penggaris, pensil 2. Langkah-langkah pembuatan media pagar anyam Membuat alas, dari kayu, kemudian di bor/dilubangi, dan di ampelas supaya halus dan aman bagi anak. Membuat tiang dari kayu, diampelas dan dimasukkan dalam lubang alas, kemudian direkatkan dengan lem. Media yang sudah jadi di cat. 3. Langkah-langkah penggunaan media Media pagar anyam dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dimainkan untuk 2 orang, hal ini memungkinkan anak anak untuk bisa bersosialisasi dengan temannya. Adapun langkah-langkah penggunaannya adalah sebagai berikut:

Hal 6

Anak mengambil pita anyam yang telah disediakan. Anak memasukkan pita anyam dari tiang pertama yang berada paling kiri, dengan intruksi: masuk-keluar,masuk-keluar, ... dst, sampai tiang yang paling kanan. Kemudian anak mengambil pita anyam yang kedua, dengan warna yang berbeda, dan memasukkannya pada tiang pertama yang berada paling kiri, dengan intruksi keluar-masuk, keluar-masuk,... dst, sampai tiang yang paling kanan. Demikian seterusnya sampai tiang berisi pita anyam penuh, dengan pola ABAB.

IMPLEMENTASI PENGGUNAAN MEDIA PAGAR ANYAM PADA ANAK TK KELOMPOK A Sejak tahun 2010, penulis mendapat tugas menjadi guru sentra seni dan kreatifitas. Salah satu materi yang disampaikan di sentra ini adalah menganyam. Selama menjadi guru sentra seni dan kreatifitas penulis sangat kesulitan untuk memberikan materi menganyam. Banyak anak yang tidak tertarik dengan kegiatan ini, bahkan mereka menghindari kegiatan ini. Kalau mereka ditanya penyebabnya, jawabannya selalu malas, sulit, dan tidak bisa. Hal ini merupakan tantangan bagi penulis untuk mencari solusinya. Akhirnya dengan berbagai referensi, penulis membuat media pagar anyam, media untuk menstimulasi kemampuan menganyam, dimana media ini bisa dimainkan langsung oleh anak, sehingga anak lebih senang dan tertarik dengan kegiatan menganyam. Pada mulanya penulis membuat media ini dari stereofoam, tapi dalam penggunaannya, media ini terlalu ringan dan mudah rusak, sehingga penulis membuatnya lagi dengan barang bekas yang lebih berat dan kuat, yaitu dari pipa paralon dan nampan bekas. Karena penampilannya yang kurang menarik minat anak, akhirnya penulis memperbaiki media tersebut dengan membuatnya lagi dari kayu yang diberi warna, supaya anak-anak lebih tertarik dan mau menggunakan media ini.

Hal 7

Pada awal penggunaan media pagar anyam ini, anak diberi contoh, untuk memasukkan pita anyam pertama dari tiang pertama, dengan intruksi, keluar-masuk, keluar-masuk, ... dan seterusnya. Kemudian pita anyam kedua dengan warna yang berbeda, dimasukan dari tiang pertama dengan intruksi masuk-keluar, masuk-keluar,... dan seterusnya. Dilanjutkan pita ketiga, keempat dan seterusnya mengikuti pola ABAB. Setelah memperhatikan penjelasan guru, anak bisa langsung mencoba dengan menggunakan media pagar anyam yang telah disediakan. Dari sini anak bisa mendapatkan pengalaman secara langsung dalam kegiatan menganyam, sehingga anak menjadi mudah dalam memahami teknik menganyam. Penggunaaan media pagar anyam ini dirasakan penulis sangat efektif dalam pemberian stimulasi kemampuan menganyam kepada anak, diantaranya : Mengingat ukuran media pagar anyam cukup besar dan kokoh, maka akan memudahkan anak dalam memasukkan pita anyam dari tiang satu ke tiang berikutnya dengan lebih luwes Pita anyam untuk tahap awal menggunakan kain flanel sehingga lebih lentur dan tidak mudah robek seperti kertas, juga dengan warna-warna yang mencolok sehingga membuat anak tertarik Siklus pembelajaran dengan menggunakan media pagar anyam selalu berulang, dan dimulai dari pola yang sangat sederhana kemudian menuju kepada tingkat kesulitan yang bertingkat, hal ini membuat anak semakin trampil dan mendapatkan pengalaman menganyam. Pengalaman keberhasilan yang berulang pada anak sangat berpengaruh pada peningkatan minat dan motivasi anak dalam menganyam, dimana semula banyak anak yang enggan bahkan tidak suka dengan kegiatan menganyam, namun setelah beberapa kali anak-anak menggunakan media pagar anyam, mereka menjadi senang dan tertarik dengan kegiatan menganyam. Bahkan saat guru meningkatkan tingkat kesulitannya, yaitu mengganti media pagar anyam dengan media kertas, anak-anak tetap antusias dan senang melakukannya. keberhasilan yang berulang dalam menyelesaikan kegiatan

Hal 8

Kelebihan lain dari peraga ini adalah penggunaan peraga ini bisa digunakan oleh 2 anak secara langsung, sehingga tetap memberikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama teman, sehingga dapat menstimulasi kemampuan bersosialisasi anak. Dengan pemberian pijakan guru yang kuat kepada anak, terutama menyangkut aturan bermain, guru tidak perlu khawatir anak akan terganggu oleh teman yang lain, karena anak dipastikan tetap dapat bermain dengan fokus meskipun dalam permainan kelompok. Dari penilaian akhir pada kegiatan menganyam anak kelompok A di TK Plus

Rahmat, setelah menggunakan media pagar anyam diperoleh hasil, dari 20 anak, kurang lebih 85% anak yang mendapatkan nilai bintang 3.

PENUTUP Menganyam merupakan kegiatan yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, sehingga banyak anak yang menganggap bahwa menganyam itu sulit. Akan tetapi jika kemampuan ini distimulasi dengan menggunakan media yang menarik dan menyenangkan, maka kemampuan ini akan dapat berkembang secara optimal. Untuk itu penulis membuat media pagar anyam supaya anak bisa lebih mudah dalam memahami teknik menganyam sesuai tahapan perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA Direktoral Pembinaan TK dan SD. 2007, Pedoman Pembelajaran Bidang Pengembangan Seni di TK, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Pamadhi, Hajar dan Evan Sukardi. 2008. Seni Ketrampilan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka Sujiono, Bambang. 2008. Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Universitas Terbuka www.arifuddin-proposalptk.blogspot.com www.artikata.com/arti-35131-menganyam.html www.KamusBahasaIndonesia.org
Hal 9

Gambar media pagar anyam

Hal 10

Gambar penggunaan media pagar anyam oleh anak

Hal 11