Anda di halaman 1dari 26

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Daerah pesisir merupakan wilayah batas pertemuan antara dua ekosistem besar, yaitu ekosistem darat dan laut. Kedua ekosistem ini memiliki karakteristik yang jauh berbeda sehingga daerah pertemuan ekosistem ini menjadi sangat spesifik dan ekstrim. Fluktuasi suhu, salinitas, dan pasang surut merupakan faktor lingkungan utama yang berpengaruh terhadap ekosistem di wilayah tersebut. Menurut (Odum, 1994), daerah perbatasan seperti daerah pesisir dan estuaria menjadi tempat pertemuan bagi banyak spesies organisme yang berasal dari darat dan laut. Adanya pertemuan antara dua ekosistem ini memberikan peluang bagi berbagai jenis organisme untuk menyeberang dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain. Akibatnya, masing-masing jenis organisme yang berasal dari yang berbeda tersebut memiliki sebaran yang saling tumpang tindih dan bahkan memiliki spesies tersendiri yang tidak ditemukan di wilayah darat dan laut. Kadang-kadang spesies tertentu memiliki kelimpahan yang lebih besar di daerah peralihan dibandingkan dengan kedua daerah ekosistem yang mengapitnya. Pertemuan antara ekosistem darat dan laut ini dikenal sebagi ekoton dan pada akhirnya menciptakan suatu keterkaitan ekosistem. Keterkaitan ekosistem terjadi akibat adanya hubungan timbal balik, baik yang sisifatnya satu arah maupun dua arah. Hubungan ini akan mencapai titik klimaks pada saat kesetimbangan dan kestabilan ekosistem telah tercapai. Kecendrungan meningkatnya keanekaragaman dan kepadatan di daerah pertemuan antar komunitas dikenal sebagai pengaruh tepi atau edge effect. Jika kita mengikuti aliran sebuah sungai yang airnya bersumber dari mata air di pegunungan, maka kita akan menemukan berbagai macam komunitas berbeda yang dilalui oleh sungai tersebut hingga tiba di daerah pesisir dan laut. Beberapa komunitas yang dilalui oleh aliran sungai tersebut diantaranya adalah hutan pegunungan, daerah dataran rendah, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Rangkaian ekosistem dari sekumpulan komunitas tersebut menciptakan

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

suatu keterkaitan ekosistem yang utuh dan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Komunitas hutan pegunungan dan dataran rendah tergolong ke dalam ekosistem darat. Sedangkan komunitas mangrove, padang lamun, dan terumbu karang termasuk ke dalam ekosistem pesisir. Komunitas mangrove, padang lamun, dan terumbu karang memiliki peran yang saling mendukung bagi keutuhan ekosistem masing-masing. Mangrove memiliki peranan sebagai penjebak hara dan sedimen, pelindung daratan dari abrasi dan intrusi air laut dan menjadi tempat berlindung bagi banyak organisme laut. Komunitas lamun memiliki peranan yaitu mengurangi energi gelombang, menstabilkan substrat sehingga mengurangi kekeruhan, menjebak zat hara, serta menjadi tempat bertelur dan mencari makan. Sedangkan terumbu karang sendiri mempunyai peranan yaitu mengurangi energi gelombang, juga memperkokoh daerah pesisir secara keseluruhan dan menjadi habitat bagi banyak jenis organisme laut. 1.2. Tujuan

1. Untuk mengetahui hubungan antara ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. 2. Untuk mengetahui manfaat dari ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. 3. Untuk mengetahui syarat hidup dari masing-masing ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. 4. Untuk mengetahui mengapa di daerah Padang Galak - Bali tidak ada ekosistem padang lamun.

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN


2.1. 2.1.1 Ekosistem Terumbu Karang Pengertian Terumbu Karang Binatang karang adalah pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Binatang karang yang berukuran sangat kecil disebut polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang lunak). Dalam peristilahan terumbu karang, karang yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu, sedang kan Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya, karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Jadi Terumbu Karang (Coral Reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya disominasi berbagai jenis hewan karang keras (Guilcher, 1988). 2.1.2. Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya Berdasarkan jenisnya Terumbu Karang dapat di bagi menjadi dua, yaitu : 1. Terumbu Karang Keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. 2. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang, yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh keluar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef, dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll. 2.1.3. Tipe-Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya Terumbu karang umumnya dikelompokkan ke dalam empat bentuk, yaitu : 1. Terumbu karang tepi (fringing reefs) Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju ke laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertical. Contoh : Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali). 2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs) Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0,52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah). 3. Terumbu karang cincin (atolls) Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulaupulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

4. Terumbu karang datar/Gosong Terumbu (patch reefs) Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu. 2.1.4. Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Perkembangan Ekosistem Terumbu Karang 1. Suhu Secara global, sebaran terumbu karang di dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isotherm pada suhu 200C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 180C. Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 0C, dan dapat menoleransi suhu sampai 36-400C. 2. Salinitas Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas air yang tetap di atas 30 tetapi dibawah 35 umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persiayaang salinitasnya 42%. 3. Cahaya Dan Kedalaman Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

4. Kecerahan Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula. 5. Gelombang Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang. 6. Arus Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang. 7. Sedimen Karang umumnya tidak tahan terhadap sedimen. Karena sedimen merupakan faktor pembatas yang potensial bagi sebaran karang di daerah dimana suhu cocok untuk hewan ini.

2.1.5. Penghuni Terumbu Karang 1. Tumbuh-Tumbuhan Ganggang (alga) merupakan suatu kelompok tumbuh-tumbuhan yang besar dan beraneka ragam yang biasanya terdapat di dalam lingkungan akuatik. Mereka adalah produsen primer, mampu menangkap energi surya dan mnggunakannya untuk menghasilkan gula dan senyawa majemuk lainnya dengan menyimpan energi. Lamun adalah salah satu vegetasi yang hidup di

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

sekitar terumbu karang. Lamun mempunyai manfaat sebagai perangkap sedimen. 2. Avertebrata Hewan karang dari filum Cnidaria merupakan kelompok- kelompok utama dari dunia hewan yang sangat penting dalam ekologi terumbu karang. Filum Cnidaria itu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu hydroid, ubur- ubur dan Anthozoa. Berbagai jenis cacing hidup di terumbu karang. Kebanyakan memiliki ukuran kecil dan tidak kelihatan. Cacing berperan dalam proses erosi yang dilakukan oleh hewan secara alami, yang disebut bioerosi, dari batuan kapur menjadi pecahan kapur sampai ke pasir dengan mliang pada batuan tadi. Crustacea merupakan klompok yang amat terkenal dari filum Arthropoda yang hidup dalam terumbu karang. Mereka terdiri dari teritip, kepiting, udang, lobster dan udang karang. Banyak hewan Crustacea ini mempunyai hubungan khusus dengan hewan lain di terumbu karang. Teritip menempel pada beberapa substrat seperti penyu dan kepiting; udang pembersih dengan beberapa ikan; atau udang kecil berwarna dengan anemone. Molusca menyumbangkan cukup banyak kapur kepada ekosistem terumbu yang merupakan penyumbang penting terbentuknya pasir laut. Keanekaragaman Mollusca memainkan peranan penting di dalam jaringan makanan terumbu karang yang rumit ini. Mereka juga menjadi dasar bagi perdagangan besar cangkang hias dan penunjang utama perikanan kerang dan cumi- cumi. Echinodermata adalah penghuni perairan dangkal dan umumnya terdapat di terumbu karang dan padang lamun. Bintang laut yang omnivora memakan apa saja mulai dari sepon, teritip, keong dan kerang. Teripang mendiami sebagain besar terumbu karang dan memakan alga dan detritus dasar. 3. Ikan Karang Ikan karang terbagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

a. Ikan target yaitu ikan-ikan yang lebih dikenal oleh nelayan sebagai ikan konsumsi seperti Famili Serranide, Lutjanidae, Haemulidae, Lethrinidae; b. Kelompok jenis indikator yaitu ikan yang digunakan sebagai indikator bagi kondisi kesehatan terumbu karang di suatu perairan seperti Famili Chaetodontidae; dan c. Kelompok ikan yang berperan dalam rantai makanan, karena peran lainnya belum diketahui seperti Famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Siganidae, Muliidae, Apogonidae (Adrim, 1993). Banyak ikan yang mempunyai daerah hidup di terumbu karang dan jarang dari ikan-ikan tersebut keluar daerahnya untuk mencari makanan dan tempat perlindungan. Batas wilayah ikan tersebut didasarkan pada pasokan makananan, keberadaan predator, daerah tempat hidup. 4. Reptilia Reptilia yang terdapat pada ekosistem terumbu karang hanya dua kelompok yaitu, ular laut dan penyu. Dua kelompok ini terancam punah. Ular ditangkap untuk kulitnya, dan penyu terutama untuk telurnya.

2.1.6. Manfaat Ekosistem Terumbu Karang 1. Dari segi ekonomi ekosistem terumbu karang memiliki nilai estetika dan tingkat keanekaragaman biota yang tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan, bahan obat obatan ataupun sebagai objek wisata bahari. 2. Ditinjau dari fungsi ekologisnya, terumbu karang yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menyumbangkan stabilitas fisik, yaitu mampu menahan hempasan gelombang yang kuat sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi. 3. Adapun dari sisi sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa Negara yang berasal dari devisa perikanan dan pariwisata.

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

2.1.7. Faktor-Faktor Yang Merusak Terumbu Karang Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayatinya termasuk di laut. Karena Indonesia termasuk negara kepulauan. Saat ini salah satu ekosistem yang memiliki peranan penting yaitu terumbu karang kini mulai rusak. Hal ini disebabkan oleh : 1. Pengendapan Kapur Pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat mengakibatkan pengikisan tanah (erosi) yang akan terbawa ke laut dan menutupi karang sehingga karang tidak dapat tumbuh karena sinar matahari tertutup oleh sedimen. 2. Aliran Air Tawar Aliran air tawar yang terus menerus dapat membunuh karang, air tawar tersebut dapat berasal dari pipa pembuangan, pipa air hujan ataupun limbah pabrik yang tidak seharusnya mengalir ke wilayah terumbu karang. 3. Berbagai Jenis Limbah Dan Sampah Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan. 4. Pemanasan Suhu Bumi Pemanasan suhu bumi dikarenakan pelepasan karbon dioksida (CO 2) ke udara. Tingginya kadar CO2 diudara berpotensi meningkatan suhu secara global. yang dapat mengakibatkan naiknya suhu air laut sehingga karang menjadi memutih (bleaching) seiring dengan perginya zooxanthelae dari jaringan kulit karang, jika terjadi terus menerus maka pertumbuhan terumbu karang terhambat dan akan mati. 5. Uji Coba Senjata Militer Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan perubahan genetis (mutasi) biota laut.

Lingkungan Pesisir

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

6. Cara Tangkap Yang Merusak Cara tangkap yang merusak antara lain penggunaan racun dan bahan peledak. 7. Penambangan Dan Pengambilan Karang Pengambilan dan penambangan karang umumnya digunakan sebagai bahan bangunan. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air. 8. Penambatan Jangkar Dan Berjalan Pada Terumbu Nelayan dan wisatawan seringkali menambatkan jankar perahu pada terumbu karang. Jangkar yang dijatuhkan dan ditarik diantara karang maupun hempasan rantainya yang sangat merusak koloni karang. 9. Serangan Binatang Laut Berduri Bintang laut berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang permukaanya dipenuhi duri. Ia memakan karang dengan cara manjulurkan bagian perutnya ke arah koloni karang, untuk kemudian mencerna dan membungkus polip-polip karang dipermukaan koloni tersebut.

2.2.

Ekosistem Padang Lamun

2.2.1. Pengertian Padang Lamun Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan laut dangkal (Wood et al. 1969). Semua lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang mempunyai akar, rimpang (rhizoma), daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan berpembuluh yang tumbuh di darat (Tomlinson, 1974). Lamun senantiasa membentuk hamparan permadani di laut yang dapat terdiri dari satu species (monospesific; banyak terdapat di daerah temperate) atau lebih dari satu species (multispecific; banyak terdapat di daerah tropis) yang selanjutnya oleh disebut padang lamun. Menurut Sheppard pesisir et yang al (1996), Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem ditumbuhi

lamun sebagai vegetasi yang dominan serta

mampu hidup secara

permanen di bawah permukaan air laut. Ekosistem padang lamun merupakan

Lingkungan Pesisir

10

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

suatu ekosistem yang kompleks dan mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat panting bagi perairan wilayah pesisir. Secara taksonomi lamun (seagrass) termasuk dalam kelompok Angiospermae yang hidupnya terbatas di lingkungan laut yang umumnya hidup di perairan dangkal wilayah pesisir Komunitas lamun di wilayah ini mempunyai diversitas yang lebih kompleks dibanding yang berada di daerah sedang (Poiner & Robert., 1986).

2.2.2. Habitat Padang Lamun Lamun hidup dan terdapat pada daerah daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10 m, dan sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di daerah tropik dari pada di daerah ugahari (Barber, 1985). Habitat lamun dapat dilihat sebagai suatu komunitas, dalam hal ini suatu padang lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang saling berhubungan. Habitat lamun dapat juga dilihat sabagai suatu ekosistem, dalam hal ini hubungan hewan dan tumbuhan tadi dilihat sebagai suatu proses yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis, fisika, kimiawi. Ekosistem padang lamun pada daerah tropik dapat menempati berbagai habitat, dalam hal ini status nutrien yang diperlukan sangat berpengaruh. Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan melimpah pada habitat yang tinggi nutrien. Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun terlihat mempunyai kaitan substrat dengan habitat dimana pasir banyak lamun Menurut (Thalassia) adalah dasar dengan kasar.

Haruna (Sangaji, 1994) juga mendapatkan Enhalus acoroides dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati.

2.2.3. Faktor-Faktor Pembatas Pertumbuhan Padang Lamun 1. Suhu Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme,

Lingkungan Pesisir

11

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs 1986; Marsh et al. 1986; Bulthuis, 1987). Marsh et al. (1986) melaporkan bahwa pada kisaran suhu 25 30C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35C. 2. Salinitas Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman, 1986). Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 /o, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 /o. Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas 42,5 /o. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun (Walker, 1985). 3. Kekeruhan Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan oleh lamun untuk berfotosintesis masuk ke dalam air. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya. Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997). 4. Kedalaman Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo, 1997).

Lingkungan Pesisir

12

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

5. Nutrien Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo, 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfaatkan oleh lamun (Udy dan Dennison, 1996). Dihambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi. 6. Substrat Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia padang lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori berdasarkan karakteristik tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara, 1997). Selanjutnya Noor (1993) melaporkan adanya perbedaan penting antara komunitas lamun dalam lingkungan sedimen karbonat dan sedimen terrigen dalam hal struktur, kerapatan, morfologi dan biomassa.

2.2.4. Fungsi Padang Lamun Padang lamun dan memiliki dan berbagai fungsi ekologi yang vital

dalam ekosistem pesisir biodiversitas pesisir perikanan pantai. 1. Sebagai

sangat

menunjang dan

mempertahankan produktivitas dan

lebih penting perairan dengan

sebagai pendukung fungsi

Beberapa fungsi padang lamun, yaitu: sebagai perangkap lebih jernih. menjadi

stabilisator

pengstabil sedimen dasar sehingga perairan ikan). 3. Lamun sebagai produser primer.

2. Lamun menjadi sumber makanan langsung berbagai biota laut (ikan dan non

Lingkungan Pesisir

13

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

4. Komunitas lamun memberikan habitat penting (tempat hidup) dan perlindungan (tempat berlindung) untuk sejumlah spesies hewan. 5. Lamun memegang fungsi utama dalam daur zat hara dan elemen- elemen langka di lingkungan laut (Phillips dan Menez, 1988; Fortes, 1990). Dalam sistem rantai makanan khususnya pada daun-daun lamun yang berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan periphyton dan epiphytic dari detritus yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil echinodermata. ikan melalui dapat tumbuh ikan-ikan kecil. seperti ikan-ikan udang, kuda kecil dan invertebrate kecil dan contohnya : beberapa jenis rantai sangat laut, bivalve, gastropoda, hubungan pada biomasanya.

Lamun juga subur

mempunyai produksi

ekologis dengan Epiphyte ini daun permukaan

makanan dari

dengan melekat

lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi yang cepat dari perkembangan perubahan musiman begitu, sejauh ini nutrien tersebut hewan-hewan kecil tadi dari serangan predator. Perubahan rantai makanan ini bisa terjadi karena adanya perubahan perubahan makanan oleh predator, dan belum banyak 1). ikan Selain diketahui bagaimana dan adanya

terhadap melimpahnya makanan untuk fauna. Walaupun selanjutnya berperan dalam ekosistem pesisir penyu, memakan

rantai energi dan tidak

yang lebih luas (Gambar banyak jenis lamun ini. daun-daun

duyung, manate

dan invertebrata

yang diketahui

Sehingga

kemungkinan yang paling besar, lamun ini menyumbang ke

dalam ekosistem pantai melalui detritus, yakni serpih-serpih bahan organik (daun, rimpang dll.) yang membusuk yang diangkut arus laut dan menjadi bahan organik makanan lain berbagai yang organisme oleh pemakan detritus (dekomposer) dan materi saat permulaan (Nybakken, 1988). Lamun yang mati akan kehilangan protein dimakan fauna pada

dekomposisi. Struktur karbohidrat diambil dari mikroflora (bakteri dan jamur). Banyak dari metozoa yang dapat mencerna protein bakteri dan serasah daun lamun diekskresi oleh fauna dan bentuk yang belum dicerna akan didekomposisi lagi oleh mikroba decomposer sehingga sumber detritus akan meningkat.

Lingkungan Pesisir

14

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

Gambar 1. Rantai Makanan Pada Ekosistem Lamun (Sumber : http://shifadini.wordpress.com)

Gambar 2 Aliran Energi Pada Ekosistem Lamun (Sumber : After Thayer et al. 1975; Raffaelli and Hawkins 1996)

Lingkungan Pesisir

15

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

2.2.5. Peran Padang Lamun Peranan lamun di lingkungan perairan dangkal adalah sebagai berikut : 1. Sebagai Produsen Primer. Lamun mempunyai tingkat produktivitas primer tertinggi bila

dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang (Thayer et al. 1975). 2. Sebagai Habitat Biota. Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (algae). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makanan dari berbagai jenis ikan herbivora dan ikan- ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres 1977). 3. Sebagai Penangkap Sedimen. Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi (Gingsburg & Lowenstan 195 8, Thoraug & Austin, 1976). 4. Sebagai Pendaur Zat Hara. Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifitik.

2.3.

Ekosistem Mangrove

2.3.1. Pengertian Mangrove Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan

Lingkungan Pesisir

16

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000). Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semaksemak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga Ceriops, : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Xylocarpus, Lummitzera,

Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000). Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah mangal apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan mangrove untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000). Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan

Lingkungan Pesisir

17

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah.

2.3.2. Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan. Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk : 1. Adaptasi terhadap kadar kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas : (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya : Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.) untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.). 2. Adaptasi terhadap garam yang tinggi : a. Memiliki sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam. b. Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam. c. Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan. 3. Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horizontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

2.3.3. Zonasi Hutan Mangrove Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia : 1. Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi

Lingkungan Pesisir

18

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

Sonneratia spp. yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. 2. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. 3. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. 4. Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.

2.3.4. Ciri Dan Karakteristik Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove hanya didapati di daerah tropik dan sub-tropik. Ekosistem mangrove dapat berkembang dengan baik pada lingkungan dengan ciri-ciri ekologik sebagai berikut: 1. Jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang 2. Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi ekosistem mangrove itu sendiri 3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air atau air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas, menambah pasokan unsur hara dan lumpur 4. Suhu udara dengan fluktuasi musiman tidak lebih dari 5C dan suhu rata-rata di bulan terdingin lebih dari 20C 5. Airnya payau dengan salinitas 2-22 ppt atau asin dengan salinitas mencapai 38 ppt 6. Arus laut tidak terlalu deras 7. Tempat-tempat yang terlindung dari angin kencang dan gempuran ombak yang kuat 8. Topografi pantai yang datar / landai.

Lingkungan Pesisir

19

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

Habitat dengan ciri-ciri ekologik tersebut umumnya dapat ditemukan di daerahdaerah pantai yang dangkal, muara-muara sungai dan pulau-pulau yang terletak pada teluk.

2.3.5. Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove Ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998) : 1. Fungsi Ekologis a. Pelindung garis pantai dari abrasi b. Mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan c. Mencegah intrusi air laut ke daratan d. Tempat berpijah aneka biota laut e. Tempat berlindung dan berkembang biak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga f. Sebagai pengatur iklim mikro 2. Fungsi Ekonomis a. Penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan) b. Penghasil keperluan industry (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna) c. Penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu dan telur burung d. Pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

Lingkungan Pesisir

20

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

2.4.

Keterkaitan Hubungan Antara Terumbu Karang, Padang Lamun, Dan Mangrove. Komunitas mangrove, padang lamun dan terumbu karang memiliki peran

yang saling mendukung bagi keutuhan ekosistem masing-masing. Mangrove memiliki peran secara fisik sebagai penjebak hara dan sedimen, pelindung daratan dari abrasi dan intrusi air laut dan menjadi tempat berlindung bagi banyak organisme laut. Komunitas padang lamun berperan secara fisik dengan mengurangi energi gelombang, menstabilkan substrat sehingga mengurangi kekeruhan, menjebak zat hara, serta menjadi tempat bertelur, mencari. Sedangkan terumbu karang sendiri, selain berperan mengurangi energi gelombang, juga memperkokoh daerah pesisir secara keseluruhan dan menjadi habitat bagi banyak jenis organisme laut. Keterkaitan ekosistem terumbu karang, padang lamun, mangrove dapat dibagai menjadi dua, yaitu : Keterkaitan Ekosistem Secara Biologis dan Keterkaitan Ekosistem Secara Ekologis. 1. Keterkaitan Ekosistem Secara Biologis Hubungan keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan terumbu karang sudah diduga sejak lama oleh para ahli ekologi. Namun kepastian tentang bentuk keterkaitan antara ketiga ekosistem tersebut secara biologis masih belum banyak dibuktikan. Salah satu penelitian yang dilakukan untuk membuktikan adanya keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan terumbu karang tersebut dilaksanakan oleh Nagelkerken et al., (2000), di Pulau Curacao, Karibia. Penelitian tersebut dilakukan untuk membuktikan apakah daerah mangrove dan lamun benar-benar secara mutlak (obligat) dibutuhkan oleh ikan karang untuk membesarkan ikan yang masih juvenil ataukah hanya sebagai tempat alternatif (fakulatif) saja untuk memijah. Lokasi penelitian dibagi menjadi 4 jenis biotope (habitat) yang berbeda, yaitu : daerah padang lamun di teluk yang ditumbuhi komunitas mangrove, daerah padang lamun di teluk yang tidak ditumbuhi mangrove (tanpa mangrove), daerah berlumpur di teluk yang ditumbuhi lamun dan mangrove serta daerah berlumpur di teluk yang tidak ditumbuhi lamun dan mangrove (daerah kosong tanpa vegetasi).

Lingkungan Pesisir

21

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, Nagelkerken et al., (2000) melaporkan bahwa beberapa spesies ikan menggunakan daerah lamun dan mangrove sebagai daerah asuhan tempat membesarkan juvenile (nursery ground). Kelimpahan dan kekayaan jenis (species richness) tertinggi ditemukan di daerah padang lamun dan daerah berlumpur yang sekelilingnya ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan terumbu karang menciptakan suatu variasi habitat yang mempertinggi keanekaragaman jenis organisme. Hal ini membuktikan adanya pengaruh tepi (edge effect) seperti tampak pada penelitian Nagelkerken et al. (2000). Adanya variasi habitat menciptakan daerah tepi yang saling tumpang tindih. Hal ini menimbulkan suatu daerah pertemuan antar spesies sehingga meningkatkan keanekaragaman jenis organisme di daerah tersebut. 2. Keterkaitan Ekosistem Secara Biologis Secara ekologis, terumbu karang mempunyai keterkaitan dengan daratan dan lautan serta ekosistem lain, seperti hutan mangrove dan lamun. Hal ini disebabkan karena terumbu karang berada dekat dengan ekosistem tersebut serta daratan dan lautan. Berbagai dampak kegiatan pembangunan yang dilakukan di lahan atas atau di sekitar padang lamun atau hutan mangrove akan menimbulkan dampak pula pada ekosistem terumbu karang. Demikian pula dengan kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti: kegiatan pengeboran minyak lepas pantai, pembuangan limbah dan perhubungan laut.

Gambar Ekosistem Mangrove

Lingkungan Pesisir

22

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

Gambar Ekosistem Terumbu Karang

Gambar Ekosistem Padang Lamun

2.5.

Mengapa Di Daerah Padang Galak - Bali Tidak Ada Ekosistem Padang Lamun Pesisir Kota Denpasar juga memiliki lamun. Lamun merupakan

tumbuhan yang hidup di perairan pantai yang dangkal. Ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang produktif. Produktivitas organiknya cukup tinggi dengan produktivitas primer berkisar antara 900-4650 gC/m2/tahun. Lamun memiliki sistem perakaran yang silang menyilang dengan rhizoma yang dapat menstabilkan pantai karena daya pegangnya terhadap pasir pantai. Padang lamun (seagrass) merupakan tumbuhan

Lingkungan Pesisir

23

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

berbunga, berbuah, berdaun dan berakar sejati yang tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual. Beberapa tumbuhan lamun seperti Thalassia testudinium, Cymodocea manatorium, nitrogen. Kondisi ekosistem padang lamun yang ada di wilayah pesisir Kota Denpasar menyebar mulai dari Depan Hotel Grand Bali Beach hingga Pantai Mertasari. Lamun yang ada di Pantai Sanur tumbuh di hamparan pantai sepanjang sekitar 8 km yang terbentang dari Hotel Grand Bali Beach sampai Mertasari. Substrat dasar tempat lamun itu tumbuh terdiri atas pasir, pecahan karang, karang mati, batuan massif, karang dan algae. Di lokasi dengan kondisi seperti ini banyak dimanfaatkan untuk kegiatan mandi, renang dan kegiatan wisata lainnya. Akibatnya lamun yang tumbuh alami tersebut semakin hari semakin tertekan yang mengarah kepada terjadinya degradasi lingkungan pantai yang lebih serius. Di Pantai Padang Galak hingga pantai Matahari Terbit, tidak ada lamun karena ombaknya besar dan tidak terlindung oleh karang penghalang di depannya. Ekosistem padang lamun tersebut merupakan habitat yang baik bagi beberapa jenis udang, kepiting, ikan dan kerangkerangan. Hal ini karena padang lamun merupakan ekosistem yang produktif dan sumberdaya yang bernilai tinggi yang berperan memperkaya kesuburan lautan dan memberi perlindungan serta makanan bagi berbagai spesies ekonomis penting. Diplanthera wrightii dan Ruppia maritima, diketahui mengandung blue green algae secara epipit yang menunjukkan adanya fiksasi

Lingkungan Pesisir

24

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan Terumbu Karang (Coral Reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya disominasi berbagai jenis hewan karang keras (Guilcher, 1988). Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan terumbu karang antara lain, suhu, salinitas, cahaya dan kedalaman, kecerahan, gelombang, arus, dan sedimen. Manfaat ekosistem terumbu karng antara lain, dari segi ekonomi, dari fungsi ekologis, dan dari segi sosial ekonomi. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan laut dangkal (Wood et al. 1969). Semua lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang mempunyai akar, rimpang (rhizoma), daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan berpembuluh yang tumbuh di darat (Tomlinson, 1974). Beberapa faktor yang menjadi pembatas perkembangan padang lamun antara lain, suhu, salinitas, kekeruhan, kedalaman, nutrien, substrat. Manfaat padang lamun antara lain, sebagai produsen primer, sebagai habitat biota, sebagai penangkap sedimen, dan sebagai pendaur zat hara. Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Daya adaptasi mangrove terhadap lingkungan antara lain, adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, adaptasi terhadap garam yang tinggi, dan Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil dan adanya pasang surut. Manfaat dari ekosistem hutan mangrove dapat dilihat dari segi ekologis dan dari segi ekonomis. Komunitas mangrove, padang lamun dan terumbu karang memiliki peran yang saling mendukung bagi keutuhan ekosistem masing-masing. Mangrove memiliki peran secara fisik sebagai penjebak hara dan sedimen, pelindung daratan dari abrasi dan intrusi air laut dan menjadi tempat berlindung bagi banyak

Lingkungan Pesisir

25

HUBUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG, PADANG LAMUN, DAN MANGROVE

organisme laut. Komunitas padang lamun berperan secara fisik dengan mengurangi energi gelombang, menstabilkan substrat sehingga mengurangi kekeruhan, menjebak zat hara, serta menjadi tempat bertelur, mencari. Sedangkan terumbu karang sendiri, selain berperan mengurangi energi gelombang, juga memperkokoh daerah pesisir secara keseluruhan dan menjadi habitat bagi banyak jenis organisme laut. Kondisi ekosistem padang lamun yang ada di wilayah pesisir Kota Denpasar menyebar mulai dari Depan Hotel Grand Bali Beach hingga Pantai Mertasari. Lamun yang ada di Pantai Sanur tumbuh di hamparan pantai sepanjang sekitar 8 km yang terbentang dari Hotel Grand Bali Beach sampai Mertasari. Substrat dasar tempat lamun itu tumbuh terdiri atas pasir, pecahan karang, karang mati, batuan massif, karang dan algae. Di Pantai Padang Galak hingga pantai Matahari Terbit, tidak ada lamun karena ombaknya besar dan tidak terlindung oleh karang penghalang di depannya.

3.2.

Saran Sebagai sumber daya pesisir, ketiga ekosistem tersebut memiliki multi

fungsi untuk menunjang sistem kehidupan dan berperan penting dalam dinamika pesisir dan laut, terutama perikanan pantai sehingga pemeliharaan dan rehabilitasi ketiga ekosistem tersebut untuk tetap mempertahankannya. merupakan salah satu alasan Ekosistem di dalam wilayah pesisir

seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, estauria dan ekosistem lainya sangat penting dalam menunjang keberadaan biota terutama pada perikanan serta beberapa aspek lain seperti fungsi fisik dan sosial-ekonomi. Ekosistem tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan ekosistem sekitarnya, bahkan sangat dipengaruhi aktifitas darat. Namun, akhir-akhir ini kondisi ekosistem tersebut semakin menyusut oleh adanya kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Oleh karena itu sebagai manusia haruslah menjaga dan tetap melestarikannya agar ekosistem tersebut terpelihara dan dapat membantu mengurangi dampak terhadap lingkungan yang ada.

Lingkungan Pesisir

26