Anda di halaman 1dari 4

Tugas Baca Mei Risanti Sirait Atrial Fibrilasi 1.

Definisi: aktivasi atrium yang amat cepat dan tidak teratur, biasanya irama ventrikel iregular. 2. EKG: - frekuensi atrium > 400/menit - frekuensi ventrikel 100-200/menit (tidak teratur) - gelombang P tidak teridentifikasi - gelombang QRS biasanya normal 3. Penyebab: - penyakit miokardium karena berbagai sebab - dipicu alkohol atau stres - miokard infark - ketidakseimbangan elektrolit, khusunya hipokalemia - tirotoksikosis, emboli paru, sindrom Wolff Parkinson White 4. Klasifikasi: a. Atrial Fibrilasi Paroksismal, berlangsung kurang dari 7 hari dengan episode pertama < 48 jam. 50% akan kembali ke irama sinus spontan dalam 24 jam. b. Atrial Fibrilasi Persisten, menetap > 48 jam namun < 7 hari. Irama sinus dikembalikan dengan kardioversi. c. Atrial Fibrilasi Kronik/Permanen, berlangsung > 7 hari. Biasanya sulit mengembalikan ke irama sinus. 5. Manifestasi Klinis, dapat simptomatik maupun asimptomatik seperti berdebar-debar, sakit terutama saat beraktivitas, sesak nafas, cepat lelah dan sinkop. 6. Pemeriksaan Fisik a. Tanda vital: denyut nadi berupa kecepatan dan regularitasnya, tekanan darah. b. Tekanan vena jugularisnya. c. Ronkhi pada paru menunjukkan kemungkinana gagal jantung kongestif. d. Irama gallop S3 menunjukkan gagal jantung kongestif, bising auskultasi menunjukkan adanya kelainan katup jantung. e. Hepatomegali, kemungkinan gagal jantung kanan. f. Edema perifer, kemungkinan gagal jantung kongestif. 7. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium: hematokrit (anemia), TSH (penyakit gondok), enzim jantung (bila curigai iskemia jantung). b. EKG c. Foto rontgen toraks d. Ekokardiografi untuk melihata kelaian katup, ukuran atrium dan ventrikel, sindroma WPW dan indentifikasi adanya iskemia. e. Pemeriksaan fungsi tiroid. 8. Komplikasi dapat berupa fibrilasi ventrikel maupun tromboemboli yang dapat menyebabkan stroke.

9. Penatalaksanaan Pengembalian ke irama sinus pada Atrial Fibrilasi akan mengurangi gejala, memperbaiki hemodinamika, mencegah tromboemboli, kardiomiopati, remodelling elektroanatomi dan memperbaiki fungsi atrium. Kardioversi dapat berupa farmakologis maupun elektrik. a. Kardioversi Farmakologis Obat Cara Pemberian Dosis Amiodaron Oral Rawat Inap:1,2-1,8 g/hari dalam dosis terbagi hingga 10 g, kemudian 2004000mg/hari sebagai dosis pemeliharaan atau 30mg/kg sebagai dosis tunggal. Rawat Jalan: 600-800mg/hari dalam dosisi terbagi sampai 10 g, kemudian 200-400 mg/hari dosis pemeliharaan. Intravena/Oral 5-7mg/kg dalam 30-60 menit, kemudian 1,2-1,8g/hari diteruskan iv atau oral dalam dosis terbagi sampai total 10 g, kemudian 200-400 mg sebagai dosis pemeliharaan. Dofetilide Oral CCT Dosis (ml/mn) (ug BID) >60 500 40-60 250 20-40 125 <20 KI Flecainide Oral 200-300mg Intravena 1,5-3,0 mg/kg dalam 10-20 menit Ibutilide Intravena 1 mg dalam 10 menit diulangi 1 mg bila diperlukan Propafenon Oral 450-600 mg Intravena 1,5-2,0 mg/kg dalam 10-20 menit Quinidine Oral 0,75-1,5 g dosis terbagi dalam 6-12 jam, biasanya dengan obat yang memperlambat denyut jantung b. Kardioversi Elektrik Pasien Atrial Fibrilasi dengan hemodinamik tidak stabil akibat laju irama ventrikel yang cepat disertai tanda iskemia, hipotensi, sinkop perlu segera dilakukan kardioversi elektrik. Kardioversi dimulai dengan 200 Joule. Bila tidak berhasil dinaikkan menjadi 300 Joule. Pasien dipuasakan dan dilakukan anastesi dengan obat anastesi kerja pendek. Gastritis 1. Definisi: proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung. 2. Etiologi: infeksi Helycobacter pylori. 3. Penegakan Diagnosis: a. Anamnesis berupa nyeri panas dan pedih di ulu hati, disertai mual dan kadang-kadang sampai muntah.

b. Pemeriksaan endoskopi dan histopatologi. Pada endoskopi ditemukan gambaran eritema, eksudatif, flat erosion, raised erosion ,perdarahan dan edematous rugae. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan degradasi epitel, infiltrasi netrofil, sel mononuklear, folikel lymfoid, atropi, intestinal metaplasia, hiperplasia sel endokrin dan kerusakan sel parietal. Pemeriksaan histopatologi sebaiknya menyertakan pemeriksaan kuman Helicobacter pylori. 4. Penatalaksanaan Obat 1 Obat 2 Obat 3 Obat 4 PPI dosis ganda klarithomisin Amoksisilin (2x500 mg) (2x1000mg) PPI dosis ganda Klarithomisin Metronidazole subsalisilat/subsitral (2x500 mg) (2x500 mg) PPI dosis ganda Tetrasiklin Metronidazole (4x500mg) (2x500 mg) Pengobatan diberikan selama satu minggu. Leptospirosis 1. Definisi: penyakit yang disebabkan mikroorganisme Leptospira interogans. Disebut juga dengan Weils disease/ mud fever/ slime fever/ swamp fever/ autumnal fever/ infectious jaundice/ filed fever/ cane cutter fever. 2. Etiologi: mikroorganisme spirochaeta, genus leptospira, familia terponemataceae. Yang tersering menginfeksi manusia adalah L. icterohaemorrhagica dengan reservoir tikus, L. canicola dengan reservoar anjing dan L. pamona dengan reservoar babi dan sapi. 3. Penularan, dapat melalui kontak dengan air, tanah, lumpur yang telah terkontaminasi urine binatang yang terinfeksi leptospira. Infeksi terjadi jika terdapat luka/erosi pada kulit ataupun selaput lendir. 4. Patogenesis: leptospira masuk dan menyebar ke jaringan tubuh secara luas lalu terjadi respon imunologik selular maupun humoral sehingga infeksi dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Namun beberapa organisme mampu bertahan pada daerah yang terisolasi seccara imunologi seperti pada ginjal sebagian bertahan di convuleted tubules dan bertahan di sana serta dilepaskan melalui urine. Setelah fase leptospiremia 4-7 hari, mikroorganisme hanya dapat ditemukan dalam ginjal dan okuler. Leptospiruria berlangsung 1-4 minggu. 5. Gambaran Klinis Masa Inkubasi 2-26 hari, biasanya 3-17 hari dan rata-rata 10 hari. Sering Jarang Demam, mengigil, sakit kepala, pneumonitis, hemaptoe, perdarahan, meningisimus, milagia, mual, muntah, diare, edema, splenomegali, atralgia, nyeri abdomen, ikterus, hepatomegali, hematemesis, asites ruam kulit dan fotofobia. Leptospirosis memiliki dua fase, yaitu: a. Fase leptospiraemia (berlangsung 4-7 hari) Ditandai dengan adanya leptospira di dalam darah dan cairan serebrospinal, berlangsung secara tiba-tiba dengan gejala awal sakit kepala biasanya frontal, rasa

sakit pada otot hebat terutama paha, betis, pinggang dan nyeri tekan. Mialgia dapat diikuti hiperestesi kulit, demam tinggi disertai menggigil, mual dengan atau tanpa muntah disertai mencret, pada 25% kasus disertai penurunan kesadaran, 50% ikterus. Pada hari ketiga dan keempat dapat ditemukan fotofobia. Kadangkadang dapat ditemukan utrikaria, hepatomegali, splenomegali dan limfadenopati. Jika ditangani dengan baik akan kembali normal setelah 3-6 minggu. b. Fase Imun Demam turun setelah 7 hari diikuti bebas demam selama 1-3 hari, setelah itu demam kembali disertai mengigil dan kelemahan umum. Terdapat sakit yang menyeluruh pada leher, perut terutama otot betis. Injeksi konjungtiva dengan ikterik merupakan tanda patognomonis untuk leptospirosis. 6. Penegakan Diagnosis Diagnosis pasti dengan pemeriksaan kamar gelap, kultur urin yang diambil setelah 2-4 minggu onset penyakit dan uji serologi MAT (Microscopic Agglutination Test) dan MSAT (Macroscopic Slide Agglutination Test) 7. Terapi Indikasi Regimen Dosis Leptospirosis ringan Doksisiklin 2x100mg Ampisilin 4x500-750mg Amoksisilin 4x500mg Leptospirosis Penisilin G 1,5 juta unit/6 jam iv sedang/berat Ampisilin 1 gram/6 jam iv Amokisisilin 1 gram/ 6 jam iv Kemoprofilaksis Doksisiklin 200/minggu 8. Prognosis Pada kasus dengan ikterus angka kematian di bawah usia 30 tahun 5% dan oada usia lanjut 30-40%.