Anda di halaman 1dari 74

-1Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Kaidah-kaidah fiqih



.
Setelah tahmid dan salam dalam makalah ini ana akan mengetengahkan tentang " qaidah
syariyyah dari qaidah fiqhiyyah muyassaroh / qaidah-qaidah fiqih yang mudah " yang telah
digoreskan oleh ulama' dari generasi salafus sholeh terdahulu ataupun sekarang, sehingga kita
semakin mengenal akan qaidah-qaidah syar'iiyah yang di atasnya di bangun agama ini serta
dalam istimbat hukum, sehingga mempermudah bagi kita untuk memahami agama ini ( insya
ALLAH ), & kitapun beragama dengan qaidah dan ilmu karena makna ilmu mengetahui
kebenaran dengan dalilnya



:

bukan hanya sekedar akal-akalan & memperturutkan hawa nafsu sebagaimana kata imam ali
RA tatkala mensikapi perintah rasulullah untuk mengusap sepatu bagian atas bukan bagian
bawahya bagi orang yang berwudhu memakai sepatu jika musafir (ataupun lainya misal musin
dingin pent. ) beliau berkata :


Seandainya agama ini dengan akal-akalan sungguh mengusap 2 sepatu bagian bawahnya
( tatakala berwudhu) lebih utama dibanding bagian atasnya.( bisa di lihat di kutaib ta'dimus
sunnah )
Adapun rujukan yang ana ambil dalam pembahasan ini adalah beberapa kitab karya para ulama
diantaranya adalah :






Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-2Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Ataupun kitab-kitab yang lainya insya allah


Adapun untuk kitab yang pertama ( qowaid al qowaid ) ana cuman menukilkan makna & arti
qowaid/qaidah karena kitab ini banyak membahas qaidah secara umum terutama dalam
masalah manhaj ( dan munkin juga ana nukilkan disini insya allah ) adapun jika ada yang salah
baik terjemahan & tulisan sebagai manusia biasa ana mohon maaf yang tiada terkira & mohon di
koreksi, sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadist

Sesunggunya manusia itu tempatnya salah dan lupa sebaik-baiknya kesalahan adalah dengan
bertaubat kepada ALLAH.
jika ada benarnya itu datangnya dari ALLAH semata sebagiamana firmaNya :

Sesungguhnya kebenaran itu datang dari ALLAH maka janganlah engkau bimbang & ragu
Sebelumnya sedikit kita nukilkan penjelasan makna qowaidul fiqhiyyah secara ringkas..
Makna al qowai'd

.
: ) ( :
Secara bahasa :
Kata :"qawa'id" sebagaimana dijelaskan oleh ahlul ilmi " dia adalah jama dari kata"qaidah " dan
maknanya adalah : apa-apa yang dibangun diatasnya sesuatu yang lain ( lihat qowaidul qowaid
hal : 4 ) adapun tambahan dari saya sendiri: artinya pondasi / dasar misal jika dikatakan
/ qoidatul imaroh artinya pondasi bagunan, bisa juga bermakna : prinsip dan asas
( metode/peraturan) , misal / qoidatul bilad au hukumah artinya prinsip
/peraturan negara atau pemerintah.

.
: :

.

:



.
Untuk itu berkata ahlul ilmi adapun qaidah secara istilah syar'ii adalah : perkara yang
menyeluruh ( universal ) yang di kembalikan kepadanya cabang-cabang yang banyak.
Dan berkata sebagian yang lain : qaidah adalah perkara yang umum (universal ) dikembalikan
kepadanya cabang-cabang yang banyak, maka dari urain tersebut bahwasanya makna qaidah
adalah : sebuah ungkapan yang terdiri dari beberapa kata akan tetapi masuk didalamnya
pembahasan yang luas, karena sesunggunya pembahasan inti dari qaidah adalah untuk
mengumpulkan cabang-cabang yang berbeda-beda.( ibid 4 )
Makna fihq

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-3Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Secara bahasa : dari kata : artinya : mengerti, memahami, pemahaman maka


jika dikatakan : artinya : memahamkannya / mengajarkan dan
mengigatkannya , pegetahuan , pengertian & kepandaian ( ) sebagaiman doa nabi
kepada ibnu abbas :

" ya allah pahamkanlah dia kepada ilmu agama "
maka jika dikatakan : : tafaqqahu = mempelajari ilmu fiqh
atau : fiqh adalah = ilmu hukum syariat ( istilahnya)
Maka orang yang pitar dan ahli dalam hukum syariat di sebut :
:
Al faquh atau al faqih dan jamaknya ; fuqoha' artinya orang yang sangat cerdas dalam
pemahaman.
.












:



Dan mana fiqh secara istilahi adalah : mengetahui hukum-hukum syari'at serta cabangcabangnya dengan dalil dari kitab dan sunnah dan ijma' serta qiyas yang shohih.
" : - -
"

Dan adalah al imam al izzi bin abdus salam semoga allah merahmatinya- beliau wafat thn 606
H dan beliau mengarang kitab " qowaidul ahkam fi masolohil anam " dan kitab ini termasuk salah
satu kitab yang pertama di tulis tentang qowaidul fiqhiyyah, maka setelah itu para ulama
mengikuti jejak beliau dan mulailah mereka mengarang kutub dalam masalah qowaidul
fiqhiyyah.
Ini adalah sekelumit makna ushul fiqh secara ringkas serta sejarahnya bagi yang ingin
mendalami secara sunguh-sungguh kami persilahkan untuk menela'ah kutub para ulama
diantaranya yang ana sebutkan diatas. Dalam menuliskan serta menukilkan qoidah fiqhiyyah ini
ana tuliskan teks indonesianya setelah tulisan arab untuk mempermudah bagi yang ingin
menghapalnya namun tidak bisa membaca arab gundul , dan sebagian juga ana nukilkan suatu
qaidah inti isinya sama namun berbeda redaksi seperti misal bisa lihat qaidah yang pertama,
marilah kita mulai masuk kepada usul & kaidah fiqhiyyah

KAIDAH PERTAMA
:
An niyatu sartun lisairil 'amal biha sholaku wal fasadu lil'amal
Artinya : niyat itu adalah syarat bagi semua amalan dalam ibadah dengan niat akan diketahui
baik & buruknya amalan.
:
Ada sebagian ulama' mengemukakan qaidah ini dengan lafad & siya' ( susunan kata ) yang
berbeda : yaitu : la sowaba illa binniyat ( tidak sah suatu amalan kecuali dengan niat )
Atau redaksi yang lain mengatakan ( jumhur ulama') : :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-4Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Segala sesuatu amalan tergantung niat & tujuannya


Penjelasan secara ringkas :
: -
:
- - : - -
.
Pengarang ( as syeikh abdur rahman as sa'di ) menyebutkan di sini : bahwasanya niat
merupakan syarat sah tidaknya suatu amalan, adapun yang di maksud niat adalah : a' qosdu
( tujuan & keinginan) jika di katakan : nawa kadha : artinya : maksud & tujuannya) adapun
makna niat secara istilah :" al azmu 'alal fi'il ( berkeinginan kuat untuk mengerjakan suatu
amalan ) maka barang siapa yang memiliki keinginan kuat untuk berbuat suatu amalan maka
sudah di katakan itu dia telah berniat, dan sebagian ulama' menjelaskan arti niat maknanya : "
berkeinginan & bertujuan mendekatkan diri kepada Allah , dan ini kurang tepat , karena disana
ada 2 kemunkinan : niat yang benar untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ada pula niat
untuk mendekatkan diri kepada selain Allah, dan ini juga termasuk niat , dan semuanya ada
hukum dan perinciannya.
Dari qaidah ini ada 2 penjelasan yang pertama :
1.Dalil niat merupakan syarat amalan.
2. kedudukan dan fungsi niat.
Dalilnya dari hadist umar ibnu khotob :
: :

( )
Dari Amirul Muminin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan
tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang
dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya,
maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena
dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan
bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin
Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An
Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah
dikarang) .
:
- -
.
: :
. :
. :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-5Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
Hadist ini merupakan hadist yang amat agung sehingga sebagian ulama' salaf berkata:
hendaknya hadist ini diletakkan diawal kitab dari kitab-kitab ilmu agama, karena itulah imam
bukhari memulai menulis hadist dalam kitab shohihnya dengan hadist ini ( inamal a'malu
binniyat ) sesuai lafad yang kami camtumkan diatas. Dan hadist ini merupakan salah satu usul
( pondasi ) dari sekian pondasi agama, dan telah berkata imam ahmad : " tiga hadist yang
berputar & di bangun di atasnya islam yaitu :
1.hadist umar RA ini : inamal a'malu binniyat. ( sesunggunya amalan tergantung niyatnya )
2. hadistnya aisyah RA : " barang siapa mengada-ada ( berbuat bid'ah ) suatu amalan dalam
agama kami ( islam ) yang tidak ada contohnya ( dari rasulullah ) maka amalanya tertolak ( lihat
arbai nawawi hadist ke 5 ) .
3. hadistnya nu'man bin basyir : sesunggunya halal telah jelas dan haram sudah jelas ( lihat
arbain nawawi hadist ke 6 )
adapun kedudukan & fungsi niat adalah :
kedudukan niat adalah didalam hati tidak ada tuntunan dari rasulullah untuk menlafadkan niat &
menjaherkannya, kecuali ibadah haji /umrah
fungsi niat adalah :
1. untuk membedakan amalan itu ibadah ataupun adat dan perbuatan biasa.
Misal : mandi , mandi ini adalah hal biasa, namun jika dilakukan dengan niat ibadah , maka
mandi ini akan bernilai ibadah, misal mandi wajib, mandi sebelum ihram, mandi sebelum sholat
jum'at, begitu juga orang berkumur-kumur kemudian mencuci muka dan tangan dan mengusap
kepala serta kaki , kalo dilakukan habis bangun tidur dengan tujuan biar bersih maka ini adalah
hal biasa bukan ibadah, namun jika di lakukan dengan niat wudhu maka inilah ibadah dsb.
2. untuk membedakan amalan satu dengan yang lainnya.
Misalnya: orang menjamak sholat dhuhur dan asar, keduanya dilakukan dalam satu waktu &
sama-sama 4 raka'at , maka untuk membedakan ini sholat dhuhur & itu sholat asyar adalah
dengan niat, atau misalnya : kita masuk masjid kemudian kita sholat 2 raka'at , ada kemunkinan
kita melakukan sholat tahiyatal masjid atau sholat sunnah qobliyah ( sunnah rawatib ) untuk
membedaknya adalah dengan niat dsb.
Dan dengan niat akan diketahui benar salahnya amalan itu, karena syarat ibadah selain niat
adalah iklash dan mutaba'ah ( mengikuti sunnah nabi ) dan ibadah apapun harus memenuhi
syarat ini, sedang iklhas ataupun tidak amalan tersebut juga tergantung niatnya , kalo niyatnya
iklhas maka ibadahnya benar tapi kalo niatnya riya' maka ibadahnya salah.
Maka dari sini ada 4 kemungkinan dalam ibadah :
1. iklash yang sesui dengan syariat
2. iklash namun tidak sesui syar'iat
3. sesui syariat tetapi tidak iklash

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-6Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

4. tidak iklash dan tidak sesui dengan syariat


maka dari 4 kemunkinan ini hanya yang iklas & sesuai syariatlah ibadahnya yang di terima.

Ayat dan hadist yang berhubungan dengan niat :


Allah telah berfirman :
(5: )








Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus ( al bayyinah : 5 )
( 18)









}
: 19-18 : ( 19)









17:18. Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan
baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami
tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
17:19. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang
usahanya dibalas dengan baik. ( al isra': 18-19 )
{ 114 : )








)
Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami
memberi kepadanya pahala yang besar.( an nisa: 114 )
Rasulullah telah bersabda :
" " : - - - -
Hadistnya mua'd RA sesunguhnya rasulullah telah bersabda : " barang siapa yang berperang
karena ghonimah maka baginya niat tersebut ( artinnya: dia tidak mendapat pahala karena
(.niatnya untuk mendapat harta rampasan perang pent
" " : - -
: - Dan dalam musnad sesunggunya rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya antara 2 kelompok
yang berperang ( saling membunuh ) allah lah yang tahu niat dalam hatinya (al hafidh ibnu hajar
menghukumi bahwasannya hadist ini rawinya terpercaya sebagaiamana beliau berkata : rijaluhu
mausuqun.
" : - -
Dalam hadist lain dikatakan : "kemudian Allah membangkitkan manusia sesui dengan niatnya "

KAIDAH KEDUA

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-7Kaidah-kaidah fiqhiyyah /



Ad dinu mabniyun 'ala masholihi fi jalbiha wa dar ii lilqobaiihi
" agama ini bagun untuk kebaikan dan maslahat dalam penetapan syariatnya dan untuk
menolak kerusakan"
dalam kitab mulakhos mandhumah fiqhiyyah yang di ringkas oleh abu humaid abdullah al falasi
dari kitabnya as syeikh muhammad sholeh al usaimin di katakan dalam qaidah pertamnya
( ad dinu ja a lisa'adatin basar )
artinya : agama islam datang untuk kebahagian manusia, atau dalam konteks lain dikatakan :


( ad dinu kuluhu jalbun lilmasholikhi wa daf'un lilmafasidi
Agama ini islam seluruh syari;atnya adalah untuk mendatangkan kebaikan & manfaat dan untuk
menolak kerusakan & mudhorot
. .
Dan qaidah ini adalah qaidah umum dalam agama ( dienullah ) allah SWT , yang padanya
dikembalikan urusan agama ini.
: :
{





} : -- - -
: ( 19: )
. :
Karena makna ad dien ( agama ) adalah : as syari'at diambil dari kata fi'il : daana artinya : taat
maka jika dikatakan daana lighoirihi :artinya : taat kepada selainnya, dan makna ato'a adalah
menyerahkan semua dien ( keta'atan ) kepadnya, maka tatkala orang yang beriman mereka
menta'ati allah SWT maka dinamakan syari'at allah itu adalah : ad dien ( agama ) sebagaimana
firmannya : sesunggunya ad dien (agama ) yang benar disisi allah hanyalah islam ( ali imran :
19)
Dari firman allah disini dapat dipahami : bahwasanya agama islam di bagun untuk kemaslahatan
artinya : semua syari'at dalam perintah dan larangannya serta hukum-hukumnya adalah untuk
maasholihil ( manfaat-manfaat ) dan makna masholihi adalah : jamak dari maslahat artinya :
manfaat dan kebaikan
Misal : allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat ( bahayanya ) lebih besar dari
pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : al baqorah :219)









2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu
terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfaatnya".
Dan misal-misal yang lainya : seperti pengaraman babi, nikah mut'ah ( bagi yang ngotot
menghalalkannya mudharatnya lebih besar: misal : menimbulkan penyakit sexual ,karena sering
berganti-ganti pasangan karena vagina menerima kadar asam sperma yang berbeda-beda, bisa

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-8Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

merusak keturunan, si anak tidak diketahui siapa bapaknya , merusak kaidah berumah tangga
dsb sebagaimana dijelaskan oleh akh metrix, tread lainnya)

} * : - - - -
- -( 2) { (15 )





} :
( 26 : { )


.
Dan bukanlah manfaat dan maslahatnya kembali kepada ALLAH , karena sesungguhnya allah
maha kaya sebagaimana firmanya : QS alfatir 35:15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak
kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
Sesungguhnya ALLAH maha kaya dan maslahat serta faedahnya kembali untuk hambaNYA dan
bukanlah yang dimaksud disini adalah sesui dengan hawa nafsu dan apa-apa yang di inginkan
nafsu manusia, karena itu menyelisihi makna addien ( agama ) dan keta'atan , sedangkan
ketaatan dibangun diatas iltizam ( berpegang teguh ) dengan perintah serta larangan allah, maka
untuk inilah syari'at islam melarang untuk mengikuti dan memperturutkan hawa nafsu
sebagaimana firmanya : : jangan lah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga kamu tersesat dari
jalan allah ( QS : shood : 26 )
Karena mengikuti hawa nafsu akan menumbulkan bahaya yang banyak, kejelakan serta
kehinaan, dan tidak ada di dalamnya maslahat serta manfaatnya sedikitpun dalam mengikuti
hawa nafsu, maka jika kita mengakui hal tersebut maka apakah sumber beragama kita yang kita
mengambil hukum tatakala mempertimbangkan : ini adalah bermanfaat dan baik buat manusia
ataupun sebaliknya ????
Dari sini ada 2 golongan manusia yang mensikapi agama ini :
1. orang yang tidak memperdulikan dan tidak bersungguh-sungguh dalam
mempertimbangkan masalah manfaat dan mudharat ( seperti sebuah fatwa yang bisa merugikan
orang banyak & membunuh jiwa pent.) yang mereka ada pada mereka adalah hanya semangat
sehingga tidak memperhatikan qaidah fiqh & menjauhi ilmu fiqh dan usul serta qaidahnya.
2. orang yang menimbang dengan
timbagan yang shahih dalam menolak mudharat dan mengambil manfaat dalam beragama dan
berkata dan berfatwa, dan ini harus dengan dalil dan syari'at ALLAh bukan hanya sekedar
perasaan & dengan akal lebih-lebih hawa nafsu.
Misalnya : sebagian ulama mengharamkan rokok , karena manfaat dan mudharatnay lebih besar
dari pada manfaatnya dengan dalil sbb ( sekalin ini bantahan kepada akh dalam treadnya )
1. Firman Allah ta'ala :
157 : ) )
Dan dia menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamankan bagi mereka segala
sesuatu yang buruk " ( al a'raf : 157 )
Rokok termasuk hal yang buruk dan membahayakan diri sendiri , & orang lain serta tak sedap
baunya.
2. 195 : ) )
' dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan " ( al baqoroh : 195)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

-9Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

rokok mengakibatkan penyakit yang bisa membinasakan seperti kanker, penyakir paru-paru dan
lain sebagainya.
3. 29 : ) )
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya allah terhadap kalian maha menyayangi
( an nisa : 29 )
Rokok bisa membunuh penghisapnya secara perlahan-lahan
4. 19 : ) )
'dosa keduanya ( minuman keras & judi ) lebih besar dari pada manfaatnya ( al baqoroh : 219 )
rokok bahayanya lebih besar dari pada manfaatnya baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
5. 26 : ) )
' janganlah menghambur-hamburkan ( hartamu ) dengan boros, sesungguhnya pemborosan itu
adalah saudaranya syaithon ( al isra' : 26 )
membeli rokok adalah merupakan pemborosan & pemborosan termasuk perbuatannya
syaithon.
6. Rasulallah SAW bersabda :
' tidak boleh membahayakan diri sendiri ataupun orang lain '
merokok membahayakan si perokok, menganggu orang lain & membuang-buang harta.
7. Sabda Nabi Muhammad SAW :
) ) ( )
' Allah membenci untukmu perbuatan menyia-yiakan harta' ( HR bukhari-muslim ).
Merokok adalah menyia-nyiakan harta & dibenci Allah.
8. sabda Rasulallah SAW :
( )
' perumpamaan kawan duduk yang baik dengan kawan duduk yang jelek ialah seperti pembawa
minyak wangi dengan peniup api ( tukang pandai besi )' ( HR Bukhari-muslim )
perokok adalah kawan duduk yang jelek yang meniup api yang bisa membakar orang di
sekitarnya ataupun menyebabkan bau yang tidak sedap.

( )
' Barang siapa menghirup ( meminum ) racun hingga mati maka racun itu akan berada di
tangannya lalu dihirupkan slama-lamanya di neraka jahannam ( HR Muslim ).
Rokok mengandung racun ( nikotin ) yang membunuh penghisapnya perlahan-lahan &
menyiksanya.
Sabda Rasulallah SAW :
) )
' Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah hendaknya menyingkir ( menjauh ) dari
kita dan menjauhi masjid kami dan duduklah dirumah ( HR Bukhari-Muslim ).
Rokok lebih busuk baunya dari pada bawang putih ataupun bawang merah .
11. Sebagian besar ahli fiqh mengharamkan rokok, sedang yang tidak mengaharamkan rokok
belum melihat bahayanya yang nyata yaitu penyakit kanker dan paru-paru yang bisa membunun
penghisapnya.
( bisa lihat buku bimbingan islam untuk masyarakat karya as syeikh muh. zamil zainu )
sumber dalil dari qaidah ini adalah :
- : :
( { 107)



} : -

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 10 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /






} : - -
. {
Dari qaidah ini : dalam membangun hukum-hukum syari'at untuk mengambil manfaat & faedah
serta menolak mudharat telah menunjukkan dalil-dalil yang jelas dari alqur'an diantaranya :
1. 107 : )



)
Dan tidak lah kami mengutusmu ( ya muhammad ) kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam (
al anbiya: 107 )
Dan salah satu tujuan dari di utusnya rasulullah adalah sebagai rahmat : dan salah satu tuntutan
dari kalimat " rahmad " adalah : hendaknya syari'at itu untuk mengambil manfaat dan maslahat
dan untuk menolak bahaya dan kerusakan.
2. { 3 : {







" pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah kami cukupkan
nikmatKU dan telah aku ridahi islam sebagai agama kalian ( al amidah : 3 )
sempurna dan cukupnya nikmat ini : adalah dengan di sempurnakannya agama islam dan
nikmat itu sempurna serta cukup dengan agama yang syariatnya untuk mendapatkan faedah &
manfaat bagi manusia serta untuk menolak bahaya dan kerusakan.



Karena pentingnya qaidah ini maka ulama merasa cukup dan bersungguh sunguh dalam
meperhatikan qaidah ini bahkan telah mengemukakannya al imam al izzi bin abdus salam
dalam kitabnya yang lengkap dan menjadikan hukum-hukum syari'ar semuanya berputar dan
bersumber dari qaidah ini
CONTOH LAIN DARI QAIDAH INI DALAM AL QUR'AN :
Allah ta'ala berfirman :
( 108: )











Artinya : 6:108. Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain
Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Dari ayat ini allah melarang kita mencaci & menhina sembahan orang-orang kafir karena
manfaatnya lebih kecil bahkan mudharatnya akan lebih besar yaitu : mereka orang kafir akan
balik mencaci maki allah dengan melampaui batas tanpa ilmu;
CONTOH DARI PERBUATAN RASULULLAH SAW
1.Ucapan beliau kepada istrinya aisyah RA :
)
(1333 : 1585 1584 1583 :
" kalulah bukan baru masuk islam kaummu sungguh akau akan hancurkan ka'bah dan aku
bangun kembali diatas pondasi ibrahim ( HR bukhari kitab hajj bab keutamaan ka'bah dan
bangunnanya no : 1483,3584,1585 dan muslim kitab hajj bab renofasi ka'bah dan bangunanya
no : 1333)
dalam hadist ini rasulullah lebih mendahulukan maslahat, padahal beliau ingin sekali
memhancurkan ka'bah dan membangun kembali sesui pondasi yang dibangun nabi ibrahim
dulu, karena saat kaum quraish merenofasi ulang mereka kekurangan harta yang baik dan
bagus untuk membangun ka'bah sehingga hanya sampai di jihr ismail, namun demi maslahat

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 11 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

dan tidak ingin timbul fitnah rasulullah mengurungkan niatnya untuk merenofasi ka'bah karena
umatnya ( orang quraish ) saat itu baru masuk islam .
2.contah lain , tatkala umar mengemukan kepada rasulullah untuk minta idzin membunuh tokoh
munafiq abdullah bin ubai bin salul yang tingkah lakunay sudah sangat meresahkan rasulullah
dan kaum mukminin saat itu umar berkata :
) , :
3518 : :
( 2584 :
Kata umar ya rasulullah biarkan aku untuk memengal lehernya, maka Rasulullah SAW
menjawab : jangan ya umar , jangan sampai manusia membicarakan bahwa Muhammad telah
membunuh para shahabatnya ( HR bukhari kitab munafiq bab: larangan berdoa untuk orang
jahiliyyah hadist no : 3518 dan muslim : kitab : berbuat baik dan menyambung silaturrahmi dan
adab bab : menolong saudara yang berbuat dhalim atau di dhalimi no : 2584 )
Dari hadist ini dapat kita pahami : bahwasanya Rasulullah tidak ingin timbulnya fitnah , dengan
sebab membunuh tokoh munafiq ini karena tokoh ini memiliki pengaruh dan pengikut dikaumnya
dan saat itu sebagian besar umatnya adalah baru saja masuk islam , padahal kalo kita lihat
banyak dosa & penghianatan kepada Rasulullah , menfitnah aisyah ( hadist ifki ), membuat
masjid dhiror, mengatakan rasulullah orang yang rakus & orang yang hina ( bisa lihat QS al
munafiqun ) dsb, namun demi maslahat secara umum Rasulullah SAW melarang umar untuk
membunuh tokoh munafiq ini.
3. tatkala ada orang arab badui masuk kemasjid dan kencing didalamnya, pada saat itu para
shohabat ingin mencegahnya namun rasulullah melarangnya, beliau bersabda :
: )
.... 6025
( 284,285:
Kata rasululah : biarkan saja, dan belaiau memerintahkan untuk menyiramnya dengan air ,
maka para shohabat menyirmanya dengan air ( HR bukhari kitab adab , bab lemah lembut
dalam segala hal hadist no : 6025 dan muslim kitab : thoharah bab wajibnya mencuci air
kencing dan najis yang lain jika didapati dalam masjid no : 284&285 )
Dari peristiwa ini mudharat yang di cegah oleh rasulullah SAW diantaranya :
1. jika dibiarkan para shahabat mencegahnya maka akan terbukalah aurat orang badui ini
sehingga akan banyak orang melihatnya.
2. jika dicegah munkin akan menyebar air kencingnya ke mana-mana.
3. jika dicegah maka akan terputus air kencingnya dengan terpaksa dan ini bisa
menimbulkan penyakit.
Inilah diatara manfaat dan faedah dari lemah lembutnya rasulullah kepada orang yang jahil
dan bodoh.

: " " :
: : : " "

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 12 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /


. .

KAIDAH KETIGA :


( FA IDHA TAZAKHUMU ADADUL MASHALIKHI YUQODDAMUL
A'LA MINAL MASHOLIKHI )
artinya : jika dalam suatu masalah bertabrakan antara manfaat satu dengan yang lainnya maka
di dahulukan & diambil manfaat yang paling besar / tinggi
Dalam kitab mulakhos mandhumah fiqhiyyah yang di ringkas oleh abu humaid abdullah al falasi
dari kitabnya as syeikh muhammad sholeh al usaimin dalam kaidah ke 19 di katakan :
. :
Idhaa ta'aarodhotil mashoilihi qudimal a'laa
Jika ada dua maslahat ( faedah ) yang saling berhadapan maka diutamakan maslahat yang
paling besar ,
:



} - -
( 17)


} : - - ( 55 : { )



( 18-17 : { )





.
Qaidah ini disebut " tazakhumul masholeh " ( bertabrakan beberapa maslahat/ keutamaan )
dan yang dimaksud dengan qaidah ini adalah: :jika seorang itu tidak bisa memilih salah satu
dari 2 keutamaan / maslahat, kecuali dengan mengalahkan salah satu dari maslahat itu, maka
apa yang harus dilakukan ? maka di sini pengarang ( as syeikh abdur rahman as sa'di)
menyebutkan : harus mengutamakan maslahat / keutamaan yang lebih besar walaupun harus
meningalkan maslahat / keutamaan yang lebih kecil, dan qaidah ini dalam syari'at islam
bersumber dari ayat al qur'an dan hadist rasulullah SAW diantaranya :
1. firman allah dalam QS az zumar: 55:. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang Telah
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu[ alqur'an ]
2. firman allah QS al zumar : 17-18 :sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,
18. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaran
mereka.
Maka yang paling baik dikembalikan kepada ucapan ini, jika bertabrakan antara manfaat/
keutamaan yang didalamnya untuk mendapatkan hukum dari hukum-hukun syariat maka kami
mengikuti yang palin baik.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 13 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

: :
:
:
.
Jika manusia mau memperhatikan hukum-hukum syariat maka akan mendapati maslahat yang
banyak jenisnya : ada maslahat yang sudah ditentukan dan merupakan kewajiban seperti :
sholat wajib, kadang mendapati maslahat yang disukai dan di sunnahkan, seperti sholat-sholat
sunnah, kadang maslahat yang di syari'atkan yang harus ada di masyarakat walaupun tidak
semunya mengerjakan seperti misal : sholat jenazah, memandikan mayit, dan kadang juga ada
maslahat yang harus dikerjakan oleh semua angota masyarakat.
:
Dan maslalat-maslahat ini diantaranya maslahat yang mu'tabar ( diakui & dikenal ) dalam syariat
dan telah di tentukan hukumnya, dan ulama' menbagi maslahat ini menjadi 3 bagian :
:
.
Pertama:maslahatul mutabaroh (maslahat yang sudah terkenal ) dan dia adalah yang telah di
akui oleh syari'at kemaslahatannya, baik dengan dalil alqur'an ataupun sunnah, ataupun ijma &
qiyas. ( seperti contoh-contoh diatas )
:



Kedua : maslahatul mulqoh (maslahat yang gugur), dia dia maknanya: yang bertabrakan dengan
dalil, seperti misal, orang yang melangar sumpahnya sedang dia tidak bisa menebus kafarahya
kecuali dengan puasa, karena tidak mampu memberi makan fakit dan miskin atau memberikan
penghidupan & pakaian, maka jika dikatakan kepada orang ini : wajib bagi kamu puasa 3 hari
karena tidak bisa menjaga sumpahnya kecuali dengan puasa, akan tetapi maslahat ini
digugurkan oleh syari'at, karena dalam syari'at kafarah bagi yang melangar sumpah, harus
memberi makan fakir dan miskin atau memberikan kehidupan & pakaian atau membebaskan
budak, namun jika tidak di dapati dan tidak mampu maka sebagia gantinyaadalah puasa.
:
-
. -
:
. :
:

.
Tiga : masholihil mursalah yaitu : maslahat yang tidak didapati dalilnya, baik pengugurannya
atau penetapanya, dan telah berselisih sebagian ulama' dalam menjadikan dalil& hujjah
maslahat ini , ada sebagian yang menjadikan nya dalil dan ada sebagian yang menolaknya, dan
telah berpendapat as syeikhul islam ibnu taimiyyah dan ibnu qayyim, (semoga allah meroahmati
mereka berdua) : bahwasanya tidak munkin ada maslahat mursalah, karena semua maslahat itu

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 14 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

sudah pasti mu'tabar ( di kenal dan ditetapkan syari'at ) ,jika ada sebagian yang menganggap itu
maslahat mursalah maka tidak lepas dari dua hal :
1. hal itu mafsadah ( mudharat & bahaya ) bukan maslahat ( manfaat & faedah )
2. sudah ada dalil penetapannya oelh syari'at namun tersembunyi ( samar ) bagi sebagian
faqih ( orang yang mengerti fiqh ) dan pendapat ini sangat kuat , karena menetapkan
bahwasanya syari'at islam sudah paripurna dan sempurna, jika kita memperhatikan dalildalil syar'iyyah maka akan kita dapati bahwasanya syari'at ini mencapuk keumuman
maslahat bagi manusia, dan seseorang itu tidak membutuhkan qiyas kecuali hanya
pada hal-hal yang amat sedikit sekali yang munkin kurang adanya dalil-dalil dalam halhal ( kejadian ) tersebut.
CONTOH PENERAPAN QAIDAH INI :

. "

" :
Mencari ilmu syar'iyyah lebih utama dari pada sholat sunnah, karena mencari ilmu selain
bermanfaat bagi dirinya juga bermanfaat bagi orang lain, berbeda dengan sholat sunnah
manfaatnya untuk diri sendiri, maka dari sini mengerjakan hal yang wajib lebih diutamakan dari
pada hal yang sunnah, sebagaimana dikatakan dalam hadist bukhari : "sesunggunya dekatnya
seorang hamba kepadaku semisal apa-apa yang telah aku wajibkan atas mereka" artinya
semakin banyak seorang hamba mengerjakan kewajiban akan semakin dekat dengan allah dan
rasululnya,
-
..
Dari sini maka : jika dia masuk masjid sedang sholat wajib sudah di tegakkan maka
mendahulukan sholat wajib tersebut dari pada sholat tahiyatul masjid, atau sunnah yang lainya
( seperti 2 rakaat sebelum subuh) dan semisalnya.
: :
: .
:
. :
Maka dari qaidah tarjih antara bebera maslahat (keutamaan ) mereka ( ulama ) berkata:
sesunggunya maslahat yang khusus di dahulukan dari pada maslahat yang umum dalam
tempat-tempat yang tertentu, dan mengerjakan maslahat yang umum jika tidak pada tempat
yang tertentu dan khusus, misalnya : membaca alqur'an , mereka berkata : dan ini termasuk
maslahat & keutamaan , dan alqur'an merupakan dzikir paling utama, akan tetapi jika di tempat
& waktu tertentu lebih diuatamakan dzikir khusus misalnya : dzikir sholat , ( setelah sholat
wajib ), dzikir & doa pagi dan petang ( jika telah tiba waktunya ) maka ini maknanya
mendahulukan dzikir khusus di tempat yang khusus, sedang alqur'an bisa dibaca dialin waktu
dan kapanpun., misal lainya, mengikuti & menjawab adhan, doa setelah adhan lebih diutamakan
dapi pada membaca alqur'an karena waktunya yang khusus & tertentu.
Misal yang lain:
Dalam masalah yang wajib : seseorang memiliki hutang puasa ramadhan 3 hari sedang dia juga
memiliku hutang puasa nadhar sedang waktu nya sudah mendekati bulan ramdhan sedang

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 15 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

keduanya sama-sama wajib mana yang diuatamakan ? melihat keutamaan yang yang agung
dan besar maka lebih diutamakan untuk mengerjakan puasa ramadhan.
Contoh dalam hal yang sunnah : seseorang masuk masjid dan dia ingin mengerjakan sholat
sunnah tahiyatal masjid dan sunnah qobliyah ( rowatib ) sedang waktunya sudah mepet dan
tinggal sedikit karena imam sudah ada sedang mngerjakan sholat sunnah juga mana yang di
diutamakan ? para ulama: mengatakan diutamakan dahulu tahiyatal masjid karena sunnah
muakad bahkan sebagian ahlul ilmi ada yang mengatakan wajib.
Misal dalam alqur'an :




271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu)[172], Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu
menyembunyikannya[173] dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan
itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahankesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[172] menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain.
[173] menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari menampakkannya, Karena menampakkan itu
dapat menimbulkan riya pada diri si pemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi.
Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwasanya : beersedekah dengan sirr ( sembunyi ) lebih uatam
dan didahulukan dari pada sedekah denagn jahr ( terang-terangan )

KAIDAH KEEMPAT

WADHIDDUHU TAZAKUMUL MAFASIDDI FARTAKABU ADNA
MINAL MAFASIDI
ARTINYA: adapun lawannya jika bertabrakan antara mudharat satu dengan yang lainya maka
diambil mudharat yang paling kecil dan ringan
Dalam kitab mulakhos mandhumah fiqhiyyah yang di ringkas oleh abu humaid abdullah al falasi
:dari kitabnya as syeikh muhammad sholeh al usaimin dalam kaidah ke 20 dikatakan
. :
Idhaa ta'aarodho dhororooni daf'u akhfahuma
Jika ada dua mudharat ( bahaya ) saling berhadapan maka di ambil yang paling ringan


(173 : { )







} : - -

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 16 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Adapun lawan dari kaidah yang sebelumnya adalah " tazakumul mafsid " ( bertabrakan antara
mudharat satu dengan yang lainnya ) dimana seseorang tidak mampu meningalkan dua
mudharat & mafsadah ( bahaya) secara bersamaan yang dia mampu adalah meninglakan yang
satu tetapi tidka bisa lepas dari bahaya yang lainnya, maka jika menghadapi kondisi yang
demikian itu : dia harus memilih bahaya yang lebih kecil & ringan untuk mencegah bahaya &
mafsadah yang lebih besar,.
Adapun dalil dari qaidah ini adalah firman allah ta'ala :
(173 : { )







}
Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. ( al baqorah : 173 )

: : :
.
Dari ayat ini diketetahui adanya dua bahaya, yaitu bahaya bagi diri sendiri ( jika tidak makan dia
akan mati ) , dan bahaya kedua memakan bangkai yang haram , maka jalan keluat dari 2
bahaya itu adalah memilih bahaya yang lebih ringan yaitu memakan bangkai.
: " " :
: : : " "

.
Sebagaiaman masholeh ( mashatah & manfaat ) itu terbagi menjadi berbagai macam ( lihat
pembahasan sebelumnya ) maka begitu juga al mafasid ( muhdarat & bahaya ) ,dan makan
ucapan dari qaidah kedua an dinu mabniyun " ala mashalihi fil jalbiha "artinya : untuk
memndatangkannya dan beramal dengannya. Dan makna dari " ad dar'ii lil qobaikhi " : ad dar'ii
maknanya menjauhkan & menhilangkan, sedang makna " al qobaikhi "adalah mafsadah atau
bahaya, dan diantara macam-macam mafsadah & bahaya itu diantaranya :
1.mafsadah yang makruh, :
2. mafsadah yang haram , yang diantaranya bisa termasuk bahaya yang besar
adapula yang kecil , dan perbedan ini bertingkat-tingkat tergantung keadanya.

.
Sebagaimana penjelasan diatas dalam pembagian mafsadah , maka kita tinggalkan mafsadah
yang haram walupun kecil dan kita memilih mafsadah yang makruh, dan kita meningalkan
mafsadah muhararomah yang besar walupun harus mengerjakan mafsadah muharromah yang
kecil, jika tidak ada pilihan lagi dan tidak munkin bagi kita meninggalkan semuanya.

:
- -
.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 17 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Dan begitu juga ada mafsadah & bahaya yang kadang berhubungan dengan orang lain, dan
berhubungan dengan diri sendiri, maka jika dalam hal seperti ini, kita harus memilih mafsadah
yang berhubungan dengan diri sendiri jika tidak mungkin meningalkan keduanya, misalnya :
Jika ada seseoarang yang sangat membutuhkan kepada makanan dan tidak mendapati kecuali
bangkai atau binatang yang haram serta makanan yang halal tetapi milik orang lain yang sama
keaadannya dengan dia ( sangat membutuhkan makannan ) , maka jika dia makan makanan
yang halal milik orang lain tersebut yang bisa menyebabkan bahaya orang lain , sedang jika kita
makan bangkai tersebut tidak membahayakan orang lain maka kita harus memilih memakan
bangkai yang hanya berhubungan dengan diri sendiri bukan orang lain.
: --

.
Missal yang lainnya :
Jika dikatakan kepada seseorang bunuh orang lain jika tidak kami akan membunuhmu, maka di
sana ada dua mudharat dan bahaya, yaitu : terbunuh jiwanya dan terbunuh orang, maka
mafsadah yang kita ambil adalah mafsadah yang berhubungan dengan diri sendiri, dan kita siap
dibunuh demi untuk menhilangkan bahaya yang lebih besar yang berhubungan dengan orang
lain.
CONTOH DARI HADIST :
Sebagaimana di ceritakan tentang keinginan umar untuk membunuh Abdullah bin ubai bin salul,
di sana ada 2 mudharat yaitu : Abdullah bin salul yang suka mencela & menhina islam dan yang
kedua jiak di bunuh akan menimbulkan fitnah dan manusia akan mengira bahwasanya rasulullah
telah membunuh para shohabatnya. Maka tidak membunuhnya lebih di utamakan oleh rasulullah
demi maslahat yang lebih uatama dan ,memilih mafsadah yang lebih kecil.
Contoh lain :
Jika dikatakan munimlah khomer ( minuman keras ) kalo tidak aku akn bunuh kamu ? di sana
ada dua mudharat yaitu minum khomer yang haram dan di bunuh jika tidak mau minum , maka
kita memilih untuk minum khamer demi menolak bahay yang lebih besar yaitu keselamatan jiwa
kita terancam
:
- :
: " " -
.
Dan dari qaidah ini ada qaidah lain yang berhubungan dengan qaidah ini yang di katakan oleh
jumhur ahli usul yaitu : " DAR UL MAFASIDI MUQODAMUN 'ALA JALBIL MASHOLIHI " menolak
mudharat lebih di utamkan dari pada mengambil faedah, karena perhatian pembuat syari'at
kepada perkara yang dilarang lebih besar dari perhatiannya kepada hal-hal yang di perintahkan ,
dan mereka berdalil dengan hadist rasulullah SAW: " jika aku perintahkan dengan suatu perkara
maka kerjakanlah semampu kalian, sedang jika aku larang dari sesuatu maka jauhilah, dari
hadist ini dapat kita pahami : dalam masalah larangan : Rasulullah SAW memerintahkan untuk
menjauhi dan meninggalkan larangan itu secara menyeluruh ( semuanya ) sedang dalam
masalah perintah dalam melaksanakanya tergantung kemampuan.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 18 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
-
. -
Akan tetapi Syikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat dengan pendapat yang lain beliau
berkata : sesunggunya perhatian pembuat syari'at dengan perkara perintah lebih besar dari pada
masalah larangan, dan beliau berdalil dengan dalil dari berbagai segi, namun pendapat jumhur
dalam masalah ini lebih kuat dari pendapat as syikhul islam, dan harap diketahui penerapan
qaidah ini jika antara mafsadah dan maslahat dalam kadar yang sama.Sebagaimana dikatakan
oleh as syeikh sholeh al usaimin dalam kitabnya mandhumatul qowaid :

Wama'a tusaawi dhorarun wa manfa'uhu yakunu mamnu'an li dar il mafasidi ( dan jika kadar
mudharat dan manfaatnya sama maka kita cegah ( untuk mengambil manfaat ) demi menolak
mudharat ( bahaya )
" " :
:
.
Dan mereka mengambil contoh yang banyak sekali, diantaranya hadist Rasulullah dalam
masalah wudhu : "hendaknya kalian bersungguh-sungguh dalam istinsak (memasukkan /
menghirup AIR ) kedalam hidung kecuali kalian dalam keadaan puasa" sebagaimana dalam
kitab sunan, mereka berkata: dihadist ini ada mafsadah yang berhubungan puasa dan ada
maslahat yang berhubungan menghirup air kedalam hidung dalam wudhu, maka mencegah
mudharat lebih diutamakan dari pada mengambil manfaat, yaitu meninggalkan intinsak
( menghirup air) lebih diuatamakan karena bisa merusak/membatalkan puasa.


.
Adapun jika maslahatnya lebih besar dari mafsadahya maka kita utamakan maslahat dari pada
mafsadah, contohnya adalah : orang yang sakit yang tidak bisa berwudhu atau tidak bisa
mengunakan air dan debu, disini ada mafsadah , yaitu sholat tanpa bersuci ( wudhu ) dan disana
ada maslahat yaitu sholat, maka mana yang diutamakan ? jawabnya adalah : mengutamakan
sholat dari mafsadah tersebut, yaitu sholat walaupun tanpa bersuci dan berwudhu.
--


. .

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 19 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Contoh lainya adalah : mendengar dan taat kepada pemimpin (pemerintahan) yang fajir &
dhalim, sesungguhnya mendengar dan ta'at ada mafsadah yaitu membiarkan dan mendiamkan
mereka untuk berbuat dhalim, dan juga ada maslahat yaitu menjaga keutuhan jama'ah dan
ketenangan masyarakat, maka maslahat ini lebih besar dari pada mudharatnya, maka kita
utamakan maslahat ini ( yaitu menjadikan masyarakat tenang ) maka kita mendengar dan ta'at
kepada pemimpin yang dhalim walaupun dalam keadaan seperti ini kita mendiamkan orang yang
berbuta dhalim, karena mafsadah ini lebih kecil yang dimaafkan dan dibanding maslahat yang
lebih besar jika kita taat kepada pemimpin / pemerintahan.
dan ini sesui dengan perintah rasulullah SAW diantaranya SBB:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara
kalian. (QS. An Nisa: 59)


Dari sahabat Ibnu Umar rodiallahu anhu dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam Wajib atas
setiap orang muslim untuk mendengar dan mentaati, baik dalam hal yang ia suka atau yang ia
benci, kecuali kalau ia diperintahkan dengan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan
mentaati. (Bukhari dan Muslim)































:
:


Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak
melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati
mereka adalah hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia. Aku (Hudzaifah) berkata,
Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini? Rasulullah bersabda,
Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul
punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!
(Riwayat Muslim)
Ibnu Hajar berkata: Meskipun ia memukul punggungmu dan memakan hartamu, perilaku ini
banyak terjadi di masa pemerintahan Al-Hajjaaj dan yang semisalnya. (Fathul Bari 13/36)
sampai-sampai khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

Seandainya seluruh umat berlomba-lomba dengan orang yang paling keji dari mereka,
kemudian setiap umat mendatangkan orang yang paling keji dari mereka dan kita mendatangkan
Al Hajjaj, niscaya kita dapat mengalahkan mereka.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 20 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

)




(
.(






Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintai mereka,
mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin
kalian adalah yang kalian membenci mereka dan merekapun membenci kalian, kalian
melaknati mereka dan merekapun melaknati kalian. Dikatakan kepada Rasulullah: Wahai
Rasulullah, apakah tidak (sebaiknya tatkala itu) kita melawan mereka dengan pedang?
Rasulullah berkata, Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat di tengah-tengah kalian.
Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari para pemimpin kalian, maka bencilah
amalannya dan janganlah kalian mencabut tangan kalian dari ketaatan kepadanya. (Riwayat
Muslim)
Pada hadits lain Beliau shollallahu alaihi wa sallam bersabda:












Barangsiapa yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang ia benci, maka hendaknya ia
bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, kemudian ia
mati maka kematiannya bagaikan kematian jahiliyah. (Muttafaqun alaih)









Barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal maka seakan-akan ia telah
melepaskan kekang Islam dari lehernya (Fathul Bari 13/7).
Ibnu Taimiyyah berkata: Dan merupakan ilmu dan keadilan yang diperintahkan untuk
dilaksanakan adalah bersabar atas kedzoliman para penguasa dan kelaliman mereka,
sebagaimana hal ini merupakan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaaah. (Majmuu Fataawaa
28/179)

KAIDAH KE LIMA

WAMIN QOWAI'IDIS SARI'ATI AT TAISIRI FI KULLI AMRIN
NAABAHU TA'SIRIN
Artinya : dan termasuk qaidah syari'ah adalah mudah dalam setiap perkara sebagai ganti dari
kesulitan ( kesusahan )
: : " " :
: " " : " " :
:
.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 21 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Dari kalimat ini : wamin qowa'idis sarii'ati at taisir" yang dimaksud at taisiru : diambil dari kata al
yusru maknanya adalah: mudah & lembut,dan kalimat ini : fi kulli amrin nabahu taksir" nabahu
artinya adalah : ganti darinya, mendapatkannya, adapun makna "at ta'sir " diambil dari kata al
'usru manknanya : keras/susah dan tidak lembut, adapun yang dimaksud dari qaidah ini adalah :
sesunggunya termasuk hikmad dan kasih sayang ALLAH kepada para hambaNya adalah jika
mereka mendapatkan kesulitan dan kesusahan maka sesungguhnya syaria'at islam
mempermudah dan memberikan keringanan bagi mereka.
)


( 5)


} : - -
: { )


} : -- ( 6-5 : :( { ) 6



} : - - ( 185
[78: ]





( 28 : ( { ) 28)




Dalil dari qaidah ini banyak sekali diantaranya firman ALLAH :


(6-5 : :( { ) 6)


( 5)


}
1. 5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. ( qs : alam nasrok : 5-6 )
(185 : { )


}
2. 185. . Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu ( al baqorah : 185 )
(28 : ( { ) 28)









}
3. dan sungguh Allah banyak sekali menghubungkan dalam hukumnya keringanan dan
kemudahan bagi hambanya sebagaiamana dalam firmannya : 28. Allah hendak
memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. ( an nisa:
28 )
[78: ]





.4
78. kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
( al hajj: 78 )
: " " :
2924
dalam hadist dikatakan : aku diutus dengan agama yang lurus lagi mudah.silsilah shohih
karya albani hadist no : 2924.
( )

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 22 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Jika aku perintahkan dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian. ( HR bukhari no :
7288 & muslim no : 1337 )
dan telah menunjukkan yang demikian itu dalam penetapan hukum-hukum syari'at dan itu
semua karena keutamaan allah yaitu bersama kesusahan itu ada kemudahan dan itu semua
demi kemaslahatan makluqnya.
:
:
Dan para ulama lainya mengetengahkan qaidah ini dengan siyah yang berbeda dengan apa
yang di ketengahkan mualif disini ( as syeikh as sa'diy) mengatakan : kesulitan sebab dari
kemudahan ( at ta'siru sababun lil taisir) sedang ulama' lainya mengatakan dengan lafadh :
kesusahan mendatangkan kemudahan ( al masaqqotu tajlibu at taisir ) namun lafadh dari mualif
lebih tepat dari pada lafadhnya para fuqoha,
As syeikh abu huamid abdullah al falasi mengatakan dalam ringkasanya dari kitab qowaidul
fiqhiyyahnya as syeikh sholeh al usaimin dalam qaidah kelima dengan teks
:
Kulamaa wajadatil masaqotu wajada at taisuru
Dimana jika didapati kesulitan maka akan didapati kemudahan



} : - - :
- - ( 196 : { )






: )( :

.
Maka apa saja yang di kategorikan " kesulitan itu bisa mendatangkan kemudahan " diantaranya
adalah sbb :
1. orang yang sakit sebagaiman firman ALLAH dalam memberikan keringanan kepada
orang yang sakit di waktu haji
(196 : )










196. . jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur),
Maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Dalam
ayat ini allah memberikan keringanan hukum dengan firmannya ( ) namun tidak
mutlaq semua sakit allah tidak mengatakan "man kana bihi mardhon" ( barang siapa yang
merasa sakit ) ,maka menunjukkan ayat ini sakit yang dimaksud adalah sakit tertentu, maka
yang dimaksudkan dari ayat ini yang termasuk hikmah allah dalam menentukan hukum
adalah : jika orang yang sakit tersebut mengerjakan peerintah tersebut kemudian

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 23 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

menyebabkan sakitnya bertamnah parah atau menghalangi kesembuhanya, maka syariat


memberikan keringanan di saat seperti itu.


:

.
Contoh lainya adalah: orang yang sakit dalam keadaan puasa jika menyebabkan terhambatnya
kesembuhanya atau karena puasa bisa menjadi parah sakitnya mak boleh baginya untuk
berbuka( membatalkan pausanya dan menganti dilain hari ), adapun jika tidak dalam keadan
seperti itu maka tidka boleh baginya membatalkan puasanya, waluapun dalam keadaan sakit,
contohnya , sakit gigi atau sedikit pusing jika dengan menjalankan puasa tidak menyebabkan
sakitnya menjadi parah dan menghambat kesembuhannya maka tidak boleh baginya
membatalkan puasanya.
.
: : --

} : - - :
( 80 : { )
" " :







} - -
. (184 : { )

2. dan salah satu sebab kemudahan dan keringanan dalam syariat adalah orang yang
bepergian jauh ( safar) , namun ulama' berselisih pendapat jarak nya berapa bisa dikatakan
safar ( bepergian jauh ) , sebaina mereka mengatakan : batasnya tidak kurag dari 80 km,
sebagian lagi berkata : batasanya perjalanan sehari , dan pendapat ini munkin yang lebih kuat,
karena allah mengatakan :
80 : { )
} :
80.

di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim ( an nahl : 80 )

karena syari'at itu datang dengan dalil yang mensifati safat ( bepergian jauh ) dengan makna
sehari, sebagaiman dikatakan dalam hadist : " jangan lah seorang perempaun itu safat
( bepergian ) sehari kecuali dengan mahramnya" dan tidak dikatakan yang lebih sedikit dari
batasan waktu itu ( sehari )
Adapun pendapat yang ketiga dalam menentukan batasan safar ( bepergian jauh ) yaitu :
hendaknya dikembalikan kepengertian umumnya masyarakat, ( al urfi), maka jika umumnya
pemahaman ahlul urfi menyatakan hal itu sudah dikatakan safar maka kita sebut safar, jika tidak
maka tidak termasuk dikatakan safar dan belum mendapatkan keringanan.
Adapun dalil safar ( bepergian jauh ) mendapatkan keringanan dalam syari'at adalah firman allah
:

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 24 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

. (184 : { )






}
184.. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),
Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.
--
. ...
3.Dan sebab lainya dalam mendapatkan keringanan dalam syari'at adalah " an naqs"( kurang
sempurna ) maka orang gila mendapatkan keringanan dalam hukum syari't, begitu juga orang
yang sakit, orang yang haids gugur darinya kewajiban sholat dan thowaf wada' dsb.
:
: :
:
. .
Dan pembuat syari'at ( allah & rasulnya ) dalam memberikan keringanan & kemudahan dengan
menempuh berbagai manhaj:
1. kadang keringan itu mengugurkan kewajiban, misal : gugurnya kewajiban sholat bagi
wanita haids
2. kadang meringankan hal yang wajib, misal : sholatnya orang safar ( boleh dijama' dan di
qosor ) , orang yang sakit dan tidak mampu berdiri boleh sholat dengan duduk ataupun
berbaring.
3. kadang keringanan itu menganti kewajiban dengan yang lainya, misal: tayamun
mengantikan wudhu jika tidak ada air & bagi yang punya udhur ( seperti sakit ).
4. kadang keringan itu bolehnya mendahulukan kewajiban dalam menunaikannya misal :
bolehnya mempercepat membayar zakat, dan mendahulukan sholat berjama'ah jika
sudah berkumpul.
5. kadang keringan itu bolehnya mengakhirkan suatu kewajiban misal :mengakhirkan
sholat berjama'ah jika belum berkumpul jama'ahnya., maka itu semua adalah
berhubungan dengan qaidah ini.
Dan contoh dari qaidah yang agung ini sangat banyak sekali untuk di kemukakan disini, namun
ana cukupkan itu saja

KAIDAH KE ENAM

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 25 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

WALAISA WAJIBUN BILAA IQTIDARIN WALAA MUHAROMUN


MA'AADH DHOROR.
ARTINYA: tidak menjadi kewajiban jika tidak mampu mengerjakan dan tidak ada keharaman
dalam keadaan darurat ( bahaya )
:
: :
- - :
" - - ( 16 : -) {


}
. "
:

:
.
Bait ini mengandung dua qaidah yaitu :
Qaidah pertama : annal waajibaat tasquru ma'a 'adamil qudroh, artinya : sesunggunya suatu
kewajban menjadi gugur jika tidak ada kemampuan untuk menjalanknnya, sedang maksud al
qudrah adalah kemampuan.
Jadi maksud dari qaidah ini adalah : barang siapa yang tidak ada kemampuan baginya untuk
menjalankan danmelaksanakan salah satu amalan wajib dari kewajiban agama maka gugurlah
hukum wajib tersebut.
dalilnya adalah firman ALLAH SWT :
(16 : -) {


}
16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu ( at taqobun: 16 )
Juga hadist rasulullah SAW "
( )
Jika aku perintahkan dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian. ( HR bukhari no :
7288 & muslim no : 1337 )
Adapun macam-macam al qudrah ( kemampuan) disini berbeda-beda tergantung jenis dari
kewajiban tersebut, diantara hal yang wajib kadang berhubungan dengan 1.badan, yaitu
tidak ada kemampuan ( 'adamul qudrah ) berhubungan dengan angota badan yang
berhubungan dengan kewajiban tersebut, contoh : mencuci tangan tatkala berwudhu
padahal orang tersebut tidak memiliki tangan ( putus tangannya), maka dalam keadaan
seperti itu orang tersebut tidak ada kemampuan untuk mencuci tangan, maka gugurlah
kewajiban mencuci tangan baginya

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 26 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

2. kadang tidak ada kemampuan juga berhubungan dengan perbuatan ( fiil ) ibadah, misal :
orang yang lumpuh / duduk di kursi roda maka tidak ada kemampuan baginya untuk berdiri (
dalam sholat ataupun ibadah lainnya: misal thowah, sa'ii dsb ) maka gugurlah kewajiban
berdiri baginya.
:

:
:
. :
Dan kewajiban yang berhubungan dengan harta ( wajibaatul maaliyyah ) kadang gugur darinya
karena tidak memiliki kemampuan untuk mengunakan harta yang cukup, misal : tidak memiliki
perbekalan dan biaya untuk bepergian ibadah hajji maka gugurlah kewajiban hajji.
Dan ada juga kewajiban yang berhubungan dengan ucapan/perkataan, ( wajibaatul qauliyyah )
misal : bacaan dalam sholat, maka gugurlah kewajiban itu dari orang yang bisu yang tidak bisa
berbicara.
Dan kewajiban ini terbagi menjadi 2 macam :
1. kewajiban yang ada ganti dari kewajiabn tersebut jika tidak ada kemampuan untuk
mengerjakannya dengan angota badan misal : wudhu gantinya adalah : tayamum,
orang tua yang tidak mampu berpuasa : gantinya memberi makan tiap hari satu orang
faqir miskin, dsb
2. kewajiban yang tidak ada ganti dari kewajiabn tersebut jika tidak ada kemampuan untuk
melaksanakannya, misal : kewajiban haji gugur dari orang yang tidak ada kemampuan
untuk melaksanakanya, atau jihad ( berperang melawan orang kafir ) gugur dari orang
yang tidak ada kemampuan untuk menegakkannya misal bagi orang yang sakit parah,
tua renta, lumpuh, buta dsb.

:
:
Jika kita sudah mengetahui hal diatas , sekarang ada pertanyaan apakah lemah ( tidak mampu )
mengerjakan bagian dari suatu kewajiban meyebabkan gugurnya keajiban tersebut ? qaidah ini
yang penting dan perlu di garis bawahi : APAKAH LEMAH UNTUK MENGERJAKAN BAGAIN
DARI SUATU KEWAJIBAN MENGGUGURKAN KEWAJIBAN TERSEBUT ? . Ini berbeda
dengan jenis & macamnya kewajiban, karena hal yang wajib itu ada dua ,macam :
: :
:
. :
Yang pertama : ibadah wajib yang tidak bisa dipotong ( dibagi-bagi ) karena ibadah tersebut satu
bagian yang sempurna, maka jika seorang hamba tidak mampu untuk mengerjakannya
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 27 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

sebgaiannya maka gugurlah kewajiban tersebut. misalnya : batasan zakat fitrah adalah satu sha'
(ukuran sekarang kira-kira 2,176 kg Dan kita bisa menggunakan tangan untuk menjadi takaran
dengan cara kita penuhi kedua telapak tangan sebanyak empat kali. Karena satu mud sama
dengan genggaman dua telapak tangan orang dewasa dan satu sha' sama dengan empat mud
pent. ) jika dia tidak memiliki satu sha' maka gugurlah kewajiban tersebut. Dan para ulama
mengatakan tentang qaidah ini : maa laa yataba'adu fakhtiaru ba'dhohu ka ikhtiyaru kuluhu
artinya : apa saja dari ibadah yang tidak bisa di bag- & di potong sebagian maka memilih
bagainnya merupakan pilihan semuanya. Atau mereka berkata : fasaqothu ba'dhuhu ka saqothu
kuluhu artinya jika gugur sebagian saja maka gugur semuanya.
:
:
.
Jenis kewajiban yang kedua : ibadah wajib yang bisa di bagi-bagi ( di potong sebagian dalam
artian : boleh mengerjakan sebgaian dan boleh meningalkan sebagian jika tidak mampu
melaksanakannya secara sempurna) dan bagian satu tidak berkaitan dengan bagain yang lain
maka jika tidak mampu untuk melaksanakanya sebagian tersebut maka tidak gugur sebagian
kewajiban tersebut, misal : menutup seluruh aurat waktu sholat, maka jika kita tidak mampu
menutup semua aurat dan terbuka sebagain, maka kita wajib menutup aurat yang kita mampu
untuk menutupinya, dan para ulama mengungkapkan qaidah ini dengan : al maisuuru laa
yasqutu bil ma'suuru artinya : hal yang mudah tidak membatalkan hal yang sulit secara mutlaq
:
:
:
.
Dan disana ada ibadah wajib yang terkandung didalamnya dua hal diatas : apakah dia satu
bagian yang utuh atau dia itu bisa dibagi-bagi , di sini ada perselisihan diantara fuqoha' :
contohnya : wudhu' , jika seseorang tidak mampu mencuci semua angota badan yang wajib di
basuh, dan hanya mampu mencuci sebagian saja, apakan wajiba baginya uintuk mencuci
amgota wudhu yang tersisa ? para fuqoha' berkata : apaka wudhu bisa dibagi & di potong
sebebagain atau satu kwajiban yang utuh yang tidak bisa di bagi-bagi ? maka jika wudhu'
merupakan ibadah yang bisa dibagi & di potong maka wajib bagianya mencuci angota badan
yang dia mampu untuk mencucinya, dan meningalkan yang lain, namun jika tidk bisa di bagi
maka tidak wajib baginya untuk mencuci dan mengantinya wudhu dengan tayamum. Wallahu
a'lam.

:
:

Kaidah kedua yang terkandung dalam bait kaidah ke enam adalah :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 28 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Laa muharromun ma'a ithdoror, artinya : tidak ada keharaman jika bersaman dengan darurat
( bahaya ) dan banyak dikalangan para fuqoha mengatakan dengan teks lainya : al dhororu
tubihul mahdhuuroh " keadaan darurat menhalalkan hal yang haram " dan yang dimaskud ad
dhoruruh disini adalah : apa-apa yang menyebabkan bahaya bagi hamba jika di tingalkan,
dimana tidak ada lainnya yang menempati sebagai penganti , inilah yang dimaksud ad
dhoruroh yang benar .
.
:

Berbeda dengan makna al haajah ( kebutuhan /keperluan ) maka hajah / kebutuhan maknanya :
apa saja yang bisa menyebabkan bahaya bagi seseorang jika meninggalkannya, akan tetapi ada
yang lainnya yang bisa meenempatinya sebagai penganti.
Misal dhoruroh : jika seseorang dalam keadaanya sangat genting dan lapar sekali dan tidak
mendapati hal yang halal untuk dimakan kecuali bangkai padahal bangkai haram , jika dia
meninggalkan bangkai tersebut untuk tidak dimakan maka orang tersebut akan mendapatkan
bahaya, dan tidak ada lagi selain bangkai sebagai pengantinya ( namaun jika ada makanan yang
halal yang bisa dia capai & dapatkan maka dia harus mencari yang halal itu ) , maka dia
mendapati bangaki tersebut sebagai dhoruroh, dan ini tidak mutlaq semuanya halal, namun ada
muqoyyadnya yaitu : sesui kadar nya saja (tidak boleh berlebih lebihan, akan datang
penjelasnya insya allah )
: + : - :
(173 : { )







}
Adapun dalil dari qaidah ini (al makdhuroot tubahun bil doruroot / hal yang haram menjadi
mubah jika dalam kondisi kritis, bahaya) adalah beberapa ayat diantaranya :
173 barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya ( al baqorah : 173 )
(119 : { )




} :
Dan firmanya :119. Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang
diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu membutuhkanya ( al an'am :119 ) ..



} . : - -
. ( 119 : { )


Di ayat yang pertama hanya khusus berhubungan dengan masalah makanan, akan tetapi dalam
ayat kedua ini thohirnya berupa umum Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu
apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu membutuhkanya ( al
an'am :119 ) sedang misal dari qaidah ini adalah : memakan bangkai yang asalnya haram di
halalkan jika dalam keadaan bahaya ( lapar sekali dan ngak ada penganti selain bangkai
tersebut )

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 29 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
.
Namun dalam qaidah ini ada syarat yang harus kita perhatikan , dimana syarat ini sangat
penting sekali karena sebagain manusia mengiginkan keringanan dari hukum syari'at dengan
alasan qaidah ini dan tidak memperhatikan syarat-syaratnya
. . :

. .
Termasuk syarat dari qaidah ini adalah :
Syrarat pertama: hendaknya kondisi genting, gawat & bahaya tersebut bisa hilang dengan
mengerjakan hal yang haram tersebut , jika tidak bisa hilang keadaan genting tersebut maka
tidak boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, ahlul fiqh memberikan misal : orang yang
sangat kehausan dan tidak mendapati air kecuali khomer ( minuman keras ) maka ini tidak boleh
diambil untuk di minum karena khamer ( minuman keras ) tidak menhilangkan dahaga dan
haus , bahkan akan membuat orang tersebut semakin kehausan dansemakin dahaga , maka hal
yang haram disini malah justru menambah bahaya dan tidak bisa menhilangkan bahaya tersebut
.
: . -- . :
.
Syarat kedua : tidak ada jalan lain untuk menghilangakn kondisi gawat dan bahaya tersebut ,
namun jika ada jalan lain maka tidka boleh mengerjakan hal yang haram tersebut, misalnya :
ada dokter laki laki dan dokter perempaun , sedang pasiennya adalah pasien perempuan maka
kita mengunakan dokter perempuan untuk memeriksa tubuh pasen perempuan yang sakit
tersebut, dan kita tidak boleh memilih dokter laki-laki untuk memeriksa pasien perempuan
dikarenakan adanya dokter wanita yang siap.
: . . :
.
. : .
Dan juga termasuk syarat dari qaidah ini adalah : hendaknya hal yang haram tersebut lebih
sedikit dari dhorurah ( bahaya ) maka jika dhorurohnya ( bahayanya) lebih besar maka tidak
boleh, misalnya : jika bahayanya adalah menghilangkan nyawa orang lain agar dirinya selamat
sebagaimana dalam misal paksaan ( dalam qaidah ke empat ) disini dhorurah lebih sedikit
dibanding hal yang diharamkan yaitu membunuh orang lain sedang dhorurohnya ( bahayanya )
ancaman manusia kepada dirinya akan dibunuh, dengan ucapan mereka : bunuh orang lain jika
tidak maka kami akan membunuhmu, maka ini tidak boleh dituruti.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 30 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

.
.
. . : .
Dan perlu diperhatikan : jika hilang bahaya tersebut ( setelah melakukan hal yang dilarang)
maka hilang lah hukum halal untuk melakukan hal yang dilarang tersebut, ( artinya tidak boleh
menambah lebih banyak hal yang di haramkan) dan tidak boleh bagi manusia untuk menambah
lebih banyak dalam melakukan hal yang dilarang tersebut, hanya sekedar hal yang bahaya
tersebut bisa hilang. Dan ini akan di jelaskan oleh mualaif ( as syeikh as sa;di ) dalam qaidah
berikutnya,dan jika hilang bahaya ( dhoruroh )nya maka tidak boleh melakukan hal yang di
larang , untuk itu jika melihat air maka tayamumnya menjadi batal , dan ulama' mengatakan : ma
jaala li 'udrin bathola bizawalihi artinya: apa saja yang bisa menghilangkan udhur maka batallah
dhorurah tersebut.

KAIDAH KE TUJUH

Wa kullu mahthurin ma'ad dhorurohi bi qodri maa tahtaajuhu ad
dhorurotu
Artinya setiap hal yang dilarang itu di bolehkan jika dalam kondisi yang darurat, tetapi sesui
dengan kadar yang dibolehkan saja untuk menghilangkan darurat itu.

( 173 : { )





} - -
:
.
Bait qoidah ini merupakan salah satu syarat dari qaidah yang lalu ( ke enam bait kedua :

maknanya adalah : tidak boleh mengambil hak yang diharamkan kecuali
sesui kadar kebutuhan yang bisa menghilangkan kondisi darurat / bahaya tersebut,(dan tidak
boleh lebih pent. ) sadapun dalilnya adalah firman ALLAH SWT dalam QS albaqoroh:173)
{ 173 : { )





)
173. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. ( al
baqoroh : 173 )
dalam ayat ini ada syarat : tidak ada keinginan terhadapnya , dan tidak pula melampui batas,
makan al udwan : terus menambah hinga melampui batas yang di wajibkan, maka barang

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 31 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

siapa yang melampui batas tersebut maka dia mendapatkan dosa, dan inilah dalil dai qaidah
ini.
" " :

: .


:
. : .
: :
.
Adapun firmanya : " " para ulama mengambil dalil dari lafadh ini , bahwasannya
keringanan berlaku jika ada maksiyat, misalnya; barang siapa yang bepergian jauh ( safar )
dalam rangka maksiyat, maka tidak boleh baginya mendapatkan keringanan sebagaimana
keringanan dalam safar, seperti : tidak berpuasa, atau menjamak 2 sholat ataupun qosor
(meringkas sholat 4 rakaat menajdi 2 ) , dan begitu juga keringana-keringana yang lainya,
kecuali memang dalam keadaan dhoruroh dan terpaksa dan butuh akan kerinagan tersebut.
Ada masalah lain yang berhubungan dengan kaidah darurat ini, yaitu : apakah kondisi
darura membatalkan hak orang lainnya? Atau jika kondisinya darurat dan harus mengambil (
menhilangkan ) harta orang lain , apakah yang punya hak boleh menuntuk untuk menganti
harta tersebut ? dalam maslah ini ada perinciannya.
2.apakah bahaya / kondisi darurat itu di timbulkan oleh hak milik orang lain atau bukan ?
jika kondisi itu di timbulkan oleh hak milik orang lain maka, yang punya hak ngak boleh
menuntutnya untuk menganti rugi hak yang hilang tersebut. Misalnya : seseorang tiba-tiba di
serang onta ( sapi ) sampai membahayakan dirinya, maka orang tersebut melawannya
hingga terbunuh onta/sapi tersebut karena membela diri , disini ada kondisi darurat
( membela diri ) ,maka apakah boleh sang pemilik onta/ sapi datang kepadanya dan
mengatakan : berikan ganti rugi seharga onta/ sapi tersebut ?, maka kami ( para ulama)
katakan : tidak ada hak bagi sang pemilik, kenapa, karena bahaya / kondisi gawat tersebut
di timbulkan karena kelalailan sang pemilik, dia lupa menjaga hak miliknya, maka jika yang
demikian ittu tidak ada garansi ( ganti rugi )
. :
: .
. .
. :
:
.
.

: :
.
. :
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 32 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

2.adapun jika kondisi darurat ( bahaya ) tersebut tidak ditimbulkan karena hak miliknya
( berhubungan dengan ) orang lain maka wajib mengantinya jika mengambil ( menhilangkan hak
milik tersebut ) misalnya: seseorang sangat kelaparan, dan dia tidak mendapati makanan
apapun kecuali onta milik ( hak ) orang lain kemudian orang ini menyembelihnya dan
memakanya,maka dalam kondisi darurat ( bahaya ) ini ada dan terjadi tanpa ada hubungannya
dan bukan karena hak orang lain, maka sang pemilik onta boleh menuntut ganti rugi dari onta
yang dimakan orang tersebut, maka para ulama mengambil kaidah dari hal ini :
: ( al idhirar laa yubtilu haqol ghoiri ) kondisi bahaya tidak menhalalkan
( membatalkan ) hak orang lain , dengan catatan kondisi darurat ( bahaya ) tersebut timbul
bukan disebabkan hak miliknya. Contoh lainnya yang lebih terperinci : para penumpang
dalam kapal, membuang sebagian barang milik penumpang lain kelautan ,karena bisa
menyebakan bahaya jika tidak membuangnya, masalahnya apakah orang yang membuang
barang tersebut harus menganti barang tersebut apa tidak ? maka kita lihat sebabnya : jika dia
membuangnya karean kelalain sang pemilik barang, misalnya orang tersebut tinggal dibawah
barang tersebut di letakkan , dan sebagian barang tersebut sering menjatuhinya, dan bisa
membahayakannya, terus dia membuangnya kelautan barang tersebut, maka bahaya tersebut
timbul karena kelalaian sang pemilik barang maka , tidak wajib baginya menganti barang
tersebut , namun jika kondisi bahaya tersebut bukan ditimbulkan dari hak ( barang ) oranga lain ,
misal kapal tersebut kelebihan barang dan muatan , dan bisa menyebabkab kapal tersebut
tengelam sehingga pemilik / kapten kapal mengatakan : kita harus membuang sebagain barang
kelaut, dan diambillah sebagian barang tersebut dan dibuang kelaut, maka apakah ada garansi (
ganti rugi ) barang tersebut, kita katakan : iya ada garansi, karena bahaya tersebut tidak
ditimbulkan dari barang itu sendiri atau kelalaian pemilik barang namun timbul karena kelalaian
semua orang dalam kapal, sehingga di katakan kepad semua yang ada di kapal : beri ganti rugi
barang tersebut , dan di bagi rata setip penumpang hingga terkumpul seharga barang tersebut,
tergantung jumlah dan harganya.
- - .


.

KAIDAH KE DELAPAN


Wa turja'ul ahkamu lillyaqini falaa yuziilus sakku lillyaqini
Dan dikembalikan hukum itu kepada yang diyakini dan keraguan tidaklah membatalkan
keyakinan itu.
Dalam bentuk yang lain dikatakan : as aslu baqoo u maa kaana 'alaa
maa kaana artinya : asal sesuatu perkara dihukumi asalnya,
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 33 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

dikatakan dalam mulaqos qowaidul fiqhiyyahnya as syeikh sholeh al usaimin dalam qaidah ke 15
( ruju'u lil asli ;indas shakk ) dikembalikan hukum sesuatu pada asalnya
jika timbul keraguan didalamnya.
misalnya : jika seseorang yakin dalam keadaan suci , kemudian timbul keraguan apakah batal
atau belum , maka di kembalikan pada asalnya, yaitu suci , karena dia yaqin sebelumnya dalam
kedaan suci.
Misal lainnya ; jika seseorang sholat dhuhur dan sudah selesai ( sudah salam ) dan selang
beberapa saat kemudian timbul keraguan apakah sholatnya sudah sempurna ( 4 rakaat ) atau
kurang , maka dikembalikan asalnya bahwasannya sholatnya sudah sempurna.
. : " " :
: : . :
. : : .
Perkataan mualif ( syeikh abdur rahman as sa'diy ) : " " dikembalikan hukum
sesuatu pada keyakinan artinya: sesunggunya syariat itu diletakkan dan disandarkan hukumhukumnya diatas keyakinan, sedang makna yakin dalam bahasa arab adalah :
/ zawaalus sha hilangnya keraguan, dan berkatas sebagain ulama' usul :
sesungguhnya kata yakin dalam bahasa diambil dari kata : tenang/tetap dan diam, jika
dikatakan : yaqonal ma'u artinya air tenang/diam , sedang yakin dalam tinjauan syar'ii adalah:
: tumakninatul qolbi was tiqroorul ilmi fiihi, ketentraman dan
ketenagan hati dan ketetapan ilmu didalamnya,
. :
. : :
.
Sedang makna shak ( ragu) dalam tinjaun bahasa adalah : at tadaakhul saling masuk /
kemasukan , disebut demikian karena keraguan jika masuk didalam hati timbul dua pilihan,
yang menyebabkan tidak bisa mengambil salah satu yang benar diantara keduanya, sedang
maknanya secara istilahi adalah : membolehkan dua perkara atau lebih , yang tidak bisa
menimbang salah satu dari semuanya, maka menimbulkan dua pilihan/ keputusan atau lebih
yang tidak munkin mengambil salah satu yang benar diantara pilihan-pilihan tersebut.
: " " :
:
-) {







:




} : - - :
. : ( 230 :
Adapun ucapan mualif disini : " " dikembalikan hukum kepada keyakinan:
maknanya bahwasanya syari'at itu diletakkan hukum-hukumnya diatas dasar keyakinan, dan
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 34 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

bukanlah maksud mualif disini, tidak digunakannya persangkaan yang kuat, karena syari'at
kadang mengunakan persangkaan yang kuat di beberapa masalah, sebagaimana firmanya
dalam QS : al baqoroh : 230 :230. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka
tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika
keduanya ber-PRASANGKA ( berpendapat )akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Maka
dalam ayat ini di bagun hukumnya diatas dasar prasangka yang kuat. maknanya: kemunkinan
saja benar.
" " - -
. .
Dan misalnya juga sabda rasulullah SAW : aku tidak mengira bahwasanya fulan dan fulan
mengetahui sedikitpun tentang agama kita. Sebagaimana dalam kitab shohih, maka disini
disandarkan hukum pada persangkaan ( yang kuat ) dan ini adalah madhab jumhur ahlul ilmi,
yaitu persangkaan yang kuat kadang di gunakan secara mutlaq.
: " " :
. .
Adapun maksud dari : : """ keraguan tidak menghilangkan keyakinan, maknanya
: sesunggunya keraguan jika timbul pada hati manusia sedang sebelumnya ada keyakinan
dalam hatinya dan keraguan memutuskan keyakinan yang ada sebelumnya, maka janganlah
menghiraukan keraguan tersebut, akan tetapi dikembalikan hukumnya pada keyakinan yang ada
sebelumnya.




} - - :
{ (28)








} : ( 36 : { )




. (28 : )
Adapun dalil dari qaidah adalah beberapa nash syar'iyyah diantaranya :
Dari alqur'an
(36 : { )







}
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran ( QS yunus : 36 )
Serta firmanya :
(28 : ( { ) 28)








}
mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada
berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. ( QS an najm : 28 )

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 35 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

dari hadist
-
" - -
- - " .
Dan di riwayatkan dalam kitab shohihain ( bukahri dan muslim ) : dari hadistnya abdullah bin
zaid RA, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengadu kepada rasulullah SAW
bahwasanya dia mendapati sesuatu didalam sholatnya : maka Rasulullah saw bersabda:
janganlah kamu berpaling ( membatalkan sholatnya) sampai mendapati bau ( kentut) atau
mendengar suara ( kentut ) ( HR bukahri kitab wudhu bab: orang yang tidak berwudhu karena
keraguan yang asalnya yakin, hadist no :137, 173 kitabul buyu' ( jual beli ) bab; tidak
memperdulikankan rasa was-was dan subhat serta semisalnya no :2056 dan muslim kitab haid
hadist no ; 361,362 )
" : - -
. " :
Dan diriwayatkan juga dalam kitab shohih sesungguhnya nabi SAW bersabda: jika salah
seorang dari kalian ragu dalam sholatnya, dan dia tidak tahu sudah dapat tiga roka'at atau empat
roka'at ,maka tinggalkan keraguan dan memilih yang yaqin dan pasti.

.
Jika sudah jelas dan menetapkan dalam hal tersebut maka sesunguhnya kaidah ini adalah
kaidah yang sangat penting dan masuk didalam semua pembahasab, bab-bab fiqh, bahkan ada
beberapa kaidah-kaidah yang sangat berhububgan erat dengan kaidah ini dan mualif
menyebutkan kaidah-kaidah yang berhubungan dengan kaidah ini brikutnya ( akan datang
kaidah tersebut beserta penjelasnya, misal : hukum asal air, tanah adalah suci, hukum asal
sesuatu adalah mubah ( halal ) hukum dalam ibadah adalah haram / dilarang dsb )
: :
:
: .
:
.
Pembahasan yang berhubungan dengan kaidah ini terbagi menjadi 2 macam:

1.masalah yang di sepakati dan sesui dalam kaidah ini , dan disepakati juga
hukumnya

contohnya: seseorang yang pagi harinya dalam keadaan tidak suci dan berhadast ( belum
berwudhu / mandi wajib ) kemudian dia ragu apakah telah bersuci ( wudhu/mandi wajib ) atau
belum ? adalah dia berhadast pagi harinya, kemudian ragu sudah berwudhu apa belum ? maka

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 36 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

yang diyakini dan tetap serta pasti adalah permulaanya / waktu awalnya yaitu dalam keadaan
berhadast maka tidak boleh mengambil keputusan bahwasanya dia sudah bersuci yang masih
diragukan kebenaran dan kepastiannya.
: :
.
Contoh lainnya : diyakini bahwasanya tidak boleh berhubungan badan ( bersegama ) dengan
wanita bukan istrinya ( ajnabi ) maka jika seseorang ragu apakah dia telah menikah wanita
tersebut atau belum ? maka kita kembalikan ke kaidah : yaitu hukum asalnya wanita ajnabi
tidak boleh di setubuhi. ( maka dia tidak boleh menganbil keputusan bahwasanya boleh
bersetubuh dengannya padahal sudah menikahinya atau belum masih diragukan kepastiannya
pent.)
:
: : .
: . .

.

2. masalah yang di sepakati dan sesui dalam kaidah ini namun masih
diperselisihkan hukum yang cocok bagi permasalahan tersebut,

contohnya : jika sesorang dalam keadaan suci waktu paginya kemudian dia ragu apakah sudah
batal atau belum ? asalnya dia dalam keadaan suci kemudian timbul keraguan batal atau belum,
maka yang benar adalah maka kita ambil kondisi yang pertama ( dalam keadaan suci ) kita
menjauhi keputusan untuk menyatakan telah batal yang keadaanya masih diragukan
kepastiannya dan ini adalah madhab jumhur ahlul ilmi ( ulama') , dan berkata para pengikut
madhab imam malik ( malikiyyah ) : kita telah batal, karena keyakian yang pasti adalah sholat
wajib bagi setiap manusia, dankeyakinan ini tidak menjadi batal dengan keadaan suci yang
timbul keraguan didalamnya, maka tidak boleh sholat dalam keadaan ragu seperti ini ( kita harus
bersuci / wudhu lagi )
: : :
: .
. :
Contoh lainnya : jika seseorang telah menthalak ( menceraikan ) istrinya, namun dia ragu
apakah sudah talak tiga apa baru satu ? maka jumhur ulama' berpendapat : nikah pada
permulaanya adalah hal yang sudah pasti di yakini ( sahnya ) , maka tidak membatalkan
pernikahan tersebut thalak yang masih diragukan kepastiannya, maka kita hukumi bahwasanya
itu adalah thalak satu. Adapun malikiyyah berpendapat : hukum asal mensetubuhi wanita ajnabi
adalah haram maka tidak membatalkan keharamanya keyakinan sahnya nikah yang diragukan,
maka kita hukumi bahwasanya dia sudah thalak tiga.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 37 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

.
:
Jika kita sudah mengetahui masalah tersebut dengan jelas, maka sketahuilah sesunggunya
kaidah ini merupakan pondasi dan pokok-pokok syar'iyyah yang agung dan merupakan dalil dari
dalil dalil syar'iyyah, dan ini adalah al istishhab ( penyandaran dan pneyertaan serta
berhubungan), dan istishab ada bebrapa macam :
. :
Pertama : penyandaran kepada mubah pada hukum asalnya, maka asal dalam perbuatan
adalah mubah / boleh
:
.
Kedua : penyandaran kepada berlepas diri ( tidak ada ikatan ) maka hukum asalnya manusia
adalah berlepas diri, maka tidak ada kewajiban sesuatau apapun sampai ada dalil yang
mewajibkannya dari pembuat syari'at ( allah & rasulnya )
:
.
Ketiga: penyandaran kepada dalil syar'ii hingga datang penetapan bahwasanya hal tersebut di
mansuh (dihapus/dibatalakan), maka kita tidak boleh menghukumi dan mengatakan dalil syar'ii
tersebut mansuh ( batal ) sampai kita bisa membuktikannya dengan dalil.
. :
Keempat : penyandaran kepada yang umum sampai ada dalil penghususannya.
: : :
.
Kelima: penyandaran pada sifat, misal : menyandarkan suci dari hadast yang pasti pada waktu
subuh ( setelah sholat shubuh) maka disukai untuk menjadikanya ( keadan suci ) sebagai dalil
pada waktu berikutnya, ( kecuali sudah jelas bahwasanya dia telah batal pent.)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 38 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
.
Keenam : penyandaran kepada kesepakatan para ulama ( ijma' ulama) dalam permasalahan
yang diperselisihkan , yang demikian itu jika ada suatu permasalahan dan ulama telah
bersepakat dalam menentukan hukumya, kemudian berubah suatu sifat ( keadaannya) dari sini
timbullah perselisihan ( ikthilaf )
:
: .
: . :
.
Contohnya adalah : para ulama telah sepakat bahwasanya ' barang siapa melihat ( mendapati )
air sebelum sholat maka batal tayamumnya, kemudian mereka berselisih : gimana kalau melihat
air di tengah-tengah sholat ( misal tiba-tiba turun hujan pent) , maka berubahlah sifat
( keadaanya ) maka apakah boleh seseorang mengatakan : jika melihat air sebelum sholat maka
batal tayamumnya secara ijma ( kesepakatan ulama'), dan kita mengambil / menyandarkan
kepada pendapat ini walaupun kita dalam keadaan melaksanakan sholat, maka jumhur
berpendapat : tidak sah kita mengambil pendapat tersebut ( tidak batal di tenggah sholat )
mereka berkata : tidak sah menyatakan pendapat jumhur dalam masalah yang masih di
perselisihkan.


: . :
: --
.
. .
Pendapat kedua dalam masalah ini : bahwasanya boleh mengambil (menyandarkan ) pendapat
tersebut mereka berkata: al mustashab ( penyandaran hukum asal ) bukan ijma ( kesepakatan
para ulama) namun al mustashab adalah sumber dari ijma itu sendiri, , karena ( telah di sepakati
) harus adanya sumber dalil dari ijma tersebut,

KAIDAH KE SEMBILAN

Hukum asal air tanah, langit dan batu adalah suci
. : "" :
:

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 39 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Pengarang ( as syeikh abdur rahamn as sa'dity ) berkata : ""yang dimaksud al aslu


( asalnya ) adalah : pondasi asal yang terus menerus yang dengannya kita mengambil
hukun,jika tidak didapati dalil dalam selain asalnya , maka masalah tersebut terbagi menjadi 4
keadaan :
. :
Pertama : perkara yang ada dalilnya dalam masalah haram atau najis atau rusak ( fasad ) maka
di hukumi dengannya seperti itu. ( misal : daging babai haram , air kencing dan kotoran najis,
maka di hukumi hal tersebut haram dan najis pent.)
. : :
Kedua : perkara yang dalilnya menunjukkan atas : boleh / halal, atau suci, atau sehat /bagus,
maka dihukumi dengan keadaan tersebut ( misal : air lautan suci, ikan dilautan halal, maka hal
tersebut di hukumi suci dan halah pent.)
. : :
: .
.
Ketiga : perkara yang di dalamnya didapati ada dua dalil yang saling bertentangan. Satu dalil
menunjukkan bagus/ sehar , satu dalilnya lagi menunjukan hal tersebut rusak, atau dalam satu
sisi dalil menunjukkan halal, dan di lain sisi dalil tersebut menunjukkan keharamannya, maka
jika tidak munkin mengambungkan antara keduanya darus diadakan pentarjihan ( mengambil
slaah satui hukum yang paling kuat ) , sedang dalam masalah pentanrjihan ulaam menentukan
kaidah :( / anna dalila at tahrimi yuqoddamu 'alaa dalili al
ibahati ) artinya : sesungguhnya dalil yang menunjukkan keharaman lebih didahulukan dari pada
dalil yang menunjukkan kehalalannya, ( ana kasih contoh waluapun masalah ini sudah jelas dalil
keharamannya dan pernah ana dislkusikan dalam forum MYQ ( bolehkan kita demontrasi dan
memberontak ) , yaitu ; yang lagi ngetren di kalangan pemikiran para shabab harokah
islamiiyah : adalah bom syahid ( sebenarnaya bukan bom syahid tetapi bom bunuh diri )
sebagian pemuda ada yang mengatakan boleh dengan dalil fatwa seseorang ulama katanya
( anda pasti tahu fatwa siapa itu ) dan kebanyakan pemuda mengatakan haram , dengan dalil
dari penjelasan berbagai ulama yang terkenal , taruhlah ada 2 hukum yang bertentangan , yaitu
ada yang mengatakan halal dan ada yang mengatakan haram , dan ini susah kita jama' maka
menurut kaidah tarjih : dalil keharamannya bom bunuh diri lebih di dahulukan dari pada dalil
yang membolehkan pent.)
. . :
Keempat : perkara yang tidak didapati dalilnya, atau kita tidak tahu dalilnya, maka kita
kembalikan dalam pengambilan dalilnay ke kaidah asalnya.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 40 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

: ." " :
:
{ )



} - -
.(48 : )


} : ( 11 :
Adapun perkataannya di sini : " " hukum asal air adalah suci, yang
dimaksud kaidah ini adalah : jika ada air yang kita tidak tahu dalil atas kesucianya, ataukah air
tersebut najis, maka kita dalam menghukumi air tersebut kita kembalikan kekaidah asalnya, da
kaidah tersebut adalah : " air tersebut suci selama tidak ada dalil yang menyatakan lain ( selain
suci ), adapun dalil dari kaidah ini beberapa nusus ( nash ) syar'iyyah diantaranya :
Dari alqur'an :
(11 : { )



}
11. dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu
( al anfal : 11 )
.(48 : )


} :
48. dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih ( al furqon : 48 )
Dari hadist :
: " " ) : - -
69 :
, 59 83:
4350: , 332:
386,387,388:
, 43: :
( 1074:
Sabda rasulullah SAW tentang air laut: " dia ( laut ) adalah suci airnya dan halal bangkainya
( ikannya ) (HR tirmidhi dalam kitab : cara bersuci yang diajarkan rasulullah SAW bab:
penjelasan bahwasanya air laut adalah suci hadist no :69, dan abu dawud dalam kitab at
thaharah bab berwudhu dengan air laut no : 83, dan imam nasa'ii dalamkitab at thaharah bab air
laut no : 59 , dan kitab al miyah ( macam air ) bab berwudhu dengan air laut no : 332, dan kitab
tangan dan sembelihan bab bangkai ikan laut no : 4350, dan ibnu majah dalam kitab at thaharah
dan sunnah-sunnahnya bab berwudhu dengan air laut no : 386,387,388, dan berkata as syeikh
al bani : shahih dan imam malik dalam mawatha'nya kitab at thaharah bab selesai dari wudhu no
: 43, dan di kitab berburu bab penjelasan tentang berburu ikan laut no : 1074 pent. )
: " ") :
66:
. ( : 66,67 :
.
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 41 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

, dan dalam hadist lainya belau bersabda : " air itu suci tidak menjadikan najis sesuatu apapun "
( HR tirmidhi dalam kitab : cara bersuci yang diajarkan rasulullah SAW bab: penjelasan
bahwasanya air itu tidak ada yang membuatnya najis hadist no : 66 dan abu dawud dalam kitab
at thaharah bab penjelasan tentang sumur umum hadist no : 66,67 dan berkata as syeikh
albani : shohih pent.), dan selainya dari hadist yang banyak sekali yang menjelaskan tentang
kesucian air , dan inilah hukum asal , dan kaidah ini terus dipakai dalam menghukumi air.
.
" : - - : .
" : "
: " )
( 521 438:
Dan begitu juga hukum asal tanah ( bumi ) bahwasannya asalnya adalah suci , sampai kita tahu
dalilnya yang menjelaskan tanah tersebut adalah najis, maka hukum asalnya adaalh suci sampai
ada dalil yang menyatakan lain ( najis ), adapun dalil yang menyatakan bahwasanya tanah
( bumi ) adalah suci , beberapa nusus (nash ) syar'iyyah diantaranya : sabda rasulullah SAW : "
allah memberikan keutamaan kepadaku ( dan umatku ) lima hal yag tidak diberikan kepada nabi
sebelumku " diantaranya disebutkan " : dijadikan bagiku semua tanah ( bumi ) itu masjid ( tempat
sholat ) dan suci, maka orang muslim siapapun yang telah mendapati waktu sholat maka
baginya tempat sholat ( dimanapun ) dan tempat itu ( tanah ) suci ( HR bukhari dalam kitab :
sholat bab sabda nabi : dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan suci hadist no : 438 , dan
imam muslim dalam kitab masajid wa mawaadhu'us sholat hadist no:521pent.)
" - -
. "
dan dalam hadist lain rasulullah bersabda: " sesungguhnya tanah ( debu ) itu adalah suci dan
mensucikan seorang muslim jika tidak mendapati air untuk bersuci, bahkan walaupun sepuluh
tahun dalam keaadan seperti itu ( tidak mendapati air ) sebagaimaan di raiwayatkan dalam
sunan abu dawud.
- : .
- - -
. . .
.
Begitu juga hukum asal pakaian adalah suci , dan kita tidsk menhukuminya najis kecuali jika ada
dalil yang menunjukkan kenajisannya, adapun dalil nya adalah , rasulullah SAW bersama para
shohabatnya ( semoga allah meridhoi mereka semuanya) mereka memakai pakaian yang di
buat dan di tenun oleh orang kafir dan mereka ( rasulullah SAW& para shohabat RA ) tidak
mencucinya terlebih dahulu, maka dari dalil ini diketahui bahwasanya hukum asalnya pakaina
adalah suci , adapun batu , maka ini adalah bagain dan salah satu jenis bumi ( tanah ) maka
kita ambil hukumnya sesui keidah diatas.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 42 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Dalam kitab mulakhos qowaidul fiqhiyyahnya as syeikh sholeh al usaimin yang di ringas oleh as
syeikh abu humaid abdullah al falasi dikatakan dalam kaidah ke tiga belas
. :
Hukum asal dalam segala sesuatu adalah boleh dengan dalil :
.[29: ]



Dialah yang telah menciptakan bagi kamu, semua apa yang ada di bumi ( al baqarah : 29 ) dan
ini umum bagi segala sesuatu yang bermanfaat,
Dan dalam kitab risalah latifah fi usulul fiqh karangan as syeikh abdur rahman as sa'diy , para
ulama mengatakan :
( )
Hukum asal dalam segala sesuatu adalah suci dan halal ( boleh ) kecuali ada dalil yang
menunjukkan hal itu najis atau haram,misalnya dalam QS :al baqarah :172-173:


( 172)








(173)















172. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu
menyembah.
173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[*]. tetapi barangsiapa dalam
keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui
batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
___________________________
[*] Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut
nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah ( pent.) .
Dalam ayat ini allah memrintahkan kepada kita untuk memakan apa saja yang di
anugerahkan kepada kita dari rizki yang baik kemudian menjelaskan sebagian apa saja yang
diharamkan untuk dimakan sebagaiman disebutkan dalam ayat diatas
misal dalam jual beli
[275: ]



275. Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. [*]
dalam ayat ini allah menjelaskan kehalalan jual beli karena hukum asal jual beli adalah halal
dan begitu juga selain jual beli dari segala kesepakatan antara kedua belah pihak ,namun
allah juga menjelaskan apa yang di haramkan dari jual beli yaitu riba.
______________________
[*] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang
disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan
barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan
mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan
sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum
terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah (pent.)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 43 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

KAIDAH KESEPULUH :

hukum asal dalam hal perkawinan ( kemaluan ), daging hewan dan
jiwa/nyawa dan harta adalah haram

. "
"
Hukum asal perkawinan ( kemaluan ) dan daging ( hewan ) adalah haram sampai ada sebab
yang menghalalkanya, begitu juga hukum asal jiwa (kehormatan ) kecuali karena perang maka
fahamilah semoga allah memberikan petunjuk terhadap apa yang kamu harapkan ( munkin yang
bagus adalah diganti )
: : . : .
Hukum asal dalam hal perkawinan ( kemaluan ) adalah haram , kata ( al budh'u) artinya
dalam bahasa arab : adalah potongan daging , adapun arti secara istilah syar'ii mencakup tiga
hal :
. . :




( 5)




} - - :
. (7-5 : ( { ) 7)



( 6)

Makna yang pertama ( ) adalah : / kemaluan .
Dan tidak diragukan bahwasanya hukum asal dalam hal kemaluan adalah haram, maka tidak
boleh memakai dan menjamahnya kecuali ada dalil ( sebab) yang membolehkan dan
menghalalkanya untuk menjamahnya, adapun dalilnya adalah :
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau
budak yang mereka miliki[*]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. 7.
Barangsiapa mencari yang di balik itu[**] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui
batas.
[*] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan
budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu,
wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam
peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang
kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan
bersama-samanya ( pent.)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 44 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

[**] Maksudnya: zina, lesbiaan, homoseksual, dan sebagainya ( pent.)


" : - -
. "
.: - -
.
Dan dalam sebuah hadist , rasulullah bersabda tentang kehormatan perempuan : " bertakwalah
kepada allah dalam mempergauli istri-istri kalian , karena sesungguhnya kalian dihalalkan
menjamah (menjima') kemaluan istri kalian dengan kalimat allah "
Maka dari hadist ini ( dan ayat sebelumnya pent.) dapat kita ketahui bahwasannya hukum asal
perempuan dan kehormatan serta kemaluannya adalah haram sampai ada sebab yang
menghalalkannya yaitu dengan kalimat allah, sedang yang dimaksud kalimat allah dalam hadist
tersebut yang benar adalah : ikatan pernikahan, dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lainya
dalam al qur'an dan as sunnah yang mengharamkan al abdho' yaitu kemaluan.
. :
.
Makna ( / ) yang kedua adalah: jima' ( bersetubuh ) sedang jima' itu harus pada
kemaluan, maka jika kita hubungkan dengan kemaluan ( penjelasan diatas pent.) adalah haram,
maka demikian juga dalam jima' (karena jma' tidak terjadi kecuali pada kemaluan pent.)
-: - : :
. - -
. : .:
Makna yang ketiga : yang dimaksud adalah ikatan pernikahan, berpendapat sebagaian
ulama' bahwasanya hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah haram, sebagaimana pendapat
as suyuthi dalam kitabnya "al asbaahu wan nadhooiru" dan juga sebagian ahlul ilmi, dan inilah
yang nampak dari ungkapan bait syair mualif disini ( as syeikh as sa'dhiy pent ) dan juga apa
yang nampak dari syarah / penjelasan bait kaidah tersebut. Maka makna ini kurang benar,
bahkan hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah adalah boleh dan halal sampai ada dalil
yang menunjukkan akan keharamannya.
{ )
} : - - :
.:( 1 :
.
Adapun dalilnya adalah : beberapa nusus ( nash-nash ) syar'iyyah diantaranya firmannya:
(1 : { )
}
Artinya:1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu[*].

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 45 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

termasuk didalamnya adalah perjanjian dalam pernikahan, maka hukum asal dalam perjanjian
tersebut adalah boleh dan syah, sampai ada dalil yang menunjukkan rusak dan batalnya ikatan
perjanjian tersebut.
_______________________
[*] Aqad (perjanjian) mencakup: janji setia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh
manusia dalam pergaulan sesamanya, juga perjanjian dalam pernikahan , perjanjian dalam jual
beli ( pent.)
(23 : { ) .....



} : - - :
. - -
Dan menunjukkan hal tersebut firman allah jalla wa'alla : 23. Diharamkan atas kamu
(mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[*].. ( an nisa : 23 )
dalam ayat ini sesungguhnya allah membatasi perempaun yang haram di nikahi, maka ini
menunjukkan selain yang disebutkan tersebut adalah halaj dan boleh di nikahi
___________________
[*] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak
perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga
yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam
pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam
pemeliharaannya. ( pent .)

( 24 : { )
} - -
. :
Dan menunjukkan yang demikian juga adalah firman allah di akhir ayat 24 surat an nisa : 24.
dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[*] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu
untuk dikawini bukan untuk berzina..
Maka ayat ini menunjukkan hukum asal dalam ikatan pernikahan adalah boleh dan halal sampai
ada dalil yang memalingkannya.
______________________
[*] ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa' ayat 23 dan 24.
( pent.)
. ." " :
" : - -

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 46 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

: "
. .
.
Adapun perkataanya : "" . Hukum asal daging hewan adalah haram" ini
adalah madhab sebagaian fuqoha', mereka berpendapat bahwasanya hukum asal daging hewan
adalah haram, mereka berdalil dengan hadist yang di riwayatkan 'adhiy bin hatim ( pent.) ,
bahwasanya rasulullah SAW bersabda: " jika kalian berburu dengan anjing yang terlatih, dan
kamu dapati bersamanya hewan yang lain dan dia membunuhnya, maka jangan kamu makan,
karena sesungguhnya kamu tidak tahu siapa yang saling memyerang dan membunuh." Mereka
berdalil dengan hadist ini : bahwasanya jika berkumpul antara jenis daging yang di halalkan dan
jenis daging yang berbahaya/haram, maka mengutamakan pendapat daging yang berahaya
( tidak memakan daging yang halal namun tercampur dengan yang haram tersebut pent.)
sebagaimana pula kuda/keledai biqol ( peranakan dari kuda dengan keledai pent.) , dan burung
yang mati karena dipanah kemudian jatuh di air ( karena tidak jelas apakah matinya karena di
panah atau karena tengelam dalam air pent. ) , dan sebagaimana di sebutkan dalam sebuah
hadist dalam sunan nasa'i.
Bersangkutan dengan masalah ini ( hal yang mubah bercampur dengan hal yang haram /
berbahaya ) ana dapatkan dalam kitab mulakhos qowaid al fiqhiyyahnya as syeikh sholeh al
usaimin yang di rinkas oleh as syeikh abu humaid Abdullah al falasiy mengatakan dalam kaidah
ke dua puluh satu
. : :
Idhaa ijtama'a mubahun wa mahthurun, gholabal mahthuru
Artinya Jika berkumpul menjadi satu antara sesuatu yang halal dengan yang haram/berbahaya
maka di dahulukan ( diambil ) yang haram/berbahaya.
:









:
[ 90: ]






.
Penjelas dari kaidah ini : jika berkumpul dalam sesuatu antara hal yang mubah dan hal yang
haram / berbahaya, maka di utamakan sisi yang haram untuk menjaga diri dari haram tersebut,
dan tidak munkin menjauhi / menjaga diri dari sisi yang haram tersebut kecuali jika menjauhi
secara total sesuatu yang yang bercampur antara yang halal dengan yang haram tersebut,
adapun dalil yang menunjukkan kaidah ini adalah firman allah SWT " Hai orang-orang yang
beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi
nasib dengan panah[*], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan
itu agar kamu mendapat keberuntungan" ( QS al maidah : 90 ). Dalam ayat ini allah
mengharamkan khamer ( minuman keras ) dan judi (serta mengundi nasib pent.) padahal di
dalamnya terdapat manfaat dan faedah buat manusia, namun jika bayak mudharat dan
kejelekannya maka mnjadi haram dan dilarang.
___________________________________
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 47 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

[*] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan
anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu
perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu.
setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga
tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka
hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah
anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan
sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah
yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
. :
. : - - .
.
Munkin saja dalil-dalil ini bukan inti dari permasalahan hukum asalnya, karena dalil-dalil ini jika
berkumpul antara daging yang halal dan yang haram didalamnya ada dua sebab yaitu : sebab
keharamanya dan sebab kehalalanya, antara daging dari anjing pemburu ( terlatih ) dan anjing
biasa, antara hewan yang mati karena anak panah atau karena tengelam. Namun permasalahan
inti asalnya sebagiamana penjelasan di atas- adalah : perkara dan sesuatu yang tidak ada
/tidak didapati dalilnya, baik dalil yang menghalalkannya atapun dalil yang mengharamkannya,
oleh karena itu yang nampak jelas dan rajih : bahwasanya hukum asal daging hewan adalah
halal bukan haram.
. :
. :
Sebagaimana kami katakana tentang air : hukum asal air adalah suci, seandainya berkumpul
antara sebab kesuciannya dan sebab kenajisannya maka air itu menjadi najis ( tidak boleh di
gunakan untuk bersuci pent.) maka dari hal tersebut tidak menunjukkan bahwasanya : " hukum
asal air adalah najis "






} : :
: (145 : { ) .....



.
Adapun dalil : hukum asal daging adalah boleh dan halal, adalh firmanNYA : 145. Katakanlah:
"Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi
orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir
atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas
nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pengampun lagi Maha penyayang". ( al an'am : 145 terjemahannya saya nukil dengan lengkap
pent. )
Maka dari ayat ini menunjukkan bahwasanya : hukum asal daging hewan adalah halal dan boleh
dimakan , dan pengharammnya adalah dengan pengecualaian ( istisna' ) dari yang halal.
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 48 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /







} : :
( 119 : -) {


.
Dan dalil yang lainya adalah firman Allah SWT :Mengapa kamu tidak mau memakan (binatangbinatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya
Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang
terpaksa kamu memakannya. ( al an'am : 119 )
maka ayat ini menunjukkan bahwasanya hukum asal daging adalah halal dan boleh
memakanya, sedangkan pengharamnya dengan pengecualain ( istisna') dari yang halal.
( 173 : { )

} : :
. ""
Dalil lain yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal firmanya :
{

}
173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[*]. ( al baqorah : 173 ) dalam ayat
ini pengharamannya di batasi dengan kata " "maka yang demikian itu menunjukkan
bahwasanya hukum asal daging adalah halal.
_________________________
[*] Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama
Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
" - -
" :
. :
.
Dan menunjukan demikian juga ( asal daging halal ) hadist yang ada di sunan, dari hadistnya
aisyah RA : bahwasanya rasulullah pernah di Tanya tentang daging yang diberikan kepada
mereka, sedang mereka tidak tahu apakah dalam penyembelihannya menyebut asma allah apa
tidak ? maka beliau menjawab : maka bacakan basmalah atasnya kemudian makanlah daging
itu " ( HR bukhari kitabul buyu' bab: tidak memperdulikan was-was dan semisalnya dari subhat
hadist no : 2057, kitabut tauhid bab: berdoa dengan nama allah dan mohon perlindungan
denganya hadist no:7398)
kalau seandainya hukum asal daging adalah haram , sungguh akan dikatakan : " janganlah
kamu makan sampai kamu tahu dalil ( bukti ) halalnya daging tersebut. Dan masih banyak lagi

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 49 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

dalil-dalil yang menyetakan bahwasanya hukum asal daging adalah halal dan boleh, sampai ada
dalil yang menyatakan lain ( haram/subhat pent.
: . : ." " :
: .
} : ) 29 { )




} :




} : ( 151 : { )





. (68 : { )


Adapun ucapanya disini :
: "" . Al aslu fin nafsi at tahrimu "
Hukum asal jiwa manusia adalah haram ditumpahkan darahnya" yang dimaksud kaidah ini
adalah : tidak boleh menumpahkan darah manusia kecuali dengan dalil syar'ii yang
menghalalkanya, maka hukum asalnya : haram menumpahkan darah makhluqnya sampai
datang dalil tentang masalah tersebut,
DALIL KAIDAH INI
Dari al qur'an
telah menunjukkan banyak sekali dalil dari nash-nash syar'ii diantaranya : firman allah SWT
(29 )




}
artinya :. dan janganlah kamu membunuh dirimu[*]; Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.( QS an nisa:29)
[*] larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab
membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, Karena umat merupakan suatu kesatuan.
Dan juga firmnanya : { 151 : { )




)
151.dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan
dengan sesuatu (sebab) yang benar[*]"( QS : al an'am :151).
[*] maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan
sebagainya.
Firmanya : { 68 : { )




)
68. Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan
(alasan) yang benar, ( QS:al furqan : 68 )
dari as sunnah

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 50 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

: " - -
"
Sabda nabi SAW: tidaklah halal darah seorang muslim kecuali salah satu dari tiga alasan : orang
dewasa ( sudah berumah tangga ) yang berzina , orang yang membunuh orang lain, dan orang
yang meningalkan agamanya ( murtad ) dan meninggalkan jama'ah umat islam ( HR : bukhari
kitabut diyat bab firman allah ( al maidah :45 ) hadist no :6878 dan muslim kitab al qosamah wal
muharibin bab : sebab dihalalkannya darah seorang muslim hadist no : 1676 )
" : " : - -
Dan sabda nabi SAW tentang orang kafir yang dilindungi negara : barang siapa yang membunuh
al mu'ahid ( kafir yang dilindungi negara muslim karena suatu perjanjian atau kepentingan , misal
bisnis, turis, belajar dsb pent.) maka dia tidak akan mencium baunya surga ( HR bukhari kitabul
jiziyah wal muwaada'ah bab: dosa orang yang membunuh mu'ahid tanpa sebab kejahatan hadist
no : 3266)
.
. " " - - :
. (5 : { )

} :
Dan inilah hukum asalnya dan kaidah ini selalu dan senantiasa dipakai dalam pengharaman dan
terjaganya jiwa seseorang, kecuali memang disana ada dalil yang membolehkan untuk
menumpahkan darah ,( seperti membunuh tanpa sebab, maka hukumnya orang tersebut di
qisos ( dibunuh juga ) , atau dalam peperangan dsb pent.) atau selainya seperti jiwa yang tidak
terjaga kehormatannya ( boleh dibunuh ) seperti : tukang sihir ( jaman sekarang lebih terkenal
dengan sebutan para normal pent.) dan ini yang boleh membunuhnya adalah pemimpin negara
(atau dengan keputusan hakim pent. ) sebagaimana sabda rasulullah SAW : hukuman bagi
tukang sihir ( paranormal) adalah dengan pedang ( dipengal lehernya ) sebagaimana disebutkan
dalam kitab sunan, contoh lainya: orang yang keluar dari agama islam ( murtad) , atau orang
yang memerangi kaum muslimin, sebagaiman firmanya SWT:
(5 : { )

}
Maka bunuhlah orang-orang musrik ( yang memerangi kalian ) ( QS : at taubah:5)

" " :


} : :
)



} : 29 : {








} - - ( 2) { (190
. (3) { (188)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 51 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

KAIDAH : BAHWASANYA HUKUM ASAL DALAM HARTA SESORANG


ADALAH HARAM BAGI YANG LAINNYA.

Adapun ucapannya : ""


Al aslu fil amwaali at tahrimu "
Artinya :" hukum asal harta orang lain adalah haram " dan kaidah ini sellau dan senantiasa
dipakai dalam syari'at islam .
Adapun dalil dari kaidah ini, banyak sekali nash-nash syar'ii yang menunjukkan hal tersebut
diantaranya :
Dalil dari al qur'an
Firman allah SWT :
(29 : )








Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu ( an nisa':29 )
Dan firmanNYA : { 190 )



} )
janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang melampaui batas. ( al baqorah: 190 )
firmanNYA :
)




}
{ (188
188. Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan
berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.( al baqarah : 188 )
" - - " " - -
. "
Dalil dari as sunnah :
Sabda rasulullah SAW: " sesungguhnya darah kalian dan harta kalian adalah haram ( terjaga )
bagi selain kalian " dan juga sabdanya SAW :" tidak halal harta seseorang muslim kecuali atas

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 52 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

kebaikan sang pemiliknya untuk memberikannya " dan banyak seklai dalil-dalil yang lain yang
menunjukkan kaidah ini .
: " " :
.
Dan ucapan mualaif disini : " " maksudnya di sini adalah kecuali dalam peperangan,
maka sesungguhnya boleh memgambil harta mereka, jika terjadi peperangan antara kaum
muslimin dengan selainya.


} - - :
{





} - - ( 27 : { )

: { )








} * : ( 1 : )
.( 41
Adapun dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa dalil dari nash-nash syar'iyyah
diantaranya firman Allah SWT :
(27 : { )


}
27. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka,
dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak [1]. ( QS : al ahzab : 27)
_________________________________
[1] Tanah yang belum diinjak ialah: tanah-tanah yang akan dimasuki tentara Islam.
Dan firrmanNYA SWT : { 1 : { )





)
1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul[2], ( QS al anfal : 1)
_________________________________________
[2] Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.
Dan juga firman ALLAH SWT :
(41 : { ) ..........








}
41. Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan
perang[3], Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, . ( QS al anfal : 41)
_________________________________________
[3] yang dimaksud dengan rampasan perang (ghanimah) adalah harta yang diperoleh dari
orang-orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak dengan

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 53 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

pertempuran dinama fa'i. pembagian dalam ayat Ini berhubungan dengan ghanimah saja.
Fa'i dibahas dalam surat al-Hasyr.
- - " " - -

Dan sabda rasulullah SAW : " barang siapa yang berperang dalam peperangan maka baginya
harta rampasan , dan sudah mashur dalam syiroh bahwasanya rasulullah SAW berperang
melawan orang-orang musrik dan belaiu mengambil harta rampasanya.
: . :
: .
:
. :
.
.
Dan lebih bagus dang afdhol jika tidak disebutkan ististna' (" )" dalam kaidah ini maka
cukup dikatakan : ( hukum asal harta adalah haram ) tanpa di sebutkan
kalimat "" karena tujuannya disini adalah untuk mejelaskan kaidah asalnya, dan
hukum asal adalah umum,tanpa ada pengecualian, adapaun mustasniyat ( pengecualianpengecualain ) tidak seharusnya diambil dalam menjelaskan kaidah asal, dan menunjukkan hal
yang demikian itu adalah : bolehnya mengunakan harta dalam hal-hal tertentu , misalnya :
mengunakan untuk kebenaran / kepentingan umum, misalnya : mengambil / menghancurkan
sebagian bangunan yang di buuhkan manusia untuk memperbaiki / memperluas jalan bagi
kepentingan umum, dan misal yang lain : harta benda orang yang yang meganggu orang lain,
misal : onta/ sapi gila yang bisa membahayakan orang lain , maka ini boleh diambil ( di bunuh )
untuk kebaikan / kepentingan umum, walauapun mualaif di sini tidak menyebutkannya penguat (
pengecualian ) diatas maka sungguh lebih bagus dan sesui dengan penjelasan para ahlu usul,
dalam meyebutkan kaidah umum tanpa menyebutkan pengecualian-pengecualain.
." " - -
. .
.

KAIDAH : HUKUM ASAL KEHORMATAN ORANG MUSLIM ADALAH


TERJAGA ( HARAM )
Dan termasuk kaidah yang berhubungan dengan pembahasan ini
dan juga termasuk kaidah penting adalah :
( al aslu fil a'roodhi at tahrim )
Artinya : hukum asal kehormatan seseorang adalah haram merendahkannya, maka tidak boleh
menganggu, mengambil dan merampas kehormatan seorang muslim, baik dengan ucapan

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 54 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

ataupun dengan perbuatan, ini adalah hukum asalanya ( disini tidak disebutkan pengecualianpengecualiannya walaupun ada, karena kita membicarakan hukum asalanya, dimana hukum
asal adalah umum pent.) dan kaidah ini selalu dan senantiasa dipakai dalam syari'at, maka tidak
boleh membicarakan kehormatan orang lain , dan tidak boleh menghibahnya, dan berbicara
tentang kejelekan , aib dan kekurangganya, kecuali disana ada dalil yang membolehkan hal
yang demiakian itu .


} : :
( 11 : { )








{ )











} :
. (12 :
Adapun dalil dari kaidah ini adalah firmanNYA : 11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1]
dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan
adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[2] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka
mereka Itulah orang-orang yang zalim.(QS al hujurat : 11 ) dan dalam ayat berikutnya allah
berfirman : 12. . dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS al hujurat : 12 ) .
_____________________________________
[1] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana
orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[2] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti
panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan
sebagainya.

" : - -
" " "

Dan dinyatakan dalam hadist shohih yang mutafak alaihi bahwasanya rasulullah SAW bersabda:
" sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram ( terjaga ) dari
selaianya, sebagaiamana keharaman pada hari ini ( fathul makkah ) di bulan ini , dan di negri
kalian ini ( makkah), adapun kalimat " kehormatan kalian apakah ada dalam shohihain ( bukahrimuslim ) atau hanya ada dalam kitab muslim saja. Wallahu a'lam .


Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 55 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

KAIDAH KESEBELAS

Wal aslu fi 'aadaatinal ibaahati hatta yajii u sooriful ibahah
Artinya : dan hukum asal dalam kebiasaan ( adat istiadat ) adalah boleh saja sampai ada dalil
.yang memalingkan dari hukum asal
: ." "
. : .
- - - -
(29 : { )



}
Kaidah ini termasuk dalam ruang lingkup pembahasan kaidah "hal yang pasti diyakini tidak
gugur dengan keraguan ( ")"
Adapun yang dimaksud dengan kebiasaan (( adalah : apa saya yang dilakukan seorang
hamba dalam kehidupan sehari-hari bukan untuk mendekatkan diri kepada allah dan bukan
merupakan ibadah, dalam syarahnya as syeikh ubaid al jabiri dikatakan (( jamak dari kata :
adapun maknanya : apa saya yang biasa di kerjakan dan dilakukan oleh
manusia, dan setiap kaum, kabilah , masyarakat dan negara memiliki adat dan kebiasaan yang
berbeda, dan hukum asal dari kebiasaan adat istiadat adalah boleh selama tidak menyelisihi
hukum syar'ii, ( pent.) adapun yang dimaksud dengan boleh ( )adalah : boleh mengerjakan
sesuatu ataupun meninggalkannya.
Adapun dalil dari kaidah ini adalah beberapa nash-nash syar'ii diantaranya
Dalil dari al qur'an
firman Allah SWT : { 29 : { )



)
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ( QS al baqarah : 29 )
Firman allah SWT :
(15)



Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan
makanlah sebahagian dari rezki-Nya. ( QS al mulk : 15 )
Firman Allah SWT :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 56 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya
untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik ( QS al a'raf:
32 ) . dari ayat ini kita dapat mengambil faedah bahwasanya hukum asal perhiasan serta apa
saya yang allah anugerahkan buat hambanya adalah boleh dan halal.
Dalil dari as sunnah
)
( : 3800 :
" sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan allah dan sesuatu yang haram apa-apa yang
diharamkan allah , adapun sesuatu yang didiamkanNYA adakah dimaafkan ( HR abu dawud
kitab " al ath'imah bab: apa saja yang tidak disebutkan pengharamanya hadist no : 3800 dan
berkata as syeikh al albani : shahih sanadnya)



" - -
"
Dalam kaidah ini menunjukkan tidak adanya keharaman atau larangan maka menunjukkan pula
tidak adanya perintah wajib untuk melakukannya, karena semua kebiasaan manusia adalah
boleh-boleh saja dilakukan, dan tidak wajib dan tidak pula haram dan ataupun dilarang, adapun
yang memalingkan dari hukum asalnya ada kalanya dalil tersebut merupakan perintah untuk
mengerjakan, dan ada kalanya dalil tersebut merupakan larangan untuk mengerjakannya, dan
termasuk dalil dari masalah ini adalah sabda rasulullah SAW : " sesungguhnya paling besar
dosanya seorang muslim adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak ada pengharamannya,
kemudian dia mengharamkanya karena demi suatu masalahnya." Sebagaiaman dalam kitab
shahih.
: : " " :
." "
- - .

. - -
Adapun makna sampai ada dalil yang memalingkan hukum asalnya yang mubah
( (" " adalah : jika ada suatu dalil syar'ii yang menunjukkan bahwasanya
kebiasaan tersebut adalah dilarang maka kita mengamalkan dalil tersebut, dan tidak
mengamalkan kaidah tersebut
" " dan ini menunjukkan bahwasanya syari'at islam ini mencakup semua
perbuatan hambanya dan perbuatan tersebut ada hukum-hukumnya, dan bukanlah syari'at islam
ini hanya khusus berputar disekitar masjid dan hanya membahas masalah ibadah saja, akan
tetapi syari'at islam ini mencakup semua perkara secara umum, dan mencakup semua

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 57 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

perbuatan hambanya baik hal itu adalah adat kebiasaan ataupun masalah ibadah, dan ini
merupakan keutamaan yang Allah limpahkan kepada kita dengan syari'atnya.

KAIDAH KE DUA BELAS



Al aslu fil ibaadari at tahrim ( hukum asal ibadah adalah haram )
Dalam mandhumah qowaidil fiqhiyyah nya as syeikh as sa'dhiy dikatakan:

Walaisal masru'an minal umuri ghoirul ladhi fi syar'inaa madhkurun
( dan semua perkara agama yang tidak ada dalam syari'at kita maka itu bukanlah syari'at islam )
sebagaian ulama mengungkapan kaidah ini dengan redaksi yang berbeda diantaranya:

Al aslu fil ibaadaati al khatri illa binassin ( hukum asal dalam semua ibadah adalah haram kecuali
ada nash yang mensyariatlannya)
Dalam mulakhos qowaidul fiqhiyyah as syeikh al usaimin yang di ringkas oleh abu humaid
abdullah al falasy dikatakan dalam kaidah ke empat belas:
. :
Hukum asal dalam semua ibadah adalah dilarang.
- - . :
- - .

.
Dalam mandhumah diatas terdapat kaidah : hukum asal dalam peribadatan adalah haram, maka
tidak boleh bagi siapaun untuk beribadah kepada allah SWT dengan suatu ibadah kecuali ada
dalil dari al qur'an dan as sunnah yang mensyariatkan ibadah tersebut, dan tidak boleh bagi kita
untuk membuat suatu bentuk ibadah-ibadah yang baru dan kita beribadah kepada allah
dengannya, baik dalam bentuk ibadah yang baru yang kita ada-adakan dan tidak ada
syari'atnya, atau menambah bentuk ibadah yang ada dengan sifat dan tata cara yang tidak ada
contohnya dalam syari'at, atau kita mengkhusukan suatu ibadah pada waktu tertentu dan tempat
tertentu yang tidak ada dalilnya dari al qur'an dan as sunnah.
- - - -
} : - - .( 31 : { )





} :
{ )





} : ( .158 : { )

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 58 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

{ )






} - - ( 21 :
. (21 :
Karena semua perkara ibadah yang tidak ada perintah dan dalil syar'ii merupakan bid'ah dan
semua perkara bid'ah dalam agama hukumnya haram , adapun dalil yang melarang bid'ah dan
tidak boleh beribadah kepada allah dengan suatu ibadah yang baru diantaranya all
Dalil dari al qur'an :
(31 : { )





}
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." ( QS ali imran : 31) dalam ayat ini di perintahkan bagi kita untuk
mengikuti ( itiba') rasulullah SAW .
(.158 : { )
} : - -
dan ikutilah Dia ( muhammad ) supaya kamu mendapat petunjuk".( QS al a'raf : 158 )
(21 : { )





} :
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( QS al
ahzab:21 ).




apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka .
.(tinggalkanlah.( QS al hasr : 7
(21 : { )






} - -
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk
mereka agama yang tidak diizinkan Allah? ( Qs as suura': 21 )
-
Maka membuat syari'at dalam agama merupakan hak khusus bagi allah semata,

Dalil dari sunnah


( ) " :
Di riwayatkan oleh aisyah RA : rasulullah bersabda : barang siapa yang mengada-adakan dalam
perkara agama kami yang tidak ada perintahnya maka perkara tersebut tertolak ( HR bukhari
dalam kitab : as shulhu, hadist no : 2697 dan muslim dalam kitab aqdhiyyah hadist no : 1718)

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 59 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

" " : "


Dalam riwayat lain dikatakan : " barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada
perintahnya dari kami ( allah dan rasulnya ) maka amalan tersebut tertolak.

" : - -
. "
Dan dalam hadist yang di riwayatkan oleh irbadh bin syari'ah, bahwasanya rasulullah bersabda:
dan berhati-hatilah kalian dari perkara perkara yang baru dalam agama,karena sesunggunya
semua perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat ( lihat sunan nasa'i )
.

. - -
Maka jika kita sudah mengetahui yang demikian itu , sesungguhya kaidah inu meruoakan kaidah
yang sangat agung, dimana kaidah ini merupakan kaidah untuk menjaga syari'at ini dari
penyelewengan dan perubahan, karena jika dikatakan boleh membuat dan mengada-ada dalam
ibadah sungguh yang demikian itu merupakan sarana dan jalan untuk menganti dan merubah
syari'at islam, dan menyebabkan suatau keyakinan bahwasanya : agama dan syari'at islam
belum sempurna , dan kita datang dengan ibadah yang beru tersebut sebagai pelengkap dan
penyempurna agama ini, dan yang demikian itu merupakan cercaan kepada nabi muhammad
sebagai penutup para nabi dan rasul dan menyatakan bahwasanya nabi muhammad
menyembunyikan syari'at, padahal allah telah berfirman :
. ( 3: )







pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ( al maidah : 03 )
kaidah ini merupakan kebalikan dari kaidah sebelumnya ( ) hukum asal
dalam kebiasaan adalah boleh dan mubah, namun maksud dan tujuan nya adalah satu , kalo
dalam adat dan kebiasan harus mengemukakan dalil dalam pengharamnya, sedang dalam
perkara ibadah harus mengemukakan dalil dalam perintah dan syariatnya
- - :
.
:
. .
Adapun contoh-contoh ibadah yang tidak ada syari'atnya diantaranya: apa yang di lakukan oleh
sebagain orang dalam rangka beribadah mendekatkan diri kepada allah SWT dengan cara :
bertepuk tangan, sambil berjoget dan menari, dan mendendangkan nyanyian ( seperti yang

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 60 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

dilakukan oleh kaum sufi ) , maka hal yang demikian itu jika dimaskudkan dengan tujuan ibadah,
maka hal tersebut adalah bid'ah dan menyelisihi syari'at.contah lainya adalah : perayaan tahun
baru, atau peraaan maulid nabi, atau suatu ibadah denagn dalil hadist dhoif, maka hal itu di
hukumi sebagai bid'ah, karena tidak boleh menetapkan suatu ibadah yang baru dengan dalil
haidst dhaif, seperti hadist tentang shalat tasbih.
.
. : - -
" - - .
"
.
Contoh lain , jika seseorang bernadhar dengan suatu ibadah yang tidak ada syari'atnya maka
nadharnya tidak boleh di yakini dan tidak boleh melaksanakan nadhar tersebut, dan tidak wajib
baginya kafarah ( membayar denda) adapun dalilnya: bahwasanya rasulullah SAW melihat
seorang laki-laki berdiam diri dengan berdiri dibawah terik matahari, maka rasulullah bertanya
tentangnya, maka dikatakan kepada belaiu: dia itu adalah abu israil, dia bernadhar akan untuk
berdiam diri dibawah terik matahari, tidak duduk dan tidak berteduh sambil berpuasa, maka
rasulullah berkata: perintahkan kepadanya untuk duduk dan berteduh ( membatalkan
nadharnya) dan boleh melanjutkan puasanya, dan rasulullah melarang dari melaksanakan
nadhar ibadah yang tidak ada perintah dari syariat, yaitu berdiri dan tidak berteduh, dan
rasulullah tidak memrintahkan untuk mengantinya dengan kafarah.

: .
:
. :
: :

:
. .
Dari penjelasan diatas maka ada suatu pembahasan yaitu : menambah dalam ibadah yang
disyariatkan dengan perkara yang tidak ada syari'atnya, maka tidak diragukan lagi tambahan
tersebut bathil, namun apakah ibadah tersebut menjadi batal dan tidak syah dan kita harus
mengulangnya lagi , maka di sana ada dua pembahasan :
Pertama : jika tambahan tersebut bersambung lansung dengan ibadah aslinya dan terus
berhubungan tanpa ada pemisah maka batallah ibadahnya, misalnya : orang yang sholat dhuhur
lima raka'at maka rakaat tambahanya membatalkan sholat tersebut karena satu rakaat
tamabahan tersebut bersambung lansung dengan 4 rakaat ibadah asalnya.
Kedua: jika tambahan tersebut terpisah dengan ibadah aslinya maka tidak membatalkan ibadah
aslinya dan tidak harus mengulanginya dari awal, misalnya: orang yang berwudhu empat kali
empat kali , maka tambahan empat tersebut bid'ah namun tidak membatalakan yang tiga kali
Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 61 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

yang merupakan ibadah asalnya, karena tambahan tersebut ada jarak dan pemisah dengan
ibadah aslinya, atau misal lainya : nadhar dan puasa yang dilakukan oleh abu israil dalam hadist
diatas. ( wallahu a'lam bishowab )

KAIDAH KE TIGA BELAS



( al wasailu tu'thii ahkamul maqosid )
Artinya : semua sarana suatu perbuatan hukumnya sama dengan tujuannya ( perbuatan
trersebut ).
Dalam kitab mandhumah qowaidul fiqhiyyah karya as syeikh abdur rahman as sa'diy dikatakan :


Wasaa ilul umuri kal maqoosidi wahkum bihaadhal hukmi lizzawaid
Semua sarana untuk melakukan suatu perbuatan hukumnya sama dengan tujuan perbuatan itu
maka hukumilah dengan hukum tersebut sebagai penyempurna.
Adapun kaidah yang terkenal dikalangan fuqoha' adalah :

( lilwasaaili hukmul maqoosidi ) hukum sarana suatu pebuatan


sama dengan hukum perbuatannya, sebagain ulaam yag lain menjelaskan :
( al amru bis syai yasmulu maa yatimu bihi dhalikas syai)
artinya : suatu perbuatan ( perkara) hukumnya mencakup semua sarana yang menyempurnakan
perbuatan ( perkara ) tersebut. ( lihat kitab syarah mandhumah qowaidul fiqhiyyah li syeikh abdur
rahman as sa'diy karya as syeikh ubaid al jaabirii )

. :
: . :
.

.
Yang dimaksud wasail adalah jamak dari kata wasiilah artinya : sarana atau jalan yang bisa
menyampaikan kepada tujuan perbuatan tersebut, adapun makna al maqosid adalah : tujuan
perbuatan yang dimaksud. Sedang makna az zawaaid adalah : semua hal yang
menyempurnakan perkara tersebut ( hanya sekedar pelengkap, atau tambahan seperti: dzikir
setelah sholat, doa setelah berwudhu dsb ).

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 62 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
.
Contoh dari kaidah ini adalah : sarana yang bisa mewujudkan sesorang untuk bisa menjima'
perempaun yaitu : ikatan pernikahan, maka nikah merupakan sarana untuk menghalalkan jima'
dengan perempaun lain, maka menikah hukumnya wajib.
Contoh lain : berjalan menuju masjid untuk menegakkan sholat berjama'ah, maka berjalan
merupakan sarana untuk melakukan suatu kewajiban sholat berjamaah.

:
.
: ." " :

.
." " :
: : .
.
.
Adapun jika tidak ada dalil yang mengkhususkan wasilah / sarana tersebut, maka wasilah
terbagi menjadi 3 macam :

1/ wasilah yang pasti yang bisa menyampaikan kepada tujuan perbuatan tersebut, maka wasilah
ini dihukumi sesui dengan perbuatannya, dan para ahlul usul mengungkapkan jika berhubungan
dengan hal-hal yang wajib dengan qaidah : "" . ( maa laa
yatimul wajibu illa bihi fahuwa waajibun) : tidak semprnalah suatu kewajiban kecuali dengannya
maka mengunakanya menjadi wajib.
Misalnya : mencuci kaki tatkala berwudhu, dan tidaklah sempurna mencuci kaki kecuali harus
mencuci sebagian betis ( kaki bagian bawah diatas mata kaki) maka mencuci sebagian betis
adalah wajib, atau misal berjalan menuju masjid untuk menegakkan sholat wajib berjama'ah
diatas.
Dan ahlul usul mengungkapkan juga jika berhubungan dengan hal yang haram :

: " ( " maa laa yatimu ijtinaabul harami illa


bij tinaabihi fahuwa haramun ) , tidaklah sempurna dalam menjauhi hal yang haram kecuali
dengan nya maka hal itu menjadi haram ) maknanya : jika tidak bisa menjauhi sesutau yang
haram kecuali harus menjauhi sarananya maka sarana itu menjadi haram.
Misalnya : jika seorang perempuan bercampur baur dengan laki-laki asing ( bukan
muhrimnya ) ,sedang lelaki itu adalah haram baginya, karena tidak ada ikatan pernikahan dan
tidak boleh menyentuhnya ( jima' ) dan tidak ada ikatan persaudaraan, maka tidaklah sempurna

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 63 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

menjauhi lelaki asing yang haram baginya itu kecauli dengan menjauhi ikthilat ( bercampur
baur ) maka ikthilat itu menjadi haram.

. :
: : - - .
: .

.
2/ wasilah atau sarana yang digunakan dalam masalah yang sangat jarang,( tidak umum ) ,
maka sarana ini tidak dihukumi seperti tujuan perbuatan tersebut, maksudnya jarang ( nadir )
adalah tidak umum dibahas dalam syari'at.
misalnya : jika ada yang berkata : janganlah kamu menanam angur, supaya buahnya tidak
dijadikan minuman keras, maka kita jawab : sarana ini ( menanam angur ) merupakan sarana
yang di gunakan dalam masalah yang jarang dilakukan, maka tidak dihukumi sesui dengan
perbuatannya menjadikannya sebagai minuman keras, ( karena umunya angur untuk dimakan,
walupun ada yang menjadikanya minuman keras namun tidak menjadi suatu hal umum.

. :
: .
.

.

} : - - :

} :( 59 : { )





(10 : { )












3/ wasilah /sarana yang digunakan untuk suatu tujuan perkara yang agak samar, dan para
fuqoha berselisih pendapat dalam masalah ini misalnya: menjual angur ke pabrik pembuatan
minuman keras, atau menjual senjata di saat terjadi fitnah, atau menjual senjata tatkala terjadi
peperangan dikalangan intern kaum muslimin, kalangan dhohiriyyah, sebagian syafii'yah dan
hanafiyyah berpendapat: tidak terlarang di saat itu, dan tidak dihukumi dengan keharamannya,
dan tidak apa-apa menjual kurma ke pabrik pembuat minuman keras, dan mereka berdalil
dengan kaidah : asalnya perbuatan ini ( jual-beli ) adalah boleh dan halal, dengan dalil:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), ( QS an nisa':59) dan juga firmannya : Tentang sesuatu
apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah ( QS as syuro:10)

:
- : - -
-






} - -



Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 64 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

( 108 : { )





: .
.
. .

Pendapat yang kedua dalam masalah ini : bahwasanya sarana tersebut dalam masalah seperti
ini dihukumi dengan maksud dan tujuan dari perbuatannya, dan wasilah / saran tersebut
dihukumi dengan hal yang merusak pada umumnya, yaitu dengan hukum haram, adapun
dalilnya : bahwasanya Allah SWT telah memperingatkan dan melarang semua hal dan sarana
yang digunakan dalam perkara yang merusak dan hal ini banyak sekali disebutkan dalam
syari'at diantaranya firmanAllah SWT :

{ )













108 : )
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena
mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan ( QS: al an'am :
108 )
Dalam ayat ini allah melarang kita untuk mencaci maki sembahan orang-orang musrik, karena
bisa menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah , sedangkan mencaci maki Allah adalah hal
yang haram, maka segala sarana yang digunakan untuk suatau yang haram hukumnya juga
haram.
Adapun dalil yang kedua : bahwasanya kita berhati-hati dan memperingatkan segala sarana
yang bisa di gunakan dalam perkara yang haram menunjukkan kesungguhan dalam
memegangi dan mengamalkan nash al qur'an dan syari'at islam pada umumnya, disaat kita
melarang dari suatu hal yang haram, maka kita juga harus melarang semua jalan dan sarana
yang digunakan dalam hal yang haram, dan ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut lebih
berpegang teguh dengan dalil dan nash syar'iiyah, da inilah madhab jumhur dan pendapat ini
lebih kuat dan lebih rajih dari pada pendapat yang pertama.

- -

.
: .

:
.
: .


:

.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 65 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Adapun masalah tambahan ( az zawa'id ) dan hal-hal penyempurna, maka hukum asalnya bisa
mendapatkan pahala ataupun dosa misalnya: pulang dari masjid setelah menjalankan sholat
( perbuatan utamanya sholat penyempurnannya pulang dari masjid pent.) , maka hal ini
mendapatkan pahala.
Adapun dalam perkara yang haram, apakah perkara tambahan dan penyempurna saja di hukumi
haram ? dalam hal ini ada dua jenis:
Pertama: perkara yang menyempurnakan hal yang diharamkan tersebut maka hal ini di hukumi
haram sesui hukum asal perbuatan haram.
Kedua: perkara penyempurna digunanakan untuk bisa lepas dari hal yang diharamkan, maka ini
tidak dihukumi haram.
Misalnya: orang yang berihram, kemudian ingat kalau di badannya ada satu pakaian yang
berjahit, kemudian dia melepaskan pakain tersebut, maka hal ini ( melapaskan kain yang berjahit
) merupakan perkara untuk bisa lepas dari hal yang di haramkan ( memakai pakaian yang
berjahit disaat ihram dilarang).

Kesimpulan dari kaidah ini adalah :


Sarana untuk melakukan suatu kewajiban maka hukumnya wajib, sarana yang digunakan untuk
melakukan perkara sunnah maka hukumnya menjadi sunnah, dan sarana yang digunakan untuk
hal yang haram maka hukumnya haram.
Misalnya :
Hal yang wajib :
Sholat berjamaah ( contoh diatas) bagi kaum laki-laki adalah wajib, maka berjalan menuju msajid
menjadi wajib, mau melakukan sholat wajib sarana untuk bisa melakukan sholat adalah
berwudhu maka berwudhu hukumnya wajib, misal lain: jihad fisabilillah yang hukumnya bisa
fardlu ain/fardli kifayah, sarana untuk berjihad adalah memiliki senjata, perbekalan, latihan dsb,
maka senjata dan bekal menjadi wajib dimiliki.
Dalam perkara sunnah :
Memakai minyak wanggi sebelum sholat, ataupun sholat jum'at, sarannya adalah memiliki /
membeli minyak wangi , maka membeli minyak wangi dengan tujuan dipakai waktu sholat
adalah sunnah hukumnya. Dsb.
Dalam perkara yang haram :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 66 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

Berbuat syirik kepada Allah adalah haram, maka sarana berbuat syirik seperti memegangmegang kuburan dengan tujuan mencari barokah, adalah haram, karena membawa pelakunya
untuk berbuat syirik, atau membeli menyan / bunga tujuh rupa, dengan tujuan dibawa kedukun
sebagai pelengkap ritual kesyrikan , maka membeli menyan menjadi haram hukumnya. Wallahu
'alam bisshowab.

KAIDAH KE EMPAT BELAS



Hukum melakukan hal yang dilarang, atau meningalkan suatu kewajiban karena lupa
atau salah tanpa disengaja, atau dipaksa.

( al khotho u al ikroohu wan nisyanu asqothohu ma'budunar rahmanu


lakin ma'al itlaafi yusbitul badhalu wa yantafiyal taksiimu 'anhu waz zalalu)
salah ( tanpa di segaja) da dipaksa serta lupa adalh dimaafkan oleh sembahan kita
yang maha pemurah , namun jika merugikan harus mengantinya sehingga dia tidak
mendapat dosa dan kesalahan ).
PembahAsan ini terbagi dalam tiga pasal :
PERTAMA : KESALAHAN TANPA SENGAJA



} : :
. :( 97 : ( { ) 97)


." ":
Al khotho ( salah ) ada dua makna :

1. pertama : salah lawan dari benar, sebagaiamana perkataan saudara nabi yusuf kepada
bapaknya :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 67 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa
kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". ( yusuf : 97)
maknanya : menyelisihi kebenaran , dan isim fail ( pelaku ) dari kata ini adalah : khootik "
".

: : . :
."
":
.
2. kesalahan tanpa sengaja, dikatakan : orang itu salah, maksudnya orang tersebut tidak
sengaja melakukannya, dan isim fail ( pelaku ) dari makna ini adalah : "mukthik " "


dan ini yang dimaksud dari kaidah ini bukan makna yang pertama ( lawan dari kebenaran )
namun maknanya adalah kesalahan tanpa sengaja.

} : :

." " :( 286 : { )













} :

(5 : { )

Salah tanpa disengaja tidaklah mendapatkan dosa dengan dalil beberapa nash diantaranya
firman Allah SWT:
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. ( Qs al
baqorah : 286 ) dan di riwayat lain dikatakan allah menjawabnya : aku telah maafkan ( HR
muslim kitab iman bab allah tidak membebani sesuatu kecuali sesui kemampuan manusia hadist
no :125 dan 126 )
dan firmanNya : dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf ( salah ) padanya,
tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. ( QS al ahzab : 5 )

" "
.
:
Dan dalam sebuah hadist dikatakan : " sesungguhnya Allah memaafkan atas umatku :kesalahan
tanpa disengaja, dan lupa serta orang yang terpaksa/dipaksa" akan tetapi hadist ini tidak shahih
dari segi sanadnya, karena itu banyak kalangan ahlul ilmi mendhaifkan hadist ini, diantaranya
imam ahmad, akan tetapi sebagian ulama lainya mengatakan hadist ini kuat sanadnya, karena
diriwayatkan dengan banyak jalan, mereka berkata : antara riwayat satu dengan yang lainya
saling menguatkan .

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 68 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

.
.
Jika sudah jelas dalam masalah ini , sekarang timbul pertanyaan apakah melakukan kesalahan
harus mengantinya ataukah tidak ?
Jika kesalahan tersebut berhubungan dengan hak-hak manusia, maka diharuskan baginya untuk
menganti, jika kesalahan itu menyebabkan kerugian bagi orang lain, baik berupa harta atau yang
lainya, dan dalam masalah ini semua ulama telah sepakat, wajibnya membayar denda bagi
orang yang salah , atau wajib menganti harta / hak orang lain yang dirugikan .
Misal : anda tanpa sengaja menabrak mobil orang lain yang sedang parkir di depan rumahnya,
maka anda harus menganti rugi kerusakan mobil tersebut, atau anda menghilangkan barang
yang anda pinjam dari temen / orang lain maka anda harus mengantinya sesui bentuk barang
atau harga barang tersebut.( pent .)

: - -

.
. :
.
Jika kesalahan tersebut berhubungan dengan hak Allah, apakah juga harus mengantinya
dengan yang lain ? maka di sini ada perinciannya : jika tidak merugikan ( mengurangi hak-hak
Allah ) maka tidak wajib mengantinya dan tidak ada kafarahnya, dan ini pendapat kebanyakan
para ulama', contohnya : seorang yang sedang ihram ( umrah / haji ) dan dia menutupi
kepalanya tanpa sengaja dan lupa ,maka tidak ada kafarah baginya, begitu juga memakai kain
yang berjahit karena lupa atau tanpa sengaja tidak ada kafarah baginya.

: :
.
:

} - - :




















"" :( 95 : { )
.
Pembahasan yang kedua kesalahan yang berhubungan dengan hak Allah ( ibadah ) yang
merugikan atau mengurangi hak Allah misal, memotong kuku dan memotong rambut, atau
membunuh binatang buruan waktu ihram, maka disini para fuqoha berselisih , ada dua pendapat
:
01/ pendapat yang pertama : tidak wajib menganti atau membayar kafarah, adapun dalil mereka
adalah :

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 69 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /



















(95 : )


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu
sedang ihram. barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya
ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, (QS : al
maidah : 95)
dalam ayat ini di sebutkan kata : ) ""dengan sengaja ) yaitu orang yang sengaja
membunuh binatang buruan di waktu ihram, maka jika tanpa sengaja tidak wajib membayar
ganti atau kafarah , dalil ini diambil hari mafhumul mukholafah dari ayat ini ( jika dilakukan
dengan sengaja harus menganti, mafhum mukhaolafahnya jika tidak sengaja tidak wajib
menganti pent. )

- - :
- -


:( 92 : { )








}


.
02/ pendapat yang kedua : wajib mengantinya atau membayar kafarah, jika berhubungan
dengan hak Allah yang merugikan / mengurangi hak tersebut, mereka berdlail dengan nashnash syar'iyyah diantaranya firman Allah :


(92 : { )








}


dan barangsiapa membunuh seorang mukmin tanpa sengaja (hendaklah) ia memerdekakan
seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh itu ( an nisa' : 92 )
Dalam ayat ini Allah menjelaskan wajibnya menganti rugi atau membayar kafarah, walaupun
dilakukan tanpa sengaja.

"" :
- .
-
.
Mereka berkata : adapun kalimat" ( "dengan sengaja ) dalam ayat diatas ( al maidah :
95), maksudnya bukan untuk diambil dan digunakan mafhumnya, adapun yang dimaskud ayat
diatas adalah sebagai penegas sifat kesalahan orang yang mengerjakannya.
adapun yang rajih dari dua pendapat diatas adalah : pendapat wajibnya membayar ganti atau
kafarah bagi orang yang salah tanpa sengaja yang berhubungan dengan hak Allah ( ibadah) jika
kesalahannya tersebut menyebabkan kerugian atau mengurangi hak hak allah.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 70 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:


- .
-
. .
Dan dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadistnya ka'ab bin 'uzrah, tatkala dia berihram dan
dia ditimpa musibah dan ganguan di kepalanya, sampai kutu-kutu jatuh dari rambut kepalanya,
maka tatkala Rasulullah SAW membolehkan untuk mencukur rambutnya namun belaiu tidak
mengugurkan kafarah baginya, padahal dia ( ka'ab ) dalam keadaan terkena musibah dan
ganguan dikepalanya, dan syari'at membolehkan untuk mencukurnya namun harus membayar
kafarah, maka hal ini lebih utama di terapkan bagi orang yang berbuat salah walaupun tanpa
sengaja, kita tidak membahas tentang dosa, namun kita sedang membahas kafarahnya jika
kesalahannya menyebabkan kerugian bagi selainnya.
KEDUA: ORANG YANG DIPAKSA DAN TERPAKSA

. :
:
: . :
"
" ". "
. .
Adapun makna terpaksa / dipaksa adalah : membawa manusia kepada hal yang tidak
diinginkanya dan tidak ada kemauan untuk melakukannya, dalil tentang dipaksa adalah


106 : )







)



kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak
berdosa), ( an nahl : 106)
dan dipaksa / terpaksa terbagi menjadi dua jenis :
pertama : dipaksa secara total yang tidak ada kemampuan untuk memilih seperti orang yang di
lemparkan dari gunung ( tempat yang tinggi ) maka keadaan seperti ini hilang beban syariat
darinya, maka tidak ada beban ganti rugi baginya, atau selainnya, dan jumhur ulama
menyebutnya dengan : " ikrohohan malja an " yaitu yang tidak ada kemampuan memilih sama
sekali, sedang hanafiyyah menamakanya: " idhroron ", yang jelas secara ijma ( kesepakatan
para ulama') beban syariat terlepas dari orang yang dipaksa dalam dalam keadaan seperti ini.

. :
." "

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 71 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

:
." " ""
Kedua : dipaksa / terpaksa yang masih bisa memilih, seperti orang yang diancam untuk
dibunuh, atau diancam mau di potong anggota tubuhnya, atau di tahan dan disiksa, dsbnya,
jumhur ulama' menamakan hal ini " ikroh ghoiru maljaak " sedang kalangan hanafiyyah membagi
lagi menajdi dua bagian : jika di paksa dan diancam mau dibunuh atau di potong angota
tubuhnya di sebut " ikrohan malja an" adapun jika di ancam akan di tahan atau di pukul
dinamakan " ikrohan ghoiru maljaak"


:

.

Adapaun terpaksa / dipaksa dalam jenis ini ada syarat-syaratnya baru bisa di sebut dipaksa :
1. yang memaksa bisa dan mampu melakukan ancaman tersebut.
2. yang dipaksa tidak mampu ( lemah ) menentang paksaan tersebut.
3.

lebih banyak kemunkinannya yang dipaksa bisa jatuh kedalam paksaan dan ancaman
dari si pemaksa.

4. paksaan dan ancaman tersebut bisa dilakukan dalam waktu cepat ataupun lambat.

:
.
. :


- -


.
Dipaksa dalam jenis ini ( masih mempunyai pilihan ) apakah meniadakan beban syari'at atau
tidak ? jumhur ahlul ilmi berpendapat : tidak menghilangkan dan meniadakan beban syari'at
darinya, karena di memiliki kemampuan untuk memilih, dan dia bisa memilih melakukan paksaan
dan bisa memilih untuk meningalkan paksaan tersebut, adapaun golongan muktazilah
berpendapat: keadaan seperti ini mengugurkan beban syari'at, adapun hasil yang rajih dari
perselisihan pendapat antara jumhur dengan mu'tazilah dalam masalah ini yaitu orang yang
dipaksa melakukan sholat atau dipaksa masuk islam, maka dia niatkan sholatnya atau dia
masuk islam karena allah, maka yang demikian itu sah sholatnya menurut pendapat jumhur
berbeda dengan kelompok mu'tazilah yang menyatakan tidak sah sholatnya.



: . :
: .

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 72 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /
.
. : :
. : .
.
.
Jika sudah jelas dalam masalah tersebut , kita masuk pembahasan berikutnya : jika seseorang
dipaksa melakukan sesuatu, apakah boleh dia melakukan paksaan tersebut atau tidak ?
berpendapat sebagaian fuqoha' boleh melakukan secara mutlaq, dan sebagian fuqoha yang lain
berpendapat : boleh dilakukan jika berupa perbuatan dan tidak boleh jika berupa perkataan,
adapaun yang rajih dan shahih dari masalah ini adalah : bahwasanya seseorang yang dipaksa
harus memperhatikan dan menimbang, antara akibat dan bahaya paksaan tersebut dengan
berat tidaknya paksaan tersebut, maka jika sudah demikian diambil mafsadah ( bahaya ) yang
paling ringan ( sesui kaidah jika antara bahaya ( mudharat ) satu dengan yang lainya
bertabrakan maka diambil bahaya yang paling ringan , lihat kaidah ke 04 ).
Contohnya : jika sesorang dipaksa dan dikatakan kepadanya : masuklah ke rumah orang lain
jika tidak mau maka kami akan membunuh kamu ! dlaam hal ini mana yang lebih ringan
mafsadahnya? Tentu masuk kerumah orang lain lebih ringan mafsadahnya, maka ngak apa-apa
masuk kerumah orang lain dari pada di bunuh, contao yang lain , jika dikatakan : bunuhlah si A
dan si B, kalo tidak mau kami akan membunuhmu, Maka kita harus menimbang , akibat jika tidak
mau melakukan paksaan dan akibat jika melakukan paksaan , maka kita mesti memilih yang
lebih ringan mafsadahnya, maka kaidahnya : jika akibat meningalkan paksaan lebih ringan
dari pada melakukan paksaan, maka tidak boleh melakukan perbuatan yang dipaksakan
tersebut , inilah kaidah dalam hal paksaan.

KETIGA : ORANG YANG LUPA.

. :
.
.
.
:
:
Adapun yang dimaksud dengan " an nisyan " ( lupa ) adalah : lalai dan lupa yang biasa terjadi
pada manusia, ini yang dimaksud dengan an nisyan, dan jika lupa mengerjakan suatu
perbuatan, gugur darinya dosa, maka tidak ada dosa bagi manusia jika meninggalkan sesuatu
kewajiban karena lupa, atau mengerjakan sesuatu yang melangar karena lupa.
Adapun jika lupa/ lalai yang berhubungan dengan hak-hak orang lain dan merugikannya maka
wajib baginya untuk menganti rugi sesui kadar kerugiannya, kedua lupa atau lalai yang
berhubungan dengan hak- hak Allah SWT , maka apakah wajib bagi manusia untuk

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 73 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

mengerjakan kewajiban yang ia tingalkan karena lupa ? atau mengantinya dilain waktu tatkala
ingat ? kami katakan : maka dalam keadaan seperti ini tidak lepas dari dua hal yaitu :

- -
: .
" :- - - -
. "
Pertama : Perkara yang diperintahkan dan diwajibkan dalam syari'at, maka jika manusia lalai
dan lupa mengerjakanya maka wajib mengantinya tatkala ingat, misalnya : orang yang lupa
belum mengerjakan sholat, maka wajiba baginya mengantinya tatkala ingat ( walaupun sudah
berlalu cukup lama waktunya pent.) sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam shohih imam
bukhari: " barang siapa yang tertidur atau lupa dari sholatnya maka hendaknya dia
mengantinya tatkala ingat, dan tidak ada kafarah kecuali mengerjakanya seperti itu"

. :
" - - : .
- -
."
Kedua : perkara yang dilarang dalam syari'at, maka jika seseorang melakukan hal yang di
dilarang tersebut karena lupa maka tidak apa-apa dan tidak ada dosa, dalilnya adalah hadist
yang di riwayatkan oleh abu hurairah RA dalam kitab shahih : " barang siapa makan dan minum
karena lupa sedang dia dalam keadaan puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya
( tidak membatalkan puasanya pent ) karena hal tersebut merupakan nikmat Allah baginya"

. :

: .
.

.
.
.
Disana ada perbuatan-perbuatan yang terdapat didalamnya dua sisi, satu sisi berhubungan
dengan hak-hak makluq satu sisi berhubungan dengan hak-hak khooliq subhaanahu wata'ala,
maka diutamakan yang berhubungan dengan hak makluq baru hak sang khaliq jika dia lupa
melakukan suatu perkara dari perkara-perkara yang dilarang misal, seorang laki-laki telah
menceraikan ( thalaq satu ) istrinya, kemudian telah selesai iddahnya, kemudian dia
mengaulinya dan dia lupa kalo sudah menthalaqnya, maka jika seperti ini gugur dosanya karena
dia lupa , dan melakukan perkara yang dilarang yang berhubungan dengan khaliq, maka hal ini
di maafkan dan tidak dihukumi zina, ataupun selainya yang berhubungan dengan hak-hak
khaliq , adpaun yang behubungan dengan hak-hak makhluq adalah hak sang istri yaitu wajib

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com

- 74 Kaidah-kaidah fiqhiyyah /

bagi sang suami untuk menafkahinya, baik lahir ataupun batin, atau untuk mendapatkan
keturunan dan sebagianya dimana hal tersebut merupakan hal yang pasti.

. - -
. .
.
Maka dalam kaidah ini ( kaidah orang lupa ) kita bedakan antara syarat dan larangan, maka jika
dia meningalkan salah satu syarat karena lupa maka hal ini mempengaruhi dalam ibadahnya,
adapun jika mengerjakan perbuatan yang terlarang karean lupa , maka ini tidak memperngaruhi
dalam hal ibadah, ini yang perlu diperhatikan.
Wallahu a'lam bisshowab .

-- - -
--

.
. .
Kita berdoa : semoga Allah menganugerahkan kepada kami dan anda semuanya ilmu yang
bermanfaat, dan amalan yang shalih, dan menjadikan kami dan anda semuanya termasuk
hamba-hambanya yang saling menyayangi dan mencintai, dan mengampuni semua dosa-dosa
kami dan dosa-dosa anda semuanya, dan menjadikan kami semua termasuk orang yang sesui
dengan ilmunya para ulama' us sholeh yan telah mereka jelaskan kepada kita, dan menjadikan
para pemimpin-peminpin kaum muslimin berhukum dengan syari'at islam , hanya Allah yang
tahu itu semuanya, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada nabi kita muhammad ,
semoga allah membalas kebaikan anda semuanya, dan menjadikan kalian orang-orang yang
istiqomah dijalannya.

Copy left : 2007 - 1428 @ Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magetany - mail : latansa06@gmail.com