Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PENDAHULUAN

Hampir semua manusia akan merasa takut apabila sudah ditetapkan diagnosis bahwa dirinya menderita kanker. Hal demikian tidaklah berlebihan sehingga wajarlah jika persepsi orang terhadap diagnosis kanker adalah identik dengan menunggu datangnya kematian, yang pada umumnya sejak ditegakkan diagnosis sampai datangnya maut waktunya diperkirakan tidak akan lama lagi. Meskipun sudah disadari bahwa maut pasti datang, namun sangatlah jarang orang yang siap menghadapinya. Yang lazim terjadi peristiwa itu selalu merupakan stressor bagi yang bersangkutan maupun keluarga yang ditinggalkan. Reaksi pasien dan keluarganya dalam menghadapi kanker bermacammacam, ada yang dengan tabah dan pasrah, tetapi kebanyakan orang akan merasa sangat menderita tekanan batin setelah mengetahui diagnosis dan gambaran perjalanan penyakit itu. Reaksi emosional tersebut perlu diketahui dalam rangka menentukan sikap (approach) dari berbagai disiplin ilmu terkait dalam menangani kanker secara bersamasama, yang menyangkut aspek organobiologik (fisik) psiko edukatif dan sosio kultural.

BAB II LAPORAN KASUS


Skenario 1 Bapak Arman (61 tahun) dan Ny. Nani (60 tahun) sudah 35 tahun menikah. Mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yang semuanya sudah berumahtangga dan memberikan dua orang cucu. Kondisi ekonomi keluarga Pak Arman cukup baik, memiliki dua perusahaan yang berjalan dengan baik. Bapak Arman dan Ny. Nani cukup dikenal di lingkungannya karena keduanya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, bahkan Pak Arman menjadi salah satu donatur tetap pada sebuah panti asuhan. Walaupun sebelumnya Pak Arman adalah perokok berat, namun sudah sejak 5 tahun terakhir ini berhenti total merokok dan aktif berolah raga. Sejak satu tahun yang lalu, Pak Arman kerap kali merasa pusing dan sakit di daerah lehernya serta batuk-batuk. Pemeriksaan oleh dokter di kantornya dinyatakan tensinya 130/80 mmHg. Jantung dan paru-parunya baik. Pak Arman diberi obat simptomatik biasa namun tidak ada perbaikan. Bagaimana sdr menyikapi kasus ini?

Skenario 2 Pak Arman lalu diperiksa ke dokter spesialis di klinik yang cukup besar. Hasil pemeriksaan menunjukkan Pak Arman menderita kanker paru-paru yang sudah bermetastase ke tulang. Dokter menganjurkan untuk dilakukan penyinaran dan kemoterapi. Pak Arman dan istrinya tidak 100% percaya pada hasil pemeriksaan dokter tadi dan menginginkan second opinion di luar negeri. Istrinya, Ny. Nani, begitu terpukul mendengar keterangan dokter dan merasa heran dan tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat kepadanya. Sambil menangis ia menyatakan bahwa ia belum siap bila ditinggal suaminya untuk selamanya.

Sebaliknya bapak Arman tampak lebih tegar dan merasa yakin bahwa ini adalah sapaan Tuhan dan Tuhan pasti punya rencana sendiri dengan memberikan penyakit kepadanya. Bagaimana sdr menyikapi kasus ini?

Skenario 3 Bapak Arman dan Ny. Nani ingin memperoleh second opinion, lalu berangkatlah ke luar negeri untuk berobat. Hasil pemeriksaan medis di luar negeri menyatakan bahwa Pak Arman menderita kanker paru-paru stadium lanjut, yang sudah bermetastase ke tulangtulang. Beberapa ruas tulang vertebra servikanya sudah begitu rapuh dan harus segera diatasi agar tidak menjepit saraf-sarafnya. Operasi perbaikan vertebra servikal berhasil baik. Untuk kankernya, Pak Arman harus menjalani pengobatan penyinara dan kemoterapi. Setelah pengobatan selesai, Pak Arman dan istrinya pulang ke Jakarta. Kondisi Pak Arman tampak ada kemajuan dan semangat hidupnya tetap tinggi. Bagaimana sdr menyikapi kasus di atas?

Skenario 4 Sebulan kemudian Pak Arman kembali ke luar negeri untuk kontrol penyakitnya. Hasilnya begitu menggembirakan. Kanker parunya dinyatakan sudah hampir menghilang. Kemoterapi diteruskan dan kemudian Pak Arman kembali lagi ke Jakarta. Namun beberapa minggu kemudian, kondisi Pak Arman justru malah menurun, ia menjadi kesulitan untuk berjalan. Bicaranya sangat pelan dan cenderung banyak tidur. Bila makan dan minum Pak Arman selalu kesulitan menelan (keselak). Pak Arman secara drastis tampak sangat lemah. Saat kembali periksa ke luar negeri, dokter menyatakan bahwa kankernya sudah menjalar ke otak. Dokter menyarankan agar Pak Arman menjalani pengobatan paliatif saja,. Ny.Nani tidak setuju dengan saran dokter, ia tetap minta agar doketr mau mengobati suaminya dengan segala cara agar dapat disembuhkan. Bagaimana sdr menyikapi kasus di atas?

BAB III PEMBAHASAN


Identitas Pasien Nama : Pak Arman

Jenis Kelamin : Laki-laki Usia Alamat Pekerjaan Status : 61 tahun :: Pengusaha : Menikah

SKENARIO 1 & 2

Masalah Pada Pasien


Masalah pada keluarga Pak Arman adalah sebagai berikut: Sebelumnya Pak Arman adalah seorang perokok berat besar kemungkian untuk menjadi kanker paru-paru Sejak satu tahun yang lalu, Pak Arman kerap kali merasa pusing dan sakit di daerah lehernya serta batuk-batuk. Pak Arman diberi obat simptomatik biasa namun tidak ada perbaikan Hasil pemeriksaan menunjukkan Pak Arman menderita kanker paru-paru yang sudah bermetastase ke tulang penyakit sudah sangat parah Pak Arman dan istrinya tidak 100% percaya pada hasil pemeriksaan dokter dan menginginkan second opinion di luar negeri second opinion merupakan hak otonomi pasien untuk meminta pendapat dokter lain agar lebih meyakinkan. Istrinya, Ny. Nani, begitu terpukul mendengar keterangan dokter dan merasa heran dan tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat kepadanya. Sambil menangis ia menyatakan bahwa ia belum siap bila ditinggal suaminya untuk selamanya merupakan reaksi pasien yang wajar mengingat ternyata penyakitnya sudah parah

Sakit Parah Menurut Bioetika & Pandangan Agama


BIOETIKA Sehat menurut WHO Sejahtera fisik, mental, sosial Bukan hanya tidak adanya penyakit atau keterbatasan

Hubungan manusia dengan sakit Manusia yang sehat Manusia yang merasa sehat tetapi sakit Manusia yang merasa sakit tetapi sehat Manusia yang sakit

Merasa sehat atau sakit, amat tergantung pada persepsi manusia, tidak sematamata ada atau tidak adanya penyakit

ISLAM Sakit merupakan ujian keimanan Ada beberapa hadits yang menegaskan bahwa sakit dapat menghapus kesalahan dan melenyapkan dosa. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang akan memperoleh limpahan kebaikan dari Allah maka terlebih dahulu ia akan diberi cobaan. Juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw. bersabda: tidak satu musibah pun yang menimpa diri seseorang muslim, baik berupa kesusahan dan penderitaan, kesedihan dan kedukaan, bahkan karena sepotong duri yang menusuk, kecuali dihapuskan Allah swt. dengan itu sebagian kesalahan-kesalahannya.

KRISTEN Penyebab sakit menurut padangan Kristen Protestan a. First caused Pemberontakan manusia (+ iblis) terhadap Allah (dosa manusia pertama)

b. Second caused - Ulah manusia sendiri yang tidak menjalankan perilaku hidup sehat dan tak menjaga tubuh sebagai bait Allah. - Ulah orang lain, yang disebabkan secara sengaja / tidak sengaja oleh orang lain (contoh: penyakit menular). - Dari kuasa atau roh jahat-setan.

KHATOLIK Hal yang ingin disoroti adalah mengapa orang menderita sakit parah. Dengan tegas dapat dijawab, karena keadaan sakitnya lebih kuat daripada kemampuan fisik si pasien. Seorang pasien menderita sakit parah secara terus-menerus tetapi tidak juga meninggal berarti fisik si pasien kuat menahan. Penjelasan seperti ini akan sangat mudah diterima karena logis atau rasional. Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit orang menafsirnya sebagai kutukan dari Allah karena banyak dosa. Dalam hal ini, gereja Katolik mempunyai pandangan yang sangat berbeda karena tetap mengacu pada paham tentang Allah Yang Mahabaik. Oleh karena itu, penderitaan tidak berasa dari Allah. Dan orang yang terus-menerus menderita sakit parah atau sangat lama menderita sakit parah dipandang gereja Khatolik sebagai Misteri. Bahwa orang yang terusmenerus menderita sakit parah tidak bisa dimengerti sebagai kutukan dari Tuhan. Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit juga orang di dalam masyarakat dikenal sebagai orang baik bahkan sangat baik tetapi juga menderita terus-menerus. Pun sebaliknya, ada orang yang dikenal sebagai orang jahat tetapi selalu sehat, tidak pernah sakit bahkan tidak pernah menderita sakit parah dan hidup senang. Seperti halnya orang yang umur panjang dan orang yang umur pendek. Banyak orang menganggapnya sebagai orang baik dan sebagai orang yang tidak baik. Orang umur panjang dianggap sebagai orang baik dan orang umur pendek dianggap sebagai orang yang tidak baik. Dalam hal seperti itu, gereja Khatolik berpandangan bahwa penyebabnya adalah manusia itu sendiri. Secara medis kematian bisa dijelaskan penyebabnya, bukan soal orang itu baik atau tidak baik. Fakta menunjukkan tidak sedikit bayi yang meninggal. Bayi bukan orang yang tidak baik. Dan juga orang jahat tetapi umurnya panjang.

HINDU Sakit terjadi karena terjadinya disharmonisasi antara alam dengan tubuh dan ketidakseimbangan antara vata, pitta dan kapha (tridosa). Menurut pandangan Hindu, sakit atau penyakit yang diderita oleh orang atau manusia bukanlah merupakan kutukan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa) maupun roh suci leluhur, tetapi merupakan peringatan, teguran, ujian, godaan agar manusia tidak menjadi sombong dalam hidupnya.

BUDDHA Sakit parah adalah sakit yang menyebabkan pasien tidak berdaya, terbaring di atas tempat tidur, tidak dapat berfungsi sebagai manusia yang normal, dan akibat dari rusaknya atau tidak berfungsinya organ-organ tubuh yang vital. Menurut agama Buddha, asal atau sumber penyakit yaitu: a. Anicca Fakta bahwa segala sesuatu yang tercipta adala tidak kekal, selalu berubah. Ada awal, ada proses dan ada akhir. Setiap sel/organ tubuh mempunyai saat untuk rusak atau berhenti berfungsi sakit.

b. Dukkha Hidup itu tidak pernah memuaskan oleh karena perubahan selalu terjadi. Sakit, menjadi tua dan mati adalah bagian dari kelahiran/hidup manusia.

c. Anatta Tidak ada jiwa atau apapun yang kekal dan abadi, semuanya merupakan paduan dari unsur-unsur yang selalu berubah, dan menyebabkan penderitaan, termasuk manusia.

d. Hukum Kamma Hukum perbuatan. Buah dapat diterima dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang. Sakit, cacat dan penderitaan adalah buah atau akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan di masa lalu (termasuk di kehidupan-kehidupan yang lalu).

Yang Harus Dilakukan Dalam Menghadapi Pasien Yang Sakit Parah


ISLAM Islam memerintahkan seluruh umatnya untuk melakukan pengobatan, dan sebaliknya melarang mereka bersikap pasrah dengan kondisi negatif tanpa melakukan tindakan usaha apapun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan perawi lain disebutkan bahwa Rasululluah bersabda bahwa setiap penyakit memiliki penawar. Jika obat penawar itu sudah dikonsumsi, maka penyakitnya akan sembuh dengan izin Allah. Dalam hadits tersebut juga dijelaskan prinsip-prinsip dalam pengobatan, yakni menentukan jenis obat dengan cermat terlebih dahulu, memahami betul jenis obat tersebut dengan mengkonsultasikan kepada ahlinya (dokter spesialis). Menurut ajaran Islam, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang yang sakit, yaitu antara lain: Orang sakit harus bersabar Jangan banyak berkeluh kesah Memperbanyak permohonan kepada Tuhan Berusaha berobat dengan sikap tawakal kepada Allah

KRISTEN Memandang manusia bukan sebagai objek / materi Tidak hanya penyembuhan etiologi medis Diberikan pengobatan agar pasien merasa lebih nyaman

KHATOLIK Meskipun nyatanya kematian sudah dekat, perawatan yang biasanya diberikan kepada orang sakit, tidak boleh dihentikan. Memakai cara untuk mengurangkan rasa sakit, untuk meringankan penderitaan orang yang sakit parah, malahan dengan bahaya memperpendek kehidupannya, secara moral dapat dipandang sesuai dengan martabat manusia, kalau kematian tidak dikehendaki sebagai tujuan atau sebagai sarana, tetapi hanya diterima dan ditolerir sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Perawatan orang yang menghadapi ajalnya adalah satu bentuk cinta kasih tanpa pamrih yang patut dicontoh. Karena alasan ini, perawatan harus digalakkan.

HINDU Kalau sakit, hendaklah diusahakan pengobatannya. Laksanakanlah dharma itu sebab dharma itulah yang akan melindungi dari bahaya. Baik-buruk perbuatan ada hubungannya dengan hukum karma. Pasien, pakar pengobatan dan keluarga pasien hendaknya sabar dan mengusahakan penyembuhannya. Pasien hendaknya berdoa (sembahyang). Memandang sakitnya bukan kutukan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), tetapi ada hubungannya dengan hukum karma. Jangan mengambil jalan pintas bunuh diri karena tidak dibenarkan oleh ajaran Hindu. Dokter serta petugas kesehatan hendaknya berusaha melaksanakan tugas kewajibannya dengan memberikan bantuan pengobatan serta perawatan dengan sabar.

Mengadakan doa bersama antara petugas kesehatan, rohaniawan dan keluarga pasien untuk memohonkan kesembuhan, kalau pasien masih hidup. Kalau pasien masih sadar hendaknya memusatkan pikiran kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa) dan mengucapkan mamtram OM atau AUM sebagai perwujudan lambang Tuhan. Pikiran ditujukan atau dipusatkan diantara kedua alis (kening).

BUDDHA Setiap orang boleh berusaha untuk sembuh, untuk mengurangi penderitaannya, itu adalah hak sebagai manusia. Menolong orang sakit, cacat dan menderita: Adalah kamma baik Setara dengan menolong Sammasambuddha Dimulai dengan niat (cetana) yang baik Dilakukan dengan bijaksana Dilakukan dengan cara yang benar

Cara menolong Berusaha mengurangi/meringankan penderitaan makhluk lain Anjurkan agar rela menerima segala yang datang, namun tetap optimis Tidak memberikan beban tambahan Mencegah lebih baik dari menyembuhkan

5 cara merawat orang sakit Menyiapkan obat-obatan Mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik yang harus ditawarkan Merawat dengan penuh cinta kasih Tak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan, ludah, dll. Setiap saat memberikan dorongan semangat dengan membicarakan Dhamma agar cepat ia sembuh.

10

Kemoterapi
Pro Merupakan hak otonomi pasien untuk mendapatkan pengobatan Belum tentu pengobatannya sia-sia Untuk meningkatkan survival rate

Kontra Dampak buruk pada psikis pasien akibat kemoterapi Pengobatan sia-sia Menurut agama Kristen dan Buddha, pengobatan yang sia-sia tidak berguna lagi untuk pasien

SKENARIO 3 & 4

Masalah Pada Pasien


Dokter menyataka bahwa setelah kemoterapi, kanker parunya sudah hilang, namun beberapa minggu kemudian kondisinya menurun, sulit berjalan, biacar pelan, banyak tidur, kesulitan menelan dan tampak sangat lemah. Dokter menyatakan bahwa kanker yang diderita Pak Arman sudah menjalar ke otak Pak Arman yang sebelumnya telah memiliki semangat hidup yang tonggi tibatiba harus dihadapkan pada penyakit Pak Arman yang sangat parah. Ny.Nani menolak saran dokter untuk melakukan pengobatan paliatif, dan meminta dokter untuk melakukan segala cara untuk menyembuhkan Pak ArmanNy. Nani merasa yakin bahwa Pak Arman masih dapat disembuhkan dengan pengobatan medis mengingat kanker parunya berhasil dihilangkan. Kemoterapi tidak berhasilada beberapa kemungkinan, yaitu: a. Kemoterapi berhasil tetapi adanya metastasis yang tidak terdeteksi (silent illness) b. Dokter tidak melakukan pemeriksaan secara holistik c. Kemoterapi berhasil tetapi tidak di screening

11

Pro dan Kontra Terapi Kuratif

PRO ETIKA Jika Pak Arman masih kompeten dan menginginkan untuk tetap melakukan pengobatan kuratif Hak otonomi pasien

HUKUM Menghormati hak pasien untuk mendapatkan perawatan medis

ISLAM Harus tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah dan tidak boleh pasrah pada keadaan

KRISTEN Tetap melakukan pengobatan meskipun tidak bisa disembuhkan Pengobatan postmodern, menjaga relasi horizontal tanpa kebenaran untuk tenangkan hati nurani.

KHATOLIK KGK 2299: Kepada orang yang sakit dan menghadapi ajal diberi perawatan sebaik-baiknya, dibantu dengan doa oleh keluarga atau sanak saudara yang lain. Keluarga mengupayakan sakramen-sakramen (upacar suci) kepada mereka yang sakit untuk menghadap Tuhan

KONTRA ETIKA Pasien sudah memasuki stadium akhir dan secara medis kemungkinan untuk sembuh sangat kecil

12

Merupakan pengobatan yang sia-sia Dalam bioetik, pengobatan terbaik untuk stadium terminal adalah pengobatan paliatif Tujuan utama adalah comfort (demi kenyamanan pasien), bukan hanya cure.

ISLAM Hadits riwayat Jamah dari Anas bahwa Nabi saw. bersabda: Janganlah seseorang mengharap mati karena suatu bencana yang menimpa dirinya. Dan seandainya terpaksa mengharapkannya, hendaklah ia mengucapkan Ya Allah hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik untukku dan wafatkanlah jika wafat itu lebih berguna untukku.

KRISTEN Medis hanya sebagai alat atau sarana Medis bukan untuk perpanjangan umur, yang berhak adalah Allah Medis hanya untuk menopang tangan Allah

HINDU Tetap memberikan perawatan dengan cara pengobatan paliatif

BUDDHA Tidak menyetujui pengobatan yang sia-sia Sakit aadalah akibat kamma buruk, dan lebih baik berdoa mati agar bisa terlahir kembali.

Hak Hidup &Hak Mati


HUKUM Semua orang diciptakan sama dan memiliki hak-hak alamiah (natural rights) yang tidak dapat dilepaskan, diantaranya termasuk hak atas hidup, kebebasan dan hak milik.

13

Pada umumnya dikenal dua jenis hak asasi atau hak dasar manusia, yaitu hak dasar sosial dan hak dasar individual. Dua asas hukum yang melandasi hukum kesehatan yaitu the right to healthcare atau hak atas pelayanan kesehatan (bukan hak atas kesehatan) dan the right of self determination atau hak untuk menentukan nasib sendiri merupakan hak dasar atau hak primer di dalam bidang kesehatan. Yang disebut pertama umumnya dianggap merupakan hak dasar sosial, sedangkan yang kedua merupakan hak dasar individual, meskipun batasan antara keduanya agak kabur. Hal ini disebabkan karena hak dasar individual atau menentukan nasib sendiri juga ada pada hak dasar sosial.

ISLAM Hidup itu merupakan anugerah dari Allah swt. Berdasarkan hadits riwayat Jamah dari Anas bahwa Nabi saw. bersabda: Janganlah seseorang mengharap mati karena suatu bencana yang menimpa dirinya. Dan seandainya terpaksa mengharapkannya, hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik untukku dan wafatkanlah jika wafat itu lebih berguna untukku.

KRISTEN Manusia tidak berhak mengakhiri nyawanya sendiri. Tujuan hidup untuk memuliakan Allah.

KHATOLIK Hal ini tidak dapat diterima secara moral.

HINDU Hak mati tidak dibenarkan, karena berlawanan dengan ajaran ahimsa tanpa kekerasan) Hanya Tuhan yang berwenang menentukan hidup dan mati manusia.

14

BUDDHA Dalam agama Buddha tidak ada hak, termasuk hak untuk mati, yang ada adalah kewajiban Kewajiban sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia: orang tua, anak, suami, istri, murid, guru, majikan, karyawan, rakyat, pemimpin/raja.

Tindakan Dokter
Kita harus berempati kepada pasien. Berikan pengertian kepada pasien dan keluarganya mengenai manfaat pengobatan paliatif, karena pengobatan kuratif merupakan suatu tindakan pengobatan yang sia-sia pada pasien stadium terminal. Dari segi bioetika, sikap dokter dalam menghadapi pasien pada stadium terminal yaitu beneficence (demi kepentingan terbaik pasien) dan non-malefience (tidak merugikan pasien). Tujuan utama adalah comfort (demi kenyamanan pasien), bukan hanya cure. Melakukan pendekatan kepada Pak Arman selaku pasien dan sanak keluarganya yang lain.

15

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA


Penyakit Terminal

Pengertian Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, kematian tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. (Stuard & Sundeen, 1995). Penyakit pada stadium lanjut, penyakit utama tidak dapat diobati, bersifat progresif, pengobatan hanya bersifat paliatif ( mengurangi gejala dan keluhan, memperbaiki kualitas hidup. ( Tim medis RS Kanker Darmais, 1996)

Kriteria penyakit terminal Penyakit tidak dapat disembuhkan Mengarah pada kematian Diagnosa medis sudah jelas Tidak ada obat untuk menyembuhkan Prognosis jelek Bersifat progresif

Masalah masalah pada pasien penyakit terminal A. Masalah fisik Nyeri Perubahan kulit Distensi Konstipasi Alopesia kelemahan otot

B. Masalah psikologi Ketergantungan tinggi

16

Kehilangan kontrol Kehilangan produktifitas Hambatan dalam berkomunikasi

C. Masalah sosial Menarik Diri Isolasi sosial

D. Masalah spiritual Kehilangan harapan Perencanaan saat ajal tiba

Perencanaan Tindakan Secara umum : 1. Membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan cara : Mendengarkan pasien berbicara Memberi dorongan agar agar pasien mau mengungkapkan perasaannya. Menjawab pertanyaan pasien secara langsung Menunjukkan sikap menerima dan empati

2. Mengenali faktor-faktor yang mungkin menghambat. 3. Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat. 4. Memberi dukungan terhadap respons kehilangan pasien. 5. Meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga. 6. Menentukan tahap keberadaan pasien.

Pada penyakit kanker, dikenal istilah stadium penyakit kanker yang menggambarkan sudah sejauh mana kanker itu tumbuh dan berkembang di dalam tubuh. Ada empat stadium, stadium 1, 2, 3 dan 4. Pada stadium satu artinya, penyakit kanker masih tumbuh ditempat dia berasal dan belum menyebar kemana-mana dan relatif masih dapat disembuhkan dengan baik. Stadium empat artinya kanker sudah menyebar ke tempat jauh dari tempat dia tumbuh, bisa sudah menyebar ke paru-paru, liver, tulang belakang, otak , tulang pinggul dan lainnya.

17

Penderita kanker stadium terminal adalah pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan dan sudah mendekati fase kematian (terminal). Stadium terminal umumnya adalah pada kanker stadium lanjut, yang penyebaran kankernya sudah demikian jauh dan merusak berbagai fungsi organ vital tubuh, baik disekitar kanker itu tumbuh maupun di tempat jauh (metastasis), sehingga menyebabkan keadaan umum yang buruk bagi penderitanya. Pada keadaan ini sudah tidak dapat diberikan pengobatan baik berupa operasi, kemoterapi, maupun radioterapi.

Penilaian apakah penyakit kanker sudah masuk ke dalam stadium terminal atau belum, ditentukan oleh dokter ahlinya, melalui berbagai pemeriksaan, baik secara klinis maupun laboratorium dan pemeriksaan lainnya.

Pengobatan Paliatif

ASPEK MEDIKOLOGEAL Latar belakang Penyakit belum dapat disembuhkan Pasien menghadapi berbagai masalah Perlunya perawatan holistik terintegrasi Sarana pelayanan paliatif terbatas

Perawatan paliatif Memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, serta penanganan masalah fisik, psikososial dan spiritual (WHO, 2002). Terdiri dari: o Penatalaksanaan nyeri o Penatalaksanaan keluhan fisik lain o Asuhan keperawatan o Dukungan psikologis o Dukungan sosial o Dukungan kultural dan spiritual

18

o Dukungan persiapan dan selama masa duka cita Palliative Home Care Pelayanan perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga paliatif/keluarga atas bimbingan/pengawasan tenaga paliatif. Hospis/Rumah Perawatan Tempat dimana pasien stadium terminal yang tidak dapat dirawat di rumah, namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan di RS. Pelayanan untuk mengendalikan gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah sendiri. Pelaksana Tenaga kesehatan Pekerja sosial Rohaniawan Keluarga Relawan Telah mengikuti pendidikan/latihan dan mendapat sertifikat dari Depkes

Tempat perawatan paliatif RS Puskesmas Rumah singgah/panti (hospis) Rumah pasien

Aspek medikolegal a) Informed Consent - Pasien paham pengertian, tujuan dan pelakasanaan perawatan paliatif (komunikasi). - Setiap tindakan berisiko dilakukan informed consent. - Penerima informasi, pemberi persetujuan diutamakan pasien sendiri (pasien kompeten) dan saksi keluarga terdekat, pasien tidak kompeten oleh keluarga terdekat atas nama pasien.

19

- Saat pasien kompeten, tim mengusahakan memperoleh pesan/pernyataan pasien tentang hal yang harus atau boleh atau tidak boleh dilakukan terhadapnya pada saat kompetensinya menurun, atau pasien menunjuk wakilnya untuk membuat keputusan saat ia tidak kompeten. Pernyataan dibuat secara tertulis. - Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim dapat melakukan tindakan kedokteran yang dapat diperlukan. b) Resusitasi/tidak resisitasi - Pasien diinformasikan tentang hal ini saat mulai perawatan paliatif - Keputusan dibuat oleh pasien yang kompeten/tim perawatan paliatif - Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi, setelah memperoleh informasi yang adekuat dan dipahaminya. - Keluarga terdekat pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan tidak resusitasi, kecuali sudah dipesankan dalam pernyataan tertulis oleh pasien. - Tapi dalam keadaan dan pertimbangan tertentu, permintaan tertulis oleh seluruh keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan pengadilan untuk pengesahannya. - Tim perawatan paliatid dapat membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi jika pasien dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya berdasarkan bukti ilmiah. c) Perawatan di ICU - Sesuai ketentuan umum yang berlaku dan dibahas sebelumnya. - Dalam menghadapi pasien tahap terminal, tim harus mengikuti pedoman penentuan kematian batang otak dan penghentian peralatan life supporting.

Pengobatan pada penderita kanker stadium terminal, tidak lagi ditujukan pada upaya untuk penyembuhan, tetapi lebih diarahkan kepada pengobatan paliatif.

20

Pengobatan paliatif adalah pengobatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita seoptimal mungkin dengan kondisi kanker yang dia derita. Umumnya lebih ditujukan untuk mengatasi gejala penyakitnya dan bukan lagi mengatasi penyebabnya.

Dapat dibayangkan bagaimana perasaan penderita maupun keluarganya, pada saat mengetahui bahwa penyakit kankernya sudah tidak mungkin disembuhkan lagi. Ada beberapa sikap yang terjadi dalam menghadapi kondisi cobaan berat seperti ini, bisa berupa penolakan, amarah, konflik batin, depresi, sampai dengan penerimaan atau pasrah akan takdir yang dialaminya.

Penderita kanker stadium terminal memerlukan perawatan yang lebih khusus, karena banyaknya keluhan yang dia rasakan. Keluarga umumnya memasrahkan perawatan dan pengobatannya di rumah sakit, karena dianggap ditangani oleh tenaga ahlinya dan keluarga tidak mengetahui bagaimana merawat penderita.

Namun, harus diketahui, pengobatan paliatif seperti ini tidak ada batas waktu sampai kapan harus dirawat di rumah sakit, karena hanya mengobati gejala penyakit saja sampai menunggu panggilan Allah. Jangka waktu perawatan bisa sangat lama, dan tentunya memerlukan biaya sangat besar baik untuk ongkos penginapan, obat-obatan, tenaga medis dan paramedis. Selain itu keluarga juga akan sangat repot, karena harus menunggu siang maupun malam, sehingga harus meninggalkan rumah, keluarga dan pekerjaan, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk transport dll.

Memang benar, untuk mengatasi keluhan-keluhan fisik yang dirasakan penderita seperti rasa nyeri, mual-mual, perdarahan, borok, sakit kepala dan lain-lain memerlukan tenaga dokter dan paramedis. Namun keluhan lain seperti rasa sepi, rasa kesendirian, putus asa, rasa takut, cemas, waswas, rasa ingin dicintai, rasa ingin disayangi, rasa aman, kebutuhan spiritual, support mental, support sosial, sangat memerlukan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya yang dengan tulus hati mau mendengar, memberikan

21

uluran kasih sayang dan perhatian yang sangat diperlukan penderita mendekati saat-saat terakhirnya.

Perawatan paliatif bukan hanya dapat dilakukan di rumah sakit saja, namun dapat juga dilakukan di luar rumah sakit yaitu di rumah penderita itu sendiri. Perawatan di rumah penderita sendiri ini disebut juga home care. Home care dapat dilaksanakan dengan standart pengobatan seperti di rumah sakit.

Untuk dapat melaksanakan perawatan di rumah ini, perlu kerjasama berbagai pihak yang akan berfungsi sebagai Tim Perawatan Paliatif Rumah, yaitu dokter dan perawat rumah sakit, dokter di wilayah setempat bisa dokter Puskesmas atau dokter keluarga, PKK setempat dan relawan yang ingin membantu dan dibekali pelatihan tertentu sesuai bidang minat yang sesuai baik bidang perawatan, dukungan spiritual maupun dukungan moril.

Tuhan yang punya kuasa mengenai makhluk-Nya, jadi kesembuhan masih bisa diharapkan walaupun sudah memasuki tahap stadium akhir.

What is HOSPICE?

Hospice adalah perawatan pasien terminal (stadium akhir) dimana pengobatan terhadap penyakitnya tidak diperlukan lagi (dokter sudah angkat tangan). Perawatan ini bertujuan meringankan penderitaan dan rasa tidak nyaman dari pasien, berlandaskan pada aspek bio-psiko-spiritual. HOSPICE HOME CARE YAYASAN KANKER INDONESIA HHC-YKI

Merupakan pelayanan / perawatan pasien kanker terminal (stadium akhir) yang dilakukan di rumah pasien setelah dirawat di rumah sakit dan kembali ke rumah.

22

Tujuannya: Meringankan pasien dari penderitaannya, baik fisik (misalnya rasa nyeri, mual, muntah, dll), maupun psikis (sedih, marah, khawatir, dll) yang berhubungan dengan penyakitnya. Memberikan dukungan moril, spiritual maupun pelatihan praktis dalam hal perawatan pasien bagi keluarga pasien dan perawat. Memberikan dukungan moril bagi keluarga pasien selama masa duka cita.

23

BAB V KESIMPULAN

Penderita kanker stadium terminal adalah pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan dan sudah mendekati fase kematian (terminal). Pada stadium terminal, penyakit utamanya tidak dapat diobati, bersifat progresif dan pengobatan hanya bersifat paliatif dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, serta penanganan masalah fisik, psikososial dan spiritual. Kualitas hidup pasien merupakan suatu alasan dasar untuk memilih perawatan optional (pilihan) atau obligatory (kewajiban). Dan kualitas hidup pasien juga merupakan justifikasi untuk melakukan withholding (tidak memasang alat bantu) ataupun withdrawing (mencabut alat bantu). Pada stadium terminal ini diperlukan perawatan secara holistik dan ditangani dalam satu tim. Tindakan Ny.Nani yang melakukan pengobatan dengan segala cara termasuk tindakan extraordinary.

Dari segi bioetika, sikap dokter dalam menghadapi pasien pada stadium terminal yaitu beneficence (demi kepentingan terbaik pasien) dan non-malefience (tidak merugikan pasien). Tujuan utama adalah comfort (demi kenyamanan pasien), bukan hanya cure. Dokter dapat melakukan pendekatan kepada Pak Arman selaku pasien dan sanak keluarganya yang lain dan memberikan pengertian kepada pasien dan keluarganya mengenai manfaat pengobatan paliatif, karena pengobatan kuratif merupakan suatu tindakan pengobatan yang sia-sia pada pasien stadium terminal.

24

BAB V DAFTAR PUSTAKA

1. Sampurna, Budi. Profesi Kedokteran dan Kode Etiknya serta Peran Manajemen
Rumah Sakit terhadap kasus Malpraktik. Access on January, 29th 2011. Available at : http://www.freewebs.com/kekimalpraktek/etikkedokteran.htm

2. Wiradharma, Dhanny. Hukum Kedokteran. Binarupa Aksara. 1996. 3. Bagian


Kedokteran Forensik, Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran, Jakarta, 1994.

4. Shannon, Thomas, Pengantar Bioetika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995

25