Anda di halaman 1dari 13

Jumat, 15 Februari 2013

Laporan Embryologi Tumbuhan


Antera Benangsari(stamen) umumnya terdiri dari tangkai sari (filamen) dan kepala sari (antera). Antera atau kotak sari pada umumnya terdiri atas 4 kantong polen atau mikrosporangia. Pada saat antera masak, dua sporangia pada masing-masing sisi akan menyatu menjadi teka. Pada awal perkembangan antera mampu membelah dan disebut dengan mikrosporofil. Mikrosporofil membelah menghasilkan 4 sel haploid yang disebut mikrospora, selanjunya mikrospora membelah membentuk 2 sel yaitu sel tabung dan sel generatif yang berukuran lebih kecil. Kedua sel tersebut diselubungi suatu butiran serbuk sari. Bila serbuk sari masak maka antera membuka dan menebarkan butir serbuk sari tersebut. Pada angiospermae, butir serbuk sari sebagai gametofit jantan yang menghasilkan sperma. Jumlah benangsari suatu tanaman berfariasi, tergantung jumlah dan susunan stamen. Bagian-bagian benang sari adalah sebagai berikut: Tangkai sari (filamen) Tersusun oleh sel-sel parenkimatis yang memiliki vakuola tanpa ruang antar sel, sel-sel tersebut seringkali mengandung pigmen. Kepala sari (anthera) Memiliki struktur yang kompleks, tersusun atas sel yang berlapis-lapis, dibagian tengah terdapat lokulus yang berisi butir-butir polen. Bhojwani dan Bhatnagar(1978)membagi lapisan dinding antera menjadi 4, yaitu: Epidermis(eksotesium) Merupakan lapisan paling luar yang berfungsi sebagai jaringan pelindung. Endotesium Umumnya endotesium terdiri dari satu lapis sel, walaupun ada juga yang terdiri dari beberapa lapis sel. Struktur endotesium berserabut,sehingga dikenal sebagai lamina fibrosa. Lapisan ini berfungsi membantu pembukaan antera. Lapisan tengah Terdiri dari 2-3 lapis sel. Saat antera berkembang, lapisan tengah menjadi tertekan dan memipih sehingga sering disebut sebagai lapisan tertekan. Tapetum Merupaka lapisan terdalam dinding antera dan berkembang maksimum pada saat terbentuknya tetrad mikrospora. Lapisan tapetum berfungsi member makan pada sel-sel sporogen yang sedang berkembang dngan jalan membberikan isi selnya selama perkembangan mikrospora. Pada angiospermae yang telah maju tingkatanya, tapetum mengeluaarkan isi selnya secara berkala sehingga dinding selnya tidak mengalami lisis dan sisa selnya masih dapat dilihat selama perkembangan mikrospora (Isserep, 2003) Antera Glycine max young Antera Glycine max muda terdiri dari suatu masa sel yang homogen serta dikelilingi lapisan epidermis. Lapisan dinding antera belum terlihat jelas. Kemungkinan karena antera masih dalam tahap pembelahan lapisan pariental primer untuk menghasilkan dinding antera. Beberapa sel hipodermalnya berukuran besar, memanjang ke arah radial dan intinya jelas. Sel-sel ini disebut

1.

2.

a. b.

c.

d.

sel arkesporangium. Sel arkesporangium ini yang nantinya akan membelah secara periklinal menghasilkan sel pariental primer dan sel sporogen primer untuk menghasilkan antera dan sel induk mikrospora. Antera Glycine max old Dari hasil pengamatan dapat diketahui Antera Glycine max old memiliki struktur yang lebih kompleks daripada Antera Glycine max young. Pada Antera Glycine max old, terlihat adanya dinding antera yang berlapis dan di bagian dalamnya terdapat lokulus yang berisi polen. Dinding Antera Glycine max old terdiri dari 4 lapis, yaitu: a) epidermis, lapisan terluar yang selnya memipih dan membentuk tonjolan. b) endotesium, susunan selnya tak teratur dan berserabut. c) Lapisan tengah, terdiri dari 2 lapis sel yang pipih. d) tapetum, sel-selnya banyak mengandung plasma. Antera Lilium sp Antera Lilium sp memiliki struktur yang kompleks. Terdapat 4 lokuli yang berisi butir-butir serbuk sari. Pada dinding antera ini terlihat ada 4 lapisan, yaitu: a) epidermis, lapisan terluar yang selnya memipih, membentuk tonjolan dan berserabut. b) endotesium, susunan selnya tak teratur dan berserabut. c) Lapisan tengah, terdiri dari 2 lapis sel yang pipih. d) tapetum, inti selnya terlihat jelas dan sel-selnya banyak mengandung plasma. Pollen Pada umumnya pollen yang baru saja terbentuk masih mempunyai sitoplasma dan selselnya akan segera bertambah volumenya dengan sangat cepat. Hal ini diikuti dengan vakuolalisasi dan perpindahan inti dari bagian tengah menuju ke bagian yang berdekatan dengan dinding sel. Pada tanaman tropis biasanya individu akan segera membelah, tetapi pada tanamna yang hidup di daerah dingin terdapat fase istirahat selama beberapa saat. Petumbuhan buluh pollen merupakan mula dari pengembangan gametofit jantan. Mikrospora yang bebas disebut dengan pollen. Butir pollen merupakan organ istirahat tanaman. Peningkatan air akan cenderung meningkatkan jumlah aktivitasnya. Faktor-faktor yang berpengaruh pada perkecambahan pollen dan pertumbuhan buluh pollen antara lain adalah ketersediaan karbohidrat, kalsium, energy, hormone tanaman, dan factor-faktor fisik lain seperti temperature, cahaya, dan air. Pertumbuhan buluh pollen merupakan hasil dari perluasan polar secara cepat dari suatu sel tunggal. Buluh pollen muncul dari germpore menembus pollar. Secara visual pollen yang matang dapat diseteksi dari perubahan warna dan kelekatan butir-butir pollen. Perubahan warna pada permukaan butir pollen dari kuning pucat menjadi kuning terang mengidntifikasi adanya peningkatan spora pollenin. 2 lapisan butir pollen yaitu : a. Eksin Tersusun dari sporolenin sebagai pewarna pada pollen. Terdiri atas ektiksin dan endeksin. Berdasarkan ornamentasinya pollen dibagi menjadi 2 yaitu sektin(lapisan yang memiliki ornamentasi) dan neksin (lapisan yang tidak memiliki ornamentasi) b. Intin Tersusun dari peptoselulosa yang mengandung polisakarida dan enzim prekusor.

Pollen Lilium sp Butir-butir pollen tersimpan dalam lokulus dari antera dan dinding pollen bertipe retikulata. Proses pembentukan dan pemasakan pollen disebut mikrosporogenesis. Pollen merupakan mikrospoa dewasa yang telah lepas dari tetrad. Punya 2 lapisan dinding yaitu ektin dan intin. Setelah masak pollen keluar melalui stomium Pollen Cucumis sp Komponen kimia terdiri-dari protein, karbohidrat, lemak, abu, dan air. Dinding pollen terdiri-dari eksin dan intin. Pollen yang masak vakuola menghilang karena desakan sitoplasma. Ciri pollen yang masak yaitu pola ukuran tertentu, terdapat bahan lipoid, duri, dan alat tambahan lainnya. Pollen Hibiscus sp Mempunyai 2 lapisan dinding yaitu eksin dan intin Setelah antera masak, pollen keluar melalui stomium. Tipe pollennya yaitu tipe suksesif Pollen mempunyai 2 tipe yaitu suksesif dan simultan

Biji dan Ovulum Secara umum biji mengandung unsure-unsur yang sama yaitu embrio dan cadangan makanan serta diselubungi oleh kulit biji. Pada sebagian tumbuhan, nucleus dan endosperm sebagai tempat cadangan serta kulit biji yang menyelbunginya. Integument pada biji berkembang jadi kulit biji atau testa. Sel telur yang dibuahi berkembang jadi embrio dan sel endosperm

primer bermitosis jadi endosperm. Susunan kulit biji biasanya terdiri dari epidermis dan jaringan yang berdinding tebal yang terdapat disebelah dalam epidermis. Berdasarkan ada tidaknya endosperm biji dibedakan2 tipe : 1. Endosperma 2. Non endosperma Setiap ovlum melekat pada dinding ovarium dengan adanya tangkai bakal biji yang mengandung satu berkas pembuluh. Bakal biji terdiri dari jaringan tengah/nuselus, dilingkari dengan integument luar dan integument dalam. Kedua integument mengelilingi satu saluran yang bermuara ke pori disebut mesofil. Daerah nuselus, integument dan funikulus yang berhubungan disebut kalaza, sering terletak berhadapan dengan mesofil. Ovulum terdapat pada daerah dinding bakal buah dalam (adaksial) yang disebut plasenta. Biji carica papaya Biji merupakan hasil fertilisasi antara ovum dan sel sperma. Bagian-bagian biji yaitu Kulit biji (Spermodermis) Kulit biji berasal dari integument (selaput bakal biji), kulit biji terdiri dari lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen). Tali pusar (funiculus) Merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan rembuni. Inti biji (nuselus seminis)terdiri dari Lembaga (embrio) Merupakan calon tumbuhan baru yang akan jadi tumbuhan baru. Bagian: Akar lembaga (radikula): akar lembaga ini menghadap kea rah liang biji. Daun lembaga (cotiledon): daun pertama suatu tumbuhan. Batang lembaga (caudalis): batang lembaga serta calon daun merupakan bagian lembaga dinamakan pucuk lembaga(plumula) Putih lembaga ( albumin) Adalah jaringan yang jadi cadangan makanan bagi bagian lembaga. Putih lembaga disebut juga endosperm. Ovulum Lilium sp Ovulum berada dalam ovarium dapat mengandung 1 atau lebih ovulum. Ovulum terdiri atas nuselus yang mengelilingi oleh 1 atau 2 integumen dan menempel pada plasenta dengan sebuah tangkai yang disebut funiculus. Integument ovulum akan berkembang jadi kulit biji. Nuselus biasanya ada di bawah lapisan paling luar pada ujung mikrofil yang disebut sel induk megaspore. Ovulum berkembang dari plasenta ovarium. Di dalam ovulum terdapat kantong embrio yang berisi yaitu satu ovum, dua sel sinergid, dua badan polar dan tiga sel anti-poda. Seluruh permukaan dan bagian ovulum tertutup kutikula. Kutikula luar menutupi funiculus dan integument luar sedangkan kutikula tengah terdapat diantara integument dalam dan nuselus.

1.

2. 3. a.

a) b) c) b.

Pada bagian ujung o vum terdapat celah yang disebut mikrofil yang dibentuk oleh lapisan integume.

Bryophyta Bryophyta atau lumut merupakan tumbuhan yang dapat melakukan dua adaptasi yang memungkinkan untuk di tanah yaitu pertamakalinya tubuhnya diselubungi kutikula. Sehingga dapat mengurangi penguapan. Krdua gametnya berkembang dalam gametangia. Fertilisasinya berkembang didalam gamet pelindungnya. Lumut belum mempunyai jaringan pengangkut maka masuknya air ke dalam tubuhnya melalui imbibisi, lalu didstribusikan ke bagian-bagian tumbuhan baik secara difusi dan kapilaritas maupun aliran sitoplasma. Sistem pengankutan air semacam itu menyebabkan lumut hanya dapat hidup dirawa dan yempat yang lembab. Lumut berwarna hijau karena mempunyai plastida yang menghasilkan klorofil a dan klorofil b sehingga hidupnya autotrof. Tumbuhan ini dibedakan atas gametofit dan sporofitnya. Tumbuhan ini juga dianggap peralihan tumbuhan berthallus ke tumbuhan kormus. Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu: a. Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid b. alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum Pada tumbuhan lumut terdapat gametangia yaitu : Alat kelamin jantan yaitu anteridium yang menghasilkan spermatozoid Alat kelamin betina yaitu arkegonium yang menghasilkan ovum. Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur. Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian : Vaginula (kaki) Seta (tangkai) Apofisis (ujung seta yang melebar) Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora) Dibagi menjadi 3 kelas : Hepaticeae Sering disebut lumut hati karena bentuknya seperti hati dan menempel diatas permukaan tanah yang lembab atau terapung diatas air. Contoh : Marchantia polimorpha dan Riccia sp Anthocerotaceae

a. b. c. d.

Lumut ini juga sering disebut lumut tanduk, habitatnya ditepi sungai, danau, sepanjang selatan. Lumut ini mengalami metagenesis dimana diantaranya fase gametofit dan sporofit. Contoh : Anthoceros laevis Lumut daun / Musci Cirinya : Mempunyai bagian yang menyerupai batang dan daun Mirip batangnya tegak dan berdaun tebal Memiliki rhizoid multiseluler bercabang Didalam kapsul kadang terlihat gigi peristom Contoh : Politrichum sp Metagenesis Bryophyta

Sporofit Funaria sp Tersusun atas : Kaki kecil menancap pada cabang arkegonium Seta, bentuknya gigi panjang berwarna coklat kemerahan pada ujung atas membawa kapsula. Susunan anatomisnya : Silinder pusat, tersusun atas sel berdinding Korteks tersusun atas sel berdinding tebal berfungsi memperkuat sehingga dapat menopang kapsula dengan kuat. Epidermis selnya berkutikula Kapsula berbentuk seperti buah pir , semula berwarna hijau hingga kuning oranye, terdiri atas apofisis, epidermis, daerah spons, silinder pusat. Anteridia Riccia sp Anteridium dan arkegoniumnya tumbuh pada thallus yang berbeda. Anteridium menghasilkan sel gamet jantan yaitu spermatozoid Pembuahan terjadi pada musim hujan , spermatozoid akan berenang pada air hujan menuju ke arkegoniofor. Pertumbuhan anteridium dipengaruhi oleh lamanya penyinaran dan suhu. Jika anteridium masak sel dindingnya akan menyerap air, menjadi lendir dan mengembang hingga spermatozoid keluar dan terkumpul dalam tetesan air hujan yang terletak diatas anteridiofor. Pendukung anteridium adalah anteridiofor yang bentuknya menyerupai tangkai dengan cakram berbelah delapan pada ujungnya dan diatas cakram terdapat ruang mirip bantalyang bermuara ke atas , ruang ini terdapar anteridium. Sporofit Riccia sp Riccia sp merupakan golongan lumut hati berthallus berwarna hijau , kecil, pipih, bercabang dikotom. Thallus gametofit memperlihatkan susunan bentuk roset.terdapat dua bagian : Daerah fotosintesis pada permukaan dasar thallus tersusun dari aesolae yang terletak tepat dibawah epidermis atas dari dasar aerolon muncul filamen bercabang yang tersusun dari sel kloroplas disebut filamen fotosintesis

Daerah penyimpanan makanan tersusun atas sel-sel yang tidak berwarna rapat tanpa ruang antar sel dan mengandung tepung. Pada epidermis bawah sebagai tempat munculnya sisik dan rhizoid. Sporofit Riccia sp yang telah dewasa memiliki srtuktur paling sederhana dibandingknan lumut lain. Arkegonium Riccia sp Arkegonium adalah alat reproduksi betina yang menghasilkan ovum. Tumbuh pada thallus yang berbeda dengan anteridium. Pertumbuhannya dipengaruhi oleh sinar matahari dan suhu. Pendukung arkegonium adalah arkegoniofor yang berakhir dengan badan berbentuk bintang.kaki bintang berjumlah sembilan tepinya berlipat ke bawahsehingga sisi atas menghadap ke bawah. Arkegonium seakan terdapat di sisi bawah badan yang berbentuk bintang tadi. Letak arkegonium pada pendukungnya berderetan menurut arah jari-jari. Tiap baris diselubungi oleh selaput yang bergerigi yang dinamakan periketium. Tipe sel terdapat di pinggir sel yang satu ditengah-tengah lalu membelah melintang membentuk sel tutup dan sel dalam, ketiga sel yang dipingir yang membelah menjadi dinding perut dan leher arkegonium. Dari sel dalam akhirnya terbentuk sel telur. Sel saluran perut dan sel saluran leher, sel epidermis badan pendukung arkegonium mempunyai papila dan membentuk kapiler pada permukaan yang memudahkan tergelincirkan spermatozoid masuk ke arkegonium. Spermatozoid bereaksi kemokalis terhadap zat putih telur. Marchantia sp Berbentuk lembaran hati tumbuh menempel diatas tanah. Gemma cup merupakan ogan reproduksi vegetatif marchantia sp disebut kuncup. Dapat membentuk thallus baru yang memiliki rhizoid. Struktur gemma seperti mangkok dipermukaan gametofit. Tumbuh dibagian atas thallus. Gemma terlepas oleh air hujan dan terbawa oleh air agak jauh dari induknya. Bila gemma melekat pada bagian pipih di tanah, maka dari bagian bawahnya keluar rhizoid lalu dari thallus baru akan berkembang. Gemma kecil berbentuk lensa yang menempel pada tangkai yang pendek didasar kapula.

Pteridophyta Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti pada Bryophyta, pada Pteridophyta pun terdapat daur kehidupan yang menunjukkan adanya dua keturunan yang bergiliran. Gametofitnya mempunyai beberapa perbedaan dengan gametofit lumut, walaupun sama sama terdiri atas sel sel yang haploid. Gametofit pada tumbuhan paku dinamakan protalium, dan protalium ini hanya berumur beberapa minggu saja. Besarnya paling banyak hanya beberapa cm saja, bentuknya menyerupai thallus

hepaticae. Umumnya protalium itu berbentuk jantung, berwarna hijau dan melekat pada substratnya dengan rhizoid rhizoid. Padanya terdapat anteridium (biasanya pada bagian yang sempit) dan arkegonium (dekat dengan lekukan bagian yang melebar). Pembuahan hanya dapat berlangsung jika ada air. Baik anteridium maupun arkegonium terdapat pada sisi bawah protalium di antara rhizoid rhizoidnya. Sehabis pembuahan, dari zigot tumbuh keturunan yang diploid, yaitu sporofitnya. Pada tumbuhan paku sporofit ini sama sekali berbeda dengan sporofit lumut. Pada tumbuhan paku biasanya protalium lalu binasa, akan tetapi jika tidak terjadi pembuahan, protalium itu dapat bertahan sampai lama. Sporofit itulah yang pada Pteridophyta menjadi tumbuhan paku yang tubuhnya telah dapat dibedakan dalam akar, batang dan daun. Hal ini disebabkan, karena zigot tumbuhan paku yang sekarang masih hidup itu, segera pada permulaan perkembangannya selain haustorium lalu memisahkan sel sel calon akar, batang dan daun. Arkegonium paku Arkegonium baru terbentuk setelah protalium mendapatkan kesempatan yang cukup lama berasimilasi, jadi sudah cukup mengumpulkan persediaan makanan. Protalium berupa lembaran, memiliki rizoid pada bagian bawahnya. Alat reproduksi betina adalah arkegonium yang nantinya akan menghasilkan ovum. Arkegonium yang sudah masak ditandai dengan membuka pada bagian ujungnya. Ovum pada arkegonium akan dimasuki oleh spermatozoid yang berflagel dengan bantuan perantara air. Protalium dengan Arkegonium Gametofit pada tumbuhan paku hanya berukuran beebrapa milimeter. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki gametofit berbentuk hati yang disebut protalus yang berupa lembaran. Protalus hidup bebas tanpa bergantung pada sporofit untuk kebutuhan nutrisinya. Alat reproduksi betia adalah arkegonium yang dapat menghasilkan ovum. Arkegonium terletak pada lekukan bagian yang lebar. Gametofit yang hanya memiliki arkegonium disebut gametofit uniseksual. Anteridium paku Anteridium yang dibentuk pada mulanya berupa tonjolan berbentuk papil kemudian terbagi oleh suatu dinding berbentuk corong. Jika anteridium sudah masak, sel-sel yang melingkar dan tensi lendir akan mengembang kemudian akan terlepas. Demikian pula spermatid berbentuk yang terdapat dalam anteridium dan engembung dan terlepas, dan tiap spermatid mengeluarkan satu spermatozoid dengan banyak bulu cambuk. Bila arkegonium sudah masak, maka spermatozoid bergerak masuk ke dalam arkegonium menuju ke sel telur sehingga terbentuklah embrio. Protalium dengan Anteridium Perkembangbiakannya menunjukkan pergiliran kerturunan yaitu fase sporofit dan fase gametofit. Gametofit pada paku disebut protalium. Protalium hanya berumur beberapa minggu saja dan berbentuk seperti jantung berwarna hijau. Pada protalium ini terdapat anteridium yang terdapat pada bagian yang paling sempit.

Perkembangan Embrio Pada umumnya endosperm merupakan hasil pembelahan sel endosperm primer secara mitosis berkali-kali dan berfungsi member makan embrio yang sedang berkembang. Tidak semua golongan tumbuhan mempunyai endosperm. Tumbuhan yang tidak punya endosperm adalah suku orchidae. Pada stemaceae, tropaceae, drajat ploidi endosperm bervariasi, tergantung pada jumlah inti megaspore yang berfungsi pada pembentuk gametofit betina. Endosperm pada kebanyakan tumbuhan mempunyai derajat ploidi. Ploidi endosperm haustorium pada Thesium alpimen lebih dari 384n. Endosperm Arummacutatum mempunyai ploidi sangat tinggi yaitu 24576n. Terjadinya poliploidisasi pada endosperm disebabkan karena peristiwa endomitosis dan fusi inti di dalam endosperm. Sel sel endosperm berbentuk isodiametris di dalamnya butir 1 aleuron. Sel sel aleuron mempunyai dinding tebal, inti besar, dan sitoplasma tidak bervakuola. Pada dikotil, aleuron tidak merupakan lapisan tapi merupakan butir-butir yang terdapat di dalam sel endosperm. Misalnya, pada Riccinus communis, viccia roba, apabila di dalam biji tidak dijumpai adanya endosperm. Fungsi nutritive bagi embrio yang sedang berkembang diambil alih oleh jaringan yang ada di dalam ovulum. Pada family tertentu antara lain amarantaceae, lannaceae, piperaceae, dan caparidaceae, jaringan nucleus dapat sebagai cadangan makanan. Jaringan nucleus yang fungsinya sama dengan endosperm disebut perisperm. Perisperm dan epidermis nuselus banyak mengandung amilum. Sedangkan endospermnya sendiri yang terdapat disekitar embrio sangat mereduksi bila dibandingkan perisperm. Jumlah amilum harus bertambah mulai dari khalaza sampai ke bagian mikrophyly sehingga 99% bagian dari biji piper nigrum ini ditempati oleh perisperm. Pada biji Myristica fragnans endosperm dan perisperm berkembang sama kuat. Pada cyonastium, endosperm dan sebgaian besar nuselus tidak kelihatan selama perkembangan biji. Namun, sel-sel nuselus yang ada dibagian khalaza tepat di atas jaringan vaskuler aktif mengadakan, membentuk jaringan yang disebut kolozosperm. Sel-sel jaringan ini penuh dengan lemak dan amilum berfungsi sebagai pengganti endosperm. Isserep.1993.152-154. Pada bakal buah dibedakan dinding bakal buah dan ruang bakal buah. Pada bakal buah beruang banyak ada sekat pemisah. Bakal biji atau ovulum ada pada daerah dinding bakal buah dalam (adaksial) disebut plasenta. Berdasarkan perkembangannya, endosperm dibagi menjadi: a. Nuclear Pembelahan inti endosperm primer secara mitosis tidak diikuti oleh pembentukan dinding sekat sehingga terjadi inti bebas. Endosperm tetap berinti bebas selamanya seperti pada limnethes atau mungkin menjadi seluler pada tahap selanjutnya.pada sebagian besar kasus pembentukkan dinding kebanyakan secara sentripetal atau diawali pada ujung mikrophyle dan bergerak pada

khalaza. Biasanya endosperm menjadi seluler seluruhnya akan tapi pada phaseolus seluresasi terjadi hanya di sekeliling embrio. b. Seluler Pembelahan mitosis, inti endosperm primer diikuti dengan pembentukkan dinding sekat. Disini embriosae terbagi dalam ruangan-ruangan walau ada yang mengandung lebih dari 1 inti, misalnya pada piperomiaceae. Umumnya terdapat pada dikotil. Pembelahan inti endosperm primer dan pembelahan inti selanjutnya diikuti oleh pembentukan dinding. c. Helobial Merupakan kombinasi anther. Tipe nukleat dan seluler misalnya, pada helobiaceae, Zea mays atau oriza sativa. Tipe endosperm ini sangat terbatas pada monocotyledone. Riezky maya,P. 2010.17. Perkembangan embrio dimulai ketika zygot membelah menghasilkan 2 sel. Fase ini masih disebut zygot. Selanjutnya sel yang jauh dari mikrofil mengalami pembelahan secara terus menerus sehingga terbebtuk kumpulan sel dengan struktur seperti bola yang merupakan stadium awal dari embrio yang disebut proembrio. Pada monokotil bunga dijumpai 1 kotiledon. Pada embrio terbentuk 2 kutub apical yaitu calon tajuk diujung lainnya. Riezky Maya P. 2010. 31-33 Induksi Mangifera sp Dormansi adalah masa istirahat bagi suatu organ tanaman atau biji. Dormansi ini merupakan kemampuan biji untuk mengundurkan fase perkecambahannya hingga saat dan tempat yang menguntungkan untuk tumbuh. Faktor yang menyebabkan dormansi biji adalah: Tidak sempurnanya embrio Embrio yang belum matang secara fisiologis Kulit biji yang tebal Kulit biji impermeable Adanya zat penghambat untuk perkecambahan Fase yang terjadi dalam dormansi biji, fase induksi yaitu fase tertundanya metabolisme. Fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan, perkecambahan ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzim. Fase induksi ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon. Inisiasi Mangifera sp Perkecambahan merupakan muncul radikel menembus kulit benih dan bisa diartikan muncul dan berkembangnya struktur penting embrio dari dalam benih. Perkecambahan bersifat epigeal. Proses perkecambahan: Imbibisi Aktivasi enzim Perombakan simpanan cadangan Inisiasi pertumbuhan embrio Pemunculan radikel Pemantapan kecambah Inisiasi pertumbuhan embrio terjadi setelah semua proses imbibisi, aktivasi enzim, dan katabolisme cadangan makanan berjalan.

a) b) c) d) e)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Inisiasi ditandai dengan: a. Meningkatnya bobot kering poros embrio b. Menurunnya bobot kering endosperm. Differensiasi Mangifera sp Differensiasi terjadi saat perkecambahan dimana sel-sel embrio membelah menghasilkan banyak sel yang berbeda-beda. Peristiwa penting dalam differensiasi, embrio selama perkecambahan adalah dimulainya perkembangan sel pengangkul dalam prokambium. Waktu perkembangan jaringan pembuluh berkaitan dengan berbagai peristiwa fisiologis. Dalam keeping biji metabolisme diaktifkan dan dikendalikan oleh rangsangan dari sumbu embrio. Terjadi perkembangan sel-sel membentuk struktur dan fungsi khusus atau protoderm, prokambium dan meristem dasar. Pada kecambah dikotil, ridak memiliki floem internal, jaringan pembuluh hipokotil di sebelah atau terbagi menjadi beberapa berkas yang dapat diikuti hingga keeping biji.

Pembuatan Preparat Tumbuhan Metode parafin merupakan cara pembuatan preparat permanen yang menggunakan parafin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron-8 mikron. Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada menggunakan metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 mikron. Langkah-langkah penting dalam metode ini antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan. Fiksasi adalah usaha untuk mempertahankan komponen-komponen sel atau jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukurannya. Media yang digunakan untuk fiksasi adalah fiksatif. Fiksatif berfungsi untuk menghentikan metabolism secara cepat, mengawetkan komponen sitologis dan histologist, memperkuat tekstur yang rapuh

dan member pewarnaan sehingga bagian-bagiannya dapat diketahui. Factor-faktor yang berperan dalam fiksasi adalah buffer(pH), suhu yang rendah, ketebalan irisanperubahan volume, osmolalitas pada larutan fiksatif, konsentrasi dan waktu fiksasi. Larutan fiksasi yang digunakan untuk proses fiksasi adalah larutan Bouine. Larutan fiksasi ini merupakan larutan yang mampu bereaksi dan menandai suatu sel dengan spesimen diiris setipis mungkin. Dehidrasi berfungsi untuk menghilangkan air dalam jaringan. Bahan yang digunakan harus bias menggantikan fungsi air. Dehidrasi yang baik dilakukan secara bertahap dari konsentrasi 70% sesuai dengan pelarut Bouine formol kemudian berturut-turut kedalam alcohol 80%,90%, 96% dan alcohol absolute. Pada setiap konsentrasi dilakukan pengulangan 3x. Embedding merupakan proses pelilinan suatu organ dengan menggunakan kotak kertas. Proses ini memudahkan dalam membuat irisan yang sangat tipis (10 mikrometer) dengan menggunakan mikrotom. Agar memudahkan paraffin masuk kedalam sel ,alcohol dalam organ diganti zat yang dapat mengusir alcohol sebelum diusir paraffin. Clearing atau dealkoholisasi ini dapat menggunakan aceton, benzol, toluol,xylol. Clearing dapat dilakukan 24jam. Beberapa keuntungan menggunakan kotak kertas dalam embedding yaitu bisa membuat arah ayatan dan menandai suatu jaringan. Jaringan atau sampel akan ditanam di ketas kotak, dengan terlebih dahulu parafin membeku pada bagian dasar dalam kotak dan setelah penempelan jaringan dilanjutkan dengan penutupan dengan parafin sampai membeku. Proses penyayatan (sectioning) diawali dengan pengirisan blok parafin dengan scalpel, sehingga permukaan blok parafin yang akan diiris dengan mikrotom berbentuk segi empat. Letak mata pisau pada mikrotom menentukan hasil yang diperoleh. Hasil sayatan diambil dengan menggunakan kuas secara hati-hati. Pita hasil sayatan ditempel pada kaca objek dengan menggunakan meyer albumin. Kaca obyek tersebut diletakkan di atas meja penangas (haeting plate). Mikrotom adalah mesin yang dapat digunakan untuk mengiris specimen biologi menjadi bagian yang sangat tipis untuk pemeriksaaan mikroskop.beberapa mikrotom menggunakan pisau baja dan digunakan untuk mempersiapkan sayatan jaringan hewan atau tumbuhan dalam histology. Jenis-jenis mikrotom yang bias dipakai pada mikroteknik adalah: 1.Rocking microtom ,cara kerjanya seperti penghantam kayu, biasanya untuk organ organ keras seperti kayu; 2. Rotary microtom atau microtom putar,cara kerjanya dengan di putar yang akan menggerakkan objek mikroteknik metode paraffin. ;3.Sliding microtom atau mickrotom sorong, dimana jaringan tetap pd posisinya dan pisau yang bergerak maju dan mundur. Mikrotom ini sering digunakan pada penyayatan jaringan yang ditanam dalam celloidin. Biasanya digunakan pada objek objek keras; 4. Freezing microtom atau mikrotom beku,sering digunakan untuk jaringan yang tidak ditanam dalam paraffin ataupun dalam celloidin, jadi jaringan yang disayat tidak ditanam tapi dibekukan dengan CO2. Keuntungan dari mikrotom ini adalah waktu yang dipakai lebih pendek,karena langsung disayat setelah proses fiksasi. Kerugiannya adalah bila temperature kamar tinggi, objek menjadi lunak sehingga sulit dipotong. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penyayatan ini adlah: mikrotom harus seberat mungkin, meja tempat mikrotom harus stabil, pisau harus cocok dengan mikrotom, posisi pisau harus stabil,mata pisau harus tajam,bersih dan suhunya harus sama dengan balok jaringan yang akan disayat. Pewarnaan merupakan suatu tahap dalam mikroteknik untuk mempertajam atau memperjelas berbagai elemen jaringan, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop. Tanpa pewarnaan jaringan terlihat transparan sehingga sulit diamati.

Pewarnaan akan memperjelas rinci suatu jaringan sehingga mudah dipelajari. Pewarnaan dibedakan nonvital dan vital. Pewarnaan non vital,pewarnaan yang dilakukan setelah jaringan dimatikan melalui fiksasi. Teknik ini merupakan teknik dengan cara yang paling lazim digunakan,terutama untuk pekerjaan rutin sehari-hari,terutama pembuatan preparat/sediaan praktikum mahasiswa. Pewarnaan vital , maka proses pewarnaan dilakukan selagi jaringan/ sel masih dalam keadaan hidup. Sel-sel yang masih hidup tersebut diharapkan mampu untuk menyerap warna maupun mengikat memfagosit partikel-partikel zat warna. Dengan demikian zat warna yang hendaknya tidak bersifat toksik bagi sel-sel tersebut. Proses pewarnaan dilakukan setelah preparat dideparafinasi dengan merendam preparat pada xylol.
http://dianafatihatul.blogspot.com/2013/02/laporan-embryologi-tumbuhan_15.html