IDENTIFIKASI Staphylococcus aureus PENYEBAB MASTITIS DENGAN UJI FERMENTASI MANNITOL DAN DETEKSI PRODUKSI ASETOIN PADA SAPI

PERAH DI WILAYAH KERJA KOPERASI USAHA TANI TERNAK SUKA MAKMUR GRATI PASURUAN IDENTIFICATION OF Staphylococcus aureus WHICH CAUSES MASTITIS WITH MANNITOL FERMENTATION TEST AND DETECTION OF ACETOIN PRODUCT IN DAIRY CATTLE AT THE FARM AREA OF SUKA MAKMUR DAIRY COOPERATIVE GRATI PASURUAN Luthvin Paramitha Tirnata Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ABSTRACT The aims of the study were to identify Staphylococcus aureus which causes mastitis in dairy cattle at the farm area of Suka Makmur Dairy Cooperative by detecting the acetoin production with Voges-Proskauer Test comparing with mannitol fermentation test using Mannitol Salt Agar. The non probability sampling was used on this research. Milk samples had been taken as much as 5-10 ml from each quarter of dairy cattle which shown positive according to California Mastitis Test. Two hundred bovine milk samples were cultured on Blood Agar and MacConkey Agar from which 100 (50%) strains were identified as Staphylococcus sp. and 26 (13%) were identified as coagulase positive staphylococcus; which were suspected as Staphylococcus aureus, whereas 25 strains of them showed the positive result of Voges-Proskauer Test and 24 strains showed the positive result of mannitol fermentation on Mannitol Salt Agar cultured. The results of the two methods were compared with Nonparametric Tests among which Chi-square Test were used. The result showed that there was no difference between the result of Voges-Proskauer Test and Mannitol Salt Agar cultured, so that Voges-Proskauer Test is able to replace Mannitol Salt Agar cultured as the common identification method for Staphylococcus aureus. Key words : Staphylococcus aureus, Mastitis, Mannitol Salt Agar, Acetoin Production.

aureus dari stafilokokus lainnya (Levinson and Jawetz.. intermedius juga memfermentasi mannitol pada MSA meski dengan reaksi yang lambat (delayed reaction) (Timoney et al. terutama mastitis subklinis. Sari. aureus dari sampel yang terkontaminasi. Jr. 2003. 2006). 2004). 2001. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh mastitis. 1988). aureus dari stafilokokus lainnya (Boerlin et al. dan juga dapat menyebabkan ditolaknya susu dari peternak oleh koperasi sehingga susu harus dibuang sebab tidak layak untuk dikonsumsi (Kloos and Lambe. 2003. 1998.2%. 2005). Purnomo dkk. Bello and Qahtani. 2006). yang membedakan S. 2000. 1991. antara lain meliputi morfologi pertumbuhan koloni. aureus dengan stafilokokus spesies lainnya sebab S. S. Identifikasi untuk membedakan antara S. 2003).. 2005). aureus dapat terjadi secara klinis namun seringkali terjadi secara subklinis dan menahun (Dodd and Booth. aureus dengan stafilokokus lainnya merupakan faktor utama sebagai salah satu langkah dalam penanganan kasus mastitis.. Penurunan produksi dan mutu susu menyebabkan harga susu yang disetorkan peternak menjadi turun. 2005). Penggunaan media selektif sangat berguna untuk mengisolasi S. Mastitis subklinis yang terjadi hanya ditandai dengan terjadinya penurunan produksi dan mutu susu di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. 1994. Jr. (1991) ... Subronto. 1991. Fox. aureus juga dapat diisolasi dengan media selektif seperti Baird Parker Agar. pengafkiran ternak lebih awal serta pembelian sapi perah baru (Subronto. 1991. sedangkan kasus mastitis subklinis tidak terdata sebab peternak tidak melaporkan terjadinya mastitis subklinis.. 2000. Penggunaan MSA juga tidak dapat digunakan secara mutlak untuk membedakan S. 2003). Purnomo dkk. Faktor patogenitas S. aureus) (Jones et al. Bannerman and Wall. Roberson et al. Bello and Qahtani. Cappucino and Sherman. uji katalase untuk membedakan dari streptokokus. peningkatan biaya perawatan dan pengobatan.. selain itu S. Salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah adalah Staphylococcus aureus (S. Jr. Menurut Kloos and Lambe. 2004).. adanya produksi enzim koagulase serta adanya fermentasi mannitol pada Mannitol Salt Agar (MSA) (Beishir. namun menjadi tidak ekonomis sebab tidak bisa mendeteksi bakteri lain sedangkan beberapa media umum secara rutin telah digunakan untuk membedakan S. DNAse Test (Kloos and Lambe. 2003). meliputi penurunan produksi dan mutu susu. Mastitis yang disebabkan oleh S. aureus dibedakan dengan adanya fermentasi mannitol pada MSA (Fox. lipase salt mannitol agar. aureus berhubungan dengan adanya produksi enzim koagulase.Pendahuluan Mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di seluruh dunia (Bannerman and Wall. 2003). dimana cara yang dilakukan sebagian besar masih bergantung atas dasar kriteria fenotipik yang tampak (Boerlin et al. Berdasarkan hasil survei Aksan dan Pahlevi (2006) prevalensi kasus mastitis klinis di kecamatan Grati kabupaten Pasuruan pada tahun 2005 adalah 7.

. Sampel susu diambil sebanyak ± 5 ml dari tiap kuartir yang positif CMT dan langsung ditampung dalam tabung reaksi tertutup kapas yang steril dan telah diberi label. kemudian disimpan dalam termos berisi es.. kemudian dilakukan pemeriksaan California Mastitis Test (CMT) dan sampel susu yang positif CMT akan diambil kemudian dilakukan pemeriksaan bakteriologis. Metode penentuan peternakan dilakukan dengan pertimbangan peternakan tersebut memiliki lebih dari 10 ekor sapi perah. aureus juga dapat dibedakan dengan adanya produksi asetoin yang dapat diketahui melalui uji Voges-Proskauer (VP). mudah dijangkau serta berada di utara. antara lain enam peternakan di desa Sumberagung. 2003). selain itu juga bersifat lebih ekonomis bila dibandingkan dengan penggunaan media selektif (Kloos and Lambe.. Koneman et al. 1991. Quinn et al. Produksi asetoin dari glukosa merupakan alternatif ciri khas yang sangat berguna untuk membedakan S. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi S. Teknik pengambilan sampel Metode penentuan desa dilakukan dengan pertimbangan lokasi merupakan daerah yang padat ternak. Sampel susu yang positif CMT diambil sebanyak 50 sampel dari tiap desa sehingga didapatkan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 200 sampel. 2002). empat peternakan di desa Trewung. aureus dengan menggunakan metode yang mudah. Pengambilan sampel susu diawali dengan melakukan wawancara sejarah penyakit serta pengamatan gejala klinis yang tampak. empat peternakan di desa Ranuklindungan serta lima peternakan di desa Pangkringan. barat. aureus penyebab mastitis dilakukan di laboratorium Bakteriologi dan Mikologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. timur dan selatan dari KUTT Suka Makmur. . 1992. hingga tiba di laboratorium. aureus dari spesies stafilokokus koagulase positif yang lain seperti S. Materi dan Metode Penelitian Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2006 hingga Maret 2007. Isolasi dan identifikasi S. Pengambilan sampel susu sapi perah dilakukan di 19 peternakan di wilayah kerja KUTT Suka Makmur kecamatan Grati kabupaten Pasuruan.serta Quinn et al. ekonomis dan dapat dipercaya menjadi sangat penting untuk membatasi penyebaran penyakit mastitis (Boerlin et al. hycus. intermedius serta beberapa strains koagulase positif S. aureus penyebab mastitis pada beberapa peternakan sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan dengan cara deteksi adanya produksi asetoin dibandingkan dengan uji fermentasi mannitol pada MSA. Jr. Pemeriksaan CMT hanya dilakukan pada kuartir yang menunjukkan gejala klinis maupun subklinis yang ditandai dengan penurunan produksi dan mutu susu berdasarkan informasi dari peternak atau pemerah. Identifikasi S.. (2002) S. agar suhunya stabil pada 5-100 C untuk menghindari perkembangbiakan bakteri. cepat.

Johnson and Case. apabila bakteri dapat tumbuh dan terjadi fermentasi mannitol maka akan mengubah warna media dari merah menjadi kuning.. 98 (49%) sampel berasal dari kuartir dengan mastitis subklinis. Cappucino and Sherman. Uji koagulasi dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus ke dalam tabung yang telah berisi plasma darah kelinci. 1991.. 2005). kemudian diinkubasikan 370 C selama 24 jam guna mengetahui sifat. Garcia. aureus dapat memfermentasi mannitol (Beishir. puting yang mengecil dan produksi susu yang sangat sedikit bahkan terhenti pada kuartir tersebut. Quinn et al. 1987. aureus Pemeriksaan bakteriologis sampel susu positif CMT yang dilakukan adalah isolasi dan identifikasi S. sedangkan disebut stafilokokus koagulase negatif (CNS) bila setelah 24 jam tidak terjadi penggumpalan (Koneman et al. aureus ditunjukkan dengan terbentuknya gumpalan. 2000. 2004). 1992. 2005). Cappucino and Sherman. Hasil dan Pembahasan Mastitis merupakan penyakit infeksius yang sebagian besar dapat dijumpai pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Quinn et al.Isolasi dan identifikasi S. Pertumbuhan bakteri ditandai dengan warna media yang menjadi keruh. Uji VP dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus pada VP medium dalam tabung dan diinkubasi 370 C selama 48 jam. 1995). Mastitis disebabkan masuknya mikroba ke dalam ambing melalui lubang puting dan menyebakan keradangan (Schroeder. 2002). Hasil isolasi bakteri susu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 200 sampel susu positif CMT didapatkan 100 (50%) sampel mengandung bakteri stafilokokus. Larutan yang telah ditambah reagen kemudian dikocok perlahan tiap 3-5 menit dan amati adanya perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah muda hingga merah tua yang menunjukkan adanya kandungan asetoin yang diproduksi oleh bakteri dalam larutan (Koneman et al. berarti hasil dinyatakan positif. dan 2 (1%) sampel berasal dari kuartir dengan mastitis klinis yang ditandai dengan asimetris ambing.. terdiri atas larutan KOH 40% dalam aquades steril dan αnaphtol 5% dalam ethanol. Hasil koagulase positif S. 2000. Koloni stafilokokus yang didapatkan kemudian diidentifikasi dengan uji koagulasi dan dilanjutkan dengan uji fermentasi mannitol pada MSA dan deteksi produksi asetoin melalui uji VP. aureus sebagai penyebab penyakit meliputi penanaman sampel susu pada media Blood Agar (BA) dan MacConkey Agar (MCA) sebagai pembanding terhadap pertumbuhan bakteri Gram negatif. kemudian ditambahkan ke dalam tabung Barritt’s reagen. aureus penyebab mastitis. .. 1992. Uji fermentasi mannitol dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus pada MSA. Isolasi S. 1997. Fox. Fox. yang bertindak sebagai katalis. jenis dan tipe koloni yang tumbuh (Pramono. campur hingga rata dan inkubasikan selama 4 hingga 24 jam. S. kemudian diinkubasi 370 C selama 24 jam. 2002). Koloni yang tumbuh dan dicurigai sebagai stafilokokus dipastikan dengan melakukan pewarnaan Gram untuk mengetahui sifat Gram dan morfologi secara mikroskopis dan uji katalase untuk membedakannya dengan streptokokus.

Kirkan et al. aureus dapat dilihat pada Tabel 2. 2001)..33%) sampel dari 300 sampel susu mastitis merupakan positif stafilokokus. tidak tumbuh pada MacConkey Agar. kemampuan produksi enzim koagulase dan kemampuan fermentasi mannitol pada MSA (Pramono. 2002). serta berkaitan erat dengan penggunaan media agar dan metode yang dipakai.. Quinn et al. Kriteria identifikasi untuk S. sebab beberapa bakteri hanya dapat tumbuh pada media agar tertentu. Oliver (2000) mengemukakan bahwa mastitis yang disebabkan stafilokokus dapat mencapai 70% dalam suatu peternakan. matinya bakteri seiring proses inflamasi yang berlangsung lama meski masih tampak perubahan patologis pada ambing yang terinfeksi. 1987. (2003) juga mengemukakan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa 145 (48. 1992. dan pada mastitis yang disebabkan adanya trauma maka tidak terkandung bakteri dalam sampel susu tersebut (Quinn et al. . antara lain meliputi kemampuan produksi enzim katalase yang membedakannya dengan streptokokus. 2002).Kegagalan isolasi bakteri kemungkinan disebabkan telah dilakukan pengobatan dengan antibiotika sebelum pengambilan sampel (Dodd and Booth. Koneman et al.. Hasil identifikasi S. aureus selain morfologi koloni secara makroskopis dan mikroskopis serta kemampuan melisiskan darah pada media Blood Agar.

5%) sampel yang koloninya berwarna kuning. . (6%) sampel juga tidak menghemolisis eritrosit dalam BA atau bersifat gamma hemolisis (γ-hemolisis). 74 (37%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif (CNS) dan 26 (13%) sampel merupakan stafilokokus koagulase positif yang semuanya berasal dari ambing dengan mastitis subklinis dan 11. (2003) mengemukakan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa didapatkan sebesar 85 (58. 10 (5%) sampel dapat menghemolisis eritrosit dalam BA secara sempurna atau bersifat alfa hemolisis (α-hemolisis) dan hanya 4 (2%) sampel bersifat beta hemolisis (βhemolisis) (Tabel 2.7% dalam satu masa laktasi. aureus dari stafilokokus lainnya (Levinson and Jawetz. sehingga 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang didapatkan dalam penelitian ini diduga sebagai S. 2004). Hasil pengamatan terhadap 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S. Bello and Qahtani. aureus. aureus dan diisolasi dari susu dengan ditanam pada media agar menunjukkan 19 (9. Selama beberapa tahun terakhir juga disebutkan terjadinya peningkatan infeksi oleh stafilokokus koagulase negatif sebagai penyebab mastitis di seluruh dunia yang dapat menyebabkan penurunan produksi susu sebesar 8. 2003.5% diantaranya dengan hasil +1 dan +2 CMT (Tabel 2.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 100 sampel susu positif stafilokokus yang didapatkan.62%) sampel stafilokokus koagulase positif atau S. Oliver (2000) juga mengemukakan bahwa dalam suatu peternakan dapat diisolasi stafilokokus koagulase negatif sebesar 67. aureus yang membedakan S.). Kirkan et al. Produksi enzim koagulase merupakan faktor patogenitas utama dari S.38%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif. aureus dan 60 (41.).4% yang seringkali dapat diisolasi bersamaan dengan bakteri penyebab environmental mastitis.5%) sampel koloninya berwarna putih serta hanya 7 (3.

Kondisi demikian dapat disebabkan oleh kondisi media agar yang tempat penampungan air maupun tempat penyimpanan pakan. saluran pembuangan dan tempat penampungan feses dekat dengan tempat penampungan air maupun tempat penyimpanan pakan. sehingga seringkali dapat ditemukan strain S. air dan tanah. 2006). aureus yang bukan berasal dari sapi maupun dari manusia terkandung dalam susu. aureus yang bukan berasal dari sapi maupun manusia. (1994) yang mengemukakan bahwa S. 2006). 1992. 2006). aureus yang berasal dari sapi dan manusia yang memiliki koloni berwarna kuning (kuning keemasan). Hemolisin yang dihasilkan S. Jawetz et al.. lingkungan kandang. beberapa koloni stafilokokus koagulase negatif juga dapat terpigmentasi (Quinn et al. aureus dapat diisolasi dari peralatan kandang. (1994) yang mengemukakan bahwa S. bahkan dari lalat. aureus bersifat toksik karena dapat melisiskan sel darah merah hospes (Purnomo dkk. Sari.Warna koloni yang terbentuk pada S. Quinn et al. sehingga pada umumnya S. aureus dapat bervariasi antara lain putih. Hemolisin yang dihasilkan S. 1995. bahkan dari lalat. sehingga seringkali dapat ditemukan strain S. aureus yang bukan berasal dari sapi maupun dari manusia terkandung dalam susu. αhemolisin biasanya juga dihasilkan oleh strain S. 2001). 2002).. Uji fermentasi mannitol dengan penanaman pada MSA merupakan prosedur utama yang biasa digunakan setelah uji koagulasi dalam identifikasi S. 2002).. 2006). aureus yang berasal dari manusia (Subronto. lingkungan kandang.. 2003). aureus. α-hemolisin bersifat dermonekrotik dan dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga . air dan tanah. kuning dan oranye (Purnomo dkk. α-hemolisin bersifat dermonekrotik dan dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan kematian (Koneman et al. sesuai dengan pernyataan Roberson et al. aureus bersifat toksik karena dapat melisiskan sel darah merah hospes (Purnomo dkk.. aureus yang berasal dari hewan biasanya menghasilkan α-hemolisin dan β-hemolisin (Quinn et al. aureus (Johnson and Case.. aureus dapat diisolasi dari peralatan kandang.. sesuai dengan pernyataan Roberson et al. Kondisi demikian menggambarkan banyaknya sumber infeksi strains S. aureus yang dapat memproduksi hemolisin termasuk bersifat patogen (Purnomo dkk. dimana hanya strain S. 1988. Kondisi di lapangan yang diamati juga menunjukkan sanitasi kandang pada beberapa peternakan sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati masih kurang baik. apabila bakteri stafilokokus dapat menghasilkan enzim koagulase atau bersifat koagulase positif dan dapat memfermentasi mannitol pada MSA maka bakteri stafilokokus tersebut adalah S.. 2002). 2003). namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan menunjukkan hanya 24 sampel dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang dapat memfermentasi mannitol pada MSA dan banyak stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memfermentasi mannitol (Tabel 2.. sedangkan δ-hemolisin dapat menyebabkan dermonekrotik dan merusak leukosit (Timoney et al.. Kondisi demikian menggambarkan banyaknya sumber infeksi strains S.). Strain S. aureus yang bukan berasal dari sapi maupun manusia.

Jr. 2002). 1999). yang juga dapat menjadi ciri khas yang membedakan S. Uji fermentasi mannitol dengan penanaman pada MSA merupakan prosedur utama yang biasa digunakan setelah uji koagulasi dalam identifikasi S. 1992. 25 sampel diantaranya dapat memproduksi asetoin.. Jawetz et al. Quinn et al. 2006). intermedius juga dapat memfermentasi mannitol pada MSA meski dengan reaksi lambat (delayed reaction) (Timoney et al. namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan menunjukkan hanya 24 sampel dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang dapat memfermentasi mannitol pada MSA dan banyak stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memfermentasi mannitol (Tabel 2. (2002) yang menyatakan bahwa deteksi produksi asetoin dari glukosa melalui uji VP merupakan alternatif ciri khas yang sangat berguna untuk membedakan S. yang merupakan kombinasi dari Methyl-Red Test (Uji MR-VP) (Beishir. aureus. 1995. Min et al. aureus yang digunakan sebagai kontrol positif semuanya diperoleh dari uji Chi-square tersebut sesuai dengan pendapat Kloos and Lambe.. 1991. meski masih terdapat stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memproduksi asetoin (Tabel 2.. 2002). namun deteksi produksi asetoin dapat menjadi alternatif identifikasi S. Cappucino and Sherman. (2000) dan Quinn et al. terutama untuk membedakan S. Holt et al. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh kondisi media agar yang buruk maupun dari bakteri itu sendiri. aureus dapat memproduksi asetoin sebagai hasil fermentasi glukosa yang membedakannya dengan stafilokokus lainnya (Koneman et al. aureus (Koneman et al. 2005). 1994. aureus dari spesies stafilokokus lainnya. apabila bakteri stafilokokus dapat menghasilkan enzim koagulase atau bersifat koagulase positif dan dapat memfermentasi mannitol pada MSA maka bakteri stafilokokus tersebut adalah S. Cappucino and Sherman..dapat menyebabkan kematian (Koneman et al. 1988... Deteksi produksi asetoin melalui uji VP sebenarnya merupakan prosedur dalam identifikasi Enterobacter sp. aureus dari stafilokokus koagulase positif lainnya yang juga dapat memfermentasi mannitol pada MSA namun tidak dapat memproduksi asetoin. . S. 2002). Adanya kandungan asetoin yang diproduksi dalam larutan ditandai dengan perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah muda hingga merah tua (Johnson and Case.. Quinn et al.. 1992. 1992).. Produk netral ini membuat bakteri dapat memfermentasi karbohidrat dalam jumlah yang besar (Wen et al. aureus. Koneman et al. aureus yang dapat memproduksi hemolisin termasuk bersifat patogen (Purnomo dkk.. (1992). 2003).. 2005). sedangkan δ-hemolisin dapat menyebabkan dermonekrotik dan merusak leukosit (Timoney et al. Uji VP digunakan untuk membedakan antara organisme yang menghasilkan asam dalam jumlah yang besar dan yang menghasilkan nonacidic atau produk netral seperti acetyl methyl carbinol (asetoin) dari hasil metabolisme glukosa.. 1988). aureus dari stafilokokus koagulase positif lainnya (Quinn et al. (1991). sehingga pada umumnya S. namun isolat murni S.).). Sari. sebab stafilokokus koagulase positif lain seperti S. 2001). 1995. Hasil pengamatan menunjukkan dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S. aureus (Johnson and Case..

.

229. teman-teman satu penelitian. ekonomis dan dapat dipercaya. . dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Dari 200 sampel susu positif CMT yang berasal dari beberapa peternakan di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. mama. drh. 74 (37%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif dan 26 (13%) sampel merupakan stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S. African Journal of Biotechnology.Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian tentang identifikasi S. Mas Taufik dan Kusuma yang selalu membantu sampai selesainya penelitian. aureus penyebab mastitis pada sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. S and A. 356 361.416. J.102. aureus yang mudah. dorongan dan semangat. USA.769. seluruh Staf KUTT Suka Makmur. Microbiology in Practice: A Self-Instructional Laboratory Course. Yoyok selaku pihak dari PT. A Novel Strategy for the Prevention of Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. 1991. 223 . selaku dosen pembimbing pertama dan ketua penelitian serta Bapak M. 2004. USA. 117. Hasil Validasi Data dan Survei Parameter Statistik Peternakan. Pearson Education Inc. 3) Uji VP dapat menggantikan MSA sebagai metode untuk identifikasi S. bantuan doa. serta semua pihak terkait di Pasuruan atas bantuan teknik dalam proses penelitian ini. L.86. Schaellibaum. Bello. Sherman. 204. Mbak Nyta. Beishir. USA. drh. 4 (1): 83 . G. 2005. 1 . J.4.4. American Society for Microbiology. 2005. drh. USA. Cappucino. P. Qahtani. 2006. New York. South Dakota State University. Wall. and N. 446 . 41 (2): 767 . Virginia Tech University. Hussy and M. A. Microbiology: A Laboratory Manual.. M. 164. Extension Extra Dairy Science. Information Systems for Biotechnology News Report. aureus. 409 . Garcia. D. P. adik-adikku dan memeku tercinta yang telah memberikan segalanya. Daftar Pustaka Aksan dan C. S. Contagious vs. aureus.S. 166. Anam Al-Arif. 7th ed. Methods for Identification of Staphylococcus aureus Isolates in Cases of Bovine Mastitis. 189. Pitfalls in the Routine Diagnosis of Staphylococcus aureus. Environmental Mastitis. Boerlin. and R. Journal of Clinical Microbiology. Nestle. D. 2) Hasil perbandingan antara deteksi produksi asetoin terhadap uji fermentasi mannitol dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif menunjukkan tidak ada perbedaan antara kedua uji tersebut sebagai metode identifikasi S. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Erni Rosilawati Sabar Iman.512. Pasuruan. M. 100 (50%) sampel mengandung stafilokokus. Kuhnert. Pahlevi. HarperCollins Publishers Inc.. 2005. Dinas Peternakan dan Kehewanan Kabupaten Pasuruan.P. 5th ed. C. Staf Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan. selaku dosen 14 pembimbing kedua atas saran dan bimbingannya sampai dengan selesainya penelitian ini. 4028: 1 . 2003. Bannerman. 101 . 509 . D. serta papa.450..

H. W. O. Krieg. A. Hausler. 536. E. USA. Shreckenberger and W. Strategy for Control during the Periparturient Period. Jr. A. L. H. Jawetz. 39 41. Roberson. USA. Virginia Polytechnic Institute and State University. M. G. 2000. Identification and Antimicrobial Susceptibility of Staphylococcus aureus and Coagulase Negative Staphylococci from Bovine Mastitis in the Aydin Region of Turkey. M. 1 . USA.. 532. Jones. Manual of Clinical Microbiology. Jabeen. J. 2000. Vet. Identification of Gram-Positive Bacteria: Normal Flora Staphylococci. American Society for Microbilogy. P. and J. 108 . R. and J. Booth. H. Williams. McGraw-Hill Companies Inc. Janda. J. Medical Microbiology. J. E. . 2003. R. 213 . E. 91 . Staley. Applied Dairy Microbiology. Shadomy (Eds. The Benjamin/Cummings Publishing Company. Fox. Antibiotic Resistance Pattern Againts Various Isolates of Staphylococcus aureus from Raw Milk Samples. Journal of Bacteriology. 1987. Purnomo. L. Turk. USA. and C. Pramono.796. and J. 1991. 2000. 1999. C. W. 405. Jawetz. Fakultas Kedokteran Hewan.326. Sneath. 194. 15 (2): 145 . W. Washington..314. Marcell Dekker Inc. Pennsylvania. Inc. Min. L. 544 . 4th ed. H. Case. T. Michigan State University Press. Institut Pertanian Bogor. 7th ed. aureus Infected Dairy Cows. In: A. DC. T. 407 .. Kirkan. W. Philadelphia. B. Bailey. 222 . Hartatik. Institute for Animal Health/Milk Development Council. Staphylococcus aureus Mastitis: Cause. Jr. Oliver.109. H. Anim. L. Lippincott Company. 22. Staphylococcus. Kloos. Diagnostika Penyakit Bakterial pada Hewan. USA. Allen. O. F. Journal of Research (Science). 317 . W. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Koneman. E. 437.424. California. T. Detection and Control. N. Sci. J. USA. Laboratory Experiments in Microbiology. Lambe.95. 1995. Mastitis and Milk Production.232. Balows. USA. Singapore. and Economic Implications.. E. Mellenberger. Melnick and E. Mastitis Control Program for Staph. H.. 181 (12): 3837. F. Dodd. Khusnan. McGraw Hill Companies Inc. T.233. Kirk. S. 29 (2005): 791 . Shah and F. 2001. Dairy Science Publication.. P.. K. 22nd edition. Adelberg. S. J.. USA. Maltan. 1992. S.151. D. K. L. Marth and J.Holt. J. Pakistan. 5th ed. 2004. Steele.). U. Isenberg. S. Bahauddin Zakariya University. 223 . W. 101 . Johnson. Salasia dan Soegiyono. 121. In: E. B. American Society for Microbiology. R. Winn. M. S. Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. 1998. 176. Herrmann. H. USA. Levinson. 313 . 2001. 2003. Medical Microbiology & Immunology: Examination & Board Review. 2nd ed. S. and D. C. A. Steinbuchel. N. J. G. Jr.. 4th ed. P. I. Jr. O. S.13. Biochemical and Molecular Characterization of the Bacillus subtilis Acetoin Catabolic Pathway. M. Farzana. Proceeding British Mastitis Conference. R. Philadelphia. Mastitis in Heifers: Prevalence. Sanio and A.551. D. Goksoy and O.103. 9th ed. Kaya.. T. Lippincott Williams & Wilkins.255. 2001.

Acetoin Catabolic System of Klebsiella pneumoniae CG43: Sequence. J.147. M. Surabaya.2006. J. W. Babcock Institute for International Dairy Research and Development. E. W. 465 . Besser.92. R. J. Dairy Sci. Gerusan Daun Sirih Jawa dan Oksitetrasiklin Secara Topikal Terhadap Lama dan Waktu Kesembuhan Luka Infeksi Staphylococcus aureus pada Tikus Putih. Quinn. C. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. 77 (11): 3354 . Hancock. L.475. 1988. C. Carter. Edisi Kedua. 1997. Timoney. 2002. F. Pengaruh Pemberian Gerusan Daun Sirih Hitam. Blackwell Publishing. Ecology of Staphylococcus aureus Isolated from Various Sites on Dairy Farms. J. P. Comstock Publishing Associates. J. Hagan and Bruner’s Microbiology and Infectious Disease of Domestic Animals. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Journal of Bacteriology. Mastitis: The Disease and Its Transmission. Mastitis Control Programs: Bovine Mastitis and Milking Management. Roberson. Media Kedokteran Hewan. Scott and J.178. Wen. 22 (3): 142 . W. A. 1994. Dairy Essentials. 2003. Schroeder. Isolasi dan Karakterisasi Staphylococcus aureus Asal Susu Kambing Peternakan Ettawa. K. American Society for Microbiology. USA. H. K. University of Wisconsin-Madison.351.3364. USA. E. M. 89 . Expression and Organization of the aco Operon. . Gay and T. Skripsi. 309 . M. Fakultas Kedokteran Hewan. 176 (12): 3527. Gadjah Mada University Press. Wattiaux. Barlough.. 43 46. North Dakota State University Agriculture and University Extension. Yogyakarta. Sari.. 2003. Hwan Y. 8th ed.. J. 1996. E. and Hwei L. Universitas Airlangga. Subronto. W. P. B. J. 1994. D. Fox. Donnelly and F. D. USA. F. 171 .. Markey. USA. D. L. Leonard. R. J. Gillesopie.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful