IDENTIFIKASI Staphylococcus aureus PENYEBAB MASTITIS DENGAN UJI FERMENTASI MANNITOL DAN DETEKSI PRODUKSI ASETOIN PADA SAPI

PERAH DI WILAYAH KERJA KOPERASI USAHA TANI TERNAK SUKA MAKMUR GRATI PASURUAN IDENTIFICATION OF Staphylococcus aureus WHICH CAUSES MASTITIS WITH MANNITOL FERMENTATION TEST AND DETECTION OF ACETOIN PRODUCT IN DAIRY CATTLE AT THE FARM AREA OF SUKA MAKMUR DAIRY COOPERATIVE GRATI PASURUAN Luthvin Paramitha Tirnata Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ABSTRACT The aims of the study were to identify Staphylococcus aureus which causes mastitis in dairy cattle at the farm area of Suka Makmur Dairy Cooperative by detecting the acetoin production with Voges-Proskauer Test comparing with mannitol fermentation test using Mannitol Salt Agar. The non probability sampling was used on this research. Milk samples had been taken as much as 5-10 ml from each quarter of dairy cattle which shown positive according to California Mastitis Test. Two hundred bovine milk samples were cultured on Blood Agar and MacConkey Agar from which 100 (50%) strains were identified as Staphylococcus sp. and 26 (13%) were identified as coagulase positive staphylococcus; which were suspected as Staphylococcus aureus, whereas 25 strains of them showed the positive result of Voges-Proskauer Test and 24 strains showed the positive result of mannitol fermentation on Mannitol Salt Agar cultured. The results of the two methods were compared with Nonparametric Tests among which Chi-square Test were used. The result showed that there was no difference between the result of Voges-Proskauer Test and Mannitol Salt Agar cultured, so that Voges-Proskauer Test is able to replace Mannitol Salt Agar cultured as the common identification method for Staphylococcus aureus. Key words : Staphylococcus aureus, Mastitis, Mannitol Salt Agar, Acetoin Production.

Mastitis subklinis yang terjadi hanya ditandai dengan terjadinya penurunan produksi dan mutu susu di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. Jr. antara lain meliputi morfologi pertumbuhan koloni. aureus dari stafilokokus lainnya (Boerlin et al. 1994. sedangkan kasus mastitis subklinis tidak terdata sebab peternak tidak melaporkan terjadinya mastitis subklinis. 2003. Identifikasi untuk membedakan antara S. aureus juga dapat diisolasi dengan media selektif seperti Baird Parker Agar. dan juga dapat menyebabkan ditolaknya susu dari peternak oleh koperasi sehingga susu harus dibuang sebab tidak layak untuk dikonsumsi (Kloos and Lambe. 1991. aureus dibedakan dengan adanya fermentasi mannitol pada MSA (Fox. Fox. 2005).. aureus dengan stafilokokus lainnya merupakan faktor utama sebagai salah satu langkah dalam penanganan kasus mastitis. Purnomo dkk. Jr. 2003). 2003). Bannerman and Wall. meliputi penurunan produksi dan mutu susu. aureus dapat terjadi secara klinis namun seringkali terjadi secara subklinis dan menahun (Dodd and Booth. Cappucino and Sherman. Jr. Penggunaan MSA juga tidak dapat digunakan secara mutlak untuk membedakan S. intermedius juga memfermentasi mannitol pada MSA meski dengan reaksi yang lambat (delayed reaction) (Timoney et al. Sari. Mastitis yang disebabkan oleh S. 2005). 2001. yang membedakan S. aureus) (Jones et al. Berdasarkan hasil survei Aksan dan Pahlevi (2006) prevalensi kasus mastitis klinis di kecamatan Grati kabupaten Pasuruan pada tahun 2005 adalah 7. aureus dari stafilokokus lainnya (Levinson and Jawetz. 1988).. 2000.. pengafkiran ternak lebih awal serta pembelian sapi perah baru (Subronto. uji katalase untuk membedakan dari streptokokus. 2006). aureus dari sampel yang terkontaminasi. aureus berhubungan dengan adanya produksi enzim koagulase.Pendahuluan Mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di seluruh dunia (Bannerman and Wall. lipase salt mannitol agar.. 1991. Subronto. Bello and Qahtani. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh mastitis. (1991) . 2003). 2004). Penggunaan media selektif sangat berguna untuk mengisolasi S. terutama mastitis subklinis. Roberson et al. adanya produksi enzim koagulase serta adanya fermentasi mannitol pada Mannitol Salt Agar (MSA) (Beishir. Purnomo dkk.... Faktor patogenitas S. Salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah adalah Staphylococcus aureus (S. 2003. 1998. selain itu S. dimana cara yang dilakukan sebagian besar masih bergantung atas dasar kriteria fenotipik yang tampak (Boerlin et al. Menurut Kloos and Lambe. S.2%. Penurunan produksi dan mutu susu menyebabkan harga susu yang disetorkan peternak menjadi turun. namun menjadi tidak ekonomis sebab tidak bisa mendeteksi bakteri lain sedangkan beberapa media umum secara rutin telah digunakan untuk membedakan S. peningkatan biaya perawatan dan pengobatan. 2006).. Bello and Qahtani. aureus dengan stafilokokus spesies lainnya sebab S. 2005). 2000. 2003). DNAse Test (Kloos and Lambe. 2004). 1991.

antara lain enam peternakan di desa Sumberagung. hycus.. aureus dari spesies stafilokokus koagulase positif yang lain seperti S. Metode penentuan peternakan dilakukan dengan pertimbangan peternakan tersebut memiliki lebih dari 10 ekor sapi perah. kemudian dilakukan pemeriksaan California Mastitis Test (CMT) dan sampel susu yang positif CMT akan diambil kemudian dilakukan pemeriksaan bakteriologis. 2003). Teknik pengambilan sampel Metode penentuan desa dilakukan dengan pertimbangan lokasi merupakan daerah yang padat ternak.. aureus penyebab mastitis dilakukan di laboratorium Bakteriologi dan Mikologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. aureus penyebab mastitis pada beberapa peternakan sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan dengan cara deteksi adanya produksi asetoin dibandingkan dengan uji fermentasi mannitol pada MSA. Pengambilan sampel susu sapi perah dilakukan di 19 peternakan di wilayah kerja KUTT Suka Makmur kecamatan Grati kabupaten Pasuruan. timur dan selatan dari KUTT Suka Makmur. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan identifikasi S. Isolasi dan identifikasi S. 1991. Sampel susu diambil sebanyak ± 5 ml dari tiap kuartir yang positif CMT dan langsung ditampung dalam tabung reaksi tertutup kapas yang steril dan telah diberi label. Koneman et al. Sampel susu yang positif CMT diambil sebanyak 50 sampel dari tiap desa sehingga didapatkan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 200 sampel. kemudian disimpan dalam termos berisi es. 2002). hingga tiba di laboratorium.. ekonomis dan dapat dipercaya menjadi sangat penting untuk membatasi penyebaran penyakit mastitis (Boerlin et al.. Jr. Materi dan Metode Penelitian Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2006 hingga Maret 2007. mudah dijangkau serta berada di utara. Identifikasi S. Quinn et al. barat. . 1992. cepat. Pemeriksaan CMT hanya dilakukan pada kuartir yang menunjukkan gejala klinis maupun subklinis yang ditandai dengan penurunan produksi dan mutu susu berdasarkan informasi dari peternak atau pemerah. empat peternakan di desa Ranuklindungan serta lima peternakan di desa Pangkringan. Produksi asetoin dari glukosa merupakan alternatif ciri khas yang sangat berguna untuk membedakan S. (2002) S.serta Quinn et al. aureus juga dapat dibedakan dengan adanya produksi asetoin yang dapat diketahui melalui uji Voges-Proskauer (VP). intermedius serta beberapa strains koagulase positif S. selain itu juga bersifat lebih ekonomis bila dibandingkan dengan penggunaan media selektif (Kloos and Lambe. empat peternakan di desa Trewung. Pengambilan sampel susu diawali dengan melakukan wawancara sejarah penyakit serta pengamatan gejala klinis yang tampak. aureus dengan menggunakan metode yang mudah. agar suhunya stabil pada 5-100 C untuk menghindari perkembangbiakan bakteri.

kemudian ditambahkan ke dalam tabung Barritt’s reagen. 2000. 1997. Koloni stafilokokus yang didapatkan kemudian diidentifikasi dengan uji koagulasi dan dilanjutkan dengan uji fermentasi mannitol pada MSA dan deteksi produksi asetoin melalui uji VP. kemudian diinkubasikan 370 C selama 24 jam guna mengetahui sifat. 2000. Isolasi S.. dan 2 (1%) sampel berasal dari kuartir dengan mastitis klinis yang ditandai dengan asimetris ambing. 2005). Koloni yang tumbuh dan dicurigai sebagai stafilokokus dipastikan dengan melakukan pewarnaan Gram untuk mengetahui sifat Gram dan morfologi secara mikroskopis dan uji katalase untuk membedakannya dengan streptokokus. aureus penyebab mastitis. Uji koagulasi dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus ke dalam tabung yang telah berisi plasma darah kelinci. 1995). 1991. 98 (49%) sampel berasal dari kuartir dengan mastitis subklinis. apabila bakteri dapat tumbuh dan terjadi fermentasi mannitol maka akan mengubah warna media dari merah menjadi kuning. 2005). Johnson and Case. Hasil dan Pembahasan Mastitis merupakan penyakit infeksius yang sebagian besar dapat dijumpai pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Quinn et al. Mastitis disebabkan masuknya mikroba ke dalam ambing melalui lubang puting dan menyebakan keradangan (Schroeder. aureus Pemeriksaan bakteriologis sampel susu positif CMT yang dilakukan adalah isolasi dan identifikasi S. Fox. Uji fermentasi mannitol dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus pada MSA. . Hasil isolasi bakteri susu selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 200 sampel susu positif CMT didapatkan 100 (50%) sampel mengandung bakteri stafilokokus. Garcia. Cappucino and Sherman. aureus sebagai penyebab penyakit meliputi penanaman sampel susu pada media Blood Agar (BA) dan MacConkey Agar (MCA) sebagai pembanding terhadap pertumbuhan bakteri Gram negatif. 2004). Pertumbuhan bakteri ditandai dengan warna media yang menjadi keruh. campur hingga rata dan inkubasikan selama 4 hingga 24 jam. Larutan yang telah ditambah reagen kemudian dikocok perlahan tiap 3-5 menit dan amati adanya perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah muda hingga merah tua yang menunjukkan adanya kandungan asetoin yang diproduksi oleh bakteri dalam larutan (Koneman et al. yang bertindak sebagai katalis. aureus ditunjukkan dengan terbentuknya gumpalan. sedangkan disebut stafilokokus koagulase negatif (CNS) bila setelah 24 jam tidak terjadi penggumpalan (Koneman et al. aureus dapat memfermentasi mannitol (Beishir. kemudian diinkubasi 370 C selama 24 jam. Cappucino and Sherman. 1992. jenis dan tipe koloni yang tumbuh (Pramono. Uji VP dilakukan dengan menanam koloni stafilokokus pada VP medium dalam tabung dan diinkubasi 370 C selama 48 jam. Fox.. 1992. S. berarti hasil dinyatakan positif. 2002). 2002). puting yang mengecil dan produksi susu yang sangat sedikit bahkan terhenti pada kuartir tersebut. Hasil koagulase positif S.. Quinn et al. 1987.Isolasi dan identifikasi S. terdiri atas larutan KOH 40% dalam aquades steril dan αnaphtol 5% dalam ethanol.

tidak tumbuh pada MacConkey Agar. sebab beberapa bakteri hanya dapat tumbuh pada media agar tertentu. matinya bakteri seiring proses inflamasi yang berlangsung lama meski masih tampak perubahan patologis pada ambing yang terinfeksi. 1992.. serta berkaitan erat dengan penggunaan media agar dan metode yang dipakai. Koneman et al. aureus dapat dilihat pada Tabel 2. . Kirkan et al. antara lain meliputi kemampuan produksi enzim katalase yang membedakannya dengan streptokokus. aureus selain morfologi koloni secara makroskopis dan mikroskopis serta kemampuan melisiskan darah pada media Blood Agar. 1987. 2002)..33%) sampel dari 300 sampel susu mastitis merupakan positif stafilokokus. Hasil identifikasi S. Quinn et al. 2001). kemampuan produksi enzim koagulase dan kemampuan fermentasi mannitol pada MSA (Pramono.Kegagalan isolasi bakteri kemungkinan disebabkan telah dilakukan pengobatan dengan antibiotika sebelum pengambilan sampel (Dodd and Booth. Kriteria identifikasi untuk S.. dan pada mastitis yang disebabkan adanya trauma maka tidak terkandung bakteri dalam sampel susu tersebut (Quinn et al. Oliver (2000) mengemukakan bahwa mastitis yang disebabkan stafilokokus dapat mencapai 70% dalam suatu peternakan. (2003) juga mengemukakan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa 145 (48. 2002).

62%) sampel stafilokokus koagulase positif atau S.5%) sampel yang koloninya berwarna kuning. aureus dari stafilokokus lainnya (Levinson and Jawetz. Selama beberapa tahun terakhir juga disebutkan terjadinya peningkatan infeksi oleh stafilokokus koagulase negatif sebagai penyebab mastitis di seluruh dunia yang dapat menyebabkan penurunan produksi susu sebesar 8.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 100 sampel susu positif stafilokokus yang didapatkan. Produksi enzim koagulase merupakan faktor patogenitas utama dari S. Kirkan et al. aureus dan 60 (41. .38%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif. 2004). aureus dan diisolasi dari susu dengan ditanam pada media agar menunjukkan 19 (9. 74 (37%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif (CNS) dan 26 (13%) sampel merupakan stafilokokus koagulase positif yang semuanya berasal dari ambing dengan mastitis subklinis dan 11. Hasil pengamatan terhadap 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S.7% dalam satu masa laktasi. (6%) sampel juga tidak menghemolisis eritrosit dalam BA atau bersifat gamma hemolisis (γ-hemolisis). (2003) mengemukakan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa didapatkan sebesar 85 (58.4% yang seringkali dapat diisolasi bersamaan dengan bakteri penyebab environmental mastitis. aureus yang membedakan S.). 10 (5%) sampel dapat menghemolisis eritrosit dalam BA secara sempurna atau bersifat alfa hemolisis (α-hemolisis) dan hanya 4 (2%) sampel bersifat beta hemolisis (βhemolisis) (Tabel 2. Bello and Qahtani. aureus.5% diantaranya dengan hasil +1 dan +2 CMT (Tabel 2. 2003.5%) sampel koloninya berwarna putih serta hanya 7 (3.). Oliver (2000) juga mengemukakan bahwa dalam suatu peternakan dapat diisolasi stafilokokus koagulase negatif sebesar 67. sehingga 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang didapatkan dalam penelitian ini diduga sebagai S.

air dan tanah. aureus yang berasal dari manusia (Subronto. bahkan dari lalat. 2006). aureus yang bukan berasal dari sapi maupun manusia. 2003).). aureus dapat diisolasi dari peralatan kandang.. (1994) yang mengemukakan bahwa S.. 2001). dimana hanya strain S. 2006)..Warna koloni yang terbentuk pada S. 1992... beberapa koloni stafilokokus koagulase negatif juga dapat terpigmentasi (Quinn et al. 1995. aureus yang berasal dari hewan biasanya menghasilkan α-hemolisin dan β-hemolisin (Quinn et al. Kondisi demikian menggambarkan banyaknya sumber infeksi strains S. sesuai dengan pernyataan Roberson et al.. kuning dan oranye (Purnomo dkk. Kondisi di lapangan yang diamati juga menunjukkan sanitasi kandang pada beberapa peternakan sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati masih kurang baik. sehingga seringkali dapat ditemukan strain S. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh kondisi media agar yang tempat penampungan air maupun tempat penyimpanan pakan. 2002). aureus yang dapat memproduksi hemolisin termasuk bersifat patogen (Purnomo dkk. bahkan dari lalat. aureus yang berasal dari sapi dan manusia yang memiliki koloni berwarna kuning (kuning keemasan).. aureus yang bukan berasal dari sapi maupun dari manusia terkandung dalam susu. sesuai dengan pernyataan Roberson et al. 2006).. saluran pembuangan dan tempat penampungan feses dekat dengan tempat penampungan air maupun tempat penyimpanan pakan. air dan tanah... Strain S. sedangkan δ-hemolisin dapat menyebabkan dermonekrotik dan merusak leukosit (Timoney et al. lingkungan kandang. namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan menunjukkan hanya 24 sampel dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang dapat memfermentasi mannitol pada MSA dan banyak stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memfermentasi mannitol (Tabel 2. aureus dapat diisolasi dari peralatan kandang. aureus dapat bervariasi antara lain putih. Sari. apabila bakteri stafilokokus dapat menghasilkan enzim koagulase atau bersifat koagulase positif dan dapat memfermentasi mannitol pada MSA maka bakteri stafilokokus tersebut adalah S. α-hemolisin bersifat dermonekrotik dan dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan kematian (Koneman et al. sehingga seringkali dapat ditemukan strain S. Quinn et al. Hemolisin yang dihasilkan S. aureus. α-hemolisin bersifat dermonekrotik dan dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga . sehingga pada umumnya S. aureus yang bukan berasal dari sapi maupun dari manusia terkandung dalam susu. (1994) yang mengemukakan bahwa S. Uji fermentasi mannitol dengan penanaman pada MSA merupakan prosedur utama yang biasa digunakan setelah uji koagulasi dalam identifikasi S. αhemolisin biasanya juga dihasilkan oleh strain S. aureus bersifat toksik karena dapat melisiskan sel darah merah hospes (Purnomo dkk. 2002). aureus yang bukan berasal dari sapi maupun manusia. 2003). 2006). aureus bersifat toksik karena dapat melisiskan sel darah merah hospes (Purnomo dkk. Kondisi demikian menggambarkan banyaknya sumber infeksi strains S. aureus (Johnson and Case. 2002). Hemolisin yang dihasilkan S. Jawetz et al. lingkungan kandang. 1988.

Produk netral ini membuat bakteri dapat memfermentasi karbohidrat dalam jumlah yang besar (Wen et al.). Sari. aureus (Johnson and Case. Uji fermentasi mannitol dengan penanaman pada MSA merupakan prosedur utama yang biasa digunakan setelah uji koagulasi dalam identifikasi S...). Jawetz et al. 2003)... aureus yang dapat memproduksi hemolisin termasuk bersifat patogen (Purnomo dkk. 2006). 1992. Holt et al. S. yang merupakan kombinasi dari Methyl-Red Test (Uji MR-VP) (Beishir. 1995. sebab stafilokokus koagulase positif lain seperti S. 1995. Cappucino and Sherman. Min et al.. 2002). (2000) dan Quinn et al. 2002). 2005). Adanya kandungan asetoin yang diproduksi dalam larutan ditandai dengan perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah muda hingga merah tua (Johnson and Case. 1988. 1991.. Uji VP digunakan untuk membedakan antara organisme yang menghasilkan asam dalam jumlah yang besar dan yang menghasilkan nonacidic atau produk netral seperti acetyl methyl carbinol (asetoin) dari hasil metabolisme glukosa... namun deteksi produksi asetoin dapat menjadi alternatif identifikasi S.. (1992).. namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan menunjukkan hanya 24 sampel dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang dapat memfermentasi mannitol pada MSA dan banyak stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memfermentasi mannitol (Tabel 2. 25 sampel diantaranya dapat memproduksi asetoin. 1988). aureus. Cappucino and Sherman. aureus yang digunakan sebagai kontrol positif semuanya diperoleh dari uji Chi-square tersebut sesuai dengan pendapat Kloos and Lambe. 2002). sehingga pada umumnya S. (1991). Jr. aureus. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh kondisi media agar yang buruk maupun dari bakteri itu sendiri. yang juga dapat menjadi ciri khas yang membedakan S. intermedius juga dapat memfermentasi mannitol pada MSA meski dengan reaksi lambat (delayed reaction) (Timoney et al. aureus dari stafilokokus koagulase positif lainnya yang juga dapat memfermentasi mannitol pada MSA namun tidak dapat memproduksi asetoin. 1992. 2005).. Deteksi produksi asetoin melalui uji VP sebenarnya merupakan prosedur dalam identifikasi Enterobacter sp.dapat menyebabkan kematian (Koneman et al. aureus (Koneman et al. Quinn et al. namun isolat murni S. terutama untuk membedakan S. meski masih terdapat stafilokokus koagulase negatif yang juga dapat memproduksi asetoin (Tabel 2. 1992). apabila bakteri stafilokokus dapat menghasilkan enzim koagulase atau bersifat koagulase positif dan dapat memfermentasi mannitol pada MSA maka bakteri stafilokokus tersebut adalah S. (2002) yang menyatakan bahwa deteksi produksi asetoin dari glukosa melalui uji VP merupakan alternatif ciri khas yang sangat berguna untuk membedakan S. Koneman et al. sedangkan δ-hemolisin dapat menyebabkan dermonekrotik dan merusak leukosit (Timoney et al.. . 2001). Hasil pengamatan menunjukkan dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S. 1994. Quinn et al. aureus dari stafilokokus koagulase positif lainnya (Quinn et al. aureus dari spesies stafilokokus lainnya. aureus dapat memproduksi asetoin sebagai hasil fermentasi glukosa yang membedakannya dengan stafilokokus lainnya (Koneman et al.. 1999).

.

189. J.229. Environmental Mastitis. Information Systems for Biotechnology News Report. M. and R. Yoyok selaku pihak dari PT. aureus penyebab mastitis pada sapi perah di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. 166. bantuan doa. Bannerman. dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Dari 200 sampel susu positif CMT yang berasal dari beberapa peternakan di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. ekonomis dan dapat dipercaya. 41 (2): 767 . Garcia. .416. Mbak Nyta. serta papa. Wall. mama. serta semua pihak terkait di Pasuruan atas bantuan teknik dalam proses penelitian ini. Journal of Clinical Microbiology. Sherman. Microbiology in Practice: A Self-Instructional Laboratory Course.S. 5th ed.450. 2005. Virginia Tech University.. New York. 509 . Anam Al-Arif. seluruh Staf KUTT Suka Makmur. Pearson Education Inc.4. Daftar Pustaka Aksan dan C. Pitfalls in the Routine Diagnosis of Staphylococcus aureus. 204. Beishir. L. 74 (37%) sampel merupakan stafilokokus koagulase negatif dan 26 (13%) sampel merupakan stafilokokus koagulase positif yang diduga sebagai S.. Contagious vs. A Novel Strategy for the Prevention of Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Nestle. D. 409 . 101 . teman-teman satu penelitian. 3) Uji VP dapat menggantikan MSA sebagai metode untuk identifikasi S. 223 . South Dakota State University. American Society for Microbiology. aureus. HarperCollins Publishers Inc. aureus yang mudah. USA. dorongan dan semangat. Boerlin. 4 (1): 83 . P.. Cappucino. 2) Hasil perbandingan antara deteksi produksi asetoin terhadap uji fermentasi mannitol dari 26 sampel stafilokokus koagulase positif menunjukkan tidak ada perbedaan antara kedua uji tersebut sebagai metode identifikasi S. 2005. 2006. adik-adikku dan memeku tercinta yang telah memberikan segalanya.86. drh. Hussy and M. Hasil Validasi Data dan Survei Parameter Statistik Peternakan. S. 2003. 2004. Pasuruan. USA. C. Pahlevi. drh. D. Kuhnert.P. African Journal of Biotechnology. drh. A. Microbiology: A Laboratory Manual. and N. D. 7th ed. 4028: 1 . 164.769. Extension Extra Dairy Science. G. 1991. 117. 446 . selaku dosen pembimbing pertama dan ketua penelitian serta Bapak M. J. Staf Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan. M. 2005.4. Qahtani. Dinas Peternakan dan Kehewanan Kabupaten Pasuruan. Schaellibaum. aureus. 1 . Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ibu Erni Rosilawati Sabar Iman.Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian tentang identifikasi S.512. USA. Mas Taufik dan Kusuma yang selalu membantu sampai selesainya penelitian. 356 361. S and A. selaku dosen 14 pembimbing kedua atas saran dan bimbingannya sampai dengan selesainya penelitian ini. P. USA. Methods for Identification of Staphylococcus aureus Isolates in Cases of Bovine Mastitis. 100 (50%) sampel mengandung stafilokokus.102. Bello.

Jones. Strategy for Control during the Periparturient Period. T. USA. 29 (2005): 791 . S. H. 39 41. Herrmann. Vet. 536. 222 . H. 1991. Journal of Research (Science). 313 . K. Identification of Gram-Positive Bacteria: Normal Flora Staphylococci. J.Holt. Anim. Mellenberger..314. 2000. Booth. Koneman. 544 . W. Krieg. 2003. DC. American Society for Microbiology. M. S. and J. Allen. C. Levinson. Michigan State University Press. Marth and J. Pakistan. J. P. Dodd. N. Kirk. Diagnostika Penyakit Bakterial pada Hewan. Jr. Staphylococcus. R. T. Steinbuchel. 1998. Philadelphia. Philadelphia. H.). P. McGraw Hill Companies Inc. E. In: E. A. Kaya. Shadomy (Eds.151. USA. W. USA. Pennsylvania. Mastitis in Heifers: Prevalence. 181 (12): 3837. W. K. and C. 223 . L. J. T. Jawetz. J. USA. S. G.. D. 2003. Turk. Dairy Science Publication. J. U. W. 22. T. 121. Sneath... Medical Microbiology & Immunology: Examination & Board Review.. B. E. L. J. 2001. Lippincott Williams & Wilkins. and J. 1992. 1 . L.796. Isenberg. 2004. 2001. F. 176. Maltan. 2000. D.109. E. Biochemical and Molecular Characterization of the Bacillus subtilis Acetoin Catabolic Pathway. Jawetz. Williams. 22nd edition. J. 2000. Shah and F. Winn. Goksoy and O. Medical Microbiology. Inc. 317 . F. W. H. I. Mastitis Control Program for Staph. Farzana. Kirkan.103. Roberson. 15 (2): 145 . 437. 1987. Detection and Control. 91 . Proceeding British Mastitis Conference. S. Johnson. Fox. Case.551. S. O. Institute for Animal Health/Milk Development Council.232. M. Melnick and E. H. E. Pramono. A. M. 194. Bahauddin Zakariya University. Balows. 101 . 2001. Kloos. L. Hartatik. 2nd ed. Identification and Antimicrobial Susceptibility of Staphylococcus aureus and Coagulase Negative Staphylococci from Bovine Mastitis in the Aydin Region of Turkey. McGraw-Hill Companies Inc.. R. R.255. 4th ed. 1999. Hausler. Sanio and A. Staley. Bailey. aureus Infected Dairy Cows. Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. Adelberg.424. R. Jabeen. USA. 213 . 7th ed. 532. 5th ed. Manual of Clinical Microbiology. 1995. B. Janda. Shreckenberger and W. 9th ed. The Benjamin/Cummings Publishing Company. Jr. Virginia Polytechnic Institute and State University. Purnomo. USA.13. 405. and Economic Implications.. Steele. USA. Fakultas Kedokteran Hewan. 407 . Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. USA. Salasia dan Soegiyono.. P. S.. Applied Dairy Microbiology. Min.326. 108 . and J. Jr.95. N. M. T. A. H. Jr. Antibiotic Resistance Pattern Againts Various Isolates of Staphylococcus aureus from Raw Milk Samples. Singapore. Lippincott Company. C.. Khusnan. Mastitis and Milk Production. Marcell Dekker Inc. H. . Journal of Bacteriology. O. E. USA. 4th ed. California. L. and D. Lambe. Oliver. In: A. Sci. W. G. American Society for Microbilogy. Laboratory Experiments in Microbiology. Staphylococcus aureus Mastitis: Cause. Washington.233. S. O. Institut Pertanian Bogor.

W. American Society for Microbiology. B. Surabaya. Mastitis Control Programs: Bovine Mastitis and Milking Management. J. Acetoin Catabolic System of Klebsiella pneumoniae CG43: Sequence. F. Babcock Institute for International Dairy Research and Development. M. J. 43 46. USA. Hancock. H. J. Pengaruh Pemberian Gerusan Daun Sirih Hitam. Sari.. W. Ecology of Staphylococcus aureus Isolated from Various Sites on Dairy Farms. Journal of Bacteriology. C. W. USA. L. Dairy Essentials. 2003.475. 465 .147. J. Gadjah Mada University Press.3364. Blackwell Publishing. Gerusan Daun Sirih Jawa dan Oksitetrasiklin Secara Topikal Terhadap Lama dan Waktu Kesembuhan Luka Infeksi Staphylococcus aureus pada Tikus Putih. Scott and J.351.2006. Quinn. Hwan Y. 77 (11): 3354 . 89 . and Hwei L. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. J. E. P. 309 . Barlough. 22 (3): 142 . Skripsi. F. USA. D. C.. 176 (12): 3527. A. Leonard. Timoney. J. J. Universitas Airlangga. 1988. L.92. North Dakota State University Agriculture and University Extension.178. 2002. Fakultas Kedokteran Hewan. Isolasi dan Karakterisasi Staphylococcus aureus Asal Susu Kambing Peternakan Ettawa. University of Wisconsin-Madison. Gay and T. Schroeder. W. M. Expression and Organization of the aco Operon. Hagan and Bruner’s Microbiology and Infectious Disease of Domestic Animals. 1994.. D. Fox. Besser. Donnelly and F. Gillesopie. Edisi Kedua. Wen. E. 171 . Yogyakarta. Markey. P. R. 1994. Mastitis: The Disease and Its Transmission. Media Kedokteran Hewan. K. 1997. E. . Dairy Sci. Subronto.. 2003. K. M. Carter. R. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Wattiaux. USA. 8th ed. J. Comstock Publishing Associates. Roberson. 1996. D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful