Anda di halaman 1dari 16

Pendahuluan

I. 1. Latar Belakang
Neurooftalmologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai gangguan visual yang disebabkan karena kelainan sistem saraf. Gangguan yang ditemui berhubungan dengan sistem penglihatan visual aferen (melibatkan saraf optikus), sistem penglihatan eferen (mengatur pergerakan bola mata) atau reflek pupil. Beberapa penyakit yang termasuk dalam kategori tersebut adalah optik neuritis, optik neuropati, optic atrofi, papil edema, penglihatan ganda (diplopia) serta defisiensi atau intoksikasi optik neuropati. Gangguan penglihatan dapat dibagi dalam gangguan akibat kerusakan pada susunan saraf optikus dan akibat kerusakan pada unsur non-saraf seperti kornea, lensa dan korpus vitreus. Lapangan pada layar yang dapat terlihat secara monocular atau dengan satu mata dinamakan medan penglihatan. Medan penglihatan tiap orang dapat ditentukan dengan menggunakan alat yang dinamakan perimeter. Alat yang lebih sederhana untuk menentukan medan penglihatan ialah kampimeter, suatu papan hitam dimana tertera garis-garis radial suatu bundaran. Medan penglihatan tiap mata dapat memperlihatkan bentuk yang khas untuk tiap lesi pada susunan nervus optikus. Keluhan yang berhubungan dengan gangguan nervus optikus adalah ketajaman penglihatan berkurang, medan penglihatan berkurang, adanya bercak dalam lapangan pandang yang tidak dapat dilihat, fotofobia atau mata mudah menjadi silau. Pemeriksaan oftalmoskopik merupakan pemeriksaan rutin dalam neurologi yang tertuju pada perubahan papil. Papil adalah tempat serabut nervus optikus memasuki mata. Papil yang normal mempunyai bentuk yang lonjong, warna jingga muda, dibagian temporal sedikit pucat, batas dengan sekitarnya (retina) tegas, didapatkan lekukan fisiologis (physiologic cup). Pasokan darah untuk nervus optikus di anterior lamina kribosa berasal dari arteri siliaris. Bagian orbital mendapatkan darah dari arteri oftalmikus beserta cabang cabangnya termasuk arteri retina sentralis. Saraf optikus yang berada di kanalis optikus mendapat darah dari arteri oftalmikus. Sedangkan bagian intracranial mendapatkan darah secara sentripetal dari pembuluh darah pial. Drainase vena dari bagian okular dan orbital saraf optikus akan mengalir ke vena sentralis retina.

I.2. Jaras Penglihatan


Serabut-serabut nervus optikus merupakan akson dari sel-sel dalam lapisan ganglionik retina. Meraka bersatu pada diskus optikus dan dan keluar dari mata, sekitar 3 atau 4 mm dari sisi nasal pusatnya, sebagai nervus opticus. Serabut-serabut n.opticus adalah bermielin, tetapi selubung mielinnya dibentuk oleh oligodendroglia bukan oleh sel Schwann karena n.opticus sesuai dengan traktus yang terdapat dalam susunan saraf pusat. Nervus optikus meninggalkan rongga orbita melalui canalis opticus dan bersatu dengan nervus opticus sisi lain untuk membentuk chiasmaopticum. Chiasma opticum terletak pada perbatasan dinding anterior dan dasar ventrikel III. Pada chiasma opticum, termasuk bagian nasal macula, menyilang garis tengah dan masuk ke traktus opticus sisi kontralateral, sedangkan serabut-serabut dari bagian temporal retina termasuk bagian temporal macula, berjalan ke posterior dalam tractus opticus sisi yang sama.

Tractus opticus keluar dari chiasma opticum dan berjalan ke posterolateral sekitar pedunculus cerebri. Sebagian besar serabut berakhir dengan bersinap dengan sel-sel saraf dalam corpus geniculatum lateral. Akson sel-sel saraf dalam corpus geniculatum lateral meninggalkannya untuk membentuk radiation optica. Serabutserabut radiatio optica adalah akson sel-sel saraf corpus geniculatum lateral. Traktus berjalan ke posterior melalui pars retro-lenticularis capsula interna dan berakhir pada korteks penglihatan (area 17) yang terletak di bibir atas dan bawah fisura calcarina pada permukaan medial hemisphere cerebri. 2

Korteks asosiasi penglihatan (area 18 dan 19) bertanggung jawab untuk pengenalan obyek dan persepsi warna.

Gambar 2. Otak dan kegiatan-kegiatan yang dikontrolnya Terdapat empat neuron yang berperan pada penghantaran impuls penglihatan ke korteks penglihatan, yaitu : 1. Sel batang dan kerucut, yang merupaka neuron reseptor khusus pada retina. 2. Neuron bipolar, yang menghubungkan sel batang dan kerucut ke sel-sel ganglion. 3. Sel ganglion 4. Neuron pada corpus geniculatum lateral, yang aksonnya berjalan ke kortex cerebri. Pada penglihatan binokular, lapangan penglihatan kanan dan kiri di proyeksikan pada kedua bagian retina. Bayangan obyek pada lapangan penglihatan kanan diproyeksikan pada retina bagian nasal dan bagian temporal retina kiri. Pada chiasma opticum, akson-akson dari kedua bagian retina ini bersatu membentuk tractus opticus kiri. Neuron corpus geniculatum lateral sekarang memproyeksikan seluruh lapangan penglihatan kanan ke korteks penglihatan hemisphere kiri, dan lapangan penglihatan kiri ke korteks penglihatan hemisphere kanan. Kuadran bawah retina (lapangan penglihatan bagian atas) di proyeksikan ke dinding bawah fissura calcarina, sedangkan kuadran atas retina (lapangan penglihatan bagian bawah) di proyeksikan ke dinding atas fissura. .

Gambar 3. Lintasan visual dan gangguan medan penglihatan akibat lesi di lintasan visual Jika tidak ada penyakit intraokular, kerusakan penglihatan pada satu mata selalu menandakan lesi pada bagian orbita, foramen atau kranial dari saraf opticus. Jika pusat chiasma opticum mengalami kerusakan sehingga serat yang menyebrang menjadi terganggu misal karena tumor hipofise, hasilnya adalah hemianopsia bitemporal. Biasanya, serat yang datang dari separuh bawah retina dan mengisi bagian ventral chiasma, adalah yang pertamatama rusak. Menjelaskan mengapa hemianopia dimulai pada kuadran atas bitemporal dari lapangan pandangan. Berlawanan dengan heteronimitas dari lesi chiasma, lesi yang mencederai traktus opticus menghasilkan hemianopia homonimus. Sebagai contoh, lesi pada traktus opticus kanan mengganggu impuls yang berasal dari separuh kanan kedua retina. Akibatnya kerusakan penglihatan melibatkan kedua separuh kiri dari lapangan pandang. Kelainan lapangan penglihatan yang dihubungkan dengan lesi-lesi pada lintasan penglihatan: 1. Buta sirkumferensial sisi kanan akibat neuritis retrobulbar. 2. Buta total mata kanan akibat pemotongan n.opticus kanan. 3. Hemianopsia nasalis kanan akibat lesi parsial chiasma opticum kanan. 4. Hemianopsia bitemporalis akibat lesi total chiasma opticum. 4

5. Hemianopsia temporalis kiri dan hemianopsia nasalis kanan akibat lesi pada tractus opticus kanan. 6. Hemianopsia nasalis kanan dan temporalis kiri akibat lesi pada radiation optica kanan. 7. Hemianopsia temporalis kiri dan nasalis kanan akibat lesi pada korteks penglihatan kanan

I.3. Suplai darah pada mata


Pemasok arteri utama Orbita dan bagian bagiannya berasal dari Ateria Oftalmika yaitu cabang besar pertama Arteria Karotis Interna bagian intracranial. Cabang ini berjalan dibawah nervus optikus dan bersamanya melewati kanalis optikus menuju orbita. Cabang intraorbital pertama adalah arteri centralis retina yang memasuki Nervus Optikus sekitar 8-15 mm di belakang bola mata. Cabang cabang lain arteria Oftalmika adalah Arteria Lakrimalis yang mendarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas, cabang cabang muskularis ke berbagai otot Orbita Arteria Siliaris Posterior Longus dan Brevis, Arteri Palpebrales Mediales ke kedua kelopak mata dan Arteria Supraorbitalis serta Supratrochlearis. Arteria Siliares Posterior Breves mendarahi bagian bagian nervus optikus. Kedua arteri Siliaris Posterior Longus mendarahi Korpus Siliare, beranastomosis satu dengan lainnya dan bersama arteria Siliaris Anterior membentuk Sirculus Anteriosus Major Iris. Arteri Siliaris Anterior berasal dari cabang cabang muskularis dan menuju ke muskuli recti. Arteri ini memasok darah ke sclera, episklera, limbus dan kongjutiva serta ikut membentuk Sirculus Arterialis Major Iris. I.4. Definisi Neuropati Optik Iskemik (arteritis dan non arteritis) Neuropatik Optik Iskemik adalah infark nervus optikus retrolaminar akibat penyumbatan atau penurunan perfusi arteri siliaris posterior. Dapat bersifat arteritik ataupun bersifat non arteritik. AAION (Arteritik Anterior Iskemik Optic Neuropaty) yaitu hilangnya struktur dan fungsi sebagian dari saraf optik karena terhalangnya aliran darah ke saraf (iskemik) yang dikarenakan adanya proses peradangan yang mengenai dinding arteri.

NAION (Nonarteritic Anterior Ischemic Optic Neuropathy) yaitu hilangnya struktur 5

dan fungsi sebagian dari saraf optik karena terhalangnya aliran darah ke saraf (iskemik) yang terjadi bukan disebabkan oleh proses peradangan. Dengan keluhan penurunan daya penglihatan dan defek lapang pandang yang disertai pembengkakan diskus optikus. Perbedaan antara AAION dan NAION

I.5. Pemeriksaan Mata


Mata merupakan satu satunya bagian tubuh yang dapat memperlihatkan pembuluh darah dan jaringan sistem saraf perifer (Retina dan Nervus Optikus) secara langsung. Efek sitemik penting akibat penyakit infeksi, autoimun, neoplasma dan vaskuler dapat diketahui melalui pemeriksaan fisik. Tujuan pemeriksaan fisik adalah menilai fungsi dan anatomi mata. Dalam menilai fungsi dapat dilihat fungsi penglihatannya. Maksudnya adalah pergerakan bola mata dan kesejajaran. Pada pemeriksaan anatomi mata dapat di bagi menjadi 3 bagian yaitu adneksa (palpebra dan jaringan periokuler), bola mata dan orbita. Penglihatan yang baik dihasilkan dari kombinasi jaras visual neurologik yang utuh, mata yang sehat secara struktural serta mata yang bisa memfokuskan secara tepat. Refraksi Refraksi adalah prosedur untuk menentukan dan mengukur setiap kelainan optik. Pemeriksaan refraksi ini diperlukan untuk membedakan pandangan kabur akibat kelainan refraksi dan pandangan kabur akibat kelainan medis pada sitem penglihatan. Sehingga pemeriksaan refraksi ini memiliki fungsi diagnostik pula. 6

Uji penglihatan Uji penglihatan di bagi menjadi dua, yaitu uji penglihatan sentral dan uji penglihatan perifer. A. Uji penglihatan sentral Ketajaman penglihatan sentral diukur dengan memperlihatkan objek dalam berbagai ukuran yang diletakan pada jarak standar dari mata. Yang sering digunakan adalah dengan kartu Snellen. Sesuai kesepakatan, ketajaman penglihatan dapat diukur pada jarak jauh 20 kaki (6 meter) atau dekat 14 inch. Ketajaman penglihatan diberi skor dengan dua angka, misalnya 20/40 maka angka pertama adalah jarak uji (dalam feet) yaitu antara pasien dengan kartu snellen dan angka kedua adalah jarak barisan huruf terkecil yang dapat dibaca oleh pasien. Penglihatan 20/20 adalah normal. Penglihatan 20/60 berarti huruf yang cukup besar dapat di baca pada jarak 60 feet pada mata normal baru bisa dibaca oleh mata pasien dalam jarak 20 feet.

Pada anak atau pasien yang buta huruf digunakan E-buta huruf, pasien diminta untuk menunjukan arah yang sesuai dengan arah ketiga batang gambar E

Uji Pinhole

Penglihatan kabur kemungkinan disebabkan oleh banyaknya berkas sinar tak terfokus yang masuk ke pupil dan mencapai retina sehingga menyebabkan terbentuk bayangan yang tidak terfokus tajam. Apabila melihat melalui lubang kecil (pinhole) mencegah sebagian besar berkas tak terfokus yang memasuki mata dan membuat berkas yang masuk melalu lubang kecil tersebut terfokus sejajar dan masuk ke dalam retina sehingga didapatkan bayangan yang lebih tajam. Pasien dengan pengelihatan buruk tidak bisa membaca huruf snellen yang paling besar (20/200) harus mendekatkan posisi tubuhnya sampai huruf tersebut dapat dibaca. Contoh : 5/200 pasien dapat melihat huruf tersebut pada jarak 5 feet sedangkan orang dengan mata yang normal dapat melihat huruf tersebut pada jarak 200 feet . Bila huruf terbesar pada snellen tidak dapat di baca pula, maka dilakukan pemeriksaan berikut : 1. Menggunakan CF (count finger), apabila pasien bisa melihatnya maka nilai visus pasien adalah 1/60 2. Menggunakan HM (hand movement), melakukan gerakan tangan secara vertikal dan horizontal dan pasien akan menyebutkan kemana arah tangan pemeriksa bergerak. Bila pasien dapat melihatnya maka nilai visus pasien adalah 1/300. 3. Persepsi cahaya (LP, Light Perseption), pasien hanya bisa melihat ada tidaknya cahaya. Bila ini terjadi nilai visus pasien adalah 1/~ 4. Apabila pasien tidak bisa melihat cahaya sama sekali maka pasien tersebut dinyatakan buta total (NLP, No Light Perseption) B. Uji Penglihatan Perifer Dinilai secara cepat dengan uji konfrontasi. Ini diperuntukan untuk menentukan luas lapangan pandang. Caranya adalah dengan membandingan luas lapangan pandang pasien dengan luas lapangan pandang pemeriksa. Pupil Pada pemeriksaan pupil diamati ukuran, bentuk (bulat atau tidak teratur) dan reaksinya terhadap cahaya dan akomodasi. Untuk menghindari akomodasi pasien diminta melihat jauh saat berkas cahaya dari senter diarahkan ke mata. Baiknya kondisi ruangan saat pemeriksaan dilakukan adalah remang. Respons langsung terhadap cahaya ditunjukan dengan konstriksi pupil yang disinari. Reaksi ini digolongkan sebagai cepat atau lambat. Respon

konsensual yaitu respon normal berupa konstriksi serentak pupil mata satunya yang tidak disinari. Uji Senter Berayun (Swinging Penlight Test) Uji ini dilakukan dengan cara, membandingkan reaksi kedua pupil terhadap rangsang pada masing masing pupil, benda bercahaya ini digerakan maju mundur di depan kedua pupil. Fenomena Relative Afferent Papillary Defect (RAPD) biasanya merupakan tanda penyakit nervus optikus tetapi dapat juga terjadi pada penyakit retina. Bila terdapat suatu lesi di nervus optikus, reflex pupil terhadap cahaya (baik reflex langsung dan tak langsung) kurang kuat saat mata yang sakit dirangsang dibandingkan saat mata yang normal dirangsang. Fenomena ini disebut RAPD (Relative Afferent Papillary Defect). Fenomena ini juga akan positif bila terdapat suatu lesi di retina atau lesi berat di makula. Katarak yang padat sekalipun tidak menganggu respon pupil. Penyebab penurunan penglihatan unilateral tanpa defek pupil aferen termasuk gangguan refraksi. Kekeruhan media selain katarak seperti kekeruhan kornea atau perdarahan vitreus Fundus Pemeriksaan fundus dilakukan dengan mengunakan oftalmoskop. Pada pemeriksaan ini dapat dilihat fundus sentral termasuk diskus, makula dan struktur pembuluh darah retina proksimal. Diskus Diskus dicari dengan mengikuti salah satu cabang utama pembuluh ke tempat berbagai cabang tersebut berasal. Kemudian diteliti bentuk, ukuran dan warna diskus, ketajaman tepinya dan ukuran bagian sentralnya yang pucat (cawan fisiologik). Rasio ukuran cawan adalah lebar cawan optik di sentral di bagi lebar diskus. Makula Daerah makula kira kira dua diameter diskus opticus di sebelah temporal tepi diskus. Sebuah refleks putih kecil menjadi pertanda fovea sentralis. Lokasi fovea dapat dipastikan dengan tidak adanya pembuluh darah retina.

Pembuluh Retina Utama Pembuluh darah ini diperiksa dan diikuti sejauh mungkin ke arah distal masing masing kuadran dan dinilai warna , kelokan dan kaliber pembuluh darah. Vena lebih gelap dan lebih lebar daripada arteri pendampingnya. Disini juga dapat dilihat kelainan seperti aneurisma, pendarahan atau eksudat. Perimetri Pemeriksaan ini digunakan untuk memeriksa lapangan pandang sentral dan perifer. Teknik ini dilakukan terpisah pada setiap mata dan juga dapat mengukur fungsi retina, nervus opticus, dan jaras visual intrakranial secara bersama. Keruskan bagian tertentu pada jaras visual neurologik mungkin menimbulkan pola perubahan yang khas pada pemeriksan lapangan pandang. Lesi disebelah anterior kiasma (retina atau nervus opticus) menyebabkan defek lapangan pandang unilateral. Lesi di bagian mana saja pada jaras penglihatan yang terletak di posterior terhadap kiasma menyebabkan defek homonim kontralateral. Lesi di kiasma biasanya menyebabkan defek bitemporal. Defek lapangan pandang dengan suatu batas melandai (sloping) yaitu defek lapangan pandang lebih besar dengan objek pemeriksaan yang lebih kecil atau berwarna daripada dengan yang putih, mengisyaratkan edema atau penekanan (kompresi). Lesi iskemik atau vaskuler cenderung menghasilkan defek lapangan pandang dengan batas batas curam yaitu defek berukuran sama tanpa memandang ukuran atau warna objek pemeriksaan yang digunakan Visual Evoked Response (VER) Mengukur potensial listrik akibat stimulus visual. Seluruh jaras visual dari retina ke korteks harus utuh agar dapat menghasilkan rekaman bentuk gelombang listrik yang normal. Terputusnya konduksi neuron oleh sebuah lesi akan berakibat penurunan amplitudo pada VER. VER abnormal akan menunjukan ketajaman visual sentral yang buruk, menjadikan VER sebagai uji objektif yang penting saat uji subjektif tidak dapat di percaya. CT scan CT scan berguna mengevaluasi keadaan orbita dan intrakranial. CT scan secara khusus telah menjadi metode yang paling banyak dipakai untuk menetapkan lokasi dan mencirikan penyakit struktural dalam jaras visual ekstraokuler. 10

Isi
Non Arteritik Iskemik Optik Neuropati
Definisi
NAION (Nonarteritic Anterior Ischemic Optic Neuropathy) , hilangnya struktur dan fungsi sebagian dari saraf optik karena terhalangnya aliran darah ke saraf (iskemik) yang terjadi bukan dikarenakan proses peradangan pada dinding arteri.

Epidemiologi
Menurut Brian R Younge, pasien dengan nonarteritik neuropati optik iskemik

biasanya terjadi pada usia lebih dari 50 tahun. Insiden jenis nonarteritik adalah 2,3-10,3 per 100.000 di Amerika Serikat. Literatur tampaknya mendukung gagasan bahwa kulit putih lebih sering terkena daripada orang kulit hitam dalam kelompok nonarteritic. Pada kelompok nonarteritic, kejadian lebih tinggi pada kulit putih dan jarang terjadi pada ras lain. Negara-negara dengan kejadian tertinggi neuropati arteritic optik iskemik adalah negara-negara Skandinavia (yaitu, Norwegia, Denmark, Swedia) diikuti oleh Jerman. NAION tidak umum terkait dengan kondisi yang mengancam jiwa, meskipun adanya kondisi pembuluh darah lainnya sering terjadi (misalnya, hipertensi , 46,9%, diabetes, 23,9%, infark miokard , 11%). Peran merokok pada penyakit ini tidak jelas. Kehilangan penglihatan bilateral dapat dilihat pada 12-19% dari neuropati optik nonarteritic iskemik, dan biasanya terjadi secara berurutan bukan secara bersamaan. Berdasarkan ras, non arteritic iskemik optic neuropati paling banyak terjadi pada orang kulit putih (95%), dan sedikit pada orang kulit hitam (2%), orang Asia (3%), dan orang Hispanik (1%). Dalam bentuk nonarteritic, jenis kelamin wanita hanya sedikit. Gangguan yang ditemukan biasanya pada kelompok usia lebih tua. Pada kelompok nonarteritic, usia berkisar antara 40-an akhir dan lebih tua.

Etiologi dan patofisiologi


Non arteritik iskemik optik neuropati adalah iskemia akut diskus optikus, yang

mendapat sumber pasokan darah utama dari sirkulasi arteri siliaris posterior. Ditandai antar 11

individu variasi suplai darah dari kepala saraf optik dan aliran darahnya darah diskus optikus dan aliran darahnya sangat mempengaruhi patogenesis. Penyebabnya dan patofisiologi NAION:

sangat

mempengaruhi patogenesis dan gambaran klinis dari NAION. Pada setiap individu,suplai

1. NAION disebabkan oleh iskemik dari diskus optic yang diperdarahi oleh arteri siliaris posterior 2. Non perfusi sementara atau hipoperfusi dari peredaran kepala saraf optik. Ini adalah penyebab paling umum NAION. Secara universal,menurut dokter mata dan ahli saraf NAION memiliki patogenesis seperti dari stroke yang merupakan gangguan tromboembolik, namun pada sebagian besar kasus NAION tidak ada bukti. Bukti yang ada menunjukkan bahwa dalam kebanyakan kasus itu adalah penurunan transien tekanan darah, paling sering saat tidur (hipotensi arteri malam hari) atau tidur siang di siang hari, atau syok. Penurunan transien tekanan perfusi (tekanan perfusi = tekanan darah rata-rata dikurangi tekanan intraokular) di saraf kepala optik kapiler di bawah kisaran autoregulatory kritis. Pada beberapa orang menghasilkan iskemia kepala saraf optik dan pengembangan NAION. 3. Karena lesi emboli dari arteri / arteriol yang memberi makan kepala saraf optik: Ini hanya merupakan penyebab sesekali NAION. Dibandingkan dengan jenis hipotensi NAION, tingkat kerusakan kepala saraf optik dalam tipe ini biasanya besar, berat, dan tergantung pada ukuran arteri yang terlibat dan bidang saraf yang dipasok oleh arteri yang tersumbat. 4. Iskemik dari akson pada NAION menghasilkan stasis aliran axoplasmikyang menyebabkan akumulasi dari aksoplasmik dan menyebabkan pembengkakan akson pada diskus optic yang terlihat sebagai edema diskus optic. 5. Pembengkakan ini menyebabkan beberapa serat saraf berhimit satu sama lain ketika melewati ruang sempit yang kaku pada membrane bruchs dan kanal sclera kecil. Salah satu cara agar serat ini mendapatkan tempat yang luas untuk lewat adalah dengan menekan kapiler yang ada di dekat serat tersebut. Sehingga terjadi perubahan vascular. Lingkaran setan yang dapat memperparah keadaan. Keadaan ini terjadi terutama ketika terjadi penurunan tekanan perfusi pada bola mata yang biasa terjadi pada malam hari.

12

Tanda dan gejala


Mempunyai karakteristik penurunan kemampuan penglihatan yang disertai dengan pembengkakan diskus optikus yang menjadi pucat dan kadang terdapat perdarahan pada lapisan neuroretinal dan jugaterdapat eksudat. Kehilangan penglihatan biasanya terjadi secara mendadak dan menetap.

Pemeriksaan
Pada pemeriksaan funduskopi hampir selalu ditemukan cup-disc ratio (CD-rasio) yang rendah. Pada pemeriksaan visus ketajaman penglihatan bervariasi dari yang ringan sampai tidak ada persepsi cahaya. Defek lapangan pandang biasanya terjadi pada bagian nasal. Pada angiografi fluorescein fundus, diskus optik dengan edema pada NAION selalu menunjukkan bahwa pewarna bocor dari kapiler di diskus saraf optik dan pewarnaannya terlambat. Kebocoran fluorescein mungkin terjadi karena stasis vena yang disebabkan oleh penekanan pada kapiler. Peningkatan permeabilitas kapiler juga menjadi penyebab kebocoran tersebut. Peningkatan permeabilitas kapiler dikarenakan anoksia yang terjadi pada kapiler yang merupakan faktor terpenting terjadi perkembangan edema diskus optic pada NAION. Oleh karena itu, ada perubahan sekunder dan primer yang terjadi yang mengakibatkan edema diskus optic pada pasien denga NAION.

Tatalaksana
Pengobatan ditujukan pada penyebabnya seperti hipertensi dan diabetes melitus. Bila disebabkan alergi, maka pengobatan yang diberikan adalah steroid. Perbaikan terjadi sesuai dengan berkurangnya edema papil. Peranan Kortikosteroid dalam penatalaksanaan NAION. Studi yang dilakukan oleh Sohan Singh Hayreh dari Universitas Iowa pada tahun 2010 menyatakan bahwa manajemen pasien dengan kortikosteroid sistemik selama fase akut menghasilkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk meningkatkan ketajaman visual dan lapangan pandang pada pasien dengan NAION dibandingkan dengan pasien yang tidak diberi terapi kortikosteroid. Menurut Postulat Fould bahwa peranan kortikosteroid dalam NAION adalah mengurangi edema dengan mengurangi permeabilitas kapiler. Ini berdasarkan bukti bahwa kortikosteroid berperan dalam penyakit non-inflamasi. Dalam beberapa penelitian juga disebutkan bahwa kortikosteroid dapat mengurangi edema macula yang disebabkan oleh 13

berbagai hal. Hal ini dikarenakan kortikosteroid mampu menurunkan permeabilitas kapiler sehingga kebocoran cairan dapat teratasi Dosis Terapetik Kortikosteroid Sistemik pada NAION Dosis initial prednisolone awal yang dipakai adalah 80 mg/hari selama 2 minggu. Kemudian diturunkan 10 mg setiap 5 hari sampai habis. Semakin awal penggunaan kortikosteroid akan memberikan hasil dan peningkatan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan semakin cepat pemberian, maka akan semakin banyak akson yang dapat diselamatkan.

Prognosis
Hampir semua pasien NAION tidak mengalami kehilangan penglihatan, bila terjadi kehilangan penglihatan dpat berlangsung dalam 6 minggu. NAION yang tidak diobati umumnya tetap stabil setelah mencapai titik rendah fungsi penglihatan. Kekambuhan pada mata yang sama terjadi kira-kira 6% kasus. Episode penurunan penglihatan kekambuhan pada mata yang sama terjadi setelah 3 bulan, kasus ini paling sering pada usia muda.

14

Kesimpulan
NAION adalah bentuk AION yang paling sering dijumpai (90-95% dari semua kasus AION). Dan terjadi pada usia yang lebih muda (rata-rata 60 tahun) dari jenis yang arteritic. Penurunan penglihatan dapat static ataupun progressive. Bentuk yang progressive ditemukan terjadi 22-37% dari semua kasus NAION. Penurunan penglihatan biasanya tidak lebih berbahaya dibandigkan A-AION (tajam penglihatan >2/200 dalam 60% kasus). Peranan kortikosteroid dalam NAION adalah mengurangi edema dengan mengurangi permeabilitas kapiler. Resolusi cepat dari edema diskus optic ini dapat mengurangi kompresi dari kapiler sehingga perfusi darah ke diskus optic menjadi lancar. Perbaikan perfusi ini hanya dapat menyelamatkan axon pada zona penumbra tetapi tidak dapat memperbaiki kembali axon yang telah mati. Dosis initial prednisolone awal yang dipakai adalah 80 mg/hari selama 2 minggu. Kemudian di-taperingdown 10 mg setiap 5 hari sampai habis. Semakin awal penggunaan kortikosteroid akan memberikan hasil dan peningkatan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan semakin cepat pemberian, maka akan semakin banyak akson yang dapat diselamatkan.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Brian R Younge, MD. Anterior Ischemic Optic Neuropathy. Medscape Reference. Available at : http://emedicine.medscape.com/article/1216891-overview 2. Hayreh, Sohan Singh. Anterior Ischemic Optic Neuropathy:Part II: a discussion for physicians. University of lowa Health Care Ophthalmology & Visual Reference. Available at : http://webeye.ophth.uiowa.edu/component/content/article/118-aionpart2?start=2

3. Jhon, Elston. Non-arteritic anterior ischaemic optic neuropathy and cataract surgery. ncbi Reference. Available at http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1954764/

4. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. 2007. 5. Vaughan D, Asbury T. Oftalmologi Umum. Ed 17.Jakarta: EGC. 2009. Hal. 30-58, 262-277

16