Anda di halaman 1dari 2

Upaya Penanganan Pada Korban Perdagangan Wanita

Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, yang dilakukan di dalam negari atau di luar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Sampai saat ini belum ada kepastian mengenai berapa sebenarnya jumlah Tenaga Kerja Indonesia khususnya Tenaga Kerja Wanita Indonesia. Karena banyak permasalahan mengenai tidak lapornya para calon pekerja ke pejabat wilayah yang berwenang, tidak terdatanya dengan baik para pekerja Indonesia yang ke luar negeri. tidak tertibnya administrasi negara mengenai kependudukan yang menyebabkan salah satunya muncul KTP ganda, sampai tidak adanya pelatihan yang dilakukan atau diikuti para calon tenaga kerja sebelum mereka berangkat ke tempat mereka yang inginkan untuk bekerja. Ini menyebabkan munculnya dengan mudah perdagangan wanita. Sementara pemerintah daerah sebagai pemerintah yang paling dekat dengan masyarakatnya masih tetap tidak yakin bahwa daerahnya telah terjadi perdagangan manusia khususnya wanita. Mengenai penanganan korban perdagangan wanita. Saya akan menjabarkan beberapa upaya yang dapat dan telah dilakukan pada korban perdagangan wanita, antara lain: A. Perlindungan Korban Setiap orang yang menjadi korban perdagangan orang berhak mendapat : a. perlindungan hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan; b. pendampingan dalam semua proses penanganan; c. pelayanan medis sesuai ketentuan; dan d. perlindungan pisikis. B. Pemulangan Korban Perdagangan Wanita Pemulangan adalah pengembalian korban perdagangan orang dari suatu daerah dalam wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia ke daerah asal korban. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta atau disebut PPTKIS adalah badan hukum yang telah memperoleh izin tertulis dari pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan penempatan TKI di luar negeri. Badan inilah yang wajib memulangkan korban perdagangan wanita dari luar negeri ke tempat asalnya.

C. Reintegrasi Korban Perdagangan Wanita Reintegrasi sosial adalah kondisi kemasyarakatan dimana korban perdagangan orang kembali berbaur dan hidup bersama masyarakat secara baik. Pemulangan dan reintegrasi merupakan dua aspek penting dalam pemberian pelayanan bagi korban. Namun pada saat yang bersamaan, mengembangkan program reintegrasi yang efektif bagi korban sangat rumit. Di banyak negara reintegrasi tidak ada atau hanya terbatas pada pemberian akomodasi selama beberapa malam di tempat penampungan serta pemeriksaan medis. Reintegrasi yang dapat dipertahankan memerlukan dukungan besar untuk memastikan bahwa korban mampu membina dirinya di dalam komunitas yang baru dan mendukung dirinya dengan penghasilan yang layak. Aspek yang paling kritis dari semua inisiatif pemulangan dan reintegrasi adalah dilakukan atas kemauannya sendiri. Pada semua langkah dalam proses itu, keputusan yang dibuat dan tindakan yang diambil harus dengan sepengetahuan dan atas persetujuan dari korban. Misalnya, korban tidak boleh dipaksa untuk tinggal di tempat penampungan atau dicegah untuk meninggalkan tempat penampungan. Sebagai korban, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun. Dengan cara yang sama, tidak boleh juga ada korban yang diselamatkan, dipulangkan atau direintegrasikan secara paksa ke dalam komunitasnya. Program reintegrasi tidak bisa dilaksanakan tanpa mengindahkan konteks yang lebih luas, diantaranya memberi perhatian pada status sosial-ekonomi keluarga korban, karena hal-hal tersebut turut memegang andil yang besar dalam perdagangan perempuan dan anak. Program reintegrasi yang di dalamnya termasuk pemberdayaan masyarakat dan keluarga agar berpartisipasi dalam proses reintegrasi dan pencegahan korban. D. Rehabilitasi korban perdagangan wanita Rehabilitasi adalah pemulihan kondisi seseorang meliputi kesehatan/mental, ekonomi yang menjadi korban perdagangan orang dari gangguan fisik, psikis, seksual, ekonomi dan/atau sosial agar orang tersebut dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Daftar Pustaka http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/files/ld/2011/KabupatenJeneponto-2011-3.pdf http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/2120382-penanganan-anak-korbanperdagangan/ http://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=385 http://ylbhpikpontianak.blogspot.com/2008/10/penanganan-kasus-perdaganganperempuan.html