Anda di halaman 1dari 40

TEKNIK MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH

Penulisan karya tulis ilmiah memerlukan persyaratan baik formal


maupun materiil.

Persyaratan formal menyangkut kebiasaan yang harus diikuti


dalam penulisan;

sedangkan persyaratan materiil menyangkut isi tulisan. Sebuah


tulisan akan mudah difahami dan menarik apabila isi dan cara
penulisannya memenuhi persyaratan dan kebiasaan urnum.

Dalam tulisan singkat ini akan digambarkan beberapa hal yang


penting yang perlu diperhatikan oleh penulis sebuah karya tulis
ilmiah termasuk laporan penelitian.
I. T O P I K

Topik atau pokok pembicaraan berasal dari kata Yunani "topoi".


Dalam suatu karangan, topik merupakan landasan yang dapat
dipergunakan oleh seorang pengarang untuk menyampaikan
maksudnya.
Banyak hal yang dapat dipergunakan sebagai sumber penentuan
topik sebuah karangan, misalnya:
1. pengalaman
2. keluarga
3. karier
4. alam sekitar
5. masalah kema­syarakatan
6. kebudayaan
7. ilmu
8. pengetahuan
9. cita­cita
10. dsb.
Dari bermacam-macam hal yang dijadikan topik tersebut, seorang
pengarang dapat menyusun karangan dalam bentuk:

a.Kisahan (Narasi): karangan yang berkenaan dengan rangkaian


peristiwa.

b.Perian (Deskripsi): karangan yang melukiskan sesuatu


sesuai dengan keadaan sebenar­nya sehingga
pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar,
mencium, merasakan) apa yang dilukiskan itu
sesuai dengan citra penulisnya.

c.Paparan (Eksposisi): karangan yang berusaha menerangkan atau


menjelaskari pokok pikiran yang dapat
memperluas pengetahuan pembaca karangan itu.

d.Bahasan (Argumentasi): karangan yang berusaha memberikan alasan


untuk memperku­at atau menolak suatu
pendapat, pendirian, atau gagasan.
Syarat-syarat perumusan topik:

1.Topik harus menarik perhatian penulis


Untuk dapat menghasilkan karangan yang baik dengan data yang
lengkap, seorang penulis harus memilih topik yang menarik perhatiannya.
Topik yang tidak disenangi akan menimbulkan keengganan penulis dalam
menyelesaikan tulisan. Sehingga pencarian data dan informasi untuk
melengkapi karangan akan dilakukan dengan terpaksa.

2.Topik harus diketahui oleh penulis


Seorang penulis sebelum memulai menulis seyogyanya sudah
mempunyai pengetahuan tentang hal­hal atau prinsip­prinsip dasar dari topik
yang dipilih. Berdasarkan prinsip­prinsip dasar tersebut, seorang penulis dapat
mengembangkan tulisannya menjadi suatu tulisan menarik, dengan cara
melengkapi tulisan tersebut melalui penelitian kepustakaan maupun penelitian
lapangan.
3.Topik yang dipilih sebaiknya:

a. Tidak terlalu baru


Topik yang terlalu baru
memang menarik untuk ditulis, akan tetapi seringkali penulis mengalami
hambatan dalam memperoleh data kepustakaan yang akan dipakai sebagai
landasan atau penunjang. Data kepustakaan yang diperoleh mungkin
terbatas pada berita dalam surat kabar atau majalah populer.

b. Tidak terlalu teknis


Karangan yang terlalu
teknis kurang dapat menonjolkan segi ilmiah. Tulisan semacam ini
biasanya bersifat sebagai petunjuk tentang bagaimana tata cara melakukan
sesuatu, tanpa mengupas teori­teori yang ada.

c. Tidak terlalu kontroversial


Suatu tulisan yang
mempunyai topik krontroversial menguraikan hal­hal di luar hal yang
menjadi pendapat umum. Tulisan semacam ini sering menimbulkan
permasalahan bagi penulisnya.
II. TEMA
Tema berasal dari kata Yunani "tithenai". Tema mempunyai dua
pengertian yaitu :
1. Suatu pesan utama yang disampaikan oleh penulis melalui
tulisannya.
2. Suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan
pembicaraan dan tujuan yang ingin dicapai.

Sebuah tulisan dikatakan baik apabila tema


dikembangkan secara terinci dan jelas. Adanya gagasan sentral,
rincian yang teratur dan susunan kalimat yang jelas akan
menghasilkan karangan yang menarik dan enak dibaca. Di
samping itu, seorang penulis juga harus menampilkan keaslian
tulisannya. Keaslian tersebut dapat dilihat dari beberapa hal,
misalnya pokok permasalahan, sudut pandangan, cara
pendekatan atau gaya bahasa dan tulisannya.
III. JUDUL
Apabila topik dan tema sudah ditentukan barulah penulis merumuskan
judul katya tulisnya. Judul yang dirumuskan sifatnya tentatif, karena
selama proses penulisan ada kemungkinan judul berubah.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merumuskan judul:


5.Judul hendaknya relevan dengan tema dan bagian­bagian dari tulisan
tersebut;

2. Judul menimbulkan rasa ingin tahu seorang lain untuk membaca tulisan
itu (bersifat provokatif);

3. Judul tidak mempergunakan kalimat yang terlalu panjang, jika judul


terlalu panjang, dapat dibuat judul utama dan judul tambahan (subjudul);

4. Pada penulisan tertentu (yang ada hubungan sebab­akibat) seyogyanya


judul harus memiliki independent variable (variabel bebas) dan dependent
variable (variahel terikat).
IV. KERANGKA KARANGAN
Agar penulis dapat menerangkan isi karangannnya
secara teratur dan terinci, diperlukan suatu kerangka karangan.
Kerangka karangan akan membantu penulis untuk menyusun
karangan yang logis dan teratur, karena kerangka karangan
merupakan suatu rencana kerja seorang penulis.

Kegunaan kerangka karangan:


1. Untuk menyusun karangan secara teratur.
2. Membantu penulis menciptakan klimaks yang berbeda­beda.
3. Menghindari penguraian topik secara berulang­ulang.
4. Memudahkan mencari materi pembantu.
Perumusan kerangka karangan dapat dilakukan dengan
dua cara:

1. Kerangka kalimat
Kerangka kalimat merumuskan tiap bagian karangan
dengan kalimat berita yang lengkap. Dengan demikian tujuan
dan pokok pembahasan akan dapat diketahui secara jelas baik
oleh penulis sendiri maupun orang lain.

2. Kerangka topik
Perumusan kerangka topik dilakukan dengan
menggunakan kata atau frasa. Kerangka semacam ini kurang
memberikan kejelasan bagi orang lain yang membacanya.
V. BENTUK LAHIRIAH

Karya tulis dari sudut bentuk dibedakan atas karya formal,


semi formal, dan non formal, sebaliknya informal bukan
menyangkut bentuk tetapi menyangkut keresmian. Tulisan dari
sudut ini dibedakan atas tulisan formal (=formil) dan informal
(=informil).

Karya tulis formal adalah


suatu tulisan/karangan yang memenuhi semua persyaratan lahiriah
yang ditentukan oleh kebiasaan; sedangkan karya tulis yang
memenuhi sebagian dari syarat formal disebut semi formal. Apabila
suatu tulisan tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan, maka
tulisan tersebut disebut non formal. Tulisan disebut informal
apabila tidak menggunakan bahasa resmi, di samping itu penulis
juga memakai kata ganti orang pertama sebagai pengganti nama
dirinya seolah­olah ia berhadapan dengan pembacanya (personal).
Bentuk lahiriah yang harus dipenuhi oleh suatu tulisan
formal:

1. Bagian pelengkap pendahuluan


a. Judul pendahuluan
b.Halaman pengesahan
c. Halaman judul
d. Halaman persembahan
e. Kata pengantar
f. Daftar isi
g. Daftar gambar, tabel, keterangan
2. Bagian isi karangan
a. Pendahuluan
b. Tubuh karangan
c. Penutup/Simpulan (dan saran)

3. Bagian pelengkap penutup


a. Daftar pustaka
b. Indeks
c. Lampiran

Karya tulis formal harus memakai bahasa resmi dan


tanpa menyebutkan nama diri atau nama pengganti penulis.
(impersonal) misalnya kata saya, kami, kita, kecuali hanya pada
kata pengantar.
VI. TEKNIK PENULISAN
Agar penulisan karya tulis sempurna, setelah isi dan bentuk lahiriah
disusun dengan cara yang semestinya, penulis juga harus mernpertahankan teknik
penulisan berdasarkan persyaratan yang lazim.

Masalah teknis yang perlu diperhatikan, adalah:


1. Ukuran kertas
Karya tulis ilmiah umumnya mengggunakan kertas jenis HVS (60­80
gram) putih dengan ukuran kuarto (215 x 280 mm, jangan keliru dengan ukuran
kertas A4 yaitu 210 x 297 mm) .
2. Mesin tulis
Mesin tulis yang digunakan hendaknya memakai pika 10 (dalam satu inci
dapat diketik 10 karakter). Pengetikan dapat juga dilakukan memakai komputer,
tetapi pemilihan huruf seyogyanya hanya Courier 12 (Contoh huruf Courier 12) di
samping itu hasil cetakannya (print out) hendaknya tidak berbentuk titik­titik (dot
matric) melainkan berbentuk seperti huruf pada mesin tulis biasa. Dalam istilah
komputer disebut NLQ (Near Letter Quality) atau LQ (Letter Quality).
3. Pita dan karbon
Pita maupun karbon yang digunakan hendaknya dalam keadaan baik:,
sehingga menghasilkan cetakan yang jelas dan tidak kabur.
4. Margin/pias (batas pinggir pengetikan)

Batas pengetikan adalah 4 cm untuk tepi kiri, 2,5


cm untuk tepi kanan, 4 cm untuk tepi atas dan 3 cm untuk
tepi bawah. Nomor bab diketik 6,5 cm dari tepi atas dan
judul bab dimulai 8 cm dari tepi atas.

5. Pemisahan/pemenggalan kata

Pemenggalan kata ditandai dengan garis


penghubung pada suku kata sebelumnya. Garis penghubung
tidak ditempatkan di bawah suku kata yang dipenggal.
Seorang penulis juga harus memperhatikan adanya awalan
atau akhiran dari sebuah kata yang dipenggal.
6. Spasi/kait

Jarak antara baris dengan baris mempergunakan spasi


rangkap (dua spasi). Sedangkan untuk catatan kaki, bibliografi dan
kutipan langsung yang lebih dari empat baris dipergunakan spasi
rapat (satu spasi).
Apabila awal alinea (paragraf dimulai dari pias paling kiri
(tidak menjorok masuk ke dalam 5­7 ketikan), maka jarak antar
alinea 3­4 spasi. Tetapi jika awal alinea dimulai dengan
menjorok/masuk ke dalam sebanyak 5­7 ketikan, rnaka jarak antar
alinea tetap dengan spasi ganda (2 spasi). Sedangkan jarak antara
judul bab dan naskah dipakai 3­4 spasi.

7. Nomor Halaman

Halaman pendahuluan ditandai dengan angka Romawi


kecil, sedangkan halaman­hataman selanjutnya menggunakan nomor
dengan angka Arab. Nomor halaman dapat dicantumkan pada tengah
halaman sebelah bawah atau sudut kanan atas.
8. Judul

Judul bab ditulis di bagian tengah atas dengan huruf kapital


dan tidak digaris bawahi atau tidak ditulis di antara tanda
kutip. Judul bab juga tidak diakhiri dengan tanda titik.

9. Huruf miring

Huruf miring berfungsi menggantikan garis bawah. Huruf


miring biasanya digunakan untuk:
a. Penekanan sebuah kata atau kalimat;
b. Menyatakan judul buku atau majalah;
c. Menyatakan kata atau frasa asing.
 10. Penulisan angka
 Untuk menuliskan angka dalam karangan, perlu diperhatikan
ketentuan penulisan sebagai berikut:
 a. Bilangan di bawah seratus, yang terdiri dari satu atau dua
kata, bilangan seratus dan kelipatannya, seribu dan
kelipatannya ditulis dengan huruf;
 b. Bilangan terdiri dari tiga kata atau lebih, ditulis dengan
angka;
 c. Bilangan pecahan biasanya ditulis dengan huruf,
kecuali pecahan dari bilangan yang besar;
 d. Persentase tetap ditulis dengan angka;
 e. Nomor telepon, nomor jalan, tanggal dan nomor halaman
ditulis dengan angka;
 f. Angka tidak boleh dipergunakan untuk mengawali sebuah
kalimat
11.Penulisan kutipan

Dalam penulisan karya tulis ilmiah, seorang penulis sering


meminjam pendapat, atau ucapan orang lain yang terdapat
pada buku, majalah, bahkan bunyi pasal dalam peraturan
perundang­undangan. Untuk itu seorang penulis harus
memperhatikan prinsip-prinsip mengutip, yaitu:
a. Tidak mengadakan pengubahan naskah asli yang
dikutip. Kalaupun perlu mengadakan pengubahan, maka
seorang penulis harus memberi keterangan bahwa kutipan
tersebut telah diubah. Caranya adalah dengan memberi huruf
tebal, atau memberi keterangan dengan tanda kurung segi
empat;
a. Bila dalam naskah asli terdapat kesalahan, penulis
dapat memberikan tanda [sic!] langsung di belakang
kata yang salah.
Hal itu berarti bahwa kesalahan ada pada naskah asli
dan penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan
tersebut;

d. Apabila bagian kutipan ada yang dihilangkan,


penghilangan itii dinyatakan dengan cara
membubuhkan tanda elipsis (yaitu dengan tiga titik).
Penghilangan bagian kutipan tidak boleh
mengakibatkan perubahan makna asli naskah yang
dikutip (lihat contoh pada lampiran 1, halaman 19).
Cara mengutip:

c. Kutipan langsung terdiri dari tiga baris atau kurang

Cara menulis kutipan langsung yang panjangnya sampai


dengan tiga baris, adalah sebagai berikut:

(7)kutipan diintegrasikan dengan naskah;


(2) jarak antara baris dengan baris dua spasi;
(3) kutipan diapit dengan tanda kutip;
(4) akhir kutipan diberi nomor urut penunjukan yang
diketik setengah spasi ke atas. (Lihat contoh pada
lampiran 1, halaman 19)
b. Kutipan langsung terdiri lebih dari tiga baris

Sebuah kutipan langsung yang terdiri lebih dari tiga


baris, ditulis sebagai berikut:
(1) kutipan dipisahkan dari naskah dengan jarak 3
spasi;
(2) jarak antara baris dengan baris satu spasi;
(3) kutipan bisa diapit tanda kutip, bisa juga tidak;
(4) akhir kutipan diberi nomor urut penunjukan
yang diketik setengah spasi ke atas;
(5) seluruh kutipan diketik menjorok ke dalam
antara 5­7 ketikan;
(Lihat contoh pada lampiran 1, halaman 16 dan
17) dan Kutipan tidak langsung
Dalam kutipan tidak langsung penulis tidak mengutip
naskah sebagaimana adanya, . melainkan mengambil
sari dari tulisan yang dikutip.

Cara menulis kutipan seperti ini adalah sebagai


berikut:
(1) kutipan diintegrasikan dengan naskah;
(2) jarak antara baris dua spasi;
(3) kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
(4) akhir lnttipan diberi nomor urut penunjukan
yang diketik setengah spasi ke atas. (Lihat contoh
pada lampiran 1, halaman 18-19)
12. Penulisan sumber kutipan

Seorang penulis yang mengutip pendapat orang lain


harus mencantumkan sumber kutipan yang bersangkutan.
Ada tiga cara penulisan sumber kutipan, yaitu:
a. American Psycological Associations Manual (APA)
Mencantumkan langsung surnber kutipan di akhir
kutipan yang ditulis dalam tanda kurung.
Contoh: (Soerjono Soekanto, 1983: 23),
artinya:
Kutipan tersebut diambil dari buku karangan Soerjono
Soekanto yang terbit tahun 1983 pada halaman 23.
Dalam penulisan sumber semacam ini, tidak mudah
untuk langsung menemukan dari sumber mana yang
kutipan tersebut diambil. Pembaca sulit mengetahui
judul buku yang dikutip. Seyogyanya pada setiap akhir
bab dibuat daftar pustaka.

Adapun cara menuliskan Daftar Pustaka dengan cara ini


ialah:
4) nama pengarang;
2) tahun terbit;
3) judul;
4)cetakan/edisi;
5) nama kota;
6) nama penerbit. (Lihat contoh pada Lampiran 2)
b.Modern Language Associations Handbook
(MLA):
Memberi nomor urut pada setiap alr.hir
kutipan, kemudian menulis sumber kutipannya
di akhir bab, pada lembar khusus yang disebut
"Catatan“.

Cara menuliskan sumber kutipan sama


seperti menulis pada Catatan Kaki.
Contoh :

Catatan

1
Buchari Zainun, Manajemen dan Motivas(Jakarta:
Balai Aksara, 1979), hal. 27.

2
A. Hamzah, Hukum Pidana Ekonomi, cet.II,
(Jakarta: Erlangga, 1977), hal. 21.

3
Ibid.
4
CFG Sunarjati Hartono, Hukum Ekonomi
Pembangunan Indonesia (Jakarta: Badan
Pembinaan Hukum Nasional-Departemen
Kehakiman, 1982), hal. 148.

S
Hamzah, op.cit.,hal. 45.
c. Chicago Manual of Style (Kate L. Turabian):

Cara yang lazim adalah dengan memberikan nomor unit kutipan, kemudian
sumber kutipan ditulis pada kaki halaman diawali dengan nomor urut
kutipan. Sumbe:r kutipan dipisahkan dari naskah dengan garis lurus
sepanjang lima belas ketikan, d:iapit oleh ruang kosong masing­masing
empat kait (spasi).
Catatan kaki diketik menjorok ke dalam 5­7 ketikan dan dilanjutkan p;ada
baris berikutnya dimulai pada margin kiri dengan jarak satu spasi, sedangkan
jarak antara baris terakhir satu catatan dengan baris pertama catatan kaki
berikutnya, dua spasi. Keuntungan cara penulisan sumber kutipan dengan
catatan kaki ialah, jika pada suatu ketika penulis ingin membandingkan
dengan sumber lain, atau penulis ingin menerangkan suatu tulisan yang
bukan menjadi konteks penulisan. Apabila menerangkan sesuatu ­ langsung
pada naskah dianggap akan mengganggu kesinambunga:n tulisan, maka
dengan catatan kaki keterangan tentang sesuatu tersebut dapat dilakukan. Hal
itu tidak akan mengganggu naskah dimaksud. (Lihat contoh pada 1, hal. 19)
13. Penulisan daftar pustaka

Daftar pustaka atau bibliografi merupakan suatu


daftar yang memuat pustaka yang dipergunakan
sebagai acuan dalam karya tulis yang disusun. Daftar
pustaka dari suatu karya akan berguna bagi orang lain
yang mempunyai perhatian, minat atau bidang
keahlian yang sama dengan penulis karya tulis
tersebut.
Daftar pustaka selain dapat dipakai untuk
menilai kebenaran tulisan atau pendapat yang dikutip,
juga dapat memperluas pengetahuan orang lain akan
bahan bacaan yang ada kaitannya dengan pokok
bahasan dalam tulisan tersebut.
Cara menyusun penulisan deskripsi daftar pustaka, baik untuk
model MLA maupun Turabian sama, yaitu:
3) nama pengarang;
2) judul;
3) cetakan/edisi;
4) nama kota;
5) nama penerbit; dan
6) tahun terbit (Lihat contoh pada lampiran 3, halaman 23-24).

Sedangkan untuk APA (Lihat contoh pada lampiran 2, halaman 21-22) dan
yang telah diterangkan di muka.

Penyusunan daftar pustaka dilakukan menurut urutan abjad (alfabetis) nama


pengarang. Dalam hal ini penulisan nama pengarang dibalik susunannya,
yaitu dimulai dengan nama keluarga diikuti tanda baca koma. Nama
keluarga di sini termasuk nama ormg tua atau nama suami. Bagi pengarang
yang tidak mempunyai nama keluarga, maka penulisan nama diawali dengan
menuliskan nama terakhir pengarang tersebut.
Jarak antara baris adalah
satu spasi, sedangkan jarak antara satu sumber dengan sumber yang lainnya
dua spasi. Pengetikan dimulai pada margin kiri dan baris selanjujtnya diketik
menjorok ke dalam 3­5 ketikan.

Bila ada lebih dari satu pustaka yang dikarang oleh seorang pengarang yang
sama, maka nama pengarang tersebut tidak perlu diulang.

Pengulangan nama pengarang dapat diganti dengan membubuhkan sebuah


garis panjang, sepanjang 5­7 ketikan yang diakhiri dengan sebuah titik.
Selanjutnya data bibliografi ditulis seperti biasa.

Namun perlu diperhatikan bahwa urutan penulisan karya pengarang tersebut


dilakukan secara kronologis menurut tahun diterbitkannya karya­karya
tersebut.
Berikut ini diberikan contoh cara penulisan
catatan kaki dan bibliografi (daftar pustaka). Untuk
mempermudah pengertian dan mengetahui perbedaan
antara cara penulisan catatan kaki dan bibliografi,
pemberian contoh disusun secara berurutan, yaitu
urutan pertama adalah catatan kaki dan urutan kedua
bibliografi.

Untuk jelasnya diberikan pula cara menyusun


urutan daftar pustaka baik untuk model MLA dan
Turabian (Lihat contoh pada lampiran 3.) di satu pihak
dan contoh untuk APA di lain pihak (Lihat contoh pada
lampiran 2).
I.B U K U:

C.Satu orang pengarang:

1
Ismail Suny, Pembagian Kekuasaan Negara,
cet.2, (Jakarta: Aksara Baru, 1978), hal. 41.
Suny, Ismail. Pembagian Kekuasaan Negara.
Cet.2.
Jakarta: Aksara Baru, 1978.
B. Dua orang pengarang:

2
Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto,
Perundang-undangan dan Yurisprudensi (Bandung:
Alumni, 1979), hal.8.
Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto.
Perundang-un­dangan dan Yurisprudensi. Bandung:
Alumni, 1979.
C. Tip orang pengarang:

3
Arif Budijanto, Siswandi Sudiono, dan Agus
Purwadianto, Kejahatan Seks dan Aspek
Medikolegal _Gangguan Psikoseksual (Jakarta:
Kalman Media Pusaka, 1982), hal. 14-15.
Budijanto, Arif; Siswandi Sudiono; dan Agus
Purwadianto. Kejahatan Seks dan Aspek
Medikolegal Gangguan Psiko­seksual. Jakarta:
Kalman Media Pusaka, 1982.
D. Lebih dari tip orang pengarang:

Padmo Wahyono _et al., Kerangka Landasan


4

Pembangunan Hukum (Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan,1989) ha1.37.
Wahyono, Padmo et _al. Kerangka Landasan
Pembangunan Hukum. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,1989.
E. Editor (penyunting)/penghimpun:
S
Soerjono Soekanto, ed., Identifikasi Hukum Positif
Tidak Tertulis Melalui Penelitian Hukum Normatif
dan Empiris(Jakarta: Ind. Hill-Co, 1988), hal
105.

`Soekarito, Soerjono, ed. Identifikas_i Hukum


Positif: Tidak Tertulis Melalui Penelitian Hukum
Normatif dari Empiris. Jakarta: Ind. Hill-Co, 1988.
F. Terjemahan/Saduran:
6
J.G. Starke, Pengantar Hub. Inteirnasional [An
Introduction to International ~Law],
diterjemahkan oleh F. Isjwara (Bandung: Alumni,
1972), hal. 21.
Starke, J.G. Pengantar Hukum _Internasional [An
Introduction to International Law]. Diterjemahkan
Oleh F. Tsjwara. Bandung: Alumni, 1972.
G. Bab / chapter dad buku yang merupakan
kumpulan karangan:
7
Marian Gold Gallagher, "Legal Encylopedias"
dalam How to Find the Law, thed. edited by Morris L.
Cohen, (St. Paul, Minnesota: West Publishing, 1976),
p.272.
Gallagher, Marian Gold. "Legal Encylopedias"
dalam How to Find the how the Edited by Morris
Cohen. St.Paul, Minnesota: West Publishing, 1976.
pp. 264 - 284.
H. Badan Korporasi:
BBadan Pembinaan Hukum Nasional, Lokakarya
Sistim Penyebarluasan Peraturan Perundang-
undangan (Bandung: Binacipta, 1977), hal. 51.
Badan Pembinaan Hukum Nasional. Lokakarya
Sistim Penyebarluasan Peraturan Perundang-
undangan. Bandung: Bina cipta, 1977.
II. ARTIKEL:

C.Majalah:

I Nyoman Nurjaya, "Azas


9

Presumption of Innocence di Negara


Hukum Indonesia (Suatu
Pemahaman Empirik),'"' Hukum dan
Pembangunan 1 (Januari 1982): 63.

Nurjaya, I Nyoman. "Azas


Presumption of Innocence di Ne­'
gara Hukum Indonesia (Suatu
Pemahaman Empirik)." Hukum dan
Pembangunan 1 ( Januari 1982 ): 60
- 67.