Anda di halaman 1dari 5

ORF / Sore Mouth Disease

Orf atau Sore Mouth Disease adalah infeksi viral yang disebabkan oleh Poxvirus yang terkait dengan Famili Pseudocowpox dan Bovine Papular Stomatitis Virus. Virus ini bersifat epitheliotropik, yang berarti bahwa virus ini memiliki affinitas terhadap kulit. Masa inkubasi relatif singkat. Hewan peka biasanya menunjukkan gejala pertama 4 hingga 7 hari setelah terpapar, dimana gejala ini bertahan selama 1 hingga 2 minggu atau mungkin lebih lama. Penyakit ini menyerang domba dan kambing. Orf merupakan penyakit zoonosis yang berarti bahwa penyakit ini dapat dengan mudah ditularkan dari hewan ke manusia. Orf menginduksi lesi pustular pada kulit kambing, domba ataupun ruminansia. Penyakit ini mempunyai arti ekonomi penting karena dapat menyebabkan : 1.penurunan berat badan 2.kematian pada hewan muda 3.dapat menular pada manusia

Sejarah penyakit orf Penyakit Orf pertama kali dideteksi di Inggris dan Perancis antara tahun 1888-1923. Penyakit ini ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1910 hasil pelacakan oleh Mohler. Investigasi dalam skala besar mengenai penyakit Orf dilaporkan oleh Glover di Inggris pada tahun 1928. Nama penyakit Orf yang digunakan pada waktu itu adalah contagious pustular dermatitis. Menurut Adjid (1993), di Indonesia penyakit Orf pertama kali dilaporkan kejadiannya di Langsa, Aceh pada tahun 1914.

Etiologi Orf disebabkan oleh virus parapox dari family poxviridae dan termasuk dalam genus parapox virus (Fauquet dan Mayo, 1991; Fenner dkk., 1998). Virus Orf berukuran relatif besar sekitar 300-450 nm x 170-260 nm dan struktur luarnya seperti rajutan benang wol (Kluge dkk., 1972). Merupakan virus tipe DNA yang berbentuk ovoid (Mercer dkk., 1997). Mempunyai ciri khas bergaris-garis seperti permukaan buah nenas apabila dilakukan pengamatan dibawah mikroskop elektron dengan pewarnaan negatif menggunakan reagen phospotungtic acid. Virus ini amat tahan terhadap pengaruh suhu lingkungan sehingga tetap infektif dalam waktu relatif lama di luar tubuh hewan dan juga virus ini juga sangat tahan

terhadap kekeringan serta dapat tinggal dalam suatu kandang pada suhu ruangan selama 15 tahun (Subronto, 2003). Epidemiologi - Sekali kelompok hewan diserang maka biasanya penyakit tetap endemic yang disebabkan oleh kontak antara hewan dan tahannya virus pada lingkungan luar. - Kerugian terjadi karena penurunan berat badan yang diakibatkan kesulitan makan karena lesi pada mulut dan bibir. - Laju prevalensi meningkat apabila lapangan pengembalaan mengandung banyak duri yang dapat melukai bibir hewan sebagai tempat masuknya virus. Penularan dan kejadian pada manusia Infeksi pada manusia terjadi sebagai akibat adanya lecet kulit yang kontak dengan hewan terinfeksi atau bahan asal hewan seperti wool ataupun vaksin. Kelompok beresiko 1. Pekerja rumah potong hewan 2. Peternak 3. Dokter hewan 4. Orang lain yang kontak dengan hewan Penyakit pada manusia - Bagian tubuh yang terserang adalah jari dan tangan. - Masa inkubasi penyakit 3-7 hari. - Terbentuknya macula yang berkembang menjadi vesikel besar yang dikelilingi oleh sellulit yang tidak terasa sakit. - Vesikel berkembang menjadi pustule dan pergerakan terjadi setelah dua minggu. - Kesembuhan terjadi setelah 4-6 minggu.

Gejala pertama dari penyakit Orf ditandai oleh adanya bintik-bintik merah pada kulit bibir, yang kemudian berubah menjadi lepuh-lepuh. Lepuh-lepuh membesar yang pada akhirnya terlihat bentukanbentukan keropeng yang menonjol, bentukan keropeng ukurannya bervariasi sampai dengan 5 mm, dan menyembul dari permukaan kulit setinggi 2-4 mm. Masa inkubasi berlangsung selama 2 3 hari. Mula-mula terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat selama beberapa jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal dan berwarna keabu-abuan. Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan menjadi kurus. Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu. Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema (Eritema adalah kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh kapiler yang reversible), lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas setelah 1 2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak terjadi pergerakan. Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang menyerupai bunga kool.Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder,

lesi-lesi ini biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu. Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder, memperhebat keparahan penyakit. Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit. Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2 3 minggu. Patogenesis Patogenesa dari penyakit Orf adalah dermatitis yang ditandai oleh terbentuknya papula, vesikula pada ambing, puting susu, pustula dan keropeng daerah bibir, lubang hidung, kelopak mata, tungkai, perianal dan selaput lendir rongga mulut (Ressang, 1984). Penyakit Orf bersifat cepat menular. Masa inkubasi dari penyakit ini berlangsung selama 2-3 hari. Mekanisme patogenesis penyakit Orf secara lebih rinci dijelaskan oleh Merchant dan Barner (1973). Lesi mula-mula terbentuk sebagai papula ataupun macula akibat dari adanya proliferasi sel-sel epitel dari lapisan malpighi pada epidermis. Sel-sel dalam nodula tersebut kemudian mengalami degenerasi hidrofobik, lalu membengkak dan akhirnya pecah berbentuk vesikula. Akibat adanya peradangan ini leukosit menginvasi vesikula dan terbentuklah pustula yang kemudian mengalami ruptur sehingga terjadi ulcerasi yang akhirnya terbentuk keropeng tebal berwarna keabu-abuan kira-kira pada hari ke-10. Diagnosis Orf didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis anatomis dan pemeriksaan laboratorium dengan melakukan isolasi dan identifikasi dengan uji serologis. Berdasarkan gejala klinis yang ditemukan. Jumlah penderita yang biasanya lebih dari seekor dalam satu kelompok hewan sehingga memperkuat dugaan adanya Orf. Ukuran virus yang cukup besar dan bentuk virus yang spesifik, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron juga memudahkan peneguhan diagnosa (Akoso, 1991). Pada domba dan kambing, lesi yang terlihat cukup spesifik, dapat didiagnosa secara klinik tanpa bantuan laboratorium. Diagnosa banding Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar pada kambing dan domba. Pada penyakit cacar lesi biasanya mulai dengan haemoragik dan terjadi pada kulit bagian luar, serta ada tendensi meluas keseluruh tubuh, termasukke organ-organ tubuh bagian dalam. Dengan mikroskop electron, kedua jenis virus tadi dapat dibedakan. Pada cacar kambing, lesi yang terjadi tidak separah seperti pada cacar domba, dan lebih mirip Orf Mekanisme Penularan/Transmisi Penularan penyakit Orf adalah melalui kontak langsung antara hewan peka dengan hewan sakit Orf atau dengan kontaminan di lingkungan. Infeksi virus tersebut dapat masuk melalui perlukaanperlukaan di permukaan kulit akhibat dari lapangan pengembalaan yang terdapat banyak duri yang dapat membuat luka. Penularan penyakit ke induk dapat juga terjadi ketika anak yang terserang Orf menyusu pada induknya, sehingga infeksi terjadi pada puting susu (Abu Elzein dan Housawi, 1997).

Pengobatan dan Pencegahan Karena penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang efektif terhadap penyakit Orf. Pengobatan yang dilakukan secara simptomatis hanya untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan myasis oleh larva serta mempercepat kesembuhan, misalnya dengan penggunaan antibiotika berspektrum luas seperti oksitetrasiklin dan pemberian multivitamin (Adjid, 1993). Cara lain yang lebih sederhana adalah pengerokan keropeng sampai terkelupas dan sedikit berdarah selanjutnya setelah itu dioleskan methylen blue pada lesinya. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan yodium tincture 3% setelah sebelumnya lesi Orf digosok dengan tampon sampai terkelupas lalu di desinfeksi dengan menggunakan alcohol 70% serta dilanjutkan dengan langkah yang terakhir adalah dilakukan penyuntikan antibiotik untuk mencegah super infeksi. Obat anti lalat juga dianjurkan penggunaannya untuk mencegah myasis oleh larva lalat (Abu Elzein dan Housawi, 1997). Pencegahan yang paling tepat untuk kejadian penyakit Orf di daerah endemik dan daerah sporadik terhadap hewan-hewan yang rentan adalah vaksinasi serta menjaga sanitasi kandang dan lingkungan. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada umur sekitar 6-8 bulan. Yang perlu diingat, bahwa vaksin yang digunakan sekarang ini merupakan vaksin hidup (live vaksin) yang belum di atenuasi/dilemahkan sehingga mempunyai resiko penularan lebih lanjut dari penyakit ini, baik kepada hewan lain maupun kepada manusia. Secara tradisional, vaksin dapat dibuat dari keropeng kulit yang dibuat menjadi tepung yang halus, lalu dicampurkan/disuspensikan menjadi 1% dalam gliserin 50%. Aplikasi vaksinasi yaitu dengan mengoleskan vaksin pada kulit paha bagian dalam, daerah leher ataupun telinga. Tujuan vaksinasi itu sendiri adalah diharapkan berhasil menimbulkan imunitas pada anak kambing ataupun domba yang divaksin. Selain dengan vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak juga harus diperketat, hanya hewan yang tidak memperlihatkan gejala klinis penyakit Orf yang boleh dikirim ke wilayah bebas penyakit (Dirjen Peternakan, 2007) dan juga pemeliharaan ternak harus dilakukan secara intensif. Terapi Terapi khusus terhadap orf tidak dikenal. Usahakan pemberian pakan hijau-hijaun yang halus dan muda. Salep antiseptica dan antimikrobial dapat diberikan. Juga salep yang memilki daya mengerutkan.

Daftar pustaka
Dirjen Peternakan. 2007. Petunjuk teknis kesehatan hewan dan biosekuriti pada unit pelaksana teknis perbibitan versi pdf. Deptan.http://www.deptan.go.id/dinakkeswan_jateng/detaildata.php?id=274 Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid II, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemaen Pertanian Penggemukan kambing Potong, Subangkit Mulyono, B. Sarwono. Pedoman Praktis Beternak Kambing Domba sebagai ternak potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, 1989. Anonymous ,2009 .http://drhyudi.blogspot.com/2009/03/penyakit-orf.html Subronto (2003). Ilmu Penyakit Ternak (mamalia) 1. Edisi kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Adjid, R.M.A. 1993. Penyakit Orf pada ternak kambing dan domba serta cara. Akoso, B.T. 1991. Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan. Cet. Ke-2. PT Tirta Wacana, Yogyakarta. Abu Elzein, E.M. and F.M. Housawi. 1997. Severe long-lasting contagious ecthyma infection in goats kid. Zentralbl veterinarmed [B] 44(9) : 561-564. Lestari, SM. 2010. Orf pada Kambing dan Domba. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia ed. 1 (2010). Direktorat Kesehatan Hewan Ressang, A.A (1984). Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua. Team Leader IFAD Project: Bali Cattle Diasease Investigation Unit, Denpasar, Bali.