Anda di halaman 1dari 12

Analisis Cross-Section

BAB I PENDAHULUAN
Analisis keuangan akan lebih tajam apabila angka angka keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut bisa berupa standar internal yang ditetapkan oleh manajemen seperti target yang telah ditetapkan, perbandingan historis atau membandingkan angka angka keuangan dengan angka angka masa sebelumnya dan perbandingan dengan perusahaan atau industri sejenis. Tanpa perbandingan tidak akan diketahui apakah prestasi keuangan suatu perusahaan menunjukkan perbaikan atau sebaliknya menunjukkan penurunan. Analisis cross section adalah Teknik Analisis untuk

memperbandingkan data laporan Keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan atau industri yang sejenis dalam suatu periode tertentu. Ruang lingkup pembahasan pada analisis cross-section adalah: 1. Perbandingan Cross-Section 2. Perhitungan Rata Rata Industri 3. Perbedaan Antarindustri

Analisis Cross-Section

BAB II PEMBAHASAN

1. PERBANDINGAN CROSSECTION Analisis cross section (Perbandingan dengan perusahaan atau industri yang sejenis) akan bermanfaat untuk melihat prestasi perusahaan relatif terhadap industri dan juga bermanfaat dalam kasus khusus seperti untuk menentukan bonus bagi manajemen perusahaan. Bonus bagi manajemen perusahaan pada beberapa perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan perusahaan relatif terhadap industri. Apabila perusahaan memperoleh untung diatas industri, manajemen perusahaan akan memperoleh bonus, dan tidak memperoleh bonus apabila yang terjadi sebaliknya. Mendefinisikan industri sejenis bukan merupakan pekerjaan mudah. Industri yang bisa diperbandingkan pada dasarnya mempunyai satu atau beberapa elemen yang sama dengan perusahaan. Kesamaan tersebut antara lain : 1. Kesamaan dalam jenis bahan baku atau supplier Perusahaan bisa dikelompokan berdasar bahan baku yang dipakai, bisa juga berdasar proses produksi yang dipunyai. Standard Industrial Classification biasanya mengunakan kriteria semacam ini (Struktur fisik dan teknologi proses produksi dan homogenitas produksi). Klasifikasi semacam ini juga banyak dipakai oleh lembaga lain. Klasifikasi Industri di BEJ ( Bursa Efek Jakarta, 2002 ) I. II. III. IV. V. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Makanan Ternak Pertambangan dan Jasa Pertambangan Konstruksi Manufacturing dan Commercial A. Makanan dan Minuman B. Manufactur Tembakau C. Produk Tekstil dan Sejenisnya D. Kertas dan Produk-produk Sejenisnya E. Pakaian dan Produk Tekstil Lainya F. Produk Kertas dan Sejenisnya G. Produk Kimia dan Sejenisnya H. Produk Adhesive I. Produk Plastik dan Gelas J. Semen K. Produk Besi dan Sejenisnya L. Produk Besi Fabrikasi dan Sejenisnya M. Produk batu, beton dan sejenisnya N. Mesin O. Kabel

Analisis Cross-Section

VI. VII. VIII. IX.

X. XI. XII.

P. Peralatan Kantor dan Elektronik Q. Produk Otomotif dan sejenisnya R. Peralatan Fotografi S. Farmasi T. Barang Bahan Konsumsi ( sabun, pasta gigi, dll ) Pelayanan Transportasi Komunikasi Perdagangan Pretail dan Whole Sale Perbankan, Lembaga Keuangan Selain Bank, Lembaga Sekuritas, Asuransi, dan Real Estate: A. Perbankan B. Lembaga Keuangan Selain Bank C. Asuransi D. Property dan Real Estate Hotel dan Pelayanan Travel Perusahaan Holding dan investasi lainya Lainya

2. Kesamaan dari sisi permintaan Pendekatan ini menggunakan produk yang menghasilkan sebagai kriteria pengelompokan industri. Apabila produk - produk memenuhi kebutuhan yang sama, dan produk tersebut merupakan substitusi satu sama lain, memakai produk - produk tersebut masuk dalam Kelompok industri yang sama. Produk-produk tersebut bisa mempunyai horizon yang pendek yaitu produk produk yang sama saat ini, tetapi bisa juga menpunyai horizon jangka panjang yaitu produk - produk yang saling berkompetisi pada beberapa tahun mendatang. Perspektif jangka pendek mempunyai relevansi yang tinggi karena membicarakan situasi saat ini, tetapi perspektif jangka panjang membuat perusahaan waspada terhadap kemungkinan persaingan. Produk yang saat ini merupakan pesaing, barangkali merupakan pesaing potensial yang akan menjadi pesaing sesungguhnya pada masa mendatang. 3. Kesamaan dalam atribut keuangan Dari sudut pandang investasi, saham-saham mempunyai beberapa kesamaan atribut dimasukan ke dalam satu Kelompok. Contoh atribut yang relevan adalah risiko, rasio PER (Price Earning Ratio) dan kapitalisasi pasar untuk menentukan besar kecilnya kapitalisasi saham. Investor yang ingin menginvestasi dananya ke saham kecil barang kali akan memilih 25% saham paling kecil, dan membanding - bandingkan saham saham yang mempunyai kapitalisasi yang kecil. Dalam memilih perusahaan yang akan dipakai sebagai perbandingan, analis juga bisa menggabungkan ketiga atribut diatas. Misalkan sebuah perusahaan trasnportasi dengan aset tidak terlalu besar (Misal Rp 1,5 miliar), maka perbandingan yang tepat adalah perusahaan transportasi lainya dan yang mempunyai aset yang hampir sama besarnya. Membandingkan perusahaan tersebut dengan perusahaan transportasi lain yang mempunyai asset Rp 100 miliar barang kali tidak sepenuhnya tepat.

Analisis Cross-Section

Di Negara - Negara maju, data yang berkaitan dengan industri sejenis biasanya bisa dicari tetapi tidak demikian halnya dengan data industri di Negara negara yang belum maju seperti di Indonesia. Saat ini perusahaan yang go public dan listing di BEJ mencapai sekitar 200 saham. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih belum go public. Perusahaan yang yang belum go public biasanya tidak memberikan laporan keuangan ke public, dan dengan demikian data perbandingan akan sulit di peroleh. Perkecualian barang kali bank-bank yang mempunyai data-data keuangan nasabahnya. Tetapi data semacam ini barangkali akan sulit diakses oleh perusahaan lain, meskipun untuk perbandingan. Masalah ini akan akan semakin rumit apabila perusahaan yang tidak go public tersebut merupakan perusahaan yang dominan dalam industri tersebut

Perusahaan 1. Exxon 2. General motors 3. Mobil 4. Ford Motor 5. IBM 6. Texaco 7. Du Pont 8. Phibro Solomon 9. Amoco 10. Chevron

Penjualan $88,6 74,6 54,6 44,5 40,2 40,1 35,4 29,8 27,6 27,3

Sektor Usaha Minyak dan gas Otomotif Minyak dan gas Otomotif Computer Minyak dan gas Kimia,minyak, dan gas
Perdagangan dan keuangan

Minyak dan gas Minyak dan gas

Perusahaan private 1. Cargill 2. Mocata Metals

28,6 26,5

Biji Dealer Bullion

Masalah lain yang mungkin timbul adalah tidak jelasnya industri yang akan di pakai sebagai perbandingan. Perusahaan yang besar biasanya beroperasi tidak hanya pada satu sektor usaha saja, tetapi melakukan diversifikasi pada beberapa sektor. Konglomerasi semacam Bimantara atau Salim Group mempunyai ratusan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang sangat beragam. Apabila perusahaan semacam itu menerbitkan laporan keuanganya per segmen usaha, maka analisis akan tertolong, karena bisa menggunakan segmen yang relevan dalam analisis. Tetapi perusahaan semacam itu tidak menerbitkan laporan per segmen, laporan yang di hasilkan biasanya laporan konsolidasi yang mencakup semua usaha. Laporan konsolidasi tentu saja kurang relevan dalam analisis perbandingan. Banyak juga perusahaan yang mempunyai usaha pokok tertentu tetapi juga mempunyai usaha pada sektor lain yang barang kali tidak terlalu dominan proporsinya. Kebanyakan laporan keuangan semacam ini juga bersifat konsolidasi, tidak melaporkan per segmen. Perhatikan urutan semacam ini.

Analisis Cross-Section

A. Perusahaan dengan kegiatan tunggal pada sektor yang relevan laporan keuangan yang tersedia. B. Perusahaan dengan beberapa aktivitas, tetapi mempunyai kegiatan yang dominan, pada sektor yang relevan. Laporan keuangan tersedia. C. Perusahaan dengan banyak aktifitas, tidak ada aktivitas yang paling dominan (mirip dengan dengan konglomerasi) sulit menentukan sektor usaha yang relevan. Laporan keuangan per segmen tersedia. D. Perusahaan dengan banyak aktifitas, tidak ada aktifitas yang paling dominan. Sulit menentukan sektor usaha yang relevan. Laporan keuangan hanya berupa laporan konsolidasi. E. Perusahaan private tidak ada laporan keuangan yang dipublikasikan. (sektor usaha yang relevan adalah sektor usaha yang akan dijadikan bahan perbandingan). Perhatikan bahwa industri yang relatif jelas adalah industri dengan perusahaan-perusahaan masuk dalam ketegori A. Kategori lainya memerlukan pertimbangan tersendiri untuk menentukan bagaimana sebaiknya suatu industri di definisikan. Perusahaan dalam kategori E barang kali sangat sulit di analisis karena tidak adanya data relevan yang tersedia. Perusahaan dalam kategori D. juga sulit di analisis karena laporan keuangan yang tersedia masih bersifat konsolidasi. Menetukan industri yang paling tepat untuk perbandingan dan mengkomunikasikan ke pihak eksternal kadang-kadang bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Sebagai contoh, Bankers Trust adalah bank yang terlibat dalam jual beli surat-surat berharga. Sifat usaha semacam ini lebih berisiko di bandingkan dengan usaha perbankan konvensional yang memfokuskan pada manajemen tingkat bunga (mengelola spread tingkat bunga deposito dengan tingkat bunga pinjaman). Tetapi pasar keuangan (dan juga para analisnya) mengelompokan Bankers Trust ke dalam Kelompok perbankan, yang mengakibatkan usaha Bankers Trust nampak lebih berisiko dibandingkan rata-rata industri . Akibatnya rasio PER Bankers Trust lebih rendah dibandingkan rasio PER industri, karena ada persepsi bahwa bankers trust lebih berisiko dibandingkan rata-rata industri. Misalnya bankers trust dibandingkan dengan Kelompok investment bank yang terlibat dalam jual beli saham dan surat berharga lainya, barang kali Bankers Trust tidak akan nampak tinggi risikonya, dengan hasil PERnya tidak terlalu rendah PER industri. Pada beberapa situasi barang kali tersedia angka industri di dalam negeri. Contoh yang paling ekstrim adalah penerbangan Singapura (Singapore Airlines/SIA) yang merupakan satu - satunya maskapai penerbangan di Singapura. Di Indonesia kita mempunyai PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang merupakan satu-satunya angkutan kereta api di Indonesia. Dalam situasi semacam ini perbandingan dengan rata-rata industri domestik tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus Singapore airlines, analis barangkali bisa membandingkan angkaangka SIA dengan angka-angka dari maskapai lainya seperti Malaysian Airlines (MAS), British airways. Dalam kasus PJKA, barang kali analis tidak bisa membandingkan secara langsung dengan perusahaan kereta api di Negara-negara lainya, karena meskipun sama-sama bergerak dalam industri kereta api yang merupakan BUMN akan di bebani tugas sebagai agen sosial yang mempunyai misi menjalankan tugas sosial tanpa memikirkan keuntungan. Sementara di

Analisis Cross-Section

Negara lain misi semacam itu barang kali tidak ada. PJKA di Indonesia memegang monopoli angkutan kereta api, meskipun barang kali ada pengendalian harga. Di luar negeri barang kali persaingan yang terjadi merupakan persaingan yang sempurna. Dengan beberapa keterbatasan tadi analis memerlukan pertimbangan-pertimbangan dalam menetukan perbandingan yang tepat untuk PJKA. Barang kali perbandingan dengan standar internal (target) akan lebih tepat diterapkan untuk PJKA dengan asumsi target tadi di susun secara realitis. Berikut ini rasio-rasio keuangan untuk beberapa Negara. Tabel Perbandingan Rasio-rasio Keuangan Internasional Rasio lancar Total hutang ke Total asset Times interest Earned Perputaran Persediaan Rata-rata Umur piutang Profit Margin Return On Total Asset Jepang 1,15 0,84 1,60 5,00 86 hari 0,013 0,012 Korea 1.13 0,78 1,80 6,60 33 hari 0,023 0,028 Amerika Serikat 1,94 0,47 6,50 6,80 43 hari 0,054 0,074

Secara umum Nampak bahwa perusahaan Amerika Serikat lebih likuid, solvable, efisien, dan menguntungkan dibandingkan dengan perusahaan Jepang dan Korea. Apakah perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan akuntansi? Setelah perbedaan akuntansi disesuaikan nampak bahwa kesimpulan di atas masih tetap berlaku, sehingga perbedaan akuntansi nampaknya tidak mempengaruhi kesimpulan di atas. Pertanyaan berikutnya adalah apakah perbedaan ini di sebabkan oleh perbedaan faktor budaya dan intitusional. Sampai saat ini riset belum mengarah sampai ke riset untuk menjawab pertanyaan tersebut. Barangkali pertanyaan tersebut akan sangat relevan untuk dijawab di atas perbedaanperbedaan yang terjadi antar Negara tersebut.

2. PERHITUNGAN RATA RATA INDUSTRI


Untuk menghitung rata-rata industri seorang analis mempunyai beberapa alternatif:

(1). Menghitung nilai tunggal sebagai perbandingan, (2). Menghitung nilai tunggal dengan dispersinya ( standar deviasinya), (3). Menghitung nilai untuk percentile tertentu (misal menghitung nilai untuk perusahaan-perusahaan yang mempunyai ukuran 25% paling kecil).

Analisis Cross-Section

Untuk perhitungan (1) di atas ada beberapa alternatif yang bisa dipakai : (1). Menghitung rata-rata aritmatika, (2). Menghitung rata-rata tertimbang, (3). Menggunakan median, (4). Menggunakan modus. Misalkan kita mempunyai data suatu industri yang terdiri dari beberapa perusahaan sebagai berikut :
A 10% 300 350 B 12% 420 400 C 12% 250 420 Perusahaan D E 13% 9% 200 250 450 460 F 12% 210 350 G 8% 310 340 H 9% 335 400

ROA Nilai Buku Saham Nilai Pasar Saham

Dengan perhitungan rata-rata aritmatika, ROA industri bisa dihitung sebagai berikut : 1/8 (10 + 12 + 12 + 13 + 9 + 12 + 8 + 9) = 10,625%. Angka ini kemudian bisa dipakai sebagai standar untuk perbandingan. Alternatif lain adalah dengan menghitung rata-rata tertimbang. Misalkan analisis menggunakan nilai buku saham sebagai pembobotnya, rata-rata ROA bisa dihitung sebagai berikut : 300/2.275(10%) + 420/2.275 (12%) + 250/2.275 (12%) + 200/2.275 (13%) + 250/2.275 (9%) + 210/ 2.275 (12%) + 310/2.275 (8%) + 335/2.275 (9%) = 1,31 +2,21 + 1,32 + 1,14 + 0,98 + 1,11 + 1,09 + 1,33 = 10,50%. Misalkan analis akan menggunakan nilai pasar pembobotnya, rata-rata industri bisa dihitung sebagai berikut : saham sebagai

350/3.170 (10%) + 400/3.170 (12%) + 420/3.170 (12%) + 450/3.170 (13%) + 460/3.170 (9%) + 350/3.170 (12%) + 340/3.170 (8%) + 400/3.170 (9%) = 1,1 + 1,51 + 1,59 + 1,84 + 1,31 +1,32 + 0,86 + 1,14 = 10,67%. Perhitungan rata-rata sangat sensitif terhadap nilai- nilai ekstrem. Misalkan ada dua perusahaan dengan nilai ekstrem +30% (perusahaan I) dan 10% (perusahaan J). Misalkan perusahaan J mengalami musibah kebakaran yang mengakibatkan rugi 10% dan perusahaan I baru saja memperoleh lisensi impor, barangkali analis akan menghilangkan dua angka ekstrem tersebut. Dengan cara semacam itu angka-angka outlier bisa dihilangkan dan tidak merusak analisis. Cara lain yang bisa digunakan untuk menghilangkan pengaruh nilai ektrem adalah dengan menggunakan angka median atau modus. Dengan median ROA perusahaan diurutkan sebagai berikut : 8% 9% 9%10% 12% 12% 12% 13%, dan nilai tengahnya atau mediannya adalah 11%. Misalkan kita menggunakan modus (nilai yang paling sering keluar), maka angka yang dipilih untuk dijadikan ratarata industri adalah 12%.

Analisis Cross-Section

Dari angka-angka yang dihitung di atas, berikut ini ringkasan nilai perhitungan dengan metode yang berbeda tersebut.

ROA Rata-rata Industri Rata-rata Aritmatik Rata-rata tertimbang (dengan bobot nilai buku saham) Rat-rata Tertimbang (dengan bobot nilai pasar saham) Median Modus 10,63% 10,5%

10,67% 11,00% 12,00%

Pemilihan angka yang akan dijadikan rata-rata industri akan tergantung dari pertimbangan analis. Dari angka-angka di atas, ROA rata-rata industri adalah 10-12%. 3. PERBEDAAN ANTARINDUSTRI Pada waktu analisis menggunakan perbandingan industri, analis mempunya asumsi implisit, yaitu ada perbedaan berarti dalam rasio-rasio keuangan antarindustri. Kalau asumsi semacam itu tidak terpenuhi maka tidak ada artinya menggunakan perbandingan dengan industri yang sejenis, karena perbandingan dengan rasio perusahaan dalam perekonomian secara keseluruhan akan menghasilkan analisis yang sama. Perbandingan antarindustri secara implisit juga mengakui bahwa ada perbedaan risiko bisnis antarindustri. Apabila asumsi itu benar, maka perbandingan dengan perusahaan-perusahaan dalam industri relevan dilakukan karena perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain yang mempunyai kelas risiko bisnis yang sama. Tetapi apabila risiko bisnis antarindustri tidak berlainan, maka perbandingan antarindustri tidak punya dasar yang cukup kuat. Penelitian yang dilakukan oleh David F. Scott Jr. Dan John D. Martin (1975) menunjukkan bahwa memang ada perbedaan yang berarti dalam angka angka industri. Berikut ini hasil penelitian yang dilakukan keduanya.

Tabel Rata-rata Rasio Modal Saham (Data Amerika Serika, dalam %)


Industri Luar Angkasa (Aerospace) Komponen dan Aksesori Otomotif Kimia 1972 39,1 (15,3) 51,2 (15,5) 47,6 (11,8) 1971 39,8 (12,6) 51,0 (17,4) 50,7 (14,7) Tahun 1970 38,5 (14,1) 52,1 (16,4) 48,8 (12,5) 1969 36,3 (13,6) 51,8 (16,5) 50,0 (13,1) 1968 42,8 (12,9) 51,4 (16,0) 48,8 (14,4)

Analisis Cross-Section
Obat obatan Produk Gelas dan Kontainer Mesin dan Peralatan Mesin Pertambangan Besi Minyak Kertas Produk Kehutanan Retail Baja F rasio yang diperoleh Degree of freedom Nilai F Kritis 1% 5%

63,3 (12,3) 51,5 (11,0) 55,1 (12,9) 63,0 (20,5) 44,4 (15,1) 58,7 (20,3) 46,1 (10,4) 43,3 (14,0) 54,9 (3,6) 6,34 11.265 1,83 2,34

64,0 (13,3) 52,1 (10,8) 55,7 (14,0) 63,5 (20,1) 42,0 (7,6) 60,3 (22,1) 47,2 (9,4) 45,4 (12,6) 55,0 (3,5) 5.54 11.256 1,83 2,34

61,1 (13,5) 51,7 (11,1) 53,3 (13,6) 62,4 (22,7) 44,6 (10,3) 58,4 (21,2) 46,4 (9,4) 45,5 (14,0) 55,0 (2,9) 4,29 11.240 1,83 2,34

61,9 (14,0) 51,3 (11,1) 54,5 (10,2) 65,3 (17,9) 44,2 (8,3) 57,8 (25,7) 47,7 (12,0) 46,5 (13,6) 56,3 (3,1) 4,75 11.219 1,83 2,34

57,6 (14,3) 52,2 (13,0) 57,5 (9,3) 60,5 (15,9) 46,1 (12,5) 76,0 (15,9) 47,1 (15,1) 50,3 (13,4) 59,6 (3,3) 3,40 11.153 1.83 2,37

Catatan: Angka dalam kurung menunjukkan standar deviasi.

Dari tabel diatas nampak bahwa F-rasio yang diperoleh untuk setiap tahun, mulai tahun 1968 sampai tahun 1972, selalu lebih besar dibandingkan dengan Fkrisis. Dengan demikian bisa diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan rasio modal saham antar industri yan signifikan. Hasil semacam itu juga didukung oleh penelitian yang serupa dengan menggunakan data Kanada. Berikut ini hasil penelitian tersebut. Tabel Rasio Hutang / Modal saham per industri (Data Kanada)
Industri 1968 1969 Kimia 2,77518 2,74996 Konstruksi dan Material 1,70373 2,69152 Pemrosesan Makanan 1,44119 1,45475 Automobil 3,11478 3,26718 Elektronik 1,42243 1,41400 Pertambangan 2,26345 2,23318 Perdagangan 2,35166 2,32300 Minyak 2,48330 2,39289 Kertas Produk Kehutanan 2,70900 2,71590 Baja 2,64414 2,62368 Transportasi 0,13400 0,13480 Utilitas 3,38133 3,43300 Manufacturing 1,94973 1,95253 Nilai F rasio 1,1980 1,1967 Nilai F kritis 1,83 untuk tingkat signifikansi 5% 1970 2,72450 1,52544 1,36952 3,20768 1,40583 2,17862 2,83477 2,40433 3,08647 2,56113 0,13500 3,33228 2,12091 1,3487 1971 2,09404 1,54469 1,40465 3,05236 1,58551 2,07911 2,83144 3,09860 2,56404 2,37480 0,25600 3,66126 2,12809 1,4162 1972 2,17406 1,56155 1,39697 3,41684 1,82703 1,88028 2,95082 3,33442 2,71255 2,30351 0,25575 2,98386 2,12809 1.4979

Dari tabel di atas nampak bahwa tidak ada perbedaan rasio hutang/modal saham antar industri. Nilai F hitung untuk setiap tahun lebih kecil dari nilai F-

Analisis Cross-Section

kritis dengan tingkat signifikansi 5%. Berikut ini data rasio keuangan Indonesia 10 untuk beberapa industri yang dipilih secara acak. Tabel Rata Rata Industri BEJ (Februari 1995)
Industri Semen Keramik, Plastik Kimia Kertas Ban Karet Otomotif Elektronik Tekstil Garmen Farmasi Makanan, Minuman, Tembakau Barang Konsumsi Bank Agribisnis Pertambangan Penjelasan: DER : Debt Equity Ratio ROI : Return On Investment ROE : Return On Equity NPM : Net Profit Margin DER 0,74 0,66 1,13 1,32 0,36 1,13 1,16 1,39 1,30 1,85 0,71 1,16 8,90 0,79 1,05 ROI 2,85 5,00 3,00 3,48 5,65 4,31 2,72 3,18 3,50 9,16 9,17 9,66 1,58 8,20 3,60 ROE 5,20 7,70 2,80 8,90 7,70 7,85 5,30 5,14 7,55 18,9 15,22 18,6 14,19 14,4 6,72 NPM 9,75 13,80 6,54 14,08 15,80 8,20 3,98 8,02 5,98 11,70 13,75 10,45 14,10 9.97 16,90

Rata rata diatas dihitung dengan rata rata aritmatika. Analis bisa mempunyai fleksibilitas yang lebih besar dalam hal penentuan industri yang dipilih karena kualifikasi dari BEJ barangkali tidak memuaskan juga dalam hal perhitungan rata rata industri. Analisis di atas memasukkan data outlier seperti kerugian pada beberapa perusahaan. Analisis ingin menghilangkan data outlier tersebut dari analisis. Nampak dari tabel di atas rata rata keuangan cukup bervariasi, meskipun pengujian empiris untuk data data di Indonesia, untuk menguji apakan ada perbedaan risiko antasbisnis belum dilakukan.

Analisis Cross-Section

BAB III PENUTUP


Kesimpulan Analisis keuangan yang lebih tajam bisa memperoleh gambaran yang jelas mengenai prestasi perusahaan, dapat diketahui dengan analisis perbandingan. Analisis ini dilakukan dengan perbandingan terhadap data masa lalu ataupun dengan perbandingan terhadap perusahaan lain atau rata rata industri (analisis cross-section) pada titik waktu tertentu. Mendefinisikan industri bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Ada beberapa cara untuk mendefinisikan industri: 1. Kesamaan dalam jenis bahan baku; 2. Kesamaan dari sisi permintaan; dan 3. Kesamaan dalam atribut keuangan. Masalah lain yang mungkin timbul dalam analisa perbandingan adalah tidak jelasnya industri yang relevan. Sebagai contoh apabila ada suatu perusahaan yang tidak go public padahal perusahaan tersebut cukup dominan angka angka industri tidak representatif. Masalah lain adalah adanya beberapa perusahaan yang bergerak dalam berbagai jenis usaha dan laporan keuangan yang diterbitkan adalah laporan keuangan konsolidasi. Informasi persegmen industri tidak dipublikasikan. Dalam situasi dimana tidak ada standar industri, maka akan sulit untuk melakukan perbandingan sehingga harus dilakukan secara hati hati agar standar nilai yang diambil tidak keliru atau nyaris bisa diukur standarisasinya. Perhitungan rata-rata industri bisa dilakukan dengan rata-rata aritmatika, ratarata tertimbang, median atau modus. Data outlier bisa dihilangkan apabila kita berasumsi bahwa data tersebut adalah kejadian luar biasa. Perbandingan industri mempunyai asumsi implisit bahwa risiko bisnis antarindustri berbeda dan dengan demikian perbandingan dengan industri bisa dilakukan. Pengujian empiris menunjukkan adanya perbedaan kelas risiko antarindustri.

11

Analisis Cross-Section

DAFTAR PUSTAKA
Mamduh Hanafi dan Abdul Halim, 2009, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga, UPP STIM YKPN, Yogyakarta. www.google.com

12