Anda di halaman 1dari 4

BAB 4 PEMURNIAN FRAKSI

4.1 Tujuan Tujuan dilakukannya pemurnian fraksi yaitu memisahkan suatu senyawa atau bercak atau isolat tertentu yang diinginkan dari fraksi yang mungkin mengandung lebih dari satu senyawa atau bercak atau isolat hasil dari proses fraksinasi. 4.2 Metode Metode yang digunakan yaitu Kromatografi Lapis Tipis Preparatif. 4.3 Alat dan Bahan yang Digunakan A. Alat: 1) Botol vial 2) Cawan penguap 3) Chamber 4) Corong 5) Gelas ukur 6) Kertas saring 7) Piala gelas 8) Pipa kapiler 9) Pipet tetes 10) 11) 12) Plastik wrap Plat kaca ukuran 20x20 cm Spatula

B. Bahan: 1) Campuran fraksi n-heksan etil asetat (30:70) dan fraksi n-heksan etil asetat (20:80). 2) Ethanol 3) Pengembang kloroform-methanol (95:5)

4.4 Prosedur Pertama-tama plat kaca dibersihkan dengan aseton kemudian bubur silika gel dibuat dengan cara mencampurkan silika gel dengan aquades dengan perbandingan 1:2, dikocok kuat hingga campuran homogen. Setelah homogen bubur silika gel dituangkan ke atas pelat kaca dan diratakan. Lapisan silika gel dibiarkan mengering pada suhu kamar selama 10-20 menit kemudian dikeringkan pada suhu 110-120C dalam oven selama 1-2 jam. Setelah kering pelat KLT siap digunakan. Sejumlah fraksi dilarutkan dalam pengembang kloroform-methanol (95:5) kemudian ditutulkan di atas lapisan silika gel secara berderet membentuk pita sebagai garis awal proses elusi dengan bantuan pipa kapiler. Hasil penotolan dikeringkan beberapa saat. Kemudian pelat dimasukkan ke dalam chamber berisi pengembang yang telah jenuh. Proses elusi dibiarkan hingga mencapai tanda batas atas. Pita yang terbentuk diamati secara visual dan pada sinar UV. Pita komponen yang ingin dipisahkan dikerok kemudian hasil kerokan disaring dengan pengembang yang digunakan. Pada isolat dilakukan evaluasi menggunakan KLT yaitu kromatografi lapis tipis isolat. Setelah itu baru dilakukan kromatografi dua arah. Pengerjaan KLT pada isolat dan KLT dua arah sama dengan KLT preparatif yang membedakan yaitu tidak ada proses pengerokan dan pada KLT dua arah, setelah dilakukan proses elusi pertama pelat diputar arah 90 lalu dilakukan proses elusi kedua dengan pengembang yang berbeda yaitu kloroform-methanol (....:....). Kemudian bercak yang nampak diamati.

4.5 Hasil

Gambar...... Pita isolat yang terbentuk setelah proses elusi KLT Preparatif.

Gambar.....Hasil KLT Isolat yang diperoleh dari pemurnian fraksi.

Gambar......Hasil Kromatografi Lapis Tipis Dua Arah 4.6 Pembahasan Setelah didapatkan berbagai macam fraksi pada BAB sebelumnya, pada BAB ini fraksi yang diduga mengandung isolat kurkumin dimurnikan menggunakan metoda Kromatografi Lapis Tipis Preparatif. Fraksi tersebut harus dimurnikan karena dikhawatirkan masih mengandung isolat lain atau komponen

lain yang tidak diinginkan untuk diisolasi. Dan jika benar terdapat komponen lain selain isolat, maka isolat tersebut dapat dipisahkan dengan cara mengerok pita isolat yang dimaksud sehingga terpisah dari komponen lain. Tahap pertama yaitu dilakukan KLT preparatif, harus dipastikan sebelumnya bahwa pengembang telah jenuh, ditandai dengan ada sensasi hangat pada bagian dalam chamber, perlu diperhatikan juga saat memberi tanda garis penotolan fraksi, jangan sampat terbentuk goresan yang merusak lapisan silika gel karena akan mempengaruhi proses awal elusi fraksi, kegagalan fraksi terelusi dapat terjadi karena lapisan silika gel rusak. Kemudian proses elusi dilakukan hingga batas garis yang ditentukan. Maka akan terbentuk suatu bentuk pita isolat. Untuk menentukan mana komponen yang diingkan yaitu dengan cara melihat dan membandingkan warna pita isolat yang terbentuk dengan warna pada pita isolat literatur. (literaturnya waktu itu bechus yg nyari di komputer lobby d6) Pada literatur terlihat bahwa kurkumin mempunyai bercak isolat berwarna kuning muda, paling muda diantara dua bercak lain yaitu, orange dan orange tua). Atas dasar itu lah dipilih pita nomor satu (paling dekat dengan garis awal) dengan Rf sebesar 0,41 yang merupakan isolat yang akan dikerok untuk dievaluasi lebih lanjut kemurniannya sebagai komponen kurkumin. Kemudian hasil kerokan isolat dipisahkan dari silika gelnya dengan cara disaring menggunakan pengembang yang sama. Setelah cukup yakin semua kurkumin larut dalam pengembang kemudian dilanjutkan dengan KLT isolat. Setelah didapatkan hanya satu bercak saja, menandakan pemisahan telah sempurna dan isolat dapat dievaluasi lebih lanjut pada KLT dua arah. KLT dua arah sama halnya dengn KLT sebelumnya dalam hal pengerjaan. Yang berbeda disini adalah proses elusi dilakukan dua kali yaitu pertama dilakukan ke arah atas dengan pengembang kloroform-methanol (95:5) (SITASI), setelah menyentuh tanda batas maka pelat dikeluarkan dan dibiarkan kering sebentar, setelah itu diputar 90 dan dimasukkan ke dalam chamber yang berisi larutan pengembang yang berbeda perbandingannya yaitu kloroform-methanol (...:....) (SITASI). Hasil dari KLT dua arah terdapat satu bercak pada proses elusi pertama dan tiga bercak pada proses elusi kedua. Adanya tiga bercak ini menandakan bahwa isolat yang diisolasi belum murni atau dengan kata lain masih ada komponen lain yang belum terpisah dari isolat yang diinginkan, jadi isolat tidak sepenuhnya merupakan kurkumin. Ketidakmurnian isolat yang didapatkan dapat terjadi karena banyak faktor, antara lain campuran eluen yang kurang dapat memisahkan antar komponen atau perbandingan komposisi eluen yang kurang tepat untuk dapat memisahkan antar komponen.( TEU NYAHO DEUI MIW REK NGABAHAS NAON....PAAAAAS)