Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa terus berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Pemakaian bahasa diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Manusialah yang menggunakan kata , dan manusia yang menambah kosa kata sesuai dengan kebutuhan. Bahasa dan masyarakat memunyai hubungan yang sangat erat dan saling berkaitan karena bahasa adalah system lambing bunyi arbriter yang digunakan anggota kelompok social untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Kata-kata biasanya mengandung komponen makna yang kompleks. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pelbagai hubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan , tumpang tindih, dan lain-lain. Hal demikian pun sebenarnya didukung oleh factor ekstrabahasa, yakni factor nonlingual yang berupa konteks-konteks keperluan dan pemakaian bahasa yang beragam. Dalam kehidupan yang penuh dengan kompleksitas ini, manusia membutuhkan banyak konsep dan istilah, mulai dari yang paling umum sampai yang paling detail sekalipun. Keperluan manusia terhadap kata dan istilah telah secara langsung atau tidak langsung menentukan terjadinya relasi makna kata dalam bentuk dan kategori semantic tertentu. Untuk kepentingan pengkajian semantic, para ahli telah membuat klasifikasi berbagai hubungan makna dalam berbagai kategori. Makna kata-kata tersebut membentuk pola tersendiri yakni pola tautan semantic atau relasi leksikal. Tautan kata-kata itu berwujud hiponimi, hipernimi, meronimi, holonimi, dan polisemi. Perwujudan tautan makna itu dapat berupa relasi antara bentuk leksikal dan makna leksikal dan relasi antara dua makna.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan relasi makna? 2. Bagaimana bentuk-bentuk relasi makna (hiponimi, hipernimi, meronimi, holonimi, dan polisemi) dalam bahasa Indonesia? 3. Apa perbedaan antara polisemi dan homofoni?

C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian relasi makna. 2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk relasi makna (hiponimi, hipernimi, meronimi, holonimi, dan polisemi) dalam bahasa Indonesia? 3. Untuk mengetahui perbedaan antara polisemi dan homofoni?

PEMBAHASAN
A. Hiponimi, Hipernimi, Meronimi, dan Holonimi Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti nama dan hypo berarti di bawah. Jadi secara harfiah berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantic, Verhaar (dalam Chaer 2002:98) menyatakan hiponim adalah ungkapan (biasanya berupa kata, frasa atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Hiponimi adalah hubungan inklusi. Hiponimi mengacu pada hubungan vertikal dari taksonomi (Saeed 2000:6869). Saeed menyamakan istilah hiponimi dengan hipernimi (superordinasi). Pendapat ini berbeda dengan Cruse (1995: 88-89) yang menjelaskan bahwa jika X adalah hiponim dari Y, maka Y adalah hipernim dari X. Hipernim atau superordinasi berkaitan dengan hiponim. Hipernim mengacu pada sesuatu yang lebih umum dari hiponim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim. Misalnya kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab kata tongkol berada atau termasuk dalam makna kata ikan. Tongkol memang ikan tetapi ikan bukan hanya tongkol melainkan juga termasuk bandeng, nila, koi dan sebagainya. Jika diskemakan menjadi: Ikan

Bandeng

Tongkol

Nila

Hiu

Jika relasi antara dua buah kata yang berantonim, bersinonim, dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi antara dua buah kata yang yang berhiponim ini adalah searah. Jadi, kata Tongkol berhiponim terhadap kata ikan; tetapi kata ikan tidak berhiponim terhadap kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan. Dalam hal ini relasi antara ikan dan tongkol (atau jenis ikan lainnya) disebut

hipernimi. Jika tongkol berhiponim terhadap ikan, maka ikan berhipernim terhadap tongkol. Perhatikan bagan berikut: Hiponim Tongkol Hipernim ikan

Contoh lain, kata mobil dan kendaraan. Kata mobil berhiponim terhadap kata kendaraan, sebab mobil adalah salah satu jenis kendaraan. Sebaliknya, kata kendaraan berhipernim terhadap kata mobil, sebab kata kendaraan meliputi makna mobil di samping jenis kendaraan lain seperti sepeda, motor, bajaj, kereta api, dan sebagainya. Hubungan antara sepeda, motor, mobil, kereta api, dan pesawat terbang yang sama-sama merupakan hiponim terhadap kendaraan disebut kohiponim. Oleh karena itu sepeda, motor, bajaj, kereta api berkohiponim dengan pesawat terbang. Dalam definisi Verhaar di atas disebutkan bahwa hiponim terdapat pula dalam bentuk frasa dan kalimat akan tetapi sukar sekali mencari contohnya dalam bahasa Indonesia karena juga hal ini lebih banyak menyangkut masalah logika dan bukan masalah linguistic. Oleh karena itu, menurut Verhaar (dalam Chaer, 2002:100) masalah ini dilewati saja, tidak perlu dipersoalkan lagi. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandalkan adanya kelas atasan dan kelas bawahan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan sebuah hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Relasi makna lesikal lainnya adalah meronimi. Meronimi adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan hubungan bagian-keseluruhan antar unsur leksikal (Saeed, 2000:70). Definisi ini sesuai dengan asal kata meronim dari bahasa Yunani, yaitu: meros bagian dan onima nama. Cruse (1995:162) mengaitkan istilah

moronimi dengan holonimi. Jika X adalah meronim dari Y, maka Y adalah holonim dari X. Istilah ini juga berasal dari bahasa Yunani holos keseluruhan. Contoh: Contoh: halaman adalah meronim dari buku sedangkan buku adalah holonim dari halaman.

B. Polisemi Istilah polisemi berasal dari bahasa Yunani poly banyak dan sema tanda. Berkaitan dengan polisemi, Palmer (dalam Suherlan, 2004:267) menyatakan the same word may have a set of different meanings sedangkan Simpson (dalam Suherlan, 2004:267) menyatakan a word which has two (or more) related meanings. Kedua pendapat pakar tersebut menyiratkan kesamaan pendapat tentang apa sesungguhnya yang disebut polisemi. Polisemi adalah kata-kata yang mengandung makna lebih dari satu, tetapi makna itu masih berkaitan dengan makna dasarnya atau disebut juga kata beraneka. Umpamanya kata kepala dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut memiliki makna (1) bagian tubuh dari kleher sampai ke atas, (2) bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas, depan dan merupakan hal yang perting, seperti pada kata kepala kereta api, kepala motor, (3) bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, misalnya kepala paku, kepala jarum, (4) pemimpin atau ketua seperti pada kepala sekolah, kepala kantor, (5) jiwa atau orang, seperti dalam kalimat setiap kepala akan menerima bantuan, (6) akal budi, seperti dalam kalimat isi kepalanya benar-benar kosong. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam bahasa Indonesia kata kepala setidaknya mengacu kepada enam buah konsep makna. Dalam perkembangannya komponen-komponen makna ini berkembang menjadi makna-makna tersendiri. Pada frasa kepala surat terletak di sebelah atas-lah yang diterapkan sebagai makna. Pada frasa kepala paku dan kepala jarum komponen makna berbentuk bulat-lah yang diterapkan sebagai makna; sedangkan pada frasa kepala kereta api komponen makna bagian terpenting-lah yang diterapkan sebagai makna. Jika diperhatikan dengan seksama, kata kepala dengan segala macam maknanya itu maka dapat dinyatakan makna-makna yang banyakdari sebuah kata polisemi itu

masih ada sangkut pautnya dengan makna dasar (asal), karena dijabarkan dari komponen makna yang ada pada makna asal kata tersebut. Makna-makna yang bukan makna asal dari sebuah kata bukanlah makna leksikal sebab tidak merujuk kepada referen dari kata itu. Selain itu, kehadirannya harus pula dalam satuan-satuan gramatikal yang lebih tinggi dari kata, seperti frasa atau kalimat. Tanpa kehadirannya dalam satuan gramatikal yang lebih besar dari kata, kita tidak akan tahu akan maknamakna lain itu. Berbeda dengan makna asalnya yang sudah jelas dari makna leksikalnya karena adanya referen tertentu dari kata tersebut. Sulit untuk membedakan antara polisemi dan homonimi karena kedua istilah ini berhubungan dengan makna sekaligus bentuk. Namun, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara polisemi dan homonimi. Polisemi memiliki ciri-ciri (1) terdiri atas satu kata; (2) makna-makna pada polisemi saling memiliki keterkaitan atau ada hubungan antara satu dengan yang lain sedangkan hominimi (1) terdiri atas dua buah kata atau lebih; (2) antara makna yang satu dengan makna yang lain tidak ada kaitannya; (3) bentuk-bentuk homonimi berasal dari dialek yang berbeda.

SIMPULAN Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti nama dan hypo berarti di bawah. Jadi secara harfiah berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantic, Verhaar (dalam Chaer 2002:98) menyatakan hiponim adalah yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Hiponimi mengacu pada hubungan vertikal dari taksonomi (Saeed 2000:68-69). Saeed menyamakan istilah hiponimi dengan hipernimi (superordinasi). Pendapat ini berbeda dengan Cruse (1995: 88-89) yang menjelaskan bahwa jika X adalah hiponim dari Y, maka Y adalah hipernim dari X. Hipernim atau superordinasi berkaitan dengan hiponim. Hipernim mengacu pada sesuatu yang lebih umum dari hiponim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim. Jika relasi antara dua buah kata yang berantonim, bersinonim, dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi antara dua buah kata yang yang berhiponim ini adalah searah. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandalkan adanya kelas atasan dan kelas bawahan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan sebuah hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Relasi makna lesikal lainnya adalah meronimi. Meronimi adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan hubungan bagian-keseluruhan antar unsur leksikal (Saeed, 2000:70). Definisi ini sesuai dengan asal kata meronim dari bahasa Yunani, yaitu: meros bagian dan onima nama. Cruse (1995:162) mengaitkan istilah moronimi dengan holonimi. Jika X adalah meronim dari Y, maka Y adalah holonim dari X. Istilah ini juga berasal dari bahasa Yunani holos keseluruhan. Istilah polisemi berasal dari bahasa Yunani poly banyak dan sema tanda. Berkaitan dengan polisemi, Palmer (dalam Suherlan, 2004:267) menyatakan the same word may have a set of different meanings sedangkan Simpson (dalam Suherlan, 2004:267) menyatakan a word which has two (or more) related meanings . Polisemi adalah kata-kata yang mengandung makna lebih dari satu, tetapi makna itu masih berkaitan dengan makna dasarnya atau disebut juga kata beraneka. terdapat perbedaan

yang sangat signifikan antara polisemi dan homonimi. Polisemi memiliki ciri-ciri (1) terdiri atas satu kata; (2) makna-makna pada polisemi saling memiliki keterkaitan atau ada hubungan antara satu dengan yang lain sedangkan hominimi (1) terdiri atas dua buah kata atau lebih; (2) antara makna yang satu dengan makna yang lain tidak ada kaitannya; (3) bentuk-bentuk homonimi berasal dari dialek yang berbeda.

Daftar Pustaka Chaer, Abdul. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Cruse, D.A. 1995. Lexical Semantics. Cambridge: Cambridge University Press. Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Saeed, John.I. 2000. Semantics. Oxford: Blackwell. Sudaryat, yayat. 2008. Makna dalam Wacana.Bandung:Yrama Widya Suherlan dan Odien R. 2004. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya (Pengantar Memahami Linguistik). Serang: FKIP Untirta Press.