Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Pembanguna kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Pada saat ini kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan Negara di Asia lainnya seperti Filipina yaitu 210 per 100.000 kelahiran hidup dan Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu tertinggi di india dan Bangladesh 440 per 100.000 kelahiran hidup. Tinggi angka kematian hidup di Indonesia disebabkan oleh tiga factor utama yaitu, perdarahan, infeksi, dan toxemia gravidarum. Salah satu dan ketiga factor tersebut adalah perdarahan dan perdarahan dapat terjadi pada wanita dengan mola hidatidosa. Dalam mencegah terjadi kematian pada wanita ( khususnya yang mengalami perdarahan yang disebabkan karena mola hidatidosa). Mola hidatidosa adalah suatu penyakit trofloblas gestasional sebagai akibat dari suatu kehamilan yang berkembang tidak sempurna. Kehamilan mola hidatidosa terjadi pada ibu multipara dengan kondisi kesehatan status gizi yang kurang dan lebih banyak di jumpai pada golongan sosio ekonomi rendah. Di Indonesia menurut laporan beberapa penulis dari berbagai daerah menunjukan angka kejadian mola hidatidosa di Indonesia sekitar 1 : 51 sampai 1 : 141 kehamilan. Sedangkan di Negara barat angka kejadian ini lebih rendah di dari pada Negara-negara Asia dan amerika latin. Misalnya, Amerika Serikat 1 : 1.450 kehamilan (hertig dan Sheldon, 1978) dan di Inggris 1 : 1500 kehamilan ( Womack dan elston, 1985 ) Mengingat semakin meningkatnya angka kejadian mola hidatidosa, maka perlu perawatan intensif dan tindakan pelayanan yang komprehensif melalui proses keperawatan serta melibatkan banyak sector. Pemerintah melakukan upaya diantaranya deteksi dini pada wanita serta pelayanan rujukan yang terjangkau. Diharapkan dengan upaya tersebut , angka kematian ibu dapat ditekan menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup. Dan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan perlu ditingkatkan mutunya.

B. Tujuan penulisan 1. Tujuan Umum Memberikan asuhan keperawatan yang tepat kepada Ny. S yang mengalami kasus Mola hidatidosa. 2. Tujuan Khusus a. Melakukan pengkajian kepada Ny.S terkait dengan kasus yang dialaminya b. Menegakkan diagnosa yang tepat dari hasil analisa data yang dilakukan saat pengkajian. c. Memberikan intervensi yang lengkap kepada Ny.S untuk mengatasi masalah yang sedang dialaminya. d. Memberikan pengetahuan berupa pendidikan kesehatan kepada Ny. S dalam mendeteksi gejala-gejala patologis saat sedang mengandung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. TinjauanTeori 1. Defenisi Mola hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma vilus korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus; gambaran yang diberikan ialah sebagai sebuah gugus anggur. Jaringan tropoblast pada vilus kadang-kadang berprofilerasi ringan dan kadang-kadang keras, dan mengeluarkan hormon, yakni human chorionic gonadotropin (hCG) dalam jumlah yang lebih besar daripada kehamilan biasa (Prawirohardjo & Wikjosastro, 2005). Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofik(Mansjoer, 2005). Mola hidatidosa merupakan salah satu dari tiga jenis neoplasma trofoblastik gestasional(Bobak dkk, 2005).

2. Etiologi Menurut Prof. Rustam Moechtar dalam bukunya Sinopsis Obstetri, penyebab mola hidatidosa belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab adalah:

a.

Faktor ovum Spermatozoon memasuki ovum yang telah kehilangan nukleusnya atau dua serum memasuki ovum tersebut sehingga akan terjadi kelainan atau gangguan dalam pembuahan.

b. Keadaan sosial ekonomi yang rendah Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.

c.

Paritas tinggi Ibu multipara cenderung beresiko terjadi kehamilan mola hidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan tranmisi secara genetik yang dapat diidentifikasikan dan penggunaan stimulan drulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal).

d. Kekurangan protein Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, dan buah dada ibu, keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal.

e.

Infeksi virus Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu akan menimbulkan penyakit (desease). Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba (kuman atau virus) yang masuk virulensinya serta daya tahan tubuh.

3. Patofisiologi Menurut Cunningham dalam buku Obstetri, dalam stadium pertumbuhan molla yang dini terdapat beberapa ciri khas yang membedakan dengan kehamilan normal, namun pada stadium lanjut trimester pertama dan selama trimester kedua sering terlihat perubahan sebagai berikut: a. Perdarahan

Perdarahan uterus merupakan gejala yang mencolok dan bervariasi mulai dari spoting sampai perdarahan yang banyak. Perdarahan ini dapat dimulai sesaat sebelum abortus atau yang lebih sering lagi timbul secara intermiten selama berminggu-minggu atau setiap bulan. Sebagai akibat perdarahan tersebut gejala anemia ringan sering dijumpai. Anemia defisiensi besi merupakan gejala yang sering dijumpai.

b. Ukuran uterus Uterus yang lebih sering tumbuh lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya. Mungkin uterus lewat palpasi sulit dikenali dengan tepat pada wanita nullipara, khusus karena konsistensi tumor yang lunak di bawah abdomen yang kenyal. Ovarium kemungkinan mempunyai konsistensi yang lebih lunak.

c.

Aktivitas janin Meskipun uterus cukup membesar mencapai bagian atas sympisis, secara khas tidak akan ditemukan aktivitas janin, sekalipun dilakukan test dengan alat yang sensitive sekalipun. Kadang-kadang terdapat plasenta kembar pada kehamilan mola hidatidosa komplit. Pada salah satu plasentanya sementara plasenta yang lainnya dan janinnya sendiri terlihat normal. Demikian pula sangat jarang ditemukan perubahan mola inkomplit yang luas pada plasenta dengan disertai dengan janin yang hidup.

d. Embolisasi Trofoblas dengan jumlah yang bervariasi dengan atau tanpa stroma villus dapat keluar dari dalam uterus dan masuk ke dalam aliran darah vena. Jumlah tersebut dapat sedemikian banyak sehingga menimbulkan gejala serta tanda emboli pulmoner akut bahkan kematian. Keadaan fatal ini jarang terjadi. Meskipun jumlah trofoblas dengan atau tanpa stroma villus yang menimbulkan embolisasi ke dalam paru-paru terlalu kecil untuk menghasilkan penyumbatan pembuluh darah pulmoner namun lebih lanjut trofoblas ini dapat menginfasi parenkim paru. Sehingga terjadi metastase yang terbukti lewat pemeriksaan radiografi. Lesi tersebut dapat terdiri dari trofoblas saja (corio carsinoma metastasik) atau trofoblas dengan stroma villus (mola hidatidosa metastasik). Perjalanan selanjutnya lesi tersebut bisa diramalkan dan sebagian terlihat menghilang spontan yang dapat terjadi segera setelah evakuasi atau bahkan beberapa minggu atau bulan kemudian. Sementara sebagian lainnya

mengalami proloferasi dan menimbulkan kematian wanita tersebut bila tidak mendapatkan pengobatan yang efektif.

e.

Disfungsi thyroid Kadar tiroksi plasma pada wanita dengan kehamilan mola biasanya mengalami kenaikan yang cukup tinggi, namun gambaran hipertiroidisme yang tampak secara klinik tidak begitu sering dijumpai. Amir dkk (1984) dan Curry dkk (1975) menemukan hipertiroidisme pada sekitar 2% kasus kenaikan kadar tiroksin plasma, bisa merupakan efek primer estrogen seperti halnya pada kehamilan normal dimana tidak terjadi peningkatan kadar estrogen bebas dan presentasi trioditironim yang terikat oleh resin mengalami peningkatan. Apakah hormon tiroksin bebas dapat meninggi akibat efek mirip tirotropin yang ditimbulkan oleh orionik gonadotropin atau apakah varian hormon inikah yang menimbulkan semua efek tersebut masih merupakan masalah yang controversial (Amir, dkk, 1984, Man dkk, 1986).

f.

Ekspulsi spontan Kadang-kadang gelembung-gelembung hidatidosa sudah keluar sebelum mola tersebut keluar spontan atau dikosongkan dari dalam uterus lewat tindakan. Ekspulsi spontan paling besar kemungkinannya pada kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang lebih dari 28 minggu.

4. Manifestasi klinis

a.

Amenore dan tanda-tanda kehamilan. Pada tahap awal tanda dan gejala tahap kehamilan mola tidak dapat dibedakan dari tanda dan gejala kehamilan normal.

b.

Pada waktu selanjutnya pendarahan pervaginam pada hampir di temukan di semua kasus dan terjadi secara berulang. Cairan yang keluar dari vagina bisa berwarna coklat tua atau merah terang, bisa sedikit atau banyak. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Keadaan ini bisa berlangsung beberapa hari saja atau secara intermitten selama beberapa minggu.

c. d.

Perbesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengar DJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih.

e.

Pre-eklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

f.

Anemia

akibat

kehilangan

darah,

rasa

mual

dan

muntah

yang

berebihan(hiperemesisgravidarum), dan kram perut yang disebabkan dispensi rahim. g. Kadar -hCG yang tinggi.

5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14-16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam. Tanda dan gejala serta komplikasi mola hidatidosa: a. b. c. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar). Gejalagejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab. d. Gejala gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni). 6. Klasifikasi Mola hidatidosa Mola hidatidosa terbagi menjadi: a. Mola hidatidosa komplet atau klasik Mola komplet atau klasik terjadi akibat fertilsasi sebuah telur yang intinya telah hilang atau tidak aktif. Mola menyerupai setangkai buah anggur putih. Vesikel-vesikel hidrofik (berisi cairan) tumbuh dengan cepat, menyebabkan rahim menjadi lebih besar dari uisa kehamilan seharusnya. Biasanya Mola tidak mengandung janin, plasenta, membran amniotik atau air ketuban. Darah maternal tidak memiliki plasenta oleh karena itu, terjadi perdarahan ke dalam rongga rahim dan timbul perdarahan melalui vagina. Pada sekitar 3 % kehamilan, Mola ini berkembang menjadi koriokarsinoma (suatu neoplasma ganas yang tumbuh dengan cepat). Potensi untuk menjadi ganas pada kehamilan Mola sebagian jauh lebih kecil dibanding kehamilan Mola komplek (Bobak dkk, 2005). WOC Molahidatidosakomplit Selteluryangtidakadakromosom

dibuahi 1 atau 2 selsperma

diploid ( hanya paternal )

embriotidakterbentuk

proliferasivilikorealis

vilimengandungbanyakcairan

sel2 tropoblas yang patologisberkembangdanmembengkak

gelembung2 berisicairan yang berbentukanggur

molahidatidosakomplit

b.

Mola hidatidosa inkomplet atau parsia Mola inkomplet atau parsia terjadi jika disertai janin atau bagian janin (Bobak dkk,2005). Degenerasihidropikdarivilibersifatsetempat, dan yang mengalami hiperplasi hanya sinsitio trofoblas saja.Gambaran yang khas adalah crinkling atau scalloping dari vili dan stromal trophoblastic inclusions.

WOC Mola hidatidosaparsial Seltelur normal

dibuahi 1 selsperma diploid atau 2 selsperma haploid

kariotipe 69XXX, 69XXY (triploid )

Hidrofikvili

hiperplasia sel-sel tropoblas

molahidatidosaparsial. 7. Komplikasi

Menurut Mansjoer dkk (2005) komplikasi yang dapat terjadi padapenderita Mola hidatidosa adalah : a. b. c. d. e. Anemia Syok Infeksi Eklampsia Tirotoksikosis

8. Pemeriksaan Diagnostik Menurut Mansjoer dkk (2005) pemeriksaan diagnostik pada Mola hidatidosa antara lain: a. 1) 2) 3) 4) 5) b. 1) 2) 3) 4) c. 1) 2) Anamnesis diantaranya : Perdarahan pervaginam/gambaran Mola, Gejala toksemia pada trimester I-II, Hiperemesis gravidarum, Gejala tirotoksikosis, Gejala emboli paru. Pemeriksaan fisik diantaranya: Uterus lebih besar dari usia kehamilan, Kista lutein, Balotemen negatif, Denyut jantung janin negatif. Pemeriksaan penunjang diantaranya : Pada tes Acosta Sison dapat dikeluarkan jaringan Mola, Pada tes Hanifa Sonde dapat masuk tanpa tahanan dan diputar 3600 dengan deviasi sonde kurang dari 100, 3) 4) 5) 6) Peningkatan kadar beta Hcg darah atau urin, Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake pattern), Foto toraks pada gambaran emboli udara, Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis.

9. PenatalaksanaanMedis Penanganan yang biasa dilakukan pada Mola hidatidosa adalah: a. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis.

b.

Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.

c. d. e.

Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus). Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Selain dari penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur evakuasi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi. Kadar hCG diatas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi.

10. Prognosis Resiko kematian/kesakitan pada penderita mola hidatidosa meningkat karena perdarahan, perforasi uterus, pre-eklamsi berat, tirotoksikosis atau infeksi. Akan tetapi, sekarang kematian karena mola hidatidosa sudah jarang sekali. Segera setelah jaringan mola dikeluarkan, uterus akan mengecil, kadar hCG menurun dan akan mencapai kadar normal sekitar 10-12 minggu pascaevakuasi. Kista lutein juga akan mengecil lagi. Pada beberapa kasus pengecilan ini bisa mengambil waktu beberapa bulan. Sebagian besar penderita mola hidatidosa akan baik kembali setelah kuretasi. Bila hamil lagi, umumnya berjalan normal. Mola hidatidosa berulang dapat terjadi, tetapi jarang. Walaupun demikian, 15-20% dari penderita pasca mola hidatidosa dapat mengalami

degenerasi keganasan menjadi tumor trofoblas gestasional (TTG), baik berupa mola invasif, koriokarsinoma, maupun placental site trophoblastic tumor (PSTT). Keganasan ini biasanya terjadi pada satu tahun pertama pascaevakuasi,yang terbanyak enam bulan pertama. MHP lebih jarang menjadi ganas. Faktor risiko terjadinya TTG pascamola hidatidosa adalah umur 35 tahun, uterus diatas 20 minggu, kadar hCG preevakuasi diatas 100.000 IU/L, dan kista lutein bilateral.

11. AsuhanKeperawatanMola Hidatidosa a. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah : 1) Biodata: mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat. 2) Keluhan utama: kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang. 3) Riwayat kesehatan, yang terdiri atas: Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Riwayat kesehatan masa lalu: kaji adanya kehamilan molahidatidosa sebelumnya, apa tindakan yang dilakukan, kondisi klien pada saat itu. Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung. 4) Riwayat penyakit yang pernah dialami: kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya. 5) Riwayat kesehatan keluarga: yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

6)

Riwayat kesehatan reproduksi: kaji tentang menorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan yang menyertainya.

7)

Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

8)

Riwayat seksual: kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.

9)

Riwayat pemakaian obat: kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

10) Pola aktivitas sehari-hari: kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.

b. 1)

Pemeriksaan Fisik: Inspeksi Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung. Hal yang diinspeksi antara lain :

Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, Pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, Bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya.

2) Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.

Palpasi

Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.

3)

Perkusi Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.

Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.

4)

Auskultasi Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar: mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin(Johnson & Taylor, 2005 : 39).

c. 1) 2) 3) 4) 5)

Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan denganterputusnyakontinuitasjaringan. Intoleransi aktivitasberhubungandengankelemahan. Gangguan pola tidur berhubungandenganadanyanyeri. Gangguan rasa nyaman: hipertermi berhubungandengan proses infeksi. Kecemasan berhubungan denganperubahan status kesehatan.

d. 1)

Intervensi Diagnosa I: Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

Tujuan : Klien akanmeninjukkannyeriberkurang/hilang. Kriteria hasil :


Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang, Ekspresi wajah tenang, TTV dalam batas normal.

Intervensi:

Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien. Rasional: mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat.

Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam.

Rasional: perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien.

Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi. Rasional: teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan.

Beri posisi yang nyaman. Rasional: posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri.

Kolaborasi pemberian analgetik. Rasional: obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan.

2). Diagnosa II: intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Tujuan:klien Kriteriahasil:

akan

menunjukkan

terpenuhinya

kebutuhan

rawat

diri.

Kebutuhan personal hygiene terpenuhi, Klien nampak rapi dan bersih.

Intervensi:

Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri. Rasional: untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya.

Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rasional: kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat.

Anjurkan

klien

untuk

melakukan

aktivitas

sesuai

kemampuannya.

Rasional: pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya.

Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien. Rasional: membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri.

3).

Diagnosa

III:

gangguan

pola

tidur

berhubungan

dengan

adanya

nyeri.

Tujuan:klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu.

Kriteria hasil:

Klien dapat tidur 7-8 jam per hari, Konjungtiva tidak anemis.

Intervensi:

Kaji pola tidur. Rasional: dengan mengetahui pola tidur klien, akanmemudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya.

Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. Rasional: memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.

Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur. Rasional: susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur.

Batasi jumlah penjaga klien. Rasional: dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat.

Memberlakukan jam besuk. Rasional: memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.

Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam. Rasional: Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur.

4). Diagnosa IV: gangguan rasa nyaman: hipertermi berhubungan dengan proses infeksi. Tujuan:klien akan menunjukkan tidak terjadi panas. Kriteria hasil:

Tanda-tanda vital dalam batas normal, Klien tidak mengalami komplikasi.

Intervensi :

Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaphoresis. Rasional: suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi, pola demam dapat membantu diagnosa.

Pantau suhu lingkungan. Rasional: suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan, suhu harus mendekati normal.

Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak.

Rasional: minum banyak dapat membantu menurunkan demam.

Berikan kompres hangat. Rasional: kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh.

Kolaborasi pemberian obat antipiretik. Rasional: digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus.

5). Diagnosa

V:

kecemasan

berhubungan

dengan

perubahan

status

kesehatan.

Tujuan:klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang. Kriteria hasil:


Ekspresi wajah tenang, Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya. Intervensi:

Kaji tingkat kecemasan klien. Rasional: mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien.

Beri

kesempatan

pada

klien

untuk

mengungkapkan

perasaannya.

Rasional: ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan.

Mendengarkan keluhan klien dengan empati. Rasional: dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan.

Jelaskan

pada

klien

tentang

proses

penyakit

dan

terapi

yang

diberikan.

Rasional: menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya.

Beri dorongan spiritual/support. Rasional: menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang.

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Kasus : Ny. S 38 tahun, seorang ibu rumah tangga, G9P0A8, masuk rumah sakit tanggal 19 September 2011 dengan keluhan merasa hamil disertai mual muntah dan perdarahan

pervaginam. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan hasil: uterus sebesar 16 minggu, porsio tertutup, fluxus (+). Dengan hasil pemeriksaan laboratorium: hemopoetik: normal, SGOT 444,3 U/L. T3 1,58ng/ml, T4 > 24,86 ug/dl, TSH 0,005 mLU/L, beta hCG 772,093 IU/ml, fungsi ginjal baik.

B. Pengkajian 1. Informasi umum Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Tanggal masuk Diagnosa medik : Ny S : 38 Tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : 19 september 2011 : Mola hidatidosa

2. Riwayat Kesehatan a. Keluhan utama Klien mengatakan merasa hamil disertai mual muntah dan pendarahan pervaginam b. Riwayat penyakit sekarang Klien merasa hamil dan mual muntah, dan keluar darah pervaginam c. Riwayat obstetric dan gynekologi Klien dengan G9 P0 A8. Saat ini klien berada dikehamilan yang ke 9 namun sudah 8 kali mengalami keguguran dan belum mempunyai anak.

3. Pemeriksaan fisik a. Uterus sebesar 16 minggu

b. Forsio tertutup c.

Fluxus ( + )

Hasil pemeriksaan laboratorium : Hemopoetik : Normal : 444,3 v/l : 566,7 v/l : 1,58 ng/ml : 724,86 ug/dl

a.

b. SGOT c. SGPT

d. T3 e. T4

f.

TSH

: 0,05 ml u/l : 772,093 IU/ml

g. hCG

C. Diagnosa Keperawatan 1. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah DS DO : Klien mengatakan mual muntah. : Nilai beta hCG tinggi yaitu 772,093 IU/ml

2. DS Do

Risiko

infeksi

berhubungan

dengan

perdarahan

pervagina

yang

abnormal

: Klien mengatakan masih mengeluarkan darah pervagina :

Terdapat perdarahan pervagina yang abnormal TSH : 0,05 VTV/ml

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman dan tidak mengenal sumber informasi DS DO : Klien mengatakan ia merasa hamil :

Uterus sebesar 16 minggu porsio tertutup fluxus (+).

D. Intervensi 1. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah a. b. c. Tujuan : klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Mual muntah teratasi Intervensi Kaji status nutrisi klien Rasional : sebagai awal menetapkan langlah selanjutnya Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering.

Rasional : makan demi sedikit mampu membantu meminimalkan anoreksia. Anjurkan makan-makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi Rasional : makanan yang hangat dan bervariasi dapat membangkitkan nafsu makanan klien. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : mengevaluasi kefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi. Tingkatkan kenyaman lingkungan termasuk sosialisasi saat makan dan anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien. Rasional : sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan perdarahan pervagina yang abnormal a. c. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam infeksi tidak terjadi

b. Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi (dolor, color, rubor, tumor dan fungsi leasa) Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi : Catat suhu, jumlah bau dan warna darah pervagina Rasional : kehilangan darah berlebihan dengan penurunan haemoglobin meningkatkan risiko klien untuk terkena infeksi. Pantau respon merugikan pada pemberian produk darah Rasional : pengenalan dan intervensi dini dapat mencegah situasi yang mengancam hidup. Berikan informasi tentang risiko penerimaan produk darah Rasional : komplikasi seperti hepatitis dan (HIV / AIDS) dapat tidak bermanfestasi selama perawatan di rumah sakit. Anjurkan ganti pembalut bila basah atau habis BAK Rasional : basah merupakan media kuman untuk berkembang Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : untuk mencegah dan meminimalkan infeksi.

3.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman dan tidak mengenal sumber informasi

a.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien mengerti / paham tentang penyakitnya.

b. Kriteria hasil : c. Klien tampak rileks Klien dapat mengungkapkan tentang penyakitnya dalam istilah sederhana sesuai dengan situasi klinis. Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi : Jelaskan tindakan dan rasional yang ditentukan untuk kondisi hemoragic Rasional : memberi informasi, Memperjelas kesalahan konsep dan membantu menurunkan stress yang berhubungan. Kaji ulang pengetahuan pasien tentang pengetahuan Rasional : untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan pasien tentang penyakitnya. Motivasi pasien untuk menerima keadaannya Rasional : untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan pasien tentang penyakitnya. Motivasi pasien untuk menerima keadaannya Rasional : penerimaan tentang keadaan dapat mengurangi stress psikologisnya. Libatkan keluarga untuk memberi dukungan moril maupun spiritual pada klien. Rasional : memberi support membantu untuk pemulihan kesembuhan pasien.

BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas mengenai asuhan keperawatan yang ditemukan pada kasus Ny. S dengan kehamilan Mola hidatidosa pada tanggal 19 September 2011 dimana dalam memberikan asuhan keperawatan penulis menggunakan pendekatan proses keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Masalah keperawatan yang muncul adalah : resiko kekurangan nutrisi, resiko infeksi, dan kurang pengetahuan. 1. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah Menurut Rock CL (2004), nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankankesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normalsetiap organ baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Asupan nutrisi pada ibu hamil saat trimester pertama harus termasuk keseimbangan porsi nutrisi esensial dengan penekanan pada kualitas. Asupan protein selama kehamilan

ditingkatkan hingga 60 g. Ibu yang berisiko tinggi disarankan untuk melipat gandakan asupan protein yang normal. Asupan kalsium harus ditingkatkan hingga 1200 mg/hari. Kalsium diperlukan untuk perkembangan gigi dan tulang, kontraksi otot, dan penggumpalan darah janin. Ibu yang mengalami penurunan asupan nutrisi terutama protein dapat menimbulkan gejala patologis pada janin. Gejala patologis biasanya berupa mual muntah yang berlebihan, perdarahan pervagina.Mual muntah pada ibu hamil dapat menimbulkan resiko kekurangan nutrisi yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin. Mual muntah yang

berlebihan disebabkan pembesaran uterus yang abnormal lebih dari pembesaran uterus saat kehamilan normal sehingga menyebabkan distensi abdomen. Biasanya pembesaran yang menunjukkan gejala patologis saat ibu hamil berada pada trimester 1. Selain itu, produksi hCG yanng meningkat dapat menyebabkan mual muntah.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan perdarahan pervagina yang abnormal Risiko terhadap infeksi adalah suatu kondisi dimana individu beresiko terkena agen oportunis atau patogenesis (virus, jamur, bakteri, protozoa dan parasit lain) dari berbagai sumber dari dalam atau dari luar tubuh (Lynda Juall C, 1997). Faktor yang berhubungan dengan risiko infeksi adalah sebagai masalah atau kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan berkembangnya infeksi (Lynda Juall C, 1997). Menurut Marilyn E. Doengoes (1999) faktor infeksi meliputi pertahanan sekunder tidak adekuat misal : penurunan haemoglobin, leucopenia atau penurunan granulosit (respon inflamasi tutukan). Diagnosa ini penulis rumuskan karena penulis menemukan adanya data : ada perdarahan pervagina yang abnormal, Hb : 11,20 gr%, leukosit : 8,50 ribu/mmk, S : 37 oC, TSH < 0,05 vtv/ml. Dari data tersebut sudah dapat diangkat diagnosa risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pengeluaran darah pervagina yang abnormal. Apabila masalah ini tidak diatasi maka akan terjadi infeksi pada kandungannya apabila tidak segera dikeluarkan.

Diagnosa risiko infeksi penulis prioritaskan pada masalah keperawatan kedua karena merupakan keadaan yang kemungkinan bisa muncul dan menjadi suatu permasalahan dan apabila hal ini tidak dicegah maka risiko dapat menjadi aktual. Selanjutnya untuk mengatasi masalah tersebut penulis membuat perencanaan dengan tujuan agar infeksi tidak terjadi dalam jangka waktu 2 x 24 jam dengan kriteria hasil tandatanda infeksi tidak ada (dolor, color, rubor, tumor dan fungtio leasa), tanda-tanda vital dalam batas normal. Adapun perencanaan yang telah penulis buat adalah : catat suhu, catat jumlah bau, warna darah pervagina rasional kehilangan darah berlebihan dengan penurunan

hemoglobin, meningkatkan risiko klien untuk terkena infeksi, pantau respon merugikan pada pemberian produk darah. Rasional : pengenalan dan intervensi dini dapat mencegah situasi yang mengancam hidup, berikan informasi tentang risiko penerimaan produk darah, rasional : komplikasi seperti hepatitis dan (HIV / AIDS) dapat tidak bermanifestasi selama perawatan di rumah sakit, Kolaborasi pemberian antibiotik rasional : untuk mencegah infeksi dan meminimalkan infeksi, anjurkan ganti pembalut bila basah habis BAK, karena basah merupakan media kuman untuk berkembang. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman dan tidak mengenal sumber informasi Kurangnya pengetahuan adalah : suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotorik berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Lynda Juall C,1997). Batasan karakteristik mayor : mengungkapkan kurang pengetahuan atau keterampilanketerampilan / permintaan informasi, mengeskpresikan suatu ketidakakuratan persepsi status kesehatan, melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan dengan dianjurkan atau diinginan. Batasan karakteristik minor : kurang integritas tentang rencana pengobatan ke dalam aktifitas sehari-hari, memperlihatkana atau mengekspresikan perubahan psikologis (misalnya anietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kuranginformasi. Diagnasa kurangnya pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi tentang penyait dan penatalaksanannya penulis tegakkan dengan problem kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit dan penatalaksanannya karena pada saat pengkajian ditemukan data : klien mengatakan belum tahu tentang penyakit yang dideritanya saat ini. Diagnosa kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman dan tidak mengenal sumber informasi, penulis tetapkan sebagai prioritas ketiga sesuai teori triage konsep, dimana kurang pengetahuan merupakan masalah yang berkembang lambat dan dapat ditolerir pasien. Walaupun ditemukan masalah masalah ini harus diatasi dan perlu tindakan yang tepat apabila pasien tidak tahu tentang penyakitnya. Untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman dan tidak mengenal sumber informasi penulis menetapkan intervensi : jelaskan tindakan dan rasional yang ditentukan unduk kondisi haemoradi (curettage) rasional : memberikan informasi dapat memperjelas kesalahan konsep dan dapat membantu menurunkan stress yang berhubungan, beri kesempatan bagi pasien untuk mengajukan pertanyaan rasional : memberikan klarifikasi dari konsep yang salah dari kesempatan untuk mengembangkan

keterampilan koping, kaji ulang pengetahuan pasien tentang pengetahuan rasional : untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan pasien tentang penyakitnya. Motivasi pasien untuk menerima keadaannya rasional : penerimaan tentang keadaan dapat mengurangi stress pskologisnya, libatkan keluarga untuk memberi dukungan moril maupun spiritual pada pasien rasional : memberikan support membantu untuk pemulihan kesembuhan pasien.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Pada wanita yang mengalami Mola hidatidosa sering mengalami mual muntah akibat produksi Hcg yang tinggi. Produksi ini meningkat disebabkan pembesaran uterus yang abnormal lebih besar daripada pembesaran uterus biasanya. Sehingga menyebabkan distensi rahim yang bisa menyebabkan mual muntah pada penderita Mola hidatidosa. Selain itu perdarahan yang abnormal saat usia kehamilan masih muda, dapat menyebabkan resiko tinggi infeksi. Resiko infeksi harus segera diatasi untuk menghindari gejala infeksi yaang dapat membahayakan bagi keselamatan wanita tersebut. Perlu pengetahuan ibu tentang beberapa gejala penyakit yang dapat menyerang ibu hamil saat berada pada usia kehamilannya yang masih baru tau berada pada Trimester 1.

B. Saran Penulis memberikan saran untuk ibu yang sedang hamil agar intensif dalam melakukan pemeriksaan kandungannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidak adanya gejala patologis yang sering terjadi saat sedang mengandung. Apabila terjadi gejala patologis, ibu harus cepat melaporkan kepada pelaku medis agar tidak terjadi komplikasi lain pada kandungannya. Pelaku medis khususnya perawat harus memiliki sikap profesionalisme

dalam bekerja dan mampu melakukan asuhan keperawatan secara tepat kepada ibu yang terdeteksi adanya kelainan seperti penderita Mola hidatidosa.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, dkk. 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesbulapius Fakultas UI. Wiknjosartro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yaysan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi Edisi 2. Jakarta : EGC. Underwood, J.CE. 1999. Patologi Umum dan Sistematik Edisi 2 Volume 2. Jakarta: EGC