PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PENYULINGAN MINYAK CENGKEH DI PROVINSI MALUKU Oleh: RAJA MILYANIZA SARI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul : PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PENYULINGAN MINYAK CENGKEH DI PROVINSI MALUKU merupakan gagasan atau hasil penelitian saya sendiri dengan pembimbingan Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukan rujukannya. Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di Perguruan Tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Bogor, Mei 2008 Raja Milyaniza Sari NRP. A151050011 ABSTRACT RAJA MILYANIZA SARI. Business Development Prospect Of Cloves Oil Distillation In Maluku (SRI HARTOYO as Chairman, YUSMAN SYAUKAT as Member of Advisory Commitee). Maluku is one of the provinces which have become the target region for national of business development of Clove Oil Distillation (COD), due to its considerably high potential of people’s clove plantation. The potency of the resources is only one of the determining factors for sucsess of COD business development in Maluku, therefore, study on the prospect of COD business development in Maluku based on carrying capacity of external and internal factors in holistic manner is important to be conducted. The objectives of this study were: (1) analyzing the carrying capacity of external and internal factors for developing COD business in Maluku: (2) analyzing the strategy of COD business development in Maluku based on carrying capacity of external and internal factors. Research result showed that carrying capacity of external and internal factors for COD business development in Maluku relatively high as reflected from following items: indicators value of business feasibility, competitiveness of clove oil wich was relatively high and comparison of total score of matrices internal Factors Evaluation (IFE) dan external Factors Evaluation (EFE). Business development strategy for COD which can be implemented in accordance with strategi alternatives as recommended by result linear programming analysis and mapping on matrices internal and external (I-E), was business development CODS3 or COD business by using Distillation Equipment Capacity (DEC) of 100 kilograms of stainless steel type in each regency (district) in accordance with availability of possessed resources, because this could optimize the use resources and provide the maximum profit as compared to other kinds of DEC. Keyword: business development cloves oil distillation (COD), internal-external factors analysis, business feasibility, competitiveness, COD business development stategi, linear programming analysis and distillation equipment capacity (DEC) RINGKASAN RAJA MILYANIZA SARI. Prospek Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku (SRI HARTOYO, sebagai Ketua dan YUSMAN SYAUKAT, sebagai Anggota Komisi Pembimbing). Maluku adalah salah satu provinsi yang memiliki potensi perkebunan cengkeh yang cukup besar. Potensi sumberdaya ini merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan program pengembangan usaha PMC di Maluku, oleh karena itu kajian tentang prospek pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku berdasarkan daya dukung faktor-faktor internal dan eksternal secara holistik penting untuk dilakukan. Penelitian Ini bertujuan untuk: (1) menganalisis daya dukung faktor internal dan eksternal terhadap pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku dengan menggunakan analisis kelayakan usaha, analisis daya saing dan analisis matrik EFI dan EFE, dan (2) menganalisis strategi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku berdasarkan daya dukung faktor internal dan eksternal dengan menggunakan analisis LP dan analisis matriks I-E. Hasil penelitian menunjukkan daya dukung faktor internal – eksternal dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku relatif cukup tinggi berdasarkan: : (1) nilai indikator kelayakan usaha PMC pada berbagai kapasitas olah dan jenis alat suling menunjukkan NVP lebih besar dari nol, Net B/C lebih besar dari satu, IRR lebih besar SDR yang berlaku dan PBP yang lebih kecil dari umur ekonomis usaha PMC, (2) daya saing minyak cengkeh Maluku relatif tinggi ditunjukan oleh DRCR dan PCR yang lebih kecil dari satu, dan masih dapat ditingkatkan dengan pengembangan jenis dan kapasitas alat suling yang efektif dan efisien, dan (3) Total skor matriks IFE dan EFE, yang menunjukkan total skor terboboti dari semua parameter variabel kekuatan dalam pengembangan usaha PMC di Propinsi Maluku lebih besar dari total skor terboboti dari semua parameter variabel kelemahan (1.4:0.81), dan total skor terboboti dari semua parameter variabel peluang lebih besar dibandingkan dengan total skor terboboti dari semua parameter variabel ancaman (1.55:0.92). Adapun strategi pengembangan usaha PMC yang direkomendasikan berdasarkan analisa LP dan Matriks I-E relatif memiliki tingkat kesamaan tinggi. Analisa LP merekomendasikan Alternatif strategi pengembangan usaha PMCs3 atau usaha PMC menggunakan KAS 100 kilogram pada tiap kabupaten sesuai ketersediaan bahan baku yang dimiliki, karena dapat mengoptimalkan penggunaan sumberdaya dan memberikan keuntungan yang maksimal dibandingkan penggunaan KAS lainnya. Pemetaan pada matrik I-E merekomendasikan 2 strategi yaitu: (1) strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal dapat dilakukan melalui kegiatan memperluas usaha pada lokasi yang berbeda, memperluas pasar, fasilitas produksi dan teknologi melalui joint ventures atau kemitraan, dan (2) strategi stabilitas adalah menjalankan strategi yang telah ditetapkan tanpa mengubah arah strategi. Kata kunci: pengembangan usaha penyulingan minyak cengkeh (PMC), analisis faktor internal dan ekternal, kelayakan usaha, daya saing, dan strategi pengembangan usaha PMC. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PENYULINGAN MINYAK CENGKEH DI PROVINSI MALUKU Raja Milyaniza Sari Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 Judul Tesis : Prospek Pengembangan Usaha Cengkeh di Provinsi Maluku Penyulingan Minyak Nama Mahasiswa : Raja Milyaniza Sari Nomor Pokok Program Studi : A151050011 : Ilmu Ekonomi Pertanian Menyetujui, 1. Komisi Pembimbing Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS Ketua Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec Anggota Mengetahui, 2. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian 3. Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr.Ir. Bonar M. Sinaga, MA Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Ujian : 14 April 2008 Tanggal Lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Juli 1974 sebagai anak keempat dari lima bersaudara pasangan R.M.K. Marpaung dengan Hj. N. Yahya. Penulis menamatkan pendidikan dasar di SDN 1 Poka Ambon pada tahun 1987, kemudian pendidikan menengah di SMPN.7 Ambon 1990 dan SMUN 3 Ambon pada tahun 1993. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon dan meraih gelar sarjana pada tahun 1999. Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Jurusan Budidaya Pertanian Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Pattimura sejak Desember 2002. Pada tahun 2005 melanjutkan pendidikan S-2 di Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor melalui beasiswa BPPS dari DIKTI dan di masa studi S-2 tahun 2006. Penulis menikah dengan Djoko Murtiono SPi. UCAPAN TERIMAKASIH Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Tesis Program Magister Sains. Tesis ini berjudul “Prospek Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku”. Terima kasih yang tulus penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberi saran, bimbingan dan sumbangan pemikiran dari awal penulisan proposal hingga penulisan tesis ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS, selaku dosen penguji luar komisi. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada: 1. Rektor Unpatti dan Dekan Fakultas Pertanian Unpatti atas kesempatan yang diberikan untuk menempuh pendidikan. 2. Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, dan seluruh dosen yang telah memberikan bimbingan dalam menjalani perkuliahan di Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Sekolah Pascasarjana, IPB. 3. Dr. Ir. Wardis Girsang, Dr. Ir. Max Pattinama, Ir. Shelly Pattipeiluhu, Msi., Abdullah Sialana Spi., Suryadi, S.Sos., Mientje Lewa, S.Sos., Hasan Latarissa S.Sos., Saad Sanusi dan Seblun Tiwery, SH., yang telah bersedia menjadi responden penentu faktor internal dan eksternal dalam penelitian ini. 4. Staf dan penyuluh lapang Dinas Pertanian, Perindag dan Baristand Kabupaten Maluku Tengah, SBB dan Provinsi Maluku, serta penyuling responden yang telah membantu penulis memperoleh data dan informasi untuk penulisan ini. 5. Teman-teman di EPN angkatan 2005 (Mariyah, Ahmad Yousuf Kurniawan, Wiji, Betrixia Barbara, Pini Wijayanti, Novindra, Zuraidah, Dewi Nurasih, Zais M. Samiun, Aprilaila Sayekti, Zednita Azriani, M. Yadjid, Budi Sulistyo, Tono, Veralianta Sebayang, Andri Meiriki, Ranthy Pancasasty dan Rumna), EPN angkatan 2004 dan 2006 (Andi Thamrin), teman-teman sekost (mbak wati, erna, dian dan yuanna) atas bantuan dan dorongan semangat yang diberikan. 6. Ayahanda R.M.K. Marpaung dan Ibunda Hj.N.Yahya, kakak-kakakku (Milyan, Milvan dan Milwan) dan adikku Dedi yang telah memberikan dukungan moril dan do’a. 7. Pihak-pihak lain yang namanya tidak disebutkan di sini, namun telah banyak membantu penulis dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini. Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan hormat kepada suami tercinta Djoko Murtiono yang telah memberikan dukungan moril dan materil, perhatian, kesabaran dan do’a yang tulus ikhlas sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. Akhir kata, dengan kerendahan hati penulis mempersembahkan tesis ini kepada pembaca sebagai salah satu sumber informasi dan pengetahuan yang bermanfaat dan berguna bagi penelitian berikutnya. Bogor, Mei 2008 Raja Milyaniza Sari DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ...................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR .................................................................................. viii DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1.2. Perumusan Masalah........................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................. 1.4. Kegunaan Penelitian ....................................................................... 1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian .................................. II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 2.1. Tinjauan Teoritis .............................................................................. 2.1.1. Konsep Faktor Internal dan Eksternal.................................. 2.1.1.1. Konsep Kelayakan Usaha .................................... ix 1 1 4 7 7 7 8 8 8 9 2.1.1.2. Konsep Daya Saing .............................................. 11 2.1.2. Konsep Strategi Pengembangan Usaha.............................. 15 2.2. Penelitian-Penelitian Terdahulu ..................................................... 16 2.3. Kerangka Pemikiran Penelitian ...................................................... 21 III. METODE PENELITIAN ........................................................................... 24 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................... 24 3.2. Metode Pengambilan Contoh .......................................................... 24 3.3. Jenis dan Sumber Data .................................................................. 25 3.4. Metode Analisis .............................................................................. 25 3.4.1. Analisis Daya Dukung Faktor Internal dan Ekternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Di Provinsi Maluku.................................................................... 26 3.4.1.1. Analisis Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh ................................................................ 26 3.4.1.2. Analisis Daya Saing Minyak Cengkeh................... 26 3.4.1.3. Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Evaluasi Faktor Eksternal ..................................... 29 xi 3.4.2. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh ............................................................... 31 3.4.2.1. Analisis Linier Programming.................................. 31 3.4.2.2. Analisis Matriks Internal – Eksternal ..................... 34 VI. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ............................................ 35 4.1. Kondisi Fisik Wilayah....................................................................... 35 4.2. Kondisi Penduduk............................................................................ 37 4.3. Kondisi Perekonomian .................................................................... 40 4.4. Kondisi dan Potensi Tanaman Cengkeh ........................................ 42 V. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 43 5.1. Daya Dukung Faktor Internal dan Ekternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Di Provinsi Maluku .............. 44 5.1.1. Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh .............. 44 5.1.2. Daya Saing Minyak Cengkeh Maluku .................................. 47 5.1.3. Faktor-faktor Strategis dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku .............. 50 5.1.3.1. Faktor Kekuatan ................................................... 51 5.1.3.1. Faktor Kelemahan ................................................ 55 5.1.3.1. Faktor Peluang ..................................................... 62 5.1.3.1. Faktor Ancaman ................................................... 66 5.2. Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh ..... 69 5.2.1. Penentuan Prioritas Alternatif Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku ... 69 5.2.2. Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku ............................................... 72 VII. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 77 7.1. Kesimpulan ...................................................................................... 77 7.2. Saran ...................................... ........................................................ 78 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 80 LAMPIRAN ............... ............................................................................... 83 xii DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Daerah pengembangan, Potensi Tanaman Menghasilkan dan Jumlah Unit pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh...... 2. Jumlah Industri Kecil Menengah Berbahan Baku Tanaman Lokal Provinsi Maluku Tahun 1994 – 2004 .................................................... 4 6 3. Perbedaan Penilaian Beberapa Unsur Dalam Analisis Ekonomi dan Finansial ..... ................................................................................... 10 4. Alokasi Biaya Produksi Berdasarkan Komponen Biaya Domestik dan Komponen Biaya Asing ..... ........................................................... 29 5. Penilaian Skor Terbobot Faktor Internal dan Ekternal ......................... 30 6. Luas Lahan Potensial per Sub-sektor di Provinsi Maluku..... ................ 36 7. Jumlah Penduduk di Provinsi Maluku Per Kabupaten/Kota .................. 37 8. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota .............. 39 9. Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2004 .... ........................................................................... . 39 10. Kontribusi Masing-Masing Sektor Terhadap PDRB Provinsi Maluku..... 40 11. Data Potensi Industri Kecil-Menengah Berbahan Baku Tanaman Lokal di Provinsi Maluku Tahun 2004 ................................................... 41 12. Luas Areal, Jumlah Petani dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat di Provinsi Maluku Tahun 2004 ........... ..................................... 42 13. Potensi Perkebunan Cengkeh Provinsi Maluku Tahun 2001-2005 ....... 43 14. Karakteristik Usaha PMC....................................................................... 45 15. Hasil Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMC........... ......................... 46 16. Hasil Analisis Kelayakan Finasial Usaha PMC...................................... 47 17. Hasil Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Minyak Cengkeh Maluku Berdasarkan Kategori ........... .................................... 49 18. Faktor Strategis Internal - Eksternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku ........... .................... 50 xiii 19. Luas Areal dan Produksi Cengkeh, dan Potensi Ketersedian Bahan Baku Minyak Cengkeh Per Kabupaten Tahun 2005 ........... ...... 52 20. Karakteristik Pengusaha PMC Maluku ........... ...................................... 56 21. Nilai per Unit Alat Suling, Nilai Bantuan per RTU dan Frekwensi Produksi per Tahun ........... ................................................................... 61 22. Perbedaan Minyak Cengkeh Berdasarkan Jenis Alat Suling ........... .... 65 23. Perkembangan Harga Cengkeh dan Minyak Cengkeh Tahun 1999 – 2005 ............................................................................... 66 24. Standar Mutu Minyak Daun Cengkeh Menurut SNI 1991 Dan Minyak Cengkeh Maluku 1997 ......................................................................... 68 25. Ketersediaan Bahan Baku dan Alokasi Dana Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Pada 6 Kabupaten di Provinsi Maluku........... .......................................................................... 70 26. Hasil Analisis Optimalisasi Keuntungan Usaha PMCs (KAS Jenis Stainless Steel) dengan Sofware LINDO............................................... 71 27. Matriks EFI Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku................ 73 28. Matriks EFE Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku........... ... 74 xiv DAFTAR GAMBAR Nomor 1. 2. 3. 4. Halaman Siklus Hidup Daya Saing Industrial Berdasarkan Model 9 faktor ......... 14 Kerangka Pemikiran Penelitian.............................................................. 23 Matriks I - E ........................................................................................... 34 Perbandingan Potensi Lahan, Lahan yang telah dimanfaatkan dan Lahan yang belum dimanfaatkan untuk Sub-sektor Perkebunan.….. ... 36 Matriks I – E untuk Pengembangan Agroindustri Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku.….. ........................................................................... 74 5. xv DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. 2. Halaman Peta Propinsi Maluku............................................................................. 84 Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nontainless Steel.......................................... 85 Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless Steel) ............................................. 85 Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless Steel) ............................................. 86 Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless Steel) ........................................... 86 Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nontainless Steel) ........................................ 87 Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless Steel) ............................................. 87 Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless Steel) ............................................. 88 Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless Steel) ........................................... 88 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nilai KURS Tengah Dollar terhadap Mata Uang Rupiah Tahun 1999 -2007..... ............................................................................ 89 11. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nonstainles Steel)............................ 90 12. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainles Steel) .................................... 90 13. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainles Steel) .................................... 91 14. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainles Steel) ..... ............................ 91 15. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nonstainles Steel)............................ 92 16. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainles Steel) .................................... 92 xvi 17. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainles Steel) .................................... 93 18. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Maluku Pada PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainles Steel) ..... ............................ 93 19. Responden Penentu Faktor Strategis Internal – Eksternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Propinsi Maluku ..... ............................................................................................ 94 20. Rekapitulasi Penentuan Faktor Kekuatan dan Kelemahan Internal ..... 95 21. Rekapitulasi Penentuan Faktor Peluang dan Ancaman Eksternal . ...... 95 22. Bagan Proses Penyulingan Minyak Cengkeh ....................................... 96 23. Model Matematis dan Hasil Analisis Optimalisasi Keuntungan Usaha PMCs (KAS Jenis Stainless Steel) dengan Sofware LINDO..... ............ 97 24. Rekapitulasi Perhitungan Bobot Faktor Internal ..... .............................. 99 25. Rekapitulasi Peringkat Faktor Kekuatan dan Kelemahan Internal ..... .. 100 26. Rekapitulasi Perhitungan Bobot Faktor Eksternal ..... .......................... 101 27. Rekapitulasi Peringkat Faktor Peluang dan Ancaman Eksternal ......... 101 xvii I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara umum potensi sumberdaya nasional dan daerah adalah agribisnis dalam arti luas. Potensi tersebut merupakan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan merupakan landasan yang kuat bagi terbangunnya keunggulan kompetitif (competitive advantage) bagi pengembangan ekonomi nasional dan daerah. Jika potensi tersebut didayagunakan secara optimal, maka perekonomian yang dibangun akan memiliki landasan yang kokoh pada sumberdaya domestik, memiliki kemampuan bersaing dan berdaya-guna bagi seluruh masyarakat (Rencana Pembangunan Pertanian, 2004). Terkait pendayagunaan potensi nasional dan daerah dalam upaya pengembangan ekonomi nasional dan daerah, serta menghadapi era liberalisasi perdagangan, pembangunan sektor rill saat ini diarahkan pada tujuh sasaran utama, yaitu: (1) meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama golongan ekonomi lemah melalui pemberdayaan kekuatan ekonomi rakyat, (2) meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor non migas, (3) menciptakan stuktur industri yang kuat yang mampu memanfaatkan keunggulan komparatif untuk mencapai keunggulan kompetitif, (4) menciptakan sektor agribisnis dan agroindustri yang tangguh sebagai landasan menuju era industrialisasi, (5) mencapai daya saing produk domestik yang tinggi melalui peningkatan produktivitas dengan mempercepat inovasi dan diseminasi teknologi tepat guna, (6) mencapai standar mutu yang diterima pasar global, dan (7) menciptakan pembangunan ekonomi rakyat berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu potensi sumberdaya nasional dan daerah yang diidentifikasi sangat prospektif untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut adalah Agroindustri 2 Minyak Cengkeh (AMC). Penilaian ini berdasarkan ketersediaan bahan baku dan kecenderungan peningkatan permintaan atau penggunaan minyak cengkeh di pasar domestik maupun dunia. Minyak cengkeh (cloves oil) adalah salah satu jenis minyak atsiri (essential oil) yang dapat diperoleh dengan mengekstrasi bunga, gagang dan daun tumbuhan cengkeh. Minyak cengkeh yang diproduksi di Indonesia umumnya adalah minyak cengkeh yang berasal dari daun dan gagang tanaman cengkeh. Pada awalnya sebagian besar produksi minyak cengkeh adalah untuk kebutuhan ekspor, namun beberapa tahun terakhir pemakaian minyak cengkeh domestik semakin meluas yaitu: (1) sebagai produk subtitusi bunga cengkeh pada pabrik rokok kretek (PRK), yang mencapai 25 persen dari konsumsi bunga cengkeh PRK dan diprediksikan akan meningkat sebesar 5 persen pertahunnya sebagai akibat penurunan produksi dan sifat produksi tanaman cengkeh yang fluktuatif (tidak menjamin kontinuitas jumlah suplai), dan (2) sebagai bahan baku pestisida nabati untuk pertanian organik dan obat-obatan herbal yang beberapa tahun belakangan tumbuh dengan pesat sebagai dampak dari tingginya kesadaran masyarakat domestik dan dunia untuk mengkonsumsi produk-produk bebas residu kimia, dimana kebutuhannya diperkirakan mencapai 2.49 ribu ton pertahun dan di prediksikan akan meningkat lebih besar dari 5 persen tiap tahunnya 1 . Kondisi ini menggambarkan minyak cengkeh memiliki prospek pasar yang baik di dalam maupun diluar negeri, dan sebagai negara dengan luas areal tanaman cengkeh terbesar dunia Indonesia berpeluang menguasai pasar minyak cengkeh domestik maupun dunia melalui pengembangan AMC nasional. Menurut data statistik Food and Agriculture Organization (2004), Indonesia memiliki luas areal tanaman cengkeh terbesar di dunia yakni sekitar 241.86 ribu 1 http://www.Litbang.Deptan.Go.Id/Special/Komoditas/Files/Cengkeh.Pdf [14/09/2006] http://www.Feed Quality for Food Safety/article.php io.ppi-jepang.org.htm [04/01/2007] 3 hektar atau lebih dari 70 persen dari luas areal tanaman cengkeh dunia, disusul secara berturut-turut oleh Madagaskar, Tanzania dan Srilanka. Indonesia juga merupakan penghasil bunga dan minyak cengkeh terbesar di dunia. Pada tahun 2000 - 2002 dari rata-rata 2.08 ribu ton minyak cengkeh yang beredar di pasar dunia, Indonesia memasok rata-rata 1.32 ribu ton atau sebesar 63.5 persen, dengan harga Cost Insurance Freight (CIF) berkisar antara US$ 0.77 – 7.11 per kilogram 2 . Harga ekspor minyak cengkeh Indonesia di pasar dunia relatif fluktuatif tiap tahunnya dan sangat tergantung pada harga bunga cengkeh. Walaupun demikian harga minyak cengkeh di pasar domestik relatif stabil, dimana pada awal tahun 2002 harga minyak cengkeh mencapai Rp 29.5 ribu, pada tahun 2003 berfluktuasi antara Rp 23 ribu - 25 ribu per kilogram, dan cenderung stabil pada harga Rp 29.5 ribu per kilogram pada tahun 2004. Relatif stabilnya harga minyak cengkeh domestik adalah sebagai akibat tingginya permintaan industri domestik terhadap produk minyak cengkeh dan turunannya 3 . Penyebaran areal tanaman cengkeh dan jumlah tanaman cengkeh perhektar di Indonesia tahun 2004, menunjukkan ada 12 Provinsi berpotensi besar dalam pengembangan AMC nasional, seperti yang terlihat pada Tabel 1. Berdasarkan kajian prospek pengembangan AMC Indonesia yang dilakukan oleh BPPP Deptan (2005), ketersediaan bahan baku membuat Indonesia tetap masih berpeluang untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Namun untuk memenuhi target tersebut Indonesia dalam 15 tahun ke depan, paling sedikit dibutuhkan 600 unit usaha Penyulingan Minyak Cengkeh (PMC) dengan nilai investasi Rp. 158 2 http://www.Litbang.Deptan.Go.Id/Special/Komoditas/Files/Cengkeh.Pdf [14/09/2006] http://www.beritabumi.com/ beritabumi-cetak/html[04/01/2007] Proses metilasi dan dimetilasi minyak cengkeh menghasilkan eugenol murni dan isoeugenol, eugenol asetat dan vanilin sebagai bahan baku industri (industri: farmasi, makanan dan fungisida, flavor, fragance dan sebagainya) yang pada awalnya di impor, namun sejak tahun 2004 sebagian besar telah dapat diproduksi di Indonesia (Litbang Deptan, 2005 dan Hobir et al. 2003). 3 4 juta per unit, yang ditujukan untuk meningkatkan produksi baik berupa: (1) tambahan unit usaha PMC di daerah sentra industri dan daerah baru yang memiliki potensi pengembangan usaha PMC, dan (2) rehabilitasi usaha PMC yang telah ada. Tabel 1. Daerah pengembangan, Potensi Tanaman Menghasilkan dan Jumlah Unit pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Areal TM (ribu ha) 15.47 3.12 15.37 15.17 17.88 15.80 32.51 33.25 31.41 23.57 38.31 241.86 Populasi TM (pohon/ha) 168 77 174 163 76 66 81 257 126 105 Jumlah Usaha (Unit) 35 5 40 45 45 35 80 75 100 40 100 600 Daerah Pengembangan Usaha PMC NAD Lampung Jabar dan Banten Jateng Jatim Bali Sulsel Sulut dan Gorontalo Sulteng Maluku Provinsi lain Indonesia Sumber : BPPP Deptan, 2005 Keseluruhan uraian di atas menunjukkan peluang pengembangan usaha PMC dapat menjadi salah satu upaya dalam pengembangan ekonomi nasional dan daerah. Namun agar pengembangannya dapat efektif dan efisien, sesuai kondisi dan kebutuhan di tiap daerah yang teridentifikasi, maka prospek pengembangan usaha PMC di tiap daerah tersebut perlu dipelajari dan dikaji secara komprehensif. 1.2. Perumusan Masalah Potensi ketersediaan bahan baku minyak cengkeh di Provinsi Maluku cukup besar yaitu mencapai 127.64 ribu ton per tahun, adapun potensi yang dimanfaatkan untuk memproduksi minyak cengkeh baru mencapai 11 persen (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, 2005). Kondisi ini menggambarkan masih cukup besar potensi bahan baku minyak cengkeh yang 5 belum dimanfaatkan dalam usaha PMC ataupun usaha lainnya yaitu sebesar 89 persen dari potensi ketersediaan bahan baku yang ada. Pada umumnya usaha PMC yang ada di Provinsi Maluku adalah merupakan industri kecil dengan menggunakan dua jenis peralatan penyulingan yaitu: (1) alat suling tradisional, peralatan penyulingannya terbuat dari bahan kayu dan (2) alat suling modern, peralatan penyulingannya terbuat dari bahan nonstainless steel dan stainless steel. Penyulingan secara tradisional telah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda dan pada saat ini relatif jarang ditemui, sedangkan penyulingan modern dikenal mulai tahun 1995. Produksi minyak cengkeh Maluku pada tahun 2004 adalah sebesar 480 ton. Sebagian besar produksi minyak cengkeh Maluku digunakan untuk memenuhi permintaan konsumen di luar daerah Maluku, sedangkan sebagian kecil produksi diolah dan dikemas lebih lanjut oleh beberapa perusahaan agroindustri terkait yang berada di Provinsi Maluku dalam bentuk minyak gosok dan dijual ke berbagai daerah dengan harga yang bervariasi. Harga minyak cengkeh Maluku di pasar dunia relatif lebih tinggi (khususnya dalam bentuk minyak gosok) jika dibandingkan harga minyak cengkeh dari luar daerah Maluku, hal ini dikarenakan opini yang telah lama terbentuk yaitu: kepulauan Maluku merupakan kawasan dimana tanaman cengkeh berasal dan minyak cengkeh pertama kali diproduksi (Guenther, 1950 dalam Kardinan, 2005). Harga minyak cengkeh curah tahun 2004 ditingkat penyuling berkisar antara Rp 25 - 35 ribu perkilogram, sedangkan harga minyak cengkeh yang telah dikemas sebagai minyak gosok pada berat netto 100 mililiter berkisar antara Rp 10 – 12.5 ribu atau Rp 75 ribu per kemasan 1 kilogram. Ketersediaan bahan baku, kecenderungan permintaan yang meningkat dan kondisi harga yang relatif stabil seharusnya dapat memacu perkembangan usaha PMC di Maluku. Namun perkembangan usaha PMC di Maluku sendiri 6 relatif lambat. Berdasarkan data jumlah industri kecil menengah berbahan baku tanaman lokal di Provinsi Maluku Tahun 1996 – 2004 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku), diketahui bahwa dalam kurun waktu 8 tahun pertambahan unit usaha PMC relatif kecil dibandingkan usaha industri lainnya, seperti yang terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Industri Kecil Menengah Berbahan Baku Tanaman Lokal Di Provinsi Maluku Tahun 1994 – 2004 Tahun No. Kapupaten/ Jenis Industri 1994 2004 1.Maluku Tengah* Minyak Kayu Putih 1 3 Minyak Cengkeh 30 31 Minyak Atsiri* 12 32 Minyak Kelapa 1 2.Seram Bagian Timur Gula Merah 1 1 3.Pulau Buru Minyak Kayu Putih 98 168 Gula Merah 4.Maluku Tenggara Barat Minyak Kayu Putih 7 27 Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, 2005 Keterangan: * tergabung Kabupaten Seram Bagian Barat yang pada saat itu masih dalam persiapan pemekaran Kondisi ini membuktikan bahwa prospek pengembangan usaha PMC tidak cukup hanya dilihat dari ketersediaan bahan baku dan peluang yang terjadi seperti peningkatan permintaan dan harga produk relatif tinggi. Oleh karena itu kajian tentang prospek pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku berdasarkan daya dukung faktor-faktor internal dan eksternal secara holistik penting untuk dilakukan. Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana daya dukung faktor internal dan eksternal dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku ? 2. Bagaimana strategi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku berdasarkan daya dukung faktor internal dan eksternal ? 7 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis daya dukung faktor internal dan eksternal terhadap pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 2. Menganalisis Strategi Pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku berdasarkan daya dukung faktor internal dan eksternal. 1.4. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian ini adalah : 1. Memberikan informasi tentang prospek pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 2. Memberikan rekomendasi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 1.5. Ruang lingkup dan Keterbatasan Penelitian Ruang lingkup penelitian tentang prospek pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, meliputi: (1) analisa daya dukung faktor internal dan ekternal dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku melalui tahapan: analisa kelayakan usaha PMC , analisa daya saing minyak cengkeh Maluku dan analisis matriks Evaluasi Faktor Internal (EFI) atau Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix dan matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) atau External Factor Evaluation (EFE) Matrix, dan (2) analisa strategi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, meliputi: analisis linier programing dan analisis matriks Internal – External. Keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu terkait dengan minimnya data sekunder tentang minyak cengkeh atau usaha PMC nasional maupun daerah, maka tiap analisis yang dilakukan hanya terbatas pada data tersedia dan informasi dapat diperoleh. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teoritis 2.1.1. Konsep Faktor Internal dan Eksternal Berbicara mengenai prospek pengembangan suatu usaha pada suatu tempat berarti kita membicarakan dua hal yaitu potensi dan peluang. Potensi sangat terkait dengan faktor-faktor mempengaruhi usaha tersebut atau faktor internal daerah lokasi usaha yang meliputi antara lain: (1) kondisi sumber daya alam, (2) lingkungan bisnis, (3) industri terkait dan pendukung, (4) permintaan domestik, dan (5) faktor tenaga kerja, sedangkan peluang terkait dengan faktor diluar faktor internal atau yang dikenal sebagai faktor eksternal yang umumnya meliputi harga dan permintaan di pasar dunia atau di luar daerah tersebut (Bappenas (2004) dan Joesron (2001)). Menurut Gittinger (1986), faktor internal daerah pengembangan atau lokasi usaha merupakan faktor dominan yang menentukan berhasil tidaknya suatu pengembangan usaha. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi usaha adalah faktor-faktor yang dimiliki (faktor internal) lokasi tersebut, antara lain: keadaan geografis, iklim, ketersediaan input dan pasar output, kegiatan industri terkait atau pendukung, infrastuktur dan aspek sosial budaya masyarakat setempat. Tarigan (2003) juga kurang lebih mengemukakan hal yang sama, bahwa faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi usaha adalah ketersediaan bahan baku, upah tenaga kerja, jaminan keamanan, infrastuktur, daya serap pasar lokal dan aksesibilitas pasar yang dituju, dan kebijakan pemerintah setempat. Menurut Tarigan (2005), penetapan lokasi industri sendiri terkait dengan dua sudut pandang, yaitu: (1) sudut pandang pengusaha, yang melihat lokasi dari segi keuntungan maksimum jangka panjang yang dapat diraih atau 9 kelayakan finansial, dan (2) sudut pandang pemerintah dalam arti “good goverment” tidak hanya melihat dari segi keuntungan semata, tetapi cenderung pada apakah industri tersebut sesuai untuk dikembangkan pada lokasi tersebut terkait dengan ketersediaan sumberdaya, efektif dan efisien dalam upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan dan apakah memberikan nilai tambah yang optimal dari segi finansial maupun ekonomi. Menurut Kotler (1997), pengidentifikasian faktor internal dapat memberikan gambaran kondisi suatu daerah atau usaha. Setidaknya ada dua bagian pada faktor internal yang dapat menentukan posisi kelayakan dan persaingan yaitu kekuatan dan kelemahan, sedangkan analisis terhadap lingkungan eksternal diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memberikan peluang dan ancaman bagi pengembangan suatu usaha. Faktor eksternal berupa peluang pasar merupakan gelanggang yang menarik untuk melakukan kegiatan industri di mana hanya industri yang mampu bersaing yang dapat bertahan dan berkembang. Faktor eksternal disamping memberikan peluang, juga dapat memberikan ancaman, misalnya jika terjadi penurunan harga dan perubahan nilai mata uang pada tingkat kondisi yang tidak diharapkan. 2.1.1.1. Konsep Kelayakan Usaha Daya dukung faktor internal pada suatu daerah seperti ketersediaan input produksi, kebijakan pemerintah yang mendukung dan pasar lokal sangat berpengaruh terhadap kelayakan usaha di tempat tersebut, atau dapat dikatakan kelayakan usaha di suatu daerah merupakan gambaran daya dukung faktor internal daerah terhadap usaha tersebut. Umumnya ada dua jenis analisa yang dipakai dalam menilai kelayakan suatu usaha yaitu analisa ekonomi dan analisa finansial. Dalam analisa ekonomi yang diperhatikan adalah manfaat yang diberikan oleh suatu usaha terhadap perekonomian secara keseluruhan 10 (the social return), sedangkan dalam analisa finansial yang diperhatikan adalah manfaat diberikan oleh suatu usaha bagi pihak-pihak terlibat langsung dalam usaha tersebut (the privat return). Fokus analisa yang berbeda menyebabkan kedua analisa ini juga memiliki penilaian yang berbeda terhadap beberapa unsur yaitu: harga, subsidi, pajak, upah tenga kerja, dan bunga modal, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perbedaan Penilaian Beberapa Unsur dalam Analisis Ekonomi dan Finansial Unsur 1. Harga Perbedaan Analisis Ekonomis Harga yang dipakai adalah harga bayangan (shadow price*) Subsidi merupakan biaya. Pajak tidak diperhitungkan dalam biaya industri. Analisis Finansial Harga yang dipakai adalah harga pasar (market price) setempat. Besarnya subsidi menambah manfaat usaha Besarnya pajak diperhitungkan sebagai biaya usaha. 2. Subsidi 3. Pajak Besarnya bunga modal Bunga modal dibedakan atas: biasanya tidak diperhitungkan - Bunga yang dibayarkan kreditor dianggap sebagai sebagai biaya. biaya. - Untuk bunga modal tidak dianggap sebagai biaya 5. Upah Upah yang digunakan adalah Upah yang digunakan adalah tenaga upah bayangan (shadow upah yang berlaku setempat. Kerja wages*) Sumber : Gittinger, 1985., Kadariah, 1985 dan Gray et al., 1992 Keterangan: * harga yang mencerminkan opportunity cost-nya Menurut Gittinger (1985) dan Gray et al. (1992), cara penilaian industri jangka panjang yang banyak diterima sehubungan dengan analisis kelayakan ekonomi dan finansial adalah analisis aliran kas yang didiskonto atau Discounted Cash Flow Analysis (DCF) dengan memakai kriteria investasi. Asumsi kunci yang dipakai dalam dalam analisa DCF adalah uang yang berada sekarang lebih berharga daripada jumlah uang yang sama di masa yang akan datang oleh karena itu nilai uang untuk waktu akan datang dihitung dengan metode 4. Bunga modal 11 compounding, sedangkan untuk mengkonversi nilai uang masa depan kenilai sekarang menggunakan metode discounting pada tingkat bunga sosial atau Social Discount Rate (SDR) yang sama, sedangkan jenis kriteria investasi yang umum dipakai yaitu: (1) Net Present Value (NPV), (2) Internal Rate of Return (IRR), (3) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) dan Pay Back Period (PBP). Menurut Aliluddin (2006), pada dasarnya kriteria investasi tersebut diatas konsisten satu sama lain, artinya jika dievaluasi dengan kriteria NPV dan kriteria lainnya akan menghasilkan rekomendasi yang relatif sama, tetapi informasi spesifik yang dihasilkan akan berbeda. Oleh karena itu dalam prakteknya masing-masing kriteria sering dipergunakan secara bersamaan dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif dari perilaku suatu investasi usaha. 2.1.1.2. Konsep Daya Saing Konsep keunggulan bersaing dalam perdagangan suatu komoditas atau produk antar wilayah telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Konsep yang pertama dimulai dari keunggulan absolut dari Adam Smith (1776) yang menyatakan bahwa dua negara akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan apabila dengan faktor-faktor alamiahnya masing-masing negara dapat mengadakan suatu produk yang lebih murah dibandingkan dengan memproduksinya sendiri. Dengan kata lain, suatu wilayah dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan apabila total biaya sumber daya untuk memproduksi suatu barang secara absolut lebih rendah dari biaya sumber daya untuk memproduksi barang yang sama di negara lain. Oleh karena itu, menurut konsep tersebut, setiap negara hendaknya mengkhususkan diri untuk memproduksi barang-barang yang paling efisien yaitu barang-barang yang diproduksi dengan biaya paling murah (Asheghian dan Ebrahimi, 1990). 12 Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa ternyata dua wilayah masih mendapatkan keuntungan dari perdagangan bahkan apabila salah satu negara tersebut tidak memiliki keunggulan absolut dalam memproduksi semua komoditas atau produk. Dipicu oleh realitas tersebut, kemudian muncul konsep keunggulan komparatif dari David Ricardo (1817) yang menyatakan bahwa apabila suatu wilayah dapat memproduksi masing-masing dua barang dengan lebih efisien dibandingkan dengan wilayah lainnya, dan dapat memproduksi salah satu dari kedua barang tersebut dengan lebih efisien, maka hendaknya wilayah tersebut mengkhususnya diri dan mengekspor komoditas yang secara komparatif lebih efisien, yaitu komoditas yang memiliki keunggulan absolut terbesar. Sebaliknya, wilayah yang memiliki efisiensi yang lebih rendah hendaknya mengkhususnya diri dan mengekspor komoditas yang secara komparatif lebih rendah inefisiensinya yaitu komoditas yang paling rendah dalam ketidakunggulannya (Asheghian dan Ebrahimi, 1990). Selanjutnya, muncul konsep keunggulan kompetitif yang merupakan penyempurnaan dari konsep keunggulan komparatif. Pada konsep keunggulan kompetitif, keunggulan suatu wilayah tidak hanya bersumber dari faktor alamiah saja. Konsep keunggulan kompetitif yang terkenal adalah konsep yang dicanangkan oleh Porter (1990), yang mengemukakan bahwa daya saing suatu industri dari suatu bangsa atau negara tergantung pada keunggulan dari empat atribut yang dimilikinya, yaitu: (1) kondisi faktor, (2) kondisi permintaan, (3) industri terkait dan penunjang, dan (4) strategi, struktur, dan persaingan perusahaan, yang terkenal dengan sebutan “The Diamond of Porter”. Keempat atribut tersebut secara bersama-sama dan ditambah dengan kesempatan, serta kebijakan pemerintah yang kondusif untuk mempercepat keunggulan dan koordinasi antar atribut tersebut, kesemuanya akan mempengaruhi kemampuan bersaing suatu industri di suatu negara. 13 Sinergis dengan Potter (1990), Cho (1994) mengemukakan bahwa dalam dunia dimana bahan baku, modal dan tenaga kerja bergerak diseluruh batas wilayah, keunggulan komparatif saja tidak menentukan daya saing internasional. Daya saing juga tidak boleh diukur dari pangsa pasar suatu negara dalam pasar dunia, karena suatu negara dapat saja meningkatkan pangsa pasarnya dengan menurunkan harga misalnya melalui subsidi tetapi daya saing internasionalnya tidak selalu menguat. Daya saing juga tidak boleh diukur berdasarkan faktor harga atau bukan harga. Harga yang meningkat terlihat melemahkan daya saing internasional sebuah negara, namun dalam kenyataannya negara dengan daya saing internasional yang kuat dapat meningkatkan harga produknya. Status kualitas, daya tahan, rancangan dan kepuasan konsumen digunakan untuk mengevaluasi daya saing bukan harga, tetapi tidak ada bukti empiris untuk membuktikan pengaruhnya. Faktor harga dan bukan harga bukanlah penyebab tetapi merupakan hasil dari daya saing internasional sebuah negara. Konsep terakhir mengenai daya saing yang dikembangkan Cho dan Moon (2003) dapat menjelaskan mengapa tiap ahli pada zamannya dan pada lokasi berbeda mendefinisikan daya saing secara berbeda pula, konsep ini dikenal sebagai model sembilan faktor yang merupakan model penyempurnaan dari model diamond yang dikemukakan oleh Potter (1990). Model sembilan faktor mengemukaan bahwa daya saing internasional ditentukan oleh 4 faktor fisiksumber daya yang dianugrahkan yang keseluruhannya dimobilisasi dan dikendalikan oleh keempat faktor manusia. Kedelapan faktor ini memainkan peran yang berbeda dalam tahap yang berbeda dalam pembangunan perekonomian suatu wilayah atau negara yaitu: (1) tahap awal, dimana persaingan terbatas pada sumber daya yang dianugrahkan, dalam kondisi ini suatu industri memperoleh potensi pertumbuhan dengan mengandalkan produk yang memiliki biaya produksi terendah atau berharga lebih rendah, (2) tahap 14 pertumbuhan, mendukung industri bisnis memerlukan politisi dan birokrat berbagai yang bersedia yang secara sistematis melalui kebijakan mendukung, (3) tahap kedewasaan, inovasi muncul dalam proses manufaktur, pengembangan produk dan organisasi bisnis, dimana industri mencakup persaingan penuh dari perusahaan domestik maupun asing dan persaingan akan merangsang pengembangan produk dan perbaikan kualitas, dan (4) tahap penurunan, industri yang gagal mempertahan inovasi akan memasuki tahap penurunan, untuk memperbaiki kondisi ini diperlukan manajer yang profesional. Daya saing internasional suatu industri diperkuat dan diperlemah oleh berbagai peluang dan peristiwa atau faktor eksternal yang merupakan faktor ke sembilan. Untuk lebih jelas pembagian sembilan faktor penentu daya saing dalam tahap pembangunan perekonomian sebuah negara dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap Tahap dewasa Tahap bertumbuh Penurunan 4 Faktor Fisik Sumber daya Lingkungan Industri terkait Permintaan Alam Bisnis dan Pendukung domestik 4 Faktor Pekerja Politisi dan Para Para manajer Manusia Birokrat wirausahawan dan profesional Gambar 3. Siklus Hidup Saing Industrial Berdasarkan 9 faktor Faktor Peluang dan Daya Peluang dan Peluang dan Model Peluang dan Eksternal peristiwa peristiwa peristiwa peristiwa Contoh: Sebagian besar Thailand Korea, Taiwan, Amerika Serikat, negara Afrika Filipina Hongkong, Jepang dan dan beberapa Indonesia Singapura, Negara-negara negara Asia Spanyol dan Eropa barat dan Amerika Brazilia latin Tahap Tingkat daya saing internasional Tahap awal Gambar 1. Siklus Hidup Daya Saing Industrial Berdasarkan Model 9 faktor 15 Sebagian besar wilayah Indonesia berdasarkan konsep model sembilan faktor berada pada tahap awal dan pertumbuhan, dimana daya saing masih dominan ditentukan olah keunggulan komparatif atau sumber daya yang dianugrahkan dan kebijakan pemerintah yang mendukung. Dalam kondisi ini suatu industri memperoleh potensi pertumbuhan dengan mengandalkan produk yang memiliki biaya produksi terendah atau berharga lebih rendah dan memerlukan kebijakan pemerintah yang mendukung. Oleh karena itu pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif dengan metode DRCR dan PCR masih cukup sesuai untuk menilai daya saing produk industri Indonesia. 2.1.2. Konsep Strategi Pengembangan Usaha Menurut Kotler (1997), hasil analisis faktor internal dan eksternal dapat dipakai untuk mengetahui posisi dan menyusun strategi pengembangan usaha kedepan. Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam suatu usaha dalam kaitannya dalam tujuan jangka panjang, program tidak lanjut dan prioritas alokasi sumberdaya (Chandler, 1962 dalam Rangkuti, 2006), selanjutnya menurut Porter (1998), strategi adalah alat penting untuk mendapatkan keunggulan bersaing. Strategi pengembangan usaha yang baik berasal dari perencanaan strategis yang baik pula, yaitu suatu proses analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi, dimana tujuan utama dari dari perencanaan strategis adalah mencari kesesuaian aktivitas-aktivitas usaha dengan kondisi internal-eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha. Jadi strategi dalam pengembangan suatu usaha penting untuk memperoleh keunggulan bersaing dan menghasilkan output sesuai dengan permintaan pasar dengan dukungan optimal dari sumberdaya yang ada (Rangkuti, 2006). 16 Teknik perumusan strategi yang penting menurut David (2002) dapat dipadukan menjadi kerangka kerja pembuatan keputusan tiga tahap, yaitu: (1) tahap input, (2) tahap mencocokkan, dan (3) tahap keputusan. Tahap input merupakan tahap analisis lingkungan, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam dalam prosedur analisis lingkungan adalah: (1) menentukan relevansi karena tidak semua faktor lngkungan berpengaruh pada suatu usaha dan (2) menentukan tingkat relevansi dari issu strategi (strategic issue), yaitu faktor lingkungan yang mempengaruh besar terhadap usaha. Tahap mencocokkan, mencocokkan faktor-faktor strategis internal dan eksternal merupakan kunci efektif menghasilkan alternatif strategi yang layak. Tahap keputusan, tahap keputusan menjadi penting jika ada beberapa alternatif strategi dalam pengembangan usaha. Pada umumnya strategi yang terpilih adalah strategi memiliki peringkat tertinggi atau yang diramalkan dapat memenuhi tujuan dari suatu usaha secara optimal. 2.2. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang minyak cengkeh yang telah banyak dilakukan adalah mengenai pengujian kualitas, teknis produksi, pemisahan unsur-unsur dalam minyak cengkeh dan pemanfaatan minyak cengkeh untuk berbagai produk industri, sedangkan penelitian tentang terkait dengan daya dukung faktor internal dan eksternal dalam pengembangan UKM penyulingan minyak cengkeh dan strategi pengembangannya masih sangat terbatas. Oleh karena itu dalam dalam bagian penelitian-penelitian terdahulu ini menampilkan hasil-hasil penelitian yang memiliki kemiripan produk dan alat analisa. Menurut Hafsah (2004), pada umumnya permasalahan yang dihadapi oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM), terkait dengan faktor internal UKM antara lain meliputi: (1) kurangnya permodalan, (2) sumberdaya manusia (SDM) 17 yang terbatas (3) sebagian besar usaha kecil tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun temurun, (4) sifat produk dengan lifetime pendek (5) lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar, sedangkan yang terkait dengan faktor eksternal UKM antara lain meliputi: (1) iklim usaha belum sepenuhnya kondusif, (2) terbatasnya sarana dan prasarana usaha, (3) implikasi otonomi daerah, dan (4) implikasi perdagangan bebas. Oleh karena itu pengembangan UKM kedepan, perlu menggabungkan keunggulan lokal (lingkungan internal) dan peluang pasar global, yang disinergikan dengan era otonomi daerah dan pasar bebas, atau dengan kata lain pemgembangan UKM perlu pemikiran dalam skala global namun implentasi tindakan yang bersifat lokal (think globaly and act locally) dalam mengambil kebijakan yang terkait dengan pengembangan UKM. Penelitian yang dilakukan oleh Supriatna (2004), mengenai sistem perencanaan model pengembangan agroindustri minyak cengkeh di Sulawesi Utara menunjukkan ketersediaan bahan baku, kemudahan pemasaran, kemudahan transportasi, ketersediaan tenaga kerja, adanya sarana listrik, adanya sarana air, kemudahan investasi, iklim, tersedianya unsur penunjang dan prospek jangka panjang merupakan faktor internal penting yang sangat berpengaruh pada kelayakan usaha minyak cengkeh pada kapasitas penyulingan 18 ton daun cengkeh kering per harinya dengan prediksi perolehan minyak 504 kg/hari pada rendemen penyulingan 2,8%. Secara finansial prediksi investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik minyak cengkeh pada kapasitas tersebut di atas adalah Rp. 863 juta, modal investasi ini diperkirakan akan kembali selama 0.63 tahun atau 7.56 bulan dengan titik pulang pokok 10.515 ton /tahun. Hasil analisis kelayakannya menunjukkan NPV sebesar Rp. 5.35 milyar (lebih besar dari nol), nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku (18%) yaitu 49,2 % dan B/C rasionya 1.66 (lebih besar dari 1), 18 sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan teknologi penyulingan minyak di Sulawesi Utara layak untuk dilaksanakan. Selanjutnya hasil penelitian Smallfield (2004), mengatakan bahwa ukuran kapasitas produksi dan penggunaan teknologi yang tepat sangat penting dalam upaya pencapaian efisiensi produksi dalam destilasi minyak atsiri atau dengan kata lain memaksimalkan rendemen yang diperoleh. Rendemen minyak yang dihasilkan lewat proses destilasi umumnya kecil yaitu berkisar antara 0.1 – 2 persen oleh karena itu dalam pengusahaannya sebaiknya mengolah bahan baku dari luas areal minimal sebesar 20 hektar per unit investasi agar diperoleh kuantitas minyak dan keuntungan yang layak. Penelitian MacTavish (2002), mengenai studi ekonomi produksi essensial oil di UK, menunjukkan bahwa subsidi dan tingkat bunga yang rendah berhasil meningkatkan produksi minyak atsiri, dalam hal ini akses terhadap alat penyulingan yang baik adalah penting mengingat harga peralatan tersebut cukup mahal. Hal ini memungkinkan dengan melibatkan lembaga riset untuk menciptakan alat suling yang dapat meningkatkan produksi dan kualitas hasil penyulingan, memberikan bantuan modal kepada produsen, mengembangkan kerjasama untuk meningkatkan output dalam skala besar, perbaikan penetrasi pasar dan posisi tawar, pengembangan infrastuktur, industri terkait, asosiasi pengusaha dan pusat riset minyak atsiri yang baik . Penelitian yang dilakukan oleh Maarthen (1998), mengenai aspek ekonomi penyulingan minyak kayu putih Pulau Buru, menunjukkan produk minyak kayu putih Maluku memiliki keunggulan kompetitif dengan nilai PCR sebesar 0.4574, dimana sebagian besar produksi minyak kayu putih Maluku adalah untuk memenuhi kebutuhan domestik Indonesia. Gumbira-Said et al. (2003). Pengembangan industri pengolahan sabut kelapa layak dilaksanakan berdasarkan hasil kriteria investasi dimana di peroleh 19 NPV bernilai positif, IRR diatas suku bunga komersial (22 %) dan Net B/C di atas satu. Analisisis nilai tambah pada skala optimal menunjukkan pengolahan mampu menghasilkan nilai tambah sebesar Rp 135.65 per butir kelapa dengan rasio nilai tambah pada proses pengolahan mencapai 75.35 persen, bagian tenaga kerja mencapai 62.01 persen dan bagian manajemen mencapai 62.01 persen dan agar distribusi kebutuhan investasi dan modal tersebar luas, skala optimal sebaiknya dilakukan selama 6 tahun investasi. Analisa daya dukung faktor internal dan eksternal dengan menggunakan analisis matrix IFE dan EFE yang dipetakan pada diagram SWOT, menunjukkan skor parameter peluang lebih besar dari parameter ancaman dan pengembangan agroindusti pengolahan sabut kelapa berada pada skenario optimis dan implementasi penuh merupakan alternatif terbaik. Hasil analisis daya saing komoditas kedelai yang dilakukan oleh Siregar (2003) di DAS Brantas, menyimpulkan bahwa daya saing komoditas kedelai mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya karena produsen kedelai membayar input lebih tinggi dari harga bayangannya dan menerima harga output yang lebih rendah dari harga bayangannya sebagai dampak dari stuktur dan sistem pemasaran yang tidak efisien, dan kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada usahatani tersebut. Kondisi berdampak pada menurunnya jumlah petani kedelai, karena tingkat penerimaan bersih yang dicapai tidak mewakili opportunity cost atau kurang dari 20 persen dari biaya yang dikeluarkan. Selain itu skala usaha yang tidak ekonomis (relatif sangat kecil) membuat biaya per unit output yang tinggi sehingga tidak memenuhi kriteria keuntungan yang rasional untuk dilaksanakan usaha tersebut. Hasil penelitian Astana et al. (2005), terkait jenis komoditas minyak cendana, diketahui bahwa nilai PCR minyak cendana relatif tinggi (0.76) mengindikasikan adanya distorsi pasar, namun minyak cendana masih berdaya 20 saing ekspor. Ekspor minyak cendana belum tergoncang jika harga inputnya meningkat sampai 84 persen dan harga outputnya menurun sampai 10 persen. Hasil penelitian Nurasa dan Supriatna (2005), menyimpulkan bahwa komoditi perkebunan rakyat memiliki kelemahan mendasar, yaitu: (1) kualitas, kuantitas dan kontinueitas pasokan hasil tidak selalu dapat mencukupi permintaan pasar, (2) lokasi, kapasitas dan teknologi pengolahan hasil yang tidak sesuai dengan kualitas maupun kuantitas bahan baku yang tersedia dan permintaan pasar terhadap hasil olahan, dan (3) sistem pemasaran hasil kurang efisien. Kelemahan ini menimbulkan beberapa implikasi yaitu: (1) sistem agribisnis menjadi tidak efisien, biaya produk per satuan output menjadi tinggi sehingga keunggulan komparatif menjadi rendah, dan (2) rendahnya kualitas dan kontinuitas pasokan menyebabkan tingkat kepercayaan pembeli luar negeri berkurang sehingga keunggulan kompetitif menjadi rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Darmawansyah (2003) mengenai maksimisasi sektor ekonomi unggulan untuk menunjang peningkatan penerimaan daerah (studi kasus di Kabupaten Takalar) dengan menggunakan metode linier programming untuk mencari solusi optimal dalam alokasi pemanfaatan lahan dan sumber daya yang sifatnya terbatas yang pada akhirnya akan mengoptimalkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dan PAD, menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor unggulan yang mampu memberikan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 22.15 persen terhadap PAD dan PDRB. Di mana kondisi ini dapat dicapai jika penggunaan lahan di optimalkan untuk komoditas yang memiliki tingkat produktivitas serta nilai ekonomis tinggi dan memiliki potensi untuk dikembangkan di Takalar adalah padi, jagung, kacang ijo, kelapa, jambu mete, udang, bandeng dan sapi. 21 2.3. Kerangka Pemikiran Penelitian Analisis daya dukung faktor internal dan eksternal terhadap pengembangan usaha PMC dalam penelitian ini menggunakan 2 pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dalam analisis dengan pendekatan kuantitatif digunakan analisis kelayakan usaha dan analisis daya saing, sedangkan dalam analisis dengan pendekatan kualitatif digunakan analisis pengidentifikasian faktor internal dan eksternal. Analisis kelayakan usaha secara umum sering dipakai dalam menentukan layak dan tidak layaknya suatu usaha untuk dikembangkan. Suatu usaha dikatakan layak untuk dilaksanakan jika hasil analisis kelayakannya yaitu berupa nilai kriteria investasi yang meliputi nilai NPV, Net B/C, IRR dan Pay Back Period, memenuhi syarat kelayakan. Namun seiring era liberalisasi perdagangan kemudian ditemui bahwa kriteria kelayakan usaha ternyata tidak dapat memberi informasi yang cukup dalam upaya pengembangan usaha terkait peluang dan ancaman yang dapat diraih dan dihadapi, dalam kasus ini analisis daya saing memegang peranan penting. Dalam analisis daya saing suatu produk khususnya pada daerah yang dikelompokan berada antara tahap awal dan pertumbuhan pembangunan ekonomi, unsur harga seringkali diasumsikan identik dengan hasil dari daya saing. Terkait fenomena tersebut ada 2 pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur daya saing yaitu pendekatan keunggulan komparatif dengan metode Domestic Resources Cost Coeficient (k) dan keunggulan kompetitif dengan metode Privat Cost Ratio (PCR). Jika hasil kelayakan dan daya saing cukup memuaskan seharusnya usaha akan menunjukkan trend perkembangan yang baik, namun jika yang terjadi sebaliknya maka pengidentifikasian faktor internal dan eksternal menjadi penting untuk dilakukan karena dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif 22 sebagai jawaban dari ketidaksesuaian. Analisis pengidentifikasian faktor internal dan ekternal dapat menjelaskan fenomena yang ditidak dapat dijelaskan secara kuantitatif. Analisis pengidentifikasian faktor internal dapat memberikan gambaran kondisi suatu daerah atau usaha secara deskriptif, dimana ada dua bagian pada faktor internal yang dapat menentukan posisi kelayakan dan persaingan yaitu kekuatan dan kelemahan, sedangkan analisis terhadap lingkungan eksternal diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memberikan peluang dan ancaman bagi pengembangan suatu usaha. Upaya pengembangan usaha PMC yang efektif dan efisien sangat memerlukan strategi pengembangan yang kompeten, dimana strategi ini hanya dapat diperoleh melalui proses analisa, perumusan dan evaluasi dari faktor internal dan eksternal yang dimiliki suatu wilayah dan strategi-strategi yang telah dan belum dijalankan. Dengan kata lain hasil dari analisis daya dukung faktor internal dan eksternal terhadap pengembangan usaha PMC dapat dipakai dalam merumuskan dan mengevaluasi strategi-strategi yang dapat dijalankan dalam upaya pengembangan usaha. Dalam kasus ini ada 2 analisa yang dipakai yaitu (1) analisis linier programing, untuk mencari strategi yang dapat mengoptimali penggunaan sumberdaya dan (2) analisis matriks I-E untuk menilai dan menentukan strategi yang dapat dijalankan dalam program pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, dimana skema keterkaitan berbagai faktor dan alat analisa dapat dilihat pada Gambar 2. 23 Target Pengembangan Usaha PMC Nasional Masalah: Permintaaan Penurunan Ekspor (pangsa pasar) Permintaan domestik meningkat Perkembangan industri lanjutan Perkembangan Usaha PMC lambat Potensi Perkebunan Cengkeh Provinsi Maluku Pengembangan Usaha PMC Analisis Daya Dukung Lingkungan Internal-Eksternal dengan Tahapan: 1. Analisis Kelayakan Usaha 2. Analisis Daya Saing 3. Analisis Matriks IFE-EFE Kelayakan Usaha PMC Maluku Daya Saing Minyak Cengkeh Maluku Analisis Strategi Pengembangan denganTahapan: 1. Analisis Linier Programming 2. Analisis Maktriks I - E Faktor Internal – Eksternal Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku Strategi Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku Prioritas Strategi Pengembangan Usaha PMC Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Prospek Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian berlokasi di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Provinsi Maluku. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah sasaran pengembangan usaha PMC nasional, sedangkan Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat merupakan kabupaten yang memiliki potensi tanaman cengkeh terbesar di Provinsi Maluku. Pelaksanaan Pengumpulan data untuk keperluan penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2007. 3.2. Metode Pengambilan Contoh Pada penelitian ini pengambilan contoh pada tingkat kecamatan, responden penentu faktor internal dan eksternal dan responden pengusaha PMC dengan alat suling nonstainless dilakukan secara purposive sampling. Kecamatan yang dipilih adalah Kecamatan Leihitu, Salahutu dan Amahai pada Kabupaten Maluku Tengah dan Kecamatan Kairatu dan Taniwel pada Kabupaten Seram Bagian Barat karena memiliki usaha PMC terbanyak. Pengambilan responden penentu faktor internal dan eksternal adalah sebanyak 9 (sembilan orang) yang dianggap ahli/paham tentang permasalahan yang akan dikaji yaitu dari kalangan akademis, LSM, instansi terkait dan salah satu pengusaha PMC. Pengambilan contoh untuk pengusaha PMC dengan jenis alat nonstainless (usaha PMCns) sebanyak 5 RTU dengan KAS 100 kilogram, sedangkan pengambilan contoh pengusaha PMC dengan jenis alat suling stainless (usaha PMCs) dilakukan secara stratified random sampling dimana penyuling dibedakan berdasarkan KAS yaitu 30, 40, dan 100 kilogram masing-masing sebanyak 5 25 kelompok usaha dimana masing-masing kelompok terdiri dari 5 rumah tangga usaha (RTU). 3.3. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data kerat lintang (cross section) berupa data kualitatif dan kuantitatif. Untuk sumber data yang digunakan adalah data primer (primary data sources) dan data sekunder (secondary data sources). Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara dengan responden terpilih, sedangkan data sekunder diperoleh melalui telaahan pustaka dan data yang bersumber dari lembaga/instansi terkait dengan kajian ini. 3.4. Metode Analisis Data yang dikumpulkan akan diolah, dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Adapun metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: analisis daya dukung faktor internal dan ekternal dan analisis strategi dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 3.4.1. Analisis Daya Dukung Faktor Internal dan Eksternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Di Provinsi Maluku Untuk menelaah dan mengidentifikasi daya dukung faktor internal dan ekternal dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku dilakukan beberapa tahapan analisis yaitu: 3.4.1.1. Analisis Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Untuk menelaah kinerja ekonomi dan finasial usaha PMC dilakukan Analisis DCF dengan 4 metode penilaian investasi yaitu: NPV, IRR, Net B/C dan PBP pada SDR sebesar 13.5 persen, dengan persamaan sebagai berikut : NPV = n Bt - Ct t =0 (1+i) t ………………………………………. ….. (3.1) 26 n Bt - Ct Net B/C = t=0 (1+i)t Ct - Bt (1+ i)t untuk untuk Bt - Ct > 0 ………….... (3.2) Bt - Ct < 0 n t=0 n Bt - Ct = 0 t t=0 (1+ IRR) .......…………….......................….......….. (3.3) n k(PBP) = t=0 CFt ≥ 0 .......……………...................... ...…......….. (3.4) dimana: NPV B/C IRR Bt Ct n i = = = = = = = Net Present Value Benefit Cost ratio Internal Return Rate penerimaan proyek pada tahun t. biaya proyek pada tahun t. umur ekonomis proyek. social opportunity cost of capital yang digunakan sebagai social discount rate tahun pelaksanaan proyek periode pengembalian cash flow periode ke t t = k(PBP) = CFt = dengan kriteria pengambilan keputusan: NPV > 0, usaha PMC layak untuk dilaksanakan B/C > 1, usaha PMC layak untuk dilaksanakan IRR > i, usaha PMC layak untuk dilaksanakan k ≤ n, usaha PMC layak untuk dilaksanakan 3.4.1.2. Analisis Daya Saing Minyak Cengkeh Daya saing komoditas di pasar dunia dapat diukur dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif, sebagai berikut: 1. Keunggulan Komparatif Keunggulan komparatif suatu komoditas dapat dihitung dengan menggunakan metode Domestic Resource Cost (DRC). Secara formal DRC 27 didefinisikan sebagai rasio antara biaya faktor produksi domestik dengan selisih antara border price of output dan biaya faktor produksi tradeable. Suatu komoditi dikatakan memiliki keunggulan komparatif jika memiliki koefisien DRC (k) atau rasio antara DRC dan nilai tukar implisitnya lebih besar dari satu (Kasryno, 1990 dalam Astana, 2004 ). Adapun rumus DRC dan k adalah sebagai berikut: DRC = D dimana: DRC = D P T k p = = = = = (P − T ) , k = DRC p ........................................................ (3.3) nilai ekonomi biaya sumberdaya domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit devisa (Rp) nilai ekonomi faktor produksi domestik yang dikorbankan untuk memproduksi satu unit output (Rp) nilai ekonomi (harga internasional) satu unit output (US$) nilai ekonomi faktor produksi tradeable yang digunakan untuk memproduksi satu unit output (US$) koefisien DRC nilai tukar Rp terhadap US$. Untuk menghitung DRC diperlukan analisis harga bayangan (shadow price). Harga bayangan didefinisikan sebagai suatu harga yang terbentuk dalam pasar persaingan sempurna. Analisis harga bayangan diperlukan untuk mengoreksi kemungkinan penyimpangan harga akibat adanya kebijakan pemerintah seperti subsidi, pajak dan kebijakan harga, yang menyebabkan harga tidak mencerminkan kelangkaan sumberdaya yang sebenarnya. Adapun penentuan harga bayangan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Harga Bayangan Output Harga banyangan output minyak cengkeh yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga batas (border price) yaitu harga free on board (fob). 2. Harga Bayangan Bahan Baku Bahan baku (daun dan gagang cengkeh) adalah barang yang belum masuk aktivitas perdagangan internasional, oleh karena itu harga bayangan bahan baku diasumsikan sama dengan harga faktualnya dengan pertimbangan tidak 28 ada kebijakan pemerintah yang mengatur harga bahan baku secara langsung. 3. Harga Bayangan Tenaga Kerja Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu diantaranya yang dilakukan oleh Martheen (1998) dan Astana et al. (2004), harga bayangan tenaga kerja umumnya sebesar 80 persen dari upah yang berlaku. Dalam penelitian ini harga bayangan tenaga kerja diasumsikan sama dengan upah faktual tenaga kerja, dengan pertimbangangan bahwa upah tenaga kerja pada lokasi penelitian jauh dibawah UMR dan dapat dianggap mendekati harga ekonominya. 4. Harga Bayangan Bangunan Bangunan yang digunakan dalam usaha PMC adalah bangunan yang dibuat dari bahan bangunan yang diperoleh secara lokal, oleh karena itu harga bayangan bangunan diasumsikan sama dengan harga faktualnya 5. Harga Bayangan Peralatan Peralatan yang digunakan dalam penyulingan minyak cengkeh adalah peralatan yang memiliki komponen domestik dan tradeable, namun diproduksi dalam negeri. Berdasarkan informasi dari Barinstand harga yang ekonomi yang ditawarkan mendekati harga finansialnya. 6. Harga Bayangan Nilai Tukar Harga bayangan nilai tukar uang yang dipakai dalam penelitian ini adalah nilai tukar implisit rata-rata tahun 2006-2007 rupiah terhadap dollar USA. 2. Keunggulan Kompetitif Keunggulan kompetitif dapat dilihat melalui ukuran sederhana yaitu Private Cost Ratio (PCR). PCR adalah perbandingan biaya privat faktor domestik dan nilai tambah privat yang merupakan selisih antara nilai privat output dan biaya 29 privat input tradeable. Suatu komoditi dikatakan memiliki keunggulan kompetitif jika nilai PCR lebih kecil dari satu (Pearson et all, 2005). Adapun rumus PCR adalah sebagai berikut: PCR = dimana: PCR = G R I = = = G ........................................................................................ (3.4) R−I rasio nilai finansial biaya domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit output. nilai finansial biaya faktor produksi domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit output (Rp). nilai finansial satu unit output (Rp). nilai finansial biaya faktor produksi tradeable yang digunakan untuk memproduksi satu unit output (Rp). Dalam pengalokasian biaya domestik dan tradeable dalam perhitungan koefisien DRC dan PCR sebagian besar penelitian terdahulu menggunakan menggunakan pendekatan total. Pendekatan total adalah pendekatan yang membagi tiap komponen biaya dalam komponen biaya domestik dan tradeable. Dalam penelitian ini pendekatan total juga digunakan dalam pengalokasian komponen biaya mengikuti pengalokasian biaya yang telah dilakukan oleh penelitian-penelitian sebelumnya, seperti yang terlihat pada Tabel 4. Tabel 4. Alokasi Biaya Produksi Berdasarkan Komponen Biaya Domestik dan Komponen Biaya asing Jenis Biaya Persentasi Komponen Biaya Domestik Asing 1 Tenaga kerja 100 0 2 Bahan baku 100 0 3 Bangunan 100 0 4 Peralatan 50 50 5 Bahan lainnya 50 50 Sumber: Suryana (1981), Wahyudi (1989), Soemodihardjo (1993) dalam Astana et al (2004) No. 3.4.1.3. Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Evaluasi Faktor Eksternal evaluasi faktor internal digunakan untuk meringkas dan Matriks mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dalam pengembangan usaha PMC di 30 Provinsi Maluku, sedangkan matriks evaluasi faktor eksternal digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi peluang dan ancaman pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, yang mana keduanya dilakukan melalui pembobotan seperti yang terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. Penilaian Skor Terbobot Faktor Internal dan Eksternal Faktor Internal/Eksternal (Vertikal) a (1) a b ….. k Total Faktor Internal /Eksternal (Horisontal) b … k (2) xi xi xi xi xi xi xi xi xi Total (3) n1 n2 …. nk Bobot (4) b1 b2 …. bi Rating (5) 1 2 …. N Skor Terbobot (6 = 4 x 5) b1 2b2 …. nbi xi xi xi Sumber : Rangkuti, 2006 ∑n ∑ bi ∑ nbi Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam evaluasi faktor internal dan eksternal yaitu: 1. mengidentifikasi dan menentukan faktor internal – eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, kemudian mengkelompokkannya dalam faktor kekuatan-kelemahan internal dan faktor peluang-ancaman eksternal. 2. Menentukan bobot dari faktor-faktor tersebut, pembobotan adalah metode untuk mengkuantitatifkan penilaian yang diberikan pada suatu variabel relatif terhadap variabel lain dengan menggunakan metode paired comparisson (Rangkuti, 2006). Penentuan skala digunakan untuk memberikan nilai bobot. Skala yang digunakan tersebut dibagi menjadi: (1) Skala 1, jika variabel horisontal kurang penting terhadap variabel vertikal, (2) Skala 2, jika variabel horisontal sama penting terhadap variabel vertikal, dan (3) Skala 3, jika variabel horisontal lebih penting terhadap variabel vertikal. Bobot setiap variabel diperoleh dengan membagi nilai setiap variabel terhadap kumulatif variabel dengan menggunakan rumus berikut: 31 bi = Xi ∑X i =1 n ………………..…………………………………........ . (3.5) i dimana : bi Xi i n = = = = bobot variabel ke-i nilai variabel ke i 1,2,3,…,n jumlah variabel 3. Setelah dihitung nilai bobot setiap variabel kemudian setiap variabel diberi nilai rating berdasar pentingnya pengaruh yang ditimbulkan. Pemberian nilai peringkat yaitu: (1) nilai 1, jika faktor tersebut tidak berpengaruh, (2) nilai 2, jika faktor tersebut cukup berpengaruh; (3) nilai 3, jika faktor tersebut berpengaruh, dan (4) nilai 4, jika faktor tersebut sangat berpengaruh dalam mengembangkan UPMC. 4. Menentukan skor terbobot dengan mengalikan nilai bobot dengan ratingnya (David, 2002). 3.4.2. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Untuk menilai dan menentukan strategi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, dilakukan analisis sebagai berikut: 3.4.2.1. Analisis Linier Programmming Pada hakikatnya program linier merupakan suatu teknik perencanaan yang bersifat analitis yang analisis-analisisnya memakai model matematika, dengan tujuan menemukan dalam beberapa menyusun kombinasi strategi alternatif pemecahan terkait dengan masalah, alokasi khususnya kebijakan sumberdaya dan dana yang terbatas guna mencapai tujuan dan sasaran yang optimal. Artinya alternatif yang terpilih sebagai strategi kebijakan telah melalui analisis yang mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas alternatif tersebut atau merupakan alternatif dengan alokasi optimal, yaitu yang memaksimumkan atau 32 meminimumkan fungsi tujuan dengan memenuhi syarat ikat (kendala) dalam bentuk model ketidaksamaan linier (Nasendi dan Anwar, 1998). Dalam penyusunan model ketidaksaman linier untuk strategi pengembangan usaha PMC terkait dengan kapasitas alat suling (KAS) digunakan beberapa asumsi untuk mendekatkan model yang dibangun dengan fenomena yang terjadi, antara lain: 1. Resources oriented, karena sifat bahan baku yang kamba dan tersebar cenderung membutuhkan biaya tranportasi tinggi maka alokasi investasi pada usaha PMC berorientasi sumberdaya dalam kasus ini didasarkan pada potensi riil ketersediaan bahan baku. 2. Program pengembangan usaha PMC merupakan insentif pemerintah, sehingga sangat diharapkan implemetasi program dapat merata di tiap kabupaten sebagai inovasi teknologi dalam pengembangan usaha di Provinsi Maluku. Oleh karena itu alokasi investasi sesuai potensi riil bahan baku menjadi pertimbangan utama. 3. Salah satu tujuan program adalah memberikan insentif bagi penyuling untuk mengembangkan usahanya, salah satu insentif yang menarik bagi pengusaha selain subsidi adalah keuntungan usaha yang maksimal. Berdasarkan 3 asumsi diatas model matematis dalam analisis LP untuk mencari strategi pengembangan ukuran kapasitas alat suling yag efektif dan efisien dalam program pengembangan usaha PMC adalah sebagai berikut: Maksimum Keuntungan: Z = c1X11 + c1X12 + c1X13 + c1X14 + c1X15+ c1X16 + c2X21 + c2X22 + c2X23 + c2X24 + c2X25+ c2X26 + c3X31 + c3X32 + c3X33 + c3X34 + c3X35+ c3X36 ....................... Kendala : (3.6) 33 a11X11 + a12X21+ a13X31 ≤ B11 ................................................. a11X12 + a12X22+ a13X32 ≤ B12 ................................................. a11X13 + a12X23+ a13X33 ≤ B13 ................................................. (3.7) (3.8) (3.9) a11X14 + a12X24+ a13X34 ≤ B14 ................................................. (3.10) a11X15 + a12X25+ a13X35 ≤ B15 ................................................. (3.11) a11X16 + a12X26+ a13X36 ≤ B16 ................................................. (3.12) a21X11 + a22X21+ a23X31 ≤ B21 ................................................. (3.13) a21X12 + a22X22+ a23X32 ≤ B22 ................................................. (3.14) a21X13 + a22X23+ a23X33 ≤ B23 ................................................. (3.15) a21X14 + a22X24+ a23X34 ≤ B24 ................................................. (3.16) a21X15 + a22X25+ a23X35 ≤ B25 ................................................. (3.17) a21X16 + a22X26+ a23X36 ≤ B26 ................................................. (3.18) a31X11 + a32X21+ a33X31 +a31X12 + a32X22+ a33X32 + a31X13 + a32X23+ a33X33 + a31X14 + a32X24+ a33X34 + a31X15 + a32X25+ a33X35 + a31X16 + a32X26+ a33X36 ≤ B3 .......... (3.19) Xij ≥ 0 .................................................................................... (3.20) dimana: Xij = jumlah usaha PMCs dengan alat suling kapasitas i = 1, 2 dan 3 (30, 40 dan 100 kilogram, pada lokasi j = 1 s/d 6 kabupaten (1= Kab. Maluku Tenggara, 2 = Maluku Tengah, 3 = Pulau Buru, 4 = Seram Bagian Barat, 5 = Seram Bagian Timur dan 6 = Ambon) koefisien fungsi keuntungan pada alat suling kapasitas i koefisien kapasitas olah alat suling kapasitas i dalam kendala bahan baku pada lokasi j koefisien biaya investasi alat suling kapasitas i dalam kendala total biaya investasi koefisien produksi alat suling kapasitas i dalam kendala total target produksi Ketersediaan bahan baku pada lokasi j Biaya Investasi pada lokasi j Total Target produksi cj a1i a2i a3i B1j B2j B3 B B B = = = = = = = 34 3.4.2.2. Analisis Matriks Internal - Ekternal Matriks I-E didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu total nilai IFE yang diberi bobot pada sumbu-x dan total nilai EFE yang diberi bobot pada sumbu-y. Dari Sumbu-x total nilai IFE dibagi menjadi tiga kelompok berdasar skornya. Skor 1.0 sampai 1.99 menunjukkan posisi yang lemah. Skor 2.0 sampai 2.99 menunjukkan posisi yang sedang, dan skor 3.0 sampai 4.0 menunjukkan posisi yang kuat. Demikian pula pada sumbu-y total nilai EFE dibagi menjadi tiga kelompok berdasar skornya, yaitu: skor 1.0 sampai 1.99 menunjukkan posisi yang lemah. Skor 2.0 sampai 2.99 menunjukkan posisi yang sedang, dan skor 3.0 sampai 4.0 menunjukkan posisi yang tinggi, penjelasan secara visual tentang matriks I-E disajikan pada Gambar 3. 4.0 Tinggi 3.0 - 4.0 3.0 Sedang 2.0 – 2.99 2.0 Rendah 1.0 - 1.99 1.0 VII Pertumbuhan Kuat 3.0 - 4.0 I Pertumbuhan (Konsentrasi melalui integrasi vertikal) IV Stabilitas 3.0 Rata-rata 2.0 – 2.99 II Pertumbuhan (Konsentrasi melalui integrasi horisontal) V Pertumbuhan (Konsentrasi melalui integrasi horisontal) Stabilitas VIII Pertumbuhan (Diversifisikasi) 2.0 Lemah 1.0 - 1.99 III Penciutan 1.0 VI Penciutan IX Likuiditas Gambar 3. Matriks I-E Formulasi strategi yang dihasilkan didasarkan pada pembagian Matriks I-E mengidentifikasi 9 sel strategi yang dapat dikelompokan menjadi tiga strategi utama. Pertama, strategi pertumbuhan yang merupakan pertumbuhan usaha itu sendiri (sel 1, 2 dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). Kedua, stabilitas strategi yaitu tidak merubah arah strategi yang telah ditetapkan. Ketiga, strategi penciutan (sel 3, 6 dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha. IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Kondisi Fisik Wilayah Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 559 pulau. Secara astronomis wilayah Provinsi Maluku terletak antara 2.30º - 9º Lintang Selatan dan 124º - 136º Bujur Timur, dengan wilayah yang membatasi yaitu: Laut Seram disebelah utara, Samudra Indonesia dan Laut Arafura disebelah selatan, Provinsi Papua disebelah timur dan Laut Sulawesi disebelah barat (Lampiran 1). Luas wilayah Provinsi Maluku adalah 581.38 ribu km2, terdiri dari luas lautan 527.19 ribu km2 dan daratan 54.18 ribu km2. Sesuai UU RI No. 40 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Seram Bagian Barat (SBB) dan Kepulauan Aru, maka secara administratif Provinsi Maluku terbagi atas 8 Kabupaten/Kota, 57 Kecamatan, 843 Desa dan 30 Kelurahan. Daratan Provinsi Maluku seluas 54.18 ribu km2 atau 5.42 juta hektar terdiri dari tiga bagian yakni: (1) tanah datar sebesar 14.6 persen, (2) tanah berombak sebesar 28.2 persen dan (3) tanah bukit dan pegunungan sebesar 57.2 persen. Tanah dataran tinggi hampir tidak ada, topografi Provinsi Maluku terlihat seperti deretan pegunungan yang membentang di tengah-tengah pulau dengan ketinggian mencapai 3.06 ribu meter. Oleh karena itu kondisi wilayah Maluku cenderung memiliki banyak lereng, dengan demikian dapat dipastikan bahwa tanaman perkebunan sangat sesuai untuk diusahakan pada kondisi topografi seperti itu, karena selain berfungsi sebagai tananaman budidaya juga berfungsi hidrologis sebagai pencegah erosi. Wilayah Provinsi Maluku dipengaruhi oleh iklim tropis dan iklim musim, karena terdiri dari pulau-pulau dan dikelilingi oleh lautan yang luas. Ditinjau dari segi iklim, Provinsi Maluku tergolong pada tipe curah hujan 61, 63 dan 64 dengan 36 curah hujan cukup tinggi khususnya di Pulau Seram dan Ambon (Alfons, 1992., seperti dikutip Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 1998). Pada tahun 2005 ratarata jumlah hari hujan di Provinsi Maluku sebanyak 20.2 hari, dengan temperatur berkisar antara 22.2ºC - 31.5ºC. Kondisi ini sesuai untuk pengembangan usaha pertanian khususnya tanaman perkebunan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya luas daratan Provinsi Maluku adalah 5.42 juta hektar, lahan tersebut sebagian besar masih berupa lahan potensial. Luas lahan potensial yang tersedia untuk sub-sektor kehutanan sebesar 2.28 juta hektar, untuk sub-sektor perkebunan sebesar 1 393 juta hektar dan seterusnya seperti yang terlihat pada Tabel 6. Tabel 6. Luas Lahan Potensial per Sub-sektor di Provinsi Maluku Sub-sektor Luas Persentase (%) 47.84 29.29 2.72 15.11 1.20 3.08 0.76 100.00 Hektar (ribu) Kehutanan 2 274.49 Perkebunan 1 392.71 Wanatani 129.14 Tanaman pangan lahan kering 718.47 Tanaman pangan lahan basah 57.12 Perikanan Tambak 146.42 Hutan Pantai 36.21 Total 4 754.55 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Maluku, 2005 Kondisi tofografi Provinsi Maluku yang relatif bergunung merupakan salah satu faktor mengapa tanaman perkebunan sangat berpotensi untuk dikembangkan. Menurut Dinas Badan Pertanahan Nasional Provinsi Maluku (2005), luas pencadangan lahan untuk pertanian dan perkebunan di Provinsi Maluku adalah sebesar 2.2 juta hektar di mana sebagian besar lahan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan. Pada tahun 2004 pemanfaatan lahan potensial untuk tanaman perkebunan mencapai 168.93 ribu hektar dari lahan potensial yang tersedia. Ini berarti masih ada sebesar 89 persen lahan yang potensial untuk perkebunan yang belum dimanfaatkan, seperti yang terlihat pada Gambar 4. 37 1600.00 1400.00 1200.00 Luas lahan 1000.00 800.00 600.00 400.00 200.00 0.00 1392.71 1223.79 168.925 Lahan Potensial Lahan yang telah dimanfaatkan Lahan yang belum dimanfaatkan Gambar 4. Perbandingan Potensi Lahan, Lahan yang telah dimanfaatkan dan Lahan yang belum dimanfaatkan untuk Sub-sektor Perkebunan. 4.2. Kondisi Penduduk Penduduk merupakan komponen yang penting bahkan menjadi pusat pertimbangan dalam setiap kegiatan pembangunan. Berdasarkan hasil registrasi penduduk yang tersebar pada 8 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku, pertambahan penduduk pada tahun 2005 sedikit meningkat dengan angka pertumbuhan sebesar 2.38 persen. Hal ini karena kondisi keamanan di daerah ini sudah mulai kondusif mengakibatkan arus masuk penduduk menjadi bertambah. Walaupun demikian secara trend laju pertumbuhan penduduk terus menurun. pada periode tahun sensus, seperti yang terlihat pada Tabel 7. Tabel 7. Jumlah Penduduk di Provinsi Maluku Per Kabupaten/Kota 1980 1) 19901) 20001) (ribu) (ribu) (ribu) Maluku Tenggara Barat 166.16 129.99 149.79 Maluku Tenggara 128.88 158.25 192.95 Maluku tengah 379.99 495.00 562.01 Buru 64.01 97.67 125.09 Kepulauan Aru *) *) *) Seram Bagian Barat **) **) **) Seram Bagian Timur **) **) **) Ambon 208.89 276.95 206.21 Maluku 879.95 1 157.87 1 200.06 Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku, 2006 Catatan: *) Termasuk dalam Kabupaten Maluku Utara **) Termasuk dalam Kabupaten Maluku Tengah 1 ) Berdasarkan Sensus Penduduk 2 ) Berdasarkan Registrasi Penduduk 2003 Kabupaten/Kota 20042) (ribu) 158.79 141.19 328.65 133.40 70.47 144.00 78.73 257.77 1 313.02 20052) (ribu) 160.06 147.18 341.83 136.38 73.51 148.78 79.42 262.96 1 350.15 38 Jumlah penduduk Provinsi Maluku pada tahun 2005 mencapai 1.35 juta jiwa yang mendiami wilayah seluas 54.18 ribu Km2, dengan kepadatan penduduk per Km2 sekitar 25 orang. Angka pertumbuhan penduduk pada 8 Kabupaten/Kota sangat bervariasi. Laju pertumbuhan Kabupaten Buru dan Maluku Tenggara mengalami penurunan selama tahun 2000-2005, sementara Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Ambon, laju pertumbuhannya meningkat, Selain angka pertumbuhan yang bervariasi, penyebaran penduduk di Provinsi Maluku juga sangat tidak merata, berdasarkan hasil registrasi penduduk tahun 2005 penyebaran penduduk Kabupaten Maluku Tengah tercatat lebih tinggi dibanding Kabupaten yang lain yaitu sebesar 25.31 persen, sementara Kabupaten Aru hanya mencapai 5.44 persen. Secara umum Provinsi Maluku masih dikatakan sebagai daerah yang jarang penduduknya, namun untuk daerah Kota Ambon angka kepadatannya tertinggi yaitu mencapai 697 orang tiap Km2 dan kepadatan terendah adalah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Aru yaitu 11 orang tiap Km2. Rasio jenis kelamin (Sex Ratio) baik dari hasil Sensus penduduk 1971- 2000, maupun Registrasi Penduduk 2005 mencapai 103.18 Hal ini menunjukkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Salah satu ukuran yang sering digunakan untuk mengetahui keadaan ekonomi penduduk adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Ukuran ini biasanya digunakan untuk mengetahui persediaan tenaga kerja. Gambaran TPAK di Provinsi Maluku selama 4 tahun terakhir relatif terus meningkat, karena kondisi daerah yang mulai membaik. Pada tahun 2004 angka TPAK untuk daerah Kabupaten/Kota bervariasi, tiga Kabupaten/Kota yaitu Maluku Tengah, Buru dan Ambon memiliki TPAK di bawah angka Provinsi, sedangkan 2 (dua) Kabupaten kota lainnya yaitu Maluku Tenggara Barat dan Maluku Tenggara memiliki TPAK di atas angka Provinsi, seperti yang terlihat pada Tabel 8. 39 Tabel 8. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Kabupaten Kota Kabupaten/Kota 2001*) 2002*) Maluku Tenggara Barat 60.73 79.69 Maluku Tenggara 52.25 73.74 Maluku tengah 38.87 69.75 Buru 37.40 79.60 Ambon 44.16 58.52 Maluku 44.44 70.42 Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku, 2006 Catatan : *) Penduduk Usia 10 tahun ke atas 2003*) 62.71 61.05 50.28 51.24 53.28 54.00 2004*) 70.00 65.53 57.74 60.83 60.84 61.43 Penyerapan tenaga kerja pada tiap sektor merupakan gambaran pentingnya sektor tersebut dalam aktivitas ekonomi. Penyerapan tenaga kerja menurut lapangan usaha menunjukan sektor pertanian masih dominan yaitu sebesar 60.99 persen, diikuti sektor jasa-jasa sebesar 14.55 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 8.31 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6.51 persen, dan sektor industri sebesar 5.48 persen. sedangkan penyerapan tenaga kerja pada sektor pertambangan dan galian, listrik dan air minum, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor lainnya masing-masing kurang dari 1 persen, seperti yang terlihat pada Tabel 9. Tabel 9. Penduduk Usia 15 Tahun ke atas Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2004 Lapangan Pekerjaan Utama Pertanian Pertambangan & galian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan Perdagangan, hotel dan restoran Pengangkutan dan kominikasi Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Lainnya Jumlah (ribu) 254.65 2.17 22.88 1.14 10.15 34.71 27.20 3.26 60.75 0.63 417.55 Persentase (%) 60.99 0.52 5.48 0.27 2.43 8.31 6.51 0.78 14.55 0.15 100.00 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku, 2006 Penyerapan tenaga kerja di sektor industri pengolahan dapat dikatakan relatif kecil jika dibandingkan dengan sektor pendukungnya. Sektor industri pengolahan lambat berkembang karena berbagai faktor, salah satunya yaitu minimnya investasi sebagai akibat dari opini yang terbentuk tentang kondisi 40 politik dan keamanan di Provinsi Maluku yang tidak kondusif. Walaupun untuk saat ini kondisi politik dan keamanan di Provinsi Maluku dapat dikatakan 100 persen pulih namun minat investor untuk beraktivitas di Provinsi Maluku masih tetap rendah. 4.3. Kondisi Perekonomian Perkembangan perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari perkembangan Pendapatan Domestik Bruto (PDRB). PDRB Provinsi Maluku atas dasar harga konstan tahun 2000 periode 2001 – 2005 menunjukan sektor pertanian kontribusi terbesar dari tahun ke tahun yaitu rata-rata sebesar 35 persen, diikuti sektor perdagangan sebesar 24.14 persen, sektor jasa sebesar 19.31 persen, sektor angkutan dan komunikasi sebesar 8.66 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 5.57 persen dan sektor industri pengolahan sebesar 4.83 persen, seperti terlihat pada Tabel 10. Tabel 10. Kontribusi Masing-masing Sektor terhadap PDRB Provinsi Maluku (%) Sektor 2001 2002 1. Pertanian 36.12 36.46 2. Pertambangan & galian 0.85 0.86 3. Industri Pengolahan 5.03 4.90 4. Listrik dan air minum 0.62 0.51 5. Bangunan 1.21 1.24 6. Perdagangan, hotel dan 23.67 23.99 restoran 7. Pengangkutan dan kominikasi 7.62 7.94 8. Keuangan, persewaan dan jasa 5.41 5.57 perusahaan 9. Jasa-jasa 19.47 19.54 PDRB (Rp Trillyun) 2.77 2.85 Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku, 2006 2003 34.66 0.85 4.79 0.54 1.26 24.23 8.66 5.68 19.35 2.97 2004 34.12 0.84 4.74 0.55 1.27 24.41 9.29 5.63 19.15 3.10 2005 33.65 0.83 4.68 0.56 1.28 24.62 9.78 5.57 19.04 3.26 Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB relatif rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya kecuali sektor bangunan, listrik dan air minum. Realita angka penyerapan tenaga kerja dan kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB yang relatif rendah ini menunjukan bahwa sebagian besar hasil pertanian Provinsi Maluku masih dijual dalam bentuk mentah atau 41 raw material, sehingga nilai tambah baik dalam segi penyerapan tenaga kerja maupun nilai produk relatif kecil. Industri pengolahan yang relatif dominan berkembang di Provinsi Maluku adalah industri pengolahan yang menghasilkan produk-produk lokal tertentu khususnya industri pengolahan yang bahan bakunya merupakan bahan baku lokal dan belum diperdagangkan (non tradeable) antar region seperti minyak atsiri (minyak kayu putih, cengkeh, lawang dan lain-lain) dan gula merah. Perkembangan industri pengolahan jenis ini pun relatif masih rendah jika dibandingkan dengan ketersediaan bahan bakunya. Industri pengolahan minyak atsiri merupakan salah satu industri pengolahan yang cukup baik perkembangannya di Provinsi Maluku. Pada tahun 2005 teridentifikasi ada kurang lebih 241 usaha penyulingan minyak atsiri di Provinsi Maluku. Industri penyulingan minyak atsiri jenis minyak kayu putih adalah jenis industri minyak atsiri yang paling dominan perkembangannya dibandingkan jenis minyak atsiri lainnya, sepertinya yang terlihat pada Tabel 11. Tabel 11. Data Potensi Industri Kecil Menengah Berbahan Baku Tanaman Lokal di Provinsi Maluku Tahun 2004 No. Kapupaten/ Jenis Industri Unit Usaha TK (org) Investasi (juta) Produksi (ribu kg/tahun) Nilai Produksi (juta) 1.Maluku Tengah* Minyak Kayu Putih 3 13 67.50 7.50 16.20 Minyak Cengkeh 31 711 7.50 480.00 19.50 Minyak Atsiri* 32 76 33.75 3.90 990.06 Minyak Kelapa 1 16 200.00 15.96 87.50 2.Seram Bagian Timur Gula Merah 1 3 5.00 14.40 3.Pulau Buru Minyak Kayu Putih 168 1 441 749.00 Gula Merah 4.Maluku Tenggara Barat Minyak Kayu Putih 27 357 260.65 40.25 kg 1 876.68 Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, 2005 Keterangan: *tergabung Kabupaten Seram Bagian Barat yang pada saat itu masih dalam persiapan pemekaran 42 4.4. Kondisi dan Potensi Tanaman Cengkeh di Provinsi Maluku Tanaman cengkeh merupakan salah satu komoditi unggulan dan komoditi strategis yang memberikan sumber penghasilan bagi penduduk dan diharapkan dalam pengembangannya dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah di Provinsi Maluku. Pengusahaan tanaman cengkeh di Provinsi Maluku sebahagian besar didominasi oleh rumahtangga usahatani (RTU). Secara regional tanaman cengkeh menduduki urutan kedua tanaman perkebunan terluas yang diusahakan dengan luas areal tanam sebesar 35.18 ribu hektar, seperti yang terlihat pada Tabel 12. Tabel 12. Luas Areal, Jumlah Petani dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat di Provinsi Maluku Tahun 2001-2005 Komoditas 1. Kelapa : Luas areal (ribu Ha) Jumlah petani (ribu KK) Produksi (ribu ton) Luas areal (ribu Ha) Jumlah petani (ribu KK) Produksi (ribu ton) Luas areal (ribu Ha) Jumlah petani (ribu KK) Produksi (ribu ton) 2001 90.89 59.17 69.06 24.43 32.67 5.00 7.67 12.71 1.31 2002 98.55 59.17 62.96 20.16 35.26 37.28 10.48 19.33 2.93 Tahun 2003 90.27 83.47 69.20 35.63 44.24 12.67 15.20 22.74 4.01 9.92 16.71 1.91 2004 90.27 83.47 69.20 35.13 44.24 12.67 11.60 17.52 4.09 9.92 16.71 1.92 2005 91.26 83.47 69.20 35.18 44.24 12.77 11.74 17.54 4.19 9.95 15.01 2.00 2. Cengkeh : 3. Coklat : Luas areal (ribu Ha) 8.47 7.45 Jumlah petani (ribu KK) 12.87 12.09 Produksi (ribu ton) 1.58 1.43 Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku, 2005. 4. Pala : Provinsi Maluku adalah salah satu daerah yang memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan penyulingan minyak cengkeh. Bahan baku utamanya pembuatan minyak cengkeh di Maluku adalah daun dan gagang dari bunga cengkeh kering. Ketersediaan bahan baku daun cukup besar, jika menurut Guenther (1972) dalam Supriatna (2004) dari tanaman cengkeh yang berumur lebih dari 20 tahun setiap minggunya dapat terkumpul daun kering rata-rata 0,96 kg/pohon, sedangkan tanaman yang berumur kurang dari 20 tahun dapat terkumpul sebanyak 0,46 kg/pohon atau rata-rata produksi daun cengkeh 0.72 43 kilogram per pohon per minggu. Ini berarti dengan luas areal tanam sebesar 35.18 ribu ha dengan rata-rata kepadatan 105 pohon per hektar maka dalam 1 tahun jumlah bahan baku daun yang tersedia adalah sebesar 127.66 ribu ton, sedangkan ketersediaan gagang cengkeh kering rata-rata hanya sebesar 30 persen dari produksi cengkeh tiap tahunnya yaitu sebesar 3.83 ribu ton per tahun. Kedua jenis bahan baku ini kemudian disuling, biasanya penyulingan dilakukan tidak terpisah, namun ada beberapa penyuling yang melakukan penyulingan secara terpisah jika gagang kering yang terkumpul cukup banyak. Produksi minyak cengkeh Provinsi Maluku tahun 2004 mencapai 480 ton atau 17 persen dari total produksi nasional, seperti yang terlihat pada Tabel 13. Tabel 13. Potensi Perkebunan Cengkih Provinsi Maluku Tahun 2001-2005 Uraian Luas areal ( ribu Ha) - Tanaman Belum Menghasilkan - Tanaman Menghasilkan - Tanaman Rusak Jumlah petani ( ribu KK) Produksi Bunga Cengkeh (ribu ton) Ketersedian bahan baku daun (ribu ton) Ketersedian bahan baku gagang (ribu ton) Produksi Minyak Cengkeh (ton) Sumber:BPS dan Deperindag, 2005. Diolah Keterangan : * yang terdata - belum ada data Tahun 2001 24.43 3.74 16.15 4.54 32.67 5.00 88.65 1.50 2002 2003 2004 2005 20.17 35.63 35.13 35.18 2.81 4.81 4.94 4.76 16.95 23.88 23.39 23.57 3.86 6.95 6.80 6.85 35.24 44.24 44.24 44.24 37.27 12.66 12.66 12.77 73.19 129.92 127.48 127.66 11.18 3.80 3.80 3.83 480.00 472.00 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Daya Dukung Faktor Internal dan Ekternal Dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Di Provinsi Maluku Menurut Kotler (1997) daya dukung faktor internal – eksternal akan menentukan posisi kelayakan, persaingan, peluang dan ancaman dalam pengembangan suatu usaha pada suatu lokasi, dengan demikian dapat dikatakan pendapat ini menegaskan bahwa kondisi kelayakan usaha Penyulingan Minyak Cengkeh (PMC) dan daya saing minyak cengkeh Maluku dapat menggambarkan daya dukung faktor internal dan eksternal Provinsi Maluku terhadap pengembangan usaha PMC. Oleh karena itu analisis kelayakan usaha PMC dan daya saing minyak cengkeh Maluku penting untuk dilakukan. 5.1.1. Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh Untuk mengukur kelayakan usaha PMC di Provinsi Maluku dilakukan 2 analisis yaitu analisis kelayakan ekonomi dan kelayakan finansial. Analisis kelayakan ekonomi didasarkan pada harga ekonomi dan opportunity cost yang harus diterima dan dikeluarkan dalam aktivitas usaha PMC, sedangkan analisis kelayakan finansial didasarkan pada harga dan biaya faktual yang diterima dan dikeluarkan dalam aktivitas usaha PMC. Analisis kelayakan usaha dalam penelitian ini dilakukan pada 4 kategori usaha PMC yaitu: usaha PMC yang menggunakan jenis alat suling nonstainless steel (PMCns) dengan 1 ukuran Kapasitas Alat Suling (KAS) yaitu KAS 100 kilogram dan usaha PMC yang menggunakan jenis alat suling stainless steel (PMCs1-3) dengan 3 ukuran KAS yaitu 30, 40 dan 100 kilogram. Usaha PMCns dominan ditemui di Provinsi Maluku sebelum implementasi tahap I program pengembangan usaha PMC memperkenalkan usaha PMCs1-3. Adapun karakteristik dari keempat kategori usaha PMC tersebut, seperti yang terlihat pada Tabel 14. 45 Tabel 14. Karakteristik Usaha PMC Unsur 1. KAS (kilogram) 2. Jenis Alat 3. Status kepemilikan 4. Sistem 5. Frekwensi produksi/RTU/Tahun 6. Frekwensi produksi/KAS/Tahun 7. Pasar produk 8. Warna minyak cengkeh 9. Harga produk aktual (Rp.ribu/kg) Sumber: Analisis data primer, 2008 Karakteristik Usaha PMCns 100 Nonstainless steel Perorangan Bagi hasil 120 kali 120 kali Pedagang pengumpul Hitam Relatif lebih rendah Usaha PMCs1-3 30, 40, dan 100 Stainless steel Kolektif Iuran Kelompok 120 kali 120 kali Pedagang pengumpul Jernih agak kekuningan Relatif lebih tinggi Hasil analisis kelayakan ekonomi usaha PMC pada siklus umur ekonomis 10 tahun dan tingkat suku bunga atau social discount rate (SDR) sebesar 13.5 persen, menunjukkan bahwa semua kategori usaha PMC layak untuk dilakukan. Berdasarkan Tabel 15, diketahui NPV usaha PMCns lebih kecil dari NPV usaha PMCs, dimana selisih NPV atau incremental benefit usaha PMCns dengan usaha PMCs berkisar antara Rp. 3.17 – 28.59 juta. Nilai Net B/C usaha PMCns juga lebih kecil dibandingkan dengan dan Net B/C usaha PMCs, ini berarti tingkat keuntungan investasi pada usaha PMCns lebih kecil yaitu hanya sebesar Rp. 2.68 dari tiap Rp 1 yang diinvestasikan pada usaha tersebut, sedangkan tingkat keuntungan investasi pada usaha PMCs lebih besar yaitu mencapai Rp. 5.30 – 9.46 dari tiap Rp 1 yang diinvestasikan pada usaha tersebut. Nilai Net B/C tertinggi diberikan oleh usaha PMCs1 atau usaha PMC yang menggunakan KAS 100 kilogram jenis stainless. Nilai tingkat pengembalian maksimum atas pemakaian modal atau Internal Rate of Return (IRR) dan masa pengembalian atas pemakaian modal atau Pay Back Period (PBP) usaha PMCns juga menunjukkan kondisi yang relatif sama, dimana nilai IRR usaha PMCns lebih kecil dari nilai IRR usaha PMCs, dan PBP usaha PMCns relatif lebih lama dibandingkan PBP usaha PMCs. Perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan 46 oleh perbedaan harga produk dan biaya produksi dari masing-masing KAS. Harga produk minyak cengkeh sangat dipengaruhi oleh warna produk, dimana harga produk berwarna hitam (dari usaha PMCns) relatif lebih rendah dari harga produk berwarna jernih (dari usaha PMCs). Adapun biaya produksi per kilogram minyak cengkeh dipengaruhi oleh ukuran KAS, makin besar KAS maka makin kecil biaya produksi per kilogram produk. Tabel 15. Hasil Analisis Kelayakan Ekonomi usaha PMC Cns Bns Rs1 Cs1 Bs1 Rs2 Cs2 Bs2 Rs3 Cs3 Bs3 Tahun Rns 0 0.00 2.27 -2.27 0.00 1.81 -1.81 0.00 2.06 -2.06 0.00 3.93 -3.93 1 10.18 8.78 1.39 3.89 2.46 1.42 5.18 2.91 2.27 12.95 7.73 5.22 2 9.59 8.28 1.31 3.66 2.32 1.34 4.88 2.75 2.14 12.21 7.28 4.93 3 8.79 8.04 0.75 3.45 2.32 1.14 4.60 2.72 1.89 11.51 7.00 4.51 4 8.04 7.36 0.68 3.26 2.06 1.19 4.34 2.44 1.90 10.85 6.47 4.38 5 7.35 7.82 -0.47 3.07 2.06 1.01 4.09 2.41 1.68 10.23 6.22 4.01 6 7.58 6.54 1.04 2.81 1.83 0.98 3.75 2.17 1.58 9.37 5.75 3.61 7 7.14 6.35 0.79 2.57 1.83 0.74 3.43 2.15 1.28 8.57 5.53 3.05 8 6.54 5.81 0.73 2.35 1.63 0.72 3.13 1.93 1.21 7.84 5.11 2.72 9 5.99 5.64 0.34 2.15 1.63 0.52 2.86 1.91 0.96 7.39 4.91 2.48 10 5.47 5.17 0.31 1.96 1.45 0.51 2.61 1.71 0.90 6.75 4.54 2.20 Total 76.66 72.06 4.61 29.16 21.40 7.77 38.89 25.15 13.74 97.67 64.47 33.19 NPV 4.60 7.77 13.74 33.19 Net B/C 2.68 5.30 7.69 9.46 IRR (%) 41.25 70.74 103.32 126.73 PBP (Tahun) 1.63 1.28 0.91 0.75 Sumber: Analisis data primer, 2008 Keterangan: R... = Penerimaan usaha PMC tahun ke t (Rp.juta) C... = Biaya usaha PMC tahun ke t (Rp.juta) B... = Keuntungan usaha PMC tahun ke t (Rp.juta) ns = usaha PMCns, s1=usaha PMCs1, s2 = usaha PMCs2, s3 = usaha PMCs2 B B B B Hasil analisis kelayakan finansial usaha PMC juga menunjukan kondisi yang relatif sama dengan hasil analisis kelayakan ekonomi, dimana usaha PMCns memiliki NPV dan Net B/C yang relatif lebih kecil dari NPV dan Net B/C usaha PMCs, adapun selisih NPV atau inremental benefit usaha PMCns dengan usaha PMCs secara finansial berkisar antara Rp. 1.22 – 30.34. Berdasarkan Tabel 16, diketahui bahwa NPV usaha PMCs1, mengalami penurunan hal ini disebabkan adanya keharusan membayar iuran kelompok sebesar Rp 5 ribu per penyulingan, walaupun pada usaha PMCs2 dan PMCs3 juga berlaku yang sama 47 namun dengan tingkat biaya produksi yang relatif sama kecuali untuk pemakaian bahan baku, namun tingkat produksi atau penerimaan usaha PMCs2 dan PMC3 yang lebih besar menyebabkan NPV usaha PMCs1 menjadi relatif lebih kecil. Tabel 16. Hasil Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMC Cnp Tahun Rnp 0 0.00 1.00 1 8.33 7.35 2 7.85 6.93 3 7.19 6.52 4 6.58 6.14 5 6.01 5.78 6 6.20 5.47 7 5.84 5.16 8 5.35 4.86 9 4.90 4.57 10 4.48 4.30 Total 62.73 58.08 NPV 4.65 Net B/C 5.65 Bnp Rp1 Cp1 -1.00 0.00 0.67 0.98 3.33 2.44 0.92 3.14 2.26 0.67 2.96 2.23 0.44 2.79 1.96 0.24 2.63 1.94 0.73 2.41 1.70 0.68 2.20 1.69 0.50 2.02 1.48 0.33 1.84 1.47 0.18 1.68 1.29 4.65 25.0019.13 5.87 9.82 B Bp1 Rp2 Cp2 Bp2 -0.67 0.00 0.67 -0.67 0.89 4.44 1.19 3.25 0.88 4.19 2.61 1.58 0.73 3.95 2.55 1.39 0.83 3.72 2.25 1.47 0.69 3.51 2.21 1.29 0.71 3.31 1.95 1.35 0.52 3.12 1.92 1.19 0.53 2.94 1.70 1.24 0.37 2.77 1.68 1.09 0.39 2.61 1.48 1.13 5.87 34.55 20.21 14.33 14.33 22.56 B B Rp3 Cp3 Bp3 0.00 1.30 -1.30 11.10 3.67 7.43 10.47 6.47 3.99 9.87 6.34 3.53 9.30 5.65 3.65 8.77 5.57 3.19 8.27 4.94 3.33 7.79 4.91 2.88 7.35 4.32 3.02 6.93 4.41 2.52 6.53 3.79 2.73 86.36 51.38 34.99 34.99 28.02 B Sumber: Analisis data primer, 2008 Jika kedua hasil analisis kelayakan dibandingkan, dapat diketahui bahwa NPV dan Net B/C kelayakan ekonomi relatif lebih kecil dari NVP dan Net B/C kelayakan finansial, walaupun harga ekonomi minyak cengkeh lebih tinggi dari harga faktualnya. Kondisi ini dikarenakan secara faktual pengusaha PMC tidak dibebani biaya pemasaran sebagai kompensasi dari penetapan harga minyak cengkeh yang rendah ditingkat pedagang pengumpul, dengan demikian dapat dikatakan sistem pemasaran minyak cengkeh secara faktual cukup efisien karena dapat meningkatkankan pangsa yang diperoleh pengusaha PMC. 5.1.2. Daya Saing Minyak Cengkeh Maluku Salah satu unsur lingkungan strategis dalam pengembangan suatu komoditas yang diperlu diperhatikan terkait dengan liberalisasi perdagangan yang memberikan peluang dan ancaman adalah daya saing komoditas tersebut, dalam hal ini minyak cengkeh Maluku. Untuk melihat daya saing minyak 48 cengkeh Maluku digunakan analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Suatu komoditas dikatakan memiliki keunggulan komparatif apabila memiliki koefisien DRC (DRCR) atau k <1, artinya untuk menghasilkan nilai tambah pada harga sosial, diperlukan tambahan biaya lebih kecil dari satu. Hasil perhitungan faktor produksi domestik (D), faktor produksi tradeable (T) dan BSD (DRC) minyak cengkeh pada ukuran KAS dan jenis alat suling yang berbeda, menunjukan bahwa nilai ekonomi faktor produksi domestik yang digunakan untuk memproduksi 1 kilogram minyak cengkeh berkisar antara Rp 17.61 – 20.62 ribu. Nilai ekonomi faktor produksi tradeable minyak cengkeh berkisar antara US$ 0.35 – 0.62, dengan memakai harga jual ekspor sebesar US$ 2.91 - 3.83 per kilogram dan nilai tukar rupiah sebesar Rp. 9.45 ribu per US$, diketahui nilai DRC minyak cengkeh Maluku berkisar antara Rp 5.36 – 8.27 ribu/US$ atau k (koefisien DRC) < 1 yaitu berkisar antara 0.57 – 0.87, ini menunjukkan bahwa minyak cengkeh Maluku memiliki keunggulan komparatif (Tabel 17). Ini berarti minyak cengkeh Maluku memiliki prospek yang baik saat ini dan dimasa yang akan datang, karena dengan nilai DRCR yang berkisar antara 0.57 – 0.87 berarti masih ada rentang sekitar 0.13 – 0.43 untuk menjadikan DRCR bernilai 1 (tidak memiliki keunggulan komparatif). Jika faktor biaya produksi dan nilai tukar Rupiah terhadap US$ tetap, maka keunggulan komparatif minyak cengkeh Maluku akan hilang pada harga jual dibawah US$ 2.63 per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCns dan US$ 2.55 per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCs1, US$ 2.25 per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCs2 dan US$ 2.34 per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCs3. 49 Tabel 17. Hasil Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Minyak Cengkeh Maluku Berdasarkan Kategori Usaha PMC KAS D P T DRC p k G R I PCR (kg) Ns 100 18.96 2.91 0.62 8.27 9.45 0.87 16.10 22.50 2.99 0.83 s1 30 20.62 3.70 0.37 6.19 9.45 0.66 17.91 30.00 0.80 0.61 s2 40 17.95 3.70 0.35 5.36 9.45 0.57 15.25 30.00 0.64 0.52 s3 100 17.61 3.70 0.48 5.46 9.45 0.58 14.94 30.00 1.82 0.53 Sumber : Analisis data primer, 2008 Keterangan : D = nilai ekonomi faktor produksi domestik yang dikorbankan untuk memproduksi satu unit output (Rp.000) P = nilai ekonomi satu unit output (US$), T = nilai ekonomi faktor produksi tradeable yang digunakan untuk memproduksi satu unit output (US$) DRC = D/(P-T), nilai ekonomi biaya sumberdaya domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit devisa(Rp.000) p = Nilai tukar Rupiah 9.45 ribu/US$, rata-rata nilai tukar Rp./US$ tahun 2006-2007 (Lampiran 10.) k = DRC/p, koefisien DRC (DRCR) G = nilai finansial biaya faktor produksi domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit output (Rp.000). R = nilai finansial satu unit output (Rp.000). I = nilai finansial biaya faktor produksi tradeable yang digunakan untuk memproduksi satu unit output (Rp.000). PCR = G/(R-I) rasio nilai finansial biaya domestik yang digunakan untuk menghasilkan satu unit output. PMC Suatu komoditas dikatakan memiliki keunggulan kompetitif apabila memiliki koefisien PCR <1, artinya untuk menghasilkan nilai tambah pada harga aktual, diperlukan tambahan biaya lebih kecil dari satu. Hasil perhitungan PCR minyak cengkeh berdasarkan nilai faktor produksi domestik (G), faktor produksi tradeable (I) pada Tabel 21, menunjukkan bahwa PCR minyak cengkeh Maluku berkisar antara 0.52 – 0.83. Kondisi ini berarti masih ada rentang sekitar 0.17 – 0.48 untuk menjadikan PCR bernilai 1 (minyak cengkeh Maluku tidak memiliki keunggulan kompetitif). Jika diasumsikan faktor biaya produksi dan nilai tukar Rupiah terhadap US$ tetap, maka keunggulan kompetitif minyak cengkeh Maluku akan hilang pada harga jual dibawah Rp. 19.09 ribu per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCns, Rp. 18.71 ribu per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCs1, Rp. 15.89 ribu per kilogram untuk 50 produk minyak cengkeh dari usaha PMCs2 dan Rp. 16.58 per kilogram untuk produk minyak cengkeh dari usaha PMCs3. 5.1.3. Faktor-faktor Strategis dalam Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku Analisis matriks evaluasi faktor internal dan faktor ekternal adalah analisis yang umum digunakan untuk mengetahui faktor-faktor strategis internal dan eksternal apa saja yang menjadi daya dukung pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. Langkah awal dari analisis matriks ini adalah mengidentifikasi faktor berdasarkan kajian pustaka, analisis kelayakan usaha PMC dan daya saing minyak cengkeh yang disertakan dalam isian kusioner dan wawancara, dengan beberapa tokoh (responden penentu faktor strategis internal dan eksternal) yang dianggap mengetahui tentang karakteristik usaha PMC dan terlibat langsung dalam kegiatan pengembangan usaha PMC di Maluku, dimana dari hasil identifikasi diperoleh 10 faktor strategis internal yang menjadi faktor kekuatan dan kelemahan, dan 8 faktor strategis eksternal yang menjadi faktor peluang dan ancaman dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, seperti yang terlihat pada Tabel 18. Tabel 18. Faktor Strategis Internal - Eksternal Dalam Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku Faktor Internal Faktor Kekuatan 1. Ketersediaan bahan baku 2. Dukungan Non pribumi 3. Tingkat Keuntungan Usaha 4. Ketersediaan infrastruktur Faktor Kelemahan 1. Sifat Bahan baku dan topografi daerah 2. Sumberdaya Manusia 3. Sosial budaya masyarakat 4. Modal Usaha 5. Kebijakan Pemerintah Daerah 6. Kelembagaan Sumber: Analisis data primer, 2008 Faktor Eksternal Faktor Peluang 1. Daya Saing dan Potensi pasar 2. Kesempatan bermitra 3. Ketersediaan Teknologi 4. Tingkat suku bunga turun dan skim kredit UKM tersedia Faktor Ancaman 1. Fluktuasi harga produk 2. Produk sejenis dari lain daerah 3. Politik dan Keamanan (Opini) 4. Standar mutu dan kuantitas produk 51 5.1.3.1. Faktor Kekuatan Faktor kekuatan adalah faktor strategis internal yang menjadi kekuatan dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, oleh karena itu faktorfaktor ini harus dapat dipergunakan seoptimal mungkin dalam upaya pengembangan usaha PMC. Ada 4 faktor strategis internal yang menjadi kekuatan dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku meliputi: 1. Ketersedian bahan baku Jenis bahan baku yang dominan digunakan oleh pengusaha PMC di Provinsi Maluku adalah daun beserta ranting cengkeh kering, jika ada persediaan gagang cengkeh kering maka ketiga bahan baku ini biasanya akan di suling secara bersamaan, namun ada juga yang menyuling secara terpisah jika gagang cengkeh yang terkumpul cukup banyak. Walaupun demikian hampir sebagian besar penyuling mengaku bahwa produk yang mereka hasilkan adalah minyak berbahan baku gagang. Hal ini mungkin dikarenakan harga minyak gagang yang relatif lebih tinggi dari minyak berbahan baku daun. Namun setelah diklarifikasi lebih lanjut rata-rata penyuling menjual produk mereka dengan harga minyak daun, maka dapat dipastikan bahwa minyak yang dihasilkan adalah dominan minyak berbahan daun atau berbahan baku campuran (gagang dan daun). Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Guenther (1990), bahwa perbedaan minyak gagang dan minyak daun tidak dapat digambarkan secara tajam, seringkali gagang dan daun cengkeh disuling secara bersama-sama untuk menghasilkan minyak cengkeh. Namun berdasarkan ketersediaan bahan bakunya dapat dipastikan hampir 80 persen minyak cengkeh yang dihasilkan di daerah-daerah sentra produksinya adalah minyak yang berasal dari daun dan hanya 15 – 20 persen yang merupakan minyak gagang. Potensi ketersediaan bahan baku minyak cengkeh di Provinsi Maluku cukup besar, jika rata-rata setiap pohon cengkeh dapat menghasilkan daun 52 kering sebesar 0.72 kg per minggu (Guenther 1990), maka dalam satu tahun potensi bahan baku daun yang dapat dihasilkan dari luas areal tanam sebesar 35.18 ribu hektar dengan kepadatan 105 pohon per hektar akan mencapai 127.64 ribu ton, sedangkan tersediaan bahan baku gagang cengkeh kurang lebih setara 30 persen produksi bunga cengkeh per tahunnya yaitu mencapai 3.83 ribu ton pada tahun 2005. Pada saat ini dengan kapasitas produksi 480 ton minyak cengkeh per tahun maka baru 11 persen bahan baku yang diolah menjadi minyak cengkeh, seperti yang terlihat pada Tabel 19. Tabel 19. Luas Areal dan Produksi Cengkeh, Potensi Ketersedian Bahan Baku Minyak Cengkeh Per Kabupaten Tahun 2005. Potensi Ketersediaan Luas Areal Produksi Bahan Baku Minyak Cengkeh Tanaman Cengceh Cengkeh daun Gagang (ribu ha) (ribu ton (ribu ton) (ribu ton) 1.60 0.30 5.81 0.09 10.07 4.58 36.54 1.37 6.71 1.93 24.36 0.58 6.05 1.26 21.95 0.38 8.33 4.38 30.24 1.31 2.41 0.32 8.76 0.10 35.18 12.77 127.64 3.83 Kabupaten 1 2 3 4 5 6 Maluku Tenggara Maluku Tengah Pulau Buru Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Ambon Total Sumber: BPS, 2005 (diolah) Walaupun potensi bahan baku minyak cengkeh yang dapat dihasilkan cukup besar namun ketersediaan bahan baku pembuatan minyak cengkeh hanya terbatas pada waktu panen. Kondisi tersebut dikarenakan setelah panen cengkeh usai ketersedian tenaga kerja pengumpul relatif sangat rendah karena beberapa faktor antara lain: (1) sifat bahan baku yang kamba dan tersebar pada topografi pengunungan membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar, (2) harga bahan baku yang dianggap relatif rendah, (3) budaya pertanian yang tidak pernah melakukan perawatan tanaman secara rutin, dimana sebagian besar petani cengkeh hanya datang ke kebun mereka pada saat panen saja dan alternatif pekerjaan lain yang dianggap lebih mudah dan menguntungkan. Faktorfaktor tersebut menyebabkan pengumpulan bahan baku dominan dilakukan 53 bersamaan dengan panen bunga cengkeh karena dianggap lebih ekonomis. Berdasarkan informasi di lapangan untuk 1 kg cengkeh dapat dikumpulkan minimal 3 kg kering bahan baku untuk pembuatan minyak cengkeh. Ini berarti probabilitas ketersediaan bahan baku minyak cengkeh riil di lapangan adalah sebesar 38.31 ribu ton dan baru 36 persen dari jumlah tersebut yang dimanfaatkan untuk memproduksi minyak cengkeh. 2. Dukungan non pribumi Bahan baku minyak cengkeh berdasarkan jenis tanaman dan lokasi tanam relatif membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang cukup besar dalam pengumpulannya. Terkait dengan hal ini ketersediaan tenaga kerja pribumi relatif rendah karena pilihan kegiatan pertanian lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ataupun karena faktor budaya. Keberadaan penduduk non pribumi yang relatif cukup banyak sangat membantu kegiatan produksi minyak cengkeh, karena hampir 70 persen tenaga kerja panen cengkeh di Maluku adalah penduduk non pribumi khususnya dari Suku Buton. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan usaha PMC yang kontinu berproduksi, relatif diusahakan oleh non pribumi atau pendatang. Pengusaha non pribumi umumnya tidak memiliki tanaman cengkeh atau tanaman perkebunan lainnya, mereka memperoleh bahan baku dengan cara membeli dari penduduk sekitar tempat usaha yang sebagian besar juga bukan pemilik tanaman cengkeh. Kondisi ini memungkinkan pengusaha PMC non pribumi lebih dapat berkonsentrasi pada usaha PMCnya. 3. Tingkat keuntungan usaha Tingkat keuntungan usaha merupakan pertimbangan dalam melaksanakan usaha baik secara ekonomi maupun finansial. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha PMC pada siklus umur ekonomis, diketahui tingkat keuntungan ekomomi usaha PMC berkisar antara Rp 4.61-33.19 juta, sedangkan tingkat 54 keuntungan finansial usaha PMC berkisar antara Rp.4.65 – 34.99 juta. Tingkat keuntungan usaha terkecil diberikan oleh usaha PMCns, sedangkan tingkat keuntungan usaha terbesar diberikan oleh usaha PMCs3. Dalam analisa benefit – cost yang selalu digunakan dalam acuan adalah keuntungan yang diperoleh sebagai akibat investasi, dimana kriteria Net B/C secara umum digunakan sebagai dasar penilaiannya (Kadariah et al .,1999). Tingkat keuntungan investasi usaha PMC berkisar antara Rp. 2.68 – 9.46 untuk Rp. 1 yang diinvestasikan pada usaha PMC, sedangkan berdasarkan analisa kelayakan finansial usaha PMC diketahui bahwa tingkat keuntungan investasi usaha PMC berkisar antara Rp. 5.65 – 28.02 untuk Rp. 1 yang diinvestasikan pada usaha tersebut. Keuntungan akibat investasi terbesar diberikan oleh usaha PMCs3 atau usaha PMC yang menggunakan KAS 100 kilogram dengan jenis alat suling stainless, sedangkan keuntungan akibat investasi terkecil diberikan oleh usaha PMCns atau usaha PMC yang menggunakan KAS 100 kilogram dengan jenis alat suling nonstainless. 4. Ketersediaan infrastruktur Ketersediaan infrastruktur berupa: jalan, pelabuhan dan alat transportasi merupakan faktor penting dalam kegiatan pengembangan ekonomi, khususnya dalam pertimbangan keputusan lokasi produksi karena ketersediaan infastuktur akan mampu memperlancar proses produksi (Gumbira Said, 2001). Proses produksi dalam industri pertanian meliputi berbagai aktivitas, mulai dari pengadaan bahan baku sampai distribusi hasil relatif sangat memerlukan dukungan infrastuktur yang baik, kondisi ini juga berlaku dalam pengembangan usaha PMC. Keadaan infrastruktur di Provinsi Maluku saat ini semakin baik, ini terlihat dari kondisi jalan ditiap desa, pelabuhan dan alat transportasi yang tersedia. Walaupun demikian, karena kepadatan dan mobilitas penduduk yang 55 relatif rendah pada daerah-daerah pedesaan menyebabkan aktivitas transportasi relatif lebih rendah. 5.1.3.2. Faktor Kelemahan Faktor kelemahan adalah bagian dari faktor strategis internal yang menjadi kelemahan karena merupakan kendala dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. Faktor kelemahan yang teridentifikasi menjadi kendala dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku, meliputi: 1. Sifat bahan baku dan topografi daerah Produk pertanian umumnya memiliki sifat kamba dan tersebar, kondisi ini menyebabkan biaya tinggi dalam penanganannya khususnya dalam biaya tranportasi, tenaga kerja, penyimpanan dan lainnya (Gumbira Said, 2001). Bahan baku minyak cengkeh juga memiliki sifat kamba dan tersebar pada topografi pegunungan yang menyebabkan biaya tinggi dalam pengadaan dan penanganannya, khususnya dalam biaya tenaga kerja, transportasi dan penyimpanan. Sebagian besar penduduk disekitar usaha PMC menganggap pekerjaan pengumpulan bahan baku minyak cengkeh hanya akan menguntungkan jika dilakukan bersamaan dengan panen cengkeh, karena dapat memberikan penghasilan tambahan selain penghasilan dari panen cengkeh itu sendiri. Pengumpulan bahan baku minyak cengkeh diluar masa panen cengkeh relatif sangat minim, hal ini dikarenakan harga bahan baku minyak cengkeh yang relatif rendah, faktor ini juga yang menyebabkan penyimpanan bahan baku untuk jangka waktu yang lama tidak dilakukan karena biaya penyimpanannya relatif lebih tinggi dari penerimaan yang diperoleh dari penjualan bahan tersebut. Kondisi ini juga yang meyebabkan ketersediaan bahan baku minyak cengkeh terbatas pada saat panen cengkeh. 56 2. Sumberdaya manusia (SDM) Keberhasilan dari suatu pengembangan kegiatan ekonomi sangat tergantung dari SDM yang tersedia baik dari kuantitas dan kualitas, atau dapat dikatakan bahwa karakteristik SDM pada usaha, terlebih untuk usaha kecil sangat menentukan karakter dan perkembangan usaha tersebut. Karakteristik SDM pada usaha PMC di Provinsi Maluku secara umum karekteristik pengusaha PMC meliputi: umur, pendidikan formal, jumlah anggota keluarga dan luas penguasaan lahan/tanaman, seperti yang terlihat pada Tabel 20. Tabel 20. Karakteristik Pengusaha PMC Maluku No. Karakteristik Pengusaha PMC 1. Pengalaman usaha 2. Umur Responden (tahun) 3. Pendidikan formal 4. Jumlah anggota keluarga (orang) 5. Luas penguasaan lahan/tanaman (Ha) Sumber: Analisis data primer, 2008 Rata-rata 1 – 13 25 – 45 SMP 2–8 0.25 – 7.00 Pengalaman usaha responden berkisar antara 3 – 13 tahun, dimana ada responden yang telah melalui tahapan penyulingan dengan alat suling yang terbuat dari kayu, dari drum (nonstainless) sampai yang terbuat dari stainless. Lamanya pengalaman usaha merupakan faktor pendukung utama dalam melakukan proses produksi dan pengenalan mutu produk. Rata-rata pengusaha dengan pengalaman usaha diatas 3 tahun, mengetahui kiat mendapatkan mutu minyak cengkeh yang baik dan dapat membedakan kualitas minyak cengkeh secara fisik, seperti tinggi-rendahnya kandungan air dalam minyak cengkeh yang dihasilkan, namun untuk penguasaan teknologi penyulingan terbaru relatif masih sangat terbatas. Umur merupakan variabel yang perlu diketahui karena berhubungan erat dengan kekuatan fisik, pengalaman, ketrampilan, dan sikap positif terhadap inovasi. Semakin muda umur responden diasumsikan lebih kuat, lebih kreatif dan terbuka terhadap masuknya ide-ide baru dibandingkan dengan yang berumur 57 tua, sehingga lebih mudah meningkatkan ketrampilan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan produksi. Tingkat pendidikan formal secara relatif juga berhubungan dengan kemampuan dalam adopsi inovasi atau pun mengakses kemajuan teknologi. Rata-rata tingkat pendidikan responden penyuling minyak cengkeh berada di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), rendahnya tingkat pendidikan responden dan jauhnya lokasi tempat tinggal dari pusat kota, menyebabkan terbatasnya akses mereka terhadap informasi dan iptek. Jumlah anggota keluarga dalam persepsi petani atau pengusaha berbasis rumahtangga seringkali dihubungkan dengan harapan untuk memperoleh tenaga kerja, rata-rata jumlah anggota keluarga responden 4 - 5 orang. Lazim seperti usaha rumahtangga lainnya usaha PMC di Provinsi Maluku juga dominan menggunakan tenaga kerja keluarga. Adapun luas penguasaan lahan atau tanaman cengkeh relatif tidak begitu mempengaruhi produksi minyak cengkeh, faktor yang sangat berpengaruh adalah luas areal tanaman cengkeh secara keseluruhan pada satu daerah, besarnya produksi cengkeh, dan ketersediaan tenaga kerja untuk mengumpulkan bahan baku yang sifatnya kamba dan tersebar dan musim yang sedang berlangsung. Dari segi kuantitas ketersediaan tenaga kerja pengumpul bahan baku terlihat masih terbatas sangat terbatas ini terlihat dari selisih antara potensi (125.9 ribu ton) dan probabilitas ketersediaan bahan baku minyak cengkeh (38.31 ribu ton) yang mencapai 87.68 ribu ton. 3. Sosial budaya masyarakat Budaya pertanian masyarakat Maluku yang berbasis pada perkebunan multikomoditi dengan tingkat pendapatan yang relatif cukup tinggi per tahunnya menyebabkan petani selektif dalam pemilihan kegiatan ekonomi dan cenderung puas dengan apa yang mereka peroleh dari kegiatan perkebunan yang dilakukan. Disisi lain penilaian sosial yang rendah terhadap pemanfaatan limbah 58 cukup dominan dimana pengumpulan bahan baku daun cengkeh kering dianggap sebagai pekerjaan rendah dan relatif kurang diminati bahkan oleh petani cengkeh itu sendiri. 4. Modal usaha Modal usaha merupakan salah satu kendala dalam pengembangan usaha, jika modal yang dibutuhkan untuk usaha relatif besar maka agak sulit usaha tersebut dapat berkembang khususnya dikalangan petani yang berpendapatan rendah (Soekartawi et al., 1986). Kebutuhan modal usaha dapat diperoleh dari berbagai sumber, pengusaha ekonomi lemah umumnya menggunakan 2 sumber modal yaitu yang berasal dari lembaga formal maupun nonformal (Ibrahim, 1998). Pada usaha PMCns modal usaha sebagian besar berasal dari pemilik alat suling yang dalam kasus ini merangkap sebagai pedagang pengumpul khususnya terkait pengadaan peralatan penyulingan. Sistem pengembalian atas pemakaian modal pada usaha PMCns secara finansial dikenal dengan sistem bagi hasil, yaitu sebesar 5 persen dari total penerimaan. Adapun pada usaha PMCs modal usaha sebagian besar berasal dari pemerintah khususnya terkait pengadaan peralatan penyulingan, dimana sistem pengembalian atas pemakaian modal berbentuk iuran kelompok untuk menjamin kelangsungan produksi dalam hal ini ketersediaan alat, yang besarnya berkisar antara Rp. 5 – 10 ribu per produksi. Pada usaha PMC, besarnya modal usaha yang dibutuhkan relatif sangat tergantung pada KAS dan jenis alat suling. Sebenarnya kendala ini dapat diatasi, dengan pendapatan dari panen cengkeh namun karena pertimbangan pemilihan kegiatan ekonomi, faktor sosial budaya, harapan untuk mendapatkan bantuan usaha cuma-cuma dari pemerintah, belum terbinanya kemitraan dalam berusaha, minat berinvestasi pada usaha PMC yang relatif rendah, membuat modal usaha tetap menjadi kendala dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 59 5. Kebijakan pemerintah daerah Kebijakan adalah intervensi pemerintah untuk merubah prilaku produsen dan konsumen, dimana secara umum tujuan dari kebijakan pemerintah adalah tercapainya efisiensi, pemerataan dan ketahanan. Efisiensi tercapai apabila alokasi sumberdaya ekonomi yang langka mampu menghasilkan pendapatan yang maksimum, alokasi barang dan jasa dapat menghasilkan tingkat kepuasan konsumen yang tinggi, pemerataan diartikan sebagai distribusi pendapatan yang lebih merata, dan ketahanan diartikan sebagai ketersediaan kebutuhan pada tingkat harga yang stabil dan terjangkau (Pearson et al., 2005). Kebijakan pemerintah terkait pengembangan usaha PMC adalah program pengembangan usaha PMC yang merupakan bagian dari program pengembangan Agroindustri Minyak Cengkeh (AMC) nasional, dimana Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi sasaran pengembangan usaha PMC karena dianggap berpotensi besar dalam ketersediaan bahan baku. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden terkait diketahui bahwa program yang sedang berjalan adalah tahap I program dalam rangka mencari strategi terbaik dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. Implementasi program pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku dikelola oleh dinas departermen perindustrian dan perdagangan (Deperindag) dengan 3 tujuan utama yaitu: (1) meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha penyulingan minyak cengkeh, (2) meningkatkan produksi dan mutu minyak cengkeh melalui pengenalan dan distribusi teknologi baru, dan (3) memberikan insentif bagi penyuling untuk mengembangkan usahanya. Penetapan tiga tujuan utama program pengembangan usaha PMC di Propinsi Maluku adalah berdasarkan hasil survei industri kecil-menengah berbahan baku tanaman lokal di Provinsi Maluku tahun 2004, dimana diketahui bahwa rata-rata produk minyak cengkeh Maluku berwarna hitam (akibat penggunaan alat suling 60 nonstainless) dan memiliki harga jual yang relatif rendah. Berdasarkan kondisi ini program pengembangan usaha PMC yang dianggap sesuai adalah pengembangan teknologi penyulingan dengan jenis alat suling stainless steel yang menghasilkan minyak cengkeh dengan warna jernih. Total investasi pemerintah pusat dalam program pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku adalah sebesar Rp. 1.25 milyar, dengan ketentuan dana tahap I program sebesar 20 persen dari total investasi pemerintah pusat merupakan dana cost sharing dari Pemerintah Daerah Propinsi Maluku yang bersumber dari dana APBD. Investasi pemerintah pusat akan dicairkan setelah 1-3 tahun setelah pelaksanaan tahap I program dan sangat tergantung dari hasil evaluasi pelaksanaan tahap I program tersebut. Bekerja sama dengan Baristand sebagai instansi yang dianggap kompeten, pelaksanaan kegiatan tahap I program pengembangan usaha PMC ditekankan pada pelatihan penyulingan melalui pengenalan teknologi penyulingan dengan jenis alat suling stainlees. Dalam implementasinya ada 3 ukuran kapasitas alat suling (KAS) yang akan dievaluasi kinerjanya dalam pencapaian tujuan program yaitu KAS 30, 40 dan 100 kilogram per produksi masing-masing sebangyak 10 unit yang didistribusikan ke 30 kelompok usaha PMC atau 150 RTU PMC. KAS 30 dan 40 kilogram merupakan ukuran yang digunakan masing-masing oleh lembaga Japan International Coorporation Agency (JICA) dan United Nation Industrial Development Organization (UNIDO) dalam pegembangan usaha penyulingan minyak kayu putih di Pulau Ambon karena memiliki tingkat mobilisasi tinggi dan dinilai sesuai dengan kondisi fisik geografi Propinsi Maluku, sedangkan KAS 100 kilogram merupakan ukuran yang mengikuti ukuran alat suling nonstainless steel (terbuat drum) yang dominan digunakan oleh pengusaha PMC di Propinsi Maluku. 61 Pemberian bantuan dalam tahap I program pengembangan usaha PMC dilakukan secara kolektif atau kelompok adalah sebagai upaya memperkecil dana bantuan per RTU, mempermudah pembinaan dan membina kerjasama antar anggota kelompok, dan merupakan hanya merupakan insentif bagi pengusaha PMC untuk mandiri. Berdasarkan nilai alat suling yang berkisar antara Rp 1.14 – 2.63 juta, maka bantuan langsung per RTU hanya berkisar antara Rp 228 – 526 ribu , seperti yang terlihat pada Tabel 21. Tabel 21. Nilai per Unit Alat Suling, Nilai Bantuan per RTU dan Frekwensi Produksi per Tahun KAS Nilai Alat/ unit Nilai Bantuan/ RTU (kg) (Rp. juta) (Rp.juta) 30 1.14 0.228 40 1.39 0.278 100 2.63 0.526 Sumber : Analisa data primer , 2008 Keterangan : * dalam 1 tahun masa produksi = 6 bulan Frekwensi Produksi/RTU/tahun* 24 24 24 Setelah program berjalan 1 tahun tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari instansi terkait, karena data pelaksanaan program tidak terarsipkan pada intansi terkait dan evaluasi untuk melihat keberhasilan program dilapangan belum dilakukan dengan alasan keterbatasan dana. Disisi lain sebagian besar kelompok binaan mengeluh sulitnya membangun koordinasi dan komunikasi dengan lembaga-lembaga pemberi bantuan usai pelaksanaan program, terkait upaya memperoleh pelatihan dan hasil standarisasi atas produk, yang telah dijanjikan karena tiap instansi saling melepaskan tanggung jawab. Kondisi diatas mengindikasikan bahwa pelaksanaan tahap I program pengembangan usaha PMC tidak berjalan sebagaimana mestinya dapat dilihat dari: (1) paket bantuan alat yang terdiri dari: bantuan alat suling, pengetahuan teknis pengoperasian alat, teknis produksi dan pasca produksi umumnya tidak dilakukan secara menyeluruh, bahkan sebagian besar implementasi program sebatas distribusi alat, (2) tidak tersedianya data pada instansi terkait 62 implementasi program dan tindak lanjut yang akan dilakukan padahal program yang dijalankan merupakan program dengan sistem tahapan, (3) kebijakan antar instansi tidak terkait dan tidak saling mendukung menyebabkan besarnya biaya program, walaupun masing-masing instansi memiliki program yang hampir sama tidak ada kerjasama sehingga menimbulkan kesan tumpang tindih, dan jika ada kerja sama masing-masing instansi saling melimpahkan tanggungjawab, dan (4) kelemahan kebijakan pemerintah lainnya adalah dalam pemberian bantuan tidak disertai dengan sistem yang menjamin keberlanjutan program atau usaha PMC yang diintroduksi, seperti penghimpunan dana dari anggota kelompok untuk menjamin ketersediaan alat suling atau pengembangan usaha PMC lebih lanjut. 6. Kelembagaan Keberadaan kelembagan pendukung sangat penting dalam menciptakan integritas usaha dalam mewujudkan tujuan pengembangan usaha. Kelembagaan seperti asosiasi pengusaha PMC, kelompok usaha PMC, pemerintah, koperasi, lembaga pembiayaan, litbang dan lainnnya di desa relatif terbatas dan perannya sangat minim. Terbatasnya transfer pengetahuan antar anggota kelompok dan akses pada pendanaan biaya investasi dan operasional menjadi penyebab kurang berkembangnya usaha PMC di Provinsi Maluku. Pada saat ini sebagian besar kelompok usaha PMC adalah merupakan kelompok usaha yang dibentuk oleh dinas terkait sehubungan dengan program yang akan mereka jalankan dan pengusaha PMC relatif masih sulit mengakses kebutuhan mereka dalam pengembangan usaha melalui lembaga-lembaga pendukung terkait. 5.1.3.3. Faktor Peluang Faktor yang dianggap sebagai peluang adalah faktor yang bisa dimanfaatkan dalam upaya pencapaian tujuan. Dari hasil wawancara dengan 63 responden teridentifikasi 4 faktor yang menjadi peluang dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku yaitu: 1. Daya saing dan Potensi pasar Berdasarkan nilai koefisien DRC yang berkisar antara 0.52 – 0.84 dan nilai PCR 0.54 – 0.93, dapat dikatakan bahwa minyak cengkeh Maluku memiliki prospek pasar yang baik saat ini dan dimasa yang akan datang. Disisi lain peningkatan daya saing minyak cengkeh Maluku masih dapat dilakukan dengan pengembangan teknologi dan kapasitas alat suling yang tepat. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha diketahui usaha PMC menggunakan KAS 40 dan100 kilogram jenis stainless steel dapat menghasilkan produk minyak cengkeh dengan daya saing tinggi hal ini ditunjukkan nilai koefisien DRC masingmasing sebesar 0.52 dan 0.53, 0.58). Sebagian besar pengusaha PMC di lokasi penelitian menjual produk mereka ke pedagang pengumpul setempat, pedagang pengumpul yang datang dan produsen minyak gosok terdekat (seperti UD Yala Karya di Tamilow atau Perusahaan Jamu Toko Sinar Baru, Mutiara dan lainnya di Kota Ambon). Penjualan produk umumnya dilakukan setelah 1 – 2 bulan produksi atau sangat tergantung pada kebutuhan RTU PMC, dengan demikian jumlah produk yang dijual relatif kecil. Kondisi ini menyebabkan pengusaha PMC menganggap dan PCR masing-masing sebesar 0.57 dan menjual produk ke pedagang pengumpul merupakan alternatif sebagai upaya memperkecil biaya pemasaran yang harus mereka keluarkan terkait lokasi produksi yang jauh dari pusat pasar minyak cengkeh. Saat ini Pasar minyak cengkeh sebagian besar (80%) diserap di dalam negeri sebagai dampak dari permintaan domestik yang cenderung meningkat dimana kondisi ini menyebabkan tingkat harga minyak cengkeh domestik relatif stabil, adapun 64 pemain (konsumen) utamanya adalah PT. Indesso Aroma dengan kebutuhan 20 ton/hari. 2. Kesempatan bermitra Permintaan minyak cengkeh yang tinggi baik di tingkat dunia maupun nasional dapat menciptakan kesempatan bermitra diberbagai kalangan yaitu petani cengkeh sebagai pemasok bahan baku bagi pelaku usaha PMC, industri teknologi penyulingan dengan pelaku usaha PMC, industri berbahan baku minyak cengkeh dengan pelaku usaha PMC, investor yang tertarik pada usaha PMC, pemerintah dan pihak terkait lainnya. Kemitraan yang telah ada saat yaitu kemitraan antara pengusaha PMC dengan pedagang pengumpul yang merangkap sebagai pemilik alat suling khususnya untuk jenis alat suling nonstainlees dengan sistem bagi hasil, sedangkan untuk jenis alat suling stainlees kemitraan yang terbentuk dengan pedagang pengumpul hanya sebatas penjual dan pembeli tetap. Peluang bermitra dengan lembaga keuangan sebenarnya cukup besar dengan adanya Inpres No.6 tahun 2005 tentang dana bergulir bagi UKM yang pada tahun 2008 mencapai Rp. 403 Milyar, namun peluang ini belum dapat digunakan dengan optimal oleh pelaku usaha PMC di Provinsi Maluku karena aksesibilitas mereka yang rendah terhadap lembaga keuangan formal baik karena keterbatasan pendidikan maupun informasi. Peluang bermitra antara instansi pemerintah ataupun non pemerintah juga cukup besar, karena masingmasing instansi memiliki spesialisasi pada bidang masing-masing yang terkadang saling terkait satu dengan lainnya, misalnya instansi Baristand memiliki spesialisasi keahlian dalam teknologi produksi dapat bekerja sama dengan instansi dinas perindag dalam mengembangkan industri tertentu dengan menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh pihak Baristand terkait potensi yang dimiliki suatu wilayah. Jika pada tingkat penyuling peluang kemitraan belum 65 dapat dimanfaatkan dengan baik karena keterbatasan pendidikan dan informasi, maka pada tingkat lembaga atau instansi peluang kemitraan seringkali belum dimanfaatkan karena tidak adanya koordinasi, faktor belum adanya kepercayaan dan gap yang terjadi antara lembaga atau intansi sehingga tiap program yang dijalankan walaupun saling terkait namun masih dilakukan secara terpisah. 3. Ketersediaan teknologi Teknologi penyulingan minyak cengkih berupa alat dan prosedur pembuatan minyak cengkeh dengan tingkat produksi dan mutu yang relatif lebih baik telah tersedia pada dinas Baristand Provinsi Maluku. Teknologi penyulingan minyak cengkeh relatif sederhana dan mudah dipelajari, dengan satu unsur penting yang harus diperhatikan yaitu jenis alat suling yang dipakai yang menyebabkan perbesaan warna produk, seperti yang terlihat pada Tabel 22. Tabel 22. Perbedaan Minyak Cengkeh Berdasarkan Jenis Alat Suling Jenis Alat Suling * Non stainlees Stainlees Kayu Besi (Drum) 1. Warna Keruh coklat Hitam Jernih kekuningan 2. Proses Produksi 12 jam 8-9 6-7 3. Rendemen <3% 3 – 4% 3 – 4% 4. Umur Ekonomis 5 <5 10 Sumber: Balai Industri dan Standarisasi Provinsi Maluku, 2007 Komponen perbandingan Proses penyulingan minyak cengkeh diawali dengan sortasi bahan baku, dimana selama proses penyulingan sistem pemanasannya harus dikontrol agar tetap stabil sebagai upaya untuk mendapatkan rendemen yang tinggi. Setelah proses penyulingan limbah bahan baku ini dikeringkan dan kemudian dipakai sebagai bahan bakar pada proses penyulingan selanjutnya (Lampiran 22). 4. Tingkat suku bunga dan skim kredit tersedia bagi UKM Dalam upaya menggerakkan sektor riil pemerintah mengambil kebijakan menurunkan tingkat suku bunga komersil dan menyediakan skim kredit untuk UKM. Tingkat suku bunga komersil sebelumnya 21 persen turun menjadi 13.5 66 persen, sedangkan kredit lunak untuk UMKM telah mencapai angka 6 persen. Namun peluang ini belum dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha PMC untuk mengembangkan usahanya ataupun masyarakat lain yang ingin membangun usaha PMC baru karena keterbatasan informasi ataupun karena faktor birokasi kembaga pembiayaan yang sulit untuk diakses. 5.1.3.4. Faktor Ancaman Faktor ancaman adalah faktor yang dapat menghambat pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui ada 4 faktor ancaman bagi pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku yaitu: 1. Fluktuasi harga Harga minyak cengkeh dalam kurun waktu 1999 – 2005 di pasar dunia relatif fluktuatif, harga minyak cengkeh dunia terendah terjadi pada tahun 2000 yaitu sebesar US$ 0.77 (US$ 1 = Rp 10.27 ribu) per kilogram dan tertinggi pada tahun 2001 yaitu sebesar US$ 7.11 (US$ 1 = Rp 9.26 ribu). Harga minyak cengkeh nasional relatif lebih stabil yaitu kisaran harga Rp 35 – 50 ribu per kilogram, dengan harga tertinggi sebesar Rp 60 ribu pada tahun 2001, harga minyak cengkeh di pasar lokal Maluku juga relatif stabil pada kisaran harga Rp 30 – 45 ribu per kilogram, seperti yang terlihat pada Tabel 23. Tabel 23. Perkembangan Harga Cengkeh dan Minyak Cengkeh Tahun 1999 – 2005 Ekspor (USD$/Kg) Nasional (Rp.000/Kg) Maluku (Rp.000/Kg) Minyak Minyak Minyak Cengkeh Cengkeh Cengkeh cengkeh cengkeh cengkeh 15.81 2.98 123.46 50 104.94 45.00 3.86 0.77 32.95 50 28.01 45.00 5.62 7.11 57.70 60 49.05 50.00 6.95 5,42 64.32 40 54.67 30.70 1.46 1.85 12.50 35 10.63 32.50 3.90 4.30 35.00 42 29.75 35.50 4.63 5.00 45.00 47 38.25 41.00 Departemen pertanian RI 2006, BPS Propinsi Maluku 2006, PT Jasulawangi dan PT. Indesso Aroma, 2006 (diolah) Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Sumber: 67 Harga komoditi minyak cengkeh di pasar dunia relatif fluktuatif mengikuti kondisi perdagangan cengkeh dunia, namun penurunan harga minyak cengkeh relatif tidak setajam penurunan harga bunga cengkeh. Selama kurun waktu 3 tahun terakhir berdasarkan data harga ekspor PT Jasulawangi penurunan harga ekspor tidak lebih dari 10 persen, jika pun melewati angka 10 persen relatif cepat kembali ke harga sebelumnya. 2. Produk sejenis dari daerah lain Berdasarkan kajian tentang Agribisnis Cengkeh oleh Departemen Pertanian (2005), diketahui ada 12 Provinsi yang potensial dalam menghasilkan minyak cengkeh termasuk Provinsi Maluku. Jika harga yang ditawarkan daerah penghasil lain lebih rendah pada standar mutu yang sama maka hal ini merupakan ancaman bagi keberlangsungan usaha PMC Maluku, namun untuk saat ini harga minyak cengkeh hitam Maluku relatif bersaing dengan disparitas harga yang cukup besar untuk dari harga produk minyak cengkeh hitam pada daerah Pabrik Rokok Kretek yaitu mencapai Rp. 7.5 – 10 ribu per kilogramnya melampaui disparitas harga produk minyak cengkeh hitam dan jernih pada daerah PRK yang hanya berkisar Rp 1.5 – 2 ribu. 3. Politik dan keamanan Kondisi politik dan keamanan yang stabil sangat dibutuhkan dalam kegiatan ekonomi khususnya investasi. Terkait dengan peristiwa konflik sosial yang terjadi di Propinsi Maluku tahun 1998 – 2002, minat investasi swasta hingga saat ini relatif rendah. Saat ini kondisi politik dan keamanan di Maluku dapat dikatakan 100 persen telah pulih, oleh karena itu opini tentang kondisi politik dan keamanan Maluku yang tidak kondusif harus segera diubah. 4. Standar mutu dan kuantitas hasil Standar mutu dan kuantitas sering menjadi kendala dalam pemasaran produk minyak cengkeh. Menurut Mangunwidjaja (2002), standar mutu dapat 68 bersifat nasional maupun internasional, di Indonesia standar baku mutu harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Dewan Standarisasi Nasional (DSN) sejak tahun 1994. Berdasarkan hasil penelitian Baristand (1997) minyak cengkeh Maluku sudah memenuhi kualifikasi SNI, seperti yang terlihat pada Tabel 24. Tabel 24. Standar Mutu Minyak Daun Cengkeh Menurut SNI 1991 dan Minyak Cengkeh Maluku 1997 Parameter Uji Karakteristik SNI Karakteristik Minyak Cengkeh Maluku 1. 05 - 2o 5 1.532 80 % Negatif Negatif dalam dua volume 1. Berat Jenis pada 15oC 1,03 - 1,06 2. Putaran Optik (ad) - 1o 35 o 1,52 - 1,54 3. Indeks Refraksi pd 20 C (nd20) 4. Kadar eugenol (%) 78 - 93 % 5. Minyak pelikan Negatif 6. Minyak lemak Negatif 7. Kelarutan dalam Alkohol 70% Dalam dua volume Sumber : Baristand Provinsi Maluku, 1997 Berdasarkan standar mutu (Tabel 24), diketahui warna minyak cengkeh tidak termasuk sebagai salah satu parameter uji, namun pada kenyataan warna produk juga mempengaruhi tingkat permintaan dan harga, baik di pasar lokal maupun non lokal, dimana semakin jernih warna minyak cengkeh maka harga jualnya relatif semakin tinggi. Penjernihan minyak cengkeh hitam sebagian besar dilakukan oleh para eksportir, penjernihan di tingkat penyuling jarang ditemui baik karena keterbatasan teknologi, pertimbangan waktu, rendemen hasil yang akan menurun dan biaya yang dibutuhkan. Sebagian besar produk minyak cengkeh yang dihasilkan di Provinsi Maluku berwarna hitam, minyak cengkeh dengan warna jernih agak kekuningan baru dihasilkan pada tahun 2006, melalui tahap I program pengembangan usaha PMC tetapi jumlahnya masih sangat kecil dan belum mendapatkan sertifikasi standarisasi dari lembaga yang kompeten. Jumlah produksi total minyak cengkeh Provinsi Maluku masih relatif kecil jika dibandingkan dengan ketersediaan bahan bakunya. Disisi lain usaha PMC di Provinsi Maluku tersebar dengan skala produksi yang relatif kecil. Kondisi ini 69 menjadi kendala bagi para pelaku usaha PMC sulit menjalin kemitraan dengan konsumen luar daerah yang kuantitas permintaannya besar. 5.3. Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh 5.3.1. Penentuan Prioritas Alternatif Strategi Pengembangan Penyulingan Minyak Cengkeh Di Provinsi Maluku Usaha Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha PMC dan identifikasi faktor internal dan eksternal dilakukan analisis lanjutan untuk menyusun strategi kebijakan terkait dengan alokasi sumberdaya dan dana yang terbatas guna mencapai tujuan dan sasaran yang optimal dengan menggunakan analisis linier programing. Penentuan prioritas strategi pengembangan usaha PMC efektif dan efisien dalam analisa LP ditujukan pada keuntungan yang optimal yang dapat diperoleh melalui program pengembangan KAS secara lebih merata di tiap kabupaten dengan kendala antara lain: 1. Kendala ketersediaan bahan baku Sifat bahan baku dan topografi daerah Maluku memerlukan biaya penanganan yang cukup besar dalam penyediaannya, agar efsiensi produksi dapat tercapai maka pengembangan usaha PMC harus berorientasi sumberdaya karena semakin kecil ruang mobilisasi bahan baku diharapkan biaya pengadaan bahan baku akan semakin kecil. Oleh karena itu, kendala bahan baku yang digunakankan adalah kendala ketersediaan bahan baku di tiap kabupaten upaya ini juga diarahkan untuk pengdistribusian bantuan yang lebih merata. 2. Kendala alokasi biaya investasi Alokasi investasi pemerintah dalam kegiatan pengembangan usaha PMC terbatas yaitu hanya sebesar Rp 1.25 Milyar. Untuk menjamin tercapai tujuan pemerataan maka dana tersebut akan dialokasikan ke tiap kabupaten sesuai dengan perkiraan ketersediaan bahan baku yang dimiliki. Jika diasumsikan implementasi penggunaan dana dalam program pengembangan usaha PMC di 70 Provinsi Maluku akan mengikuti ketentuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), maka alokasi dana harus memenuhi ketentuan yaitu: 90 persen berbentuk bantuan langsung fisik dan 10 persen untuk kegiatan operasional, seperti yang terlihat pada Tabel 25. Tabel 25. Ketersediaan Bahan Baku dan Alokasi Dana Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh pada Enam Kabupaten di Provinsi Maluku. Ketersediaan Bahan Baku riil (ribu ton) Maluku Tenggara 0.90 Maluku Tengah 13.72 Pulau Buru 5.79 Seram Bagian Barat 3.78 Seram Bagian Timur 13.14 Ambon 0.95 Total 38.30 Sumber: Analisis data primer, 2008 Kabupaten Alokasi Dana Pengembangan (Rp juta) Fisik Opersional 51.17 2.93 322.04 44.80 214.67 18.91 193.46 12.33 266.48 42.90 77.17 3.22 1124.99 125.00 3. Kendala target produksi Produksi minyak cengkeh dengan mutu produk yang lebih baik diperkirakan akan lebih kecil dari jumlah produksi minyak cengkeh hitam yang mencapai 480 ton per tahun karena keterbatasan dana investasi pemerintah untuk program pengembangan usaha tersebut. Berdasarkan hasil analisis kelayakan ekonomi dan sesuai kendala yang ada telah diuraikan diatas, langkah awal dalam analisis ini adalah menyusun model matematematis ketidaksamaan program linier sesuai fenomena dan kendala yang ada. Selanjutnya model analisis yang telah disusun diolah dengan menggunakan software LINDO untuk memperoleh solusi optimal dari penggunaan sumberdaya (Lampiran 23). Hasil analisis LP menunjukkan bahwa usaha PMCs3 atau usaha PMC yang menggunakan KAS 100 kilogram jenis stainless steel merupakan alternatif strategi pengembangan usaha PMC prioritas utama dalam program pengembangan usaha PMC di Propinsi Maluku, dimana masing-masing 71 kabupaten memperoleh jumlah yang berbeda sesuai dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Berdasarkan Tabel 25, diketahui konsentrasi usaha PMCs3 tertinggi pada Kabupaten Maluku Tengah dan terendah pada Kabupaten Maluku Tenggara. Kondisi ini jika dikaitkan dengan realita di lapangan adalah sesuai karena berdasarkan Tabel 25, diketahui bahwa Kabupaten Maluku Tengah memiliki ketersediaan bahan baku minyak cengkeh paling besar dan Kabupaten Maluku Tenggara memiliki ketersediaan bahan baku minyak cengkeh paling kecil dibandingkan dengan kabupaten lainya. Tabel 26. Hasil Analisis Optimalisasi Keuntungan Usaha PMCs (KAS Jenis Stainless Steel) dengan Sofware LINDO Lokasi j 1 2 3 4 5 6 Kabupaten Maluku Tenggara Maluku Tengah Pulau Buru Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Ambon X1 1 2 2 0 0 2 7 1.396 Xi X2 0 0 0 0 0 0 0 X3 16 122 82 71 99 29 419 Total (Unit) Total Keuntungan (Rp. Milyar) Sumber: Analisis data primer, 2008 Keterangan: X1 = Jumlah usaha PMCs1 X2 = Jumlah usaha PMCs2 X3 = Jumlah usaha PMCs3 Selain memiliki tingkat keuntungan investasi yang tinggi dibandingkan usaha PMC lainnya (Tabel 15), usaha PMCs3 juga relatif lebih dapat diterima oleh perserta tahap I program pengembangan usaha PMC walaupun memiliki tingkat mobilisasi yang rendah dibandingkan usaha PMCs1 dan usaha PMCs2. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa alternatif usaha PMCs1 dan PMCs2 diikutkan sebagai alternatif pengembangan KAS karena dianggap memiliki tingkat mobilisasi tinggi yang sesuai dengan kondisi perkebunan cengkeh di Provinsi Maluku, namun dari hasil pengamatan dilapangan diketahui bahwa penyulingan minyak cengkeh selalu dilakukan pada suatu tempat, 72 khususnya pada lokasi yang dekat dengan sumber mata air atau dekat tempat tinggal pengusaha PMC (penyuling). Hal ini dikarenakan sebagian besar penyuling beranggapan relatif lebih mudah dan tidak berisiko memobilisasi bahan baku daripada memobilisasi alat suling. Pelaku usaha PMCs1 dan PMCs2 juga sering mengeluhkan kecilnya KAS stainless steel bantuan yang mereka terima dari tahap I program pengembangan usaha PMC dibandingkan dengan KAS nonstainless steel yang dulu mereka digunakan, padahal waktu produksi ketiga alat tersebut relatif sama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa program pengembangan usaha PMC dengan introduksi teknologi melalui pengembangan KAS 100 kilogram jenis alat suling stainless steel (usaha PMCs3) relatif cukup efektif dan efisien dibandingkan introduksi lainnya. 5.3.2. Strategi Pengembangan Usaha Penyulingan Minyak Cengkeh di Provinsi Maluku Analisis matriks internal-ekternal (I-E) dapat digunakan untuk mencari strategi umum (grand strategy) dalam pengembangan usaha PMC ataupun menilai strategi yang telah dijalankan dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. Matriks I-E didasarkan pada dua dimensi kunci yaitu skor total Evaluasi Faktor Internal (EFI) pada sumbu x dan skor total Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) pada sumbu y. Hasil analisis matriks EFI menunjukkan bahwa total skor faktor internal sebesar 2.21, dimana total skor terboboti variabel faktor kekuatan lebih besar dibandingkan skor terboboti variabel faktor kelemahan (1.40>0.81). Faktor yang menjadi kekuatan utama dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku yaitu faktor ketersediaan bahan baku dan dukungan non pribumi ini ditunjukan oleh rating faktor tersebut sebesar 4, sedangkan faktor yang menjadi kekuatan kecil adalah faktor tingkat keuntungan usaha dan ketersediaan infrastruktur. Pada kelompok faktor kelemahan hanya 2 faktor yang menjadi kelemahan kecil 73 yaitu memiliki rating 2, yakni sifat bahan baku dan topografi daerah, dan sumberdaya manusia sedangkan 4 faktor lainnya merupakan faktor kelemahan utama, seperti yang terlihat pada Tabel 27. Tabel 27. Matriks EFI Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku Faktor Internal Kekuatan 1 2 3 4 Ketersediaan bahan baku Dukungan Non pribumi Tingkat Keuntungan Usaha ketersediaan infrastruktur Jumlah Kelemahan 1 Sifat Bahan baku dan topografi daerah 2 Sumberdaya Manusia 3 Sosial budaya masyarakat 4 Modal Usaha 5 Kebijakan Pemerintah Daerah 6 Kelembagaan Jumlah Total Sumber : Analisis data primer, 2008 0.09 0.13 0.07 0.10 0.39 0.11 0.10 0.10 0.09 0.09 0.13 0.61 1.00 4 4 3 3 0.37 0.50 0.22 0.30 1.40 0.22 0.19 0.10 0.09 0.09 0.13 0.81 2.21 Bobot Rating Nilai Terbobot 2 2 1 1 1 1 Hasil analisis matriks EFE menunjukkan bahwa total skor faktor eksternal sebesar 2.21, dimana total skor terboboti variabel faktor peluang lebih besar dibandingkan skor terboboti variabel faktor ancaman (1.55 >0.92). Pada faktor peluang, potensi pasar dan dan ketersediaan teknologi direspon sangat baik, sedangkan 2 faktor lainnya yaitu kesempatan bermitra dan tingkat suku bunga turun dan skim kredit untuk UKM tersedia direspon agak baik. Faktor ancaman juga terdiri atas 4 faktor, dimana faktor fluktuasi harga dan politik dan keamanan masing-masing memiliki pengaruh kuat dan sangat kuat dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku terlihat dari nilai ratingnya sebesar 3 dan 4, sedangkan 2 faktor lainnya yaitu produk sejenis dari daerah lain dan standar mutu dan kualitas kurang kuat pengaruhnya terhadap pengembangan usaha PMC, seperti yang terlihat pada Tabel 28. 74 Tabel 28. Matriks EFE Pengembangan Usaha PMC Faktor Eksternal Peluang 1 2 3 4 Daya Saing dan Potensi pasar Kesempatan bermitra Ketersediaan Teknologi Tingkat suku bunga turun dan skim kredit UKM tersedia Jumlah Ancaman 1 2 3 4 Fluktuasi harga produk Produk sejenis dari lain daerah Politik dan Keamanan (Opini) Standar mutu dan kuantitas produk Jumlah Total Sumber : Analisis data primer, 2008 0.12 0.17 0.07 0.13 0.48 1.00 3 1 4 1 0.35 0.17 0.27 0.13 0.92 2.47 0.11 0.15 0.14 0.12 0.52 4 2 4 2 0.44 0.30 0.58 0.23 1.55 Bobot Peringkat Nilai Terbobot Berdasarkan perhitungan matrik IFE dan EFE pada Tabel 27 dan 28, diketahui skor total IFE dan EFE masing-masing sebesar 2.21 dan 2.46, yang jika dipetakan pada matrik IE maka posisi strategi usaha pengembangan PMC Maluku berada pada zona V. Posisi strategi pada zona V berarti usaha PMC di Provinsi Maluku dalam posisi strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal dan stabilitas, seperti yang terlihat pada Gambar 5. 4.0 Tinggi 3.0 - 4.0 3.0 Sedang 2.0 – 2.99 2.0 Rendah 1.0 - 1.99 1.0 VII VIII IX IV IFE = 2.21 V EFE = 2.47 VI Kuat 3.0 - 4.0 3.0 Rata-rata 2.0 – 2.99 2.0 Lemah 1.0 - 1.99 1.0 I II III Gambar 5. Matriks I – E untuk Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku 75 Menurut Rangkuti (2006), strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal dapat dilakukan melalui kegiatan memperluas usaha pada lokasi yang berbeda, memperluas pasar, fasilitas produksi dan teknologi melalui joint ventures atau kemitraan, sedangkan strategi stabilitas adalah menjalankan strategi yang telah ditetapkan tanpa mengubah arah strategi. Jika dikaitkan dengan tujuan program pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku yaitu: (1) meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha penyulingan minyak cengkeh, (2) meningkatkan produksi dan mutu minyak cengkeh melalui pengenalan dan distribusi teknologi baru, dan (3) memberikan insentif bagi penyuling untuk mengembangkan usahanya, maka strategi memperbaiki mutu minyak cengkeh melalui introduksi teknologi dalam hal ini pengembangan usaha PMCs3 pada tiap kabupaten sesuai ketersediaan bahan baku yang dimiliki relatif cukup efektif. Wujud dari strategi memperluas usaha pada lokasi yang berbeda adalah strategi pengembangan usaha PMC pada tiap kabupaten sesuai ketersediaan bahan baku, karena berdasarkan data jumlah usaha PMC (Tabel 2), diketahui usaha PMC saat ini masih terkonsentrasi pada Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Adapun strategi memperbaiki mutu produk minyak cengkeh merupakan salah satu bentuk dari strategi memperluas pasar, selama ini produksi minyak cengkeh Maluku hanya terbatas untuk memenuhi permintaan pasar domestik dengan penggunaan yang terbatas yaitu dominan sebagai produk subtitusi bunga cengkeh pada PRK karena tidak memenuhi syarat untuk penggunaan lainnya seperti untuk aroma terapi, kosmetik dan obat-obatan karena mengandung unsur Fe yang tinggi (terlihat dari produk yang berwarna hitam) dan tidak mampu menembus pasar ekspor, sedangkan produk minyak cengkeh berwarna jernih memiliki pasar yang relatif lebih luas. Disisi lain perbaikan mutu produk minyak cengkeh juga berdampak pada peningkatan 76 pendapatan pengusaha PMC yang merupakan insentif bagi pengusaha untuk mengembangkan usahanya lebih lanjut. Walaupun strategi yang diambil dinilai relatif cukup efektif, namun keefektifannya hanya berlaku dalam jangka panjang karena memerlukan waktu dalam implementasi, sedangkan strategi jangka pendek yang diterapkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh usaha PMC dengan produk minyak cengkeh hitam dalam masa peralihan teknologi belum terlihat, seperti memperkecil disparitas harga produk antara daerah Pabrik Rokok Kretek (PRK) dan bukan daerah PRK belum dilakukan padahal peluang tersebut cukup besar. Seperti yang diketahui bahwa pasar minyak cengkeh hitam sebagian besar adalah untuk Pabrik Rokok Kretek, dan Provinsi Maluku juga merupakan daerah pasar rokok kretek yang potensial ini terlihat dengan adanya agen pemasaran produk rokok yang meliputi lokasi Maluku – Papua yang bertempat di kota Ambon, dengan kondisi ini seharusnya pemerintah dapat membangun pola kemitraan antara Pengusaha PMC dengan Pengusaha PRK khususnya untuk memperkecil disparitas harga produk yang terjadi. Oleh karena itu strategi membangun pola koordinasi dan kemitraan antara berbagai lembaga terkait menjadi penting disamping strategi lainnya karena dengan strategi koordinasi dan kemitraan efektivitas, efisiensi dan pemerataan pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku akan memiliki tingkat keberhasilan yang besar. VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan pada prospek pengembangan AMC di Propinsi Maluku dan berpedoman pada tujuan penelitian, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Daya dukung faktor internal – eksternal dalam pengembangan usaha PMC di Propinsi Maluku berdasarkan hasil analisis kuantitatif yaitu analisa kelayakan usaha dan daya saing relatif cukup tinggi ini tercermin dari: (1) nilai indikator kelayakan usaha PMC pada berbagai kapasitas olah dan jenis alat suling menunjukkan NVP lebih besar dari nol, Net B/C lebih besar dari satu, IRR lebih besar SDR yang berlaku dan PBP yang lebih kecil dari umur ekonomis usaha PMC, dan (2) daya saing minyak cengkeh Maluku relatif tinggi ditunjukan oleh DRCR dan PCR yang lebih kecil dari satu. Adapun berdasarkan analisis kualitatif yaitu: (1) identifikasi faktor internal diketahui bahwa kondisi sosial budaya, modal usaha, implementasi kebijakan dan kelembagaan merupakan kelemahan utama, dan (2) identifikasi faktor eksternal diketahui bahwa harga minyak cengkeh di pasar dunia yang relatif fluktuatif dan opini belum stabilnya kondisi politik dan keamanan di Provinsi Maluku merupakan ancaman utama, yang harus segera diatasi dalam upaya mengsukseskan pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku. 2. Implementasi tahap I program pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku relatif tidak berjalan baik karena memiliki banyak kelemahan sebagai akibat besarnya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pelaksana program, rendahnya tingkat koordinasi program antar berbagai dinas terkait dan rendah kemitraan yang dibangun antar lembaga-lembaga terkait, jika 78 kondisi ini tidak dibenahi maka implementasi tahap selanjutnyta dapat dipastikan akan mengalami kondisi yang sama 3. Alternatif strategi pengembangan usaha PMCs3 yang merata sesuai ketersediaan bahan baku di tiap kabupaten berdasarkan analisis LP atau analisis alokasi sumberdaya optimal mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan usaha PMCs lainnya. Adapun strategi yang bisa diterapkan berdasarkan pemetaan pada matriks I-E yaitu: (1) strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal, yang dapat dilakukan melalui kegiatan memperluas usaha pada lokasi yang berbeda, memperluas pasar, fasilitas produksi dan teknologi melalui joint ventures atau kemitraan, dan (2) strategi stabilitas adalah menjalankan strategi yang telah ditetapkan tanpa mengubah arah strategi. Jika ditelaah lebih lanjut dapat dikatakan bahwa strategi kebijakan pengembangan usaha PMC yang sementara dilakukan oleh pemerintah Provinsi Maluku yaitu strategi peningkatan produksi minyak cengkeh bermutu baik melalui introduksi teknologi adalah merupakan bentuk dari strategi pertumbuhan, namun strategi tersebut masih memerlukan penyempurnaan agar pencapaian tujuan menjadi lebih optimal. 6.2. Saran Berdasarkan hasil kajian ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan lembaga terkait lainnya yaitu: 1. Perlu dibangunnya pola strategi kebijakan yang dapat membangun koordinasi dan memanfaatkan peluang kemitraan dengan berbagai pihak terkait, khususnya menyangkut keselarasan program antar instansi, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan produksi, pembiayaan usaha dan pemasaran produk melalui kemitraan agar proses pencapaian tujuan pengembangan usaha PMC dapat berjalan dengan baik. 79 2. Terkait sifat bahan baku dan topografi daerah, Provinsi Maluku memerlukan jumlah alat suling yang relatif banyak dan tersebar, oleh karena itu bantuan sebaiknya diberikan dalam bentuk dana bergulir, (baik perguliran di dalam kelompok maupun antar kelompok) dengan cara pengembalian dan perguliran yang disepakati bersama, dan pelaksanaan program sebaiknya di evaluasi intensif baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menjamin keberlangsungan dan perkembangan program pengembangan usaha PMC yang dijalankan, 3. Alternatif pengembangan jenis usaha PMCs3 (penyulingan minyak cengkeh dengan KAS 100 kilogram jenis stainless steel) dapat digunakan sebagai strategi dalam pengembangan usaha PMC di Provinsi Maluku dalam jangka panjang, dimana penyebarannya harus memperhatikan daya dukung dari tiap kabupaten khususnya pada faktor-faktor yang terkait dengan ketersediaan bahan baku dan SDM baik dari sisi kualitas atau skill yang dimiliki dan kuantitas ketersediaannya. 4. Dalam jangka pendek sebaiknya pemerintah lebih fokus pada masalahmasalah yang dihadapi oleh pelaku usaha PMC saat ini seperti disparitas harga produk yang tinggi dengan mutu yang relatif sama antara daerah Pabrik Rokok Kretek (PRK) dan Maluku yang sebenarnya dapat diperkecil dengan membangun kemitraan antara pengusaha PMC dengan Pengusaha Rokok Kretek, seperti dengan menetapkan aturan bahwa pengusaha rokok kretek harus membeli produk minyak cengkeh sebanding dengan jumlah minyak cengkeh yang dipakai untuk memproduksi produk rokok yang disuplai ke Provinsi Maluku pada tingkat harga yang wajar atau membantu pengembangan usaha PMC yang menghasilkan produk yang berdayasaing tinggi. DAFTAR PUSTAKA Asheghian, P. and B. Ebrahimi. 1990. International Business. Harper and Row, Publishers Inc., New York. Astana, S. dan Z. M. Muttaqin. 2005. Daya Saing Ekspor Hasil Hutan Andalan Setempat. Jurnal Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 2(1): 27 -37. Astana, S., Z. M. Muttaqin dan E. Rachman. 2005. Sistem Tataniaga dan Ketergantungan Penduduk Lokal dan Ekonomi Lokal dan Ekonomi Daerah pada Hasil Hutan Andalan Setempat. Jurnal Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 2(1): 39-59. Astana, S., Z. M. Muttaqin dan T.J. Yuhono. 2004. Keunggulan Komparatif Hasil Hutan Bukan Kayu dari Hutan Tanaman. Jurnal Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 1(1): 31-44. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Cengkeh. http://www.Litbang. Special/Komoditas/Files/00-Cengkeh.Pdf. Diakses: 14 September 2006. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. 2004. Kajian Strategi Pengembangan Kawasan Dalam Rangka Mendukung Akselerasi Peningkatan Daya Saing Daerah. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Jakarta. Badan Pusat Statistik Propinsi Maluku. 2005. Maluku dalam Angka 2005/2006. Badan Pusat Statistik, Propinsi Maluku, Ambon. Cho, S. D. dan C. H. Moon. 2003. From Adam Smith to Michael Porter : Evolusi Teori Daya Saing. Penerjemah : Erly Suandy. Salemba Emban Patria, Jakarta. Darmawansyah, 2003. Maksimisasi Sektor Unggulan untuk Menunjang Peningkatan Penerimaan Daerah: Kasus Kabupaten Takalar. Jurnal Analisis, 1(1): 1-8. David F. R. 2002. Manajemen Strategis: Konsep. Penerjemah: Widyantoro A. Prenhallindo, Jakarta. Departemen Pertanian. 2004. Rencana Pembangunan Pertanian http://www.Deptan.go.id.Pdf. Diakses: 14 September 2006 2004. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Maluku. 2004. Data Potensi Industri Kecil per Kabupaten di Provinsi Maluku Tahun 2004. Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Provinsi Maluku, Ambon. . 2005. Laporan Hasil Identifikasi Sumber Daya Alam dan Perkembangan Industri di Provinsi Maluku. Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Provinsi Maluku, Ambon. 81 Giatman, M. 2006. Ekonomi Teknik. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Gittinger, P. J. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Universitas Indonesia Press, Jakarta. Gray, C., P. Simanjuntak, K. L. Sabur, L. F. P. Maspaitella dan G. C. R. Varley. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Guenther, E. 1990. Minyak Atsiri. Jilid IV B. Penerjemah: Ketaren S. Universitas Indonesia, Jakarta. Gumbira-Said, E. dan I. A. Harizt. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia – MMA IPB, Bogor. Gumbira-Said, E., I. A. Harizt dan I. T. Saptono. 2003. Strategi Pengembangan Industri Pengolahan Sabut Kelapa Nasional. Jurnal Manajemen Agribisnis, 1(1): 42– 54. Hafsah, J. M. 2004. Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jurnal Infokop, 20 (25) : 40-44. Hobir dan Y. Nuryani. 2004. Plasma Nutfah Tanaman Atsiri. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Jurnal Perkembangan Teknologi TRO, 16(1): 17-26. Ibrahim, Y. M. H. 1998. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta. Joesron, S. T. 2001. Investment Project Feasibility dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah. Makalah Disampaikan pada: Seminar Sosialisasi Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Jawa-Barat. Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, April 2001. Kadariah. 1985. Evaluasi Proyek. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Kardinan, A. 2005. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Agromedia Pustaka, Jakarta. Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Prenhallindo, Jakarta. Maartheen, N. 1998. Aspek Ekonomi Pengolahan Minyak Kayu Putih di Propinsi Maluku. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. MacTavish H. dan D. Harris. 2002. An Economic Study of Essential Oil Production in the UK: A Case Study Comparing Non-UK Lavender/ Lavandin Production and Peppermint/Spearmint Production with UK Production Techniques and Costs. Report to Government-Industry Forum on Non Food Uses of Crops DEFRA, London. Nasendi, D.B. dan A. Anwar. 1985. Program Linier dan Variasinya. Gramedia, Jakarta. 82 Nurasa, T dan Supriatna. 2005. Analisis Pemasaran Komoditi Panili: Studi Kasus di Propinsi Sulawesi Utara. Jurnal SOCA, 5(3): 277-282. Pearson S., C. Gostsch dan S. Bahri. 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Porter, M. E. 1990. The Competitive Advantage of Nations. The Free Press, A Division of Macmillan, Inc., New York. Rangkuti, F. 2006. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Siregar, M. dan Sumaryanto. 2003. Analisis Daya Saing Usahatani Kedelai di DAS Brantas. Jurnal Agroekonomi, 21(1): 50-71. Smallfield, B. 2001. Introducing to Growing Herb for Essential Oils, Medical and Culinary Purpose. Crop and Food Research (Broad Sheet) Number 45 March 2001. New Zealand Institute Crop and Food Research Ltd., A Crawn Research Institute, New Zealand. Soekartawi, A. Soeharjo, J. L. Dillon dan J. B. Hardaker. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press, Jakarta. Supriatna, A., N. Rambitan, D. Sumangat dan N. Nurdjannah. 2004. Analisis Sistem Perencanaan Model Pengembangan Agroindustri Minyak Daun Cengkeh: Studi Kasus di Sulawesi Utara. Buletin TRO, 15(1): 1-18. Tarigan R. 2005. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Bumi Aksara, Jakarta. Umar H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis: Teknik Menganalisis Kelayakan Rencana Bisnis Secara Komprehensif. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. LAMPIRAN 84 Lampiran 1. Peta Provinsi Maluku Lokasi Penelitian 85 Lampiran 2. Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nontainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Biaya Pemasaran 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) 0 0.00 2.27 2.27 0.00 0.00 -2.27 1.00 0.00 2.27 -2.27 -2.27 4.60 41.25% 2.68 1.63 Tahun 1 11.55 9.97 0.00 7.87 2.10 1.58 0.88 10.18 8.78 1.39 -0.88 2 12.36 10.67 0.00 8.42 2.25 1.69 0.78 9.59 8.28 1.31 0.44 3 12.85 11.75 0.34 9.01 2.40 1.09 0.68 8.79 8.04 0.75 1.18 4 13.34 12.21 0.00 9.64 2.57 1.13 0.60 8.04 7.36 0.68 1.86 Tahun 5 13.84 14.73 1.66 10.32 2.75 -0.88 0.53 7.35 7.82 -0.47 1.39 6 16.20 13.98 0.00 11.04 2.95 2.22 0.47 7.58 6.54 1.04 2.43 7 17.33 15.40 0.44 11.81 3.15 1.93 0.41 7.14 6.35 0.79 3.22 8 18.02 16.01 0.00 12.64 3.37 2.01 0.36 6.54 5.81 0.73 3.95 9 18.71 17.64 0.51 13.52 3.61 1.07 0.32 5.99 5.64 0.34 4.30 10 19.41 18.33 0.00 14.47 3.86 1.08 0.28 5.47 5.17 0.31 4.60 Catatan: Jenis alat suling non stainlees Steel kapasitas, sistem bagi hasil Kapasitas Alat Suling 100 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 0.97 juta per unit Kapasitas Olah 12 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna hitam Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun Lampiran 3. Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Biaya Pemasaran 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) 0 0.00 1.81 1.81 0.00 0.00 -1.81 1.00 0.00 1.81 -1.81 -1.81 7.77 70.74% 5.30 1 4.41 2.80 0.00 2.17 0.63 1.62 0.88 3.89 2.46 1.42 -0.38 2 4.72 2.99 0.00 2.32 0.67 1.73 0.78 3.66 2.32 1.34 0.96 3 5.05 3.39 0.19 2.48 0.72 1.66 0.68 3.45 2.32 1.14 2.09 4 5.40 3.42 0.00 2.65 0.77 1.98 0.60 3.26 2.06 1.19 3.29 Tahun 5 5.78 3.88 0.22 2.84 0.83 1.90 0.53 3.07 2.06 1.01 4.30 6 6.01 3.92 0.00 3.04 0.88 2.09 0.47 2.81 1.83 0.98 5.27 7 6.24 4.44 0.25 3.25 0.95 1.80 0.41 2.57 1.83 0.74 6.01 8 6.47 4.49 0.00 3.48 1.01 1.99 0.36 2.35 1.63 0.72 6.74 9 6.71 5.09 0.28 3.72 1.08 1.63 0.32 2.15 1.63 0.52 7.26 10 6.95 5.14 0.00 3.98 1.16 1.81 0.28 1.96 1.45 0.51 7.77 12 Pay Back Period (PBP) 1.28 Tahun Catatan: Lokasi Desa Rumakay, Latu dan Hualoy Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat Jenis alat suling stainlees steel, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Seram Bagian Barat Kapasitas Alat Suling 30 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 1.14 juta per unit Kapasitas Olah 3.6 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi =120 kali/tahun 86 Lampiran 4. Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless) Tahun 0 0.00 2.06 2.06 0.00 0.00 -2.06 1.00 0.00 2.06 -2.06 -2.06 13.74 103.32% 7.69 0.91 Tahun 1 5.88 3.31 0.00 2.47 0.84 2.58 0.88 5.18 2.91 2.27 0.21 2 6.29 3.54 0.00 2.64 0.90 2.76 0.78 4.88 2.75 2.14 2.35 3 6.73 3.97 0.19 2.82 0.96 2.76 0.68 4.60 2.72 1.89 4.24 4 7.20 4.05 0.00 3.02 1.03 3.15 0.60 4.34 2.44 1.90 6.14 5 7.71 4.55 0.22 3.23 1.10 3.16 0.53 4.09 2.41 1.68 7.82 6 8.01 4.64 0.00 3.46 1.18 3.38 0.47 3.75 2.17 1.58 9.40 7 8.32 5.21 0.25 3.70 1.26 3.11 0.41 3.43 2.15 1.28 10.68 8 8.63 5.31 0.00 3.96 1.35 3.33 0.36 3.13 1.93 1.21 11.89 9 8.95 5.96 0.28 4.24 1.44 2.99 0.32 2.86 1.91 0.96 12.84 10 9.27 6.08 0.00 4.53 1.54 3.19 0.28 2.61 1.71 0.90 13.74 Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Biaya Pemasaran 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) Catatan: Lokasi Desa Buria, Nuruwe dan Taniwel Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat Jenis alat suling stainlees Steel kapasitas, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Seram Bagian Barat Kapasitas Alat Suling 40 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 1.39 juta per unit Kapasitas Olah 4.8 ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun (6 bulan) Lampiran 5. Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless) Tahun 0 0.00 3.93 3.93 0.00 0.00 -3.93 1.00 0.00 3.93 -3.93 -3.93 33.19 126.73% 9.5 0.75 Tahun 1 14.70 8.77 0.00 6.67 2.10 5.93 0.88 12.95 7.73 5.22 1.30 2 15.73 9.38 0.00 7.14 2.25 6.35 0.78 12.21 7.28 4.93 6.23 3 16.83 10.23 0.19 7.64 2.40 6.60 0.68 11.51 7.00 4.51 10.74 4 18.01 10.74 0.00 8.17 2.57 7.26 0.60 10.85 6.47 4.38 15.12 5 19.27 11.71 0.22 8.74 2.75 7.56 0.53 10.23 6.22 4.01 19.13 6 20.03 12.30 0.00 9.36 2.95 7.73 0.47 9.37 5.75 3.61 22.74 7 20.80 13.41 0.25 10.01 3.15 7.39 0.41 8.57 5.53 3.05 25.79 8 21.58 14.08 0.00 10.71 3.37 7.50 0.36 7.84 5.11 2.72 28.51 9 23.09 15.35 0.28 11.46 3.61 7.74 0.32 7.39 4.91 2.48 30.99 10 23.94 16.12 0.00 12.26 3.86 7.81 0.28 6.75 4.54 2.20 33.19 Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Biaya Pemasaran 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) Catatan: Lokasi Desa Tulehu dan Suli Kecamatan Salahutu, Desa Tamilow Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah Jenis alat suling stainlees Steel kapasitas, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Maluku Tengah Kapasitas Alat Suling 100 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 2.63 juta per unit Kapasitas Olah 12 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun 87 Lampiran 6. Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nontainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Bagi hasil 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) 0 0.00 1.00 1.00 0.00 0.00 -1.00 1.00 0.00 1.00 -1.00 -1.00 4.65 83.2% 8.9 1.0 Tahun 1 12.48 8.34 0.00 8.34 0.47 1.11 0.88 8.33 7.35 0.98 -0.02 2 10.11 8.93 0.00 8.93 0.51 1.19 0.78 7.85 6.93 0.92 0.90 3 10.51 9.54 0.00 9.54 0.53 0.97 0.68 7.19 6.52 0.67 1.56 4 10.92 10.19 0.00 10.19 0.55 0.73 0.60 6.58 6.14 0.44 2.00 Tahun 5 11.33 10.88 0.00 10.88 0.57 0.44 0.53 6.01 5.78 0.24 2.24 6 13.25 11.70 0.00 11.70 0.66 1.55 0.47 6.20 5.47 0.73 2.96 7 14.18 12.52 0.00 12.52 0.71 1.66 0.41 5.84 5.16 0.68 3.65 8 14.74 13.37 0.00 13.37 0.74 1.37 0.36 5.35 4.86 0.50 4.14 9 15.31 14.29 0.00 14.29 0.77 1.02 0.32 4.90 4.57 0.33 4.47 10 15.88 15.26 0.00 15.26 0.79 0.62 0.28 4.48 4.30 0.18 4.65 Catatan: *Jenis alat suling non stainlees Steel kapasitas, sistem bagi hasil Kapasitas Alat Suling 100 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 0.97 juta per unit Kapasitas Olah 12 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna hitam Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun Lampiran 7. Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Iuran Pokpen 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) 0 0.00 0.67 0.67 0.00 0.00 -0.67 1.00 0.00 0.67 -0.67 -0.67 5.87 129.3% 9.8 0.7 Tahun 1 3.98 2.77 0.00 2.77 0.60 1.02 0.88 3.33 2.44 0.89 0.23 2 4.04 2.92 0.00 2.92 0.60 1.13 0.78 3.14 2.26 0.88 1.10 3 4.33 3.27 0.19 3.08 0.60 1.06 0.68 2.96 2.23 0.73 1.83 4 4.63 3.25 0.00 3.25 0.60 1.38 0.60 2.79 1.96 0.83 2.66 Tahun 5 4.95 3.65 0.22 3.44 0.60 1.30 0.53 2.63 1.94 0.69 3.35 6 5.15 3.64 0.00 3.64 0.60 1.51 0.47 2.41 1.70 0.71 4.06 7 5.35 4.10 0.25 3.85 0.60 1.25 0.41 2.20 1.69 0.52 4.58 8 5.55 4.08 0.00 4.08 0.60 1.47 0.36 2.02 1.48 0.53 5.11 9 5.75 4.60 0.28 4.32 0.60 1.15 0.32 1.84 1.47 0.37 5.48 10 5.96 4.58 0.00 4.58 0.60 1.38 0.28 1.68 1.29 0.39 5.87 Catatan: Lokasi Desa Rumakay, Latu dan Hualoy Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat Jenis alat suling stainlees steel, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Seram Bagian Barat Kapasitas Alat Suling 30 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 1.14 juta per unit Kapasitas Olah 3.6 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi =120 kali/tahun 88 Lampiran 8. Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Iuran Pokpen 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) 0 0.00 0.67 0.67 0.00 0.00 -0.67 1.00 0.00 0.67 -0.67 -0.67 14.33 441.6% 22.56 1 5.49 1.35 0.00 1.35 0.72 3.69 0.88 4.44 1.19 3.25 2.59 2 5.39 3.36 0.00 3.36 0.72 2.04 0.78 4.19 2.61 1.58 4.17 3 5.77 3.73 0.19 3.54 0.72 2.04 0.68 3.95 2.55 1.39 5.56 4 6.17 3.74 0.00 3.74 0.72 2.43 0.60 3.72 2.25 1.47 7.03 Tahun 5 6.61 4.17 0.22 3.95 0.72 2.44 0.53 3.51 2.21 1.29 8.32 6 7.07 4.18 0.00 4.18 0.72 2.89 0.47 3.31 1.95 1.35 9.68 7 7.56 4.67 0.25 4.42 0.72 2.90 0.41 3.12 1.92 1.19 10.87 8 8.09 4.68 0.00 4.68 0.72 3.41 0.36 2.94 1.70 1.24 12.11 9 8.66 5.24 0.28 4.96 0.72 3.42 0.32 2.77 1.68 1.09 13.20 10 9.27 5.25 0.00 5.25 0.72 4.01 0.28 2.61 1.48 1.13 14.33 12 Pay Back Period (PBP) 0.1 Tahun Catatan: Lokasi Desa Buria, Nuruwe dan Taniwel Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat Jenis alat suling stainlees Steel kapasitas, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Seram Bagian Barat Kapasitas Alat Suling 40 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 1.39 juta per unit Kapasitas Olah 4.8 ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun (6 bulan) Lampiran 9. Analisis Kelayakan Finansial Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya (Rp.juta) 1 2 Penerimaan Total Biaya Biaya Investasi Biaya Operasional Iuran Pokpen 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keuntungan Bersih Discount Factor (13.5) PV Revenue (Penerimaan) PV Cost (Biaya) PV Net Benefit NPV Kumulatif NPV Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Pay Back Period (PBP) 0 0.00 1.30 1.30 0.00 0.00 -1.30 1.00 0.00 1.30 -1.30 -1.30 34.99 530.9% 28.0 0.2 Tahun 1 13.68 4.17 0.00 4.17 1.20 8.44 0.88 11.10 3.67 7.43 6.14 2 13.48 8.34 0.00 8.34 1.20 5.15 0.78 10.47 6.47 3.99 10.13 3 14.43 9.27 0.43 8.84 1.20 5.16 0.68 9.87 6.34 3.53 13.66 4 15.44 9.37 0.00 9.37 1.20 6.06 0.60 9.30 5.65 3.65 17.31 Tahun 5 16.52 10.50 0.56 9.94 1.20 6.02 0.53 8.77 5.57 3.19 20.51 6 17.67 10.56 0.00 10.56 1.20 7.12 0.47 8.27 4.94 3.33 23.84 7 18.91 11.93 0.72 11.21 1.20 6.98 0.41 7.79 4.91 2.88 26.71 8 20.23 11.91 0.00 11.91 1.20 8.32 0.36 7.35 4.32 3.02 29.74 9 21.65 13.78 1.12 12.66 1.20 7.87 0.32 6.93 4.41 2.52 32.25 10 23.16 13.46 0.00 13.46 1.20 9.70 0.28 6.53 3.79 2.73 34.99 Catatan: Lokasi Desa Tulehu dan Suli Kecamatan Salahutu, Desa Tamilow Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah Jenis alat suling stainlees Steel kapasitas, merupakan bantuan Dinas Deperindag Kabupaten Maluku Tengah Kapasitas Alat Suling 100 kg per produksi, dengan nilai @ Rp. 2.63 juta per unit Kapasitas Olah 12 Ton per Tahun Bahan baku (gagang + daun + ranting) Rendemen = 0.035, Berwarna jernih agak kekuningan Frekwensi Produksi = 120 kali/tahun Lampiran 10. Nilai KURS Tengah Dollar terhadap Mata Uang Rupiah Tahun 1999 -2007 (Rp/US$) Tahun No. Bulan 1999 2000 2001 2002 2003 1 Januari 8 950 7 425 9 450 10 320 8 876 2 Februari 8 730 7 505 9 835 10 189 8 905 3 Maret 8 685 7 590 10 400 9 655 8 908 4 April 8 260 7 945 11 675 9 316 8 675 5 Mei 8 105 8 620 11 058 8 785 8 279 6 Juni 6 726 8 735 11 440 8 730 8 285 7 Juli 6 875 9 003 9 525 9 108 8 505 8 Agustus 7 565 8 290 8 865 8 867 8 535 9 September 8 386 8 780 9 675 9 015 8 389 10 Oktober 6 900 9 395 10 435 9 233 8 495 11 November 7 425 9 530 10 430 8 976 8 537 12 Desember 7 100 9 595 10 400 8 940 8 465 rata-rata 7 809 8 534 10 266 9 261 8 571 rata-rata nilai KURS tengah dollar terhadap mata uang rupiah tahun 2006 - 2007 Sumber : Bank Indonesia, 2007 2004 8 441 8 447 8 587 8 661 9 210 9 415 9 168 9 328 9 170 9 090 9 018 9 290 8 985 2005 9 165 9 260 9 480 9 570 9 495 9 713 9 819 9 985 10 290 10 120 10 035 9 795 9 727 2006 9 390 9 190 9 065 8 805 9 254 9 263 9 068 9 098 9 215 9 107 9 165 9 003 9 135 2007 9 846 9 771 9 816 9 854 10 138 9 885 9 743 9 511 9 795 9 832 9 546 9 502 9 770 9 453 89 90 Lampiran 11. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nonstainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi (Rp./kg) Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Biaya Pemasaran(Rp./kg) Total P(US$./kg) BSD = D/(P-T) p (US$) k = BSD/p D (Rp./Kg) T (US$/Kg) Share 27500 24791 463 238 351 7143 24 143 5714 5714 0 5000 2.91 8267.49 9453.00 0.87 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 100% 50% 232 238 176 7143 24 71 2857 5714 0 2500 18955 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 0% 50% 0.025 0.000 0.019 0.000 0.000 0.008 0.302 0.000 0.000 0.264 0.617 Lampiran 12. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi (Rp./kg) Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Biaya Pemasaran(Rp./kg) Total P(US$./kg) BSD = D/(P-T) p (US$) k = BSD/p D (Rp./Kg) T (US$/Kg) Share 35000 24139 905 397 655 7143 40 476 0 9524 0 5000 3.83 5961.08 9453.00 0.63 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 100% 50% 452 397 327 7143 40 238 0 9524 0 2500 20621 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 0% 50% 0.048 0.000 0.035 0.000 0.000 0.025 0.000 0.000 0.000 0.264 0.372 91 Lampiran 13. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi (Rp./kg) Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Biaya Pemasaran(Rp./kg) Total P(US$./kg) BSD = D/(P-T) p (US$) k = BSD/p D (Rp./Kg) T (US$/Kg) Share 35000 21289 827 298 491 7143 30 357 0 7143 0 5000 3.70 5357.50 9453.00 0.57 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 100% 50% 414 298 246 7143 30 179 0 7143 0 2500 17951 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 0% 50% 0.044 0.000 0.026 0.000 0.000 0.019 0.000 0.000 0.000 0.264 0.353 Lampiran 14. Analisis Keunggulan Komparatif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi (Rp./kg) Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Biaya Pemasaran(Rp./kg) Total P(US$./kg) BSD = D/(P-T) p (US$) k = BSD/p D (Rp./Kg) T (US$/Kg) Share 35000 22096 626 238 351 7143 24 143 2857 5714 0 5000 3.70 5453.24 9453.00 0.58 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 100% 50% 313 238 176 7143 24 71 1429 5714 0 2500 17608 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 0% 50% 0.033 0.000 0.019 0.000 0.000 0.008 0.151 0.000 0.000 0.264 0.475 92 Lampiran 15. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCns (KAS 100 Kilogram Jenis Nonstainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Total R (Rp./kg) PCR = G/(R - I) G (Rp./Kg) I (Rp./Kg) Share 22500 19089 0 238 0 7143 24 143 5714 5714 113 22500 0.83 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 50% 0 238 0 7143 24 71 2857 5714 56 16104 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 50% 0 0 0 0 0 71 2857 0 56 2985 Lampiran 16. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs1 (KAS 30 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Total R (Rp./kg) PCR = G/(R - I) G (Rp./Kg) I (Rp./Kg) Share 30000 18710 0 397 655 7143 40 476 0 9524 476 30000 0.61 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 50% 0 397 327 7143 40 238 0 9524 238 17907 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 50% 0 0 327 0 0 238 0 0 238 804 93 Lampiran 17. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs2 (KAS 40 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Total R (Rp./kg) PCR = G/(R - I) G (Rp./Kg) I (Rp./Kg) Share 30000 15890 0 298 491 7143 30 357 0 7143 429 30000 0.52 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 50% 0 298 246 7143 30 179 0 7143 214 15251 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 50% 0 0 246 0 0 179 0 0 214 638 Lampiran 18. Analisis Keunggulan Kompetitif Minyak Cengkeh Pada Usaha PMCs3 (KAS 100 Kilogram Jenis Stainless) Komponen Penerimaan dan Biaya per kilogram minyak cengkeh Penerimaan (Rp./kg) Biaya (Rp./kg) Alat Suling(Rp./kg) Bangunan (Rp./kg) Peralatan lain(Rp./kg) Bahan baku(Rp./kg) Bahan bakar(Rp./kg) Biaya Lain(Rp./kg) Tranportasi Tenaga kerja(Rp./kg) Bunga dan pengembalian pinjaman (Rp./kg) Total R (Rp./kg) PCR = G/(R - I) G (Rp./Kg) I (Rp./Kg) Share 30000 16756 0 238 351 7143 24 143 2857 5714 286 30000 0.53 Share 1 2 50% 100% 50% 100% 100% 50% 50% 100% 50% 0 238 176 7143 24 71 1429 5714 143 14938 50% 0% 50% 0% 0% 50% 50% 0% 50% 0 0 176 0 0 71 1429 0 143 1818 90 Lampiran 19. Responden Penentu Faktor Strategis Internal-Eksternal Dalam Pengembangan Usaha PMC di Provinsi Maluku Renponde n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Dr.Ir. Wardis Girsang Dr.Ir. Max Pattinama Ir. Shelly Pattipeiluhu, Msi Abdullah Sialana Spi Suryadi, S.Sos Mientje Lewa, S.Sos Hasan Latarissa S.Sos Saad Sanusi Seblun Tiwery, SH Alamat Kompleks BTN Wayame No 45/ Kampus Faperta - Ambon Jln. Inatuni VII No.20/ Kampus Faperta - Ambon Jln. Sultan Hairun No 1/ Kampus Faperik - Ambon Jln. Wolter Mongonsidi No 2 Passo -Ambon Jln. Kebun Cengkeh Kompleks BTN Kanawa Batumerah Ambon Jln. BTN Kebun Cengkeh Blok A/34 Batumerah/ Jln WR. Supratman Tanah Tinggi - Ambon Jln. Kebun Cengkeh Kantor Baristand -Ambon Desa Sohoku RT/RW: 13/05 Amahai Malteng Desa Tamilow Jln. Dr. Malaiholo SK 55/33 Air Salobar - Ambon Jabatan Dosen Fak. Pertanian Universitas Pattimura, Kepala Lab. Sosek, Konsultan JICA & UNIDO Maluku Dosen Fak. Pertanian Universitas Pattimura Konsultan JICA & UNIDO Maluku Dosen Fak. Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Program Officer Economy JICA Maluku Manager UNIDO Anggota Badan Pengembangan sagu dan minyak nabati Pemda Propinsi Maluku Kasie Program dan Pendataan Dinas Pertanian Propinsi Maluku Penyulih Madya Baristand Maluku Kasie Perindustian dan Iklim Usaha Kabupaten Malteng Pengusaha AMC Konsultan Manajemen Program Pengembangan Kecamatan Kabupaten Seram Bagian Barat 94 91 Lampiran 20. Rekapitulasi Penentuan Faktor Kekuatan dan Kelemahan Internal Responden 1 1 -1 1 -1 1 1 1 1 -1 -1 2 1 -1 1 1 1 -1 1 1 1 -1 3 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 -1 5 1 -1 -1 -1 1 -1 1 1 -1 -1 6 1 -1 -1 -1 1 -1 1 1 -1 -1 7 1 -1 -1 -1 1 -1 1 -1 -1 -1 8 1 -1 -1 -1 1 -1 1 -1 1 -1 9 1 -1 -1 -1 1 -1 1 -1 -1 -1 Faktor Internal (Vertikal) A B C D E F G H I J Ketersediaan (kelimpahan) bahan baku Sifat Bahan baku dan tofografi daerah Sumberdaya Manusia Sosial budaya masyarakat Dukungan Non pribumi Modal Usaha Tingkat Keuntungan Usaha Ketersediaan infrastruktur Kebijakan Pemerintah Daerah Kelembagaan Jumlah 9 -9 -3 -3 9 -5 9 1 -3 -7 Keputusan S W W W S W S S W W Lampiran 21. Rekapitulasi Penentuan Faktor Peluang dan Ancaman Eksternal Faktor Eksternal A B C D E F G H Potensi Pasar non lokal Kesempatan bermitra Fluktuasi harga produk Produk sejenis dari daerah lain Politik dan Keamanan Ketersediaan teknologi Tingkat suku bunga turun dan skim kredit UKM tersedia Standar mutu dan kuantitas hasil Responden 1 1 1 1 -1 -1 1 1 -1 2 1 -1 1 -1 -1 1 1 -1 3 1 1 -1 -1 -1 1 1 -1 4 1 1 -1 -1 -1 -1 1 -1 5 1 1 -1 -1 -1 -1 1 -1 6 1 1 1 -1 -1 1 1 -1 7 1 1 -1 -1 -1 1 1 -1 8 1 1 1 -1 -1 1 1 -1 9 Jumlah 1 -1 -1 -1 -1 -1 1 -1 9 5 -1 -9 -9 3 9 -9 Keputusan O O T T T O O T 95 96 Lampiran 22. Bagan Proses Penyulingan Minyak Cengkeh Penyiapan Bahan Baku: Daun, Gagang, ranting Air/Water Bahan Bakar ` Penyulingan/Destilation Pengeringan Uap Air + Minyak cengkeh Limbah Bahan Baku Kondensasi /Condensation Bahan Bakar Pupuk Air distilat/ Distilated water Minyak Pemurnian/Refening Minyak cengkeh 97 Lampiran 23. Model Matematis dan Hasil Analisis Optimalisasi Keuntungan Usaha PMCs (KAS Jenis Stainless Steel) dengan Sofware LINDO Max: Tujuan memaksimalkan keuntungan 0.777X11+0.777X12+0.777X13+0.777X14+0.777X15+0.777X16+ 1.374X21+1.374X22+1.374X23+1.374X24+1.374X25+1.374X26+ 3.319X31+3.319X32+3.319X33+3.319X34+3.319X35+3.319X36 St: Kendala Ketersediaan Bahan baku 3.6X11+4.8X21+12X31<900 3.6X12+4.8X22+12X32<13725 3.6X13+4.8X23+12X33<5796 3.6X14+4.8X24+12X34<3777 3.6X15+4.8X25+12X35<13143 3.6X16+4.8X26+12X36<954 Kendala Biaya Investasi 1.45X11+1.95X21+3.15X31<51.17 1.091X12+1.591X22+2.63X32<322.04 1.06X13+1.56X23+2.587X33<214.67 1.14X14+1.64X24+2.69X34<193.46 1.14X15+1.64X25+2.69X35<266.48 1.05X16+1.55X26+2.573X36<77.17 Kendala Target Produksi 0.1206X11+0.1206X12+0.1206X13+0.1206X14+0.1206X15+ 0.1206X16+0.1608X21+0.1608X22+0.1608X23+0.1608X24+ 0.1608X25+0.1608X26+0.402X31+0.402X32+0.402X33+ 0.402X34+0.402X35+0.402X36<480 END GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN GIN X11 X12 X13 X14 X15 X16 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X31 X32 X33 X34 X35 X36 98 LAST INTEGER SOLUTION IS THE BEST FOUND RE-INSTALLING BEST SOLUTION... OBJECTIVE FUNCTION VALUE 1) VARIABLE X11 X12 X13 X14 X15 X16 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X31 X32 X33 X34 X35 X36 ROW 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 1396.100 VALUE 0.000000 1.000000 2.000000 2.000000 0.000000 2.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 16.000000 122.000000 82.000000 71.000000 99.000000 29.000000 SLACK OR SURPLUS 708.000000 12257.400391 4804.799805 2917.800049 11955.000000 598.799988 0.769998 0.088986 0.416009 0.189996 0.169994 0.453001 310.717804 REDUCED COST -0.777000 -0.777000 -0.777000 -0.777000 -0.777000 -0.777000 -1.374000 -1.374000 -1.374000 -1.374000 -1.374000 -1.374000 -3.319000 -3.319000 -3.319000 -3.319000 -3.319000 -3.319000 DUAL PRICES 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 NO. ITERATIONS= 631 BRANCHES= 298 DETERM.= 1.000E 0 99 Lampiran 24. Rekapitulasi Perhitungan Bobot Faktor Internal Faktor Internal (Vertikal) 1 A B C D E F G H I J Ketersediaan bahan baku Sifat Bahan baku dan topografi daerah Sumberdaya Manusia Sosial budaya masyarakat Dukungan Non pribumi Modal usaha Tingkat Keuntungan Usaha ketersediaan infrastruktur Kebijakan Pemerintah Daerah Kelembagaan Total 0.11 0.11 0.09 0.09 0.10 0.11 0.08 0.08 0.10 0.13 1.00 2 0.11 0.11 0.11 0.09 0.09 0.09 0.05 0.11 0.10 0.13 1.00 3 0.11 0.11 0.12 0.11 0.11 0.07 0.08 0.09 0.07 0.13 1.00 4 Responden 5 0.09 0.11 0.10 0.11 0.13 0.08 0.07 0.09 0.09 0.13 1.00 6 0.08 0.11 0.08 0.11 0.14 0.08 0.09 0.11 0.08 0.12 1.00 7 0.09 0.11 0.09 0.09 0.14 0.07 0.09 0.10 0.09 0.12 1.00 8 0.08 0.12 0.09 0.09 0.14 0.08 0.07 0.09 0.10 0.12 1.00 9 0.09 0.09 0.09 0.09 0.13 0.09 0.07 0.12 0.11 0.12 1.00 Jumlah 0.84 0.98 0.86 0.89 1.13 0.77 0.66 0.91 0.83 1.13 9.00 Bobot 0.09 0.11 0.10 0.10 0.13 0.09 0.07 0.10 0.09 0.13 1.00 0.08 0.11 0.08 0.11 0.13 0.09 0.07 0.11 0.09 0.13 1.00 99 90 Lampiran 25. Rekapitulasi Peringkat Faktor Kekuatan dan Kelemahan Internal Faktor Internal Kekuatan A B C D E F G H I M Ketersediaan bahan baku Dukungan Non pribumi Tingkat Keuntungan Usaha ketersediaan infrastruktur Kelemahan Sifat Bahan baku dan tofografi daerah Sumberdaya Manusia Sosial budaya masyarakat Modal Usaha Kebijakan Pemerintah Daerah Kelembagaan 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Median 100 90 Lampiran 26. Rekapitulasi Perhitungan Bobot Faktor Eksternal Faktor Eksternal (Vertikal) A B C D E F G H Potensi Pasar non lokal Kesempatan bermitra Fluktuasi harga produk Produk sejenis dari daerah lain Politik dan Keamanan Ketersediaan teknologi Tingkat suku bunga turun dan skim kredit UKM tersedia Standar mutu dan kuantitas hasil Total Responden 4 5 6 0.09 0.10 0.12 0.16 0.15 0.15 0.12 0.13 0.11 0.16 0.18 0.18 0.06 0.06 0.08 0.14 0.15 0.14 0.13 0.12 0.11 0.13 0.12 0.12 1.00 1.00 1.00 Jumlah 0.99 1.34 1.05 1.53 0.61 1.29 1.05 1.13 9.00 Bobot 0.11 0.15 0.12 0.17 0.07 0.14 0.12 0.13 1.00 1 0.13 0.14 0.13 0.15 0.07 0.14 0.11 0.13 1.00 2 0.12 0.14 0.12 0.16 0.07 0.14 0.12 0.13 1.00 3 0.12 0.14 0.12 0.16 0.07 0.14 0.11 0.14 1.00 7 0.11 0.15 0.12 0.18 0.06 0.15 0.12 0.12 1.00 8 0.11 0.14 0.13 0.18 0.06 0.14 0.12 0.12 1.00 9 0.12 0.15 0.10 0.18 0.06 0.13 0.13 0.13 1.00 Lampiran 27. Rekapitulasi Peringkat Faktor Peluang dan Ancaman Eksternal Faktor Eksternal Peluang A B C D E F G H Responden 1 2 2 4 2 3 1 4 3 2 4 2 4 2 3 1 4 1 3 4 2 4 2 3 2 4 1 4 4 2 3 2 3 2 4 1 5 4 3 3 3 3 1 4 1 6 4 3 4 3 2 1 4 1 7 4 3 4 3 2 1 4 1 8 3 2 4 3 2 1 4 1 9 3 2 4 2 2 1 4 1 Median Potensi pasar Kesempatan bermitra Ketersediaan Teknologi Tingkat suku bunga turun dan skim kredit UKM tersedia Ancaman Fluktuasi harga produk Produk sejenis dari lain daerah Politik dan Keamanan (Opini) Standar mutu dan kuantitas produk 4 2 4 2 3 1 4 1 101 102
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful