Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Lahan di Kalimantan Selatan terbagi menjadi tiga yaitu lahan kering, lahan basah, dan lahan marginal. Lahan kering adalah lahan yang memiliki jumlah potensial melebihi jumlah curah hujan aktual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa adanya irigasi ( Suwardji, 2003). Lahan basah adalah ekosistem yang pembentukannya dikuasai air, dan proses serta ciri utamanya dikendalikan air selama waktu cukup panjang (Maltby, 1986). Sedangkan lahan marginal adalah sebagai lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan tertentu. Lahan marginal adalah lahan yang memiliki beberapa yang harus diatasi terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan dan kesuburannya potensial setelah mendapat pengelolaan yang baik. Namun lahan marginal termasuk juga lahan kering yang miskin unsur hara.

B. Tujuan 1. Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Karakteristik Lingkungan Kalimantan Selatan. 2. Menambah pengetahuan dan memahami tentang lahan marginal. 3. Melatih diri dan disiplin dalam melaksanakan tugas.

C. Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini yaitu dengan menggunakan metode library research yaitu dengan menggunakan buku buku dan juga menggunakan situs yang menggunakan kata kunci lahan marginal serta wawancara langsung dengan pihak yang terkait dengan pertanian.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. Pengertian Lahan Marginal Tanah marginal atau suboptimal merupakan tanah yang potensial untuk pertanian, baik untuk tanaman pangan, tanaman perkebunan maupun tanaman hutan. Secara alami, kesuburan tanah marginal tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan oleh reaksi tanah yang masam, cadangan hara rendah, basa-basa dapat tukar dan kejenuhan basa rendah, sedangkan kejenuhan aluminium tinggi sampai sangat tinggi. Namun, Krantz (1958) mengemukakan bahwa penilaian produktivitas suatu lahan bukan hanya berdasarkan kesuburan alami (natural fertility), tetapi juga respons tanah dan tanaman terhadap aplikasi teknologi pengelolaan lahan yang diterapkan. Teknologi pengelolaan lahan seperti pemupukan untuk memperbaiki kandungan hara tanah, pengapuran untuk meningkatkan pH tanah dan menurunkan reaktivitas Al, serta tindakan konservasi tanah sangat disarankan. Tanah marginal sekarang ini banyak dimanfaatkan untuk tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, lada, dan hutan tanaman industri, dan hanya sebagian kecil untuk tanaman pangan. Selain itu lahan marginal lebih dikenal dengan sebutan lahan yang miskin hara atau unsur hara yang rendah. Tanah marginal lahan kering di Kalimantan terbentuk dari batuan sedimen masam, yang dicirikan oleh cadangan hara yang tergolong sangat rendah. Batuan sedimen masam adalah batuan permukaan (eksogen) yang menempati volume 5%

kerak bumi (daratan dan lautan). Batuan ini menjadi penting karena menutup hingga 75% permukaan bumi (Faucult dan Raqult 1984). Sifat batuan sedimen masam bervariasi karena pembentukannya bergantung pada sifat alami bahan pembentuknya, proses atau model pengendapan, dan kondisi lingkungan daerah pengendapan.

B. Ciri-Ciri Lahan Marginal

Lahan pasir pantai merupakan lahan marjinal dengan ciri-ciri antara lain : tekstur pasiran, struktur lepas-lepas, kandungan hara rendah, kemampuan menukar kation rendah daya menyimpan air rendah, suhu tanah di siang hari sangat tinggi, kecepatan angin dan laju evaporasi sangat tinggi. Secara umum lahan kering marginal memiliki ciri seperti dibawah ini : Tanahnya berwarna agak kemerahan Bercampur kerikil-kerikil Biasanya kurus, padat dan terletak di daerah atas (pegunungan meratus).

Sifat-sifat tanah marginal adalah sebagai berikut : 1. Sifat Fisik Tanah Tanah marginal dicirikan oleh tekstur tanah yang bervariasi dari pasir hingga liat. Hal tersebut dikarenakan batuan sedimen masam di Kalimantan terbentuk dari dua macam bahan induk tanah, yaitu batu pasir yang bertekstur kasar dan batu liat atau batu lanau yang bertekstur halus. Hasil penelitian Yatno et al. (2000) di Kalimantan Selatan. Adanya keragaman tekstur tanah yang cukup besar pada tanah marginal dari batuan

sedimen masam akan sangat memengaruhi sifat fisik, kimia, maupun sifat mineraloginya sehingga memerlukan kehati-hatian dalam pengelolaan tanahnya. Tanah bertekstur kasar dicirikan oleh kemampuan meretensi air dan hara yang rendah sehingga tanah rawan kekeringan pada musim kemarau dan pencucian hara atau basa-basa dapat tukar secara intensif pada musim hujan. Sebaliknya, tanah bertekstur halus umumnya dicirikan oleh permeabilitas tanah yang lambat. Beberapa sifat fisik penting lainnya adalah berat isi, total ruang pori, kadar air tersedia, permeabilitas, dan stabilitas agregat.

2. Sifat Kimia Tanah Sifat kimia penting pada tanah marginal adalah reaksi tanah, kandungan bahan organik, hara P dan K, basa-basa dapat tukar, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, dan kejenuhan Al. Tabel 4 menunjukkan bahwa reaksi tanah pada horison A maupun B bervariasi dari masam sampai sangat masam, dan umumnya masam.Kondisi reaksi tanah yang demikian menjadikan tanah-tanah marginal sering digolongkan sebagai tanah masam. Rendahnya reaksi tanah ini akan berdampak pada meningkatnya kandungan Al yang bersifat toksik terhadap tanaman, selain memengaruhi ketersediaan P karena P terfiksasi dalam bentuk AlP. Yatno et al. (2000) mengemukakan bahwa selain Al, Fe-bebas juga banyak dijumpai pada tanah Plinthudults Kalimantan Selatan sehingga akan berpengaruh terhadap ketersediaan P. Kandungan Fe-bebas cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman tanah. Anda et al. (2000) mengemukakan bahwa semakin lanjut perkembangan tanah, semakin meningkat retensi P yang disebabkan oleh meningkatnya Fe-oksida.

C.Potensi dan Pemanfaatannya

Meskipun potensi tanahnya rendah, akan tetapi potensi luasnya sangat besar dan harus dimanfaatkan dan perlu diperhatikan.Karena lahan yang potensi tanahnya besar di tanah bagian bawahan sudah semakin penuh digunakan tidak hanya untuk pertanian tetapi non pertanian Lahan marginal sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman perkebunan, seperti karet, kelapa sawit, kopi, lada, dan hutan tanaman industri. Tanah marginal di Kalimantan meliputi areal 30,15 juta ha. Luas lahan yang digunakan untuk perkebunan baru sekitar 5 juta ha sehingga masih tersedia lahan yang luas untuk dikembangkan. Namun, informasi secara rinci mengenai luasan lahan marginal berdasarkan relief serta penggunaannya sebagai dasar dalam menyusun perencanaan pengembangan secara detail masih diperlukan. Pemilihan jenis komoditas yang dikembangkan perlu disesuaikan dengan sifat fisik dan kimia tanah serta kondisi reliefnya. Wilayah dengan relief datar hingga berombak sesuai untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering semusim, sedangkan wilayah dengan relief hingga berbukit dapat dimanfaatkan untuk tanaman tahunan atau perkebunan (Djaenudin et al. 2000). Hal tersebut didasarkan pada keadaan bahwa tanah marginal tergolong peka erosi. Oleh karena itu, pengembangan tanaman pangan semusim yang memerlukan pengelolaan lahan secara intensif sebaiknya diarahkan pada wilayah dengan lereng tidak lebih dari 8%, dengan tetap mempertahankan pengelolaan lahan konservasi. Wilayah bergelombang dengan lereng lebih dari 8% dapat dimanfaatkan untuk tanaman tahunan yang tidak memerlukan pengelolaan lahan

secara intensif sehingga dapat menekan bahaya erosi. Tanaman perkebunan berupa kelapa sawit dan lada sebaiknya dikembangkan pada wilayah dengan relief hingga bergelombang, sedangkan tanaman karet, kakao, dan kopi dapat diusahakan pada wilayah dengan relief hingga berbukit. Pemanfaatan yang baik dilahan marginal sebaiknya kita harus mengetahui komoditi yang cocok untuk ditanam. Misalnya padi, palawija, sayuran dan buahbuahan. Contohnya : Padi Palawija Sayuran : Padi gogo : Kacang tanah, ubi kayu dan lain-lain. : Kacang panjang, ketimun, labu (waluh)

Buah-buahan : Rambutan, durian, duku. Perkebunan : Karet, kelapa sawit, kakao, lada maupun kopi.

D.Kendala dan Pengelolaan Lahan Marginal

Kendala yang dihadapi pada tanah marginal adalah seperti : Ketersediaan air (faktor air) Upaya untuk mengatasinya yaitu dengan cara adanya tanaman tahunan pada lahan tersebut. Erosi Pengikisan Dengan konvervasi lahan (penanaman pohon) serta perlu tera sering. Sifat tanah yang buruk Upaya perbaikan sifat-sifat tanah dan lingkungan mikro sangat diperlukan, antara lain misalnya dengan penyiraman yang teratur, penggunaan mulsa penutup tanah, penggunaan pemecah angin (wind breaker), penggunaan bahan

pembenah tanah (marling), penggunaan lapisan kedap, dan pemberian pupuk (baik organik maupun anorganik). Pengelolaan agar lahan dapat ditanami dan menghasilkan produktivitas yang baik maka lahan marginal tersebut perlu pengolahan tanah yang optimal seperti pengolahan lahan secara sempurna, pemupukan maupun pengapuran. Hasil penelitian Partoyo (2005) menunjukkan bahwa berdasarkan nilai indeks kualitas tanah, perlakuan penambahan tanah lempung dan pupuk kandang dapat memperbaiki kualitas tanah.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Lahan marginal adalah lahan yang unsur haranya rendah namun lahan ini memiliki beberapa yang harus diatasi terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan dan kesuburannya potensial setelah mendapat pengelolaan yang baik. Secara umum lahan kering marginal memiliki ciri seperti dibawah ini : Tanahnya berwarna agak kemerahan Bercampur kerikil-kerikil Biasanya kurus, padat dan terletak di daerah atas (pegunungan meratus). Potensi lahan marginal adalah luas lahan yang digunakan untuk perkebunan baru sekitar 5 juta ha sehingga masih tersedia lahan yang luas untuk dikembangkan. Pemanfaatan lahan marginal juga sangat banyak namun harus dilakukan pengelolaan yang optimal serta pemilihan jenis komoditas yang dikembangkan perlu disesuaikan dengan sifat fisik dan kimia tanah serta kondisi reliefnya Tanah marginal lahan kering dari batuan sedimen masam di Kalimantan berpotensi untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian dan hutan tanaman industri. Tanaman pangan semusim untuk wilayah dengan relief datar hingga berombak dengan lereng < 8%, sedangkan tanaman tahunan dan atau perkebunan serta hutan tanaman industri dapat dikembangkan pada relief sampai berbukit antara lain adalah karet, kelapa sawit, lada,kopi, dan kakao.

DAFTAR PUSTAKA

Alkasuma. 1994. Beberapa sifat kimia tanah seri Sanggauledo (Anionic Acroperox) Kalimantan Barat. hlm. 4355. Dalam Risalah Hasil Penelitian Potensi Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Sawah Irigasi di Kalimantan dan Sulawesi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

------------ .1986. Agro- ekosistem lahan kering di Kalimantan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Jakarta.

Http : // soil.faperta.ugm.ac.id/jitl/9.19 137.141.pdf. Diakses tanggal 6 April 2011.

Http : // Pustaka. Litbang.deptan.go.id/publikasi/ p3294103.pdf. Diakses tanggal 21 April 2011.

Http : // Perkebunan karet.blogspot.com/2009/09/potensi-dan-pemanfaatanlahankering. Diakses tanggal 21 April 2011.