Anda di halaman 1dari 12

Makalah Etika Bisnis

MAKING DECISION ETHICAL IN BUSINESS

Disusun Oleh : KELOMPOK 7 Natalia Patulak A21110014 Dewi Lestari A21110017

Wahyuni Syafri A21110101

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan bisnis saat ini telah memasuki era globalisasi, dimana terjadi pergerakan komoditas, modal, dan juga manusia yang seolah tanpa batas menembus ke segala penjuru dunia. Modal paling utama dalam bisnis adalah nama dan kepercayaan. Ukuran etika dan sopan santun dalam dunia bisnis sangatlah keras, kalaulah ada pengusaha yang melanggar etika, mereka lebih banyak mendapat hukuman dari masyarakat, dibandingkan dari pemerintah. Karena pada dasarnya juga masyarakat bisnis itu punya jaringan tersendiri, yang sangat luas dan efektif, sehingga setiap pengusaha yang berbuat curang atau tidak etis, maka namanya akan segera tersiar, hal itu tentunya akan merusak nama baiknya sendiri. Etika bisnis itu tidak hanya terlihat dalam hubungan antara pengusaha saja, namun juga terkait hubungan dengan pemerintah dan tentunya masyarakat. Walaupun sejauh ini ukuran etis atau tidak etisnya praktik perusahaan dalam masyarakat masih susah diukur, namun paling tidak kita bisa kembalikan ke hati nurani pengusaha itu sendiri. Terdapat beberapa alasan yang menjadikan etika bisnis menjadi sedemikian pentingnya (Faisal Afiff, 2003): Ada kelaziman masyarakat yang sudah maju untuk cenderung menuntut para pebisnisnya agar mampu bertindak etis, atau masyarakat pada umumnya mengharapkan kinerja etik yang tinggi. Suatu perusahaan yang memiliki kinerja etik yang tinggi akan mendapat dukungan dan pembenaran dari masyarakat. Untuk menghindari kerugian kelompok kepentingan dalam masyarakat. seperti para pelanggan, perantara, pemasok dan pesaing. Untuk melindungi atmosfir berbisnis dari kemungkinan tumbu suburnya

perilaku tidak etis, baik dari karyawan (lingkungan internal) maupun dari para pesaing (lingkungan eksternal). Untuk melindungi masyarakat yang akan bekerja di sektor bisnis dari ancaman lingkungan kerja yang tidak adil, produk berbahaya, dan bahkan pemalsuan laporan keuangan dan juga memberikan kontribusi pada ketenangan, keamanan dan kenyamanan psikologis bagi para pebisnis melakukan berlaku. tindakan agar mampu berkiprah

bisnis yang konsisten sesuai dengan norma-norma yang

Umumnya orang menginginkan akan bertindak konsisten dengan pandangan hidupnya, menyangkut nilai-nilai kebaikan dan keburukan perilaku dirinya. Sesuatu yang dipaksakan dan beitentangan dengan nilai pribadinya, lazimnya akan melahirkan sumber konflik batin dan stress emosional yang besar. Munculnya kasus-kasus yang melahirkan problematik etika bisnis bisa beragam sifatnya, seperti adanya kepentingan pribadi yang berseberangan dengan kepentingan orang lain, hadirnya tekanan persaingan dalam meraih keuntungan yang melahirkan konflik perusahaan dengan pesaingnya, munculnya pertentangan antara tujuan perusahaan dengan nilai-nilai pribadi yang melahirkan pertentangan antara kepentingan atasan dan bawahannya akibat adanya mentalitas pebisnis yang otoriter. Terjadinya krisis multi dimensional beberapa tahun terakhir menjadikan etika

bisnis sebagai sorotan dan perhatian dari masyarakat dan para pengamat. Tuntutan masyarakat akan etika dan tolok ukur etika meningkat. hal ini disebabkan pula oleh pengungkapan dan publikasi, kepedulian publik, regulasi pemerintah, kesadaran CEO akan etika dan profesionalisme bisnis meningkat Ferdy (1998) mengutip Cassese menyebutkan beberapa alasan perusahaan yang mempunyai orientasi laba menaruh perhatian pada etika bisnis. 1) Tekanan dari konsumen. 2) Persaingan. 3) Perubahan nilai sosial. 4) Munculnya beberapa kasus yang menyebabkan ambruknya reputasi perusahaan atau individu akibat tindakan yang tidak etis. Jauhnya sentuhan etika atas bisnis disebabkan oleh terlalu terfokusnya perhatian, tanggung jawab dan kewajiban para pelaku bisnis dan manajer untuk memperoleh keuntungan sebesar-besaraya. Usaha untuk meraih keuntungan telah menenggelamkan dan mengubur kesadaran moral para pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik dan etis, terlepas dari kenyataan bahwa masih banyak juga pelaku bisnis yang tetap punya kepekaan terhadap kesadaran moral. Tingkat urgensi perilaku etis bagi perusahaan sangat menentukan, karena dalam jangka panjang bila perusahaan tidak concern dengan perilaku etis dalam bisnis maka kelangsungan hidupnya akan terganggu. Hal ini terjadi akibat manajemen dan karyawan yang cenderung mencari keuntungan sehingga terjadi penyimpangan normanorma etis, segala kompetensi, ketrampilan, keahlian, potensi, dan modal lainnya

ditujukan sepenuhnya untuk memenangkan kompetisi. Dalam jangka pendek mungkin akan meningkatkan keuntungan perusahaan, akan tetapi untuk jangka panjang akan merugikan perusahaan itu sendiri akibat hilangnya kepercayaan pelanggan/konsumen terhadap perusahaan tersebut (Bertens, 1995), karena kepercayaan merupakan salah satu unsur keutamaan yang sangat vital dalam aktivitas bisnis. Tanpa ada kepercayaan tidak akan ada transaksi dan kemitraan. Penyimpangan atau pelanggaran etika akan mengundang sangsi dari masyarakat bisnis. Bentuknya bisa ditinggalkan konsumen dan relasi, dikomplain langsung, via telepon atau surat pembaca, dan sebagainya. Akibatnya nama baik akan hancur, sehingga konsumen akan berkurang, dan bisnis menjadi terhambat. Pelanggaran etika bisnis memang banyak dilakukan, namun kita harus selalu mengupayakan untuk menggalakkan etika bisnis, paling tidak kita bisa memulai dari pemimpin perusahaan, karena dialah panutan bagi karyawannya. Perilaku etis atau tidak etis dalam perusahaan dikendalikan secara eksplisit maupun implisit oleh budaya perusahaan yang ada. Disini pelatihan etika menjadi aspek penting dari pengendalian perilaku karyawan, karena dalam pelatihan tersebut dapat diberikan pedoman mengenai peraturan dan kebijakan perusahaan, serta perilaku yang dianggap baik atau buruk dalam berbagai situasi.

BAB II PEMBAHASAN PRINSIP-PRINSIP TENTANG ETIKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN 1. THE CATEGORICAL IMPERATIVE Imperatif kategoris adalah prinsip yang menyatakan hukum etika secara universal dan kewajiban kita adalah mengikuti hukum ini. The categorical imperative (artinya, sebuah perintah/aturan yang mengakui/ menerima tanpa terkecuali) orang lain. Practical imperative .Hampir sama dengan categorical imperative. imperatif praktis memiliki dua kelemahan. Pertama, dalam organisasi besar pencapaian tujuan kolektif sering memerlukan ringkasan hak-hak individu. Kedua, dalam masyarakat modern, orang dapat berhubungan satu sama lain dalam hal peran wakil daripada sebagai individu. 2. THE CONVENTIONALIST ETHIC Prinsip ini memandang bahwa bisnis adalah analogi sebuah permainan dan special lower ethics diperbolehkan. Dalam bisnis orang akan bertindak jauh mengikuti kepentingan pribadinya selama mereka tidak melanggar hukum (albert carr). jika seorang eksekutif membiarkan dirinya terpecah antara keputusan berdasarkan pertimbangan bisnis dan satu berdasarkan kode etik pribadi nya, ia menghadapkan dirinya ke tekanan psikologis serius. Bisnis mungkin dianggap sebagai permainan, seperti poker, dimana aturannya berbeda dari yang kita adopsi dalam kehidupan

pribadi. dengan asumsi etika permainan, manajer diperbolehkan untuk menggertak dan memanfaatkan semua peluang hukum dan praktek-praktek yang luas atau kebiasaan. Tapi prinsip ini telah dikritik oleh mereka yang tidak membuat perbedaan antara kepentingan pribadi dan bisnis. mereka berpendapat bahwa kegiatan industri mendefinisikan peluang kehidupan jutaan dan bukan permainan yang bisa dianggap enteng. sebagai prinsip, etika konvensionalis tidak menyediakan cara untuk meningkatkan praktek bisnis. itu adalah pembenaran tipis untuk perilaku menipu dalam situasi bisnis.

3. THE DISCLOURE RULE Aturan ini menyaring keluar motivasi dasar seperti keserakahan dan cemburu, yang tidak dapat diterima jika diungkapkan, tetapi tidak selalu memberikan petunjuk untuk dilema etika di mana argumen yang kuat dapat dibuat untuk beberapa alternatif. 4. THE DOCTRINE OF THE MEAN Melihat dari dua sisi ekstrim berbeda. Melihat dari sisi baik dan buruk suatu keputusan etika. doktrin dari mean adalah hari ini sedikit diakui dan sebagian besar dari kepentingan sejarah, meskipun gagasan moderasi sebagai suatu kebajikan hidup. pada akarnya, doktrin rata-rata adalah platitudinous. untuk mengamati itu hanya bertindak konservatif dalam situasi dan tidak bertindak dalam cara yang ekstrim. 5. THE GOLDEN RULE Perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan. Itu adalah terutama aturan perfeksionis untuk hubungan interpersonal. Kadang-kadang sulit untuk diterapkan dalam perusahaan dimana kepentingan individu tunduk pada kebutuhan perusahaan dan di mana kegiatan kompetitif menuntut perilaku egois. 6. THE INTUITION ETHIC Pendekatan ini bersifat subyektif. Tidak ada standar validasi individu yang ada. kepentingan diri sendiri mungkin membingungkan pengetahuanetika. Lebih buruk, intuisi mungkin gagal untuk memberikan jawaban yang jelas. Mungkin benar bahwa sebagian besar manajer mengandalkan penalaran intuitif untuk menyelesaikan dilema etika bukan pada penalaran berprinsip, yang membutuhkan proses berpikir disiplin dan aplikasi dari prinsip-prinsip abstrak.

7. THE MARKET ETHIC Market economy adalah suatu gagasan bahwa tindakan egois di marketplace dapat dibenarkan untuk kepentingan efisiensi operasional perusahaan. ini bentuk bimbingan etika hanya berlaku dalam situasi pasar. itu tidak berguna dalam hubungan interpersonal dan, karena itu, tidak prinsip universal.

8. THE MEAN-ENDS ETHIC Ketika dihadapkan dengan keputusan yang menyangkut perbuatan etika yang masih diragukan, pengambil keputusan harus bertanya kebaikannya secara menyeluruh

seperti kelangsungan hidup suatu negara atau bisnis dari sudut pandang keadilan. Dengan menerima kebenaran atau berlakunya prinsip bagaimanapun seorang manager harus mengakui the ends-justify-the means, kebaikan dan menerima

keperluan/kebutuhan etika yang disetujui. 9. THE MIGHT-EQUALS-RIGHT ETHIC Etika ini menegaskan bahwa keadilan sebagai perhatian yang utama. Secara rasional untuk beberapa strategi kompetitif dan taktik pemasaran dituangkan ke dalam pemikiran ini. Apa yang etis adalah apa seorang individu atau perusahaan memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menyelesaikan. ketika dihadapkan dengan keputusan etis, individu menggunakan etika merebut apa keuntungan yang mereka cukup kuat untuk mengambil tanpa memperhatikan sentimen tinggi. 10. THE ORGANIZATION ETHIC Ini adalah prinsip yang lama ada untuk menyelesaikan pertanyaan etis dengan penerapannya di zaman modern. Sederhananya, ini menyatakan diktum, "setia kepada organisasi." Ini adalah fungsional bagi daya tahan suatu organisasi besar. Banyak orang memiliki rasa mendalam kesetiaan kepada sebuah organisasi yang jauh melampaui kepentingan dirinya sendiri. Sekarang banyak orang-orang membahayakan kesehatan mereka dan kerja lembur tanpa dibayar, bertentangan dengan kepentingan egois

mereka, karena atau kesetiaan mereka untuk tugas dan atau perusahaan. Ada loyalitas pribadi seperti loyalitas bawahan kepada atasan. Ini sering terjadi bahwa loyalitas bertentangan dengan standar etika yang berlaku ketika bertindak sebagai individu. Misalnya, manajer umum atau divisi atau perusahaan besar menahan informasi dari manajer markas pusat, tidak menginformasikan masalah ke pusat, terutama karena loyalitas pribadi yang kuat untuk atasan mereka. 11. THE PRINCIPLE OF EQUAL FREEDOM Prinsip ini ditetapkan oleh filsuf Herbert Spencer pada tahun 1850 bukunya, sosial. Kata Spencer," setiap orang memiliki kebebasan "Jadi., Seseorang memiliki hak untuk bebas, Spencer percaya bahwa ini adalah prinsip pertama dari tindakan yang etis dalam

masyarakat. Dia meyakini itu essensial untuk melindungi kebebasan individu dari pelanggaran. 12. THE PROPORTIONALITY ETHIC Garrett mengembangkan "prinsip proporsionalitas" yang menyatakan bahwa manager bertanggung jawab atas tindakan mereka dalam situasi di mana efek baik dan buruk mungkin terjadi. Sebuah prinsip etika sederhana yang berasal dari konsep proporsionalitas adalah "prinsip efek ganda". Ini menyatakan bahwa dalam situasi dimana konsekuensi yang baik dan buruk pasti akan menghasilkan seorang manajer akan bertindak secara etis jika (1) yang baik itu lebih penting, (2) niat manajer adalah untuk mencapai efek yang baik, dan (3) pemeriksaan mengungkapkan bahwa tidak ada alternatif yang lebih baik yang tersedia. 13. THE PROFESSIONAL ETHIC Di zaman spesialisasi dan pendidikan dalam keterampilan yang kompleks, etika ini telah memiliki kepentingan. Dalam bentuk sederhana, Lakukan hanya apa yang bisa anda jelaskan di depan komite dari rekan-rekan profesional anda.

Etika ini diterapkan oleh dokter, insinyur arsitek, dosen, pengacara, dan eksekutif bisnis dalam menyelesaikan masalah-masalah khusus dari profesi mereka dan bidang minat. Orang-orang profesional yang sangat diinternalisasi kode etik yang memandu tindakan mereka. 14. THE RELEVATION ETHIC Etika relevansi memiliki hubungan dengan agama. Untuk mengambil suatu keputusan dengan etika ini, diperlukan hal-hal yang berhubungan dengan keadaan rohani. Melalui doa atau kontrak lain dengan makhluk transenden dan kekuatan, jawaban
yang diberikan kepada pikiran individu. Seorang pendeta, atau manajer, mungkin berdoa untuk bimbingan dan menemukan bahwa Tuhan telah memberikan jawaban. Etika ini juga berhubungan dengan etika intuisi, namun tidak dalam hal keagamaan.

15. THE RIGHT ETHIC Etika yang tepat mencakup gagasan bahwa orang memiliki hak-hak dasar. Hak adalah hak untuk sesuatu. Orang Etis mengakui kewajiban untuk melindungi hak dasar tersebut pada orang lain. Hak asasi manusia mungkin dipersingkat hanya untuk alasan menarik dari keuntungan kepada masyarakat. Hak ini umumnya, termasuk kebebasan

berbicara,, hak untuk berbicara jujur mengenai

informasi. Hak-hak lainnya dapat

didirikan di hukum atau kontrak dan berbeda dari hak etis yang mendasar. Dalam menerapkan etika hak, pembuat keputusan mengevaluasi tindakan yang dimaksudkan berdasarkan pada apakah mereka merampas pihak dihadiri oleh keputusan hak yang harus dihormati. Misalnya, manajemen tidak harus memungkinkan pengoperasian mesin yang tidak aman karena pekerja akan kehilangan hak untuk kerja yang aman. Hal ini benar didasarkan pada hak alami untuk perlindungan dari bahaya dengan tindakan lain dan ditegaskan oleh hak hukum yang didirikan dalam keselamatan kerja dan Undang-Undang Kesehatan. Jika beberapa risiko dalam mengoperasikan mesin pekerja memiliki hak untuk diberitahu dengan penilaian risiko yang akurat. Teori hak menekankan dan melindungi kebebasan individu. Mereka benar digunakan untuk melindungi dari eksploitasi namun dapat disalahgunakan untuk alasan tuntutan egois. Dalam arti luas, teori yang tepat telah mendorong perkembangan hak berlebihan dalam masyarakat Amerika. Pengamatan tambahan tentang etika ini benar tidak mutlak, dan kadang-kadang sulit untuk menentukan batas-batas mereka. Sebagai contoh, setiap orang memiliki hak untuk hidup, tetapi perusahaan masyarakat modern harian mengekspos risiko kematian orang dengan melepaskan karsinogen ke lingkungan. Untuk membuat hak untuk hidup mutlak membutuhkan penghentian banyak kegiatan industri (misalnya, penyulingan minyak bumi). 16. THE THEORY OF JUSTICE Teori etika keadilan mendefinisikan sifat keadilan dalam hubungan perusahaan. Keadilan memerlukan: (1) bahwa manfaat dan beban hidup perusahaan akan didistribusikan sesuai dengan kriteria yang tidak memihak, (2) bahwa imbalan dan hukuman akan ditentukan diri sendiri, dan (3) bahwa undang-undang, aturan, dan prosedur administrasi berlaku untuk setiap karyawan dan organisasi unit.

Seorang filsuf moral kontemporer, John Rawls, memiliki seperangkat yang dikembangkan secara luas dibahas prinsip untuk masyarakat yang adil. Dalam teori keadilan Rawls berspekulasi bahwa orang-orang rasional terletak di belakang "selubung ketidaktahuan" hipotetis dan tidak tahu tempat mereka dalam masyarakat (status sosial mereka, posisi kelas, keberuntungan ekonomi, kecerdasan, penampilan, atau sejenisnya) tapi mengetahui fakta umum tentang masyarakat manusia

(seperti teori politik, ekonomi, sosiologi, dan phychological) akan memilih dua aturan untuk memastikan keadilan dalam setiap masyarakat yang mereka ciptakan. Pertama "setiap orang memiliki hak yang sama untuk kebebasan dasar yang paling luas kompatibel dengan kebebasan yang sama bagi orang lain" dan kedua "kesenjangan sosial dan ekonomi yang diatur sehingga mereka berdua (a) cukup diharapkan untuk keuntungan semua orang, dan (b) yang melekat pada posisi dan kantor terbuka untuk semua ". Generalisasi yang tinggi dalam teori Rawls yang terbaik digunakan dalam analisis masalah sosial yang luas, tetapi mereka dapat menginspirasi keputusan bisnis. Ketidakberpihakan dan perlakuan yang sama disebut dalam teori keadilan yang gemilang dalam teori, tetapi makna operasional mereka sulit untuk dijabarkan. Aturan yang paling memberikan keuntungan untuk satu kelompok lebih dari yang lain. Perlu dicatat konsepsi bersaing keadilan ada. Rawls mendasarkan pada keadilan distribusi barang sosial sesuai dengan kebutuhan, tapi yang lain telah didasarkan teori keadilan atas konsep dasar lain seperti akuisisi yang sah dari properti dan kesatuan umat manusia. 17. THE UTILITARIAN PRINCPLE Tindakan tepat dari sudut pandang etis adalah dengan memilih kebijakan yang mampu memberikan utilitas paling besar. Prinsip utilitarian menurut Jeremy Bentham menyatakan bahwa : Suatu tindakan dianggap benar dari suatu sudut pandang etis jika dan hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dapat dilakukan. Prinsip utilitarian mengasumsikan bahwa kita bisa mengukur dan menambahkan kuantitas keuntungan yang dihasilkan oleh suatu tindakan dan menguranginya dengan jumlah kerugian dari tindakan tersebut, dan selanjutnya menentukan tindakan mana yang menghasilkan keuntungan paling besar dan biaya paling kecil. Prinsip utilitarian mengatakan bahwa tindakan yang benar dalam suatu situasi adalah tindakan yang menghasilkan utilitas lebih besar dibandingkan kemungkinan tindakan lainnya, namun ini tidak berarti tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan utilitas paling besar. Satu hal yang harus diperhatikan yakni tidak hanya mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi langsung dari tindakan kita melainkan juga

mempertimbangkan biaya dan keuntungan langsung yang ditawarkan masing-masing alternatif, serta perngaruh-pengaruh tidak langsungnya juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, untuk memastikan apa yang harus kita lakukan dalam situasi tertentu, kita perlu melakukan tiga hal, yakni : 1. Menentukan tindakan-tindakan atau kebijakan alternatif apa saja yang dapat dilakukan dalam situasi tertentu. 2. Untuk setiap tindakan alternatif, kita perlu mempertimbangkan keuntungan dan biaya langsung dan tidak langsung yang akan diperoleh dari tindakan tersebut bagi semua orang yang terlibat dengan tindakan tersebut pada masa yang akan datang 3. Alternatif yang memberikan jumlah utilitas paling besar wajib dipilih sebagai tindakan yang secara etis adalah tepat.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Dari ke 17 prinsip-prinsip yang ada tiga prinsip yang paling penting yaitu prinsip ulititarian, manajemen harus memperhitungkan keuntungan dan utilitas paling besar.Prinsip etika hak, pegawai harus mempertimbangkan ide-ide bahwa pekerja mempunyai hak bebas untuk mengikuti kata hati dan kepercayaan politik. Dan prinsip keadilan,