Anda di halaman 1dari 7

BAB 1 PENDAHULUAN

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) lebih sering digunakan sebagai pembangkit cadangan atau pembangkit yang akan digunakan pada beban puncak saja, karena pemakian bahan bakar yang tinggi, gas yang dibuang melalui turbin juga masih memiliki suhu yang tinggi yang masih dapat dipakai Penggunaan PLTG/PLTGU dapat mengurangi biaya pembangkitan listrik dan meningkatkan tenaga listrik yang dihasilkan tanpa menambah bahan bakar serta meningkatkan efisiensi panas . Untuk memenuhi beberapa syarat-syarat dalam proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Atas , Sebagai langkah lanjutan dalam mempelajari bidang studi umum khususnya keterampilan. Menyampaikan beberapa pendapat para ahli mengenai asal usul kehidupan dengan teori-teori yang sudah ada.Melatih kita untuk membuat laporan untuk beberapa pelajaran yang selanjutnya.

BAB II PEMBAHASAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

Pembangkit Listrik Tenaga Gas merupakan suatu pembangkit yang menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Pada PLTG terdapat 3 buah siklus, yang pertama adalah siklus turbin gas ( Siklus tenaga gas Brayton ), lalu siklus turbin gas regeneratif, dan siklus kombinasi yang merupakan gabungan dari siklus Baryton dan siklus tenaga uap Rankine. Walaupun pembangkit tenaga gas memiliki 3 buah siklus, tapi PLTG pada dasarnya menggunakan siklus turbin gas. Siklus turbin gas sendiri memiliki beberapa komponen penting, diantaranya : Cara kerja dari PLTG sendiri adalah sebagai berikut, udara dikompres di dalam kompresor, kemudian udara dialirkan kedalam ruang pembakaran, bersamaan dengan bahan bakar yang disulut. Gas terkembang yang memiliki suhu dan tekanan tinggi, dimasukkan ke dalam turbin gas. Turbin berputar dan akhirnya menggerakkan generator. Siklus turbin gas pada dasarnya bekerja berdasarkan prinsip gas Brayton atau Joule. Siklus ini memiliki tingkat efisiensi yang rendah, karena selain pemakian bahan bakar yang tinggi, gas yang dibuang melalui turbin juga masih memiliki suhu yang tinggi yang masih dapat dipakai. Karena kelemahan kelemahan itu, PLTG lebih sering digunakan sebagai pembangkit cadangan atau pembangkit yang akan digunakan pada beban puncak saja. Untuk mengatasi kelemahan kelemahan ini, dapat digunakan siklus kombinasi. Siklus kombinasi sendiri merupakan penggabungan dari siklus gas Brayton dengan siklus tenaga uap Rankine atau merupakan gabungan dari PLTG dan PLTU. Siklus kombinasi sendiri bekerja dengan memanfaatkan panas dari gas buang siklus Brayton untuk digunakan sebagai penghasil uap yang dipakai sebagai fluida kerja pada siklus uap Rankine. Bagian dari siklus kombinasi yang digunakan untuk menghasilkan uap tersebut adalah HRSG ( Heat Recovery Steam Generator ).

Pada siklus kombinasi, energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di siklus Brayton, digunakan untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Genarator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang akan digunakan untuk memutar sudut (baling-baling). Gas yang dihasilkan dalam ruang bakar pada siklus Brayton akan menggerakkan turbin dan kemudian generator, yang akan mengubahnya menjadi energi listrik. Terdapat perbedaan utama antara siklus kombinasi dengan siklus turbin gas dan siklus turbin gas regenratif. Pada siklus turbin gas, udara dikompresi lalu masuk kedalam ruang pembakaran kemudian diteruskan ke turbin, namun gas buang yang dihasilkan masih memiliki suhu yang tinggi. Pada siklus turbin gas regeneratif, gas buang pada siklus turbin gas digunakan kembali sebagai pemanas udara, pemanas udara ini dipasang sebelum ruang pembakaran. Jadi, setelah udara dikompresi, udara akan masuk ke dalam pemanas udara, lalu menuju ke ruang pembakaran sehingga udara yang semestinya memiliki suhu yang standar menjadi lebih panas dan efisiensi termalnya meningkat. Siklus Turbin Gas Regeneratif Pada siklus kombinasi, proses yang terjadi akan sama seperti siklus Brayton, yaitu udara dikompresi lalu masuk kedalam ruang pembakaran kemudian diteruskan ke turbin, akan tetapi perbedaannya gas buang yang masih memiliki suhu yang tinggi akan digunakan kembali untuk memanaskan HRSG, yang kemudian akan menggerakkan turbin dan kemudian akan diubah oleh generator menjadi energi listrik Jika dilihat, pada pembangkit tenaga gas yang menggunakan siklus Brayton pada umumnya memiliki efisiensi yang tidak begitu tinggi, yaitu dibawah 30 persen. Lalu apabila dilihat pada pembangkit tenaga uap yang menggunakan siklus Rankine, efisiensi yang dihasilkan hanya sekitar 35 persen, tidak jauh berbeda dengan siklus Brayton. Akan tetapi apabila kedua siklus itu digabungkan, maka sebuah pembangkit dapat mencapai efisiensi lebih dari 50 persen atau hampir mencapai 60 persen. Lebih baik lagi bilamana dapat diperoleh pemasukan gas bumi dengan harga rendah.

Selanjutnya juga dapat disebut bahwa gas bumi sering disebut sebagai bahan bakar yang "bersih" sehingga dengan menggunakan siklus kombinasi pencemaran dapat diminimalisir. Indonesia, dalam hal ini PT PLN (Persero), kini telah banyak mengoperasikan pembangkit dengan siklus kombinasi. Dapat dikemukakan bahwa pada saat ini perusahaan Amerika GE (General Electric) berusaha untuk meningkatkan efisiensi siklus kombinasi yang dapat melampaui 60 persen dengan mempergunakan siklus kombinasi Kalina, yang mempergunakan sebagai fluida kerja suatu campuran dari air dan amonia Selain itu dengan menggunakan daur kombinasi gas dapat diperoleh dua keuntungan utama yaitu: dapat menambah daya listrik dan dapat menghemat biaya bahan bakar. Penambahan daya listrik tanpa menambah bahan bakar juga berarti akan menaikkan efisiensi termal sistem dan dapat dinaikkan dari sekitar 24 % menjadi sekitar 42 %. Besarnya peningkatan efisiensi ini tergantung dari temperatur air pendingin yang digunakan pada PLTU dan besarnya temperatur gas buang PLTG. Makin dingin temperatur air pendingin dan semakin tinggi temperatur gas buangnya maka peningkatan efisiensinya juga semakin besar. Berikut ini adalah grafik efisiensi termal antara PLTG dan PLTGU. Alasan lain pemilihan PLTGU adalah waktu konstruksi yang cepat sehingga bila ada lonjakan permintaan tenaga listrik yang harus dipenuhi dalam waktu singkat dapat dibangun PLTGU secara bertahap. Tahap pertama dibangun PLTG untuk memenuhi lonjakan permintaan, sedangkan HRSG beserta PLTU dibangun dan dioperasikan kemudian bila permintaan tenaga listrik sudah meningkat. PLTGU dapat dioperasikan sebagai pembangkit untuk beban puncak maupun untuk beban dasar. Sebagai pembangkit untuk beban dasar yang perlu diperhatikan adalah kontinuitas air pendingin, sedangkan sebagai pembangkit untuk beban pencak perlu dipertimbangkan waktu start-up dari PLTGU. PLTG mempunyai waktu start-up yang cepat sedangkan untuk PLTU mempunyai waktu start-up yang lambat bila dalam kondisi cold start-up. Sehingga untuk melayani beban puncak perlu beroperasi secara warm start-up .

BAB III PENUTUP


Penggunaan PLTGU dapat mengurangi biaya pembangkitan listrik bila dibandingkan dengan menggunakan PLTG saja. Hal ini dapat dipahami karena dengan menambahkan HRSG dan PLTU dapat meningkatkan tenaga listrik yang dihasilkan tanpa menambah bahan bakar serta meningkatkan efisiensi panas dari sekitar 24 % untuk PLTG menjadi sekitar 42 % untuk PLTGU.Berdasarkan harga gas bumi sekarang ini, PLTGU masih dapat bersaing biaya pembangkitannya bila dibandingkan dengan pembangkit listrik termal lainnya. Di samping itu waktu pembangunan PLTGU yang cepat merupakan hal yang mendorong dipilihnya PLTGU, khususnya untuk memenuhi lonjakan permintaan tenaga listrik.Dengan kemungkinan pengembangan PLTGU yang cukup besar dan teknologi PLTGU di Indonesia masih belum pernah digunakan maka perlu dipersiapkan tenaga trampil. Pembangunan PLTGU dalam waktu dekat ini diharapkan akan memberi pengalaman dalam pengoperasian dan perawatan PLTGU. Faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam membuat strategi perencanaan pengembangan kelistrikan adalah terbatasnya cadangan sumber daya energi, biaya pembangkitan untuk setiap jenis bahan bakar, dan dampak lingkungan.

Daftar pustaka
1 April 1989.

Indonesia: Optimal Result, Mei 1988. Indonesia: The Indonesian Electricity Sector, Januari 1988.