Anda di halaman 1dari 12

Gangguan afektif bipolara.

Latar Belakang Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantaragangguan mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidak mampuan/disabilitas. Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanitadengan angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapatmengalami bunuh diri 15 kali lebih banya dibandingkan dengan penduduk umum.Bunuh diri pertama-tama sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi,tekanan emosional dalam keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Padarisiko bunuh diri dapat meningkat selama menopause. Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial denganterapi yang optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan pengobatan yangkurang optimal hasilnya kurang baik dan dapat kambuh untuk melakukan bunuhdiri lagi. Data menunjukkan bahwa pengobatan sering kurang optimal. Studi longitudinal bahwa pasien dengan kecenderungan bunuh diri pada kasusdengan afektif bipolar 50% dapat dikurangi dengan terapimaintenance/pemeliharaan dan terapi depresi yang tepat. Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUImenjelaskan perbedaan ekstrem perasaan (manik dan depresi) penderita Bipolar tidak selalu bisa diamati oleh lingkungannya karena masing-masing individureaksinya berlainan. Ada yang menonjol kutub maniknya, sementara yang lainmenonjol depresinya.Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu sampai 23 bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun dikesempatan lain muncul kembali. b.Definisi Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitugangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa padasuasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaanini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi

Etiopatofisiologi Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Serangan virus pada otak berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertamasesudah kelahiran. Namun, gangguan bipolar bermanifestasi 15-20 tahunkemudian. Telatnya manifestasi itu timbul karena diduga pada usia 15 tahunkelenjar timus dan pineal yang memproduksi hormon yang mampu mencegahgangguan psikiatrik sudah berkurang 50%.Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial.Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter diotak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yangmenyakitkan, stres kehidupan yang berat dan

berkepanjangan, dan banyak lagifaktor lainnya.Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanyaepisode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepadagenerasinya, berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtuadengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27%anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtuamengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidapgangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang menderitagangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkanrisiko pada anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus manadari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yangtelah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down(trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar.Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin.Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase,catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT). Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit iniyaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNFadalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesisdan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yangmengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yangmencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya positif. Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini.Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positronemission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darahyang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil padaamygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampusmerupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek). Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang padaotak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membranmyelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantarankonduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikankomunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.

Neurotransmiter Pada Gangguan Bipolar Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa pesanuntuk komunikasi berbagai beagian di otak dan sistem syaraf. Senyawaneurokimiawi ini, dikenal sebagai neurotransmiter, sangat esensial bagi semuafungsi otak. Sebagai pembawa pesan, mereka datang dari satu tempat dan pergi ketempat lain untuk menyampaikan pesan-pesannya. Bila satu sel syaraf (neuron) berakhir, di

dekatnya ada neuron lainnya. Satu neuron mengirimkan pesan denganmengeluarkan neurotrasmiter menuju ke dendrit neuron di dekatnya melalui celahsinaptik, ditangkap reseptor-reseptor pada celah sinaptik tersebut Gambaran Klinis Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Perbedaannya adalah padagangguan bipolar I memiliki episode manik sedangkan pada gangguan bipolar IImempunyai episode hipomanik. Beberapa ahli menambahkan adanya bipolar IIIdan bipolar IV namun sementara ini yang 2 terakhir belum dijelaskan.Gangguan bipolar I dibagi lagi menjadi beberapa bagian menurut perjalananlongitudinal gangguannya. Namun hal yang pokok adalah paling tidak terdapat 1episode manik di sana. Walaupun hanya terdapat 1 episode manik tanpa episodedepresi lengkap maka tetap dikatakan gangguan bipolar I. Adapun episode-episode yang lain dapat berupa episode depresi lengkap maupun episode campuran, dan episode tersebut bisa mendahului ataupun didahului oleh episodemanik.Gangguan bipolar II mempunyai ciri adanya episode hipomanik. Gangguan bipolar II dibagi menjadi 2 yaitu tipe hipomanik, bila sebelumnya didahului olehepisode depresi mayor dan disebut tipe depresi bila sebelum episode depresitersebut didahului oleh episode hipomanik.Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktutertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi danaktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalahterdapat penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulaidengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkandepresi cenderung berlangsung lebih lama.Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampaitua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakindini seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.Episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaituhipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala psikotik.Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang perempuan yang sedang dalammasa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang dimabuk cinta. Perasaansenang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan dorongan seksual yangmeningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebihringan daripada manik karena gejala- gejala tersebut tidak mengakibatkandisfungsi sosial.Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlaluoptimis. Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi.Tanda manik lainnya dapat berupa hiperaktifitas motorik berupa kerja yang tak kenal lelah melebihi batas wajar dan cenderung non-produktif, euphoria hinggalogorrhea (banyak berbicara, dari yang isi bicara wajar hingga menceracau dengan'word salad'), dan biasanya disertai dengan waham kebesaran, waham kebesaran ini bisa sistematik dalam artian berperilaku sesuai wahamnya, atau tidak sistematik, berperilaku tidak sesuai dengan wahamnya. Bila gejala tersebut sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik perluditegakkan.

g.Diagnosis Dan Klasifikasi Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipeklasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkangangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ IIImembaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yangdialami penderita Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31) F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini man ik tanpa gejala psikotik F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedangF31.4 Gangguan afektif bipolar, episod e kini depresif berat tanpa gejala psikotik F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat den gan gejala psikotik F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuranF31.7 Gangguan afektif bipolar , kini dalam remisiF31.8 Gangguan afektif bipolar lainnyaF31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergol ongkan

F31 Gangguan Afektif Bipolar Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yangmenunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelasterganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersidan aktivitas depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin kurang lebih sama dibandingdengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya. Dalam perbandingan, jarangditemukan pasien yang menderita hanya episode mania yang berulang-ulang, dankarena pasien-pasien tersebut menyerupai (dalam riwayat keluarga, kepribadian pramorbid, usia onset, dan prognosis jangka panjang) pasien yang mempunyai jugaepisode depresi sekali-sekali, maka pasien itu digolongkan sebagai bipolar. F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini hipomanik Pedoman diagnostik a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0)dan, b.

Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau. F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala Psikotik

Pedoman diagnostik a.Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik (F30.1) dan, b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau. F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik Pedoman diagnostik a.Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik (F30.2) dan, b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau. F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau Sedang Pedoman diagnostik Untuk mendiagnosis pasti :a.Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan(F32.0) ataupun sedang (F32.1), dan b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau.Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala somaticdalam episode depresif yang sedang berlangsung.F31.30 Tanpa gejala somatik F31.31 Dengan gejala somatik F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa GejalaPsikotik Pedoman diagnostik Untuk mendiagnosis pasti :a.Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berattanpa gejala psikotik (F32.2), dan b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau. F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan GejalaPsikotik Pedoman diagnostik Untuk mendiagnosis pasti :a.Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif beratdengan gejala psikotik (F32.3), dan b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau.Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afeknya. F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran Pedoman diagnostic a.Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanikdandepresif yangtercampur atau bergantian dengan cepat (gejalamania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa terbesar dariepisode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2minggu) dan b.Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik ataucampuran di masa lampau. F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi

Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episodeafektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran). F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTTh. Komorbid Sebagian besar penderita bipolar tidak hanya menderita bipolar saja tetapi jugamenderita gangguan jiwa yang lain (komorbid). Penelitian oleh Goldstein BI dkk,seperti dilansir dari Am J Psychiatry 2006, menyebutkan bahwa dari 84 penderita bipolar berusia diatas 65 tahun ternyata sebanyak 38,1% terlibat dalam penyalahgunaan alkohol, 15,5% distimia, 20,5% gangguan cemas menyeluruh, dan19% gangguan panik.2 Sementara itu, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) menjadi komorbid yang paling sering didapatkan pada 90% anak-anak dan30% remaja yang bipolar

a.FarmakoterapiFluoxetin (prozac) telah digunakan dengan suatu keberhasilan pada remajadengan gangguan depresif barat. Karena beberapa anak dan remaja yangmenderita depresif akan mengalami gangguan bipolar, klinisi harus mencatatgejala hipomanik yang mungkin terjadi selama pemakaian fluoxetin dan antidepresan lain. Pada kasus tersebut medikasi harus dihentikan untuk menentukanapakah episode hipomanik selanjutnya menghilang. Tetapi, respon hipomanik terhadap antidepresan tidak selalu meramalkan bahwa gangguan bipolar telahterjadi.8 Gangguan bipolar pada masa anak-anak dan remaja adalah diobatidengan lithium (Eskalith) dengan hasil yang baik. Tetapi, anak-anak yangmemiliki gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas) dan selanjutnya mengalamigangguan bipolar pada awal masa remaja adalah lebih kecil kemungkinannya

untuk berespon baik terhadap lithium dibandingkan mereka yang tanpa gangguan perilaku.Pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan dorongan untuk mencari danmempertahankan pengobatan dan tindak lanjutnya dengan segala keterbatasannyalithium merupakan pengobatan untuk gangguan bipolar yang telah lamadigunakan meskipun banyak obat-obat generasi baru yang ditemukan, namunefektifitas pencegahan bunuh diri masih belum jelas.Garam Lithium (carbonate) merupakan antidepresan yang dianjurkan untuk gangguan depresi bipolar (terdapatnya episode depresi dan mania) dan penderitagangguan depresi. Lithium tidak bersifat sedative, depresan ataupun eforian, inilahyang membedakannya dari antidepresan lain.Mekanis aksi lithium mengendalikan alam perasaan belum diketahui, didugaakibat efeknya sebagai membrana biologi. Sifat khas ion lithium dengan ukuranyang amat kecil tersebar melalui membrana biologik, berbeda dari ion Na dan K.Ion lithium menggantikan ion

Na mendukung aksi potensial tunggal di sel saraf dan melestarikan membrana potensial itu. Masih belum jelas betul makna interaksiantara lithium (dengan konsentrasi 1 mEq per liter) dan transportasi monovalentatau divalent kation oleh sel saraf.2 Aksi lithium disusunan saraf pusatdispekulasikan merobah distribusi ion didalamsel susunan saraf pusat, perhatianterpusat pada efek konsentrasi ionnya yang rendah dalam metabolisme biogenik amin yang berperanan utama dalam patofisiologi gangguan alam perasaan.Sudah lebih dari 50 tahun lithium digunakan sebagai terapi gangguan bipolar.Keefektivitasannya telah terbukti dalam mengobati 60-80% pasien. Pamornyasemakin berkibar karena dapat menekan ongkos perawatan dan angka kematianakibat bunuh diri.Tapi bukan berarti lithium tanpa cela. Terdapat orang-orang yang kurangmemberi respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cederakepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengankomorbid. Bila penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalamirelaps. Selain itu, indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithiumdalam darah. Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi penggunaan lithium karenaakan menghambat proses eliminasi sehingga menghasilkan kadar toksik. Disamping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal bila digunakan

dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah, penggunaan lithium mulaiditinggalkan.2 Antipsikotik mulai digunakan sebagai antimanik sejak tahun 1950.Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada penderita bipolar dengan agitasi psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golongantipikal) sebab dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal,neuroleptic malignant syndrome, dan tardive dyskinesia.Valproat menjadi pilihan ketika penderita bipolar tidak memberi responterhadap lithium. Bahkan valproat mulai menggeser dominasi lithium sebagairegimen lini pertama. Salah satu kelebihan valproat adalah memberikan responyang baik pada kelompok rapid cycler. Penderita bipolar digolongkan rapid cycler bila dalam 1 tahun mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek terapeutik tercapai pada kadar optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek samping dapat timbul ketika kadar melebihi 125 mg/L, di antaranya mual, berat badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor, sedasi, dan rambut rontok. Dosisakselerasi valproat yang dianjurkan adalah loading dose 30 mg/kg pada 2 hari pertama dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya. Pencarian obatalternatif terus diupayakan. Salah satunya adalah lamotrigine.Lamotrigine merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobatiepilepsi. Beberapa studi acak, buta ganda telah menyimpulkan, lamotrigine efektif sebagai terapi akut pada gangguan bipolar episode kini depresi dan kelompok rapid cycler. Sayangnya, lamotrigine kurang baik pada episode manik

1)Litium Indikasi:Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagaiterapi rumatan GB.Dosis:Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan denganmenitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari.Dosis awal yaitu 20mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi biladibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.2)

Valproat. Dosis:Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalamserum berkisar antara 45 125 ug/mL. Untuk GB II dan siklotimiadiperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma 50 ug/mL. Dosis awaluntuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dandinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125ug/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum 100ug/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yangdianjurkan adalah antara 75-100 ug/mL.Indikasi:Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut,terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons denganlitium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.3)

LamotriginIndikasi:Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akutmaupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.Dosis:Berkisar antara 50-200 mg/hari. Antipsikotika Atipik 1)Risperidon Dosis:Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitutablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang(RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yangdianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap duaminggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkanmenjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.Indikasi:Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapirumatan2)OlanzapinIndikasi:Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akutmania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapirumatan GB.Dosis:Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.3)Quetiapin.Dosis:Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari.Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg,100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selainitu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.Indikasi:Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran,siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.4) AripiprazolDosis:Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisarandosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yangdirekomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari.Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mgdapat meningkatkan tolerabilitas.Indikasi:Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagaiterapi tambahan pada GB I, episode depresi. Anti depresan Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi.Penggunaannya harus dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi hipomania atau mania. Untuk menghindari terjadinyahipomania dan mania, antidepresan hendaklah dikombinasi dengan stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik Intervensi Psikososial Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapikelompok, psikoedukasi, dan berbagai bentuk terapi psikologi atau psikososiallainnya. Intervensi psiksosial sangat perlu untuk mempertahankan keadaanremisi. b.

PsikoterapiSedikit data yang menguatkan keunggulan salah satu pendekatan psikoterapidibandingkan yang lain dalam terapi gangguan mood masa anak-anak dan remaja.Tetapi, terapi keluarga adalah diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentanggangguan mood serius yang dapat terjadi pada anakanak saat terjadinya streskeluarga yang berat. Pendekatan psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa. Karena fungsi psikososialanak yang terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang lama, walaupunsetelah episode depresif telah menghilang, intervensi keterampilan sosial jangka panjang adalah diperlukan. Pada beberapa program terapi, modeling dan permainan peran dapat membantu menegakkan keterampilan memecahkan masalah yang baik.Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi