Anda di halaman 1dari 29

Bagian Ilmu Kesehatan Anak Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Tutorial

GIZI KURANG + CEREBRAL PALSY

Oleh: Andi Nursabhrina Julianti M. Aldy Angry 06.55382.00325.09 05.48840.00241.09

Pembimbing: dr. Fatchul Wahab, Sp.A

LABORATORIUM/SMF ILMU KESEHATAN ANAK FK UNMUL RSUD A. W. SJAHRANIE SAMARINDA 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sebenarnya istilah cerebral pada CP dianggap kurang tepat, karena kerusakan dapat mengenai cerebral cortex, basal ganglia, pontine atau midbrain subcortical centers atau cerebellum. Juga istilah palsy tidak tepat karena dalam kenyataannya paralise pada CP jarang ditemukan, tetapi yang nampak adalah gerakan yang berlebihan dan gangguan kontrol motorik. Sebagian besar penderita CP lahir premature atau mengalami komplikasi saat persalinan dan hal tersebut merupakan hasil dari kekurangan oksigen selama kelahiran. Kekurangan oksigen tersebut merusak jaringan otak yang sensitif mengendalikan fungsi pergerakan. Asosiasi CP dunia memperkirakan > 500.000 penderita CP di Amerika. Disamping peningkatan dalam prevensi dan terapi penyebab CP, jumlah anakanak dan dewasa yang terkena CP tampaknya masih tidak banyak berubah atau meningkat sedikit selama 30 tahun terakhir. Hal tersebut sebagian mungkin karena banyak bayi premature yang mengalami masa kritis dan bayi-bayi lemah banyak yang berhasil diselamatkan dengan kemajuan di bidang kegawatdaruratan neonatologi. Yang patut disayangkan, banyak dari bayi-bayi tersebut mengalami masalah perkembangan system saraf atau menderita kerusakan neurologis. Penelitian banyak dilakukan untuk memperbaiki keadaan tersebut terutama pada bayi-bayi yang mengalami masalah pernapasan dan penggunaan terapi medikasi untuk mencegah perdarahan otak sebelum atau segera setelah lahir. Angka kejadian CP berkisar 1,2-2,5 anak per 1000 anak usia sekolah dini. Satu penelitian menunjukkan prevalensi CP congenital derajat sedang sampai berat mencapai 1,2 per 1000 anak usia 3 tahun. Angka harapan hidup penderita CP tergantung dari tipe CP dan beratnya kecacatan motorik. Penelitian di Negara yang sudah berkembang menunjukkan bahwa prevalensi CP tidak menurun pada setiap kelompok berat lahir. Dengan meningkatnya bayi BBLR yang dapat diselamatkan, dimana merupakan factor risiko CP. Identifikasi dini CP pada bayi akan memberikan kesempatan kepada pasien untuk mendapatkan penanganan optimal dalam upaya memperbaiki

kecacatan sensoris dan mencegah timbulnya kontraktur. Riset biomedis berhasil dakam memperbaiki teknik diagnostik misalnya imaging cerebral canggih dan analisis gait modern. Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan panjang tungkai.Jika keseimbangan tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk. Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan.

BAB II LAPORAN KASUS

Identitas pasien : Ruang perawatan Nama Jenis kelamin Umur : Melati : An. A : Laki-laki : 1 tahun 9 bulan

Identitas Orang Tua Nama Ayah Umur Pekerjaan Pendidikan Terakhir Ayah perkawinan ke : Tn.T : 30 tahun : Swasta : SMA :1

Nama Ibu Umur Pekerjaan Pendidikan Terakhir Ibu perkawinan ke

: Ny.NH : 21 tahun : IRT : SMA :1

Anamnesis Alloanamnesis dilakukan terhadap ayah dan Ibu pasien pada tanggal 6 Agustus 2012.

Keluhan utama Kejang

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengalami kejang 5-6x sebelum masuk rumah sakit. Kejang terjadi karena dipicu oleh demam yang dialami oleh pasien. Kejang berlangsung < 1

menit, dan disertai muntah. Demam juga dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluarga pasien mengaku pasien tidak batuk, pilek, ataupun diare. Keluarga Pasien mengeluhkan adanya keterlambatan dalam tumbuh

kembang, dimana pasien tidak bisa berbicara dengan lancar dan tidak bisa berjalan. Pasien hanya bisa tengkurap dan miring kiri kanan. Saat tengkurap pun, leher pasien belum terlalu kuat untuk mennopang dan mengangkat kepalanya. Pasien juga belum bisa untuk duduk Saat ini pasien mengkonsumsi makanan seperti bubur ataupu nasi yang dalam sehari bisa 3 4 kali. Hanya saja akhir-akhir ini keluarga pasien memperhatikan pola minum susu pasien yang mulai agak berkurang. Menurut ibu pasien, untuk soal makanan pasien masih kuat

Riwayat penyakit dahulu : Pasien juga pernah mengalami hal serupa yaitu kejang

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakt serupa.

Riwayat Kehamilan Pemeliharaan Prenatal Periksa di Penyakit kehamilan Obat-obatan yang sering diminum : pernah : Puskesmas dan Klinik : tidak ada : tablet penambah darah dan vitamin.

Riwayat Kelahiran : Lahir di di tolong oleh Berapa bulan dalam kandungan Jenis partus Pemeliharaan postnatal : Rumah Sakit : Bidan : 9 bulan 10 hari : Spontan : Ya

Periksa di Keluarga berencana

: Posyandu : Suntik 3 bulan

Pertumbuhan dan perkembangan anak : Berat badan lahir Panjang badan lahir Tersenyum Miring Tengkurap Duduk Gigi keluar Merangkak Berdiri Berjalan Berbicara dua suku kata Masuk TK Masuk SD : 2500 gram : 55 cm : lupa : 8 bulan : 9 bulan :: ibu lupa :::: ibu lupa ::-

Riwayat Makan Minum anak : ASI Dihentikan Alasan Susu sapi/buatan Jenis susu buatan Takaran Frekuensi Buah Bubur susu Tim saring Makanan padat dan lauknya : dari lahir sampai usia 2 bulan : ya : ASI tidak produksi lagi : ya :susu Nutrilon : 3 sendok 80 cc : 3 4 x/ hari : 6 bulan : 7 bulan : 8 bulan : 1 tahun 7 bulan

Riwayat Imunisasi : Imunisasi BCG Polio Campak DPT Hepatitis B Usia Saat Imunisasi I + 2 bulan + 2 bulan //////// + 2 bulan + 0 hari Pedigree : II //////// //////// ///////// + 4 bulan ////// III /////// /////// //////// //////// /////// IV /////// /////// /////// /////// ///////

Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : Pasien

Keadaan Sosial Ekonomi : Pasien tinggal dan dirawat oleh ibu dan ayah kandung. Konsumsi untuk keluarga pasien berasal dari penghasilan ayah pasien sebagai pekerja swasta Pasien dan keluarga tinggal di sebuah rumah yang berdinding beton, beratap seng dan lantai dari bahan semen. Dalam satu rumah dihuni oleh 5 orang, yaitu: Ayah dan ibu pasien, kae serta nenek dari pihak ibu pasien, serta pasien sendiri. WC dan KM berada didalam rumah. WC: 10 m dari rumah, dan KM: 5 m dari rumah. Sumber air: air hujan, air minum: air hujan yang dimasak. Listrik: ada

Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal : 6 Agustus 2012 Antropometri Berat badan Panjang Badan BMI Lingkar Kepala Lingkar Lengan Atas : 7,7 kg : 77 cm : Kg/m2 : 43 cm : 15 cm

Tanda Vital Nadi Frekuensi napas Suhu aksiler : 100 x/menit (reguler,isi cukup, kuat angkat) : 30 x/menit : 37,3C

Keadaan Umum Kesan sakit Kesadaran Status Gizi : Sakit sedang : compos mentis : kurang

Rumus Behrman BB ideal = 2n + 8 = 10 kg

Status gizi = BB sekarang/BB ideal x 100% = 7,7kg/10kg x 100% = 77% (gizi kurang) Kepala Rambut Mata : hitam : cowong (-), edema pre orbita (-/-), anemis (-), ikterik (-),

pupil 3mm/3mm, Reflek cahaya +/+, strabismus (+/+) Hidung Telinga Mulut : sumbat (-), bau (-), selaput putih (-) : Bersih, Bau (-), sakit (-) : lidah bersih, tonsil dan faring tidak hiperemi

Leher Pembesaran kelenjar Kaku kuduk : (-) : (-)

Kulit Dalam batas normal

Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : simetris, seirama gerakan nafas, retraksi (-) : krepitasi (-), fremitus raba dekstra sama dengan sinistra : sonor : suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi : datar, venektasi (-), penonjolan massa (-) : Ictus Cordis terlihat di ICS VI midclavicula line sinistra : Ictus Cordis teraba di ICS VI midclavicula line sinistra : Batas Kiri = ICS VI Midclavicula line sinistra Batas Kanan = ICS III Parasternal line dextra : S1/S2 tunggal, reguler, murmur (-)

Palpasi Perkusi Auskultasi

: lemas, organomegali (-), nyeri tekan (+) kuadran kiri kanan bawah : Timpani : Bising usus (+) kesan normal

Ekstremitas Akral Hangat, sianosis (-), edema (-), KGB inguinal (-)

Pemeriksaan Refleks: Refleks fisiologi : Refleks patella Refleks Achilles : +/+ : +/+

Refleks tendo biceps : +/+ Refleks triceps : +/+

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah (1 Agustus 2012): Hemoglobin Leukosit Trombosit Hematrokit GDS : 6,6 g/dl : 7.000/mm3 : 243.000/mm3 : 19,5 % : 57

Usulan pemeriksaan Diagnosis Banding Epilepsi :

Penatalaksanaan: IVFD D5 NS 600cc/hr Ceftriaxone inj 2 x 37,5 mg Dilantin 2 x 40 mg pulv Depakene syrup 2 x 0,8 cc Makan bubur

Follow Up Ruangan Tanggal Anamnesa Pemeriksaan Fisik 1 Kejang 5-6 x, CM, N Terapi, diagnosa, &

Pemeriksaan Penunjang : Terapi : IVFD RL 10 tpm Paraetamol syrup 4x cth Luminal 3 x 20 mg Domperidone 3 x cth ac

Agustus berlangsung < 1 130x/mnt, RR : 2012 Hari 1 menit, muntah 34x/menit, T:

(+), demam (+)

38 C, an (-/-), rh (-/-), wh (-/-) BB : 7 kg

Diagnosa : Kejang Demam + Cerebral Palsy 2 Kejang 3x pagi CM, N : Terapi : IVFD D5 NS

Agustus hari, demam (+), 160x/menit, RR 2012 H2 muntah BAB(-) (-), : 34x/ menit, T : 37,5 C, an (-/-), rh (-/-), wh (-/-), BB : 7,8 kg

800cc/hr Amoxycillin inj 3 x 220 mg Dilantin inj 2 x 18 mg Domperidone syrup 3x cth Pamol syrup 3 x cth

Diagnosa : Kejang demam + Cerebral Palsy 3 Kejang 2x, CM, N : Terapi : IVFD D5 NS

Agustus demam 2012 H3

(-), 108x/menit, RR

muntah (-), mual : 30x/menit, T : (+) 37 C, rh (-/-), wh (-/-),

600cc/hr Amoxycillin inj 3 x 220 mg Dilantin inj 2 x 30 mg Domperidone syrup 3x

cth Pamol syrup 3 x cth

Diagnosa : Kejang demam + Cerebral Palsy 4 Kejang 1 x, CM, N : Terapi : IVFD D5 NS

Agustus demam 2012 H4

(-), 142x/menit, RR

muntah (-), BAB : 34x/menit, T : cair 1x, ampas (- 37,0 C, an (-/-), ) rh (-/-), wh (-/-),

600cc/hr Amoxycillin inj 3 x 220 mg Dilantin inj 2 x 40 mg Pamol syrup 3 x cth Makan bubur

Diagnosa : Kejang demam + Cerebral Palsy 6 Demam saat CM, N : Terapi : IVFD D5 NS

Agustus malam 2012 H5 kejang

hari, 146x/menit, RR (-), : 30x/menit, T :

600cc/hr Ceftriaxone inj 2 x 37,5 mg Dilantin inj 2 x 40 mg Pamol syrup 3 x cth Depakene syrup 2 x 0,8 cc Makan bubur

muntah (-), BAB 37,3 C, an (-/-), cair (-) rh (-/-), wh (-/-), BB : 7,5 kg

Diagnosa : Kejang demam + Cerebral Palsy 7 Demam (-), CM, N : Terapi : IVFD D5 NS

Agustus kejang 2012 H6

(-), 100x/menit, RR

muntah (-), BAB : 30x/menit, T : cair (-) 37,3 C, an (-/-), rh (-/-), wh (-/-),

600cc/hr Ceftriaxone inj 2 x 375 mg

BB : 7,5 kg

Dilantin 2 x 40 mg pulv Depakene syrup 2 x 0,8 cc Makan bubur

Diagnosa : Kejang demam + Cerebral Palsy

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

CEREBRAL PALSY Definisi Cerebral palsy adalah suatu kelaianan gerakan dan postur yang tidak progresif, oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada otak yang sedang bertumbuh/matang. Hal ini disebabkan oleh kerusakan nonprogressive pada otak saat prenatal, perinatal ataupun postnatal. CP bukanlah penyakit tunggal tetapi suatu perusakan sekunder dari neuromotor sindrom yang terjadi akibat adanya lesi di otak. Kerusakan pada otak adalah permanen dan tidak bisa diobati tetapi akibatnya dapat diminimalkan. Semua lesi nonprogressive pada sistem saraf pusat( CNS) yang terjadi sepanjang yang 2 tahun pertama kehidupan dianggap sebagai CP. Selain itu, gangguan gerak dan keseimbangan pasien mungkin mungkin merupakan manifestasi dari disfungsi cerebral.

Etiologi Umumnya etiologi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Prenatal Gangguan pertumbuhan prenatal, infeksi terjadi dalam kandungan ( missal cytomegalovirus, rubella, toxoplasmosis, syphilis), radiasi sinar X, asphyxia in utero ( abruptio plasenta, plasenta previa, maternal anoxia, kelainan umbilicus, premature separation dari plasenta, perdarahan plasenta), keracunan dalam kehamilan, dan lain-lain. 2. Perinatal Anoxia/hypoxia, perdarahan otak, prematuritas, postmaturitas, partus lama, jaundice misalnya pada kelainan rhesus dan ABO incompatibility. 3. Postnatal Semua kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan otak, seperti trauma capitis, meningitis, encephalitis.

Ada kecenderungan untuk mengeluarkan kasus-kasus yang memenuhi kriteria CP secara umum dari diagnose sebagai CP bila penyebabnya dapat ditegakkan degan pasti, misalnya penderita post-encephalitis, postmeningitis, dan perdarahan karena trauma capitis. Klasifikasi Umumnya klasifikasi didasarkan pada simtomatologi dan topografinya. Menurut Molnar CP diklasifikasikan menjadi beberapa tipe, seperti yang terlihat pada Tabel. Tipe Sebgrup Spastic Monoparesis Hemiparesis Congenital (3:10) Postnatal (1:10) Diplegia (paraparesia) Triplegia Quadriparesis (tetraplegia) Athetoid (dyskinetic, dystonic) Rigid Ataxia 4% 1% 20% Jarang 3:10 2:10 Jarang 5:10 Frekuensi Seluruhnya 50%

Tremor Atonic (Hypotonic) Mixed Spastic-athetoid Rigid-spastic Spastic-ataxic 2:3 1:3 Jarang

Jarang Jarang 25%

CP spastic Spastisitas didefinisikan sebagai peningkatan fisiologis dari ketahanan otot untuk gerak pasif. Hal ini merupakan bagian dari gejala UMN yang ditandai dengan hiperreflexia, klonus, respon ekstensor plantar dan refleks primitif. CP spastik adalah bentuk paling umum dari CP (sekitar 70% sampai 80%).CP spastik secara anatomis dibagi menjadi tiga jenis.

Hemiplegia dimana satu sisi tubuh yang terlibat umumnya ekstremitas atas lebih terpengaruh daripada ekstremitas bawah. Kemungkinan terjadi gangguan kejang, gangguan penglihatan, astereognosis, dan gangguan proprioseptif. Dua puluh persen anakanak dengan CP spastik merupakan hemiplegia. Sebuah focal traumatis, pembuluh darah, atau lesi infeksi adalah penyebab terbanyak kasus. Infark otak unilateral dengan porencephaly posthemorrhagic dapat dilihat pada magnetic resonance imaging (MRI).

Diplegia Pada diplegia, bagian bawah kaki yang sangat terlibat dan ekstremitas atas juga sedikit terpengaruh. Intelegensia biasanya normal, dan epilepsi jarang terjadi. Lima puluh persen anak-anak dengan CP spastic adalah diplegia. Riwayat premature dab berat badan lahir rendah umumnya menjadi penyebab. MRI mengungkapkan leukomalacia periventricular ringan (PVL).

Quadriplegia Pada quadriplegia, keempat anggota gerak, batang tubuh dan otot yang mengendalikan mulut, lidah dan pharynx terlibat. Ketika salah satu ekstremitas terlibat, digunakan istilah triplegia. 30% anak-anak dengan CP spastic memiliki quadriplegia. Keterlibatan yang lebih serius dari ekstremitas bawah sering terjadi pada bayi premature. Beberapa karena hipoksia perinatal sehingga menyebabkan iskemik ensepalopati. MRI menggambarkan PVL.

Diskinetik Gerakan abnormal yang terjadi ketika pasien mulai bergerak disebut diskinetisia. Disartria, disfagia dan drooling juga ditemukan karena masalah gerakan tersebut. Status mental umumnya normal, namun disartria parah membuat komunikasi menjadi sulit dan mengarahkan pengamat untuk berpikir bahwa anak memiliki gangguan intelektual.

Ataxia Ataxia adalah hilangnya keseimbangan, koordinasi dan pengendalian motorik halus. Otot menjadi hipotonik selama 2 tahun pertama kehidupan. Otot menjadi normal dan ataxia menjadi jelas pada usia 2 sampai 3 tahun.

Mixed CP Anak-anak dengan mixed CP umumnya menjadi spastisitas ringan, distonia, dan gerakan athetoid. Ataxia mungkin merupakan komponen dari disfungsi motor pasien. Spastic ataxic diplegia adalah jenis mixed CP yang sering dikaitkan dengan hidrosefalus

Gejala Klinik dan Penegakan Diagnosa Pemeriksaan perkembangan motorik, sensorik serta mental perlu dilakukan secermat mungkin. Sesuai dengan batasannya, maka pada CP kelainan gerak dan postur dapat berupa salah satu atau kombinasi dari spastisitas,

athetoid/diskinetik/distonik, rigiditas, ataxia, tremor, atonik/hipotonik, pada fase

dini tidak ada primitive reflex (areflexia), pada fase lanjut: menetapnya primitive reflex dan terlambatnya timbul reflex-refleks yang sesuai usia, timbulnya synergy pattern yang dominan, timbulnya diskinesia ( sulit melakukan gerakan volunteer) dan associated-reaction. Menurut Banks, kriteria untuk CP sebagai berikut: I. Periode neonates 1. Depresi atau asimetri dari reflex primitif ( Moro reflex, rooting reflex, sucking reflex, tonic neck reflex, palmar grasp reflex, stepping reflex). 2. Reaksi yang berlebihan terhadap stimulus. 3. Konvulsi 4. Neurologic sign local. II. Periode infancy 1. Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk dan jalan. 2. Adanya paralise spastic. 3. Adanya gerakan-gerakan involunter. 4. Menetapnya reflex primitif. 5. Tidak timbulnya atau keterlambatan timbulnya: neck righting reflex sesudah usia 6 bulan, Landau reflex sesudah usia 10 bulan, parachute reflex sesudah usia 1 tahun. III. Anak yang lebih tua 1. Keterlambatan fase perkembangan (delayed developmental milestones). 2. Disfungsi dari tangan. 3. Gangguan gait. 4. Adanya spastisitas. 5. Adanya gerakan-gerakan involunter. 6. Retardasi mental. 7. Kejang-kejang (seizures). 8. Gangguan pembicaraan, pendengaran atau penglihatan. Selain itu, menurut Levine, kelainan klinis motorik dapat dibagi menjadi 6 kategori besar (6 Major Motor Categories), yaitu: 1. Pola gerak dan postur. 2. Pola gerak oral.

3. Strabismus. 4. Tonus otot. 5. Evolusi dari reaksi postural dan Landmark. 6. Deep tendon reflex, reflex primitif, dan reflex plantar. Sehingga disimpulkan bahwa: 1. Diagnosa CP dapat ditegakkan jika minimal terdapat 4 abnormalitas dari 6 kategori besar motorik tersebut. 2. Kriteria ini dapat membedakan secara nyata antara penderita CP dengan yang bukan. 3. Terdapatnya satu abnormalitas dari 6 kategori besar diatas dapat membawa kecurigaan atas CP tetapi belum bernilai diagnostik.

Manejemen 1. Pemeriksaan perkembangan motorik. Dalam hal ini dinilai perkenbangan bayi dan anak, melalui tabulasi. Formula yang terutama dikembangkan di rehabilitasi medic adalah melengkapi standar pemeriksaan yang lama dengan standar perkembangan reflex sesuai usia.

Tingkatan tumbuh kembang pada anak

2. Pemeriksaan intelegensia. Pemeriksaan intelegensia disini adalah sama dengan pemeriksaan derajat retardasi mental. Hal ini penting dalam memperkirakan prognosa dan menyusun program. Tidaklah selalu mudah unutk melakukan tes intelegensia penderita. Terapi 1. TerapiFisik(PT) bertujuanuntukmembantuorangmencapai secarafisikdanmobilitas. meningkatkanberbagaigerakandanfungsimotorikkasar lainnya. 2. Terapi okupasi(OT) jugadisebutFisioterapi, potensimerekauntukbebas Fisioterapi

kegiatandidesainbertujuanuntukmeningkatkankemandirianmelaluiketeram pilanmotorikhalus. OTmembantuanak-anakuntukmenggunakanperalatan

adaptifsepertimakan, tempat dudukdanbantuankamar mandi. 3. Terapi wicara bertujuan untuk membantu anak-anak berkomunikasi dengan orang lain. Seorang anak mungkin hanya perlu bantuan untuk mengatasi sedikit masalah artikulasi, atau dia mungkin tidak dapat

berkomunikasi secara verbal dan memerlukan sistem komunikasi nonverbal. Sistem komunikasi alternatif meliputi gambar - gambar dan simbol. 4. Akupuntur menggunakan penusukan jarum halus yang dirancang khusus kedalam area tubuh spesifik untuk keperluan terapeutik, untuk menghilangkan rasa sakitotot, atau sebagaian estesi regional. 5. Hidroterapi di kolam air hangat. Anak tidak perlu bisa berenang untuk melakukan terapi air. Ini dapat membantu mengendurkan otot, meningkatkan postur tubuh dan keseimbangan, mengurangi kejang otot, dan meningkatkansirkulasi. 6. Obat-obatan Obat untuk kondisi sekunder kadang-kadangberhubungan dengan CP, seperti kejang. Obat juga dapat diresepkan untuk kontrol spastisitas,

terutama setelah operasi. Pengobatan yang paling banyak digunakansering termasuk: Diazepam (Valium): bertindak sebagai relaksan umum otak dan tubuh Baclofen (Lioresal): blok sinyal yang dikirim dari sumsum tulang belakang untuk kontraksiotot-otot Dantrolene (Dantrium): mengganggu proses ototkontraksi Obat-obatan antikolinergik - termasuk Trihexyphenidyl, Benztropine, dan Procyclidine Hidroklorida - kadang-kadang diresepkan untuk membantu mengurangigerakan abnormal pada individu dengan CP athetoid.

GIZI KURANG Definisi Status gizi Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan panjang tungkai .Jika keseimbangan tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk .

Penilaian Status Gizi Untuk menentukan status gizi seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan interpretasi informasi dari hasil beberapa metode penilaian status gizi yaitu: penilaian konsumsi makanan, antropometri,

laboratorium/biokimia dan klinis Diantara beberapa metode tersebut, pengukuran antropometri adalah relatif paling sederhana dan banyak dilakukan . Dalam antropometri dapat dilakukan beberapa macam pengukuran yaitu pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar lengan atas (LILA). Dari beberapa pengukuran tersebut BB, TB dan LILA sesuai dengan umur adalah yang paling sering digunakan untuk survey sedangkan untuk perorangan,

keluarga, pengukuran BB dan TB atau panjang badan (PB) adalah yang paling dikenal. Melalui pengukuran antropometri, status gizi anak dapat ditentukan apakah anak tersebut tergolong status gizi baik, kurang atau buruk. Untuk hal tersebut maka berat badan dan tinggi badan hasil pengukuran dibandingkan dengan suatu standar internasional yang dikeluarkan oleh WHO. Status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendirisendiri, tetapi juga merupakan kombinasi antara ketiganya. Masing-masing indikator mempunyai makna sendiri-sendiri. a. Indikator BB/U Menunjukkan secara sensitif status gizi saat ini (saat diukur) karena mudah berubah, namun tidak spesifik karena berat badan selain dipengaruhi oleh umur juga dipengaruhi oleh tinggi badan. Indikator ini dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek; dan dapat mendeteksi kegemukan. b. Indikator TB/U Dapat menggambarkan status gizi masa lampau atau masalah gizi kronis. Seseorang yang pendek kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Berbeda dengan berat badan yang dapat diperbaiki dalam waktu singkat, baik pada anak maupun dewasa, maka tinggi badan pada usia dewasa tidak dapat lagi dinormalkan. Pada anak Balita kemungkinkan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimal masih bisa sedangkan anak usia sekolah sampai remaja kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan masih bisa tetapi kecil kemungkinan untuk mengejar pertumbuhan optimal. Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur. Pertambahan TB relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Pengaruh kurang gizi terhadap pertumbuhan TB baru terlihat dalam waktu yang cukup lama. Indikator ini juga dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk . c. Indikator BB/TB Merupakan pengukuran antropometri yang terbaik karena dapat

menggambarkan secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini atau masalah gizi akut. Berat badan berkorelasi linier dengan tinggi badan, artinya dalam keadaan

normal perkembangan berat badan akan mengikuti pertambahan tinggi badan pada percepatan tertentu. Dengan demikian berat badan yang normal akan proporsional dengan tinggi badannya. Ini merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini terutama bila data umur yang akurat sering sulit diperoleh. Untuk kegiatan identifikasi dan manajemen penanganan bayi dan anak balita gizi buruk akut, maka WHO & Unicef merekomendasikan menggunakan indikator BB/TB dengan cut of point < -3 SD WHO 2006 (WHO & Unicef, 2009).

Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (Balita) * STATUS GIZI Gizi Lebih Berat Badan menurut Gizi Baik Umur (BB/U) Gizi Kurang Gizi Buruk Tinggi Badan menurut Normal Umur (TB/U) Pendek (Stunted) Gemuk Berat badan Normal menurut Tinggi Badan Kurus (wasted) (BB/TB) Kurus sekali Definisi Gizi kurang Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapatkan makanan cukup bergizi dalam INDEKS AMBANG BATAS **) > +2 SD >= -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai >= -3 SD < -3 SD > = -2 SD < -2 SD > +2 SD >= -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai >= -3 SD < -3 SD

Etilogi a. Jumlah makanan yang di makan kurang. Asupan makanan yang kurang diantara lain disebabkan oleh : Tidak tersedianya makanan secara adekuat Anak tidak cukup mendapat gizi seimbang Pola makan yang salah

b. Penyakit.

Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu.

Patofisiologi Gizi kurang biasanya terjadi pada anak balita dibawah usia 5 tahun. Gizi kurang umumnya terjadi pada balita dengan keadaan lahir BBLR (bayi berat lahir rendah) atau dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Tidak tercukupinya makanan dengan gizi seimbang serta kondisi kesehatan yang kurang baik dengan kebersihan yang buruk mengakibatkan balita atau anak-anak menderita gizi

kurang yang dapat bertambah menjadi gizi buruk atau kurang energi kalori. Pada akhirnya anak tersebut akan mengalami gangguan pertumbuhan dan

perkembangan.

Manifestasi Klinis Kekurangan gizi ini secara umum mengakibatkan gangguan diantaranya :

Pertumbuhan Pertumbuhan anak menjadi terganggu karena protein yang ada digunakan sebagai zat pembakar sehingga otot-otot menjadi lunak dan rambut menjadi rontok

Produksi tenaga Kekurangan energi yang berasal dari makanan mengakibatkan anak kekurangan tenaga untuk bergerak dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas, dan merasa lemas

Pertahanan tubuh Sistem imunitas dan antibodi menurun sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk, pilek dan diare

Struktur dan fungsi otak Kurang gizi pada anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen seperti perkembangan IQ dan motorik yang terhambat

Perilaku Anak yang mengalami gizi kurang menunjukkan perilaku yang tidak tenang, cengeng dan apatis.

Perubahan rambut dan kulit. Rambut kepala mudah dicabut dan tampak kusam, kering, halur, jarang dan berubah warna. Sedangkan pada kulit terdapat garis-garis kulit yang lebih dalam dan lebar, hiperpigmentasi serta bersisik.

Pembesaran hati Anemia Kelainan kimia darah.

Kadar albumin serum rendah, kadar globulin normal atau sedikit meninggi, dan kadar kolesterol serum rendah.

Komplikasi Malnutrisi Energi Protein (MEP) berat yang dikenal dengan :


Kwashiorkor Marasmus Marasmik-kwashiorkor

Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan keperawatan klien dengan gizi kurang :

Pemberian makanan yang mengandung protein, tinggi kalori, cairan, vitamin dan mineral.

Penanganan segera penyakit penyerta (misalnya diare) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak pada orang tua dan anggota keluarga

Sebaiknya tidak memberikan makanan kecil seperti permen, cokelat dan susu menjelang waktu makan

Pada permulaan, makanan jangan diberikan sekaligus banyak, tetapi dinaikkan bertahap setiap hari (makan dalam porsi kecil tetapi sering)

Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan yang beraneka ragam untuk meningkatkan selera makan

Anjurkan keluarga untuk membawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan secara teratur untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

BAB IV PEMBAHASAN

Anamnesa: Demam kejang Terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan sehingga sampai saat bisa berdiri, berjalan, mengucapkan kata hanya 1 atau 2 kata BB saat ini 7,7 kg. Nutrisi yang diberikan yaitu Sesuai dengan perhitungan Rumus Behrmann dan termasuk gizi kurang. Pada beberapa anakanak cerebral palsy ditemukan gizi yang kurang bahkan buruk karena adanya kesulitan makan & menelan akibat dari masalah motorik dimulut, selain itu karena gangguan nutria juga bisa menyebabkan pertumbuhan menjadi lambat dan rentan terhadap infeksi. Disarankan agar bisa memeberikan makan yang semi solid seperti nasi lembek, bubur ataupun sayuran yang sudah dihancurkan ini belum duduk, ataupun disertai Pada cerebral palsy juga ditemukan adanya kejang pada beberapa anak Cerebral palsy sendiri suatu kelaianan gerakan dan postur yang tidak progresif, oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada otak yang sedang bertumbuh/matang. Dan apabila dilihat dari criteria milestone memang pasien dengan cerebral palsy mengalami keterlambatan

tumbuh kembang

susu formula 3 x 80 cc, dan

diberikan makanan tambahan seperti nasi, bubur, serta buah

Pemeriksaan Fisik Strabismus pada kedua mata Pada beberapa anak dengan cerebral palsy juga bisa terjadi strabismus, sehingga harus cepat dikoreksi karena akan dapata menimbulkan penglihatan ganda

Penatalaksanaan: Anti kejang Anti demam Antibiotik Advis nutrisi untuk Pada anak-anak dengan CP harus diperhatikan kesehatan dan nutrisinya, karena apabila anak tersebut mengalami gizi kurang berarti akan rentan mendapatkan infeksi dan apabila hall itu terjadi bisa memicu naiknya suhu tubuh, selain itu harus diperhatikan bahwa anakan dengan cerebral palsy juga bisa untuk terjadi kejang Prognosa: Bonam pasien apabila diterapi Untuk anak-anak dengan CP sebaiknya segera diterapi sedini mungkin untukmenghindari adanya komplikasi berat

sedini mungkin

DAFTAR PUSTAKA

1. Hamid D. et al. Ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi (physiatry). Unit Rehabilitasi Medik FK UNAIR Surabaya 1992; 117-140 2. Fox, AM. A guide to cerebral palsy. Canadian Cerebral Palsy Association 1991;14-20 3. Grether, JK., et al. The California cerebral palsy project. Pediatric prenatal epidemiologi 1992;6-339 4. Plioplys AV, et al. survival rate among children with severe neurologic disabilities. Southern med j 1998; 91-161 5. OShea TM, et al. Trends in mortality and cerebral palsy in a geographically based cohort of very low birth weight neonates born between 1982-1994. Pediatrics 1998;101:624 6. Becker N. and Yalcin S. the HELP Guide To Cerebral Palsy 2 nd edition. Global HELP 2010;7-120