Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS

1. Pengertian Apendisitis Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik lakilaki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10-30 tahun (Mansjoer, 2000). 2. Anatomi Fisiologi Apendiks a. Anatomi Apendiks Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di Sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Apendiks diperdarahi oleh arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral, arteri ini disebut juga sebagai end artery (Jong, 2004). Kedudukan apendiks pada 65% kasus, terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus yang lain ditemukan apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens atau di tepi lateral kolon asendens. b.Fisiologi Apendiks Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum bila ada hambatan dalam pengaliran lendir tersebut, maka akan mempermudah timbulnya apendisitis. Di dalam apendiks ditemukan immunoglobulin terutama Ig A yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue). Immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan seluruh tubuh (Jong, 2004). 3. Etiologi Apendisitis Jong (2004) mengemukakan bahwa penyebab apendisitis belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya apendisitis yaitu :

a. Infeksi bakteri Bakteri dapat menginfeksi bagian apendiks yang menyebabkan peradangan pada daerah tersebut. E. Histolitika diduga dapat menjadi parasit yang mengerosi mukosa apendiks sehingga terjadi apendisitis. b. Penyumbatan apendiks Tumbuhnya jaringan limfe, feses, tumor apendiks dan cacing askaris dapat menyebabkan penyumbatan apendiks, karena ruang apendiks sangat sempit sehingga bahan-bahan dan benda asing tersebut terperangkap di dalam apendiks dan menyebabkan penyumbatan yang akhirnya dapat menyebabkan radang yang hebat dan dapat menimbulkan infeksi. c. Hambatan aliran lendir ke sekum Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari, lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lubang apendiks dan selanjutnya mengalir ke sekum. Terhambatnya aliran lendir dari apendiks tersebut akan menimbulkan sumbatan pada apendiks yang dapat menimbulkan peradangan pada daerah apendiks dan infeksi pada apendiks. 4. Patofisiologi Apendisitis Brunner & Suddarth (2001: 1097) Apendiks yang terinflamasi sebagai akibat terlipat atau tersumbat, kemungkinan disebabkan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor, atau benda asing. Penyumbatan atau obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi oleh mukosa terbendung (Apendisitis mukosa). Semakin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding apendiks, sehingga mengganggu aliran limfe dan menyebabkan dinding apendiks edema serta merangsang tunika serosa dan peritoneum viseral. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam dapat terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen dan akhirnya apendiks yang terinflamasi tersebut berisi pus (apendisitis komplet).

Konstipasi

Katup ileosekal kompeten

Flora kuman kolon meningkat usus besar

Tekanan di dalam sekum tinggi (3)

Apendisitis mukosa (5)

Erosi selaput lender oleh (E.histolyca)

Pengosongan isi apondiks terhambat atau penyumbatan lumen

Bagan 2.1 Patofisiologi Apendisitis 6. Dampak Apendisitis Terhadap Sistem Tubuh a) Sistem Kardiovaskuler Pada Sistem Kardiovaskuler ditemukan takikardi, peningkatan tekanan darah akibat proses infeksi dan nyeri yang dirasakan. Takikardi terjadi karena peningkatan frekuensi nafas sebagai respon dari nyeri dari nyeri sehingga merangsang epinefrin yang menstimulus jantung untuk memompa lebih cepat. b) Sistem Pernapasan Pada sistem ini dapat ditemukan adanya takipnea dan pernafasan dangkal sebagai respon klien terhadap adanya nyeri c) Sistem Pencernaan Pada sistem ini ditemukan data mukosa kering, abdomen keras, bising usus lemah dan menurun bahkan sampai tidak ada, nafsu makan menurun, mual, muntah, kekakuan atau distensi abdomen. Pada palpasi ditemukan Tanda Rovsing, yaitu rasa nyeri yang dirasakan pada abdomen kanan bawah akibat tekanan pada

Apendisitis komplet (10)

abdomen kiri bawah dan Tanda Blumberg, yaitu nyeri pada abdomen kanan bawah ketika tekanan pada abdomen kiri dilepaskan. d) Sistem Muskuloskeletal Pada sistem ini ditemukan data klien mengalami kelemahan dan perasaan sakit serta kurang enak badan (malaise). e) Sistem Persyarafan Pada sistem ini ditemukan data adanya nyeri abdomen sekitar epigastium dan sekitar umbilikus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada Titik Mc. Burney. Nyeri dirasakan akibat adanya infeksi sehingga jaringan akan mengeluarkan zat kimia seperti bradikinin, serotinin, histamin yang merangsang reseptor nyeri di teruskan ke talamus dan nyeri di persepsikan. 7. Klasifikasi Apendisitis Jong (2004: 640-645) mengklasifikasikan apendisitis menurut perjalanan penyakit menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut: a. Apendisitis Akut Diagnosis apendisitis akut ditegakkan ketika seseorang mengalami gejala yang klasik, yaitu nyeri yang samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke Titik Mc. Burney. Di daerah ini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit untuk didiagnosis sehingga banyak yang tidak ditangani pada waktunya, misalkan pada orang lanjut usia dan anak kecil yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. b. Apendisitis Rekurens Diagnosis apendisitis rekurens dapat ditegakkan jika seseorang mempunyai riwayat serangan nyeri berulang di abdomen kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendektomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini dapat terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan, namun sebenarnya apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena apendiks mengalami fibrosis dan membentuk jaringan parut, sehingga resiko untuk terjadinya serangan adalah 50% dan insiden terjadinya apendisitis rekurens adalah 10% dari spesimen yang diperiksa secara patologik. Penatalaksanaan apendisitis

rekurens biasanya dilakukan apendektomi karena penderita biasanya sering datang dengan serangan akut. c. Apendisitis Kronik Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan semua syarat sebagai berikut: 1) 2) 3) Terdapat riwayat nyeri abdomen kanan bawah lebih dari dua minggu Terdapat radang kronik apendiks baik secara makroskopik dan mikroskopik Keluhan menghilang setelah dilakukan apendektomi. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa, serta infiltrasi sel inflamasi kronik. Angka kejadian untuk apendisitis kronik adalah 1-5%. 8. Komplikasi Apendisitis Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Angka kejadian perforasi tersebut adalah 10-32% terjadi paling banyak ditemukan pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum dapat terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejalanya mencakup demam dengan suhu 37,7 oC atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri tekan abdomen yang kontinue. Bila gejala perforasi sudah terjadi sejak pasien datang diagnosis harus segera ditegakkan dengan pasti. 9. Penatalaksanaan Umum. Penatalaksanaan Apendisitis adalah melalui apendektomi yaitu suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat apendiks, apendektomi harus dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis apendisitis ditegakkan untuk menurunkan resiko perforasi (Mansjoer, 2000: 308). Penatalaksanaan umum pada pasien dengan apendisitis pada pre dan post apendektomi, yaitu: a. Tindakan pre-operatif Observasi ketat perlu dilakukan karena biasanya dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Pasien biasanya dipuasakan selama 8-12 jam sebelum pembedahan (Ester, 2005: 144). Laksatif tidak boleh

diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik. Foto abdomen dan toraks dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan. Setelah diagnosa ditegakkan penderita dirawat, disiapkan untuk pembedahan daerah abdomen bawah dan pubis dibersihkan dan dicukur, apabila ditemukan kemungkinan terjadi ileus paralitik, selang nasogastrik dapat dipasang tetapi enema tidak diberikan karena dapat menimbulkan perforasi. Antibiotik dapat diberikan untuk mencegah infeksi dan kompres diberikan untuk menurunkan suhu tubuh klien. Bila terlihat adanya gangguan keseimbangan cairan maka segera berikan cairan parenteral, biasanya diberikan NaCl 0,9% dan glukosa 5% sesuai dengan keadaan hidrasi untuk meningkatkan fungsi ginjal dan menggantikan cairan yang telah hilang. b. Tindakan post operatif Penderita diobservasi tanda-tanda vitalnya untuk mengetahui adanya perdarahan di dalam, syok, hipertermi dan gangguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Berikan penderita posisi semi-fowler atau fowler, posisi ini dapat mengurangi tegangan pada daerah insisi dan organ abdomen yang dapat membantu mengurangi nyeri. Penderita dikatakan baik jika dalam 12 jam tidak mengalami gangguan. Selama itu penderita dipuasakan dan dapat diberikan cairan peroral bila penderita dapat mentoleransi tetapi bila tindakan operasi lebih besar, seperti pada perforasi dan peritonitis umum, maka penderita dipuasakan sampai bising usus kembali normal. Hidrasi atau minum diberikan secara bertahap mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.

Anda mungkin juga menyukai