Anda di halaman 1dari 15

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1.

Definisi Kejang bukan suatu penyakit, tetapi gejala dari suatu atau beberapa penyakit, yang merupakan manifestasi dari lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel-sel neuron otak yang tidak dapat dikendalikan oleh karena terganggu fungsinya akibat akibat kelainan anatomifisiologi, biokimia, atau gabungan keduanya. Manifestasi dari seizure bisa bermacam-macam, dapat berupa penurunan kesadaran,gerakan tonik (menjadi kaku) atau klonik (kelojotan), konvulsi dan fenomenapsikologis lainnya.1,3 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38o C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak di atas umur 1 bulan, dan tidak ada riwayat kejang sebelumnya. 3.2 Epidemiologi Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Kejang demam merupakan salah satu kelainan kelainan neurologis yang sering dijumpai pada bayi dan anak. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (1723 bulan). Dari penelitian pelbagai pakar didapatkan bahwa sekitar 2.2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun.1,2 Dari belbagai hasil penelitian didapatkan bahwa kejang demam agak sering dijumpai pada anak lelaki daripada anak perempuan dengan perbandingan berkisar antara 1,4: 1 dan 1,2:1.4 3.3. Faktor Resiko Faktor risiko kejang demam pertama adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orangtua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah.

24

Setelah kejang demam pertama kira kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan), dan kira kira 9 % anak mengalami rekurensi 3 kali atau lebih, resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.5 Kejang demam sangat tergantung pada umur, 85% kejang pertama sebelum berumur 4 tahun, terbanyak diantara 17-23 bulan. Hanya sedikit yang mengalami kejang demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun. Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi, walaupun pada beberapa pasien masih dapat mengalami sampai umur lebih dari 5-6 tahun. Kejang demam diturunkan secara dominan autosomal sederhana. 3.4. Etiologi Kejang demam ialah kejang yang timbul pada suhu badan yang tinggi. Deamamnya sendiri dapat disebabkan oleh pelbagai sebab terutamanya infeksi. Pernah dilaporkan bahwa infeksi tertentu lebih sering disertai kejang demam berbanding infeksi lainnya. Contoh, sekitar 4.8% -45% penderita gastroenteritis oleh kuman Shigella mengalami kejang demam dibanding gastroenteritis oleh kumana penyebab lain dimana angka kejadian kejang demam hanya sekitar 1%. Lahat dkk, 1984 mengemukan bahwa tingginya angka kejadian kejang demam pada shigellosis dan salmonellosis mungkin berkaitan dengan efek toksik akibat racun yang dihasilkan kuman bersangkutan.3,4 Pada tingkat pengetahuan kita saat ini dapat dikatakan bahwa peranan infeksi pada sebagian terbesar kejang demam adalah tidak spesifik dan timbulnya serangan terutamnya didasarkan atas reaksi demam yang terjadi.6 Ada beberapa factor lain yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam,misalnya: i. ii. iii. iv. Demam itu sendiri Efek produksi toksik daripada mikroorganisma terhadap otak Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit

25

v.

Ensefalitis viral yang ringan yang tidak diketahui atau ensefalopati toksik yang sepintas.

vi.

Gabungan semua factor diatas.

Virta dkk, 2002, mengemukakan bahwa penyakit infeksi secara tidak langsung melepaskan mediator inflamasi pirogen, misalnya interleukin 1 beta, yang mempunyai sidat

proepileptogenik. Mereka mengemukakan mungkin jaringan cytokine diaktivasi dan mempunyai peranan dalam patogenesa atau terjadinya kejang demam.2,5 Infeksi viral paling sering ditemukan pada kejang demam. Hal ini mungkin disebabkan karena infeksi viral memang lebih sering menyerang pada anak. Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga memprovokasi kejang demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam. Kejang setelah imunisasi terutamnya didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT) dan morbili (campak).3 3.5. Klasifikasi2,3,6 Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana ( simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever). Ciri-ciri kejang demam menurut Livingstone ialah: i. ii. iii. iv. v. Kejang bersifat umum Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) Usia waktu kejang pertama muncul kurang dari 6 tahun. Frekuensi serangan 1-4 kali dalam setahun. EEG normal.

Definisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan. Di Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FK UI-RSCM Jakarta, kriteria Livingston tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana ialah:
26

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun. 2. Kejang hanya berlangsung sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit. 3. Kejang bersifat umum. 4. Kejang timbul setalah 16 jam pertama setelah timbulnya demam. 5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal. 6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan. 7. Frekuensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali. Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja.2 Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan,yaitu menurut Fukuyama : a. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) yaitu kejang menyeluruh yang berlangsung kurang dari 15, menit dan tidak berulang dalam 24 jam. b. Kejang demam kompleks( Complex Febrile Seizure) yaitu kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung lebih dari 15 menit dan atau berulang dalam waktu singkat ( selama demam berlangsung). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau kejang tanpa demam dalam keluarga. Menurut Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat umum serta tidak berulang dalam 24 jam. Kejang sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.7 Manakala IDAI mengklasifikasikan kejang demam kompleks jika kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau parsial 1 sisi kejang umum didahului kejang fokal dan berulang atau lebih 1 kali dalam 24 jam.

27

3.6. Patofisiologi Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. 2,3

Gambar 1: Perubahan lepas muatan listrik Selain itu, bila suhu meningkat beberapa darjat,aliran darah harus pula ditingkatkan untuk menjaga agar pasokan oksigen dan glukosa ke otak tetap cukup. Bila peningkatan aliran darah tidak mencukupi, maka terdapatlah anoksia relatif yang memicu kejang. Hipotesis anoksia relatif ini menerangkan kenapa kejang yang lama dapat mengakibatkan kerusakan parmenen di otak. Bila terjadi serangan kejang, kebutuhan akan oksigen dan glukosa akan lebih meningkat. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 C sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi , kejang baru terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.6,8
28

Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kadang kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apne, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapni, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksemia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edem otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.4

Awal (< 15 menit) Meningkatnya denyut jantung Meningkatnya darah Meningkatnya glukosa

Lanjut (15-30 menit)

Berkepanjangan (>1jam) disertai aliran darah terjadi

kecepatan Menurunnya darah

tekanan Hipotensi berkurangnya serebrum

tekanan Menurunnya gula darah

sehingga

hipotensi serebrum kadar Disritmia Gangguan sawar darah otak yang menyebabkan edema

Meningkatnya suhu pusat Edema paru nonjantung tubuh Meningkatnya putih sel darah

serebrum

Tabel 1: Perubahan fisiologis saat kejang Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak sehingga terjadi epilepsi.
29

3.7. Manifestasi Klinis Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengn kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain.1,2,Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik bilateral, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan semakin berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Sebagian kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.3 Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada penderita yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian kecil penderita, ini biasanya terjadi pada penderita dengan kejang lama atau berulang baik umum atau fokal. Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. IQ lebih rendah ditemukan pada penderita kejang demam yang berlangsung lama dan mengalami komplikasi. Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila kejang demam diikuti terulangnya kejang tanpa demam. 3.8. Diagnosis Untuk menegakkan suatu diagnosis kejang demam biasanya meliputi dari

anamnesis,pemeriksaan fisik dan dibantu pemeriksaan penunjang yang dapat disimpulkan seperti berikut:

30

3.8.1. Anamnesis : Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum / saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab kejang di luar SSP.8,9 Tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Riwayat kelahiran, perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsy dalam keluarga. Singkirkan dengan anamnesis penyebab kejang yang lain.

3.8.2 Pemeriksaan Neurologis : Tidak didapatkan kelainan. 3.8.3. Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan rutin tidak dianjurkan. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang demam atau mengevaluasi sumber infeksi. Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit serum (Kalsium, fosfor, magnesium), ureum, kreatinin, urinalisis, biakan darah, urin, atau feses. 3.8.4. Pemeriksaan Imaging Pemeriksaan imaging (CT Scan atau MRI ) dapat diindikasikan pada keadaan berikut:3,4

a) Adanya riwayat atau tanda klinis trauma kepala b) Kemungkinan adanya lesi structural di otak (mikrosefal, spastisitas) c) Adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, muntah berulang, fontanel anterior menonjol, paresis saraf otak, atau edema papil) 3.8.5. .Pemeriksaan Penunjang lain. 3.8.5.i. Pungsi Lumbal Pungsi lumbal adalah pemeriksaan ciaran serebrospinal yang dilakukan untuk menyingkirkan meningitis terutamanya pada pasien kejang demam pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan, cairan cerebrospinal yang abnormal umumnya diperoleh pada anak dengan kejang demam yang :

31

Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh: kaku kuduk) Mengalami komplek partial seizure. Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya ( sudah sakit 48 jam sebelumnya). Kejang saat tiba di IGD. Keadaan post ictal (pasca kejang ) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal. Kejang pertama setelah usia 3 tahun. Pada anak dengan usia lebih dari 18 bulan, pungsi lumbal dilakukan jika tampak tanda-

tanda perandangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi system saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk dilakukan. 3.8.5.ii. EEG EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit neurologis.Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi. EEG dapat memperlihatkan gelombang lambat didaerah belakang yang yang bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral. Perlambatan ditemukan pada 88% pasien bila EEG dikerjakan pada hari kejang dan ditemukan pada 33% pasien bila EEG dilakukan tiga sampai tujuh hari setelah serangan kejang. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana.4,5 3.9. Diagnosis Banding

Menghadapi seorang anak yang menderita

demam dengan kejang, harus dipikirkan

apakah penyebab dari kejang itu didalam atau diluar susunan saraf pusat (otak). Kelainan
32

didalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak dan lainlain. Oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak. Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan cairan cerebrospinal. Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti hemiparesis sehingga sukar dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial. Sinkop juga dapat diprovokasi oleh demam, dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Anak dengan demam tinggi dapat mengalami delirium, menggigil, pucat dan sianosis sehingga menyerupai kejang demam.6

3.10. Penatalaksaan Tujuan pengobatan kejang demam pada anak pada prinsipnya adalah untuk:3,4

1. Mencegah kejang demam dari berulang. 2. Mencegah status epilepsi 3. Mencegah epilepsi/ mental retardasi. 4. Normalisasi kehidupan anak dan keluarga. Dalam penaggulangan kejang demam ada 3 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab, dan pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.

1. Pengobatan fase akut Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjagag agar jalan nafas tetap terbuka. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Pakaian dilonggarkan. Jalan nafas harus bebas agar oksigenisasi terjamin. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus dilakukan teratur. Kalau perlu dilakukan intubasi, sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri. Perhatikan keadaan vital seperti kesedaran, tekanan darah, suhu, pernafasan, dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik (asetaminofen oral 10mg/kgBB, 4 kali sehari). Keadaan dan kebutuhan cairan dan elektrolit harus diperhatikan.
33

Obat yang paling cepat dan merupakan pilihan utama untuk menghilangkan kejang fase akut adalah diazepam yang diberikan secara intravena atau intrarektal karena mempunyai masa kerja yang singkat. Kadar diazepam tertinggi dalam akan tercapai dalam 1-3 menit apabila diazepam diberikan intravena dan dalam waktu 5 menit apabila diberikan intrarektal. Dosis diazepam intravena 0.3-0.5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu lebih dari 2 menit, dengan dosis maksimal 20 mg secara intravena. Apabila kejang tidak berhenti dapat diberikan diazepam lagi dengan dosis dan cara yang sama tetapi pemberian tersebut sering gagal terutamanya pada anak kecil. Apabila sukar mencari vena atau jalur intravena belum terpasang, dapat diberikan diazepam intrarektal dengan dosis 0.5-0.7 mg/kgBB atau sebanyak 5 mg pada anak dengan berat badan kurang dari 10kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10kg. Pemberian diazepam secara rectal aman dan efektif serta dapat diberikan pada orang tua di rumah. Bila kejang tidak berhenti diberikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mgkgBB/ secara intravena perlahan-lahan dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/kg/menit. Dosis selanjutnya diberikan 4-8 mg/kg/ hari. Diberikan 24 jam setelah dosis awal.6,9 Dalam waktu 30-60 menit kadar diazepam dalam otak sudah menurun dan pasien dapat kejang kembali. Oleh karena itu setelah kejang berhenti harus diberikan obat dengan masa kerja yang lama misalnya valproat atau fenobarbital. Fenobarbital diberikan secara intramuskular dengan loading dose. Dosis awal 10-20 mg/kg dan dosis selanjutnya 4-8 mg/kg/hari. Diberikan 24 jam setelah dosis awal. Fenobarbital dosis tinggi intravena dapat menyebabkan depresi pernafasan, hipotensi, letargi dan somnolen, sehingga pemberian harus dipantau dengan ketat. Diazepam juga mempunyai efek samping hipotensi dan depresi pernafasan,sebab itu setelah pemberian fenobarbital dosis tinggi jangan diberikan diazepam. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kejang Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena menakutkan dan bila sering berulang menyebabkan kerusakan otak menetap. Ada 2 cara profilaksis, yaitu: 1. Profilaksis intermittent pada waktu demam. 2. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari (rumatan).

34

Profilaksis intermitten diberikan pada saat demam dengan suhu rektal >38.00 C. Pilihan obat harus cepat masuk dan bekerja di otak. Fenobarbital dan anti piretik dikatakan mencegah timbulnya kejang berulang. Diazepam oral efektif untuk mencegah kejang demam berulang dan bila diberikan intermitten hasilnya lebih baik karenan penyerapan lebih cepat.4

Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jiak kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut: i. ii. Kejang >15 menit. Kelainan neurologis yang nyata sebelum/ sesudah kejang. Hemiparesis, paresis Todd, palsi serebral, retardasi mental, hidrocepalus. iii. Kejang lokal.

Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika adanya hal-hal seperti berikut: i. ii. iii. Kejang berulang 2 kkali atau lebih dalam 24 jam. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan. Kejang demam lebih 4 kali pertahun.

Obat untuk pengobatan jangka panjang dipakai ialah fenobarbital (dosis 3-4 mg/kgBB/ hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/kgBB/ hari dibagi 1-2 dosis). Pemberian obat ini efektif untuk menurunkan resiko berulangnya kejang. Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian diberhentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.8,10

Indikasi rawat dipertimbangkan jika adanya tanda-tanda seperti berikut: a. Kejang demam kompleks. b. Hiperpireksia c. Usia dibawah 6 bulan. d. Kejang demam pertama kali. e. Terdapat kelainan neurologis.

35

3.11. Prognosis Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian. Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang berkisar antara 25%-50% yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin dan riwayat keluarga, lennox-Buchtal (1973) mendapatkan: 1. Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita 50% dan pria 33%. 2. Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga adanya kejang, terulangnya kejang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat kejang adalah 25%. Berdasarkan penelitian Livingston didapati golongan kejang demam sederhana hanya 2,9 % yang menjadi epilepsi dan dari golongan epilepsi yang diprovokasi oleh demam ternyata 97% yang menjadi epilepsi. Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor: a. Riwayat kejang tanpa demam dalam keluarga. b. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam. c. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut diatas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya terdapat 1 atau tidak sama sekali faktor tersebut diatas, serangan kejang tanpa demam hanya 2-3% saja (Consensus Statement on Febrile Seizure, 1981). Pada penelitian yang dilakukan yang dilakukan oleh oleh The American National Collaborative Perinatal Project di Amerika Serikat, dalam hal mana 1.706 anak pasca kejang diikuti perkembangannya sampai usia 7 tahun, tidak didapatkan kematian sebagai kejang demam. Anak dengan kejang demam ini lalu dibandingkan dengan saudara kandungnya yang

36

normal, terhadap IQ tes. Angka rata-rata untuk iq tes ialah 93 pada anak yang mendapat kejang demam. Skor in tidak jauh berbeda dengan dari saudara kandungnya. Anak yang sebelumnya terjadinya kejang demam sudah abnormal atau dicurigai menunjukkan gejala abnormal, mempunyai skor yang lebih rendah daripada saudara kandungnya. Hasil yang diperoleh The Nasional Collaborative Perinatal Project ini hampir serupa dengan yang didapatkan di Inggris oleh The National Child Development- Study. Didapatkan bahwa anak yang pernah mengalami kejang demam kinerjanya tidak berbeda dengan populasi umum waktu tes usia 7 dan 11 tahun. 3.12. Pencegahan.

Meskipun belum diketahui dengan pasti efektifitas dalam meminimalkan resiko kejang demam namun cukup beralasan bila dilakukan pengawasan dan pengontrolan demam, oleh karena kejang diprovokasi oleh demam. Obat yang biasanya diberikan adalah asetaminofen dan ibuprofen diberikan sebanyak 3-4 kali sehari. Menurunkan demam juga dilakukan dengan compress air hangat. Walaupun kejang demam tidak terlalu berbahaya tetapi disraankan orang tua untuk membawa anak dengan kejang demam bila: Kejang anak tidak cepat membaik, meskipun kejang telah telah berhenti. Kejang berlangsung lebih dari 5 menit. Terdapat kejang berulang segera setelah kejang pertama berhenti. Anak kesulitan bernafas.

37

BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta: 2000; Hal 434-437. 2. Behrman RE, Kliegman RM, Jensen HB. Nelson Text book of pediatrics, 17th Edition. Philadelphia : WB Saunders company. 2004, page 1813- 1829. 3. S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan Kedua. BP. IDAI. Jakarta: 2000; Hal 244-251. 4. Julia A McMillan,. Febrile Seizures. Oskis Pediatrics Principles and Practice, 3rd edition. Philadelpia publisher: Lippincott & Walkins, 1999, Chapter 404, pg 1949-1951. 5. Pusponegoro, H.D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 2004; Hal 210-211. 6. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta: 2000; Hal 434-437. 7. Panduan Pelayanan Kesehatan Medis. Kejang Demam.Department Ilmu Kesehatan Anak; Jakarta :EEG 2005 hal 151-106. 8. Soetomenggolo ,Taslim.Kejang Demam. Bku Ajar Neurologi Anak.Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia 1999, hal 244-251. 9. MA Guggenheim. Febrile Seizures.Current Pediatrics Therapy, 15th edition.philadelphia, WB saunders company.;2000, page 105-106. 10. Darto Saharso, D Pusponegoro, Hardiono,dkk.Kejang Demam. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jilid 1. Jakarta; Ikatan Dokter Anak Indonesia;2010. Pg 15152.

38