Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS EFISIENSI PENDETEKSIAN RADIASI GAMMA

OLEH SCINTILLATION COUNTER NaI(Tl) DITINJAU DARI


ASPEK DIMENSI COUNTER

Toni Alchofino,Gibsi Situmorang,Chrisnelson


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Program Studi Fisika

Toni_Alchofino@s.itb.ac.id

Abstrak
Dalam pendeteksian radiasi terdapat beberapa macam jenis detektor yang
digunakan, salah satunya adalah scintillation detector. Laporan ini memberikan
analisis atas besarnya nilai efisiensi radiasi yang terdeteksi oleh Scintillation
Counter NaI(Tl). Analisis ini dilakukan dengan meninjau konsep cross section dari
sinar gamma yang masuk ke detektor. Kuantitas radiasi yang masuk ke dalam suatu
scintillator akan memberikan energi terhadap molekul yang ada pada scintillator
untuk tereksitasi dan akhirnya kembali ke keadaan dasar dengan memancarkan
energi radiasi berupa foton.

I. Pendahuluan
Susunan umum dalam pencacahan sintilasi menggunakan photomultiplier
serta proses dasar yang melibatkan pendeteksian dan pengukuran suatu partikel yang
terionisasi ditunjukkan pada diagram dibawah ini :

gambar 1

Partikel radiasi yang memasuki area sintilator yang berisi gas NaI(Tl)
memberikan energinya pada molekul-molekul NaI(Tl). Akibatnya molekul-molekul
tersebut terionisasi dan tereksitasi dan sejumlah fraksi energinya dikonversi menjadi
foton yang diradiasikan ke seluruh arah. Beberapa foton ini jatuh pada foto katoda
PMT menyebabkan terlepasnya beberapa foto elektron, foto elektron ini dipercepat
oleh beda tegangan antara katoda dan dynode. Ketika menumbuk dynode pertama
beberapa fotoelektron menyebabkan emisi elektron sekunder. Proses multifikasi ini
selalu terulang utuk tiap-tiap dynode. Elektron-elektron yang dihasilkan setelah
multiplikasi akhirnya terkumpul pada kolektor anoda. Sehingga dapat diukur beda
tegangan yang dihasilkan. Beda tegangan ini mengindikasikan energi dari partikel
yang terionisasi. Dalam pencacahan sintilasi menggunakan PMT, terdapat 5 proses
utama yang terjadi :

a. Penyerapan radiasi oleh sintilator


b. Konversi energi radiasi oleh sintilator dalam emisi foton
c. Transit antara foton yang teremisi ke katoda dari PMT
d. Absorbsi foton-foton pada katoda yang menyebabkan emisi foto elektron
e. Terjadi proses multifikasi elektron

Setiap tahap-tahapan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi


hubungan sinyal keluaran terhadap radiasi dan juga akhirnya mempengaruhi
karakteristik alat itu sendiri.

Dalam laporan penilitian ini, hanya akan ditinjau efisiensi atas jumlah partikel
radiasi yang menyebabkan terionisasinya molekul-molekul NaI(Tl). Efisiensi ini
didasarkan atas besarnya insiden radiasi yang terserap oleh molekul (NaI atau
molekul gas lainnya, tergantung detektor) pada scintillator terhadap insiden radiasi
yang tidak terabsorbsi oleh molekul-molekul pada scintillator. Pada laporan penelitian
ini, diasumsikan scintillatornya adalah NaI. Akan tetapi, analisis yang akan dilakukan
menganggap bahwa pengaruh scintillator yang digunakan adalah sama walaupun gas
yang digunakan NaI ataupun gas yang lain. Analisis ditekankan pada nilai geometri
detektornya. Dalam laporan penelitian ini, partikel radiasi yang masuk dalam detektor
adalah partikel radiasi gamma.

II. Permodelan Matematis Efisiensi Fraksi Insiden Radiasi yang Terabsorpsi


oleh Molekul Gas pada Scintillator Ditinjau Secara Geometri.

Suatu partikel radiasi yang memasuki sebuah detektor (scintillator) dapat


memberikan kontribusi tereksitasinya molekul-molekul gas di dalam scintillator
dengan efisiensi 100 %. Namun, radiasi yang masuk pada sebuah scintillator
umumnya hanya sebesar fraksi tertentu dari total radiasi yang masuk yang memiliki
kontribusi tersebut. Selebihnya, partikel radiasi tersebut hanya lewat pada detektor
tanpa memberikan kontribusi apapun.

Nilai fraksi tersebut dinyatakan dengan : f = 1 − e − k d dengan k adalah


konstanta absorbsi serta d adalah faktor geometrinya. Proses yang terjadi dapat
digambarkan sebagai berikut :

R
Өmax

Өmin 00

Gambar 2.
Garis putus-putus pada gambar 2 di atas menyatakan garis di mana gerak
partikel radiasi menuju detektor dengan geometri kotak berada pada sudut 00
(dianggap sebagai garis normal tembakan). Permodelan dilakukan dengan terlebih
dahulu membedakan perhitungan untuk Өmin ≤ Ө ≤ Өmax dan selanjutnya dilakukan
perhitungan untuk (Ө=0) ≤ Ө ≤ Өmin.

a. Untuk Өmin ≤ Ө ≤ Өmax


d h2

R
s h1

θ
L1 L2

Gambar 3
(Analisis Untuk Sudut Tembakan Partikel Radiasi Өmin ≤ Ө ≤ Өmax)

h1 h
R = h1 + h 2 ta n θ = = 2
L1 L2
d = L2 2 + h2 2
d = h 2 2 (1 + c o t 2 θ )
d = csc θ [R − L1 t a n θ ]
d (θ ) = R c s c θ − L 1 s e c θ
Sehingga, dapat diperoleh fraksi yang bergantung sudut :
− k [ R c s c θ − L1 s e c θ ]
f (θ ) = 1 − e (1)
sdθ

h1

Rb L1

Gambar 3

Untuk partikel radiasi gamma, energi awal EI = Nhν. Kerapatan kuanta


diasumsikan homogen, sehingga :

N N dN
IN = = =
A 4π r 2 dA (2)

N
dN = dA
4π r 2 (3)

Dari gambar 3 :
d A = 2 π h1 ( s d θ ) c o s θ
L1
d A = 2 π ( L1 t a n θ ) ( dθ ) cosθ
cos θ
d A = 2 π L1 2 t a n θ d θ (4)
Sehingga

dN θ =
N
4π Rb 2
(2π L 1
2
ta n θ d θ )
(5)
Asumsi partikel NaI tersebar merata, sehingga:
Bagian Kuanta energi terkonversi menjadi energi eksitasi NaI adalah
θ m
(6)
N N aI = ∫
0
f (θ ) d N θ

θ m

∫ (1 ) 4 π NR
− k [R c s c θ − L1 s e c θ ]
N N aI = − e 2
L12 ta n θ d θ
0 b
b. Untuk Ө ≤ Өmin
Untuk kondisi ini, terdapat perbedaan nilai fraksi terhadap nilai Ө. Nilai
fraksinya adalah :

d h2
Өmax h1
Ө

L1

Gambar 4

h 2 h1
tgθ = =
p L1
2
d = h2 + p 2
d= p 2 tg 2θ + p 2
d (θ ) = p 2 (1 + tg 2θ )
d (θ ) = p sec θ
f = 1 − e − kd

f (θ ) = 1 − e−k ( p secθ ) (7)

Efisiensi efektif dapat diperoleh dengan melihat perbandingan jumlah nilai partikel
radiasi yang diabsorbsi terhadap jumlah nilai partikel radiasi yang masuk ke detektor.

θm

N Nai ∫ f (θ ) dN θ
η = = 0
θm
N masuk (8)
∫ dN θ
0
III. Hasil Simulasi
(Simulasi yang dilakukan, dijalankan dalam bahasa pemrograman C++)

a. Pengaruh Perubahan Sudut Datangnya Partikel Radiasi ke Detektor terhadap


Nilai Efisiensi Terabsorbsinya Partikel Radiasi.
y = 0,6059e-0,0128x
Grafik ηf vs θm
R2 = 0,9291
0,7

0,6

0,5
ηf

0,4

0,3

0,2
0 10 20 30 40 50 60 70
θm

Gambar 5

b. Pengaruh Perubahan Nilai Panjang Detektor (P) terhadap Nilai Efisiensi


Terabsorbsinya Partikel Radiasi.
y = 0,1136Ln(x) + 0,1494
Grafik ηf vs p
R2 = 0,9814
0,45

0,4
0,35

0,3
ηf

0,25

0,2
0,15

0,1
0 2 4 6 8 10 12 14
p

Gambar 6

IV. Analisis dan Kesimpulan.


a. Berdasarkan gambar 5 terlihat bahwa perubahan nilai efisiensi terhadap nilai
sudut berkurang secara eksponensial. Semakin besar sudutnya, efisiensi akan
semakin kecil. Ketika sudut tembakan partikel radiasi masuk ke detektor
bernilai besar, lintasan partikel radiasi ketika masuk detektor akan semakin
kecil. Akibatnya, nilai fraksi kuanta yang menyatakan partikel radiasi yang
terserap akan semakin kecil. Hal inilah yang mengakibatkan nilai efisiensi
semakin menurun.
b. Apabila jarak sumber radiasi tetap, namun panjang geometri dari detektor
diperbesar atau diperkecil akan mengakibatkan perubahan nilai efisiensi.
Semakin besar atau semakin panjang detektor yang digunakan, nilai efisiensi
akan semakin besar. Hal ini disebabkan, ketika panjang detektor diperbesar,
lintasan yang ditempuh pada partikel radiasi khususnya gamma semakin besar,
sehingga fraksi yang menyatakan besarnya partikel radiasi yang terabsorbsi
semakin besar.

V. Saran untuk Penelitian Lebih Lanjut

a. Pada penelitian ini, gas yang digunakan sebagai scintillator dianggap tersebar
merata. Untuk memperoleh nilai yang sebenarnya, sifat gas dan jenis-jenis
scintillator yang digunakan harus dipertimbangkan. Analisis mengenai sifat-
sifat gas seperti sifat kinetikanya dan sifat fisis lainnya yang berhubungan
dalam proses scintillasi harus dipertimbangkan.
b. Sumber radiasi pada penelitian ini adalah partikel radiasi yang tidak
bermuatan. Untuk mendapatkan nilai efisiensi yang lebih baik lagi, sebaiknya
perlu diperhitungkan bagaimana pengaruh partikel-partikel radiasi lainnya.
c. Dalam proses scintillasi, analisis yang dilakukan pada penelitian ini hanya
sebatas menganalisis secara kuantitatif efisiensi atas partikel radiasi yang
berkontribusi dalam memberikan energi agar tereksitasinya molekul-molekul
gas pada scintillator. Perlu dilakukan analisis proses lainnya yang berkaitan
dalam proses scintillasi, proses tersebut seperti menganalisis efisiensi foton
yang terbentuk dan diserap oleh foto katoda.

VI. Daftar Pustaka


J.B. Birks, B.A, PhD. Scintillation Counter. 1954. London: Pergamon Press Ltd.
Hamamatsu. Photomultiplier Tube Handbook