Anda di halaman 1dari 31

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan HIV-AIDS Pada Ruang Anggrek RSUD Kebumen

Disusun oleh : KURNIAWAN SETYO HADI A21000322

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG 2011

2 Asuhan Keperawatan Pasien Dengan HIV-AIDS

Konsep Dasar I. Pengertian AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya. II. 1. Sejarah Aids di Indonesia : 1926 Beberapa ilmuwan menganggap HIV menyebar dari monyet ke manusia sekitar tahun 1926-1946. 2. 1982 Para ilmuwan menemukan sindrom yang dikenal sebagai GayRelated Immune Deficiency (GRID), yakni penurunan kekebalan tubuh yang dihubungkan dengan kaum gay. 3. 1983 Dokter di Institut Pasteur Prancis memisahkan virus baru penyebab AIDS. Virus itu terkait dengan limfadenopati (Lymphadenopathy-Associated Virus-LAV). 4. 1984 Pemerintah AS mengumumkan, Dr Robert Gallo dari National Cancer Institute (NCI) memisahkan retrovirus penyebab AIDS dan diberi nama HTLV 111. 1986: Suatu panitia internasional menyatakan bahwa virus LAV dan HTLV-III adalah sama sehingga nama virus itu diganti menjadi HIV. 5. 15 April 1987 Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan. Seorang wisatawan berusia 44 tahun asal Belanda, Edward Hop, meninggal di Rumah Sakit Sanglah, Bali. Kematian lelaki asing itu disebabkan AIDS. Hingga akhir 1987, ada enam orang yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap AIDS. 6. 7. 1987-Desember 2001 Dari 671 pengidap AIDS, 280 orang diantaranya meninggal dunia. Februari 1999 Peneliti dari University of Alabama di Amerika Serikat (AS) meneliti jaringan yang dibekukan dari seekor simpanse dan menemukan jenis virus SIV yang hampir sama dengan HIV-1. Simpanse itu berasal dari subkelompok simpanse yang disebut pan troglodyte yang terdapat di Afrika Tengah Barat.

3 8. 2001 UNAIDS (United Nations Joint Program on HIV/AIDS) memperkirakan jumlah Orang Hidup Dengan HIV/AIDS (ODHA) 40 juta. Sampai sekarang, di subsahara Afrika paling banyak terdapat ODHA, yakni 70 persen dari ODHA yang ada di dunia. Sedikitnya 12 juta anak menjadi yatim piatu karena HIV/AIDS. 9. November 2001 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan obat untuk AIDS dan penyakit lainnya dalam kasus tertentu boleh tidak dipatenkan. 10. 2002 3,1 juta orang meninggal karena penyakit AIDS. 11. 9 Januari 200 Penderita HIV/AIDS di Bali bertambah 18 orang lagi. Total kumulatif penderita, dari 233 orang menjadi 251 orang. Sampai saat ini belum bisa dipastikan posisi Bali dalam hal urutan jumlah penderita HIV/AIDS dalam skala nasional. 12. Juli 2003 Salah satu kasus baru yang belum banyak diketahui orang lain adalah merebaknya HIV/AIDS dikalangan para petugas kesehatan akibat secara tidak sengaja tersuntik jarum suntik yang biasa digunakan oleh para penderita penyakit yang diidentikkan dengan penyakit seksual ini. Kebanyakan yang terkena adalah para suster yang bertugas untuk menyuntikkan zat anti viral (anti virus) kepada para pasien penderita AIDS. Tetapi entah kenapa, secara tidak sengaja jarum suntik yang biasa digunakan untuk para penderita HIV/AIDS, berbalik menyuntik bagian tubuh mereka. Keadaan dikhawatirkan akan menyebabkan ketakutan di kalangan para petugas kesehatan, terutama bagi mereka yang ditugaskan untuk merawat ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Salah satu cara yang telah dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan pemberian obat jenis post exposure prophylaxis atau pencegahan pasca pajanan. Tujuannya, agar dapat dideteksi apakah mereka positif terkena HIV/AIDS atau tidak. Mereka meminumnya selama satu hingga satu setengah bulan, kemudian pemakaian obat dihentikan. Tiga hingga enam bulan setelahnya, mereka kembali diberikan obat anti viral untuk melumpuhkan virus HIV. Kecelakaan yang tidak disengaja itu akan semakin memperparah kondisi para pasien HIV/AIDS karena akan semakin banyak orang yang tidak peduli kepada mereka. Sementara untuk petugas kesehatan diharapkan mereka bersikap hati-hati dalam bertugas karena pihak rumah sakit tidak menyediakan dana khusus untuk perawatan dan pengobatan mereka. 13. 20 Agustus 2003 Generasi muda Papua lama-kelamaan dirasa akan habis karena kurangnya penanganan masalah HIV/AIDS bagi warga Papua oleh petugas kesehatan. Hal ini

4 dikarenakan penanganan pemerintah terhadap kasus HIV/AIDS di Papua sangat minim, sedangkan penderitanya semakin hari jumlahnya semakin bertambah. 14. 22 Agustus 2003 Sebanyak 27 orang warga Kabupaten Banyuwangi dinyatakan positif terserang AIDS dan 10 orang lainnya masih diduga terkena penyakit yang sama. Ini merupakan Angka terbesar di Jatim setelah Surabaya, Malang, dan Sidoarjo. Data ini berdasarkan survei Dinas Kesehatan pada 45 unit puskesmas dan 12 lokalisasi di Kota Gandrung itu, sejak awal bulan Agustus lalu. Kesimpulan didapat setelah dilakukan pemeriksaan contoh darah yang diuji di laboratorium kesehatan pada Dinas Kesehatan Propinsi Jatim di Surabaya. Penderita adalah para pekerja seks komersial (PSK), mahasiswa, ibu rumah tangga, PNS, TKI, dan waria. Dari 27 orang yang dinyatakan positif mengidap virus itu, lima di antaranya meninggal dunia. Sementara sisanya masih dalam pengawasan dan penanganan pihak Diskes Banyuwangi. 15. 30 November 2003 Deki (22 Tahun), positif mengidap HIV/AIDS karena jarum suntik narkoba. Deki tidak tinggal diam menunggu nasib, bahkan ia tidak takut kematian dan menyerah begitu saja ditengah jepitan ancaman ganda yang harus dihadapinya. Kini, Deki mengisi hari-harinya dengan bergabung pada Yayasan Pelita Ilmu, Jakarta yaitu sebuah LSM yang mendedikasikan diri mendampingi penderita ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). 16. 24 Januari 2003 Setelah lima hari dinyatakan positif mengidap AIDS, Koko (27 Tahun) meninggal dengan keadaan mengenaskan, dikucilkan dan sempat ditolak berobat oleh sejumlah rumah sakit. Berdasarkan data yang masuk, terdapat 306 penderita HIV/AIDS yang tersebar di Indonesia hingga Desember 2002. Jumlah ini belum termasuk jumlah korban lain yang tidak terdeteksi. 17. 26 Januari 2004 Dalam kegiatan Penyuluhan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba di Balai Kota Bogor, Dr Subagyo Partodiharjo selaku Ketua Yayasan Karya Bhakti mengatakan, selama 2003, Rumah Sakit Karya Bhakti, Bogor menemukan 14 orang pasien pecandu narkoba yang dinyatakan positif terinfeksi virus HIV/AIDS. Rumah Sakit Karya Bhakti merupakan salah satu tempat di Bogor untuk melakukan rapid detoxivikasi (cara medis membuang ketergantungan narkotika). Pasien narkotika dapat melakukan pencekan untuk mengetahui dirinya terinfeksi virus HIV atau tidak. Tapi, rumah sakit tidak menerima rehabilitasi bagi pasien

5 yang terinfeksi virus HIV/AIDS. Kebanyakan pasien narkotika yang dilakukan rapid detoxivikasi adalah narapidana dalam kasus narkoba yang ditahan di penjara Paledang,Bogor. Kegiatan Komite ini melakukan penyuluhan dibeberapa daerah. Hal ini dimaksudkan agar dapat membantu menanggulangi dan memberantas peredaran serta penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Berdasarkan data perkiraan jumlah penduduk Indonesia 0.009 % dari tercatat sebagai korban narkoba. Sedangkan 0,001 % tercatat sebagai sindikat pengedar (bandar, pengedar dan sebagainya). Dalam peredarannya, narkoba diistilahkan sebagai food suplemen yang berguna untuk pengembali kesegaran tubuh. Sebagai pengenalan, biasanya pengedar memberikan narkoba secara cuma-cuma kepada pemakai pemula, yang nantinya akan ketagihan, namun setelah itu, Pengedar menjualnya dengan harga tinggi. 18. 14 Februari 2004 I Gusti Dodi, penderita berusia 21 tahun, meninggal di Rumah Sakit Umum Mataram. 19. 11 Maret 2004 Dua orang bekas TKW asal Malang di Singapura, yaitu Syt dan Syn diketahui terserang HIV/AIDS setelah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Kepanjen. Kedua wanita ini terdeteksi mengidap penyakit ini pada Februari 2004. Dengan ini, jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang menjadi 30 orang, empat diantaranya meninggal dunia. Penderita yang masih hidup terus dipantau kegiatannya. Para penderita HIV/AIDS berasal dari berbagai kalangan, seperti PSK (Pekerja Seks Komersial), Waria, Gay, Sopir, dan Pecandu Narkoba. 20. 18 Maret 2004 Penderita AIDS di Mataram bertambah lagi dengan terindikasikannya Irw (28 tahun) yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram, Nusa Tenggara Barat lewat instalasi rawat darurat (IRD). 21. 23 Maret 2004 Irw (28 tahun) seorang sopr taksi yang diindikasikan terkena AIDS, kini hanya terbaring lemah. Kondisi badannya hampir tanpa kekebalan tubuh. Bahkan keadaannya semakin memburuk. AIDS tertular padanya melalui suntikan narkoba yang digunakannya. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya beberapa bekas suntikan. DKI tercatat pada urutan pertama untuk kasus AIDS di Indonesia, dibandingkan dengan Papua, Bali, Riau, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Ke enam daerah ini memasuki concentrated level epidemic AIDS. Penyebab tingginya kasus AIDS di enam provinsi itu adalah tidak sehatnya perilaku seksual. Untuk itu diperlukan penanganan serius penularan AIDS, seperti program abstinensi -puasa seks, be

6 faithful -setia pada pasangan dan penggunaan kondom. Kasus AIDS juga banyak ditemukan pada pengguna NAZA, khusunya di DKI Jakarta. Penanganannya, lewat peer group education. Semula kasus AIDS di Indonesia berada pada low level epidemic. Sejak 2000, kasus AIDS di Indonesia meningkat menjadi concentrated level epidemic (data statistik hingga 2003: http://www. mx2.tempo.co.id/pdat/prs/kliping/aids.htm/ dan http://www.mx2.tempo.co.id/pdat/prs/kliping/aids1.htm/). Tapi, belum masuk tahap epidemi meluas yang diindikasikan dengan tingkat persentase kasus AIDS pada Ibu hamil mencapai di atas satu persen. Sumber : http://forum.dudung.net/index.php?topic=2108.0 acessed 07/10/2011 pukul 07.00 WIB

III.

Etiologi Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu : 1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala. 2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness. 3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada. 4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut. 5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist. AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah : 1. Lelaki homoseksual atau biseks. 2. Orang yang ketagian obat intravena 3. Partner seks dari penderita AIDS 4. Penerima darah atau produk darah (transfusi). 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.

IV.

Patofisiologi :
Virus HIV Merusak seluler

Menyerang T Limfosit, sel saraf, makrofag, monosit, limfosit B

Immunocompromise

HIV- positif ?
Reaksi psikologis

Invasi kuman patogen Organ target

Flora normal patogen

Manifestasi oral

Manifestasi saraf

Gastrointestinal

Respiratori

Dermatologi

Sensori

Lesi mulut

Kompleks demensia

Ensepalopati akut

Diare

Hepatitis

Disfungsi biliari

Penyakit anorektal

Infek si

Gatal, sepsis, nyeri

Gangguan penglihatan dan pendengaran

Cairan berkurang

Nutrisi inadekuat

Gangguan rasa nyaman : nyeri

Gangguan rasa nyaman : nyeri

Tidak efektif pol napas

Gangguan body imageapas

Tidak efektfi bersihan jalan napas

Gangguan mobilisasi

Gangguan pola BAB

Aktivitas intolerans

Cairan berkurang

Nutrisi inadekuat

hipertermi

Gangguan sensori

8 V. 1. 2. VI. Pemeriksaan Diagnostik Tes untuk diagnosa infeksi HIV : ELISA Western blot P24 antigen test Kultur HIV Tes untuk deteksi gangguan system imun. Hematokrit. LED CD4 limfosit Rasio CD4/CD limfosit Serum mikroglobulin B2 Hemoglobulin Penatalaksanaan HIV/AIDS Secara umum penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri atas beberapa jenis yaitu pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV), pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi opportunistik menyertai infeksi HIV/AIDS dan pengobatan suportif (Bertozzi et al., 2006). 1. Terapi antiretroviral (ARV) Terapi anti-HIV yang dianjurkan saat ini adalah HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy), yang menggunakan kombinasi minimal tiga obat antiretroviral. Terapi ini terbukti efektif dalam menekan replikasi virus (viral load) sampai dengan kadar di bawah ambang deteksi. Waktu memulai terapi ARV harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka panjang. ARV dapat diberikan apabila infeksi HIV telah ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan dibuktikan secara laboratories (Hammer et al., 2008). Obat ARV direkomendasikan pada semua pasien yang telah menunjukkan gejala yang termasuk dalam kriteria diagnosis AIDS atau menunjukkan gejala yang sangat berat tanpa melihat jumlah CD4+. Obat ini juga direkomendasikan pada pasien asimptomatik dengan jumlah limfosit CD4 kurang dari 200 sel/mm3. Pasien asimptomatik dengan

9 limfosit CD4+ 200-350 sel/mm3 dapatditawarkan untuk memulai terapi. Pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load lebih dari 100.000 kopi/ml terapi ARV dapat dimulai, namun dapat pula ditunda. Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan jumlah limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load kurang dari 100.000 kopi/ml (Dolin, 2008). Terapi HIV/AIDS saat ini adalah terapi kimia yang menggunakan obat ARV yang berfungsi menekan perkembangbiakan virus HIV. Obat ini adalah inhibitor dari enzim yang diperlukan untuk replikasi virus seperti reverse transcriptase (RT) dan protease. Inhibitor RT ini terdiri dari inhibitor dengan senyawa dasar nukleosid (nucleoside-based inhibitor) dan nonnukleosid (nonnucleoside-based inhibitor). Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), non-nucleoside Reverse reverse transcriptase Iinhibitor inhibitor NRTI (NNRTI), protease inhibitor (PI) (Gatell, 2010). Nucleoside Transcriptase atau merupakan analog nukleosida. Obat golongan ini bekerja dengan menghambat enzim reverse transkriptase selama proses transkripsi RNA virus pada DNA host. Analog NRTI akan mengalami fosforilasi menjadi bentuk trifosfat, yang kemudian secara kompetitif mengganggu transkripsi nukleotida. Akibatnya rantai DNA virus akan mengalami terminasi sedangkan analog NNRTI akan berikatan langsung dengan enzim reverse transkriptase dan menginaktifkannya. Obat yang termasuk dalam golongan NRTI antara lain Abacavir (ABC), Zidovudine (AZT), Emtricitabine (FTC), Didanosine (ddI), Lamivudine (3TC) dan Stavudine (d4T), Tenofovir. Obat yang termasuk NNRTI antara lain Efavirenz (EFV) Nevirapine (NVP), Delavirdine (Elzi et al., 2010). Protese Inhibitor (PI) bekerja dengan cara menghambat protease HIV. Setelah sintesis mRNA dan poliprotein HIV terjadi, tahap selanjutnya protease HIV akan memecah poliprotein HIV menjadi sejumlah protein fungsional. Dengan pemberian PI, produksi virion dan perlekatan dengan sel pejamu masih terjadi, namun virus gagal berfungsi dan tidak infeksius terhadap sel. Yang termasuk golongan PI antara lain

10 Ritonavir (RTV), Atazanavir (ATV), Fos-Amprenavir (FPV), Indinavir (IDV), Lopinavir (LPV) and Saquinavir (SQV) (Maggiolo, 2009). Terapi lini pertama yang direkomendasikan WHO adalah kombinasi dua obat golongan NRTI dengan satu obat golongan NNRTI. Kombinasi ini mempunyai efek yang lebih baik dibandingkan kombinasi obat yang lain dan membutuhkan biaya yang lebih sedikit karena terdapat generiknya. Analog thiacytadine (3 TC atau FTC) merupakan obat pilihan dalam terapi lini pertama. 3 TC atau FTC dapat dikombinasi dengan analog nukleosida atau nukleotida seperti AZT, TDF, ABC atau d4T. Didanosine (ddI) merupakan analog adenosine direkomendasikan untuk terapi lini kedua. Obat golongan NNRTI, baik EFV atau NVP dapat dipilih untuk dikombanasikan dengan obat NRTI sebagai terapi lini pertama. Terapi lini pertama dapat juga dengan mengkombinasikan 3 obat golongan NRTI apabila obat golongan NNRTI sulit untuk diperoleh. Pemilihan regimen obat ARV sebagai lini pertama dapat dilihat pada gambar 2.7.2. (Kitahata et al. 2009). Evaluasi pengobatan dapat dilihat dari jumlah CD4+ di dalam darah dan dapat digunakan untuk memantau beratnya kerusakan kekebalan tubuh akibat HIV. Kegagalan terapi dapat dilihat secara klinis dengan menilai perkembangan penyakit secara imunologis dengan penghitungan CD4+ dan atau secara virologi dengan mengukur viral-load. Kegagalan terapi terjadi apabila terjadi penurunan jumlah CD4+. Selain itu terjadinya toksisitas terkait dengan ketidakmampuan untuk menahan efek samping dari obat, sehingga terjadi disfungsi organ yang cukup berat. Hal tersebut dapat dipantau secara klinis, baik dari keluhan atau dari hasil pemeriksaan fisik pasien, atau dari hasil pemeriksaan laboratorium, tergantung dari macam kombinasi obat yang dipakai (Maggiolo, 2009). Penilaian klinis toksisitas harus dibedakan dengan sindrom pemulihan kekebalan (immuno reconstitution inflammatory syndrome / IRIS), yaitu keadaan yang dapat muncul pada awal pengobatan ARV. Sindrom ini ditandai oleh timbulnya infeksi oportunistik beberapa minggu setelah ART dimulai sebagai suatu respon inflamasi terhadap infeksi oportunistik yang semula subklinik. Keadaan tersebut terjadi terutama pada pasien dengan gangguan kebalan tubuh yang telah lanjut.

11 Kembalinya fungsi imunologi dapat pula menimbulkan gejala atipik dari infeksi oportunistik. Apabila terjadi penurunan jumlah CD4+ dalam masa pengobatan terapi lini pertama dan didapat tanda terjadinya toksisitas dapat dipertimbangkan untuk mengganti terapi (Maggiolo, 2009) 2. Terapi Infeksi Opportunistik Infeksi oportunistik adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas AIDS, dengan angka sekitar 90%. Terapi antibiotik atau kemoterapeutik disesuaikan dengan infeksi-infeksi yang sebetulnya berasal dari mikroorganisme dengan virulensi rendah yang ada di sekitar kita, sehingga jenis infeksi sangat tergantung dari lingkungan dan cara hidup penderita (Paterson et al., 2000). Hampir 65% penderita HIV/AIDS mengalami komplikasi pulmonologis dimana pneumonia karena P.carinii merupakan infeksi oportunistik tersering, diikuti oleh infeksi M tuberculosis, pneumonia bakterial dan jamur, sedangkan pneumonia viral lebih jarang terjadi.Alasan terpenting mengapa sering terjadi komplikasi pulmonologis pada infeksi HIV adalah konsekuensi anatomis paru sehingga terpapar secara kronis terhadap bahan-bahan infeksius maupun noninfeksius dari luar (eksogen), di sisi lain juga terjadi paparan secara hematogen terhadap virus HIV (endogen) yang melemahkan sistem imun. Komplikasi pulmonologis, terutama akibat infeksi oportunistik merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas utama serta bisa terjadi pada semua stadium dengan berbagai manifestasi (Paterson et al., 2000). Manajemen PCP tergantung dari derajat berat-ringannya pneumonia yang terjadi. Pada pneumonia yang sedang-berat atau berat, penderita harus di rawat di rumah sakit karena mungkin memerlukan bantuan ventilator (sekitar 40% kasus). Obat pilihan adalah kotrimoksazol intravena dosis tinggi. Terapi antibiotika ini diberikan selama 21 hari. Penderita yang berespon baik dengan antibiotika intravena, dapat melanjutkan terapi dengan antibiotika per oral untuk jika sudah memungkinkan. Hipoksemia yang signifikan (PaO2 < 70 mmHg atau gradien arterial-alveoler > 35), memerlukan kortikosteroid dan diberikan sesegera mungkin (dalam 72 jam) belum terapi antibiotika untuk menekan risiko komplikasi dan memperbaiki prognosis.16,18 Pada kasus-kasus

12 ringan-sedang dapat diberikan kotrimoksazol oral dengan dosis 2 x 960 mg selama 21 hari. Alternatif terapi lainnya untuk PCP berat adalah pentamidin intravena (pilihan kedua) dan klindamisin plus primakuin (pilihan ketiga), sedangkan PCP ringan-sedang dapat diberikan dapsone plus trimetoprim, klindamisin plus primakuin, atovaquone atau trimetrexate plus leucovorin (Harris dan Bolus, 2008). Tuberkulosis paru (TB paru) masih merupakan problem penting pada infeksi HIV/AIDS dan menjadi penyebab kematian pada sekitar 11% penderita. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada akhir tahun 2000 kira-kira 11,5 juta orang penderita infeksi HIV di dunia mengalami ko-infeksi M. tuberculosis dan meningkatkan risiko kematian sebesar 2 kali lipat dibandingkan tanpa tuberkulosis, dan seiring dengan derajat beratnya imunosupresi yang terjadi (Gatell, 2010). Penatalaksanaan TB paru dengan infeksi HIV pada dasarnya sama dengan tanpa infeksi HIV. Saat pemberian obat pada koinfeksi TBC-HIV harus memperhatikan jumlah CD4 dan sesuai dengan rekomendasi yang ada. Namun pada beberapa atudi mendapatkan tingginya angka kekambuhan pada penderita yang menerima Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama 6 bulan dibandingkan dengan 9-12 bulan (Harris dan Bolus, 2008). Terdapat interaksi antara obat ARV dengan OAT, terutama rifampicin karena rangsangannya terhadap aktivitas sistem enzim liver sitokrom P450 yang memetabolisme PI dan NNRTI, sehingga terjadi penurunan kadar PI dan NNRTI dalam darah sampai kadar sub-terapeutik yang berakibat incomplete viral suppresion dan timbulnya resistensi obat. Protease inhibitor dan NNRTI dapat pula mempertinggi atau menghambat sistem enzim ini dan berakibat terganggunya kadar rifampicin dalam darah. Interaksi obat-obat ini akhirnya berakibat tidak efektifnya sehingga terjadi penurunan kadar PI dan NNRTI dalam darah sampai kadar subterapeutik yang berakibat incomplete viral suppresion dan timbulnya resistensi obat. Protease inhibitor dan NNRTI dapat pula mempertinggi atau menghambat sistem enzim ini dan berakibat terganggunya kadar rifampicin dalam darah. Interaksi obat-obat ini akhirnya berakibat tidak efektifnya obat ARV dan terapi tuberkulosis serta meningkatnya risiko

13 toksisitas obat, sehingga pemakaian bersama obat-obat tersebut tidak direkomendasikan (Gatell, 2010). Sarkoma Kaposi jenis endemik, merupakan manifestasi keganasan yang paling sering dijumpai pada penderita HIV/AIDS. Penyakit yang disebabkan oleh Cytomegalovirus ini ditandai dengan lesi-lesi tersebar di daerah mukokutan, batang tubuh, tungkai atas dan bawah, muka dan rongga mulut. Bentuk lesi berupa makula eritematosa agak menimbul, berwarna hijau kekuningan sampai violet. Cara penularannya melalui kontak seksual. Karsinoma sel skuamosa tipe in situ maupun invasif di daerah anogenital; limfoma terutama neoplasma sel limfosit B; keganasan kulit non melanoma serta nevus displastik dan melanoma, merupakan neoplasma lainnya yang sering dijumpai pada penderita HIV/AIDS. Seperti halnya keganasan lain, tetapi sarkoma Kaposi akan lebih efektif bila dalam keadaan baru dan besarnya terbatas. Radiasi, kemoterapi dan imunomodulator interferon telah dicoba, yang sebenarnya lebih ditujukan untuk memperpanjang masa hidup, sehingga lama terapi sulit ditentukan (Sheng Wu et al., 2008). Dalam keadaan tidak dapat mengurus dirinya sendiri atau dikhawatirkan sangat menular, sebaiknya penderita dirawat di Rumah Sakit tipe A atau B yang mempunyai berbagai disiplin keahlian dan fasilitas ICU. Perawatan dilakukan di Unit sesuai dengan gejala klinis yang menonjol pada penderita. Harapan untuk sembuh memang sulit, sehingga perlu perawatan dan perhatian penuh, termasuk memberikan dukungan moral sehingga rasa takut dan frustrasi penderita dapat dikurangi. Guna mencegah penularan di rumah sakit terhadap penderita lain yang dirawat maupun terhadap tenaga kesehatan dan keluarga penderita, perlu diberikan penjelasan-penjelasan khusus. Perawatan khusus diperuntukkan dalam hal perlakuan spesimen yang potensial sebagai sumber penularan. Petugas yang merawat perlu mempergunakan alat-alat pelindung seperti masker, sarung tangan, yang jasa pelindung, pelindung mata, melindungi kulit terluka dari kemungkinan kontak dengan cairan tubuh penderita dan mencegah supaya tidak terkena bahan/sampah penderita (Martin-Carbonero and Soriano, 2010).

14 Asuhan Keperawatan I. 1. 2. 3. Pengkajian. Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan obat-obat. Penampilan umum : pucat, kelaparan. Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit tidur. 4. 5. Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati, withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker, hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi. 6. HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia, epsitaksis. 7. 8. ADL. 9. 10. 11. 12. 13. II. 1. 2. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif. GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning. Gu : lesi atau eksudat pada genital, Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif. Diagnosa keperawatan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo, ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan

15 3. 4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi. 5. 6. Diare berhubungan dengan infeksi GI Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.

16

III.

Perencanaan keperawatan.
Tujuan dan criteria hasil Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya dengan kriteria tak ada tanda-tanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat. Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteriaa kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC. Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria mual dan muntah dikontrol, pasien Perencanaan Keperawatan Intervensi Monitor tanda-tanda infeksi baru. gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan. Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order Rasional Untuk pengobatan dini Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit. Mencegah bertambahnya infeksi Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan 1. Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya. 2. Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu. Mempertahankan kadar darah yang terapeutik Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain

Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.

1. 2. 3. 4. 5.

Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya

1. 2. 3. 1. 2. 3. 4.

Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. Monitor kemampuan mengunyah dan menelan. Monitor BB, intake dan ouput Atur antiemetik sesuai order Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya.

Respon bervariasi dari hari ke hari Mengurangi kebutuhan energi Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut Menentukan data dasar Mengurangi muntah Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien

17

kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi. Diare berhubungan dengan infeksi GI

makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas n ormal, BB mendekati seperti sebelum sakit. Pasien merasa nyaman dan mengnontrol diare, komplikasi minimal dengan kriteria perut lunak, tidak tegang, feses lunak dan warna normal, kram perut hilang, Keluarga atau orang penting lain mempertahankan suport sistem dan adaptasi terhadap perubahan akan kebutuhannya dengan kriteria pasien dan keluarga berinteraksi dengan cara yang konstruktif

1. 2. 3. 4. 1. 2. 3.

Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.

Kaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah. Auskultasi bunyi usus Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order Berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside Kaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya Biarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal Ajarkan kepada keluaraga tentang penyakit dan transmisinya.

Mendeteksi adanya darah dalam feses Hipermotiliti mumnya dengan diare Mengurangi motilitas usus, yang pelan, emperburuk perforasi pada intestinal Untuk menghilangkan distensi Memulai suatu hubungan dalam bekerja secara konstruktif dengan keluarga. Mereka tak menyadari bahwa mereka berbicara secara bebas Menghilangkan kecemasan tentang transmisi melalui kontak sederhana.

18 Daftar Pustaka Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto. Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis. Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta. Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London. Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta

19 Laporan Kasus ASUHAN KEPERAWATAN TN. M.Y. DENGAN HIV AIDS Di Ruang Anggrek RSUD Kebumen

Pengkajian Tanggal pengkajian Tempat I. A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. B. II. A. B. Biodata. Identitas pasien. Nama Suku/bangsa Agama Pendidikan/pekerjaan Bahasa yang digunakan Alamat Kiriman dari Penanggung jawab pasien Alasan masuk rumah sakit Keluhan utama : nyeri perut.. Alasan dirawat : mencret sejak 5 bulan yang lalu, malam keringat dingin dan kadang demam. III. A. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan sebelum sakit ini : pasien pernah menderita lever dan pernah dirawat di RSUD Kebumen 3 tahun yang lalu. Penyebab tidak diketahui, riwayat alergi seperti obat dan makanan tidak ada. B. Riwayat kesehatan sekarang : a. Sejak 2 tahun yang lalu pasien mengkonsumsi obat putaw dengan cara suntik. b. Mengeluh nyeri perut. Penyebab tidak diketahui, dengan faktor yang memperberat adalah bila bergerak dan usaha yang dilakukan adalah diam. : Tn. M.Y. (Laki-laki, 34 tahun). : Jawa/Indonesia. : Islam : Wiraswasta : Indonesia : Kebumen : UGD : Keluarga. : 05-09-2011 : Ruang Anggrek

Status perkawinan : Kawin

20 Nyeri dirasakan tertusuk-tusuk, pasien meringis, memegang pada kuadran kanan dan kiri tetapi tidak menyebar. Skala nyeri adalah 5 dari skala nyeri 5. Kapan timbulnya tidak tentu dan tiba-tiba sering terjadi nyeri. Akhirakhir ini sering mengalami keringat dingin malam hari, tidak ada napsu makan dan mencret berbusa. Karena kondisi tambah parah dan oleh keluarganya dibawa ke RSUD Kebumen dan dianjurkan untuk opname. C. Riwayat kesehatan keluarga : orang tua, saudara kandung ayah/ibu, saudara kandung pasien tidak ada yang menderita penyakit keturunan. IV. A. B. V. Informasi khusus Masa balita : tidak dikaji Klien wanita : tidak dikaji Aktivitas hidup sehari hari : di tempat kerja
Aktivitas sehari-hari A. Makan dan minum 1. Nutrisi 2. m B. Eliminasi Mencret 5 X/hari,, seperti busa, tidak bercampur darah dan berbau. BAK 2 X/hari dan tidak ada kelainan. Mencret dengan frekuensi 5-7 X/hari, encer atau tidak ada isi dan BAK 2 X/hari serta tidak ada kelainan. Keringat dingin pada malam hari Pasien bisa istirahat dan Pasien istirahat di tempat tidur tidur di rumah saja. Tidur kalau merasa mengantuk. Kesulitan tidur karena nyeri, keringat dingin. Pasien tidak melakukan apa- Pasien mengatakan tidak bisa apa karena tinggal di rumah melakukan aktivitasnya karena dan keadaan yang lemah. lemah, merasa tidak berdaya dan cepat lelah. Jarang dilakukan. Mandi dan gosok gigi dilakukan di tempat tidur. Hambatan dalam melakukan kebersihan diri adalah lemah dan nyeri. Tidak ada. Hanya bercerita dengan isteri Minu Pre-masuk rumah sakit Pola makan 3 kali/hari, tetapi tidak ada napsu makan, tidak menghabiskan porsi yang disiapkan. Minum air putih dengan jumlah tidak tentu. Di rumah sakit Pola makan 3 kali/hari, namun tidak ada napsu makan, nyeri saat menelan, makan hanya 2 sendok. Minum air putih 2-3 gelas.

C. Istirahat dan tidur

D. Aktivitas

E. Kebersihan diri

F. Rekreasi

21 VI. A. Psikososial. Psikologis : pasien dan keluarga mengatakan penyakit ini karena perilakunya yaitu konsumsi obat putaw dengan suntik. Keluarga dan pasien mengatakan belum mengerti proses penyebaran. Konsep diri : dirasakan peran sebagai kepala keluarga tidak bertanggung jawab. Keadaan emosi : pasien pasrah pada keadaannya sekarang. Mekanisme koping adalah diam saja. B. C. Sosial : sejak 2 tahun yang lalu pisah ranjang dengan isterinya. Kontak mata ada, kegemaran adalah ke tempat hiburan. Spiritual : di rumah jarang melakukan sholat 5 waktu, sedangkan di rumah sakit pasien tidak melakukan, hanya berdoa dalam hati. VII. Pemeriksaan fisik A. Keadaan umum : pasien nampak sakit berat, lemah kurus dan pucat. Kesadaran kompos mentis, GCS : 4-5-6, T 140/90 mmHg, N 120 x/menit, S 39 0C, RR 22 X/menit. B. 1. 2. 3. Head to toe : Kepala. Bentuk bulat, dan ukuran normal, kulit kepala nampak kotor dan berbau. Rambut. Rambut lurus, nampak kurang bersih. Mata (penglihatan). Ketajaman penglihatan dapat melihat, konjungtiva anemis, refleks cahaya mata kanan negative, tidak menggunakan alat bantu kacamata. 4. Hidung (penciuman). Bentuk dan posisi normal, tidak ada deviasi septum, epistaksis, rhinoroe, peradangan mukosa dan polip. Fungsi penciuman normal. 5. Telinga (pendengaran). Serumen dan cairan, perdarahan dan otorhoe, peradangan, pemakaian alat bantu, semuanya tidak ditemukan pada pasien. Ketajaman pendengaran dan fungsi pendengaran normal. 6. Mulut dan gigi. Ada bau mulut, perdarahan dan peradangan tidak ada, ada karang gigi/karies. Lidah bercak-bercak putih dan tidak hiperemik serta tidak ada peradangan pada faring. 7. tekanan Leher. Kelenjar getah bening tidak membesar, dapat diraba, vena jugularis tidak meningkat, dan tidak ada kaku kuduk/tengkuk.

22 8. ada murmur. 9. X/menit. 10. Tidak dikaji. 11. Ekstremitas Tidak mampu mengangkat tangan dan kaki. Kekuatan otot ekstremitas atas 2-2 dan ekstremitas bawah 2-2. 12. Integumen. Kulit keriput, pucat, akral hangat. VIII. Pemeriksaan penunjang A. Laboratorium : Tanggal 04 09 2011 : metode imunokromatografi positif dan ELISA I dan ELISA II positif. Tanggal 03 09 - 2011 : Hb 10,5 gr/dl, Leukosit 4,4 x 10 9/L, trombosit 543 X 10 9L, PV 0,32 GDA 69 mg/dl, SGOT 54 4/L, BUN 32 mg/dl dan kr eatinin serum 1,95 mg/dl. Terapi : tanggal 05 12 2001 : Metronidazol 3 X 1 tablet, Cotrimoxasol 2 X 2 tablet dan infuse RL 20 tetes/menit. Repoduksi Abdomen. Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati dan limpa tidak membesar, ada nyeri tekan, perkusi bunyi redup, bising usus 12 Thoraks. Pada inspeksi dada simetris, bentuk dada normal. Auskultasi bunyi paru normal. Bunyi jantung S1 dan S2 tunggal. Tidak

23 Analisa data Data pendukung


1. DS : Pasien mengatakan lemah, cepat lelah, tidak bisa melaukan aktivitas. DO : Keadaan umum lemah, pucat, ADL dibantu, pasien totaly care, terpasang infus 2. DS: Pasien mengatakan tidak ada napsu makan, saat menelan sakit, mengatakan tidak bisa menghabiskan porsi yang disiapkan. DO : Lemah, menghabiskan 2 sendok makan, dari porsi yang disiapkan, lemah, holitosis, lidah ada bercak-bercak keputihan, Hb 10,5 g/dl, pucat, konjungtiva anemis. 3. DS : Pasien mengatakan diare sejak 5 bulan yang lalu, mengatakan menceret 5-7 kali/hari, kadang demam dan keringat pada malam hari, minum 2-3 gelas/hari. DO : Perut kembung, turgor menurun, inkontinensia urin, BAB encer, membran mukosa kering, bising usus meningkat 40 X/menit DS : Pasien mengatakan perutnya sakit, angka 5 pada skala nyeri 5, nyeri seperti ditusuk-tusuk. DO : Meringis, memegang-megang perut yang sakit, perut kembung, nadi 120 X/menit, RR 22 X/menit, TD 140/90 mmHg, suhu 390C. DS : Pasien mengatakan kadang demam. DO : Nadi 120 X/menit, RR 22 X/menit, TD 140/90 mmHg, suhu 390C, anti HIV positif. DS : Keluarga mengatakan bagaimana dengan anak-anaknya bila mengetahui ayahnya menderita sakit, mengatakan cemas suaminya tersinggung karena tidak

Masalah
Aktivitas

Etiologi
Kelemahan

Nutrisi

Intake yang tidak adekuat

Cairan tubuh

Diare

4.

Gangguan rasa nyaman : nyeri

Pembesaran limfe nodes pada daerah abdomen

5.

Infeksi

Infeksi HIV

6.

Koping keluarga

Cemas dan takut terhadap infeksi

24
bersentuhan secara langsung. DO : Mengungkapkan perasaan tentang hubungan yang retak dengan suami, cemas.

Diagnosa Keperawatan (berdasarkan prioritas) 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan pembesaran limfanode pada daerah GI. 2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat. 3. Kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan diare. 4. Aktivitas intolerans berhubungan dengan kelemahan secara umum 5. Resiko tinggi infeksi : pasien kontak berhubungan dengan adanya infeksi HIV. 6. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan cemas dan takut terhadap infeksi yang dialami pasien.

25

Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan pembesaran limfanode pada daerah GI. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat. Tujuan dan criteria hasil Pasien mengatakan nyeri berkurang dengan kriteria skala nyeri 1-2, tidak meringis, perut tidak kembung/tendernes setelah 2 hari perawatan Setelah satu minggu perawatan pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria pasien makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas normal, menghabiskan porsi yang disiapkan, tidak nyeri saat menelan Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan dengan kriteria intake seimbang output, turgor normal, membran mukosa lembab, kadar urine normal, tidak diare setealh 5 hari perawatan. Pada saat akan pulang pasien sudah mampu berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. Perencanaan Keperawatan Intervensi Rasional Kaji nyeri pasien dan anjurkan untuk Menentukan tngkat nyeri dan toleransi pasien terhadap menjelaskan nyerinya. nyeri yang dialami Jelaskan kepada pasien tentang nyeri Nyeri pasien HIV umumnya merupakan nyeri kronik. yang dialaminya. Anjurkan untuk menggunakan relaksasi, Meningkatkan relaksasi dan perasaan untuk mengontrol imagery nyeri. Kolaborasi pemberian analgesik. Mengurangi nyeri Monitor kemampuan mengunyah dan menelan. Monitor intake dan ouput Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya. Anjurkan oral hygiene sebelum makan. Anjurkan untuk beri makanan ringan sedikit tapi sering. Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut Menentukan data dasar Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien Mengurangi anoreksia Memeunhi kebutuhan nutrisi yang kurang

1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5.

Kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan diare.

1. 2. 3. 4.

Monitor tanda-tanda dehidrasi. Monitor intake dan ouput Anjurkan untuk minum peroral Atur pemberian infus dan eletrolit : RL 20 tetes/menit. 5. Kolaborasi pemberian antidiare. 1. Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas 2. Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu 3. Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu istirahat.

Bolume cairan deplesi merupakan komplikasi dan dapat dikoreksi. Melihat kebutuhan cairan yang masuk dan keluar. Sebagai kompensasi akibat peningkatan output. Memenuhi kebutuhan intake yang peroral yang tidak terpenuhi. Mencegah kehilangan cairan tubuh lewat diare (BAB). Respon bervariasi dari hari ke hari Mengurangi kebutuhan energi Ekstra istirahat perlu kebutuhan metabolik jika karena meningkatkan

Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

26

Resiko tinggi infeksi : pasien kontak berhubungan dengan adanya infeksi HIV.

Koping keluarga inefektif berhubungan dengan cemas dan takut terhadap infeksi yang dialami pasien.

Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteria kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC selama perawatan. Setelah 3 kali pertemuan keluarga atau orang penting lain mempertahankan suport sistem dengan kriteria pasien dan keluarga berinteraksi dengan cara yang konstruktif, mengungkapkan perasaan

1.

Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya. 2. Gunakan darah dan cairan tubuh precaution (universal precaution) bila merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.

Pasien mau dan memerlukan informasikan ini Mencegah transmisi infeksi ke orang lain

1.

Kaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya 2. Biarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal 3. Ajarkan kepada keluaraga tentang penyakit dan transmisinya.

Memulai suatu hubungan dalam bekerja secara konstruktif dengan keluarga. Mereka tak menyadari bahwa mereka berbicara secara bebas Menghilangkan kecemasan tentang transmisi melalui kontak sederhana.

27

Pelaksanaan dan Evaluasi Keperawatan


Diagnosa kep. 1. Hari/tanggal (jam) Senin, 05 09- 2011 10.30 Tindakan keperawatan 1. 2. 3. 4. 1. 2. 10,30 2. Mengkaji nyeri pasien dan menganjurkan untuk menjelaskan nyerinya : nyeri skala 5, merasa tertusuktusuk Menjelaskan kepada pasien tentang nyeri yang dialaminya. Mengajarkan pada pasien teknik relaksasi Menganjurkan untuk menggunakan relaksasi Memonitor kemampuan mengunyah dan menelan : menelan terasa sakit Menganjurkan oral hygiene sebelum makan yaitu menggosok gigi atau kumur-kumur. Mengkaji tanda-tanda dehidrasi : turgor menurun, membran mkosa kering, urine output menurun. Menganjurkan untuk minum peroral sesuai kemampuan pasien : 4-5 gelas hari Mengatur pemberian infus RL 20 tetes/menit. Mengecek pemberian Cotrimoksasol dan Metronidazole Memonitor respon terhadap aktivitas : tidak mampu bangun, terpasang infus, nyeri, meringis Evaluasi keperawatan Jam 13.30 S : mengatakan nyeri, skala 5. O: meringis, T 130/80 mmHg, N 100 X/menit, RR 12 X/menit, meringis A : nyeri tidak berkurang. P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 13.30 S : mengatakan makan hanya 2 sendok, tidak ada napsu makan, menelan sakit O: lemah, lidah bercak keputuihan A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 13.30 S : mengatakan minum hanya 6 sendok, tidak merasa sedang menceret. O: perut kembung, diare, encer, turgor menurun, membran mukosa kering. A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 13.30 S : mengatakan lemah. O: perut kembung, terpasang infus, bed rest, lemah, pucat. A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 13.30 S : keluarga mengatakan mngerti universal precaution O: T 130/80 mmHg, N 100 X/menit, RR 12 X/menit, perawat menggunakan masker A : keluarga pasien dan perawat memperhatikan universal

1. 3 10.30 2. 3. 4. 4. 11.00 1.

2. 5. 10.30

Menganjurkan isteri pasien menggunakan metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya : mencuci tangan setelah menyentuh pasien, hindari kontak langsung dengan darah pasien atau cairan dari selaput lendir, gunakan sarung tangan

28

3.

Menggunakan darah dan cairan tubuh precaution (universal precaution) bila merawat pasien dengan menggunakan masker. Mengkaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya : sedih melihat kondisi pasien, keluarga mengatakan menyesal mengapa tidak mengetahui bahwa suami mengkonsumsi putaw yang akhirnya seperti sekarang ini. Mendengarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal Menjelas kepada keluarga tentang penyakit dan transmisinya. Mengkaji nyeri pasien dan menganjurkan untuk menjelaskan nyerinya. Menganjurkan untuk menggunakan relaksasi seperti yang dijelaskan Mengkaji kemampuan mengunyah dan menelan. Menganjurkan untuk gosok gigi sebelum makan. Menganjurkan untuk makan makanan ringan seperti biskuit atau roti Menganjurkan untuk menggunakan kumur betadin Mengkaji tanda-tanda dehidrasi. Memonitor intake dan ouput Mengannjurkan untuk minum peroral sesuai kemampuan pasien. Mengatur pemberian infus RL 20 tetes/menit. Menyiapkan obat Cotrimoksasol dan Metronidazole untuk diminum Menganjurkan isteri pasien untuk mempertahankan

precaution P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 13.00 S : keluarga mengatakan tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anak-anaknya, O: mengungkapkan perasaan, berusaha tegar A : keluarga mulai membentuk koping untuk penyesuaian. P: tindakan keperawatan dipertahankan

1. 6. 12.00

2. 3. Selasa, 6 09 -2011 17.00 1. 2.

1.

2.

17.00

1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 1.

3.

17.00

Jam 20.00 S : mengatakan nyeri, skala 3. O: meringis, T 110/80 mmHg, N 80 X/menit, RR 18 X/menit, meringis A : nyeri berkurang. P: tindakan keperawatan dipertahankan bila nyeri menignkat Jam 20.00 S : mengatakan makan hanya 3 sendok, tidak ada napsu makan, menelan sakit O: lemah, lidah bercak keputihan, anoreksia, pucat, konjungitva anemis A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 20.00 S : mengatakan minum hanya 4 sendok, mencret 3 kali O: perut kembung, diare, encer, turogor menurun, membran mukosa keirng. A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 20.00

29

4.

17.00 2.

metode mencegah transmisi HIV. Menggunakan darah dan cairan tubuh precaution (universal precaution) bila merawat pasien dengan menggunakan masker. Mendengarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal Menjelas kepada keluarga tentang penyakit dan transmisinya.

5.

19.00

1. 2.

1.

Rabu, 07 09 - 2011 10.00

Mengkaji nyeri pasien dan menganjurkan untuk menjelaskan nyerinya.

2.

10.30

Menganjurkan oral hygiene sebelum menggosok gigi atau kumur-kumur.

makan

yaitu

3.

14.00

1.

Menganjurkan untuk minum peroral sesuai kemampuan pasien : 4-5 gelas hari 2. Mengatur pemberian infus RL 20 tetes/menit.

4.

14.00

Memonitor respon terhadap aktivitas : tidak mampu bangun, terpasang infus, nyeri, meringis

S : -O: T 130/80 mmHg, N 100 X/menit, RR 12 X/menit, perawat menggunakan masker, menggukan tisue. A : keluarga pasien dan perawat memperhatikan universal precaution P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 19.00 S : keluarga mengatakan mampu menerima keadaan suaminya, mengatakan kecewa mengapa saat pisah tidak mengetahui kalau suaminya konsumsi putaw. O: mengungkapkan perasaan, tenang A : keluarga mulai membentuk koping untuk penyesuaian. P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 16.00 S : mengatakan nyeri, skala 3. O: meringis, T 100/70 mmHg, N 88 X/menit, RR 12 X/menit, meringis A : nyeri berkurang. P: tindakan keperawatan dipertahankan bila nyeri meningkat Jam 16.00 S : mengatakan makan hanya 3 sendok, tidak ada napsu makan, menelan sakit O: lemah, bercak keputihan berkurang A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 16.00 S : mengatakan minum hanya 4 sendok, tidak merasa sedang menceret. O: diare, encer, turgor menurun, membran mukosa kering. A : masalah belum teratasi P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 16.00 S : mengatakan lemah. O: terpasang infus, bed rest, lemah, pucat, ADL dibantu A : masalah belum teratasi

30

5.

14.30

Menganjurkan isteri pasien menggunakan metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya : mencuci tangan setelah menyentuh pasien, hindari kontak langsung dengan darah pasien atau cairan dari selaput lendir, gunakan sarung tangan 1. Mendengarkan keluarga mengungkapkan perasaan secara verbal 2. Menjelas kepada keluarga tentang penyakit dan transmisinya.

6.

15.00

P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 16.00 S : keluarga mengatakan mngerti universal precaution O: T 100/70 mmHg, N 90 X/menit, RR 16 X/menit, perawat menggunakan masker A : keluarga pasien dan perawat memperhatikan universal precaution P: tindakan keperawatan dipertahankan Jam 16.30 S : keluarga mengatakan sudah bisa menerima keadaan pasien. O: mengungkapkan perasaan, berusaha tegar A : keluarga sudah membentuk koping untuk penyesuaian. P: tindakan keperawatan dihentikan

31