Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI SUKSESI

OLEH:

KELOMPOK ANGGOTA

: VIII GENAP : 1. CYNTIA LARASSATI 2. HANIFAH AINI 3. HIRZAN RIYANDI 4. YULIANA INDAH SARI 5. FITHRIA DINIYATI (0810422015) (0810422019) (0810422025) (0810423071) (0810423089)

ASISTEN PENDAMPING

: M. SYAHID RIDHO

LABORATORIUM EKOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2013

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ekologi adalah bagian dari biologi atau ilmu hayat yang berasal dari bahasa latin yaitu Olkos dan Logos. Olkos yang artinya Rumah atau Tempat tinggal dan Logos berarti Ilmu tentang. Terbagi atas ekologi hewan dan tumbuhan. Ekologi tumbuhan memfokuskan pada hubungan antara tumbuhan dan lingkungannya dan kajian mengenai ekologi tumbuhan sudah lama berkembang yaitu pada tahun 1305 Petrus de Crescentius menulis karangan mengenai sifat persaingan hidup pada tumbuhan. Selanjutnya, King pada tahun1685 menguraikan untuk pertamakali konsep tentang suksesi dalam komunitas tumbuhan serta Warming pada tahun 1891 mengenai proses suksesi tumbuhan di bukit pasir disepanjang pantai Denmark. Saat itu ekologi tumbuhan telah diakui sebagai disiplin ilmu baru (Rahman, 1989). Suatu daerah tidak tetap demikian untuk waktu yang lama. Diawali dengan tumbuhan daerah itu segera dihuni oleh beragam spesies tumbuhan atau hewan. Organisme-organisme ini mengubah habitat yang membuatnya sesuai bagi spesies lain menjadi mantap. Masa pendewasaan perkembangan suatu daerah seringkali mencapai suatu keadaan relatif stabil yang diberikan sebagai tahapan klimaks. Selama masa perkembangan ini, penghunian suatu daerah baru, pertama-tama oleh tumbuhan melandasi jalan bagi hewan-hewan untuk tinggal di dalamnya disebut suksesi (Michael, 1995:383). Dinamika di alam adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari. Segala sesuatu yang sekarang ada sebenarnya hanyalah merupakan suatu stadium dari deretan proses perubahan yang tidak pernah ada akhirnya. Keadaan keseimbangan yang tampaknya begitu mantap, hanyalah bersifat relatif karena keadaan itu segera akan berubah jika salah satu dari komponennya mengalami perubahan. Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang,

dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan. Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi. Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohonan dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan hutan, margasatwa, dan alam lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem. Masyarakat hutan adalah suatu sistem yang hidup dan tumbuh secara dinamis. Masyarakat hutan terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh-tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan, penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh, dan stabilisasi. Proses inilah yang disebut suksesi (Soerianegara & Indrawan 2005). Terdapat berbagai pengertian mengenai suksesi diantaranya suksesi adalah urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat atau kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks. Suksesi juga merupakan proses alami dengan terjadinya pergantian koloni dari koloni yang sederhana menjadi koloni yang lebih kompleks sehingga menyebabkan perubahan terhadap lingkungan fisik sehingga terbentuknya habitat yang cocok untuk sebuah komunitas hingga mencapai komponen biotik dan abiotik (Dermikani, 2005). Suksesi adalah suatu proses perubahan dimana berlangsung satu arah dengan cara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula sehingga dapat dikatakan bahwa suksesi sebagai suatu perkembangan ekosistem yang tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi juga dapat terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem (Odum, 1992). sebuah keseimbangan antara

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah untuk melihat pengaruh suksesi pada suatu daerah dan untuk mengamati proses pertumbuhan atau pengurangan populasi secara bertingkat pada suatu lahan sebagai proses dari suksesi. 1.3 Tinjauan Pustaka Vegetasi yang dibiarkan demikian saja, menunjukkan kecenderungan untuk berubah ke suatu arah tertentu. Biasanya dari komunitas yang tidak begitu rumit yang terdiri atas tumbuh-tumbuhan kecil menjadi komunitas yang lebih kompleks yang didominasi oleh tumbuh-tumbuhan yang lebih besar (atau bagaimanapun menimbulkan kesan adanya kompetisi yang lebih besar). Perubahan itu bersifat kontinu, tahap-tahap yang dikenal hanya merupakan ruas-ruas ungkapan vegetasi. Demikian itulah yang disebut suksesi (Polunin, 1960:761). Proses pengorganisasian sendiri dengan mana ekosistem-ekosistem

mengembangkan struktur dan proses ekologi dari energi yang tersedia disebut suksesi. Suksesi meliputi pengorganisasian menjadi mantap dan kadang-kadang kembali ke awal (retrogess). Suksesi dipertimbangkan berakhir apabila suatu pola ke suatu kondisi yang kurang terorganisir memulai melakukan suksesi lagi. Klimaks adalah merupakan puncak pertumbuhan atau puncak tertinggi yang telah dicapai (Odum, 1992:456). Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi ekologis atau suksesi. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis) (Suharno, 1999:184). Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh jenis tumbuhan yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitasdirusak oleh suatu

faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan digantioleh yang lain (Daniel,et al, 1992). Suksesi digolongkan menjadi dua macam yaitu suksesi primer yang terjadi pada tempattempat yang baru terbentuk misalnya abu vulkanik yang belum mempengaruhi biota apapun. Suksesi sekunder yang terjadi pada saat ekosistem mengalami gangguan atau kerusakan misalnya karena kebakaran akan tetapi komposisi biotik yang sudah ada sebelumnya mempengaruhi proses (Rahmat, 1989). Menurut Odum (1992), suksesi terbagi atas dua macam yaitu suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya

komunitas asal tersebut secara total sehgga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung merapi, endapan lumpur yang baru di sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batu bara, dan minyak bumi. Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme, sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang laut, kebakaran, angina kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakarn padang rumput dengan sengaja. Suksesi disebut juga autotrofik bila jaring-jaring makanan tergantung pada organisme fotosintetik, misalnya pada hutan yang terbentuk setelah terjadi kebakaran atau bekas tanah yang sebelumnya ada tanamannya. Sedangkan suksesi heterotrofik bila jaring-jaring makanan tergantung pada bahan organik, misalnya dalam pencemaran suatu arus oleh limbah organik atau dalam balok yang rapuh. Suksesi anorganik yaitu suksesi yang lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan dalam variable lingkungan ekstensik daripada keberadaan organisme-organisme contoh hutan dalam dataran rendah yang terendam karena naiknya air tanah (Melles, 2004). Waktu berlangsungnya suksesi berhubungan dengan siklus hidup sebagian besar organisme dalam ekosistem. Suksesi dalam terestrial dimulai dari terbentuknya endapan

abu vulkanik baru sampai terbentuknya hutan, yang berlangsungnya dalam ukuran decade sampai abad (Suin,2004) Kecenderungan yang penting dalam perkembangan suksesi adalah penutup atau penataan daur biogeokimia dari hara hara utama, seperti misalnya nitrogen, phosphor dan kalsium. System system yang matang, dibandingkan dengan yang berkembang, mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menangkap dan mengikat bagi pendauran dalam ekosistem (Odum,1996). Pada umumnya jumlah spesies yang ada dalam komunitas akan mengalami penurunan pada nilai yang lebih kurang konstan. Menurut Shugart dan Helt (1973) mendapatkan bahwa laju kemusnahan bahwa menurun dengan berlangsungnya suksesi, apakah suksesi tersebut bersifat autotrofik atau heterotrofik, perairan atau terrestrial. Laju kehilangan awal dan perubahan perubahan laju kemusnahan dari waktu ke waktu bervariasi dalam ekosistem suksesional yang berbeda. Sebagai contoh, laju kemusnahan spesies menurun lebih cepat ketika suksesi berlangsung di daerah daerah sedang bila dibandingkan dengan daerah kering (Suin,2004). Terdapat lima jenis komunitas klimaks berdasarkan tempat terbentuknya yaitu hidroser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air tawar, haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau, xeroser yaitu suksesi yang terbentuk di daerah gurun, lithoser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem karang dan lapisan batuan, dan psammoser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem tepi pantai atau pasir gundul (Muawin, 2009). Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominan. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya, komunitas klimaks memiliki dua teori yaitu hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks dan hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominant (Michael, 1995).

II. PELAKSANAAN KERJA

2.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dailaksanakan pada hari selasa tanggal 26 maret 2013 di daerah rumah kawat, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. 2.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah meteran, tali rafia, empat buah pancang dan alat tulis. 2.3 Cara Kerja Buat sebuah plot pada daerah yang ternaungi dengan ukuran 2m x 2m, setelah itu amati dan catat komposisi jenis tumbuhan dan hitung jumlah jenis serta jumlah individu yang terdapat di dalam plot. Selanjutnya bersihkan plot tersebut, cabut semua tumbuhan yang ada didalamnya termasuk serasah yang ada didalam plot itu juga dibersihkan. seminggu kemudian amati individu yang tumbuh dan catat jumlahnya. Pengamatan dilakukan seminggu sekali selama satu bulan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Jenis tumbuhan Suksesi pada Plot 2 x 2 m yang Ternaungi
Sebelum Plot Dibersihkan (Miggu I) Spesies Graminae Gleichenia sp Nephrolepis sp Imperata cylindrica 2 3 Jumlah 20 1 Spesies Graminae Jumlah 2 Spesies Graminae Jumlah 8 Spesies Graminae Acasia auriculiformis Jumlah 12 2 Miggu II Miggu III Miggu IV

Berdasarkan data hasil pengamatan pada tabel diatas maka dapat diketahui bahwa pada awal pengamatan sebelum plot dibersihkan terdapat beberapa jenis spesies yang jumlahnya cukup banyak. Setelah plot dibersihkan maka pada minggu pertama pengamatan hanya ditemukan dua individu graminae yang ukurannya masih kecil. Pada pengamatan minggu kedua spesies yang tumbuh masih jenis yang sama namun jumlahnya sudah bertambah menjadi lima individu. demikian juga pada minggu ketiga, jumlah graminae yang tumbuh semakin bertambah sementara spesies lain belum ada yang tumbuh.Barulah pada akhir pengamatan ditemukan spesies baru yang tumbuh sebanyak dua buah, yaitu bibit Acasia auriculiformis. Berdasarkan tabel tersebut dapat dianalisis bahwa suksesi yang terjadi pada plot yang kami amati adalah suksesi sekunder karena masih ada bibit tanaman yang terbenam didalam tanah dan masih ada potongan stolon dari tanaman graminae yang berpotensi untuk tumbuh meski plot sudah dibersihkan sampai keserasahnya. Hal ini dapat dijelaskan dengan alasan bahwa graminae merupakan tanaman yang mampu bertahan

hidup dengan membentuk stolon, dan stolon tersebut meski sudah terpotong dapat menumbuhkan tunas baru sehingga regenerasinya lebih cepat. Pernyatan diatas didukung oleh pendapat Michael (1995), yang menyatakan bahwa suksesi sekunder terjadi apabila suatu suksesi normal atau ekosistem alami terganggu/dirusak, tetapi gangguan ini tidak merusak total tempat tumbuh, sehingga dalam ekosistem tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angin topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya adalah pembukaan areal hutan. Tumbuhnya dua bibit Acasia auriculiformis saat minggu terakhir pengamatan pada plot yang dibuat dapat disebabkan karena plot ini dibuat pada daerah yang ternaung oleh tumbuhan tersebut, sehingga pada saat biji tumbuhan tersebut matang dan jatu ke plot, terjadilah perkecambahan dan menyebabkan tumbuh spesies baru pada plot ini sementara pada saat awal sebelum plot dibersihkan spesies ini tidak ditemukan. Berdasarkan keterangan tersebut dapat dilihat bahwa proses suksesi berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dimana dalam empat minggu pengamatan, individu yang tumbuh hanya graminae saja, sementara Acasia auriculiformis baru tumbuh setelah akhir minggu keempat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Odum (1992), suksesi adalah suatu proses perubahan dimana berlangsung satu arah dengan cara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula sehingga dapat dikatakan bahwa suksesi sebagai suatu perkembangan ekosistem yang tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi juga dapat terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Berdasarkan data yang didapatkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut 1. Tumbuhan yang paling pertama kali tumbuh dalam plot adalah graminae sementara yang terakhir kali tumbuh dalam plot selama waktu pengamatan adalah Acasia auriculiformis. 2. Susesi terjadi dalam waktu yang sangat lama 4.2 Saran Disarankan untuk praktikan suksesi berikutnya agar lebih teliti dalam memilih tempat pembuatan plot dan mendata spesies yang ditemukan agar hasil yang diinginkan dapat tercapai dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Dermikani, Remo. 2005. Stratifikasi Pohon Di Kawasan Hutan Sekunder Limau Manis. Universitas Andalas : Padang. Melles, Manuel C. Jr. 2004. Ecology Concepts and Applications. Third edition. Mc Graw Hill. New Mexico. Michael, P. 1995. Metoda Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Universitas Indonesia. Jakarta. Muawin H.A. 2009. Biologi Tanah. http//www.pustaka deptan go.id/publikasi ip 012089. pdf. 29 April 2010. Odum, H.T. 1992. Ekologi Sistem Suatu Pengantar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Polunin, M., 1960, Pengantar Geografi dan Beberapa Ilmu Serumpun, UGM Press,Y ogyakarta. Rahman. 1989. Ekologi Tumbuhan Darat. Universitas Andalas. Padang. Soerianegara, I dan A. Indrawan. 1976. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB : Bogor. Suharno, 1999, Biologi, Erlangga, Jakarta. Suin, NM. 2004. Ekologi Populasi. Andalas University Press. Padang.