Anda di halaman 1dari 9

Terry Pakki dan Muhammad Taufik : Identifikasi Serangga Serangga Pemakan Gulma pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna

sinensis L.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari

INVENTARISASI SERANGGA PEMAKAN GULMA DAN POPULASINYA PADA TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.) DI KELURAHAN ANDUONOHU KECAMATAN POASIA KOTA KENDARI Terry Pakki dan Muhammad Taufik Program Studi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Jurusan Budidaya Fakultas Pertanian, Universitas Haluoelo
ABSTRAK Inventarisasi jenis serangga hama pemakan gulma adalah langkah awal untuk menggunakannya sebagai agens pengendali gulma. Oleh karena itu tujuan penelitian adalah melakukan inventarisasi serangga hama yang berpotensi sebagi pemakan gulma. Penelitian menggunakan metode survey dan identifikasi di laboratorium dengan mencocokan dengan buku identifikasi serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 7 (tujuh) jenis serangga pemakan gulma di pertanaman kacang panjang yaitu 1) Atrotomorpha psittasina (Orthoptera:Acrididae) yang menyerang gulma Cleome rutidosperma D.C., 2) Valanga nigricornis (Orthoptera:Acrididae) yang menyerang gulma Paspalum pospolodes, 3) Epilachna sp. (Coleoptera:Coccinellidae) yang menyerang gulma Cleome rutidosperma D.C., 4) Jengkrik (Orthoptera:Gryllidae) yang menyerang gulma Eleusine indica (L). Gaertn., 5) Ngengat (Lepidoptera:Zygaemidae) yang menyerang gulma Heliotrophium indicum, 6) Kumbang sub famili Melolonthinae (Coleoptera:Melolonthidae) yang menyerang gulma Galinsoga parviflora Cav. dan Commelina diffusa Burm. f., dan 7) Haltica cyanea (Coleoptera:Chrysomelidae) yang menyerang gulma Ludwigia hyssopifolia. Kata kunci : Identifikasi, pemakan daun, kacang panjang

PENDAHULUAN Upaya peningkatan produksi dan mutu hasil tanaman sayur-sayuran dalam memenuhi konsumsi dan ekspor, memerlukan dukungan berbagai subsistem yaitu produksi, penanganan pasca panen, pemasaran dan sebagainya. Perlindungan tanaman merupakan bagian integral dari sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. Peran perlindungan tanaman ini diwujudkan melalui upaya-upaya penguatan dan penyempurnaan dalam penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Salah satunya adalah penguatan subsistem pengamatan dan peramalan organisme pengganggu tanaman (OPT) sebagai salah satu strategi pokok perlindungan tanaman. Aspek penting yang merupakan kunci dalam subsistem ini adalah pengamatan yang mutlak menuntut kemampuan petugas maupun petani dalam mengidentifikasi dan mengenali organisme pengganggu tanaman dan lingkungannya secara tepat dan benar (Dinas Pertanian, 2006).

94

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008

Berdasarkan data statistik pertanian secara nasional, produksi ratarata tanaman kacang panjang di Indonesia tahun 2003/2004 berkisar 50,551 ku/ha, sedangkan hasil produksi kacang panjang di Sulawesi Tenggara adalah 5,41 ku/ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2004). Berdasarkan data tersebut produksi tanaman kacang panjang di Sulawesi Tenggara masih sangat rendah bila dibandingkan dengan produksi nasional. Rendahnya produksi tanaman kacang panjang yang diperoleh di Sulawesi Tenggara antara lain disebabkan oleh adanya kehadiran gulma di pertanaman kacang panjang. Kehadiran gulma pada pertanaman dapat menimbulkan masalah yang serius dan mempunyai kontribusi yang besar dalam menurunkan produksi tanaman. Tanaman yang berkompetisi dengan gulma pertumbuhannya sangat lambat, hal ini disebabkan pertumbuhan gulma yang sangat cepat. Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma setara dengan kerugian yang diakibatkan oleh hama dan penyakit. Gulma menjadi masalah yang tetap karena selalu menyaingi tanaman utama dalam pengambilan unsur hara, air, cahaya, CO2 dan tempat tumbuh (Endah dan Novizan, 2003). Pengendalian gulma yang biasa dilakukan oleh petani antara lain dengan cara fisik dan mekanik serta secara kimiawi dengan herbisida. Pengendalian secara fisik dan mekanik memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang relatif tinggi. Dengan demikian maka petani pada umumnya lebih memilih penggunaan herbisida dalam mengendalikan gulma. Hal ini disebabkan karena hasilnya cepat terlihat, biaya aplikasi pada lahan yang luas relatif murah, waktu aplikasinya singkat dan cepat, serta tenaga kerja yang dibutuhkan relatif sedikit. Akan tetapi penggunaan herbisida yang tidak bijaksana dapat menyebabkan terjadinya residu dalam tanah, terjadinya pencemaran lingkungan dan menyebabkan resistensi jenis gulma tertentu (Rukmana dan Sugandi, 1999). Oleh karena itu perlu mencari pengendalian yang lebih aman dengan mempertahankan kelestarian ekosistem, agar tujuan pengendalian tersebut dapat mencapai sasaran tanpa menimbulkan dampak negatif. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh yaitu metode pengendalian biologis dengan menggunakan organisme hidup sebagai pemakan gulma. Hal ini seiring dengan pendapat Rao (2000), bahwa salah satu organisme yang dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali gulma secara biologi adalah serangga. Menurut Guenette (2000), pengendalian dengan menggunakan serangga mempunyai kelebihan antara lain pengendalian dapat berjalan secara alami, relatif murah, mampu merusak pada berbagai fase pertumbuhan gulma, mudah menyebar, mempunyai reproduksi yang tinggi serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap manusia, ternak, 95

Terry Pakki dan Muhammad Taufik : Identifikasi Serangga Serangga Pemakan Gulma pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari

dan tanaman budidaya. Sementara itu penelitian tentang serangga pemakan gulma di Sulawesi Tenggara belum pernah dilakukan. Infromasi serangga pemakan gulma menjadi penting karena dapat dijadikan data awal untuk memanfaatkan sebagai agens biokontrol untuk gulma. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi seranggaserangga pemakan gulma pada tanaman kacang panjang. BAHAN DAN METODA Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari, kemudian dilanjutkan di Laboratorium Unit Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari yang berlangsung pada bulan Maret sampai April 2006. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian merupakan areal pertanian dengan luas lahan lebih kurang 10 ha, sedangkan luas lahan yang ditanami kacang panjang lebih kurang 50 are (50 x 50 m2). Lokasi penelitian berbatasan dengan : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Perumahan BTN Wirabuana 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Bunggasi Kelurahan Anduonohu 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Manunggal Kelurahan Anduonohu 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Perumnas Kelurahan Rahandouna. Penelitian di lapangan dilakukan untuk mengumpulkan sampel serangga pemakan gulma pada lokasi areal pertanaman kacang panjang yang dibudidayakan oleh petani. Luas areal tanaman yang dijadikan sampel pengamatan adalah 10% dari luas keseluruhan areal tanaman yang ada (250 m2). Penentuan petak pengamatan dilakukan secara diagonal, sedangkan pengamatan dan pengumpulan serangga pemakan gulma dilakukan dengan menelusuri seluruh petak tanaman sampel pada petak pengamatan. Pengamatan dan pengumpulan serangga dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu sampai panen dengan interval waktu 2 kali seminggu. Sampel serangga yang diperoleh dideskripsikan dan diidentifikasi di Laboratorium berdasarkan ciri-ciri morfologi yang mencakup bentuk antena, bentuk kepala, tipe alat mulut, sayap dan tungkai. Selanjutnya diidentifikasi berdasarkan hasil deskripsi sampai tingkat famili atau genus yang dilakukan dengan mengacu pada buku Kalshoven (1981), Heinrichs (1994) dan Borror et al. (1996). Hasil pengamatan disusun dalam tabulasi sederhana kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

96

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008

Serangga Pemakan Gulma Pengumpulan sampel serangga pemakan gulma dilakukan dengan menggunakan jaring sampel atau ditangkap langsung dengan tangan. Sampel yang diperoleh dipisahkan berdasarkan jenis serangga yang memakan berbagai jenis gulma. Serangga yang diperoleh pada setiap pengamatan dicatat, selanjutnya diambil satu ekor dari masing-masing jenis dan disimpan dalam botol serangga yang berisi alkohol 70% kemudian dibawa ke Laboratorium untuk dilakukan identifikasi. Apabila di lapangan ditemukan serangga yang belum dewasa (telur, larva dan pupa) maka serangga pra dewasa tersebut dipelihara dalam toples di Laboratorium hingga terbentuk serangga dewasa dan selanjutnya diidentifikasi. Populasi Serangga Pemakan Gulma Populasi serangga pemakan gulma pada tanaman kacang panjang dihitung secara keseluruhan mulai dari pengamatan pertama hingga pengamatan terakhir, yang dimulai pada saat tanaman berumur dua minggu yaitu fase vegetatif sampai fase generatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan terhadap serangga pemakan gulma pada pertanaman kacang panjang (Vigna sinensis) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari ditemukan 7 jenis serangga pemakan gulma pada fase vegetatif dan generatif. Jenis-jenis serangga pemakan gulma yang ditemukan pada pertanaman kacang panjang di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 1. Adapun deskripsi dari serangga-serangga pemakan gulma tersebut adalah sebagai berikut : 1. Atrotomorpha psittasina (Orthoptera: Acrididae) Belalang dengan bentuk kepala yang meruncing agak sempit, antena lebih dari setengah panjang tubuh dan terdapat di depan sebelum mata. Panjang tubuh lebih kurang 30 mm, pronotum tidak memanjang ke belakang. Terdapat sayap dan tympanum. Serangga betina berwarna kehijauan sedangkan jantannya berwarna kecokelatan. Berdasarkan buku kunci identifikasi oleh Borror et al. (1996) dan Kalshoven (1981) bahwa serangga ini termasuk Ordo Orthoptera, Famili Acrididae, Genus Atrotomorpha, Spesies Atrotomorpha psittacina. Serangga ini ditemukan merusak daun gulma Cleome rutidosperma DC. dengan rata-rata populasi serangga di lapangan adalah 6 ekor. Menurut Sudarmo (1998), yaitu baik nimfa maupun dewasanya memakan daun dan dalam hal tertentu dapat menyebabkan gundulnya daun.

97

Terry Pakki dan Muhammad Taufik : Identifikasi Serangga Serangga Pemakan Gulma pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari

Tabel 1.Jenis Serangga pemakan gulma dan populasinya pada tanaman Kacang Panjang fase vegetatif dan generatif N o. 1. 2. 3. 4. 5. Serangga Atrotomorpha psittasina Valanga nigricornis Epilachna sp. Jengkrik Ngengat Kumbang (Melolonthinae) Haltica cyanea Weber Ordo:Famili Orthoptera: Acrididae Orthoptera: Acrididae Coleoptera: Coccinellidae Orthoptera (Gryllidae) Lepidoptera (Zygaemidae) Coleoptera Melolonthidae Coleoptera: Chrysomelidae Stadia Merusak Imago dan Nimfa Imago dan Nimfa Imago dan Nimfa Imago Larva Jenis Gulma yang Diserang Cleome rutidosperma D.C Paspalum pospolodes Cleome rutidosperma D.C Eleusine indica (L.) Gaertn. Heliotrophium indicum Galinsoga parviflora Cav. & Commelina diffusa Burm. f. Ludwigia hyssopifolia Rata-Rata Populasi Serangga 6 9,2 18 3,8 21,2

6. 7.

Imago Imago dan Larva

30,6 24,4

Keterangan: V = Fase vegetatif; G = Fase generatif

2. Valanga nigricornis (Orthoptera: Acrididae) Belalang kayu ini baik nimfa maupun dewasanya ditemukan pada daun gulma Paspalum pospolodes dengan rata-rata populasi serangga di lapangan adalah 9,2 ekor. Belalang kayu yang ditemukan berwarna coklat kehitaman, panjang tubuhnya dari kepala sampai abdomen lebih kurang 28 mm. Antena lebih pendek dari pada tubuh, pronotum tidak memanjang ke belakang. Femur tungkai belakang membesar dan terdapat bercakbercak berwarna merah. Pada abdomen terdapat tympanum. Berdasarkan buku kunci identifikasi oleh Borror et al. (1996) dan Kalshoven (1981) dapat disimpulkan bahwa serangga ini termasuk Ordo Orthoptera, Famili Acrididae, Genus Valanga, Spesies Valanga nigricornis. Serangga ini bersifat polifag, memakan daun dan aktif pada siang hari. Pada daun yang terserang terlihat adanya bekas gigitan dari tepi atau bagian tengah daun sehingga daun menjadi berlubang-lubang dan pada serangan yang berat tersisa tinggal tulang daunnya saja. Menurut Sudarmo (1988), bahwa bila belalang berimigrasi dalam jumlah yang cukup besar maka dapat menyebabkan kerusakan yang berarti, bahkan kelompok 98

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008

kawanan belalang dalam waktu beberapa jam dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada daun. Oleh karena selain menyerang gulma, juga dilaporkan menyerang tanaman yang dibudidayakan sehingga tidak tepat untuk dijadikan sebagai agen pengendalian biologi. 3. Epilachna sp. (Coleoptera: Coccinellidae) Tubuh bulat telur dan cembung, panjang tubuh lebih kurang 6 8 mm. Pada elytra terdapat 12 spot berwarna merah sampai kuning kecoklatan atau bintik yang tertutup oleh bulu halus. Panjang tubuh 0,5 mm, berwarna kuning agak cerah, antena dan kepala seringkali tersembunyi di bawah pronotum. Berdasarkan buku kunci identifikasi oleh Kalshoven (1981) dapat disimpulkan bahwa serangga ini termasuk Ordo Coleoptera, Famili Coccinellidae, Genus Epilachna. Serangga ini ditemukan menyerang daun gulma Cleome rutidosperma DC. dengan gejala yang khas yaitu daun berlubang. Rata-rata populasi serangga ini adalah 18 ekor. Menurut Wigenasantana dkk. (1985) bahwa pada serangan yang berat, daun yang diserang tinggal tulang-tulang daun saja. 4. Jengkrik (Orthoptera: Gryllidae) Dewasa umumnya berwarna hitam, nimfa berwarna kuning pucat dengan garis-garis coklat. Antena panjang dan halus seperti rambut. Jenis jantan mempunyai gambaran cincin pada sayap depan. Pada betina mempunyai ovipositor yang panjang berbentuk jarum atau silindris. Dewasa akan hilang sayapnya setelah menetap pada lingkungan basah atau sawah. Hidup pada berbagai habitat, terutama yang dinaungi rumput-rumputan, juga ditemukan di rumah-rumah, sisa-sisa tanaman yang masih lembab. Telur diletakkan pada permukaan tanah atau disisipkan pada bagian tanaman. Beberapa jenis menghasilkan suara pada malam hari. Jengkrik ini mampu bergerak dan melompat dengan baik dan cepat. Hampir semua dewasa maupun nimfa bertindak sebagai predator telur penggerek batang padi, sedangkan yang lainnya bertindak sebagai hama tanaman terutama pada persemaian. Serangga ini ditemukan menyerang gulma Eleusine indica (L). Gaertn. dengan rata-rata populasi 3,8 ekor. 5. Ngengat (Lepidoptera : Zygaemidae) Ngengat ini mempunyai probosis yang telanjang, palpus maksila pendek, hampir tersembunyi, tidak ada mata tunggal. Ngengat berawan berukuran agak kecil, berwarna kelabu dengan spot hitam dan merah. Kepala berwarna kekuningan dan biasanya dengan sebuah protoraks yang kemerah-merahan yang seringkali dengan tanda-tanda warna cemerlang lainnya. Dewasa agak kecil, bersayap sempit. 99

Terry Pakki dan Muhammad Taufik : Identifikasi Serangga Serangga Pemakan Gulma pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari

Larva mempunyai rambut-rambut yang berkelompok, larvanya hitam dengan spot-spot merah dan bintik-bintik putih pada bagian posterior. Jenis larva ini memakan daun yang sama, berbaris maju dalam satu deretan kemudian menunduk ketika mereka makan daging daun. Larva serangga ini ditemukan menyerang gulma Heliotrophium indicum dengan rata-rata populasi 21,2 ekor. Larva ngengat ini sangat baik sebagai agen pengendali hayati gulma karena sifatnya monofag. 6. Kumbang Melolonthinae (Coleoptera: Melolonthidae) Ciri-ciri serangga ini adalah tubuh berwarna coklat muda, memiliki kuku-kuku tarsus sederhana, antena terlihat dari atas, terdapat dua pasang spirakel pada abdomen dibawa tepi elytra. Famili ini merupakan salah satu kelompok yang besar dan sangat luas tersebar. Semua anggota-anggotanya adalah pemakan tumbuhtumbuhan. Dewasa memakan daun dan bunga-bunga pada malam hari. Serangga ini ditemukan menyerang gulma Galinsoga parviflora Cav. dan Commelina diffusa Burm. f. dengan rata-rata populasi tertinggi yaitu 30,6 ekor. Serangga ini aktif menyerang pada malam hari dan dari hasil pengamatan gejala serangan yang ditimbulkan tidak ditemukan pada tanaman kacang panjang yang dibudidayakan, sehingga dengan demikian serangga ini dapat dijadikan agen pengendali gulma pada tanaman kacang panjang. 7. Haltica cyanea Weber (Coleoptera: Chrysomelidae) Kumbang ini termasuk ke dalam Ordo Coleoptera, Famili Chrysomelidae, Genus Haltica, dan Spesies Haltica cyanea Weber. Menurut Sumantri dkk. (1999) dalam Halim (2004), bahwa deskripsi kumbang ini yaitu memiliki telur berbentuk lonjong dan berwarna orange, menetas satu hari setelah diletakkan. Larva aktif bergerak dan memiliki 6 instar. Stadia larva instar 1,2,5, dan 6 masing-masing 1 hari, sedangkan instar 3 dan 4 masing-masing 2 hari. Lama stadia larva 8 hari. Imago dan larva dari serangga ini ditemukan menyerang daun gulma Ludwigia hyssopifolia dan nampak kerusakan yang berat pada daun karena merupakan inang utama. Rata- rata populasi serangga ini adalah 24,4 ekor. Serangga ini baik dikembangkan karena bersifat monofag baik larva maupun imagonya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa ditemukan 7 jenis serangga pemakan gulma di pertanaman kacang panjang yaitu Atrotomorpha psittasina (Orthoptera:Acrididae) yang menyerang gulma Cleome rutidosperma D.C., Valanga nigricornis (Orthoptera:Acrididae) yang menyerang gulma Paspalum pospolodes, 100

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008

Epilachna sp. (Coleoptera:Coccinellidae) yang menyerang gulma Cleome rutidosperma D.C., Jengkrik (Orthoptera:Gryllidae) yang menyerang gulma Eleusine indica L. Gaertn., Ngengat (Lepidoptera:Zygaemidae) yang menyerang gulma Heliotrophium indicum, Kumbang sub famili Melolonthinae (Coleoptera:Melolonthidae) yang menyerang gulma Galinsoga parviflora Cav. dan Commelina diffusa Burm. f., dan Haltica cyanea (Coleoptera:Chrysomelidae) yang menyerang gulma Ludwigia hyssopifolia. DAFTAR PUSTAKA Borror, D.J., E.A. Triplehorn dan N.F. Johnson, 1996. Pengetahuan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2004. Produksi Kacang Panjang. Sulawesi Tenggara. Dinas Pertanian, 2006. Hasil Identifikasi dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Sayur. www.deptan.go.id. Di akses tanggal 25 Januari 2006. Endah, J., dan Novizan, 2003. Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Agro Media Pustaka. Jakarta. Guenette, M., 2000. Biological Control of Weeds with Insects. Agricultural Food and Rural Development. Halim, 2004a. Pendekatan Biologi dalam Pengelolaan Hama Penyakit dan Gulma pada Area Tanaman Budidaya. Bersama HIMPAS SULTRA Vol 8. No 8. Bandung. Heinrichs, E.A., 1994. Biologi and Management of Rice Insects. International Rice Research Institute. IRRI. Kalshoven, L.G.E., 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta. Rao, V., 2000. Principles of Weed Science International Consultant. Weed Science Santa Clara. California USA.

101

Terry Pakki dan Muhammad Taufik : Identifikasi Serangga Serangga Pemakan Gulma pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) di Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari

Sudarmo, S., 1988. Pengendalian Serangga Hama Jagung. Kanisius. Yogyakarta. ---------------, 1998. Yogyakarta. Pengendalian Serangga Hama Kedelai. Kanisius.

Wigenasantana, Sudjono S., Tengkano W., dan Ade Rusambi, 1985. Pengendalian Jasad Pengganggu Tanaman Palawija, Buku I Hama dan Penyakit Kedelai. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Perlindungan Tanaman Pangan. Jakarta.

102