P. 1
makalah etika profesi

makalah etika profesi

|Views: 716|Likes:
Dipublikasikan oleh Laila Nahdliyatul Husna
jabatan fungsional pustakawan
jabatan fungsional pustakawan

More info:

Published by: Laila Nahdliyatul Husna on May 22, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

MAKALAH JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN DI INDONESIA ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Etika Profesi Dosen pengampu: Purwono

Oleh: Farida Nur Solikha Fitria Nur Istiyani Isnia Wahyuningsih Laila Nahdiyatul Siti Latifah Ari Susanto Bahtiar Rizal A 10140108 10140121 11140016 11140018 11140034 11140040 11140041

PRODI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Secara sederhana, pustakawan dimaknai sebagai orang yang memiliki kompetensi dalam bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang idealnya diperoleh melalui pendidikan, tapi ada juga dari pelatihan kepustakawanan, untuk pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dalam kegiatan suatu perpustakaan. Dewasa ini seolah pustakawan sedang dilanda kegalauan mengenai jabatan fungsional pustakawan, seakan tampak sulit mencapai posisi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dapat disebut dilema jabatan fungsional pustakawan. Dalam konteks ini, maksudnya posisi yang menempatkan pustakawan pada kondisi dilematis yang serba sulit, terutama dikaitkan dengan posisi pustakawan dalam hubungannya dengan regulasi di bidang kepustakawanan yang ada di Indonesia.

a. Masalah
Regulasi di bidang kepustakawanan, terutama yang berkaitan dengan berbagai macam Undang-undang, Keppres, PerPres, KepMen, KepKaPerpusnas, KepKaBKN, belum tentu sejalan dengan apa yang diharapkan oleh para pustakawan. Yang namanya regulasi adalah untuk diterapkan sesuai dengan apa yang tersirat maupun yang tersurat, sehingga apabila terdapat bab, pasal atau ayat-ayat yang tidak sejalan dengan apa yang diharapkan, maka posisi putakawan dalam kondisi dilematis. Dari rumpunan masalah tersebut muncul pertanyaan. Peranan serta jabatan fungsional pustakawan, Sertifikasi pustakawan, peraturan jabatan fungsional putakawan.

b. Tujuan
Dengan adanya makalah ini bertujuan untuk mengetahui polemik jabatan fungsional pustakawan di Indonesia antara harapan dan kenyataan, agar mahasiswa berfikir kritis sehingga terlahirlah akademikus yang cerdas. Untuk itu dari pembahasan banyak manfaat yang dapat digali. Meliputi, menjadikan mahasiswa berkompetensi luas terutama bidang perpustakaan, memberikan rambu-rambu mengenai apa yang akan dihadapi dikemudian hari, menjelaskan berbagai masalah tentang kedudukan pustakawan, meningkatkan kompetensi mahasiswa dengan berdiskusi. TINJAUAN PUSTAKA

Undang-Undang Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya dan kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 53649/MPK/1998 dan Nomor 15/SE/1998. Tujuan diciptakaannya jabatan fungsional tersebut yaitu agar para pustakawan dapat meningkatkan karirnya sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimilikinya. Dalam rangka memberikan lahan perolehan angka kredit yang lebih luas serta mengantisipasi keluarnya Keputusan Presiden tentang Rumpun Jabatan Pegawai Negeri Sipil, pada tanggal 24 Pebruari 1998 terbit Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 33 Tahun 1998 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya sebagai revisi dari Kep. MENPAN Nomor 18 Tahun 1988. Keputusan MENPAN ini diikuti dengan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 07 Tahun 1998 dan Nomor 59 Tahun 1998 sebagai petunjuk pelaksanaannya. Seiring dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan, maka sebagai konsekuensi logisnya Kep. MENPAN Nomor 33 Tahun 1998 tersebut perlu direvisi dan pada tanggal 3 Desember 2002 terbit Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan Menpan ini diikuti dengan terbitnya Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 23 Tahun 2003 dan Nomor 21 Tahun 2003. Saat ini jumlah tenaga fungsional Pustakawan yang terjaring pada pangkalan data Pusat Pengembangan Pustakawan sebanyak 2.240 orang yang tersebar di berbagai perpustakaan di Indonesia. Data pustakawan yang ada saat ini menunjukkan bahwa keberadaan pejabat fungsional Pustakawan masih terkonsentrasi pada perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus. Pejabat fungsional yang berada di perpustakaan umum baru 36 orang (1,6%) dan perpustakaan sekolah 201 orang (8,9%).

Kondisi pustakawan di kedua jenis perpustakaan tersebut mencerminkan juga perkembangan perpustakaannya yang belum berkembang seperti jenis perpustakaan lain. Untuk itu mulai tahun anggaran 2003 pengembangan pustakawan akan dititikberatkan pada pustakawan di perpustakaan umum dan sekolah. Dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan pustakawan tentunya harus koordinasi dengan instansi maupun unit kerja lainnya yang terkait.

PEMBAHASAN
A. JABATAN FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Apabila kita berbicara tentang pustakawan sudah dipastikan kita akan berbicara juga tentang perpustakaan, karena keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jenjang jabatan fungsional pustakawan berdasarkan Keputusan Menpan No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 terdiri dari jalur terampil dan ahli. Perbedaan jalur ini didasarkan atas latar belakang pendidikan. Jalur terampil bagi pejabat fungsional pustakawan yang berlatar belakang pendidikan D2/D3 Pusdokinfo atau D2/D3 Nonpusdokinfo ditambah diklat yang disetarakan. Sedangkan jalur ahli adalah bagi para pustakawan yang memiliki latar belakang minimal S1 Pusdokinfo atau S1 Nonpusdokinfo ditambah dengan diklat bagi pustakawan ahli.1 1 http://www.scribd.com/doc/18362786/Jabatan-Fungsional-Pustakawan

Jalur terampil meliputi:    Pustakawan Pelaksana : Golongan ruang II/b, II/c dan II/d Pustakawan Pelaksana Lanjutan : Golongan ruang III/a dan III/b Pustakawan Penyelia : Golongan ruang III/c dan III/d

Jalur Ahli meliputi:     Pustakawan Pertama : Golongan ruang III/a dan III/b Pustakawan Muda : Golongan ruang III/c dan III/d Pustakawan Madya : Golongan ruang IV/a, IV/b dan IV/c Pustakawan Utama : Golongan ruang IV/d dan IV/e Di Indonesia, perpustakaan telah mendapat perhatian pemerintah sejak pelimpahan perpustakaan KBG ke Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya Februari 1950. Dan telah disinggung sebelumnya, pustakawan baru mulai mendapat perhatian pada tahun 1988, dengan terbitnya Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.18 tahun 1988. Keputusan ini mengalami beberapa kali perubahan mengikuti perkembangan peraturan dan perundang-undangan terkait, terakhir terbit keputusan No. 132 tahun 2002. Dalam keputusan ini pustakawan dinyatakan dengan sebutan ”jabatan fungsional pustakawan” dan dimaknai sebagai pegawai negri sipil yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Dengan adanya ketentuan ini, maka timbul sebutan ”pustakawan plat merah” untuk pustakawan yang bekerja di lembaga pemerintah dan ”pustakawan plat hitam” untuk pustakawan yang bekerja di lembaga non pemerintah. Sementara kita tahu bahwa banyak lembaga selain instansi pemerintah juga menyelenggarakan layanan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Sebutan pustakawan ”plat merah” dan ” plat hitam” bukan hanya sekedar rumor, tetapi menimbulkan masalah perbedaan status antara pustakawan yang bekerja di instansi

pemerintah dan mereka yang bekerja di luar instansi pemerintah, karena tidak semua instansi di luar pemerintah mau memberikan kesetaraan kemudahan, kesejahteraan pustakawannya dengan pustakawan yang bekerja di instansi pemerintah. Dengan terbitnya Undang-undang nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sudah tidak ada pembedaan status pustakawan, ini berarti bahwa yang dimaksud dengan pustakawan mencakup seluruh pengelola perpustakaan, pusat dokumentasi dan sejenisnya, baik di instansi pemerintah maupun di instansi di luar pemerintah . Meski demikian, undang-undang ini belum dapat memberikan jaminan perbaikan ”nasib” bagi pustakawan di luar instansi pemerintah. Masalahnya adalah belum ada peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan teknisnya, di samping belum ada lembaga yang ditunjuk atau diberi wewenang memberikan akreditasi atau sertifikasi atau legalisasi jabatan fungsional pustakawan di luar ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Oleh karena itu yang dimaksud dengan jabatan fungsional pustakawaan dalam makalah ini masih terbatas pada pustakawan yang bekerja di instansi pemerintah.

B. PERANAN TENAGA FUNGSIONAL PUSTAKAWAN

Pustakawan tidak akan terbentuk bila tidak ada perpustakaan, dan begitu pula dengan perpustakaan tidak akan dapat melaksanakan tugas dan fungsinya tanpa dukungan tenaga pustakawan. Kelengkapan dan banyaknya koleksi suatu perpustakaan tidak menjamin perpustakaan tersebut akan bermanfaat tanpa peran aktif pustakawan. Untuk menjadi bermanfaat dan berhasil dalam peran mencerdaskan kehidupan bangsa, perpustakaan perlu dukungan tenaga fungsional pustakawan dalam memilih, menyiapkan, menyimpan dan merawat koleksi untuk dapat memberikan layanan yang maksimal bagi pemustakanya. Dengan demikian jelas terlihat bahwa hampir semua kegiatan yang berkaitan dengan bahan perpustakaan dalam suatu perpustakaan merupakan kegiatan kepustakawanan. Keberhasilan suatu perpustakaan antara lain dapat dilihat dari tingkat kepuasan pemustakanya. Dengan kata lain, kinerja pustakawan menentukan tingkat kepuasan pemustakanya. Inilah alasan sementara orang mengatakan

bahwa pustakawan merupakan tulangpunggung bagi perpustakaan. Pustakawan merupakan sumberdaya pendukung utama dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kelembagaan perpustakaan. Dengan kata lain, kegiatan kepustakawanan merupakan kegiatan utama, sedangkan kegiatan administratif merupakan kegiatan penunjang atau pendukung. Banyak orang mengatakan bahwa profesi pustakawan di Indonesia merupakan profesi non sejati karena kemandirian dalam pelaksanaan tugas masih bergantung pada pihak lain, dan tidak timbul dari diri pribadi. Apapun yang dibicarakan orang tentang profesi pustakawan di Indonesia tidak dapat kita abaikan begitu saja. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa profesionalisme pustakawan merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan perpustakaan, tidak dapat dibayangkan bagaimana perpustakaan dapat menjalankan tugas yang diamanatkan oleh undang-undang yang mengaturnya tanpa peran pustawan profesional. Undang-undang No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan memberikan tugas maupun kewenangan perpustakaan untuk :
1) Menetapkan kebijakan teknis 2) Pembinaan pengelolaan perpustakaan 3) Pengembangan perpustakaan 4) Pengelolaan perpustakaan 5) Evaluasi pengelolaan perpustakaan 6) Koordinasi pengelolaan perpustakaan 7) Mengembangkan standar nasional perpustakaan.

Selain kewajiban tersebut, dalam mengembangkan koleksi, perpustakaan bertanggung jawab untuk:
1) Melestarikan hasil budaya bangsa 2) Memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat 3) Melakukan promosi perpustakaan untuk gemar membaca.

Semua kegiatan ini merupakan kegiatan yang memerlukan keahlian khusus bidang perpustakaan. Dengan kata lain, setiap perpustakaan, sangat memerlukan keprofesionalan pustakawan untuk melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawab yang diembannya.
C. SERTIFIKASI PUSTAKAWAN

Pustakawan merupakan sebuah profesi yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia. Padahal seorang pustakawan juga sangat berperan penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Profesi sebagai seorang pustakawan juga perlu adanya sertifikasi sehingga para pustakawan Indonesia dapat menjalankan tugas secara professional. Sertifikasi pustakawan adalah proses penerbitan sertifikat dari lembaga sertifikasi bagi seseorang yang dinyatakan memiliki kompetensi di bidang perpustakaan, tentunya dengan syarat dan ketentuan tertentu. Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh pustakawan di Indonesia untuk disertifikasi agar bisa sejajar dengan profesi lain, seperti guru, dokter dan lain sebagainya. Hal itu dikarenakan pustakawan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Kelayakan pustakawan di Indonesia harus melalui sertifikasi, layaknya sertifikasi guru. Hal itu perlu dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi, profesionalitas dan kesejahteraan pustakawan. Ada lima dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan, antara lain:
a) Task Skill yang berarati bahwa seorang pustakawan harus mampu melakukan

dan menyelesaikan tugas per tugas.
b) Task Managemen Skill yang dapat diartikan bahwa seorang pustakawan harus

mampu mengelola beberapa tugas yang berbeda dalam pekerjaannya.
c) Contigency Managemen Skill yang berarti bahwa pustakawan selalu tanggap

terhadap adanya kelainan dan kerusakan pada rutinitas kerja.

d) Environment Skill, yang dapat diartikan bahwa pustakawan harus mampu

menghadapi tanggung jawab dan harapan dari lingkungan kerja dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
e) Transfer Skill, yang dapat diartikan bahwa pustakawan mampu mentransfer

kompetensi yang dimiliki dalam setiap situasi yang berbeda. Kompetensi harus selalu ditingkatkan, agar tidak kalah bersaing dengan pustakawan yang berasal dari negara asing. Pada era globalisasi ini banyak sekali pustakwan asing yang berasal dari Philipina, Singapura dan Malaysia yang berdatangan ke Indonesia. Hal inilah yang akan menjadikan tantangan bagi Pustakawan Indonesia. Selain memiliki kompetensi, pustakawan juga harus mempunyai moralitas yang tinggi, baik itu diperoleh dari pendidikan, pelatihan, dan interaksi dalam kegiatan ilmiah kepustakawanan. Sertifikasi harus menjadi peluang dan tantangan bagi para pustakawan Indonesia.
D. KENYATAAN DAN HARAPAN

Kenyataan yang ada di dunia perpustakaan tenyata belum sesuai dengan teori yang telah tercantum pada undang-undang perpustakaan. Kenyataan yang ada, antara lain:
1. Meski impasing sudah lebih dari 20 tahun berlalu, saat ini masih ada 35

pustakawan trampil hasil impasing yang tidak memiliki pengetahuan dasar perpustakaan. (data diambil dari daftar urut kepangkatan). Proses impasing yang tanpa pertimbangan adanya beban tugas, kewajiban, hak dan spesifikasi penyandang profesi pustakawan jelas berdampak pada rendahnya keprofesionalan dan kinerja pustakawan.
2. Selain tidak ada pembinaan profesi maupun pembekalan pengetahuan tentang

tugas pustakawan, kurang pula dalam pemberian kesempatan untuk berkarya demi profesi. Berbagai kekurangan ini merupakan dampak kurangnya pemahaman pejabat struktural sebagai pengambil kebijakan tentang jabatan fungsional pustakawan termasuk pelaksanaan tugas fungsionalnya.

3. Penempatan pustakawan sebagai pelaksana tugas pokok institusi. Penempatan 5

orang pustakawan madya dan 7 orang pustakawan muda di Bidang Akuisisi dan 25 orang pustakawan di Direktorat Deposit merupakan kebijakan yang tidak didukung pertimbangan profesi pustakawan sebagai pelaksananya. Kondisi yang demikian berdampak pada terposisikannya pustakawan sebagai staf bidang yang harus bekerja sesuai dengan tugas pokok bidang meski tidak sesuai dengan jenjang jabatan fungsionalnya.
4. Pelaksanaan outsourcing kegiatan perpustakaan termasuk penelitian bidang

perpustakaan. Kegiatan perpustakaan yang dilaksanakan dengan sistem outsourcing dirasa sangat merugikan pustakawan karena banyak angka kredit yang terbuang karena dikerjakan oleh bukan pustakawan.
5. Kelompok kerja yang ada tidak mampu memfasilitasi kepentingan profesi.

Keberadaan kelompok kerja tidak berfungsi sebagai komunikator vertikal maupun horizontal pustakawan dalam berbagai keperluan profesi maupun pelaksanaan tugas. Hal ini terjadi karena ketua kelompok bukan pustakawan dan tidak menguasai ilmu perpustakaan.
6. Menduduki jabatan fungsional pustakawan setelah kandas harapan mendapatkan

jabatan struktural pada golongan IIIc. Meski pernah ada instruksi Kepala Perpustakaan Nasional RI bahwa, semua sarjana ilmu perpustakaan yang diterima bekerja di Perpustakaan Nasional RI harus langsung memenuhi persyaratan untuk diangkat sebagai pustakawan, namun mereka tetap memandang sebelah mata terhadap profesi pustakawan karena mengharapkan kedudukan struktural.
7. Banyaknya terbitan ilmiah yang tidak ilmiah, pedoman yang tidak menuntun dll.

sebagai akibat dari proses impasing. Pengangkatan fungsional pustakawan melalui jalur impasing berakibat pada kurangnya pemahaman tentang fungsi dan tugas sebagai pustakawan berdampak pada rendahnya kwalitas kerja, tidak profesional, tidak berdasarkan pada kebenaran ilmu, cenderung berorientasi pada mengejar target institusi.
8. Sikap yang tidak profesional dan kurang mandiri dalam pelaksanaan kerja

cenderung menggunakan jasa orang lain. Sikap demikian disebabkan karena tidak

adanya keinginan untuk memahami permasalahan terkait dengan jabatan fungsionalnya.
9. Sikap yang tidak profesional dalam menghalalkan segala cara, dan mencari jalan

pintas untuk dapat naik ke jenjang di atasnya. Banyak ditemukan kasus, di antaranya karena inisiatif sendiri atau dibimbing pendahulunya mengambil manfaat karya orang lain dengan mengadakan perubahan sekedarnya.
10. Pengambilalihan kegiatan fungsional pustakawan oleh staf nonpustakawan. Selain

penyalahgunaan fasilitas, ada pula usaha pengambilalihan kegiatan kepustakawanan seperti pengadaan dan pengolahan bahan pustaka yang dilakukan oleh staf sekretariat. HARAPAN
1. Secara beraturan hendaknya rotasi karyawan diadakan. Paling sedikit 5-7 tahun sekali

diadakan rotasi karyawan dari unit kerja satu ke unit kerja yang lain. Hal ini dimaksud di samping untuk penyegaran juga bisa meningkatkan kinerja karyawan serta diharapkan bisa menguasai unit kerja yang lain dalam bidang terkait profesi pustakawan.
2. Aspek profesionalisme perlu lebih ditingkatkan, terutama berkaitan dengan citra

pustakawan yang saat ini belum sejajar dengan profesi lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa, dewasa ini ada sekitar 16 jabatan fungsional yang diakui oleh pemerintah, namun belum sejajar kedudukannya antara jabatan fungsional yang satu dengan yang lain. Baik dari aspek volume pekerjaan maupun tunjangan gaji. Di masa depan pustakawan juga diharapkan mempunyai citra yang lebih positif. Berikut adalah profil pustakawan masa depan yang diharapkan:
 Berorientasi kepada kebutuhan pengguna  Mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik (ke atas, ke samping dan ke

bawah)
 Mempunyai kemampuan teknis perpustakaan yang tinggi  Mempunyai kemampuan berbahasa asing yang memadai

 Mempunyai kemampuan pengembangan secara teknis dan prosedur kerja  Mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi  Mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian di bidang perpustakaan  Dan tidak kalah pentingnya adalah pustakawan harus mempunyai integritas tinggi

dan bermoral.

PENUTUP

Kesimpulan Dengan adanya Undang Undang tentang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 telah menumbuhkan harapan baru bagi tenaga perpustakaan. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan fasilitas layanan perpustakaan. Namun kenyataannya undang-undang tersebut masih belum utuh. pustakawan selama ini dikenal sebagai profesi yang menunjang tugas guru dan dosen dalam proses pendidikan, dengan pekerjaan yang besar itu para pustakawan mempunyai harapan, seperti profesi mereka bisa sejajar dengan profesi yang lain, hidup sejahtera, dan mendapat penghargaan yang sama dengan yang lain. Namun untuk keadaan di Indonesia saat ini harapan pustakawan masih belum sesuai harapan, posisi pustakawan masih belum bisa sejajar dengan profesi yang lain, hidup belum bisa sejahtera karna biaya hidup yang meningkat namun gaji pustakawan yang kecil sehingga belum bisa untuk menanggung biaya hidup. Alangkah gembiranya jika harapan profesi pustakawan dapat dihargai dengan UU dimana diatur masalah hak dan kewajiban sebagai seorang profesional yang melayani masyarakat tanpa memandang lingkungan mereka bekerja. Mungkin masih jauh harapan itu tapi bukan berarti itu hal yang mustahil.

DAFTAR PUSTAKA Purwono. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan: buku daras jurusan ilmu perpustakaan informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga. www.scribd.com diakses pada tanggal 11 Oktober 2012 pukul 12.44 WIB. www.pustaka.pu.go.id diakses pada tanggal 11 Oktober 2012 pukul 12.45 WIB. www.gudeg.net diakses pada tanggal 11 Oktober 2012 pukul 13.17 WIB.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->