Anda di halaman 1dari 16

BAB I LAPORAN KASUS 1.1 IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama Tgl.

Masuk RS Tgl Periksa : : : : : : : : Ny. S 32 tahun Perempuan Salatiga Swasta Islam 07 Desember 2009 08 Desember 2007

1.2 ANAMNESIS (Autoanamnesis) a. b. Keluhan Utama Keluhan Tambahan : : Sesak nafas dan mual Pusing berputar putar, leher belakang dan pundak terasa kemeng, mengeluh c. mudah lelah belakangan ini Riwayat Penyakit Sekarang : Pada tanggal 7 Desember 2009, pasien datang ke RSUD Salatiga, dengan keluhan sesak nafas, mual, dan pusing berputar putar. Sesak nafas dirasakan mulai 4 bulan yang lalu. Sesak tidak membaik dengan posisi duduk. Saat pemeriksaan pasien juga merasa kekakuan pada leher belakang dan pundak serta mengeluh mudah lelah belakang ini. Pasien juga mengeluh sering berdebar-debar. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya setelah melahirkan anak yang terakhir. Riwayat tensi tinggi setelah persalinan. Persalinan yang dilakukan adalah persalinan normal. Hipertensi belum terkontrol (dilihat dari anamnesis yang diceritakan pasien bahwa pasien tidak melakukan kontrol ke pusat kesehatan, hanya datang kepuskesmas ketika ada keluhan pusing). Pasien sering mengkonsumsi obat migraine dari warung. Buang air kecil lancar dan biasa. d. Riwayat Penyakit Dahulu : Ada riwayat konsumsi obat migraine Ada riwayat hipertensi 3 tahun

. e. Riwayat Penyakit Keluarga : -

Riwayat sakit saluran kencing disangkal Riwayat disangkal Riwayat penyakit yang sama disangkal Riwayat disangkal penyakit hipertensi edema / bengkak

1.3 PEMERIKSAAN FISIK. Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : : : Sedang, tampak pucat Compos mentis T : 180/100 mmHg R : 24 x/menit N : 84 x/menit reguler S : 36,5 O C 154 cm 51 kg

Tinggi Badan Berat Badan Status Generalis 1 . -

: :

Pemeriksaan Kepala Bentuk Kepala Rambut : : : Mesochepal, simetris. Warna hitam, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut Tidak ada

2 .

- Nyeri Tekan Pemeriksaan Mata - Palpebra - Konjunctiva - Sklera - Pupil Pemeriksaan Telinga Pemeriksaan Hidung Pemeriksaan dan Faring Mulut

3 . 4 . 5 .

: : : : : : :

Edema (-/-), ptosis (-/-) Anemis (+/+) Ikterik (-/-) Reflek cahaya (+/+), isokor 2 mm Otore (-/-), deformitas (-/-), nyeri tekan (-/-) Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-), rinore (-/-) Bibir sianosis (-), tepi hiperemis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), tremor (-), ikterik (-) tonsil : dbn.

6 .

Pemeriksaan Leher Trakea Kelenjar Tiroid Kelenjar lymphonodi JVP : : : : Deviasi trakea (-) Tidak membesar Tidak membesar, nyeri (-) Tidak meningkat

7 . -

Pemeriksaan Dada Paru-paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: : : :

Simetris, retraksi (-) Vokal fremitus kanan = kiri Sonor pada kudua pulmo Suara dasar vesikuler berkurang Suara tambahan Ronki -/- Wheezing -/-

Jantung - Inspeksi - palpasi - Perkusi

: : :

Ictus cordis tak tampak Ictus cordis teraba di SIC VI LMC Batas jantung Kanan atas SIC II RSB Kanan bawah SIC IV RSB Kiri atas SIC II LSB Kiri bawah SIC VI LMC sinistra 1 jari ke lateral.

Auskultasi

S1 S2 reguler, bising (-)

8 .

Pemeriksaan Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi : : : Cembung, darm steifung (-), darm contour (-), venektasi (-) Peristaltik usus (+) N Supel, defans muskuler (-), nyeri tekan (-), Hepar /

Lien sulit dinilai, undulasi (-) - Perkusi : Timpani Pemeriksaan Ekstremitas - Superior : Deformitas (-), jari tabuh (-), ikterik (-), sianosis (-), oedem (-) 3

Inferior

Deformitas (-), ikterik (-), sianosis (-), oedem (-)

1.4 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan Laboratorium Hb Ureum Creatinin Trigliserida Asam Urat Urinalisis Warna Reaksi Protein Glukosa Bilirubin Urobilin leukosit : kuning : asam (pH6) :+ :::: 25 leu/L Sedimen Lekosit : 5-10 /LP Eritrosit : negative /LP Epitel : 1-3 Silinder : Kristal : Asam urat (+) Bakteri : + : 8.1 g/dl : 239 mg/dl : 12,8 mg/dl : 216 mg/dl : 8,3

USG Abdomen Batas korteks dan medulla kabur pada ren dekstra dan sinistra, pada vesika urinaria, mukosa tampak tebal Kesan : CRF dan cystitis Rontgen thorax Cor dan pulmo dalam batas normal dan tak tampak kelainan. 1.5 DIAGNOSIS KERJA Chronic Kidney Disease (CKD) dengan hipertensi grade II dan anemia 1.6 TERAPI Non farmakologis Diet rendah protein

a.

b.

Farmakologis O2 2L/menit IVFD RL 20 tetes/ menit Captopril 3 x 12,5 Asam mefenamat 3 x 1 Amlodipin 1 x 1 Radin 2 x 1 Osteocal 3 x 1 Allupurinol 3 x 1 Herbesser 1 x 1 Asam folat 2 x 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENDAHULUAN Penyakit Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel pada suatu saat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis atau transplantasi ginjal.1 Glomerulonefritis dalam beberapa bentuknya merupakan penyebab paling banyak yang mengawali gagal ginjal kronik. Kemungkinan disebabkan oleh terapi glomerulonefritis yang agresif dan disebabkan oleh perubahan praktek program penyakit ginjal tahap akhir yang diterima pasien,

diabetes mellitus dan hipertensi sekarang adalah penyebab utama gagal ginjal kronik.2 Uremia adalah suatu sindrom klinik dan laboratorik yang terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal kronik, penyajian dan hebatnya tanda dan gejala uremia berbeda dari pasien yang satu dengan pasien yang lain, tergantung paling tidak sebagian pada besarnya penurunan massa ginjal yang masih berfungsi dan kecepatan hilangnya fungsi ginjal.1,2 Kriteria Penyakit Ginjal Kronik antara lain1 : 1. Kerusakan ginjal (renal damage) yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dengan manifestasi : - kelainan patologis - terdapat tanda kelainan ginjal, termasuk kelainan dalam komposisi darah dan urin atau kelainan dalam tes pencitraan (imaging tests) 2. Laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 60 ml/menit/1,73m selama 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal.Pada keadaan tidak terdapat kerusakan ginjal lebih dari 3 bulan dan LFG sama atau lebih dari 60 ml/menit/1,73m, tidak termasuk kriteria penyakit ginjal kronik.

2.2

KLASIFIKASI1 Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua hal yaitu atas dasar

derajat (stage) penyakit dan dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar derajat penyakit dibuat atas dasar LFG yang dihitung dengan mempergunakan rumus Kockcorft-Gault sebagai berikut: LFG (ml/menit/1,73m) = (140-umur)x berat badan / 72x kreatinin plasma (mg/dl)*) *) pada perempuan dikalikan 0,85 Klasifikasi tersebut tampak pada tabel 1 Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Derajat Penyakit
Derajat Penjelasan LFG(ml/mnt/1,73m)

1 2 3

Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau Kerusakan ginjal dengan LFG ringan Kerusakan ginjal dengan LFG sedang 6

> 90 60-89 30-59

4 5

Kerusakan ginjal dengan LFG berat Gagal ginjal

15- 29 < 15 atau dialisis

Klasifikasi atas dasar diagnosis tampak pada tabel 2 Tabel 2. Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas dasar Diagnosis Etiologi Penyakit Tipe mayor (contoh) Penyakit ginjal diabetes Diabetes tipe 1 dan 2 Penyakit ginjal non diabetes Penyakit glomerular(penyakit otoimun, infeksi sistemik, obat, neoplasia) Penyakit vascular (penyakit pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopati) Penyakit tubulointerstitial (pielonefritis kronik, batu, obstruksi, keracunan obat) Penyakit pada transplantasi Penyakit kistik (ginjal polikistik) Rejeksi kronik Keracunanobat (siklosporin/takrolimus) Penyakit recurrent (glomerular) Transplant glomerulopathy 2.3 EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat, data tahun 1995-1999 menyatakan insidens penyakit ginjal kronik diperkirakan 100 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka ini meningkat sekitar 8% setiap tahunnya. Di Malaysia, dengan populasi 18 juta diperkirakan terdapat 1800 kasus baru gagal ginjal pertahunnya. Di negara-negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan sekitar 40-60 kasus perjuta penduduk pertahun.1,2 2.4 PATOFISIOLOGI Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya tergantung pada penyakit yang mendasarinya, tapi dalam perkembangan selanjutnya proses yang terjadi kurang lebih sama. Pengurangan massa ginjal menyebabkan hipertrofi sisa nefron secara struktural dan fungsional sebagai upaya kompensasi. Hipertrofi kompensatori ini akibat hiperfiltrasi adaptif yang diperantarai oleh penambahan tekanan kapiler dan aliran glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang progresif 7

walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan aktivitas aksis renin-angiotensinaldosteron intrarenal ikut memberikan konstribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis dan progesifitas tersebut. Aktivitas jangka panjang aksis renin-angiotensinaldosteron, sebagian diperantarai oleh growth factor seperti transforming growth factor . Beberapa hal yang juga dianggap berperan terhadap terjadinya progresifitas penyakit ginjal kronik adalah albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia.1,2 Terdapat variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibrosis glomerulus maupun tubulointerstitial. Pada stadium yang paling dini penyakit ginjal kronik terjadi kehilangan daya cadang ginjal (renal reserve), pada keadaan mana basal LFG masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, pasien masih belum merasakan keluhan (asimtomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 30%, mulai terjadi keluhan pada pasien seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang dan penurunan berat badan. Sampai pada LFG di bawah 30%, pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas, maupun infeksi saluran cerna. Juga akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau hipervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada LFG dibawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal.1 2.5 PENDEKATAN DIAGNOSTIK

Gambaran Klinis 1,3,4,5 Gambaran klinis pasien penyakit ginjal kronik meliputi: a. Sesuai dengan penyakit yang mendasari seperti diabetes malitus, infeks traktus urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritomatosus Sistemik (LES),dll.

b. Sindrom uremia yang terdiri dari lemah, letargi, anoreksia, mual,muntah, nokturia, kelebihan volume cairan (volume overload), neuropati perifer, pruritus, uremic frost, perikarditis, kejang-kejang sampai koma. c. Gejala komplikasinya antara lain hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, khlorida). Gambaran Laboratorium 1,3,4,5 Gambaran laboratorium penyakit ginjal kronik meliputi: a. Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya b. Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum, dan penurunan LFG yang dihitung mempergunakan rumus Kockcroft-Gault. Kadar kreatinin serum saja tidak bisa dipergunakan untuk memperkirakan fungsi ginjal. c. Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar hemoglobin, peningkatan kadar asam urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia, hiper atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalemia, asidosis metabolik d. Kelainan urinalisis meliputi proteinuria, hematuri, leukosuria Gambaran Radiologis 1,3,4,5 Pemeriksaan radiologis penyakit GGK meliputi: a. Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio-opak. b. Pielografi intravena jarang dikerjakan karena kontras sering tidak bisa melewati filter glomerulus, di samping kekhawatiran terjadinya pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami kerusakan. c. Pielografi antegrad atau retrograd dilakukan sesuai indikasi. d. Ultrasonografi ginjal bisa memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks yang menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa kalsifikasi. e. Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi dikerjakan bila ada indikasi. 2.6 PENATALAKSANAAN Perencanaan tatalaksana (action plan) penyakit GGK sesuai dengan derajatnya, dapat dilihat pada tabel 3.1 9

Tabel 3. Rencana Tatalaksanaan Penyakit GGK sesuai dengan derajatnya Derajat LFG(ml/mnt/1,73m) Rencana tatalaksana 1 > 90 terapi penyakit dasar, kondisi komorbid, evaluasi pemburukan (progession) fungsi ginjal, 2 3 4 5 60-89 30-59 15-29 <15 memperkecil resiko kardiovaskuler menghambat pemburukan (progession) fungsi ginjal evaluasi dan terapi komplikasi persiapan untuk terapi pengganti ginjal terapi pengganti ginjal

Terapi Nonfarmakologis: 1,5 a. Pengaturan asupan protein: Pembatasan asupan protein mulai dilakukan pada LFG 60 ml/mnt, sedangkan diatas nilai tersebut, pembatasan asupan protein tidak selalu dianjurkan. protein diberikan 0,6 - 0,8/kgBB/hari, yang 0,35 - 0,50 gr diantaranya merupakan protein biologi tinggi. Jumlah kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/kgBB/hari, dibutuhkan pemantauan yang teratur terhadap status nutrisi pasien. bila terjadi malnutrisi, jumlah asupan kalori dan protein dapat ditingkatkan. Berbeda dengan lemak dan karbohidrat, kelebihan protein tidak disimpan dalam tubuh tapi dipecah menjadi urea dan substansi nitrogen lain, yang terutama diekskresikan melalui ginjal. Selain itu, makanan tinggi protein yang mengandung ion hydrogen, fosfat, dan ion unorganik lain juga diekskresikan melalui ginjal. Oleh karena itu, pemberian diet tinggi protein pada pasien dengan Penyakit Ginjal Kronik akan mengakibatkan penimbunan substansi nitrogen dan ion organik lain, dan mengakibatkan gangguan klinis dan metabolic yang disebut uremia. Dengan demikian, pembatasan asupan protein akan mengakibatkan berkurangnya sindrom uremik. Masalah penting lain adalah asupan protein berlebih (protein overload) akan mengakibatkan perubahan hemodinamik ginjal berupa peningkatan aliran darah dan tekanan intraglomerulus (intraglomerulus hyperfiltration), yang akan meningkatkan progresifitas pemburukan fungsi ginjal. Pembatasan asupan protein juga berkaitan dengan pembatasan asupan fosfat, karena protein dan fosfat selalu berasal dari sumber yang sama. Pembatasan fosfat perlu untuk mencegah terjadinya hiperfosfatemia. Tabel 4. Pembatasan Asupan Protein pada Penyakit GGK LFG Asupan protein g/kg/hari

10

ml/menit >60 25-60 5-25 <60

tidak dianjurkan 0,6-0,8/kg/hari 0,6-0,8/kg/hari atau tambahan 0,3 g asam amino esensial atau asam keton 0,8/kg/hari(=1 gr protein /g proteinuria atau 0,3 g/kg tambahan asam amino esensial atau asam keton.

b. Pengaturan asupan kalori: 35 kal/kgBB ideal/hari c. Pengaturan asupan lemak: 30-40% dari kalori total dan mengandung jumlah yang sama antara asam lemak bebas jenuh dan tidak jenuh d. Pengaturan asupan karbohidrat: 50-60% dari kalori total e. Garam (NaCl): 2-3 gram/hari f. Kalium: 40-70 mEq/kgBB/hari g. Fosfor:5-10 mg/kgBB/hari. Pasien HD :17 mg/hari h. Kalsium: 1400-1600 mg/hari i. Besi: 10-18mg/hari j. Magnesium: 200-300 mg/hari k. Asam folat pasien HD: 5mg l. Air: jumlah urin 24 jam + 500ml (insensible water loss) Terapi Farmakologis 1,2,3,4: a. Kontrol tekanan darah - Penghambat EKA atau antagonis reseptor Angiotensin II evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin > 35% atau timbul hiperkalemia harus dihentikan. - Penghambat kalsium - Diuretik b. Kontrol gula darah Pada pasien DM, kontrol gula darah hindari pemakaian metformin dan obat-obat sulfonilurea dengan masa kerja panjang. Target HbA1C untuk DM tipe 1 0,2 diatas nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2 adalah 6%. c. Koreksi anemia dengan target Hb 10-12 g/dl Anemia terjadi pada 80 - 90 % pasien penyakit ginjal kronik. Anemia pada penyakit ginjal kronik terutama disebabkan oleh defisiensi eritropoitin. Hal - hal lain

11

yang ikut berperan dalam terjadinya anemia adalah, defisiensi besi, kehilangan darah (misal, perdarahan saluran cerna, hematuri), masa hidup eritrosit yang pendek akibat terjadinya hemolisis, defisiensi asam folat, penekanan sumsum tulang oleh substansi uremik, proses inflamasi akut maupun kronik. Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin 10 % atau hematokrit 30 %, meliputi evaluasi terhadap status besi, mencari sumber perdarahan, morfologi eritrosit, kemungkinan adanya hemolisis dan lain sebagainya. Transfusi darah yang dilakukan secara tidak cermat dapat mengakibatkan kelebihan cairan tubuh, hiperkalemia dan pemburukan fungsi ginjal. d. Kontrol hiperfosfatemia: polimer kationik (Renagel), Kalsitrol Osteodistrofi renal merupakan komplikasi penyakit ginjal kronik yang sering terjadi. Penatalaksanaan osteodistrofi renal dilaksanakan dengan cara mengatasi hiperfosfatemia dan pemberian pengikat fosfat dengan tujuan menghambat absorbs fosfat di saluran cerna. Dialisis yang dilakukan pada pasien dengan gagal ginjal juga ikut berperan dalam mengatasi hiperfosfatemia. e. Koreksi asidosis metabolik dengan target HCO3 20-22 mEq/l f. Koreksi hiperkalemia Elektrolit yang harus diawasi asupannya adalah kalium dan natrium. Pembatasan kalium dilakukan, karena hiperkalemia dapat mengakibatkan aritmia jantung yang fatal. Oleh karena itu, pemberian obat-obatan yang mengandung kalium dan makanan yang tinggi kalium (seperti buah dan sayuran) harus dibatasi. Kadar kalium darah dianjurkan 3,5-5,5 mEq/lt. Pembatasan natrium dimaksudkan untuk mengendalikan hipertensi dan edema. Jumlah garam natrium yang diberikan, disesuaikan dengan tingginya tekanan darah dan derajat edema yang terjadi. g. Kontrol dislipidemia dengan target LDL,100 mg/dl dianjurkan golongan statin h. Terapi ginjal pengganti. Terapi pengganti ginjal dilakukan pada Penyakit Ginjal Kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari 15 mL/menit. Terapi pengganti tersebut dapat berupa hemodialisis, peritoneal dialysis atau transplantasi ginjal. 2.7 KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat timbul pada Penyakit Gagal Ginjal Kronik adalah Penyakit kardiovaskular, gangguan keseimbangan asam basa, cairan, dan elektrolit, osteodistrofi renal dan anemia.

12

BAB III PEMBAHASAN Pada pasien ini, diagnosis Penyakit Ginjal Kronik dapat ditegakkan dari manifestasi klinik yang ada pada penderita yaitu mual dan pusing yang merupakan tanda tanda uremia, tampak anemis dan pucat. Dari hasil pemeriksaan darah, ureum dan creatinin penderita sangat meningkat sekali dengan hasil ureum 239 mg/dl dan Creatinin 12,8 mg/dl. Pemeriksaan USG abdomen pun membantu menegakkan diagnosis pada pasien karena hasil pemeriksaan adalah batas kortek dan medulla yang tidak jelas pada ren destra dan sinistra. Dari anamnesis, kemungkinan penyebab gagal ginjal yang terjadi pada pasien disebabkan hipertensi tak terkontrol yang ada pada pasien. Hipertensi mengganggu aliran darah keginjal sehingga Laju Filtrasi Glomerulus menurun dan pada akhirnya menyebabkan gangguan ginjal yang irreversible. Seringnya mengkonsumsi obat obat pengurang rasa sakit mungkin mempercepat perburukan ginjal pada pasien. Klasifikasi atas dasar derajat penyakit dibuat atas dasar LFG yang dihitung dengan mempergunakan rumus Kockcorft-Gault sebagai berikut: LFG (ml/menit/1,73m) = (140-umur)x berat badan / 72x kreatinin plasma (mg/dl)*) *) pada perempuan dikalikan 0,85. Berdasarkan rumus diatas dan dengan memasukkan data pemeriksaan yang ada pada pasien maka didapatkan hasil LFG penderita sebesar 5,08 ml/menit/1,73m. Hasil LFG penderita ini sudah masuk kedalam Penyakit Ginjal Kronik stadium 5. 13

Treatment yang didapatkan penderita bersifat simtomatik untuk mengurangi gejala yang ada dan mengatasi beberapa komplikasi yang terjadi akibat Penyakit Gagal Ginjal Kronik itu sendiri seperti asam folat untuk anemia, ACE inhibitor untuk mengontrol hipertensi, Osteocal untuk mencegah osteodistrofi renal, allupurinol untuk mengatasi peningkatan asam urat. Jika dilihat dari hasil LFG pasien ini, terapi pangganti ginjal sudah merupakan indikasi. Terapi pengganti ginjal dilakukan pada Penyakit Ginjal Kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari 15 mL/menit. Terapi pengganti tersebut dapat berupa hemodialisis, peritoneal dialysis atau transplantasi ginjal.

BAB IV KESIMPULAN 1. Pasien tersebut menderita penyakit ginjal kronis stadium V 2. Terapi yang dianjurkan yaitu terapi pengganti ginjal berupa hemodialisis, dialysis peritoneal atau transplantasi ginjal.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Suwitra, K. 2006. Penyakit Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Hlm 581-584. 2. Brenner, B.M., Lazarus, J.M. 2000. Gagal Ginjal Kronik. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 3 Edisi 13. Jakarta : EGC. Hlm 1435-1443. 3. Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri,R., et al. 2002. Gagal ginjal Kronik. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Hlm 531-534. 4. Suhardjono, Lydia, A., Kapojos, E.J., et al. 2001. Gagal Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 3. Jakarta : FKUI. Hlm 427-434. 5. Tierney LM, et al. 2003. Gagal Ginjal Kronik. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Penyakit Dalam Buku 1. Jakarta: Salemba Medika.

15

16

Anda mungkin juga menyukai