Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan, tetumbuhan, pepohonan, hewan, semua Allah ciptakan dalam sunnah

keseimbangan & keserasian. Begitupun dengan manusia, pada diri manusia berjenis laki-laki terdapat sifat kejantanan/ketegaran dan pada manusia yang berjenis wanita terkandung sifat kelembutan/kepengasihan. Sudah menjadi sunatullah bahwa antara kedua sifat tersebut terdapat unsur tarik menarik dan kebutuhan untuk saling melengkapi. Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari dua sifat tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar-benar manusiawi maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan Islam menjadikan lembaga pernikahan sebagai sarana untuk memadu kasih sayang diantara dua jenis manusia. Dengan jalan pernikahan itu pula akan lahir keturunan secara terhormat. Maka adalah suatu hal yang wajar jika pernikahan dikatakan sebagai suatu peristiwa yang sangat diharapkan oleh mereka yang ingin menjaga kesucian fitrah. Dan bahkan Rosulullah SAW dalam sebuah hadits secara tegas memberikan ultimatum kepada ummatnya: Barang siapa telah mempunyai kemampuan menikah kemudian ia tidak menikah maka ia bukan termasuk umatku (H.R. Thabrani dan Baihaqi). B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: 1. Hal-hal apa yang dilakukan sebelum peminangan? 2. Hal-hal apa saja yang dilakukan sebelum pernikahan? C. Tujuan Adapun tujuan dari rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: 1. 2. Untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan sebelum peminangan. Untuk mengetahui hal-hal saja yang dilakukan sebelum pernikahan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Hal-Hal Yang Dilakukan Sebelum Peminangan / Khitbah 1. Pengertian Peminangan Peminangan dalam ilmu fiqih disebut khitbah artinya permintaan. Menurut istilah peminangan diartikan sebagai pernyataan atau permintaan dari seorang laki-laki kepada pihak seorang wanita untuk mengawininya baik dilakukan oleh laki-laki itu secara langsung ataupun dengan perantaraan pihak lain yang dipercayainya seusai dengan ketentuan-ketentuan agama. 2. Beberapa Perkara Penting Sebelum Pelamaran Sebelum melakukan pelamaran, seorang lelaki hendaknya

memperhatikan beberapa perkara berikut sebelum menentukan wanita mana yang hendak dia lamar. Hal ini selain berguna untuk melancarkan proses pelamaran nantinya, juga bisa mencegah terjadinya perkara-perkara yang tidak diinginkan antara kedua belah pihak. Berikut penyebutan perkaraperkara tersebut: a. Mengetahui dan melihat sang calon (perempuan). Ini bukan kewajiban, tapi disarankan agar tidak terjadi fitnah atau kasus di kemudian hari. Melihat yang dimaksudkan disini adalah melihat diri wanita yang ingin dinikahi dengan tetap berpanutan pada aturan syari. Dari Anas bin Malik, ia berkata,Mughirah bin Syubah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu rasulullah Saw. Bersabda, Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua. Lalu ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah: dishohihkan oleh Ibnu Hibban, dan

beberap hadits sejenis juga ada misalnya diriwayatkan Oleh Tirmidzi dan Imam Nasai.)

b. Sang calon tidak dalam proses dilamar laki-laki lain. Dari Abu Hurairah, Ia berkata,Rasululloh SAW

bersabda,Seorang lelaki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya (HR. Ibnu Majah). Dari Ibnu Umar Radliyallaahu anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dari Uqbah bin Amir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Orang mumin itu adalah saudaranya orang mumin, maka tidak halallah kalau ia menjual atas jualan saudaranya itu dan jangan pula melamar atas lamaran saudaranya, sehingga saudaranya ini meninggalkan lamarannya -misalnya mengurungkan atau memberinya izin-. (Riwayat Muslim). Sebagian ulama membolehkan seseorang melamar wanita yang telah dilamar jika pelamar pertama adalah orang fasik atau ahli bidah, wallahu Alam. Oleh karenanya, ada baiknya pihak laki-laki mencari dan mengumpulkan informasi mengenai hal ini. Jika sang calon ternyata sedang pacaran dengan laki-laki lain, bagaimana? pacaran BUKAN lamaran, tidak ada keterikatan secara hukum (agama), maka sah-sah saja jika ada laki-laki lain yang melamar. Malah lebih baik sang perempuan memprioritaskan dan menyetujui lamaran laki-laki lain, daripada pacaran sekian lama tapi tidak jelas arahnya. Tentu saja, sang perempuan juga mesti mengumpulkan informasi mengenai laki-laki yang melamarnya.
3

c.

Sang perempuan boleh menolak/memilih yang melamarnya. Sang perempuan mempunyai hak untuk memilih

(menyetujui/menolak) laki-laki yang melamarnya. Hendaknya pada saat melamar, sang perempuan ditanya dan ditunggu jawabannya. Dengan demikian, tidak terjadi pemaksaan dalam proses lamaran. Mari simak hadits berikut Rasulullah SAW bersabda, Janda lebih berhak atas dirinya dibanding walinya. Sedangkan gadis dimintai izin tentang urusan dirinya. Izinnya adalah diamnya. (Mutaffaqun alaih). Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai persetujuan. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana tanda setujunya? Rasulullah saw. menjawab: Bila ia diam. (Shahih Muslim) d. Tidak melamar perempuan yang sedang masa iddah. Yang dimaksud masa iddah adalah waktu yang dimiliki seorang perempuan yang ditinggal mati atau dicerai oleh suaminya. Sedangkan yang dilarang melamar di sini adalah melamar secara terus terang. Sementara jika memberi isyarat, diperbolehkan. Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebutnyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah

kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah (2):235) e. Melihat Wanita yang Dilamar Melihat wanita yang dipinang dianjurkan oleh agama. Tujuannya adalah agar mengetahui keadaan wanita yang dipinang agar tidak ada alas an untuk mencerai istri dengan alasan tersebut (misalnya cacat dls). Jumhur ulama hanya membolehkan melihat muka dan telapak tangan. Daud Zhahiri membolehkan seluruh badan, sedang hadits sendiri tidak menerangkan dengan tegas apa yang harus dilihat. Waktu melihat harus ditemani dengan oleh mahramnya. 3. Hendaknya pihak pria maupun wanita memperhatikan hal-hal berikut: a) Kesholehan Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang bagus agamanya. Karenanya, hendaknya dia memilih wanita yang taat kepada Allah dan bisa menjaga dirinya dan harta suaminya baik ketika suaminya hadir maupun tidak. Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda tatkala beliau ditanya tentang wanita yang paling baik: Wanita yang taat jika disuruh, menyenangkan jika dilihat, serta yang menjaga dirinya dan harta suaminya (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad). Karenanya pula dilarang menikah dengan orang yang yang tidak menjaga kehormatannya, yang jika pasangannya tidak ada di sisinya dia tidak bisa menjaga kehormatannya, semacam pezina (lelaki dan wanita) atau wanita yang memiliki PIL (pria idaman lain) dan sebaliknya.

Abdullah bin Amr bin Al-Ash -radhiallahu anhuma- berkata: Sesungguhnya Abu Martsad Al-Ghanawy -radhiallahu anhu- datang menemui Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- meminta izin kepada beliau untuk menikahi seorang wanita pezina yang dulunya wanita itu adalah temannya saat jahiliyah yang bernama Anaq. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- diam lalu turunlah firman Allah Taala-, ["Pezina wanita, tidak ada yang boleh menikahinya kecuali pezina laki-laki atau musyrik laki-laki" QS. An-Nur ayat 3]. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- memanggilnya lalu membacakan ayat itu kepadanya dan beliau bersabda, ["Jangan kamu nikahi dia"]. Diriwayatkan oleh Imam Empat kecuali Ibnu Majah dengan sanad yang hasan. b) Subur lagi penyayang, Dari hadits Maqil bin Yasar -radhiallahu anhu-, beliau berkata:Pernah datang seorang lelaki kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- lalu berkata, Saya menyenangi seorang wanita yang memiliki keturunan yang baik lagi cantik hanya saja dia tidak melahirkan (mandul), apakah saya boleh menikahinya?, beliau menjawab, ["tidak boleh"]. Kemudian orang ini datang untuk kedua kalinya kepada beliau (menanyakan soal yang sama) maka beliau melarangnya. Kemudian dia datang untuk ketiga kalinya, maka beliau bersabda: ["Nikahilah wanitawanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya saya berbangga dengan banyaknya jumlah kalian pada Hari Kiamat"] HR. Abu Daud dan An-Nasa`iy. Anas Ibnu Malik Radliallaahu anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat. Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

c) Hendaknya memilih wanita yang masih perawan. Hal ini berdasarkan Jabir bin Abdillah -radhiallahu anhubahwasanya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bertanya kepadanya, Wanita apa yang kamu nikahi?, maka dia menjawab, Saya menikahi seorang janda, maka Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda: Tidakkah kamu menikahi wanita yang perawan?! yang kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu?! HR. Al-Bukhary dan Muslim. Dari Anas Ibnu Malik Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku. B. Hal-Hal Yang Dilakukan Sebelum Pernikahan Nikah adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat penting, suatu mitsaqan ghalizan (perjanjian yang sangat berat). Banyak konsekwensi yang harus dijalani pasangan suami-isteri dalam berumah tangga. Terutama bagi seorang muslimah, salah satu ujian dalam kehidupan diri seorang muslimah adalah bernama pernikahan. Karena salah satu syarat yang dapat menghantarkan seorang isteri masuk surga adalah mendapatkan ridho suami. Oleh sebab itu seorang muslimah harus mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga

pernikahan. Hal tersebut antara lain : a) Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman) Dalam tiap diri muslimah, selalu terdapat keinginan, bahwa suatu hari nanti akan dipinang oleh seorang lelaki sholih, yang taat beribadah dan dapat diharapkan menjadi qowwam/pemimpin dalam mengarungi

kehidupan di dunia, sebagai bekal dalam menuju akhirat. Tetapi, bila kita ingat firman Allah dalam Alquran bahwa wanita yang keji, adalah untuk

laki-laki yang keji, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik. (QS An-Nuur: 26). Bila dalam diri seorang muslimah memiliki keinginan untuk mendapatkan seorang suami yang sholih, maka harus diupayakan agar dirinya menjadi sholihah terlebih dahulu. Untuk menjadikan diri seorang muslimah sholihah, maka bekalilah diri dengan ilmu-ilmu agama, hiasilah dengan akhlaq islami, tujuan nya bukan hanya semata untuk mencari jodoh, tetapi lebih kepada untuk beribadah mendapatkan ridhoNya. Dan media pernikahan adalah sebagai salah satu sarana untuk beribadah pula. b) Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan) Pernikahan sebagai ajang untuk menambah ibadah & pahala : meningkatkan pahala dari Allah, terutama dalam Shalat Dua rokaat dari orang yang telah menikah lebih baik daripada delapan puluh dua rokaatnya orang yang bujang (HR. Tamam). Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan dienullah. Adapun dengan lahirnya anak yang sholih/sholihah maka akan menjadi penyelamat bagi kedua orang tuanya. Pernikahan sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dan ladang dakwah. Dengan menikah, maka akan banyak diperoleh pelajaran-pelajaran & hal-hal yang baru. Selain itu pernikahan juga menjadi salah satu sarana dalam berdakwah, baik dakwah ke keluarga, maupun ke masyarakat. c) Persiapan kepribadian Penerimaan adanya seorang pemimpin. Seorang muslimah harus faham dan sadar betul bila menikah nanti akan ada seseorang yang baru kita kenal, tetapi langsung menempati posisi sebagai seorang

qowwam/pemimpin kita yang senantiasa harus kita hormati & taati. Disinilah nanti salah satu ujian pernikahan itu. Sebagai muslimah yang

sudah terbiasa mandiri, maka pemahaman konsep kepemimpinan yang baik sesuai dengan syariat Islam akan menjadi modal dalam berinteraksi dengan suami. Belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami kita, sesungguhnya adalah orang asing bagi kita. Latar belakang, suku, kebiasaan semuanya sangat jauh berbeda dengan kita menjadi pemicu timbulnya perbedaan. Dan bila perbedaan tersebut tidak di atur dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul persoalan dalam pernikahan. Untuk itu harus ada persiapan jiwa yang besar dalam menerima & berusaha mengenali suami kita. d) Persiapan Fisik Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun isteri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi baik, atau adakah penyakit tertentu yang diderita yang dapat berpengaruh pada kesehatan janin yang kelak dikandung. Bila ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat e) Persiapan Material Islam tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka diutamakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi. Dan bagi fihak wanita, adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nimat Allah? (QS. 16:72) Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang

yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32). f) Persiapan Sosial Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,Q.S. AnNissa: 36). Adapun persiapan-persiapan menjelang pernikahan (A hingga F) yang tersebut di atas itu tidak dapat dengan begitu saja kita raih. Melainkan perlu waktu dan proses belajar untuk mengkajinya. Untuk itu maka saat kita kini masih memiliki banyak waktu, belum terikat oleh kesibukan rumah tangga, maka upayakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya guna persiapan menghadapi rumah tangga kelak.

Permasalahan Seputar Masalah Persiapan Nikah a. Sudah siap, tetapi jodoh tidak kunjung datang Rahasia jodoh adalah hanya milik Allah, tidak ada satu orangpun yang dapat meramalkan bila jodohnya datang. Sikap husnuzhon amat diutamakan dalam fase menunggu ini. Sembari terus berikhtiar dengan cara meminta bantuan orang-orang yang terpercaya dan berdoa memohon pertolongan Allah. Juga upayakan senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Hindari diri dari berangan-angan, isilah waktu oleh kegiatan-kegiatan positif . b. Belum siap, tetapi sudah datang tawaran Introspeksi diri, apakah yang membuat diri belum siap ?. Cari penyebab ketidak siapan itu, tingkatkan

10

kepercayaan

diri

dan

fikirkan

solusinya.

Sangat

baik

bila

mengkomunikasikan masalah ini dengan orang-orang yang dipercaya, sehingga diharapkan dapat membantu proses penyiapan diri. Sembari terus banyak mengkaji urgensi tentang pernikahan berikut hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Hal-hal yang di lakukan sebelum proses peminangan/khitbah, diantaranya: a) Mengetahui dan melihat sang calon (perempuan). b) Sang calon tidak dalam proses dilamar laki-laki lain. c) Sang perempuan boleh menolak/memilih yang melamarnya. d) Tidak melamar perempuan yang sedang masa iddah. e) Melihat Wanita yang Dilamar. 2. Hal-hal yang dilakukan sebelum proses pernikahan, diantaranya: a) Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman) b) Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan) c) Persiapan kepribadian d) Persiapan Fisik e) Persiapan Material f) Persiapan Sosial

B. Saran Penulis berharap bahwa makalah ini dapat berguna bagi para pembaca, khususnya para mahasiswa untuk lebih memahami hal-hal yang dilakukan sebelum peminangan/khitbah dan sebelum pernikahan, sehingga ketika mereka di hadapkan pada posisi sebagai calon mempelai maka mereka telah mengetahui dengan baik hokum dan hal-hal apa saja yang harus mereka lakukan, tentunya dalam hal ini sesuai dengan

perintah/ajaran agama Islam.

12

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat diharapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.

13

DAFTAR PUSTAKA

Edukasi.

2012.

Lamaran

atau

khitbah

dalam

pandangan

Islam.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/17/lamaran-atau-khitbah-dalampandangan-islam-517402.html. Akses 03 April 2013.

Pramana

Asmadiredja.

2012.

Menjelang

dan

menuju

pernikahan.

http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/menjelang-dan-menujupernikahan-apa.html . Akses 03 April 2013. https://m.facebook.com/note.php?note_id=264946240206854&_mn_=10&_rdr. Akses 03 April 2013.

http://www.haryobayu.web.id/?aksi=detail_blog&nomor=336. Akses 03 April 2013.

14