Anda di halaman 1dari 21

LBM 3 BINGUNG MEMILIH METODE KONTRASEPSI SGD 3 STEP 1 1.

Kontrasepsi : Suatu metode yang digunakan untuk mencegah petemuan antara sperma dan ovum (konsepsi)

STEP 2 1. Apa hubungan kontrasepsi dengan FAM? 2. Kontrasepsi yang sesuai untuk Pasien A? Pilihan yang tepat? 3. Macam-macam metode kontrasepsi? 4. Apa hubungan riwayat pemakaian amitriptilin dengan pemilihan alat kontrasepsi? 5. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemilihan kontrasepsi? 6. Fisiologi dari hormon-hormon dari proses menyusui? 7. Efek samping obat amitriptilin jika digunakan berkepanjangan? 8. Apa hubungan DM dan Hipertensi dalam pemilihan kontrasepsi? 9. Apa hubungan rokok dengan pemilihan kontrasepsi? 10. Efek samping kontrasepsi? 11. Keuntungan dan kerugian masing-masing jenis alat kontrasepsi? STEP 3 1. Apa hubungan kontrasepsi dengan FAM? FAM tumor payudara paparan estrogen terlalu besar Kontrasepsi hormonal dan non hormonal, ini memakai hormonal (estrogen) meningkatkan FAM menjadi ganas atau timbul lagi FAM sensitive terhadap hormone estrogen? Boleh ga pake kontrasepsi yg hanya mengandung progesterone? Boleh. Memakai kontrasepsi yang mengandung progesterone saja. Progesteron antagonis reseptor estrogen, fungsi melawan estrogen yg responsive terhadap Ca mamae

2. Apa hubungan DM dan Hipertensi dalam pemilihan kontrasepsi? Kalo memakai KB hormonal (mengandung turunan steroid) memperburuk kondisi hipertensi dan DM DM khawatir insulinnya Memakai KB hormonal: dapat meningkatkan gula darah, tapi tidak memperburuk keadaannya. (menurut penelitian) Kontrasepsi hormonal dalam hubungannya dengan proliferasi pembuluh darah memperburuk komplikasi DM dan meningkatkan tekanan darah? 3. Apa hubungan rokok dengan pemilihan kontrasepsi? Pengaruhnya ke pembuluh darah Rokok menyebabkan pembuluh darah kaku (kandungan yg menyebabkan apa?????) terjadi hipertensi Hormonal bahan dasar lemak terlalu banyak didarah plak di PD berpengaruh ke DM dan hipertensi menyumbat PD, ditambah rokok tambah kaku dan tdk bisa dilatasi memperburuk keadaan Rokok radikal bebas disfungsi endotel kekakuan pembuluh darah!! 4. Macam-macam metode kontrasepsi? Kontrasepsi hormonal Oral kombinasi (sintetik estrogen dan progestin) Oral progestin Suntik progestin Implant Diafragma dan servical cap : kontrasepsi penghalang yg dimasukkan ke vagina mengahalangi sperma masuk ke vagina, diletakkan di posterior simfisis pubis sehingga servix tertutup semua Spermisida Krim Vagina supositoria Spons : dimasukkan sebelum melakukan hubungan seks : mengahncurkan membrane sel sperma dan menurunkan motilitas

IUD

: dimasukkan ke dalam rahim, dengan cara dimasukkan ke rongga rahim

Rencana keluarga alami Penarikan penis sebelum ejakulasi Amenorrhea menyusui: memberikan ASI ke anaknya sampai 6 bulan penuh, bisa digunkan KB jika menyusuinya secara penuh, efektif 8kali perhari, Ibu belum haid, umur bayi <6bulan Kontrasepsi darurat : berisi hormone estrogen dosis tinggi diberikan dalam waktu 72jam setelah senggama, mencegah ovulasi, dalam pil Sterilisasi

Berdasarkan cara kerja Pantang berkala: menghitung tanggalan masa subur, manual Barier: Ex: Kondom, diafragma IUD: Pakai T Hormonal Kontrap: Langsung tubektomi, vasektomi Berdasarkan teknik Sederhana: Kondom Tidak sederhana: IUD Berdasarkan kehandalannya Kurang handal, kegagalan >50% kondom Handal, kegagalan <10% IUD, hormonal 5. Apa hubungan riwayat pemakaian amitriptilin dengan pemilihan alat kontrasepsi? Amitriptilin (anti depresan) Kontrasepsi dengan depresi 6. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemilihan kontrasepsi? 3 faktor yaitu:

Pasangan dari umur dipertimbangakan, gaya hidup (pend. Tinggi lebih selektif), frekuensi senggama, jumlah keluarga yg diinginkan, pengalaman kontrasepsi yg telah digunakan sebelumnya Umur istri: 3 fase: Menunda kehamilan < 20 tahun: pil, IUD, implant dan suntik Menjarangkan kehamilan: 20-35 tahun: suntik, pil, implant, IUD Mengakhiri kehamilan > 35 tahun: steril, IUD, im[plant, suntik, pil

Kesehatan: status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, px. Fisik dang panggul Metode kontrasepsi Perhatikan alat kontrasepsi, efektifitasnya, efek sampingnya, biaya 7. Fisiologi dari hormon-hormon dari proses menyusui? Prolaktin keluar saat estrogen dan progesterone turun, terjadi ada rangsangan(estrogen, stress, hisapan bayi) menyebabkan keluarkan hormone prolaktin hipofisis anterior prolaktin memproduksi susu respon lebih cepat oksitosin vasokontriksi keluar Payudara penuh rangsangan ASI keluar bayi melepas hisapan prolaktin keluar Kalau menyusui harus di kedua payudara, jangan sebelah aja ya, soalnya nanti besar sebelah. Hamil prolaktin dari plasenta Asi kenapa belum keluar? Karena estrogen dan progesterone masih tinggi melahirkan 2-3 hari progesterone dan estrogen menurun hubungan dg kontrasepsi prolaktin meningkat tapi dikasih estrogen lagi prolaktinnya jadi turun Hubungan prolaktin, progesterone dan estrogen!! 8. Efek samping obat amitriptilin jika digunakan berkepanjangan? Masuk ke nomor 5 9. Efek samping kontrasepsi? Salah satunya hipertensi, disfungsi endotel, batu empedu 10. Kontrasepsi yang sesuai untuk Pasien A dan B? Pilihan yang tepat?

Pasien A: P2 A0 35 tahun, riwayat pengguna amitriptilin, post partum 6 bulan, hepatitis kronis, DM, hipertensi, perokok KB yang di rekomendasikan? Metode keluarga berencana alamiah: macam2nya: Metode ovulasi billing metode lender servix tanda2nya mengetahui subur atau tidak: Subur lendir basah, jernih, licin, mulur Tidak subur kental, putih, keruh, lengket Metode pantang berkala: menghitung tanggalan masa subur, manual Metode suhu basal sudah tidak dianjurkan lagi! Hormonal tidak! karena amitriptilin (antidepresan menurunkan serotonin, KB progestin only (suntik, pil)(progesterone dan estrogen yang tinggi) menurunkan serotonin/menghambat reseptor serotonin/ mengurangi enzim otak yg mengurangi serotonin serotonin turun depresi) DIELIMINASI Implant progesterone dan estrogen DIELIMINASI Yang dianjurkan NON HORMONAL: kalender, IUD, coitus interuptus, kondom, diafragma, spons, spermasid, sterilisasi Pasien B: P4 A0 35 tahun, masih menyusui, riwayat operasi FAM KB yang direkomendasikan? Sterilisasi!! 11. Keuntungan dan kerugian masing-masing jenis alat kontrasepsi?

STEP 4 MAPPING STEP 5 LEARNING ISSUE STEP 6 BELAJAR MANDIRI

STEP 7 1. Apa hubungan kontrasepsi dengan FAM?

Penggunaan kontrasepsi oral terutama kontrasepsi oral kombinasi diduga dapat menyebabkan resiko kanker payudara. Hal ini disebabkan karena estrogen didalam tubuh berlebihan yang berasal dari eksogen, dimana bila estrogen berlebihan didalam tubuh maka merupakan faktor resiko terhadap insiden kanker payudara. Mekanisme klasik estrogen akan berpengaruh terhadap laju lintasan mitosis dan apoptosis serta mengejawantah menjadi risiko kanker payudara dengan memengaruhi pertumbuhan jaringan epitelial. Laju proliferasisel yang sangat cepat akan membuat sel menjadi rentan terhadap kesalahan genetika pada proses replikasi DNA oleh senyawa spesifik oksigen reaktif yang teraktivasi oleh metabolitestrogen. (Chen, 2010). Jalur Reseptor Estrogen memainkan peran penting dalam perkembangan kanker payudara. Keikutsertaan metabolit estrogen genotoksik dan reseptor estrogen diperantaraisignaling genomik dan non-genomik yang mempengaruhi proliferasi sel dan apoptosis pada jaringan payudara. (Ningrum, 2009) Mekanisme jalur non genomik pada reseptor estrogen melibatkanjalur PI3K dan Ras, dimana akan mengakibatkan posporilasi sehingga mempengaruhi proses transkripsi gen. Bila estrogen yang diproduksi berlebihan maka akan menimbulkan efek proliferasi yang berlebihan pula. Sedangkan mekanisme jalur genomik estrogen yang ada dalam tubuh di terima oleh reseptor estrogen yang berada pada nukleus sehingga mempengaruhi proses transkripsi sel. Perluasan pada kedua jalur ini memberi kontribusi pada karsinogenesis diperantarai eksogen dan caranya, dimana polimorfisme genetik dan faktor lingkungan memodifikasi efek jalur-jalur ini membutuhkan eksplorasi ke depannya. (Ningrum, 2009) Selain penggunaan kontrasepsi oral kombinasi ada faktor lain yang diduga berpengaruh pada kejadian kanker payudara yaitu FGFR2. Dimana FGFR2 adalah reseptor tirosin kinase yang terlibat dalam sejumlah sinyal transduksi sel yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sel dan diferensiasi sel (Eswarakumar VP,2005). FGFR2 penting dalam pengembangan sejumlah jaringan termasuk payudara dan ginjal. FGFR2 diduga berhubungan dengan kanker payudara Berdasarkan hasil studi diduga bahwa ada keterkaitan antara gen FGFR2 dan kejadian kanker payudara terutama yang disertai dengan reseptor estrogen positif dan progesteron positif. Penelitian ini melibatkan keterkaitan SNP pada intron 2 dari gen, yang mana merupakan tempat faktor transkripsi mengikat estrogen. Sumber: Hubungan Kontrasepsi Pil dengan Tumor/Kanker Payudara di Indonesia Anna Maria Sirait, Ratih Oemiati, Lely Indrawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Kesehatan RI

2. Apa hubungan DM dan Hipertensi dalam pemilihan kontrasepsi? Estrogen mempengaruhi sistem renin Aldosteron-Angiotensin sehingga terjadi perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit. digilib.unimus.ac.id/download.php?id=462

3. Apa hubungan rokok dengan pemilihan kontrasepsi?

Gas CO Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3 6%, gas ini dapat di hisap oleh siapa saja. Oleh orang yang merokok atau orang yang terdekat dengan si perokok, atau orang yang berada dalam satu ruangan. Seorang yang merokok hanya akan menghisap 1/3 bagian saja, yaitu arus yang tengah atau mid-stream, sedangkan arus pinggir (side stream) akan tetap berada diluar. Sesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia semburkan lagi keluar. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding oksigen, sehingga setiap ada asap rokok disamping kadar oksigen udara yang sudah berkurang, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen, oleh karena yang diangkut adalah CO dan bukan O2 (oksigen). Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau spasme. Bila proses spasme berlangsung lama dan terus menerus maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis (penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi dimana-mana. Di otak, di jantung, di paru, di ginjal, di kaki, di saluran peranakan, di ari-ari pada wanita hamil. Dapat dipahami penyempitan itu dapat berakibat sumbatan di otak, penyempitan pembuluh darah jantung, penyakit paru menahun, betis kaki menjadi sakit malahan sampai pembusukan kering (gangrene), kemandulan, keguguran atau kematian bayi di dalam kandungan, atau bayi lahir prematur atau cacat. Pokoknya setiap organ yang ada pembuluh darahnya akan diserang. NIKOTIN Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara 0.5 3 ng, dan semuanya diserap, sehingga di dalam cairan darah atau plasma antara 40 50 ng/ml. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormon kathekolamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung tidak diberikan kesempatan istirahat dan tekanan darah akan semakin meninggi, berakibat timbulnya hipertensi. Efek lain merangsang berkelompoknya trombosit (sel pembekuan darah), trombosit akan

menggumpal dan akhirnya akan menyumbat pembuluh darah yang sudah sempit akibat asap yang mengandung CO yang berasal dari rokok. Dari gambaran diatas baik CO maupun nikotin berpacu menyempitkan pembuluh darah dan menyumbatnya sekaligus. Untuk itu tidak ada kata lain untuk kita kecuali Stop Merokok. Pada seorang yang merokok, asap rokok akan merusak dinding pembuluh darah. Kemudian nikotin yang terkandung dalam asap rokok akan merangsang hormon adrenalin yang akibatnya akan mengubah metabolisme lemak dimana kadar HDL (lemak baik) akan menurun. Adrenalin juga akan menyebabkan perangsangan kerja jantung dan menyempitkan pembuluh darah (spasme). Disamping itu adrenalin akan menyebabkan terjadinya pengelompokan trombosit. Sehingga semua proses penyempitan akan terjadi. Jadi asap rokok yang tampaknya sederhana itu dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Merokok juga dapat menyebabkan terjadinya disfungsi endotel, penumpukan radikal bebas, meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan kadar LDL (lemah jahat), meningkatkan molekul adhesi dan leukosit, menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi otot polos dalam pembuluh koroner, mempercepat proses atherosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). Semua hal tersebut dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner. Demikian pula faktor stres yang akhirnya melalui jalur hormon adrenalin, menyebabkan proses penyakit jantung koroner terjadi sebagaimana asap rokok tadi. Seseorang yang stres kemudian mengambil pelarian dengan jalan merokok sebenarnya sama saja dengan melipat gandakan proses penyakit jantung koroner pada dirinya. Sekitar 90% penderita arteritis obliteran pada tingkat III dan IV umumnya akan menderita pula penyakit jantung. Oleh karena proses penyempitan arteri koroner yang mendarahi otot jantung, maka ketidak cukupan antara kebutuhan dengan suplai timbul kekurangan darah (iskemia). Bila melakukan aktifitas fisik atau stres kekurangan aliran meningkat sehingga menimbulkan sakit dada (angina pektoris). Penyempitan yang berat atau penyumbatan dari satu atau lebih arteri koroner berakhir dengan

kematian jaringan (infark miokard, serangan jantung). Komplikasi dari infark miokard termasuk aritmia jantung (irama jantung tidak teratur) dan atau jantung berhenti mendadak yang dapat menyebabkan kematin. Iskemia yang berat dapat menyebabkan otot jantung kehilangan kemampuannya untuk memompa (gagal jantung) sehingga terjadi pengumpulan cairan di jaringan tepi (bengkak/edema kaki) maupun penimbunan cairan di paru (edema paru). Orang yang merokok lebih dari 20 batang rokok perhari memiliki risiko 6 kali lipat terkena infark miokard dibandingkan dengan bukan perokok. Penyakit Kardiovaskuler merupakan penyebab terdepan dari kematian di negara-negara industri, yaitu sekitar 30% dari semua kematian karena penyakit jantung berkaiatan dengan akibat merokok. WHO melaporkan dari 11 juta kematian per tahun di negara industri maju, lebih dari setengahnay (6 juta) disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah dimana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta adalah stroke. Berdasarkan survey Depkes RI terdapat peningkatan prosentase kematian akibat penyakit jantung dari 9,7% (peringkat 3) menjadi 16 % (peringkat 1). Merokok juga terbukti merupakan faktor resiko terbesar untuk kejadian mati mendadak. Resiko ini meningkat 2-4 kali pada perokok dibanding non perokok. Resiko ini semakin meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah rokok yang dihisap per hari.

Sumber : Ambrose, Jhon. The pathophysiology of cigarette smoking and cardiovascular disease. J. Am. Coll. Cardiol. Lilly, Leonard. Atherosclerosis : Pathophysiology of Heart Disease. Kusuma, Dede. Rokok & Kesehatan Jantung. Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

4. Macam-macam metode kontrasepsi? diberikan sekali per bulan mengandung Medroxyprogesterone asetat 25 mg dan 5 mg estradiol cypionate. Suntikan diberikan secara intramuskular setiap 28 hari. Pola pendarahan dan kemanjuran sebanding dengan penggunaan pil oral kombinasi. Pendarahan episodik dapat diantisipasi 18-22 hari setelah penyuntikan dan yang disebabkan oleh penurunan konsentrasi estrogen sebanyak 50 pg / ml

atau kurang. Sekitar 70% perempuan mengalami pendarahan satu episode per bulan, dengan hanya 4% yang mengalami amenorea lebih dari tiga siklus pengobatan.

Efek Samping Efek Samping Minor Gabungan kontrasepsi hormonal mempengaruhi hampir setiap sistem dalam tubuh. Kontrasepsi steroid dimetabolisme oleh hati dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lipid, plasma protein, asam amino, vitamin dan faktor pembekuan. Banyak efek samping yang dilaporkan, khususnya sakit kepala, penambahan berat badan dan kehilangan libido, adalah umum di kalangan wanita tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Mereka mungkin berkaitan langsung dengan kontrasepsi steroid termasuk retensi cairan, mual dan muntah, chloasma, mastalgia dan pembesaran payudara. Semua kecuali chloasma (yang semakin buruk dengan bertambahnya waktu) meningkat dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Dosis estrogen yang berbeda atau jenis progestogen atau cara pemberian yang berbeda dapat membantu jika waktu saja tidak dapat memecahkan masalah. Untuk wanita penggunan pil dengan keluhan mual yang persisten, menjadi indikasi pemberian patch. Efek samping (nyata atau dirasakan) sering mengakibatkan penghentian penggunaan; 73% wanita Inggris pada semua umur mengeluhkan terjadinya penambahan berat badan sebagai suatu kelemahan dari penggunaan pil. Efek Samping Serius Penyakit Kardiovaskuler Telah lama diketahui bahwa risiko terjadinya emboli deep-venous thrombosisandpulmonary meningkat pada wanita yang menggunakan pil oral kombinasi. Ini berhubungan dengan dosis estrogen, dan jumlahnya secara substansial telah diturunkan dengan formulasi yang mengandung dosis rendah estradiol ethinyl yaitu 20-35 g. Bahkan dengan risiko yang meningkat, kejadian dengan menggunakan pil oral kombinasi hanya 3-4 per 10.000 perempuan per tahun. Selain itu, risikonya lebih rendah dari taksiran kehamilan 5-6 per 10.000 wanita per tahun. Risiko terjadinya tromboemboli berkurang dengan cepat ketika pil oral kombinasi dihentikan. Mereka yang paling berisiko untuk terjadinya trombosis vena dan emboli ialah wanita dengan defisiensi protein C atau S. Faktor klinis lain yang meningkatkan risiko trombosis vena dan emboli dengan menggunakan pil oral kombinasi adalah hipertensi, obesitas, diabetes, merokok, dan gaya hidup kurang gerak. Penggunaan kontrasepsi selama sebulan sebelum dilakukannya operasi besar meningkatkan dua kali lipat risiko tromboemboli pasca operasi . menyeimbangkan risiko tromboemboli dengan wanita

dengan kehamilan yang tidak diinginkan selama 4 sampai 6 minggu diperlukan untuk membalikkan efek trombogenik dari pil oral kombinasi sebelum operasi. Menurut World Health Organization Collaborative Study, peningkatan stroke iskemik dan hemoragik pada wanita perokok yang lebih muda dari 35 tahun adalah sekitar 10 dan 25 peristiwa per 1 juta wanita per tahun, masing-masing. Beberapa studi telah menyimpulkan bahwa penggunaan pil oral kombinasi pada wanita yang sehat sehat, wanita tidak merokok tidak berhubungan dengan peningkatan risiko stroke . Sebaliknya, wanita yang memiliki hipertensi, merokok, atau sakit kepala migrain dengan aura visual dan menggunakan kontrasepsi oral memiliki peningkatan risiko stroke. Karena risiko stroke adalah mutlak rendah, tetapi American College of Obstetricians and Gynecologists telah menyimpulkan bahwa pil oral kombinasi dapat dipertimbangkan untuk wanita dengan migren yang tidak memiliki tanda-tanda neurologis fokal jika mereka dinyatakan sehat, wanita muda bukan perokok dengan tekanan darah normal kurang dari 35 tahun. Pada meta-analisis baru-baru ini dari 17 penelitian observasional migrain dengan kualitas yang baik dihubungkan dengan resiko yang relatif dari stroke ialah 2,16 (CI 95%: 1,892,48) dan pengguna kontrasepsi oral mengalami peningkatan delapan kali lipat dalam risiko stroke bila dibandingkan dengan bukan pengguna. Banyak orang salah mengartikan sakit kepala mereka sebagai migrain dan oleh karena itu adalah penting untuk mencari tahu riwayat pasien sebelum menolak untuk menuliskan resep pil oral kombinasi bagi wanita dengan riwayat migrain. Penggunaan pil oral kombinasi meningkatkan resiko dari stroke iskemik yang berlipat ganda, namun terjadinya risiko stroke perdarahan tetap tidak berubah. Merokok dan hipertensi meningkatkan risiko stroke tiga sampai sepuluh kali. Namun, stroke juga jarang terjadi pada wanita usia reproduksi. Neoplasia Ganas Pil oral kombinasi dapat mengurangi risiko beberapa kanker dan dapat juga meningkatkan risiko beberapa kanker lainnya pula. Sebagian besar data yang didapat berhubungan dengan penggunaan pil oral kombinasi dengan dosis tinggi estrogen dan progestin yang tinggi, namun penelitian menunjukkan bahwa sediaan dosis yang lebih rendah juga cenderung memiliki efek yang sama pada risiko kanker. Kanker Payudara Analisis dari 54 studi menemukan terjadinya peningkatan risiko kanker payudara yang kecil (resiko relatif = 1,24). Risiko kelebihan tersebut terjadi pada wanita dengan penyakit lokal, dan terdapat penurunan nilai pada penyakit metastatik. Pengamatan bahwa durasi penggunaan pil oral kombinasi tidak meningkatkan risiko kanker payudara menyangkal berpendapat sebelumnya. Risiko kanker payudara menghilang setelah 10 tahun penghentian penggunaan pil. Dengan demikian, wanita yang menggunakan pil dari usia 15 sampai usia 35 tahun memiliki risiko kanker payudara yang sama pada usia 50 sebagai wanita sebanding dengan wanita yang tidak pernah menggunakan pil oral kombinasi. Karena insiden kanker payudara masih rendah pada usia saat menggunakan pil oral kombinasi adalah hal yang umum, sehingga efek yang kecil

akan mempengaruhi jumlah wanita yang relatif kecil. Misalnya, di antara wanita yang berhenti menggunakan pil oral kombinasi pada usia 25 tahun, risiko kumulatif dari usia 25 sampai 34 tahun diperkirakan didiagnosis kanker yaitu 1 per 10.000 wanita. Pada wanita yang menghentikan penggunaan pil oral kombinasi pada usia 40, ketika tingkat insidensi lebih tinggi, diperkirakan akan terjadi 19 kasus kanker yang didiagnosis pada usia 40 sampai 49 tahun. Kanker Serviks Data risiko kanker serviks pada pengguna pil juga sulit diinterpretasikan karena metode penghalang memberikan perlindungan dan setiap hubungan yang diidentifikasi dalam studi epidemiologi berhubungan juga dengan hasil penyesuaian perilaku seksual yang buruk. 10 studi kasus meta-analisis baru-baru ini, wanita infeksi yang persisten dari infeksi virus papiloma manusia (HPV) yang menggunakan kontrasepsi hormonal (terutama kombinasi) lebih dari 5 tahun memiliki risiko relatif kanker serviks yang meningkat dari 2.8. Penggunaan kontrasepsi hormonal selama lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko relatif sampai 4.0. Jadi, meskipun adanya kekhawatiran bahwa perilaku seksual yang buruk di kalangan wanita yang menggunakan metode kontrasepsi berbeda mungkin menjadi pengganggu, bukti yang terjadi dijumlahkan dan didapatkan adanya asosiasi yang berarti antara penggunaan pil oral kontrasepsi dengan kanker serviks. Bukti saat ini menunjukkan peningkatan risiko adenokarsinoma antara pengguna jangka panjang tetapi ini adalah tumor yang langka. Kanker Ovarium, Endometrium Dan Colon Terdapat bukti yang substansial menggunakan pil oral kombinasi dapat melindungi terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium. Terdapat juga pengurangan 50% risiko kanker ovarium epitelial setelah 5 tahun penggunaan pil oral kombinasi. Efek perlindungan berlangsung selama setidaknya 10 tahun setelah penggunaan pil dihentikan. Efeknya mungkin berhubungan dengan pengurangan jumlah ovulasi, dan oleh karena itu terdapat kasus ruptur kapsul ovarium. Penggunaan pil oral kombinasi juga mengurangi risiko kanker endometrium. Efeknya sangat berhubungan dengan lamanya penggunaan (pengurangan resiko 20% setelah 1 tahun, 50% setelah 4 tahun) dan tetap berlanjut selama 15 tahun setelah berhenti minum pil KB. Terdapat juga beberapa bukti yang menyatakan bahwa pil oral kombinasi mungkin juga memberi perlindungan terhadap kanker colon. Infeksi Ada data yang bertentangan mengenai peran pil oral kombinasi dengan kandidiasis vulvovaginal yang episodik, walaupun laporannya menyatakan jumlahnya lebih rendah dari vaginosis bakteri. Sebagian besar tetapi tidak semua studi menunjukkan peningkatan laju infeksi Chlamydia trachomatis pada pengguna pil oral kombinasi, tetapi tidak dengan Neisseria gonorrhoeae. pil oral kombinasi tidak menurunkan kejadian penyakit radang panggul (PID) tetapi memodifikasi keparahan klinis. Beberapa

tetapi tidak semua studi menunjukkan bahwa pil oral kombinasi meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus human immunodeficiency (HIV) dan perjalanan penyakitnya Hormon Progesteron Tunggal Kontrasepsi progestogen tunggal menghindari efek samping dari estrogen. Ini tersedia dalam berbagai macam cara pemberian termasuk oral, injeksi, implan dan sistem intrauterine (IUD). Implan dan IUD dapat digunakan selama 3 dan 5 tahun, masing-masing. Kontrasepsi progestogen tunggal lebih jarang digunakan daripada kontrasepsi hormonal kombinasi dan terdapat data yang lebih sedikit, terutama pada risiko yang terjadi dihubungkan dengan penggunaan jangka panjang. a. Mini Pil Beberapa studi telah menunjukkan bahwa jumlah harian yang kecil dari pil berisi progestin saja, biasanya norethindrone atau levonorgestrel, memberikan perlindungan yang cukup baik terhadap kehamilan tanpa menekan ovulasi. Metode ini memiliki beberapa keunggulan: efek samping yang timbul dari komponen estrogen oral kontrasepsi konvensional dieliminasi karena tidak diberikan estrogen, dan tidak ada urutan khusus mengambil pil, karena minipil diambil setiap hari. Meskipun mekanisme kerja pil progestin saja belum diketahui secara pasti, namun telah disimpulkan bahwa kontrasepsi ini dapat membuat lendir serviks menjadi kurang permeabel terhadap sperma dan bahwa aktivitas endometrium keluar dari fase normalnya sehingga nidasi dapat digagalkan bahkan jika pembuahan sudah terjadi. Dalam uji klinis, kontrasepsi oral hanya berisi progestin menghasilkan angka kehamilan sekitar 2-7 kehamilan per 100 wanita pertahun. Tidak seperti kontrasepsi oral kombinasi, yang memungkinkan suatu keleluasaan pasien bila lupa dansebagainya meminum obat, obat minipill progestin harus diminum setiap hari. Bahkan penundaan 2-3 jam mengurangi efektivitas kontrasepsi untuk 48 jam ke depan. Mini pil mempunyai efek samping, terutama perdarahan tidak teratur. Kontrasepsi hanya progestin sangat ideal bagi perempuan bagi wanita dengan kontraindikasi menggunakan estrogen. Kandidat ideal termasuk wanita tua yang merokok; wanita dengan sickle cell anemia, keterbelakangan mental, migrain, hipertensi, atau sistemik lupus erythematosus (SLE); atau wanita yang sedang menyusui. b. Implant Pada tahun 2006, FDA menyetujui penggunaan implan progestin batang tunggal dengan panjang 4 cm dan melepaskan etonogestrel pada tingkat dari 68 mcg per hari. Metode ini menyediakan 3 tahun keefektifan kontrasepsi. Implan enam-batang atauSistem Norplant (Wyeth-Ayerst) berisi levonorgestrel dalam enam batang silastic yang tertanam subkutan. Meskipun efektifitas, keamanan, dan kepuasan pasien dengan kontrasepsi ini, penggunaannya berkurang secara dramatis di Amerika Serikat, sehingga dihapus dari pasar di tahun 2002. Pada sistem yang baru, batang tunggal dimasukkan ke dalam subkutan pada lengan atas bagian dalam wanita menggunakan anestesi lokal. Insisi yang sangat minimal dengan penyisipan dan batang tunggal yang dirancang untuk memfasilitasi penempatan dan pemindahan. Implan progestin mencegah kehamilan dengan menekan ovulasi. Meskipun terjadi

penghambatan ovulasi, ada supresi yang tidak lengkap dari fungsi ovarium dan wanita tersebut tidak menjadi hipoestrogenik. mekanisme tambahan seperti penebalan lendir serviks dengan penghambatan penetrasi sperma dan atrofi endometrium. Metode ini sangat efektif, jangka panjang, dan tidak tergantung pada penggunanya. Tidak ada kehamilan terjadi pada 70.000 siklus pertama yang diteliti. Kebanyakan wanita dapat dengan aman menggunakan implan etonogestrel. Namun, perempuan dengan kanker payudara saat ini tidak boleh menggunakannya. Kondisi lain perempuan pada umumnya yang tidak boleh menggunakan implan etonogestrel sama dengan pengguna implan levonorgestrel. Sebagian besar pengguna implan mengalami perubahan dalam pola perdarahan vagina, termasuk pendarahan yang berkepanjangan atau tidak teratur. Seperti terjadinya perubahan pola pendarahan merupakan alasan yang paling umum untuk menghentikan implan, perempuan harus diberi konseling tentang perubahan pendarahan ini sebelum memulai menggunakan implan. Efek samping lain yang dilaporkan termasuk berat badan, sakit kepala, jerawat, dan perubahan suasana hati. c. Intrauterine Device (IUD) IUD yang mengandung dua bahan kimia aktif saat ini telah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat seperti perangkat progestin-releasing . Alat ini melepaskan levonorgestrel ke dalam rahim dengan jumlah yang relatif konstan 20 g / hari, yang dapat mengurangi efek sistemik. Alat ini memiliki kerangka radiopaque berbentuk T, dengan batang dibungkus reservoir silinder, terdiri dari campuran polydimethylsiloxane-levonorgestrel. Ada duatrailing string cokelat menempel batang. Mekanisme kerja IUD belum dapat didefinisikan dengan tepat dan masih menjadi subyek perdebatan sampai saat ini. Pernah dipercaya bahwa aksi IUD ialah menginterferensi terhadap keberhasilan implantasi ovum yang telah dibuahi, namun sekarang dianggap menjadi kurang penting dibandingkan pencegahan pembuahan. Dalam rahim, IUD menginduksi adanya respon peradangan setempat endometrium, terutama oleh perangkat yang mengandung tembaga. Komponen peradangan selular dan komponen humoral ini terjadi pada jaringan endometrium dan cairan yang mengisi rongga rahim dan saluran tuba. Ini menyebabkan menurunnya sperma dan viabilitas telur (Ortiz dan Croxatto, 2007). Pembuahan sulit untuk terjadi, disebabkan inflamasi yang sama diarahkan terhadap blastokista, dan endometrium yang berubah menjadi lokasi yang buruk untuk terjadinya implantasi. Pada IUD tembaga, tembaga meningkatkan lendir pengguna IUD dan menurunkan motilitas dan viabilitas sperma Dengan IUD yang mengandung levonergestrel, di samping terjadinya reaksi peradangan, pelepasan progestin yang lama pada pengguna menyebabkan atrofi kelenjar dan stroma desidualisasi. Selain itu, progestin membuat lendir serviks menjadi lebih kental yang dapat menghalangi motilitas sperma. IUD tipe ini juga mungkin tidak konsisten melepaskan progestin untuk menghambat ovulasi. d.Suntik

Penyuntikan norethisterone-enanthate (NETEn) kerja panjang dan depot medroxyprogesterone asetat (DMPA,Depo-Provera) keduanya sangat efektif. Depo-Provera diberikan melalui suntikan pada intramuskular, 150 mg setiap 12 minggu. NET-En diberikan setiap 8 minggu (paling tidak awalnya). Hal ini tidak diizinkan untuk penggunaan jangka panjang di Inggris dan harus dihangatkan sebelum digunakan dan dimasukkan ke dalam jarum suntik. Sebuah sediaan micro yang baru yaitu DMPA muncul pada tahun 2007. Disebabkan dosis yang digunakan adalah rendah (104 mg DMPA), dapat juga diberikan secara subkutan dan dapat disuntikkan oleh sendiri. Efek Samping Efek Samping Minor Gangguan Pendarahan Efek samping yang paling umum dan menyebabkan penghentian pil oral kombinasi yaitu pola pendarahan yang tidak dapat diterima. Termasuk amenorea jika wanita belum diperingatkan. Dosis rendah progestogen tunggal (pil dan implan) berhubungan berhubungan dengan tingginya insidensi pendarahan vagina yang tidak teratur. Hal ini disebabkan progestogen berpengaruh terhadap fungsi ovarium. Pada siklus ovulasi yang normal ditandai dengan adanya haid. Ketidakkonsistenan ovulasi dan fluktuasi produksi estrogen endogen dari pertumbuhan folikel menjadikan perdarahan yang tidak teratur. Namun, ada juga bukti yang menunjukkan bahwa metode progestogen hanya secara langsung mempengaruhi vaskularisasi dari endometrium dalam meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan.Pola pendarahan yang berbeda didapatkan sesuai dengan dosis dari progestogen dan cara pemberian obat. Kista Folikuler Persisten Efek dari pil kontrasepsi oral pada aktivitas ovarium juga menyebabkan insidensi kista ovarium fungsional, atau lebih akurat sebagai folikel persisten. Telah ditaksir bahwa satu dari lima wanita yang menggunakan pil oral progestogen tunggal akan mendapatkan kista yang ditunjukkan oleh USG. Biasanya asimtomatis, folikel yang persisten dapat menyebabkan nyeri abdomen atau dispareunia. Sebagian gejala ini akan hilang dengan kembalinya menstruasi sehingga pengobatannya hanya bersifat konservatif saja. Efek Samping Serius Disebabkan metode kontrasepsi progestogen tunggal lebih jarang digunakan daripada pil kombinasi, data dalam penggunaan yang lama juga sedikit. Follow up jangka panjang (5 tahun) lebih dari 16.000 wanita yang menggunakan Norplant (implant) dilaporkan tidak menunjukkan masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskuler dan neoplasia. Penyakit Kardiovaskuler

Tidak terdapat bukti terjadinya peningkatan resiko stroke, miokard infark atau tromboemboli vena yang berhubungan dengan pil kontrasepsi oral. Hubungan antara tromboemboli vena dan progestogen yang digunakan untuk pengobatan kondisi ginekologi seperti perdarahan uterus disfungsi yang anovulatoar yang sering diobati oleh pil kontrasepsi oral yang akhirnya menjadi kontraindikasi bila diberikan dengan faktor resiko tromboemboli vena. Penyakit Keganasan Depo-Provera memberikan proteksi yang tinggi terhadap karsinoma endometrium namun secara teoritis juga melindungi kanker ovarium namun belum ada data yang mendukung hal ini. Tidak terdapat data pada resiko kanker serviks meskipun seluruh kontrasepsi hormonal mempunyai peran dalam menjadikan kanker serviks. Penggunaan kontrasepsi progestogen tunggal selama 5 tahun dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker payudara sebesar 1,17% secara signifikan. Kepadatan Tulang Inhibisi ovulasi komplit oleh Depo-Provera menyebabkan hipoestrogenisme dan amenorea. Hipoestrogenisme berhubungan dengan penurunan kepadatan tulang. Ini didapatkan dari studi penggunaan Depo-Provera yang berhubungan dengan pengurangan kepadatan tulang dibandingkan dengan yang bukan pengguna. Ini dapat mempengaruhi anak perempuan yang belum mencapai puncak dari massa tulang. Hasil dari studi cross sectional terbatas dan tidak konsisten, meskipun begitu, 2 buah studi prospektif telah melaporkan adanya penurunan densitas tulang pada pengguna DepoProvera lebih dari 2 tahun berusia antara 12 sampai 21 tahun dibandingkan dengan kontrasepsi non hormonal. Kontrasepsi Darurat Banyak wanita datang untuk perawatan kontrasepsi, namun juga terdapatwanita yang berhubungan tanpa menggunakan pelindung, atau dalam beberapa keadaan seperti pemerkosaan. Dalam situasi ini, terdapat beberapa metode secara substansial dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan bila digunakan dengan benar. Metode kontrasepsi darurat tersebut termasuk pil oral kombinasi, produk progestin tunggal, IUD yang mengandung tembaga, dan mifepristone. Namun yang menggunakan hormon adalah pil oral kombinasi dan pil berisi progestin tunggal. Kombinasi estrogen-progestin Untuk alasan yang dibahas di atas, ini juga dikenal sebagai metode Yuzpe. Jumlah minimal dari 100 g ethinyl estradiol dan 0,5 mg levonorgestrel diberikan. Disetujui oleh FDA, produk yang mengandung estrogen dan progesteron dan menjadi alat kontrasepsi pencegahan sebagai kontrasepsi darurat. Rejimen pil oral kombinasi ini lebih efektif, jika lebih cepat diminum setelah hubungan seksual tanpa kondom. Dosis pertama diminum idealnya dalam 72 jam setelah berhubungan seksual, tetapi bisa

diberikan hingga 120 jam. Dosis kedua diminum 12 jam kemudian setelah dosis pertama. Regimen kontrasepsi hormonal darurat sangat efektif dan dapat mengurangi risiko kehamilan sampai 94 persen. Mual dan muntah adalah masalah utama karena estrogen dosis tinggi. Untuk alasan ini, antiemetik oral dapat diminum 1 jam sebelum dosis masing-masing. Pengobatan oral awal dengan meclizine 50 mg atau dengan 10 mg metoklopramid efektif menurunkan mual (Ragan dan rekan, 2003; Raymond dan rekan, 2000). Jika seorang wanita muntah dalam waktu 2 jam setelah meminum obat, dosis harus diulang lagi. Sediaan Progestin Tunggal Sediaan ini memiliki 2 sediaan tablet, masing-masing mengandung 0,75 mg levonorgestrel. Dosis pertama harus diminum dalam 72 jam setelah berhubungan tanpa pelindung namun dapat ditangguhkan sampai 120 jam kemudian. Dosis kedua dapat diminum 12 jam kemudian, walaupun interval 24 jam diantara dosis juga masih efektif. Mekanisme utama ialah menghambat ovulasi. Mekanisme lainnya ialah mempengaruhi endometrium, penetrasi sperma dan motilitas tuba.

B. KONTRASEPSI NON HORMONAL 1. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) / IUD Alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur, yang dimasukkan ke dalam rongga rahim oleh seorang bidan / dokter terlatih. Sangat efektif, dan bila berhenti memakai AKDR, kehamilan dapat terjadi. AKDR ini merupakan cara KB jangka panjang. AKDR tipe TCu-380 A misalnya, efektif paling sedikit selama 10 tahun. Masa haid dapat menjadi lebih panjang dan banyak, terutama pada bulan-bulan pertama pemakaian. Mengalami sedikit ketidak-nyamanan setelah IUD dipasang. Tidak ada pengaruh terhadap ASI. Seorang dokter / bidan yang telah mendapat pelatihan khusus dapat memasangnya segera setelah melahirkan. Infeksi panggul cenderung menyerang pemakai IUD terlebih lagi apabila si pemakai telah terjangkit penyakit menular seksual. IUD dapat keluar sendiri pada waktu mengedan, khususnya pada bulan-bulan pertama pemakaian, jadi sangat penting memeriksakan talinya. Tidak dianjurkan untuk digunakan oleh wanita yang mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS). 2. KONDOM Selain mencegah kehamilan juga dapat melindungi terhadap infeksi penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV / AIDS. Kondom dapat digunakan untuk mencegah HIV / AIDS, sekaligus ber KB Dengan sedikit berlatih mudah digunakan secara benar. Efektif bila setiap dilakukan secara benar. Beberapa pria merasa bahwa kondom mengganggu hubungan seks dan mengurangi kenikmatan.

3. METODE SEDERHANA / VAGINAL Spermisid (tissu KB), diafragma dan kap, merupakan cara KB yang dapat dipakai sendiri oleh wanita. Harus dimasukkan ke dalam vagina (liang senggama) setiap kali sebelum berhubungan. Dilakukan sebelum mengadakan hubungan seks. Efektif bila digunakan secara benar. Dapat membantu mencegah penyakit menular seksual. Menggunakan cara KB ini, cenderung untuk terkena infeksi saluran kencing. Tissu KB tidak mudah didapat. http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/02/27/kontrasepsi/ 5. Apa hubungan riwayat pemakaian amitriptilin dengan pemilihan alat kontrasepsi? 6. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam pemilihan kontrasepsi? ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam metode kontrasepsi diantaranya: 1.Umur Umur berperan dalam pola pelayanan kontrasepsi kepada masyarakat yang berkaitan dengan memperhatikan kurun reproduksi sehat , dimana pada wanita dengan umur 20-30/35 tahun merupakan fase menjarangkan kehamilan sehingga dibutuhkan alat kontrasepsi yang mempunyai efektivitas cukup tinggi,reversibilitas cukup tinggi karena peserta masih mengharapkan punya anak lagi,dapat dipakai 2-4 tahun yaitu sesuai dengan anak yang direncanakan, tidak menghambat air susu ibu (ASI) karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak maka dari itu alat kontrasepsi suntik dapat di jadikan pilihan kedua setelah IUD (Hartanto, 2003). Pada wanita berumur < 20 tahun merupakan fase menunda atau mencegah kehamilan sehingga wanita tersebut dapat memilih alat kontrasepsi dengan reversebilitas tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100% maka prioritas penggunaan alat kontasepsi bisa menggunakan pil oral, penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih tinggi frekuensi senggamanya sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi (Hartanto, 2003). Periode umur wanita di atas 30 tahun, terutama diatas 35 tahun sebaiknya mengakhiri kehamilan setelah mempunyai 2 orang anak. Sehingga pilihan utama alat kontrasepsinya adalah kontrasepsi mantap misalnya vasektomi atau tubektomi karena kontrasepsi ini dapat dipakai untuk jangka panjang dan tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya meningkat, oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut (Hartanto, 2003). 2.Jumlah anak Jumlah anak seorang wanita dapat mempengaruhi cocok tidaknya suatu metode secara medis. Secara umum, AKDR tidak dianjurkan bagi wanita nulipara karena pemasangan yang lebih sulit, dan kemungkinan AKDR dapat mengganggu kesuburan di masa depan (Sherris & Wells, 2005). Pada ibu setelah mempunyai 2 orang anak atau lebih sebaiknya mengakhiri kesuburan . Dianjurkan untuk tidak punya anak lagi , karena alasan medis dan alasan lainnya, sehingga dianjurkan untuk ibu untuk menggunakan kontrasepai mantap (Hartanto, 2003).

3.Pendidikan Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan menerima informasi dari pada seseorang yang berpendidikan rendah. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap pentingnya suatu hal, termasuk pentingnya keikutsertaan dalam KB. Kepandain membaca dan menulis memudahkan penyebaran keterangan tentang KB, tapi juga mengenai tentang pengertian dasar tentang bagaimana dan mengapa berbagai cara membatasi kelahiran yang di batasi selama ini berhasil dan apa keuntungan ditiap-tiap cara tersebut 4.Pengetahuan Kontrasepsi pada umumnya digunakan untuk merencanakan sebuah keluarga. Jumlah alat kontrasepsi yang tersedia pun sangat beragam dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bagi perempuan yang ingin menggunakan alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi suntik harus membekali diri dengan pengetahuan mengenai kontrasepsi suntik sebelum untuk memutuskan Menurut Glasier dan Gebbie (2005) ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi dalam memilih metode kontrasepsi di antaranya: 1.Kunjungan berkala ke klinik Wanita yang tinggal di tempat terpencil atau mereka yang sering berpegian mungkin memilih metode yang tidak mengharuskan mereka tidak berkonsultasi secara teratur dengan petugas keluarga berencana. 2.Peran petugas Pada beberapa metode, petugas hanya memiliki peran satu kali. Pada metode yang lain, petugas perlu bertemu langsung dengan pemakai selama beberapa kali setiap tahun (obat suntik setiap bulan atau setiap tiga bulan saat ini tidak dipasarkan secara bebas sehingga pemakai perlu berkunjung secara berkala). 3.Frekuensi tindakan yang dibutuhkan Beberapa pemakai mungkin menginginkan suatu metode yang tidak atau sedikit yang memerlukan tindakan dari pihak mereka. Pengontrolan kelahiran yang perlu anda pikirkan empat kali setahun adalah slogan untuk metode suntikan depo medroksiprogesteron asetat (DMPA) yang diberikan setiap 3 bulan. 4.Kerjasama pasangan Setiap metode memiliki rentang peran anggota pasangan yang luas, yang perlu dilakukan oleh masingmasing anggota pasangan tersebut. Pada beberapa metode, misalnya sterilisasi, AKDR, atau implant, salah satu pasangan memikul seluruh tanggung jawab. Bagi yang lain, misalnya pantang berkala atau koitus interuptus, keduanya harus bersedia untuk bekerjasama. 5.Privasi Peserta keluarga berencana mungkin menempatkan beberapa pertimbangan privasi sebagai hal yang sangat penting. Terutama wanita muda atau wanita yang hubungan seksualnya secara sosial tidak dibenarkan, mungkin akan sangat menginginkan metode yang tidak menarik perhatian. 6.Frekuensi hubungan seksual Pemakai yang jarang berhubungan seksual mungkin kurang tertarik dengan metode-metode, misalnya kontrasepsi oral, yang memerlukan tindakan setiap hari. Apabila suatu pasangan monogami terpisah dalam waktu yang lama, misalnya akibat migrasi bekerja, maka metode seperti pantang berkala tentu

kurang sesuai, karena pantang berkala mungkin mengganggu aktivitas seksual selama interval yang singkat yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan hubungan seksual. 7.Rencana untuk kesuburan dimasa mendatang Perlu di tentukan apakah dan kapan pemakai memilki rencana untuk hamil dimasa mendatang. Banyak metode yang dianjurkan atau menjadi paling efektif dari segi biaya hanya apabila wanita tidak memiliki rencana hamil dalam waktu dekat. 8.Biaya Biaya dari suatu srategi keluarga berencana mencakup biaya metode itu sendiri, waktu yang dikorbankan wanita dan petugas, serta biaya tak langsung lainnya, termasuk ongkos berkunjung ke klinik. Studi mengenai biaya semacam ini sangat sulit dilakukan, sehingga jarang dilakukan. Metode keluarga berencana juga sangat bervariasi dalam hal biaya pemakai dan penyebaran petugas sepanjang waktu.

KTI : M. Ilyas (FKUII) http://medicine.uii.ac.id/index.php/KTI/FAKTOR-FAKTOR-YANG-MEMPENGARUHI-PEMILIHANKONTRASEPSI-SUNTIK-DI-KECAMATAN-NGAGLIK-SLEMAN-YOGYAKARTA.html

7. Fisiologi dari hormon-hormon dari proses menyusui? CARA KERJA MAL

Konsentrasi prolaktin meningkatkan sebagai respons terhadap stimulus pengisapan berulang

ketika menyusui. Dengan intensitas dan frekuensi yang cukup, kadar prolaktin akan tetap tinggi. Hormon prolaktin yang merangsang produksi ASI juga mengurangi kadar hormon LH yang diperlukan untuk memelihara dan melangsungkan siklus menstruasi. Kadar prolaktin yang tinggi menyebabkan ovarium menjadi kurang sensitif terhadap perangsangan gonadotropin yang memang sudah rendah, dengan akibat timbulnya inaktivasi ovarium, kadar esterogen yang rendah dan anovulasi. Bahkan pada saat aktivitas ovarium mulai pulih kembali, kadar prolaktin yang tinggi menyebabkan fase luteal yang singkat dan fertilitas menurun. Jadi, intinya cara kerja Metode Amenore Laktasi (MAL) ini adalah dengan penundaan atau penekanan ovulasi MAL dapat digunakan sebagai kontrasepsi apabila :

Belum mengalami haid sejak melahirkan. Menyusui secara penuh ( full breast feading ), tanpa memberikan makanan atau minuman tambahan selain dari ASI.

Umur bayi kurang dari 6 bulan, karena pada bayi yang telah mencapai usia tersebut membutuhkan nutrisi tambahan selain dari ASI, sehingga nantinya bayi akan menghisap kurang sering dan metode ini tidak lagi efektif

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/19135

8. Efek samping obat amitriptilin jika digunakan berkepanjangan? Masuk ke nomor 5 9. Efek samping kontrasepsi? Masuk nomor 4 10. Kontrasepsi yang sesuai untuk Pasien A dan B? Pilihan yang tepat? 11. Keuntungan dan kerugian masing-masing jenis alat kontrasepsi? Masuk nomer 4