Anda di halaman 1dari 139

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 2 BLOK 11 KELOMPOK E

1. Putri Inayah F. F. 04101004042 2. Sri Wahyuni 04101004044

9. Zulfikar Lafran 10.Neno Kharisma 11.Vivi Fitria 12.Sri Rahmawati

04101004083 04101004056 04101004063 04101004059

3. Wahyu Dwi Putra 04101004019 4. Citra Faiza Putri 5. Dhanty W. 6. Wahyu P. Opita 7. Chianche Ongtin 8. Maulia Septiari 04101004045 04101004029 04101004047 04101004006 04101004013

13.Endita Widya C. 04101004080 14. Rillya Afriza 15.Dwi Astuti 04101004062 04101004025

Fasilitator : drg. Berta Aulia

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 2 BLOK 11 KELOMPOK E


A. SKENARIO Sayuti 27 tahun datang ke RSGM ingin membuat gigi tiruan baru karena gigi tiruan lamanya goyang. Selain itu ia mengeluhkan adanya celah di daerah atas yang membuatnya sedikit malu bila berbicara. Dari hasil pemeriksaan klinis diperoleh data sebagai berikut : Gigi yang masih ada : 7654321 54321 1234567 1234

Gigi Penyangga 34 mobiliti I, 34 dan 45 resesi gingival GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) lama dengan posisi cengkeram/cangkolan pada gigi 34 dan 45 dari arah distal dan tanpa sandaran oklusal

Adanya diastema anterior pada region 11 dan 21 sebesar

3,5 mm dikarenakan adanya gigi

supernumerary yang berada diantaranya dengan sedikit palate versi Relasi Caninus RA dan RB, cups RA berkontak di daerah interdental C-P1 RB Inklinasi insisivus RA sedikit proklinasi, overjet 5 mm, overbite 4 mm, kurva spee curam Bentuk dan ketinggian linggir alveolaris (daerah edentulous RB) : square/persegi, sedikit rendah/datar (terutama region 35,36,37) Dokter gigi membuatkan rencana perawatan meliputi perawatan pendahuluan, pembuatan GTSL pada RB dan pesawat orhtodontik lepasan pada RA. Untuk pembuatan GTSL RB, sebelumnya dokter gigi melakukan pencetakan, mensurvei, mendesain model serta merancang pemilihan dan penyusunan anasir gigi tiruan .Sedangkan pembuatan pesawat orthodontik lepasan RA, sebelumnya dokter gigi melakukan analisis model study gigi, analisis foto rontgen serta mendesain pesawat orthodontik yang akan dibuat.

B. TIU 1. Mahasiswa memahami klasifikasi gigi tiruan serta diagnosis yang menunjang perawatan prosthodonsia 2. Mahasiswa memahami prinsip prinsip dasar biomekanik GTSL 3. Mahasiswa memahami prosedur teknik pencetakan, komponen, peranan survei, pemilihan dan penyusunan anasir GT dalam penentuan desain pembuatan GTSL 4. Mahasiswa memahami oklusi 5. Mahasiswa mampu mendesain pesawat ortodonsi lepasan plat aktif.
1

C. KLARIFIKASI ISTILAH 1. Cengkeram atau Cangkolan 2. Diastema 3. Palato Versi 4. Relasi 5. Inklinasi 6. Proklinasi 7. Overjet 8. Overbite 9. Kurva Spee 10. Anasir Gigi Tiruan 11. Pesawat Orthodontik Lepasan 12. Sandaran Oklusal 13. Plat Aktif D. IDENTIFIKASI MASALAH 1. Sayuti 27 tahun dengan keluhan : o gigi tiruan lama goyang dan ingin membuat gigi tiruan baru o celah pada gigi depan atas 2. Pemeriksaan Klinis o Gigi yang masih ada 7654321 54321 1234567 1234

o Gigi Penyangga 34 mobiliti I, 34 dan 45 resesi gingival GTSL (Gigi Tiruan Sebagian Lepasan) lama dengan posisi cengkeram/cangkolan pada gigi 34 dan 45 dari arah distal dan tanpa sandaran oklusal o Adanya diastema anterior pada region 11 dan 21 sebesar 3,5 mm dikarenakan adanya

gigi supernumerary yang berada diantaranya dengan sedikit palate versi o Relasi Caninus RA dan RB, cups RA berkontak di daerah interdental C-P1 RB o Inklinasi insisivus RA sedikit proklinasi, overjet 5 mm, overbite 4 mm, kurva spee curam o Bentuk dan ketinggian linggir alveolaris (daerah edentulous RB) : square/persegi, sedikit rendah/datar (terutama region 35,36,37) 3. Rencana Perawatan o Perawatan pendahuluan o RB : Pembuatan GTSL o RA: Pesawat Ortodontik Lepasan
2

E. ANALISIS MASALAH 1. a. Apa yang membuat Gigi Tiruan lama goyang dan apa akibatnya? b. Apa dampak dari diastema? 2. a. Apa diagnosis pada kasus ini? b. Apa syarat gigi penyangga yang baik? c. Apa syarat pembuatan GTSL yang baik? d. Apa saja komponen GTSL? e. Apa pengaruh gigi supernumerary terhadap terjadinya diastema? f. Bagaimana syarat oklusi yang normal? g. Bagaimana relasi gigi yang normal? h. Bagaimana syarat jaringan pendukung yang baik untuk GTSL? 3. a. Apa saja yang termasuk perwatan pendahuluan untuk orthodontik dan prosthodontik pada kasus ini? b. Mengapa dokter gigi lebih memilih untuk memasang orthodontik lepasan dari pada cekat dan apa pertimbangannya? c. Bagaimana prosedur dalam pembuatan GTSL dan orthodontik lepasan?

F. HIPOTESIS Sayuti 27 tahun mengalami maloklusi kelas 1 angle disertai diastema sentral Rahang Atas dan Klas I Kennedy Rahang Bawah dengan rencana perawatan pesawat orthodontik lepasan plat aktif pada Rahang Atas dan GTSL pada Rahang Bawah yang sebelumnya dilakukan perawatan pendahuluan.

G. LI a. Klasifikasi Gigi Tiruan b. Prinsip prinsip dasar biomekanika GTSL c. Prosedur teknik pencetakan, Komponen GTSL, Survei, Anasir Gigi Tiruan d. Oklusi e. Desain pesawat Ortodonsi Lepasan Plat Aktif

KLASIFIKASI GIGI TIRUAN


a. Klasifikasi kennedy Kelas I Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral).

Gambar Klas I Kennedy Kelas II Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja (unilateral).

Gambar Klas II Kennedy

Kelas III Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja (unilateral).

Gambar Klas III Kennedy Kelas IV Kennedy : darah tak bergigi terletak dibagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada dan melewati garis tengah rahang.

Gambar Klas IV Kennedy

b. Klasifikasi applegate Kelas I : daerah tak bergigi sama dengan kelas I kennedy. Keadaan ini sering dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

Kelas II : daerah tak bergigi sama seperti kelas II kennedy.

Kelas III : keadaan tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu memberi dukungan kepada protesa secara keseluruhan.

Kelas IV : daerah tak bergigi sama dengan kelas IV kennedy.

Kelas V : daerah tak bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tidak mampu menahan gayah kunyah. Kelas VI : daerah tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangga asli dapat dipakai sebagai penahan.

c. Klasifikasi Cummer Klasifikasi pertama yang diakui secara professional. Dirancang tahun 1920 oleh Cummer gigi tiruan diklasifikasikan berdasarkan pada posisi dari penahan langsung (direct retainer).
7

Diagonal penahan lainnya.

: Dua penahan langsung (direct retainer) secara diagonal berlawanan dengan

Diametrik lainnya.

: Dua penahan langsung secara diametrik bersebrangan dengan penahan

Gambar GTSL diametrik Unilateral : Dua atau lebih penahan langsung terhadap sisi yang sama

Gambar GTSl Unilateral Multilateral : 3 terkadang 4 penahan langsung dalam hubungan triangular (kadang kadang guadrangular)
8

Gambar GTSL multilateral triangular

Gambar GTSL Multilateral Quadrangular d. Klasifikasi Meuk Dirancang pada tahun 1942, berdasarkan pada jumlah, panjang, dan posisi dari edentulous dan jumlah serta posisi dari gigi yang masih ada. Kelas I : Bilateral space tanpa adanya gigi posterior pada ruang tersebut.

Kelas II : Bilateral space dengan adanya gigi posterior pada salah satu ruang
9

Kelas III : Bilateral space dengan adanya gigi posterior pada kedua ruang

Kelas IV : Unilateral space tanpa adanya gigi posterior pada ruang tersebut. Lengkung lawan tidak hilang

Kelas V : Anterior space dengan lengkung posterior pada kedua sisi tidak hilang

10

Kelas VI : Irregular space pada daerah lengkung gigi yang ada dapat single atau double group

e. Klasifikasi Gadfrey Dirancang pada tahun 1951, klasifikasi ini didasarkan pada lokasi dan ukuran dari daerah edentulous. Kelas utama tidak memiliki modifikasi. Kelas A : Denture base ditunjang oleh gigi, pada bagian anterior. Dapat berupa ruang 5 gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi terputus atau ruang 4 gigi tanpa terputus.

Kelas B : Denture base yang ditunjang oleh mukosa pada daerah anteriornya. Dapat berupa ruang 6 gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi tanpa terputus atau ruang 5 gigi terputus.

Kelas C : Denture base ditunjang oleh gigi pada bagian posterior, dapat berupa ruang 3 gigi tanpa terputus, ruang 2 gigi tanpa terputus atau ruang 2-3 gigi yang terputus.
11

Kelas D : Denture base ditunjang oleh mukosa pada bagian posterior. Dapat berupa ruang 4 gigi tanpa terputus atau ruang setengah atau 3 gigi tanpa teputus

f. Klasifikasi Friedman Friedman memperkenalkan klasifikasi ABC pada tahun 1953. A : Anterior B : Bounded C : Cantilever

Gambar Tipe A
12

Gambar Tipe B

Gambar Tipe C g. Klasifikasi Beckett dan Wilson (1957) Tahun 1921 ditemukan, klasifikasi ini untuk mempertimbangkan jumlah yang sebanding dengan dukungan yang diberikan oleh gigi dan jaringan lunak. (mukosa dan yang mendasari tulang) Kualitas dari batasan dukungan (abutment support) Besarnya dukungan oklusal (occlusal support) Keharmonisan dari oklusi Kualitas dari mukosa dan ridge yang masih ada Mereka percaya bahwa setiap upaya dapat dibuat untuk menghindari dukungan yang hanya dari jaringan lunak.

Kelas I : Bounded Saddle Dibatasi oleh gigi yang memiliki syarat untuk mendukung gigi tiruan. Mukosa tidak digunakan sebagai pendukung.

13

Kelas II : Free End Tooth and Tissue Borne Tissue Borne : Didukung oleh gigi dan jaringan lunak : Didukung oleh jaringan lunak

Kelas III : Bounded Saddle Dibatasi oleh gigi tetapi tidak memiliki syarat untuk mendukung gigi tiruan seperti pada kelas I.

h. Klasifikasi Craddock Dirancang tahun 1954, mengklasifikasikan gigi tiruan sebagian menurut : Kelas I : Saddle Support pada kedua sisi atau batasan gigi yang kuat
14

Kelas II jaringan lunak.

: Kekuatan gigitan vertikal di aplikasikan sebagai penahan gigi tiruan sebagai

Kelas III

: Didukung gigi pada satu ujung dari penjangkar

i. Klasifikasi Skinner Diperkenalkan tahun 1959. Klasifikasinya dipengaruhi oleh klasifikasi Cummer. Klasifikasi didasarkan pada hubungan antara edentulous arches dengan abutment teeth. A. Kelas I Gigi penjangkar berada pada anterior dan posterior dari ruang edentulous dapat unilateral maupun bilateral.

B. Kelas II
15

Semua gigi berada pada bagian posterior dari ruang poster edentubus dapat unilateral atau bilateral.

C. Kelas III Semua gigi penjangkar terletak di bagian dari ruang edentulous. Dapat unilateral atau bilateral.

D. Kelas IV Basis gigi tiruan berada dibagian anterior dan posterior gigi yang masih ada dan dapat terjadi unilateral atau bilateral.

E. Kelas V Gigi penjangkar unilateral dalam hubungan dengan basis gigi tiruan dan dapat terjadi unilateral atau bilateral.

J. Klasifikasi Austin dan Lidge Ditemukan tahun 1957. Menyebutkan bahwa ada 65.000 kemungkinan kombinasi dari gigi dan area edentulous.

Kelas A : Gigi anterior hilang A2 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi tapi masih ada gigi diantara gigi yang hilang.
16

AB1 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi (bilateral). A1 : Gigi anterior hilang pada satu sisi

Gambar A1

Gambar A2

Gambar AB1 Kelas P P1 P2 : Gigi Posterior Hilang : Gigi posterior hilang pada satu sisi (unilateral) : Gigi posterior hilang pada kedua sisi, tapi masih ada sisi di antara gigi yang Hilang PB1 : Gigi posterior hilang pada kedua sisi (bilateral)

17

Gambar P1

Gambar P2

Gambar PB 1 Kelas AP : Gigi anterior dan posterior hilang

AP 1 : Gigi anterior dan posterior pada satu sisi AP2 : Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi, tapi masih ada diantara sisi yang Hilang APB1 : Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi (bilateral)

18

Gambar AP1

Gambar AP2

Gambar APB1

19

PRINSIP PRINSIP DASAR BIOMEKANIKA GTSL


a. Prinsip Biomekanik

Biomekanik terdiri dari 2 kata yaitu biologi dan mekanika. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai kehidupan/ segala sesuatu yang hidup, sedangkan mekanika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gerak dan keseimbangan. Jadi, biomekanika adalah hubungan antara sifat-sifat biologik struktur rongga mulut dan pengaruh fisik dari restorasi dental.

Prinsip Biomekanik

Tipe pengungkit

Gaya-gaya yang bekerja pada gigi tiruan

Pergerakan rotasi selama fungsi

1.

Tipe Pengungkit Alat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori umum yaitu sederhana dan kompleks. Alat kompleks terdiri dari kombinasi dari berbagai alat sederhana yaitu lever, wedge, screw, wheel and axle, pulley, dan inclined plane. Alat sederhana seperti lever dan inclined plane harus dihindari dalam mendesain gigi tiruan sebagian lepasan.

Gambar. Terdapat 6 tipe pengungkit sederhana. Fulkrum (titik dukungan lever), wedge, dan inclined plane harus diperhatikan dalam mendesain GTSL karena dapat berbahaya bila tidak dikontrol dengan tepat. F. fulkrum
20

Tipe pengungkit pada GTS diilustrasikan sebagai aksi 2 alat sederhana yaitu : 1. Pengungkit (lever) Batang kaku didukung beberapa titik sepanjang batang tersebut. Bila pengungkit menerima beban pada 1 titik perputaran maka terjadi perputaran sekitar daerah pendukung (Fulkrum). Terdapat 3 tipe pengungkit yaitu: a. Pengungkit kelas I (first-class lever), terjadi pada kasus Kennedy Kelas III

Gambar. Tipe pengungkit kelas I. R (resistence/ tahanan), E (effort/ tekanan), F (fulkrum)

b. Pengungkit kelas II (second-class lever), terjadi pada kasus Kennedy Kelas I

Gambar. Tipe pengungkit kelas II. R (resistence/ tahanan), E (effort/ tekanan), F (fulkrum)

c.

Pengungkit kelas III (third-class lever), tidak terjadi pada GTS

Gambar. Tipe pengungkit kelas III. R (resistence/ tahanan), E (effort/ tekanan), F (fulkrum)

2.

Inclined plane Alat yang berpengaruh pada kekuatan terjadi pergerakan pada inclined plane
21

2.

Gaya-gaya yang Bekerja pada Gigi Tiruan (GT) Gaya yang terjadi pada GT selama fungsi antara lain: a. Gaya Oklusal Gaya oklusal yang sering pula disebut gaya vertikal, merupakan gaya yang timbul pada waktu bolus makanan berada di permukaan oklusal GT sebelum dan pada saat berfungsi atau oklusi. Gaya oklusi ini hendaknya disalurkan kepada gigi asli. Pada kasus GT yang pada kedua sisinya masih dibatasi gigi asli (bounded saddle), gaya oklusal akan disangga oleh sandaran oklusal cengkeram. Dengan cara ini, gaya oklusal tadi akan disalurkan ke akar gigi lalu ke membran periodontal sampai akhirnya diterima oleh tulang alveolar.

Gambar. Gaya oklusal disalurkan melalui sandaran ke gigi penyangga

Pada kasus GT free end sebagian gaya oklusal akan diterima oleh gigi penyangga dan sisanya oleh jaringan mukosa di bawah basis protesa.

Gambar. Gaya oklusal disalurkan ke gigi penyangga dan mukosa

Gaya oklusal yang diterima elemen pada waktu mastikasi akan diteruskan basis ke jaringan di bawahnya secara kompresif. Upaya untuk mengurangi gaya oklusal yang diterima jaringan penyangga yaitu:
22

Pengurangan jumlah atau luas permukaan elemen. Penyaluran gaya oklusal secara merata pada jaringan pendukung dengan menggunakan cetakan fungsional atau mukokompresi. Distribusi gaya seluas mungkin dengan memperbesar basis/ konektor utama agar besar gaya per satuan luas menjadi lebih kecil. Perluasan basis rahang bawah sampai retromolar pad dan rahang atas sampai tuberositas maksila

Penempatan lengan cangkolan sampai ke permukaan mesial, jika cangkolan berasal dari disal atau harus lebih dari setengah keliling gigi penyangga.

Gambar. Gaya oklusal dapat disangga secara baik oleh seluruh serat periodontal. Gaya horizontal (A, B) hanya disangga oleh sebagian serat periodontal saja. Terlihat serat periodontal (D, G) menegang dan (C, F) tertekan pada waktu gaya horizontal bekerja. E adalah titik pusat rotasi gigi

Besar gaya kunyah yang terjadi pada saat mastikasi tergantung pada usia, jenis kelamin, kekuatan otot mastikasi, macam gigi antagonis, kebiasaan makan, serta lokasi gigi yang diganti. Pada penderita usia lanjut, gaya kunyah lebih kecil dibandingkan merka yang masih muda, begitu pula gaya kunyah laki-laki lebih besar daripada wanita. Gaya vertical pelepas terjadi selama mengunyah, dimana makanan lengket akan melekat pada permukaan oklusal dan ketika rahang terbuka maka gigitiruan akan bergerak terlepas dari posisinya. Pergerakan otot perifer, kekuatan tak terkontrol seperti batuk, bersin, dan gaya berat untuk gigitiruan rahang atas dalam kelompok. Selain efek terhadap gigi penyangga, efek pada jaringan pendukung yang terletak di bawah basis gigitiruan juga harus dipertimbangkan. Akibat dari perbedaan kompresibillitas gigi penyangga dan mukosa yang menutupi linggir sisa menyebabkan tekanan lebih terpusat pada bagian edentulous. Linggir alveolaris pada bagian edentulous akan terkena rauma yang besar dan terus-menerus sehingga dapat menyebabkan rasa sakit pada bagian mukosa. Bila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, resopsi linggir alveolus bagian posterior akan
23

terjadi dan menimbulkan lingkaran keruasan yang progresif pada gigi penyangga dan jaringan pendukung yang terjadi saat berfungsi. Resopsi linggir alveolus pada bagian edentulus juga akan mempengaruhi gigitiruan. Gigitiruan tidak stabil saat berfungsi sehingga menyebabkan gangguan oklusi.

b. Gaya Lateral Kontak oklusi antara gigi-gigi dan aktivitas otot-otot di sekitar geligi tiruan pada saat pengunyahan akan menimbulkan gaya horizontal. Berdasarkan arahnya, gaya horizontal dapat dibagi menjadi gaya lateral dan gaya antero-posterior.

Gambar. Gaya horizontal dan aktivitas otot di sekitar geligi tiruan

Gaya lateral timbul pada saat rahang bawah bergerak dari posisi kontak oklusi eksentrik ke posisi sentrik, atau sebaliknya. Gaya ini merupakan gaya yang paling merusak gigi asli maupun tulang alveolar pada daerah tak bergigi, karena hanya sebagian serat periodontal atau mukosa saja yang berfungsi menyangganya.

Gambar. Gaya lateral pada rahang atas (A) dan bawah (B)

Untuk mencegah kerusakan gigi asli dan resorpsi tulang alveolar berlebih, gaya lateral harus diimbangi dengan kombinasi dari beberapa cara berikut ini: Penyaluran gaya lateral sebanyak mungkin pada gigi asli. Pengurangan sudut tonjol gigi.
24

Pengurangan luas permukaan bidang oklusal elemen tiruan. Pemakaian desain cengkeram bilateral. Penyusunan oklusi dan artikulasi yang harmonis.

c.

Gaya Antero-Posterior Gaya ini terjadi pada pergerakan rahang dimana gigi depan ada pada posisi edge to edge atau oklusi protrusif ke oklusi sentrik dan sebaliknya. Pada pergerakan ini ada kecenderungan GT rahang bawah bergerak ke arah posterior dan GT rahang atas ke anterior.

Gambar. Gaya anteroposterior pada (A) protesa atas dan (B) protesa bawah

Pergerakan semacam ini pada protesa rahang bawah dapat diatasi dengan : Penempatan lengan cengkeram sampai ke permukaan mesial, jika cengkeram berasal dari sandaran distal. Penempatan sandaran dan konektor minor di sisi mesial gigi penyangga. Perluasan basis sampai retromolar pad. Pengurangan sudut tonjol gigi. Penyusunan oklusi dan artikulasi yang harmonis.

Pada rahang atas, pergerakan antero-posterior dapat diatasi dengan : Perluasan basis sampai tuber maksilaris. Penempatan cengkeram pada gigi posterior atau sandaran dan konektor minor pada permukaan distal. Perluasan konektor utama sampai gigi anterior. Pengurangan sudut tonjol gigi. Penyusunan oklusi dan artikulasi yang harmonis.
25

d. Gaya Pemindah atau Pelepas (Displacing or Dislodging Forces) Gaya pemindah timbul karena pada saat mastikasi, makanan lengket melekat pada permukaan oklusal GT dan pada saat mulut terbuka protesa akan tertarik ke arah oklusal. Selanjutnya pergerakan otot perifer, kekuatan tak terkontrol seperti batuk, bersin dan gaya berat untuk protesa rahang atas, termasuk dalam pergerakan gaya pemindah.

Gambar. Gaya perpindahan karena makanan lengket atau aktivitas otot

Perbedaan antara gaya perpindahan dan rotasi terletak pada ada tidaknya sumbu rotasi. Pada gaya perpindahan, sandaran akan terangkat dari kedudukannya, sedangkan pada rotasi masih ada bagian sandaran yang berkontak dengan gigi dan merupakan tumpuan untuk rotasi. Gaya perpindahan ini ditahan oleh lengan retentif cengkeram dan bagian retentif lainnyadari geligi tiruan sebagian lepasan. Pada GTSL free end akan terjadi pergerakan rotasi pada saat fungsi. Dalam hal ini, ada 3 kemungkinan pergerakan rotasi, masing-masing rotasi pada garis fulkrum, pada sumbu longitudinal, dan pada sumbu imajiner yang tegak lurus sumbu rahang.

3.

Pergerakan Rotasi selama Fungsi a. Pergerakan Rotasi pada Garis Fulkrum Pergerakan ini terjadi sekeliling sumbu putar yang terbentuk oleh dua buah sandaran utama. Garis ini disebut Garis Fulkrum atau Garis Rotasi dan merupakan pusat rotasi geligi tiruan dalam arah vertikal. Bila ada gaya oklusal yang diterima protesa, maka geligi tiruan akan bergerak ke arah jaringan mukosa. Besarnya pergerakan ini tergantung pada besarnya kompresibilitas mukosa yang bersangkutan. Garis fulkrum juga merupakan pusat rotasi basis protesa menjauhi jaringan mukosa, bila yang bekerja adalah gaya

26

perpindahan. Kalau lengan cengkeram cukup retentif dan efektif menahan sandaran oklusal tetap pada kedudukannya, maka di sini hanya terjadi pergerakan rotasi saja. Pergerakan ke arah mukosa dapat ditanggulangi dengan cetakan fungsional, ketepatan basis dan tergantung pada kualitas jaringan pendukung. Pergerakan ke arah oklusal, sementara itu dapat diimbangi dengan retensi tak langsung (indirect retention).

Gambar. Pergerakan rotasi sekeliling garis fulkrum

b. Pergerakan Rotasi pada Sumbu Longitudinal Pergerakan rotasi ini terjadi pada sumbu longitudinal yang melalui pusat sandaran dan puncak linggir. Pada saat geligi tiruan berfungsi, basis ujung bebas akan berotasi pada puncak linggir. Pergerakan rotasi ini dapat ditanggulangi dengan ketegaran konektor utama dan lengan retentif cengkeram pada sisi rahang lainnya. Jadi penempatan lengan cengkeram sebaiknya bilateral. Pada desain unilateral, kedua lengan cengkeram harus retentif.

Gambar. Pergerakan rotasi pada sumbu longitudinal

c.

Pergerakan Rotasi pada Sumbu Imajiner Pergerakan pada sumbu imajiner tegak lurus pusat rahang terjadi karena gaya kunyah horizontal dan diagonal bekerja pada protesa. Pergerakan rotasi jenis ini dapat ditanggulangi oleh lengan pengimbang atau stabilisasi dari geligi tiruan, dan konektor
27

minor yang berkontak dengan permukaan vertikal gigi asli. Seperti halnya lengan retentif cengkeram, lengan pengimbang juga sebaiknya bilateral.

Gambar. Pergerakan rotasi pada pusat rahang

4. Penerapan Prinsip Biomekanik Dalam Usaha Mengatasi Permasalahan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Berujung Bebas Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa pada kasus gigi tiruan sebagian lepasan berujung bebas akan terjadi ungkitan pada gigi penyangga, responsi linggir sisa akibat tekanan yang berlebihan yang pada akhirnya menyebabkan gangguan oklusi pada gigi tiruan saat berfungsi. Ada tiga usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahn tersebut, yaitu : mempertimbangkan prinsip biomekanik dalam penempatan cangkolan, usaha-usaha untuk mengontrol beban dan bebrapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Kesenjangan dukungan pada bagian anterior/posterior menimbulkan adanya resiko kerusakan pada gigi tiruan anterior atau jaringan mukoperiosteum (atau membrane mukosa) di bawah daerah free-end saddle. Penting untuk meminimalisir muatan fungsional, terutama ketika basis berlawanan dengan gigi asli dari rahang lawannya. Metode yang tersedia adalah: Penggunaan gigi posterior yang kecil. Menghilangkan satu atau bahkan dua gigi molar posterior (kecuali diperlukan untuk menutup jalan dari gigi asli yang berlawanan). Terkadang, lebih baik menghindari ketentuan dari basis, atau bahkan melawan saran ketentuan dari gigi tiruan. Lindungilah lapisan jaringan lunak seluas mungkin untuk mengurangi konsentrasi muatan dan memperpanjang dasar sampai ke area yang menyediakan dukungan yang paling besar, contohnya pada bagian bukal dari gigi tiruan mandibula.
28

Penempatan Cangkolan Pada Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Berujung Bebas

1. Penahan Langsung Salah satu aspek yang penting dalam desain gigi tiruan sebagian lepasan berujung bebas adalah peranan penahan langsung. Penahan langsung adalah komponen gigi tiruan sebagian lepasan yang dapat menahan tekanan pergeseran yang bekerja di sepanjang arah pemasangan. Tiga fungsi utama dari penahan langsung adalah : Pendukung Yaitu menahan pergerakan gigi tiruan ke arah jaringan lunak dengan menggunakan sandaran oklusal.

Akhir dari gigi anterior pada basis free end harus didukung oleh gigi, jika tidak tekanan / muatan fungsional menekan jaringan dari basis yang berdekatan menuju ke gigi tiruan dan merusak jaringan gingival. Sandaran oklusal atau singulum diperlukan. Biasanya disetujui jika gigi tiruan adalah premolar atau molar, sandaran biasanya diletakan di bagian mesial untuk mengurangi tilting force. Untuk meminimalisir tekanan yang bersifat destruktif pada gigi tiruan dari tekanan fungsional pada basis, kombinasi dari sandaran dan clasp dapat dilakukan (RPI System). Stabilisasi Yaitu menahan pergerakan horizontal dan rotasi dengan menggunakan lengan resiprokal dan bagian yang kaku dari lengan retentif. Retensi Yaitu menahan pelepasan ke arah oklusal dengan menggunakan bagian yang lebih fleksibel dari lengan retentif. Clasp dapat diletakan pada gigi tiruan, di mana dapat
29

menahan regio anterior pada basis, walaupun mengakibatkan jumlah stress yang lebih jauh pada gigi tiruan. Untuk alasan ini, posisi dari clasp dan jalan yang dibutuhkan untuk mencapai daerah undercut harus diperkirakan dengan hati-hati. Walaupun demikian harus diperkirakan juga retensi dari region posterior. Metode yang tersedia : Minimalkan tekanan pergeseran dengan membentuk permukaan dari basis Buat gigi tiruan rahang atas dengan kondisi ringan. Penggunaan retensi tidak langsung (indirect retention)

Penempatan bagian-bagian dari cangkolan tersebut perlu diperhatikan guna menjawab permasalahan yang terjadi pada GTSL berujung bebas. Seperti dijelaskan pada bagian awal bahwa terdapat tiga tipe pengungkit yang berhubungan dengan prinsip

biomekanik. Posisi titik fulkrum akan mempengaruhi ungkitan yang terjadi pada gigi penyangga. Pada kasus GTSL berujung bebas sebaiknya digunakan tipe pengungkit klas II (second class lever). Pada tipe ini titik fulkrum berada di ujung, tekanan pada ujung yang berlawanan dan tahanan yang berada di tengah. Bila tipe ini diterapkan ke dalam desain gigi tiruan, maka kesatuan cangkolan berada pada bagian mesial gigi penyangga yang akan berfungsi sebagai fulkrum, dengan lengan cangkolan berfungsi sebagai tahanan dan basis gigi tiruan sebagai tekanan (Gambar 10).

30

Gigi tiruan didesain dengan menempatkan cangkolan di sebelah mesial gigi penyangga dengan lengan cangkolan berjalan dari mesial ke distal dan ujung cangkolan terletak di bawah garis survei. Lengan resiprokal terletak pada sisi yang bersebelahan dan berada di atas garis survey, hal ini untuk menetralisir daya yang timbul oleh lengan retentive. Sedangkan lengan retentive dan lengan resiprokal gigi penyangga pada satu sisi harus terletak sama tinggi dengan gigi yang bersebrangan. Penempatan cangkolan pada bagian mesial gigi penyangga dianjurkan pada gigi tiruan lepasan berujung bebas untuk mengurangi ungkitan pada gigi penyangga. Penempatan cangkolan pada bagian mesial akan memberikan keuntungan yaitu : 1. Memberikan retensi dan tahanan pada gigi tiruan 2. Pengaruh sandaran tidak terletak pada pusat gigi penyangga 3. Menghilangkan pengaruh gaya ungkit kelas I 4. Arah pergerakan basis tegak lurus linggir sisa 5. Menahan gigi tiruan bergerak ke distal Pada saat timbul beban oklusal ketika mengunyah makanan maka lengan cangkolan akan turut bergerak kea rah gingiva. Sebaliknya ketika mengunyah makanan lengket basis gigitiruan akan bergerak ke oklusal sehingga lengan cangkolan bergerak ke oklusal. Beberapa peneliti juga berusaha membuat modifikasi desain cangkolan untuk mengatasi permasalahn gigi tiruan sebagian lepasan berujung bebas. Kratochvill (1963), membuat desain dari system RPI ( Rest Proximal I-bar) dengan menempatakan cangkolan Ibar pada pertengan bukal gigi penyangga dan sedikit ke anterior. Bagian ini berfungsi untuk melepaskan diri sari gigi penyangga waktu terjadi rotasi, sehingga gaya ungkit tidak terjadi pada gigi penyangga (gambar 11). Sedangkan Ben-Ur dan kawan-kawan (1988) mengganti sistem I-bar menjadi bentuk L untuk meningkatkan efeksifitas dari system RPI-bar. System ini digambarkan sebagai setengah T-bar. Sendaran mesio oklusal dan plat proksimal dirancang seperti dalam system RPI. Cangkolan L-bar menyilang gingival margin dari gigi penyangga dalam jarak terpendek yang memungkinkan, naik kea rah garis survey dan berkontak dengan daerah gerong distobukal.

31

Penahan Tidak Langsung Pada gigi tiruan yang didukung oleh gigi, pergerakan basis kearah linggir dapat dicegah dengan menggunakan sandaran oklusal, sehingga tekanan oklusal dapat disalurkan terhadap kedua gigi penyangga. Selanjutnya pergerakan ke arah horizontal dapat dicegah oleh bagian pengimbang. Pada gigitiruan sebagian lepasan berujung bebas, tidak seluruh gaya diterima didukung oleh gigi penyangga karena tidak adanya gigi penyangga pada bagian posterior. Pada keadaan ini sering terjadi rotasi, salah satu cara untuk mencegah terjadinya gerakan tersebut adalah dengan membuat penahan tidak langsung ( indirect retainer ). Fungsi penahan tidak langsung antara lain : 1. Mencegah pergerakan basis berujung bebas menjahui linggir sisa 2. Membantu plinting gigi anterior yang turut mendukung penahan tidak langsung terhadap kemungkinan bergesernya gigi kea rah lingual. 3. Mencegah konektor utama tertekan pada jaringan, karena penahan tidak langsung dapat bertindak sebagai sandaran oklusal tambahan. 4. Mengurangi daya torsional dalam arah anterioposterio pada gigi penyangga utama 5. Kontak konektor tambahan dengan permukaan vertical gigi penyangga akan menambah stabilisasi terhadap penrgerakan horizontal yang mungkin terjadi pada gigi tiruan. Macam-macam bentuk penahan tidak langsung yang dapat digunakan antara lain : 1. Sandaran Oklusal a. Sandaran Oklusal Tambahan ( secondary occlusal rest ) Sandaran ini letaknya bukan pada gigi penyangga utama tetapi ditempatkan pada bagian gigi yang di preparasi. Dan menjahui garis fulkrum. Pada kasus kelas I Kennedy, sandaran ini diletakkan pada bagian mesial ridge premolar satu kanan dan kiri. Walupun jaraknya cukup dekat dengan garis fulkrum namun penempatannya cukup efektif. b. Sandaran Oklusal Diperluas Ke Kaninus ( caninus extension from occlusal rest ) Sandaran ini dipakai untuk mempertinggi efektivitas penahan tidak langsung dan memperbesar lengan pengungkit terutama pada gigi premolar satu yang berfungsi sebagai penyangga utama sekaligus pendukung penahan tidak langsung. Sandaran ini berupa lengan
32

perluasan oklusal dari gigi premolar satu dan ditempatkan pada lengkung lingual kaninus yang telah dipreparasi, dimana panjang lengkan pengungkit hanya selebat gigi ( antara mesial dan distal marginal ridge premolar ) dan kalau perlu dapat diperpanjang satu gigi lagi

c. Sandaran Kaninus Letak mesial marginal ridge premolar satu yang terlalu dekat dari garis fulkrum atau posisi gigi yang tidak menguntungkan sebagau pendukung penahan tidak langsung maka biasanya dipakai sandaran kaninus dengan menempatkan konektor tambahan pada embrasure antara gigi insisivus dan kaninus. 2. Lingual Sekunder Bar ( continuous clasp / knnedy bar / lingual apron) Bagian ini terletak pada permukaan lingual gigi depan yang miring. Pada kasus kelas I dan II Kennedy, pemakaian lingual sekunder bar hanya sebagai peninggi efektivitas penahan tidak langsung. Tepi superior bagian ini tidak boleh melebihi sepertiga bagian gigi depan untuk mencegah gaya orthodontik pada gigi yang ditumpanginya pada saat terjadi rotasi basis berujung bebas. 3. Dukungan Rugae (rugae support) Pada kasus klas I dan II Kennedy rahang atas, penutupan rugae dapat berfungsi sebagai penahan tidak langsung bila mukosa daerah rugae padat dan kedudukannya baik (gambar 15). Rugae digunakan sebagai dukungan penahan tidak langsung bila pemakaian bar tambahan pada rahang atas merupakan kontraindikasi. Dukungan ini dapat dibuat sebagai Palatal Horse Shoe Bar, Palatal Arm, atau Anterior Palatal Arm.

33

4. Retensi langsung tak langsung (direct indirect retention) Pada kasus klas I Kennedy rahang bawah, retensi yang diberikan basis berujung bebas biasanya tidak cukup mampu untuk mencegah basis gigi tiruan terangkat dari linggir sisa. Hal ini dapat diatasi dengan cara memperberat basis dengan salah satu bahan yang gaya gravitasinya besar, karena penambahan berat ini basis jadi tidak mudah terangkat. Pada rahang atas, perlu dibuat gigi tiruan seringan mungkin karena gaya gravitasi justru berakibat negatif. Untuk itu dibuat basis setipis mungkin. Biasanya plat palatal mampu mencegah terlepasnya basis dari jaringan oleh gaya gravitasi. 5. Lengan Palatal (palatal arms) Lengan Palatal terdiri dari perluasan basis atau konektor palatal, seringkali dibuat dari metal yang diperpanjang ke bagian anterior dari titik fulkrum yang diletakkan pada bagian anterior palatum keras. Bagian ini dapat digunakan secara unilateral atau bilateral sebagai penahan tidak langsung pada gigitiruan sebagian lepasan berujung bebas. 6. Anterior Palatal Bar Digunakan sebagai penahan tidak langsung pada gigitiruan sebagian lepasan berujung bebas. Indirect Retention ; Gigi Tiruan Rahang Atas Penggunaan clasp pada gigi tiruan (Kennedy Class II) atau gigi tiruan (Kennedy Class I) tidak mencegah pegeseran ke bawah pada bagian distal dari basis. Kontak pada gigi tiruan, sejauh bagian anterior yang mungkin pada sumbu axis clasp sampai ke daerah fulcrum, memungkinkan clasp memperoleh retensi yang efektif pada bagian posterior. Kemungkinan pada kontak daerah anterior untuk menyediakan indirect retention : sandaran singulum, biasanya pada insisivus sentral sandaran anterior pada gigi tiruan yang memiliki bounded saddle dapat digunakan pada kasus Kennedy kelas II. tapi sandaran pada jaringan lunak kurang efektif dibandingkan yang berkontak dengan gigi Penggunaan palatal coverage , biasanya adalah resin akrilik, yang efektif dalam

menahan retensi tambahan dari area yang lebih luas.


34

Keterangan : (Garis biru L-F pada cetakan bukan merupakn sumbu X, ini adalah tampikan diagram sederhana yang menunjukkan garis pengungkitan) Indirect Retention ; Gigi Tiruan Rahang Bawah Saat pengunyahan, tekanan adhesive akan mengakibatkan pergeseran pada area free end saddle pada gigi tiruan. Sama seperti kasus gigi tiruan rahang atas, kontak pada daerah anterior harus dibuat indirect retention. Untuk retensi rahang bawah, pilihan yang ada adalah kontak dengan gigi. Yang memungkinkan pemilihan konektor : bar conector yang berada pada jaringan lunak (lingual bar, sublingual bar) yang menjadi tidak dapat diteruma karena mengakibatkan perputaran atau rotasi yang dalam ke daerah sulkus ketika daerah free end saddle diungkit. Kemungkinan yang ada : Lingual bar atau sublingual bar, tapi harus ditambakan sandaran jari pada singulum pada satu atau kedua gigi kaninus atau insisivus sentral. Dental bar Plat lingual-cast metal yang lebih baik terbuat dari resin akrilik. Penggunaan lingual atau sublingual bar, tapi penambahan konektor kedua pada daerah singulum. Kekurangan : tidak higienis dan toleransi yang buruk sehingga pasien merasa tidak nyaman pada lidah.

35

Usaha-usaha Untuk Mengontrol Beban Pada Gigitiruan Sebagian Lepasan Berujung Bebas Ada beberapa usaha yang dilakukan untuk mengontrol beban sehingga menimbulkan reaksi

yang optimum baik pada linggir maupun gigi penyangga. Berdasarkan prinsip biomekanik maka beban yang timbul harus didistribusikan secara merata. Usaha-usaha yang dilakukan agar dapat mengontrol beban pada gigi peyangga dan linggir alveolus antara lain: 1. Pendistribusian beban secara selektif pada jaringan pendukung 2. Pengurangan beban vertikal pada basis gigitiruan 3. Pendistribusian beban secara penekanan 4. Penggunaan teknik cetakan dengan penekanan

1. Pendistribusian beban secara selektif pada jaringan pendukung Ketika beban diberikan pada gigitiruan maka sebagian beban akan didistribusikan pada gigi peyangga dan sebagian lagi pada mukosa di bawah basis. Distribusi beban yang diberikan pada kedua jaringan ini dapat dikontrol melalui :
36

Penggunaan konektor yang kaku Untuk menghubungkan penahan langsung dari gigi penyangga ke basis gigitiruan sehingga proporsi beban yang diberikan pada gigi peyangga lebih besar daripada ke mukosa.

Pemakaian stress-breakers Untuk memungkinkan pergerakan antara retainer dan basis gigitiruan sehingga gaya tidak langsung diterima oleh gigi peyangga

Penempatan sandaran oklusal di sebelah anterior Untuk menahan pergerakan gigitiruan ke distal dans ebagai penahan tidak langsung

2. Pengurangan beban vertikal pada basis gigitiruan Bila beban yang diberikan pada gigitiruan selama mengunyah makanan berkurang, maka resiko bahwa beban akan merusak jaringan pendukung juga akan berkurang. Pengurangan ukuran dataran oklusal akan mengurangi gaya vertikal dan horizontal yang bekerja pada gigitiruan dan memperkecil tekanan pada gigi peyangga dan mukosa. Ditemukan bahwa pengurangan beban dapat diperoleh dengan mengurangi ukuran permukaan oklusal dari gigitiruan berujung bebas. Ada tiga cara untuk mengurangi ukuran permukaan oklusal. Mengurangi jumlah anasir gigitiruan yang akan disusun pada basis Menggunakan anasir gigitiruan yang permukaan oklusalnya sedikit lebih kecil dari gigi asli Menggunakan gigi kaninus dan premolar untuk mengganti gigi premolar dan molar

3. Pendistribusian beban secara merata Semakin luas basis, semakin sedikit beban per satuan luas yang diterima oleh jaringan pendukung. Distribusi beban dapat menguntungkan gigi peyangga dan membran mukosa serta tulang alveolar di bawahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan : Pembuatan basis gigitiruan selebar mungkin Untuk mencegah pergeseran gigitiruan ke arah posterior dan menambah retensi fisiologis. Pada rahang atas sampai ke hamular notch dan rahang bawah diperluas lebih besar dari segitiga retromolar pad. Menghubungkan lebih dari satu gigi peyangga pada satu sisi rahang

37

Upaya yang dapat dilakukan adalah melalui splinting pada gigi yang akarnya pendek dan menggunakan cangkolan ganda. 4. Penggunaan teknik cetakan dengan penekanan Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa terdapat perbedaan kompresibilitas antara gigi peyangga dan mukosa. Mukosa memiliki kompresibilitas yang lebih besar sehingga menyebabkan pergerakan ke arah jaringan ketika gigitiruan menerima beban. Pada saat sandaran menerima beban maka gerakan rotasi akan terjadi secara maksimal karena mukosa yang menjadi bantalan gigitiruan dicetak dengan tekanan minimal. Salah satu cara untuk mengatasi ini adalah menggunakan cetakan dengan tekanan fungsional yaitu dengan cara cetakan seksional atau cetakan ganda. Melalui cara ini diharapkan pergerakan gigitiruan pada saat berfungsi seminimal mungkin. Beberapa ahli menekankan perlunya untuk mencetak jaringan yang mendukung bsis GTSL berujung beban dalam keadaan fungsional untuk mecegah sedapat mungkin ungkitan pada gigi peyangga. faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam usaha mengatasi permasalahan GTSL berujung bebas antara lain: 1. Kontur dan kualitas linggir sisa Linggir sisa yang ideal untuk mendukung basis gig tiruan harus terdiri dari tulang kortikal yang menutupi tulang konselus relatif tebal, puncak yang luas dan datar dengan lekukan vertikal yang tinggi dan dilindungi oleh jaringan konektif fibrous yang kuat dan ideal. Pada keadaan ini linggir sisa akan secara optimal mendukung basis gigi tiruan untuk menerima tekanan vertikal dan horizontal, namun bentuk ideal seperti ini jarang dijumpai. Biasanya jaringan yang bergerak tidak akan adekuat mendukung basis gigi tiruan dan bila jaringan yang terletak antara tulang dan linggir sisa tajam, maka basis gigi tiruan akan merusak jaringan. Pada dasarnya tidak hanya keadaan linggir sisa saja yang perlu dipertimbangkan untuk keperluan dukungan basis gigi tiruan, tetapi hubungannya dengan gaya-gaya yang secara langsung diterima juga perlu dipertimbangkan. Salah satu tujuan perawatan dengan pembuatan gig tiruan sebagian lepasan adalah untuk mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut yang masih ada. Gigi tiruan sebagian lepasan berujung bebas didukung oleh dua jaringan yang memiliki perbedaan kompresibilitas yaitu gigi penyangga dan mukosa yang menutupi linggir sisa. Untuk

38

melestarikan struktur pendukung gigi tiruan ini diperlukan beberapa usaha untuk mengatasi permasalahan pada GTSL berujung bebas dengan mempertimbangkan prinsip biomekanika. Salah satu upaya yang dilakukan dengan penerapan prinsip biomekanik adalah melalui penempatan cangkolan dengan menggunakan penahan langsung mengikuti tipe pengungkit klas II (second class lever) yaitu meletakkan kesatuan cangkolan pada bagian mesial gigi penyangga. Penempatan kesatuan cangkolan di bagian mesial gigi penyangga lebih menguntungkan karena ungkitan pada gigi penyangga dapat diminimalkan. Namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan dilakukannya modifikasi, sebagai contoh: daerah gerong di bawah garis survei yang minimal menyebabkan penggunaan cangkolan sirkumferensial kurang retentif. Penggunaan cangkolan sirkumferensial juga menyebabkan faktor estetis berkurang dan ungkitan pada gigi penyangga terjadi ketika timbul gaya pada saat berfungsi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka Kratochvil dan Ben-Ur membuat modifikasi desain cangkolan. Kratochvil membuat desain RPI-bar sedangkan Ben-Ur melakukan modifikasi menggantikan I-bar dengan bar berbentuk L. I-bar bebas dilepaskan dari gigi ketika rotasi terjadi di sekeliling sandaran oklusal mesial. L-bar jika ditempatkan dekat atau sama pada garis permukaan horizontal sebagai sandaran oklusal juga terlepas dari gigi penyangga. L-bar lebih memenuhi fungsi estetisnya jika dialokasikan lebih ke distal dari permukaan bukal. Tidak adanya daerah gerong pada permukaan bukal dari gigi premolar mandibula atau keharusan rekontruksi gigi kaninus jika digunakan I-bar. Rekontruksi ini harus diperluas ke anterior dalam menyediakan kebebasan untuk melepaskan I-bar selama bergerak ke jaringan. Daerah gerong disto-bukal selalu digunakan oleh L-bar. Arah pasang distal dapat digunakan tanpa menekan pada gigi penyangga. L-bar ini lebih praktis sehingga memudahkan pergerakan dari gigi tiruan. Setelah dilakukan medifikasi terhadap desain cangkolan, namun jika tetap tidak memungkinkan untuk penempatan cangkolan pada bagian mesial, sebagai contoh ; gigi penyangga yang berotasi ke arah distal dari permukaan fasial akan mempunyai fossa mesial marginal ridge jauh ke bukal dimana hal itu menyebabkan kurang estetis, dan sering tidak memungkinkan penggunaan fossa mesial untuk sandaran oklusal terutama pada gigi tiruan akrilik. Oklusi gigi penyangga dan antagonisnya yang rapat. Pada keadaan ini penempatan cangkolan dapat digunakan tipe pengungkit klas I (first class lever). Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan dari penempatan cangkolan ini dapat digunakan penahan tidak langsung.
39

Salah satu upaya lain untuk mengatasi permasalahan GTSL berujung bebas adlah menggunakan teknik cetakan dengan penekanan. Teknik cetakan ini dapat diperoleh dengan cetakan seksional atau cetakan ganda yaitu memberikan tekanan pada mukosa sesuai dengan kemampuan fisiologis jaringan yang menerima beban. Sayangnya sulit untuk mengontrol level tekanan yang digunakan. Bila tekanan mencapai level yang berlebihan maka hal tersebut akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan ketika gigi tiruan dipasangkan pada pasien oleh karena mukosa dicetak dengan tekanan maka jaringan ini akan memberikan gaya ke atas yang meningkat pada basis gigi tiruan karena sifat jaringan yang lenting akan kembali ke posisinya. Bila penahan langsung dapat memepertahankan posisi gigi tiruan, jaringan di bawah basis akan berada di dalam keadaan tekanan konstan. Bila hal ini berlebihan, jaringan lunak dapaty menunjukkan reaksi patologis yang bervariasi dari hiperemia sampai nekrosis. Berkurangnya pasokan darah ke jaringan dapat memperdepat resorpsi linggir sisa. Sebaliknya bila penahan langsung tidak adekuat dalam mempertahankan posisi gigi tiruan, lentingan dari jaringan yang tertekan akan menyebabkan gigi tiruan bergerak menjauhi linggir sisa. Hal inilah yang harus menjadi pertimbangan bagi praktisi dan dokter gigi sehingga lebih memperhatikan keberhasialn perawatan pada kasus gigi tiruan lepasan berujung bebas. Prosedur teknik pencetakan, komponen, peranan survei, pemilihan dan penyusunan anasir GT dalam penentuan desain pembuatan GTSL Meminimalisir kejadian yang tidak menguntungkan jaringan disekitarnya, khusus kasus free end yang harus diperhatikan: 1. Perlu diusahakan adanya penahan tak langsung 2. Desain cengkram harus dibuat sederhana sehingga tekanan kunyah yang bekerja pada gigi penahan jadi seminimal mungkin 3. Sandaran oklusal hendaknya diletakkan menjauhi daerah tak bergigi 4. Perlu dilakukan pencetakkan agar keseimbangan penerimaan beban kunyah antara gigi dan mukosa dapat dicapai 5. Dalam pembuatan desain perlu diperhatikan kemungkinan perlunya pelapisan atau penggantian basis dikemudian hari dan hal ini harus mudah dilakukan.

40

Diagnosa yang menunjang perawatan prosthodonsia Pada pembuatan gigitiruan sebagian lepasan, rencana perawatan dan perawatan pendahuluan harus ditetapkan terlebih dahulu, karena beberapa keadaan dapat mempengaruhi keadaan yang lain. Jika pada pasien terdapat keluhan rasa sakit sebelum pembuatan gigitiruan, mungkin yang diperlukan adalah pencabutan gigi geligi sesegera mungkin, jika penambalan tidak dapat dilakukan, untik mendapatkan kesehatan rongga mulut. Selama proses pemeriksaan, rencana perawatan sementara telah ditentukan untuk digunakan pada masingmasing gigi geligi yang tinggal, pembuatan gigitiruan sebagian lepasan dikatakan berhasil jika berbanding langsung pada gigi geligi yang tinggal, pemeriksaan rontgen foto juga diperlukan pada keadaan seperti ini untuk melihat keadaan gigi yang tinggal seperti karies interdental dan kualitas tulang alveolar. Perawatan pendahuluan yang dilakukan sebelum pembuatan gigitiruan sebagian lepasan bertujuan untuk melihat keadaan seluruh perubahanperubahan/ kelainan yang terjadi pada gigi geligi, linggir alveolus yang mendukung gigitiruan dan struktur rongga mulut yang lain yang dapat menggagalkan dalam pembuatan gigitiruan sebagian lepasan. Tujuan diagnosa dan perawatan pendahuluan mempunyai arti yang penting terhadap suksesnya pembuatan gigitiruan untuk kebutuhan pasien. Diagnosa dan perawatan pendahuluan pada pembuatan gigitiruan mempunyai beberapa pertimbangan :

1. Membentuk kesehatan jaringan periodontal. 2. Pemulihan gigi pasien. 3. Pemulihan dan mengahrmoniskan hubungan oklusal. 4. Penggantian dari gigi yang hilang. Jika pasien langsung dirawat tanpa melakukan diagnosa dan perawatan pendahuluan, maka kegagalanlah yang akan dihadapi. Kegagalan-kegagalan dari pembuatan gigitiruan sebagian lepasan : 1. Rusaknya bagian-bagian yang lain. Biasanya dapat terjadi jika diagnosa dilakukan tidak tepat. 2. Kegagalan untuk mengevaluasi keadaan yang terlihat. 3. Kegagalan dalam persiapan pasien dan perbaikan jaringan mukosa sebelum dibuat gigitiruan pada model.

41

Selain diagnosa dan perawatan pendahuluan, ada hal-hal yang sama pentingnya, yaitu: 1. Penjelasan kepada pasien mengenai gigitiruan yang akan dibuat, sehingga pasien mengerti akan kegunaan gigitiruan tersebut. 2. Memastikan kebutuhan gigitiruan untuk pasien. 3. Keinginan pasien yang berhubungan dengan kebutuhannya. 4. Hubungan rencana perawatannya dengan kebutuhannya. Mendiagnosa pasien berarti melakukan anamnese dan pemeriksaan terhadap pasien. Anamnese yaitu menanyakan kepada pasien mengenai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gigitiruan yang akan dipakainya. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan subjektif 2. Pemeriksaan objektif

1. Pemeriksaan subjektif. Yang diperiksa antara lain: Penyakit sistemik, misalnya: hipertensi, diabetes mellitus. Kebiasaan jelek, misalnya: mengunyah di satu sisi, bruxism, dsb. Apakah pernah memakai gigitiruan, jika pernah bagaimana keluhankeluhan gigitiruan yang lama.

2. Pemeriksaan objektif.

Pemeriksaan objektif terbagi dua: a. Pemeriksaan ekstra oral b. Pemeriksaan intra oral.

Pada pemeriksaan objektif ini, pemeriksaan dapat dilakukan dengan: Melihat Palpasi Perkusi Sonde Termis Rontgen foto

42

Pemeriksaan ektra oral meliputi pemeriksaan terhadap: 1. Bentuk muka/wajah a. Dilihat dari arah depan. - oval/ovoid - persegi/square - lonjong/tapering b. Dilihat dari arah samping. - cembung - lurus cekung 2. Bentuk bibir - panjang, pendek - normal - tebal, tipis - tegang, kendor (flabby) Tebal tipis bibir akan mempengaruhi retensi gigitiruan yang akan dibuat, dimana bibir yang tebal akan memberi retensi yang lebih baik. 3. Sendi rahang - mengeletuk - kripitasi - sakit

Pemeriksaan intra oral meliputi pemeriksaan terhadap: 1. Pemeriksaan terhadap gigi, antara lain: a. Gigi yang hilang b. Keadaan gigi yang tinggal: - gigi yang mudah terkena karies - banyaknya tambalan pada gigi - mobility gigi - elongasi - malposisi - atrisi Jika dijumpai ada kelainan gigi yang mengganggu pada pembuatan gigitiruan, maka sebaiknya gigi tersebut dicabut.
43

c. Oklusi : diperhatikan hubungan oklusi gigi atas dengan gigi bawah yang ada. Angle klas I, II, dan III. d. Adanya ovrclosed occlusion pada gigi depan, dapat disebabkan, antara lain karena : - angular cheilosis - disfungsi dari TMJ - spasme otot-otot kunyah Spasme otot-otot kunyah dapat diperbaiki dengan menambah dimensi vertical pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan. Selain deep overbite, harus diketahui juga ukuran over jet dari gigi depan. Dalam keadaan normal, ukuran over bite dan over jet ini berkisar antara 2 mm. e. Warna gigi Warna gigi pasien harus dicatat sewaktu akan membuat gigi tiruan sebagian lepasan, terutama pada pembuatan gigitiruan di daerah anterior untuk kepentingan estetis. f. Oral hygiene - adanya karang gigi - adanya akar gigi - adanya gigi yang karies - adanya peradangan pada jaringan lunak, misalnya : gingivitis

Rontgen foto. Dengan rontgen foto dapat diketahui adanya: - kualitas tulang pendukung dari gigi penyangga - gigi-gigi yang terpendam, sisa-sisa akar - kista - kelainan periapikal - resorbsi tulang - sclerosis (penebalan tulang) h. Resesi gingival Terutama pada gigitiruan sebagian lepasan yang dilihat untuk gigi penyangga dari gigitiruan tersebut. i. Vitalitas gigi 2. Pemeriksaan terhadap mukosa / jaringan lunak yang menutupi tulang alveolar, seperti: - inflamasi, pada keadaan ini mukosa harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum dicetak. - bergerak/tidak bergerak. - keras/lunak
44

3. Pemeriksaan terhadap bentuk tulang alveolar. - bentuk U, V - datar, sempit, luas, undercut

4. Ruang antar rahang - besar, dapat disebabkan karena pencabutan yang sudah terlalu lama - kecil, dapat disebabkan karena elongasi cukup, minimal jaraknya 5 mm

5. Adanya torus -pada palatum disebut torus palatinus -pada mandibula disebut torus mandibula Torus ini bila keadaan mengganggu pada pembuatan gigitiruan, harus dibuang.

6. Pemeriksaan jaringan pendukung gigi

7. Pemeriksaan terhadap frenulum Apakah perlekatannya tinggi atau rendah sampai puncak alveolar, dimana jika perlekatan yang rendah akan mengganggu gigitiruan yang dibuat, sehingga perlu dilakukan pembebasan. Setelah dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan terhadap pasien, dapat diketahui apakah masih perlu dilakukan perawatan pendahuluan sebagai persiapan perawatan prostodontik.

Dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas, maka dapat ditentukan : - diagnosa - rencana perawatan - prognosis

45

PROSEDUR TEKNIK PENCETAKAN


Setelah dilakukan perawatan pendahuluan dan luka pencabutan sudah sembuh maka pencetakan terhadap pasien dapat dilakukan. Sebelumnya terlebih dahulu dijelaskan kepada pasien, bahwa dalam pengambilan cetakan harus dalam keadaan rileks agar diperoleh hasil cetakan yang baik. Pencetakan rahang adalah tiruan bentuk negatif dari jaringan rongga mulut yang merupakan jaringan pendukung gigi tiruan. Cetakan dilakukan untuk mendapatkan model yang merupakan bentuk tiruan yang sesuai dengan bentuk dan ukuran jaringan rongga mulut. Keberhasilan suatu gigi tiruan sangat tergantung pada proses pembuatannya, salah satu tahap penting dalam proses pembuatan gigi tiruan adalah tahap pencetakan. Dalam tahap tersebut diguanakan teknik pencetakan yang diharapkan dapat menghasilkan suatu cetakan yang akurat sehingga dihasilkan pula gigi tiruan dengan adaptasi yang baik. Teknik pencetakan dapat dipilih dengan mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya. Dukungan terhadap gigi tiruan dapat diperoleh dari tulang rahang atas dan rahang bawah dan mukosa yang menutupinya. Keadaan ini dapat diperoleh dengan menggunakan tekanan secara selektif yang sesuai dengan kelenturan jaringan yang menutupi daerah pendukung gigi tiruan. Cetakan harus mencakup semua jaringan pendukung sesuai dengan batas-batas kesehatan dan pergerakan jaringan pendukung dan jaringan pembatas gigi tiruan sehingga batas pinggir gigi tiruan harmonis atau sesuai dengan batasan anatomis dan fisiologis dari struktur rongga mulut. Selain itu juga harus terdapat ruangan yang cukup untuk penempatan bahan cetak pada sendok cetak fisiologis. Banyak bahan cetak yang sering digunakan pada prosthetic dentistry yang diklasifikasikan, seperti : 1. Bahan Cetak Kaku (Rigid Material) Merupakan bahan cetak yang setelah mengeras konsistensinya kaku. Contoh : Plaster of Paris, metallic oxide paste 2. Bahan Cetak Termoplastik (Thermoplastic Meterial) Merupakan bahan cetak yang menjadi plastis pada suhu tinggi, tetapi menjadi keras kembali seperti semula bila suhu diturunkan. Contoh : modelling plastic, impression waxes 3. Bahan Cetak Elastik (Elastic Material) Merupakan bahan cetak yang tetap dalam keadaan elastis atau fleksibel setelah dikeluarkan dari mulut. Contoh : agar-agar, alginat, mercaptan rubber base material
46

Sebelum dilakukan pengambilan cetakan pada pasien, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu : 1. Pemilihan bahan cetak Bahan cetak yang dapat digunakan yaitu : a. Irreversible hydrocolloid Bahan ini tidak dapat dipakai lebih dari satu kali setelah dipakai. Digunakan untuk model diagnostik. Contoh : Alginat. b. Reversible hydrocolloid Bahan cetak ini dapat dipakai berulang-ulang. Hasil cetakan yang diperoleh lebih akurat. Contoh : Agar Perbedaan antar reversible hydrocolloid dengan irreversible hydrocolloid yaitu : a. Reversible hydrocolloid berubah dari bentuk gel (liat) ke sol (padat), mempunyai dimensi yang lebih stabil setelah dikeluarkan dari mulut. b. Irreversible hydrocolloid menjadi gel melalui reaksi kimia dari hasil pencampuran antara bubuk dan air.

2.

Pemilihan sendok cetak a. Harus sesuai dengan bentuk lengkung rahang, bila diletakkan dalam mulut harus ada selisih ruangan kira-kira 4-5 mm. b. Harus sesuai dengan bahan cetaknya, jika memakai alginat harus memakai sendok cetak yang berlubang atau yang memakai spiral di tepinya. c. Sayap sebelah lingual sendok cetak rahang bawah dapat diperpanjang dengan malam untuk memperluas di bagian posterior.

Teknik Mencetak Teknik mencetak dengan penekanan yang selektif antara gigi dan jaringan pendukung : 1. Teknik mukokompresi Jaringan lunak mulut di bawah penekanan. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan bahan yang mempunyai viskositas tinggi, sehingga tekanan lebih dibutuhkan ke arah mukosa di bawahnya. 2. Teknik mukostatis Jaringan lunak mulut berada dalam keadaan istirahat. Pencetakan yang demikian dilakukan dengan menggunakan bahan yang mempunyai viskositas yang sangat rendah, dimana hanya
47

sejumlah kecil tekanan yang dibutuhkan, sehingga pada keadaan ini sedikit atau tidak ada sama sekali terjadi pergerakan dari mukosa.

Hasil cetakan yang baik akan terlihat dengan jelas bagian-bagian sebagai berikut. 1. 2. 3. Seluruh gigi-geligi yang masih ada. Prosessus alveolaris yang tidak bergigi. Perlekatan otot-otot, pinggiran cetakan harus kelihatan membulat kecuali pada daerah-daerah yang menggambarkan perlekatan otot. 4. 5. 6. 7. Permukaan cetakan harus halus dan tidak berlubang-lubang. Dasar sendok cetak tidak boleh terlihat. Cetakan rahang atas harus mencakup sampai hamular notch. Cetakan rahang bawah harus mencakup sampai ke retromolar pad.

Gambar. Hasil pencetakan rahang atas dan bawah

Metode Pencetakan Khusus 1. Pencetakan Dua Tahap Pencetakan ini menggunakan 2 bahan cetak berbeda dalam 2 tingkat atau tahap kerja terpisah, dilakukan pada pembuatan geligi tiruan lengkap imidiat dan kasus GTS Kelas I Kennedy pada rahang atas. Keuntungan teknik ini adalah dapat mencetak bagian yang akan ditempati protesa, termasuk daerah post dam dengan cermat. Prosedur pencetakan ini meliputi: a. Cetakan Pertama Dibuat dengan sendok perorangan dari resin akrilik. Bagiantak brgigi dicetak dengan pasta zinc oxide atau rubber base setelah sebelumnya diberi batas pada sendok cetak dengan kompon. b. Cetakan Kedua Untuk gigi-gigi yang masih ada, dicetak dengan bahan hidrokoloid.
48

2.

Pencetakan Seksional Memerlukan sendok cetak perorangan dari shellac base plate yang terbagi dalam 3-4 bagian. Pencetakan dilakukan seksi demi seksi karena bahan cetak yang digunakan tidak mampu melewati gerong jaringan maupun gigi, tanpa menyebabkan distorsi. Bahan cetak yang digunakan yaitu impression compound atau pasta zinc oxide eugenol.

Posisi Pasien Saat Pencetakan Penderita duduk dengan posisi tegak dan bidang oklusal sejajar lantai. Pada rahang bawah, posisi mulut pasien setinggi siku operator. Pada rahang atas, posisi mulut pasien setinggi bahu operator.

Posisi Operator Saat Pencetakan Pada pencetakan rahang atas, operator berdiri pada sisi kanan agak ke belakang pasien. Pada pencetakan rahang bawah, operator berdiri pada sisi kanan agak ke depan pasien.

Gambar. Pencetakan rahang atas

Gambar. Pencetakan rahang bawah


49

Untuk pembuatan GTSL ini dibuat dua model, yaitu : 1. Model studi Pada model studi ini dapat dipelajari apa yang akan dilakukan antara lain : a. b. c. d. 2. Gigi tiruan apa yang akan dibuat. Pemilihan gigi penyangga. Macam cangkolan yang akan dibuat. Untuk melihat apakah masih ada gigi-geligi yang perlu diasah untuk memperbaiki oklusi.

Model kerja Pada model kerja ini dapat ditentukan desain gigi tiruan berdasarkan hasil survei pada model tersebut, lalu dapat dilakukan pembuatan gigi tiruan pada model ini.

Kemungkinan penyebab tidak akurat model : 1. Berubahnya bahan cetak hidrokolloid a. b. c. d. e. 2. 3. Memakai sendok cetak yang tidak kaku. Bahan cetak sebagian keluar dari sendok cetak. Srinkage/mengkerut karena kering (kekurangan air). Mengembang karena menyerap air. Bergeraknya bahan cetak sebagian dari sendok cetak.

Perbandingan antara air dan bubuk yang terlalu tinggi. Pencampuran (penuangan) yang tidak benar, karena kurang digetarkan sewaktu pengisian model.

4. 5.

Terlalu cepat melepaskan model dari cetakan. Terjadinya kegagalan memisahkan model dari cetakan dalam waktu yang lama.

50

KOMPONEN GTSL
a. Komponen

Gigi tiruan sebagian lepasan terdiri dari sejumlah komponen, antara lain (Gunadi dkk., 1995): 1. Penahan (retainer ) Merupakan bagian gigi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi memberiretensi dan karenanya mampu menahan protesa tetap pada tempatnya.

Penahand a p a t d i b a g i d a l a m d u a k e l o m p o k . P e r t a m a a d a l a h p e n a h a n l a n g s u n g ( direct retainer ) yang dan dapat berupa berkontak cengkeram atau langsung dengan permukaan gigi penahan penyangga tak langsung

kaitan presisi.

Selanjutnya,

(indirect retainer ) yang memberikan retensi untuk melawan gaya yang cenderung melepas protesa kearah oklusal dan bekerja pada basis. Retensi tak langsung ini diperolehdengan cara memberikan bekerja.Salah retensi satu pada sisi contoh berlawanan dari adalah garis fulkrum yang dimanagaya juga tadi

penahan

cengkeram,

dikenal

denganistilah cangkolan, klammer, clasp atau crib. Cengekram adalah bagian dari gigi tiruan lepasyang berbentuk bulat/gepeng. Terbuat dari kawat stainless steel/ logam tuang, yang melingkari/memegang gigi penjangakaran.

Fungsi cengkeram: 1. untuk retensi 2. untuk stabilisasi 3. untuk meneruskan beban kunyah ke gigi penjangkaran

Syarat umum gigi penjangkaran: 1. gigi vital atau non vital yang telah dilakukan PSA dengansempurna 2. bentuk anatomis dan besarnya normal 3. tidak ada kerusakan/kelainan. Misalnya: tambalan yang besar,karies, hypoplasia, konus posisi dalam lengkung gigi normal

Keadaan akar gigi: 1. bentuk ukurannya normal 2. tertanam dalam tulang alveolar dengan perbandingan mahkota akar 2:3 3. jaringan periodonta sehat
51

4. tidak ada kelainan periapikal 5. sedapat mungkin tidak goyang

Cengkeram kawat Bagian-bagian dari cengkeram kawat: a. Lengan, yaitu bagian dari cengkeram kawat yangterletak/melingkari bagian bukal/lingual gigi penjangkaran.Sifat agak lentur, berfungsi untuk retensi dan stabilisasi b. Jari, yaitu bagian dari lengan yang terletakdi bawah lingkaranterbesar gigi. Sifat lentur/fleksibel dan berfungsi untuk retensi c. Bahu, yaitu bagian dari lengan yang terleta di atas lingkaranterbesar dari gigi. Sifat kaku dan berfungsi untuk stabilisasiyaitu menahan gaya-gaya bucco-lingual d. Badan/body, yaitu cengekaram kawat yang terletak di atastitik kontak gigi di daerah aproksimal. Sifat kaku, danberfungsi untuk stabilisasi yaitu menaha gaya-gaya antero-posterior e. Oklusal rest, yaitu bagian dari cengekaram kawat yang terletak di bagaian oklusal gigi. Sifat kaku, panjang 1/3 lebar mesio-distal gigi. Berfungsi untuk meneruskan beban kunyah ke gigipenjangkaran f. Retensi dalam akrilik, yaitu bagian dari cengkeram kawat yangtertanam dalam basis akrilik

Syarat-syarat cengkeram kawat yang melingkari gigi: a. harus kontak garis b. tidak boleh menekan/harus pasif c. ujung jari tidak boleh menyinggung gigi tetangga dan tidak boleh tajam/harus dibulatkan d. tidak ada lekukan bekas tang(luka)pada lengan cengkeram e. bagiancengkeram yang melalui oklusal gigi tidak bolehmengganggu oklusi/artikulasi f. jarak bagian jari ke servikal gigi: cengkeram paradental:1/2-1mm cengekeram gingival:1 2 mmg. g. bagian retensi dalam akrilik harus dibengkokkan

Macam-macam desain cengkeramDesain cengkeram menurut fungsinya dibagi dalam dua bagian: 1. Cengkeram paradental Yaitu cengkeram yang fungsinya selain dari retensi danstabilisasi protesa, juga sebagai alat untuk meneruskan bebankunyah yang diterima gigi tiruan ke gigi penjangkarannya Jadi,cengkeram paradental harus mempunyai bagian yangmelalui bagian oklusal gigi penjangkaran atau melalui titik kontak antara gigi penjangkaran dengan gigi tetangganya. Macam-macam cengkeram paradental: a. Cengkeram 3 jari terdiri dari: lengan bukal dan lingual
52

body bahu oklusal rest bagian retensi dalam akrilik Indikasi: gigi molar dan premolar b. Cengkeram Jackson Desain cengkeram ini mulai dari palatal/lingual, teruske oklusal di atas titik kontak, turun ke bukal melalui dibawah lingkaran terbesar, naik lagi ke oklusal di atastitik kontak, turun ke lingual masuk retensi akrilik.Indikasi: gigi molar,premolar yang mempunyai kontak yang baik di bagian mesial dan distalnyaBila gigi penjangkaran terlalu cembung, seringkalicengkeram ini sulit masuk pada waktu pemasanganprotesa. c. Cengkeram jackson paradental Desainnya mulai dari bukal terus ke oklusal di atas titik kontak, turun ke lingual dan terus ke retensi akrilik Indikasi: gigi molar dan premolar gigi terlalu cembungsehingga cengkeram jackson sulit melaluinya ada titik kontak yang baik di anatar 2 gigi d. Cengkeram S Desain cengkeram ini mulai dari bukal terus keoklusal/insisal di atas titik kontak, turun ke lingualmelalu atas cingulum, kemudian turun ke bawah masuk ke dalam akrilik Indikasi:Untuk kaninus rahang atas perlu diperhatikan agar letak cengkeram tidak mengganggu oklusi e. Cengkeram Kippmeider Tidak mempunyai lengan, yang ada hanya rest di atascingulumIndikasi: hanya untuk kaninus. Bentuk cingulum harusbaik.Fungsi: hanya untuk menerusan beban kunyah danstabilisasi f. Cengkeram rush angker Desainnya mulai dari oklusal di aproksimal(daerahmesial/distal)terus ke arah lingual ke bawah, masuk dalam akrilik. Indikasi: molar, premolar yang mempunyai titik kontak yang baik .Fungsi: hanya untuk meneruskan beban kunyah protesake gigi penjangkaran dan sebagai retensi pada pembuatan spling. g. Cengkeram roach Desainnya mulai dari oklusal di daerah titik kontak aproksimal, turun ke bukal dan lingual terus keaproksimal di daerah diastema, masuk dalam akrilik Indiksai: gigi molar dan premolar yang mempunyaikonta yang baik.

53

2. Cengkeram gingival Yaitu cengkeram yang fungsinya hanya untuk retensi danstabilisasi protesa. Jadi, karena tidak berfungsi untuk meneruskan beban kunyah yang diterima protesa ke gigi penjangkaran, maka cengkeram ini tidak mempunyai bagianyang melalui bagian oklusal gigi penjangkaran, bisa diataspermukaan oklusal.

Macam-macam cengkeram gingival. a. Cengkeram 2 jari Desainnya sama dengan cengkeram 3 jari, hanya tidak mempunyai rest.Indikasi: gigi molar dan premolar. b. Cengkeram 2 jari panjang Desainnya seperti cengkeram 2 jari, hanya disinimelingkari 2 gigi berdekatan Iindikasi:gigi molar,premolar, dimana gigi yang deat diastema urangkuat(goyang 10). c. Cengkeram jacsonHampir sama dengan cengkeram jacson paradentalbedanya cengkeram ini melalui bagian proksimal dekatdiastema dan di bagian lingual lurus ke bawah, tetap ditepi lingual indikasi:gigi molar,premolar dan kaninus d. Cengkeram vestibular fingerCengkeram ini berjalan mulai dari sayap bukal protesake arah undercut di vestibulum bagian labial, ujungnyaditutupi akrilik.Indikasi: gigi sisa hanya gigi anterior yangtidak dapatdilingkari cengkeram, dan bagian vestibulum labial harus mempunyai undercut yang cukup. Fungsi: untuk tambahan retensi, tetapi kurang efektif

Kelompok cengkram tuang oklusal a. Cengkram akers Merupakan bentuk dasar dari sirkumferensial, cengkram initerdiri dari lengan bukal, lengan lingual, dan sebuah sandaranoklusal. Cengkram ini merupakan pilihan pertama untuk gigimolar dan premolar, terutama bila gigi tidak miring, estetik tidak penting, dan letak gerong retentif jauh dari daerah tak bergigi. b. Cengkram kail ikan Merupakan kombinasi dari cengkram akers c. Cengkram mengarah belakang (back action clasp) Jenis cengkram ini digunakan pada gigi posterior denganretensi sedikit, dengan memanfaatkan gerong retentif padabagian distal dan mesiobukal, seperti pada molar atas. d. Reverse back action clasp e. Half and half clasp Digunakan pada gigi premolar yang berdiri sendiri
54

f. Cengkram kaninus Cengkram akers ganda g. Cengkram embrassur h. Cengkram multiple i. Cengkram cincin j. Cengkram lengan panjang k. Cengkram kombinasi

Kelompok cengkram tuang gingival 1. Cengkram proksimal de van 2. Cengkram batang roach 3. Cengkram mesio-distal

C e n g k e r a m d a p a t d i g o l o n g k a n berdasarkan beberapa pertimbangan berikut ini. a . M e n u r u t k o n s t r u k s i n ya : - Cengkeram tuang atau cor ( cast clasp ) - Cengkeram kawat ( wrought wire clasp ) - Cengkeram kombinasi ( combination clasp ) b.Menurut desainnya: - Cengkeram sirkumferensial ( circumferential clasp atau circumferential typeclasp) - Cengkeram batang ( bar arm atau bar type clasp ) c.Menurut arah datang lengannya: - Cengkeram oklusal ( occlusally approaching clasp ) - Cengkeram gingival ( gingivally approaching clasp )

2. Sandaran (rest) Merupakan bagian gigi tiruan yang bersandar pada permukaan gigi penyangga dan dibuat dengan tujuan memberikan dukungan vertikal pada protesa. Sandaran dapat ditempatkan pada permukaan oklusal premolar dan molar atau pada permukaan lingual gigi anterior. Sandaran harus ditempatkan pada permukaan gigi yang telah dipreparasu agar bisa efektif. Preparasi tempat sandaran ini disebut kedudukan sandaran (rest seat atau recess). Sandaran dapat ditempatkan pada gigi anterior maupun posterior. Sandaran untuk gigi posterior dapat berupa sandaran oklusal, sandaran internal, sandaran onlay dan sandaran kail, sedangkan untuk gigi anterior dapat berupa sandaran singulum, sandaran insisal, sandaran restorasi, dan bahu lingual sirkum ferensial.
55

3. Konektor Dapat dibagi menjadi konektor utama (major connector) dan konektor minor (minor connector) sesuai dengan fungsinya masing-masing. Konektor utama merupakan bagian gigi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan bagian protesa yang terletak pada salah satu sisi rahang dengan yang ada pada sisi lainnya. Pada bagian ini terletak bagian-bagian lain protesa secara langsung ataupun tak langsung. Konektor atau tambahan (minor connector) merupakan bagian gigi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan knektor utama dengan bagian yang lain, misalnya suatu penahan langsung atau sandaran oklusal dihubungkan dengan konektor utama melalui suatu konektor minor.

4. Elemen (Gigi Tiruan) Merupakan bagian gigi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Seleksi gigi tiruan kandangkala merupakan tahap yang cukup sulit dalam proses pembuatan protesa kecuali pada kasus dimana masih ada gigi asli yang bisa dijadikan panduan atau mungkin sudah dilakukan rekaman pra ekstraksi gigi (pre extraction record) kecuali pada kasus dimana masih ada gigi asli yang bisa dijadikan panduan atau mungkin sudah

dilakukan rekaman pra ekstraksi gigi (pre-extraction record ). Walaupun demikian, seleksi ukuran dan bentuk sering pula menjadi sulit karena ruangan yang tersedia

sudah tak sesuai lagi, misalnya karena migrasi atau rotasi gigi tetangga. Dalam seleksi elemen ada metode untuk pemilihan gigi anterior dan posterior serta faktor-faktor yang harus diperhatikan, yaitu ukuran, bentuk, tekstur permukaan, warna dan bahan elemen.

5.Basis Gigi Tiruan Sering disebut juga dasar atau sadel, merupakan bagian yangmenggantikan tulang alveolar yang sudah hilang dan berfungsi mendukung gigi (elemen) tiruan. Fungsi basis gigi tiruan, antara lain: a. Mendukung gigi (elemen)tiruan. b. Menyalurkan tekanan oklusal ke jaringan pendukung, gigi penyangga atau linger sisa. c.Memenuhi faktor kosmetik; kemajuan dunia kedokteran gigi sekarangmemungkinkan pemberian warna dan pengembalian kontur wajah penderita sehingga kelihatan alamiah. d.Memberikan stimulasi pada jaringan yang berada di bawah dasar gigi tiruan,yang sering juga disebut sebagai jaringan sub basal. Pada saat berfungsi, pada pemakaian protesa dukungan gigi
56

SURVEI
Definisi Suatu prosedur penentuan lokasi dan outline dari kontur dan posisi gigi geligi penahan dan jaringan sekitarnya pada suatu model rahang sebelum kita membuat design suatu geligi tiruan. Guna Survei Menentukan arah pasang (part of insertion) yang terbaik untuk suatu geligi tiruan yang sedang kita buat, serta menandai garis-garis survei pada permukaan gigi dan jaringan sekitar untuk membantu kita dalam membuat design yang cocok untuk geligi tiruan tersebut. Bagian-bagian Surveyor Gigi Surveyor gigi (dental surveyor) terdiri dari bagian-bagian berikut : Basis Datar (horizontal base) Bagian dasar yang datar dan horizontal. Tiang Tegak (upright column) Suatu tiang yang tegak lurus basis datar. Lengan Datar (horizontal arm) Bagian yang memegang gelendong tegak. Gelendong Tegak (vertical spindle) Bagian yang memegang berbagai alat untuk melakukan survey yaitu : a. Tongkat Analisis (analyzing rod), sebatang logam kecil dan lurus yang digunakan untuk melakukan analisis. b. Karbon Penanda (carbon marker), sebatang karbon yang digunakan untuk menggambar garis pada permukaan model. c. Pelindung (sheath), untuk melindungi karbon penanda agar tidak mudah patah. d. Pengukur Gerong (undercut gauge), untuk mengukur dalamnya gerong pada gifi yang sudah disurvei. e. Pemangkas Sejajar dan Lancip (parallel and tapered trimmer), alat seperti pisau kecil untuk merapikan malam penutup gerong. Meja Basis (table base) Meja kecil dengan sendi peluru yang memungkinkan gerakan ke segala arah; model yang akan disurvei diletakkan di atas meja ini dan dapat dikunci pada posisi tertentu.

57

Prinsip Suatu Surveyor Bila suatu benda diletakkan suatu bidang vertical dan bidang ini digerakkan melingkari permukaannya, maka bidang tersebut akan menggambarkan suatu garis dimana tergambar permukaan terbesar dari benda itu. Surveyor mempunyai lengan vertical, pada lengan ini dapat dipasang pensil atau carbon marker. Bila lengan ini digerakkan pada permukaan gigi, maka carbon marker akan membentuk suatu garis yang melingkari gigi dan menggambarkan permukaan gigi yang terbesar gigi yang terbesar. Garis ini disebut garis survei. Garis survei membagi gigi menjadi dua bagian yaitu : 1. Permukaan gigi di ataas garis survei yang merupakan permukaan yang tidak ada undercut disebut supra bulge area.
58

2. Permukaan di bawah garis survey merupakan permukaan yang ada undercut disebut infra bulge area.

Penggunaan Surveyor I. Mensurvei Study Cast Tujuannya : a. Menentukan arah pasang yang terbaik yang akan mengurangi hambatan pada waktu pemasukan dan pengeluaran geligi tiruan sebagian. b. Menemukan adanya permukaan-permukaan proksimal yang bisa dibuat sejajar sehingga dapat bertindak sebagai guiding planes. c. Menemukan dan mengukur daerah-daerah pada permukaan gigi yang dapat digunakan untuk retensi. d. Menetukan apakah daerah-daerah gangguan pada gigi dan tulang perlu dibuang dengan jalan extraksi gigi atau memilih arah pasang lain. e. Memungkinkan pemberian tanda bagi persiapan mulut yang akan dilaksanakan, termasuk pemotongan jaringan proksimal dan kontur gigi yang berlebihan untuk mengurangi interferensi (hambatan). f. Menggambarkan garis kontur terbesar pada gigi pendukung dan menentukan gerong yang tak diharapkan yang perlu ditutupi atau dibuang. g. Menetapkan posisi model rahang dalam hubungan dengan arah pasang yang dipilih dengan jalan melakukan tripoding. II. Menentukan Batas dan Bentuk Pola Malam Trimer dan surveyor digunakan senagai wax carver selam preparasi dalam mulut, sehinggan arah pasang yang sudah ditentukan dapat dipertahankan selama preparasi restorasi tuang bagi gigi pendukung dilakukan.
59

III. Penempatan Internal Attachment Dalam hal ini, surveyor digunakan untuk : a. Memilih arah pasang dalam hubungan dengan sumbu panjang gigi pendukung, sehingga daerah gangguan dimanapun pada lengkung rahang dapat dihindari. b. Membuat preparasi untuk kaitan presisi (precision attachment) pada model studi dengan memperhatikan jangan sampai mengenai ruang pulpa. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan foto rontgen. c. Membentuk model wax untuk precision attachment. IV. Penempatan Precision Rest (sandaran presisi) Surveyor dapat digunakan sebagidrill press, dengan melekatkan dental handpiece pada vertical spindle. V. Pembuatan Restorasi Tuang Dengan dental handpiece yang dipasang pada vertical spindle, permukaan-permukaan vertical restorasi tuang dapat dihaluskan dengan suatu batu carborundum berbentuk silindris yang sesuai. VI. Mensurvei Model Kerja Tujuannya : a. Memilih arah pasang yang paling sesuai, sesudah preparasi dalam mulut yang memenuhi persyaratan dari guiding planes, retensi, tanpa hambatan dan estetis diselesaikan. b. Mengukur daerah retentive dan lokasi ujung cengkram sesuai dengan fleksibilitas dari cengkram yangsedang dibuat. c. Menetukan daerah undesirable undercut yang masih didapati pada model. d. Merapikan bahan block out sampai sejajar dengan arah pasang sebelum kita melakukan duplikasi.

60

PEMILIHAN DAN PENYUSUNAN ANASIR GIGI TIRUAN PADA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN (GTSL)
Anasir gigi tiruan merupakan bagian dari GTSL yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Pemilihan dan penyusunan anasir gigi tiruan anterior maupun posterior tidaklah begitu sulit, khususnya pada kasus dengan kehilangan satu atau dua gigi karena ukuran, bentuk, warna dan susunannya dapat disesuaikan dengan gigi sejenis yang ada di sisi sebelahnya. Mengenai ukuran gigi harus disesuaikan dengan ruangan yang ada, misalnya telah terjadi migrasi gigi ke arah edentulous, hal ini menyebabkan ruangan yang ada menjadi lebih kecil dari sebenarnya. Pemilihan dan penyusunan anasir gigi tiruan harus dapat memperbaiki penampilan selain untuk memperbaiki fungsi lainnya dari gigi tiruan. Dalam pemilihan dan penyusunan anasir gigi tiruan anterior maupun posterior ada faktor-faktor yang harus diperhatikan yaitu mengenai ukuran, bentuk, warna, bahan, jenis kelamin, umur, serta inklinasi dari anasir gigi tiruan dapat memenuhi fungsinya.

a.

Pemilihan Anasir Gigi Tiruan Anterior Memilih gigi yang akan disusun pada kasus GTSL tidaklah begitu sulit, khususnya pada kasus dengan kehilangan satu atau dua gigi. Bila gigi yang hilang banyak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih anasir gigi tiruan, antara lain: 1. Ukuran Gigi Panjang gigi Dalam menentukan panjang gigi, ada dua hal yang dapat dipakai sebagai pedoman, yaitu : Dalam keadaan istirahat tepi insisal gigi depan atas kelihatan 2-3 mm, tetapi hal ini bervariasi secara individual tergantung dari umur dan panjang bibir atas. Bagi pasien tua, umumnya tepi insisal gigi depan telah aus sehingga mahkota klinis lebih pendek. Bila bibir atas panjang maka seluruh gigi yang terlihat pada saat seseorang tertawa. Pada saat tertawa, panjang gigi akan terlihat sampai 2/3.

Lebar gigi Para pakar menganjurkan untuk menggunakan pedoman dalam menentukan lebar gigi, antara lain : a) Lee, Boucher menganjurkan untuk menggunakan indeks nasal sebagai pedoman yaitu lebar dasar hidung sama dengan jarak antara puncak kaninus rahang atas yang diukur secara garis lurus.
61

Gambar. Garis ala nasi melalui poros kaninus

b) Sudut mulut Sudut mulut dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk menentukan letak tepi distal dari kaninus atas pada saat istirahat. Jarak antara kedua sudut mulut sama dengan lebar keenam gigi depan atas.

Gambar. Hubungan sudut mulut dengan tepi distal kaninus

2.

Bentuk gigi Untuk menentukan bentuk gigi beberapa hal di bawah ini dapat digunakan sebagai pedoman. Menurut Leon Williams Bentuk wajah ada hubungannya dengan bentuk gigi insisivus sentral atas. Bentuk insisivus sentral atas sesuai dengan bentuk garis luar wajah, tetapi dalam arah terbalik. a) Wajah dilihat dari depan o Persegi (square)

62

Gambar. Wajah bentuk persegi (square) o

Lancip (tapering)

Gambar. Wajah bentuk lancip (tapering) o

Lonjong (ovoid)

Gambar. Wajah bentuk lonjong (ovoid)

b) Wajah dilihat dari samping o Cembung (convex)

63

Gambar. Wajah bentuk cembung (convex) dilihat dari samping o

Lurus (straight)

Gambar. Wajah bentuk lurus (straight) dilihat dari samping o

Cekung (concave)

Gambar. Wajah bentuk cekung (concave) dilihat dari samping

Bentuk profil ini perlu diketahui untuk menyesuaikan antara lain : o o bentuk labial insisivus. inklinasi labiopalatal insisivus sewaktu penyusunan gigi depan.

Jenis Kelamin Menurut Frush dan Fisher, garis luar insisivus atas pada pria bersudut lebih tajam (giginya berbentuk kuboidal), sedangkan pada wanita lebih tumpul (giginya berbentuk spheroidal).
64

Gambar. Perbedaan bentuk gigi pria (A) dan wanita (B)

Perbedaan kecembungan kontur labial ada kaitannya dengan jenis kelamin. Pria mempunyai kontur labial yang datar dan wanita cembung.

Gambar. Kontur labial gigi anterior dengan permukaan cembung (A) dan datar (B)

Umur Bentuk gigi biasanya berubah dengan bertambahnya usia. Bentuk tepi insisal pada usia tua telah mengalami keausan karena pemakaian.

Gambar. Keausan gigi sesuai umur, makin tua makin nyata keausannya

3.

Warna gigi Pada pembuatan GTSL, untuk menentukan warna gigi yang akan diganti dapat disesuaikan dengan warna gigi yang ada. Cahaya dapat mempengaruhi pemilihan warna gigi. Cahaya lampu pijar akan menghasilkan gigi dengan warna lebih merah dari yang sebenarnya. Sebaiknya untuk menentukan warna gigi, dipakai cahaya yang berasal dari sinar matahari karena sinarnya merupakan sinar yang alamiah. Usia dapat juga dipakai sebagai pedoman. Usia tua, warna giginya lebih gelap dibandingkan usia muda.
65

4.

Bahan anasir gigi tiruan Anasir gigi tiruan biasanya terbuat dari : Akrilik Porselen

b. Pemilihan Anasir Gigi Tiruan Posterior 1. Ukuran gigi Mesio-distal Pada kasus GTSL basis tertutup, ukuran mesio-distal sudah ditentukan oleh kedua gigi yang membatasi daerah edentulous.

Gambar. Jarak mesio-distal pada basis tertutup

Pada kasus dengan basis berujung bebas, ukuran mesio-distalnya diukur dari tepi distal gigi yang berdekatan dengan edentulous sampai mesial dari retromolar pad.

Gambar. Jarak mesio-distal basis berujung bebas

Okluso-gingival Ukuran okluso-gingival ditentukan oleh besarnya ruangan inter oklusal. Panjang anasir gigi tiruan disesuaikan dengan gigi tetangganya terutama gigi premolar, letak garis servikalnya harus sesuai dengan letak garis servikal gigi tetangganya karena akan kelihatan pada waktu bicara atau tertawa.
66

Gambar. Ukuran okluso-gingival Buko-lingual/palatal Ukuran buko-lingual/palatal yang telah disesuaikan dengan lebar mesiodistalnya sehingga bentuknya sebanding, tetapi pada kasus tertentu misalnya pada kasus linggir alveolus yang datar diperlukan ukuran oklusal yang sempit untuk mengurangi besarnya daya kunyah dan untuk memberi tempat pada lidah.

Gambar. Lebar buko-lingual/palatal gigi (A) normal dan (B) yang telah dipersempit

2.

Bentuk anasir gigi tiruan posterior Bentuk anasir gigi tiruan posterior dibagi dua yaitu: Gigi anatomik Bentuk permukaan oklusal mempunyai tonjol-tonjol dengan sudut tonjol yang beragam.

Gambar. Bentuk oklusal gigi anatomik

Gigi non anatomik Permukaan oklusalnya merupakan bidang datar, biasanya gigi ini digunakan untuk kasus dengan linggir datar untuk menghindari daya horizontal pada waktu berfungsi/

67

Gambar. Bentuk oklusal gigi non anatomik

Pertimbangan yang mendasar dalam pemilihan anasir gigi tiruan posterior untuk kasus GTSL adalah ukuran permukaan oklusalnya, makin besar permukaan oklusal makin besar pula daya yang diterima jaringan pendukung. Untuk kasus GTSL dengan basis berujung bebas, pengurangan permukaan oklusal dapat dengan menghilangkan satu gigi premolar atau molar atau molar diganti dengan premolar.

Jadi, Anasir gigi tiruan posterior dipilih yang mempunyai ukuran. Mesio-distal yang kecil Buko-lingual yang sempit dibandingkan dengan gigi asli agar daya yang diterima oleh jaringan pendukung lebih kecil pula.

3.

Warna Anasir gigi tiruan posterior warnanya harus disesuaikan dengan gigi yang masih ada.

4.

Bahan anasir gigi tiruan Bahan anasir gigi tiruan posterior terbuat dari : Akrilik Porselen Logam

Tabel. Beberapa sifat anasir gigi tiruan menurut macam bahan Sifat Terhadap aus Stabilitas warna Estetik
68

Porselen Besar Besar Baik

Akrilik Kurang Kurang Mulanya baik

Ruang yang dibutuhkan Sifat untuk dipoles Ketahanan terhadap fraktur Pengikatan pada protesa

Besar Sukar Kurang Mekanik

Kurang Mudah Besar Kimiawi

c.

Penyusunan Anasir Gigi Tiruan Anterior Yang harus diperhatikan pada penyusunan anasir gigi tiruan anterior antara lain: 1. Inklinasi Labio-Palatal Anasir gigi tiruan anterior disusun dengan inklinasi labio-palatal yang mengarah ke labial. Jika gigi depan yang hilang satu atau dua gigi, inklinasinya disesuaikan dengan gigi yang ada. Bila semua gigi depan hilang, inklinasi gigi yang disusun mengarah ke labial dan harus dilihat juga dari arah samping/ profil, agar gigi dapat mendukung bibir dengan baik sehingga gigi tiruan tersebut harmonis dengan pasien.

Gambar. Inklinasi labio-palatal

2.

Inklinasi Mesio-Distal Inklinasi mesio-distal harus diperhatikan karena penyusunan anasir gigi tiruan anterior menyangkut segi estetis dan di samping itu penyusunannya harus mengikuti lengkung rahang.

Gambar. Inklinasi mesio-distal


69

3.

Hubungan dengan gigi antagonis Untuk gigi anterior, hubungan dengan gigi antagonisnya harus diperhatikan yaitu :

Gambar. Overbite dan overjet gigi anterior

Overbite dan overjet berkisar antara 1-2 mm. Overbite dan overjet ada hubungannya dengan pengucapan huruf konsonan misalnya huruf f dimana tepi insisal gigi atas hampir kontak dengan bibir bawah.

d. Penyusunan Anasir Gigi Tiruan Posterior Penyusunan anasir gigi tiruan posterior harus mengikuti aturan sebagai berikut. 1. 2. 3. Tepat di atas linggir alveolus. Mengikuti lengkung rahang. Disesuaikan dengan permukaan oklusal gigi antagonis sehingga diperoleh oklusi yang harmonis antara gigi asli dengan anasir gigi tiruan atau antar anasir gigi tiruan.

70

DESAIN GTSL
a. Desain Gigi Tiruan Sebagian Lepasan berfungsi: a. Sebagai penuntun dari gigi tiruan sebagian lepas (GTSKL) yang akan dibuat b. Sebagai sarana komunikasi antara dokter gigi dengan tekniker gigi dalam hal pendelegasianpembuatan gigi tiruan di laboratorium

b. Tujuan: Untuk mendapatkan suatu gigi tiruan dengan: Retensi yang baik Stabilisasi yang baik Pembagian beban kunyah lebih merata antara gigi penjangkaran dengan jaringan pendukung lainnya

c. Prinsip Dasar Desain Gtsl: Memelihara/ mempertahankan kesehatan jaringan pendukung gigi tiruan sebagian lepas denganmemperhatikan: Tekanan yang luas (melalui cengkram) Mempersamakan tekanan (keseimbangan kiri dan kanan) Physiologic basing ( tekanan fisiologis pada mukosa di bawah basis)

BEBAN PENGUNYAHAN
Borelli (1681) merupakan orang pertama yang menemukan ukuran dari tekanan mastikasi. Metode sederhananya dengan cara membuat simpul kawat pada gigi molar rahang bawah. Dengan cara ini, ia dapat menentukan berat maksimal yang dapat diangkat oleh mandibula. Sekarang ini, gnathodynamometer telah banyak digunakan dalam penelitian menganai daya kunyah, dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Telah ditemukan bahwa daya kunyah dari gigi molar manusia dapat menahan beban sekitar 50 kg, dimana biasanya laki-laki dapat menahan beban sedikit lebih besar daripada perempuan, kecuali pada gigi anterior kekuatan untuk menahan beban sama pada laki-laki dan perempuan. Meskipun memiliki kontrol neuromuskular dan pertumbuhan otot yang lebih baik, atlet tidak memiliki daya kunyah yang lebih daripada non-atlet.
71

Daya kunyah maksimum (45-50 kg) diukur antara gigi molar pertama dan sedikit demi sedikit berkurang untuk gigi di sebelahnya, semakin ke proksimal, daya kunyah mendekati 10 kg pada gigi insisivus. Sumber lain mengatakan bahwa premolar dan insisivus memiliki daya kunyah sekitar 1/3 dari daya kunyah yang dihasilkan oleh gigi molar. Faktor yang membatasi daya gigit tidak begitu jelas, namun refleks protektif mungkin saja dihasilkan oleh reseptor pada jaringan periodontal dan menghalangi kontraksi dari otot-otot pengunyahan ketika beban menjadi sangat tinggi; jaringan periodontal akan mendistribusikan tekanan lebih luas, hal ini menyebabkan mechanoreseptor pada jaringan periodontal bereaksi, reseptor sakit pada ligamen dapat menjadi aktif ketika beban yang ada di gigi menjadi semakin besar, pentingnya feedback mechanoreseptor pada jaringan periodontal dalam kontol otot dibuktikan dengan penemuan bahwa pengguna protesa gigi tiruan lengkap hanya mampu menahan beban kunyah sekitar seperempat sampai sepertiga dari kemampuan menahan beban kunyah orang dengan gigi-geligi asli yang normal. Pengguna protesa gigi tiruan sebagian juga tidak mampu menggigit sekuat orang dengan gigi-geligi yang masih lengkap. Tabel. Daya kunyah gigi
Gigi Gigi molar Gigi premolar (1/3 dari gigi molar) Gigi insisivus (1/3 dari gigi molar) Gigi tiruan lengkap 1/4 - 1/3 dari kemampuan menahan beban kunyah gigi asli Gigi tiruan sebagian Tidak mampu menggigit sekuat orang dengan gigi-geligi yang masih lengkap Keterangan : 1 kg = 2,20462262 lbs 10 15 kg = 22 33 lbs Daya Kunyah 45 - 50 kg = 99 - 110 lbs 15 - 17 kg = 33 - 37 lbs

1. Poin kekuatan gigi : Perhitungan poin ditentukan dari paling posterior dari molar maka poin/ skor dikategorikan menjadi 3 tingkatan (1, 2, 3) seperti penentuan kelas dengan satuan lbs. Dengan kata lain, R (resistence arm) pada molar lebih pendek jika dibandingkan resistence arm pada premolar dan anterior. Rmolar < Rpremolar < Ranterior 1 lbs < 2 lbs < 3 lbs
72

Sedangkan, poin (besarnya kekuatan gigi) berbanding terbalik dengan resistence arm (dalam hal ini panjang lengan/ jarak paling posterior) Poin untuk gigi anterior Poin untuk gigi premolar Poin untuk gigi molar = Rmolar (resistence arm molar) = 1

= Rpremolar (resistence arm premolar) = 2 = Ranterior (resistence arm anterior) = 3

Tahap-tahap Pembuatan Desain Tahap 1(menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi) Daerah tak bergigi dapat bervariasi, dalam hal panjang, macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan mempengaruhi rencana pembuatan desain, baik dalam bentuk sadel, konektor, maupun dukungannya. Tahap 2 (menentukan macam dukungan dari setiap sadel) Bentuk sadel dibagi dua macam 1. Sadel tertutup (paradental sedal) Dukungan gigi Dukungan mukosa Dukungan kombinasi

2. Sadel berujung bebas (free end sadel) Dukungan mukosa Dukungan kombinasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi Keadaan jaringan pendukung Panjang sadel Jumlah sadel Keadaan rahang

Tahap 3 ( menentukan jenis penahan) Faktor-faktor yang harus diperhatikan a. Dukungan dari sadel

73

Hal ini berkaitan dengan indikasi dari macam cengkram yang akan dipakai dan gigi penyangga yang ada atau diperlukan b. Stabilisasi dari gigi tiruan Ini berhubungan dengan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang ada dan dipakai c. Estetika Berhubungan bentuk atau tipe cengkram serta lokasi Tahap 4 (menetukan jenis konektor) Untuk protesa resin konektor yang dipakai biasanya berbentuk flat. Pada GTKL bentuk konektor bervariasi dan dipilih sesuai indikasinya. Khusus untuk kasus free end, hal-hal berikut perlu diperhatikan: Perlu diusahakan adanya penahan tak langsung Desain cengkram harus dibuat sedemikian Sandaran oklusal hendaknya diletakan menjauhi daerah tak bergigi Perlu dilakukan pencetakan ganda Perlu dipikirkan pelapisan atau penggantian basis dikemudian hari.

74

PENYELESAIAN KASUS
Gigi yang masih ada adalah : 7654321 54321 1234567 1234

PEMBAHASAN TAHAP I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi Pada kasus ini, daerah tak bergigi termasuk dalam klasifikasi Kennedy klas I. Indikasi protesa : GTSL, bilateral perluasan basis ke distal.

TAHAP II : Menentukan macam dukungan dari setiap sadel Gigi penyangga yang digunakan adalah gigi 34, 45 karena dukungan gigi masih kuat.

TAHAP III : Menentukan penahan Pada gigi 34, 45 digunakan cengkeram 3 jari, karena gaya ungkit kelas II dimana lengan retentif dari mesial ke distal. Sandaran oklusal diletakkan di bagian mesial. Dalam pemilihan cengkeram ditentukan berdasarkan gigi penyangga (bentuk gigi dan kekuatan gigi penyangga). Retensi dari cengkeram diletakkan ke arah gigi yang hilang. Pada gigi 35 dan 45 digunakan cengkeram 3 jari yang terdiri dari lengan retentive, lengan pengimbang dan sandaran oklusal. Posisi titik fulkrum akan mempengaruhi ungkitan yang terjadi pada gigi penyangga. Pada kasus GTSL berujung bebas sebaiknya digunakan tipe pengungkit klas II yang mana titik fulkrum berada di ujung, tekanan pada ujung yang berlawanan dan tahanan berada di tengah. Gigi tiruan di desain dengan menempatkan cangkolan di sebelah mesial gigi penyangga dengan lengan cangkolan berjalan dari mesial ke distal dan ujung cangkolan terletak di bawah garis survey. Lengan resiprokal terletak pada sisi yang bersebelahan dna berada di atas garis survey, hal ini menetralisirkan daya yang timbul oleh lengan retentif. Sedangkan lengan retentif dan lengan resiprokal gigi penyangga pada salah satu sisi harus terletak sama tinggi dengan gigi berseberangan.
75

Keuntungan dari penempatan cangkolan pada bagian mesial, yaitu: a. b. c. d. e. Memberi retensi dan tahanan gigitiruan Pengaruh sandaran tidak terletak pada pusat gigi penyangga Menghilangkan pengaruh gaya ungkit kelas I Arah pergerakan basis tegak lurus linggir sisa Menahan gigi tiruan bergerak ke distal

Penahan tidak langsung berupa sandaran oklusal. Pada GTSL berujung bebas, tidak seluruh gaya yang diterima didukung oleh gigi penyangga karena tidak adanya gigi penyangga pada bagian posterior. Pada keadaan ini sering terjadi geraka rotasi, salah satu cara untuk mencegah terjadinya gerakan tersebut adalah dengan membuat penahan tidak langsung. Fungsi dari penahan tidak langung, antara lain: a. b. Mencegah pergerakan basis berujung bebas menjauhi linggir sisa Membantu splinting gigi anterior yang turut mendukung penahan tidak langsung terhadap kemungkinan bergesernya gigi ke arah lingual c. Mencegah konektor utama tertekan pada jaringan, karena penahan tidak langsung dapat bertindak sebagai sandaran oklusal tambahan. d. Mengurangi daya torsional dalam arah anteroposterior pada gigi penyangga utama.

TAHAP IV : Menentukan konektor Konektor pada GTSL sederhana berupa pelat. Kasus diatas merupakan kelas I Kennedy atau bilateral free end saddle rahang bawah Kekuatan gigi yang Hilang :
Gigi Yang Hilang 35 Kekuatan gigi yang hilang Total 2 36 3 37 3 14 46 3 47 3

Cengkeram o Gigi Penyangga : Gigi 33 dan 34 serta 45

76

Gigi Penyangga 34 Resistance arm (R) Jumlah cengkeram (C) Kekuatan (RxC) Total 2 3 6 12 45 2 3 6

Ditambah dengan kekuatan dari perluasan basis (gingival vaset) perpanjangan sayap bukal sampai anterior. o Pilihan Cengkeram Gigi penyangga adalah gigi 34 dan 45 Digunakan cengkeram 3 jari, yang terdiri dari : o Lengan retentif : pemeluk pada kuadran I tahanan pada kuadran III dan IV o sandaran oklusal pada bagian mesiooklusal Sesuai dengan gaya ungkit Lever tipe II untuk kasus Kennedy I maka cengkeram diletakkan dengan lengan dari mesial ke distal gigi penyangga dan sandaran oklusal pada sisi mesial Retensi dari cengkram diletakkan ke arah gigi yang hilang Dan basis diperluas sampai retromolar pad. o Tujuan Pembuatan Klamer : o Menjaga plat tetap melekat dalam mulut o Membantu gigi penjangkar menghasilkan kekuatan pertahanan dan meneruskan beban kunyah ke gigi penjangkar yang ditentukan berdasarkan gigi penyangga. o Tilting Tilting pada kasus ini dilakukan tilting anterior dengan memiringkan model studi dengan sudut sekitar 10o-30o. Sehingga arah pasang berlawanan dengan arah tilting yaitu posterior dan pelepasan dari anterior.

o lengan pengimbang diatas garis survei

77

OKLUSI
a. Macam-macam Istilah Oklusi Telah disebutkan sebelumnya, oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang statis selama mandibula bergerak, sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya: sentrik, eksentrik, habitual, supra-infra, mesial distal, lingual. dsb.

Dikenal tiga macam istilah oklusi yaitu : 1. Oklusi ideal adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusi yang sukar atau bahkan tidak mungkin terdapat pada manusia. 2. Oklusi fungsional adalah gerakan fungsional dari mandibula sehingga menyebabkan kontak antar gigi geligi 3. Oklusi normal adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang sama dan rahang yang berlawanan, apabila gigi dikontakan dan kondilus berada dalam fosa glenoidea.

Oklusi gigi-gigi secara normal dapat dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu 1. oklusi statik merupakan hubungan gigi geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan tertutup atau hubungan daerah kunyah gigi-geligi dalam keadaan tidak berfungsi (statik) 2. oklusi dinamik merupakan hubungan antara gigi geligi RA dan RB pada saat seseorang melakukan gerakan mandibular kea rah lateral (samping) ataupun kedepan (anteroposterior)

Pada oklusi statik, hubungan cusp fungsional gigi geligi posterior (premolar) berada pada posisi cusp to marginal ridge dan cusp fungsional gigi molar pada posisi cusp to fossa. Sedangkan pada hubungan gigi anterior dapat ditentukan jarak gigit (overjet) dan tinggi gigit (overbite) dalam satuan milimeter (mm). Jarak gigit (overjet) adalah jarak horizontal antara incisal edge gigi incisivus RA terhadap bidang labial gigi insisivus pertama RB. Tinggi gigit (overbite) adalah jarak vertikal antara incisal edge RB sampai incisal edge RA. Oklusi dinamik timbul akibat gerakan mandibula ke lateral, kedepan (anterior) dan kebelakang (posterior). Oklusi yang terjadi karena pergerakan mandibula ini sering disebut artikulasi.

78

b. Dimensi vertikal Dimensi vertikal merupakan relasi rahang bawah terhadap rahang atas dalam arah vertikal.

79

Ada 3 macam ukuran vertikal hubungan rahang: 1. Tinggi vertikal (vertical height) Ialah hubungan/jarak vertikal antara rahang bawah terhadap rahang atas pada waktu oklusi sentrik 2. Posisi istirahat fisiologis (physiological rest position) Hubungan/jarak vertikal antara rahang bawah terhadap rahang atas pada waktu otot-otot dalam keadaan istirahat (rest) 3. Ruang bebas (freeway space inter occlusal distance) Jarak antara bidang oklusal gigi rahang bawah terhadap bidang oklusal gigi rahang atas. Menurut penelitian jarak tersebut yaitu 3-5mm. Posisi istirahat fisiologis (physiological rest position)

Adalah posisi ketika semua otot yang mengontrol posisi mandibula berada dalam keadaan relaks. Keadaan ini dianggap dikendalikan oleh mekanisme refleks yang dipicu oleh reseptor regangan pada otot mastikasi, khususnya otot temporal. Posisi ini dapat dipertahankan untuk waktu lama tanpa menimbulkan kelelahan, melalui kontraksi intermiten dan relaksasi dari kelompok serabut pada otot tersebut. Keadaan ini mencerminkan resistensi refleks terhadap regangan otot akibat gaya gravitasi yang mengenai mandibula. Di sini dianggap bahwa tidak ada stimulus-stimulus lain yang dapat menimbulkan gerakan atau postur lain. Ciri posisi istirahat fisiologis : 1. Gigi-gigi dalam keadaan tidak berkontak dan jarak antara gigi-gigi biasanya sekitar 3 mm. 2. Posisi mandibula ini dianggap terbentuk secara endogen dan dipengaruhi oleh panjang serta arah otot yang berjalan antara mandibula dan kranium. 3. Terdiri atas pola aktivitas minimal yang stabil dan posisi ini tetap konstan asalkan otot tetap dalam keadaan sehat. Posisi ini dianggap tidak terpengaruh oleh postur kepala atau tubuh dan karena itu dikontrol oleh pusat otak yang lebih tinggi serta oleh panjang istirahat dari otot. 4. Pada postur mandibula ini, wajah berada pada relasi vertikal istirahat. 5. Posisi istirahat pada kebanyakan kasus adalah sedemikian rupa hingga ada celah beberapa milimeter antara gigi-gigi atas dan bawah. Celah ini disebut free ways space atau jarak antar oklusal.

80

Macam-macam oklusi Ada 2 macam oklusi, yaitu: 1. Oklusi sentris, ialah hubungan kontak maksimal dari gigi rahang atas dan rahang bawah waktu mandibula dalam keadaan relasi sentris. 2. Oklusi aktif, ialah hubungan kontak antara gigi gigi di rahang atas dan di rahang bawah dimana gigi-gigi rahang bawah mengadakan gerakan/geseran ke depan, ke belakang, ke kiri, dan ke kanan/gerakan lateral. o Oklusi sentrik Adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Syarat-syarat oklusi sentris : 1. Gigi atas dan bawah dalam hubungan kontak maksimal dan tak bekerja. 2. Bibir menekan satu sama lain. 3. Ujung lidah pada sepertiga insisal dan tengah dari gigi-gigi insisivus atas dan bawah. 4. Otot-otot kunyah dalam keadaan kontraksi 5. Ekspresi/tarikan muka harus kelihatan normal. Oklusi sentrik dapat dibedakan menjadi freedom in centric occlusion dan non freedom in centric occlusion. Freedom in centric occlusion terjadi ketika mandibula dapat bergerak anterior untuk jarak pendek pada bidang horisontal dan sagital saat gigi berkontak. Sedangkan non-freedom in centric occlusion kontak oklusi terkunci pada mandibula ke maksila yang membuat tidak adanya pergerakan gigi baik posterior maupun anterior ke arah horizontal pada oklusi sentrik. Kontak poin pada gambar dapat dilihat ketika menggunakan articulating paper.

Gambar Freedom in centric occlusion

81

Gambar non-freedom centric occlusion Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat pertama berkontak. Keadaan ini akan mudah berubah bila terdapat gigi supra posisi ataupun overhanging restoration. Klasifikasi kontak gigi geligi 1. Intercupal Contact Position (ICP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi dengan antagonisnya 2. Retruded Contact Position (RCP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi pada saat mandibula bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun RB masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral. 3. Protrusif Contact Position (PCP) adalah kontak gigi geligi anterior pada saat RB digerakkan ke anterior 4. Working Side Contact Position (WSCP) adalah kontak gigi geligi pada saat RB digerakkan ke lateral. Klasifikasi pola oklusi Selain klasifikasi diatas, secara umum pola oklusi akibat gerakan RB dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Bilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada kerja dan sisi keseimbangan, keduanya dalam keadaan kontak 2. Unilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada sisi kerja kontak dan sisi keseimbangan tidak kontak 3. Mutually protected occlusion, dijupai kontak ringan pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi posterior 4. Tidak dapat ditetapkan, bila tidak dikelompokkan dalam klasifikasi diatas. (Hamzah, Zahreni,dkk)
82

Relasi sentrik (relasi retrusi) Relasi sentris adalah hubungan mandibula dengan maksila, dimana kedua kepala sendi (kapituli) berada dalam keadaan paling dorsal (terdorong ke belakang) dalam cekungan sendi (glenoid fossa) tanpa mengurangi kebebasannya untuk bergerak ke lateral. Lintasan Oklusi (occlusion guidance) Lintasan oklusi atau panduan oklusi (occlusion guidance) merupakan hubungan mekanis yg ideal antara gigi arkus maksila dengan gigi arkus mandibula. Normal lintasan oklusi yaitu : 1. Canine Guidance (lintasan kaninus) Merupakan keadaan yang dimana jika menggeserkan gigi ke kanan dan hanya kaninus kanan yang kontak selama penyimpangan lateral (excursion lateral). 2. Group function Merupakan keadaan dimana jika menggeserkan gigi kesamping, beberapa gigi saat working side berkontak bersamaan berbagi beban. Hal ini terjadi jika kaninus turun dari waktu ke waktu atau mengalami bengkok. Pada lintasan ini, beban berat ideal berada di paling anterior gigi dan beban yang lebih ringan di belakang.

83

Oklusi eksentrik yaitu setiap oklusi yang terjadi di luar oklusi sentrik, yang terdiri atas: 1. Oklusi protrusive adalah oklusi yang terjadi saat rahang berada di depan dari oklusi sentrik. Lintasan oklusi ( occlusion guidance ) normalnya hanya gigi gigi anterior saja yang berkontak pada saat tersebut yang disebut juga dengan anterior guidance. 2. Oklusi lateral adalah oklusi yang terjadi pada saat rahang digerakkkan ke lateral. Lintasan oklusi (occlusion guidance) yang normal terjadi pada saat gerakan ke lateral adalah cuspid guided (protected) occlusion dan Group function occlusion Klasifikasi dari Oklusi Gigi Geligi

1. Klasifikasi Edward Angle (1899) Adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung gigi-gigi atas dan bawah, dan tidak melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan malposisi lokal dari gigi-gigi.

a. Kelas 1 Hubungan ideal yang bisa ditolerir. Ini adalah hubungan antero-posterior yang sedemikian rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang, ujung gigi kaninus atas berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi kaninus bawah. Gigi-gigi premolar atas berinterdigitasi dengan cara yang sama dengan gigi-gigi premolar bawah, dan tonjol antero84

bukal dari molar pertama atas tetap beroklusi dengan alur (groove) bukal dari molar pertama bawah tetap. Jika insisivus berada pada inklinasi yang tepat, overjet inisisal adalah sebesar 3 mm.

b. Kelas 2 (disto oklusi) Pada hubungan kelas 2, lengkung gigi bawah terletak lebih posterior daripada lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Karena itulah, keadaan ini kadang disebut sebagai hubungan postnormal. Ada dua tipe hubungan kelas 2 yang umum dijumpai, dan karena itu, dikelompokkan menjadi dua divisi.

Kelas II divisi 1 Insisiv atas proklinasi, meskipun insisiv atas inklinasinya normal tetapi terdapat jarak gigit dan tumpang gigit yang bertambah.

Kelas II divisi 2 Insisiv sentral atas retroklinasi. Kadang-kadang insisiv lateral proklinasi, miring ke mesial atau rotasi mesiolabial. Jarak gigit biasanya dalam batas normal tetapi terkadang sedikit bertambah.

c. Kelas 3 (mesio oklusi) Pada hubungan kelas 3, lengkung gigi bawah terletak lebih anterior terhadap lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Oleh karena itu, hubungan ini kadang-kadang disebut juga sebagai hubungan prenormal

85

Ada dua tipe utama dari hubungan kelas 3. 1. Yang pertama, biasanya disebut kelas 3 sejati, dimana rahang bawah berpindah dari posisi istirahat ke oklusi kelas 3 pada saat penutupan normal. 2. Pada tipe yang kedua, gigi-gigi insisivus terletak sedemikian rupa sehingga gerak menutup mandibula menyebabkan insisivus bawah berkontak dengan insisivus atas sebelum mencapai oklusi sentrik. Oleh karena itu, mandibula akan bergerak ke depan pada penutupan translokasi, menuju ke posisi interkuspal. Tipe hubungan semacam ini biasanya disebut kelas 3 postural atau kelas 3 dengan pergeseran.

Pada masing-masing tipe hubungan oklusal, malposisi gigi setempat bisa mempengaruhi hubungan dasar dari kedua lengkung gigi. Jadi, rincian interkuspal dari gigi-gigi tidak sama dengan klasifikasi keseluruhan dari hubungan lengkung gigi. Jika banyak gigi yang malposisi, akan sulit bahkan tidak mungkin untuk menentukan klasifikasi oklusi. Disamping itu, asimetris bisa menyebabkan hubungan pada satu sisi rahang berbeda dari sisi yang lain. Pada situasi semacam ini, oklusi perlu dideskripsikan dengan kata-kata, bukan hanya dengan klasifikasi verbal saja.

Kriteria klasifikasi Angle yaitu : 1. Gigi molar pertama rahang atas merupakan kunci oklusi. 2. Hubungan molar pertama rahang atas dengan molar pertama rahang bawah,sebagai berikut : Puncak bonjol gigi molar pertama rahang atas terletak pada bukal groove gigi molar pertama rahang bawah.

Menurut Proffit, et.al, (2007), klasifikasi maloklusi Angle terdiri dari tiga kelas yaitu kelas I, kelas II dan kelas III. 2. Klasifikasi Dewey yaitu modifikasi dari kelas I dan kelas III Angle.
86

a. Modifikasi Angles kelas I Tipe 1: Angle kelas I dengan gigi anterior maksila crowding dengan kaninus terletak lebih ke labial (ektopik) Tipe 2: Angle kelas I dengan gigi anterior maksila labioversion (protusif). Tipe 3: Angle kelas I dengan gigi Insisivus maksila lingual version terhadap Insisivus mandibula (anterior crossbite). Tipe 4: Molar dan premolar pada bucco atau linguo version, tapi Insisivus dan kaninus dalam jajaran normal (crossbite posterior).

Tipe 5: Gigi posterior mengalami pergeseran ke mesial (mesio version/ mesial drifting posterior) ketika hilangnya gigi pada bagian mesial gigi tersebut. Contohnya hilangnya molar dan premolar kedua desidui lebih awal

b. Modifikasi Angles kelas III Tipe 1: suatu lengkungan saat dilihat secara individu bidang pada jajaran yang normal, tetapi oklusi di anteriror terjadi edge to edge. Tipe 2: Insisivus mandibula crowding dengan maksila (akibat insisivus maksila yang terletak ke arah lingual).

87

Tipe 3: lengkung maksila belum berkembang sehingga terjadi crossbite pada insisivus maksila yang crowding dan lengkung mandibula perkembangannya baik dan lurus.

3. Klasifikasi Lischers, Yaitu modifikasi dengan klasifikasi Angle: 1. Neutroklusi, sama halnya dengan klasifikasi Angle kelas I 2. Distoklusi, sama halnya dengan klasifikasi Angle kelas II 3. Mesioklusi, sama halnya dengan klasifikasi Angle kelas III

Nomenklatur Lischer untuk malposisi perindividual gigi-geligi menyangkut penambahan versi pada sebuah kata untuk mengindikasikan penyimpangan dari posisi normal: 1. Mesioversi, lebih ke mesial dari posisi normal 2. Distoversi, lebih ke distal dari posisi normal 3. Linguoversi, lebih ke lingual dari posisi normal 4. Labioversi, lebih ke labial dari posisi normal yaitu gigi yang keluar aligment ke labial atau bukal dari bentuk bentuk lengkung dari gigi yang lainnya

88

5. Infraversi, lebih rendah atau jauh dari garis oklusi 6. Supraversi,(supraerupsi) lebih tinggi atau panjang melewati garis oklusi

7. Axiversi, inklinasi aksial yang salah, tipped 8. Torsiversi, rotasi pada sumbunya yang panjang

9. Transversi, perubahan pada urutan posisi

4. Klasifikasi Caninus Untuk menentukan oklusi, tidak hanya dilihat dari relasi molar pertama saja namun dapat dilihat dari caninus juga. a. Berikut klasifikasi caninus : Kelas 1 : Caninus rahang atas beroklusi pada ruang bukal antara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah Kelas 2 : Caninus rahang atas oklusi di anterior sampai ruang bukal di antara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah. Kelas 3: Caninus rahang atas oklusi di posterior sampai ruang bukal diantara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah.

89

b. Klasifikasi Angle Gigi kaninus juga diklasifikasikan sebagai Kelas I, Kelas II dan Kelas III. Kelas 1 Jika kaninus RA posisinya pada embrasure (ruang dari sebagian dari gigi yang di batasioleh gigi yang bersebelahan) antara kaninus dan premolar pertama bawah. Kelas 2 Jika kaninus atas posisi mesialnya pada embrasure antara kaninus bawah dan premolar pertama, oklusi kaninus disebut Kelas II. Kelas 3 Jika Kaninus atas posisinya pada embrasure antara kaninus dan premolar pertama RB, oklusi kaninus disebut Kelas III. Bidang dan lengkung oklusal imajiner Ada beberapa faktor yang menentukan efisiensi oklusi pada gigi tetap asli. Salah satunya adalah bidang oklusal. Bidang oklusal adalah permukaan imajiner yang menyentuh incisal edge insisif mandibula dan atau cups tip caninus dan cups distobukal molar mandibula. Dalam tindakan pembuatan gigi tiruan, bidang oklusal merupakan pedoman yang penting dalam penyusuna gigi posterior dengan tujuan agar mastikasi menjadi efisien. Adapun, penyusunan gigi posterior atas dimulai dari: P1; sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal, cups bukal menyentuh bidang oklusal dan cups palatal terangkat sedikit. P2; sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal, cups bukal dan palatal menyentuh bidang oklusal. M1; Cusp rnesio-palatal menyentuh hidang oklusal, cusp mesio-bukal terangkat 0.75mm dari bidang oklusal dan cusp disto-palatai terangkat 1 mm dari hidang oklusal.

90

M2; Cusp mesio-bukal setinggi cusp disto-bukal Ml (terangkat 1 mm). Cusp distobukal terangkat 15 mm dan cusp mesio-paiatal setinggi cusp disto palatal M1.

Karena adanva inklinasi sagital dan gigi-geligi posterior tersebut, maka bidang oklusal akan membentuk lengkung oklusal. Dari sisi lateral, penyusunan morfologis imi disebut kurva Spee dimulai dari kaninus hingga molar. Ada 5 tlpe Iengkung oklusal vaitu normal (average). tajam (acute), datar (Flat), terbalik (reverse) dan two-level. Dari ke lima kurva ini yang ideal adalah kurva normal. Secara umum, kurva maksila dan mandibula sama dari molar sampai premolar pertama tetapi kemudian bervariasi tergantung besar supraoklusi gigi anterior. Pada beberapa individu, gigi posterior dan anterior terlihat memiliki dua level yang berbeda yakni gigi posterior lebih rendah dan gigi anterior lebih tinggi. Keadaan ini disebut bidang oklusi two-lever. Kurva Spee Kurva Spee merupakan kurva anteroposterior dari permukaan oklusal rahang bawah. Dimulai dari cusp tip kaninus mandibula cusp tip bukal Premolar 1 dan 2 cusp tip bukal Molar 1. 2. 3 - menyambung sampai ke tepi anterior ramus mandibula. Dalarn studi hubungan verilkal dan horizontal oklusi geligi, tercapainya keseimbanigan fungsi oklusal selama pergerakan fungsional mandibula merupakan hal yang penting. Bersamaan dengan itu, pembentukan kembali kurva kompensasi atau kurva Spee pada prosedur rehabilitasi bertujuan untuk mendapatkan keseimbangan oklusal yang maksimum. Kurva ini merupakan refleksi fraksional yang dimulai dan sendi TMJ, mengikuti bentuk anatomis fossa glenoid dan berhuhungan dengan ukuran dan bentuk cusp gigi geligi.

91

Fungsi utama dari kurva Spee dipercava memiliki fungsi biomekanikal selama pengunyahan makanan. Kurva ini penting untuk pergerakan yang efisien dari cusp-cusp gigi geligi untuk beroklusi sewaktu proses mastikasi sehingga gaya dan fungsi biomekamkal pengunyahan menjadi efisien. Gergerakan fungsional mandibula yang lain seperti gerak protrusive dan lateral juga sangat dipengaruhi kurva ini. Kunva Spee untuk rahang atas disebut juga sebagai kurva kompensasi. Hullent Bayda dalam penelitian mengungkapkan klasifikasi kurva Spee berdasarkan kedalamannva menjadi: datar (kedalaman kurva < 2mm), sedang atau normal (kedalaman kurva 2mni tetapi <4mm), dan dalam (kedalaman kurva >4mm). Namun begitu umumnya Kurva Spee pada setiap individu dengan gigi normal memliki kedalaman rata-rata 1,5mm. H Xu.dkk mengungkapkan kurva Spee pada gigi normal memiliki radius rata-rata 8.34mm dan kedalaman rata-rata 1.9mm sedangkan kurva kompensasi memiliki radius rata-rata 8.64mm dan kedalaman 1.6mm. Dengan demikian, bentuk kurva kompensasi adalah sedikit lehih datar dihandingkan kurva Spee . H. Xu dalam penelitiannya juga mengungkapkan kedalaman kurva Spee dapat diukur pada gigi permanen lengkap, overhte dan overtet 2-4 mm, tidak ada kelainan sendi temporomandibular atau kelainan kranioservikal, tidak ada restorasi yang ekstensif dan cast restoration, belum pernah dirawat ortodontik, tidak ada kondisi periodontal yang patologi dan secara klinis bentuk lengkung normal dengan gigi berjejal yang minimal. Cara menugukur kurva Spee pertama; buat garis referensi yaitu suatu garis yang menghubungkan cusp bukal kaninus dan cusp tip distobukal molar 2. Kemudian buat garis-garis yang tegak lurus dan garis referensi tersebul ke cusp tip gigi premolar 1 dan 2, molar 1 dan mesiobukal molar 2. Jarak yang paling besar merupakan kedalaman kurva Spee. Secara fisiologis. terdapat kecenderungan alami bahwa kurva ini akan semakin dalam pada masa pertumbuhan. Pertumhuhan RB ke arah bawah dan depan terkadang berlangsung lebih cepat dan lama daripada RA. Jadi, selama masa pertumbuhan, kedalaman kuva Spee masih akan beruhahubah hingga kurva menjadi relatif stabil pada dewasa muda. Perubahan kurva Spee secara patologis dapat menyebabkan berbagai hal. Perubahan ini terjadi pada beberapa situasi seperti adanya geligi rotasi, tipping maupun ekstrusi Melakukan restorasi terhadap gigi yang sudah mengalami perubahan pada bidang oklusal dapat mengakibatkan
92

terjadi gangguan gerak protrusive posterior. Gangguan tersebut selanjutnya akan memulai terjadinya aktivitas abnormal levator mandibula terutama otot masseter dan temporal yang selanjutnya dapat menyebabkan keausan, fraktur restorasi dan disfungsi TMJ. Kedalaman kurva Spee dan kurva kompensasi merupakan hal yang penting dalam prosedur perawatan. Kurva Spee dapat dijadikan sebagai refrensi dalam merekonstruksi oklusal pada kasus kehilangan gigi posterior sebagian atau seluruhnva. Tujuan utama yang paling penting adalah dalam hal ini adalah untuk mendapatkan stabilitas gigi tiruan. Perlu diperhatikan jika pada pasien yang telah mengalami penurunan dimensi vertikal, maka pembuatan cusp gigi yang tajam dengan kurva yang datar adalah kontraindikasm karena dapat mengurangi freeway space. Pembuatan cups yang tajam, dalam, dan curam yang tidak mengikuti kurva Spee dalam bentuk fisiologis sebelumnva mengakibatkan pengaruh traumatik pada jaringan penyangga sehingga jaringan periodontal dan tulang resorpsi serta kehilangan lebih lanjut pada gigi sisa. Lengkung okiusal Iainnya Beberapa lengkung oklusal imajiner lain yang berkaitan antara lain kurva Wilson dan kurva Monson. Kurva wilson merupakan garis khayal yang terbentuk dan kontak cusp tip bukal dan lingual gigi molar dan setiap lengkung gigi pada pandangan frontal. Kurva ini tidak sama antara Molar 1, Molar 2, dan Molar 3. Sedangkan Kurva Monson merupakan perluasan dari Kurva Spee dan Wilson ke semua cusp dari tepi insisal sampai geligi anterior. Namun begitu kedua kurva ini jarang digunakan karena keterbatasan anatomis dalam hubungan fungsional.

c. Dasar Penetapan Diagnosis : Dignosis ditetapkan berdasarkan atas pertimbangan data hasil pemeriksaan secara sistematis, Data diagnostik yang paling utama harus dipunyai untuk dapat menetapkan diagnosisis adalah data pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan subyektif dan obyektif serta data pemeriksaan dan pengukuran pada model studi, sedangkan Graber (1972) mengelompokkan menjadi : 1. Kriteria Diagnostik Esensial (Essential Diagnostic Criteria) a. Anamnesis dan Riwayat kasus (case history) b. Pemeriksaan / Analisis klinis : - Umum / general : Jasmani, Mental - Khusus / lokal : Intra oral, Extra oral

93

c. Analisis model studi : Pemeriksaan dan pengukuran pada model studi: - Lebar mesiodistal gigi-gigi - Lebar lengkung gigi - Panjang / Tinggi lengkung gigi - Panjang perimeter lengkung gigi d. Analisis Fotometri (Photometric Analysis): Pemeriksaan dan pengukuran pada foto profil dan foto fasial pasien, meliputi : - Tipe profil - Bentuk muka - Bentuk kepala e. Analisis Foto Rontgen (Radiographic Analysis): - Foto periapikal - Panoramik - Bite wing Bila dianggap perlu bisa dilengkapi dengan data hasil pemeriksaan tambahan yang disebut sebagai : 2. Kriteria Diagnostik Tambahan (Supplement Diagnostic Criteria) a. Analisis Sefalometrik (Cephalometric Analysis): - Foto lateral (Lateral projection) untuk anlisis profil - Foto frontal (Antero-posierior projection) untuk anlisis fasial - Dll. b. Analisis Elektromyografi (EMG) : Untuk mengetahaui abnormalitas tonus dan aktivitas otot-otot muka dan mastikasi.
94

c. Radiografi pergelangan tangan (Hand-wrist Radiografi): Untuk menetapkan indeks karpal yaitu untuk menentukan umur penulangan. d. Pemeriksaan Laboratorium: Untuk menetapkan basal metabolic rate (BMR), Tes indokrinologi, dll.

d. Kapan Mulai Mendiagnosis : Diagnosis sudah bisa mulai ditetapkan saat pasien masuk diruang pemeriksaan. Misalnya: Dengan melihat muka pasien kita sudah bisa menetapkan tipe profil, bentuk muka, keadaan bibir pasien, dll. Kemudian tahap demi tahap pemeriksaan dilalui kita akan langsung dapat menetapkan diagnosis sementara (Tentative Diagnosis). Misalnya dari : 1. Identitas pasien : a. Umur : - Diastema gigi anterior pada umur 6 tahun, anak masih dalam masa pertumbuhan, maloklusi ini masih dapat berkembang kearah normal dengan erupsinya gigi permanent dengan ukuran mesiodistal yamg lebih besar dari gigi susu, perawatan yang bisa dilakukan adalah observasi. - Protrusif gigi-gigi rahang atas tipe dentoskeletal pada pasien berumur 23 tahun, pertumbuhan dentofasial telah berhenti maloklusi bersifat permanen, perawatan yang bisa dilakukan: perawatan protuisif rahang atas yang berlebihan adalah bedah ortodontik (Orthodontic Surgery), sedangkan perawatan terhadap proklinasi gigi anteriornya adalah perawatan ortodontik (Ortodontic Treatment) b. Suku bangsa / ras : - Protrusif merupakan keadaan abnormal bagi ras caucasoid tetapi protrusif pada tingkat tertentu masih dianggap normal untuk ras negroid dan mongoloid. - Suku Jawa dengan muka sedikit cembung masih dianggap normal karena merupakan kelompok mongoloid. c. Jenis kelamin : - Proses pertumbuhan dentofasial lebih cepat selesai pada wanita dari pada laki-laki, seperti pendewasaan, proses penulangan, erupsi gigi terjadi lebih awal pada wanita dari pada laki-laki.

95

- Ukuran rahang lebih besar pada laki-laki dari pada wanita. d. Dan lain-lain. 2. Anamnesis dan Riwayat kasus (Case History) : Pasien dengan protrusif maksila (klas II divisi 1) bisa ditetapkan sebagai kasus yang disebabkan oleh faktor keturunan atau bukan, dengan melakukan anamnesis untuk menelusuri riwayat kasusnya: - Jika keadaan orang tuan dan saudara-saudaranya mempunyai kemiripan dengan pasien kasus ini disebabkan oleh faktor keturunan. - Jika orang tua dan saudara-saudaranya tidak protrusif tetapi dari riwayat kasus didapatkan pasien mempunyai bad habit mengisap ibu jari pada masa kecilnya maka kasus ini disebabkan oleh faktor kebiasaan buruk / bad habit. 3. Pemeriksaan klinis: Dari hasil pemeriksaan klinis ini kita juga dapat mendiagnosis keadaan pasien : - Pasien dengan ukuran badan yang besar akan didiagnosis tidak normal apabila ukuran rahangnya kecil - Ukuran rahang pasien yang tidak seimbang dengan ukuran mesiodistal gigi, gigi-gigi akan tampak berdesakan atau renggang-renggang, didiagnose sebagai kasus maloklusi: gigi berjejal (crowding) atau diastemata (spacing) - Tipe profil pasien cembung, lurus atau cekung, normal-tidaknya tergantung kelompok ras pasien dan tingkat keparahannya. - Dari hasil pemeriksaan klinis dapat pula ditetapkan diagnosis mengenai : Ekstra oral : Bentuk muka, bentuk kepala, keadaan bibir, tinggi muka, posisi dan hubungan rahang Intra oral : - Relasi molar dinyatakan dengan klasifikasi Angle. - Malrelasi gigi lainnya seperti: openbite, crossbite, deep overbite, scissor bite Overjet berlebihan dll. - Malposisi gigi seperti: mesioversi, bukoversi, aksiversi, torsiversi, supraversi, transversi dll.
96

4. Analisis studi model : Dari hasil pemeriksaan, pengukuran dan perhitungan pada studi model dapat ditetapkan diagnosis mengenai : - Bentuk dan ukuran rahang - Ukuran mesiodistal gigi - Bentuk dan ukuran lengkung gigi - Penentuan relasi molar, malrelasi gigi lainnya, malposisi gigi - Adanya kelaiann bentuk gigi (malformasi), dll. 5. Analisis Foto muka (Analisis fotografi) : Analisis terhadap muka dan profil pasien dapat dilakukan langsung pada pasien dalam pemeriksaan klinis. Tetapi untuk tujuan dokumentasi mengenai keadaan wajah pasien diperlukan juga foto wajah perlu disertakan pada laporan status pasien. Analisis foto muka pasien dilakukan untuk mendiagnosis adanya abnormalitas mengenai bentuk profil dan tipe muka pasien: - Tipe profil: cembung, lurus, cekung. - Bentuk muka: Brahifasial, Mesofasial, Oligofasial. - Bentuk kepala: Brahisefali, Mesosefali, Oligosefali 6. Analisis Foto Rontgen : Analisis Foto Rontgen diperlukan apabila dibutuhkan diagnosis tentang keadaan jaringan dentoskeletal pasien yang tidak dapat diamati langsung secara klinis, seperti: - Foto periapikal : Untuk menentukan gigi yang tidak ada, apakah karena telah dicabut, impaksi atau agenese. Untuk menentukan posisi gigi yang belum erupsi terhadap permukaan rongga mulut berguna untuk menetapkan waktu erupsi, Untuk membandingkan ruang yang ada dengan lebar mesiodistal gigi permanen yang belum erupsi.

97

- Panoramik: Untuk menentukan keadaan gigi dan jaringan pendukungnya secara keseluruhan dalam satu Ro foto, Untuk menentukan urutan erupsi gigi, dll.

- Bite wing : Untuk menentukan posisi gigi dari proyeksi oklusal.

7. Analisis Sefalometri : Analisis sefalometri sekarang semakin dibutuhkan untuk dapat mendiagnosis maloklusi dan keadaan dentofasial secara lebih detil dan lebih teliti tentang: Pertumbuhan dan perkembangan serta kelainan kraniofasial Tipe muka / fasial baik jaringan keras maupun jaringan lunak Posisi gigi-gigi terhadap rahang Hubungan rahang atas dan rahang bawah terhadap basis kranium

Diagnosis yang ditetapkan pada setiap tahap pemeriksaan disebut diagnosis sementara (Tentative diagnosis), setelah semua data pemeriksaan lengkap dikumpulkan kemudian dapat ditetapkan diagnosis finalnya (Final diagnosis) yang biasa disebut sebagai diagnosis dari pasien yang dihadapi. Kadang-kadang jika kita masih ragu-ragu menetapkan suatu diagnosis secara pasti atas dasar data-data pemeriksaan yang ada. Bisa pula diagnosis pasien ditetapkan dengan disertai diagnosis alternatifnya yang disebut sebagai diferensial diagnosis. e. Pemeriksaan Klinis / Pemeriksaan Obyektif 1. Umum / General Pemeriksaan klinis secara umum pada pasien dapat dilakukan dengan mengukur dan mengamati : Tinggi badan : cm. Berat badan : kg. Keadaan jasmani Keadaan mental : : baik / cukup / jelek baik / cukup / jelek
98

Status gizi

baik / cukup / jelek

Maksud pemeriksaan klinis menyangkut tinggi badan, berat badan, keadaan jasmani serta keadaan gizi pasien adalah untuk memperkirakan pertumbuhan dan perkembangan pasien secara umum, sedangkan data keadaan mental pasien diperlukan untuk menentukan apakah pasien nanti dapat bekerja sama (kooperatif) dengan baik bersama operator dalam proses perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang optimal. 1. Khusus / Lokal : a. Luar mulut / Ekstra Oral : Bentuk muka : simetris / asimetris Tipe muka : Menurut Martin (Graber 1972) dikenal 3 tipe muka yaitu : - Brahisepali : lebar, persegi - Mesosepali : lonjong / oval - Oligisepali : panjang / sempit

Menurut Ricket (Graber 1972) lebih tepat untuk bentuk kepala yaitu proyeksi kepala terhadap bidang sagital sedangkan untuk tipe muka lebih tepat menggunakan istilah fasial : - Brahifasial - Mesofasial - Dolikofasial.
99

Umumnya tipe muka berkaitan erat dengan bentuk lengkung gigi pasien. Klasifikasi bentuk muka dan kepala menurut Sukadana (1976) berdasarkan: Indeks muka = Tinggi muka ( A) (Jarak N Gn) x 100 Lebar muka (B) (Jarak bizigomatik) Klasifikasi indeks muka : - Euriprosop ( muka pendek, lebar) - Mesoprosop (muka sedang ) - Leptoprosop (muka tinggi, sempit) : : : 80,0 84,9 85,0 89,9 90,0 94,9

Jika indeks : < 80,0 > 94,9

: :

Hipo Euriprosop Hiper Leptoprosop

Indeks kepala = Lebar kepala (B) (jarak bizigomatik supra mastoideus) x 100 Panjang kepala (A) (Jarak Gl Oc) Klasifikasi indeks kepala : - Dolikosepali (kepala panjang sempit) - Mesosepali (kepala sedang ) - Brahisepali (kepala lebar persegi) Jika indeks : < 70,0 : : : : 70,0 74,9 75,0 79,9 80,0 84,9

Hipo Dolikosepali
100

> 84,9

Hiper Brahisepali

Profil muka : Menurut Graber (1972) dikenal tiga tipe profil muka yaitu : - Cembung (convex), bila titik petemuan Lcb-Lca berada didepan garis Gl-Pog - Lurus (straight ), bila titik petemuan Lcb-Lca berada tepat pada garis Gl-Pog - Cekung (concave), bila titik petemuan Lcb-Lca berada dibelakang garis Gl-Pog Untuk menentukan profil muka digunakan 4 titik anatomis Gabella (Gl), Lip Contour atas (Lca), Lip Contour bawah (Lcb) dan Pogonion (pog) serta garis referensi Gl-Pog sebagaia acuan : - Glabella (Gl) : Titik terendah dari dahi terletak pada tengah-tengah diantara alis mata kanan dan kiri. - Lip contour atas (Lca) : Titik terdepan bibir atas. - Lip contour bawah (Lcb) : Tiik terdepan bibir bawah - Pogonoin (Pog) : Titik terdepan dari dagu didaerah symphisis mandibula.

101

Menurut Schwarz (Boersma,1987) Tipe profil bervariasi masing-masing menjadi : - Cembung (Anteface ) bila titik Sub nasale (Sn) berada di depan titi Nasion (Na) - Lurus (Average face) bila titik Sub nasale (Sn) berada tepat segaris dengan Nasion (Na) - Cekung (Retroface) bila titik Sub nasale (Sn) berada di belakang titik Nasion (Na) Masing-masing tipe ini masih bisa bervariasi dengan kombinasi : - Retrognatik (Dorsaly rotated dintition ) : Bila gigi-geligi rahang bawah berotasi ke arah belakang sehingga posisi titik Pog tampak lebih ke belakang dari posisi Nasion - Ortogantik (Unrotated dentition) : Bila gigi-geligi rahang bawah tidak berotasi / posisinya normal titik Pog tampak lurus terhadap Nasion - Prognatik (Ventraly rotated dentition) : Bila gigi-geligi rahang bawah berotasi kedepan, dagu (titik Pog) tampak maju terhadap Nasion - Nasion (Na) adalah titik terdepan dari sutura Fronto nasalis - Subnasale (Sn) adalah titik titik terdepan tepat dibawah hidung Dengan demikian akan didapatkan 9 tipe muka : - Cembung : Anteface dengan variasi retrognatik, ortognatik dan prognatik - Lurus : Average face dengan variasi retrognatik, ortognatik dan prognatik - Cekung : Retroface dengan variasi retrognatik, ortognatik dan prognatik

102

Otot-otot mastikasi dan otot-otot bibir Serabut otot bersifat elastis , mempunyai dua macam ketegangan (tonus), aktif dan pasif. Pada waktu kontraksi terdapat ketegangan yang aktif dan apabila dalam keadaan dilatasi terdapat ketegangan pasif. Dengan demikian pada waktu istirahat otot-otot mastikasi dan bibir mempunyai tonus yang dalam keadaan normal terdapat keseimbangan yang harmonis, bila tidak normal tonus otot sangat kuat (hypertonus) atau sangat lemah (hipotonus) dapat menimbulkan anomali pada lengkung gigi akibat adanya ketidakseimbangan atara tekanan otot di luar dan di dalam mulut. Pada pemeriksaan klinis, periksa : - Otot-otot mastikasi : normal / hypertonus / hypotonus - Otot bibir atas : normal / hypertonus / hypotonus - Otot bibir bawah : normal / hypertonus / hypotonus Keadaan bibir pada waktu istirahat (rest position) : terbuka / menutup Bibir terbuka pada waktu rest posisi bisa disebabkan karena bibir terlalu pendek (incompetent) atau hypotonus otot bibir sering dijumpai pada pada pasien yang gigi depannya protrusif. Keadaan pipi : normal / cembung / cekung Keadaan ini juga berkaitan dengan tonus otot-otot pipi (m. masseter) pasien.

b. Dalam mulut /Intra oral : Pemeriksaan intraoral dilakukan dengan mengamati : Kebersihan mulut (oral hygiene / OH) : baik / cukup / jelek Ini dapat ditetapkan dengan Indeks OHIS, pasien yang kebersihan mulutnya jelek kemungkinan besar kebersihan mulutnya akan lebih jelek lagi selama perawatan dilakukan , oleh karena itu motivasi kebersihan mulut perlu diberikan sebelum perawatan ortodontik dilakukan. Keadaan lidah : normal / macroglossia / microglossia Pasien yang mempunyai lidah besar ditandai oleh : - Ukuran lidah tampak besar dibandingkan ukuran lengkung giginya
103

- Dalam keadaan relax membuka mulut, lidah tampak luber menutupi permukaan oklusal gigi-gigi bawah. - Pada tepi lidah tampak bercak-bercak akibat tekanan permukaan lingual mahkota gigi (tongue of identation) - Gigi-gigi tampak renggang-renggang (general diastema) Palatum : normal / tinggi / rendah serta normal / lebar / sempit Pasien dengan pertumbuhan rahang rahang atas kelateral kurang (kontraksi) biasanya palatumnya tinggi sempit, sedangkan yang pertumbuhan berlebihan (distraksi) biasanya mempunyai palatum rendah lebar. Jika ada kelainan lainnya seperti adanya peradangan, tumor, torus, palatoschisis, dll. Dicatat. Gingiva : Normal / hypertophy / hypotropy Adanya peradangan pada gingiva bisa ditetentukan dengan gingival indeks (GI) Mucosa : normal / inflamasi / kelainan lainnya Pasien dengan oral hygiene yang jelek biasanya mempunyai gingiva dan mucosa yang inflamasi dan hypertropy. Frenulum labii superior : normal / tinggi / rendah , tebal / tipis Frenulum labii inferior : normal / tinggi / rendah , tebal / tipis Frenulum lingualis : normal / tinggi / rendah , tebal / tipis Pemeriksaan frenulum dilakukan untuk mengetahui posisi perlekatannya (insersio) pada marginal gingiva serta ketebalannya, apakah akan mengganggu pengucapan kata-kata tertentu dan apakah akan mengganggu pemakaian plat ortodontik yang akan dipasang ? Tonsila palatina : normal / inflamasi / hypertrophy Tonsila lingualis : normal / inflamasi / hypertrophy Tonsila pharengea : normal / inflamasi / hypertrophy Apakah ada amandel yang membengkak? Dilakukan pemeriksaan dengan menekan lidah pasien dengan kaca mulut, jika dicurigai adanya kelaianan yang serius pasien dikonsulkan ke dokter ahli THT sebelum dipasangi alat ortodontik.
104

f. Analisis Model Studi 1. Pembuatan model studi : Pemeriksaan secara klinis belum lengkap dapat memberikan data yang dibutuhkan untuk perawatan ortodontik. Disamping karena terbatasnya waktu pemeriksaan diklinik juga ada bagian-bagian yang tidak bisa diamati secara teliti. Banyak pengukuran tidak bisa dilakukan secara langsung pada pasien. Untuk itu diperlukan model cetakan gigi dan rahang sebagai model studi. Untuk mendapatkan model studi dilakukan : a. Mencetak rahang atas dan rahang bawah pasien b. Membuat gigitan sentrik (centric occlusal record) c. Boxing model cetakan d. Pemberian nomer model e. Penyabunan Analisis pada model studi Analisis model studi merupakan salah satu sumber informasi penting untuk menentukan diagnosis ortodonti. Diagnosis yang menyeluruh akan menentukan

kelengkapan rencana perawatan. Rencana perawatan yang lengkap dan akurat akan menetukan keberhasilan perawatan. Analisis model studi adalah penilaian tiga dimensi terhadap gigi geligi pada rahang atas maupun rahang bawah, serta penilaian terhadap hubungan oklusalnya.

Kedudukan gigi pada rahang maupun hubungannya dengan geligi pada rahang lawan dinilai dalam arah sagital, transversal, dan vertikal. Untuk keperluan diagnosis ortodonti, model studi harus dipersiapkan dengan baik dan hasil cetakan harus akurat. Hasil cetakan tidak hanya meliputi seluruh gigi dan jaringan lunak sekitarnya, daerah di vestibulum pun harus tercetak sedalam mungkin yang dapat diperoleh dengan cara menambah ketinggian tepi sendok cetak hingga dapat mendorong jaringan lunak di daerah tersebut semaksimal mungkin, sehingga inklinasi mahkota dan akar terlihat. Jika hasil cetakan tidak cukup tinggi, maka hasil analisis tidak akurat. Model studi dengan basis segi tujuh, yang dibuat dengan bantuan gigitan lilin dalam keadaan oklusi sentrik serta diproses hingga mengkilat, akan memudahkan pada saat analisis dan menyenangkan untuk dilihat pada saat menjelaskan kasus kepada pasien.
105

Macam-macam analisis model studi : 1. Analisis geligi tetap a. Analisis Howes b. Indeks Pont c. Metode Kesling d. Indeks Bolton e. Analisis Arch Length Discrepancy (ALD)

2. Analisis geligi campuran a. Perkiraan ukuran gigi menggunakan gambaran radiografi b. Perkiraan ukuran gigi menggunakan tabel probabilitas c. Tanaka-Johnston

- Posisi bidang orbital pada studi model dapat ditransfer dari hasil pengamatan langsung secara klinis seperti yang dilakukan di atas (a) kemudian ditandai pada permukaan labial / bukal gigi pada model dan pada tepi lateral boksing kemudian model ditriming untuk membentuk sudut depan lateral boksing. - Kemudian tentukan posisi maksila dan mandibula, dapat dilakukan dengan menetapkan posisi bidang orbital pasien : bila melewati daerah spertiga distal permukaan labial gigi kaninus atas posisi maklsila normal, bila berada didistalnya posisi maksila protrusif dan bila berada didepannya posisi maksila retrusif. - Posisi manidibula ditetapkan dengan mengoklusikan model RA/RB secara sentrik, amati posisi bidang orbital pasien pada gigi-gigi bawah, bila melewati daerah interdental gigi kaninus dan premolar pertama bawah tepat pada sisi distal gigi kaninus posisi mandibula normal, bila garis Simon (bidang orbital) berada di distalnya posisi madibula protrusif dan bila berada didepannya posisi mandibula retrusif. - Bila posisi maksila dan mandibula kedua-duanya berada di pada posisi normal profil pasien ortognatik, bila kedua-duanya protrusif profil pasien bikmaksiler prognatism dan bila kedua duanya retrusif profil pasien bimaksiler retrognatism. - Penentuan posisi garis Simon (bidang orbital) bisa salah bila pengamatan profil pasien dari samping tidak tepat tegak lurus terhadap bidang sagital pasien.

106

- Penentuan doagnosis bisa salah apabila posisi gigi kaninus atas malposisi, bila gigi kaninus malposisi posisi normalnya nanti bisa ditetapkan pada pembuatan lengkung ideal yaitu pada posisi garis Simon yang telah ditandai pada model seperti yang dilakukan di atas. Skema model rahang atas dan rahang bawah : Pada kartu status dan laporan praktikum dibuat skema gigi-geligi pasien dari proyeksi oklusal. Dibuat pula gambar boxing model studi dan masing-masing elemen gigi diberi nomer (nomenclature) dengan cara yang lazim dilakukan.

Alat orthodonsi lepasan Alat /Pesawat ortodontik dalam pemakaiannya di dalam mulut dibedakan menjadi 2 macam alat yaitu : A. Alat Cekat : Alat ortodontik yang hanya dapat dipasang dan dilepas oleh dokter gigi Contoh: a. Alat cekat Teknik Begg b. Alat cekat Teknik Edgewise c. Alat cekat Teknik Bioprogresive

Konstruksi alat cekat lebih komplek dari alat lepasan. Terdriri dari 2 komponen : 1. Komponen pasif, berfungsi untuk mendukung komponen aktif : a. Band, berupa cincin logam yang biasanya disemenkan pada gigi penjangkar. b. Tube, berupa tabung logam yang biasanya dipatrikan pada band Molar. c. Bracket, berupa tempat perlekatan komponen aktif yang sekarang pemasangannya pada gigi dilakukan secara bonding. 2. Komponen aktif berfungsi untuk menggerakkan gigi : a.Arch wire/kawat busur berupa lengkung kawat yang dipasang pada slot bracket dan dimasukkan pada tube bukal.
107

b. Sectional wire merupakan bagian dari kawat busur untuk menggerakkan gigi-gigi posterior seperti : Cuspid retractor. c. Auxillaries merupakan perlengkapan tambahan untuk menggerakkan gigi-gigi, seperti, pir-pir atau karet elastik.

Gambar : Alat Ortodontik Cekat a. Buccal tube b. Molar Band c. Bracket d. Arch wire e. Auxilliary Spring

B. Alat Lepasan : Alat ortodontik ini dapat dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri. Contoh: a. Plat Dengan Pir-Pir Pembantu b. Plat Dengan Peninggi Gigitan c. Plat Ekspansi d. Aktivator/Monoblock

Komponen alat lepasan terdiri dari : A. Pelat Dasar /Baseplate B. Komponen Retentif : 1. Klamer / Clasp 2. Kait / Hook 3. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow (dalam keadaan pasif) C. Komponen Aktif : 1. Pir-pir Pembantu / Auxilliary Springs 2. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow 3. Skrup Ekspansi / Expansion Screw 4. Karet Elastik / Elastic Rubber D. Komponen Pasif : 1. Busur Lingual / Lingual Arch / Mainwire 2. Peninggi Gigitan / Biteplane
108

E Komponen Penjangkar : a. Verkeilung, b. Busur Labial dalam keadaan tidak aktif. c. Klamer-klamer. dan modifikasinya

Gambar : Alat Ortodontik Lepasan A. Pelat Dasar /Baseplate B. Komponen Retentif C. Komponen Aktif D. Komponen Pasif E Komponen Penjangkar

KOMPONEN ALAT LEPASAN


A.Plat Dasar /Baseplate Merupakan rangka (frame work) dari alat ortodontik lepasan, umumnya berupa plat akrilik, berfungsi untuk : 1. Mendukung komponen-komponen yang lain , seperti tempat penanaman basis spring, klammer, busur labial dan lain-lain. 2. Meneruskan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian aktif ke gigi penjangkar. 3. Mencegah pergeseran gigi-gigi yang tidak akan digerakkan. 4. Melindungi spring-spring di daerah palatal. 5. Menahan dan meneruskan kekuatan gigitan Plat akrilik dibuat setipis mungkin agar tidak menyita rongga mulut sehingga bisa enak dipakai oleh pasien (comfortable), tetapi cukup tebal agar tetap kuat jika dipakai di dalam mulut. Umumnya ketebalan plat setebal 1 malam model (2mm). Disain dan konstrusi plat sangat mempengaruhi efisiensi alat serta kenyamanan pemakaian oleh pasien sehingga pasien mau mengikuti instruksi-instruksi pemakaian sampai perawatam selesai. Dengan demikian disamping plat yang terlalu tebal dan lebar menutupi palatum, pemasangan pir-pir yang terlalu banyak secara bersamaan akan sangat mengganggu kenyamanan pasien.
109

Stabilitas alat di dalam mulut yang bebas dari goncangan ketika mulut berfungsi (mengunyah, bicara) akan memberikan kenyamanan pemakaian, mempertinggi akurasi / ketepatan tekanan spring, memperbesar reaksi penjangkar di daerah rahang bagian depan. Untuk mencapai stabilitas alat yang maksimal ada beberapa hal yang harus diperhatikan : 1. Lebar plat dibuat selebar mungkin tetapi disesuaikan dengan kebutuhan karena plat yang terlalu lebar akan menggangu fungsi lidah dan kenyamanan pemakaian. 2. Plat dasar secara keseluruhan harus dapat beradaptasi dengan mukosa mulut, permukaan plat dapat menempel dengan baik tanpa menimbulkan rasa menekan, tepi plat dapat beradaptasi dengan kontur permukaan cervical di palatinal/lingual gigi-gigi masuk dengan pas didaerah interdental membentuk Verkeilung, tanpa ada celah tempat terselipnya sisa makanan. 3. Plat di daerah gigi yang akan digerakkan harus dibebaskan sehingga tidak tertahan setelahmendapat tekanan dari pir atau busur labial yang telah diaktifkan. Plat dasar di daerah gig-gigi yang akan digerakan dapat dibebaskan sehingga pir-pir penggerak gigi tersebut tampak terbuka (gambar di atas), tetapi dalam keadaan tertentu untuk menghindari terganggunya lidah, atau pada pemasangan pir dibawah bite plane anterior plat masih tetap menutupi pir-pir tersebut tapi tetap dalam keadaan bebas dalam box/ruangan di bawah plat. Bagian kawat yang tertanam didalam plat (basis spring) ujungnya harus dibengkokkan untuk retensi agar tidak mudah lepas, dan bagian retensi tersebut harus berada dalam ketebalan platnya. Ada beberapa hal khusus yang perlu di perhatikan : 1.Untuk plat rahang atas : Plat dibuat selebar mungkin, tepi distal sampai mencapai daerah perbatasan palatum molle dan palatum durum, di bagian tengah melengkung ke anterior sehingga cukup luas daerah palatinal yang bebas agar tidak menggangu fungsi lidah sewaktu mengunyah dan bicara. 2.Untuk plat rahang bawah : Daerah di bagian lingual mandibula sempit maka untuk memperkuat plat perlu di pertebal menjadi satu setengah ketebalan malam (3mm), di daerah sulcus lingualis tempat perlekatan frenulum linguale plat dipersempit agar tidak mengganggu gerakan lidah. Di regio molar dibagian lingual biasanya terdapat daerah undercut yang cukup dalam meluas sampai pangkal lidah, didaerah ini ujung kawat basis klamer tidak boleh menempel tapi tegak lurus turun ke bawah, tepi plat dibagian bawah dipertebal sehingga jika diperlukan pengurangan ketebalan plat untuk mempermudah insersi tepi plat tidak menjadi terlalu tipis dan kawat basis yang tertanam di dalam plat tidak terpotong.

110

Dengan jalan lain dapat dilakukan dengan menutup (block out) daerah undercut dengan gips , kawat basis klamer lewat di atasnya baru kemudian dilakukan pengerjaan memodel malam, sehingga nanti dak diperlukan penggrindingan tepi plat bagian bawah untuk membebaskan plat dari daerah under cut tersebut. Cara pembuatan/prosessing plat : 1. Metode Flasking : Menggunakan bahan Heat Curing Acrylic (HCA) yaitu bahan akrilik yang proses polimerisasinya memerlukan pemanasan sehingg pada waktu prosessing diperlukan penggodogan. Model malam di inbed didalam cuvet, dicor dengan air mendidih, adonan akrilik dimasukkan, dipress kemudian di godok. 2. Metode Quick Curing: Menggunakan bahan Cold Curung Acrylic (CCA) atau juga disebut Self Curing Acrylic (SCA) , bahan akrilik ini proses polimerisasinya tidak memerlukan pemanasan, panas untuk proses polimerisasinya timbul akibat reaksi eksotermis dari bahan tersebut pada waktu dicampur.

Pembuatan plat dapat dilakukan dengan : a. Powder /polimer ditaburkan tipis di atas model, kemuduan diteteskan liquid/monomer, dilakukan berulang-ulang lapis demi lapis sampai mencapai ketebalan yang diinginkan. b. Powder dan liquid dicampur didalam pot setelah mencapai consistensi yang diinginkan kemudian adonan ditempatkan dan dibentuk di atas model. c. Dengan memakai kuas yang dibasahi dengan liquid kemudian dioleskan pada powder lalu dioleskan pada model, dilakukan berulang-ulang lapis demi lapis sampai mencapai ketebalan yang diinginkan.

B. Klamer/Clasp dan Modifikasinya Klamer adalah suatu bengkokan kawat merupakan bagian/komponen retentif dari alat ortodontik lepasan. Bagian retensi dari Alat Lepasan umumnya berupa cangkolan/klamer/clasp dan kait / hook, berfungsi untuk : a. Menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut. b. Mempertahankan stabilitas alat pada saat mulut berfungsi. c.Membantu fungsi gigi penjangkar/anchorage, menghasilkan kekuatan pertahanan yang berlawanan arah dengan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian aktif untuk menggerakkan gigi. d. Klamer dapat diberi tambahan hook untuk tempat cantolan elastik. Klamer dipasang pada gigi dapat memberikan tahanan yang cukup terhadap kekuatan yang dikenakan terhadap gigi yang
111

digerakkan. Dapat menahan gaya vertikal yang dapat mengangkat plat lepas dari rahang dan menggangu stabilitas alat. Pemilihan jenis, jumlah dan letak penempatan klamer pada gigi anchorage tergantung kepada: jumlah spring yang dipasang, letak spring, serta bentuk dan jumlah gigi penjangkarnya. Macam-macam klamer dan modifikasinya yang di pakai sebagai komponen retentif pada alat ortodontik lepasan adalah : 1. Klamer C / Simple/Buccal Clasp. Klamer ini biasanya dipasang pada gigi molar kanan dan kiri tetapi bisa juga pada gigi yang lain. Pembuatannya mudah, tidak memerlukan tang khusus, tidak memerlukan banyak materi kawat, tidak melukai mukosa , retensinya cukup, tetapi tidak efektif jika dikenakan pada gigi desidui atau gigi permanen yang baru erupsi. Ukuran diameter kawat yang dipakai: untuk gigi molar 0,8 0,9 mm, sedangkan untuk gigi premolar dan gigi anterior 0,7 mm. Bagian-bagiannya terdiri dari: Lengan: Berupa lengkung kawat dari ujung membentuk huruf C memeluk leher gigi di bagian bukal dari mesial ke distal di bawah lingkaran terbesar (daerah undercut), satu milimeter di atas gingiva dengan ujung telah ditumpulkan. Pundak: Merupakan lanjutan dari lengan dibagian distal gigi berbelok ke lingual/palatinal menelusuri daerah interdental. kawat di daerah ini hindari jangan sampai tergigit. Basis: Merupakan bagian kawat yang tertanam di dalam plat akrilik, ujungnya diberi bengkokkan untuk retensi.

Gambar : Klamer C

2. Klamer Adams / Adams Clacp. Klamer Adams merupakan alat retensi plat aktif yang paling umum digunakan. Biasanya dikenakan pada gigi molar kanan dan kiri serta pada gigi premolar atau gigi anterior. Diameter kawat yang digunakan : 0,7 mm untuk gigi molar dan premolar serta 0,6 mm untuk gigi anterior.
112

Bagian-bagiannya terdiri dari : Cross bar : Merupakan bagian kawat sepanjang 2/3 mesiodistal gigi anchorage yang akan dipasangi, posisi sejajar permukaan oklusal, terletak 1 mm disebelah bukal permukaan bukal, tidak tergigit ketika gigi beroklusi. U loop : Terletak diujung mesial dan distal cross bar. Menempel pada permukaan gigi di daerah undercut bagian mesiobukal dan distobukal.

Gambar : Klamer Adams

Pundak: Merupakan lanjutan dari U loop yang melewati daerah interdental dibagian oklusal sisi mesial dan distal gigi anchorage.Tidak tergigit sewaktu gigi beroklusi. Basis : Ujung kawat pada kedua sisi tertanam didalam plat akrilik, diberi bengkokan untuk retensi. Bentuk-bentuk modifikasi klamer Adams : a.KlamerAdams dengan satu loop (single spur): Biasanya dipasang pada gigi molar paling distal, dimana daerah dibagian distal belum jelas. U loop hanya dibuat pada sisi mesial saja. b.Klamer Adams dengan tambahan tube yang di patrikan pada cross bar. Tube berfungsi sebagai tempat perlekatan busur labial atau tempat mengaitkan elastik. c.Klamer Adams dilengkapi dengan coil (circular traction hook) pada pertengahan crossbar, yang juga berfungsi untuk tempat mengaitkan elastik.

113

Gambar : Bentuk modifikasi klamer Adam d. Klamer Adams dengan 3 loop (triple spur). Cross bar dengan satu U loop tambahan dipatrikan pada pertengahan cross bar klamer Adams lainnya. Klamer jenis ini dikenakan pada dua gigi secara bersama-sama dengan tujuan untuk mempertinggi retensi. e.Klamer Adams pada gigi anterior (double anterior spur), memeluk dua gigi anterior secara bersama-sama. f. Klamer Adams yang dilengkapi dengan kait (standard traction hook), berfungsi untuk tempat mengaitkan elastik. Keuntungan pemakaian klamer Adams : - Mempunyai retensi yang sangat tinggi. - Pembuatan tidak memerlukan tang khusus. - Kawat yang dibutuh tidak terlalu banyak. - Dapat dikenakan pada gigi permanen, gigi desidui dan gigi yang belum tumbuh sempurna. Kerugian-kerugiannya : - Pembuatannya lebih sukar dari pada pembuatan klamer C. - Jika pembuatnya kurang cermat (sering mengulang-ulang pembengkokan kawat) klamer akan mudah putus. - Jika loop terlalu panjang, cross bar akan mudah melukai pipi atau bisa tergigit jika gigi beroklusi. - Jika loop terlalu pendek cross bar akan menempel pada permukaan bukal gigi, sisa makanan akan mudah tertahan .

3. Klamer kepala panah / Arrow Head Clasp Klamer ini mempunyai bagain yang berbentuk seperti ujung/kepala anak panah, masuk daerah interdental membentuk sudut 90 terhadap posisi lengannya.

114

Gambar : Klamer kepala panah Lengan tidak boleh menempel pada mukosa tetapi berjarak 1 mm di sebelah bukalnya, lengan juga tidak boleh terlalu panjang sampai melebihi posisi vornic supaya tidak melukai sulcus buccalis. Klamer ini dapat dipakai untuk memegang lebih dari satu gigi, biasanya dipakai sebagi bagian retentif plat ekspansi. Diameter kawat yang di pakai : 0,7 mm Keuntungannya : - daya retensi tinggi - dapat dipakai pada gigi permanen atau gigi desidui Kerugiannya : - pembuatannya lebih sulit - memerlukan tang khusus

4. Bentuk modifikasi (Kawat tunggal, Ring, Triangulair, Arrowhea, Pinball) Modifikasi klamer berupa tekukan kawat yang ujungnya men cengkram permukaan interdental dua buah gigi bersebelahan. Bagian-bagiannya terdiri dari : Basis yaitu bagian kawat yang tertanam dalam plat akrik, ujungnya diberiri tekukan agar tidak mudah lepas dari dasar Pundak bagian dari kawat yang melewati daeran interdental dipermukaan oklusal dua gigi bersebelahan Ujung (End) bagian yang mencengkram daerah inter dental gigi menghasilkan kemampuan retentif untuk alat lepasan Modifikasi klamer jenis ini baisanya dipasang di daerah interdental pada gigi posterior, pemasangannya bisa dikombinasikan dengan klamer C Dibuat dari kawat berdiameter 0,7 mm.

115

Gambar : Modifikasi klamer dengan ujung bundar (pinball) di daerah interdental gigi

Macam-macam bentuk ujung modifikasi klamer : o Kawat tunggal ujung kawat ditekuk dan di tumpulkan o Ring berbentuk lingkaran kecil o Segi tiga /Trianguler o Kepala panah /Arrowhead o Bundar / Pin ball (buatan pabrik)

Gambar : Modifikasi bentuk klamer Keuntungannya : - pembuatannya mudah - daya retensi cukup tinggi - dapat dipakai pada gigi permanen atau gigi desidui Kerugiannya : - tidak efektif jika daerah interdental renggang - ujung kait dapat melukai gingiva

C. Pir-Pir Pembantu/ Auxilliary Springs Pir-pir pembantu (auxilliary springs) adalah pir-pir ortodontik yang digunakan untuk menggerakkan gigi-gigi yang akan dikoreksi baik secara individual atau beberapa gigi secara bersama-sama. Macam-macam spring :
116

1. Pir Jari / Finger spring Pir jari merupakan bagian retentif dari alat ortodontik lepasan yang menyerupai jari-jari sebuah lingkaran memanjang dari pusat lingkaran ke sisi lingkaran (lengkung gigi),

Gambar : Posisi Pir Jari dibawah busur lingual

Gambar : Lintasan pergerakan gigi : A. Posisi koil tepat pada garis bisectris, gigi bergerak kemesial pada lengkung gigi. B. Posisi koil berada di mesial garis bisectris gigi bergerak ke arah mesiolabial C. Posisi koil berada di distal garis bisectris gigi bergerak ke arah mesiopalatinal/lingual

Klamer ini terdiri dari bagian-bagian : a. Lengan bagian yang memeluk mahkota gigi kemudian memanjang kearah pusat lingkaran berfungsi untuk mendorong gigi ke arah mesial atau distal sepanjang lengkung gigi. b. Koil adalah lanjutan lengan yang membentuk lingkaran satu atau dua kali putaran dengan diameter 2 mm, merupakan sumber kelentingan pir yang menghasilkan kekuatan aktif untuk menggerakkan gigi. c. Basis adalah bagian pir yang merupakan lanjutan dari koil yang dipatrikan pada mainwire atau di tanam dalam plat akrilik. Pir jari tunggal digunakan untuk menggerakkan sebuah gigi ke arah mesial atau distal sepanjang lengkung gigi sedangkan pir ganda (double finger spring) digunakan untuk menggerakkan dua buah gigi secara bersama-sama seperti pada kasus diastema sentral. Supaya

117

efektif dapat menghasilkan gerakkan gigi sepanjang lengkung gigi perlu diperhatikan penempatan koil sebagai fulkrum kekuatan : - Koil terletak dipusat lingkaran atau disepanjang garis bisektris yang membagi sudut lintasan gigi dari titik awal (starting point) ke titik akhkir (finishing point). - Untuk pir yang ditanam dalam plat akrilik posisi koil diusahakan sedekat mungkin dengan tepi plat sebelum masuk kedalam plat agar pusat gerakan lengan terletak pada koil. - Jika posisi koil tidak tepat gerakan gigi akan menyimpang dari lengkung gigi. Diameter kawat yang dipakai 0,5 0,6 mm tergantung panjang lengan pir.

2. Pir Simpel / Simple spring Berfungsi untuk menggerakkan gigi individual ke arah labial atau bukal. Dibuat dengan mematrikan kawat pada satu titik pada mainwire, membentuk sudut 45 terhadap garis singgung lingkaran mainwire kemudian dibengkokkan sejajar mainwire mendekati dan menempel pada gigi yang akan digerakkan dari arah palatinal/lingual.

Gambar : Pir simpel yang dipatrikan pada mainwire

Gambar : Pir simpel dengan modifikasi koil Untuk meningkatkan kelentingan, bisa dibuat bentuk modifikasi : - Belokan bisa ditingkatkan menjadi dua belokan dengan arah berlawanan (double simple spring) atau beberapa belokan. - Diberi tambahan koil pada setiap belokan disebut Cantilever Spring (Simple/double cantilever spring. Ukuran kawat yang biasa dipakai adalah 0.5 - 0,6 mm.

118

3. Pir Lup / Loop spring / Buccal retractor spring Pir ini dipakai untuk meretraksi gigi kaninus atau premolar ke distal. Pemasangannya dapat dipatrikan pada busur labial atau ditanam dalam plat akrilik. Dibuat dari kawat berdiameter 0,6 0,7 mm. Bentuk-bentuk modifikasi : - Dengan dua U lup (Double U loop spring) untuk meningkatkan kelentingan dan memperbanyak tempat pengaktipan. Dengan memberi tambahan koil untuk meningkatkan kelentingan. - Dengan memberi tabung (tube) pada kaki lup bagian belakang untuk memperkokoh kedudukan spring.

Gambar : Pir lup bukal / Buccal retractor spring

Gambar : Beberapa bentuk modifikasi pir retraktor bukal

4. Pir Kontinyu / Continous spring Pir ini berfungsi untuk mendorong dua gigi atau lebih secara bersama-sama kearah labial/bukal misalnya gigi-gigi insisivus, kaninius atau premolar. Pemasangan bisa dengan dipatrikan pada mainwire atau basisnya di tanam dalam plat akrilik. Basis yang dipatrikan pada mainwire membentuk sudut 45 kemudian dibelokkan sejajar dengan main wire, pada satu sisi dari gigi-gigi yang akan digerakkan membelok kemudian menempel pada permukaan palatinal/lingual membentuk busur pendorong untuk kemudian membelok kembali ke arah berlawanan membentuk basis dengan pematrian pada sisi sebelahnya

119

Gambar : Pir kontinyu yang dipatrikan pada main wire

Gambar : Posisi pir kontinyu pada palatinal gigi anterior

Bentuk modifikasinya: - Dengan menambahkan beberapa belokan kawat (lup) sebelum membentuk busur pendorong - Dengan memberi tambahan koil pada setiap belokan untuk meningkatkan kelentingan - Basis spring tidak dipatrikan pada main wire tapi ditanam dalam plat akrilik - Biasanya dibuat dari kawat berdiameter 0,6 atau 0,7 mm, tergantung panjang kawat yang membentuk spring

D. Busur Labial/Labial Arch/Labial Bow Sesuai dengan namanya busur labial merupakan kawat melengkung yang menempel pada permukaan labial gigi-gigi. Fungsi Busur labial : a. Untuk meretraksi gigi-gigi depan ke arah lingual/palatianal. b. Untuk mempertahankan lengkung gigi dari arah labial. c. Untuk mempertinggi retensi dan stabilitas alat. d. Untuk tempat pematrian pir-pir (auxilliary springs)

120

Gambar : Busur labial a. Lengkung labial, b. U lup c. Klamer Adam Bagian-bagiannya : a. Basis : merupakan bagian yang tertanam dalam plat akrilik. b. Pundak :Merupakan kawat lanjutan dari basis keluar dari plat akrilik di ujung Verkeilung melewati daerah interdental gigi. c. Lup : berbentuk huruf U sehingga disebut U loop

Macam-macam U loop : 1. Lup vertikal : yaitu lup U dalam arah vertikal, berguna untuk mengaktifkan busur labial dengan menyempitkan kaki lup ketika meretraksi gigi-gigi ke palatinal/lingual.

Gambar : Busur labial dengan lup vertikal

2. Lup Horisontal : untuk menjaga ke dudukan busur labial dalam arah vertikal dan dapat dipakai untuk mengintrusikan dan mengekstrusikan gigi-gigi anterior.

121

Gambar : Busur labial dengan lup horisontal

3. Lup kombinasi vertikal dan horisontal: Lup kombinasi ini dimaksudkan agar dapat digunakan untuk meretraksi dan mengintrusi atau mengekstrusi gigi-gigi anterior. Posisi lup ini tergantung kepada macam busur labial yang digunakan umumnya 1mm diatas permukaan mukosa gingiva, bebas dari vornic yaitu kira-kira setinggi pertengahan jarak cervico-vornic.

Gambar : Busur labial dengan lup kombinasi vertikal dan horisontal 4. Lup ganda (double Uloop) : Yaitu lup vertikal dengan dua belokan berbentuk huruf U dimaksudkan untuk mem perbanyak tempat pengaktipan sehungga retrusi gigi anterior dapat dilakukan lebih besar lagi dari pada lup tunggal.

Gambar : Busur labial dengan lup ganda

5. Lup terbalik ( inverted loop): yaitu lup yang pengaktipannya merupakan kebalikan yaitu dengan memperbesar/melebarkan kaki lup. Pembuatan besur labial dengan lup terbalik ini dimaksudkan agar dapat menahan permukaan labial gigi anterior lebih banyak tanpa perlu memindah posisi pundak ke gigi lebih kedistalnya lagi.

122

Gambar : Busur labial dengan lup terbalik

d. Lengkung labial : Lanjutan dari lup U membelok membentuk sudut 90 dalam arah horisontal melengkung dan menempel pada permukaan labial gigi anterior umumnya setinggi sepertiga panjang mahkota dari tepi insisal gigi atau dapat juga bervariasi lebih ke servikal atau lebih ke insisal tergantung dari gerakan gigi yang diinginkan: - Untuk dapat menghasilkan gerakan gigi secara bodily letaknya lebih ke arah servikal. - Agar menghasilkan gerakan tiping/tilting letaknya lebih kearah insisal.

Gambar : Posisi lengkung labial

Macam-macam busur labial : 1. Busur labial tipe pendek (Short Labial Arch): - Pundak busur labial tipe ini setelah keluar dari plat lewat di daerah interdental antara gigi C dan P1 atau c dan m1 decidui, kemudian membentuk U lup arah vertikal setinggi pertengahan antara vornic cervical gigi, dilanjutkan dengan belokan 90 melengkung horisontal mengikuti permukaan labial gigi-gigi anterior dari satu sisi ke sisi sebelahnya kemudian dengan cara yang sama membentuk belokan 90 arah vertikal membentuk U lup dan pundak pada sisi sebelahnya. - Berguna untuk meretraksi ke dua atau ke empat gigi insisivus yang inklinasinya terlalu ke labial/protrusif. - Diameter kawat yang dipakai bervariasi tergantung kegunaannya : 0,7 mm untuk tujuan aktif (retraksi) dan 0,8 mm - 0,9 mm untuk tujuan retentif (retainer) untuk mempertahankan hasil perawatan.
123

2. Busur labial tipe medium (Medium Labial Arch) - Bentuknya sama dengan busur labial tipe pendek terdiri dari basis, pundak, lup U dan lengkung labial tetapi letak pundak di daerah interdental gigi P1 dan P2 atau antara gigi m1 dan m2 desidui. - Lengkung labial menempel pada permukaan labial gigi anterior dari gigi kaninus kanan sampai kaninus kiri sehingga dapat dipakai untuk meretraksi ke enam gigi anterior. - Diameter kawat yang biasa dipakai adalah 0,7mm/0,8 mm untuk pemakaian aktif dan 0,9 mm untuk pemakaian retentif (sebagai retainer). 3. Busur labial tipe panjang ( Long Labial Arch) - Untuk busur labial tipe panjang ini letak pundak lebih ke distal lagi yaitu anatara gigi P2 dan M1 dengan demikian lengkung labialnya bisa menempel pada permukaan labial dari gigi P1 kanan sampai P1 kiri. - Kegunaannya yaitu pada kasus-kasus tertentu seperti : a) Meretraksi gigi dari kaninus kanan sampai kaninus kiri ke arah palatinal b) Meretraksi gigi dari premolar kanan sampai premolar kiri ke arah palatinal c) Mempertahankan kedudukan gigi dari premolar kanan sampai premolar kiri setelah perawatan. - Ukuran kawat yang biasa dipakai adalah : 0.8 untuk pemakaian aktif dan 0.9 mm untuk pemakaian retentif (sebagai retainer). - Basis busur labial tipe panjang ini disamping dapat ditanam di dalam plat akrilik seperti umumnya, tetapi dapat pula dilekatkan pada tube horisontal yang dipatrikan pada bukal bar klamer Adams pada gigi M1.

E. Busur Lingual (Lingual Arch/Mainwire) Merupakan lengkung kawat dibagian palatinal / lingual gigi anterior berfungsi untuk : 1. Mempertahankan lengkung gigi bagian palatinal / lingual. 2. Tempat pematrian auxilliary springs auxilliary 3. Untuk mempertahankan kedudukan auxilliary springs 4. Meningkatkan stabilitas alat di dalam mulut

Gambar : Busur lingual/ Mainwire


124

- Busur lingual dibuat dari kawat berdiameter 0,9 - 1,0 mm. - Menggunakan ukuran kawat yang besar karena tidak diperlulan sifat elasitisitasnya dan diharapkan dapat kokoh mendukung auxilliary springs yang akan dipatrikan pada busur labial tersebut. - Busur lingual/mainwire berbentuk lengkung kawat yang berjalan menelusuri daerah servikal gigigigi dari sisi kanan ke sisi kiri dibagian palatianal/lingual menempel pada cingulum gigi-gigi yang posisinya normal dan palato/linguoversi, sedangkan posisinya berjarak tertentu pada gigi-gigi yang labio/bukoversi sehingga tidak menghambat pergerakan gigi tersebut pada saat diretraksi ke palatinal/lingual. - Spring-spring dipasang di bawah busur lingual di atas jaringan mukosa.

PLAT AKTIF
A. Pengertian Plat Aktif merupakan alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan komponen aktif yang berfungsi untuk menggerakkan gigi Plat Aktif merupakan alat/pesawat ortodontik bersifat: 1. Removable/lepasan, karena dalam pemakaiannnya dapat dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri 2. Aktif:, karena bagian-bagian dari alat tersebut secara aktif dapat menghasilkan suatu kekuatan untuk menggerakkan gigi. 3. Mekanik, karena kekuatan yang dihasilkan memberikan tekanan atau tarikan secara mekanis kepada gigi. 4. Korektif, karena alat ini dipakai utuk tujuan merawat kelainan letak gigi (malposisi), kelaianan hubungan gigi-geligi (maloklusi) dan kelainan hubungan rahang (malrelasi). Komponen aktifnya dapat berupa : a. Pir-pir Pembantu (auxilliary springs) b. Sekrup Ekspansi (expansion screw) c. Karet elastik (elastic rubber)

B. Macam-macam dan modifikasi Plat Aktif : a. Plat dengan pir-pir pembantu biasanya disebut plat aktif b. Plat dengan skrup ekspansi biasanya disebut plat ekspansi
125

c. Plat dengan pir-pir pembantu dikombinasikan dengan skrup ekspansi, karet elastic (bentuk modifikasi) Plat Dengan Pir Pir Pembantu Plat Aktif dengan pir pembantu (auxilliary springs) merupakan alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan pir-pir ortodontik berfungsi untuk menggeser letak gigi yang malposisi Konstruksi Plat Aktif terdiri atas bagian-bagian : a. Plat dasar/base plate b. Klamer/cangkolan/Clasp c. Busur labial/Lengkung labial/Labial Arch (Labial Bow) d. Busur Lingual / Lingual arch / Mainwire e. Pir-pir Pembantu/Auxilliary Springs

C. Fungsi dan Mekanisme kerja Pemakaian plat aktif untuk mengoreksi maloklusi dilakukan dengan pir-pir pembantu untuk mengeser letak gigi yang malposisi ke dalam lengkung normalnya : a. Pir jari untuk mengeser gigi ke arah mesio-distal b. Pir simpel untuk mengeser gigi ke arah labio lingual dan mengoreksi rotasi c. Pir retraktor bukal untuk menarik ke distal gigi kaninus dan premolar D. Indikasi dan kontra indikasi : Indikasi : Maloklusi yang disebabkan kelainan letak gigi pada rahang (tipe dental)
126

1. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi berjejal (crowding) 2. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi renggang (spacing) 3. Maloklusi klas I Angle, dengan gigi anterior maju (protrusive) 4. Maloklusi klas II Angle tipe dental. 5. Maloklusi klas III Angle tipe dental. Kontra indikasi : Maloklusi tipe skeletal E. Bentuk dan desain Bentuk dan desain plat aktif dapat bervariasi disesuaikan dengan kasusnya. Contoh : 1. Kasus koreksi gigi anterior berjejal (Crowding)

Gambar. Plat aktif dilengkapi dengan : Pir simpel untuk mendorong gigi insisivus ke labial

2. Kasus pencabutan P1 kanan dan kiri

Gambar. Plat aktif dilengkapi dengan : Pir jari untuk menarik gigi kaninus ke distal

127

3. Kasus pencabutan gigi m2 (desidui), untuk tujuan menggeser P1 ke distal

Gambar. Plat aktif dilengkapi dengan : Pir jari untuk menarik gigi P1 dan C ke distal

3. Kasus dengan maksud untuk menggeser M1 yang miring ke mesial akibat adanya premature loss gigi m2 (desidui).

Gambar. Plat aktif dilengkapi dengan : Pir jari untuk menarik gigi M1 dan P2 ke distal sedangkan P1 ditarik dengan pir retraktor bukal

F.Cara pembuatan : Mencetak rahang atas dan rahang bawah, diisi dengan stone gips. Membuat gigitan sentrik (centrik record) dengan malam Model kerja dioklusikan secara sentrik dengan gigitan malam (centrik record) diikat dengan karet kemudian difiksasi dengan gips pada artikulator atau okludator. Model kerja diberi tanda dengan pensil untuk menentukan daerah perluasan plat.

128

Membuat Klamer Adams untuk retensi alat biasanya pada gigi molar pertama kanan dan kiri. Membuat busur labial pada gigi-gigi anterior Membuat busur lingual jika diperlukan Membuat pir-pir pembantu sesuai dengan malposisi gigi yang akan dikoreksi Memodel malam dengan ketebalan merata 2mm (setebal 1lembar malam ) Model malam ditanam dalam cuvet, dicor dengan air panas, diisi adonan akrilik. Setelah dipoles (polish), alat di pas pada model studi untuk membetulkan posisi busur labial dan pir-pirnya pada posisi yang tepat

PLAT DENGAN PENINGGI GIGITAN (BITE RISER)


A. Pengertian : Plat dengan peninggi gigitan (Bite Riser) adalah alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan peninggi gigitan (Biteplane), yaitu penebalan akrilik disebelah palatinal/lingual gigi anterior atau disebelah oklusal gigi-gigi posterior sehingga beberapa gigi di regio lainnya tidak berkontak saat beroklusi. Alat ini bisa bersifat pasif hanya untuk membebaskan gigi-gigi diregio lain atau fungsional yaitu menyalurkan kekuatan gigitan pada saat mulut melaksanakan fungsi pengunyahan. Alat ini terdiri dari bagian-bagian : 1. Plat dasar, umumnya berupa plat akrilik berfungsi untuk mendukung komponen alat lainnya disertai dengan penebalan plat pada tempat-tempat tertentu. 2. Bagian retensi, untuk melekatkan alat pada gigi-gigi didalam mulut biasanya berupa klamer pada gigi penjangkar (anchorage) M1 kanan dan kiri 3. Busur labial, untuk meretraksi gigi anterior ke palatinal/lingual dan untuk mempertinggi retensi dan stabilitas alat. 4. Pada keadaan tertentu jika diperlukan dapat pula diberi tambahan pir-pir pembantu untuk mengoreksi gigi-gigi yang malposisi.

129

Gambar : Plat dengan peninggi gigi anterior

Indikasi pemakaian : 1. Pada perawatan maloklusi yang disertai dengan overbite yang berlebihan (deep overbite atau excessive overbite). 2. Untuk perawatan sendi rahang/TMJ (Temporo Mandibular Joint) yang terasa sakit akibat gangguan dimensi vertikal karena adanya oklusi gigi yang salah. 3. Untuk merawat gigitan terbalik (cross bite) diregio anterior 4. Untuk menghilangkan kebiasaan jelek (bad habit) seperti kerot (night grinding /bruxism).

Kontra indikasi : 1. Jika overbite lebih kecil dari normal/gigitan dangkal (shalow bite). 2. Pada kasus gigitan tepi lawan tepi (edge to edge bite) 3. Pada kasus gigitan terbuka ( open bite)

Mekanisme kerja dari bite plane : 1. Memberi kesempatan pada rahang bawah untuk tumbuh dan berkembang ke arah anterior. Kedudukan madibula ini setelah maju akan difiksasi oleh oklusi gigi-gigi yang telah elongasi, jaringan disekitar mulut dan pertumbuhan kondilus. 2. Memberi kemungkinan perkembangan lengkung mandibula pada regio interkaninus. 3. Memberi kesempatan gigi-gigi di regio posterior untuk berelongasi, besar elongasi yang dapat dicapai dibatasi oleh besar-kecilnya free way space pasien 4. Gigi-gigi anterior bawah akan tertekan pada saat menguyah sehingga terjadi intrusi 5. Pada peninggi gigitan diregio posterior dapat membebaskan gigi-gigi anterior yang terkunci karena cross bite untuk dikoreksi dengan pir-pir pembantu.

130

B. Macam-macam bite plane : Menurut letaknya peninggi gigitan dibedakan atas : a. Bite plane posterior : Plat peninggi gigitan ini berupa plat dengan perluasan yang berbentuk penebalan di permukaan oklusal gigi-gigi posterior kanan dan kiri, berfungsi untuk mencegah kontak oklusal gigi-gigi anterior sehingga gigi-gigi yang cross bite/malposisi diregio anterior dapat dikoreksi dengan pir-pir pembantu/auxilliary springs. Peninggi gigitan posterior bukan untuk mengintrusi gigi-gigi posterior.

Gambar : Plat dengan peninggi gigitan posterior

b. Bite plane anterior : Plat dengan dataran gigitan diregio anterior berfungsi untuk mencegah kontak oklusal gigi posterior sehingga gigi-gigi tersebut dapat elongasi, dan dapat mengintrusi gigigigi anterior bawah.

Menurut fungsinya : A. Plat peninggi gigitan datar rahang atas (maxillary flat bite plane): Yaitu peinggi gigitan pada rahang atas dengan bidang gigitan merupakan bidang datar yang sejajar dengan bidang oklusal diregio anterior. Indikasi pemakaian : - Untuk merawat maloklusi Angle klas I yang disertai dengan deep over bite. - Untuk merawat maloklusi Angle klas II yang disertai dengan deep overbite - Dengan melengkapi dengan busur labial dapat dipakai untuk meretrusi gigi-gigi anterior rahang atas yang protrusif. Fungsi peninggi gigitan disini untuk menekan gigi-gigi depan rahang bawah dan gigi-gigi posterior dapat berelongasi sehingga dapat memperkecil overbite. Cara pembuatan : - Mencetak rahang atas dan rahang bawah, diisi dengan stone gips. - Membuat gigitan sentrik (centrik record) dengan malam

131

- Model kerja dioklusikan secara sentrik dengan gigitan malam (centrik record) diikat dengan karet kemudian difiksasi dengan gips pada artikulator atau okludator.

2. Model kerja diberi tanda dengan pensil untuk menentukan daerah perluasan plat, sehingga insisal gigi-gigi anterior bawah tepat beroklusi dipertengahan dan tidak tergelincir keluar dataran jika mandibula mundur pada saat mengunyah. - Membuat Klamer Adams untuk retensi alat pada gigi molar pertama kanan dan kiri. Dan busur labial pada gigi-gigi anterior rahang atas. - Bersama-sama dengan pembuatan model malam di regio anterior disebelah palatinal gigi-gigi anterior dibuat penebalan malam membentuk dataran gigitan sejajar bidang oklusal atau tegak lurus inklinasi gigi insisivus bawah. Peninggi gigitan ini tidak boleh menekan jaringan lunak (mukosa) di dalam mulut. - Setelah model malam baik, kemudian dioklusikan, gigi insisvus bawah berkontak dengan peninggi gigitan tepat dipertengahan antero-posterior dataran dan pada gigi posterior terdapat jarak interoklusal 2 4 mm (tidak boleh melebihi free way space pasien). - Model malam ditanam dalam cuvet, dicor dengan air panas, diisi adonan akrilik. - Setelah dipoles (polish), alat di cobakan (insersi) pada pasien : pasien disuruh menggigit sentrik, di periksa kembali jarak interoklusal gigi-gigi posterior tidak boleh kurang dari 2 mm atau lebih dari 4 mm.

Pedoman pemakaian : Pemeriksaan pada pasien : - Mengukur kedalaman gigitan pada kasus deep overbite: Normalnya 1/3 panjang makota klinis gigi insivus pertama atas atau 2 4 mm. - Mengukur Free way Space, jarak inter oklusal pada saat pasien pada posisi istirahat fisilogis (phisiologic rest position): Normalnya 2 4 mm. - Mengukur tinggi muka bagian bawah untuk menentukan ruang inter maksiler (vertical dimension) bila mandibula dalam keadaan instirahat. - Beberapa cara pengukuran : 1. Pengukuran secara sefalometri pada sefalogram menurut Wendel-Wellie untuk analisis displasia jurusan vertikal : N (Nasion) ANS (Spina nasalis anterior) = 45% N Gn. ANS Gn = 55% N Gn (Gnation). 2. Pengukuran secara klinis langsung pada pasien dengan analisis Thompson Brodie pada posisi istirahat :
132

N Sn (Subnasion) = 43% N Titik dagu Sn Titik dagu = 57% N Titik dagu. 3. Mungukur jarak titik dagu dari titik Sn pada saat pasien mengucapkan huruf M - Untuk mengetahui penyebab deep over bite dengan analisis Thompson Brodie: Setelah diketahui jarak Sn Titik dagu pasien pada posisi istirahat, pasien disuruh menggigit secara sentrik malam yang telah dilembekkan sampai mencapai jarak Sn Titik dagu tersebut. Kemudian diukur over bite pasien : 1. Jika malam tergigit habis over bite normal maka deep overbite disebabkan oleh supra oklusi gigi anterior bawah. 2. Jika malam malam masih tebal dan overbite normal maka deep overbite disebakan oleh infra oklusi gigi posterior. 3. Jika malam tergigit habis dan over bite tetap besar maka deep overbite disebabkan oleh kombinasi supra oklusi gigi anterior bawah dan infra oklusi gigi posterior. Instruksi pemakaian pada pasien : - Pada deep overbite yang disebabkan oleh supraoklusi gigi anterior bawah alat tetap dipakai pada waktu makan dan pada waktu tidak makan tetap digigit-gigit ringan agar terjadi intrusi gigi antertior bawah lebih cepat dari elongasi gigi posterior. - Pada deep overbite disebabkan oleh infra oklusi gigi posterior alat tetap dipakai pada waktu makan tapi jangan digigitkan terlalu keras. - Pada deep overbite yang disebabkan oleh infraoklusi gigi posterior alat dipakai pada waktu makan agar terjadi keseimbangan antara intrusi gigi anterior bawah dan elongasi gigi posterior. Pemeriksaan setelah pemakaian : - Tidak boleh menimbulkan rasa sakit pada persendian (TMJ). - Untuk mengetahui hasil pemakaian : 1. Alat masih dipakai ukur jarak inter oklusal gigi posterior apakah ada pengurangan space ?. 2. Alat di lepas diukur overbite pasien, apakah ada pengurangan over bite?. 3. Jika over bite masih lebih besar dari normal sedangkan gigi psterior sudah kontak, maka ketebalan peninggi gigitan ditambah dengan melapisi dengan akrilik self curing sampai kembali mencapai jarak inter oklusal gigi-gigi posterior 2 4 mm.

B. Plat peninggi gigitan dataran miring rahang atas (maxillary inclined bite plane) Yaitu plat dengan peninggi gigitan dengan dataran gigitan berbentuk bidang miring pada permukaan palatinal gigi-gigi anterior rahang atas, atau membuat sudut dengan bidang oklusal.
133

Besar kemiringan sudut tergantung tujuan, umumnya 45 agar memberi efek proklinasi gigi-gigi anterior rahang bawah dan mendorong madibula maju ke depan. Indikasi pemakaian : 1. Pada kasus maloklusi Angle klas II (distoklusi) untuk mengubah kedudukan mandibula agar lebih ke depan. 2. Pada kasus MaloklusiAngle klas I (neutroklusi) dengan linguoversi gigi-gigi anterior bawah agar gigi tersebut poklinasi. Cara pembuatan : - Sama seperti pembuatan maxiilary flat bite plane, hanya peninggi gigitan berbentuk bidang miring diregio anterior atas. - Untuk mungoreksi hubungan mandibula pada kasus maloklusi Angle klas II perlu mengambil gigitan kerja (working bite) dengan mengajukan mandibula ke depan. - Peninggi gigitan ini hanya berkontak dengan insisal gigi-gigi insisivus bawah dengan jarak inter oklusal gigi-gigi posterior sebesar 2 4 mm.

c. Peinggi gigitan miring rahang bawah (Mandibular inclined bite plane) Peninggi gigitan ini berupa plat pada rahang bawah dengan perluasan berupa penebalan plat membentuk dataran miring pada permukaan lingual gigi-gigi anterior rahang bawah. Indikasi pemakaian : - Kasus-kasus maloklusi Angle klas I (neutroklusi) yang disertai dengan cross bite atau palatoversi gigi anterior atas, pemakaian alat ini dimaksudan agar gigi-gigi anterior atas proklinasi dan cross bite terkoreksi. - Kasus-kasus maloklusi Angle klas III (mesioklusi) dengan cross bite anterior dimaksudkan untuk medorong mandibula ke belakang dan proklinasi gigi anterior rahang atas. - Kasus-kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 untuk proklinasi gigi anterior atas kemudian diikuti pemakaian maxillary inclined bate plane untuk mendorong mandibula maju ke depan.

Mekanisme kerja alat : - Dengan alat ini, gigi-gigi anterior rahang atas yang linguoversi akan bergerak ke labial, mandibula terdorong ke belakang, gigi-gigi posterior elongasi dan beroklusi pada relasi yang baru. - Alat ini juga dapat menimbulkan efek intrusi disamping proklinasi pada gigi depan atas sehingga dapat menyebabkan open bite pada gigi anterior, oleh karena itu pemakaian alat ini harus segera dihentikan apabila cross bite telah terkoreksi.

134

Cara pembuatan : - Prosedur pembuatan plat ini pada dasarnya sama dengan pembuatan maxillary inklined bite plane hanya dibuat pada rahang bawah. - Disini kita membuat bidang miring 45 terhadap sumbu panjang gigi, untuk menggerakkan gigi insisivus atas ke labial. - Pada gigi Premolar dan Molar dipasangi klamer dengan retensi tinggi (Arrow head atau Adams klamer). - Dataran miring hanya berkontak dengan insisal gigi-gigi yang cross bite saja dan jarak interoklusal gigi posterior kurang lebih hanya sebesar 1 mm saja.

d. Peninggi gigitan Sved (Sved Bite Plane) Alat ini terdiri dari plat yang dibuat dari plat akrilik membentuk dataran gigitan pada rahang atas dengan perluasan plat menutupi tepi insisal sampai permukaan labial gigi-gigi anterior atas setinggi : +2 mm dari tepi insisal.

Guna penutup akrilik: 1. Sebagai retensi plat bila gigi posterior tidak ada, seperti pada akhir perode mix dentition dimana gigi Molar permanen belum erupsi sempurna untuk dijadikan penjangkar. 2. Sebagai pegangan pada gigi-gigi anterior untuk mencegah spreading gigi anterior atas. 3. Untuk menggantikan fungsi busur labial sebagai alat retentif. Indikasi pemakaian : untuk mengoreksi deep overbite dengan memberi efek intrusi pada gigi anterior atas dan bawah. Keuntungannya : alat ini dapat dipakai pada periode akhir mixed dentition. Kerugiannya : Dapat terjadi perubahan warna pada insisal gigi insisivus yang tertutup terlalu lama. Cara pembuatan : Sama dengan cara pembuatan bite riser yang lain.

e. Peninggi gigitan berongga (Hollow Bite Plane): Konstrusi alat ini dilengkapi klamer pada gigi penjangkar busur labial dengan penebalan plat membentuk dataran gigitan yang berongga pada permukaan palatinal gigi-gigi anterior atas. Rongga ini berfunsi untuk menempatkan pir-pir agar tetap bebas dibawah plat ntuk mengoreksi gigi yang malposisi

135

Gambar : Macam-macam bentuk dataran gigitan : A. Maxillary plate bite plane B. Maxiilary inclined bite pane C. Mandibulary inclined bite plane D. Maxiilary Sved bite plane E. Maxiillary hollow bite plane Indikasi : 1. Deep overbite dengan sentral diastema dengan alat ini gigi insisivus sentral dapat dirapatkan sambil mengintrusi gigi anterior bawah. 2. Pada deep overbite dengan gigi anterior labioversi, dengan pemakian alat ini dapat dilakukan retrusi gigi-gigi anterior atas bersama-sama dengan intrusi gigi anterior bawah.

Cara pembuatan : a. Setelah diambil cetakan , model dipasang pada artikulator atau akludator. b. Pada bagian palatinal ke empat gigi insisivus atas yang labioversi, diberi jarak antara plat dengan permukaan palatinal gigi dengan menunutup/blocking dengan gips sebelum memodel malam. c. Pada kasus sentral diastema atau gigi insisivus rotasi blocking out dilakukan setelah pemasangan pir-pir pembantu yang dibutuhkan. d. Tepi rongga jangan terlalu ke posterior sehingga dapat menekan dan mengiritasi gingiva dan mukosa palatum.

136

SINTESIS Sayuti, 27 tahun mengalami maloklusi klas I angle disertai diastema sentral RA dan protusi, Klas I Kennedy RB dengan rencana perawatan pesawat orthodonsi lepasan plat aktif pada RA dan GTSL pada RB yang sebelumnya dilakukan perawatan pendahuluan.

137

DAFTAR PUSTAKA

1. Nallaswamy D. 2003. Textbook of Prosthodontics. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers.

2. Gunadi, Haryanto. A; Burhan, Lusiana A.; Suryatenggara, Freddy. 1995. Ilmu Geligi Tiruan
Sebagian Lepasan Jilid 1. Jakarta: Hipokrates. Pp : 112-116

3. Foster, T. D. 1997. Buku Ajar Ortodonsi, edisi ke 3. Jakarta: EGC. Hal 32-35.

4. Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta: EGC

138