Anda di halaman 1dari 12

LBM 4 KB DAN KEPENDUDUKAN SGD 3 Mengapa saya belum hamil STEP 1 -

STEP 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Apa hubungan merokok dan alcohol dengan keluhan pasien? Apa hubungan kebiasaan berendam air panas dg keluhan? Apakah ada pengaruh menggunakan pil Kb selama 1 tahun dengan keluhan? Apa pengaruh riwayat cervicitis gonorrhea dengan fertilitas? Hubungan BMI dengan keluhan? Apa hubungan dg Ig G + pada TORCH dan Ig M + pada toxoplasma? Definisi infertilitas? Apakah pasangan ini dikatakan infertile atau gak?syarat infertilitas? Faktor2 yg menyebabkan 4 tahun menikah tidak punya keturunan? Upaya pengobatan yg memungkinkan bias untuk hamil?

STEP 3 1. Apa hubungan merokok dan alcohol dengan keluhan pasien? Merokokasap2radikal bebasstress oksidatifkerusakan sel,jaringan organinfertilitas dr efek kerusakan spermatozoa(penurunan motilitas,viabilitas,morfologi) Partikel dan gaskerusakan DNA dan apoptosis dini dr sel sperma Nikotindarah kentalperedaran darah terganggupada alat kelamininfertilitas Alcohol kelainan pada produksi spermapenurunan kualitas semen Alcohol kadar testosterone turun dg mengganggu hipotalamus dan hipofisis anterior Penurunan ukuran testis,vol air mani,konsentrasi,motilitas dan struktur normal sperma Peminum ringan,sedang,beratberat ringannya efek yg ditimbulkan 2. Apa hubungan kebiasaan berendam air panas dg keluhan? Pengaruh suhu suhu dalam testis meningkatjumlah sperma turun,motilitas turun,meningkatkan jumlah sperma yg abnormal dlm semen Normal pada suhu 33,5 derajat celcius

Jika naik 1 derajat sajaspermatogenesis akan terganggu karena testis terganggu oleh suhu yg tinggi Membuat sperma butuh waktu lama untuk matang 3. Apakah ada pengaruh menggunakan pil Kb selama 1 tahun dengan keluhan? Pil Kb maksimal 5th Hormon steroid dipakai dlm waktu lamaketidakseimbangan hormone dlm tubuhkesuburan terganggu shg butuh waktu utk menyeimbangkan kembali Kombinasi dan progesteroneada gangguan pada proses nidasi pada endometriumkarena endometrium tidak dapat menebal dg penggunaan pil KB Tiap wanita proses penyeimbangan hormone dari yg make KB beda2 Berapa lama batas pemakaian pil KB dan kb hormonal?? 4. Apa pengaruh riwayat cervicitis gonorrhea dengan fertilitas? Radang pd serviks ada riwayat hub seksual dg penderita GOmengganggu getah servikskering padahal digunakan untuk transportasi spermaperjalanan sperma terganggu Sembuh masih Ada sikatriks pada serviks Apabila masih GOHamilmeningkatkan keguguran pd trimester 1 Apabila hidupkonjungtivitis pd bayi sampe kebutaan 5. Hubungan BMI dengan keluhan? Laki2 dg BMI 30 kg/m2obesitas 1(30-34,9) Istri dg BMI 29 kg/m2pre obesitas(25-29,9) Hubungan obesitas dg kesulitan mendapat keturunan? Wanita : Obesitasmengurangi frekuensi ovulasi dan frekuensi senggama Resisten terhadap insulintubuh mengkompensasi dg produksi insulinpeningkatan PCOSanovulatoir Ovariumpeningkatan hormone estrogenpenebalan endometrium tdk normalnidasi terganggu Laki2 : paha terlalu gemuk menjepit alat kelaminpanastestis terlalu panasspermatogenesis terganggu 6. Apa hubungan dg Ig G + pada TORCH dan Ig M + pada toxoplasma? Interpretasi : Ig G + : KRONIS Ig M + : AKUT Ig G dan Ig M + pada toxoplasma infeksi primer toxoplasma Terinfeksi > 2 th terakhir,diperiksa lagi stelah 2 mingguapabila masih Ig M+ berarti positif TORCH TORCH tidak mengganggu fertilitas,mengganggu perkembangan janin 7. Definisi infertilitas?

Kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu mendapat anak walaupun telah melakukan hub seksual 2-3x seminggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi setelah satu tahun menikah Infertilitas primerpasutri belum mampu mendapat anak walaupun senggama teratur selama >12 bulan tanpa perlindungan Sekunderpasutri sebelumnya pernah mengalami konsepsi kemudian tidak mampu lagi walaupun telah melakukan senggama teratur selama > 12 bulan tanpa kontrasepsi

8. Faktor2 yg menyebabkan 4 tahun menikah tidak punya keturunan? Factor pria: Abnormalitas sperma Varikokel Kegagalan testis:testosterone menurun,LH meningkat Factor wanita Factor vagina dan serviks Endometrium Tuba Ovarium Factor imunologis Jelaskannnn???? 9. Upaya pengobatan yg memungkinkan bias untuk hamil? Modifikasi gaya hiduptidak merokok dan alkohol,diobati Toxo nya,terapi hormone STEP 4
A. DEFINISI Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung. Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak.. Infertilitas berarti melaksanakan tugas dan upaya selama 1 tahun belum berhasil hamil dengan situasi rumah tangga normal. Definisi tradisional gasnggusn fertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung setelah sekurang-kurangnya satu tahun melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan . Walaupun pasangan suami istri dianggap infertile bukan tidak mungkin kondisi infertile sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut mengandung arti bahwa dua factor yang harus dipenuhi adalah: a. Suami memiliki system dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelamin pria (spermatozoa) kedalam organ reproduksi istri b. Istri memiliki system dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovarium).

Berdasarkan hal yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pasangan suami istri dianggap infertile apabila memenuhi syaratsyarat berikut: a. Pasangan tersebut berkeinginan untuk memiliki anak. b. Selama satu tahun atau lebih berhubungan seksual, istri sebelum mendapatkan kehamilan c. Frekuensi hubungan seksual minimal 2 3 kali dalam setiap minggunya. d. Istri maupun suami tidak pernak menggunakan alat ataupun metode kontrasepsi, baik kondom, obat-obatan dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan B. EPIDEMIOLOGI Infertilitas merupakan permasalahan global di bidang reproduksi kesehatan yang sangat kompleks. Perlu penataan rasional dan terpadu. Data menunjukkan bahwa pasangan infertil di Britain setiap tahun ada 25%, Swedia 10% . Prevalensi di dunia yang mengalami masalah fertilitas setiap tahun adalah 1 dari 7 pasangan. Pasangan infertil di Indonesia tahun 2009 adalah 50 juta pasangan atau 15-20% C. KLASIFIKASI Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu: 1) 2) Infertilitas primer yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan Infertilitas sekunder yaitu disebut infertilitas sekunder jika perempuan pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi selama 12 bulan berturut-turut. walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. D. ETIOLOGI Banyak faktor yang menjadi penyebab infertilitas sehingga pasangan suami istri tidak mempunyai anak, antara lain: 1. Faktor hubungan seksual Yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin terlalu sering atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu disfungsi ereksi, ejakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi retrograde (ejakulasi ke arah kandung kencing), dan gangguan fungsi seksual wanita yaitu dispareunia (sakit saat hubungan seksual) dan vaginismus. 2. Faktor infeksi Berupa infeksi pada sistem seksual dan reproduksi pria maupun wanita, misalnva infeksi pada buah pelir dan infeksi pada rahim. 3. Faktor hormon Berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun wanita sehingga pembentukan selspermatozoa dan sel telur terganggu. 4. Faktor fisik Berupa benturan atau temperatur atau tekanan pada buah pelir sehingga proses produksispermatozoa terganggu. 5. Fakror psikis Misalnya stress yang berat sehingga mengganggu pembentukan set spermatozoa dan sel telur.

ada teori lain Factor-faktor yang mempengaruhi infertilitas pasangan sangat tergantung pada keadaan local, populasi dan diinvestigasi dan prosedur rujukan. a. Faktor koitus pria Riwayat dari pasangan pria harus mencakup setiap kehamilan yang sebenarnya, setiap riwayat infeksi saluran genital, misalnya prostates, pembedahan atau cidera pada genital pria atau daerahinguinal, dan setiap paparan terhadap timbel, cadmium,radiasi atau obat kematerapeutik. Kelebihan konsumsi alcohol atau rokok atau paparan yang luar biasa terhadap panas lingkungan harus dicari. b. Faktor ovulasi Sebagian besar wanita dengan haid teratur (setiap 22 35hari) mengalami ovulasi, terutama kalau mereka mengalami miolimina prahaid (misalnya perubahan payudara, kembung, dan perubahan suasana hati). c. Faktor serviks Selama beberapa hari sebelum ovulasi, serviks menghasilkan lender encer yang banyak yang bereksudasi keluar dari serviks untuk berkontak dengan ejakulat semen. Untuk menilai kualitasnya, pasien harus diperiksa selama fase menjelang pra ovulasi (hari ke-12 sampai 14 dari siklus 28 hari). d. Faktor tuba-rahim Penyumbatan tuba dapat terjadi pada tiga lokasi: akhir fimbriae, pertengahan segmen, atau pada istmus kornu. Penyumbatan fimbriae sajauh ini adalah yang banyak ditemukan. Salpingitis yang sebelumnya dan penggunaan spiral adalah penyebab yang lazim, meskipun sekitar separohnya tidak berkaitan dengan riwayat semacam itu. Penyumbatan pertengahan segmen hamper selalu diakibatkan oleh sterilisasi tuba. Penyumbatan semacam itu, bila tak ada riwayat ini, menunjukan tuberculosis. Penyumbatan istmus kornu dapat bersifat bawaan atau akibat endometriosis, adenomiosis tuba atau infeksi sebelumnya. Pada 90% kasus, penyumbatan terletak pada istmus dekat tanduk (kornu) atau dapat melibatkan bagian dangkal dari lumen tuba didalam dinding organ. e. Faktor peritoneum Laparoskopi dapat menengali patologi yang tak disangka-sangka sebelumnya pada 30 sampai 50% wanita dengan infertilitas yang tak dapat diterangkan. Endometriosis adalah penemuan yang paling lazim. Perlekatan perianeksa dapat ditemukan, yang dapat menjauhkan fimbriae dari permukaan ovarium atau menjebak oosit yang dilepaskan. Sebanyak 60% 70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada tahun pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun ke-2 dari usia pernikahannya. Sebanyak 10% 20% sisanya akan memiliki anak pada tahun ke-3 atau lebih atau tidak pernah memiliki anak. Walaupun pasangan suami istri dianggap infertile bukan tidak mungkin kondisi infertile sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut mengandung arti bahwa dua factor yang harus dipenuhi adalah: a. Suami memiliki system dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelamin pria (spermatozoa) kedalam organ reproduksi istri b. Istri memiliki system dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovarium). Infertilitas tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. 1) a. Penyebab infertilitas pada perempuan (istri) Faktor penyakit Endometriosis

Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta tentu saja infertilitas. Infeksi Panggul Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral). Mioma Uteri Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium).

Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga saat menopause mioma uteri akan mengecil atau sembuh. Polip Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh. Kista Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom ovarium polikistik. Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak haid), hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita. Saluran Telur yang Tersumbat Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan rontgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur. - Sel Telur Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya untuk periksa ke dokter. b. Faktor fungsional Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan (immunologis)

Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi) Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu. Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur) Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia. Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu. Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai c. Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan 2) a. Penyebab pada laki-laki (suami) Kelainan pada alat kelamin

b. c.

Hipospadia yaitu muara saluran kencing letaknya abnormal, antara lain pada permukaan testis Ejakulasi retrograd yaitu ejakulasi dimana air mani masuk kedalam kandung kemih Varikokel yaitu suatu keadaan dimana pembuluh darah menuju bauh zakar terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak Testis tidak turun dapat terjadi karena testis atrofi sehingga tidak turun Kegagalan fungsional Kemampuan ereksi kurang Kelainan pembentukan spermatozoa Gangguan pada sperma Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)

spermatozoa berkurang yang berarti mengurangi kemampuannya untuk menimbulkan kehamilan

Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu serta mempengaruhi spermatogenesis dan keabnormalan semen Terapi yang bisa dilakukan untuk peningkatan testosterone adalah dengan terapi hormon. d. Gangguan di daerah testis (testicular) Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai pabrik sperma membutuhkan su hu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 3435 C, sedangkan suhu tubuh normal 36,537,5 C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 23 C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. e. Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular) Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit seperti tuberkulosis (Tb), serta vasektomi yang memang disengaja. f. Tidak adanya semen Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang. g. h. i. Kurangnya hormon testosterone Lingkungan Keadaan Sperma Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma. Pada lingkungan yang sering terkena paparan Radiasi dan obat-obatan anti kanker. Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter cairan seminal, Jumlah spermatozoa yang abnormal lebih dari 40% yang berupa defek kepala (caput) atau ekor (cauda) yang spesifik. Keadaan ini mungkin karena adanya aplasia sel germinal, pengelupasan, atau suatu defek kongenital, Cairan seminal yang diejakulasikan kurang dari 2 ml atau beberapa penyebab yang tidak dapat ditetapkan. Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : 1) Abnormalitas sperma; morfologi, motilitas 2) Abnormalitas ejakulasi; ejakulasi retrograde, hipospadia 3) Abnormalitas ereksi 4) Abnormalitas cairan semen; perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi 5) Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital 6) Lingkungan; Radiasi, obat-obatan anti kanker 7) Abrasi genetik 3) a. Penyebab pada suami dan istri Gangguan pada hubungan seksual

Kesalahan teknik sanggama dapat menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie. b. 1) 2) 3) 1) Factor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri) Masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil Masalah dalam pendidikan Emosi karena didahului orang lain hamil Perempuan

E. PATOFISIOLOGI Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium.

Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus. 2) Laki-laki Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu. Manifestasi Klinis 1) 2) Perempuan Terjadi kelainan system endokrin Hipominore dan amenore Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak berkembang,dan gonatnya abnormal Wanita infertil dapat memiliki uterus Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi, atau tumor Traktus reproduksi internal yang abnormal Laki-laki Riwayat terpajan benda benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi) Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu Hipertiroidisme dan hipotiroid Tumor hipofisis atau prolactinoma Disfungsi ereksi berat Ejakulasi retrograt Hypo/epispadia Mikropenis Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma) Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis ) Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis) Abnormalitas cairan semen

aberasi genetik

Riwayat infeksi genitorurinaria

F. PEMERIKSAAN Langkah pemeriksaan pasangan infertil dirancang dengan urutan seperti dibawah ini : a. Anamnesis Pada pengumpulan data dengan anamnesis akan diketahui tentang keharmonisan hubungan keluarga, lamanya perkawinan, hubungan seksual yang dilakukan,dll. b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik umum untuk pasangan infertil meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu tubuh, dan pernapasan. Juga dilakukan foto toraks pada kedua pihak c. Pemeriksaan Sperma Dilakukan pemeriksaan laboratorium sperma. Pengeluaran sperma dapat dilakukan di laboratorium yang menyedian tempat untuk pasien mengeluarkan sperma. Pengeluaran juga dapat dilakukan dirumah bila pasien bisa membawa specimen dari waktu dikeluwarkan sampai dilaboratorium kurang dari 30 menit. Pasien diminta untuk menahan ejakulasi kurang lebih 3 hari sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan normal analisis sperma menurut WHO adalah sebagai berikut:Volume 2-5 cc, Jumlah > 20 juta/ml; Motilitas > 50%; Morfologi > 40% normal; likuefaksi: 15-30

menit. Bila dijumpai hasil analisis sperma yang kurang atau kurang baik, maka biasanya diperlukan pemeriksaan ulang 1 minggu sesudahnya pada keadaan yang lebih sehat/ nyaman guna mengkonfirmasi hal tersebut. Perlu diingat bahwa apapun hasil analis sperma, sangat berguna untuk penentuan terapi, tindakan, dan pemilihan penatalaksanaan infertilitas. Pemeriksaan laboratorium khusus terhadap suami meliputi pemeriksaan dan analisis sperma. Untuk pemeriksaan ini diperlukan syarat yaitu tidak boleh berhubungan seks selama 3-5 hari, ditampung dalam gelas, modifikasi dengan bersenggama memakai kondom yang telah dicuci bersih, dan bahan yang ditampung harus mencapai laboratorium dalam waktu sampai 1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi dalam waktu 2 jam di laboratorium. Jumlah spermatozoa diharapkan minimal 20juta/ml. Pemeriksaan sperma untuk mengetahui jumlah, volume, viskositas, bau, fruktosa, kemampuan menggumpal dan mencair kembali. Analisis semen merupakan tes untuk mengukur jumlah semen dan sperma seorang pria. Semen merupakan cairan berwarna putih kental berisis sperma yang dilepaskan saat ejakulasi. Pengumpulan sperma dapat diambil melalui masturbasi untuk kemudian dimasukkan ke dalam container steril juga dapat dikumpulkan selama persenggamaan dengan menggunakan kondom khusus. Persiapan khusus yang harus dilakukan untuk pemeriksaan ini adalah tidak melakukan aktivitas seksual yang menyebabkan ejakulasi dalam 2-3 hari sebelum tes. Tes ini pentin untuk mengevaluasi fertilitas seorang pria. Dengan tes ini dapat ditentukan apakah permasalahannya karena gangguan reproduksi atau kualitas sperma yang menyebabkan infertilitas. Selain itu pemeriksaan kesuburan, tes ini juga bisa dilakukan setelah vasektomi untuk memastikan bahwa tidak ada sperma dalam semen. d. Parameter Warna Putih keruh Bau Bunga akasia PH 7,2 7,8 Volume 2 5 ml Viskositas 1,6 6,6 centipose Jumlah sperma 20 juta / ml Sperma motil > 50% Bentuk normal > 60% Kecepatan gerak sperma 0,18-1,2 detik persentase gerak sperma motil > 60% Aglutasi Tidak ada Sel-sel Sedikit,tidak ada Uji fruktosa 150-650 mg/dl Pemeriksaan Terhadap Ovulasi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk membuktikan ovulasi (pelepasan telur). Tindakan ini dilakukan dengan anggapan bahwa pada pemeriksaan dalam tidak dijumpai kelainan alat kelamin wanita. Untuk membuktikan terjadi ovulasi (pelepasan telur), dilakukan pemeriksaan suhu basal badan. Progesteron yang dikeluarkan oleh korpus luteum dapat meningkatkan suhu basal badan, yang diukur segera setelah bangun tidur. Dengan terjadinya ovulasi, suhu basal badan rendah atau meningkat menjadi bifasik. Waktu perubahan tersebut dianggap terjadi ovulasi, sehingga harus dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks dengan kemungkinan hamil yang besar. e. Anamnesis siklus menstruasi, 90 % siklus menstrusi teratur :siklus ovulatoar Peningkatan suhu badan basal, meningkat 0,6 1C setelah ovulasi : Bifasik Uji benang lendir serviks dan uji pakis, sesaat sebelum ovulasi : lendir serviks encer,daya membenang lebih panjang, pembentukan Pemeriksaan Terhadap Saluran Telur

gambaran daun pakis dan terjadi Estradiol meningkat Saluran telur (tuba fallopi) mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses kehamilan yaitu tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya konsepsi (pertemuan sel telur dan spermatozoa), tempat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi, tempat saluran hasil konsepsi menuju rahim untuk dapat bernidasi (menanamkan diri). Gangguan fungsi saluran telur menyebabkan infertilitas, gangguan perjalanan hasil konsepsi menimbulkan kehamilan di luar kandungan (ektopik) utuh atau terganggu (pecah). Gangguan saluran tuba dapat ditandai dengan keluarnya cairan tersebut kembali ke liang senggama. f. Pemeriksaan Khusus Histeroskopi Pemeriksaan khusus yang dilakukan untuk dapat menetapkan kelainan pada pasangan infertil meliputi hal berikut : Pemeriksaan histeroskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke dalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang mulut saluran telur dalam rahim (normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim), lapisan dalam rahim (situasi umum lapisan dalam rahim karena pengaruh hormon, polip atau mioma dalam rahim) dan keterangan lain yang diperlukan. Laparoskopi Pemeriksaan laparoskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke dalam ruang abdomen (perut), untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan indung telur yang meliputi ukuran dan situasi permukaannya, adanya Graaf folikel, korpus luteum atau korpus albikans,

abnormalitas bentuk, keadaan tuba fallopi (yang meliputi kelainan anatomi atau terdapat perlekatan); keadaan peritoneum rahim, dan sekitarnya (kemungkinan endometritis dan bekas infeksi). Pengambilan cairan pada peritoneum untuk pemeriksaan sitologi pewarnaan dan pembiakan. Ultrasonografi Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sangat penting pada pasangan infertil terutama ultrasonografi vaginal yang bertujuan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang anatomi alat kelamin bagian dalam, mengikuti tumbuh kembang folikel de Graaf yang matang, sebagai penuntun aspirasi (pengambilan) telur (ovum) pada folikel Graaf untuk pembiakan bayi tabung. Ultrasonografi vaginal dilakukan pada sekitar waktu ovulasi dan didahului dengan pemberian pengobatan dengan klimofen sitrat atau obat perangsang indung telur lainnya. Uji pasca-senggama Pemeriksaan uji pasca-senggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tembus spermatozoa dalam lendir serviks. Pasangan dianjurkan melakukan hubungan seks di rumah dan setelah 2 jam datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Lendir serviks diambil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan jumlah spermatozoa yang dijumpai dalam lendir tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke 12, 13, dan 14, dengan perhitungan menstruasi hari pertama dianggap ke-1. Namun hasilnya masih belum mendapat kesepakatan para ahli. Pemeriksaan hormonal Setelah semua pemeriksaan dilakukan, apabila belum dapat dipastikan penyebab infertilitas dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui hubungan aksis hipotalamus, hipofise, dan ovarium. Hormon yang diperiksa adalah gonadotropin (folicle stimulation hormon (FSH) & hormon luteinisasi (LH)) dan hormon (esterogen, progesteron, dan prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini dapat menetapkan kemungkinan infertilitas dari kegagalannya melepaskan telur (ovulasi). Semua pemeriksaan harus selesai dalam waktu 3 siklus menstruasi, sehingga rencana pengobatan dapat dilakukan. Oleh karena itu pasangan infertilitas diharapkan mengikuti rancangan pemeriksaan sehingga kepastian penyebabnya dapat ditegakkan sebagai titik awal pengobatan selanjutnya. FSH serum: 10-60 mIU/ml LH serum: 15-60 mIU/ml Estradiol: 200-600 pg/ml Progesterone: 5-20 mg/ml Prolactin: 2-20 mg/ml G. TERAPI 1) a. b. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 2) a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Perempuan Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital Pemberian terapi obat, seperti; Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh . Terapi penggantian hormon Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat GIFT ( gemete intrafallopian transfer ) Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate, Pengangkatan tumor atau fibroid Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi Laki-laki Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat Agen antimikroba Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan HCG secara i.m memperbaiki hipoganadisme FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti, perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung spermatisida

ketat Sekitar 50% pasangan infertil dapat berhasil hamil. Hal ini memberikan rasa optimistik baik bagi dokter maupun pasiennya. Tindakan-tindakan diagnostik seringkali pula merupakan rangsangan pengobatan, misalnya pemeriksaan vaginal dan sondase uterus dapat menaikkan laju kehamilan sebesar 10-15%. Uji patensi tuba bersama dengan dilatasi dan kuretase ternyata dapat menggandakan laju pembuahan.

Setiap kelainan yang ditemui selama pemeriksaan selalu perlu diobati. Beberapa jenis pengobatan berdasarkan sebab-sebab infertilitas dapat dilihat sebagai berikut:

Penyebab infertilitas Suami Hidrokel Varikokel Bendungan vasa atau epididimis Oligozoospermia

Jenis pengobatan

Aspirasi atau eksisi Ligasi Operasi pintas

FSH dan hCG, FIV dengan SSIS Hindari berendam air panas dan pemakaian celana ketat Tuberkulostatika Operasi, koagulasi listrik atau laser, progesteron, danazol, medroksiprogesteron asetat, dehidroretroprogesteron, antiprogestin, anastrosol Operasi konservatif

Gangguan spermatogenesis Istri Tuberkulosis Endometriosis

Miom uterus operabel Spasme tuba Obstruksi tuba Gangguan ovulasi

Hiosin amilnitrit, triemonium Operasi rekonstruksi, FIV Pemicuan ovulasi (klomifen sitrat, epimestrol, tamoksifen, siklofenil, metformin, pioglutazon, hMG/hCG, FSH-murni, GnRH);

pelubangan(drilling) ovarium Keduanya Idiopatik Inseminasi buatan, TAGIT, TAPIT, TAZIT, FIV, SSIS, Adopsi

H. TEKNIK MENGATASI INFERTILITAS 1) Inseminasi buatan Inseminasi buatan atau artificial insemination (sering disingkat sebagai AI) dilakukan dengan memasukkan cairan semen yang mengandung sperma dari priake dalam organ reproduksi wanita tanpa melalui hubungan seks atau bukan secara alami. Cairan semen yang mengandung sperma diambil dengan alat tertentu dari seorang suami kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Biasanya dokter akan menganjurkan inseminasi buatan sebagai langkah pertama sebelum menerapkan terapi atau perawatan jenis lainnya. 2) GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer) GIFT yang merupakan singkatan dari Gamete Intrafallopian Transfer merupakan teknik yang mulai diperkenalkan sejak tahun 1984. Tujuannya untuk menciptakan kehamilan. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium atau indung telur wanita lalu dipertemukan dengan sel sperma pria yang sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan ke dalam tuba falopi atau tabung falopi wanita melalui irisan kecil di bagian perut melalui operasilaparoskopik. Sehingga diharapkan langsung terjadi pembuahan dan kehamilan. 3) IVF (In Vitro Fertilization) IVF atau In Vitro Fertilization dikenal juga sebagai prosedur bayi tabung. Mula-mula sel telur wanita dan sel sperma dibuahi di media pembuahan di luar tubuh wanita. Lalu setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang sudah berupa embrio dimasukkan kedalam rahim melalui serviks 4) ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer) ZIFT atau Zygote Intrafallopian Transfer merupakan teknik pemindahan zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seltelur dari indung telur seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah sel telur dibuahi, dimasukkan kembali ke tuba falopi atau tabung falopi melalui pembedahan di bagian perut dengan operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik IVF dan GIFT. 5) ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) ICSI atau Intracytoplasmic Sperm Injection dilakukan dengan memasukkan sebuah sel sperma langsung ke sel telur. Dengan teknik ini, sel sperma yang kurang aktif maupun tidak matang dapat digunakan untuk membuahi sel telur. I. PENCEGAHAN INFERTILITAS a. b. c. d. Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infertilitas terutama infeksi prostate, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap Beberapa zat dapat meracuni sperma. Banyak penelitihan menunjukan pengaruh buruk rokok terhadap jumlah dan kualitas sperma Alcohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormone testosterone yang tentunya akan menganggu pertumbuhan Berperilaku sehat. infeksi didaerah tersebut harus ditangani serius

sperma.