LAPORAN IKM

KANTOR KESEHATAN PELABUHAN SURABAYA

KELOMPOK 1. KELOMPOK DM 32 B 2. KELOMPOK DM 32 H 3. KELOMPOK DM 33 D 4. KELOMPOK DM 33 E

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS HANG TUAH

SURABAYA 2010 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat RahmatNya, laporan kepaniteraan klinik di Kantor Kesehatan Pelabuhan Surabaya ini dapat diselesaikan dengan baik. Adapun kunjungan tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 08 Desember 2010 dan laporan ini dibuat sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Dokter Muda pada mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu proses pendidikan kami tersebut. Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

Surabaya, 20 Desember 2010

Kelompok DM FK UHT

Tujuan Khusus BAB III BAB IV METODE DAN PELAKSANAAN HASIL – HASIL A.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II PENDAHULUAN TUJUAN A. Saran i ii 1 3 3 3 4 5 5 6 7 21 21 21 . Tugas Pokok KKP dan Tugas Masing – Masing Seksi C. Tujuan Umum B. Struktur Organisasi dan Ketenagaan B. Kesimpulan B. Kegiatan Masing – Masing Seksi di KKP BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.

KKP didirikan berdasarkan adanya ikatan Internasional didalam Konferensi Jenewa 1951. tumbuhan atau manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu Departemen Kesehatan Republik Indonesia mendirikan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar diseluruh Indonesia. binatang.BAB I PENDAHULUAN Pelabuhan sebagai salah satu sarana yang merupakan pintu keluar masuknya segala sesuatu. 630 tahun 1985. Pelabuhan sangat penting artinya bagi penularan penyakit menular dan hal-hal lain yang membahayakan kesehatan masyarakat luas. KKP Juanda . Saat ini di Indonesia terdapat 46 KKP yang berdasarkan beban kerja dibedakan atas KKP kelas A dan KKP kelas B. yang terus berkembang sehingga saat ini menjadi International Health Regulation (IHR). supaya tidak menyebar dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dari masalah tersebut diatas sangat perlu dilakukan usaha untuk mencegah perpindahan / distribusi penyakit menular dan hal-hal lainnya yang membahayakan kesehatan. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. KKP adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibidang pemberantasan dan pencegahan penyakit dalam Lingkugan Depkes. termasuk barang. yang terdiri dari 10 KKP kelas A dan 39 KKP kelas B. KKP bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan pemberantasan penyakit Lingkungan dan Pemukiman (Dirjen P2P dan PLP). KKP Tanjung Perak Surabaya ini termasuk KKP kelas A dan membawahi 3 wilayah kerja yaitu : 1.

2. KKP Banta. Pamekasan (rencana) Oleh karena tindakan karantina sangat penting sekali dalam upaya pencegahan keluar masuknya penyakit menular dari daerah / negara ke daerah / negara lain maka untuk lebih mendalam lagi tentang masalah ini tugas kepaniteraan kali ini difokuskan pada Seksi Karantina. KKP Kalianget 4. KKP Gresik 3. KKP Tuban (rencana) 5. .

Memahami tugas pokok KKP dan tugas masing-masing seksi 3. Melihat karantina secara khusus . Mengetahui Struktur Organisasi dan Ketenagaan KKP 2. TUJUAN UMUM Mengetahui tugas serta fungsi dari kegiatan-kegiatan KKP B. Mempelajari salah satu masalah yang terdapat dalam kegiatan KKP dan membahas dalam diskusi 5. TUJUAN KHUSUS 1.BAB II TUJUAN A. Melihat dari dekat kegiatan KKP dan hal-hal yang terkait 4.

BAB III METODE DAN PELAKSANAAN Metode dan materi yang diperoleh selama mengunjungi KKP adalah :  Kuliah singkat tentang KKP dan perkembangan hingga saat ini serta pengenalan alat-alat sanitasi  Tanya jawab dengan kepala seksi dan para staf KKP mengenai masalah yang belum dimengerti  Survei lapangan. Keliling pelabuhan dengan kapal motor KKP Pelaksanaan : Dilaksanakan tanggal 06 Mei 2010 di KKP Tanjung Perak Surabaya .

Struktur Organisasi dalam KKP dibawah Menteri Kesehatan Republik Indonesia . STRUKTUR ORGANISASI DAN KETENAGAAN 1.BAB IV HASIL HASIL A.

Ditjen P2M & PLP : Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan : direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman 2. Kes. Struktur Organisasi KKP Tanjung Perak .Keterangan : Ditjen Pemb.

3. maka KKP mempunyai fungsi : • • • Memberi ijin kekarantinaan. TUGAS POKOK KKP DAN TUGAS MASING-MASING SEKSI 1. kosmetik. Tugas Pokok KKP a. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut. d.B. Tugas masing-masing Sub Bagian dan Seksi . kapal laut dan pesawat udara. Melaksanakan kegiatan dibidang karantina. minuman. Menyelenggarakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit karantina dan penyakit menular tertentu melalui kapal laut dan pesawat udara dari daerah / negara ke satu daerah / negara lain. b. c. obat-obatan. 2. alat-alat kesehatan dan narkotika. Pemeliharaan dan peningkatan sanitasi lingkungan di pelabuhan. sanitasi dan kesehatan pelabuhan. Melaksanakan pelayanan kesehatan terbatas di pelabuhan laut dan udara berdasarkan UU yang berlaku. Mengawasi keluar dan masuknya makanan. Memberikan pelayanan kesehatan terbatas wilayah kerja pelabuhan sesuai UU yang berlaku.

Membuat laporan harian. • • • • Melakukan pemberantasan nyamuk dan vektor serangga lainnya di pelabuhan. . Seksi Karantina • • Melakukan pemeriksaan kesehatan kapal dan pesawat udara. Seksi Pelayanan Kesehatan • • • Melakukan pemeriksaan kesehatan kapal laut dan udara dan ABK. Melakukan pemberantasan tikus dan pinjal pelabuhan.a. • Melakukan pemeriksaan kesehatan jamaah haji dan turis. Melakukan imunisasi dan pelayanan kesehatan terbatas di lingkungan wilayah kerjanya. Melakukan pemeriksaan ada tidaknya tikus di kapal laut dan atau mengawasi pelaksanaan hapus tikus di kapal. penyediaan air minum dan pembuangan kotoran di pelabuhan. Melakukan tindakan karantina terhadap kapal laut dan pesawat udara. d. Melakukan pengawasan higiene atau sanitasi di kapal laut dan pesawat udara. c. Melakukan pengamatan penyakit menular. b. Melaksanakan urusan keuangan. Sub bagian TU • • • • Melaksanakan administrasi pelabuhan. Melaksanakan urusan kepegawaian. bulanan dan tahunan. Seksi Sanitasi • Melakukan pengawasan sanitasi makanan.

 Cara pengolahan. 1.1. C.  Mutu bahan makanan. Pengawasan Sanitasi Penyediaan Air Minum Air minum yang tersedia di tiap pelabuhan harus baik mutunya dan jumlahnya cukup untuk keperluan di kapal ataupun untuk konsumsi pelabuhan sendiri. Sanitasi Pelabuhan Usaha-usaha yang dilakukan oleh seksi sanitasi merupakan peningkatan usaha kesehatan lingkungan di daerah kerja pelabuhan yang bertujuan untuk membuat wilayah pelabuhan tidak merupakan sumber penularan ataupun habitat yang subur bagi perkembangan kuman atau vektor penyakit. 1. penyimpanan. karena makanan memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit saluran pencernaan / keracunan makanan.  Alat-alat makan. pemasakan. rumah makan dan lain-lain. pengangkutan dan penyajian makanan. Pengawasan Sanitasi Makanan Penyediaan makanan sehat untuk keperluan di kapal laut maupun di lingkungan pelabuhan wajib mendapat perhatian dari KKP. Air .2. Adapun usaha-usaha untuk hal tersebut dilakukan pengawasan terhadap :  Sanitasi lingkungan sasaran yaitu : catering buruh. KEGIATAN MASING-MASING SEKSI DI KKP 1.• Melakukan pemeriksaan dan menerbitkan dokumen-dokumen kesehatan kapal laut dan pesawat udara. restoran. • Melakukan pemeriksaan ada tidaknya tikus di kapal dan atau mengawasi pelaksanaan hapus tikus di kapal.

sarana distribusi lain (hidrat.  Penyediaan air dan bahan makanan. pipa air dan kran) selama 4 kali. maka akan menimbulkan ketidaknyamanan.3. tongkang. Pengawasan Sanitasi Tempat Umum Pengawasan dilakukan terhadap kebersihan gedung dan halaman sekitarnya termasuk pembuangan sampah dan kotoran cair.tersebut harus memenuhi persyaratan dari Internasional Standart For Drinking Water. Oleh karena itu pengawasan ditujukan terhadap pemeriksaan fisik dan bakteriologis.  Restoran / Catering dan lain-lain. Pengawasan Sanitasi Kapal Pengawasan dilakukan terhadap :  Kebersihan kapal. Pemeriksaan dilakukan di :  Reservoir. Sasaran :  Terminal penumpang (Gapura Nusantara. 1.  Truk air. . Ferry dan bus). terutama syarat-syarat fisik.4. Maka Seksi Sanitasi mengadakan kegiatan :  Survey kepadatan nyamuk khususnya Aedes dan Anopheles. Pengawasan dan Pemberantasan Nyamuk dan Vektor Oleh karena nyamuk dan vektor memegang peranan penting dalam penjalaran penyakit-penyakit tertentu. 1. 1.  Serangga / tikus di kapal. setiap pemindahan air ke kapal.5. kimia dan bakteriologis.

Pada dasarnya membebaskan daerah dari intervensi tikus adalah dengan cara :  Memperbaiki sanitasi lingkungan dan rat proofing. yaitu dengan memasang perangkap. hangar dan gudang-gudang.  Pemeriksaan tikus di kapal. yaitu : − Kotoran tikus − Bekas tapak kaki tikus − Terlihatnya tikus − Bila ditemukan tanda-tanda tikus dilakukan fumigasi  Pemeriksaan tikus di pelabuhan : .  Pemberantasan lalat. bangunan-bangunan.  Dicari tanda-tanda tikus. Bila diperlukan. yaitu daerah didalam suatu lingkaran fiktif dimana terdapat bangunan-bangunan untuk kegiatan pelabuhan / penerbangan seperti gedung-gedung terminal dan transit. Pengawasan dan Pemberantasan Tikus dan Pinjal Pelabuhan dan sekitarnya harus berusaha bebas dari intervensi tikus dan mengadakan rat proofing bangunan-bangunan di pelabuhan.Dilakukan 4 kali sebulan di semua bangunan pada daerah perimetri.6. atau jika terdapat kasus. Dilakukan setiap 2 kali setahun. fumigasi dan penggunaan racun tikus. sesuai dengan pasal 16 IHR.  Pemberantasan nyamuk.  Membasmi tikus-tikus yang ada. 1.

− Ditentukan jenis spesiesnya. kelompok dan masyarakat di daerah pelabuhan guna mempercepat terjadinya perubahan perilaku yang sehat. 1. − Tikus dimasukkan dalam plastik kemudian dibuang dengan kloroform. Pengawasan Lingkungan dan Peralatan Kerja Dilakukan di tempat-tempat kerja minimal setiap sebulan sekali.  Pengawasan terhadap selokan / riol di daerah pelabuhan.7. 2.  Pengawasan terhadap wc / urinoir umum di pelabuhan.− Tikus ditangkap dengan perangkap yang menggunakan ikan asin sebagai umpan. − Jika pinjal telah melampaui batas (Indeks Pinjal 1) merupakan keadaan rawan pes. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah :  Pengawasan terhadap pembuangan sampah di daerah pelabuhan. 1. Pengawasan Terhadap Pencemaran Lingkungan (air/water/soil) polution di Lingkungan pelabuhan minimal sebulan sekali. Pengawasan Pembuangan Sampah. Penyuluhan Kesehatan Hal ini ditujukan kepada perorangan. Kotoran Cair dan Tinja Di setiap pelabuhan harus tersedia fasilitas yang baik untuk pembuangan sampah dan air kotoran cair yang terjadi akibat adanya kegiatan di pelabuhan. Untuk itu KKP melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk tetap terjaganya fasilitas tersebut dalam keadaan sehat dan baik.8. 1. 1. − Kemudian disisir untuk dikumpulkan pinjalnya.9. Oleh karena itu pelabuhan harus memiliki sarana / fasilitas : sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Pelayanan Kesehatan .10. kapal dan pesawat udara.

Imunisasi Saat ini vaksin KKP Surabaya melaksanakan 3 jenis imunisasi  Vaksin kolera  Vaksinisasi Meningitis  Vaksinisasi Cotypa Hasil yang diharapkan adalah :  Memenuhi permintaan dari agen  Dapat mengcover food handless  Dapat mengcover jamaah haji 2. P3K / Emergency Kegiatan yang dilaksanakan adalah Penanganan Kejadian Luar Biasa / wabah 2.3.1.2. Poliklinik ini memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan kepada :  Anak buah kapal dari masyarakat pelabuhan  Buruh pelabuhan  Masyarakat yang akan ke luar negeri  Food Handless Tanjung Perak dan wilayah kerja Juanda  Jamaah haji  Food handless catering haji  Ibu hamil / tes kehamilan . Poliklinik / Pelayanan Medis Poliklinik ini terletak di Jalan Perak Timur 516 Surabaya.Seksi Pelayanan KesehatanKKP melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 2.

Pengamatan kotak P3K kapal-kapal bendera Indonesia. 2.2.  Pengamanan bahan yang mengandung racun (rodamin)  Adapun ketentuan-ketentuan OMKA yang berasal dari luar negeri adalah :  Obat − Harus terdaftar − Tidak kadaluarsa − Tidak palsu − Ada ijin impor dari Dirjen POM .6.4. Surveilance Epidemiologi Kegiatan-kegiatan yang dilakukan :  Pengawasan penyakit menular / karantina  Pengawasan penyakit menular / karantina berdasarkan laporan dari Rumah Sakit / Balai Pengobatan wilayah pelabuhan  Pengamatan tempat yang dapat menimbulkan out break (rumah makan / catering) yaitu dengan mengadakan pengawasan kesehatan food handlers.  Pengawasan lingkungan untuk penderita penyakit menular / karantina yang bermukim di wilayah kerja pelabuhan. Obat. 2. makanan dan alat-alat kesehatan (OMKA) Kegiatan yang dilakukan :  Pemeriksaan obat / kosmetik dan makanan serta alat-alat kesehatan yang diekspor ke luar negeri.  Pemeriksaan obat / kosmetik dan makanan serta alat-alat kesehatan yang diimpor.5. Kegiatan yang dilakukan adalah memeriksa kotak P3K di kapal-kapal tersebut.

2 tahun 1962. Tujuan Karantina Untuk mencegah distribusi penyakit menular terutama penyakit karantina dari suatu daerah / negara ke daerah / negara lain. Pemeriksaan Karantina 1. 000474/B/II/8-1 : − Harus disertai surat sertifikat kesehatan yaitu surat keterangan yang menyatakan bahwa makanan aman atau layak dikonsumsi dan diijinkan beredar di negara yang bersangkutan. Dasar hukum  IHR (Internasional Health Regulation)  UU No. tentang Karantina Udara B. C. tentang Karantina Laut  UU No. Untuk itu masih diijinkan jika diimpor bahan baku kosmetika. 3. − Importir yang melanggar ketentuan dapat dikenai tindakan hukum berdasar peraturan yang berlaku.  Makanan Beberapa ketentuan mengenai impor makanan menurut SK Menkes No. Kosmetika Untuk penghematan devisa dan karena alasan-alasan lainnya maka pemerintah melarang impor alat-alat kosmetika. Pemerintah hanya memberikan ijin produksi kosmetika bermerk luar negeri di dalam negeri dengan lisensi pabrik asalnya. − Harus disertai surat bebas radiasi yaitu surat keterangan yang menyatakan makanan tidak mengandung cemaran radioaktif melebihi batas yang ditetapkan. Karantina A. 1 tahun 1962. Tata Cara Tindakan Karantina I .

putih ditengah dan kuning di pusat) Kapal saya butuh pertolongan dokter − Bendera M (warna biru dengan silang putih) Diatas kapal ada dokter Malam hari : − Lampu merah diatas lampu putih dengan jarak maksimum 1.8 meter − Saya belum mendapat ijin karantina . b.a. Pemeriksaan karantina pada saat kedatangan kapal − Sebelum tiba di pelabuhan. kapal memberi kabar pada agen kapal. Definisi tindakan karantina : Tindakan-tindakan terhadap kapal beserta isinya dan daerah pelabuhan untuk mencegah perjangkitan dan penjalaran penyakit karantina. yang nantinya akan melapor ke KKP untuk permintaan ijin karantina − Nahkoda segera memberitahu keadaan di kapal dengan memakai suatu isyarat − Petugas KKP beserta tim mengadakan pemeriksaan kapal Adapun yang dimaksud dengan isyarat kapal adalah : Siang hari : − Bendera Q (kuning) Kapal saya sehat minta ijin karantina − Bendera Q diatas bendera L (biru putih silang) Kapal saya terjangkit penyakit − Bendera W (warna biru diluar.

Permohonan langsung diajukan ke Depkes.Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas maka dapat diberikan surat ijin karantina menurut keadaan kapal masing-masing. Kapal yang berada dalam karantina dilarang menurunkan dan menaikkan barang.  Kapal yang didalamnya terdapat penumpang / muatan barang yang sudah) terjangkit penyakit karantina. Kapal dalam karantina . Adapun kapal-kapal yang dikenai tindakan karantina adalah :  Kapal dari luar negeri  Kapal yang datang dari daerah / pelabuhan di wilayah Indonesia yang ditetapkan terjangkit penyakit karantina. tanaman. hewan dan manusia sebelum mendapat surat ijin karantina. − Provisional Pratique (ijin karantina sementara) Yaitu surat yang dikeluarkan oleh Depkes untuk kapal dari luar negeri dan akan singgah di pelabuhan yang tanpa karantina. yaitu : − Free Pratique (ijin bebas karantina) Yaitu surat yang diberikan oleh doktert pelabuhan sesudah kapal diperiksa dan dinyatakan bebas dari penyakit menular − Restricted Pratique (ijin lepas terbatas) Yaitu surat yang diberikan untuk kapal yang masih dicurigai terjangkit suatu penyakit tapi masih diijinkan orang lain keluar masuk kapal. Bila diijinkan kapal diberi Surat Ijin yang diberikan lewat telegram dengan tindasan ke Dokabu / Syahbandar / Dokter pelabuhan setempat. Apabila terjadi pelanggaran akan dikenakan sangsi / hukuman karena surat ijin karantina mempunyai kekuatan hukum.

perahu Indonesia. dilakukan oleh pejabat KKP. Isolasi Karena KKP tidak memiliki sendiri fasilitas untuk isolasi maka diserahkan pada rumah sakit setempat. mesin jangkar. Isolasi dapat dilakukan di kapal bila : − Hampir atau semua orang yang ada di kapal harus diisolir − Di dalam kapal terdapat penderita pulmonar plaque F. Surveilance − Pengawasan Perorangan Terhadap semua tersangka dalam perjalanan Internasional yang mengunjungi Indonesia. − Pengawasan Kapal beserta isinya : − Terdapat kapal yang mendapat tindakan karantina dan yang memiliki ijin terbatas karantina E. Bila turun pengawasan diharapkan dilakukan oleh petugas KKP atau petugas kesehatan setempat. Pemeriksaan karantina pada pemberangkatan kapal . (diijinkan bersandar dengar) tetap memasang isyarat karantina. Cara : Bila tersangka tidak turun dari kapal. maka demi kelancaran kepariwisataan. Tempat berlabuh bagi kapal yang berada dalam keadaan karantina. hal-hal seperti kemacetan. tetapi tetap tinggi dalam kewaspadaan masing-masing dipersilahkan mengisi Itinerary yang nantinya dijadikan satu dengan internasional Certificate Vaccination (ICV) D. ditetapkan setempat oleh syahbandar bersama pejabat KKP  Kapal yang karena suatu hal tidak dapat berlabuh. pengawasan.

tanaman atau hewan dan lain-lain benda yang dapat diduga akan menyebabkan infeksi penyakit karantina di dalam kapal yang akan berangkat − Untuk mempercepat pemberangkatan kapal maka pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang dilakukan pada waktu yang sama dengan pemeriksaan Jawatan Bea dan Cukai. Dokter pelabuhan mengambil tindakan untuk : − Mencegah pemberangkatan orang yang terjangkit atau terserang penyakit karantina − Mencegah dimasukkannya barang. − Dokter pelabuhan memeriksa segala dokumen kesehatan dan mencegah pemberangkatan kapal yang tidak mepunyai dokumen kesehatan. sesuai dengan pasal 1 UU No. b. Tindakan khusus terhadap penyakit karantina . Tindakan khusus terhadap penyakit karantina a. 1 tahun 1962 tentang karantina laut adalah : − Pes (plaque) − Kholera (cholera) − Demam kuning (yellow fever) − Cacar (small pox) − Typus bercak wabah (typus exanthematicus) − Demam bolak-balik (louse borne relapsing fever) Pada tahun 1969. 2. Penyakit karantina Yang termasuk disalamnya.1. IHR mengambil keputusan penyakit karantina diubah menjadi 4 macam dengan menghapus penyakit thypus bercak wabah dan demam bolak-balik.

diisolasikan dan dirawat  Pada tersangka diawasi selama-lamanya 6 hari terhitung dari tibanya kapal di pelabuhan  Bagasi seseorang terjangkit atau tersangka serta barang-barang milik atau dipakai penderita dan bagian kapal yang dicurigai dihapusseranggakan dan jika perlu dihapushamakan  Seluruh kapal dihapus tikus jika perlu Pada kapal yang sehat yang datang dari pelatihan atau daerah terjangkit pes dilakukan :  Tersangka yang turun diawasi selama-lamanya 6 hari terhitung dari tanggal ia meninggalkan pelabuhan daerah terangkit  Jika perlu KKP dapat melakukan hapus tikus terhadap muatan dan atau kapal Muatan kapal yang datang dari pelabuhan atau daerah terjangkit pes hanya diturunkan :  Jika dokter pelabuhan berpendapat tidak terdapat tikus didalam muatan itu  Jika nahkoda memiliki surat keterangan dari KKP atau daerah terjangkit pes yang menerangkan bahwa tikus-tikus dan serangga dalam muatan telah dibasmi . Lama karantina Selama dua kali masa inkubasi terpanjang dari kasus terakhir d. bila perlu dokter dapat minta bantuan pada pihak yang terkait baik instansi pemerintah maupun swasta.Tindakan khusus terhadap penyakit karantina dilakukan oleh dokter pelabuhan. Tindakan-tindakan yang dilakukan pada masing-masing penyakit pada kapal terjangkit atau tersangka PES Tindakan terhadap kapal terjangkit atau tersangka :  Pemeriksaan awak kapal dan penumpang  Pada penderita diturunkan. c.

 Kapal masuk karantina sampai dinyatakan bebas nyamuk. air kemih. DEMAM KUNING (YELLOW FEVER) Tindakan yang dilakukan terhadap kapal yang terjangkit atau tersangka adalah :  Pemeriksaan yang teliti terhadap semua penumpang dan awak kapal.KOLERA Tindakan terhadap kapal terjangkit atau tersangka :  Pemeriksaan kesehatan awak kapal dan penumpang  Penderita diturunkan. air kotor dan segala sesuatu yang dianggap mengandung hama tidak boleh dibuang atau dikeluarkan sebelum dihapushamakan  Pembongkaran dilakukan dibawah pengawasan KKP yang melakukan sesuatu untuk mencegah kemungkinan penularan. diisolasikan dan dirawat baru dibebaskan sesudah pemeriksaan bakteriologis selama 3 hari berturut-turut terdapat hasil negatif  Penderita dengan tanda-tanda klinis kolera diperlakukan sebagai penderita kolera  Barang-barang seseorang yang terjangkit atau tersangka barang lain yang disangka mengandung hama dihapushamakan  Air dan tempatnya dalam kapal yang dianggap mengandung hama dihapushamakan. sayur.  Tinja.  Penderita demam kuning diturunkan. Demikian pula makanan dan minuman terbuka. . diisolasi dan dilindungi dari gigitan nyamuk. buah dan lain-lain yang dimakan mentah dan tidak disimpan dalam keadaan rapat. muntah. diisolasi sampai surat keterangan berlaku dan dilindungi dari gigitan nyamuk selamalamanya 6 hari. ikan kering.  Penumpang dan awak kapal lainnya yang memiliki surat vaksinasi yang tidak berlaku.

yang berisi macam vaksinasi yang telah diberikan. maka tidak perlu dibahas. Kepala Dinas Kesehatan Kota / Dokabu atau Kepala RSUD setempat. Pemeriksaan Dokumen Kesehatan Pada waktu tiba di pelabuhan maupun akan berlayar. Ketentuan-ketentuannya adalah sebagai berikut :  Semua kapal yang berlayar diperairan wilayah Indonesia harus memiliki surat ini yang masih berlaku. Di KKP Tanjung Perak Surabaya ini hanya dilakukan vaksinasi kolera dan meningitis khusus bagi jamaah haji. Bila diperlukan vaksinasi demam kuning dilakukan di KKP Jakarta. . nahkoda kapal menyiapkan dokumen kesehatan yang akan diperiksa oleh pejabat KKP. Dokumen ini diisi dan ditandatangani oleh nahkoda. Dokumen tersebut adalah : Maritim Declaration of Health (MDH) Dokumen hanya dipakai untuk kapal-kapal antar negara / perjalanan Internasional. Sedangkan untuk kapal yang hanya berasal dari pelabuhan-pelabuhan Indonesia menggunakan keterangan kesehatan maritim.  Kapal yang melakukan pelayaran antar pelabuhan Indonesia dan yang melakukan pelayaran Internasional wajib memilikinya. Derrating Exemption Certificate (DEC/DC) Surat hapus tikus atau surat bebas tikus. International Certificate Vaccination (ICV) Dokumen ini dikeluarkan oleh KKP.CACAR Oleh karena seluruh dunia telah dinyatakan bebas cacar oleh WHO.

apabila kapal bebas tikus maka kapal mendapat surat bebas tikus (DEC). Ijin ini tidak boleh dianggap sebagai surat tikus.  Kapal yang berdiam di pelabuhan tersebut tidak perlu memiliki surat tikus.  Surat ini ditandatangani oleh pejabat KKP.  Perpanjangan surat tikus ini hanya diperbolehkan satu kali masa perpanjangan dan maksimal selama satu bulan. Petugas KKP hanya mengawasi pelaksanaan fumigasi. .  Surat keterangan ini berlaku 6 bulan terhitung dari tanggal dikeluarkannya. Sailing Permit (Surat Ijin Berlayar Tanpa Surat Tikus)  Kebijaksanaan ini hanya ada di Indonesia tidak boleh untuk berlayar keluar negeri. Surat keterangan ini dikeluarkan oleh pejabat KKP di pelabuhan setempat. − Jumlah dan letak barang tersebut memungkinkan dilakukan pemeriksaan dengan teliti. Pembiayaan fumigasi dibebankan pada kapal yang bersangkutan dan fumigasi dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Dirjen P2M dan PLP. Tata cara mendapat surat keterangan ini adalah :  Nahkoda kapal menyampaikan permohonan tertulis pada KKP di pelabuhan yang berwenang. Bila dicurigai ada tanda-tanda tikus di kapal maka kapal difumigasi.  Bila ada barang maka pemeriksaan tikus dapat dilakukan dengan syarat : − Barang-barang tersebut tidak menarik tikus.  Petugas yang telah ditunjuk melakukan pemeriksaan tikus. Setelah itu diberikan surat hapus tikus (DC). Syarat-syarat pemeriksaan tikus di kapal :  Kapal harus dalam keadaan kosong.

 Surveillance dari awak kapal dan penumpang. masih ada sedikit hambatan-hambatan yang dihadapi oleh pejabat KKP.  Keterangan pemberian DEC / DC. Surat ini diperoleh dengan mengajukan surat tertulis disertai alasan yang kuat dan mencantumkan rute perjalanannya. Dari kunjungan di KKP Tanjung Perak Surabaya didapat kegiatan oleh masing-masing seksi sudah berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hambatan-hambatan tersebut adalah bila ada penumpang kurang mampu dalam suatu kapal yang pada saat itu membutuhkan pengobatan / perawatan terhadap suatu penyakit yang membutuhkan biaya yang besar. Tentunya hal ini diketahui setelah diadakan diskusi oleh mahasiswa dengan petugas tersebut. terutama pejabat karantina dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. Garungan. Kangean dan Masalembu. seperti :  Keadaan higiene sanitasi kapal. yaitu mengadakan : − Pemeriksaan karantina − Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan pada pekerja  Pelaksanaan penertiban undang-undang Dengan melaksanakan proses verbal terhadap pelanggaran UU. sedangkan pihak kapal tidak menyediakan biaya tersebut maka KKP menanggung semua biaya tersebut. Karantina sebagai penyidik pegawai negeri sipil karantina. padahal dana di KKP sudah . Health Book Buku ini hanya ada di Indonesia yang berisi hal-hal sebagai pemberitahuan pada pelabuhan berikutnya. Meskipun demikian.  Keterangan pemberian Sailing Permit. Selain kegiatan-kegiatan diatas seksi karantina juga melakukan :  Pemeriksaan di lepas pantai di Bawean.

sehingga masih perlu dilakukan penyuluhanpenyuluhan kesehatan untuk menambah pengetahuan dan tentunya untuk mengubah perilaku mereka menjadi perilaku yang sehat. KESIMPULAN Sebagai unit pelaksana teknis dibidang pemberantasan pencegahan penyakit menular dalam lingkungan Depkes.terdistribusi pada POS masing-masing. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. . KKP berkewajiban untuk mencegah keluar masuknya penyakit menular terutama penyakit karantina. tidak menular dan dapat sembuh sendiri. Oleh karena itu diusahakan agar pihak KKP dapat mengusulkan pada pihak yang berwenang mengurusi masalah tersebut agar menjadi syarat bagi setiap kapal berlayar untuk memberikan asuransi kesehatan pada penumpang. Masalah tersebut tentunya tidak akan timbul bila masing-masing kapal telah dilengkapi dengan asuransi kesehatan. Sehingga penyediaan dana untuk biaya tersebut selalu disediakan meskipun jumlah dana tidak begitu besar. Tindakan karantina sulit dilakukan pada penduduk Indonesia yang terkena kolera karena menganggap penyakit kolera merupakan penyakit yang tidak berbahaya. Usaha-usaha tersebut tercermin dari kegiatan yang dilakukan oleh setiap seksi yang mempunyai personal dengan jumlah yang cukup dan teratur dalam kedudukan masing-masing. Hal ini disebabkan penduduk Indonesia yang menjadi penumpang tersebut kebanyakan golongan menengah ke bawah sehingga banyak yang berpendidikan rendah dan kurang informasi.

SARAN  Lebih memasyarakatkan tentang bahaya penyakit karantina kepada masyarakat sehingga masyarakat lebih mengerti tentang hal tersebut  Meningkatkan kerjasama lintas sektoral antar departemen yang terkait sehingga hasil yang dicapai lebih optimal .B.