Anda di halaman 1dari 12

1. ENTOMOLOGI Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda.

Siklus Hidup : Penting dipelajari dalam rangka intervensi pencegahan Mengalami metamorfosis : Metamorfosis sempurna : telur larva pupa dewasa. Metamorfosis tdk sempurna : telur (larva) nimfa dewasa. ENTOMOLOGI PERAN ARTHROPODA Vektor dan hospes sementara (menularkan penyakit) Vektor penyakit protozoa : Malaria, Tripanosomiasis, Leismaniasis. Vektor penyakit cacing : Filariasis (Filariasis limfatik & Non limfatik). Vektor penyakit virus, riketsia & bakteri. Vektor mekanik : Musca domestika, Periplaneta. Parasit : Menyebabkan penyakit : skabies, dermodiosis, pedikulosis, ftiriasis, miasis. Menghasilkan toksin : Menimbulkan kelaianan pd tubuh manusia. Kontak : kupu-kupu, tungau debu. Sengatan : lebah, kalajengking. Gigitan : kelabang, laba-laba, tarantula, sengkenit. CARA PENULARAN Penularan secara mekanik Penularan secara biologik Penularan transovarian Arthropoda sebagai Vektor Penularan secara biologik : Propagatif : parasit hanya membelah diri ( Versinia pestis dalam pinjal Xenopsylla cheopis). Sikliko propagatif : parasit berubah bentuk dan membelah diri ( Plasmodium dalam nyamuk Anopheles). Sikliko developmental : parasit hanya berubah bentuk ( Wuchereria bancrofti dalam nyamuk Culex quinquefasiatus). Penularan Mekanik (lalat & kecoa) Penularan secara transovarian (lalat) 7. Arthropoda sebagai Parasit Endoparasit : arthropoda hidup dalam jaringan tubuh host (larva lalat miasis) Ekstoparasit : arthropoda hidup pada permukaan tubuh host (serangga-serangga penyebab kelainan pada permukaan tubuh host) Parasit permanen : tungau kudis, tuma. Parasit periodik : nyamuk, sengkenit lunak (dari host satu ke host lain). 8. Arthropoda pengandung Toksin Kontak langsung : Ulat Gigitan : Kelabang Sengatan : Kalajengking Tusukan : Triatoma 9. MORFOLOGI NYAMUK VEKTOR MALARIA Anophelini Stadium telur diletakkan satu persatu terpisah diatas permukaan air berbentuk seperti perahu, bagian bawah konveks dan bagian atas konkaf dengan sepasang pelampung 10. Stadium Larva mengapung sejajar permukaan air bagian badan yang khas : spirakel, tergal plate, bulu palma Stadium Pupa tabung pernapasan yang lebar dan pendek Stadium Dewasa Palpus sama panjang dengan probosis Palpus jantan : ujung berbentuk gada Sisik sayap membentuk gambaran hitam putih ; ujung sisik tumpul Posterior abdomen melancip

11. VEKTOR FILARIASIS Anophelini Non Anophelini Culcini : Aedes, Culex, Mansonia, Coquilettidia, Armigeres Stadium Telur (Non Anophelini) Diletakkan satu persatu di tepi pemukaan air (Aedes) - Diletakkan berkelompok membentuk rakit: Diatas permukaan air (Culex) Dibalik permukaan daun tanaman air (Mansonia) Bentuk lonjong dengan ujung lancip dengan dinding seperti anyaman kain kasa (Aedes) Bentuk seperti peluru senapan Bentuk seperti duri/sasaran bowling (mansonia) 12. Stadium Larva (Non Anophelini) - Menggantung pada permukaan air - Bagian badan yang khas : Sifon dengan bulu-bulu sifon dan pekten Sisir dengan dengan gigi-gigi sisir Segmen anal dengan pelana Stadium Pupa (Culicini) : - Tabung pernapasan yang sempit dan panjang 13. Stadium dewasa ( Culicini) - Betina : Palpus lebih pendek daripada probosis - Jantan : Palpus lebih panjang daripada probosis - Sisik sayap lebar asimetris (Mansonia) - Sisik sayap sempit dan panjang (Aedes, Culex) - Pada Aedes, sisik sayap membentuk kelompok sisik yang sewarna sehingga tampak bintik-bintik putih-kuning/putih-coklat/putih-hitam - Ujung abdomen Aedes lancip - Ujung abdomen Mansonia tumpul dan terpancung 14. VEKTOR PENYAKIT PROTOZOA VEKTOR MALARIA Nyamuk Anopheles : dari 2000 spesies Anopheles, terdapat 60 spesies yang merupakan vektor malaria DAUR HIDUP Mengalami metamorfosis sempurna selama 2-5 mg bergantung pada spesies, makanan yang tersedia, suhu udara 15. TEMPAT PERINDUKAN Bergantung pada spesies, terdiri atas tiga kawasan : Pantai : An.sundaicus, An.subpictus Pedalaman : An. aconitus, An. Barbirostris Kaki gunung & gunung : An. Balabacencis, An maculatus 16. PERILAKU Aktivitas dipengaruhi oleh kelembaban udara dan suhu Umumnya aktif mengisap darah pada malam hari atau sejak senja sampai dini hari ( = night-biters) Jarak terbang 0,5 3 km, dipengaruhi oleh transportasibdan kecepatan angin Kesukaan bervariasi : zoofilik, antropofilik, dst Tempat istirahat bervariasi : eksofilik, endofilik Aktivitas menggigit bervariasi : eksofilik, endofagik 17. EPIDEMIOLOGI Penentuan vektor malaria didasarkan atas penemuan sporozoid malaria di kelenjar liur nyamuk yang hidup di alam bebas ( dengan membedah nyamuk betina) Faktor yang perlu diketahui dalam menentukan vektor di suatu daerah endemi malaria : Kebiasaan nyamuk mengisap darah manusia Lama hidup nyamuk betina dewasa yang lebih dari 10 hari Nyamuk Anopheles dengan kepadatan yang tinggi & dominan Hasil infeksi percobaan di Lab yang menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan Plasmodium menjadi stadium sporozoid 18. Prevalens kasus malaria tidak sama di antara daerah endemi malaria, bergantung pada perilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor, misalnya : Di daerah Cilacap (vektor malaria: An.sundacus ) kasus malaria di temukan lebih banyak pada musim kemarau, karena pembentukan tempat perindukan di muara sungai untuk nyamuk tsb meningkat Di daerah jawa barat (vektor malaria: An. Aconitus ) kasus malaria lebih banyak pada musim hujan, karena di sawah banyak terbentuk perindukan untuk nyamuk tsb. 19. Pemberantasan Malaria : Pengobatan Penderita Pencegahan kontak antara nyamuk & manusia Penyuluhan sanitasi 20. 2. VEKTOR PENYAKIT CACING (FILARIASIS) 2.1. VEKTOR FILARIASIS LIMFATIK (NYAMUK) Nyamuk Anophelini ( Tribus Anopheles ) dan Non Anophelini (TribusCulicini, terdiri atas genus Culex, Aedes,Mansonia,Coquilettidia; dan Tribus Taxorhytini, terdiri atas genus Taxorhynchites) Di Indonesia ditemukan 3 jenis parasit nematoda penyebab filariasis limfatik pada manusia, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori

21. Parasit-parasit tersebut disebarkan di seluruh kepulauan Indonesia oleh berbagai spesies nyamuk Aedes, Anopheles, Culex, Mansonia, Coquilettida dan Armigeres Vektor utama filariasis bancrofti di perkotaan adalah Culex quinquefasciatus , sedangkan di pedesaan adalah berbagai spesies Anopheles, Aedes kochi, Cx. Bitaeniorrhynchuss, Cx. Annulirostris dan Armigeres obsturbans Vektor utama filariasis malayi adalah berbagai spesies Anopheles, Mansonia dan Coquilettidia Vektor utama filariasis timori adalah Anopheles barbirotris 22. DAUR HIDUP Metamorfosis sempurna selama 12 minggu Tempat perindukan : Nyamuk Anophelini : kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan gunung Nyamuk Non anophelini : Tempat ber air jernih ataupun keruh (polluted): Permukaan air dapat ditumbuhi bermacam-macam tanaman air 23. PERILAKU Nyamuk Non Anophelini mempunyai kebiasaan mengisap darah hospes yang berbeda-beda, yaitu : Culex : malam hari saja Mansonia : Siang dan malam hari Aedes : Siang hari saja Jarak terbang bervariasi : Culicini : biasanya pendek (rata-rata beberapa puluh meter) Aedes vexans +/- 30 km Umur Nyamuk dewasa (di alam/di Lab):+/- 2 mg 24. EPIDEMIOLOGI Faktor-faktor yang menentukan penyebarluasan filariasis dan timbulnya daerah-daeah endemi filariasis, yaitu : Derajat infeksi alami hasil pembedahan nyamuk alam/liar yang tinggi Sifat antropofilik dan zoofilik yang meningkatkan jumlah sumber infeksi Umur nyamuk yang panjang sehingga mampu mengembangkan pertumbuhan larva mencapai stadium infektif untuk disebarkan/ditularkan Dominasi terhadap spesies nyamuk lainnya yang ditunjukkan dengan kepadatan yang tinggi di daerah endemi Mudahnya menggunakan tempat-tempat penampung air sebagai tempat perindukan yang sesuai 25. EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Pemberantasan : Pengobatan semua penderita filariasis Upaya pengendalian vektor dengan cara yang mudah dan biaya rendah Perlindungan/pencegahan terhadap gigitan vektor Meningkatkan pengetahuan penduduk mengenai filariasis dan penularannya partisipasi dalam pemberantasan 26. 2.2. VEKTOR FILARIASIS NON LIMFATIK ( LALAT ) Lalat dari genus simulium ( Black fly ) dan Chrysops ( Horse Flyl Deer fly ) Yang mengisap darah biasanya hanya lalat betina, aktif pada pagi dan sore hari Simulium damnosum adalah vektor Onchocerca volvulus di Afrika : Simulium metalicum, S.ochraceum dan S. callidium adalah vektor Onchocerca volvulus di Amerika Chrysops silacea dan C. dimidiata adalah vektor Loa-loa di Afrika 27. HOSPES PERANTARA Adalah jasad tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang dapat ditularkan kepada hospesnya (misalnya manusia) Cyclops dan Diaptomus Adalah hospes perantara cacing Diphyllobathrium latum Potamon dan Combarus Adalah hospes perantara cacing paragonimus westermani 28. 3. VEKTOR PENYAKIT VIRUS, RIKETSIA, DAN BAKTERI 3.1. VEKTOR PENYAKIT VIRUS Penyakit Demam Berdarah Dengue (DHF= Dengue Hemorrhagic Fever) Merupakan penyakit virus yang sangat berbahaya Sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Vektor utama adalah nyamuk kebun ( Aedes aegypti ), vektor potensial adalah Aedes albapictus

29. DAUR HIDUP Metamorfosis sempurna selama 9 hari Tempat perindukan : tempattempat berisi air bersih yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (tidak lebih dari 500 m), meliputi tempat perindukan buatan manusia dan tempat perindukan alamiah 30. PERILAKU Nyamuk dewasa betina mengisap darah manusia pada siang hari (dari pagi hingga petang) dengan waktu puncak setelah matahari terbit(8.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00-17.00) Pengisapan darah dilakukan didalam dan diluar rumah Tempat istirahat : Semak-semak/tanaman rendah dan rerumputan di halaman rumah atau kebun Benda-benda yang tergantung didalam rumah Umur Nyamuk betina dewasa dialam: 10 hari ,di Lab: 2 bln Jarak terbang +/- 40 m ; mampu terbang 2 km 31. EPIDEMIOLOGI Ae aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia Ae aegypti ditemukan di kota-kota pelabuhan padat penduduk, juga di temukan di pedesaan sekitar kota pelabuhan Penyebarab Ae. Aegypti dari pelabuhan ke desa dikarenakan larva yang terbawa melalui transportasi yang mengangkut benda-benda berisi air hujan 32. EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Pengendalian Perlindungan perorangan dari gigitan nyamuk (kawat kasa, kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida, penggunaan repellent saat berkebun) Pembuangan atau mengubur benda-benda yang dapat menampung air hujan Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air seminggu sekali Abatisasi Fogging dengan malathion minimal dua kali dengan jarak 10 hari di daerah yang terkena wabah Pendidikan Kesehatan Masyarakat Memonitor kepadatan populasi Ae aegypti penting dalam upaya mengevaluasi adanya ancaman DHF dan untuk meningkatkan tindakan pengendalian vektor Pengukuran kepadatan populasi nyamuk yang belum dewasa : memeriksa tempat-tempat perindukan di dalam dan di luar rumah (sebanyak 100 rumah di daerah pemeriksaan) 33. EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Angka indeks yang perlu diketahui : Angka rumah ( house index ): persentase rumah yang positif larva Ae. Aegypti Angka tempat perindukan ( container Index ): persentase tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti Angka Breteau ( Breteau Index ): jumlah tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti dalam tiap 100 rumah 34. 3.1.2 PENYAKIT JAPANESE B. ENCEPHALITIS Di temukan di Asia Tenggara (Filipina, Kamboja, Muangthai, Malaysia, Singapura) Di Indonesia penyakit tersebut belum banyak di pelajari, tetapi kemungkinan besar penyakit tsb juga ada di Indonesia karena : Banyak kasus meninggal dengan gejala klinis yang sama dengan Jap. B. encephalitis Kepadatan nyamuk vektor cukup tinggi dan telah dapat di isolasi virus Jap.B.encephalitis dari tubuh nyamuk yang di tangkap di sekitar Jakarta 35. Gejala Klinis : demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, malaise, mental disorientation. Kematian terjadi 2-4 hari setelah terinfeksi virus Vektor : Culex tritaeniorhynchus & Cx. Gelidus Tempat peristirahatan : dekat kandang ternak (kerbau, sapi, babi) Mengisap darah manusia dan darah binatang (kerbau, sapi,babi,burung, bebek) pada malam hari di dalam atau luar rumah 36. 3.1.3. PENYAKIT CHIKUNGUYA Belum banyak dipelajari di indonesia, namun kemungkinan besar ditemukan penyakit tsb di Indonesia, karena virus Chikunguya telah dapat diisolasi dari nyamuk liar Ae. Aegypti di Jakarta Gejala klinis mirip Jap. B. encephalitis Vektor : Ae aegypti

37. 3.1.4. PENYAKIT DEMAM KUNING Vektor : Ae aegypti Belum pernah dilaporkan di Indonesia walaupun vektornya tersebar di seluruh Indonesia Di Amerika Selatan dan Afrika Selatan penyakit tsb dilaporkan ada sejak puluhan tahun Gejala Klinis : pusing, sakit punggung, demam, muntah. Kematian terjadi 5-8 hari setelah terinfeksi 38. 3.2. VEKTOR PENYAKIT RIKETSIA Penyakit Demam Semak Demam semak = Scrub typhus, tsutsugamushi disease, Delikoorts Di temukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irja Penyebab penyakit : Rikettsia tsutsugamushi Gejala klinis : kepala pusing, apati, malaise, limfodenitis, adanya escar. Angka kematian berkisar 1 - 60% Vektor : Leptotrombidium akamusi, L. deliensis, L. fletsheri 39. DAUR HIDUP Metamorfosis tak sempurna (telur-larva-nimfa-dewasa) selama 1 2 bulan Stadium larva mengisap darah manusia dan binatang mamalia Penularan transovarian : sejak larva Leptotrombidium mendapatkan infeksi Rickettsia sampai menjadi larva generasi berikutnya masih tetap infektif 40. EPIDEMIOLOGI R. tsutsugamushi biasanya hidup sebagai parasit tikus ladang Pencegahan Penularan : Menghindari kontak dengan tungau saat bekerja di ladang/hutan di daerah endemi, yaitu membedaki kaos kaki dan sepatu yang dipakai dengan serbuk DDT 10% Menelan kloramfenikol 500 mg sehari selama 10 hari selama bertugas di ladang/hutan 41. 3.3. VEKTOR PENYAKIT BAKTERI Vektor Penyakit Sampar Pernah di temukan secara endemi di Jawa Tengah Tahun 1968 terjadi epidemi di Boyolali dengan banyak kematian Di sebabkan oleh bakteri Yersinia pestis Vektor : Pinjal Xenopsylla cheopis, Stivalius cognatus, Neopsylla sondaica Manusia terinfeksi melalui gigitan pinjal atau tinja pinjal yang mengandung Y. pestis Gejala Klinis : peradangan dan pembesaran kelenjar limfe terbentuk benjolan/bubo (disebut pes bubo/bubonic plague) Y. pestis masuk ke dalam peredaran darah (disebut pes septikimia/septichemic plague) masuk kedalam paru (disebut pes paru/pulmonic plague). Penderita dapat meninggal dalam 2-3 hari setelah terinfeksi Cara penularan : Propagatif 42. DAUR HIDUP Pinjal hidup sebagai parasit tikus ladang dan bersarang di antara bulu tikus Mengalami metamorfosis sempurna selama 18 hari 43. EPIDEMIOLOGI Penyakit pes sebenarnya adalah penyakit tikus (zoonosis) Pemberantasan: Menangkap tikus dengan perangkap dan membunuhnya Memberantas tikus dengan insektisida DDT dan BHC (bensin heksaklorida) Upaya pemberantasan tsb berbahaya, yaitu bila pinjal kehilangan hospesnya (tikus), pinjal mencari hospes baru. Jalan keluar: Tikus yang tertangkap dibersihkan pinjalnya kemudian dilepas dan ditangkap kembali pada penangkapan berikutnya Mempertahan populasi tikus di daerah endemi pada jumlah minimal ttt dan di pantau dengan indeks pinjal 44. 4. VEKTOR MEKANIK MUSCA Musca domestika (lalat rumah) berperan sebagai vektor mekanik amebiasis, disentri basilaris dan penyakit cacing usus di Indonesia Mudah berkembang biak Tempat perindukan : timbunan sampah sekitar rumah, tinja manusia dan binatang Jarak terbang : 10 km Umur lalat dewasa: 2-4 minggu Mengurangi populasi lalat: Membersihkan rumah dan pekarangan dari sampah Memasang kawat kasa Menutup makanan Mengadakan samijaga

45. PENGENDALIAN VEKTOR Pengendalian vektor terdiri atas : Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia, yaitu : Pengendalian lingkungan ( enviromental control ) terdiri atas : Modifikasi lingkungan ( environmental modification ) Manipulasi lingkungan ( environmental manipulation ) 46. PENGENDALIAN VEKTOR (Lanjutan) Pengendalian Kimiawi : menggunakan bahan kimia pembunuh serangga (insektisida) ataupun penghalau serangga (repellent) Pengendalian Mekanik Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap atau menghalau, menyisir, mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh Pengendalian Fisik Meliputi pemanasan, pembekuan, hembusan angin,penyinaran Tujuan: mengganggukehidupan serangga Pengendalian Biologik Menggunakan pemangsa dan parasit sebagai musuh alami serangga Pengendalian Genetika Bertujuan mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan, melalui pengubahan kemampuan reproduksi dengan cara memandulkan serangga jantan Pengendalian Legislatif Tujuan mencagah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia 47. ANTROPODA PENYEBAB ALERGI DAN REAKSI TOKSIK KONTAK Kupu-kupu Larva kupu-kupu (ulat bulu) mengandung toksin, bila kontak dengan manusia kelainan erusisme (urtikaria, nyeri,gatal) Kontak dengan bulu pada abdomen kupukupu dewasa Lepidopterisme (dermatitis mirip giant urticaria ) Epidemiologi : Terdapatnya kasus di suatu daerah dipengaruhi oleh spesies kupu-kupu, keadaan daerah dan kebiasaan masyarakat sebagai petani/pekerja kebun 48. 1.2. Tungau Debu ( Dematophagoides pteronyssimus ) Ditemukan pada debu rumah di tempat tidur,karpet,lantai dan luar rumah seperti sarang burung dan permukaan kulit binatang Penyebab asma alergi karena seluruh tubuh tungau mengandung alergen Epidemiologi : Populasi tungau debu dalam rumah tergantung pada : Ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut Iklim Binatang yang ada dalam rumah Sanitasi Suhu dan kelembaban udara 49. 2. SENGATAN Lebah Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin Akibat sengatan : ringan (nyeri,gatal) dan berat (mual,demam,sesak napas,kolaps) 2.2. Kalajengking Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin Akibat sengatan:nyeri, dapat menimbulkan keracunan sistemik kematian karna syok dan paralisis pernapasan 50. 3. GIGITAN 3.1. Kelabang Menimbulkan nyeri dan eritema karena toksin yang keluar 3.2. Laba-laba Menyebabkan kelainan yang disebut araknidisme (arachnidisme) ; menurut sifat toksinnya terdiri atas araknidisme nekrotik dan araknidisme sistemik 3.3. Sengkenit Mengandung toksin yang dapat menyebabkan paralisis Epidemiologi : Di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, banyak terdapat peternakan sapi dapat ditemukan kasus paralisis karena sengkenit 51. ANTROPODA PENYEBAB PENYAKIT SKABIES Adalah penyakit kudis, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis Gejala klinis; gatal-gatal terutama pada malam hari (pruritus nokturna) didahului dengan timbulnya bintik-bintik merah (rash) Tungau hidup dalam terowongan kulit (berwarna putih abu) di jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar,

pada bayi menyerang telapak tangan dan kaki Epidemiologi : Penyakit ini dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan, bahkan bisa terjadi di seluruh kampung 52. 2. DEMODIASIS Infestasi oleh tungau folikel rambut (Demodex follicularum) Hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama disekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen, kadang-kadang ditemukan dikulit kepala Menyebabkan kelainan:blefaritis,akne rosasea,impetigo kontangiosa disertai gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder Epidemiologi: bersifat kosmopolit dan tidak berbahaya 53. 3. PEDIKULOSIS Adalah gangguan yang disebabkan infestasi tuma, misalnya gangguan pada rambut kepala disebabkan oleh tuma kepala (pediculus humanus var.capitis) Menimbulkan papula merah dan rasa gatal karena air liur tuma Epidemiologi : Infestasi mudah terjadi dengan kontak langsung Pencegahan : Menjaga kebersihan kulit kepala Pemberantasan : Menggunakan tangan,sisir serit, insektisida golongan klorin (benzen heksa klorida) 54. 4. FTIARIASIS Ftiariasis (pedikulosis pubis) adalah gangguan pada daerah pubis disebabkan oleh infestasi tuma phtirus pubis Gangguan utama adalah rasa gatal didaerah pubis Epidemiologi : Penularan dapat terjadi bila ada kontak langsung, terutama pada waktu hubungan seksual 55. 5. MIASIS Adalah infestasi larva lalat ke dalam jaringan atau alat tubuh manusia Merupakan penyakit yang biasanya dianggap sebagai kontaminasi larva lalat ke dalam luka Secara klinis miasis dibagi menjadi : Miasis Kulit/subkutis : larva diletakkan pada kulit utuh atau luka dan membuat terowongan berkelok-kelok sehingga terbentuk ulkus yang luas Miasis Nasofaring : Terjadi pada anak dan bayi, khususnya yang mengeluarkan sekret dari hidungnya dan yang tidur tanpa kelambu larva yang diletakkan mampu menembus kulit lunak bayi dan membuat ulkus 56. 5. MIASIS (Lanjutan) Miasis Intestinal ; terjadi secara kebetulan karena menelan makanan yang terkontaminasi telur atau larva lalat, Lalat menetas di lambung dan menyebabkan mual, muntah, diare, spasme abdomen, dapat pula menimbulkan luka pada dinding usus Miasis Urogenital ; Larva lalat ditemukan pada vagina dan urine. Menyebabkan piuria, uretritis, sistitis Miasis Mata (oftalmomiasis) : Belum banyak di temukan di Indonesia Pencegahan : menghindari kontak dengan lalat; memusnahkan tempat perindukan lalat; menutup makanan dengan baik 57. MORFOLOGI UMUM ANTROPODA Antopoda mempunyai 4 tanda morfologi yang jelas : Badan beruas-ruas Umbaiumbai; beruas-ruas; tumbuh menurut fungsinya, - Pada kepala antena dan mandibula - Pada Toraks kaki dan sayap - Pada abdomen kaki pengayuh Eksoskelet : sebagai penguat tubuh, pelindung alat dalam, tempat melekat otot, pengatur penguapan air, penerus rangsang yang berasal dari luar badan Bentuk badan simetris bilateral 58. NYAMUK Morfologi Berukuran kecil (4-13 mm) dan rapuh Kepala memiliki probosis halus dan panjang: pada betina berfungsi sebagai alat penghisap darah, pada jantan sebagai alat penghisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan keringat Di kiri kanan probosis terdapat palpus (5ruas) dan antena (15 ruas) Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada betina berambut jarang (pilose) Sebagian besar toraks yang tampak (mesonatum) dilputi bulu halus, berwarna putih/kuning dan membentuk

gambaran yang khas untuk masing-masing spesies Memiliki 3 pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks 59. Daur Hidup Mengalami metamorfosis sempurna: telur larva pupa dewasa; stadium telu-larva-pupa hidup dalam air, stadium dewasa hidup beterbangan Nyamuk dewasa mengisap darah manusia dan binatang untuk pembentukan telur Telur diletakkan diatas permukaan air (Anopheles,Aedes,Culex) atau dibalik permukaan daun tumbuh-tmbuhan air (Mansonia) Tempat perindukan (breeding place); tempat nyamuk meletakkan telur-telurnya untuk kemudian telur-telur tsb menetas menjadi larva pupa dewasa Tempat perindukan untuk masing-masing spesies berlainan 60. Perilaku Umur nyamuk tidak sama; betina hidup lebih lama daripada jantan. Biasanya umur nyamuk sekitar 2 minggu, namun ada yang dapat hidup hingga 2-3 bulan ( Anopheles punctipennis ) Hospes yang disukai nyamuk berbeda-beda : - Nyamuk hanya mengisap darah manusia = antropofilik - Nyamuk hanya mengisap darah binatang = zoofilik - Nyamuk lebih suka mengisap darah binatang daripada manusia= Antropopozoofilik Nyamuk istirahat setelah mengisap darah : - Nyamuk lebih suka beristirahat di dalam rumah = endofilik Nyamuklebih suka beristirahat diluar rumah = eksofilik 61. Perilaku (Lanjutan) Aktivitas menggigit berbeda-beda : Nyamuk menghisap darah pada malam hari : Night- biters Nyamuk menghisap darah pada siang hari : Day-biters Nyamuk menghisap darah didalam rumah : Endofagik Nyamuk menghisap darah diluar rumah : Eksofagik Jarak terbang nyamuk berbeda-beda menurut spesies: Jarak terbang nyamuk betina lebih jauh daripada jantan Aedes aegypti jarak terbangnya pendek : Anopheles dapat terbang sampai 1,6 km, Aedes vexans dapat mencapai 30 km 62. 1.2. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AFRIKA Tripanosomiasis Afrika : Penyakit tidur afrika atau African sleeping sickness Vektor : lalat tse tse (Glossina) Terdapat 2 spesies yang berperan sbg vektor biologik tripanosomiasis ; Glossina morsitans (menularkan Tripanosoma rhodesiense si Afrika bag timur) & Glossina palpalis (menularkan trypanosoma gambiense di Afrika bagian barat) Mengalami metamorfosis sempurna Jantan dan betina menghisap darah terutama pada pagi hari Habitat : Glossina morsitans ; daerah terbuka dengan tanah yang keras Glossina palpalis : daerah berpasir atau tanah disekitar sungai/danau yang banyak ditumbuhi pohon 63. 1.3. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AMERIKA Tripanosomiasis Amerika (penyakit Chagas) disebabkan oleh Tripanosoma cruzi Vektor : Triatoma rubrofasciata & Rhodnius prolixus (vektor biologik Mengalami metamorfosis tidak sempurna (telur-nimfa-dewasa) Stadium telur, nimfa, dewasa berada pada satu habitat yaitu celah-celah dinding rumah yang retak 64. 1.4. VEKTOR LEISMANIASIS Leismaniasis disebabkan oleh Leishmania donovani, Leishmania tropika & Leismania brasiliense Vektor : Phlebotamus longipalpis (lalat pasir= sand fly ) Mengalami metamorfosis sempurna Jantan dan betina mengisap darah 65. PENGENDALIAN VEKTOR TUJUAN

Mengurangi/menekan populasi vektor serendah-rendahnya Menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan manusia TERDIRI ATAS : Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia yaitu : Pengendalian lingkungan ( environmental control ) Pengendalian kimiawi Pengendalian Fisik Pengendalian Biologik Pengendalian Genetik Pengendalian Legislatif 67. PENGENDALIAN SECARA ALAMI Rintangan penyebaran serangga : gunung, lautan, danau, sungai yang luas Daerah ketinggian : ketidakmampuan mempertahankan hidup didaerah ketinggian tertentu Pengaruh cuaca dan iklim : Perubahan musim gangguan pada serangga Iklim panas, udara kering, tanah tandus atau iklim dingin tidak memungkinkan perkembangbiakanserangga Angin besar dan curah hujan yang tinggi mengurangi jumlah populasi serangga Pemangsa serangga : burung, katak, cicak Penyakit serangga 68. PENGENDALIAN LINGKUNGAN Mengelola lingkungan sehingga terbentuk lingkungan yang tidak cocok yang dapat mencegah/membatasi perkembangan vektor Modification Lingkungan Tidak merusak keseimbangan alam, tidak mencemari lingkungan, harus dilakukan terus menerus Pengaturan sistem irigasi Penaganan sampah Pengaliran air tergenang hingga kering B. Manipulasi Lingkungan Pembersihan/pemeliharaan sarana fisik yang telah ada Agar tidak terbentuk perindukan atau peristirahatan Serangga Membersihkan tanaman air Melestarikan tanaman bakau Melancarkan aliran air got PENGENDALIAN KIMIAWI Menggunakan bahan kimia untuk membunuh (insektisida) atau mengusir serangga (repellent). Keuntungan : Dapat dilakukan segera, meliputi daerah luas, hasil diperoleh dalam waktu singkat Kerugian: Hasil bersifat sementara Potensi mencemari lingkungan Potensi menimbulkan resistensi serangga Dapat membunuh pemangsa serangga Penolakan oleh penduduk Menuangkan solar/minyak tanah pada permukaan tempat perindukan Penggunaan larvisida untuk larva nyamuk; herbisida untuk tanaman air tempat berlindungnya larva nyamuk, insektisida untuk nyamuk dewasa 71. PENGENDALIAN MEKANIK Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap, menghalau atau mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh Baju pelindung, kawat kasa, sisir serit, ovitrap 72. PENGENDALIAN FISIK Pemanasan (suhu 60C dapat membnuh serangga) Pembekuan (membunuh serangga) Pengadaan hembusan angin keras (mengganggu aktivitas serangga) Penyinaran (membunu atau mengganggu kehidupan serangga; sinar lampu kuning dapat menghalau nyamuk) 73. PENGENDALIAN BIOLOGIK

Mengembangbiakkan dan memanfaatkan pemangsa dan parasit sebagai musuh secara alami serangga Pengendali larva nyamuk :Nematoda: Ramanomermis iyengari & Ramanomermis culiciforax menembus tubuh larva dan hidup sebagai parasit sehingga larva mati Bakteri : Bacillus thuringiensis untuk Anopheles Bacillus sphaerincus untuk Cx. quinquefasciatus Protozoa : Pleistophora culicis dan Nosema algerae Jamur : Langenidium giganticum dan Coelomyces stegomydae untuk larva nyamuk Tolypocladium cylindrosporum utk larva nyamuk & larva lalat Virus : Cytoplasmic polyhidrosis untuk larva kupu-kupu 74. PENGENDALIAN BIOLOGIK (Lanjutan) Pengendali nyamuk dewasa : Antropoda Arrenurus madarazzi ( Parasit nyamuk dewasa Predator/pemangsa larva nyamuk: Ikan : Panchax panchax (ikan kepala timah) Lebistus reticularis (Guppy/water ceto) Gambusia affinitis (ikan gabus) Larva nyamuk yang lebih besar : Toxorrhynchites amboinensis, Culex fuscanus Larva capung Crustaceae (udang-udangan) : mesocyclops

75. PENGENDALIAN GENETIKA Tujuan: Mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan Cara : Memandulkan serangga jantan dengan bahan kimia atau radiasi Mengawinkan antara strain nyamuk sehingga sitoplasma telur tidak dapat ditembus sperma Mengawinkan serangga antar spesies terdekat sehingga di dapatkan keturunan jantan yang steril Kekurangan : Pengendalian genetika baru dalam skala laboratorium, belum berhasil baik di lapangan 76. PENGENDALIAN LEGISLATIF Tujuan : Mencegah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah ke daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia Cara : Menegakkan peraturan dengan sanksi pelanggaran oleh pemerintah Contoh : Karantina di pelabuhan laut dan udara untuk mencegah masuknya hama tanaman dan vektor penyakit Penyemprotan insektisida di kapal yang berlabuh atau pesawat yang mendarat 77. INSEKTISIDA Bahan yang mengandung persenyawaan kimia untuk membunuh serangga Syarat inektisida yang baik : Daya bunuh besar dan cepat, namun tidak membahayakan Hewan vertebrata dan manusia Murah dan mudah di dapat Susunan kimia stabil dan tidak mudah terbakar Mdah digunakan dan dapat dicampurkan dengan berbagai pelarut Tidak berwarna dan tidak berbau menyengat 78. Efektivitas insektisida bergantung pada :

Bentuk insektisida Cara masuk kedalam badan serangga Jenis kandungan bahan kimia Konsentrasi dan dosis insektisida Faktor yang harus diperhatikan untuk mengendalikan serangga dengan insektisida : Species serangga Ukuran dan susunan badan serangga Stadium serangga Sistem pernapasan dan bentuk mulut Habitat serangga Perilaku serangga termasuk kebiasaan makannya 79. VEKTOR & HOSPES PERANTARA VEKTOR : Suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan. Vektor harus selalu ada dalam rantai penularan penyakit-penyakit tertentu. HOSPES PERANTARA : Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia (hospes). HOSPES : Species yang dihinggapi parasit, yang mungkin menderita berbagai kelainan fungsi organ sehingga menjadi sakit.