Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan listrik merupakan suatu bahan yang digunakan dalam peralatan listrik. Isolasi memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem tenaga listrik. Isolasi sangat diperlukan untuk memisahkan dua atau lebih penghantar listrik yang bertegangan sehingga antara penghantar-penghantar tersebut tidak terjadi lompatan listrik atau percikan. Bahan isolasi akan mengalami pelepasan muatan yang merupakan bentuk kegagalan listrik apabila tegangan yang diterapkan melampaui kekuatan isolasinya.Kegagalan yang terjadi pada saat peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kontinuitas sistem terganggu.

Bahan listrik sudah digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai macamaplikasi peralatan listrik dan tentunya peralatan tersebut didukung oleh keamanan peralatan serta keamanan konsumen atau pengguna. Untuk itu harus pengguna harus mengetahui bahan isolasi yang ada dan diperhatikan dalam ketepatan pemilihan bahan oleh para pengguna. Pada kemajuan teknologi tegangan tinggi, isolasi listrik memegang peranan yang sangat penting dalam teknik tegangan tinggi, Isolasi listrik sangat diperlukan untuk menunjang keandalan di dalam penyaluran tegangan listrik. Porselin tergolong bahan mineral yang dapat berfungsi sebagai isolator, tetapi penggunaannya tidak pada bentuk atau keadaan alaminya melainkan harus diproses terlebih dahulu dengan pemanasan (pembakaran),
1

pengerasan, dan pelumeran. Untuk itu diperlukan suatu informasi bagi pengguna agar dapat menentukan bahan-bahan isolasi yang digunakan pada peralatan listrik khususnya mengenai dan porselin. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu Bagaimana karakteristik, proses pembuatan, dan pemanfaatan porselin sebagai bahan isolasi? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah mengetahui karakteristik, proses pembuatan, dan pemanfaatan porselin sebagai bahan isolasi. 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat dari pembuatan laporan ini adalah:. 1. Sebagai referensi dalam pengembangan lebih lanjut mengenai kaca porselin sebagai isolasi. 2. Sebagai acuan ataupun menjadi pertimbangan bagi industri kelistrikan di dalam merencanakan pemakaian porselin sebagai bahan isolasi. 3. Menambah pengetahuan mengenai porselin sebagai bahan isolasi baik bagi mahasiswa atau mahasiswi maupun bagi masyarakat umum.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Porselen berasal dari tanah liat yang mengandung aluminium silikat, kemudian aluminium silikat ini direaksikan dengan plastik kaolin, felspar, kwarsa dan campuran ini dipanaskan pada tempat pembakaran dengan suhu yang diatur. Komposisi bahan bakunya adalah: 50% tanah liat, 25% felspar, 25% kwarsa. Isolator yang dihasilkan harus keras, permukaannya halus/licin dan bebas dari sifat perembesan. Kehalusan bahan pada permukaan akan membebaskan isolator dari jejak air. Sifat menyerap pada bahan isolator akan menurunkan kekuatan dielektrik, dan adanya kotoran ataupun gelembung udara di dalam bahan isolator juga akan mengakibatkan penurunan kekuatan dielektrik.

Jika bahan isolasi diproduksi pada suhu yang rendah maka sifat mekaniknya akan menjadi lebih baik, tetapi bahan tersebut bersifat menyerap air dan ketika bahan tersebut digunakan, kondisinya mungkin akan memburuk. Sebaliknya jika bahan isolasi diproduksi pada suhu yang lebih tinggi, sifat menyerapnya akan berkurang, tetapi bahan isolasi tersebut menjadi rapuh. Jadi di dalam membuat isolator perlu dirancang sedemikian rupa antara kekuatan dielektrik, sifat rembesan terhadap air dan suhu tempat pengeringannya. Secara mekanis isolator porselen memiliki kekuatan dielektrik 60.000 V/cm, tekanan dan kuat regangannya adalah 70.000 kg/cm2 dan 500 kg/cm2.

2.2 Komposisi porselen Komposisi porselen terdiri dari kaolin, feldspar, silica, fluks dan logam pewarna yang ditunjukkan pada table 1 yaitu komposisi porselen berdasarkan jenisnya. Masing-masing bahan ini mempunyai komposisi dan kegunaan yang berbeda-beda saling mendukung untuk memberi bentuk terhadap porselen.

Tabel 1. Komposisi porselen berdasarkan jenisnya ( Tarigan R. Tambalan inlay. Edisi revisi, 1989:12) Porselen Kaolin Feldspar Silika Sodium karbonat % High fusing porselen Medium fusing porselen Low fusing porselen 60 12 8 11 1 6 61 19 1 5 2 4 % 81 % 15 % % Boraks Kalsium karbonat % Natrium karbonat % -

1. Kaolin Merupakan bahan pengikat untuk mempertahankan kepadatan dan kekuatan porselen agar dapat dibentuk sebelum dibakar. Makin banyak kaolin maka makin
4

gelap porselen karena kaolin bersifat memberi warna gelap pada porselen, sehingga akan mempengaruhi estetik dari porselen. 2. Feldspar Bahan ini merupakan sejenis mineral yang mengandung unsur-unsur kalium, natrium,aluminium, dan slikat. Bahan tersebut mengandung silika dengan persentase yang besar dan dilunakkan melalui temperatur yang tinggi. Feldspar memberikan warna transparan pada porselen dan berfungsi sebagai fluks untuk mengikat kaolin dengan silika. 3. Silika Silika adalah silicate glass yang berkaitan dengan fusi anorganik yang telah didinginkan tanpa mengalami kristalisasi. Silika terdiri dari quartz, tridimite atau kristobalit. Silika yang dipakai dalam porselen berguna sebagai penambah kekuatan. Bahan ini melengkapi bahan dasar dan mempengaruhi warna pada porselen serta sebagai bahan utama dalam porselen. 4. Fluks Fluks dicampurkan pada porselen dalam pembuatannya pada temperatur yang rendah. Fluks yang dicampurkan pada porselen terdiri dari sodium karbonat, kalsium karbonat, natrium karbonat dan boraks. Bahan bahan ini merupakan low fusing material yang berguna untuk memperendah temperatur penyatuan. 5. Bahan pewarna Bahan ini ditambahkan untuk memberi warna pada porselen. Bahan pewarna dalam porselen adalah : a. Titanium untuk memberi warna kuning dan dapat digunakan untuk membuat bahan menjadi lebih opaq.
5

b.

Kobalt untuk memberi warna kebiru biruan.

c. Besi untuk memberi warna kecoklat coklatan d. Timah dan emas untuk memberi warna merah jambu. e. Emas metalik untuk memberi warna bayangan merah kecoklatan. f. Platina untuk memberi warna keabu abuan.

2.3 Sifat-sifat porselen

Sifat porselen pada umumnya sebagai berikut :

1. Massa jenisnya berkisar antara 2,3 hingga 2,5 g/cm3 2. Koefisien muai panjang 3.10-6 hingga 4,5.10-6 per derajt Celcius. 3. Kekuatan tekan 4000 hingga 6000 kg/cm2 4. Kekuatan tarik 300-500 kg/cm2 yang menggunakan pelapis . 200-300 kg/cm2 yang tanpa pelapis. 5. Kekuatan tekuk 80 hingga100 kg/cm2. poerselin lebih regas daripada kaca. 6. Tegangan tembus berkisar antara 10 hingga 30 kV/mm 7. Resistivitas 10"11 hingga 10 pangkat 14 ohmcm. 8. Permitivitas berkisar antara 6 hingga 7 9. Sudut kerugian dielektrik akan naik jika suhu dinaikkan.

Sifat elektron magnetik keramik (porselen) Telah diuraikan secara panjang lebar diatas bahwa keramik banyak digunakan sebagai isolator. Selain itu berbagai jenis keramik digunakan dalam rangkaian elektromaknetik karena konstanta dielektrik tinggi, sifat piezoelektrik atau sifat-sifat dielektrik lainnya.
6

Keramik dielektrik. Banyak oksida menjadi islator yang baik karena elektron valensi dari atom logam pindah secara tetap ke atom oksigen, membentuk ion O2-. Baiklah kita tinjau kembali isolator busi. Ion Al3+ dari Al2O3 kehilangan semua elektron valensi yang membawa muatan dalam aluminium logam. Elektron-elektron tersebut sekarang diikat oleh ion oksigen. Dalam bahan ionisasi lainnya, elektron Mg2+ diikat oleh O2- dalam MgO, dan silikon dan oksigen mempunyai

elektronnya dalam tetrahedral SiO4. kesimpulannya adalah komposisi isolator yang baik adalah MgO Al2O3 SiO2. Meskipun demikian, bahan yang dinamakan isolator dapat juga rusak dibawah pengaruh tegangan tinggi. Biasanya kerusakan merupakan gejala permukaan. Sebagai contoh, busi kendaraan bermotor dapat tidak berfungsi oleh karena endapat uap lembab pada permukaan isolator keramik sehingga terjadi suatu hubungan singkat. Oleh karena itu isolator didisain sedemikian rupa sehingga jarak permukaan besar (lihat gambar 1) dan dengan demikian kemungkinan terjadinya hubungan singkat pada permukaan dapat diperkecil

Gambar 1. Rambatan permukaan


7

Pada tabel berikut dapat dilihat sifat dielektrik beberapa jenis isolator keramik. Kekuatan dielektrik adalah gradien tegangan yang menghasilkan tegangan tembus listrik melalui isolator. Umumnya konstanta dielektrik nilainya lebih tinggi sedikit pada bahan keramik, karena ion, dan bukan dwikutub molekuler yang dipengaruhi oleh medan listrik. Konstanta dielektrik seperti juga isolator dan polimer peka terhadap frekuensi. Akan tetapi, dalam daerah suhu biasanya hanya ada sedikit variasi pada isolator keramik. Sarjana listrik juga harus memperhitungkan faktor kerugian, dan tan

bila mendesain rangkaian listrik. Hasil kali konstanta dielektrik relatif dan
faktor kerugian k dan tan , merupakan ukuran dari energi listrik yang terpakai oleh kapasitor dalam rangkaian arus bolak-balik sehingga alumina atau gelas dirancang untuk pemakaian listrik. Tabel 2. Sifat dielektrik keramik

Semikonduktor keramik. Meskipun bahan keramik pada umumnya merupakan isolator, keramik dapat berubah menjadi semikonduktor bila mengandung elemen transisi valensi
8

ganda. Hal ini dapat terjadi karena kekosongan elektron yang membawa muatan dengan berpindah dari atom nikel yang satu keatom lainnya. Magnetik (Fe3O4 atau Fe2+Fe3+O4) adalah semikonduktor keramik yang mempunyai tahanan 10-2 ohm cm yang stara grafit dan timah putih. Tahanan dapat ditingkatkan dengan larutan padat dimana ion besi bervalensi ganda dapat digantikan oleh ion lainnya. Koefisien suhu tahanan semikonduktor penting pula bagi ilmu tehnik. Dari tabel dibawah ternayata bahwa perubahan tahanan besar 1%/oC dan untuk larutan padat tertentu dapat mencapai 4%/oC. Kepekaan ini dapat dimamfaatkan untuk pengukuran suhu dengan tepat dan terciptalah alat yang disebut termistor yang digunakan untuk mengukur suhu. Tabel 3. Tahanan semikonduktor keramik

Keramik piezoelektrik. Beberapa jenis kristal keramik tidak memiliki simetri. Disini tidak akan dibahas ciri-ciri kristalografik, akan tetapi akan dibahas pengaruh kristal ion. Pusat muatan positif dan negatif tidak identik. Akibatnya, setiap sel satuan berperan sebagai dwikutub listrik kecil dengan ujung positiof dan negatif.
9

Pada gambar 3. terlihat bahwa titik pusat muatan positif dan negatif terpisah sejauh d, yaitu panjang dwikutub. BaTiO3 berubah dimensinya bila berada dalam medan listrik karena muatan negatif akan tertarik kearah elektroda positif, dan muatan positif akan tertarik kearah elektroda negatif, sehingga panjang dwikutub d bertanbah besar. Efek beruntun tersebut diatas dapat digunakan untuk merubah energi mekanik menjadi energi listrik dan sebaliknya. Perhatikan gambar 8.6 untuk menjelaskan gejala ini. Dari gambar 8.6 tersebut akan terjadi regangan e, besar e tergantung pada modulus elastisitas. Regangan ini merubah panjang dwikutub d dan secara langsung mempengaruhi polarisasi (=Qd/V) karena Q dan V tetap konstan. Bila polarisasi kecil (akibat kompressi), terdapat kelebihan muatan pada kedua ujung kristal. Keramik magnetik Magnet logam kurang baik untuk penggunaan dalam rangkaian UHF dan VHF. Frekuensi tinggi menimbulkan imbas, oleh karena itu menimbulkan rugi daya didalam inti logam. Ahli metalurgi memanfaatkan gejala ini untuk mencairkan paduan bermutu tinggi. Kehilangan daya yang berubah menjadi panas tidak boleh terjadi dalam rangkaian elektronik. Untunglah senyawa keramik yang mengandung atom magnetik yang bersifat magnetik dan sekaligus tidak menghantarkan listrik. Magnit lunak dan keras. Kebanyakan magnetisasi Fe3O4 hilang setelah medan magnit dihapuskan. Hal ini disebabkan oleh karena orientasi

10

magnetik kooperatip dari setiap atom tunggal yang hilang. Sifat lunak ini memang disyaratkan untuk transformator dan atau inti magnit tabung TV, karena magnetisasi akan mengikuti arus bolak-balik. Pada magnit permanen atau keras megnetisasi tetap ada setelah medan magnit ditiadakan. Sifat ini memang diperlukan pada keadaan tertentu. Sebagai contoh dapat disebutkan magnit permanen yang banyak diperjual belikan dan digunakan sehari-hari. Bagian dari motor listrik, lapisan pada pita kaset audio dan video. Sifat mekanik keramik Bahan keramik terkecuali beberapa jenis bahan seperti lempung plastik, mempunyai kekuatan geser yang tinggi, jadi keramik tidak ulet. Hal ini menyebabkan kekuatan dan kekerasan yang tinggi, peka terhadap takik dan kekuatan patah yang rendah.

Gambar 2. Perbandingan slip. Senyawa terdiri dari susunan atom atau ion yang berlainan. Untuk senyawa antar logam telah dibahas pada bab terdahulu, namun dalam fase
11

keramik, kation dikoordinir oleh anion dan anion dikoordinir oleh kation. Hal ini memang wajar, oleh karena ion tak sejenis dan ion sejenis tolak menolak. Proses slip dalam arah mendatar dihindarkan dalam NiO, MgO dan NaCl. Dengan mempertimbangkan aspek gaya tolak menolak coulomb, sistem slip yang sedikit dan jarak pergeseran yang lebih besar, maka kramik kristalin mempunyai ketahanan terhadap deformasi plastik yang lebih besar dari pada logam. Perbedaan ini akan lebih menonjol dalam fasa keramik yang lebih kompleks seperti silikat dan spinel. Kekerasan. Fasa keramik keras karena biasanya tidak mengalami deformasi plastik. Bahan amplas sepert emery terdiri dari Al2O3 biasanya tercampur dengan Fe2O3. Karbida silikon (SiC) dan TiC merupakan bahan gosok dan pemotong logam yang penting. Sifat keramik yang umumnya keras dapat dikaitkan secara langsung dengan strukturnya. Talk, lempung dan mika adalah lunak karena mempunyai struktur lempeng. Ikatan dalam lempeng itu sendiri kuat, akan tetapi ikatan antar lempeng adalah ikatan sekunder yang lemah. Peka takik. Suatu takik atau retak merupakan penyebab timbulnya tegangan. Pengaruhnya sangat besar. Tegangan sebenarnya terdapat pada pangkal takik atau cacat dan berkaitan dengan tegangan nominal s, kedalaman retak c, dan jari-jari lengkung r

s2 c / r

12

Bila melampaui kekuatan luluh bahan ulet, maka pangkal takik akan bertambah besar, dan konsentrasi gaya akan berkurang. Bila takik berada dalam bahan tidak ulet maka jari-jari lengkung mendekati diameter atomik (0,1 nm). Jadi suatu retak dengan kedalaman 0,1 m sampai dengan 10 m, akan mempunyai faktor konsentrasi tegangan; /s sebesar 102 atau 103.

Gambar 3. Bahan piezoelektrik Retak yang lebih dalam akan lebih berbahaya. Meskipun keramik tahan terhadap geseran, konsentrasi tegangan dapat melampaui ikatan antar atom. Jadi retak tersebut dapat merambat. Berarti c menjadi lebih besar, sehingga persamaan diatas memperlihatkankonsentrasi tegangan yang bertambah. Sampai terjadi perpatahan.

13

Bahan keramik umumnya memiliki kekuatan tarik yang rendah karena ketahanan terhadap geseran pada pangkal retak. Faktor yang sama, kekuatan geser, membuat keramik tahan terhad

2.4 Pembuatan porselen

Tanah liat khusus misalnya tanah liat Cina dan tanah liat yang sudah diolah digunakan pada pabrikasi porselin setelah dicampur dengan kuarsa. Proses pembuatan perangkat dari porselin secara garis besar adalah sebagai berikut: Setelah tanah liat dibersihkan dan kotoran-kotoran misalnya : kerikil; kemudian dicampur dengan air hingga homogen (tetapi tidak terlalu amen seperti bubur). Selanjutnya adalah tahap pembentukan yaitu dengan putaran, penekanan, cetakan dan ekstrusi. Selanjutnya setelah perangkat terbentuk, dikeringkan lalu diadakan pelapisan dengan gelas (glazing) dan terakhir adalah tahap pembakaran. Perlu diingat bahwa pada proses pembuatan perangkat dan keramik sejak masih basah hingga selesai dibakar akan terjadi pengecilan dimensi. Sedangkan pada proses pelapisan dengan gelas dan pembakanan menentukan sekali kualitas produk. Pada proses pelapisan dengan gelas, kaca halus atau bahan dasar kaca atau campuran keduanya dipanaskan hingga meleleh, kemudian digunakan melapisi perangkat yang dikehendaki dengan cara mencelupkan benda dalam permukaan yang diinginkan untuk dilapisi. Pelapisan dengan gelas semacam ini digunakan untuk memperkuat dan sekaligus menghiasi permukaan, akan menjadikan produk porselin makin sedikit kemampuannya menyerap air, mudah dibersihkan, menghilangkan retak-retak yang ada dipermukaan. Dengan pelapisan gelas, arus bocor yang melalui permukaan isolator akan
14

lebih kecil terutama pada keadaan basah dan sekaligus dapat menaikkan tegangan terjadinya loncatan busur api (flashover). Seperti pada penggunaan kaca bersama-sama dengan logam, koefisien termal antara pelapis dan yang dilapisi harus sama. Jika gelas pelapisnya mempunyai lebih kecil daripada yang dilapisi akan terjadi kompresi pada waktu terkena suhu yang rendah. Sedangkan jika kaca pelapis mempunyai yang lebih besar daripada yang dilapisi pada waktu terkena suhu di alas suhu normal pelapisnya akan retak (bentuk retaknya kecil memanjang) yang disebut crazing. Retakan ini akan menurunkan kekuatan mekanik benda. Untuk pelapisan benda-benda porselin yang besar dapat dilakukan dengan menuangkan bahan pelapis pada permukaannya. Selanjutnya setelah benda tersebut dilapis dikeringkan dan dilakukan pcmbakaran.Maksud dan pembakaran adalah untuk mendapatkan kekuatan mekanik, kemampuan isolasi dan ketahanan terhadap air yang lebib tinggi. Selama pembakaran, struktur kristal dan tanah liat (bahan dasar keramik) akan berubah, air yang dikandung akan hilang. Selama pembakaran juga akan terjadi lubang-lubang kecil. Untuk menutup lubang-lubang ini digunakan bahan yang disebut feldspar. Feldspar selama pembakaran akan meleleh sehingga mengisi

lubang-lubang kecil yang terjadi tersebut, sekaligus berfungsi scbagai bahan penguat. Untuk pembuatan isolator porselin diperlukan suhu yang berkisar antara 13000 hingga 15000 C dalam jangka waktu 20 hingga 70 jam. Kenaikan suhu dari suhu normal hingga suhu di atas adalah perlahan-lahan. Setelah mencapai suhu yang diinginkan, pendinginannya dilakukan sec.ara perlahanlahan sebelum dikeluarkan dan oven. Untuk pembakaran atau pemanasan dalam oven dapat
15

digunakan solar, gas, batubara atau listrik. Cara pembakaran pada benda yang akan dibuat (sebelumnya dikeringkan) diletakkan di ruang bakar agar tidak berhubungan langsung dengan nyala api aiau hilitan elemen pemanas jika yang digunakan pemanas histrik. Hal ini untuk menghindari pemanasan yang tidak merata dan Pembentukan jelaga. Bagian dasar dan benda tidak perlu dilapis dengan gelas agar tidak melekat dengan dasar ruang pembakaran jika sudah dingin. Terdapat 2 macam oven untuk pembakaran porselin yaitu jenis pemanggang (kiln) dan jenis terowongan. 1. Oven jenis pemanggang . Pada oven jenis pemanggang proses pembakaran dan pendinginan dilakukan secara serentak untuk beberapa benda kerja. Untuk industri kecil, oven ini tepat digunakan. 2. Oven jenis terowongan. Oven jenis ini penampangnya seperti ditunjukkan pada Gambar di bawah. Dalam oven ini benda yang dipanaskan dilewatkan melalui oven secara perlahan-lahan. Panjang oven ini dapat mencapai 100 meter, terdiri dan 3 bagian proses yaitu daerah pemanasan, daerah pemanggang dan derah pendinginan. Suhu tertinggi adalah di daerah tengah yaitu daerah pemanggang dan bagian pinggir lebih dingin.

16

Gambar 4. Penampang oven terowongan Dengan demikian selama perjalanan benda-benda kerja akan terjadi pemanasan dan pendinginan secara bertahap dan perlahan-lahan. Karena pada oven jenis terowongan ada bagian yang selalu bergerak (untuk menempatkan benda kerja) maka pemanasan terhadap benda kerja adalah terus-menerus, demikian pula pengambilan bagi benda kerja yang selesai dipanasi tidak perlu memadamkan oven. Pengecilan yang terjadi selama proses pembuatan benda porselin dan keadaan basah hingga pembakaran adalah sebesar 0%. Karena itu untuk pembuatan benda porselin pada waktu masih mentah harus lebih besar dan ukuran akhir yang

17

dikehendaki. Namun pada prakteknya sulit didapat ukuran yang presisi,karena hal ini dipengaruhi komposisi bahan dan kondisi pembakarannya. Umumnya produk-produk porselin toleransi yang masih dapat ditolerir berkisar antara 2 hingga 5 %.

2.5 Penggunaan Porselin Penggunaan porselin sebagai isolator adalah luas sekali baik sebagai isolator penyangga maupun sebagai isolator tank. Untuk itu penggunaan porselin sebagai isolator harus diperhatikan kemampuan mekanisnya disamping kemampuan elektnisnya. Penggunaan isolator pada tegangan tinggi, yang juga harus menjadikan pertimbangan adalah tegangan pelepasan (discharge-voltage)nya. Tegangan pelepasan adalah tegangan yang dikenakan pada isolator yang menyebabkan mengalirnya arus listrik melalui permukaan di antara elektroda-elektroda. Dalam banyak kasus, pelepasan ini menyebabkan busur api pada permukaan isolator. Busur api ini dapat terjadi pada keadaan kering maupun basah (curah hujan 4,5 hingga 5,5 mm/menit). Pada pengujian busur api dilaboratorium kondisi ini dapat diciptakan, untuk mengetahui kelayakan suatu isolator digunakan di lapangan. Isolator gantung atau isolator tank pada tegangan tinggi (bentuknya seperti cakram) pada bagian bawahnya dibuat berlekuk-lekuk agar air hujan tidak merambat melaluinya. Banyak isolator gantung atau isolator tank tergantung besarnya tegangan yang diisolasi. Contoh: untuk tegangan 110 kV diperlukan 10 hingga 12 isolator, sedangkan untuk 400 kV terdiri danm 20 hingga 24 isolator. Hubungan atau korelasi antara besarnya
18

tegangan kerja dengan banyaknya isolator yang diperlukan seperti ditunjukkan pada Gambar 4 Penggunaan isolator dan porselin antara lain: isolator tank, isolator penyangga, rol isolator seperti dapat dililiat pada Gambar berikut

Gambar 5. Contoh isolator porselen 2.6 Kelebihan dan kekurangan isolator porselen Beberapa kelebihan isolator porselin/keramik antara lain:

1. Stabil, adanya ikatan ionik yang kuat antaratom yang menyusun keramik, seperti silikon dan oksigen dalam silica dan silicates, membuatnya strukturnya sangat stabil dan biasanya tidak mengalami degradasi karena pengaruh lingkungan. Ini

19

berarti bahwa isolator keramik tidak akan rusak oleh pengaruh UV, kelembaban, aktivitas elektrik, dsb. 2. Mempunyai kekuatan mekanik yang baik, merupakan ciri alami bahwa bahan keramik mempunyai sifat mekanik yang kuat, sehingga pada pemakaian isolator porselin sebagai terminal kabel, bushing, dan arrester surja tidak memerlukan material lain untuk meyokongnya. 3. Harganya relatif murah, penyusun porselin seperti clay, feldspar dan quartz harganya relatif murah dan persediaannya berlimpah. 4. Tahan lama, proses pembuatan porselin yang terdiri dari beberapa proses seperti pencetakan dan pembakaran dalam mengurangi kadar air menyebabkan porselin mempunyai sifat awet.

Di samping kelebihan-kelebihan di atas, isolator porselin mempunyai beberapa kekurangan, yaitu:

1. Mudah pecah, isolator porselin rentan pecah pada saat dibawa maupun saat instalasi. Vandalisme merupakan faktor utama yang yang menyebabkan isolator pecah. 2. Berat, salah satu sifat dari keramik adalah mempunyai massa yang berat. Oleh karenanya, pada isolator porselin berukuran besar dan berat biasanya mahal karena biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman dan instalasi. 3. Berlubang akibat pembuatan kurang sempurna, berdasarkan pengalaman isolator porselin yang berlubang dapat meyebabkan terjadinya tembus internal (internal dielectric breakdown).

20

4. Bentuk geometri

kompleks, porselin mempunyai relatif mempunyai

karakteristik jarak rayap yang kecil, oleh karenanya untuk memperpanjang jarak rayap tidak dilakukan dengan memperbesar diameter atau memperpanjang isolator melainkan mendesain isolator dengan membuat shed-shed. Hal ini membuat bentuknya menjadi kompleks. 5. Mudah terpolusi, permukaan porselin bersifat hidrophilik, yang berarti bahwa permukaan porselin mudah untuk menangkap air, sehingga pada kondisi lingkungan yang berpolusi mudah untuk terbentuk lapisan konduktif di permukaannya. Hal ini yang dapat menyebabkan kegagalan isolasi yaitu flashover.

21

BAB III KESIMPULAN


3.1 Simpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Bahan isolasi porselen dapat digunakan dalam berbagai keperluan isolasi listrik. 2. Porselen sangat cocok dan aman dalam penggunaannya karena karakteristiknya akan tahan terhadap panas

3. Porselen dibuat dengan cara dengan pemanasan (pembakaran ), pengerasan, pelumeran dan mendinginkan secara cepat beherapa bahan yang dilelehkan atau kristalisasi. 3.2 Saran Bahan isolasi porselin merupakan salah satu bahan listrik yang sering digunakan oleh masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat mulai sekarang ini adalah meningkatkan pengetahuan mengenai bahan isolasi porselin dan melestarikan bahan-bahan anorganik maupun organik sebagai bahan dasar pembuat bahan isolasi porselin ini.

22