Anda di halaman 1dari 10

METODE SIMPLE MULTI ATTRIBUTE RATING TECHNIQUE (SMART) DALAM MELAKUKAN MODEL ANALISIS RISIKO BENCANA ERUPSI GUNUNGAPI

(WILAYAH STUDI : G. SEMERU DAN SEKITARNYA)


Y. Wahyudia , A. Deliarb, dan A.B. Hartob

Bidang Evaluasi Potensi Bencana, Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral, Jln. Diponegoro No 57 Bandung - yudhiwhd74@gmail.com. b Kelompok Keilmuan Penginderaan Jauh dan Sains Informasi Geografis , Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No 10 Bandung, 40132albert@gd.itb.ac.id dan agung@gd.itb.ac.id.

KATA KUNCI: Analisis Risiko Bencana, Sistem Pendukung Keputusan Spasial (SPKS), multi criteria decision making (M CDM ), Simple M ulti-Atribute Rating Technique (SM ART), G. Semeru.

ABS TRAK: Indonesia secara geografis terletak pada persimpangan tiga lempengan tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia, Samudera Hindia, dan Samudra Pasifik. Akibat dari letak geografis tersebut, Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi, dan sekitar 127 diantaranya dikatagorikan sebagai gunungapi aktif, dengan demikian Indonesia memiliki 13% gunungapi dari seluruh gunungapi aktif di dunia, serta rawan bencana yang disebabkan oleh erupsi gunungapi. Rangkaian bencana yang dialami Indonesia sejak tahun 2004, telah mengembangkan kesadaran pola penanggulangan bencana dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Sikap reaktif yang dilakukan dirasakan tidak lagi memadai, dibutuhkan sikap baru yang lebih p roaktif, menyeluruh, dan mendasar dalam menyikapi bencana. Sistem penanggulangan bencana seperti yang dimaksud UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, di satu sisi mampu meletakkan satu sistem penanggulangan bencana, namun di isi lain banyak isu dan kendala yang ditemukan, salah satunya dalam rangka pengurangan risiko bencana perlu dilakukannya analisis risiko. Analisis risiko merupakan permasalahan keputusan spasial multikriteria atau multi criteria decision making (M CDM ) yang memerlukan gabungan informasi geografi dan preferensi dari pengambil keputusan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu Sistem Pendukung Keputusan Spasial (SPKS) yang dapat membantu pengambil keputusan melakukan pendekatan dalam menentukan suatu keputusan. Terdapat banyak metode di dalam SPKS, tetapi tujuan dalam penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan model analisis risiko erupsi gunungapi dengan menggunakan metode Simple M ulti-Atribute Rating Technique (SM ART), yang diintegrasikan secara Sistem Informasi Geografis (SIG). Sebagai wilayah studi untuk kasus penelitian ini adalah G. Semeru dan sekitarnya. Wilayah ini termasuk ke dalam Kabupaten M alang dan Lumajang. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk mendukung pembuatan model analisis risiko erupsi gunungapi ini berupa bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity). Sub-kriteria bahaya yang digunakan berupa sub-kriteria bahaya aliran dan sub-kriteria bahaya jatuhan, sub-kriteria kerentanan yang digunakan berupa tata guna lahan, sedangkan sub-kriteria kapasitas berupa kondisi sistim peringatan dini, pengetahuan kebencanaan, kelembagaan, dan sarana prasarana evakuasi. Dari semua kriteria-kriteria tersebut kemudian dianalisis dan diperoleh M odel Nilai Bobot Risiko antara 0,02-100, sedangkan Nilai Bobot Risiko G. Semeru antara 0,03-35,08 yang menggambarkan risiko setiap kawasan apabila terjadi bencana erupsi gunungapi.

1. PENDAHULUAN G. Semeru ( 3676 m dpl) adalah gunungapi strato tipe A berbentuk kerucut yang pada bagian puncaknya terdapat dua bentuk sisa kawah serta satu kawah aktif yang terbuka kearah tenggara. Bagian tubuh Semeru yang berbentuk kerucut dibentuk oleh batuan lava, aliran piroklastik dan lahar. Pusat aktifitas G. Semeru saat ini berada di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara Puncak M ahameru. Erupsi G. Semeru umumnya erupsi abu bertipe Vulkanian dan Strombolian yang terjadi 34 kali setiap jam. Erupsi tipe Vulkanian dicirikan dengan erupsi eksplosif yang kadang-kadang menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Selanjutnya terjadi erupsi bertipe Strombolian yang diikuti dengan pembentukan kubah dan lidah lava baru. Pada saat terjadi erupsi eksplosif akan dikuti oleh terjadinya aliran awan panas yang mengalir ke lembah-lembah yang lebih rendah dan arah alirannya sesuai dengan bukaan kawah dan lembah-lembah di G. Semeru. Arah bukaan kawah G. Semeru saat ini mengarah ke arah tenggara atau mengarah ke hulu Besuk Kembar. Berdasarkan data statistik, Sejarah erupsi dan peningkatan kegiatan G. Semeru tercatat sejak tahun 1818-2011 yang mengalami fluktuasi kenaikan kegiatan. Bencana G. Semeru yang paling besar serta menimbulkan korban yang cukup banyak terjadi pada tahun 1994. 2. LANDAS AN TEORI 2.1 Risiko Bencana Risiko bencana adalah besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, hilangnya rasa aman, pengungsian, kerusakan atau kehilangan harta benda, dan gangguan kegiatan masyarakat, sehingga suatu kejadian dapat dikategorikan sebagai bencana jika mengakibatkan tiga hal, yakni 1. Hilangnya jiwa manusia, 2. Kerusakan harta benda dan lingkungan, atau 3. Hilangnya jiwa manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan. Sehingga apabila suatu kejadian tidak mengakibatkan salah satu dari ketiga hal di atas, kejadian tersebut belum dikategorikan sebagai bencana tetapi kejadian tersebut dikategorikan sebagai bahaya. Awotona (1997) memberikan batasan antara bahaya dan bencana yaitu : Bahaya adalah bagian dari lingkungan kita yang dapat terjadi kapan saja dan dapat menimbulkan bencana apabila berinteraksi dengan kondisi yang rentan. Bencana adalah interaksi antara bahaya dan kondisi rentan (sosial, ekonomi, budaya dan politik) yang diakibatkan oleh perbuatan manusia maupun fenomena alam. Howard and Remson (1978) menerangkan bahwa untuk dapat terus hidup dengan keadaan dunia yang selalu dinamis, manusia harus memahami alam dan tingkat perubahannya serta

mengadaptasi sifat dan karakteristiknya. Ada 5 cara manusia menghadapi bahaya yaitu : 1. Penghindaran (Avoidance). Tindakan yang paling nyata terhadap potensi suatu bahaya adalah dengan menghindarinya. 2. Stabilisasi (Stabilization). Beberapa bahaya dapat dinormalkan oleh beberapa perhitungan ilmuwan tetapi akan memerlukan biaya yang cukup mahal. 3. Peningkatan mutu konstruksi sarana dan prasarana. 4. Pembatasan penggunaan lahan dan kepemilikannya. 5. Pendirian sistem peringatan dini. Beberapa bahaya dapat diperkirakan kapan terjadinya sehingga terdapat tenggang waktu untuk melakukan evakuasi. 2.1.1 Analisis Risiko Bencana : Perlu dipahami bahwa mitigasi jauh lebih baik dari pada pertolongan. Dengan kata lain pengalokasian waktu dan sumberdaya untuk perencanaan dan persiapan untuk meminimalkan efek bencana lebih baik daripada menghadapi kenyataan akibat bencana. Analisis risiko adalah sebuah kajian penting untuk melakukan upaya mitigasi dan merupakan suatu alternatif yang harus dipertimbangkan dalam upaya memperkecil atau mencegah bencana yang akan timbul di dalam suatu kawasan rawan bencana. Jika dilihat dari penjabaran definisi bencana, kita dapat mengambil satu rumusan bahwa kriteria risiko bencana ditentukan oleh bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kemampuan (capacity) yang dihadapi dan dimiliki oleh wilayah tersebut pada jangka waktu tertentu. R = (H x V) C Dimana : R (Risk) = Risiko Bencana Besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. H (Hazard) = Bahaya atau ancaman Suatu Kejadian atau peristiwa yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kerusakan atau kehilangan jiwa manusia, atau kerusakan lingkungan. V (Vulrenability) = Kerentanan Kondisi atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan masyarakat tersebut untuk mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan menangani dampak tertentu. Kriteria kerentanan pada penelitian ini dibatasi kriteria tataguna lahan dengan asumsi kependudukan berada di dalam kawasan terbangun. C (Capacity) = Kemampuan Penguasaan sumberdaya, cara dan kekuatan yang dimiliki masyarakat yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri, mencegah, menanggulangi, meredam serta dengan cepat memulihkan diri akibat bencana. Kriteria ketahanan mempunyai empat (4) sub-kriteria yang mempengaruhinya yaitu : Sistim peringatan dini, Pengetahuan kebencanaan.

Kelembagaan. Sarana prasarana evakuasi. 2.2 S istem Pendukung Keputusan (S PK) Konsep SPK pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970an oleh Scott M orton dan mendefenisikan SPK sebagai "sistem berbasis komputer interaktif, yang membantu para pengambil keputusan untuk menggunakan data dan berbagai model untuk memecahkan masalah-masalah tidak terstruktur". SPK dirancang untuk menunjang seluruh tahapan pembuatan keputusan yang dimulai dari tahap mengidentifikasi masalah, memilih data yang relevan, menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pembuatan keputusan, sampai pada kegiatan mengevaluasi pemilihan alternatif. Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa SPK bukan untuk menggantikan tugas manajer akan tetapi hanya sebagai bahan pertimbangan bagi manajer untuk menentukan keputusan akhir. Beberapa model pengambilan keputusan pada dasarnya mengambil konsep pengukuran kualitatif dan kuantitatif. 2.3 S imple Multi-Atribute Rating Technique (S MART) SM ART merupakan metode pengambilan keputusan multi kriteria yang dikembangkan oleh Edward pada tahun 1977. Teknik pengambilan keputusan multi kriteria ini didasarkan pada teori bahwa setiap aiternatif terdiri dari sejumlah kriteria yang memiliki nilai-nilai dan setiap kriteria memiliki bobot yang menggambarkan seberapa penting ia dibandingkan dengan kriteria lain. Pembobotan ini digunakan untuk menilai setiap alternatif agar diperoleh alternatif terbaik. SM ART menggunakan linear additive model untuk meramal nilai setiap alternatif. SM ART merupakan metode pengambilan keputusan yang fleksibel. SM ART lebih banyak digunakan karena kesederhanaanya dalam merespon kebutuhan pembuat keputusan dan caranya menganalisa respon. Analisa yang terlibat adalah transparan sehingga metode ini memberikan pemahaman masalah yang tinggi dan dapat diterima oleh pembuat keputusan. M odel fungsi utiliti linear yang digunakan oleh SM ART adalah seperti berikut (Shepetukha,2001).

3. M engidentifikasi alternatif-alternatif yang akan di evaluasi. 4. M engidentifikasi batasan kriteria yang relevan untuk penilaian alternatif. 5. M elakukan peringkat terhadap kedudukan kepentingan kriteria. 6. M emberi bobot pada setiap criteria, Kriteria yang dianggap paling penting diberikan nilai 100. Kriteria yang penting berikutnya diberikan sebuah nilai yang menggambarkan perbandingan kepentingan relatif ke dimensi paling tidak penting. Proses ini akan diteruskan sampai pemberian bobot ke kriteria yang dianggap paling tidak penting diperoleh. 7. M enghitung normalisasi bobot criteria, Bobot yang diperoleh akan dinormalkan dimana bobot setiap kriteria yang diperoleh akan dibagikan dengan hasil jumlah setiap bobot kriteria. 8. M engembangkan single-attribute utilities yang mencerminkan seberapa baik setiap alternatif dilihat dari setiap kriteria. Tahap ini adalah memberikan suatu nilai pada semua kriteria untuk setiap alternatif. Dalam bidang ini seorang ahli memperkirakan nilai alternatif dalam skala 0100. Dimana 0 sebagai nilai minimum dan 100 sebagai nilai maksimum. 9. M enghitung penilaian/utilitas terhadap setiap alternative Perhitungan dilakukan menggunakan fungsi yang telah ada yaitu : Di mana j adalah nilai pembobotan kriteria ke j dari k kriteria dan ij adalah nilai utility alternatif i pada kriteria j. Nilai j diperoleh dari langkah dan nilai ij diperoleh dari langkah 8. 10. M emutuskan, Nilai utilitas dari setiap alternatif akan diperoleh dari langkah 9. Jika suatu alternatif tunggal yang akan dipilih, maka pilih altematif dengan nilai utilitas terbesar. 3. DATA DAN PENGOLAHAN M odel pendukung pengambilan keputusan yaitu melakukan pendekatan berdasarkan kriteria dan indikatornya dengan menggunakan metode SM ART untuk menghasilkan dan menyajikan informasi hasil analisis berupa prioritas global yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat bahaya, kerentanan dan kapasitasnya, serta menampilkan dalam Peta Nilai Bobot Risiko, sesuai dengan yang disajikan dalam bagan alir penelitian, (Gambar 1.) Di dalam bagan alir penelitian dijelaskan bahwa masukan data bersumber dari data sekunder dan data primer, data sekunder berupa Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi yang diterbitkan oleh Badan Geologi, Pusat Vulkanologi Dan M itigasi Bencana Geologi (PVM BG) dan Peta Rupa Bumi Indonesia yang diterbitkan oleh Bakosurtanal, sedangkan data primer didapatkan melalui kegiatan survey dan wawancara di wilayah G. Semeru dan sekitarnya. Dari data-data tersebut kemudian diuraikan menjadi kriteria-kriteria yaitu kriteria bahaya, kerentanan dan kapasitas, selanjutnya masing-masing kriteria diuraikan kembali menjadi beberapa subkriteria dan subkriteria diklasifikasi menjadi beberapa indikator.

Di mana : j adalah nilai pembobotan kriteria ke j dari k kriteria, ij adalah nilai utility alternatif i pada kriteria j. Pemilihan keputusan adalah mengidentifikasi mana dari n alternatif yang mempunyai nilai fungsi terbesar. Nilai fungsi ini juga dapat digunakan untuk meranking n alternatif Edwards mendefenisikan ada sepuluh langkah dalam penyelesaian metode SM ART yaitu : 1. M engidentifikasi masalah keputusan, 2. M engidentifikasi kriteria-kriteria yang digunakan dalam membuat keputusan

Sistim Peringatan Dini (PD), Pengetahuan Masyarakat (PM) Kelembagaan (KL) Sarana prasarana Evakuasi (SE)

Kondisi Sistim Peringatan Dini (PD), Kondisi Pengetahuan Masyarakat (PM) Kondisi Kelembagaan (KL) Kondisi Sarana prasarana Evakuasi (SE)

Pengamatan & Wawancara Lapangan

M enurut data Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Semeru potensi bahaya yang mungkin terjadi di kawasan analisis risiko diantaranya adalah :
Perhitungan Kriteria Kapasitas

METODE SMART

Peta Nilai Kriteria Kapasitas

Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi

Peta Kawasan Rawan Bencana Jatuhan

Pembobotan Metode Rating Antar Data

Pembobotan Metode Rating Setiap Klas

a. Tipe aliran Aliran lava, Kawah pusat saat ini terletak di daerah puncak dan komposisi lavanya adalah andesit yang relatif kental, oleh karena itu sebarannya terbatas di daerah puncak dan lereng atas. Aliran piroklastik (Awan panas) dihasilkan oleh erupsi eksplosif maupun efusif berupa batuan membara dan fragmen-fragmen batuan padat bercampur gas hasil robohan kubah/lidah lava atau kolom erupsi atau erupsi esplosif mendatar yang terarah dari suatu kubah lava. Jangkauan awan panas terjauh yang pernah tercatat mencapai jarak 12 km dari pusat erupsi. Berdasarkan morfologi puncak dan sekitarnya pada saat ini, distribusi awan panas pada waktu akan datang mengarah relatif ke tenggara sesuai dengan arah bukaan kawahnya. Lahar umumnya terbentuk apabila terjadi erupsi yang menghasilkan awan panas (aliran piroklastik) yang cukup banyak di daerah lembah di lereng atas. Bila di daerah puncak terjadi hujan dalam waktu tertentu maka endapan awan panas yang terdiri atas material lepas berbagai ukuran terbawa air hujan ke lereng bawah melalui sungai-sungai yang berasal dari daerah puncak dan sekitarnya. b. Tipe Jatuhan Jatuhan piroklastik, terdiri atas batuan lontaran seperti bom vulkanik, batuan tua teralterasi yang dilontarkan selama erupsi, fragmen batuan berukuran kerikil, lapili, dan abu. Dengan asumsi bahwa semua potensi bahaya yang mungkin terjadi di kawasan analisis risiko memberikan kontribusi terhadap adanya kriteria bahaya yang telah tergambar dalam Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), maka kriteria bahaya mempunyai dua (2) sub-kriteria yang didasarkan kepada mekanisme terjadinya bahaya, yaitu : Aliran dengan indikatornya yaitu KRB Aliran III, KRB Aliran II, KRB Aliran I, dan kawasan yang tidak terpapar, (Gambar 3). Jatuhan dengan indikatornya yaitu KRB Jatuhan III, KRB Jatuhan II, KRB Jatuhan I, dan kawasan yang tidak terpapar, (Gambar 4). Selanjutnya dengan menggunakan metode SM ART, masingmasing sub-kriteria yang mempunyai indikator-indikator diberikan nilai bobot berdasarkan dampak yang ditimbulkan, KRB III baik bahaya jatuhan maupun aliran menyebabkan dampak yang paling besar oleh karena itu indikator ini diberikan nilai yang paling besar, begitu juga untuk indikator-indikator yang lain diberikan penilaian berdasarkan preferensi pengguna, selain itu masing-masing subkriteria diberikan bobot kepentingan dalam hal ini subkriteria bahaya aliran diberikan bobot 70% dan subkriteria bahaya jatuhan 30% dengan pertimbangan bahwa subkriteria bahaya aliran memberikan kontribusi kepentingan dengan menyebabkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan subkriteria bahaya jatuhan, sedangkan

Pembobotan Metode Rating Antar Data

Kondisi Kondisi Kondisi Kondisi

Peta Peta Peta Peta

Pembobotan Metode Rating Setiap Klas

Peta Kepadatan Penduduk/Desa

Peta Batas Administrasi Desa

Identifikasi Kebutuhan Data

Pengumpulan Data

Perhitungan Kriteria Kerentanan

Peta Nilai Kriteria Kerentanan

Pembobotan Metode Rating Setiap Kriteria

Perhitungan Analisi Risiko

Peta Rupa Bumi Indonesia

Peta Tataguna Lahan

Pembobotan Metode Rating Antar Data

Pembobotan Metode Rating Setiap Klas

Perhitungan Kriteria Bahaya

Peta Kawasan Rawan Bencana Aliran

Pembobotan Metode Rating Antar Data

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian 3.1 Kriteria Bahaya (H) Analisis bahaya G. Semeru dilakukan dengan mengacu pada data Geologi dan sejarah erupsinya yang tersaji dalam Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi Semeru, (Gambar2).

Gambar 2. Peta KRB G. Semeru, (PVM BG, 1996)

Pembobotan Metode Rating Setiap Klas

Peta Nilai Kriteria Bahaya

Peta Nilai Bobot Risiko

Peta Analisis Risiko Bencana Erupsi Gunungapi

Kecamatan Dalam Angka BPS

Kepadatan Penduduk

Verifikasi

Tdk Ya

Pembobotan Metode Rating Antar Data

Pembobotan Metode Rating Setiap Klas

kriteria bahaya sendiri diberikan bobot sebesar 50% dengan pertimbangan bahwa sampai saat ini bahaya erupsi gunungapi memberikan bobot kepentingan yang besar terhadap analisis risiko dibandingkan kriteria kerentanan dan kapasitas, (Tabel 1).
Indikator KRB 3 KRB 2 KRB 1 TDK KRB 3 KRB 2 KRB 1 TDK Nilai Indikator 100.00 70.00 20.00 1.00 100.00 65.00 10.00 0.50 Sub_Kriteria Bobot Nilai Bobot Sub_Kriteria Sub_Kriteria 70.00 49.00 70% 14.00 0.70 Overlay 30.00 19.50 30% 3.00 0.15 Nilai Kriteria Max 100 Kriteria Bobot Nilai Bobot Kriteria Kriteria Max 50

Aliran (H_A)

Hasil Overlay

Bahaya (H)

50%

Jatuhan (H_J)

Gambar 5. Peta Nilai Bobot Bahaya G. Semeru


Min 0.85 Min 0.43

Tabel 1. Nilai Bobot Bahaya

Kriteria Bahaya
Peta KRB Gunungapi Bobot sub-kriteria

Sub- kriteria Bahaya Bahaya


Jatuhan

Sub- kriteria Bahaya Bahaya


Aliran

Bobot sub-kriteria

KRBJ 3

KRBJ 2

KRBJ 1

Tdk

KRBA 3

KRBA 2

KRBA 1

Tdk

Indikator Bahaya
Nilai indikator

Indikator Bahaya
Nilai indikator

Gambar 3. Peta Nilai Bobot Bahaya Aliran G. Semeru


Nilai Bobot Sub-kriteria Overlay Nilai Bobot Sub-kriteria Bobot Kriteria Bahaya Nilai Bobot Kriteria Bahaya

Gambar 5. Bagan Alir Penentuan Nilai Bobot Kriteria Bahaya G. Semeru 3.2 Kriteria Kerentanan (V) Gambar 4. Peta Nilai Bobot Bahaya Jatuhan G. Semeru Dengan cara tumpang susun sesuai dengan bagan alir, (Gambar 5), akan dihasilkan peta kriteria bahaya yang menggambarkan nilai bobot setiap kawasan, (Gambar 6). Dari peta nilai bobot kriteria bahaya G. Semeru, (Gambar 6), nampak bahwa nilai bobot tertinggi yang dinotasikan dengan warna merah berada disekitar pusat erupsi disebabkan daerah ini terpapar oleh dua nilai bobot subkriteria tertinggi begitu juga sebaliknya nilai bobot terendah yang dinotasikan warna abu-abu memang kawasan yang tidak terpapar oleh kedua subkriteria. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini hanya menggunakan kriteria tataguna lahan dengan asumsi bahwa keberadaan penduduk terwakili oleh adanya tataguna lahan kawasan terbangun. Sama halnya dengan penentuan kriteria bahaya, setelah didapatkan indikator penyusun kriteria kerentanan selanjutnya diberikan nilai indikator kemudian dikalikan bobot kriterianya, maka akan didapatkan nilai bobot kerentanan masing-masing kawasan, (Tabel 2). Kerentanan tataguna lahan memperlihatkan kondisi lingkungan apabila terjadi bencana erupsi gunungapi. Bencana erupsi gunungapi mempunyai daya rusak yang tinggi dan tidak dapat diintervensi manusia terutama yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana III.Indikator-indikator dari kerentanan tataguna lahan, (Gambar 6) yaitu :

a. Kawasan Terbangun. Kawasan Terbangun merupakan indikator tertinggi karena di dalam tata guna lahan ini selain terdapatnya jiwa manusia juga tempat berkumpulnya harta benda lainnya. Sehingga mempunyai nilai tertinggi diantara indikator tataguna lahan yang lain. b. Persawahan. Wilayah di sekitar G. Semeru sebagian besar penduduknya bermatapecaharian sebagai petani, oleh karena itu lahan pertanian dalam hal ini persawahan menjadi sesuatu yang vital bagi kehidupan masyarakatnya, maka indikator persawahan menempati peringkat ke dua setelah permukiman. c. Perkebunan. Jenis tutupan lahan ini berupa tanamam musiman dan tahunan yang pengelolaannya berkaitan dengan aktifitas ekonomi perkebunan. Pengelolaan lahan ini dilakukan oleh penduduk disekitarnya yang berfungsi hanya sebagai penggarap. Karena jenis tutupan lahan ini bersifat musiman dan tahunan, maka keberadaan aktifitas manusia didalam lahan ini rendah. Tanaman musiman tata guna lahan ini antara lain : tebu, tembakau, serat karung dan kapas sedangkan yang bersifat tahunan antara lain : kelapa, kopi, cengkeh, karet, kapuk randu, pinang, buah naga, coklat dan jambu mete. Tutupan lahan ini tersebar luas dengan bentuk melingkar yang menempati sekeliling lereng mulai ketinggian 1000 m hingga 1k.550 m dpI. d. Ladang/Tegalan Tutupan lahan ini berupa tanaman perkebunan rakyat yang cenderung menyatu dengan daerah permukimannnya. Jenis tanamannya didominasi tanaman musiman yang bercampur dengan tanaman tahunan, terutama berupa : kelapa, kopi, cengkeh, kapuk randu dll. Pengelolaan tanamannya dilakukan sendiri oleh masing-masing kelompok keluarga sebagai pemilik maupun hanya sebagai penggarap yang berada didalam suatu permukiman tersebut, sehingga merupakan mata pencahariannya. Karena sifatnya musiman, maka keberadaan aktifitas manusianya didalam lahan tersebut rendah. Dibagian selatan, tutupan lahan ini berbatasan dengan daerah hutan dengan luas yang sempit, kecuali dibagian selatan-baratdaya menempati lereng Semeru mulai ketinggian 50 m dpl. Sedangkan dibagian lereng timur menempati ketinggian 800 m hingga 550 m dpl. dengan tutupan lahan cukup luas. e. Hutan/semak belukar Tata guna lahan ini berupa hutan lindung, hutan produksi, dan hutan campuran. Hutan lindung menempati lereng atas hingga ketinggian 850 meter dpl. yang terdapat dibagian lereng sebelah utara, barat dan selatan serta menempati perbukitan vulkanik tua di bagian selatan dan merupakan jenis hutan terluas. Hutan produksi berupa tumbuhan pinus terutama menempati bagian lereng sebelah timur-timurlaut, mulai ketinggian 1600 meter hingga 800 meter dpl. Sedangkan lahan hutan campuran pada dasarnya merupakan hutan lindung tetapi didalamnya terdapat aktifitas manusia yang mengolah sebagian kecil lahan tersebut secara tidak teratur, baik sebagai hutan produksi maupun sebagai daerah perkebunan rakyat.

f. Rumput/semak belukar Selain kawasan hutan, disekitar G. Semeru dijumpai juga tataguna lahan berupa rumput atau semak belukar yang tidak produktif, umumnya berada diperbatasan antara kawasan hutan dengan puncak atau antara hutan dengan perkebunan. Perairan Disekitar G. Semeru terdapat wilayah perairan dengan terdapatnya 2 buah ranu yaitu Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, serta wilayah laut yang masuk ke dalam daerah penelitian ini. g. Puncak gunung/lahan kosong Lahan ini menempati daerah sekitar puncak pada radius 2 km dari G. Semeru. Tahan guna lahan ini tidak terdapat tanaman, tetapi berupa endapan produk erupsi berupa bongkah batuan dan pasir.

Kawasan_terbangun Sawah Perkebunan Ladang/Tegalan Hutan Rumput/Belukar Perairan Puncak_gunung

100.00 80.00 60.00 40.00 Tataguna Lahan (V_TL) 30.00 20.00 10.00 5.00

100%

100.00 Max 100 80.00 60.00 40.00 Overlay Hasil Overlay Kerentanan (V) 25% 30.00 20.00 10.00 5.00 Min 5

Max 25

1.25

Tabel 2. Nilai Bobot Tata Guna Lahan (Kerentanan) G. Semeru

Gambar 6. Peta Nilai Bobot Tata Guna Lahan (Kerentanan) G. Semeru 3.3 Kriteria Kapasitas (C) Untuk mendapatkan data dari Kriteria kapasitas ini dilakukan observasi melalui pengamatan dan wawancara langsung secara random tetapi tetap memperhatikan azas keterwakilan kepada masyarakat dan aparatur pemeritah yang berada di dalam kawasan rawan bencana G. Semeru. Kriteria Kapasitas yang digunakan dalam analisis risiko G. Semeru terdiri dari 4 Sub-kriteria yaitu : Sistim Peringatan Dini Pengetahuan Kebencanaan Kelembagaan Infrastruktur S istem Peringatan Dini (PD): Dalam hal ini yang dimaksud dengan sistem peringan dini adalah kemampuan suatu wilayah

untuk memberikan tanda awal kepada masyarakatnya jika adanya indikasi akan terjadi erupsi G. Semeru melalui pemantauan dan pengamatan baik yang dilakukan oleh instansi yang berwenang dalam hal ini PVM BG maupun yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat dengan memberdayakan segala kemampuan yang ada sebagai bagian budaya lokal.PVM BG telah mendirikan pos pengamatan gunungapi yang terletak di Gunung Sawur, Ds Sumbermujur, Kec. Candipuro, Kab. Lumajang dan Argosuko, Ds Argoyuwayo, Kec. Ampelgading Kab. M alang sebagai salah satu upaya untuk memberikan peringatan dini jika akan terjadi erupsi gunungapi, disamping itu masyarakat sendiri sebagian besar telah memiliki system peringatan dini secara sederhana sebagai contoh dengan menggunakan bunyi kentongan sebagai tanda peringatan. Oleh karena itu masyarakat di sekitar G. Semeru umumnya telah memiliki sistem peringatan dini yang baik sehingga jika kita beri bobot nilai umumnya bernilai maksimum. Pengetahuan Kebencanaan (PM): Pengetahuan kebencanaan dapat diperoleh melalui berbagai cara dan berbagai tingkatan baik secara formal dengan memasukan pengetahuan kebencaan ke dalam kurikulum pendidikan sekolah yang diberikan secara teratur dan berkesinambungan maupun secara non formal melalui sosialisasi yang diberikan kepada kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai kalangan walaupun tidak secara teratur tetapi dilakukan secara terus menerus. Kepedulian masyarakat juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian subkriteria ini. Dari sekian banyak metode penyampaian pengetahuan kebencaan, terdapat beberapa metode khususnya yang dilakukan oleh instansi yang berwenang sebagai dasar pengambilan data yang digunakan dalam analisis risiko, diantaranya adalah : penyuluhan, pelatihan, rencana kontijensi, dan gladi evakuasi. Hasil observasi di lapangan menunjukan tingkat pengetahuan dan kepedulian masyarakat dan aparatur pemerintah di setiap desa sudah sangat baik namun demikian di beberapa desa masih terdapat yang kurang meskipun umumnya mereka telah mendapatkan bekal pengetahuan melalui kegiatankegiatan sosialisasi. Kelembagaan (KL): Kelembagaan menjadi salah satu subkriteria yang penting di dalam melakukan analisis risiko, karena didalam manajemen bencana kelembagaan berfungsi koordinatif baik pada pra bencana, saat terjadi bencana maupun pasca bencana. Pada tahapan pra bencana, saat terjadi bencana, dan fase pemulihan atau pasca terjadinya bencana, kelembagaan masyarakat lokal yang p aling berpengaruh adalah berupa lembaga RT, RW, Dewan Kelurahan, LKM D, PKK, Karang Taruna, dan lain-lain. Namun demikian di dalam analisis risiko bencana erupsi G. Semeru ini, selain lembagalembaga tersebut juga lembaga yang khusus menangani masalah kebencanaan, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dibentuk berdasar Peraturan Presiden No. 08/2008 di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta satuan-satuan pelaksana seperti TAGANA, SAR, dan organisasi kemasarakatan lainnya. Berdasarkan hasil observasi, beberapa desa di sekitar G. Semeru untuk satuan-satuan pelaksana tersebut masih ada yang belum

terbentuk atau belum berfungsi dengan optimal, oleh karena itu bobot nilai relative sub-kriteria kelembagaan sangat bervariasi. S arana Prasarana Evakuasi (S E): Subkriteria ini menggambarkan kondisi infrastruktur yang dapat digunakan sebagai sarana untuk meminimalisir korban dan kerugian harta benda. infrastruktur yang dimaksud meliputi bangunan fisik seperti bangunan pemerintahan, sekolah, sarana kesehatan, jalan, dan jembatan. Berdasarkan hasil observasi, kondisi infrastruktur desa di sekitar G. Semeru sangat bervariasi, tetapi pada umumnya dalam kondisi baik dan layak untuk digunakan apabila sewaktu-waktu dilakukan evakuasi dan pengungsian. Selanjutnya dengan menggunakan metode SM ART, masingmasing sub-kriteria mempunyai indikator-indikator yang memiliki nilai bobot berdasarkan tingkat kepentingannya, (Tabel 3).
Indikator Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada baik sedang kurang Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada Nilai Indikator 100.00 75.00 50.00 100.00 75.00 50.00 100.00 75.00 50.00 100.00 75.00 50.00 Sub_Kriteria Peringatan dini (C_PD) Bobot Nilai Bobot Nilai Sub_Kriteria Sub_Kriteria Kriteria 35.00 Max 100 26.25 35% 17.50 30.00 22.50 30% 15.00 Overlay Hasil Overlay 20.00 15.00 20% 10.00 15.00 11.25 15% 7.50 Min 50 Kriteria Bobot Nilai Bobot Kriteria Kriteria Max 25

Pengetahuan (C_PH)

Kapasitas (,C)

25%

Kelembagaan (C_KL)

Sarpras Evakuasi (C_SE)

Min 12.5

Tabel 3. Nilai Bobot Kapasitas Dengan cara tumpang susun sesuai dengan bagan alir (Gambar 7), akan dihasilkan peta kriteria kapasitas yang menggambarkan nilai bobot setiap kawasan, (Gambar 8).
Kriteria Kapasitas
Peta Rupa Bumi Indonesia Data Survey Lapangan

Peta Batas Adm Desa PD PM KL SE

Sub- kriteria Kapasitas

Sub- kriteria Kapasitas

Sub- kriteria Kapasitas

Sub- kriteria Kapasitas

Baik

Baik

Baik

Baik

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Tdk ada

Kurang

Tdk ada

Tdk ada

Indikator

Indikator

Indikator

Indikator

Nilai indikator Bobot sub-kriteria PD


Peta Nilai Bobot Sub-kriteria PD

Nilai indikator

Nilai indikator

Nilai indikator Bobot sub-kriteria SE


Peta Nilai Bobot Sub-kriteria SE

Bobot sub-kriteria PM
Peta Nilai Bobot Sub-kriteria PM

Bobot sub-kriteria KL
Peta Nilai Bobot Sub-kriteria KL

Overlay Bobot Kriteria Bahaya Nilai Bobot Kriteria Kapasitas

Gambar 7. Bagan Alir Penentuan Nilai Bobot Kriteria Kapasitas G. Semeru

Hasil dari penyusunan model analisis risiko bencana erupsi gunungapi diperoleh komposisi nilai masing-masing kriteria, nilai bobot masing-masing subkriteria, peluang nilai bobot kriteria, dan peluang nilai bobot risikonya sesuai dengan yang telah disajikan di dalam tabel 4. Dari tabel 4 terlihat bahwa kriteria bahaya mempunyai bobot tertinggi (50%) dibandingkan dengan kriteria kerentanan (25%) dan kapasitas (25%) dalam penentuan nilai risiko bencana khususnya yang disebabkan oleh erupsi gunungapi. Hal ini disebabkan kriteria bahaya merupakan faktor utama dalam penentuan risiko itu sendiri. Bobot kriteria bahaya ini disusun oleh dua subkriteria yaitu subkriteria bahaya aliran dan subkriteria bahaya jatuhan. Penentuan dua subkriteria ini didasarkan bahwa bahaya erupsi gunungapi terjadi oleh dua bentuk mekanisme utama yaitu aliran dan jatuhan. Subkriteria bahaya aliran mempunyai bobot lebih tinggi (70%) dibandingkan dengan bobot subkriteria bahaya jatuhan (30%). Hal ini disebabkan subkriteria bahaya aliran ditinjau dari segi dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan dengan subkriteria bahaya jatuhan, sehingga subkriteria bahaya aliran mempunyai nilai kepentingan terhadap penentuan nilai kriteria bahaya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan subkriteria bahaya jatuhan. Bobot kriteria kerentanan disusun oleh tataguna lahan dengan asumsi bahwa keberadaan penduduk terwakili oleh adanya tataguna lahan kawasan terbangun. Hal ini dilakukan karena data kepadatan penduduk yang ada merupakan kepadatan penduduk per luasan wilayah administrasi yang mengasumsikan keberadaan penduduk menyebar merata di seluruh wilayah administrasi, sehingga untuk menghindari terjadinya perulangan perhitungan dan terjadinya bias interpretasi maka kepadatan penduduk tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Bobot kriteria kapasitas disusun oleh empat subkriteria yaitu subkriteria sistem peringatan dini, pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan, kelembagaan yang terkait kebencanaan dan subkriteria sarana prasarana evakuasi. Ditinjau dari karakteristik bahaya erupsi gunungapi yang mempunyai tanda-tanda awal sebelum terjadinya erupsi, menyebabkan subkriteria sistem peringatan dini memiliki tingkat kepentingan yang tertinggi dalam penentuan nilai kriteria kapasitas sehingga subkriteria sistem peringatan dini mempunyai bobot tertinggi (35%) dibandingkan subkriteria lainnya, sistim peringatan dini ini selain dengan adanya pos pengamatan yang telah dibentuk oleh instansi yang berwenang untuk memantau aktifitas gunungapi, juga sistem peringatan dini dari swadaya masyarakat. Subkriteria pengetahuan masyarakat mempunyai bobot 30% menempati peringkat kepentingan kedua setelah sistem peringatan dini. Hal ini didasarkan bahwa informasi berupa tanda-tanda awal dari sistem peringatan dini harus dapat diketahui dengan bekal pengetahuan yang memadai, selain itu seberapa lengkapnya kelembagaan, dan sarana prasarana, usaha mitigasi tidak akan berjalan apabila pengetahuan yang melandasi kesadaran masyarakat tentang kebencanaan masih dirasakan kurang. Subkriteria kelembagaan mempunyai bobot 20% menempati peringkat kepentingan ketiga. Kelembagaan ini berfungsi mengkoordinasikan informasi dari sistem peringatan dini kepada

Gambar 8. Peta Nilai Bobot Kapasitas di Sekitar G. Semeru 4. ANALIS IS Data yang digunakan untuk melakukan analisis risiko bencana erupsi gunungapi secara spasial berupa data-data vektor dengan skala 1 : 50000 yang diasumsikan memiliki ketelitian yang sama dan selanjutnya dilakukan rasterisasi dengan ukuran pixel 25x25 meter. Hal ini karena tool yang digunakan adalah open source Ilwis 3.4 yang memerlukan data untuk proses dalam format raster, selain itu besaran pixel 25x25 meter ditentukan untuk mendapatkan akurasi yang cukup baik untuk melakukan proses dari data spasial skala 1 : 50000 yang menunjukan setiap 500 meter dilapangan akan diwakili oleh satu (1) cm di peta dan ketika dilakukan rasterisasi 1x1 cm di peta akan diwakili 20x20 pixel dengan ukuran 0,5x0,5 mm berarti mewakili 2,5x2,5 meter di lapangan.
Bobot Nilai Bobot Bobot Nilai Bobot HxV Nilai Kriteria Keputusan Sub_Kriteria Sub_Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria C 70.00 Max 100 Max 50 49.00 70% 14.00 0.70 Overlay Hasil Overlay Bahaya (H) 50% 30.00 19.50 30% 3.00 0.30 Min 1 Min 0.5 100.00 Max 100 Max 25 80.00 60.00 40.00 100% Overlay Hasil Overlay Kerentanan (V) 25% 30.00 20.00 Overlay Nilai Risiko 10.00 5.00 Min 5 1.25 35.00 Max 100 Max 25 26.25 35% 17.50 30.00 22.50 30% 15.00 Overlay Hasil Overlay Kapasitas (,C) 25% 20.00 15.00 20% 10.00 15.00 11.25 15% 7.50 Min 50 Min 12.5 KRB 3 KRB 2 KRB 1 TDK KRB 3 KRB 2 KRB 1 TDK Kawasan_terbangun Sawah Perkebunan Ladang/Tegalan Hutan Rumput/Belukar Perairan Puncak_gunung Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada baik sedang kurang Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada Berfungsi baik Berfungsi kurang baik tidak ada Indikator Nilai Indikator 100.00 70.00 20.00 1.00 100.00 65.00 10.00 1.00 100.00 80.00 60.00 40.00 30.00 20.00 10.00 5.00 100 75 50 100 75 50 100 75 50 100 75 50

Tabel 4. Nilai Bobot Indikator-Kriteria

Sarpras Evakuasi (C_SE)

Tataguna Lahan (V_TL)

Peringatan dini (C_PD)

Kelembagaan (C_KL)

Pengetahuan (C_PH)

Jatuhan (H_J)

Sub_Kriteria

Aliran (H_A)

masyarakat dengan bantuan sarana prasarana yang ada. Subkriteria sarana prasarana mempunyai bobot 15% menempati peringkat terakhir disebabkan keberadaan sarana prasarana evakuasi merupakan pendukung dari semua sub kriteria sebelumnya. Penilaian indikator-indikator dari masing-masing subkriteria merupakan dasar dari pembobotan metode SM ART. Hal ini terlihat dari tabel 4, bahwa penilaian indikator didasarkan pada aturan metode SM ART yang memberikan nilai bobot 100 untuk indikator yang memiliki kepentingan tertinggi dan nilai bobot 0 untuk indikator yang memiliki kepentingan terendah. Nilai bobot diantaranya ditentukan oleh pengguna sendiri dengan didasarkan try and error dan preferensi pengguna, serta sebagai verifikasinya nilai indikator yang ditentukan dapat menghasilkan kisaran peluang nilai risiko 0-100. Dari hasil pengolahan data indikator sampai dihasilkan nilai bobot masing-masing kriteria, (Tabel 4), maka selanjutnya dengan menggunakan formula : R = H x (V) C Dilakukan kembali tumpang susun maka akan dihasilkan nilai R untuk setiap kawasan. Dengan memperhatikan rentang nilai bobot masing-masing kriteria yang kemudian dilakukan perhitungan maka akan diperoleh model nilai bobot risiko G. Semeru dengan rentang nilai antara 0,04-35,08. Nilai 35,08 merupakan nilai bobot risiko tertinggi yang mungkin terjadi dinotasikan dengan warna merah berada di sebelah selatan G. Semeru di sekitar alur aliran sungai dan nilai 0,04merupakan nilai bobot risiko terendah yang mungkin terjadi dinotasikan dengan warna abu-abu yang menyebar hampir merata di sekitar G. Semeru, (Gambar 9).

arti kawasan tersebut terpapar oleh nilai bobot bahaya yang tinggi, kondisi kerentanan yang tinggi dan kondisi kapasitas yang rendah. S aran Disadari penyusunan model analisis risiko bencana erupsi gunungapi ini masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan, diantaranya : a. M odel ini belum memasukan subkriteria kerentanan ekonomi karena terbatasnya ketersediaan data, dan subkriteria kerentanan kepadatan penduduk karena data yang ada didasarkan kepada kepadatan penduduk per luas wilayah administrasi, hal ini menyebabkan terjadinya bias pengertian, maka untuk selanjutnya diharapkan data kepadatan penduduk yang tersedia merupakan kepadatan per luas wilayah permukiman atau setidaknya per luas wilayah kawasan terbangun, sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan subkriteria-subkriteria ini masuk menjadi bagian dalam penyusunan model dan hasil analisisnya menjadi lebih akurat. b. Selain itu, penelitian ini belum dilakukan sampai tahap klasifikasi risiko tetapi sampai diperolehnya komposisi nilai bobot indikator-kriteria dan rentang nilai bobot model analisis risiko. Hal ini, disebabkan pengklasifikasian data spasial memerlukan penelitian wilayah studi (gunungapi) yang lebih banyak lagi, dari 127 gunungapi yang ada di Indonesia, oleh karena itu penelitian selanjutnya diharapkan dapat ditambahkan sampai metode pengklasifikasian data spasial. Daftar Pustaka Howard, A.D, I. Remson, 1978, Geology In Environtmental Planing, M c Graw-Hill Inc, San Fransisco. Saaty, T. L. (1986): Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Versi terjemahan, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan M anajemen dengan PT Pustaka Binaman Pressindo. Cetakan kedua, PT Gramedia, 1993. Belton, V. A Comparison Of The Analytic Hierarchy Process and A Simple M ulti-Attribute Value Function. University of Kent, Rutherford College, Canterbury, Kent, England. European Journal of Operational Research 26 (1986) 7-21 7 NorthHolland.

Gambar 9. Peta Nilai Bobot Risiko G. Semeru Kesimpulan a. Diperoleh model komposisi nilai bobot kriteria beserta indikatornya untuk melakukan analisis risiko erupsi gunungapi sesuai dengan yang tercantum di dalam tabel 4, dan rentang model nilai bobot risiko antara 0,02-100. b. Dari Peta Nilai Bobot Risiko G. Semeru (Gambar 8) diperoleh rentang nilai bobot risiko antara 0,04-35,08. Kawasan yang memiliki nilai bobot risiko tinggi mempunyai

Foote KE, and Lynch M , 1996, Geographic Information Systemas Integrating Technologi : Contex, Concept, and Definition. Di dalam : The Geograp hers Craft Project, Austin : Department of Geography, Univ of Texas. Bronto S, Hamidi S, dan M artono A, 1996, Laporan Kegiatan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana G. Semeru, PVM BG, Badan Geologi, ESDM . Awotona, A, 1997, Recontruction After Disaster, Issues and Practices. Aldershot : Ashgate.

Tkach, RJ, and Simonovic, S. P, 1999, A New Approach To M ulti-Criteria Decision M aking In Water Resources, Journal Of Geografic Information and Decision Analysis. M alczewski, J, 1999, GIS and M ulticriteria Decision Analysis, John Wiley & Sons, Inc, Canada. Yunitarini, R, Simple M ulti Attribute Rating Technique (SM ART) Part #1 and #2, Bahan Ajar Teknik Informatika Universitas Trunojoyo. M ugiarto, F T, M odel Klasifikasi Indeks Kerentanan Pesisir Terhadap Fenomena Abrasi Berbasis Variabel Fisik Dan Variabel Non-Fisik Dengan M etode AHP Dalam Perspektif Tata Ruang Ekonomi, Tesis M agister Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, 2012. Afatia N N, Analisis Risiko Aliran Piroklastik Gunungapi Semeru, Jawa Timur, M enggunakan M etoda Ranking dan Perbandingan Berpasangan, Tesis M agister Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, 2012. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27321/3/Chapt er%20II.pdf. Data Dasar Gunungapi Indonesia, Publikasi Pusat Vulkanologi dan M itigasi Bencana 2011. Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.