Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Osteoporosis atau keropos tulang adalah penyakit kronik yang ditandai dengan pengurangan massa tulang yang disertai kemunduran mikroarsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Keadaan ini berisiko tinggi karena tulang menjadi rapuh dan mudah retak bahkan patah. Banyak orang tidak menyadari bahwa osteoporosis merupakan penyakit tersembunyi (silent diseases). Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon esterogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun sedangkan pada pria hormon testoteron turun pada usia 65 tahun. Menurut statistik dunia 1 dari 3 wanita rentan terkena penyakit osteoporosis. Pada waktu seorang wanita mengalami menopause, pembuangan massa tulang meningkat karena tidak adanya hormon esterogen. Pada kebanyakan wanita, pembuangan massa tulang lebih banyak dibandingkan dengan

pembentukan tulang. Akibatnya, terjadilah osteoporosis alias keropos tulang. Dan pada usia 50-an tahun, kemungkinan untuk mengalami patah tulang karena osteoporosis menjadi lebih besar dengan perbandingan lebih kurang 1 orang pada setiap 2 orang. Insiden osteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya populasi usia lanjut. Pada tahun 2005 terdapat 18 juta lanjut usia di Indonesia, jumlah ini akan bertambah hingga 33 juta pada tahun 2020 dengan usia harapan hidup mencapai 70 tahun. Menurut data statistic Itali tahun 2004 lebih dari 44 juta orang Amerika mengalami osteopenia dan osteoporosis. Pada wanita usia 50 tahun terdapat 30% osteoporosis, 37-54% osteopenia dan 54% berisiko terhadap fraktur osteoporotic. Komdisi osteoporosis dapat menyebabkan fraktur (patah tulang) dan frkatus di tulang pinggul (pangkal paha) adalah yang paling mengkhawatirkan. Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat di negara - negara berkembang. Di Indonesia 19,7% dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita
1

osteoporosis[5]. Lima provinsi dengan risiko osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatra Selatan (27,75%), Jawa Tengah (24,02%), Yogyakarta (23,5%), Sumatra Utara (22,82%), Jawa Timur (21,42%), Kalimantan Timur (10,5%)[6]. Prevalensi wanita yang menderita osteoporosis di Indonesia pada golongan umur 50-59 tahun yaitu 24% sedang pada pria usia 60-70 tahun sebesar 62%. Osteoporosis merupakan salah satu dari tiga penyakit kronik utama yang disebabkan karena faktor usia termasuk juga pada wanita postmenopause. Menopause berhubungan dengan reduksi hormone esterogen pada wanita yang dapat mengakibatkan menurunnya kepadatan tulang sehingga terjadi osteoporosis. Penderita osteoporosis dicirikan dengan tubuh yang bungkuk atau bengkok. Namun sebenarnya tidak selalu demikian, banyak orang yang sudah mulai menderita osteoporosis tetapi tidak terlihat dari luar. Penderita osteoporosis merasakan linu-linu dan sakit terutama ketika melakukan pergerakan anggota tubuhnya. Oleh karena itu perlu diwaspadai gejalagejala sebagai awal osteoporosis seperti rasa pegal, linu-linu dan nyeri tulang terutama pada bagian punggung dan pinggang. Pencegahan osteoporosis harus dilakukan sejak dini sampai usia dewasa muda agar mencapai kondisi puncak massa tulang (peak bone mass). Bila tercapai kondisi puncak massa tulang pada usia dewasa muda, kemungkinan terjadi osteoporosis pada usia lanjut akan kecil atau paling sedikit ditunda kejadiannya dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak dan kaya kalsium (1000-1200 mg kalsium per hari), berolahraga secara teratur, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol karena rokok dan alcohol meningkatkan risiko osteoporosis dua kali lipat. Latihan-latihan olahraga dapat menguatkan tulang-tulang kita. Dengan melakukan latihan-latihan olahraga yang secara teratur dan benar gerakannya maka akan bermanfaat dalam pencegahan maupun dalam pengobatan osteoporosis. Olahraga, obat-obatan, dan pengaturan makanan yang baik merupakan kombinasi yang baik untuk menanggulangi osteoporosis dibandingkan dengan pengobatan atau pengaturan makan saja. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang penanganan osteoporosis yang disebabkan oleh kondisi postmenopause

berdasarkan evidence based nursing yang dapat dilakukan di praktik klinis keperawatan.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dari laporan yang telah penulis susun antara lain : 1. Apa yang dimaksud dengan osteoporosis postmenopause? 2. Bagaimana penatalaksanaan osteoporosis postmenopause yang sesuai dengan evidence yang ada?

C. Tujuan Tujuan dari laporan penanganan osteoporosis post menopause yang telah disusun oleh penulis antara lain untuk : 1. Mengetahui penjelasan dari osteoporosis postmenopause 2. Mengetahui penatalaksanaan osteoporosis postmenopause yang sesuai dengan evidence yang ada.

D. Manfaat Manfaat yang diharapkan penulis bagi penulis dan pembaca dari disusunnya laporan tersebut antara lain : 1. Mendapatkan pengetahuan tentang penjelasan maksud dari osteoporosis postmenopause 2. Mendapatkan postmenopause pengetahuan yang sesuai tentang dengan penatalaksanaan evidence yang ada osteoporosis dan dapat

mempraktikkannya di kondisi klinis.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Definisi Osteoporosis Osteoporosis adalah suatu penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan menurunnya massa tulang, dikarenakan berkurangnya matriks dan mineral yang disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang, sehingga terjadi penurunan kekuatan tulang. World Health Organization (WHO) secara operasional mendefinisikan osteoporosis berdasarkan Bone Mineral Density (BMD), yaitu jika BMD mengalami penurunan lebih dari -2,5 SD dari nilai rata-rata BMD pada orang dewasa muda sehat (Bone Mineral Density T-score < -2,5 SD).

Osteopenia adalah nilai BMD -1 sampai -2,5 SD dari orang dewasa muda sehat. Osteoporosis postmenapousal merupakan osteoporosis tipe I. Pada wanita menopause, kadar esterogen mulai menurun sehingga terjadi gangguan

keseimbangan antara sel penghancur tulang (esteoklas) dan sel pembentuk tulang (osteoblas). Dahulu dikatakan bahwa esterogen menyebabkan gangguan resorbsi jaringan tulang secara tidak langsung. Hal ini karena belum terbukti adanya reseptor tulang. Tetapi pada penelitian selanjutnya dapat dibuktikan adanya reseptor esterogen pada sel-sel tulang, sehingga dapat diketahui adanya pengaruh langsung esterogen terhadap proses pembentukan dan penghancuran tulang. Selain hormon esterogen, hormon paratiroid, vitamin D dan kalsitonin sangat berpengaruh terhadap masa depan wanita yang akan mencapia usia 70 tahun (Alkaff, 2001 Cit. Tanzil, 2007).

B. Patofisiologi Osteoporosis Penyebab utama osteoporosis adalah gangguan dalam remodeling tulang sehingga mengakibatkan kerapuhan tulang. Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas (sel pembentukan tulang). Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa tulang. Ada 3 penyebab utama untuk masa tulang yang rendah (Ridjab et al, 2004): 1. Kegagalan untuk mencapai puncak masa tulang yang optimal. Selain dipengaruhi oleh genetik, dapat pula dipengaruhi gaya hidup, terutama asupan kalsium dan aktivitas fisik pada saat pertumbuhan tulang.
4

2. Peningkatan resorpsi tulang, defisiensi esterogen merupakan faktor utama pada wanita dan pria. Pada wanita post menopause terjadi defisiensi kalsium dan vitamin D, berkurangnya absorbsi kalsium pada usia lanjut, abnormalitas endokrin (hipertiroid atau hiperparatiroid), sitokin dan faktor lokal lainnya dapat mempunyai peranan. 3. Tidak adekuatnya formasi tulang, hal ini dapat terjadi karena hilangnya elemen tulang secara total karena resorpsi yang berlebihan, sehingga elemen tulang yang diperlukan dalam proses formasi tulang sebagai contoh (template) tidak ada. Gangguan fungsi osteoblas yang berhubungan dengan usia serta faktor lokal dan sistemik dapat mempengaruhi regulasi formasi tulang. Selama pertumbuhan, rangka tubuh meningkat dalam ukuran dengan pertumbuhan linier dan dengan aposisi dari jaringan tulang baru pada permukaan luar korteks. Remodeling tulang mempunyai dua fungsi utama : (1) untuk memperbaiki kerusakan mikro di dalam tulang rangka untuk mempertahankan kekuatan tulang rangka, dan (2) untuk mensuplai kalsium dari tulang rangka untuk mempertahankan kalsium serum. Remodeling dapat diaktifkan oleh kerusakan mikro pada tulang sebagai hasil dari kelebihan atau akumulasi stress. Kebutuhan akut kalsium

melibatkan resorpsi yang dimediasi-osteoklas sebagaimana juga transpor kalsium oleh osteosit. Kebutuhan kronik kalsium menyebabkan hiperparatiroidisme

sekunder, peningkatan remodeling tulang, dan kehilangan jaringan tulang secara keseluruhan. Remodeling tulang juga diatur oleh beberapa hormon yang bersirkulasi, termasuk estrogen, androgen, vitamin D, dan hormon paratiroid (PTH), demikian juga faktor pertumbuhan yang diproduksi lokal seperti IGF-I dan IGFII, transforming growth factor (TGF), parathyroid hormone-related peptide (PTHrP), ILs, prostaglandin, dan anggota superfamili tumor necrosis factor (TNF). Faktorfaktor ini secara primer memodulasi kecepatan dimana tempat remodeling baru teraktivasi, suatu proses yang menghasilkan resorpsi tulang oleh osteoklas, diikuti oleh suatu periode perbaikan selama jaringan tulang baru disintesis oleh osteoblas. Sitokin bertanggung jawab untuk komunikasi di antara osteoblas, sel-sel sumsum tulang lain, dan osteoklas telah diidentifikasi sebagai RANK ligan (reseptor

aktivator dari NF-kappa-B; RANKL). RANKL, anggota dari keluarga TNF, disekresikan oleh oesteoblas dan sel-sel tertentu dari sistem
5

imun. Reseptor

osteoklas untuk protein ini disebut sebagai RANK. Aktivasi RANK oleh RANKL merupakan suatu jalur final umum dalam perkembangan dan aktivasi osteoklas. Umpan humoral untuk RANKL, juga disekresikan oleh osteoblas, disebut sebagai osteoprotegerin. Modulasi perekrutan dan aktivitas osteoklas tampaknya berkaitan dengan interaksi antara tiga faktor ini. Pengaruh tambahan termasuk gizi (khususnya asupan kalsium) dan tingkat aktivitas fisik. Ekspresi RANKL diinduksi di osteoblas, sel-T teraktivasi, fibroblas sinovial, dan sel-sel stroma sumsum tulang. Ia terikat ke reseptor ikatan-membran RANK untuk memicu diferensiasi, aktivasi, dan survival osteoklas. Sebaliknya ekspresi osteoproteregin (OPG) diinduksi oleh faktor-faktor yang menghambat katabolisme tulang dan memicu efek anabolik. OPG mengikat dan menetralisir RANKL, memicu hambatan osteoklastogenesis dan menurunkan survival osteoklas yang sebelumnya sudah ada. RANKL, aktivator reseptor faktor inti NBF; PTH, hormon paratiroid; PGE2, prostaglandin E2; TNF, tumor necrosis factor; LIF, leukemia inhibitory factor; TP, thrombospondin; PDGF, platelet-derived growth factor; OPG-L, osteoprotegerin-ligand; IL, interleukin; TGF-, transforming growth factor. Pada dewasa muda tulang yang diresorpsi digantikan oleh jumlah yang seimbang jaringan tulang baru. Massa tulang rangka tetap konstan setelah massa puncak tulang sudah tercapai pada masa dewasa. Setelah usia 30 - 45 tahun, proses resorpsi dan formasi menjadi tidak seimbang, dan resorpsi melebih formasi. Ketidakseimbangan ini dapat dimulai pada usia yang berbeda dan bervariasi pada lokasi tulang rangka yang berbeda; ketidakseimbangan ini terlebih-lebih pada wanita setelah menopause. Kehilangan massa tulang yang berlebih dapat disebabkan

peningkatan aktivitas osteoklas dan atau suatu penurunan aktivitas osteoblas. Peningkatan rekrutmen lokasi remodeling tulang membuat pengurangan reversibel pada jaringan tulang tetapi dapat juga menghasilkan kehilangan jaringan tulang dan kekuatan biomekanik tulang panjang.

C. Faktor Resiko : 1. Usia Ketika manusia lahir sampai berusia 30 tahun pembentukan tulang terjadi lebih banyak daripada penghancurannya. Sedangkan ketika usia sudah mencapai diatas 30 tahun, maka tulang yang hilang akan lebih banyak daripada tulang yang

dibentuk. Proporsi osteoporosis lebih rendah pada kelompok lansia dini (usia 5565 tahun) daripada lansia lanjut (usia 65-85 tahun). 2. Jenis Kelamin Jenis kelamin juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Wanita secara signifikan memilki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya

osteoporosis. Pada osteoporosis primer, perbandingan antara wanita dan pria adalah 5 : 1. Pria memiliki prevalensi yang lebih tinggi untuk terjadinya osteoporosis sekunder, yaitu sekitar 40-60%, karena akibat dari hipogonadisme, konsumsi alkohol, atau pemakaian kortikosteroid yang berlebihan. Secara keseluruhan perbandingan wanita dan pria adalah 4 : 1. 3. Riwayat Keluarga Faktor genetika juga memiliki kontribusi terhadap massa tulang. Penelitian terhadap pasangan kembar menunjukkan bahwa puncak massa tulang di bagian pinggul dan tulang punggung sangat bergantung pada genetika. Anak perempuan dari wanita yang mengalami patah tulang osteoporosis rata-rata memiliki massa tulang yang lebih rendah daripada anak seusia mereka (kira-kira 3-7 % lebih rendah). Riwayat adanya osteoporosis dalam keluarga sangat bermanfaat dalam menentukan risiko seseorang mengalami patah tulang. 4. Indeks Massa Tubuh Indeks massa tubuh yang rendah, dan kekuatan tulang yang menurun memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap berkurangnya massa tulang pada semua bagian tubuh wanita. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa efek berat badan terhadap massa tulang lebih besar pada bagian tubuh yang menopang berat badan, misalnya pada tulang femur atau tibia. Estrogen tidak hanya dihasilkan oleh ovarium, namun juga bisa dihasilkan oleh kelenar adrenal dan dari jaringan lemak. Jaringan lemak atau adiposa dapat mengubah hormon androgen menjadi estrogen. Semakin banyak jaringan lemak yang dimiliki oleh wanita, semakin banyak hormon estrogen yang dapat diproduksi. Penurunan massa tulang pada wanita yang kelebihan berat badan dan memiliki kadar lemak yang tinggi, pada umumnya akan lebih kecil. Adanya penumpukan jaringan lunak dapat melindungi rangka tubuh dari trauma dan patah tulang.

5. Aktifitas Fisik Latihan beban akan memberikan penekanan pada rangka tulang dan menyebabkan tulang berkontraksi sehingga merangsang pembentukan tulang. Kurang aktifitas karena istirahat di tempat tidur yang berkepanjangan dapat mengurangi massa tulang. Hidup dengan aktifitas fisik yang cukup dapat menghasilkan massa tulang yang lebih besar. Itulah sebabnya seorang atlet memiliki massa tulang yang lebih besar dibandingkan yang non-atlet. Proporsi osteoporosis seseorang yang

memiliki tingkat aktivitas fisik dan beban pekerjaan harian tinggi saat berusia 25 sampai 55 tahun cenderung sedikit lebih rendah daripada yang memiliki aktifitas fisik tingkat sedang dan rendah. 6. Pil KB Terdapat beberapa bukti bahwa wanita yang menggunakan pil KB untuk waktu yang lama memiliki tulang yang lebih kuat daripada yang tidak

mengkonsumsinya. Kontrasepsi oral mengandung kombinasi estrogen dan progesteron, dan keduanya dapat meningkatkan massa tulang. Hormon tersebut dapat melindungi wanita dari berkurangnya massa tulang dan bahkan merangsang pembentukan tulang. 7. Densitas Tulang Densitas masa tulang juga berhubungan dengan risiko terjadinya fraktur. Setiap penurunan 1 SD, berhubungan dengan risiko peningkatan fraktur sebesar 1,5 - 3,0 kali. Faktor usia juga menjadi pertimbangan dalam menentukan besarnya risiko menurut densitas tulang. 8. Menopause Wanita yang memasuki masa menopause akan terjadi fungsi ovarium yang menurun sehingga produksi hormon estrogen dan progesteron juga menurun. Ketika tingkat estrogen menurun, siklus remodeling tulang berubah dan pengurangan jaringan tulang akan dimulai. Salah satu fungsi estrogen adalah mempertahankan tingkat remodeling tulang yang normal. Tingkat resorpsi tulang akan menjadi lebih tinggi daripada formasi tulang, yang mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Sangat berpengaruh terhadap kondisi ini adalah tulang trabekular karena tingkat turnover yang tinggi dan tulang ini sangat rentan terhadap defisiensi estrogen. Tulang trabekular akan menjadi tipis dan akhirnya berlubang atau terlepas dari jaringan sekitarnya. Ketika cukup banyak tulang yang terlepas, tulang trabekular akan melemah.
8

D. Dampak Osteoporosis Postmenopousal Usia dan berat badan (indeks masa tubuh) berkorelasi dengan densitas mineral tulang (BMD). Densitas mineral yang menurun akan menyebabkan massa tulang yang menurun. Pengukuran densitas mineral tulang dapat digunakan untuk mengetahui adanya penurunan massa tulang. Hal ini mampu memicu terjadinya fraktur. Hubungan antara BMD dan resiko fraktur secara signifikan dipengaruhi oleh usia. Dilihat dari nilai BMD lansia lebih tinggi resiko untuk mengalami fraktur daripada usia muda.

E. Penatalaksanaan Tujuan treatmen pada osteoporosis adalah : 1. Mencegah fraktur dengan meningkatkan kekuatan tulang fan menurunkan resiko jatuh dan injuri 2. Menurunkan gejala frkatur dan deformitas tulang 3. Memaksimalkan fungsi fisik Agen farmako yangtelah disetujui oleh FDA united States untuk osteoporosis : No Nama Obat Postmenauposal Osteoporosis Pencegahan 1 Estrogen (berbagai Berbagai macam aturan Treatment 200 IU intra nasal sehari sekali atau 100 IU sub kutan berbeda 3 4 Denosumab (Prolia) Raloxifene (Evista) 60 mg sub kutan setiap mo pada hari yang

macam formula) 2 Calcitonin Fortical) (Miacalcin,

60 mg per oral setiap 60 mg per oral setiap hari hari

Ibandronate (Boniva)

2.5 mg per oral setiap 2.5 mg per oral setiap hari hari 150 mg per bulan 150 mg per bulan 3 mg IV setiap mo 10 mg per oral perhari minggu a
9

Alendronate (Fosamax)

5 mg per oral per hari

35 mg per oral per 70 mg per oral setiap minggu

70 mg + D b

Residonate (Actenol)

5 mg per oral per hari

5 mg per oral per hari

35 mg per oral per 35 mg per oral per minggu minggu 150 mg per oral per bulan 8 Asam (Reclast) 9 Teriparatide (Forteo) zelodronic 5 mg IV setiap 2 tahun 5 mg IV setiap 1 tahun sekali sekali 20 g Sub kutan per hari 150 mg per oral per bulan

Keterangan : a = Fosamax 70 mg tersedia dalam bentuk tablet dan dosis cairan. Alendronate (Fosamas jenis generik) juga tersedia b = Fosamax plus D adalah tablet yang terdiri dari 70 mg aldendronate dan 2,800 IU atau 5,600 dari vitamin D per minggu

Terapi non Farmako : 1. Menjaga agar intake protein tercukupi 2. Menggunakan body mekanisme yang sesuai 3. Menggunakan proteksi untuk hip pada individu dengan resiko tinggi terjatuh 4. Ambil tindakan untuk mengurangi resiko jatuh 5. Rujuk pada terapi fisik dan terapi okupasional 6. Terapi pilates. Terapi ini meskipun sering digunakan untuk orang yang sehat, namun dapat juga digunakan untuk individu dengan kelainan muskuloskeletal yang dapat memberi manfaat pada nyeri dan kualitas hidup.

10

BAB III PEMBAHASAN

A. Kasus OSTEOPOROSIS POSTMENOPHOUSE Ibu Syifa (57 tahun) adalah seorang wirausahawati. Sejak usia 40 tahun ia banyak menghabiskan waktunya mengurus toko di rumah. Ia memanajemen bagian kasir dan sirkulasi keuangan. Aktivitas sehari-harinya banyak dilakukan di dalam ruangan dan tidak terlalu banyak pergerakan fisik. Semenjak masih muda, Ibu Syifa tidak suka dengan olah raga. Setiap kali diajak oleh teman, suami atau anak-anaknya selalu saja ada alasan untuk menolak. Sebenarnya orang-orang terdekatnya telah menyadari bahwa pola aktivitas fisik Ibu Syifa harus ditingkatkan. Semenjak 3 tahun terakhir, Ibu Syifa mulai merasakan bahwa fisiknya mulai melemah, tidak seperti biasanya, sering kali terjatuh ketika sedang beraktivitas. Ketika dibawa ke petugas kesehatan, ia menyatakan merasakan nyeri skala 4. Lambat laun, setelah dilakukan pengkajian perawat dan anamnesis dokter dengan matang, dinyatakan Ibu Syifa menderita penyakit postmenophouse osteoporosis. Perawat Fatin yang sedang

menangani Ibu Syifa sedang memikirkan treatment apa yang paling sesuai untuk Ibu Syifa agar penyakitnya semakin membaik, sedangkan keadaan Ibu Syifa masih dalam kategori yang tidak terlalu lemah dan masih dapat diajak untuk beraktivitas.

B. Analisis Jurnal I Judul : EFFECTS OF PILATES EXERCISES ON PAIN, FUNCTIONAL STATUS AND QUALITY OF LIFE IN WOMEN WITH POSTMENOPAUSAL OSTEOPOROSIS

Penulis : Nurten Kucukcakr, MD, (Uludag University Medical Faculty, Physical Medicine and Rehabilitation, Turkey Lale Altan, MD (Uludag University Medical Faculty, Physical Medicine and Rehabilitation, Turkey) Nimet Korkmaz, PhD (Uludag University, Faculty of Education, Department of Physical Education and Sports, Turkey)

11

Sumber : Journal of Bodywork & Movement Therapies (2013) 17, 204e211

Latar Belakang Penelitian : Osteoporosis (OP) adalah penyakit tulang metabolik yang paling sering terjadi. OP menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di beberapa negara dalam kaitannya untuk meningkatkan angka harapan hidup. Berbagai dampak yang ditimbulkan dari OP yaitu fraktur, nyeri, kehilangan fungsi, isolasi sosial, gangguan emosional sehingga dapat berdampak pada kesehatan pasien secara umum dan kualitas hidup. Tujuan utama dari penanganan pada OP adalah untuk mencegah fraktur. Meskipun beberapa alternatif penanganan medikasi direkomendasikan untuk mencegah berkurangnya kekuatan tulang atau meningkatkan pembentukan tulang, latihan (exercise) juga ditekankan sebagai bagian dari manajemen pada OP di beberapa pedoman penanganan. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya efek positif pada tulang dengan berbagai program latihan. Program-program latihan kini juga bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot-otot tubuh dan ekstremitas bawah untuk mencegah kejadian jatuh. Meskipun latihan sudah dijadikan sebagai bagian integral dari manajemen OP, namun sebuah program latihan standar yang dapat dipercaya untuk meningkatkan bone mineral density (BMD) dan meningkatkan kualitas hidup belum ada. Pilates adalah sebuah program latihan spesifik yang dikembangkan setelah Perang Dunia I oleh Joseph Pilates (1880-1967). Tujuan dari Pilates training adalah untuk meningkatkan fleksibilitas tubuh secara umum dan meningkatkan kesehatan dengan berfokus kepada kekuatan otot pada tubuh dan koordinasi postur dan pernafasan. Pada dasarnya Pilates exercise merupakan bagian dari aktivitas olah raga untuk menjaga kesehatan seorang individu, namun ternyata Pilates exercise juga dapat direkomendasikan sebagai terapi pada beberapa kasus gangguan

musculoskeletal. Hal ini terbukti pada beberapa penelitian yang menunjukkan manfaat dari Pilates exercise seperti halnya efek bermanfaat dari Pilates pada nyeri dan kualitas hidup pasien fibromyalgia dan ankylosing spondylitis (Altan et al., 2009, 2011). Manfaat lain juga ditunjukkan dari penelitian Siqueira Rodrigues et al.,
12

pada tahun 2010 yaitu Pilates menunjukkan efek positif pada otonomi pribadi, keseimbangan statis, dan kualitas hidup pada penelitian yang melibatkan para lansia.

Tujuan : Mengevaluasi efek dari Pilates exercise yang terpantau pada nyeri dan kualitas hidup di pasien dengan postmenopausal osteoporosis.

Metode : Populasi : 100 wanita usia 45-65 tahun yang didiagnosa postmenopausal osteoporosis baik lumbar maupun femur. Tidak memiliki riwayat fraktur. Kriteria eksklusi : Sampel : Sejumlah 70 wanita yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok home exercise sejumlah 35 orang dan kelompok Pilates exercise sejumlah 35 orang. Di tengah penelitian ada 5 orang dari kelompok home exercise dropout dan 5 orang dari kelompok Pilates Exercise dropout. Sehingga sampel total di akhir penelitian ada masing-masing 30 orang. Pasien mengkonsumsi obat yang dapat menyebabkan osteoporosis sekunder (antiepileptics, steroids, lithium, heparin and thyroid hormone) Pasien dengan penyakit sistemik Pasien dengan kondisi sistemik yang terbatas kemampuannya untuk melakukan latihan Pasien yang tidak ingin berpartisipasi dalam program latihan

13

Intervensi : Kelompok Pirates exercises (Group 1) Pirates exercises diberikan selama satu tahun secara terpantau dengan frekuensi dua kali seminggu dengan masing-masing pertemuan berdurasi selama satu jam. Pirates exercise berisikan 9 macam latihan utama yaitu : postural education, maintaining neutral position, sitting exercises, antalgic exercises, stretching exercises, proprioceptive training, and respiratory training. Kelompok Home exercises (Group 2) Pada kelompok ini pasien diberikan demonstrasi tentang Thoracic extention exercises dengan posisi duduk oleh fisioterapis dan pasien disuruh untuk mempraktekkan latihan tersebut 3 set dari 20 pengulangan selama 1 tahun. Pasien akan dicek melalui telepon apakah mereka mempraktekannya atau tidak. Pada akhir program mereka akan dievaluasi oleh investigator yang tidak mengetahui akan pembagian kelompok mereka.

Parameter evaluasi : Nyeri Nyeri dievaluasi menggunakan Visual Analogue Scale (VAS)

14

Six-minute walk test Pasien berjalan secepat mungkin pada koridor 25m selama 6 menit kemudian diukur seberapa jauh pasien bisa berjalan Sit-to-stand test Pasien disuruh untuk berdiri dari kursi kemudian duduk secepat mungkin, selama 1 menit diukur berapa kali pasien bisa duduk berdiri untuk mengukur kekuatan ekstremitas bawah. Quality of life assessment Kualitas hidup diukur dengan menggunakan Quality of Life Questionnaire of the European Foundation for Osteoporosis (Qualeffo-41) dan Short-Form (SF)-36. 1. Qualeffo-41 meliputi 5 domain kesehatan yaitu : pain, physical function, social function, general health and mental function. Kelima domain tersebut terbagi lagi ke dalam subdomain yaitu : pain (Qualeffo-A), physical function activities of daily living (Qualeffo-B), physical function jobs around the house (Qualeffo-C), physical function mobility (Qualeffo-D), social function (Qualeffo-E), general health status (Qualeffo-F), mental function (Qualeffo-G)

Skor dijumlah dari rentang skala 0-100, dimana 0 mengindikasikan status kesehatan yang baik dan 100 mengindikasikan status kesehatan yang sangat buruk. 2. SF-36 adalah skala pengkajian yang sering digunakan untuk menilai kualitas hidup dan tidak spesifik untuk usia tertentu, penyakit tertentu atau pun kelompok penanganan tertentu. Kuesioner ini berisikan 36 pertanyaan yang mengevaluasi konsep kesehatan umum dan terdiri dari 8 bagian yaitu : physical functioning (10 items), physical role limitation (4 items), emotional role limitation (3 items), bodily pain (2 items), social functioning (2 items), mental health (5 items),

15

vitality (4 items), general health (5 items)

Number of falls Angka kejadian jatuh selama satu tahun dicatat.

Analisis : Analisis statistik menggunakan SPSS v. 13.0.

Hasil : 1. Pengukuran sebelum pemberian intervensi Berdasarkan usia dan hasil evaluasi dasar, tidak ada perbedaan kriteria yang signifikan antara Group 1 dan Group 2 kecuali pada hasil sit-to-stand test.

2. Pengukuran setelah pemberian intervensi Berdasarkan hasil evaluasi dia akhir program, didapatkan peningkatan yang signifikan di semua parameter pada kelompok Pilate exercise (Group 1). Pada kelompok home exercise (Group 2) juga didapatkan peningkatan yang signifikan hampir di semua parameter kecuali pada parameter Qualeffo- Leisure Time Activities, SF-36 physical role limitation and SF-36 emotional role limitation subscales.

16

3. Perbandingan peningkatan antara Group 1 dan Group 2 Kelompok yang menerima Pilate excercise secara signifikan mengalami peningkatan yang lebih dibandingkan dengan kelompok yang menerima Home exercise.
17

4. Angka kejadian jatuh Kejadian jatuh sangat jarang ditemui selama periode penelitian. Angka kejadian jatuh tidak tertulis secara statistic karena sedikitnya angka kejadian.

Diskusi Efek dari menderita osteoporosis itu sangat banyak mulai dari nyeri kronik, peningkatan kifosis, berkurangnya tinggi, dan berbagai hambatan dalam melakukan aktivitas akibat nyeri sehingga semuanya itu akan berefek lebih lanjut pada kualitas hidup pasien. Pilates exercise terbukti memiliki manfaat dalam meningkatkan kekuatan tubuh dan fleksibilitas. Selain itu exercise ini juga dapat meningkatkan kemampuan motorik sehingga mengurangi resiko jatuh. Thoracic extension exercise memberikan efek yang bermanfaat dengan memperbaiki postur dan mengurangi resiko fraktur vertebral. Kedua intervensi tidak memimbulkan komplikasi atau efek samping sehingga aman untuk dipraktekkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, meskipun Thoracic extension exercise memiliki efek yang lebih rendah daripada Pilate exercise namun Thoracic extension exercise dapat disarankan kepada pasien yang tidak cocok dengan program Pilate Exercise.
18

Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Pilate Exercises merupakan penanganan alternatif yang efektif dan aman yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien dengan postmenopausal osteoporosis. Hasil positif potensial pada penelitian selanjutnya mungkin berkontribusi pada penerimaan program Pilate Exercise sebagai standar pendekatan terapeutik pada osteoporosis.

C. Analisis Jurnal II Judul: Bisphosphonates vs Exercise for the Prevention and Treatment of Osteoporosis

Penulis: Ben Hurley, PhD, and Terry Jessup Armstrong, FNP-BC

Introduction: Di Amerika Serikat hampir 12 juta orang yang berumur lebih dari 50 diperkirakan menderita osteoporosis, dan hampir 34 juta beresiko mengalami penurunan BMD (Bone Mineral Density). NOF (National Osteoporosis Foundation) merekomendasikan untuk

perempuan post menopaus dan laki-laki diatas 50 tahun setidaknya mencukupi asupan kalsium paling sedikit 1200 mg/ hari dan vitamin D 800 sampai 1000 IU per hari untuk orang orang yang beresiko kekurangan kalsium dan vitamin D. WHO menetapkan standar terapi pengobatan untuk orang dengan patah tulang akibat osteoporosis yang telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration), diantaranya adalah biphosphonate (alendronat, risedronat,

zeledronic acid), kalsitonin, estrogen/terapi hormone, paratiroid hormone. Tujuan dari review ini adalah untuk mendiskusikan mengenai manfaat biphosphonate dan olahraga rutin untuk orang yang beresiko patah tulang pada wanita yang osteoporosis pos menopaus dan laki-laki yang osteoporosis.

19

Biphosphonate untuk Mengurangi Resiko Patah Tulang Patah tulang adalah hal yang sering terjadi sebagai akibat dari osteoporosis pos menopaus dan biphosphonate ditetapkan sebagai treatment awal untuk orang dengan resiko patah tulang. Pengurangan resiko patah tulang belakang dapat dengan menggunakan 4 tipe biphosphonate, yaitu alendronat (Fosamax), risedronate (Actonel), zoledronic acid (Reclast), dan ibandronate. Pada penelitian acak terkontrol menunjukkan bahwa fosamax, actonel, dan reclast dapat mengurangi resiko patah tulang belakang, tulang-tulang lain, termasuk tulang panggul. Berkebalikan dengan olahraga rutin, biphosphonate digunakan untuk menghambat reabsorbsi kalsium dari tulang, yang mengakibatkan meningkatnya Bone Mineral Density.

Latihan Rutin untuk Mengurangi Resiko Patah Tulang Beberapa studi kohort prospektif pada laki-laki dan perempuan, serta penelitian studi kasus menunjukkan bahwa penurunan resiko patah tulang panggul terjadi pada responden yang secara fisik aktif dibanding dengan responden yang tidak aktif. Pada penelitian meta-analisis dengan studi kohort prospektif, Moayyeri et al menunjukkan bahwa terdapat penurunan resiko patah tulang panggul sebesar 38% pada wanita dan sebesar 45% pada laki-laki yang melakukan aktivitas fisik sedang sampai berat. Mekanisme spesifik dari penurunan resiko patah tulang karena melakukan aktivitas fisik belum diketahui secara pasti. Tetapi diperkirakan karena adanya perubahan Bone Mineral Density. Terdapat sedikit peningkatan BMD saat melakukan olahraga rutin. Peningkatan BMD dapat berpengaruh pada peningkatan kekuatan tulang, pembentukan tulang (osteogenesis), mengurangi resiko jatuh (peningkatan kekuatan otot, peningkatan keseimbangan). Oleh karena itu olahraga rutin sangat penting dalam mengurangi resiko patah tulang pada wanita yang mengalami osteoporosis pos menopaus. Kesimpulannya, baik terapi biphosphonate dan terapi olahraga secara rutin dapat mengurangi resiko patah tulang.

20

Biphosphonate untuk Meningkatkan Bone Mineral Density BMD yang rendah adalah factor resiko utama untuk terjadinya patah tulang panggul karena osteoporosis. BMD menurun secara bermakna pada wanita 2 sampai 5 tahun setelah menopaus. Pengurangan secara bermakna pada patah tulang ditunjukkan bahkan hanya dengan sedikit peningkatan BMD. BMD dapat mempengaruhi bagian yang berbeda dari tulang belakang. Contohnya pada pasien yang 3 tahun mengkonsumsi actonel, BMD meningkat hanya pada bagian lumbar dianding dengan femoral.

Olahraga Rutin untuk Meningkatkan Bone Mineral Density Untuk meningkatkan BMD dengan olahraga rutin, jaringan tulang harus mendapat asupan rantai mekanis yang berasal dari kontraksi otot. Rantai mekanis pada tulang yang dihasilkan dari kontraksi otot menstimulasi pembentukan tulang pada bagian permukaan (periosteum). Ada banyak aktivitas yang kita lakukan setiap harinya, salah satunya adalah penguatan otot. Aktivitas penguatan otot seperti latihan ketahanan, loncat, lompat, naik tangga lebih dapat membentuk tulang daripada aktivitas yang pengaruhnya lemah seperti berenang dan bersepeda. Aktivitas penguatan otot lebih besar pengaruhnya untuk pembentukan tulang dibandingkan dengan weight bearing (lebih berat). Meloncat atau melompat 10 kali sehari dapat meningkatkan proses pembentukan tulang sama halnya seperti meloncat atau melompat 40 kali sehari. Jadi penguatan otot itu penting walaupun durasinya tidak lama.

Bisphosphonates vs latihan untuk BMD (Bone Mineral Density) Peneliti menemukan 1 buah penelitian pada manusia yang membandingkan efek pemberian bisphosphonates dengan program latihan. Penelitian ini

membandingkan antara pemberian intravena Reclast dengan program latihan di rumah langsung dengan arahan rekaman latihan, pedometer, dan konseling motivasi pada pasien kemoterapi kanker payudara. Dilaporkan bahwa kekonsistenan dan besarnya peningkatan BMD cenderung lebih besar dengan pemberian terapi bisphosphonates daripada pemberian program latihan. Mengenai hal itu, ditemukan 1 kelebihan program latihan dibandingkan

bisphosphonates yaitu mampu meningkatkan struktur (massa otot) dan fungsi


21

(keseimbangan, kekuatan, kelenturan otot) yang tidak terdapat pada pemberian bisphosphonates. Peningkatan tersebut dapat menurunkan resiko jatuh dan

meningkatkan kekuatan tulang. Meskipun begitu, bisphosphonates pun memiliki kelebihan dibanding program latihan karena mampu secara konsisten dan lebih besar meningkatkan BMD.

Bisphosphonates dalam meningkatkan kekuatan tulang Antiresorptive agent mampu menurunkan resiko fraktur dengan mencegah pembentukan tulang, yang berdampak meningkatan kekuatan tulang. Dari penelitian yang ada, boniva (salah satu bisphosphonates) mampu meningkatkan kekuatan vertebral, periperal, dan trabecular sebesar 6-8% dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Latihan rutin untuk kekuatan tulang Beck et all menemukan hubungan antara aktivitas fisik dengan BMD yang ditaksir berhubungan dengan aktivitas fisik dan kekuatan tulang. Peningkatan bentukan tulang dengan latihan rutin mampu mengarah pada peningkatan kekuatan tulang ditunjukkan dengan peningkatan geometri pada tulang.

Efek bisphosphonates vs latihan pada kandungan mekanikal tulang Dosis tinggi bisphosphonates dapat mengarah ke akumulasi kerusakan mikro yang sognifikan dan menurunkan kapasitas absorbsi energi pada tulang trabecular, menyebabkan adanya penurunan kekerasan tulang, yang mengarah ke peningkatan resiko fraktur. Sebaliknya, latihan bertarget mampu meningkatkan substansi kandungan tulang.

Kapan sebaiknya memulai latihan? Penelitian meta analisis RCT menunjukkan kemajuan yang signifikan pada kekuatan tulang dengan menjalani latihan rutin.

Resep latihan untuk kekuatan tulang Pemberian resep latihan dibagi menjadi 2 sesuai tujuannya: 1. Untuk mengoptimalkan osteogenesis dan kekuatan tulang

22

Penelitian merekomendasikan latihan rutin yang aman seperti berjalan, jogging dan latihan peregangan. Kemajuan bertahap frekuensi dari aktivitas latihan otot dan tulang lebih diutamakan dibanding dengan peningkatan beratnya latihan tanpa peningkatan frekuensi. The American College of Sports Medicine merekomendasikan kedua latihan berikut: a. Aktivitas aerobik, berguna untuk kekuatan tulang. Berupa tenis, naik tangga atau berjalan. Durasi yang disarankan 30-60 menit/hari, dengan frekuensi 35 hari/minggu dengan intensitas latihan 40-60% dari upaya maksimal dengan monitor denyut jantung. b. Latihan kekuatan, intensitas 5-12 kali pengulangan maksimal, dengan durasi 30-60 menit/hari dan dengan frekuensi 2-3 kali/minggu. Pemberian resep latihan mungkin bervariasi antara pasien, tergantung dari kondisi medis, ketersediaan waktu, dll. 2. Pencegahan jatuh Latihan yang dapat meningkatkan keseimbangan, kelincahan, kekuatan, tenaga, dan kebugaran kardiovaskular, seperti aerobik (berjalan, jogging).

Kesimpulan Terdapat bukti ilmiah bahwa program latihan dan bisphosphonates samasama mampu menurunkan resiko fraktur meski dengan mekanisme berbeda. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti bisphosphonates yang mampu meningkatkan BMD. Sehingga program latihan tidak seharusnya menjadi pengganti terapi bisphosphonates yang sudah dijadikan penagangan utama pada osteoporosis. Saran yang direkomendasikan berikan konseling kepada pasien untuk menjalani latihan secara rutin untuk pencegahan tulang keropos dan sebagai terapi tambahan non-farmako disamping pemberian terapi bisphosphonates.

23

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Osteoporosis post menopause terjadi ketika seorang wanita itu mengalami menopause maka kadar esterogen mulai menurun sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan antara sel penghancur (osteoklas) dan sel pembentuk tulang (osteoblas) sehingga aktivitas osteoklas lebih banyak daripada aktivitas osteoblas sehingga menyebabkan kerapuhan pada tulang. remodeling tulang juga diatur oleh beberapa hormon yang bersirkulasi, termasuk estrogen, androgen, vitamin D, dan hormon paratiroid (PTH). Sedangkan pada wanita menopause mengalami, defisiensi kalsium dan vitamin D, berkurangnya absorbsi kalsium pada usia lanjut, abnormalitas endokrin (hipertiroid atau hiperparatiroid), dan defisiensi estrogen. Sehingga remodeling tulang tidak dapat berlangsung dengan baik. Sehingga proses remodeling tulang tidak adekuat. Hal ini menyebabkan penghancuran tulang lebih banyak dari pada pembentukannya. Hal ini menyebabkan massa tulang menurun dan mengakibatkan kerapuhan pada tulang. 2. Penanganan osteoporosis post menopause berdasarkan evidence meliputi : a. Pilates excercise adalah sebuah program latihan spesifik yang dikembangkan setelah Perang Dunia I oleh Joseph Pilates (1880-1967). Tujuan dari Pilates training adalah untuk meningkatkan fleksibilitas tubuh secara umum dan meningkatkan kesehatan dengan berfokus kepada kekuatan otot pada tubuh dan koordinasi postur dan pernafasan. Pirates exercise berisikan 9 macam latihan utama yaitu : postural education, maintaining neutral position, sitting exercises, antalgic exercises, stretching exercises, proprioceptive training, and respiratory training. b. Bisphosphonates untuk meningkatkan kekuatan tulang serta mampu meningkatkan kekuatan vertebral, periperal, dan trabecular sebesar 6-8% dibandingkan dengan kelompok plasebo. c. Olahraga rutin untuk meningkatkan bone mineral density yang mampu meningkatkan struktur (massa otot) dan fungsi (keseimbangan, kekuatan, kelenturan otot).
24

B. SARAN 1. Sebagai perawat bisa mengaplikasikan ilmu ini atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang menderita osteoporosis dengan baik dan benar. 2. Perawat sebaiknya memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara mencegah penyakit osteoporosis dan mengajak masyarakat untuk menjauhi alkohol, nikotin dan kafein. 3. Para penderita osteoporosis sebaiknya menjaga pola kesehatannya, misanya dengan berolahraga secara teratur, sehingga dapat mencegah penurunan massa tulang. 4. Perawat mampu memberikan konseling kepada pasien bagaimana cara untuk mengatasi osteoporosis baik cara farmako maupun nonfarmako.

25

DAFTAR PUSTAKA

AACE. (2010) American Association of Clinical Endocrinologist Medical Guidelines For Clinical Practice for the Diagnosis and Treatment of Postmenopausal Osteoporosis. Endocrine Practice,16, 1-37. Hurley, Ben and Armstrong, Terry Jessup 2012, Bisphosphonates vs Exercise for the Prevention and Treatment of Osteoporosis, The Journal for Nurse Practitioners - JNP, Vol.8, Issue 3, pp. 220-224. doi: 10.1016/j.nurpra.2011.07.029 Kucukcakr Nurten, Altan Lale, and Korkmaz Nimet 2013, Effects of Pilates Exercises on Pain, Functional Status and Quality of Life in Women with Postmenopausal Osteoporosis, Journal of Bodywork & Movement Therapies , vol.17, pp. 204-211.

26

LAMPIRAN

27