Anda di halaman 1dari 22

BAB I SYUKURILAH NIKMAT ALLAH SWT 1.

1 Perintah Mensyukuri Nikmat Allah Swt Jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan yang sejati, yang harus kita lakukan pertama kali adalah mensyukuri nikmat Allah Swt. Sesungguhnya nikmat Allah yang diberikan kepada kita tidak terhitung dan tidak terbatas, nikmat-nikmat itu datang silih berganti baik pada waktu siang atau malam. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim: 34, yang artinya : Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Allah SWT juga berfirman dalam surat QS. Al-Nahl: 5, yang artinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah -lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada -Nya lah kamu meminta pertolongan 1.2 Nikmat Hidayah Nikmat hidayah yang berupa iman dan islam adalah nikmat yang paling agung dan paling besar yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Allah SWT berfirman dalam QS. AlMaidah: 3, yang artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat -Ku, dan telah Ku ridhai Islam jadi agama bagimu. Dan Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Arof: 43, yang artinya: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah 1

yang telah menunjukkan kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Dengan hidayah, kita bisa cahaya iman dan cahaya islam. Kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, yang menguntungkan dan yang merugikan yang membawa kebahagiaan dan membawa kesengsaraan. 1.3 Nikmat Kesehatan Sebagian nikmat yang sering kita lupakan adalah nikmat bahwa kita bisa merasakan sehat dan kita bisa merasakan sakit. Jadi, tanpa adanya rasa sakit kita tidak akan bisa merasakan betapa nikmatnya hidup sehat. Satu ungkapan yang harus senantiasa kita camkan : kesehatan adalah sesuatu yang sangar mahal namun tidak ada orang yang menjual. Kesehatan yang harus kita syukuri bukan hanya sebatas kepada kesehatan fisik semata, namun juga kesehatan mental. Dapatkah kita membayangkan jikalau tubuh kita demikian sehat namun mental kita tidak sehat. 1.4 Nikmat Tubuh Diantara nikmat-nikmat Allah SWT itu adalah nikmat pendengaran, pengelihatan dan hati. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Nahl: 78 Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Dengan dikarunai nikmat tubuh ini, sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. 1.5 Nikmat Keselamatan Di antara kenikmatan itu adalah kenikmatan hidup aman di dalam negeri sendiri. Sesungguhnya kebutuhan manusia kepada hidup dalam kondisi aman lebih besar dari kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman, dan Ibrahim telah mendahulukannya

atas permintaan akan rizki sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah dalam QS. AlBaqarah: 126, yang artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya. Sebab manusia tidak akan makan dan minum dengan tenang dan baik jika dibarengi dengan ketakutan. Allah SWT berfirman tentang nikmat yang diberikan kepada penduduk Quraisy dalam QS. Al-Quraisy 3-4, yang artinya : Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kabah). (4)Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. 1.6 Nikmat Ilmu Sebagian dari nikmat yang harus kita syukuri adalah nikmat ilmu. Dengan ilmu, kita bisa membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, dengan ilmu kita bisa mengetahui banyak hal. Dan dengan ilmu Allah SWT akan mengangkat derajat kita sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Mujadilah: 11, yang artinya : Allah akan mengangkat derajat orang orang yang beriman di antara kalian dan orang orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dengan ilmu kita bisa merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan oleh orang yang tidak berilmu. Dan untuk membuktikan rasa syukur kita karena keberadaan ilmu ini, kita harus mengamalkan sesuai dengan ilmu kita dan tidak segan segan mengajarkannya kepada orang lain. 1.7 Nikmat Harta Harta adalah nikmat yang sering digunakan sebagai tolok ukur manusia. Apabila ada orang yang berharta lebih dipandang mendapatkan kenikmatan yang lebih. Dan apabila orang mendapatkan harta yang hanya sedikit merasa bahwa dirinya hanya mendapat harta yang sedikit. 3

Alangkah bahagianya kita seandainya bisa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita dan alangkah sengsaranya, apabila kita tidak pandai pandai mensyukuri nikmat Allah SWT. Marilah kita ikuti Rasulullah Saw di dalam mensyukuri nikmat Allah SWT. Meskipun beliau tidak mempunuai dosa namun beliau senantiasa beristigfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Meskipun beliau sudah dinyatakan memiliki budi pekerti yang agung namun masih rajin melakukan shalat malam dan ibadah yang lainnya.

BAB II SABAR 2.1 Sabar Melaksanakan Perintah Allah SWT Sabar dibagi menjadi tiga yaitu sabar dalam melaksanakan perintah Allah SWT, sabar dalam menghindarkan diri dari yang dilarang oleh Allah SWT dan sabar terhadap bala yang ditakdirkan dan musibah menimpa, yang manusia tidak punya kehendak dan pilihan padanya. Teladan kesabaran didalam melaksanakan perintah Allah SWT dapat kita ambil dari perjalanan hidup para Rasul. Sabagai kekasih Allah SWT, mereka bukannya dari melaksanakan perintah Allah SWT namun justru mendapatkan perintah yang berat. Para rasul sering diperintahkan melaksanakan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan oleh orang lain. Allah berfirman dalam QS. As-Sajdah:24, yang artinya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Kita yang tidak mendapatkan ujian kesabaran yang sangat berat, apakah sudah dapat melaksanakan perintah Allah SWT dengan penuh kesabaran. Kita sangat sulit untuk mengorbankan waktu dan kesibukan untuk segera melaksanakan perintah Allah SWT. Kita sering mendahulukan menonton televisi daripada menjawab adzan untuk segera shalat berjamaah. Kita merasa berat unutk bangun malam dan melaksanakan shalat berjamaah namun tidak berat untuk menyaksikan televisi yang menayangkan sepak bola piala dunia. Marilah kita merenung sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri, bisakah kita mengutamakan perintah Allah SWT dibanding dengan yang lain. apabila kita sudah bisa melaksanakan perintah Allah SWT niscaya Allah SWT akan memberikan kebahagiaan di dalam hidup kita. Hidup akan menjadi tenang, rejeki akan menjadi penuh berkah dan didalam melaksanakan perintah Allah SWT kita bisa istiqamah. 2.2 Sabar Dalam Menjauhi Larangan Allah SWT Bersabar yang kedua adalah bersabar di dalam menjauhi larangan Allah SWT. Di dalam benak kita harus tertanam suatu keyakinan bahwa Allah SWT tidak melarang kita 5

melakukan sesuatu kecuali apa yang dilarang oleh Allah SWT itu membahayakan bagi diri kita. Segala yang diperintahkan oleh Allah SWT pasti ada manfaatnya dan segala yang dilarang oleh Allah SWT pasti menimbulkan madharat. Mayoritas manusia beralasan bahwa tabiat mengalahkan mereka dan sesungguhnya mereka tidak mampu menahan diri dan tidak bisa sabar. Dan jikalau salah seorang dari mereka bersungguh-sungguh melawan nafsunya niscaya ia bisa menahan amarah, menahan diri dari yang haram, meluaskan dadanya, qana'ah (menerima) pemberian Allah SWT kepadanya, dan tetap tegar menghadapi cobaan yang ditimpakan Allah SWT kepadanya. Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang berusaha menjaga diri (dari yang haram), niscaya Allah menjaganya (dari yang haram), barangsiapa yang merasa cukup niscaya Allah memberikan kekayaan kepadanya, dan barangsiapa yang berusaha sabar niscaya Allah memberikan kesabaran kepadanya" Sebenarnya segala yang ada pada manusia baik itu sesuatu yang disenangi maupun sesuatu yang dibenci adalah ujian baginya. Jika ia mau bersyukur atas anugerah Allah SWT maka ia akan diberi pahala dan jika ia mau bersabar atas bencana yang menimpanya maka ia akan diberi pahala oleh Allah SWT. 2.3 Bersabar Dalam Menghadapi Musibah Bentuk kesabaran yang ketiga dan yang paling berat adalah bersabar ketika menerima musibah atau bencana. Allah berfirman dalam QS. Al-Furqan:20 yang artinya : Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi yang lain.Sanggupkah kamu bersabar Dan Rabbmu Maha Melihat. Bencana adalah sesuatu yang pasti dihadapi oleh Rasul. Meskipun para nabi dan para rasul itu adalah kekasih Allah SWT dan senantiasa melaksanakan perintah Allah SWT serta menghindarkan diri dari larangan Allah SWT, namun mereka juga mengalami musibah. Bahkan musibah yang diterima oleh nabi dan rasul lebih berat daripada musibah yang diterima oleh manusia biasa.

Pahala sabar sangat tinggi sehingga Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk membangunkan sebuah rumah khusus bagi orang yang mau bersabar. Kesabaran memang terasa pahit pada saat melaksanakannya namun akan berubah menjadi manis akhirnya. Musibah yang datang kepada kita bisa dimungkinkan karena tiga hal. Pertama karena Allah SWT menguji keimanan kita. Musibah yang kedua bisa berupa teguran. Artinya, musibah tersebut dikarenakan kelalaian kita sesaat, dan musibah yang ketiga adalah azab, yaitu musibah yang dikarenakan kesalahan yang kita lakukan secara terus menerus. Oleh karena itu, apabila kita sedang mendapatkan musibah, sewajarnyalah kita intropeksi diri, apakah itu karena kelalaian kita atau bukan. Jikalau musibah itu karena kelalaian kita, maka kita harus secepatnya mohon ampun kepada Allah SWT dan jangan sampai mengulanginya. Dan jikalau nusibah itu bukan karena kelalaian kita, maka sebaiknya kita bersabar menghadapinya.

BAB III TERIMALAH APA ADANYA Menerima apa adanya dalam bahasa arab artinya Qonaah. Qonaah berasal dari bahasa Arab qonaa yang berarti cukup atau merasa cukup. Banyak yang mengartikan bahwa qonaah adalah menerima apa adanya. Dalam arti bukan hanya menerima apa adanya tanpa ada usaha selanjutnya. Berapapun hasil usaha, sedikit atau banyak ia menerimanya dengan lapang dada atau rasa syukur. Tapi masih terus ada usaha untuk menambah usahanya tersebut. Jadi, orang yang qonaah adalah orang yang telah berusaha maksimal dan menerima hasil usahanya tersebut dengan rasa syukur dan ada usaha untuk berusaha dengan lebih baik lagi. Berusaha untuk mencapai yang lebih baik lagi bukan berarti serakah atau rakus terhadap dunia. Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Saat ini, dimana perkembangan ekonomi sangat pesat. Kebutuhan manusia pun semakin meningkat. Sangat sulit untuk menjadi pribadi yang qonaah. Disaat kita hanya mampu mempunyai sepeda motor. Kawan-kawan kita sudah bisa membeli mobil. Entah bayarnya secara cash atau kredit. Kadang terbersit dalam hati kita keinginan untuk bisa mempunyai seperti apa yang orang lain punyai. Padahal belum tentu kita mampu untuk seperti mereka. Akhirnya dengan berbagai cara kita berupaya untuk bisa mempunyainya. Walaupun sebenarnya itu belum perlu. Atau dalam kita bekerja, kita hanya memperoleh hasil yang tidak sesuai target atau tidak seperti biasanya, kita grundel, memaki-maki hasil yang diterima. Padahal hasil seperti itu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Nah, pada saat seperti itulah Allah menganjurkan kepada kita untuk bersyukur terhadap apa yang kita terima. Sebagaimana firmanNya dalam QS. Ibrahim:7, yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Setan selalu menggoda manusia untuk tidak Qonaah terhadap dunia. Akibatnya manusia selalu merasa kurang terhadap apa yang diberikan oleh Allah. Memang sifat 8

Qonaah itu tidak jatuh dari langit dengan sendirinya kepada manusia, tetapi harus diasah dan dilatih. Dan hanya dengan sikap sabar bisa menumbuhkan sifat Qonaah. Sabar untuk selalu berusaha merasa puas terhadap apa yang didapatnya. Dengan sifat Qonaah ini, orang akan selalu merasa bersyukur, sehingga mudah baginya untuk berbagi kepada orang lain dan dapat menghilangkan sifat serakah dalam hati. Seorang yang qanaah akan terhindar dari berbagai akhlak buruk yang dapat mengikis habis pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan akhlak buruk lainnya. Faktor terbesar yang mendorong manusia melakukan berbagai akhlak buruk tersebut adalah tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tamak akan dunia dan kecewa jika bagian dunia yang diperoleh hanya sedikit. Balasan yang Allah berikan kepada kita jika bersikap qonaah adalah kita akan merasakan kehidupan di dunia ini dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam An-Nahl: 97. yang artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan 3.1 Rakus (Tamak) Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar. Dari definisi diatas bisa kita fahami, bahwa tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini sebagai sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama. Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh beliau seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam

mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak. Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup. Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu tamaknya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba-Nya. Orang yang ragu-ragu terhadap jaminan Allah SWT menafikan kewajiban yang diamanatkan kepadanya serta rajin mencari apa yang dijamin untuknya sehingga mengambil yang menjadi jaminan untuk orang lain. Inilah yang terjadi pada orang tamak. Bagaimana bisa dia menghampiri Allah, jika amanat yang diserahkan kepadanya diabaikan dan tanggungjawab yang dipikulkan kepadanya pun ia campakkan. Tamak dan sangkaan tidak berpisah. Kekuasaan, pangkat dan harta tidak memerdekakan seseorang yang tamak, dia hanya boleh merdeka jika dia membuang sifat ini. Apabila tidak ada lagi keinginannya untuk memiliki apa yang berada di dalam tangan orang lain, barulah dia bebas berjalan menuju Allah SWT. 3.2 Dengki Dengki adalah salah satu sifat yang disebabkan oleh seseorang karena tidak mau menerima apa adanya. Kedengkian akan mencukur amal kita dan akan menghilangkan semua amal baik kita sebagaimana api membakar rumput yang kering tidak akan menyisakan sedikitpun dari amal baik kita. Rasa iri bisa membuat orang gelap mata dan memandang selalu dengan suudzan. Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya bahwa keberhasilan yang diraih orang yang dibencinya lewat jalan yang tidak benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar. Bila sudah begitu iri hati lebih berbahaya daripada sakit kronis yang susah diobati. Dengki timbul karena tiupan setan, karena itu segera redam dengan ber-taawwudz kepada Allah. Caranya dengan membaca ayat kursi dan muawwidzatain. Atau membaca, Audzu

10

bikalimatillahi at tammah min syarri ma khalaq. (aku berlindung kepada kalimat allah yang sempurna dari kejelekan mahluk-Nya). Cara untuk menghindari sifat dengki adalah : 1. Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT 2. Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT 3. Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya 4. Meningkatkan sifat Qanaah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT) 5. Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia. 6. Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud 7. Membiasakan diri menghormati pendapat orang lain agar terhindar dari konflik 8. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik, karena Allah bersama orang yang berbuat baik 9. Membiasakan diri senang dan bersyukur serta memberikan selamat atas keberhasilan/kebahagiaan orang lain

11

BAB IV BEPIKIRLAH POSITIF 4.1 Segala Sesuatu Ada Hikmahnya Salah satu sebab kita tidak bisa merasakan kebahagiaan adalah karena kita memiliki prasangka buruk. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-hujarat : 12, yang artinya : Wahai orang yang beriman janganlah kalian berprasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa. Orang yang didalam hatinya tertanam prasangka buruk tidaklah akan merasakan bahagia di dalam kehidupannya. Oleh karena itu kita harus senantiasa berfikir positif. Sesungguhnya segala yang terjadi pada diri kita adalah pelajaran yang sangat berharga. Ada hikmah hikmah yang dapat kita petik dalam perjalanan hidup kita yang tidak bisa berguna bagi diri kita sendiri namun juga bisa berguna bagi orang lain. Kita sering tidak mengetahui hikmah terjadinya suatu peristiwa. Suatu peristiwa yang kita anggap getir sering berujung manis dan peristiwa yang kita anggap manis ternyata getir adanya. Oleh karena itu, bukan nasib dan takdir yang kita tetapi namun apa yang ada di dalam diri kita yang kita benahi. Apabila kita sudah bisa membenahi kerusakan kerusakan dalam diri kita sendiri, maka insyaAllah, Allah SWT akan merubah nasib kita. Oleh karena itu, perasaan malas, takut, dan sebagainya harus kita singkirkan dari dalam diri kita. Ingatlah, pada dasarnya Allah SWT memberikan nikmat yang tidak terhitung kepada kita, namun kita sendirilah yang merubah nikmat tersebut menjadi bencana. Apa yang dialami bangsa kita persis seperti sebuah negeri yang diceritakan di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam QS. An Nahl: 112, yang artinya : Dan Allah telah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman tentram rejekinya mengalir dari segala penjuru dengan melimpah ruah lalu penduduk negeri itu kufur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah meninpakan kepada mereka pakaian lapar dan ketakutan karena akibat perbuatan yang telah mereka lakukan.

12

Persis seperti apa yang telah difirmankan Allah SWT keadaan megeri kita ini. Negeri kita dahulu aman dan tentram. Rejekinya mengalir dari segala penjuru. Indonesia terkenal sebagai negara agraris, mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Hasil bumi melimpah ruah, negara kita yang terdiri atas beribu- ribu pulau yang dipisahkan oleh lautan memiliki nilai lebih tersendiri. Hasil tambang, hasil laut, hasil pariwisata, dan lain sebagainya melimpah ruah menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan makmur gemah ripah loh jinawi. Kemakmuran yang dimiliki indonesia tidak membuat bangsanya menjadi bangsa yang syukur nikmat. Banyak kejahatan di indonesia. Suksesi kemimpinan telah dilakkukan namun kondisi indonesia belum juga membaik. Kenyataan yang terjadi di negara kita, indonesia ini akhirnya menggugah sebagian dari warganya. Bangsa ibdonesia yang beberapa saat kaku tidur nyenyak, kini sebagian sudah terjaga. Kini berbagai elemen masyarakat bahkan sampai kepada aparat pemerintah rajin menggelar doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar berkenan memulihkan bangsa indonesia. Jadi sepahit apapun kenyataan yang sedang kita hadapi, kita tidak perlu marah dan mengumpat karena semua itu akibat polah tongkah kita juga. Kita harus bisa berfikir positif bahwa problem problem ini sengaja diciptakan Allah SWT untuk kita agar kita kembali mengingat Dia dan mawas diri kepada kesalahan dan kekurangan kita. 4.2 Kegagalan Adalah Pelajaran Kegagalan adalah momok yang sangat menakutkan bagi orang banyak. Kegagalan membuat malu, frustasi dan merasa rendah diri. Kegagalan adalah proses yang wajar dialami oleh setiap manusia. Akan tetapi, setiap orang mempunyai cara yang berbeda beda di dalam menghadapi kegagalan. Ada orang yang frustasi, stress, dan bahkan menjadi gila hanya karena suatu kegagalan. Demikian mengarikannya akibat dari kegagalan. Agar kita dapat menerima kegagalm dengan hati yang lapang, maka kita harus bisa memahami bahwa kegagalan adalah proses sebuah keberhasilan. Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf: 87, yang artinya : Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang kafir

13

Apabila kita sudah memehami bahwa kegagalan adalah suatu proses yang harus dilalui oleh setiap orang, maka sebaiknya kita berfikir positif terhadap kegagalan yang sedang kita hadapi dan hasilnya yaitu sebuah kesuksesan yang luar biasa.

14

BAB V IKHLASLAH DALAM BERAMAL Ikhlas adalah kata yang akrab di telinga kita namun masih jauh dari hati kita. Perasaan ikhlas di dalam beramal ini sangat prinsip di dalam agama islam. Allah SWT berfirman di dalam QS. Al Bayyinah: 5, yang artinya : Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas. keikhlasan adalah perintah Allah SWT, kita tidak mengetahui mana perbuatan yaang pada das benar-benar dilandasi dengan keikhlasan hati dan mana yang tidak. Para ulama banyak merumuskan makna perbuatan ikhlas. Secara garis besar, perbuatan ikhlas itu adalah perbuatan yang bersih dari sifat pamer, sombong, ingin dipuji seseorang dan sebagainya. Memang boleh jadi seseorang terlihat ikhlas didalam melakukan suatu perbuatan namun pada dasarnya didalam harinya sewaktu-waktu bisa muncul sifat pamer dan sombongnya. Ternyata apa yang disebut dengan keikhlasan itu bukanlah sesuatu yang mudah. Keikhlasan adalah ruh sebuah ibadah. Artinya, ibadah tanpa dilandasi oleh keikhlasan jiwa, maka ibadahnya bagai jasad tanpa ruh yang tidak ada artinya. Di dalam hadits Rasulullah bersabda: Seseungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu, tidak pula kepada wajahmu. Akan tetapi, Dia melihat kepada hati dan perbuatanmu. (HR Thabrani) Begitu pentingnya ikhlas dan begitu tercelanya pamer.oleh karena itu hendaknya kita senantiasa memohon kepada Allah Swt agar mendapatkan keikhlasan di dalam melaksanakan ibadah. 5.1 Memperbanyak ibadah Begitu rahasianya keikhlasan itu sehingga tidak seorang pun mengetahui secara pasti amal siapakah yang ikhlas melainkan hanya mengetahui tanda-tandanya saja. Oleh karena itu kita perlu banyak-banyak melakukan amal shalih karena pada dasarnya kita 15

tidak mengetahui amal kita yang manakah yang diterima oleh Allah SWT dan amal manakah yang tidak diterima. Memang, pada awalnya kita belum bisa mencapai derajat keikhlasan dari amal yang telah kita lakukan. Akan tetapi Insya Allah apabila amalan itu sudah setiap hari rutin kita lakukan keikhlasan di dalam diri kitaakan tumbuh. 5.2 Antara Keikhlasan dan Keduniaan Ada kalanya ketika kita berniat melakukan sesuatu amal perbuatan baik secara tulus ikhlas, namun lama kelamaan menjadi tidak ikhlas lagi. Misalnya, kita hendak mengisi sebuah pengajian dilandasi rasa ikhlas karena mengharapkan ridha Allah SWT dalam menyebarkan ilmu, namun karena hal itu sudah sering terjadi dan kita mendapatkan pesangon yang tidak sedikit lalu tanpa terasa niat kita adalah karena pesangon tersebut. Sehingga apabila tidak ada pesangon, kita merasa kecewa, semua hal yang demikian tidak termasuk keikhlasan. Oleh karena itu, meluruskan niat di dalam melakukan sebelum melakukan perbuatan harus dilakukan agar apa yang dilakukan tersebut benar dan mendapat ridha Allah SWT. 5.3 Antara Keikhlasan dan Mata Pencaharian Di dalam melakukan perbuatan harus dilandasi oleh keikhlasan. Lalu bagaimana orang yang bekerja demi mendapatkan uang? Misalnya seorang guru mengajar karena ingin mendapatkan gaji. Tentu ia akan merasa kecewa apabila pada akhir bulan gaji yang ia harapkan tidak ia terimanya. Di dalam hidup, manusia memerlukan makan dan kebutuhan yang lainnya, dan makanan serta kebutuhan itu harus didapatakan dengan bekerja. Jadi bekerja demi mendapatkan gaji tidaklah berdosa selama pekerjaan tersebut tidak dilarang oleh agama.

16

BAB VI KEPASRAHAN 6.1 Keprasahan Hati Dalam menciptakan manusia Allah berkenan menganugerahkan sebuah kehendak, dianugerahkan pula nafsu dan akal. Dengan dua modal inilah muncul beragam karakter wayang baru bernama manusia, adakalanya manusia berwajah protagonis (baca: mukmin) maupun bertopeng antagonis (kafir). Namun jangan pernah melupakan, Allah SWT lah yang menggariskan semuanya, Dia menciptakan mukmin dan kafir dan akan mengembalikan mereka dalam keadaan mukmin dan kafir selaras kehendak taqdir-Nya. Allah SWT pula yang telah menciptakan perwujudan manusia lebih mulia dan lebih sempurna dibandingkan makhluk Allah SWT lainnya, meskipun terkadang satu dengan yang lain berbeda-beda kualitas kesempurnaannya. Ada yang cantik namun ada juga yang jelek, hanya saja semuanya tahu bahwa yang terjelek pun akan merasa lebih sempurna jika ia menyaksikan makhluk selain manusia di muka bumi. Sehingga ia pun tidak akan pernah berharap dirinya menjadi makhluk lain, selain manusia. Tidak ada satu pun yang tidak pernah diketahui Allah SWT. Segala apa yang ada dan terjadi selalu dalam intaian Nya. Termasuk segala yang pernah tersimpan rapat di lubuk hati yang paling dalam sekalipun. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah SWT Maha Mengetahui segala isi hati. Allah SWT berfirman QS al-Anam: 162163, yang artinya : Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah) Rangkaian kata-kata tersebut sering kita ucapkan langsung kepada Allah SWT dalam setiap sholat kita. sebagai bukti kesetian dan kepasrahan diri kita seutuhnya kepada Allah SWT. Setia dan rela hanya Allah SWT lah Tuhan kita. Dengan begitu kita sudah menyatakan kepatuhan segalanya untuk Allah SWT, sholat, ibadah, hidup, bahkan mati 17

pun hanya untuk Allah SWT semata. Betapa setianya kita setiap kali itu diucapkan dalam sholat. Kesetiaan yang sekaligus perwujudan kepasrahan kepada Allah SWT. Hanya Allah lah yang berhak mengatur kita, hanya Allah SWT lah yang berhak dan wajib disembah dan ditaati segala perintah dan larangan-Nya. Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk taat dan bertaqwa, kita senantiasa dituntut untuk berbuat yang benar dan baik dalam hidup ini. Jangan sampai ucapan kesetian dan kepasrahan kita kepada Allah SWT dalam setiap sholat hanya sebatas lipstick alias penghias bibir saja. Sementara hati kita dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat. Semua untuk Allah SWT, tapi dalam praktek kehidupan sehari-hari kita malah menantang Allah dengan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Sholat kita sangatlah khusuk, tetapi kita pun aktif melakukan perbuatan maksiat. Tidak ada munasiban (kesesuaian) antara ucapan dengan perbuatan. Lain ketika sholat, lain pula ketika berbuat. Kontradiktif. Allah SWT berfirman dalam QS ash-Shaff: 2-3, yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk menjadi yang terbaik, tentu saja tidak menginginkan kemurkaan Allah SWT atas segala perbuatan yang kita lakukan. Namun pada faktanya, justru sebagian dari kita melakukannya. Memang kita tidak menutup mata dengan kenyataan yang terjadi daat ini, dimana ide memisahkan perkara agama dari peraturan dalam kehidupan bermasyarakat tengah menggejala hebat. Ide yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang memang memiliki akidah sekuler ini, telah jadi primadona rujukan masyarakat kita. Tak bisa dipungkiri bahwa perilaku masyarakat kita yang amburadul adalah akibat mengadopsi nilai-nilai kapitalisme tersebut. Asas manfaat yang dijadikan sebagai tameng dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari kerap menghiasi berbagai kepentingan. Hanya dengan melihat suatu barang atau perbuatan itu bermanfaat, maka ia serta merta menggunakan barang tersebut atau melakukan perbuatan diyakininya mendatangkan manfaat, tanpa melihat halal atau haram barang dan perbuatan tersebut. Cuma karena melihat basahnya bisnis miras dan narkotika, ramai-ramai berusaha menjadi yang terdepan 18

dalam bisnis tersebut. Begitu pun ketika bisnis pelacuran menjadi primadona devisa dengan untung miliaran rupiah, juga serta merta mengkoordinir usaha seks bebas tersebut. Lalu, kalau begitu diletakkan di mana kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT? Setiap hari, paling tidak lima kali dalam sholat kita ucapkan kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT. Setia dan rela diatur oleh Sang Maha Pencipta. Pasrah dengan apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Kita manut saja. Karena hanya Allah SWT lah yang wajib disembah, wajib ditaati segala perintah dan larangan-Nya, sekaligus mengakui, hanya Allah SWT Pencipta kita. Kondisi masyarakat yang amburadul seperti ini, adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk berusaha menunjukkan arti kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT. Kesetiaan dan kepasrahan yang sebenar-benarnya. Kita harus berusaha konsisten dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat kita, lalu kita praktekkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Seharusnya bisa, karena kadang kala di hadapan manusia kita bisa menunjukkan kesetiaan dan kepasrahan. Kepada atasan, kita bisa setia dan pasrah, supaya atasan kita tidak mengusik posisi kita. Kemudian senantiasa kita memperlihatkan perilaku baik di hadapannya sebagai perwujudan kesetiaan dan kepasrahan yang sungguh-sungguh. Hanya kepada Allah SWT lah kita mempercayakan hidup kita, hanya kepada Allah SWT lah kita memasrahkan seluruh jiwa kita. Karena sebaik-baik taat adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang tidak dan tidak akan pernah menyuruh berbuat jahat dan kehancuran. Allah SWT berfirman dalam QS an-Nisaa: 13, yang artinya : Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Apabila kira sudah bisa pasrah dengan kepasrahan yang sesungguhnya dan tentunya sudah melaksanakan semaksimal mungkin apa yang seharusnya kita laksanakan, maka tidak ada alsan bagi kita untuk tidak berbahagia.

19

BAB VI PENUTUP Kesimpulan Kesimpukan yang dapat diambil adalah bahwa sesungguhnya kebahagiaan dan kenikmatan hidup bukan terletak pada harta yang banyak, istri yang cantik dan popularitas yang masyhur, namun terletak di dalam hati sanubari manusia. Namun, tidak setiap orang mampu memaknai dan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Untuk itu bersyukurlah atas nikmat yang didapatkan.

20

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i RINGKASAN ii KATA PENGANTAR DAFTAR ISI iv BAB I.....................................................................................................................................1 1.1Perintah Mensyukuri Nikmat Allah Swt.......................................................................1 1.2Nikmat Hidayah............................................................................................................1 1.3 Nikmat Kesehatan........................................................................................................2 1.4Nikmat Tubuh................................................................................................................2 1.5Nikmat Keselamatan.....................................................................................................2 1.6Nikmat Ilmu..................................................................................................................3 1.7Nikmat Harta.................................................................................................................3 BAB II....................................................................................................................................5 2.1Sabar Melaksanakan Perintah Allah SWT....................................................................5 2.2Sabar Dalam Menjauhi Larangan Allah SWT..............................................................5 2.3Bersabar Dalam Menghadapi Musibah.........................................................................6 BAB III...................................................................................................................................8 3.1Rakus (Tamak)..............................................................................................................9 3.2Dengki.........................................................................................................................10 BAB IV.................................................................................................................................12 4.1Segala Sesuatu Ada Hikmahnya..................................................................................12 4.2Kegagalan Adalah Pelajaran.......................................................................................13 BAB V..................................................................................................................................15 21 iii

5.1Memperbanyak ibadah................................................................................................15 5.2Antara Keikhlasan dan Keduniaan..............................................................................16 5.3Antara Keikhlasan dan Mata Pencaharian...................................................................16 BAB VI.................................................................................................................................17 6.1Keprasahan Hati..........................................................................................................17 BAB VI.................................................................................................................................20 Kesimpulan.......................................................................................................................20 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................vi DAFTAR RIWAYAT HIDUP.............................................................................................vii

22