Anda di halaman 1dari 30

I Tujuan

I.I Tujuan 1. Mengetahui jenis-jenis ala yang digunakan dalam pratikum oseanografi fisika 2. mengetahui prinsip-prinsip kerja, bentuk (gambaran) dan data yang dihasilkan dari tiap-tiap instrumen yang digunakan untuk pratikum oseanografi fisika 3. Mempelajari fungsi dan cara kerja alat instrumn yang digunakan dalam pratikum oseanografi

II. Tinjauan Pustaka

2.1

Alat pengukur suhu,salinitas dan kecerahan


CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur

2.1.1 CTD
karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas. Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas. Botol sampel berfungsi sebagai wadah sampel air sedangkan rosset berfungsi untuk mengatur penutupan botol. Kabel koneksi berfungsi sebagai penompang, dan juga berfungsi sebagai pengantar sinyal. Telekomando akan memberikan sinyal kepada rosset untuk menutup botol secara berurutan, setelah mengambil sampel air laut.Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak. Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman, salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan pengoprasian CTD dapat terekam.Sensor adalah sebuah piranti yang mengubah fenomena fisika menjadi sinyal elektrik. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas) (Hutabarat,S,1984).

a.Sensor Tekanan. Sensor tekanan merupakan sensor yang memanfaatkan hubungan langsung antara tekanan dan kedalaman. Sensor ini terdiri dari tahanan yang berbentuk seperti jembatan wheatsrone kemudian dinamakan strain gauge. Strain gauge merupakan alat resistansi yang berubah ketika mendapat tekanan, Tahanan ini akan memegang peranan ketika mendapat gaya dalam bentuk fisika seperti tekanan, beban (berat), arus. b. Sensor Temperatur. Sensor temperatur adalah sensor yang berpengaruh terhadap suatu hambatan, dalam bentuk termistor. Termistor (tahanan termal) merupakan alat semikonduktor yang berperan sebagai tahanan dengan besar koefisien tehanan temperatur yang tinggi dan biasanya bernilai negative. Alatini terbuat dari campuran Oksida-Oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel, kobalt dll. c. Sensor Konduktifitas. Sensor konduktifitas merupakan sensor yang mendeteksi adanya nilai daya hantar listrik di suatu perairan. Sensor ini merupakan sensor yang terdiri dari tabung berongga danempet buah terminal elektroda platina-rhodium di belakang

sisinya. Sebagai sensor yang melewati nilai konduktifitas maka rata-rata hasil proses dalam pengukuran akan melewati nilai rendah ( low pass fliter). Sensor ini akan mulai mengukur ketika alat telah bergerak masuk kedalam air sampai pada posisi yang diinginkan. Sebenarnya sensor ini mengukur nilai konduktifitas untuk mengetahui nilai salinitas atau kadar garam di sebuah perairan sacara tidak langsung (Lewis, E.L. 1980).

Gambar 2.1 CTD

(Anonim,2010)

Pada prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via kabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal. Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas (Hutabarat,S,1984). 2.1.2 Refraktometer Refraktometer merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum. Juga disebut sebagai pengukur indeks pembiasan pada cairan yg dapat digunakan untuk mengukur kadar garam. Prinsip kerja dari refractometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan indeks bias cahaya untuk mengetahui tingkat salinitas air, karena

memanfaatkan cahaya maka alat ini harus dipakai ditempat yang mendapatkan banyak cahaya. Prinsip alat ini adalah dengan Alat ini sendiri memiliki satuan per ml dan percent (%). Didalamnya terdapat 2 parameter pengukuran, yakni salinitas di sebelah kanan dan densitas air di sebelah kiri. Dimana ketelitian alat ini sangat bergantung terhadap kemampuan visual dari praktikan, karena cara melihat hasilnya adalah dengan mata telanjang. Kalibrasi alat ini dilakukan dengan menggunakan aquades. Jika angka pada refraktomter telah menunjukan angka 0, maka alat ini telah siap digunakan (Zemansky,1994). Prinsip pengukuran: oleh cahaya, penggembalaan kejadian, total refleksi. Ini adalah pembiasan (refraksi) atau refleksi total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan 3 prinsip, satu dengan indeks bias disebut prisma. Cahaya merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel (cairan) dengan kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampel diukur dengan refleksi cahaya (Wikipedia, 2010).Refractometer ditemukan oleh Dr. Ernst Abbe seorang ilmuwan dari German pada permulaan abad 20.(Khopkar,SM,2007).Adapun prinsip kerja dari refractometer dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Dari gambar 2.2 dibawah ini terdapat 3 bagian yaitu :Sample, Prisma dan Papan Skala. Refractive index prisma jauh lebih besar dibandingkan dengan sample. 2) Jika sample merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan lebar dikarenakan perbedaan refraksi dari prisma dan sample besar. Maka pada papan skala sinar a akan jatuh pada skala rendah. 3) Jika sample merupakan larutan pekat / konsentrasi tinggi, maka sudut refraksi akan kecil karena perbedaan refraksi prisma dan sample kecil. Pada gambar terlihar sinar b jatuh pada skala besar

Gambar 2.1 refraktometer (Anonim,2012) 2.1.3 Horiba

Gambar 2.2 refraksi pada Refraktometer

Horiba adalah alat pengkur kualitas suatu perairan. Horiba U-10 water quality checker memberikan akurasi air laboratorium dan kemudahan push-tombol operasi, untuk

pengukuran kualitas air di lapangan. The U-10 sangat ideal untuk memeriksa kualitas air dalam aplikasi seperti drainase limbah pabrik, perkotaan, air sungai, danau dan air rawa, tangki budaya air, pasokan air pertanian dan air laut. Instrumen mengukur enam parameter: pH, suhu, oksigen terlarut, konduktivitas elektrolitik, kekeruhan dan salinitas. Salah satu faktor salinitas otomatis koreksi memungkinkan U-10 untuk mengukur oksigen terlarut dalam baik segar atau air garam. Sebuah aliran-melalui sel item sewa opsional dan memungkinkan in-situ pengukuran dari sumur pemantauan. Horiba's U-50. Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui kualitas air pada suatu tempat dimana memungkinkan perhitungan di atas 11 parameter kualitas air (Zemansky,1994). Horiba adalah suatu alat untuk aplikasi yang menuntut panjangnya kabel, dalam pengukuran pada berbagai poin-poin, atau menghubungkan pemeriksaan dengan alat untuk memilih komponen penting dari table atau data berikut. Multi-Probe Sensor mampu memeriksa kedalaman, daya konduksi, temperatur, dan kekeruhan (Anonim,2011) Berbagai parameter fisika-kimia sangat dibutuhkan untuk mengetahui kualitas air.Horiba memiliki fungsi yang cukup lenkap .Melalui horiba kita dapat mendapatkan berbagai parameter-parameter fisika kimia serta ,diantaranya adalah : DO,PH,temperatur,konduktivitas,kedalaman,salinitas dan penggunaan yang sederhana (Agus,2000). turbidity.Sehingga horiba

merupakan gabungan dari berbagai alat pengukur parameter yang di jadikan satu kesatuan

Gambar 2.4 Horiba (Anonim,2012)

2.1.4 Secchi Disk Secchi disk adalah alat yang berfungsi untuk mengukur tingkat kecerahan serta tingkat penetrasi cahaya dalam perairan. Tingkat kecerahan menyatakan tingkat cahaya yang diteruskan ke dalam kolom air dan yang jatuh agak lurus pada permukaan air.Kemampuan penetrasi cahaya matahari di pengaruhi kekeruhan air,suspensi dalam air (lumpur),planktonik,jasad renik warna air (Hutabarat,1984).

Gambar 2.5 Secchi disk ( Anonim,2010) Prinsip dari secchi disk sebagai berikut,piringan di turunkan ke dalam air secara perlahan menggunakan pengikat/tali sampai pengamat tidak melihat bayangan secchi. Saat bayangan piringan sudah tidak tampak, tali ditahan/berhenti diturunkan. Selanjutnya secara perlahan piringan diangkat kembali sampai bayangan tidak tampak kembali. Kedalaman air dimana piringan tidak tampak dan tampak oleh penglihatan dalah pembacaan dari alat ini. Dengan kata lain, kedalaman kecerahan oleh pembaca piringan secchi disk adalah penjumlahan kedalamman tampak dan kedalaman tidak tampak bayangan secchi di bagi dua. Warna hitam dan warna putih di gunakan karena hitam dapat mewakili gelap dan putih mewakili warna cerah. Jadi,pemantulan panjang gelombang dari bahan berwarna putih dan hitam. Inilah yang menjadi dasar pengukuran kecerahan menggunakan instrument secchi disk. Prosedur memasukkan secchi disk dalam air menurut Davies-Colly : Gunakan ukuran secchi yang tepat untuk mengukur kecerahan (20 mm 0.15-0.5m , 60 mm 0.5-1.5 m ,200mm 1.5-5m ,600mm 5-15m) yang dicat putih atau hitam pada kuadran dan diberi pemberat agar tali tetap lurus. Kedalaman secchi merupakan rata-rata dari hilang munculnya kembali. Pembacaan dimungkinkan dilakukan siang hari. Kedalaman sedikitnya 50% lebih besar dibanding kedalaman secchi ,kecerahan laut dinyatakan dalam meter (m). Berikut ini standar data kecerahan pada model data yang berbeda : Data titik kecerahan disimpan dalam field kecerahan dengan presisi sebesar 0,1 m. Data garis adalah data kecerahan dalam format garis memiliki interval 2m. Garis yang ada tergantung dari nilai minimum dan maksimum yang ada. Secchi disk terbuat dari bahan akrilik 250-300 mm pemberat terbuat dari bahan stainless steel dan terdiri dari dua bagian yaitu 2 bagian warna hitam dan 2 bagian warna putih (Rhicard,1998).

2.2

Alat pengukur gelombang

2.2.1 Palem gelombang

Palem gelombang merupakan papan kayu dengan panjang 4 meter,lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah,perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombang melewati titik tertentu.

Gambar 2.6 Palem gelombang (Anonim,2010) Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati batas puncak gelombang dan batas lembah gelombang yang melewati wave pole yang diletakkan disekitar 30 m dari garis pantai untuk kemudian dicatat perhitungan periode gelombang dilakukan dengan cara ; pertama menentukan titik tetap dari letak wave pole dengan jarak 2 meter,3 meter,4 meter,dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode waktu gelombang.Periode gelombang dihitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang telah di tentukan (Wibisono, M.S. 2005).

2.3

Alat pengukur pasang surut

2.3.1 Palem pasut Palem pasut merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1-2 inci dan lebar 4-5 inci.Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan palem pasut ini harus pada kondisi muka air terendah ( lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi ( highest water ). Dengan demikianmaka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui. Dan dari data yang dicatat dari skala tersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu.Dalam pemasangannya rambu tersebut diskrup atau ditempelkan secara vertikal pada tiang penyangga yang cocok (Hutabarat,1984).

Gambar 2.7 Palem pasut (Anonim,2011) Lokasi rambu harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Bila seluruh rambu pasut dapat terendam air, maka air laut tidak dapat dipastikan kedudukannya.Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar ( leveling).Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah rambu pasut harus dipasang terendam air laut, maka rambu dituntut pula harus terbuat dari bahan yang tahan air laut. Rambu pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Akan tetapi dalam hal ini biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan muka surutan setempat,sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutan tersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu (Pariwono, J.I. 1987). 2.3.2 Tide gauge Tide gauge yaitu alat yang digunakan untuk mengukur muka air laut secara otomatis. Perubahan muka laut disebabkan oleh pasang naik dan surut muka laut harian (gaya tarik bulan dan matahari), angin dan tsunami. Informasi yang diperlukankan untuk peringatan ini adalah pasang surut seketika sebelum terjadinya tsunami untuk peringatan ini di lokasi tersebut, kemudian pasang naik akibat tsunami adalah maklumat peringatan dini untuk lokasi yang lebih jauh. Accelerograph dan tide gauge dipasang pada tempat yang sama dalam sebuah shelter di pantai yang dilengkapi dengan sistem komunikasi dan sistem alarm. Peringatan pertama untuk kewaspadaan datang dari accelerograph apabila mencatat getaran kuat. Peringatan kedua datang dari tide gauge setelah mencatat perubahan mendadak muka laut. Dua peringatan tersebut disampaikan kepada: i.Masyarakat setempat berupa alarm ii. Aparat setempat yang bertugas untuk

koordinasi evakuasi iii.BMG pusat untuk sistem monitoring dan maklumat darurat agar disebarkan ke lokasi lain. Tide gauge dibagi menjadi 3 yaitu floating tide gauge ,pressure tide gauge dan tide staff. a. Floating tide gauge Prinsip kerja alat pengukuran pasut ini berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat. Alat ini harus dipasang pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh gerakan air laut sehingga pelampung dapat bergerak secara vertical dengan bebes. Pengamatan pasut dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan rambu pasut. (Pariwono, J.I. 1989). Di pantai dimana terdapat ombak pecah, atau dimanapun ada gangguan permukaan air yang minimal, kisaran pasang surut dapat diukur dengan rangkaian papan yang sudah terbagi-bagi dalam kelas-kelas tertentu. Air yang mengarah ke pantai akan terukur pada interval-interval yang tertera pada papan. (Pariwono, J.I. 1989). Papan yang paling dekat dengan pantai harus mencapai atas air pada saat terjadi high water, dan yang jauh dari pantai harus mencapai mean low water level agar pada saat surut terendah dapat terbaca skalanya. Perlu berhati-hati dalam pembacaan pada papan yang sudah lapuk. Papan pengukur pasang surut juga dapat dipasang pada bendungan-bendungan dekat pantai, di penggalangan kapal dan struktur-struktur lain yang airnya tenang. (Pariwono, J.I. 1989). Jika menginginkan pengukuran yang akurat maka pengukuran dilkukan di tempat yang pengaruh gelombangnya sedikit. Dekat pantai di atas mean high water biasanya dibuat penampungan yang dasarnya kira-kira 3 sampai 6 kaki ke bawah dari level lowest low water (Pariwono, J.I. 1989). Penampungan dihubungkan ke laut dengan pipa yang sempit yang menurun sampai ke dasar. Ujung dari pipa dibuat semacam alat penyiram air yang dimaksudkan untuk pengairan dan buoy akan menahannya pada daar laut. Jika pengaruh gelombang tidak terasa pada kedalaman ini maka level air pada penampungan hanya menggambarkan pergerakan pasang surut. Pada saat lautan terlihat tenang di permukaan, maka pada penampungan air alirannya lancar dan level air akan terukur oleh papan berskala. (Pariwono, J.I. 1989).

Gambar 2.8 Floating tide gauge (Anonim,2010) Mengukur pasang surut akan sulit dan akan menghabiskan waktu, untuk mengatasi masalah ini digunakanlah marigraph. Marigraph adalah alat pengukur pasang surut otomatis yang akan mencatat sendiri kisaran pasang surut. Alat ini akan memberikan catatan yang konstan dari level air. Berikut ini adalah gambar marigraph:(Pariwono, J.I. 1989). Pelampung, yaitu F akan naik turun dengan terisinya air di penampungan yaitu R. Kawat tembaga dihubungkan ke pelampung yang melewati drum yaitu G, dikerenakan pada drum akan terjadi perubahan level air. Pergerakan pada drum ditransmisikan ke stylus (pena jarum untuk mencatat) yang akan mencatat perubahan yang terus-menerus pada scarik kertas (Pariwono, J.I. 1989). b. Pressure tide gauge Prinsip kerjanya sama dengan floating tide gauge, hanya saja gerak naik turunya permukaan air laut, dapat diketahui dengan perubahan tekanan, yang terjadi di dasar laut. Alat ini diletakkan di dasar laut dan dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit), yang kemudian data diolah dengan mengkonversikan tekanan yang tercatat ke dalam nilai kedalaman, sehingga akan kita dapatkan model pasang surut pada daerah tersebut. Alat ini dipasang sedemikian rupa,sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut (LLW). Namun demikian alat ini jarang sekali digunakan untuk pengamatan pasut (Pariwono, J.I. 1989).

Gambar 2.9 Pressure tide gauge (Anonim,2010) c. Tide Staff Merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan tide gauge ini haruslah pada kondisi muka air terendah (lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi (highest water). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui. Dan dari data yang dicatat dari skala tide gauge tersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Dalam pemasangannya rambu tersebut disekrup atau ditempelkan pada posisi vertical pada tiang atau penyangga yang cocok. Lokasi rambu harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Bila seluruh rambu pasut dapat terendam air, maka air laut tidak dapat dipastikan kedudukannya.Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar (leveling) (Pariwono, J.I. 1989).

2.4

Alat pengukur arus


Current meter atau dikenal juga dengan alat ukur arus, biasanya digunakan untuk

2.4.1 Current meter mengukur aliran pada air rendah. Alat ini merupakan alat pengukur kecepatan yang paling

banyak digunakan karena memberikan ketelitian yang cukup tinggi. Kecepatan aliran yang diukur adalah kecepatan aliran titik dalam satu penampang aliran tertentu. Prinsip yang digunakan adalah adanya kaitan antara kecepatan aliran dengan kecepatan putar balingbaling current meter. Seluruh current-meter mekanik mengukur kecepatan dengan melakukan pengubahan gerakan linear menjadi menjadi angular. Sebuah current-meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas. Juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan, dan simpel digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Indikator kinerja tergantung pada inertia dari rotor, gerakan air, dan gesekan dalam bearing.Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan verctical axis meter dan axis meter horizontal. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan arus laut sesuai dengan pengaturan pada current-meter. Sebelum current-meter ditempatkan, hubungan antara rotasi dan kecepatan dengan mempergunakan towing tank.Tiga type dari alat ukur kecepatan dengan mempergunakan hukum Faraday. Dimana konduktor (air) menggerakkan daerah medan magnet (diubah dengan kumparan berbeda kutub) yang menghasilkan voltase dengan adanya arus air. Jadi secara umum ada tiga jenis yang sering dipergunakan saat ini, prinsip electromagnetik dengan mengukur kecepatan mempergunakan hukum Faraday dengan menyatakan bahwa air mengakibatkan perubahan medan magnetik yang ada dalam bidang yang telah diatur sehingga menghasilkan tegangan yang berbeda secara linear sebanding dengan kecepatan arus.Elektrode dalam penelitian dapat mendeteksi tegangan yang dihasilkan oleh air. Karena current meter tidak bergerak bagian mereka tidak terganggu banyak sehingga tidak membutuhkan pemeliharaan yang terkait dengan permasalahan mekanik.(Hutabarat,1984)

Gambar 2.10 Current Meter (Anonim,2009)

Pengukuran kecepatan arus airr disebut dengan Water current meter yang secara prinsip terbagi menjadi tiga sistem,yaitu : 1. Sistem Pencacah Putaran, yaitu current meter yang mengkonversi kecepatan sudut dari propeller atau baling-baling kedalam kecepatan linear. Biasanya jenis ini mempunyai kisaran pengukuran antara 0,03 sampai 10 m/s. 2. Sistem Elektromagnetik, pada sistem ini air dianggap sebagai konduktor yang mengalir melalui medan magnentik. Perubahan pada tegangan diterjemahkan kedalam kecepatan. 3. Sistem Akustik, pada sistem ini digunakan prinsip Doppler pada transduser, juga biasanya berperan sekaligus sebagai receiver, yang memancarkan pulsa-pulsa pendek pada frekuensi tertentu. Pulsa-pulsa direfleksikan ataupun disebarkan oleh partikel-partikel dalam air dan terjadi pergeseran frekuensi dari yang diterima kembali oleh receiver, dimana hal tersebut dapat diukur sebagai kecepatan arus air ( Richards. P.R. 1998 ). 2.4.2 ADCP ADCP Kependekan dari Acoustic Doppler Current Profiler , alat yang digunakan untuk mengukur arus laut. Alat ini mengirimkan sinyal akustik frekuensi tinggi yang disebarkan kembali oleh plankton, sedimen terlarut, dan gelembung udara, yang diasumsikan bergerak dengan kecepatan rerata air. Perubahan Doppler (Doppler shift atau Doppler effect ) dari gema yang disebarkan kembali ini memungkinkan kita untuk menentukan kecepatan air. Proses lebih lanjut dari sinyal yang diterima memungkinkan kita untuk menentukan profil dari kecepatan dan arah arus. Kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial relatif,antar instrumen (alat) dan hamburan dilaut. Tiga beam akustik yang berbeda arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam keempat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap detik. Echo yang tiba kembali ke instrumen tersebut melebihi dari periode tambahan, dengan echo dari perairan dangkal tiba lebih dulu dari pada echo yang berasal dari kisaran yang lebih lebar. Profil dasar laut dihasilkan darikisaran yang didapat. Pada akhirnya, kecepatan relatif, dan parameter lainnya dikumpulkandiatas kapal menggunakan Data Acquisition System (DAS) yang juga secara optional merekam informasi navigasi, yang diproduksi oleh GPS.Perhitungan navigasi, menggunakan kalibrasi yang dilakukan sekali secaralengkap. Arus absolut yang melampaui kedalaman atau kedalaman referensi didapatkandari rata-rata kecepatan relatif kapal. Arus absolut pada setiap kedalaman dapat dibedakandari data terakhir dari kapal navigasi dan perhitungan relatif ADCP (Khopkar,S.M,2007).

Gambar 2.11 ADCP

Gambar 2.12 Pemasangan ADCP (Anonim,2010)

ADCP mempunyai dasar yang menjulang, dan mempunyai sensor tekanan untuk mengukur pasang surut dan rata-rata kedalaman laut. Time series dari kecepatan, terakumulasi dandari time series ini, kecepatan spektral dapat dihitung. Untuk mendapatkan ketinggiandiatas permukaan, kecepatan spektrum diterjemahkan oleh Pergeseran permukaan menggunakan kinematika linier gelombang. Kegunaan ADCP pada berbagai aplikasi : 1. Perlindungan pesisir dan teknik pantai 2. Perancangan pelabuhan dan operasional 3. Monitoring Lingkungan 4. Keamanan Perkapalan ADCP dapat menghitung secara lengkap,arah frekuensi gelombang spektrum,dan dapat dioperasikan didaerah dangkal dan perairan dalam. Salah satu keuntungan ADCP adalah tidak seperti directional wave buoy ,ADCP dapat dioperasikan dengan resiko yang kecil. Sebagai tambahan untuk frekuensi gelombang spektal, ADCP juga dapat digunakan untuk menghitung profil kecepatan dan juga level air Keuntungan ADCP : 1. Definisi yang tinggi dari arah aris/gelombang pecah

2. Logistik yang sederhana dengan bagian bawah yang menjulang. 3. Kerusakan yang kecil dan resiko yang kecil 4. Kualitas perhitungan permukaan yang tinggi yang berasal dari dasar

ADP/ADCP keistimewaannya meliputi: 1. Dapat bekerja di kapal dengan penentuan posisi yang lengkap termasukbottom-tracking dan permukaan laut untuk transek dengan menggunakanGPS 2. ADCP memberikan sistem real-time untuk pesisir pantai, dan monitoringpelabuhan 3. ADCP mudah digunakan untuk mengukur arus. 4. Mempunyai system otomatik yang dilengkapi dengan baterai dan perekamuntuk buoy lepas pantai atau bottom-mounting (Pariwono,J.I,1987).

2.5 Sampler
2.5.1 Botol nansen Botol Nansen adalah alat untuk mendapatkan sampel air laut pada kedalaman tertentu. Ini dirancang pada 1910 oleh penjelajah awal abad ke-20 dan ahli kelautan Fridtjof Nansen dan dikembangkan oleh Shale Niskin .(Anonim,2010) Botol, lebih tepatnya disebut silinder logam atau plastik, diturunkan dengan tali ke dalam laut dan ketika telah mencapai kedalaman yang diperlukan, berat kuningan atau disebut pemberat (messenger) terjatuh ke tali pemberat (messenger) mencapai botol, maka botol akan tertutup oleh sebuah pegas katup di bawah dan diatas botol lalu menjebak sampel air di dalamnya. Botol dan sampel kemudian diambil oleh surveyor menggunakan kabel atau tali. sampel air yang ada didalam botol ini lah yang akan digunakan nantinya untuk diteliti lebih lanjut.(Anonim,2010) Messenger dapat diatur ketika akan dijatuhkan, dan diturunkan ke bawah kabel / tali sampai mencapai botol Nansen. Dengan memperbaiki kedalaman dan messenger yang akan dijatuhkan ke botol menggunakan kabel/tali, serangkaian sampel air pada kedalaman tertentu dapat diambil.(Anonim,2011) Untuk mengukur suhu air laut di kedalaman air sampling dicatat melalui suatu termometer reversing tetap ke botol Nansen. Ini adalah air raksa termometer dengan penyempitan suhunya. dalam tabung kapiler yang ketika termometer dengan yang tersebut terbalik, dan menyebabkan benang terperangkap air raksa dan dapat menunjukkan berapa derajat Termometer non-dilindungi dipasangkan dilindungi, perbandingan kedua pembaca suhu secara baik dapat memungkinkan dan tekanan pada titik sampling dapat ditentukan.(Anonim,2011)

Gambar 2.12 Botol nansen (Anonim,2012) 2.5.2 Sedimen Grab Grab sampler berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya tergantung dari tinggi dan dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat ini biasa digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada perairan dangkal. Berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis grab sampler yaitu grab sampler berukuran kecil dan besar. Grab sampler yang berukuran kecil dapat digunakan dan dioperasionalkan dengan mudah, hanya dengan menggunakan boat kecil alat ini dapat diturunkan dan dinaikkan dengan tangan. Pengambilan sampel sedimen dengan alat ini dapat dilakukan oleh satu orang dengan cara menrunkannya secara perlahan dari atas boat agar supaya posisi grab tetap berdiri sewaktu sampai pada permukaan dasar perairan. Pada saat penurunan alat, arah dan kecepatan arus harus diperhitungkan supaya alat tetap konstant pada posisi titik sampling.( Anonim,2010 ) Grab Sampler yang berukuran besar memerlukan peralatan tambahan lainnya seperti winch (kerekan) yang sudah terpasang pada boat/kapal survey berukuran besar.

Alat ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk menyekop sedimen. Grab diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka sampai mencapai dasar perairan dan sewaktu diangkat keatas rahang ini tertutup dan sample sedimen akan terambil. Keuntungan pemakaian grab sampler adalah lokasi sampel dapat ditentukan dengan pasti, prakiraan kedalam perairan dapat diketahui, sedangkan kerugiannya adalah kapal harus berhenti sewaktu alat dioperasikan, sampel teraduk, dan beberapa fraksi sedimen yang halus mungkin hilang.(Anonim,2009)

Gambar 2.13 Grab sampler (Anonim,2010)

III MATERI METODE

3.1

Alat pengukur suhu,salinitas dan kecerahan

3.1.1 CTD CTD merupakan alat pengukur kedalaman dengan berdasarkan tekanan. CTD disebut juga echo sounder. CTD merupakan alat yang digunakan dalam sampling oseanografi untuk mengukur salinitas air laut, suhu setiap kedalaman air laut pada tempat dan kedalaman yang diinginkan. Berikut cara kerja CTD 1. Mulai dengan program akusisi data dan dilengkapi profil untuk mengidentifikasi data. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan dan letakkan botol sesuai dengan prosedur paemasangan.Alat ini terdiri dari 3 sensor utama, yaitu sensor tekanan untuk pengukuran kedalaman, thermistor sebagai sensor suhu ,dan sel induktif (conductivity) sebagai sensor salinitas, juga dapat diberikan sensor tambahan seperti sensor klorofil,kekeruhan,oksigen
2. Setelah kerangka (Rosette) diletakan pada posisinya dan CTD (Probe atau rangkaian sensor yang sudah di Set) diletakan di dalamnya, maka instrumen ini akan ke sisi (pinggir) kapal, lalu dihubungkan kabel-kabel interkoneksinya maka instrumen tersebut siap di turunkan .Ada 3 komponen utama dalam CTD yaitu CTD,perangkat komputer dengan softwerenya dan perangkat interface sebagai unit penghubung antara CTD dan komputer. CTD siap untuk diturunkan maka kontrol unit di set untuk kondisi ON. CTD mulai diturunkan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga kelapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali kepermukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, menggunakan strain gauge yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD pressure monitor atau quartz crystal

3. Pada saat CTD probe diturunkan maka pengiriman data ke kontrol unit juga di mulai. Perhatikan data yang di dapat dan keaadaan keceratan penurunannya. 4. Setelah mendapatkan data yang diinginkan maka stop penerimaan data dari Probe. Berhentikan juga perekaman data pada recorder. Kemudian dapat ditarik ke permukaan air, dengan catatan tidak ada lagi data yang di kirim oleh CTD dan dipastikan off. 5. Setelah unit data akusisi di- offkan dan instrument diletakan di atas kapal maka tekan End of Profile data dan diberhentikan akusisi program. Data yang di dapat bisa langsung disambungkan ke personal Computer atau direkam oleh Tipe Recorder. 6. Proses pengambilan data selesai.

(Hutabarat,S,1984) 3.1.2 Refraktometer Refraktometer merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum. Juga disebut sebagai pengukur indeks pembiasan pada cairan yg dapat digunakan untuk mengukur kadar garam(Zemansky,1994). Prinsip alat ini adalah dengan memanfaatkan indeks bias cahaya untuk mengetahui tingkat salinitas air, karena memanfaatkan cahaya maka alat ini harus dipakai ditempat yang mendapatkan banyak cahaya atau lebih baik kalau digunakan dibawah sinar matahari jadi sehabis kita mengambil sampel air laut kita langsung menghitungnya dengan alat ini. Berikut langkah - langkahnya : 1. Tetesi refraktometer dengan aquadest ,karena untuk memastikan agar alat yang akan digunakan tidak terkontaminasi dengan zat-zat yang lain.Menggunakan aquades karena aquades memiliki ph yang netral yaitu 7. 2. Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal 3. Teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya 4. Lihat ditempat yang bercahaya. Hal ini dikarenakan pengukurannya didasarkan atas prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prisma-cahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas. 5. Akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih 6. Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya 7. Bilas kaca prisma dengan aquades, usap dengan tisyu dan simpan refraktometer di tempat kering (Khopkar,SM,2007) 3.1.3 Horiba Horiba merupakan alat untuk mengukur kualitas suatu perairan. Cara penggunaan horiba sebagai 1) kita cek terlebih dulu apakah horiba tersebut berfungsi sebagaimana mestinya sebelum digunakan, dan hindari dari sinar matahari karena alat ini sangat sensitif terhadap cahaya. 2) kita tentukan terlebih dahulu kedalaman yang akan kita ukur. 3) lalu kita membuka penutup dari sensor untuk memulai pemerikasaan. 4) kita turunkan alat horiba tersebut perlahan-lahan atau pelan-pelan ke dasar perairan. Yang perlu diperhatikan bahwa yang dipegang bukanlah kabel yang tersambung pada horiba tetapi tali yang diikatkan pada kabel. Hal ini untuk menjaga apabila kabel pada horiba putus.

a. sesudah sampai kedalaman yang telah ditentukan lihat horiba tersebut berapa angka yang muncul. Dan data yang muncul bisanya berurutan dimana dari b. PH, DO, CONDUCTIVITY, SALINITY, TDS, SEAWATER SPECIFIC, GRAFITY, TEMPERATURE , TURBIDITY, DEPTH, ORP 5) kita catat data yang keluar dari horiba tersebut. 6) setelah itu kita angkat horiba pelan-pelan keatas kapal dengan memegang tali itu lagi 7) setelah selesai pengukuran dalam tiap stasiun horiba tersebut harus disiram dengan alkohol supaya netral lagi. 8) tutup sensor dari horiba, dan setelah ditutup hindarkan dari sinar cahaya matahari. (Anonim,2011) Cara Kalibrasi Urutan kerja kalibrasi Horiba adalah : 1. Siapkan buffer pH 7 dan buffer pH 4 2. Bilas elektroda dengan air DI (De Ionisasi/ air bebas ion) dan keringkan dengan menggunakan kertas tisu 3. Nyalakan Horiba dengan menekan tombol ON/OFF. 4. Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 7 5. Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 6. Angkat elektroda dari larutan buffer pH 7, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 7. Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 4 8. Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 9. Angkat elektroda dari larutan buffer pH 4, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 10. Pada layar bagian bawah akan muncul angka 7 dan angka 4 yang menunjukan Horiba tersebut telah dikalibrasi dengan buffer pH 7 dan buffer pH 4 11. Horiba telah siap digunakan (Anonim,2011) Cara Menyimpan Setelah alat dipakai, tutup kembali sensor dengan protektornya. Kemudian masukan kembali semua pada wadah yang ada, simpan di suhu kamar, jangan sampai terkena cahaya matahari secara langsung, jauhkan dari jangkauan anak kecil serta bahan-bahan yang mudah terbakar atau meledak (Anonim,2009) 3.1.4 Secchi disk Prinsip kerja

Piringan diturunkan kedalam air secara perlahan menggunakan pengikat/tali sampai pengamat tidak melihat bayangan secchi. Saat bayangan piringan sudah tidak tampak,tali ditahan/berhenti diturunkan. Selanjutnya secara pelahan piringan diangkat kembali sampai bayangan nampak kembali. Kedalaman air dimana piringan tidak tampak dan tampak oleh penglihatan adalah pembacaan dari alat ini. Dengan kata lain , kedalaman kecerahan oleh pembaca piringan secchi adalah penjumlahan kedalaman tampak dan kedalaman tidak tampak. Bayangan secchi dibagi menjadi dua warna hitam dan warna putih digunakan kerena hitam mewakili warna gelap dan putih mewakili warna cerah. Jadi pemantulan panjang gelombang dari bahan berwarna putih pengukuran kecerahan menggunakan secchi disk Gunakan ukuran disk yang tepat untuk mengukur kecerahan (20 mm 0.15-0.5m , 60 mm 0.5-1.5 m ,200mm 1.5-5m ,600mm 5-15m) yang dicat putih atau hitam pada kuadran dan diberi pemberat agar tali tetap lurus Pengukuran dilakukan disamping kapal yang terkena sinar matahari Waktu pembacaan cukup (minimal 2 menit) ketika disk dekat atau diangkat Catat kedalaman disk ketika disk hampir menghilang Angkat perlahan-lahan dan catat kedalaman ketika disk mulai terlihat kembali. Kedalam secchi disk merupakan rata-rata dari hilang muncul kembali Pembacaan dilakukan pada siang hari Kedalaman sedikitnya 50% lebih besar dibanding kedalaman secchi.Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran secchi disk : penglihatan pada waktu pembacaan,warna air,serta materi lain yang tersuspensi dan hitam inilah yang menjadi dasar

3.2

Alat pengukur gelombang

3.2.1 Palem gelombang Cara penggunaan wave pole (papan kayu panjang 4 meter berskala tiap 20 cm) : 1. Menentukan titik tetap dari letak palem pasut dengan jarak 2 meter,3 meter,4 meter dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode waktu gelombang. 2. Palem gelombang dikaitkan karung beras berisi pasir yang berfungsi sebagai alat pemberat yang berfungsi untuk menstabilkan tegakan palem gelombang.

3. Periode gelombang dihitung pada saat gelombang melewati palem gelombang sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telah di tentukan. Waktu dihitung menggunakan stopwatch dan hasil dicatat didalam buku 4. Perhitunggan perioe gelombang ini dilakukan 5 kali ulangan Data yang dihasilkan dari pengamatan gelombang dengan wave pole berupa data yang mempunyai skala pengambilan data yang tentu kemudian tiap waktu pengambilan data tersebut dicatat tinggi gelombang pada saat itu, periode gelombangnya dan arah gelombang kemudian di rata-rata. Spesifikasi : Papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm serta tebalnya 3cm, berskala tiap 20cm 3.3 Alat pasang surut 3.3.1 Palem Pasut Sederhana untuk mengamati pasut dilakukan dengan palem atau rambu pengamat pasut.Tinggi muka air setiap jam diamati secara manual oleh operator (pencatat) dan dicatat pada suatu fomulir pengamatan pasut. Pada palem dilukis tanda skala bacaan dalam satuan desimeter . Pencatat akan menuliskan kedudukan tinggi muka air laut relatif terhadap palem pada jam-jam tertentu sesuai dengan skala yang bacaan yang tertulis pada palem.Muka air laut yang relatif tidak tenang membatasi kemampuan pencatat dalam menaksir bacaan skala.Walaupun demikian alat ini cukup efektif untuk memperoleh data pasut dengan ketelitian sekitar 2,5 cm. Tinggi palem disesuaikan dengan karakter tunggang air pada wilayah perairan yang diamati,yang biasanya 4 hingga 6 meter (Anonim,2010). 3.3.2 Tide gauge a. Menggunakan Tide Staff
1. Memasang tide staff di daerah pasang surut yang masih terendam air pada saat

surut rendah.
2. Mencatat tinggi permukaan pada tide staff sebagai tinggi mula-mula. 3. Mencatat tinggi permukaan air setelah 1-2 jam tinggi permukaan lagi. 4. Menghitung kecepatan pasang surut sebagai selisih dari pegukuran

b. Menggunakan Floating Tide Gauge 1. Memasang denganbebas. Floating Tide Gauge pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhioleh pergerakkan air laut sehingga pelampung dapat bergerak vertikal

2. Mengikat pelampung dan penahan beban dan menghubungkannya dengan katrolyang terdapat pada encoder, sehingga gerakan pelampung dapat memutar katrol. 3. Mengukur tinggi muka air oleh alat dengan mendeteksi pergerakkan naik turun dariair dapat diketahui melalui pelampung yang sudah dihubungkan dengan alatpencatat. 4. Mengkonversikan perputaran yang terjadi pada katrol menjadi sinyal digital danditransfer ke unit data logger melalui kabel tranducer. 5. Memproses unit sinyal listrik tersebut didalam data logger menjadi nilai yang terukur. c. Menggunakan Pressure Tide Gauge 1. Memasang Pressure Tide Gauge pada tempat yang selalu dibawah permukaan air laut pada saat surut rendah 2. Menghubungkan Pressure Tide Gauge dengan alat pencatat 3. Mencatat data perubahan naik turunnya air laut yang direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat.

3.4

Alat pengukur arus Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus).

3.4.1 Current meter Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan partikel air yang melewatinya. Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran dapat memberikan kecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan rumus kalibrasi propeler tersebut. Jenis alat ini yang menggunakan sumbu propeler sejajar dengan arah arus disebut Ott propeler curent meter dan yang sumbunya tegak lurus terhadap arah arus disebut Price cup current meter. Alat ini terdiri dari flow detecting unit dan counter unit. Aliran yang diterima detecting unit akan terbaca pada counter unit, yang terbaca pada counter unit dapat merupakan jumlah putaran dari propeler maupun langsung menunjukkan kecepatan aliran. Untuk jenis yang tidak lamgsung menunjukkan kecepatan aliran, aliran di hitung terlebih dahulu dengan memasukkan dalam rumus yang sudah di buat oleh pembuat alat untuk tiap-tiap propeler. Cara kerja Current meter yaitu : 1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran. 2. Membentangkan kabel pada lokasi yang memenuhi persyaratan dan posisi tegak lurus dengan arah arus dan tidak melilit. 3. Menentukan titik pengukuran dengan jarak tertentu. 4. Memberikan tanda pada masing-masing titik. 5. Menulis semua informasi/keterangan yang ada pada pengukuran 6. Mencatat jumlah putaran baling-baling selama interval yang ditentukan (4079 detik),apabila arus air laut lambat waktu yang digunakan lebih lama (misal

70 detik),apabila arus air cepat yang digunakan lebih pendek misal (40 detik). 7. Menghitung kecepatan arus dari jumlah putaran yang didapat dengan menggunakan rumus baling-baling tergantung dari alat bantu yang digunakan. (Anonim,2010) 3.4.2 ADCP Prinsip kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial relatif, antara instrumen (alat) dan hamburan di laut. Tiga beam akustik yang berbeda arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam ke empat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap detik. Cara menggunakan: 1. Atur waktu mulainya pengukuran, waktu selesai, arah mata angin, koordinat bola bumi yang digunakan,dan intensitas pengukuran (misal : pengukuran tiap satu menit) 2. Tanam ADCP di dalam laut sesuai kedalaman yang dikehendaki 3. Pasang selama waktu yang ditentukan 4. ADCP akan merekam semua pameter yang telah disetting terlebih dahulu 5. Setelah selesai, ambil ADCP dan bawa ke atas kapal 6. Ambil data yang ada di dalam ADCP dan pindahkan ke komputer 7. Lakukan penglahan data Keuntungan: 1. Di masa lalu, mengukur profil kedalaman saat ini diperlukan penggunaan string panjang meter saat ini. Hal ini tidak lagi diperlukan. 2. Tindakan arus skala kecil 3. Berbeda dengan teknologi sebelumnya, ADCP mengukur kecepatan mutlak air, tidak hanya seberapa cepat satu massa air bergerak dalam hubungannya dengan yang lain. 4. Mengukur kolom air sampai dengan 1000m lama. Kekurangan : 1. Ping frekuensi tinggi menghasilkan data yang lebih tepat, tapi ping frekuensi rendah perjalanan jauh dalam air.Jadi para ilmuwan harus membuat kompromi antara jarak yang profiler dapat mengukur dan ketepatan pengukuran.

2. ADCP diatur ke "ping" juga cepat kehabisan baterai cepat (Anonim,2010) 3.5 Sampler 3.5.1 Botol nansen Botol nansen diturunkan dari kapal dengan menggunakan bantuan tali yang diikat pada botol nansen dan dipasang secara terbalik, setelah itu diturunkan pada kedalaman laut yang diinginkan, kemudian menggunakan bantuan massengger, nansen yang dipasang terbalik tadi akan kembali menutup secara otomatis, setelah di dalamnya terisi dengan air laut, setelah itu botol nansen tersebut siap diangkat dari laut ke atas kapal. Botol nansen yang terbuat dari logam atau plastik diturunkan dengan menggunakan tali ke dalam laut, ketika telah mencapai kedalaman yang diinginkan maka massengger akan jatuh ke tali setelah mencapai botol, botol tersebut akan terbalik dan menjebak sampel air di dalamnya. Botol dan sampel di ambil dan diangkut menggunakan tali. Massengger yang kedua dapat diatur agar terlepas oleh mekanisme pembalik dan bergeser ke bawah tali sehingga sampai mencapai botol nansen. Dengan memperbaiki urutan botol dan massengger pada interval sepanjang tali, serangkaian sampel pada setiap tingkatan kedalaman dapat diambil. Suhu air laut di kedalaman akan direkam dengan menggunakan termometer tertentu ke botol nansen. Termometer ini adalah termometer air raksa dengan penyempitan dalam tabung kapilernya, ketika termometer tersebut terbalik, menyebabkan tali berhenti dan termometer akan membaca suhu. Karena tekanan air pada kedalaman akan memampatkan dan mempengaruhi dinding termometer untuk menunjukkan suhu, maka termometer dilindungi oleh lapisan dinding yang tebal. termometer yang tidak dilindungi terlebih dahulu akan dipasangkan dengan pelindung, biasanya termometer ini digunakan untuk pembacaan suhu titik sampling pada tekanan yang memungkinkan. (Anonim,2010) 3.5.2 Sedimen grab Prinsip kerja Cara penggunaan alat grab sedimen cukup mudah, untuk pengambilan sampel sendiri dibutuhkan beberpa orang untuk melakukan nya, pertama buka bagian grab dengan penarikan pada tali, setelah grab terbuka lalu turan kan ke permukaan dasar laut secara perlahan, saat grab sedimen sampai didasar permukaan akan terasa dengan kendornya tali, maka kita dapat mengangkat grab,setelah pengangkatan kita dapat melakukan pengecekan apakah sudah terdapat sedimen yang cukup untuk kita pakai, setelah terasa cukup didapatlah sedimen yang terperangkap pada alat, maka

sedimen dapat disimpan diplastik untuk selanjutnya di bawa ke laboratorium untuk analisa lebih lanjut. Cara penggunaan greb sampler : 1. Grab sampler diikatkan pada tambang 2. Grab sampler diturunkun ke perairan atau di tempat sample sedimen yang diinginkan dalam posisi rahang terbuka 3. Ketika telah mendapatkan sampel, grab sampler diangkat dengan tenaga manusia atau secara manual,ketika grab sampler ditarik keatas,rahang grab sampler akan menutup dengan sendirinya agar sampler tidak berjatuhan.

IV KESIMPULAN & SARAN


4.1 Kesimpulan CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas Refraktometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Horiba merupakan alat untuk mengukur kualitas suatu perairan. Melalui horiba kita bisa mendapatkan berbagai parameter-parameter fisika-kimia, diantaranya adalah: DO, PH,temperatur, konduktivitas, kedalaman, salinitas serta turbidity Secchi disk salah satu alat yang dapat digunakan untuk menghitung jarak kecerahan suatu perairan Palem gelombang papan kayu persegi panjang yang berfungsi untuk mengukur tinggi gelombang pada suatu perairan dengan memanfaatkan periode,puncak dan lembah gelombang Palem pasut yang merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana yang berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Tide staff merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1-2 inci dan lebar 4-5 inci panjangnya harus melebihi tunggang pasut Floating tide gauge berdasarkan gerak naik turunya muka air laut yang dapat diketahui melaui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat.

Pressure tide gauge prinsip kerja sama seperti floating tide gauge,hanya saja pada alat ini berdasarkan tekanan yang berada didasar laut ADCP kepanjangan dari Acoustic Doppler Current Profiler alat yang digunakan untuk mengukur arus laut. Alat ini mengirimkan sinyal akustik frekuensi tinggi yang disebarkan kembali oleh plankton, sedimen terlarut, dan gelembung udara yang diasumsikan bergerak dengan kecepatan rerata air. Current meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan arus laut

4.2 Saran

Pratikan lebih memperhatikan asisten saat menjelaskan Pratikan juga berperan aktif ketika praktikum berlangsung agar terdapat

komunikasi yang baik antara asisten dengan pratikan

DAFTAR PUSTAKA

Hutabarat,S dan S.M Evans. 1984, Pengantar Oseanografi, Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud http://alvina.blog.uns.ac.id. Diambil pada tanggal 17 April 2013,pukul 23.45 WIB http://t-files-itb.tripod.com/survey_arus_laut_di_pulau_jukung_kepulauan_seribu/thumbnails.com. Diambil pada tanggal 17 April 2013 pukul 23.58 http://instrumentanalis.blogspot.com/2012/10/refraktometer.html. Diambil pada tanggal 18 April 2013 ,pukul 23.00 WIB http://Nikitakelautan2010.blogspot.com .Diambil pada tanggal 19 April 2013 ,pukul 00.10 WIB http://noc.ac.uk/f/content/science-technology/climate-sea-level/tide-gauge-intrumentation.com. Diambil pada tanggal 19 April 2013,Pukul 01.44 WIB http://perhubungan2.wordpress.com. Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 00.45 WIB http://seandy-laut-biru.blogspot.com. Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 01.45 WIB http:// randykundiarto.wordpress.com. Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 02.00 WIB http://yayatabdillah.blogspot.com/ Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 02.25WIB http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperature-depth.htmlDiambil pada tanggal 19 April 2013 Pukul 02.45 WIB

Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-PRESS

Lewis, E.L. 1980. The Practical Salinity Scale 1978 and its antecedents. IEEE J. Ocean. Eng., OE5(1): 3-8. Pariwono, J.I. 1987. Kondisi Pasang Surut di Indonesia. Kursus Pasang Surut, Jakarta: P3O LIPI, Pickard, G. L. 1993. Descriptive Physical Oceanography.Oxford: Pergamon Press Pond dan Pickard, 1978. Introductory to Dynamic Oceanography. Oxford: Pergamon Press Richards. P.R. 1998 Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia Resources Inventory Committee. Canada: BC Supangat, Agus. (2000) Pengantar Oseanografi. Bandung :ITB Wibisono, M.S. (2005) Pengantar Ilmu Kelautan.Jakarta : Grasindo Zemansky, Sears. 1994. Fisika untuk Universitas 3 Optika. Jakarta: Bina cipta. www.black-spong.blogspot.com Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 02.10 WIB www.scribd.com. Diambil pada tanggal 19 April 2013.Pukul 03.00 WIB

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OSEANOGRAFI FISIKA MODUL 1 PENGENALAN ALAT

Oleh: SHINTA WAHYU JUWITA 26020112130058 Asisten

SYLVIA FARDILLA 26020211130058

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

LEMBAR PENGESAHAN DAN PENILAIAN

No. 1 2 3 4 5 6

Keterangan Tujuan Tinjauan Pustaka Materi dan metode Kesimpulan Daftar Pustaka Bonus Total

Nilai

Semarang, Oktober 2012 Asisten Praktikan

Sylvia Fardilla 26020211130058

Shinta Wahyu Juwita 26020112130058

Mengetahui Dosen Mata Kuliah

Indra Budi Prasetyawan,S.Si.M.T NIP. 19791003 200312 1 002