Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan bagian dari kebudayaan.

Apabila mengkaji kebudayaan kita tidak dapat melihatnya sebagai sesuatu yang statis (tidak berubah), tetapi merupakan sesuatu yang dinamis senantiasa berubah. Hubungan antara kebudayaan dan masyarakat itu sangat erat karena kebudayaan itu sendiri memuat pandangan antropologi yang merupakan suatu kumpulan manusia dan masyarakat mengadakan sistem nilai yaitu berupa aturan yang menentukan suatu benda atau perbuatan lebih tinggi nilainya, lebih dikehendaki dari yang lain. (Semi, 1988: 54). Karya sastra juga memberikan hiburan dan kenikmatan di samping adanya tujuan estetik. Demikian juga dengan fiksi atau cerita rekaan menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurgiantoro dalam khairuddin (2010: 1) mengemukakan realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan yang meyakinkan, tetapi tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari. Keberadaan sastra dalam masyarakat penting sekali. Rokhman (2003: 5) menjelaskan efek sastra bagi masyarakat yaitu manusia yang tersentuh sastra akan melihat persoalan yang lebih urut dalam hidup karena apa yang dipahaminya dari teks-teks sastra merupakan potret kehidupan. Perbedaanperbedaan akan dipahami karena berangkat dari persepsi berbeda terhadap

suatu masalah. Akibatnya, toleransi akan lahir. Dengan kata lain, sastra membantu terciptanya cara berpikir yang demokrat. Sejalan dengan pandangan di atas, Bulton seperti dikutip Aminuddin (1995: 37) mengemukakan bahwa karya sastra tidak hanya menyajikan nilainilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga bisa memberikan pandangan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Banyak peristiwa dan permasalahan serta penyelesaian yang terdapat dalam karya sastra. Karya sastra juga dapat dimanfaatkan oleh pembaca dalam kehidupannya, baik dari segi moral, sosial, agama, ataupun masalah pendidikan. Hal ini merupakan tanggung jawab pengarang kepada pembaca, seperti yang diungkapkan Horatius dalam Khairuddin (2010: 3) bahwa tujuan pengarang menciptakan karyanya adalah memberikan manfaat dan

kenikmatan sekaligus mengatakan hal-hal yang enak dan berfaidah dalam kehidupan. Cerita rakyat suku Sasak ini mserupakan jenis sastra lama. Sastra lama merupakan bagian dari masyarakat dan umumnya diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebagai milik bersama. Sastra lama, baik yang berbentuk prosa maupun berbentuk puisi, adalah milik rakyat yang sejati sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Pengembangan, pewarisan, dan penyebaranya dilakukan dari mulut ke mulut secara tradisionl, sehingga sastra lama umumnya berbentuk lisan. (Khairuddin, 2010 : 4).

Ragam sastra lama umumnya berbentuk lisan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, penyalur pikiran, dan perasaan bagi penutur dan pendengarnya, tetapi juga berfungsi sebagai alat pencerminan sikap, pandangan dan tingkah laku kelompok. Dalam konteks sekarang, kepedulian masyarakat terhadap bentuk-bentuk kebudayaan lama sangat tipis. Tidak tertutup kemungkinan bentuk-bentuk kebudayaan lama ini suatu ketika akan terabaikan dan akan hilang tanpa bekas, termasuk sastra lisan yang tersebar di berbagai daerah. Kita tidak dapat menyangkal bahwa sastra lisan mempunyai peran yang penting dalam kehidupan masyarakat dan merupakan warisan budaya daerah yang berharga. Oleh karena itu, penelitian tentang sastra lama yang tersebar di berbagai daerah, terutama yang ada di daerah Lombok, sangat perlu dilakukan. Penelitian-penelitian tentang sastra lama memberikan pemaparan tentang tingkat kehidupan dan peradaban masyarakat pada masa lampau. Cerita prosa rakyat termasuk dalam kajian folklor, yang paling banyak diteliti oleh para ahli folklor. Menurut Wiliam R. Bascom, cerita prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) mite ( myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale) (Danandjaya, 1997 : 50). Cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar merupakan salah satu khazanah sastra lisan suku Sasak di pulau Lombok yang berbentuk prosa. Cerita rakyat Balang Kesimbar merupakan salah satu cerita rakyat suku Sasak yang populer di kalangan masyarakat Sasak. Cerita ini mengandung nilai-nilai

yang perlu diketahui oleh generasi sekarang, terutama aspek-aspek pendidikannya. Selain itu, jika kita memperhatikan dan mencermati peran keluarga sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal sekarang ini sudah mengalami pergeseran. Salah satu penyebab pergeseran ini adalah adanya pergeseran peran pengasuh dan pendidikan oleh orang tua yang digantikan oleh media televisi. Anak-anak yang masih belum bisa membedakan dan memilih mana tontonan atau acara televisi yang cocok dengan usia dan perkembangan mental mereka seringkali menonton tayangan-tayangan yang kurang pas. Ini semua kemudian tidak jarang berdampak pada perilaku anak yang tidak sesuai dengan tuntunan agama dan budaya mereka. Sebenarnya banyak cerita rakyat yang bisa dijadikan alat atau sarana oleh para orang tua dalam pendekatannya dengan anak. Dengan bercerita secara lisan, secara tidak langsung orang tua bisa mengarahkan atau memberi gambaran kepada anak bagaimana seharusnya seorang anak dalam bertingkah laku di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam realita yang kita hadapi saat ini, segala sesuatu biasanya dipandang dari segi materi saja. Anak-anak terutama di desa keruak tidak terlalu memperdulikan masalah pendidikan. Kebanyakan anak mengandalkan orang tuanya. Mereka tidak sadar jika pendidikan itu sangat penting dalam menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Dalam konteks inilah sangat diperlukan pendidikan dalam keluarga yang berbasis pada kearifan lokal, sehingga generasi-generasi muda tidak

kehilangan jati dirinya. Dan salah satu bentuk kearifan lokal tersebut adalah cerita rakyat (sastra lisan).

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian adalah. 1. Melalui tokoh siapakah nilai-nilai pendidikan dapat tercermin dalam cerita rakyat suku sasak baling kesimbar ? 2. Nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar ? 3. Bagaimanakah relevansi nilai-nilai pendidikan dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar dengan nilai pendidikan dalam realitas keluarga kehidupan masyarakat Sasak dewasa ini?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. untuk mendeskripksikan tokoh-tokoh yang kaitannya dengan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat balang kesimbar. 2. Untuk mendeskripsikan nilai pendidikan yang terkandung di dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar. 3. Untuk menemukan relevansi nilai pendidikan yang terdapat di dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar dengan keluarga sasak.

1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki dua manfaat utama, yakni manfaat teoritis dan praktis. 1. Manfaat teoretis Mengaplikasikan konsep-konsep teori strukturalisme yang berbasis pada prinsip antarhubungan unsur-unsur yang membangun struktur cerita Balang Kesimbar. 2. Manfaat praktis a. Guru Diharapkan hasil penelitian ini sebagai acuan dan referensi dalam mengajar terutama dalam pembelajaran sastra dan sebagai suatu acuan dalam mendidik anak terutama dalam pergaualan anak dalam kehidupan sehari-hari. b. Siswa Diharapkan hasil penelitian ini sebagai tambahan pengetahuan dalam ilmu sastra dan sebagai acuan dalam bergaulan dengan masyarakat dan dilingkungan sekolah. c. Instansi Diharapkan hasil penelitian ini sebagai bahan informasi dan studi banding bagi peneliti selanjutnya. Diharapkan dapat sebagai tambahan referensi khususnya dalam bidang .

BAB I1 KAJIAN PUSTAKA

2.1 Nilai Pendidikan Mitcheel dalam Harton dan Hunt (1991: 71) menjelaskan nilai berhubungan erat dengan harga. Yang dimaksudkan dengan harga adalah harga yang dinyatakan dengan uang atau barang atau jasa disebanding dengan nilai yang lain. Nilai adalah suatu bagian yang penting dari kebudayaan. Suatu tindakan yang dianggap salah. Artinya, secara moral dapat diterima. Senada dengan itu, Anton Muliono dkk. (1989 : 615) mengartikan nilai sebagai pengertian yang abstrak. Secara umum nilai berarti keberhargan atau suatu ciri atau sifat yang dimiliki oleh suatu hal. Anton Mulyono, dkk (1989 : 204), pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses perbuatan, cara mendidik. Dari uraian di atas, maka pengertian pendidikan itu sendiri adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan perubahan sikap dan prilaku seseorang melalui pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan

mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuain dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan (Fuad Ihsan, 1995: 2 ). Sejalan dengan pengertian tersebut, diperlukan usaha

untuk menanamkan nilai-nilai serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Karena bagaimanapun suatu masyarakat, didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha untuk mencapai tujuan hidupnya. Atau dengan kata lain, pendidikan sebagai suatu hasil peradaban yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup ( nilai dan norma masyarakat ) yang berfungsi sebagai pernyataan tujuan pendidikannya sekaligus juga menunjukkan bagaimana masyarakat berfikir dan berprilaku secara turun temurun kepada generasi berikutnya dalam pengembangannya akan sampai pada tingkat peradaban yang maju atau meningkatkan nilai-nilai kehidupan dan pembinaan kehidupan yang lebih sempurna. Sementara ( Purwanto, dalam Hadiatun, 2003 : 10 ) menyatakan bahwa pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anakanak untuk memimpin jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Jadi, pendidikan atau orang tua harus mendidik anak-anaknya supaya berguna bagi masyarakat tempat dia hidup. Mereka tidak begitu saja membiarkanb anak-anaknya tumbuh sendiri supaya anak tidak terpengaruh pemuasan dorongan nafsu, yang sudah tentu banyak bertentangan dengan apa yang berlaku dan dikehendaki oleh masyarakat. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan yang disesuaikan dengan lingkungan masyarakat dalam pembentukan kepribadian dan kemampuan anak menuju kedewasaan.

Pengertian nilai pendidikan yang dikemukakan di atas ternyata mencakup hal yang cukup luas dan tentunya akan berkaitan dengan nilai-nilai lain dalam kehidupan manusia seperti nilai agama, nilai sosial, nilai moral dan budaya, serta nilai ekonomi. Pemahaman terhadap nilai tersebut merupakan pemahaman masyarakat tentang nilai pandidikan dalam arti luas, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai tersebut akan menjadi pedoman dalam bertingkah laku bagi seluruh masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai seperti inilah yang merupakan asas abstrak yang mengikat anggota masyarakat yang dapat diamati dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar.

2.2 Macam-macam Nilai Pada dasarnya nilai-nilai yang terkandung pada setiap pasal itu tepat digolongkan dalam tiga nilai pokok yaitu nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial (Ahmad Yunus, 1990 : 105-115) 1. Nilai Keagamaan Sastra dengan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Banyak diantara karya sastra yang merupakan sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan. Dalam fungsinya sebagai sarana penyampaian nilai-nilai dan unsur-unsur keagamaan, Mursal Esten (Ahmad Yunus, dkk 1990 : 106) berpendapat ada tiga cara pengungkapan yang dapat kita lihat. Pertama mempersoalkan praktek ajaran agama; kedua menciptakan dan

mengungkapkan masalah berdasarkan ajaran-ajaran agama; ketiga kehidupan agama sebagai latar belakang.

Secara etimologi istilah agama berasal dari dua kata : A=tidak ; Gama= kacau. Jadi agama berarti tidak kacau.(Abdul Wahab :1993.8) Menurut H. Bahrun Rangkuti mengatakan, bahwa a adalah tidak dalam bahasa sangsakerta seperti halnya pada aneka ( a= tidak ; eka=satu). Jadilah aneka sama dengan lebih dari satu atau tidak satu. Tetapi a panjang ( agama ) artinya cara, jalan, gama mulanya gam yang berarti jalan, cara-cara berjalan, cara-cara sampai kepada keridahaan Tuhan. Jadi arti agama adalah segala perwujudan dan bentuk hubungan-hubungan manusia dengan tuhannya. Nilai-nilai agama dapat nampak dan kelihatan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sikap dan perilaku hubungan antara manusia dalam masyarakat. Sikap dan perilaku itu selalu diwarnai oleh nilai-nilai ajaran agama, akan diperaktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan akhirnya akan melembaga. Nilai-nilai inilah yang lama-kelamaan menjadi nilaiyang tetap dipertahankan kelestariannya. Hubungan antara sesama dalam masyarakat baik antar intern umat beragama maupun antar umat beragama dapat dikelompokkan atas tiga bentuk antara lain : 1. Hubungan antar individu dengan individu. 2. Hubungan antar individu dengan kelompok. 3. Hubungan antar kelompok dengan kelompok. Ketiga bentuk hubungan diatas lazimnya dapat terjadi antar umat beragama dan pemeluk agama lain. Dalam pergaulan hidup sehari-sehari baik formal maupun non formal selalu diwarnai oleh sifat- sifat religius.

10

Religius ini lebih banyak nampak dalam bentuk ucapan terutama dalam pidato seperti saya mendoakan ............................., kalimat sopan santun ( Abdul Wahab, 1993 :31 ). 2. Nilai Budaya Kata kebudayaan berasal dari bahasa sangsakerta yang berarti Budayah yang merupakan bentuk jamak dari kata Budi yang berarti akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal ( Soekanto, 1981 : 55 ). Keseluruhan sistim gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. ( Kontjaraningrat, 1990 : 180 ) disamping itu E.B. Tylor memberikan definisi tentang kebudayaan: Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan lainlain. Kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat . (Soekanto, 1981 : 55). Berpijak dari definisi diatas sudah jelas bahwa dengan belajarlah manusia bisa menciptakan karya-karya dalam masyarakat yang cukup sederhana apapun bentuk karya manusia itu. Hal ini disebabkan karena kebudayaan berarti segala hasil cipta, rasa, dan karsa. ( Hans Daeng, 1976 : 19 ).

11

Sastra mencerminkan nilai-nilai yang secara sadar diformulasikan dan diusahakan oleh warganya dalam masyarakat. Nilai budaya adalah aspek ideal yang terwujud sebagai konsepsi konsepsi abstrak yang hidup dalam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup. Dalam wujud yang lebih konkrit, aspek nilai budaya ini berupa norma-norma, aturan-aturan dan hukum yang menjadi pedoman bagi manusia dalam bertindak dan berpelilaku. 3. Nilai sosial Dalam tingkat abstraknya nilai-nilai sosial ini tanpak lebih nyata. Kalau nilai budaya merupakan gagasan-gagasan dan pola ideal masyarakat tentang segala sesuatu yang dipandang baik dan berguna, maka pada nilainilai sosial gagasan-gagasan itu telah dituangkan dalam bentuk normrnorma, aturan-aturan dan hukum. Nilai-nilai sosial inilah yang menjadi pedoman langsung bagi setiap tingkah laku manusia sebagaisebagai anggota suatu komuiti atau masyarakat. Yang didalamnya memuat sanksisanksi bagi siapa saja yang melanggarnya. Sosial adalah kemasyarakatan yang berhubungan dengan kepentingan umum ( KUBBI, 354 ). Sosial adalah gejala-gejala yang tidak sewajarnya yang dalam kehidupan masyarakat memerlukan perhatian dari sesama pihak. Masalah-masalah ini menyangkut nilai-nilai sosial yang merupakan persoalan bersama. Jadi sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-

12

unsur dalah kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok dari warga sosial. Masalah-masalah sosial yang menimbulakan adanya interaksi sosial yang berkisar pada ukuran nilai-nilai adat istiadat, tradisi, ideologi ( Abdul Wahab, 1993 : 247 ). Sistem sosial terdiri dari aktifitas-aktifitas atau tindakan berinteraksi antara individu yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai tindakan berpola yang saling berkaitan. Sistem sosial lebih konkrit sifatnya daripada sistem budaya, sehingga semuanya dapat dilihat dan diobservasi (Kontjaraningrat, 1996 : 95 ). 4. Nilai Moral Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila (KBBI, 1994). Moral dalam karya sastra biasanya menceminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkuta, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Moral dalam cerita, menurut Kenny (Nurgiatoro, 2005: 321), biasanya dimaksud sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.

13

Menurut Lillix dalam Saftini (2010: 9) kata moral dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara dalam kehidupan adat istiadat. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia secara garis besar dalam kehidupan manusia itu dapat dibedakan ke dalam manusia dengan sendiri, hubungan manusia dengan manusia, lain dalam lingkup sosial temasuk dengan hubungan lingkungan alam dan hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiantoro dalam Saftini, 2010: 10). Dalam pengertian lain disebutkan bahwa, sesuatu yang estetus adalah sesuatu yang dimiliki moral tidak ada kehidupan tanpa moral, ia bukan hanya semacam sopan santun ataupun etika belaka tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang universal. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsional, dasarnya adalah juga tentang nilai keindahan yang sekaligus merangkum nilai tentang moral (Estten dalam Saftini, 2010: 10). Sastra juga mengungkapkan nilai moral yang berguna bagi masyarakat sastra, karena di dalam karya sastra tersebut mendidik pembaca untuk bersikap sopan santun, bermoral dan bersusila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga, dituliskan juga oleh Halim dalam Saftini, (2010: 10) akhlak terpuji bahwa moral disinonimkan dengan akhlak yang merupakan sebuah kata yang digunakan untuk mengistilahkan perbuatan manusia yang kemudian diukur dengan baik atau buruk dalam agama islam, ukuran yang baik digunakan untuk menilai baik atau buruk itu tidak lain adalah ajaran islam itu sendiri (Al-Quran dan Al-Hadis).

14

Dengan demikian moral merupakan hal-hal yang berkenaan dengan tutur kata, perilaku dalam hubungan dalam masyarakat, diharapkan akan memperoleh nilai-nilai yang menuju perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

2.3 Pendidikan Keluarga Menurut Langeverld yang dikutip oleh Suwarno ( 1988 : 39 ) dalam bukunya Pengantar Ilmu Pendidikan mengatakan bahwa manusia adalah animal educable dan animal homo educandus, artinya makhluk yang dapat dididik dan makhluk yang dapat mendidik. Dari kedua istilah di atas dapat dipahami bahwa pendidikan itu merupakan gejala yang selayaknya dan sepatutnya pada manusia. Manusia dengan eksistensinya sebagai makhluk dididik dan mendidik pada dasarnya dapat ditinjau dari : a. Keberadaan anak didik Sebagai anak yang memiliki potensi untuk berkembang pada saat baru lahir dalam keadaan lemah belum dapat berdiri sendiri. Maksudnya adalah dalam fase perkembangan sikap dan mental yang masih lemah, disinilah peranan orangtua dituntut untuk membimnbing anak kearah sikap mental yang ada pada diri anak dengan kekhasan yang ada pada diri anak. Dan seorang anak yang baru lahir juga menuntut untuk dibina agar memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang seiring dengan bantuan dari

15

orangtua dan itupun merupakan tugas dan tanggung jawab dari orang tua yang melahirkan untuk dibina kearah yang lebih baik. b. Ditinjau dari orangtua Anak yang lahir adalah akibat hubungan orangtua yang telah mengikat janji untuk hidup bersama dalam hubungan nikah yang sah. Karena itu menjadi tanggung jawab berdua dan lebih-lebih tanggung jawab moril dari orang tua untuk mendidik anak-anak. Maka dari itu orang tua mempunyai peranan yang penting dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap semua anggota keluarga yang berada dibawah tanggung jawabnya. Namun orang tua juga haruslah ikut mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlakun dalam rumah tangga itu, karena dengan pernana orang tua dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam rumah tangga, maka seseorang anak akan memberiukan penilaian yang baik kepada orangtuanya, c. Manusia dengan sifat kemanusiaan, artinya mendidik adalah khas manusiawi dalam hal ini Immanuel Kant mengatakan, manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan. Berdasarkan betapa pentingnya dan kuatnya peranan pendidikaan dalam pembinaan dan pembentukan kepribadian yang lebih baik menuju kearah kedewasaan. Melalui pendidikan dapat membantu sikap mental dengan ja;lan melatih pengembangan kearah nilai sikap yang diinginkan. Dengan kata lain pendidikan adalah suatu kegiatan pembinaan sikap mental yang akan menentukan tingkah lakunya kearah yang lebih baik.

16

d. Manusia sebagai makhluk budaya Manusia dengan budinya membentuk kebudayaan dan hidup dalam dunia kebudayaan. Untuk mampu hidup layak tersebut haruslah dibekali dengan nilai-nilai, dan nilai-nilai itu disampaikan melalui pendidikan. Dengan demikian kebudayaan ini adalah usaha untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada generasi muda . Dari keempat cara pandang tersebut, kiranya memberikan pemahaman bahwa setiap manusia berpotensi untuk mendidik dan dididik. Orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab dalam keluarga, tentunya harus memperhatikan kelangsungan hidup anak-anak dengan memberikan bekal ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menyampaikan kepada orang atau pihak lain segala hal untuk menjadikannya mampu berkembang menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermutu, dan dapat berperan lebih baik Hal pula yang dalam kehidupan itu lingkungannya sistem dan nilai,

masyarakatnya.

disampaikan

meliputi

pengetahuan, pandangan, kecakapan dan pengalaman. Makin baik penyampaian itu, makin besar kemungkinan manusia menjadi bermartabat. Dan makin baik perannya dalam kehidupan lingkungan dan masyarakatnya. Itu juga menjadi persiapan yang baik untuk menghadapi pekerjaan dan kehidupan, menjadikan manusia makin mampu melakukan pekerjaannya.

17

Pendidikan dalam keluarga adalah tanggung jawab orang tua, dengan peran Ibu lebih banyak. Karena ayah biasanya pergi bekerja dan kurang ada di rumah, maka hubungan ibu dan anak lebih menonjol. Meskipun begitu peran ayah juga amat penting, terutama sebagai tauladan dan pemberi pedoman, terutama soal cinta tanah air dan patriotisme. Kalau anak sudah mendekat dewasa peran ayah sebagai penasehat juga amat penting, karena dapat memberikan aspek berbeda dari yang diberikan Ibu. Oleh karena hubungan ayah dan anak relatif terbatas waktunya, terutama di hari kerja, maka ayah harus mengusahakan agar pada hari libur memberikan waktu lebih banyak untuk berhubungan dengan anak. Pada dasarnya pendidikan dilakukan di lingkungan keluarga, dalam masyarakat dan melalui sistem sekolah. Karena setiap manusia bermula kehidupannya dengan dilahirkan ibunya dalam lingkungan keluarganya, maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan di Lingkungan Keluarga menjadi landasan segenap usaha pendidikan sepanjang hidup manusia. Celakalah satu bangsa yang tidak dapat menjaga kehidupan keluarga yang teratur.

2.4 Cerita Rakyat Cerita rakayat adalah cerita yang dituturkan secara lisan ( folklor ). Brunvand seperti dikutip Muhajji (2008 : 17) menggolongkan folklor ke dalam tiga golongan, yaitu : (1) folklor lisan, yaitu folklor yang berbentuk nya memang murni lisan. Yang termasuk folklor lisan antara lain adalah;

18

bahasa rakyat ( folk speech) seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan title kebangsawanan. Ungkapan tradisional seperti pribahasa, pemeo, /pepatah. Pertanyaan tradisional, seperti teka teki. Puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair. Cerita rakyat seperti mite ,legenda, dan dongeng. Nyanyian rakyat. Folklor sebagian lisan adalah folklor campuran lisan dan unsur bukan lisan, yang termasuk folklor sebagian lisan antara lain; kepercayaan rakyat, tarian rakyat, teater rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat dan sebagainya. Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor bukan lisan dibagi menjadi 2 yaitu: material dan bukan material. Folklor yangf te3rgolong material seperti arsitektur rakyat (bentuk rumah, bentuk lumbung rakyat, dll), keinginan tangan rakyat, pakaian reakyat, penulisan rakyat, makanan rakyat, obat-obatan rakyat. Sedangkan yang termasuk bukan material antara lain gerakan isyarat tradisional,

bunyi komunikasi rakyat dan musik rakyat.

19

Fungsi mempelajari folklor menurut William.R.Bascom. seperti dikuti muhajji ( 2008:17) seorang guru besar amerika dalam ilmu folklor dari universitar california adalah sbb: 1. Sebagai sistem proyeksi (proyective system) yakni sebagai alat pencerminan angan-angan kolektif 2. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dalam lembaga-lembaga kebudayaan 3. Sebagai alat pendidikan anak (paedagogical device) 4. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya

2.5 Konsep Tentang Sastra Daerah Definisi sastra telah banyak dikemukakan oleh para pakar dengan beraneka ragam. Paparan dengan tujuan yang sama untuk menaruh suatu kesimpulan yang akurat dan valid tentang apa itu sastra tentu belum ada. Walaupun demikian dapat membentuk ulasan tentang definisi sastra sebagai berikut: Dalam bahasa sangsekerta, sastra berasal dari kata sas dan tra. sas berarti menggerakkan, memberi petunjuk atau instruksi sedangkan tra berarti alat dan sarana. Untuk meyampaikan gagasan dalam bahasa melayu sastra diartikan tulisan. Pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti baik dan indah. Jadi susastra berarti karangan yang indah dan bagus isinya. ( Muhaji.dkk,2008:4)

20

Definisi ini belum memuaskan dan masih banyak hal-hal yang terlupakan untuk menyatukan arti sastra yang sebenarnya. Untuk itu, masih banyak definisi lain tentang sastra seperti dikemukakan sebagaiberikut : Sastra adalah karya fikir yang memuat tentang perilaku kehidupan Dikatakan demikian bahwa sebuah karya sastra sesungguhnya merupakan hasil kontemplasi kekuatan imajinasi penulisnya untuk menggambarkan sikap dan perilaku kehidupan kita dalam bentuk yang sedemikian indah agar pembaca tersentuh perasaannya untuk menghayati peristiwa yang telah ditulis oleh penyairnya. Sastra juga didefinisikan sebagai karya cipta manusia berupa seni dan bahasa sebagai medianya. Mencermati definisi di atas tentu terlintas pemikiran kita bahwa sastra merupakan daya cipta manusia yang sangat unik karna ada bahasa dan seni sebagai pembedanya dengan karya cipta manusia yang lain. Paparan definisi ini menurut kajian bahwa sastra adalah cipta manusia yang diramu dengan nilai-nilai estetika yang dapat menggubah perasaan kita, senang, simpati, benci, dendam atau perasaan emosional lainnya sesuai dengan tema yang digubah oleh poetnya (penyairnya). Kata kunci kedua dari definisi sastra diatas adalah bahasa, artinya bahwa daya cipta manusia yang indah, poetic, dan seni diekspresikan melalui bahasa. Banyak karya seni yang tidak dikemukakan lewat bahasa akan tetapi lewat suara , gerak, warna, dll.

21

Sehingga yang membedakan antara karya seni dengan karya seni lainnya adalah bahasa sebagai media sastra itu sendiri. Sejalan dengan goresan diatas Zainuddin Fenanie dalam Muhaji,dkk. (2008:5) mengatakan sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu

mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun maupun aspek makna pernyataan Fananie di atas mengisyaratkan bahwa di dalam sastra itu memuat atau melukiskan luapan emosional manusia yang dikemukakan lewat bahasa yang indah sehingga mampu membawa penikmatnya ke alam atau suasana peristiwa yang telah di bahas oleh poetnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ( Alwi dkk, 2005: wz) dituliskan definisi sastra adalah sebagai berikut: 1. Bahasa (kata-kata gaya bahasa) yang dipakai di dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari) 2. Karya tulis yang jika dibandingkan tulisan lain memiliki berbagai cirri keunggulan seperti keaslian,keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapannya. 3. Kitab suci hindu : kitab ilmu pengetahwan. 4. Pustaka : kitab primbon (berisi ramalan,hitugan dsb) 5. Tulisan : huruf

22

Apa yang dikemukakan dalam kamus besar bahasa Indonesia di atas, dapat ditarik suatu pesepsi bahwa sastra itu adalah kumpulan pengetahuan, petunjuk, ajaran yang dikemukakan dalam bentuk yang indah.

2.6 Pendekatan Sosiologi Sastra Pendekatan sosiologi sastra berasal dari kata. Sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio (Yunani) (socius berarti bersamasama,bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan

makna,soio/socius berarti masyarakat, logi/ logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenai asal- usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi,sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik. (Ratna, 2002: 2) Sesungguhnya kedua ilmu memiliki objek yang sama yaitu manusia dalam masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda, bahkan bertentangan secara diametral. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini

23

(das sein), bukan apa yang seharusnya terjadi (das sollen). Sebaliknya, karya sastra jelas bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif. Perbedaan antara sastra dan sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan ciri-ciri, sebagaimana itunjukan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan , fiksi dan fakta. (Ratna, 2002: 2) Ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan, dalam rangka menemukan objektifitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain yaitu pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Pemahaman terhadap totalitas karya yang dasertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya dan sosiologi sastra adalah kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat (Ratna, 2002: 3). Secara instutisional objek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat, sedangkan objek ilmu-ilmu kealaman adalah gejala-gejala alam. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Perbedaannya, apabila sosiolog melukiskan kehidupan manusia dan massyarkat melalui analisis ilmiah dan objektif, sastrawan mengungkapkannya melalui emosi, secara subjektif dan evaluatif. Sastra juga memanfaatkan pikiran, intlektualits, tapi tetap didominasi oleh emosionalitas. Karena itu, menurut Damono dalam Ratna (2002: 4), apabila ada dua orang sosiolog yang melakukan penelitian terhadap masalah suatu masyarakat yang sama, maka kedua penelitiannya cenderung sama. Sebaliknya, apabila kedua orang seniman menulis

24

mengenai masalah masyarakat yang sama, maka hasil karyannya pasti berbeda. Hakikat sosiologi adalah subjektivitas, sedangkan hakikat karya sastra adalah subjektivitas dan kreativitas, sesuai dengan pandangan masing-masing pengarang.

2.7 Penelitian Relevan Ada beberapa penelitian yang relevan terkait dengan penelitian ini. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Tim Kanwil Depdikbud NTB yaitu cerita rakyat NTB (1981). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan

inventarisasi cerita rakyat. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Edi Muliadi (2008) dengan judul Nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Bima La Kasipahu, karya Muhammad Tahir Alwi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam cerita rakyat Bima La Kasipahu. Dalam penelitian ini diuraikan tentang budi pekerti yang baik dan yang buruk. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Hulwaturrokyi (1994) melalui penelitian yang berjudul Nilai-nilai Kependidikan dalam Cerita Rakyat Suku Sasak Doyan Mangan dan Hubungannya dengan Pengajaran Sastra di SLTA. Penelitian ini dipaparkan nilai-nilai dalam cerita rakyat Doyan Mangan dan bagaimana hubungannya dengan pengajaran sastra di SLTA. Ketiga penelitian di atas, dipandang relevan dengan penelitian yang berjudul Nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Sasak Balang Kesimbar dan Relevansinya dengan Hubungan Kekeluargaan Suku Sasak di Desa Keruak.

25

Dalam penelitian ini, selain mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalam cerita rakyat tersebut baik yang bernilai negatif maupun yang berniali positif dalam kehipan bermasyarakat, peneliti juga

menghubungkannya dengan kondisi pendidikan keluarga masyarakat Sasak,, sehingga akan terlihat bagaimana pergeseran nilai-nilai kependidikan dalam cerita tersebut pada masyarakat penuturnya

2.8 Kerangka Berpikir Dalam hal ini penulis menggunakan kerangka yang mempedomani suatu pendekatan yaitu pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan, dalam rangka menemukan objektifitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain yaitu pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Pemahaman terhadap totalitas karya yang dasertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya dan sosiologi sastra adalah kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat (Ratna, 2002: 3). Mitcheel dalam Harton dan Hunt (1991: 71) menjelaskan nilai berhubungan erat dengan harga. Yang dimaksudkan dengan harga adalah harga yang dinyatakan dengan uang atau barang atau jasa disebanding dengan nilai yang lain. Nilai adalah suatu bagian yang penting dari kebudayaan. Suatu tindakan yang dianggap salah. Artinya, secara moral dapat diterima.

26

Cerita rakayat adalah cerita yang dituturkan secara lisan ( folklor ). Brunvand seperti dikutip Muhajji (2008 : 17) menggolongkan folklor ke dalam tiga golongan, yaitu : (1) folklor lisan, yaitu folklor yang banyak diteliti orang. Bentuk folklor dari yang sederhana, yaitu ujaran rakyat, yang biasa dirinci dalam bentuk julukan, dialek, ungkapan, dan kalimat tradisional, pernyataan rakyat, mite, legenda, nyanyian rakyat, dan sebagainya; (2) folklor adat kebiasaan, yang mencakup jenis folklore lisan dan nonlisan. Misalnya kepercayaan rakyat, adat istiadat, pesta, dan permainan rakyat; (3) folklor material, seni kriya, arsitektur, busana, makanan, dan lain-lain. Dalam bahasa sangsekerta, sastra berasal dari kata sas dan tra. sas berarti menggerakkan, member petunjuk atau instruksi sedangkan tra berarti alat dan sarana. untuk meyampaikan gagasan dalam bahasa melayu sastra diartikan tulisan. pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti baik dan indah. jadi susastra berarti karangan yang indah dan bagus isinya. ( Muhaji.dkk,2008:4)

27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitiaan kualitaif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagi lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi(gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2010 : 9). Bodgan dan Taylor (Ratna, 2004 : 47) mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau orang yang biasa diamati, seperti peristiwaperistiwa yang terjadi dalam cerita suku Sasak Balang Kesimbar, karena hasilnya berupa gambaran-gambaran tentang sasaran penelitian berdasarkan data-data yang dihasilkan dapat mencerminkan kesimpulan yang sebenarnya. Penelitian ini pun bertujuan untuk memecahkan masalah secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta yang terdapat dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar.

28

3.2 Metode Penelitian Metode penelitian menyangkut alat dan tekhnik untuk melaksanakan penelitian. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan metode yang tepat untuk meneliti suatu masalah atau objek penelitian atau mengkaji suatu objek itu secara wajar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif.

3.3 Sumber Data Sumber data adalah subjek penelitian dari mana data diperoleh. Sumber data adalah subjek penelitian dari mana data diperoleh. (Suharsimi, 1992 :102). Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan yaitu, cerita rakyat suku sasak Balang Kesimbar yang diperoleh melalui tatap muka (wawancara). Peneliti diceritakan oleh informan mengunakan bahasa Sasak, kemudian direkam dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

3.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini digunakan metode dekumentasi dan metode wawancara, adapun metode dokumentasi yaitu menemukan data-data yang ada dalam cerita Balang Kesimbar yang ada di dalam buku cerita Balang Kesimbar. Sedangkan metode wawancara dilakukan dengan studi lapangan (field research), yaitu upaya mengumpulkan data melalui observasi langsung ke lapangan (sumber objek penelitian). Teknik lapangan yang

29

dilakukan berkaitan dengan penelitian ini adalah teknik menyimak dan mencatat dengan langkah sebagai berikut : 1. Menyimak cerita rakyat suku sasak Balang Kesimbar yang dituturkan secara lisan sambil dicatat atau direkam dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 2. Menganalisis unsur stuktural objektif yang bertumpu pada cerita rakyat yang diteliti. 3. Mengidentifikasi data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 4. Mencatat dan mengutip hal-hal penting yang berkaitan dengan jenis-jenis nilai pendidikan.

3.5 Teknik Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hamimi (1994: 73) mengemukakan, bahwa metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan

menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta yang tampak. Metode deskriptif memusatkan perhatiannya pada penemuan fakta (fac ending) sebagaimana keadaannya. Dalam penelitian ini juga, peneliti menggabungkan dua metode yang tidak bertentangan yaitu, metode deskriptif dan metode analitik. Metode deskriptif analitik dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan.

30

Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diproleh dari kelompok subjek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis. Sekalipun penelitian yang dilakukan bersifat interferesial, sajian keadaan, subjek dan data penelitian secara deskriptif tetap perlu diketengahkan lebih dahulu sebelum pengujian hipotesis dilakukan (Anwar, 1998: 65). Dengan demikian, metode deskriptif bertugas untuk melakukan representasi objek mengenai gejala yang terdapat di dalam masalah penelitian. Representasi itu dilakukan dengan mendeskripsikan gejala sebagai data atau fakta itu harus bersumber dari gejala yang terdapat dalam masalah yang terjadi sekarang (pada saat penelitian dilakukan). Representasi data itu harus diiringi dengan pengolahan agar dapat diberikan penafsiran yang kuat dan objektif.(Khairuddin, 2010: 29) Adapun langkah-langkah dalam analisis data adalah. 1. Melakukan fragmen-fragmen terhadap cerita untuk mencari dan menggali nilai-nilai pendidikan yang termuat dalam setiap fragmen cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar. 2. Dari hasil analisis atau pencarian nilai-nilai pendidikan dalam setiap fragmen cerita kemudian dipadukan ke dalam satu-kesatuan cerita yang utuh guna menemukan apa saja nilai-nilai pendidikan yang termuat dalam cerita rakyat suku Sasak Balang Kesimbar secara utuh.

31

3. Untuk menemukan signifikansi karya sastra tersebut dianalisislah terlebih dahulu kondisi pendidikan non-formal (keluarga) dalam beberapa kasus keluarga suku Sasak.

32