Anda di halaman 1dari 1

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO 7 TAHUN 2004 Undang-undang no 11 tahin 1974 tentangn pengairan merupakan dasar pengaturan pengembangan sumbar daya

air, yang di susun sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu, dimana lebih mengetengahkan nuansa pembangunan yang dan bersifat sentralistis. dengan semakin menurunnya kondisi lingkungan dan pergeseran system pemerintahan dari sentralistik ke desentralistik maka perlu penyempurnaan UU/1974 tersebut. Undang-undang no 7 tahun 1002 tentang sumber daya air sebagai pengganti UU 11/1974, secara lebih tegas menggariskan perlunya konservasi dan pengendalian daya rusak air, serta memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah sebagai bentuk antisipasi semangat desentralisasi. UU 7/2004 mengatus lebih komprehensif dan ekstensif dengan 18 bab dan 100 pasal dibandingkan dengan 12 bab dan 17 pasal pada UU 11/74. undang-undang yang baru menjabarkan lebih lanjut hak atas air, tugas dan kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah serta peran masyarakat. Tantangan pengaturan yang ekstensif antara lain memerlukan kesiapan pelaksanaan di lapangan pada berbagain jenjang. Demikian pula basis pengelolaan sumber daya air adalah wilayah sungai, yang sampau tiga tahun perjalanan undang-undang belum di tetapkan secara resmi. Belum lagi kerancuan kelembagaan tumpang tindih dari pemerintah, daerah dan BUMN pada wilayah yang sama. Perlu disusun kembali norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) mengacu kententuan yang berlaku, disampun upaya sosialisasi sevara lebih luas. Agar pengaturan ini dapat berjalan perlu ketetapan sementara sambil menunggu kelengkapan aturan pelaksanaan nya. Undang-undang no 7 tahun 2004 tentang sumber daya air dirancang untuk mengganti dan melengkapi undang-undang no 11 tahun 1974 tentang pengairan yang telah mengawal pengaturan di bidang sumber daya air selama tiga puluh tahun. Udang-undang pendahulu, memang sangat ringkas hanya mengatur hal-hal pokok sehingga selain menyimpan kekuatan juga sekaligus merupakan kelemahan. Dengan pengaturan yang ringkas dalam 17 buah pasal, akan memberikan ruang gerak yang lebih luas dalam pengaturan pelaksanaannya. Sedangkan di sisi yang lain salah satu kelemaan nya adalah dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda dan kesimoangsiuran dalam pelaksanaan terlebih jika pengaturan pelaksaan belum di susun. Bahkan ada yang berpendapat UU 11/74 lebih bersifat norma daripada suatu aturan. Untuk mengarisipasi hal tersebut UU 7/2004 disusun dengan jelas, bertahap dan tentu ebuh aplikatif dan lebih respntif terhadap tuntutan perkembangan yang ada. Pengaturan yang ekstensif bukan satu-satu nya perubahan yang terkandung dalam Udangundang ni 7/2004 ini. Sesuai dengan perkembangan yang ada, semangat desentralisasi, demokratisasin dan akuntabilitas mewarnai aturan yang sangat mendasar ini tentu nya memerlukan kesiapan peraturan maupun perangkat pelaksana di lapangan. Terlebih jika terdapat hal-hal yang berbeda atau bertolak belakang dengan ketentuan terdahulu. Boleh jadi akan terjadi kesimpangsiuran terutama jika aturan pendung belum suap. Sampai saat ini