Anda di halaman 1dari 12

KONEKSI ANTAR GEDUNG PADA KAMPUS PERGURUAN TINGGI RAHARJA DENGAN METODE POINT TO MULTIPOINT MENGGUNAKAN TEKNIK WIRELESS

BRIDGING ROUTERBOARD RB411AR Fredy Susanto1, Maimunah2 Dosen Jurusan Sistem Komputer STMIK Raharja 2 Dosen Jurusan Teknik Informatika AMIK Raharja Informatika 1 STMIK Raharja, Jl. Jend Sudirman No. 40 Cikokol-Tangerang 2 AMIK Raharja Informatika, Jl. Jend Sudirman No. 40 Cikokol-Tangerang
1

Email : fredysusanto@gmail.com; maimunah@raharja.co

Abstraksi Komunikasi adalah sistem penyampaian data yang sangat penting dilakukan. Komunikasi antar manusia satu dengan manusia yang lainnya dilakukan untuk menjalin pengertian dan tujuan yang ingin dicapai bisa terlaksana. Dari zaman kuno sampai dengan zaman sekarang komunikasi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dari cara yang paling sederhana hingga cara yang paling modern. Pada zaman sekarang ini yang dikatakan zaman yang sudah sangat canggih, komunikasi dapat dilakukan tidak terbatas ruang dan waktu hingga jarak. Semua orang dapat melakukan komunikasi dengan orang yang dituju dengan cara yang sangat mudah. Komunikasi dilakukan antar manusia didalam ruangan, antar kelompok di antar kota dan lain-lain. Media komunikasi saat sekarang juga sangat canggih, dengan menggunakan alat-alat yang canggih pula. Handphone, smart phone, tablet pc, laptop dan lain-lain. Medianya juga tidak hanya terkekang dalam kabel saja, media wireless yang dirasa sangat praktis dan dinamis sangat berkembang dan diandalkan sekali. Wireless atau tanpa kabel sangat banyak saat ini digunakan karena tanpa adanya pengahalang yang berarti komunikasi dapat dilakukan. Teknik komunikasi dengan media wireless ini sangat banyak, mulai dari teknologi gelombang radio, satelit dan lain-lain. Dalam penggunaan gelombang radio juga memiliki banyak metode gelombang, contohnya dengan gelombang frekuensi 2,4 GHz sampai dengan gelombang dengan frekuensi 5GHz. Komunikasi pada jarak yang berjauhan pada penulisan ini menggunakan metode bridging pada routerboard. Pada routerboard mikrotik rb411ar dapat digunakan sebagai point to multipoint dimana masing-masing portnya diseting atau dibuat metode bridging, dimana routerboard mikrotik ini sangat ringkas dan simpel dalam pemasangannya. Sinyal atau frekuensi koneksi yang dihasilkan 100% tanpa putus. Kata kunci : komunikasi, data , wireless, AP bridge, AP client Abstract Communication is a data delivery system that is very important. Human communication one with another being undertaken to establish understanding and objectives accomplished. From ancient times to the present era of communication done in different ways, from the simplest to the most modern way. At the present time is said to be a very advance age, the communication that could be done is not limited to the distance of space and time. All people can communicate with people who are targeted in a way that was very easy. Communication is done between people in the room, between groups in the inter-city and others. Medium of communication at present is also very sophisticated, using advanced tools as well. Mobile phones, smart phones, tablet pc, laptop, and others. The medium was not only confined in any cable, wireless media was considered a very practical and highly developed dynamic and very reliable. Wireless or without wires are currently used very much because without any obstacle to a meaningful communication can be done. Wireless communication techniques with the media is so many, ranging from radio wave technology, satellite and others. In the use of radio waves were also have many wave

method, for example, with 2.4 GHz frequency waves with frequencies up to 5GHz. The long distance communication in this paper using a bridging method on the routerboard.The mikrotik rb411ar routerboard can be used as a point to multipoint which is each port can be set or can be made with the bridging method, which is this mikrotik routerboard is very simple on the make.The signal or frecuency result is 100% without break. Key words: communication, data, wireless, AP bridge, AP client PENDAHULUAN Pemanfaatan teknologi kominukasi sangatlah perlu diterapkan, karena kebutuhan manusia akan komunikasi penting dan saat ini mulai menjadi kebutuhan primer. Media komunikasi mengambil peran penting sebagai sarana sambungan antara satu titik ke titik lainnya. Media komunikasi wireless dirasa sangat paling efisien, karena dengan media udara saja komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Dalam perkembangan perangkat telekomunikasi tentunya , sering mendengar kata wireless, yaitu penghubung dua perangkat yang tidak mengunakan media kabel. Teknologi wireless merupakan teknologi nirkabel, dalam melakukan hubungan telekomunikasi tidak lagi mengunakan media atau sarana kabel tetapi dengan menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai pengganti kabel. Perkembangan teknologi wireless tumbuh dan berkembang dengan pesat, dimana setiap saat , selalu membutuhkan sarana telekomunikasi. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya pemakaian telepon selular, selain itu berkembang pula teknologi wireless yang digunakan untuk akses internet. Beberapa contoh teknologi wireless yakni : Infrared (IR), radiasi elektromagnetik dari panjang gelombang lebih panjang dari cahaya tampak, tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang radio. Wireless wide area network (bluetooth), spesifikasi industri untuk jaringan kawasan pribadi (personal area networks atau PAN) tanpa kabel. Bluetooth menghubungkan dan dapat dipakai untuk melakukan tukar-menukar informasi di antara peralatan-peralatan. Radio Frequensi (RF), menunjuk ke spektrum elektromagnetik di mana gelombang elektromagnetik dapat dihasilkan oleh pemberian arus bolak-balik ke sebuah antena. Wireless personal area network, umumnya memiliki jarak komunikasi maksimal 10m saja, lebih pendek dibandingkan dengan Wireless Local Area Network (WLAN). Wireless LAN (802.11), suatu jaringan nirkabel yang menggunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara perangkat komputer dan akhirnya titik akses yang merupakan dasar dari transiver radio dua arah yang tipikalnya bekerja di bandwith 2,4 GHz (802.11b, 802.11g) atau 5 GHz (802.11a). Kebanyakan peralatan mempunyai kualifikasi Wi-Fi, IEEE 802.11b atau akomodasi IEEE 802.11g dan menawarkan beberapa level keamanan seperti WEP dan atau WPA. Komunikasi point to multipoint yang akan dibahas saat ini menggunakan teknologi wireless dengan gelombang radio ( wireless LAN 802.11 ). Kelebihan penggunaan gelombang radio ini diantaranya, gelombang yang digunakan 2,4 GHz saat ini masih dibebaskan oleh pemerintah untuk melakukan sambungan-sambungan, apalagi pada saat ini sambungan gelombang tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan yang seharusnya didukung oleh pemerintah sepenuhnya. Selain itu juga keamanan pada teknologi ini cukup dapat bisa diandalkan. Sambungan komunikasi ini digunakan karena pada tempat yang menjadi implementasi jaraknya berjauhan dan tidak mungkin jika dikoneksikan dengan menggunakan media kabel. Karena media kabel akan terlalu tidak praktis, tidak ringkas, dan akan lebih mahal karena mengeluarkan kabel dengan jarak yang cukup jauh. Mode dari operation Peer-to-peer atau mode ad-hoc. Mode ini adalah metode dari perangkat nirkabel untuk secara langsung mengkomunikasikan dengan satu dan lainnya. Operasi di mode ad-hoc memolehkan perangkat nirkabel dengan jarak satu sama lain untuk melihat dan berkomunikasi dalam bentuk peer-to-peer tanpa melibatkan titik akses pusat. Mesin ini secara tipikal digunakan oleh dua PC untuk menghubungkan diri,

sehingga yang lain dapat berbagi koneksi Internet sebagai contoh, sebagaimana untuk jaringan nirkabel. Jika kamu mempunyai pengukur kekuatan untuk sinyal masuk dari seluruh perangkat ad-hoc pegukur akan tidak dapat membaca kekuatan tersebut secara akurat, dan dapat misleading, karena kekuatan berregistrasi ke sinyal terkuat, seperti komputer terdekat. Menurut IEEE protokol yang digunakan untuk komunikasi WLAN ( Wireless LAN ) adalah 802.11 a/b/g/n , berikut adalah blok diagramnya.

Gambar 1. Struktur protokol 802.11 PERMASALAHAN 1. Apakah koneksi yang dihasilkan oleh metode ini mempengaruhi koneksi jaringan secara umum. 2. Akibat-akibat apakah yang ditimbulkan dengan adanya sambungan antar gedung dengan metode point to multipoint, akibat positif dan akibat negatifnya. LITERATURE REVIEW Sebagai penunjang penelitian dan makalah ini maka perlu adanya perbandingan dengan paperpaper dan makalah-makalah lainnya yang gunanya apakah paper ini sudah ada yang membuat atau meneruskan hasil paper yang lain sebagai perbaikan. Maka dibandingankan dengan paper dalam maupun luar negri sebagai ajuan. Diantaranya adalah 1. Teknologi jaringan tanpa kabel (wireless ) oleh M Rudiyanto Arief, STMIK AMIKOM Yogyakarta, Teknologi jaringan saat ini telah berkembang dengan pesat. Berbagai macam teknologi telah dikembangkan untuk membantu manusia dalam berkomunikasi. Kalau pada era tahun 80-an teknologi jaringan komputer hanya mengandalkan teknologi jaringan berbasis kabel, saat ini teknologi tersebut mulai banyak di tinggalkan karena beberapa keterbatasannya, seperti besarnya biaya yang harus di keluarkan oleh organisasi jika menggunakan teknologi ini (wired network),selain itu teknologi ini juga tidak flexibel karena sangat tergantung pada kabel. Saat ini kalau kita perhatikan mulai banyak perusahaan yang mulai menerapkan teknologi tanpa kabel (wireless) atau yang biasa di sebut dengan Wireless Fidelity (WiFi). Hal ini dapat kita lihat banyaknya perusahaan yang menawarkan Hotspot Area (area yang terdapat jaringan internet berbasis WiFi) yang dapat diakses oleh semua orang baik itu secara gratis maupun dengan cara registrasi ke penyedia layanan tersebut. Melihat trend mereknya perusahaan yang menawarkan HotSpot Area di area publik seperti tempat perbelanjaan (mall), perpustakaan, restoran, kafe, dan bahkan hampir semua lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi sudah menyediakan HotSpot untuk mahasiswa mereka sebagai bagian dari fasilitas penunjang program belajar mengajar mereka.

2. Teknologi Rural Next Generation Networks untuk komunikasi masyarakat Pedesaan, oleh Armien Z.R Langi, Institut Teknologi Bandung, menerangkan Teknologi Wireless Ethernet Bridge. Teknologi wireless memungkinkan transmisi sinyal IP dilakukan melalui gelombang elektromagnetik untuk menghubungkan berbagai titik yang berjauhan tanpa kabel. Secara khusus, teknologi wireless dituju adalah teknologi point-to-point dan point-to-multipoint, WiMAX. Ethernet radio bridge membuat deployment awal dapat segera dilakukan. Program ini telah mengembangkan modul WLAN 2.4 GHz PCMCIA, dan directional link antenna. Masih diperlukan pengembangan teknologi wireless bridge pada 350 Mhz, 910-928 MHz, 2.4 GHz.

Gambar 2. RoadMap R-NGN Teknologi generasi 4 (4G) pada dasarnya adalah teknologi heterogen yang saling bekerja secara mulus untuk melayani pelanggan. Sistem 4G merupakan integrasi PSTN, Internet, dan Seluler. Teknologi 4G adalah teknologi disruptif karena mengubah secara fundamental kebiasaan yang ada di industri. R-NGN harus dibangun dengan antisipasi teknologi disruptif ini, agar tidak lekas obsolet. Peta jalan teknologi R-NGN diperlihakan dalam Gambar.5. Peta jalan ini memperlihatkan upaya penelitian pada teknologi strategis, untuk mengusai teknologi. Teknologi DSP saat ini mengarah pada embedded Linux dan prosesor ARM, dan akan menuju reconfigrable hardware dan system on chip (SoC). Teknologi multimedia mengarah ke MPEG 4, MPEG 7 dan MPEG 21. Teknologi wireless mengarah ke ethernet radio dan software radio. Teknologi jaringan dan teknologi softswitch menuju generasi 4(4G). Teknologi ini kemudian digunakan untuk membuat produk-produk unggulan. Produk-produk ini terdiri dari UAD generasi 3 (3G) dan generasi 4 (4G). Selain produk UAD, produk IP-PBX dan carrier grade softswitch (IP-

CENTREX) juga menggunakan teknologi yang sama. Produk UAD ditargetkan untuk pasar Komunikasi Desa. Produk IP PBX disiapkan untuk korporasi. 3. Point to Multipoint Digital Broadband Wireless Access Networks , http://wajanbolikmurah.wordpress.com/tag/local-multipoint-distribution-service-lmds/oleh setyo Budianto, Sistem Point-to-Multipoint, yang mungkin dikenal sebagai Broadband Wireless Access (BWA) atau Local Multipoint Distribution Service (LMDS), secara sejarah sama dengan sistem cellular atau narrow band wireless local loop. Sistem ini menyediakan wireless cell yang mencakup suatu area geografik yang spesifik (dengan radius sampai 4 mil) untuk mendeliver pelayanan telekomunikasi kepada pelanggan dalam area cell tersebut. Bandwidth koneksi ini dari 64kb/s sampai 155 Mb/s. Arsitektur Point-to-Multipoint juga menampakkan beberapa karakteristik unik yang membedakan dari jaringan public carrier yang lain. Untuk menyediakan konsistensi dan kecocokan dengan jaringan kabel, arsitekturnya didesign untuk support Asyncrounus Transfer Mode (ATM).

Gambar 3. Diagram Broadband Wireless Access Network Pada lokasi CPE, sinyal diterima oleh CPE transceiver dan diturunkan pada IF. Sinyal kemudian direlay ke Network Interface Unit (NIU) dimana isi di bentuk untuk diemulasi menjadi interface standar seperti T1 atau E1. Ini penting menjadi catatan jaringan PMP untuk membuat virtual circuit yang mentransportasikan isi. Tansport tersebut dapat menjadi permanent (permanent virtual circuit, PVC) atau temporary (switched virtual circuit, SVC). Untuk komunikasi antara dua host yang mana komunikai back dan forth dilakukan secara kontinu, PVC lebih bagus digunakan. Sebaliknya, SVC digunakan pada situasi dimana komunikasi antara dua point jarang dilakukan dan untuk itu virtual circuit remain hanya membuka selama data sedang ditransmisikan. 4. Thin Clients Booting over a Wireless Bridge jurnal pada majalah linux international yang ditulis oleh Ronan Skehill, Alan Dunne dan John Nelson menerangkan bahwa koneksi LTSP pada server linux dengan client-clientnya menggunakan koneksi WLAN dengan memanfaatkan wireless bridge dimana wireless bridge menggunakan device 2 buah wireless bridge yang disatukan kedalam Azimuth test chamber.

Gambar 4. Diagram thin client Pada gambar 4 diatas menerangkan kurva diagram antara penambahan jumlah client dengan kecepatan sambungan network. 5. Design and Development of Multimedia Network System for eLearning in Nigerian Universities yang ditulis oleh Akintola KG, Akinyokun OC, dalam makalah penelitian, Kerangka kerja sistem jaringan komputer multimedia untuk pengajaran dan pembelajaran untuk membantu instruktur ahli dalam upaya mereka untuk mencapai luas. Ini melibatkan kabel dan desain jaringan nirkabel, komunikasi protocol dan media transmisi. Penerapan kerangka kerja ini dilakukan menggunakan streaming teknologi sistem RealNetworks. Sebuah website dirancang menggunakan hypertext markup language (HTML) untuk akses mudah ke kuliah online di situs remote. Sebuah prototipe dikembangkan di masyarakat dengan maksud untuk menentukan efektivitas system. 6. Management User Centralized Hotspot sebagai jalur data terpusat , oleh Fredy susanto dan Sudaryono, STMIK Raharja Tangerang, menerangkan bahwa dengan menggunakan routerboard mikrotik dapatkan skema wireless yang terpusat dimana masing-masing port Ethernet yang terkoneksi dihubungkan dengan metode bridging. Beberapa jurnal dalam maupun luar negri mengenai wireless bridge dan point to multipoint sudah dibahas, dan ternyata belum ada yang membahas penggabungan antara teknik wireless bridge dengan metode point to multipoint. PEMBAHASAN Untuk menghasilkan konsep dan implementasi sesuai judul penulisan diatas, maka perlu diperhatikan dan perlu dilakukan survai, testing, dan penerapan secara utuh. Diantaranya adalah. Konfigurasi AP dan client AP atau access point dibuat sebagai terminal atau station yang nantinya digunakan sebagai tempat berkumpulnya signal-signal dari client atau point-point client. Pada konfigurasi routerboard didapatkan seperti gambar script dibawah ini.

Gambar 5. Konfigurasi AP bridge Pada gambar 5, diatas diterangkan mengenai mode, bandwidth, frekuensi, yang dipilih pada konfigurasi pada sisi AP bridge. Hal ini menerangkan bahwa port Ethernet dan port wireless di buat bridging agar antara port tersebut terkelompok dalam satu segment Internet Protocol. Dan pada AP bridge ini adalah sebagai terminal atau point yang terpusat sehingga semua point client bisa dan dapat diarahkan ke AP bridge ini untuk menjadi satu kesatuan komunikasi.

Gambar 6 Konfigurasi port bridging Sesuai dengan pembahasan diatas, gambar 6 ini menerangkan konfigurasi port Ethernet dan port wireless yang dibuat bridging satu segment Internet Protocol. Sehingga skema bagan point to multipoint dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 7. Point to multipoint Keterangan pada gambar 7 adalah gedung pusat Perguruan Tinggi Raharja merupakan pusat dari AP bridge dimana branch LV campus dan beberapa kediaman para pimpinan Perguruan Tinggi Raharja yang dianalogikan sebagai factory berfungsi sebagai AP client. Pada AP bridge memancarkan sinyal-

sinyal radio yang pancarannya kesegala arah sehingga dapat ditanggkap oleh masing-masing AP client. Besaran sinyal traffic pada sisi AP bridge dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 8. traffic AP bridge Pada gambar 8 diterangkan bahwa gambaran traffic AP bridge pada tx ( transmit ) dan rx ( receive) dengan satuan kpbs dan satuan p/s. Pada kolom bawah tertulis running dan running ap, dijelaskan bahwa status AP bridge ini sudah terkoneksi dengan baik.

Gambar 9. traffic LV campus

Gambar 10. traffic factory Pada gambar 9, dan gambar 10, dilihat traffic yang dihasilkan oleh koneksi antara AP bridge dan AP client. Diperhatikan pada tx dan rx nya maka data-data atau informasi-informasi yang dilewatkan tidak ada kendala sehingga data-data atau informasi-informasi ditransfer dengan tidak ada kesalahan. Untuk data A maka data A dapat diterima dengan baik tidak ada kekurangan. Hal diperhatikan dari jumlah satuan kbps yang terhitung secara real time pada kedua sisi AP client, di AP client gedung LV campus maupun di AP client factory. Table 1. noise frekuensi

Pada table diatas menerangkan frekuensi-frekuensi yang banyak digunakan pada lingkungan penelitian, dilihat pada frekuensi 2412 penulis menggunakan frekuensi tersebut yang noise nya tidak terlalu besar hingga data-data yang digunakan bisa terlewatkan dengan baik. KESIMPULAN Pada metode ini dapat dihasilkan komunikasi antara gedung satu dengan gadung yang lainnya dengan memanfaatkan gelombang radio dan menggunakan berbagai macam teknik dan perangkat sehingga komunikasi dapat berjalan baik. Koneksi yang terjadi pada metode ini tetap menggunakan IP atau internet protocol sebagai protocol komunikasi dimana peralatan yang dipasang diberikan alamat IP

sehingga dari koneksi ini tidak ada masalah jika digabungkan dengan koneksi yang pada umumnya jaringan komputer. Dengan perbedaan jarak antara satu gedung dengan yang lainnya tidak menjadi halangan untuk saling komunikasi, karena telah diukur noise yang sesuai dengan tabel 1, dimana penulis menggunakan frekuensi 2,4 Ghz. Dan telah diukur pada gambar traffic pada AP client dan AP bridge yang tertuliskan satuan transfer data dalam kbps. Sehingga metode dirasa cukup sangat bermanfaat dan praktis untuk komunikasi data yang terkendala jarak antar gedung yang berada masih didalam satu area wilayah. Saran dari penulisan ini agar kedepan bisa diteruskan dengan metode bridge NAT karena banyaknya interface bridge yang ada dalam satu jaringan akan mempengaruhi kecepatan transfer data yang ada. Sehingga dengan metode tersebut data yang ditransfer bisa lebih cepat dan dari metode yang saat ini dilakukan. DAFTAR PUSTAKA Arief, M.Rudiyanto. (2007). Teknologi jaringan tanpa kabel (wireless ) . Yogyakarta : STMIK AMIKOM Budianto, Setyo. (2010). Point to Multipoint Digital Broadband Wireless Access Networks. Yogyakarta.http://wajanbolikmurah.wordpress.com/tag/local-multipoint-distribution-

service-lmds/
KG, Akintola, Akinyokun OC. (2011). Design and Development of Multimedia Network System for eLearning in Nigerian Universities. Nigeria : International Journal of Multimedia and Ubiquitous Engineering. Langi, Armien Z.R. (2011). Teknologi Rural Next Generation Networks untuk komunikasi masyarakat Pedesaan. Bandung : Institut Teknologi Bandung. Ono W Purbo, (2006). Internet Wireless dan Hotspot. Jakarta: Elex Media Komputindo. Priyambodo Tri Kuntoro dan Dodi Heriandi, (2007). Jaringan WI-Fi Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Andi Offset. Susanto, Fredy dan Sudaryono.(2012) Management User Centralized Hotspot sebagai jalur data terpusat. Surakarta : Proceeding Senaputro Sehill, Ronan, Alan Dunne dan John Nelson. (2009). Thin Clients Booting over a Wireless Bridge. Linux Journal, California