Anda di halaman 1dari 4

Mufti Arifudin 109044100048 SAS PA A 5 RESUME

Dosen : Kamarusdiana, S.Ag., SH

HUKUM ACARA PERDATA Proses Pemeriksaan Permohonan 1. Jalannya Proses Pemeriksaan Secara Ex-Parte Yang terlibat dalam permohonan hanya sendiri, yaitu pemohon dan yang hadir dan tampil dalam pemeriksaan persidangan hanya pemohon atau kuasanya, tidak ada pihak lawan atau tergugat. Proses Ex-Parte : Hanya mendengar keterangan pemohon atau kuasanya. Memeriksa bukti atau saksi yang diajukan pemohon. Tidak ada tahap replik-dublik dan kesimpulan.

2. Dalam Ex-Parte yang diperiksa di sidang hanya keterangan dan bukti-bukti pemohon dan tidak berlangsung secara contradictoir (contradictory) atau Op Tegenspraak yaitu ada bantahan dari pihak lain. 3. Dalam Ex-Parte tidak seluruhnya asas pemeriksaan persidangan ditegakkan, a. Yang ditegakkan : 1) Asas kebebasan peradilan 2) Asas Fair trial (peradilan yang adil) b. Yang tidak perlu ditegakkan : 1) Asas audi alteram partem. Karena tidak ada pihak tergugat jadi tidak ada mendengar pihak lain. 2) Asas member kesempatan yang sama Tata Cara Pemeriksaan Gugatan Kontentiosa 1. Sistem Pemeriksaan Secara Contradictoir Dalam pasal 125 dan 127 HIR bahwa : a. Dihadiri Kedua Belah Pihak Secara In Person atau Kuasa Para pihak (penggugat dan tergugat) dipanggil dengan resmi oleh juru sita untuk menghadiri persidangan, agar sesuai dengan asas due process of law, namun dapat dikesampingkan dengan kewenangan hakim :

Secara verstek (putusan di luar hadirnya tergugat) apabila tidak menghadiri sidang tanpa alasan yang sah, padahal telah dipanggil secara sah dan patut. Pemeriksaan tanpa bantahan apabila pada sidang brikutnya tidak hadir tanpa alasan yang sah. Misalnya, persidangan diundur pada hari yang ditentukan hakim. b. Proses Pemeriksaan Berlangsung Secara Op Tegenspraak System ini lah yang dimaksud dengan proses contradictoir. Memberi hak dan kesempatan (opportunity) kepada tergugat untuk membantah dalil penggugat dan sebaliknya. Kontradiktor yaitu pemeriksaan perkara berlangsung dengan proses sanggah menyanggah baik dalam bentuk replik dublik maupun dalam bentuk konklusi. Kontradiktor dapat dikesampingkan baik melalui verstek atau tanpa bantahan, namun tanpa mengurangi pengecualian tersebut : Pada prinsipnya pemeriksaan tidak boleh dilakukan secara sepihak (Ex-Parte), hanya pihak penggugat atau tergugat saja. System kontradiktor harus ditegakkan mulai dari awal persidangan sampai putusan dijatuhkan.

2. Asas Pemeriksaan Prinsip atau asas dalam proses pemeriksaan kontardiktor : a. Mempertahankan Tata Hukum Perdata (Burgerlijke Rechtsorde) Dalam penyelesaian perkara, hakim harus menegakkan kebenaran dan keadilan (to enforce the truth and justice) dengan acuan : Menetapkan ketentuan pasal adan peraturan Undang-Undang hukum Materiil yang tepat Berdasarkan penemuan ketentuan hukum materiil itu, hakim menjadikannya sebagai landasan dan alasan untuk menetapkan siapa yang benar. b. Menyerahkan Sepenuhnya Kewajiban Mengemukakan Fakta dan Kebenaran Kepada para Pihak. Dalam mencari kebenaran, baik kebenaran formil maupun materiil, hakim terikat pada batas : Menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan dan daya upaya para pihak yang berperkara untuk membuktikan kebenaran masing-masing. Inisiatif untuk mengajukan fakta dan kebenaran berdasarkan pembuktian alat bukti yang dibenarkan undang-undang, sepenuhnya berada di tangan para pihak yang berperkara [pasal 1865 KUHPer dan pasal 163 HIR] Pihak-pihak yang berperkara mempunyai pilihan dan kebebasan menentukan sikap, apakah dalil gugatan atau dalil bantahan akan dilawan

atau tidak. Hakim tidak bisa memaksa para pihak untuk melakukan atau menerangkan sesuatu. c. Tugas Hakim Menemukan Kebenaran Formil Setelah hakim dalam persidangan menampung dan menerima segala sesuatu kebenaran tersebut, dia harus menetapkan kebenaran itu, sejauh mana dan dalam bentuk serta wujud yang bagaimana yang harus ditemukan dan ditegakkan, menurut ahli : Cukup dalam bukti kebenaran formil (formiele warhead), yaitu cukup sebatas kebenaran yang sesuai dengan formalitas yang diatur hukum. Hakim tidak dituntut mencari dan menemukan kebenaran materiil (materiele warhead) atau kebenaran hakiki (ultimate truth) berlandaskan keyakinan hati nurani.

d. Persidangan Terbuka Untuk Umum Sistem pemeriksaan yang dianut HIR dan RBG adalah proses acara pemeriksaan secara lisan (oral hearing) atau mondelinge procedure. Tujuan persidangan terbuka untuk umum adalah untuk menjaga tegaknya peradilan yang fair atau fair trial yaitu peradilan yang bersih dan jujur. Pasal 17 ayat (1) UU No. 14 th. 1975 yang sekarang pasal 19 ayat (1) UU No. 4 th. 2004, yang mengatur persidangan terbuka untuk umum. Namun dalam pasal 33 PP No. 9 Th. 1975, pemeriksaan gugatan cerai dilakukan dalam sidang tertutup. Tetapi dalam pasal 20 UU No. 4 Th. 2004, menegaskan : Semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalm sidang terbuka untuk umum Pemeriksaan tertutup tapi putusan harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. e. Audi Alteram Partem Pemeriksaan persidangan harus mendengar kedua belah pihak secara seimbang, dengan acuan : Mendapat kesempatan untuk mengajukan pembelaan, merupakan hak yang diberikan hukum kepada para pihak. Persidangan harus mendengarkan kedua belah pihak (must hear each party) secara proporsional, jika hal itu mereka minta.

Hak tersebut ditegaskan dalam pasal 131 ayat (1) dan (2) HIR.

f. Asas Imparsialitas (Impartiality) Tidak memihak (impartial) Bersikap jujur dan adil (fair and just) Tidak bersikap diskriminatis, tetapi menempatkan dan mendudukan para pihak yang berperkara dalam keadaan setara di depan hukum.

Seperti ditegaskan dalam pasal 29 UU No. 4 Th. 2004 dan dalam pasal 29 (1) pihak yang diadili mempunyai hak ingkar terhadap hakim yang mengadili. Dalam pasal 28 ayat (2) dan (3) bahwa wajib mengundurkan diri karena bersifat imperative. 3. Pengecualian Terhadap Acara Pemeriksaan Contradictoir Dalam hal tertentu diperbolehkan melakukan pemeriksaan secara Ex-Parte. a. Dalam Proses Verstek (Default Process) Pasal 125 ayat (1) HIR member hak da kewenangan yang bersifat fakultatif kepada hakim untuk menjatuhkan putusan Verstek. b. Salah Satu Pihak Tidak Hadir Pada Hari Sidang Kedua atau Sidang Berikutnya. Dalam pasal 127 HIR memberi hak dan kewenangan kepada hakim untuk melanjutkan pemeriksaan maupun menjatuhkan putusan diluar hadirnya pihak tergugat lainnya, dan pemeriksaan atau putusan dianggap dilakukan secara Op Tegenspraak atau Contradictoir.