Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun

untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, kami dapat merumuskan masalah diantaranya : 1. Apa pengertian AIDS ? 2. Bagaimana etiologi AIDS 3. Bagaimana Klasifikasi dari AIDS 4. Bagaimana manifestasi klinis dari AIDS ? 5. Bagaimana patofisiologi dari AIDS ? 6. Bagaimana penatalaksanaan dari AIDS ?

BAB II KONSEP DASAR MEDIS A. Pengertian AIDS (Acquired Immune Deficiency Sindrome ) adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, dan kelainan neurologik. ( Sylvia A. Price,2002 ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare). AIDS adalah kondisi kronis mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV. HIV menyebabkan kemampuan tubuh anda menurun dalam melawan infeksi virus, bakteri dan jamur dengan merusak sistem imun. HIV juga menyebabkan anda lebih rentan mengalami kanker. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah istilah tahap selanjutnya dari infeksi HIV.

B. Etiologi AIDS disebabkan oleh virus Human Immunodeficiency Virus ( HIV )

C. Klasifikasi AIDS Klasifikasi infeksi HIV dengan mengkombinasikan kondisi klinis yang ditimbulkan oleh HIV yaitu sebagai berikut : a. Kategori Klinis A Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C. 1) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik. 2) Limpanodenopati generalisata yang persisten (PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty) 3) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human

Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.

b. Kategori Klinis B Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup : 1) Angiomatosis Baksilaris 2) Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi 3) Displasia Serviks (sedang / berat karsinoma serviks in situ) 4) Gejala konstitusional seperti panas (38,5o C) atau diare lebih dari 1 bulan. 5) Leukoplakial yang berambut 6) Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf. 7) Idiopatik Trombositopenik Purpura 8) Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii

c. Kategori Klinis C Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup : 1) Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus 2) Kanker serviks inpasif 3) Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata 4) Kriptokokosis ekstrapulmoner 5) Kriptosporidosis internal kronis 6) Cytomegalovirus (bukan hati,lien, atau kelenjar limfe) 7) Refinitis Cytomegalovirus (gangguan penglihatan)

8) Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) 9) Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis) 10) Histoplamosis (diseminata / ekstrapulmoner) 11) Isoproasis intestinal yang kronis 12) Sarkoma Kaposi 13) Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak. Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner 14) M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner ) 15) Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner 16) Pneumonia Pneumocystic Cranii 17) Pneumonia Rekuren 18) Leukoenselophaty multifokal progresiva 19) Septikemia salmonella yang rekuren 20) Toksoplamosis otak 21) Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV) D. Manifestasi Klinis Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam,

keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis,

cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal. a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh. b. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan. E. Patofisiologi Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans (sel imun) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan

protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahuntahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 23 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS. F. Pentalaksanaan Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah

terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan : a. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi. b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi. c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya. d. e. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu : a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis. b. Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya

<>3. Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3. c. Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
1) 2) 3) 4)

Didanosine Ribavirin Diedoxycytidine Recombinant CD 4 dapat larut

d.

Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.

e.

Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makanmakanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.

f.

Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

10

BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN Asuhan keperawatan merupakan faktor penting dalam survival klien dan dalam aspekaspek pemeliharaan, rehabilitative, dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai pada hal ini, profesi keperawatan telah

mengidentifikasi proses pemecahan masalah yang menggabungkan elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling relevan dari sistem teori, dengan menggunakan metode ilmiah. (Doenges, 2000, hal 6). Proses keperawatan merupakan proses yang terdiri dari atas tiga tahap yaitu pengkajian, perencanaan dan evaluasi yang didasarkan pada metode ilmiah pengamatan, pengukuran, pengumpulan data dan penganalisaan temuan. (Doenges, 2000, hal 6). Dalam proses keperawatan mencakup pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. A. Pengkajian Pengkajian dasar adalah pengidentifikasi kebutuhan, respons dan masalah individu. (Doenges, 2000, hal 13). Tujuan pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan semua data yang didapatkan baik dari wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi, data keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

11

Manfaat pengkajian keperawatan adalah membantu mengidentifikasi status kesehatan, pola pertahanan klien, kekuatan dalam merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. Pengumpulan data menggunakan berbagai metode seperti observasi (data yang dikumpulkan berasal dari pengamatan), wawancara (bertujuan mendapatkan respon dari klien dengan cara tatap muka), konsultasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan tambahaan. Manusia mempunyai respon terhadap masalah kesehatan yang berbeda sehingga perawat harus mengkaji respon klien terhadap masalah secara individu. Pengkajian pada klien AIDS : 1) Aktivitas /Istirahat Gejala : mudah lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang,

progresi kelelahan/malaise, perubahan pola tidur. Tanda : kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologis

terhadap aktivitas seperti perubahan tensi, frekuensi jantung, dan pernapasan. 2) Sirkulasi Gejala : penyembuhan luka lambat (bila anemia), perdarahan lama

pada cedera (jarang terjadi) Tanda : Takikardia, perubahan tensi postural, menurunnya volume

nadi perifer, pucat/sianosis, perpanjangan pengisian kapiler. 3) Integritas Ego

12

Gejala

: faktor stres berhubungan dengan kehilangan, mis.

dukungan keluarga/orang lain, penghasilan, gaya hidup, distres spiritual, mengkhawatirkan penampilan ; alopesia, lesi cacat, menurunnya berat bedan (BB). Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi. Tanda : Mengingkari, cemas, depesi, takut, menarik diri, perilaku

marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang kurang. Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama. 4) Eliminasi Gejala : diare yang intermiten, terus menerus, disertai / tanpa kram

abdominal. Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi. Tanda : feses encer disertai / tanpa mukus atau darah, diare pekat

yang sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal, dan perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urin. 5) Makanan / Cairan Gejala : Tidak napsu makan, mual/muntah, perubahan kemampuan

mengenali makanan, disfagia, nyeri retrosternal saat menelan dan penurunan BB yang progresif. Tanda : bising usus dapat hiperaktif, kurus, menurunnya lemak

subkutan/masa otot, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, adanya

13

selaput putih dan perubahan warna pada mulut. Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal, dan edema (umum, dependen). 6) Higiene Gejala Tanda : tidak dapat menyelesaikan aktivitas sehari-hari. : memperlihatkan penampilan yang tidak rapi, kekurangan

dalam perawatan diri, dan aktivitas perawatan diri. 7) Neurosensori Gejala : pusing, sakit kepala, perubahan status mental,

berkurangnya kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat dan konsentrasi menurun. Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran, kelemahan otot, tremor, perubahan ketajaman penglihatan, kebas, kesemutan pada ekstrimitas (paling awal pada kaki). Tanda : perubahan status mental kacau mental sampai dimensia,

lupa konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, respon melambat, ide paranoid, ansietas, harapan yang tidak realistis, timbul reflak tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia, tremor, hemoragi retina dan eksudat, hemiparesis, dan kejang. 8) Nyeri / Kenyamanan Gejala : nyeri umum atau lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki,

sakit kepala (keterlibatan SSP), nyeri dada pleuritis.

14

Tanda tekan,

: pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri penurunan rentang gerak (ROM), perubahan gaya

berjalan/pincang, gerak otot melindungi bagian yang sakit. 9) Pernapasan Gejala : napas pendek yang progresif, batuk (sedang-parah), batuk

produktif/nonproduktif, bendungan atau sesak pada dada. Tanda napas : takipnea, distres pernapasan, perubahan bunyi napas/bunyi adventisius, sputum kuning (pada pneumonia yang

menghasilkan sputum). 10) Keamanan Gejala : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat sembuh,

riwayat transfusi berulang, riwayat penyakit defisiensi imun (kanker tahap lanjut), riwayat infeksi berulang, demam berulang ; suhu rendah, peningkatan suhu intermiten, berkeringat malam Tanda : perubahan integritas kulit ; terpotong, ruam, mis. ruam,

eksim, psoriasis, perubahan warna, mudah terjadi memar, luka-luka perianal atau abses, timbul nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua area atau lebih ( mis. leher, ketiak, paha). Kekuatan umum menurun, perubahan pada gaya berjalan. 11) Seksualitas Gejala : riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan seksual

dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido,

15

terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Menggunakan pil terhadap virus pada KB yang yang

meningkatkan

kerentanan

wanita

diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina. Tanda : kehamilan atau resiko terhadap hamil, pada genetalia

manifestasi kulit (mis. herpes, kutil), dan rabas. 12) Interaksi Sosial Gejala : kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa takut untuk

mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan / kehilangan pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana. Tanda : perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas

yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan. B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik klien serta respons terhadap masalah aktual dan risiko tinggi. (Doenges, 2000, hal. 8). Diagnosa keperawatan merupakan langkah kedua dari proses keperawatan setelah pengkajian data. Diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi yang menjadi tanggung gugat perawat. Perumusan diagnosa keperawatan adalah bagaimana diagnosa

keperawatan digunakan dalam proses pemecahan masalah. Melalui identifikasi dapat digambarkan berbagai masalah keperawatan yang

16

membutuhkan asuhan keperawatan. Dengan menentukan dan menyelidiki etiologi masalah, akan dapat dijumpai faktor yang menjadi kendala atau penyebabnya. Dengan menggambarkan tanda dan gejala akan memperkuat masalah yang ada. Diagnosa keperawatan beriorentasi pada teori kebutuhan dasar Abraham Maslow, memperlihatkan respon individu/klien terhadap penyakit atau kondisi yang dialaminya. Manfaat diagnosa keperawatan adalah sebagai pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan karena menggambarkan status masalah kesehatan serta penyebab adanya masalah tersebut, membedakan diagnosa keperawatan dan diagnosa medis serta menyamakan kesatuan bahasa antara perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara

komprehensif. Menurut NANDA yang dikutip oleh Doenges (2000), diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat. C. Perencanaan Rencana asuhan keperawatan merupakan langkah ketiga dalam proses asuhan keperawatan. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan.

17

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, menetapkan pemecahan masalah dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien. Perawat dapat menggunakan strategi pemecahaan masalah untuk mengatasi masalah pasien melalui intervensi dan manajemen yang baik. Rencana keperawatan merupakan bukti tertulis dari proses

keperawatan yang mengidentifikasi masalah atau kebutuhan klien, tujuan, hasil perawatan dan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam menangani masalah/kebutuhan klien. a) Menyusun prioritas masalah Pada situasi klien tertentu, prioritas keperawatan berbeda berdasarkan kebutuhan khusus klien dan dapat beragam dari menit ke menit. Diagnosa keperawatan yang merupakan prioritas hari ini akan menjadi kurang prioritas keesokan harinya tergantung pada fluktuasi kodisi fisik dan psikososial klien atau respons perubahan klien terhadap kondisi yang ada. (Doenges, 2000, hal. 8). b) Menentukan tujuan dan kriteria hasil Kriteria hasil adalah hasil intervensi keperawatan dan responrespon klien yang dapat dicapai, diinginkan oleh pemberi asuhan atau klien, dan dapat dicapai dalam periode waktu yang telah ditentukan situasi dan sumber-sumber tertentu yang ada. Hasil yang diinginkan ini merupakan langkah yang dapat diukur, mengarah pada tujuantujuan saat pulang yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil pasien

18

yang diperkirakan yang baik harus spesifik, realistik, dapat diukur, menunjukkan kerangka waktu pencapaian yang pasti, dan

mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien. (Doenges, 2000, hal 9). c) Menentukan rencana intervensi 1) Diagnosa 1 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi,

malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya dengan kriteria tak ada tanda-tanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat. Monitor tanda-tanda infeksi baru. gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan. Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap

lingkungan yang patogen. Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order 2) Diagnosa 2 Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

19

Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteriaa kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC. Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya. Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu. 3) Diagnosa 3 Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan. Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. 4) Diagnosa 4 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi. Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria mual dan

20

muntah dikontrol, pasien makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas n ormal, BB mendekati seperti sebelum sakit. Monitor kemampuan mengunyah dan menelan. Monitor BB, intake dan ouput Atur antiemetik sesuai order Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya. 5) Diagnosa 5 Diare berhubungan dengan infeksi GI Pasien merasa nyaman dan mengnontrol diare, komplikasi minimal dengan kriteria perut lunak, tidak tegang, feses lunak dan warna normal, kram perut hilang. Kaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah. Auskultasi bunyi usus Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order Berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside

21

Daftar Pustaka Nursalam.2007.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Edisi Peratama.Jakarta : Salemba Medika. Price. Sylvia A.2002.Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses penyakit. Edisi : 6. Jakarta : EGC. Smeltzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart.Edisi :8. Jakarta EGC Doenges, Marilynn E.2000. Rencana Asuhan Keperawtan : Pedoman untuk

perncanaan dan pendokumentasian perawtan pasien.Edisi 3. Jakarta: EGC. http://www.centralartikel.com/2011/05/pengertian-dan-penjelasan-tentangaids.html diakses pada tanggal 20 maret 2013.

22