Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
Pengobatan Yunani yang dilukiskan oleh Homer telah menjadi sejarah. Apollo ditampakkan sebagai kekuatan yang sangat besar dari Tuhan. Apollo dapat mendatangkan wabah penyakit sebagai bentuk hukuman atau menyembuhkan dari penyakit. Dalam pencarian bimbingan dan petunjuk Dewa, mereka berkumpul dan berdoa di kuil Apollo di Delphi. Awalnya tempat keramat ke Gaea, dewi bumi, situs itu dikatakan sebagai pusat dunia.

Sebelum transmisi kata-kata kepada Dewa, oracle yang biasanya seorang perempuan yang dikenal dengan sebutan Phytia, akan memasuki sebuah ruangan kecil, menghirup uap beraroma wangi yang keluar dari celah bumi. Kadang, setelah menghirup uap itu, oracle akan menjadi tak sadar dan sampai mati. Pada abad ke-19, para arkeolog menggali kuil itu dan gagal menemukan legenda ruang itu. Mereka menolak teori Plutarch tentang asap memabukkan yang berasal dari jauh di dalam bumi. Tetapi pada tahun 2001, ilmuwan menemukan hubungan yang sebelumnya tidak diketahui oleh geologist terkait dasar dari kuil tersebut. Mereka mengatakan bahwa air yang berada di ruang Pythia membawa berbagai macam bahan kimia, yang terdiri dati etilen, gas yang biasanya digunakan sebagai anestesi. Menghirup etilen menyebabkan euforia, dan keadaan overdosis dapat berakibat fatal. Dalam syair kepahlawanan Homeric, pendeta, ahli ramal, dan pembaca mimpi mengadakan perjanjian dengan Dewa terkait dengan penyakit. Ketika marah, Dewa dapat menyebabkan datangnya penyakit fisik dan mental. Tetapi mereka juga mungkin memberikan obat penenang dan penangkal untuk menyelamatkan orang yang mereka sukai.

BAB II
PEMBAHASAN
Awal Mula Kelahiran Farmasi Farmasi (bahasa Inggris: pharmacy, bahasa Yunani: pharmacon, yang berarti : obat) merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400 - 1600an. Pada mulanya penggunaan obat dilakukan secara empirik dari tumbuhan, hanya berdasarkan pengalaman dan selanjutnya Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya. Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan bapak kedokteran dalam praktek pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Claudius Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi. Selanjutnya Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik. Johann Jakob Wepfer (16201695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan, I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment. Ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelumobat diujicoba secara klinik pada manusia.

Sejarah Lambang Farmasi Dewi Higieia digambarkan memegang sebuah patera (mangkuk obat) dan di badannya ada seekor ular yang hendak meminum/memakan obat pada mangkuk tersebut. Beberapa berpendapat bahwa mangkuk dan ular Higieia melambangkan keselarasan kehidupan dengan bumi. Ular mungkin melambangkan pasien yang bisa memilih apakah akan mengambil obat pada mangkuk tersebut atau tidak. Hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang mengendalikan kesehatannya sendiri melalui pilihan yang diambil. Ular Higieia juga dikaitkan dengan kepercayaan kuno bahwa ular memiliki kemampuan kebijaksanaan dan penyembuhan. Menurut kepercayaan kuno, ular bisa menyembuhkan dirinya sendiri dan melakukan kontak dengan para arwah di dunia bawah dan membawa mereka untuk membantu manusia yang masih hidup, karena itu ular dianggap membawa kebijaksanaan karena mampu membawa arwah para leluhur yang bijak. Bowl of hygieia digunakan sebagai lambang farmasi sejak tahun 1796 dan digunakan oleh bangsa persia untuk menunjukan lambang farmasi atau bagian pengobatan dan selanjutnya di gunakan oleh organisasi farmasi di seluruh dunia. Lambang farmasi Bowl of Hygieia saat ini juga selain digunakan oleh dunia farmasi juga oleh dunia pendidikan yang terkait dengan farmasi dengan bermacam bentuk dan model akan tetapi dengan tidak meninggalkan bentuk aslinya yaitu berupa ular yang melilit sebuah mangkuk

Mangkuk Higieia sebagai lambang farmasi.

Hygieia

Penggunaan Mangkuk atau gelas Higieia dengan ular yang membelitnya telah menjadi simbol dari banyak perkumpulan apoteker di seluruh dunia. Mangkuk Higieia merupakan lambang Asosiasi Apoteker Amerika dan digambarkan sebagai mangkuk obat,Asosiasi Apoteker

Kanada, Masyarakat Apoteker Australia, selain juga banyak asosiasi apoteker lainnya di seluruh dunia. Asosiasi Apoteker Australia mempergunakan versi yang menampilkan sebuah gelas yang diapit oleh dua ekor ular. Sementara Federasi Apoteker Internasional (FIP) mempergunakan mangkuk Higieia yang disusun dari huruf FIP.

Pengembangan Obat-Obatan dalam Kefarmasian Sumber Obat Sampai akhir abad 19, obat merupakan produk organik atau anorganik dari tumbuhan yang dikeringkan atau segar, bahan hewan atau mineral yang aktif dalam penyembuhan penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu penderita Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak tergantung kepada musim maka tumbuhan obat diawetkan dengan pengeringan. Contoh tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah Papaver somniferum (opium mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan. Dengan mengekstraksi getah tanaman tersebut dihasilkan berbagai senyawa yaitu morfin, kodein, narkotin (noskapin), papaverin dll. yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu sama lain walaupun dari sumber yang sama Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi dan lama penyimpanan. Maka untuk menghindari variasi dosis, F.W.Sertuerner (1783-1841) pada th 1804 mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan sintesis secara kimia. Sejak itu berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis penyakit.

Pengembangan obat baru Pengembangan bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi dari berbagai sumber yaitu dari tanaman (glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan hewan (heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (penisilin G sebagai antibiotik pertama), urin manusia (choriogonadotropin) dan dengan teknik bioteknologi dihasilkan human insulin untuk menangani penyakit diabetes. Dengan mempelajari hubungan struktur obat dan aktivitasnya maka pencarian zat baru lebih terarah dan memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi molekular. Setelah diperoleh bahan calon obat, maka selanjutnya calon obat tersebut akan melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari mulai isolasi atau sintesis senyawa kimia sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$ 500 juta per obat. Uji yang harus ditempuh oleh calon obat adalah uji praklinik dan uji klinik.

Perkembangan Bidang Kefarmasian Pelayanan kefarmasian saat ini telah semakin berkembang selain berorientasi kepada produk (product oriented) juga berorientasi kepada pasien (patient oriented) seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan pergeseran budaya rural menuju urban yang menyebabkan peningkatan dalam konsumsi obat terutama obat bebas, kosmetik, kosmeseutikal, health food, nutraseutikal dan obat herbal. Berbagai tuntutan yang ada di masyarakat menjadi tantangan untuk pengembangan dunia kefarmasian seperti : Pharmaceutical care yaitu obat sampai ketangan pasien dalam keadaan baik, efektif dan aman disertai informasi yang jelas sehingga penggunaannya tepat dan mencapai kesembuhan; timbulnya penyakit baru dan perubahan pola penyakit yang memerlukan pencarian obat baru atau obat yang lebih unggul ditinjau dari efektivitas dan keamanannya; meningkatnya penyalagunaan obat dan ketergantungan pada narkoba dan psikotropika merupakan tuntutan untuk dapat mengawasi penggunaan obat tersebut, mencari/mensintesis obat yang lebih aman dan mampu memberikan informasi tentang bahaya penyalahgunaan obat; farmasis sebagai partner dokter memacu farmasis untuk menguasai lebih mendalam ilmu farmakologi klinis dan farmakoterapi serta ilmu farmasi sosial dan komunikasi; farmasis sebagai penanggung jawab pengadaan obat di apotek, rumah sakit, pedagang besar farmasi, puskesmas dll. harus menguasai farmakoekonomi dan manajemen

farmasi; tuntutan farmasis untuk dapat berperan dalam perkembangan industri Farmasi perkembangan drug delivery system, pengembangan cara produksi dan metode control kualitas; farmasis untuk menempati bidang pemerintahan yang berfungsi dalam perizinan, pengaturan, pengawasan, pengujian, pemeriksaan dan pembinaan; perkembangan farmasi veteriner, perkembangan medical devices (alat kesehatan, pereaksi diagnostik). Jumlah farmasis di Indonesia saat ini masih kurang dari 10.000 sehingga rasio terhadap penduduk Indonesia lebih kurang 1:20.000, sedangkan di negara lain rasionya jauh lebih kecil, Jepang (1:660), Thailand (1:1.000), Perancis (1:1.300), Amerika Serikat (1:1.430), Australia (1:1.700) dan Cina (1:5.000). Farmasis di Thailand proaktif memberikan informasi obat dari rumah ke rumah (family pharmacist), untuk aktivitas seperti ini diperlukan jumlah tenaga farmasis yang cukup.

Beberapa tokoh penting dalam kefarmasian :

1. HIPPOCRATES DAN TRADISI HIPPOCRATIC

Hipocrates(460-370SM) adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Hippocrates disebut sebagai bapak ilmu kedokteran

Banyak filsuf Yunani dan penulis medis telah dilupakan, tetapi nama Hippocrates telah identik dengan fasa Bapak Kedokteran. Pembentukan kedokteran sebagai seni, ilmu, dan profesi yang memiliki nilai dan martabat yang besar telah dihubungkan dengan kehidupan dan karya Hippocrates. Namun hanya sedikit yang diketahui tentang hidupnya. Menurut penulis biografi kuno, Hippocrates lahir di Pulau Cos, hidup panjang, teladan, dan meninggal di Larissa pada usia sekitar 95 atau 110 tahun.

Salah satu ekspresi yang paling penting dan karakteristik dari kedokteran Hippocrates ditemukan dalam teks yang dikenal senagai Kedokteran Kuno. Sebuah tesis utama dari pekerjaan ini adalah bahwa alam sendiri adalah penyembuh yang kuat. Tujuan dari dokter, karena itu adalah untuk menumbuhkan teknik yang akan bekerja sejalan dengan kekuatan penyembuhan alami untuk mengembalikan tubuh ke keseimbangan yang harmonis. Karakteristik lain dari Hippocrates adalah deskripsi teks perseptif gejala berbagai penyakit, wawasan geografi medis dan antropologi, dan eksplorasi ide bahwa iklim, institusi sosial, agama dan pemerintah dapat mempengaruhi kesehatan dan penyakit.

Dengan memberikan penjelasan untuk fenomena kesehatan dan penyakit, sifat dan alasan, Hippocrates menolak takhayul, ramalan, dan sihir. Dengan kata lain, jika dunia ini seragam dan alami, semua fenomena sama-sama bagian dari alam. Jika para Dewa bertanggungjawab atas fenomena tertentu, mereka sama-sama bertanggungjawab untuk semua fenomena. Sementara Hippocrates mengejek praktek penyembuhan religius. Dia tidak menentang doa dan keimanan. Doa memang baik aku Hippocrates, tetapi sementara menyerukan para dewa seseorang harus mengulurkan tangan sendiri. Skeptisisme itu juga sesuai sehubungan dengan klaim para filsuf, karena menurut Hippocrates orang bisa banyak belajar tentang alam melalui studi kedokteran yang tepat daripada belajar dari filsafat saja.

Dokter mengerti benar bahwa penyakit adalah sebuah proses alami, bukan hasil dari kepemilikan, agen supranatural, atau hukuman yang dikirim oleh para dewa. Penyakit bisa

ditafsirkan sebagai hukuman hanya dalam arti bahwa seseorang dapat dihukum karena melanggar terhadap alam dengan perilaku yang tidak tepat. Jadi, untuk merawat pasiennya, dokter harus memahami konstitusi individu dan menentukan bagaimana kesehatan terkait untuk makanan, minuman, dan gaya hidup.

Dalam arti yang mendasar, dietetics adalah dasar dari seni penyembuhan. Menurut Hippocrates, manusia tidak bisa mengkonsumsi kasar makanan yang cocok untuk hewan lain, dengan demikian, koki pertama adalah dokter pertama. Seni pengobatan dikembangkan secara empiris. Dokter menjadi pengrajin yang terampil dan berpengetahuan. Sebagai pengetahuan tentang manusia dan akumulasi alam, para filsuf mengemukakan teori tentang hakikat kehidupan manusia dan sistem terapi yang berasal dari teori-teori mereka. Kedokteran dan filsafat berinteraksi untuk manfaat mereka bersama, tetapi Hippocrates menolak untuk terikat oleh medis yang kaku, dogma, atau sistem terapi, seperti pengobatan berdasarkan persamaan atau berlawanan. Para dokter yang berpengalaman tahu bahwa beberapa penyakit disembuhkan dengan menggunakan lawan dan yang lainnya dengan persamaannya. Dalam prakteknya, dokter menemukan bahwa beberapa penyakit panas pada beberapa pasien dapat disembuhkan dengan pengobatan dingin, sementara yang lain mungkin dengan pengobatan panas. Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Saat itu seorang Dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang Apoteker yang menyiapkan obat. Semakin berkembangnya ilmu kesehatan masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun cara pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick IImemerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal Two Silices. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.

SIFAT DARI PENYAKIT DAN DOKTRIN EMPAT CAIRAN

Untuk Hippocrates, penyakit bukanlah fenomena lokal, tetapi gangguan yang mempengaruhi semua orang melalui beberapa ketidakseimbangan dalam empat cairan; darah,

dahak, empedu hitam, dan empedu kuning. Keempat cairan dihubungkan dengan empat kualitas; panas, dingin, lembab, dan kering, dalam mikrokosmos atau dunia kecil dari tubuh manusia berhubungan dengan empat elemen; bumi, udara, api dan air, yang membentuk makrokosmos atau alam semesta. Berbagai teks dalam koleksi Hippocrates memberikan penelitian tentang hubungan antara kesehatan dan penyakit, dan cairan, kualitas, dan elemen, tetapi penjelasan ini kadang-kadang tidak jelas dan tidak konsisten.

Doktrin cairan menjelaskan kesehatan sebagai hasil keseimbangan yang harmonis dan campuran dari empat cairan. Kelebihan dari salah satu cairan menyebabkan discrasia, atau campuran abnormal. Temperamen tertentu dikaitkan dengan kelimpahan relatif dari masingmasing cairan. Sanguine, phlegmatic, choleric, dan melankolik dihubungkan dengan tipe kepribadian yang berbeda dan menunjukkan kerentanan terhadap gangguan karakteristik. Meskipun keempat cairan secara teori dihubungkan dengan empat elemen, dokter juga bisa membenarkan keberadaan mereka dalam hal tertentu melalui pengamatan kejadian seharihari. Hingga baru-baru ini, hanya analitik laboratorium tersedia untuk dokter adalah terdiri dari lima indera. Dengan kata lain, hidung dan lidah menjabat sebagai analitis pertama kimiawan. Jadi, untuk memahami sifat dari penyakit pasien, semua ekskresi, sekresi harus dianalisis secara langsung dalam hal persepsi akal. Ketika memerikas darah dalam hal indera dan teori dari empat cairan, darah menjalani proses pembekuan yang tampak sebagai ketidakcampuran dari empat cairan. Bagian paling gelap dari bekuan darah disamakan dengan empedu hitam, serum di atas bekuan adalah empedu kuning, dan bagian ringan diatas adalah dahak. Atau, dahak mungkin setara dengan lendir hidung, empedu kuning bisa cairan pahit yang disimpan dalam kantung empedu, dan empedu hitam mungkin materi gelap kadang-kadang ditemukan dalam muntahan, urin, dan tinja. Menurut teori Hippocrates, proses dimana tubuh berjuang dari penyakit pada dasarnya adalah bentuk fisiologis yang berlebihan dari fungsi normal. Penyakit adalah suatu keadaan dimana organisme mengalami tingkat yang lebih besar dari kesulitan dalam menguasai lingkungan. Restorasi keseimbangan humoral melalui tahap-tahap dimana cairan cukup matang untuk dihilangkan melalui sekresi, ekskresi, atau perdarahan selama krisis, yang mungkin berakhir dalam pemulihan atau kematian. Patologi humoral memberikan penjelasan alami bahkan yang paling ditakuti, seperti penyakit mental maupun fisik. Memang, tidak ada risalah dalam koleksi Hippocrates yang menyediakan kekuatan yang lebih kuat dan serangan abadi terhadap kebodohan dan takhayul daripada penyakit suci. Hippocrates menyatakan bahwa bahkan penyakit suci, yang kita kenal

sebagai epilepsi, tidak lebih suci atau ilahi dari penyakit lainnya; seperti penyakit lainnya, itu muncul dari sebuah sebab alami. Tapi takut dengan momok berulang, kejang tak terduga pada orang yang sehat, pada orang bodoh disebabkan penyakit kepada para dewa. Mereka yang disembuhkan dari penyakit dengan kekuatan gaib berarti mendukung kepercayaan yang salah di alam sucinya.

Sementara membenci praktek magis, Hippocrates tidak mengabaikan mimpi. Kebanyakan pasien menghormati mimpi dengan kagum terhadap takhayul, namun Hippocrates mencoba mengkaitkan mimpi dengan keadaan fisiologis pasien. Beberapa mimpi mungkin dapat dianggap sebagai mimpi berhubungan dengan Tuhan namun yang lain adalah kasus pemenuhan-keinginan. Mimpi yang sangat menarik bagi dokter adalah yang mengekspresikan beberapa bentuk yang tidak wajar dalam bentuk simbol karena mereka mungkin memberikan bimbingan dalam pengobatan.

Patologi humoral bisa menjelaskan epilepsi, sebagaimana dijelaskan setiap penyakit lainnya. (Memang, salah satu masalah dengan teori humoral adalah kemudahan yang menjelaskan semuanya, dan dengan demikian, akhirnya tidak menjelaskan apapun). Hippocrates menerangkan bahwa seorang anak mungkin lahir dengan epilepsi jika kedua ayah dan ibunya phlegmatic, karena mungkin kelebihan dahak menumpuk selama kehamilan dan melukai otak janin.

2. DIOSCORIDES (abad ke-1 selelah Masehi) adalah ahli botani yunani, merupakan orang pertama menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. 1. Karyanya De Materia Medica. 2. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon. 3. Dokter Yunani dan ahli Botani. 4. Menggunakan ilmu tumbuhan sebagai ilmu terpadu. 5. Hasil karyanya De Materia Medica. 6. Dianggap sebagai awal pengembangan Botani Farmasi & dalam penyelidikan bahan obat yang diperoleh secara alami.

10

3. GALEN (130-200 setelah masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa yunani karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenik. 1. Dokter dan ahli farmasi Yunani. 2. Memulai pembuatan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan dengan mencampur atau meleburkan masing-masing bahan -----> Bidang Penyediaan Farmasi. 3. Dikaitkan dengan Farmasi Galenik. 4. Formulanya a.l: Cream pendingin (Galens Cerats) yang seperti saat ini. 4. IBNU SINA (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik.

KESAN PENINGGALAN IBNU SINA DALAM BIDANG ILMU PERUBATAN Penyelidikan dan penulisan ibnu sina berjaya menggilap kembali bidang perubatan yang kian malap pada masa itu. Beliau melakukan method pemerhatian (observation) dan analisis.Berdasarkan cara ini, ilmu perubatan berkembang maju hingga ke hari ini. Beliau juga banyak membuat analisis tentang pelbagai penyakit dan menyenaraikan lebih kurang 760 jenis penyakit. Serta kaedah merawatnya. Penyelidikan dan penulisan Ibnu Sina banyak mempengaruhi perkembangan ilmu perubatan moden. Pada zaman ini, hasil perkembangan sains dan teknologi telah muncul kaedah- kaedah perubatan baru menggunakan peralatan peralatan canggih. Conthnya organ dalam badan manusia boleh dilihat hanya menggunakan x-ray atau ultra sound. Oleh itu suatu penyakit atau kecederaan dapat dikesan dan dirawat dengan lebih cepat dan berkesan.

5. JOHANN JAKOB WEPFER (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan :I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment. Ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan.

11

Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diujicoba secara klinik pada manusia.

6. RUDOLF BUCHHEIM (1820-1879) dan OSWALD SCHIEDEBERG (1838-1921). Institut Farmakologi pertama didirikan pada tahun 1847 oleh Rudolf Buchheim di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg bersama dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas selektif. Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer (1852-1921) di Scotlandia, J. Langley (1852-1925) di Inggris dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman. 7. PARACELSUS (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya

Demikian beberapa ulasan sejarah farmasi Dunia barat yang semuanya berawal dari Hipocrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran, jika dilihat secara mendalam maka ilmu kefarmasian dan ilmu kedokteran memiliki sumber yang sama sehingga diharapkan keilmuan ini dapat bekerja sama untuk mencapai efek terapi yang maksimal bagi pasien

12

DAFTAR PUSTAKA

Magner. L.N. 2005. A History of Medicine. Second edition. Taylor & Francis Group. Broken Sound Parkway NW. Tokoh-tokoh dalam sejarah farmasi http://dhiejack.student.umm.ac.id/download-aspdf/umm_blog_article_82.pdf. diakses pada tgl 16 Oktober 2011

13