Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah sel darah merah atau penurunan konsentrasi hemoglobin di dalam sirkulasi darah. Perubahan fisiologis alami yang terjadi selama kehamilan akan mempengaruhi jumlah sel darah normal pada kehamilan. (Varney,2007,p.623) Menurut WHO kejadian anemia pada ibu hamil berkisar antara 20% sampai 89% dengan menetapkan kadar Hb 11gr% sebagai dasarnya. (Manuaba,2001,p.29). Sebagian besar penyebabnya adalah kekurangan zat besi dan asam folat. Anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi mencapai kurang lebih 95%. (Varney,H.,2007,p.623) Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Total penderita anemia pada ibu hamil di Indonesia adalah 70%. Artinya dari 10 ibu hamil, sebanyak 7 orang akan menderita anemia.(Sinsin,I.,2008,p.64). Penyebab langsung kejadian anemia karena infeksi, perdarahan dan penyakit seperti kelainan sum-sum tulang belakang, sedangkan penyebab tidak langsung seperti asupan makanan berupa nutrisi yang kurang mencukupi kebutuhan besi dalam tubuh.

Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani, masih terdapat 20.000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. BPS (Badan Pusat Statistik) memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, sedangkan target MDGs pada tahun 2015 tersebut adalah 102. (MDGs,2007) AKI merupakan salah satu indikator kesehatan di Indonesia. AKI di Propinsi Jawa Tengah untuk tahun 2009 berdasarkan laporan dari kabupaten/ kota sebesar 117,02/100.000 KH. Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 49,12%, disusul kemudian pada waktu bersalin sebesar 26,99% dan pada waktu hamil sebesar

23,89%. (Profil Jawa Tengah, 2009) Hasil survei anemia ibu hamil pada 15 kabupaten pada tahun 2007 bahwa prevalensi anemia di Jawa Tengah adalah 57,7%, angka ini masih lebih tinggi dari angka nasional yakni 50,9%. (Profil Kesehatan Jawa Tengah,2009). Terjadinya peningkatan volume darah mengakibatkan hemodilusi atau pengenceran darah pada ibu hamil sehingga kadar Hb mengalami penurunan dan terjadi anemia. Dari data Dinas Kesehatan tahun 2010 bahwa prevalensi anemia tertinggi pada ibu hamil di

Puskesmas Bandarharjo 81,82%, Puskesmas Pandanaran 77,65%, dan Puskesmas Karangayu 69,35%. Menurut Departemen Kesehatan 2010, AKI di Kota Semarang sebesar 85,47/100.000 kelahiran hidup. Prioritas penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (21,05%), eklampsia (36,8%), infeksi (0%), dan lainlain sebesar (42,1%). Pendarahan merupakan penyebab kematian ibu, anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung seperti dalam 4 terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering/ rapat). (Profil kesehatan Indonesia,2007) Dampak pada ibu maupun janin yang mengalami anemia adalah premature, IUFD (Intra Uterine Fetal Death), keguguran, stillbirth (kematian janin waktu lahir), kecacatan, cadangan besi kurang, syok, perdarahan postpartum karena atonia uteri, partus lama karena inersia uteri, infeksi baik intrapartum maupun postpartum. Menurut

Arisman(2004,p.150) bahwa jumlah paritas lebih dari 3 merupakan faktor terjadinya anemia yang berhubungan dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat yaitu < 2 tahun yang disebabkan karena terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh ibu. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan

obstetrik lebih baik, sedangkan resiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan. (Saifuddin,2007,p.23). Menurut penelitian Amiruddin,R., Wahyuddin bahwa paritas dengan kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros tahun 2004 dengan jumlah sampel 128 ibu hamil bahwa hubungan paritas dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah pada paritas 2-3 dengan jumlah 61 (62.5%) orang dan terendah pada responden yang paritas < 1/ >4 dengan jumlah 10 (54.5%) orang. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Pada kehamilan 8-10 minggu pembuluh darah janin mulai terbentuk sehingga pada kehamilan volume darah ibu bertambah, agaknya untuk memenuhi kebutuhan adanya sirkulasi ke plasenta, uterus, dan mamae yang membesar dengan pembuluh- pembuluh darahnya yang membesar pula. Volume tersebut mulai bertambah jelas pada minggu ke 16 dan mencapai puncaknya pada minggu ke 32 25% dan mulai menurun sedikit pada hamil aterm. (Saifuddin,2008,p.89)

Dari hasil observasi yang dilakukan di wilayah Puskesmas Bandarharjo, pada bulan Maret tahun 2011 didapatkan hasil bahwa kehamilan trimester I pada nullipara berjumlah 3 orang dimana 2 orang mengalami anemia. Ibu hamil dengan paritas 2 dan 3 ada 10 orang dan ternyata 8 dari 10 orang tersebut mengalami anemia. Penulis mengambil judul Hubungan antara Paritas dengan Anemia pada Ibu Hamil Trimester I karena ingin mengetahui sejauh mana anemia berpengaruh terhadap paritas dengan Trimester I pada kehamilan. Penelitian akan dilakukan di Puskesmas Bandarharjo karena dari data Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2010 merupakan Puskesmas dengan prevalensi anemia tertinggi di Kota Semarang.

B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil trimester I?

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil trimester I. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi paritas pada kehamilan trimester I

b. Mengidentifikasi anemia pada kehamilan trimester I c. Menganalisis hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil trimester I.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Untuk memberikan tambahan referensi tentang hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil trimester I, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan metodologi penelitian. 2. Manfaat Praktis a. Bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan (tenaga puskesmas) Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dalam perencanaan kehamilan dengan mempertimbangkan paritas, serta sebagai dasar dalam pengkajian masalah anemia dalam kehamilan trimester I. b. Bagi masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pengetahuan dan pendidikan tentang anemia dan jumlah paritas sehingga dapat mengajak partisipasi masyarakat untuk menurunkan kejadian resiko tinggi. c. Bagi pelaksana (peneliti) Dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan acuan untuk menuju kesehatan ibu dan anak yang lebih baik

dengan mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada sehingga pemecahan masalah secara dini tercapai. d. Bagi institusi Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan dalam sistem pendidikan, terutama untuk materi perkuliahan dan memberikan gambaran serta informasi penelitian selanjutnya. bagi

E. Keaslian Penelitian Tabel 1.1 Keaslian penelitian


No 1. Judul, Nama, Tahun Hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Lamper Tengah Kota Semarang tahun 2009 Mei Hawa,H., 2009 Faktor- faktor yang berhubungan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil pada trimester III di Puskesmas Bandarharjo kec. Semarang Utara Putri, MS., 2010 Sasaran Semua ibu hamil yang datang di Puskesmas Lamper Tengah Variasi yang diteliti Jarak kehamilan <2tahun dan >2tahun yang berpengaruh terhadap kejadian anemia. Metode Analitik dengan pendekatan retrospektif Hasil Hasil diketahui jarak kehamilan <2tahun dengan 21 kasus yang mengalami anemia 85,7% (18org) dan yang tidak anemia 14,3% (3org), sedangkan jarak kehamilan >2tahun dengan 9 kasus anemia 0,0% (0 org) dan yang tidak anemia 100% (9org) Hasil diketahui status sosial ekonomi sebagian besar responden termasuk kurang (<Rp838.500,00) sebanyak 15 responden (50%). Kunjungan ANC sebagian besar responden adalah kurang sebanyak 19 responden (63,3%). Tingkatan pendidikan sebagian besar responden adalah dasar (<Rp838.500,00) sebanyak 15 responden (50%). Umur sebagian besar responden termasuk beresiko (<20 tahun atau >35 tahun) sebanyak 23 responden (76,7%). Anemia dalam kehamilan sebagian besar responden adalah berat sebanyak 18 responden (60,0%).

2.

30 responden ibu hamil trimester III dengan instrument penelitian berupa kuesioner

Status sosial ekonomi pada ibu hamil Kunjungan ANC yang dilakukan Umur responden

Analitik dengan pendekatan Cross sectional

Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan terdapat perbedaan yaitu tempat penelitian, tahun

penelitian, dan variabel penelitian. Pada penelitian yang akan dilakukan variabel bebasnya adalah paritas. Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti lebih lanjut tentang hubungan antara paritas dengan anemia pada ibu hamil trimester I.