Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU METODE PENELITIAN PENDIDIKAN KIMIA PENGARUH METODE PEMBELAJARAN OUTDOOR CLASSROOM TERHADAP MINAT DAN HASIL

BELAJAR SISWA PADA MATERI KOLOID DI SMAN 1 TELUK KERAMAT

DISUSUN OLEH : NAMA NIM KELAS : TOMI : 101620487 : VI B/2010

PROGAM STUDY S1 PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYYAH PONTIANAK 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah atas. Kimia merupakan mata pelajaran yang cukup menjadi momok yang menakutkan selain matematika dan fisika sehingga minat belajar siswa rendah terhadap pelajaran kimia ini. M a t a p e l a j a r a n k i m i a m a s i h b a r u b a g i s i s w a , s e b a b mereka baru mendapatkan materi kimia secara utuh sebagai suatu mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas. Kimia ini mata pelajaran materi sangat banyak bersifat abstrak. Untuk itu, dalam rangka pelaksanaan pengajaran Pendidikan Kimia diperlukan pembuatan rencana atau persiapan agar proses belajar lebih efektif, efisien, dan terarah. Dalam menyajikan mata pelajaran kimia, seorang pengajar atau guru harus memiliki strategi belajar mengajar yang tepat sehingga siswa tertarik untuk

belajar kimia lebih lanjut. Metode pembelajaran menarik yang dapat menumbuhkan minat belajar siswa dapat digunakan dengan bantuan media pembelajaran seperti animasi video,praktikum eksperimen,atau studi lapangan (belajar outdoor). Karjawati (dalam Widiyanti, 2010 :1 ) menyatakan bahwa outdoor kimia adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Menurut Meier Pelajaran kimia akan sangat bermakna jika siswa dibawa ke luar ruangan dan memulai untuk menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat untuk belajar, (dalam Rusdi dan Susanta, 2007:4). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan di sekitar siswa dapat dijadikan sumber belajar. Menurut Krismanto (2003:9) Kegiatan pembelajaran luar kelas ini sebaiknya dilakukan dalam kelompok. Menurut Lie (2007:12) sistem pembelajaran kelompok ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama denmgan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, selain itu dengan bekerjasama dalam kelompok siswa dapat saling mengajarkan dengan siswa lain.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang belajar diluar kelas (outdoor classroom) dengan yang hanya belajar di dalam kelas?

2. Apakah metode pembelajaran outdoor classrom dapat meningkatkan minat belajar kimia?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang belajar diluar kelas (outdoor clasroom) dengan yang hanya belajar didalam kelas 2. Mengetahui pengaruh metode pembelajaran di luar kelas dengat minat belajar kimia

D. Manfaat Penelitian a. Peneliti Untuk menambah wawasan dalam bidang penelitian terutama dalam strategi pembelajaran materi koloid dengan pembelajaran di luar kelas b. Guru Sebagai acuan untuk mengajarkan mata pelajaran kimia,sehingga dapat memberikan inspirasi dalam menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan ,

mengasyikkan dan menghasilkan metode baru dalam mempelajari materi koloid

E. Definisi operasional 1. Outdoor Classroom Outdoor Clasroom adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Secara umum pembelajaran outdoor untuk siswa dibedakan dalam 3 tipe yaitu: a) Studi lapangan atau kunjungan lapangan b) Pendidikan menjelajah lingkungan. c) Sekolah proyek komunitas. 2. Minat belajar Minat belajar dalam penelitian ini adalah kecendurungan siswa untuk merespon secara positif atau negatif jika dihadapkan dengan objek minat belajar. Objek minat belajar yang dimaksud adalah bahan pelajaran dan sikap guru yang menarik,buku paket dan LKS dan tugas-tugas pembelajaran. Instrumen untuk mengetahui minat belajar siswa dapat menggunakan angket atau skala likert 3. Hasil Belajar

Hasil belajar dalam penelitian ini adalah keberhasilan atau prestasi belajar siswa melakukan perubahan tingkah laku dalam bentuk skor atau nilai. Prestasi siswa ini meliputi tiga aspek, yaitu kognitif,psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar yang diterima siswa dapat berupa skor . F. Hipotesis Minat dan hasil belajar siswa pada materi koloid cenderung meningkat dengan penerapan model pembelajaran outdoor classroom

BAB II A. Kajian pustaka

1. Pembelajaran Outdoor Dalam pelaksanaannya, pembelajaran Outdoor sebenarnya tidak berbeda dengan pembelajaran di dalam ruangan, namun pembelajaran ini mampu memberikan suasana belajar yang santai dan menyenangkan, karena siswa merasa terlepas dari situasi yang formal. Pembelajaran outdoor juga dapat digunakan untuk memaksimalkan KBM pada saat siswa merasa kurang nyaman berada didalam kelas oleh beberapa faktor, misalnya faktor cuaca , kejenuhan atau faktor yang lain. Jadi pembelajaran outdoor bisa menjadi alternatif untuk mengatasi salah satu permasalahan dalam KBM. Namun bagaimanapun juga pembelajaran outdoor akan memperoleh hasil yang lebih baik jika melalui suatu program yang terencana. Setiap sekolah hendaknya memiliki kondisi lingkungan yang bisa menunjang untuk pelaksanaan pembelajaran outdoor , khususnya untuk mata pelajaran Biologi. Misalnya adanya pot besar yang ditanami tanaman air dan berisi ikan kecil serta siput kecil sebagai miniatur ekosistem air, dan adanya kebun sekolah yang memiliki keanekaragaman tanaman sehingga dapat menunjang fungsinya sebagai laboratorium biologi. Disamping itu tersedianya hotspot di lingkungan sekolah juga sangat penting sebagai sarana yang dapat menunjang berlangsungnya pembelajaran outdoor bagi semua mata pelajaran, siswa dapat mengakses internet dari semua sudut sekolah. Dengan belajar di luar ruangan dapat memberikan berbagai manfaat bagi siswa, antara lain : meningkatkan belajar siswa melalui suatu kegiatan atau gerakan, mengembangkan kreativitas siswa dalam pemecahan masalah, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengalami tantangan baru, memberikan kesempatan yang besar untuk berimajinasi, memberikan pengalaman baru bagi siswa untuk kontak langsung dengan alam, dan menawarkan pengalaman yang unik dan kontekstual. Berdasarkan pengalaman , pembelajaran outdoor dapat memberikan dampak positif dalam pembentukan karakter siswa, misalnya : rasa tanggung jawab, dapat bekerja sama, tenggang rasa, menghormati orang lain, berani mengemukakan pendapat , berani mengajukan pertanyaan, belajar bersosialisasi dengan oang yang baru dikenal dan sebagainya. Sehingga sebenarnya sedikit banyak guru telah memberikan sumbangsih bagi pemerintah untuk membangun dan menumbuhkan karakter bangsa melalui pembelajaran outdoor guna mewujudkan pendidikan yang berkarakter.

2. Minat Belajar Pengertian Minat menurut Tidjan (1976 :71) adalah gejala psikologis yang menunjukan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek sebab ada perasaan senang. Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa minat itu sebagai pemusatan

perhatian atau reaksi terhadap suatu obyek seperti benda tertentu atau situasi tertentu yang didahului oleh perasaan senang terhadap obyek tersebut. Sedangkan menurut Drs. Dyimyati Mahmud (1982), Minat adalah sebagai sebab yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain, atau minat sebagai akibat yaitu pengalaman efektif yang distimular oleh hadirnya seseorang atau sesuatu obyek, atau karena berpartisipasi dalam suatu aktifitas. Berdasarkan definisi minat tersebut dapatlah penulis kemukakan bahwa minat mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Minat adalah suatu gejala psikologis Adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran dari subyek karena tertarik. Adanya perasaan senang terhadap obyek yang menjadi sasaran Adanya kemauan atau kecenderungan pada diri subyek untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan

Pengertian belajar menurut kamus bahasa Indonesia : Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Pengertian belajar menurut beberapa ahli : 1) Menurut james O. Whittaker Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. 2) Winkel, belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. 3) Cronchbach Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. 4) Howard L. Kingskey ,Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. 5) Drs. Slameto, Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya. Syaiful Bahri, Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor

3. Hasil belajar Berikut ini adalah beberapa Pengertian Hasil Belajar Menurut Para Ahli : Pengertian hasil belajar menurut Winkel dalam Sunarto (2009) yang menyatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Pengertian hasil belajar menurut Anni (2004:4) merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Pengertian hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajaranya. Pengertian hasil belajar menurut Sukmadinata (2005), prestasi atau hasil belajar (achievement) merupakan realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah, hasil belajar atau prestasi belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang telah ditempuhnya. Alat untuk mengukur prestasi/hasil belajar disebut tes prestasi belajar atau achievement test yang disusun oleh guru atau dosen yang mengajar mata kuliah yang bersangkutan. Pengertian hasil belajar menurut Sadly (1977: 904), yang memberikan penjelasan tentang hasil belajar sebagai berikut, Hasil yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu. Pengertian hasil belajar menurut Nasution dalam Sunarto (2005) mendefinisikan prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan), sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Pengertian hasil belajar menurut Marimba (1978: 143) mengatakan bahwa hasil adalah kemampuan seseorang atau kelompok yang secara langsung dapat diukur. Pengertian hasil belajar menurut Nawawi (1981: 100) : Keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu. Menurut Nawawi (1981: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu: a) Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.

b) Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan. c) Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku. Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni : informasi verbal, kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22). Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu : Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. 2) Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.
1)

Hasil belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1)

2)

3)

4)

5)

Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah dicapai. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya. Hasil belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik, keterampilan atau perilaku. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya

Koloid Menurut kamus besar bahasa indonesia koloid adalah zat yang berpencar dalam zat pelarut sebagai butir yang lebih besar daripada molekul, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (harus dengan mikroskop) sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Contohnya yaitu lem, jeli, dan santan. Nama koloid diberikan oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Istilah itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu

"kolla" dan "oid" Kolla berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Dalam hal ini, yang dikaitkan dengan lem adalah sifat difusinya, sebab sistem koloid mempunyai nilai difusi yang rendah, seperti lem. Larutan biasa, misalnya larutan garam, yang mempunyai nilai difusi lebih besar disebut kristaloid. Koloid mempunyai nilai difusi yang rendah karena partikelnya berukuran lebih besar daripada molekul, yaitu berukuran maksimum 1 mikrometer. Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran yaitu koloid, atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi heterogen. Campuran homogen adalah campuran yang memiliki sifat sama pada setiap bagian campuran tersebut, contohnya larutan gula dan hujan. Sedangkan campuran heterogen sendiri adalah campuran yeng memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran, contohnya air dan minyak, kemudian pasir dan semen. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.