Anda di halaman 1dari 9

MODUL KULIAH

STRUKTUR BETON BERTULANG I

Minggu ke : 10

Balok T

Oleh Resmi Bestari Muin

PRODI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL dan PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA 2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI X Balok T X.1 Struktur Beton Monolit . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.2 Perilaku dan Bagian Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.2.1 Perilaku Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.2.2 Bagian Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.3 Analisis Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.3.1 Analisis Balok T Murni . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

i 1 1 1 1 2 3 3 3 4 5 6 6 6 6 7

X.3.2 Pemecahan Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.3.3 Analisis Bagian I Balok T (Balok Sayap) . . . . . . . . . . . . . X.3.4 Analisis Bagian II Balok T (Balok Badan) . . . . . . . . . . . . X.3.5 Momen Nominal Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.3.6 Ceking Asumsi Tulangan Tarik Leleh . . . . . . . . . . . . . . . X.4 Tulangan Maks. dan Min. Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.4.1 Tulangan Maksimum Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . X.4.2 Tulangan Minimum Balok T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB X

Balok T

X.1

Struktur Beton Monolit

Gambar X.1. Balok T pada Struktur Beton Bertulang Monolit Pada umumnya balok dan pelat beton dicor secara bersamaan, dimana antara balok dan pelat menyatu secara monolit, sehingga ada bagian pelat yang bekerja bersamasama dengan balok dalam memikul beban. Pada kondisi ini ada bagian pelat yang berfungsi sebagai sayap atas dari balok. Balok seperti ini disebut sebagai balok T. Kecuali pada struktur beton bertulang pra cetak, balok dan pelat dicor terpisah.

X.2 X.2.1

Perilaku dan Bagian Balok T Perilaku Balok T

Jika momen yang bekerja pada penampang adalah momen negatif, maka balok T akan berperilaku seperti balok persegi biasa (bagian yang diarsir pada Gambar 2 (b)), dimana bagian beton yang tertekan berbentuk empat persegi dengan lebar yang tertekan sebesar bw , sehingga analisis dan disainnya sama seperti balok persegi . 1

(a)

(b)

(c)

Gambar X.2. Kemungkinan Bagian Tekan pada Balok T Jika momen yang bekerja pada penampang adalah momen positif, maka ada 2 kemungkinan yang terjadi 1. Balok akan berperilaku sebagai sebagai balok persegi jika bagian yang tertekan hanya pada bagian sayap saja (Gambar 2 (a)), dengan lebar bagian tekan bf . 2. Balok akan berperilaku sebagai balok T murni jika bagian yang tertekan meliputi sayap dan badan balok T (Gambar 2(c))

X.2.2

Bagian Balok T

Tidak semua bagian pelat akan bekerja bersama-sama dengan balok dalam berdeformasi. Semakin jauh lokasi pelat dari balok semakin kecil kontribusinya pada deformasi balok. SNI beton 2002 pasal 10 ayat 10 menetapkan bagian pelat yang akan bekerja sebagai bagian balok (disebut sebagai lebar efektif pelat (bf ) : Untuk balok interior yang berbentuk T murni, maka 1. bf 1/4 bentang baloknya sendiri. 2. Lebar efektif pelat yang diukur dari masing-masing tepi badan balok, tidak boleh lebih dari : 8 kali tebal pelat. 1/2 jarak bersih antara badan-badan balok bersebelahan. 2

Untuk balok ekterior yang berbentuk L terbalik, maka 1. bf 1/4 bentang baloknya sendiri. 2. Lebar efektif pelat yang diukur dari tepi badan balok, tidak boleh lebih dari : 6 kali tebal pelat. 1/2 jarak bersih antara badan-badan balok berdekatan.

X.3 X.3.1

Analisis Balok T Analisis Balok T Murni

Gambar X.3. Bagian Tekan dan Gaya-gaya Dalam Balok T Pada balok yang berperilaku sebagai balok T murni seperti Gambar 3, analisis dapat dilakukan dengan memisahkan konstribusi sayap tertekan dan badan yang tertekan. Begitu juga dengan tulangan tarik yang mengimbangi masing- masing bagian tertekan tersebut (lihat Gambar 4 dan 5).

X.3.2
dimana :

Pemecahan Balok T

Cf + Cw = C Tf + Tw = T Asf + Asw = As 3

(X.1) (X.2) (X.3)

Gambar X.4. Bagian I

Gambar X.5. Bagian II Balok T dan Gaya-gaya Dalam yg Bekerja Mnf + Mnw = Mn (X.4)

X.3.3

Analisis Bagian I Balok T (Balok Sayap)

Luas zona tekan = (bf bw )hf , sehingga gaya tekan dari sumbangan beton :

Cf = 0, 85fc (bf bw )hf Syarat keseimbangan Tf = Cf

Jika diasumsikan baja tulangan tarik sudah leleh : fs = fy , diperoleh : Asf fy = 0, 85fc (bf bw )hf sehingga Asf = 0, 85fc (bf bw )hf fy (X.5)

Lengan momen : jd = (d hf /2), sehingga momen nominal pada balok sayap adalah Mnf = 0, 85fc (bf bw )hf (d hf /2) atau Mnf = Asf fy (d hf /2) (X.6)

X.3.4

Analisis Bagian II Balok T (Balok Badan)

Gaya tekan dari sumbangan beton : Cw = 0, 85fc bw a Berdasarkan pers. (X.3), maka : Asw = As Asf , dimana Asf sudah diperoleh dari pers. (X.5)

Syarat keseimbangan Tw = Cw

Jika diasumsikan baja tulangan tarik sudah leleh : fs = fy , diperoleh : Asw fy = 0, 85fc bw a sehingga tinggi tekan a= Lengan momen : jd = (d a/2), jadi Mnw = 0, 85fc bw a(d a/2) atau Mnw = Asw fy (d a/2) Asw fy 0, 85fc bw

X.3.5

Momen Nominal Balok T

Seperti sudah ditulis pada pers. (4), akhirnya diperoeleh monen nominal keseluruhan pada balok T, Mn = Mnf + Mnw = Asf fy (d hf /2) + Asw fy (d a/2) atau Mn = 0, 85fc (bf bw )hf (d hf /2) + 0, 85fc bw a(d a/2) (X.7)

Mn = 0, 85fc [(bf bw )hf (d hf /2) + bw a(d a/2)]

(X.8)

X.3.6

Ceking Asumsi Tulangan Tarik Leleh

Asumsi bahwa tulangan tarik sudah leleh pada saat serat tekan beton mencapai tegangan runtuhnya (underreinforced ), perlu dicek kembali seperti pada balok persegi, yakni dengan menbandingkan nilai
a d

hasil analisis dengan ab = 1 d 600 600 + fy

ab d

pada kondisi seimbang, dimana

jika jika

a d a d

>

ab d ab d

asumsi benar : fs = fy asumsi salah : fs < fy , dan a dihitung kembali seperti pers.

(7) pada modul 2 : 0, 85fc w Es cu a2 + d a 1 d2 = 0 dimana w = Asw bd

X.4 X.4.1

Tulangan Maks. dan Min. Balok T Tulangan Maksimum Balok T

Sama seperti balok persegi, untuk menjamin balok T berperilaku daktail, SNI Beton 2002 mensyaratkan 0, 75b atau 6 As 0, 75Asb (X.9)

maks

Asb =

Cb fy

(X.10)

dimana Cb adalah sumbangan gaya tekan total yang diberikan balok T pada kondisi seimbang (balanced ) Untuk balok T yang berperilaku sebagai balok T murni seperti Gambar 3, maka berdasarkan persamaan (X.1) Cb = Cf + Cwb = 0, 85fc [(bf bw )hf + bw ab ]

Untuk balok T yang berperilaku sebagai balok T palsu seperti Gambar 2 (a), maka Cb = 0, 85fc bf ab Untuk balok T yang berperilaku sebagai balok T palsu seperti Gambar 2 (b), maka Cb = 0, 85fc bw ab

X.4.2

Tulangan Minimum Balok T

Menurut SNI Beton pasal 12.5.1, tulangan minimum suatu komponen lentur, tidak boleh kurang dari dua rumus berikut : f 1. Asmin = 4fyc bw d 2. Asmin =
1 .4 b d fy w

Pasal 12.5.2 SNI Beton menyatakan : Untuk balok T statis tertentu dengan bagian sayap tertarik (balok kantilever misalnya), tulangan minimum diambil nilai terkecil dari dua rumus berikut : f 1. Asmin = 2fyc bw d 2. Asmin =
fc b d. 4fy f